20
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sampah adalah material sisa yang tidak diinginkan dari berakhirnya suatu proses. Sampah dapat membawa dampak buruk bagi kesehatan, sampah yang berserakan akan didatangi oleh serangga-serangga (vektor) dan akan menimbulkan bibit penyakit. Pertambahan jumlah penduduk, perubahan pola konsumsi, dan gaya hidup masyarakat telah meningkatkan jumlah timbulan sampah, jenis, dan keberagaman karakteristik sampah. Meningkatnya daya beli masyarakat terhadap berbagai jenis bahan pokok dan hasil teknologi serta meningkatnya usaha atau kegiatan penunjang pertumbuhan ekonomi suatu daerah juga memberikan kontribusi yang besar terhadap kuantitas dan kualitas sampah yang dihasilkan. Meningkatnya volume timbulan sampah memerlukan pengelolaan. Padahal adanya pembuangan sampah d sembarang tempat dapat menimbulkan berbagai dampak contohnya bau yang tidak sedap, di hinggapi lalat kemudian mendatangkan wabah penyakit. Kenyataan nya sampah memang merugikan namun jika ada pengolahan secara baik dan benar sampah bisa mendatangkan manfaat. Selain itu juga dapat dijadikan berbagai macam barang kerajinan. Serta pengelolaan sampah yang baik dapat menjadikan lingkungan yang bersih dan tampak sehat. Walaupun terbukti sampah itu dapat merugikan bila tidak dikelola dengan baik, tetapi ada sisi manfaatnya. Hal ini karena selain dapat mendatangkan bencana bagi masyarakat, sampah juga dapat diubah menjadi barang yang bermanfaat. Kemanfaatan sampah ini tidak terlepas dari penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam 1

Isi Kunjungan (Rekayasa Lingkungan)

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Teknik Sipil

Citation preview

Page 1: Isi Kunjungan (Rekayasa Lingkungan)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sampah adalah material sisa yang tidak diinginkan dari berakhirnya suatu proses. Sampah dapat membawa dampak buruk bagi kesehatan, sampah yang berserakan akan didatangi oleh serangga-serangga (vektor) dan akan menimbulkan bibit penyakit. Pertambahan jumlah penduduk, perubahan pola konsumsi, dan gaya hidup masyarakat telah meningkatkan jumlah timbulan sampah, jenis, dan keberagaman karakteristik sampah. Meningkatnya daya beli masyarakat terhadap berbagai jenis bahan pokok dan hasil teknologi serta meningkatnya usaha atau kegiatan penunjang pertumbuhan ekonomi suatu daerah juga memberikan kontribusi yang besar terhadap kuantitas dan kualitas sampah yang dihasilkan. Meningkatnya volume timbulan sampah memerlukan pengelolaan.

Padahal adanya pembuangan sampah d sembarang tempat dapat menimbulkan berbagai dampak contohnya bau yang tidak sedap, di hinggapi lalat kemudian mendatangkan wabah penyakit. Kenyataan nya sampah memang merugikan namun jika ada pengolahan secara baik dan benar sampah bisa mendatangkan manfaat. Selain itu juga dapat dijadikan berbagai macam barang kerajinan. Serta pengelolaan sampah yang baik dapat menjadikan lingkungan yang bersih dan tampak sehat.

Walaupun terbukti sampah itu dapat merugikan bila tidak dikelola dengan baik, tetapi ada sisi manfaatnya. Hal ini karena selain dapat mendatangkan bencana bagi masyarakat, sampah juga dapat diubah menjadi barang yang bermanfaat. Kemanfaatan sampah ini tidak terlepas dari penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menanganinya dan juga kesadaran dari masyarakat untuk mengelolanya.

1.2 Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dari kunjungan kami ke tempat home industry “CV Rosa Perdana” di Sekeloa ini yaitu untuk memenuhi tugas Rekayasa Lingkungan mengenai Pengolahan Sampah Organik dan Anorganik, dan bertujuan untuk mengetahui proses pengolahan sampah organik dan anorganik yang menjadi masalah masyarakat sekarang.

1

Page 2: Isi Kunjungan (Rekayasa Lingkungan)

1.3 Lokasi dan Waktu Kunjungan

Hari/Tanggal : Selasa, 3 Juni 2014

Waktu : Pk. 11.00 – 13.00 WIB

Tempat : Pengolahan Sampah Organik dan Anorganik “CV Rosa Perdana”

Jl. Sekeloa No. 124/152C, Dipati Ukur – Bandung (022) 2508671

2

Page 3: Isi Kunjungan (Rekayasa Lingkungan)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian sampah organik dan anorganik

C

3

PENGOLAHAN SAMPAH

SAMPAH ORGANIK SAMPAH ANORGANIK SAMPAH DAUR ULANG

PENGOMPOSAN

BIOGAS

VERMI COMPOSTING

INCENERATOR PEMULUNG

PUPUK PADAT

PUPUK PADAT

BIOMAS CACING

FARMASI KOSMETIK PAKAN TERNAK

Page 4: Isi Kunjungan (Rekayasa Lingkungan)

A . Pengertian Sampah

Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembikinan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan.

Gambar 2.1 Sampah

B. Pengertian sampah organik

Sampah Organik adalah merupakan barang yang dianggap sudah tidak terpakai dan dibuang oleh pemilik/ pemakai sebelumnya, tetapi masih bisa dipakai kalau dikelola dengan prosedur yang benar. Organik adalah proses yang kokoh dan relatif cepat, maka tanda apa yang kita punya untuk menyatakan bahwa bahan-bahan pokok kehidupan. Sampah Organik terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lain. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik, misalnya sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah, dan daun.

Sampah organik basah. Yang dimaksud dengan sampah organik basah yaitu sampah yang mempunyai kadar kandungan air didalamnya. Contohnya seperti buah dan sayuran.

Sampah organik kering. Yaitu sampah yang tidak mempunyai kandungan air yang besar. Contohnya adalah sampah yang berasal dari dedaunan kering dan lain sebagainya

4

Page 5: Isi Kunjungan (Rekayasa Lingkungan)

Gambar 2.2 Sampah Organik

C. Pengertian sampah anorganik

Sampah anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan non-hayati, baik berupa produk sinterik maupun hasil proses teknologi pengolahan bahan tambang. Sampah anorganik ialah sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan non hayati baik berupa produk sinterik maupun hasil prosses teknology pengelolahan bahan tambang atau sumber daya alam dan tidak dapat diuraikan oleh alam. Contohnya: botol plastik, tas plastik, kaleng.

Gambar 2.3 Sampah Anorganik

2.2 Dampak positif dan negative dari sampah

A. Dampak Positif

Dampak positif dari sampah organik adalah sebagai berikut :

Sebagai pupuk organik untuk tanaman. Limbah dari sampah organik dapat dijadikan sebagai pupuk penyubur tanaman dengan menyulap sampah menjadi kompos. Kompos dapat memperbaiki struktur tanah, dengan meningkatkan kandungan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air dalam tanah.

Sumber humus. Sampah orgnaik yang tenah membusuk seperti dapat menjadi humus yang dibutuhkan untuk tanah untuk menjaga kesuburan tanah. serta menjadi sumber makanan yang baik bagi tumbuh-tumbuhan,

5

Page 6: Isi Kunjungan (Rekayasa Lingkungan)

meningkatkan kapasitas kandungan air tanah, mencegah pengerukan tanah, menaikkan aerasi tanah, menaikkan foto kimia dekomposisi pestisida atau senyawa-senyawa organik racun.

Sampah dapat didaur ulang. Limbah sampah dari plastik dan kertas dapat didaur ulang menjadi berbagai barang yang bermanfaat seperti menjadi produk furnitur yang cantik. atau didaur ulang kembali menjadi bahan baku pembuatan produk plastik atau kertas.

Dijadikan bahan bakar alternatif. Pembusukan sampah dapat menghasilkan gas yang bernama gas metana yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk kebutuhan rumah tangga atau industri kecil.

Menjadi sumber listrik. Secara tidak langsung sampah dapat dijadikan sumber listrik alternatif dengan cara merubah sampah agar menghasilkan gas metana, dimana gas ini dapat dijadikan bahan bakar untuk menjalankan pembangkit listrik.

Dampak positif dari sampah anorganik adalah sebagai berikut :

1. Dapat dimenjadi barang kerajinan tangan.2. Dapat dimanfaatkan kembali.

B. Dampak Negative

Damapak negative dari samapah organic sebagai berikut:

1. Sampah memang menjadi salah satu penyumbang gas rumah kaca. Maka dari itu, pembuangan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) harus diperhatikan. Sampah organik yang tertimbun mengalami dekomposisi secara anaerobic. Proses itu menghasilkan gas CH4. Sampah yang dibakar juga akan menghasilkan gas CO2. Gas CH4 mempunyai kekuatan merusak 20 kali lipat dari gas CO2.

2. Pembakaran sampah secara sembarangan akan berakibat buruk untuk lingkungan dan kesehatan. Pembakaran yang bersih hanya bisa dilakukan dalam api panas dan suplai oksigen yang cukup. Padahal, pada pembakaran sampah yang umum dilakukan, hanya tumpukan sampah bagian atas yang mendapat cukup oksigen untuk menghasilkan CO2. Sementara bagian dalam, karena kekurangan suplai O2 akan menghasilkan karbonmonoksida (CO). Satu ton sampah akan menghasilkan sekitar 30 kg CO. CO adalah gas yang mampu membunuh orang secara massal.

3. Selain itu pembakaran sampah juga menimbulkan polusi udara.

Dampak negative dari sampah anorganik adalah sebagai berikut :

6

Page 7: Isi Kunjungan (Rekayasa Lingkungan)

1. Pengelolaan sampah yang kurang baik akan membentuk lingkungan yang kurang menyenangkan bagi masyarakat: bau yang tidak sedap dan pemandangan yang buruk karena sampah bertebaran dimana-mana. Memberikan dampak negatif terhadap kepariwisataan.

2. Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat. Hal penting di sini adalah meningkatnya pembiayaan secara langsung (untuk mengobati orang sakit) dan pembiayaan secara tidak langsung (tidak masuk kerja, rendahnya produktivitas).

3. Pembuangan sampah padat ke badan air dapat menyebabkan banjir dan akan memberikan dampak bagi fasilitas pelayanan umum seperti jalan, jembatan, drainase, dan lain-lain.

4. Infrastruktur lain dapat juga dipengaruhi oleh pengelolaan sampah yang tidak memadai, seperti tingginya biaya yang diperlukan untuk pengolahan air. Jika sarana penampungan sampah kurang atau tidak efisien, orang akan cenderung membuang sampahnya di jalan. Hal ini mengakibatkan jalan perlu lebih sering dibersihkan dan diperbaiki.

2.3 Pengolahan Sampah

Pengelolaan sampah adalah pengumpulan , pengangkutan , pemrosesan , pendaur-ulangan, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yg dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam . Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas atau radioaktif dengan metoda dan keahlian khusus untuk masing masing jenis zat.

a. DAUR ULANG

Proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah untuk digunakan kembali disebut sebagai daur ulang. Ada beberapa cara daur ulang, pertama adalah mengambil bahan sampahnya untuk diproses lagi atau mengambil kalori dari bahan yang bisa dibakar utnuk membangkitkan listik.

Metode ini adalah aktivitas paling populer dari daur ulang, yaitu mengumpulkan dan menggunakan kembali sampah yang dibuang, contohnya botol bekas pakai yang dikumpulkan kembali untuk digunakan kembali. Pengumpulan bisa dilakukan dari sampah yang sudah dipisahkan dari awal (kotak sampah/ kendaraan sampah khusus), atau dari sampah yang sudah tercampur.

Sampah yang biasa dikumpulkan adalah kaleng minum aluminum, kaleng baja makanan/ minuman, Botol HDPE dan PET, botol kaca, kertas karton, koran, majalah, dan kardus. Jenis plastik lain seperti (PVC, LDPE, PP, dan PS) juga bisa di

7

Page 8: Isi Kunjungan (Rekayasa Lingkungan)

daur ulang. Daur ulang dari produk yang komplek seperti komputer atau mobil lebih susah, karena harus bagian bagiannya harus diurai dan dikelompokan menurut jenis bahannya.

b. Pengolahan biologis- Pengkomposan.

Material sampah (organik), seperti zat tanaman, sisa makanan atau kertas, bisa diolah dengan menggunakan proses biologis untuk kompos, atau dikenal dengan istilah pengkomposan.Hasilnya adalah kompos yang bisa digunakan sebagi pupuk dan gas methana yang bisa digunakan untuk membangkitkan listrik. Contoh dari pengelolaan sampah menggunakan teknik pengkomposan adalah Green Bin Program (program tong hijau) di Toronto, Kanada, dimana sampah organik rumah tangga, seperti sampah dapur dan potongan tanaman dikumpulkan di kantong khusus untuk di komposkan.

- Pemulihan energi

Kandungan energi yang terkandung dalam sampah bisa diambil langsung dengan cara menjadikannya bahan bakar, atau secara tidak langsung dengan cara mengolahnya menajdi bahan bakar tipe lain. Daur-ulang melalui cara "perlakuan panas" bervariasi mulai dari menggunakannya sebakai bahan bakar memasak atau memanaskan sampai menggunakannya untuk memanaskan boiler untuk menghasilkan uap dan listrik dari turbin-generator. Pirolisa dan gasifikasi adalah dua bentuk perlakukan panas yang berhubungan, dimana sampah dipanaskan pada suhu tinggi dengan keadaan miskin oksigen. Proses ini biasanya dilakukan di wadah tertutup pada Tekanan tinggi. Pirolisa dari sampah padat mengubah sampah menjadi produk berzat padat, gas dan cair. Produk cair dan gas bisa dibakar untuk menghasilkan energi atau dimurnikan menjadi produk lain. Padatan sisa selanjutnya bisa dimurnikan menjadi produk seperti karbon aktif. Gasifikasi dan Gasifikasi busur plasma yang canggih digunakan untuk mengkonversi material organik langsung menjadi Gas sintetis (campuran antara karbon monoksida dan hidrogen). Gas ini kemudian dibakar untuk menghasilkan listrik dan uap.

Sebuah metode yang penting dari pengelolaan sampah adalah pencegahan zat sampah terbentuk, atau dikenal juga dengan "pengurangan sampah". Metode pencegahan termasuk penggunaan kembali barang bekas pakai, memperbaiki barang yang rusak, mendesain produk supaya bisa diisi ulang atau bisa digunakan kembali (seperti tas belanja katun menggantikan tas plastik), mengajak konsumen untuk menghindari penggunaan barang sekali pakai (contohnya kertas tissue) ,dan mendesain produk yang menggunakan bahan yang lebih sedikit untuk fungsi yang sama (contoh, pengurangan bobot kaleng minuman).

8

Page 9: Isi Kunjungan (Rekayasa Lingkungan)

Terdapat beberapa konsep tentang pengelolaan sampah yang berbeda dalam penggunaannya, antara negara-negara atau daerah. Beberapa yang paling umum, banyak-konsep yang digunakan adalah:

a) Diagram dari hirarki limbah.

Hirarki Sampah-hirarki limbah merujuk kepada "3M" mengurangi sampah, menggunakan kembali sampah dan daur ulang, yang mengklasifikasikan strategi pengelolaan sampah sesuai dengan keinginan dari segi minimalisasi sampah. Hirarki limbah yang tetap menjadi dasar dari sebagian besar strategi minimalisasi sampah. Tujuan limbah hirarki adalah untuk mengambil keuntungan maksimum dari produk-produk praktis dan untuk menghasilkan jumlah minimum limbah.

Perpanjangan tanggungjawab penghasil sampah/ Extended Producer Responsibility (EPR). EPR adalah suatu strategi yang dirancang untuk mempromosikan integrasi semua biaya yang berkaitan dengan produk-produk mereka di seluruh siklus hidup (termasuk akhir pembuangan biaya hidup) ke dalam pasar harga produk. Tanggung jawab produser diperpanjang dimaksudkan untuk menentukan akuntabilitas atas seluruh Lifecycle produk dan kemasan diperkenalkan ke pasar. Ini berarti perusahaan yang manufaktur, impor dan atau menjual produk diminta untuk bertanggung jawab atas produk mereka berguna setelah kehidupan serta selama manufaktur.

Prinsip pengotor membayar adalah prinsip di mana pihak pencemar membayar dampak akibatnya ke lingkungan. Sehubungan dengan pengelolaan limbah, ini umumnya merujuk kepada penghasil sampah untuk membayar sesuai dari pembuangan. Proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah untuk digunakan kembali disebut sebagai daur ulang. Ada beberapa cara daur ulang, pertama adalah mengambil bahan sampahnya untuk diproses lagi atau mengambil kalori dari bahan yang bisa dibakar utnuk membangkitkan listik. Metode metode baru dari daur ulang terus ditemukan dan akan dijelaskan dibawah.

b) Pengolahan kembali secara fisik

Metode ini adalah aktivitas paling populer dari daur ulang, yaitu mengumpulkan dan menggunakan kembali sampah yang dibuang, contohnya botol bekas pakai yang dikumpulkan kembali untuk digunakan kembali. Pengumpulan bisa dilakukan dari sampah yang sudah dipisahkan dari awal (kotak sampah/ kendaraan sampah khusus), atau dari sampah yang sudah tercampur.

Upaya penanganan diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah secara signifikan mulai dari sumbernya sampai sampai ke tempat pembuangan akhir. Ada beberapa cara menangani pengurangan sampah yang lebih dikenal dengan prinsip 3R meliputi kegiatan:

9

Page 10: Isi Kunjungan (Rekayasa Lingkungan)

1) Reduce (Mengurangi)

Kegiatan mengurangi sampah, tidak akan mungkin menghilangkan sampah secara keseluruhan tetapi secara teoritis aktivitas ini akan mengurangi sampah dalam jumlah yang nyata. Oleh karena itu kita harus mengurangi pengunaan bahan atau barang yang kita gunakan dalam aktivitas kita sehari-hari, karena semakin banyak kita menggunakan bahan atau barang, maka akan semakin banyak sampah yang dihasilkan. Mengurangi produksi sampah dapat dilakukan dengan cara :

a. Menggunakan bahan atau barang yang awet.b. Mengurangi penggunaan barang sekali pakai.c. Mengurangi belanja barang yang tidak terlalu dibutukan.d. Merawat dan memperbaiki pakaian, mainan, perkakas dan peralatan

rumah tangga daripada menggantinya dengan yang baru.e. Menggunakan kantong plastik (kresek)3 sampai 5 kali untuk berbelanja.f. Menggunakan keranjang atau kantong yang dapat digunakan berulang

ulang.

2) Reuse (Memakai kembali)

Sebisa mungkin pilihlah barang – barang yang bisa dipakai kembali, hindari pemakaian barang yang sekali pakai, hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum menjadi sampah. Pemakaian kembali barang bekas tanpa harus memprosesnya dulu :

o Menggunakan kembali kemasan untuk fungsi yang sama atau fungsi lainya.

o Memanfaatkan barang kemasan menjadi tempat penyimpanan sesuatu.Seperti kertas bekas, botol plastik, botol kaca masih dapat dipergunakan kembali untuk keperluan lainnya. Contohnya kertas, koran bekas dapat digunakan kembali sebagai pembungkus barang-barang, botol plastik digunakan sebagai tempat bibit tanaman.

o Menggunakan bahan yang bisa dipakai ulang daripada yang sekali buang, sebagai misalnya : membeli batere yang dapat diisi ulang daripada batere sekali buang.

3) Recycle (Mendaur ulang)

Sebisa mungkin barang - barang yang sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang, tidak semua barang bisa didaur ulang namun saat ini sudah banyak industri formal yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain. Sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomis yang dapat didaur ulang (misalnya : kertas, plastik, gelas, kaleng, botol, sisa kain), dilakukan pengepakan kemudian dijual kepada pengepul sampah sedangkan sampah anorganik yang tidak dapat dimanfaatkan lagi dibuang ke TPA.

10

Page 11: Isi Kunjungan (Rekayasa Lingkungan)

Gambar 2.4 Pengolahan Sampah Menjadi Kerajinan Tangan

2.4 Profil Narasumber

Insprirator dan Pembina EBO

Bambang CACING Sudiarto

(mbah Cacing)

A. Sejarah Budidaya Cacing Tanah di Indonesia

Awal penelitian dilakukan pada tahun 1981 di PPSDAL UNPAD. Pada tahun 1983 ditemukan jenis cacing tanah Lumbricus rubellus di Jayagiri Lembang, Kabupaten Bandung sebanyak 7 ekor dan 5 kokon. Dari jumlah tersebut berhasil dibudidaya secara laboratoris dan ber-kembang menjadi kurang lebih 5 kg pada tahun 1985/1986. Pada tahun 1986 diteliti secara aplikatif di lapangan melalui proyek kerjasama antara PPSDAL UNPAD dengan PLTA Saguling dan Cirata dengan maksud untuk pengadaan bahan baku sumber protein pakan ternak dan ikan. Secara praktis dapat dibudidaya dan dikembangkan oleh masyarakat di pedesaan.

Pada tahun 1988 diteliti potensinya untuk mengolah limbah peternakan, melalui wadah Unit Studi Profesi di Fakultas Peternakan “USPEP”. Bersamaan dengan itu juga dilakukan penelitian-penelitian mengenai manfaatnya. Sekarang,

11

Page 12: Isi Kunjungan (Rekayasa Lingkungan)

budidaya cacing tanah mulai diminati oleh praktisi-praktisi bisnis dengan berbagai tujuan, misal sebagai pengolah limbah, bahan baku sumber protein hewani pakan ternak dan ikan, bahan baku pembuatan obat tradisional, bahan baku pembuatan kosmetik dan sebagai pakan hewan kesayangan.

B. Potensi Cacing Tanah

a. Sebagai pengurai bahan organik dalam pengelolaan limbah pb. Sebagai penghasil pupuk organikc. Sebagai bahan baku sumber protein hewani (64 – 72 %) dan asam amino

esensial untuk berbagai peruntukan, antara lain:d. Bahan baku pembuatan pakan ternak, ikan dan udange. Bahan baku pembuatan panganf. Bahan baku pembuatan obat-obatang. Bahan baku pembuatan kosmetikh. Sebagai sarana rekreasi :

- Mengail ikan- Pakan hewan kesayangan (burung, ikan, dsb.)- Memperindah taman-taman wisata, karena potensinya sebagai

penghasil pupuk organik untuk tanaman dan bahan baku pakan hewan kesayangan.

C. Biologi Cacing Tanah

Sistem reproduksinya hermaprodit melalui perkawinan antarindividu. Pada kondisi pemeliharaan yang ideal menghasilkan kokon (selubung telur) setiap 4 – 7 hari. Telur menetas selama 2 – 3 minggu. Jumlah juvenil 2 – 20 ekor/kokon, atau rata-rata 7 ekor. Mencapai dewasa dan dapat menghasilkan kokon pada umur 2,5 – 3 bulan.

2.5 Pengolahan Sampah Organik oleh Cacing

Ternak cacing Lumbricus Rubellus, ternak cacing tanah, pakan ikan, pakan sidat, pakan belut.

Proses pembersihan cacing dari media ternak

Cacing tanah pada umunya memakan bahan-bahan ornaik, naun demikian tetap saja ada beberapa hal yang menjadi syarat utama bahan organik tersebut bisa dimakan cacing, diantaranya :

a. Bahan organik tersebut sudah mengalami pembusukan sekitar 60%, atau dengan kata lain, bahan tersebut sudah busuk alias tidak segar lagi. Itulah sebabnya cacing tidak menggangu akar tanaman, meskin dia ada

12

Page 13: Isi Kunjungan (Rekayasa Lingkungan)

di sekitar akar tanaman, hal ini karena akar tanaman dalam keadaan segar, bahkan hidup, sedangkan cacing hanya memakan yang sudah busuk.

b. Bahan organik tersebut tidak mengandung kapur, garam dengan dosis yang tinggi, bahan pembasmi kuman, dan obat cacing. Baglog bekas budidaya jamur tidak dapat langsung digunakan untuk budidaya cacing karena, dia mengandung kapur.

c. Bahan organik tersebut tidak mengandung gas metan, yaitu gas yang terjadi atau ada pada saat bahan organik mengalami pembususkan, maka dari itu, kooran sapi yang baru, tidak dapat digunakan sebagai media cacing karena dia mengandung gas metan dan suhunya panas / tinggi.

d. Bahan organik tersebut tidak mengandung bahan kimia cair yang berbahaya. oleh karenanya pemgolahan limbah pasar atau lingkungan harus disortir dan difermentasi hadulu, agar racun yang ada didalamnya sudah ternetralisir.

Pengolahan limbah organik seperti sampah pasar, sampah dapur dan limbah rumah tangga bisa dikomposkan oleh cacing, dengan beberapa tahapan yang sederhana, yaitu :

1) Sampah / limbah ditampung disatu tempat,2) Sortir atau pisahkan limbah yang bukan organik,3) Cacah limbah menggunakan mesin mencacah kompos,4) Tampung hasil cacahan limbah dalam satu wadah atau tempat,5) Masukan aktivator, agar terjadi pemsusukan dengan cepat dan

serempak,6) Setelah proses pembusukan selesai, masukan cacing.7) Panen atau pindahkan cacing dari tumpukan sampai tersebut setelah

kascing/ vermicompost matang.

Ciri-ciri vermicompost yang sudah matang :

- Tidak bermau sampah lagi,- Baunya seperti tanah,- Bentuk fisiknya seperti tanah,- Warnanya hitam seperti tanah,- Bentuk fisiknya renggang-renggang/ remah/ gembur,- Jika dipegang terasa dingin,

13

Page 14: Isi Kunjungan (Rekayasa Lingkungan)

- Mengandung bahan organik untuk menyuburkan tanah, dan menyehatkan tanah/ lahan kritis.

Gambar 2.5 Biomas Cacing

BAB III

PENUTUP

14

Page 15: Isi Kunjungan (Rekayasa Lingkungan)

3.1 Kesimpulan

Sampah adalah barang sisa dari berakhirnya suatu proses.sampah di bagi jadi 2 yaitu sampah organik dan sampah non-organik, sampah organik yaitu sampah yang mudah hancur contoh daun, jerami, dan lain-lain; sedangkan sampah anorganik yaitu sampah yang sulit dihancurkan contoh kaleng,plastic dan lain-lain. Kedua jenis sampah ini gmempunyai dampak positif dan negative sendiri-sendiri. Sampah yang dibuang bias juga dimanfaatkan dengan mengolah sampah dengan berbagai cara agat lebih bermanfaat.

3.2 Saran

Dari pembahasan diatas penulis menyarankan bagi pembaca agar lebih menjaga lingkungan, dengan mengetahui dampak positif dan negative dan cara pengolahannya kita bisa memperkecil dampak negatifnya dengan mengolah sampah agar dapat dimanfaatkan, agar tidak hanya menjadi bibit penyakit namun lebih bermanfaat.

Adapun saran yang berkaitan dengan kegiatan kunjungan lapangan di atas yaitu:

o Masyarakat dihimbau untuk sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan, karena lingkungan menjadi tempat hidup bagi masyarakat.

o Tidak membuang sampah rumah tangga sembarangan.o Memilihara kelestarian alam yang Tuhan berikan untuk hidup kita

sekarang dan kelak untuk generasi penerus kita.

15