Click here to load reader

Indonesia_MAJALAH_Pola Kuman Dan Sensitivitas Kuman Dari Ulkus Diabetikum Di RSUP Sanglah

  • View
    98

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Indonesia_MAJALAH_Pola Kuman Dan Sensitivitas Kuman Dari Ulkus Diabetikum Di RSUP Sanglah

Laporan Penelitian

KARAKTERISTIK DAN UJI KEPEKAAN ANTIBIOTIK PADA KUMAN DARI ULKUS DIABETIKUM DI RSUP SANGLAH, DENPASAR SEPTEMBER 2009 DESEMBER 2010Dewi R.S1, Wira Gotera21Residen Bagian Ilmu Penyakit Dalam, 2Divisi Endokrinologi dan Metabolik/SMF Ilmu Penyakit Dalam Universitas Udayana/RSUP SanglahLatar BelakangInsiden Diabetes mellitus (DM) semakin meningkat di seluruh dunia. Tahun 1995, suatu studi di kota Framingham, Massachusetts, menunjukkan prevalensi yang meningkat dari 0,9% (1958) menjadi 3% (1995). CDC (Centers for Disease Control and Prevention) memperkirakan bahwa di Amerika Serika, diagnosis diabetes mellitus tahun 1998 sebesar 6,5% dimana meningkat 30% dari tahun 1990 (4,9%).Pada tahun 2010 di Amerika Serikat, dimana10.9 juta (26,9%) penduduk lansia (> 65 tahun) mengidap DM dan sekitar 215.000 dewasa < 20 tahun mengidap DM tipe 1 atau tipe 2. WHO memprediksi adanya peningkatan kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta (2000) menjadi 21,3 juta (tahun 2030). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2003, diperkirakan penduduk Indonesia yang berusia > 20 tahun sebanyak 133 juta jiwa. Dengan prevalensi DM sebesar 14,7% di daerah urban dan 7,2% di daerah rural maka berdasarkan pola pertambahan penduduk dimana pada tahun 2030 akan ada 194 juta penduduk berusia > 20 tahun maka diperkirakan adakn ada 12 juta penyandang DM di daerah urban dan 8,1 juta di daerah rural.1,2,3 Hal yang mengkhawatirkan adalah prevalensi ini meningkat pada usia 30 - 39 tahun. Dengan semakin mudanya masyarakat yang mengidap diabetes mellitus maka akan semakin meningkat pula komplikasi kronik yang mana salah satunya adalah ulkus pada kaki.1,3,4 Prevalensi ulkus kaki pada populasi diabetes adalah 4-10%. Insiden ulkus kaki per tahun adalah 1% - 3,6% pada diabetes tipe I dan tipe 2. Di Inggris, 50% rawat inap dihuni oleh pasien kaki diabetes. Diperkirakan bahwa orang yang mengidap diabetes pernah menderita ulkus kaki sebesar 5-7% dimana akan tetap berisiko mengalami komplikasi ini 15-25% sepanjang hidupnya. Setelah pertama kali terdiagnosis, dalam wakti 6-18 bulan kemudian 5-24% pasien akan berakhir dengan amputasi. Amputasi kaki non trauma pada pasien diabetes 10-20% lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok non diabetes. 1,2,4 Ulkus kaki pada DM disebabkan oleh beberapa factor kombinasi yaitu neuropati perifer (NP), angiopati perifer (AP), trauma berulang dan infeksi serta control glukosa darah. Infeksi bukanlah penyebab langsung dari ulkus tetapi infeksi dapat memperlambat penyembuhan, menyebabkan deformitas dan kematian. Evaluasi bakteri pada DF penting untuk mengetahui agen yang menyebabkan degenerasi dan perubahan pada luka. Dengan mengetahui karakteristik penyebab bakteriologi terbanyak di RSUP Sanglah, maka diharapkan: dapat menjadi tuntunan pemberian antibiotik sehingga dapat mencegah kehilangan ekstremitas bawah, menekan biaya pengobatan dan lama rawat dan mengurangi angka resistensi mikroba. Rancangan dan Metodologi PenelitianPenelitian ini mencakup 51 orang penderita diabetes mellitus yang dirawat dan dilakukan kultur dari luka kaki. Data berupa hasil kultur kuman dan resistensi obat yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi RSUP. Sanglah, Denpasar mulai bulan September 2009 sampai Desember 2010. Kami tidak mengikutsertakan data hasil kultur dan tes sensitivitas kuman apa bila tidak dicantumkan diagnosis dan lokasi luka pada subjek. Hasil

Dari 51 data yang terkumpul, kami temukan bahwa diabetic foot lebih banyak diderita oleh laki-laki (52,9%) daripada perempuan (47,1%). Dari hasil kultur luka didapatkan kuman gram negative 39 (78,4%) lebih mendominasi dibandingkan gram positif 12 (21,6%). Pseudomonas sp merupakan kuman terisolasi yang paling banyak 20 (39.9%) dimana 5 (25%) adalah Pseudomonas aeruginosa. Setelah Pseudomonas sp, gram negatif berikutnya adalah E coli, Enterobacter sp 6 (11,8%), Acitenobacter sp 3 (5,9%), Klebsiella sp 2 (3,9%), dan Proteus mirabilis, Providencia rettgeri masing-masing 1 (2%). Kelompok kuman gram positif yang terbanyak adalah Stafilokokus koagulase negatif 5 (9,8%), Streptokokus sp 4 (7,8%), dan Stafilokokus koagulase positif dan Stafilokokus aureus. Profil kuman yang terisolasi akan ditampilkan pada table.1. Hasil uji kepekaan antibiotik pada kuman gram negative (Table.2) terlihat bahwa sudah terjadi multiresisten antibiotik dan hanya imipenem dan cefoperazone sulbactam yang menunjukkan sensitifitas sebesar 88%. Untuk data uji kepekaan antibiotik pada gram positif (Tabel.3) terlihat bahwa kuman ini sensititf pada imipenem (100%), cefoperazone sulbactam (88%), ampisillin sulbactam dan amoxicillin clavucanat (82%), cloramfenicol (73%). Tabel. 1 Profil kuman yang diisolasi

Kategori BakteriaFekruensi

(%)

n = 51

Gram negatif 40 (78,8%)

Pseudomonas Sp20(39.2)

Pseudomonas aeruginosa5(25)

E coli7(13.7)

Enterobacter Sp6(11.8)

Acinetobacter sp3(5.9)

Klebsiella Sp2(3.9)

Proteus mirabilis1(2.0)

Providencia rettgeri 1(2.0)

Gram positif 11 (21,6%)

Stafilokokus koagulase negatif5(9.8)

Streptokokus sp4(7.8)

Stafilokokus koagulase positif1(2.0)

Stafilokokus aureus1(2.0)

Data Kepekaan 12 jenis antibiotik dianalisa pada masing-masing organisme (gambar. 1, gambar. 2, gambar. 3, gambar. 4, gambar.5, gambar.6, gambar.7, dan gambar.8). Uji kepekaan pada kuman E coli didapatkan nilai sensitivitas yang tinggi pada antibiotik cloramfenicol (100%), imipenem (100%)m dan Cefoperazone sulbactam (85%), sedangkan resistensi yang tinggi ditemukan pada eritromisin dan tetrasiklin (100%). Pada kelompok Enterobacter Sp, resistensi tampak pada antibiotik eritromisin (100%) dan tetrasiklin (60%). Antibiotik yang sensitivitas untuk Enterobacter Sp adalah cefoperazone sulbactam (100%), imipenem (100%), gentamisin (84%), dan cefotaxime (80%). Hasil uji kepekaan pada Pseudomonas sp menunjukkan multiresisten antibiotik dimana kuman ini resisten yang tinggi pada amoxicillin clavucanat (100%), cloramfenicol dan eritromisin (93%), cotrimoxazole (87%), tetrasiklin (85%), dan ampisillin sulbactam (70%). Kuman ini hanya menunjukkan sensitivitas pada cefoperazone sulbactam (85%) dan imipenem (65%).

Tabel. 2 Hasil Uji Kepekaan Antibiotik Gram Negatif

Gram Negatif (%)

N = 39

nRIS

Ampisillin sulbactam3317 (52)7 (21)9 (27)

Cloramfenikol3826 (68)1 (3)11 (28)

Ciprofloxacin3923 (59)2 (5) 14 (36)

Eritromisin3632 (89)1 (3)3 (8)

Gentamisin3921 (54)1 (3)17 (43)

Tetrasiklin3726 (70)2 (5)9 (25)

Ceftazidime3816 (42)6 (16)16 (42)

Cotrimoxazole3827 (71)011 (29)

Amoxicillin clavucanat3727 (73)1 (3)9 (24)

Cefotaxime 3617 (47)8 (22)11 (31)

Imipenem161 (6)1 (6)14 (88)

Cefoperazone sulbactam332 (6)2 (6)9 (88)

Pada kelompok Pseudomonas aerogenus, juga menunjukkan pola multiresisten antibiotik yang tinggi pada ampisillin sulbactam, cloramfenicol, cotrimoxazole, eritromisin, tertasiklin, amoxicillin clavucanat sebesar 100% dan sensitif dengan antibiotik imipenem dan cefoperazone sulbactam sebesar 100%. Acitenobacter. Sp juga mempunyai multi resisten antibiotik pada cloramfenicol, ciprofloxacin, gentamisin, amoxicillin clavucanat dan cefotaxim (100%) dan sensitif pada imipenen, cefoperazone sulbactam dan eritromisin (100%) dan hanya 67% pada ampicillin sulbactam dan cotrimoxazole.

Tabel. 2 Hasil Uji Kepekaan Antibiotik Gram Positif

Gram Positif (%)

N= 40

nRIS

Ampisillin sulbactam111 (9)1 (9)9 (82)

Cloramfenikol113 (27)08 (73)

Ciprofloxacin113 (27) 2 (18)8 (55)

Eritromisin114 (36)07 (64)

Gentamisin114 (36)07 (64)

Tetrasiklin116 (55)05 (45)

Ceftazidime115 (45)1 (9)5 (46)

Cotrimoxazole83 (37)08 (63)

Amoxicillin clavucanat111 (9)1 (9)9 (82)

Cefotaxime 106 (60)04 (40)

Imipenem9009 (100)

Cefoperazone sulbactam81 (12)07 (88)

Klebsiella sp menunjukkan pola resistensi (50%) dan sensitivitas (50%) pada gentamisin, ceftazidime,cotrimoxazole,amoxicillin clavucanat, cefotazime, dan cefoperazone sulbactam. Resistensi 100% pada eritromisin dan tetrasiklin. Klebsiella sp sensitif pada imipenem (100%) dan ciprofloxacin (67%). Streptococcus sp, kuman gram positif sensitivitas 100% pada ampisilin sulbactam, cloramfenicol,cotrimoxazole, amoxicillin clavucanat, cefoperazone sulbactam dan imipenem. Resistensi Streptococcus sp terlihat pada gentamisin (100%), cefotazime (75%) dan sebesar 50% pada ciprofloxacin, eritromisin, tetrasiklin, dan ceftazidime. Staphylococcus koagulase negatif menunjukkan pola bervariasi pada uji kepekaan antibiotik dimana nilai sensitivitas 100% pada imipenem, cefoperazone sulbactam (84%), ampisillin sulbactam dan amoxicillin clavucanat (72%) dan eritromisin (71%). Resistensi terlihat pada cloramfenicol,ciprofloxacin, gentamisin, tetrasiklin, ceftazidime, cotrimoxazole (43%) dan cefotaxime (50%).

s

Hena dkk, 2010 menemukan bahwa kuman terbanyak yang menginfeksi ulkus kaki Pembahasan

Pada penelitian sederhana kami ini, kami menemukan bahwa kuman gram negatif merupakan kuman terbanyak yang menginfeksi ulkus diabetikum (78.4%) dibandingkan kuman gram positif (21,6%). Gram negatif pada penelitian kami didominasi oleh E coli (13,7%), Acinetobacter sp(11,8%), sedangkan gram positif oleh stafilokokus koagulase negatif (9,8%). Pada penelitian ini kami mendapatkan hasil yang tidak jauh berbeda pada fekruensi infeksi pseudomonas aerogenusa dan E coli dengan beberapa penelitian lainnya (table.2). Gadepalli dkk , 2006, Infeksi kuman oerob gram negatif (51,4%) lebih banyak ditemukan pada populasi ulkus kakidi India sebesar daripada kuman aerob gram positif (33,3%). Untuk kuman anaerob,