of 23 /23
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada usia 50-an, 50% individu mengalami berbagai tipe hemoroid berdasarkan luas vena yan terkena. Hemoroid juga biasa terjadi pada wanita hamil. Tekanan intra abdomen yang meningkat oleh karena pertumbuhan janin dan juga karena adanya perubahan hormon menyebabkan pelebaran vena hemoroidalis. Pada kebanyakan wanita, hemoroid yang disebabkan oleh kehamilan merupakan hemoroid temporer yang berarti akan hilang beberapa waktu setelah melahirkan. Hemoroid diklasifiksasikan menjadi dua tipe. Hemoroid internal yaitu hemorod yang terjadi diatas stingfer anal sedangkan yang muncul di luar stingfer anal disebut hemorod eksternal. Kedua jenis hemoroid ini sangat sering terjadi dan terdapat pada sekitar 35% penduduk. Hemoroid bisa mengenai siapa saja, baik laki-laki maupun wanita. Insiden penyakit ini akan meningkat sejalan dengan usia dan mencapai puncak pada usia 45-65 tahun. Walaupun keadaan ini tidak mengancam jiwa, tetapi dapat menyebabkan perasaan yang sangat tidak nyaman. Berdasarkan hal ini kelompok tertarik untuk membahas penyakit hemoroid. B. Tujuan 1. Tujuan Umum a. Memahami Konsep dari Hemoroid 2. Tujuan Khusus b. Memahami Asuhan Keperawatan pada Pasien Hemoroid. 1

Isi Fix Banget

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam anal kanal. Hemoroid sangat umum terjadi. Pada usia 50-an, 50% individu mengalami berbagai tipe hemoroid berdasarkan luas vena yan terkena. Hemoroid juga biasa terjadi pada wanita hamil. Tekanan intra abdomen yang meningkat oleh karena pertumbuhan janin dan juga karena adanya perubahan hormon menyebabkan pelebaran vena hemoroidalis. Pada kebanyakan wanita, hemoroid yang disebabkan oleh kehamilan merupakan hemoroid temporer yang berarti akan hilang beberapa waktu setelah melahirkan. Hemoroid diklasifiksasikan menjadi dua tipe. Hemoroid internal yaitu hemorod yang terjadi diatas stingfer anal sedangkan yang muncul di luar stingfer anal disebut hemorod eksternal.

Citation preview

Page 1: Isi Fix Banget

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada usia 50-an, 50% individu mengalami berbagai tipe hemoroid berdasarkan luas

vena yan terkena. Hemoroid juga biasa terjadi pada wanita hamil. Tekanan intra abdomen

yang meningkat oleh karena pertumbuhan janin dan juga karena adanya perubahan hormon

menyebabkan pelebaran vena hemoroidalis. Pada kebanyakan wanita, hemoroid yang

disebabkan oleh kehamilan merupakan hemoroid temporer yang berarti akan hilang beberapa

waktu setelah melahirkan. Hemoroid diklasifiksasikan menjadi dua tipe. Hemoroid internal

yaitu hemorod yang terjadi diatas stingfer anal sedangkan yang muncul di luar stingfer anal

disebut hemorod eksternal.

Kedua jenis hemoroid ini sangat sering terjadi dan terdapat pada sekitar 35%

penduduk. Hemoroid bisa mengenai siapa saja, baik laki-laki maupun wanita. Insiden

penyakit ini akan meningkat sejalan dengan usia dan mencapai puncak pada usia 45-65 tahun.

Walaupun keadaan ini tidak mengancam jiwa, tetapi dapat menyebabkan perasaan yang

sangat tidak nyaman. Berdasarkan hal ini kelompok tertarik untuk membahas penyakit

hemoroid.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

a. Memahami Konsep dari Hemoroid

2. Tujuan Khusus

b. Memahami Asuhan Keperawatan pada Pasien Hemoroid.

1

Page 2: Isi Fix Banget

BAB II

ISI

A. Definisi

Hemoroid adalah suatu pelebaran dari vena-vena didalam pleksus hemoroidalis (Arif,

2011). Walaupun kondisi ini merupakan suatu kondisi fisiologis, tetapi karena sering

menyebabkan keluhan pada pasien sehingga memberikan menifestasi untuk diberikan

intervensi.

Hemoroid merupakan varises pada pleksus venosus hemoroidalis superior atau inferior.

Dilatasi dan pelebaran pleksus superior pada vena hemoroidalis superior diatas linea dentate

akan menyebabkan hemoroid eksterna yang dapat menonjol keluar dari dalam rectum

(Kowalak, 2011).

Hemoroid atau wasir merupakan vena varikosa pada kanalis ani dan dibagi menjadi 2

jenis yaitu, hemoroid interna dan eksterna. Hemoroid interna merupakan varises vena

hemoroidalis superior dan media, sedangkan hemoroid eksterna merupakan varises vena

hemoroidalis inferior. Sesuai istilah yang digunakan, hemoroid eksterna timbul disebelah luar

otot sfingter ani, dan hemoroid interna timbul di sebelah atas (atau di sebelah proksimal)

sfingter (Sylvia, 2005).

Hemoroid merupakan vena varikosa pada kanalis ani dan dibagi menjadi dua bagian

yaitu, hemoroid interna dan eksterna. Hemoroid interna merupakan varises vena

hemoroidalisis superior dan media, sedangkan hemoroid eksterna merupakan varises vena

hemoroidalisis inferior.

Hemoroid mempunyai nama lain seperti wasir dan ambeien. Sesuai tampilan klinis,

hemoroid dibedakan menjadi hemoroid interna dan hemoroid eksterna. Hemoroid interna

adalah pelebaran vena pada pleksus hemoroidalis superior diatas garis mukokutan dan

ditutupi oleh mukosa. Hemoroid eksterna yang merupakan pelebaran dan penonjolan pleksus

hemoroid inferior terdapat disebelah distal garis mukokutan didalam jaringan dibawah epitel

anus.

Stadium hemoroid interna

Stadium Kondisi klinis

I Hemoroid interna dengan pendarahan segar tanpa nyeri pada waktu

defekasi

II Hemoid interna yang menyebabkan pendarahan dan mengalami prolaps

2

Page 3: Isi Fix Banget

pasa saat mengedan ringan, tetapi dapat masuk kembali secara spontan

III Hemoroid interna yang mengalami perdarahan dan disertai prolaps dan

diperlukan intervensi manual memasukan kedalam kanalis

IV Hemoroid interna yang tidak kembali kedalam atau berada terus-

menerus diluar

(Thornton, Scott C, 2009)

Hemoroid eksterna diklasifikasikan sebagai bentuk akut dan kronis. Bentuk akut berupa

pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya merupakan suatu hematoma,

walaupun disebut sebagai hemoroid thrombosis eksterna akut. Bentuk ini sering terasa sangat

nyeri dan gatal karena ujung-ujung saraf pada kulit merupakan reseptor nyeri. Kadang-

kadang perlu membuang thrombus dengan anestesi local atau dapat diobati dengan “kompres

duduk” panas dan analgesic. Hemoroid eksterna kronis atau skin tag biasanya merupakan

sekuele dari hematom akut. Hemoroid ini berupa satu atau lebih lipatan kulit anus yang

terdiri dari jaringan ikat dan sedikit pembuluh darah. (Sylvia, 2005).

B. Etiologi

Kondisi hemoroid biasanya tidak berhubungan dengan kondisi medis atau penyakit,

namun ada beberaapa redis posisi penting yang dapat meningkatkan resiko hemoroid seperti

bentuk berikut ini:

1. Peradangan pada usus, seperti pada kondisi kolitis ulseratif atau penyakit crohn.

2. Kehamilan berhubungan dengan banyak masalah anorektal

3. Konsumsi makanan rendah serat

4. Obesitas

5. Hipertensi portal

6. Konstipasi

7. Mengejan pada saat defektasi

8. Duduk lama (Arif, 2011).

C. Patofisiologi

3

Page 4: Isi Fix Banget

Hemoroid terjadi pada aktivitas yang meningkatkan tekanan intravena sehingga terjadi

distensi pengelembungan vena. Faktor predis posisi nya meliputi duduk lama, mengejan saat

defekasi, konstipasi, makanan rendah serat, kehamilan dan obesitas. Faktor yang lain meliputi

penyakit hati, seperti sirosis hepatis, abses ameba, atau hepatitis; alkaholisme;dan infeksi

anorektal.

Hemoroid diklasifikasikan menjadi derajat pertama, kedua, ketiga, dan keempat

menurut intensitas atau berta keadaan tersebut. Hemoroid derajat pertama hanya terbatas pada

saluran anus. Hemoroid derajat kedua memperlihatkan proloaps pada saat mengejan, tetapi

tonjolan hemaroid tersebut kemudian dapat masuk kembali secara spontan. Hemoroid derajat

ketiga merupakan hemoroid yang mengalami prolaps setiap kali selesai defekasi dan harus

dimasukan kembali secara manual. Hemoroid derajat keempat tidak bisa di reposisi. Tanda

dan gejala hemoroid bervariasi dan tergantung derajatnya.

D. Pathway

4

Page 5: Isi Fix Banget

E. Manifestasi Klinis

5

Konsumsi makanan rendah serat

Terlalu lama duduk di toilet atau saat membaca

Kehamilan obesitas

Peradangan pada usus, seperti politis ulseratif atau penyakit Crohn

Feses kecil dan mengejan selama BAB

Penurunan relatif venous return di daerah perianal (yang disebut dengan efek

tourniquet)

Peningkatan frekuensi BAB

Peningkatan vena portal

Pelebaran dari vena-vena di dalam pleksus

hemoroidalis

Melemahnya struktur pendukung dari memfasilitasi prolaps

Seringnya penggunaan otot-oto perianal

Kondisi penuaan

AnoreksiaHEMOROID

Kompresi saraf lokal

Ruptur vena Prolaps pleksus keluar

anus

Nyeri

Pendarahan anus pleksus berdarah

Anemia Intoleransi aktivitas

Resiko infeksi Intervensi skleroterapi

Intervensi bedah hemoroidektomi

Gangguan defekasi Respons psikologis

Respons serabut lokal

Port de entree

Luka pasca bedah

Kecemasan pemenuhan informasi

preoperatif

Kerusakkan jaringan lunak pasca bedah

Pasca bedah

Resiko keseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

Intake nutrisi tidak adekuatPeradangan pada pleksus

hemoroidalis

Page 6: Isi Fix Banget

1. Pendarahan intermiten tanpa rasa nyeri pada saat defekasi, perdarahan ini terjadi

karena iritasi dan cedera pada mukosa yang mengalami hemoroid.

2. Darah berwarna merah cerah pada feses atau tisu kamar mansi yang disebabkan oleh

cedera pada mukosa yang mengalami hemoroid.

3. Rasa gatal pada anus akibat higiene anus yang buruk

4. Rasa tidak nyaman didaerah anus ketika terjadi perdarahan

5. Prolapsus mukosa repti akibat mengejan

6. Rasa nyeri akibat trombosis pada hemoroid eksterna.

F. Komplikasi

1. Konstipasi

2. Infeksi lokal

3. Trombosis pada hemoroid

4. Anemia sekunder akibat perdarahan hebat atau rekuren(kambuhan)

G. Penatalaksanaan

1. Diet tinggi serat, peningkatan asupan cairan dan penggunaan preparat yang

meningkatkan masa feses (Bulking agens) untuk mencegah konstipasi.

2. Menghindari duduk lama dikloset untuk mencegah kongesti.

3. Obat anastesi local untuk mengurangi pembekakan setempat dan rasa nyeri.

4. Krim dan supositoria hidrokortison untuk mengurangi hemoroid yang mengalami

edema serta prolaps dan rasa gatal.

5. Berendam dalam air hangat (Sitz Baths) untuk meredakan rasa nyeri.

6. Skleroteraphy injeksi atau ligasi dengan pita karet untuk mengurangi hemorid yang

mengalami prolaps. Penyuntikan diberikan ke submukosa ke dalam jaringan areolar

yang longgar dibawah hemoroid interna dengan tujuan menimbulkan peradangan

steril yang kemudian menjadi fibrotik dan meninggalkan parut.

7. Hemoroidektomi dengan kauterisasi atau eksisi. Terapi bedah dipilih untuk penderita

yang mengalami keluhan menahun dan pada pendertita hemorid derajat 3 atau 4.

Terapi bedah juga bisa dilakukan pada penderita perdarahan berulang dan anemia

yang tidak sembuh dengan cara terpai lainnya yang lebih sederhana. Penderita

hemoroid derajat empat yang mengalami thrombosis dan kesakitan hebat dapat

ditolong segera dengan hemoroidektomi.

H. Pemeriksaan diagnostik

6

Page 7: Isi Fix Banget

1. Pemeriksaan fisik memastikan hemoroid eksterna.

2. Anoskopi dan sigmoidoskopi fleksibel dapat memperlihatkan hemoroid interna.

Anoskopi dimasukkan dan diputar untuk mengamati keempat kuadran. Hemoroid

interna terlihat sebagai struktur vascular yang menonjol ke dalam lumen. Apabila

penderita diminta mengedan sedikit maka ukuran hemoroid akan membesoar dan

penonjolan atau porlaps akan lebih nyata.

7

Page 8: Isi Fix Banget

BAB III

PEMBAHASAN

A. Asuhan keperawatan

1. Pengkajian

a. Pengkajian Anamnesis (Perkembangan Penyakit)

b. Pemeriksaan fisik

1) Pernafasan

a) Peningkatan frekuensi pernafasan

2) Neurosensori

a) Rasa gatal pada anus

3) Sirkulasi

a) Takikardi

c. Pemeriksaan Penunjang

1) Pemeriksaan fisik yaitu inspeksi dan rektaltouche

Pada pemeriksaan ini, hemoroid interna stadium awal tidak dapat diraba sebab

tekanan vena di dalamnya tidak terlalu tinggi dan biasanya tidak nyeri.

Hemoroid dapat diraba apabila sangat besar. Apabila hemoroid sering prolaps,

selaput lendir akan menebal. Trombosis dan fibrosis pada perabaan terasa

padat dengan dasar yang lebar. Pemeriksaan ini untuk menyingkirkan

kemungkinan karsinoma rektum.

2) Anoskopy

Dengan cara ini dapat dilihat hemoroid internus yang tidak menonjol keluar.

Anoskop dimasukkan untuk mengamati keempat kuadran. Penderita dalam

posisi litotomi. Anoskop dan penyumbatnya dimasukkan dalam anus sedalam

mungkin, penyumbat diangkat dan penderita disuruh bernafas panjang.

Hemoroid interna terlihat sebagai struktur vaskuler yang menonjol ke dalam

lumen. Apabila penderita diminta mengejan sedikit maka ukuran hemoroid

akan membesar dan penonjolan atau prolaps akan lebih nyata. Banyaknya

benjolan, derajatnya, letak ,besarnya dan keadaan lain dalam anus seperti

polip, fissura ani dan tumor ganas harus diperhatikan.

3) Pemeriksaan Proktosigmoidoskopy

Proktosigmoidoskopi perlu dikerjakan untuk memastikan keluhan bukan

disebabkan oleh proses radang atau proses keganasan di tingkat tinggi, karena

8

Page 9: Isi Fix Banget

hemoroid merupakan keadaan fisiologik saja atau tanda yang menyertai. Feses

harus diperiksa terhadap adanya darah samar.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Konstipasi berhubungan dengan mengabaikan dorongan untuk defekasi akibat

nyeri selama eliminasi.

b. Nyeri berhubungan iritasi, tekanan dan sensitifitas pada area rektal atau anal

sekunder akibat penyakit anorektal dan spasme sfingter pada pascaoperatif.

c. Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan rasa malu.

d. Resiko infeksi berhubungan dengan Pertahan primer tidak adekuat (kerusakan

kulit, trauma jaringan.

Diagnosa Keperawatan Rencana Keperawatan

Tujuan atau Kriteria Hasil Intervensi

Nyeri berhubungan iritasi,

tekanan dan sensitifitas pada

area rektal atau anal

sekunder akibat penyakit

anorektal dan spasme

sfingter pada pascaoperatif.

NOC :

Pain Level

Pain control

Comfort level

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama ….

Pasien tidak mengalami nyeri,

dengan kriteria hasil:

Mampu mengontrol

nyeri (tahu penyebab

nyeri, mampu

menggunakan tehnik

nonfarmakologi untuk

mengurangi nyeri,

mencari bantuan)

Melaporkan bahwa

nyeri berkurang dengan

menggunakan

manajemen nyeri

Mampu mengenali

NIC :

Lakukan pengkajian

nyeri secara

komprehensif

termasuk lokasi,

karakteristik, durasi,

frekuensi, kualitas dan

faktor presipitasi

Observasi reaksi

nonverbal dari

ketidaknyamanan

Bantu pasien dan

keluarga untuk

mencari dan

menemukan dukungan

Kontrol lingkungan

yang dapat

mempengaruhi nyeri

seperti suhu ruangan,

pencahayaan dan

9

Page 10: Isi Fix Banget

nyeri (skala, intensitas,

frekuensi dan tanda

nyeri)

Menyatakan rasa

nyaman setelah nyeri

berkurang

Tanda vital dalam

rentang normal

Tidak mengalami

gangguan tidur

kebisingan

Kurangi faktor

presipitasi nyeri

Kaji tipe dan sumber

nyeri untuk

menentukan intervensi

Ajarkan tentang teknik

non farmakologi:

napas dalam, relaksasi,

distraksi, kompres

hangat/ dingin

Berikan analgetik

untuk mengurangi

nyeri: ……...

Tingkatkan istirahat

Berikan informasi

tentang nyeri seperti

penyebab nyeri,

berapa lama nyeri akan

berkurang dan

antisipasi

ketidaknyamanan dari

prosedur

Monitor vital sign

sebelum dan sesudah

pemberian analgesik

pertama kali

Konstipasi berhubungan

dengan mengabaikan

dorongan untuk defekasi

akibat nyeri selama

eliminasi.

NOC:

Bowl Elimination

Hidration

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama ….

Konstipasi pasien teratasi

dengan kriteria hasil:

NIC :

Manajemen konstipasi

Identifikasi faktor-

faktor yang

menyebabkan

konstipasi

Monitor tanda-tanda

10

Page 11: Isi Fix Banget

Pola BAB dalam batas

normal

Feses lunak

Cairan dan serat

adekuat

Aktivitas adekuat

Hidrasi adekuat

ruptur bowel/peritonitis

Jelaskan penyebab dan

rasionalisasi tindakan

pada pasien

Konsultasikan dengan

dokter tentang

peningkatan dan

penurunan bising usus

Kolaburasi jika ada

tanda dan gejala

konstipasi yang

menetap

Jelaskan pada pasien

manfaat diet (cairan

dan serat) terhadap

eliminasi

Jelaskan pada klien

konsekuensi

menggunakan laxative

dalam waktu yang lama

Kolaburasi dengan ahli

gizi diet tinggi serat dan

cairan

Dorong peningkatan

aktivitas yang optimal

Sediakan privacy dan

keamanan selama BAB

Resiko Infeksi berhubungan

dengan Pertahan primer

tidak adekuat (kerusakan

kulit, trauma jaringan)

NOC :

Immune Status

Knowledge : Infection

control

Risk control

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama……

NIC :

Pertahankan teknik

aseptif

Batasi pengunjung bila

perlu

Cuci tangan setiap

sebelum dan sesudah

11

Page 12: Isi Fix Banget

pasien tidak mengalami

infeksi dengan kriteria hasil:

Klien bebas dari tanda

dan gejala infeksi

Menunjukkan

kemampuan untuk

mencegah timbulnya

infeksi

Jumlah leukosit dalam

batas normal

Menunjukkan perilaku

hidup sehat

Status imun,

gastrointestinal,

genitourinaria dalam

batas normal

tindakan keperawatan

Gunakan baju, sarung

tangan sebagai alat

pelindung

Ganti letak IV perifer

dan dressing sesuai

dengan petunjuk umum

Gunakan kateter

intermiten untuk

menurunkan infeksi

kandung kencing

Tingkatkan intake

nutrisi

Berikan terapi

antibiotik: ..............

Monitor tanda dan

gejala infeksi sistemik

dan local

Pertahankan teknik

isolasi k/p

Inspeksi kulit dan

membran mukosa

terhadap kemerahan,

panas, drainase

Monitor adanya luka

Dorong masukan cairan

Dorong istirahat

Ajarkan pasien dan

keluarga tanda dan

gejala infeksi

Kaji suhu badan pada

pasien neutropenia

setiap 4 jam

Ansietas berhubungan NOC : NIC :

12

Page 13: Isi Fix Banget

dengan rencana pembedahan

dan rasa malu.

Kontrol kecemasan

Koping

Setelah dilakukan asuhan

selama …………… klien

kecemasan teratasi dengan

kriteria hasil:

Klien mampu

mengidentifikasi dan

mengungkapkan gejala

cemas

Mengidentifikasi,

mengungkapkan dan

menunjukkan tehnik

untuk mengontol cemas

Vital sign dalam batas

normal

Postur tubuh, ekspresi

wajah, bahasa tubuh

dan tingkat aktivitas

menunjukkan

berkurangnya

kecemasan

Anxiety Reduction

(penurunan kecemasan)

Gunakan pendekatan

yang menenangkan

Nyatakan dengan jelas

harapan terhadap pelaku

pasien

Jelaskan semua

prosedur dan apa yang

dirasakan selama

prosedur

Temani pasien untuk

memberikan keamanan

dan mengurangi takut

Berikan informasi

faktual mengenai

diagnosis, tindakan

prognosis

Libatkan keluarga untuk

mendampingi klien

Instruksikan pada

pasien untuk

menggunakan tehnik

relaksasi

Dengarkan dengan

penuh perhatian

Identifikasi tingkat

kecemasan

Bantu pasien mengenal

situasi yang

menimbulkan

kecemasan

Dorong pasien untuk

13

Page 14: Isi Fix Banget

mengungkapkan

perasaan, ketakutan,

persepsi

Kelola pemberian obat

anti cemas: ........

BAB III

KESIMPULAN

14

Page 15: Isi Fix Banget

Hemoroid mempunyai nama lain seperti wasir dan ambeien. Hemoroid adalah suatu

pelebaran dari vena-vena didalam pleksus hemoroidalis (Arif, 2011). Kondisi hemoroid

biasanya tidak berhubungan dengan kondisi medis atau penyakit, namun ada beberaapa redis

posisi penting yang dapat meningkatkan resiko hemoroid seperti Peradangan pada usus,

seperti pada kondisi kolitis ulseratif atau penyakit crohn.

Manifestasi klinis pada pasien hemoroid adalah Pendarahan intermiten tanpa rasa nyeri

pada saat defekasi, perdarahan ini terjadi karena iritasi dan cedera pada mukosa yang

mengalami hemoroid serta darah berwarna merah cerah pada feses atau tisu kamar mansi

yang disebabkan oleh cedera pada mukosa yang mengalami hemoroid.

Penatalaksanaan yang dapat dilakukan yaitu Diet tinggi serat, peningkatan asupan

cairan dan penggunaan preparat yang meningkatkan masa feses (Bulking agens) untuk

mencegah konstipasi, Menghindari duduk lama dikloset untuk mencegah kongesti serta Obat

anastesi local untuk mengurangi pembekakan setempat dan rasa nyeri.

DAFTAR PUSTAKA

15

Page 16: Isi Fix Banget

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan

Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC

Kowalak, Jennifer P. 2011. Buku ajar Patofisiologi. Jakarta : EGC

Muttaqin, Arif. 2011. Gangguan Gastrointestinal: Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal

Bedah. Jakarta : Salemba Medika

Sjamsuhidajat, R. 1997. Buku-ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC

Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta:

EGC

16