of 129 /129
KARYA TULIS ILMIAH STUDI KASUS PADA PASIEN DEWASA PNEUMONIA DENGAN MASALAH POLA NAFAS TIDAK EFEKTIF DI RUMAH SAKIT PANTI WALUYA SAWAHAN MALANG Oleh : INDAH CHRISHARTANTI NIM : 11190036SPWMRPL

repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

  • Upload
    others

  • View
    6

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

KARYA TULIS ILMIAH

STUDI KASUS PADA PASIEN DEWASA PNEUMONIA

DENGAN MASALAH POLA NAFAS TIDAK EFEKTIF

DI RUMAH SAKIT PANTI WALUYA

SAWAHAN MALANG

Oleh :

INDAH CHRISHARTANTI

NIM : 11190036SPWMRPL

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN PROGRAM RPL

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PANTI WALUYA

MALANG

2020

Page 2: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

i

KARYA TULIS ILMIAH

STUDI KASUS PADA PASIEN DEWASA PNEUMONIA

DENGAN MASALAH POLA NAFAS TIDAK EFEKTIF

DI RUMAH SAKIT PANTI WALUYA

SAWAHAN MALANG

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Ahli Madya

Keperawatan (A.Md.Kep) pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti

Waluya Malang

Oleh :

INDAH CHRISHARTANTI

NIM : 11190036SPWMRPL

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN PROGRAM RPL

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PANTI WALUYA

MALANG

2020

Page 3: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

ii

Page 4: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

iii

Page 5: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

iv

Page 6: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

v

Page 7: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

vi

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan kasih-Nya penulis

dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang berjudul “Studi Kasus Pada Pasien

Dewasa Pneumonia dengan Masalah Pola Nafas Tidak Efektif di Rumah Sakit

Panti Waluya Sawahan Malang”. Penulis membuat ini sebagai persyaratan untuk

proses pengambilan data studi kasus pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti

Waluya Malang dengan metode studi kasus. Dalam penyusunan Karya Tulis

Ilmiah ini, penulis telah banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai

pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. dr. Linda Nurtjahja Wijasa, MARS selaku Direktur Rumah Sakit Panti

Waluya Sawahan Malang yang telah memberikan izin untuk melakukan

penelitian di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang.

2. Bapak Wibowo, S.Kep, Ns,M.Biomed Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan

Panti Waluya Malang yang telah memberikan kesempatan untuk

menggunakan fasilitas Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Waluya Malang

dan memberikan bimbingan dan saran untuk penyusunan Karya Tulis Ilmiah

ini.

3. Sr. Felisitas A Sri S, Misc MAN selaku pembimbing I yang telah

memberikan bimbingan, saran, ide untuk penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

4. Ibu Wisoedhanie Widi A., S.K.M., M.Kes selaku pembimbing II yang telah

memberikan bimbingan, saran, ide untuk penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

5. Ibu Kristin Teguh, S. Kep., Ns selaku pembimbing klinik yang telah

memberikan bimbingan, saran, ide untuk penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

Page 8: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

vii

6. Bapak dan Ibu Dosen STIKes Panti Waluya Malang yang telah memberikan

bimbingan kepada saya.

7. Seluruh keluarga besar saya, orang tua, suami dan anak anak yang telah

memberikan dukungan baik secara moril maupun finansial selama penulisan

Karya Tulis Ilmiah ini.

8. Teman-teman saya yang memberikan dukungan serta memotivasi dalam

pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini.

9. Semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu yang telah membantu

penulisan karya tulis ilmiah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh

dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang

bersifat membangun demi sempurnanya penelitian ini. Semoga Karya Tulis

Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya institusi, lahan

penelitian dan para pembaca pada umumnya.

Malang, 04 Juli 2020

Penulis

Page 9: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

viii

ABSTRAK

Chrishartanti, Indah, 2020. Studi Kasus Pada Pasien Dewasa Pneumonia dengan masalah Pola Nafas Tidak Efektif di ruang Yosep Pavilliun Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang. Karya Tulis Ilmiah. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Waluya Malang. Pembimbing (1)Sr. Felisitas A Sri S, Misc MAN. (2)Wisoedhanie Widi A., S.K.M., M.Kes.

Pneumonia adalah infeksi akut jaringan paru yang disebabkan oleh bakteri, virus atau jamur yang timbul secara primer atau sekunder dengan manifestasi adanya sesak nafas, batuk, peningkatan produksi sputum, sehingga penderita pneumonia dapat mengalami pola nafas yang tidak efektif akibat adanya sumbatan sputum pada jalan napas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan asuhan keperawatan pada pasien dewasa yang mengalami Pneumonia dengan masalah pola nafas tidak efektif di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang. Subyek penelitian ini adalah seorang pasien yang mengalami Pneumonia dengan masalah pola nafas tidak efektif. Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 23-25 Juli 2020 melalui pembimbing klinik. Pada pasien tersebut telah dilakukan implementasi selama 3 hari perawatan. Saat dilakukan evaluasi pada hari ke 3 perawatan, didapatkan hasil bahwa pasien masih mengeluh sesak dan masih menggunakan oksigen. Kepatenan jalan nafas dapat membantu untuk mempertahankan pola nafas yang efektif. Diharapkan dengan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien akan membuat pola nafas pasien menjadi normal kembali.

Kata Kunci : Pneumonia, Pola Nafas

Page 10: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

ix

ABSTRACT

Chrishartanti, Indah, 2020. Case Study In Adult of Pneumonia Patients with Ineffective Breathing Patterns in the Yosep Pavilliun Room, Panti Waluya Sawahan Hospital, Malang. Scientific papers. College of Health Sciences Panti Waluya Malang. Advisor (1) Sr. Felisitas A Sri S, Misc MAN. (2) Wisoedhanie Widi A., S.K.M., M.Kes.

Pneumonia is an acute infection of lung tissue caused by bacteria, viruses or fungi that occurs primarily or secondary with manifestations of shortness of breath, coughing, increased sputum production, so pneumonia sufferers can experience ineffective breathing patterns due to sputum obstruction in the airway. The purpose of this study was to provide nursing care to adult patients who experience pneumonia with ineffective breathing pattern problems at Panti Waluya Sawahan Hospital Malang. The subject of this study was a patient who had pneumonia with an ineffective breathing pattern problem. When the study was conducted on July 23-25, 2020 through clinical supervisors. In these patients, it has been implemented for 3 days of treatment. When evaluated on the 3rd day of treatment, it was found that the patient was still complaining of tightness and was still using oxygen. Airway compliance can help to maintain an effective breathing pattern. It is hoped that the nursing care given to the patient will make the patient's breathing pattern return to normal.

Keywords: Breath Pattern, Pneumonia

Page 11: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

x

DAFTAR ISI

HALAMAN COVER...................................................................................... i

HALAMAN PERNYATAAN ....................................................................... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... iii

HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...................................................................... v

ABSTRAK ...................................................................................................... vi

KATA PENGANTAR ................................................................................... viii

DAFTAR ISI .................................................................................................. x

DAFTAR BAGAN ......................................................................................... xi

DAFTAR TABEL .......................................................................................... xii

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xiii

BAB 1 PENDAHULUAN .............................................................................. 1

1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1

1.2 Batasan Masalah .............................................................................. 3

1.3 Rumusan Masalah ............................................................................ 4

1.4 Tujuan............................................................................................... 4

1.5 Manfaat ............................................................................................ 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 7

2.1 Konsep Pneumonia .......................................................................... 7

2.1.1 Definisi Pneumonia .................................................................. 6

2.1.2 Klasifikasi Pneumonia ............................................................. 6

2.1.3 Etiologi Pneumonia .................................................................. 6

2.1.4 Manifestasi Klinis Pneumonia ................................................. 10

2.1.5 Pathofisiologi Pneumonia ........................................................ 11

2.1.6 Pathway .................................................................................... 13

2.1.7 Pemeriksaan Diagnostik .......................................................... 14

2.1.8 Komplikasi Pneumonia ........................................................... 14

2.1.9 Penatalaksanaan ...................................................................... 15

2.2 Konsep Pola Nafas Tidak Efektif .................................................... 16

Page 12: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

xi

2.2.1 Definisi .................................................................................... 16

2.2.2 Etiologi .................................................................................... 16

2.2.3 Manifestasi Klinis ................................................................... 17

2.2.4 Patthofisiologi ......................................................................... 20

2.2.5 Komplikasi .............................................................................. 21

2.3 Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pneumonia ............................. 23

2.3.1 Pengkajian Keperawatan ......................................................... 23

2.3.2 Diagnosa Keperawatan ........................................................... 29

2.3.3 Intervensi Keperawatan .......................................................... 29

2.3.4 Implementasi Keperawatan ..................................................... 30

2.3.5 Evaluasi Keperawatan ............................................................. 31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN..................................................... 32

3.1 Desain Penelitian ............................................................................ 32

3.2 Batasan Ilmiah.................................................................................. 32

3.3 Partisipan .......................................................................................... 32

3.4 Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................................... 33

3.5 Pengumpulan Data ........................................................................... 33

3.6 Uji Keabsahan Data ......................................................................... 35

3.7 Analisa Data ..................................................................................... 35

3.8 Etik Penelitian .................................................................................. 35

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... 36

4.1 Hasil .................................................................................................. 36

4.2 Pembahasan ...................................................................................... 51

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 57

5. 1 Kesimpulan ...................................................................................... 57

5. 2 Saran ................................................................................................ 58

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 60

LAMPIRAN ................................................................................................... 62

Page 13: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

xii

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1.6. Pathway Pola Nafas Tidak Efektif pada pasien Pneumonia ..... 13

Page 14: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Intervensi Keperawatan Pola Nafas Tidak Efektif .......................... 30

Tabel 4.1 Identitas Pasien ................................................................................ 36

Tabel 4.2 Status Kesehatan dan Riwayat Kesehatan ....................................... 37

Tabel 4.3 Data Konsep Diri ............................................................................. 38

Tabel 4.4 Hubungan Sosial ............................................................................. 38

Tabel 4.5 Pola Fungsi Kesehatan .................................................................... 39

Tabel 4.6 Pemeriksaan Fisik ........................................................................... 40

Tabel 4.7 Pemeriksaan Penunjang ................................................................... 42

Tabel 4.8 Pemberian Obat ............................................................................... 43

Tabel 4.9 Analisa Data .................................................................................... 44

Tabel 4.10 Diagnosa Keperawatan .................................................................. 45

Tabel 4.11 Rencana Keperawatan ................................................................... 45

Tabel 4.12 Implementasi Keperawatan Aplikatif ............................................ 48

Tabel 4.13 Evaluasi Keperawatan.................................................................... 50

Tabel 4.14 Pembahasan Pengkajian ................................................................ 51

Tabel 4.15 Pembahasan Diagnosa Keperawatan ............................................. 52

Tabel 4.16 Pembahasan Tujuan Intervensi Keperawatan ............................... 53

Tabel 4.17 Pembahasan Kriteria Hasil ............................................................ 53

Tabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan ............................................ 54

Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi Keperawatan ...................................... 55

Tabel 4.20 Pembahasan Evaluasi Keperawatan .............................................. 56

Page 15: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Studi Pendahuluan .............................................................. 64

Lampiran 2 Surat Jawaban Studi Pemdahuluan .............................................. 65

Lampiran 3 Surant Ijin Penelitian ................................................................... 66

Lampiran 4 Surat Jawaban Ijin Penelitian ....................................................... 67

Lampiran 5 Lembar Konsultasi Pembimbing 1 .............................................. 68

Lampiran 6 Lembar Konsultasi Pembimbing 2 .............................................. 69

Lampiran 7 Lembar Konsultasi Pembimbing 3 .............................................. 70

Page 16: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pneumonia adalah suatu penyakit peradangan akut pada parenkim paru yang

biasanya terjadi pada saluran nafas bawah akut (Nurarif, 2015). Infeksi ini

berupa radang paru-paru yang disertai dengan adanya produksi sputum dan

ditandai dengan gejala batuk disertai sesak nafas. Penyakit ini disebabkan

oleh agen infeksius seperti virus, bakteri, mycoplasma dan substansi asing,

jamur dan aspirasi (Nurarif, 2015). Faktor lain yang mempengaruhi

timbulnya pneumonia ialah daya tahan tubuh yang menurun misalnya akibat

Malnutrisi Energi Protein (MEP), penyakit menahun, trauma pada paru,

anestesia, aspirasi dan pengobatan dengan antibiotik yang tidak sempurna

(Ngastiyah, 2015).

Pneumonia hingga saat ini masih tercatat sebagai masalah kesehatan utama

pada orang-orang dewasa di negara berkembang. Pneumonia merupakan

salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Angka kematian akibat

pneumonia sebesar 1,4 juta per tahunnya dan menyumbang angka 7%

penyebab kematian (WHO, 2016). Kematian akibat pneumonia berdasarkan

kelompok umur penduduk, prevalensi pneumonia yang tinggi terjadi pada 2

kelompok umur 1-4 tahun, kemudian mulai meningkat pada umur 45-54

tahun dan terus meningkat pada kelompok umur berikutnya. Di Indonesia

prevalensi pneumonia selalu mengalami peningkatan, dimana pada tahun

1

Page 17: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

2

2013 angka kejadiannya sebesar 1,8 persen dan meningkat pada tahun 2018

mencapai angka 2 persen (RISKESDAS, 2018). Provinsi Jawa Timur

Page 18: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

angka kejadian penyakit pneumonia masih 1,84 persen, sedangkan di kota

Malang yaitu 1,5 persen (RISKESDAS, 2018). Pada tahun 2019 penyakit

pneumonia menempati urutan ke tujuh dari sepuluh penyakit terbanyak yang

ada di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang. Kasus pneumonia di

rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang mencapai angka 210 kasus atau

7,82 persen dari sepuluh penyakit terbanyak yang ada di Rumah Sakit (Data

Statistik Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang, 2019).

Gambaran klinis pneumonia bervariasi tergantung pada respon sistemik

terhadap infeksi, agen etiologi, tingkat keterlibatan paru dan obstruksi jalan

nafas. Adanya agen etiologi yang masuk ke dalam paru-paru akan

menyebabkan proses infeksi yang pada akhirnya terjadi produksi sputum

yang berlebih. Sehingga, hal ini dapat menyebabkan pola nafas menjadi tidak

efektif pada pasien dengan pneumonia (PPNI, 2017).

Apabila masalah pola nafas tidak efektif pada pasien pneumonia tidak segera

ditangani, maka dapat mengakibatkan terjadinya hipoksemia dan hipoksia

pada pasien.(Bararah, T dan Jauhar, M, 2013). Selain itu dampak dari adanya

pola nafas tidak efektif adalah adanya dipsneu, penggunaan alat bantu

pernafasan terutama saat ekspirasi sehingga nampak penderita bernafas

pendek oleh karena saluran nafas menjadi sempit. Sehingga aliran oksigen

yang masuk ke dalam saluran pernafasan juga akan berkurang.(Wilkinson,

2016).

Fenomena yang penulis temukan pada saat Praktik Klinik di Rumah Sakit

Panti Waluya Sawahan Malang pada bulan Desember 2019 sampai Januari

3

Page 19: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

4

2020, terdapat satu pasien yang menjalani perawatan dengan pneumonia.

Pada pasien ini didapatkan bahwa pasien mengalami sesak nafas dengan RR

30 x/mnt, tampak sianosis, badan lemas, saturasi O2 yang menurun yaitu

87%, adanya batuk yang disertai dengan produksi sputum dan adanya suara

nafas tambahan yaitu ronki.

Sebagai perawat pertolongan kesehatan yang dapat diberikan pada pasien

pneumonia dengan pola nafas tidak efektif adalah memberikan asuhan

keperawatan kepada pasien dengan pendekatan preventif, kuratif, rehabilitatif

dan kolaboratif. Upaya preventif yang bisa dilakukan seperti menjaga pola

hidup sehat dan bersih serta memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga

tentang tanda gejala dan faktor resiko dari penyakit pneumonia. Upaya kuratif

yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan obat sesuai dengan dosis

yang telah ditetapkan oleh dokter. Upaya rehabilitatif adalah dengan

memberikan latihan batuk yang efektif dan melakukan fisioterapi dada jika

diperlukan. Selain itu upaya kolaboratif dengan tim kesehatan lainnya juga

diperlukan guna mempercepat proses penyembuhan bagi penderita

pneumonia.

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk melakukan

studi kasus yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dewasa

Pneumonia dengan masalah Pola Nafas Tidak Efektif di Rumah Sakit Panti

Waluya Sawahan Malang”

Page 20: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

5

1.2. Batasan Masalah

Masalah dalam studi kasus ini dibatasi pada Asuhan Keperawatan pada

pasien dewasa pneumonia dengan masalah pola nafas tidak efektif di Rumah

Sakit Panti Waluya Sawahan Malang.

1.3. Rumusan Masalah

Bagaimanakah Studi Kasus pada pasien dewasa pneumonia dengan masalah

pola nafas tidak efektif di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang ?

1.4. Tujuan

1.4.1.Tujuan umum

Tujuan penulisan studi kasus ini adalah untuk melakukan asuhan

keperawatan pada pasien dewasa pneumonia dengan masalah pola nafas

tidak efektif di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang.

1.4.2.Tujuan khusus

1. Melakukan pengkajian keperawatan pada pasien pneumonia dengan pola

nafas tidak efektif di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang

2. Menetapkan diagnosis keperawatan pada pasien pneumonia dengan pola

nafas tidak efektif di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang

3. Menyusun perencanaan keperawatan pada pasien pneumonia dengan pola

nafas tidak efektif di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang

4. Melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien pneumonia dengan pola

nafas tidak efektif di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang

5. Melakukan evaluasi pada pasien pneumonia dengan pola nafas tidak

efektif di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang

Page 21: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

6

1.5. Manfaat

1.5.1.Manfaat Teoritis

Bermanfaat untuk pengembangan ilmu keperawatan di bidang perawatan

pada pasien pneumonia dewasa dengan bebagai masalah atau perubahan

salah satunya dengan masalah pola nafas tidak efektif. Sebagai bahan

rujukan penelitian tentang pemberian asuhan keperawatan yaitu Asuhan

Keperawatan Pada Pasien Dewasa Pneumonia Dengan Masalah Pola Nafas

Tidak Efektif di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang.

1.5.2.Manfaat Praktis

1. Bagi Perawat

Diharapkan dapat membantu perawat dalam memberikan Asuhan

Keperawatan pada Pasien Pneumonia dengan masalah Pola Nafas Tidak

Efektif

2. Bagi Rumah Sakit

Dapat meningkatkan mutu perawatan pelayanan pada kasus pneumonia

dan bisa memperhatikan kondisi dan kebutuhan pasien pneumonia

dengan masalah pola nafas tidak efektif

3. Bagi Institusi Pendidikan

Bisa berguna sebagai sumber informasi atau kepustakaan untuk

meningkatkan kualitas pengalaman dalam belajar

4. Bagi Klien dan Keluarga

Untuk menambah pengetahuan bagaimana pasien dan keluarga pasien

sehingga mampu melakukan tindakan yang sesuai dengan masalah pola

nafas tidak efektif

Page 22: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini, penulis akan menjelaskan tentang teori “Pneumonia pada pasien

dewasa dengan masalah pola nafas tidak efektif”. Pada bab ini juga akan disajikan

materi sebagai berikut : Konsep Penyakit Pneumonia, Konsep Pola Nafas Tidak

Efektif, Konsep Asuhan Keperawatan pada Klien Dewasa Pneumonia Dengan

Masalah Pola Nafas Tidak Efektif.

2.1. Konsep Pneumonia

2.1.1.Definisi Pneumonia

Pneumonia merupakan suatu peradangan pada paru paru yang tidak saja

mengenai jaringan paru tetapi juga dapat juga mengenai bronchioli

(Nugroho, 2011). Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan

oleh bermacam macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur, dan benda

asing (Ngastiyah, 2015). Pneumonia adalah suatu penyakit peradangan akut

parenkim paru yang biasanya dari suatu infeksi saluran nafas bawah akut

(INSBA) dan ditandai dengan gejala batuk disertai sesak nafas yang

disebabkan oleh agen infeksius seperti virus, bakteri, mycoplasma, dan

substansi asing, berupa radang paru-paru yang disertai eksudasi dan

konsolidasi dan dapat dilihat melalui gambaran radiologi (Nurarif, 2015)

2.1.2.Klasifikasi

Menurut Departemen Kesehatan RI, pneumonia diklasifikasikan sebagai

berikut:

Page 23: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

8

a. Pneumonia berat

Bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan dinding dada bawah ke

dalam pada waktu menarik nafas.

b. Pneumonia ringan

Bila disertai dengan adanya peningkatan frekuensi pola nafas

c. Bukan pneumonia (penyakit paru lain)

Tidak ditemukan adanya perubahan frekuensi pola nafas dan tidak ada

tarikan dinding dada pada saat bernafas (Depkes RI, 2010).

Sedangkan menurut Nurarif (2015), klasifikasi pneumonia terbagi

berdasarkan anatomi dan etiologis :

a. Pembagian anatomis

1) Pneumonia lobularis, melihat seluruh atau sebagian besar dari satu

atau lebih lobus paru. Bila kedua paru terkena maka dikenal sebagai

pneumonial bilateral atau ganda.

2) Pneumonia bronciolus (Bronchopneumonia) terjadi pada ujung akhir

bronchiolus, yang tersumbat oleh eksudat mukopurulen untuk

membentuk bercak konsulidasi dalam lobus yang berada di dekatnya,

disebut juga pneumonia bronchiolus.

3) Pneumonia interstitial (Bronchiolitis) proses inflamasi yang terjadi di

dalam dinding alveolar (interstinium) dan jaringan peribronchial serta

interlobular.

b. Pembagian etiologi

Bacteria: Pneumococcus, streptococcus hemolytikus, streptococcusaureus,

haemophillus influenzae, mycobacterium tuberculosis.

Page 24: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

9

Virus : Virus influenza, adenovirus

Jamur: Hitoplasma capsulatum, cryptococcus neuroformans,

blastornyces dermatitides

Aspirasi Makanan, Kerosene (minyak tanah, bensin), Cairan amnion,

benda asing)

Menurut Panduan Persatuan Dokter Paru Indonesia (2015), Pneumonia

diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Berdasarkan klinis dan epidemiologis :

1. Pneumonia komuniti (Community Aquired Pneumonia)

2. Pneumonia nosokomial (Hospital Aquired Pneumonia/Nosokomial

Pneumonia)

3. Pneumonia aspirasi

4. Pneumonia pada penderita Immunocompromised dimana ini penting

untuk memudahkan dalam penatalaksanaan.

b. Berdasarkan penyebab

1. Pneumonia bacterial/tipikal. Dapat terjadi pada semua usia. Beberapa

bakteri mempunyai tendensi menyerang seseorang yang peka,

misalnya Klebsiella pada penderita alkoholik, Staphyllococcus pada

penderita pasca infeksi influenza.

2. Pneumonia atipikal, disebabkan Mycoplasma, Legionella dan

Chlamydia

3. Pneumonia virus

Page 25: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

10

4. Pneumonia jamur sering merupakan infeksi sekunder. Prediksi

terutama pada penderita dengan daya tahan tubuh lemah

(immunocompromised).

c. Berdasarkan prediksi infeksi

1. Pneumonia lobaris.

Sering pada pneumonia bakterial, jarang pada bayi dan orang tua.

Pneumonia yang terjadi pada satu lobus atau segmen kemungkinan

sekunder disebabkan oleh obstruksi bronkus misalnya : pada aspirasi

benda asing atau proses keganasan.

2. Bronchopneumonia

Ditandai dengan bercak-bercak infiltrat pada lapangan paru. Dapat

disebabkan oleh bakteria maupun virus. Sering pada bayi dan orang

tua, jarang dihubungkan dengan obtruksi bronchus.

3. Pneumonia interstitial

Pneumonia yang disebabkan karena pembentukan jaringan parut pada

paru-paru karena paparan oleh agen pencetus dalam jangka waktu

yang lama. Bagian yang terserang adalah interstitium yaitu jaringan

yang membentuk renda yang mengisi paru-paru kiri dan kanan (PDPI,

2015).

2.1.3.Etiologi

Menurut Nurarif (2015), etiologi pneumonia terdiri dari:

Bacteria: pneumococcus, streptococcus hemolytikus, streptococcusaureus,

haemophillus influenzae, mycobacterium tuberculosis.

Virus: virus influenza, adenovirus

Page 26: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

11

Jamur: hitoplasma capsulatum, cryptococcus neuroformans,

blastornyces dermatitides

Aspirasi: makanan, kerosene (minyak tanah,bensin), cairan amnion, benda

asing)

Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya pneumonia ialah daya tahan tubuh

yang menurun misalnya akibat Malnutrisi Energi Protein (MEP), penyakit

menahun, trauma pada paru, anestesia, aspirasi dan pengobatan dengan

antubiotik yang tidak sempurna (Ngastiyah, 2015).

2.1.4.Manifestasi Klinis

Gambaran klinis pneumonia bervariasi tergantung pada respon sistemik

terhadap infeksi, agen etiologi, tingkat keterlibatan paru dan obstruksi jalan

nafas. Tanda dan gejalanya antara lain: takipneu, demam, dan batuk disertai

penggunaan otot bantu nafas dan suara nafas abnormal (Terry & Sharon,

2013).

Adanya etiologi seperti jamur dan inhalasi mikroba kedalam tubuh manusia

melalui udara, aspirasi organisme, hematogen dapat menyebabkan reaksi

inflamasi hebat sehingga membran paru-paru meradang dan berlobang. Dari

reaksi inflamasi akan timbul panas, anoreksia, mual, muntah, serta nyeri

pleuritis. Selanjutnya adanya cairan yang keluar masuk alveoli sehingga

terjadi sekresi, edema dan bronkospasme yang menimbulkan manifestasi

klinis dispnoe, sianosis dan batuk, selain itu juga, menyebabkan adanya

partial oklusi yang akan membuat darah paru menjadi padat (konsolidasi).

Konsolidasi paru menyebabkan meluasnya permukaan membran respirasi

Page 27: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

12

dan penurunan rasio ventiladi perfusi, kedua hal ini dapat menyebabkan

kapasitas difusi menurun dan selanjutnya terjadi hipoksemia. Berdasarkan

penjelasan diatas masalah yang muncul yaitu: nyeri (akut), hipertermia,

defisit nutrisi, bersihan jalan nafas tidak efektif, gangguan pola tidur, pola

nafas tidak efektif dan intoleransi aktifitas (Mutaqin A, 2014).

2.1.5.Patofisiologi

Pneumonia merupakan inflamasi paru yang ditandai dengan konsulidasi

karena eksudat yang mengisi alveoli dan bronkiolus, saat saluran nafas

bagian bawah terinfeksi, respon inflamasi normal terjadi, disertai dengan

obstruksi jalan nafas (Terry & Sharon, 2013). Sebagian besar pneumonia

didapat melalui aspirasi partikel inefektif seperti menghirup bibit penyakit

di udara. Ada beberapa mekanisme yang pada keadaan normal melindungi

paru dari infeksi. Partikel infeksius difiltrasi dihidung atau terperangkap dan

dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas. Bila suatu

partikel dapat mencapai paru-paru, partikel tersebut akan berhadapan

dengan makrofag alveoler dan juga dengan mekanisme imun sistemik dan

humoral. Infeksi pulmonal bisa terjadi karena terganggunya salah satu

mekanisme pertahanan dan organisme dapat mencapai traktus respiratorius

terbawah melalui aspirasi maupun rute hematologi. Ketika patogen

mencapai akhir bronkiolus maka terjadi penumpahan dari cairan edema ke

alveoli, diikuti leukosit dalam jumlah besar. Kemudian makrofag bergerak

mematikan sel dan bakterial debris. Sistem limpatik dapat mencapai bakteri

sampai darah atau pleura viceral. Jaringan paru menjadi terkonsolidasi.

Kapasitas vital dan pemenuhan paru menurun dan aliran darah menjadi

Page 28: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

13

terkonsolidasi, area yang tidak terventilasi menjadi fisiologis right-to-left

shunt dengan ventilasi perfusi yang tidak pas dan menghasilkan hipoksia.

Kerja jantung menjadi meningkat karena penurunan saturasi oksigen dan

hiperkapnia (Nugroho T, 2011).

Page 29: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

14

2.1.6. Pathway

(Sumber: Nurarif, 2015)

Normal(sistem pertahanan tubuh)

terganggu

Organisme

Saluran nafas bagian bawahpneumokokus

Eksudat masuk ke alveoli

Alveoli

Sel darah merah leukosit, pneumokokus mengisi alveoli

Leukosit + fibrin mengalami konsolidasi

Leukositosis

Bersihan jalan nafas tidak

efektif

POLA NAFAS TIDAK EFEKTIF

Page 30: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

15

2.1.7.Pemeriksaan Diagnostik

Menurut Mutaqin (2014), Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan

pada orang dengan masalah pneumonia adalah :

Sinar X: Mengidentifikasikan distribusi struktural

(misalnyanya: lobar, bronchial), dapat juga

menyatakan abses.

Pemeriksaan gram/ kultur,

sputum dan darah:

untuk dapat mengidentifikasi semua organisme

yang ada.

Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis

organisme khusus.

Pemeriksaan fingsi paru: untuk mengetahui paru-paru, menetapkan luas

berat penyakit dan membantu diagnosis

keadaaan.

Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis.

Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi.

Bronchoskopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat

benda asing.

2.1.8.Komplikasi

Menurut Mutaqin, Arif (2014), komplikasi yang dapat terjadi adalah

a. Pleuritis: Peradangan pada selaput pembungkusau paru-paru atau pleura

b. Atelektasis: Keadaan dimana paru-paru tidak dapat mengembang dengan

sempurna akibat kurangnya mobilisasi atau reflek batuk hilang

c. Empiema: Adanya pus pada rongga pleura

d. Abses paru: Penyakit yang menyerang organ paru-paru karena infeksi

bakteri yang menyebabkan jaringan paru-paru menjadi bernanah

Page 31: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

16

e. Edema pulmonary: Suatu keadaan dimana cairan merembes keluar dari

pembuluh darah kecil paru ke dalam kantong udara dan daerah

disekitarnya

f. Infeksi super perikarditis: Peradangan yang terjadi pada selaput

pembungkus jantung (perikardium)

g. Meningitis: Infeksi yang menyerang selaput otak

h. Arthritis: Suatu penyakit dimana persendian mengalami peradangan

(biasanya terjadi pada kaki dan tangan)

2.1.9.Penatalaksanaan

Penatalaksanaan kasus pneumonia menurut Mutaqin (2014) antara lain:

a. Manajemen Umum

1. Humidifikasi: humidifier atau nebulizer jika sekret yang kental dan

berlebihan.

2. Oksigenasi: jika pasien memiliki PaO2 <60 mmHg

3. Fisioterapi: berperan dalam mempercepat resolusi pneumonia, pasien

harus didorong setidaknya untuk batuk dan bernafas dalam untuk

memaksimalkan kemampuan ventilator.

4. Hidrasi: pemantauan asupan dan keluaran, cairan tambahan untuk

mempertahanakan hidrasi dan mencairkan sekresi

b. Operasi

Thoracentesis dengan tabung penyisipan dada : mungkin diperlukan jika

masalah sekunder seperti emfisema terjadi.

Page 32: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

17

c. Terapi Obat

Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi uji resistensi tapi karena hal

itu perlu waktu dan pasien pneumonia perlu diberikan terapi secepatnya

maka biasanya diberikan oantibiotik golongan Penicillin G untuk infeksi

pneumonia virus, Eritromicin, Tetrasiklin, derivat tetrasiklin untuk

infeksi pneumonia.

2.2. Konsep Pola Nafas Tidak Efektif

2.2.1.Definisi Pola Nafas Tidak Efektif

Pola nafas tidak efektif adalah suatu keadaan ketidakmampuan proses

pernafasan inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi

yang adekuat (PPNI, 2017). Pola nafas tidak efektif adalah keadaan ketika

seorang individu mengalami kehilangan ventilasi yang aktual atau potensial

yang berhubungan dengan perubahan pola pernafasan (Carpenito, Lynda

Juall, 2013).

2.2.2.Etiologi

Beberapa macam penyebab yang dapat menimbulkan munculnya masalah

keperawatan pola nafas tidak efektif antara lain (PPNI, 2017): depresi pusat

pernafasan, hambatan upaya nafas (misalnya: nyeri pada saat bernafas,

kelemahan otot pernafasan), deformitas dinding dada, deformitas tulang

dada, gangguan neuromuskular, gangguan neurologis (misalnya: cedera

kepala, elektroensefalogram EEG, gangguan kejang), imaturitas neurologis,

penurunan energi, obesitas, posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru,

sindrom hipoventilasi, kerusakan inervasi diafragma (kerusakan syaraf C5

Page 33: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

18

keatas), cedera pada medula spinalis, efek agen farmakologis, dan

kecemasan.

2.2.3.Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala yang tampak pada pola nafas tidak efektif secara mayor

adalah (PPNI, 2017): penggunaan otot bantu pernafasan, fase ekpsirasi yang

memanjang, dan pola napas abnormal. Pola napas abnormal adalah keadaan

dimana terjadinya perubahan frekuensi napas, perubahan dalamnya

inspirasi, perubahan irama nafas, rasio antara durasi inspirasi dan durasi

ekspirasi (Djojodibroto, 2014). Sedangkan yang menjadi data minor pada

pola nafas tidak efektif yaitu pernafasan pursed-lip, pernafasan cuping

hidung, diameter thorak anterior-posterior meningkat, ventilasi semenit

menurun, kapasitas vital menurun, tekanan ekspirasi dan pinspirasi menurun

dan ekskursi dada berubah. Adanya suara nafas yang tidak normal juga

menjadi salah satu tanda dan gejala dari pola nafas tidak efektif.

Suara nafas normal ditandai dengan:

a. Suara nafas vesikuler memiliki nada yang rendah, terdengar lebih

panjang pada fase inspirasi daripada ekspirasi dan kedua fase

bersambung. Suara nafas vesikuler pada kedua paru normal akan

meningkat pada anak, orang kurus dan pada latihan jasmani, apabila

salah satu meningkat berarti ada kelainan pada salah satu paru. Suara

vesikuler melemah kemungkinan ditemukan adanya cairan, udara,

jaringan padat pada rongga pleura dan kondisi patologi paru.

b. Suara nafas bronkial memiliki nada tinggi dengan fase ekspirasi lebih

lama dari inspirasi dan terputus.

Page 34: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

19

Sedangkan kombinasi suara nada tinggi dengan inspirasi dan ekspirasi

yang jelas dan tidak ada silent gap dinamakan bronkovesikuler

Suara nafas abnormal antara lain:

a. Stridor

Suara yang terdengar kontinyu (tidak terputus putus), bernada tinggi

yang terjadi baik pada waktu inspirasi maupun pada waktu ekspirasi,

akan terdengar tanpa menggunakan alat statoskop, biasanya bunyi

ditemukan pada saluran nafas atas (laring) atau trakea, disebabkan

adanya penyempitan pada saluran nafas tersebut. Pada orang dewasa,

kondisi ni mengarahkan pada dugaan adanya oedema laring, tumor

laring, kelumpuhan pita suara, stenosis laring yang umumnya disebabkan

oleh tindakan trakheostomi atau dapat pula akibat endotrakeal.

b. Crackles

Bunyi yang berlainan, non kontinyu akibat penundaan pembukaan

kembali jalan nafas yang menutup. Terdengar pada saat inspirasi.

Terbagi menjadi dua yaitu:

1. Crackles halus

Terdengar sewaktu akhir inspirasi. Karakter suara meletup, terpatah

patah. Penyebabnya adalah udara yang melewati daerah yang sangat

lembab di alveoli atau bronchiolus (penutupan jalan nafas kecil),

seperti suara rambut yang digesekkan.

2. Crackles kasar

Terdengar pada saat melakukan ekspirasi. Karakter suara basah,

lemah, kasar, suara gesekan terpotong. Penyebabnya adalah adanya

Page 35: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

20

cairan atau sekresi pada jalan nafas. Bisa jadi akan berubah disaat

pasien batuk.

c. Wheezing (mengi)

Bunyi seperti bersiul, kontinyu yang durasinya lebih lama daripada

crackles. Terdengar selama inspirasi dan ekspirasi, secara klinis lebih

jelas pada saat melakukan ekspirasi. Penyebabnya adalah udara melewati

jalan nafas yang menyempit atau tersumbat sebagian. Bisa dihilangkan

dengan cara batuk. Dengan karakter suara nyaring, suara terus menerus

yang berhubungan dengan aliran udara melalui jalan nafas yang

menyempit (seperti pada asma dan bronkitis kronik). Wheezing dapat

terjadi karena perubahan temperatur, alergi, latihan jasmani dan iritasi

pada bronkus.

d. Ronchi

Merupakan bunyi gaduh yang dalam (ngorok). Terdengar sewaktu

ekspirasi. Penyebabnya adanya gerakan udara melewati jalan nafas yang

menyempit akibat terjadi obstruksi nafas akibat sekresi, tumor atau

oedem. Ronchi dibedakan menjadi dua yaitu:

1. Ronchi kering

Sebuah bunyi tambahan yang terdengar kontinyu terutama disaat

ekspirasi disertai adanya sekret pada bronkus. Ada yang high pitch

(menciut) misalnya pada asma dan low pitch akibat sekret yang

meningkat pada bronkus yang besar yang dapat pula terdengar pada

saat inspiarasi.

2. Ronchi basah

Page 36: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

21

Bunyi tambahan yang terdengar tidak kontinyu pada saat inspirasi

seperti bunyi ranting kering yang terbakar, disebabkan oleh sekret di

dalam alveoli dan bronkiolus. Ronchi basah dapat halus, sedang dan

kasar. Ronchi halus dan sedang dapat disebabkan cairan di alveoli

contohnya pada kasus pneumonia dan oedema paru, sedangkan ronchi

kasar contohnya pada bronkiektasis. Perbedaan ronchi dan wheezing

adalah wheezing berasal dari bronki dan bronkiolus yang lebih kecil

salurannya, terdengar bersuara tinggi dan bersiul, biasanya terdengar

jelas pada pasien asma. Ronchi berasal dari bronki dan bronkiolus

yang lebih besar terdengar jelas pada orang yang ngorok.

e. Pleural friction rub

Suara yang timbul akibat terjadinya peradangan pada pleura sehingga

permukaan pleura menjadi kasar. Karakter suara kasar, berciut, disertai

keluhan nyeri pleura. Terdengar pada akhir inspirasi dan permulaan

ekspirasi. Tidak dapat dihilangkan dengan dibatukkan. Terdengar jelas

pada permukaan anteriorlateral bawah thoraks. Terdengar seperti bunyi

gesekan jari tangan dengan kuat dekat telinga. Bunyi ini dapat

menghilang pada waktu nafas ditahan. Sering didapatkan pada

pneumonia, infark paru dan tuberkulosis.

f. Gargling

Suara seperti berkumur, keadaan ini terjadi akibat obstruksi yang

disebabkan oleh cairan.

Page 37: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

22

2.2.4.Patofisiologi

Adanya agen pencetus yang menyebabkan munculnya sekret yang

mengakibatkan obstruksi pada tracheobroncheal, adanya penurunan dan

ekspansi paru serta proses inflamasi maka akan menyebabkan adanya

kesulitan pada saat bernafas yang ditandai dengan perubahan kedalaman dan

atau kecepatan pernafasan, gangguan perkembangan pada rongga dada,

bunyi nafas yang tidak normal dan adanya batuk dengan atau tanpa adanya

sputum.

2.2.5.Komplikasi

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada pola nafas tidak efektif antara

lain (Bararah &Jauhar, 2013):

a. Hipoksemia

Keadaan dimana terjadi penurunan konsentrasi oksigen dalam darah

arteri (PaO2) atau saturasi O2 arteri (SaO2) dibawah normal (normal

PaO2 85-100 mmHg, SaO2 95%). Keadaan ini didebabkan oleh karena

gangguan ventilasi, perfusi, difusi, pirau (shunt) atau berada pada tepat

yang kurang oksigen. Pada keadaan hipoksemia, tubuh akan melakukan

kompensasi dengan cara meningkatkan pernafasan, meningkatkan stroke

volume, vasodilatasi pembuluh darah dan peningkatan nadi. Tanda dan

gejala hipoksemia adalah sesak nafas, frekuensi napas dapat mencapai 35

kali permenit, nadi cepat dan dangkal serta sianosis.

b. Hipoksia

Page 38: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

23

Merupakan keadaan kekurangan oksigen di jaringan atau tidak

adekuatnya pemenuhan kebutuhan oksigen seluler akibat defisiensi

oksigen yang diinspirasi atau meningkatnya penggunaan oksigen pada

tingkat seluler. Hipoksia dapat terjadi setelah 4 sampai 6 menit ventilasi

berhenti spontan. Penyebab lain hipoksia antara lain: Menurunnya

hemoglobin, Berkurangnya kensentrasi oksigen, Ketidakmampuan

jaringan mengikat oksigen, Menurunnya perfusi jaringan seperti pada

syok, dan Kerusakan atau gangguan ventilasi.

Tanda-tanda hipoksia diantaranya kelelahan, kecemasan, menurunnya

kemampuan konsentrasi, nadi meningkat, pernafasan cepat dan dalam,

sianosis, sesak nafas serta jari rabuh (clubbing finger).

c. Gagal napas

Keadaan dimana terjadi kegagalan tubuh memenuhi kebutuhan oksigen

karena penderita kehilangan kemampuan ventilasi secara adekuat

sehingga terjadi kegagalan pertukaran gas karbondioksida dan oksigen.

Gagal napas ditandai oleh adanya peningkatan karbondioksida dan

penurunan oksigen dalam darah secara signifikan. Gagal nafas

disebabkan oleh gangguan sistem syaraf pusat yang mengontrol

pernafasan, kelemahan neuromuskular, keracunan obat, gangguan

metabolisme, kelemahan otot pernafasan dan obstruksi jalan napas.

d. Perubahan pola nafas

Pada keadaan normal frekuensi pernafasan pada orang dewasa adalah 16-

20 x/mnt. Pernafasan normal disebut dengan eupneu, perubahan pola

napas dapar berupa antara lain:

Page 39: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

24

1. Dipsneu yaitu kesulitan bernafas

2. Apneu yaitu tidak bernafas atau berhenti bernafas

3. Takipneu yaitu pernafasan yang lebih cepat daripada pernafasan

normal

4. Bradipneu yaitu pernafasan lebih lambat daripada normal

5. Kussmaul yaitu pernafasan dengan panjang ekspirasi dan inspirasi

sama, sehingga pernafasan menjadi lambat dan dalam

6. Cheyne-stokes yaitu pernafasan cepat dan dalam kemudian berangsur

angsur dangkal dan diikuti periode apneu yang berulang secara teratur.

7. Biot yaitu pernafasan dalam dan dangkal disertai masa apneu dengan

periode yang tidak teratur.

2.3. Konsep Asuhan Keperawatan

2.3.1.Pengkajian Keperawatan

Pengkajian keperawatan dilakukan dengan cara pengumpulan data secara

subyektif (data yang didapatkan dari pasien/keluarga) melalui metode

anamnesa dan data obyektif (data hasil pengukuran atau observasi).

Menurut Nurarif (2015), pengkajian yang harus dilakukan adalah :

a. Identitas: nama, usia, jenis kelamin

b. Riwayat sakit dan kesehatan

1. Keluhan utama

Klien mengeluh batuk dan sesak nafas.

2. Riwayat penyakit sekarang

Pada awalnya keluhan batuk tidak produktif, tapi selanjutnya akan

berkembang menjadi betuk produktif dengan mukus purulen kekuning

Page 40: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

25

kuningan, kehijau hijauan, kecoklat coklatan atau kemerahan dan

sering kali berbau busuk. Klien biasanya mengeluh mengalami

demam tinggi dan menggigil (keadaan mungkin terjadi secara tiba-tiba

dan berbahaya). Adanya keluhan nyeri dada pleuritis, sesak nafas,

peningkatan frekuensi pernafasan dan nyeri kepala

3. Riwayat penyakit dahulu

Dikaji apakah klien pernah menderita penyakit seperti ISPA, TBC

Paru, trauma. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan

adanya faktor predisposisi.

4. Riwayat penyakit keluarga

Dikaji apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit-penyakit

yang disinyalir sebagai penyebab pneumonia seperti Ca Paru, asma,

TBC Paru dan lain sebagainya.

5. Riwayat alergi

Dikaji apakah klien memiliki riwayat alergi terhadap obat, makanan,

udara dan debu.

c. Demografi

Apakah di daerah tempat tinggal klien terdapat sumber polusi

d. Pola Pengkajian Gordon

1. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan

Hal yang perlu dikaji yaitu kebersihan lingkungan, riwayat perokok.

2. Pola nutrisi

Biasanya muncul anoreksia, mual dan muntah Karena peningkatan

rangsangan gaster sebagai dampak peningkatan toksik mikrorganisme.

Page 41: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

26

3. Pola eliminasi

Penderita sering mengalami penurunan produksi urin akibat

perpindahan cairan evaporasi karena demam.

4. Pola istirahat/tidur

Penderita sering mengalami gangguan istirahat dan tidur karena

adanya sesak nafas.

5. Pola aktfitas dan latihan

Aktifitas dan latihan klien akan menurun karena adanya kelemahan

fisik

e. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum: tampak lemas, sesak nafas

2. Kesadaran: tergantung tingkat keparahan penyakit, bisa somnolen

3. Tanda-tanda vital :

a) TD: biasanya normal

b) Nadi: takikardi

c) RR: takipneu, dispneu, nafas dangkal

d) Suhu: hipertermi

4. Kepala

Kulit kepala

Tujuan

Inspeksi

mengetahui turgor kulit dan apakah ada lesi atau

bekas luka.

Dilihat apakah ada oedema

Page 42: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

27

Palpasi

Rambut

Tujuan

Inspeksi

Palpasi

raba dan tentukan apakah ada lesi, hangat atau

dingin, turgor kulit elastis atau tidak

mengetahui tekstur, warna, rontok atau tidak dan

bersih atau kotor

pertumbuhan rambut merata atau tidak, tebal atau

tipis

mudah rontok atau tidak, kasar atau halus

5. Kuku

Tujuan

Inspeksi

Palpasi

mengetahui warna, keadaan kuku serta kapiler

refill

apakah ada sianosis, kemerahan karena

peningkatan vesibilitas Hb, bentuk jari

apakah ada nyeri tekan, kaji CRT normal < 2 dtk

6. Wajah

Tujuan

Inspeksi

Palpasi

mengetahui bentuk dan fungsi, lesi atau kelainan

pada wajah

simetris atau tidak, apakah ada kelumpuhan

apakah ada bekas luka, kaji respon nyeri

7. Mata

Tujuan

Inspeksi

mengetahui bentuk serta fungsi mata, baik

penglihatan maupun otot mata, apakah ada

kelainan pada mata

reflek berkedip baik atau tidak, warna konjungtiva

Page 43: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

28

Palpasi

dan sclera apakah ada ikterik atau anemis,

keadaan pupil miosis atau midriasis

apakah ada nyeri tekan atau tidak

8. Hidung

Tujuan

Inspeksi

Palpasi

mengetahui bentuk, dan apakah ada inflamasi atau

tidak, apakah ada sinusitis atau tidak

simetris atau tidak, ada sekret atau tidak, apakah

ada pernafasan cuping hidung atau tidak

apakah ada nyeri tekan atau tidak

9. Telinga

Tujuan

Inspeksi

Palpasi

mengetahui keadaan telinga, apakah ada

gangguan pendengaran atau tidak

simetris atau tidak, apakah telinga kotor atau

tidak, bentuk daun telinga normal atau tidak

ada nyeri tekan atau tidak

10. Mulut dan Faring

Tujuan

Inspeksi

mengetahui kelainan dan bentuk mulut serta

kebersihan mulut

apakah kelainan pada bibir, keadaan mukosa

mulut apakah lembab atau kering, apakah

simetris, warna dan pembengkakan apakah ada,

kaji juga pada gigi, apakah ada gigi yang

berlubang, bagaimana kebersihan gigi, apakah ada

pembesaran tonsil

Page 44: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

29

Palpasi apakah ada nyeri tekan, oedem atau massa

11. Leher

Tujuan

Inspeksi

Palpasi

menentukan bentuk serta organ yang berada di

sekitar leher

apakah ada pembesaran kelenjar thyroid

apakah teraba adanya pembesaran kelenjar limfe

atau thyroid

12. Dada

Tujuan

Inspeksi

Palpasi

Perkusi

Auskultasi

mengetahui simetris atau tidak, irama dan

frekuensi nafas, ada tidaknya nyeri tekan dan

mendengarkan bunyi paru

amati bentuk dada dan pergerakan dada, amati

adanya retraksi intercostal, amati pergerakan paru,

kaji letak ictus cordis

ada atau tidak nyeri tekan

menentukan batas normal suara ketukan paru,

bunyi sonor pada seluruh lapang paru, jika ada

efusi pleura maka akan didapati bunyi redup

hingga pekak, jika disertai pneumothorak akan

disertai bunyi hipersonor

untuk mengetahui ada tidaknya suara tambahan

nafas seperti ronchi atau wheezing

13. Abdomen

Page 45: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

30

Tujuan

Inspeksi

Palpasi

Auskultasi

mengetahui gerakan peristaltik usus dan ada

tidaknya nyeri tekan

amati bentuk perut, warna kulit, apakah ada asites

atau tidak

ada tidaknya nyeri tekan

dengarkan bising usus

14. Muskuloskeletal

Tujuan

Inspeksi

Palpasi

mengetahui kekuatan otot

apakah ada kelainan pada ekstrimitas atas atau

bawah, apakah ada kelemahan otot

apakah ada nyeri tekan pada ekstrimitas atas atau

bawah

2.3.2.Diagnosis Keperawatan

Menurut Nurarif (2015), diagnosa keperawatan terkait masalah pneumonia

adalah : Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas

(kelemahan otot pernafasan, nyeri saat bernafas) yang ditandai dengan

dispneu, penggunaan otot bantu nafas, pernafasan cuping hidung.

2.3.3. Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan merupakan tahap ketiga dalam proses keperawatan

dimana pada tahao ini perawat menentukan suatu rencana yang akan

diberikan pada pasien sesuai dengan masalah yang dialami pasien setelah

pengkajian dan perumusan diagnosis. Menurut SIKI (Tim Pokja SIKI PPNI,

Page 46: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

31

2018) intervensi keperawatan yang ditetapkan pada pada pasien pneumonia

adalah:

Tabel 2.1 Intervensi Asuhan Keperawatan Pasien Pneumonia dengan

masalah Pola Nafas Tidak Efektif, Manajemen Jalan Nafas (SIKI, I.01011)

dan Pemantauan Respirasi (SIKI, I.01014)

DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL

INTERVENSI

1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas (kelemahan otot pernafasan, nyeri saat bernafas)

Tujuan:setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24 jam pola nafas membaik dengan kriteria hasil :Pola Nafasa. Dispneu menurunb. Penggunaan otot bantu nafas

menurun pernafasan cuping hidung menurun

c. Frekuensi nafas membaikd. Kedalaman nafas membaik

Tingkat Keletihana. Mengi menurunb. Gelisah menurunc. Frekuensi nafas menurund. Pola nafas membaik

Intervensi:Manajemen jalan nafas, pemantauan respirasia. Manajemen jalan nafas :

1. Monitor pola nafas (frekuensi, kedalaman, usaha nafas)

2. Monitor bunyi nafas tambahan (wheezing, ronkhi, mengi)

3. Monitor sputum (jumlah, warna, bau)

4. Posisikan semi fowler/fowler

5. Berikan minum hangat

6. Lakukan fisioterapi dada, jka perlu

7. Berikan oksigen jika perlu

8. Anjurkan asupan cairan 2000 l/hari, jika tidak ada kontraindikasi

9. Ajarkan teknik batuk efektif

10. Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspectoran, mukolitik jika perlu

b. Pemantauan respirasi :1. Monitor frekuensi,

irama, kedalaman dan upaya nafas

2. Monitor pola nafas (seperti bradipneu, takipneu, hiperventilasi, kussmaul, cheyne –stokes, biot, ataksik)

3. Monitor kemampuan batuk efektif

Page 47: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

32

4. Monitor adanya produksi sputum

5. Auskultasi bunyi nafas

6. Monitor saturasi oksigen

7. Monitir hasil X- ray thoraks

8. Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien

9. Dokumentasikan hasil pemantauan

10. Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan

11. Informasikan hasil pemantauan,jika perlu.

2.3.4. Implementasi Keperawatan

Implementasi adalah tahap keempat dalam proses keperawatan yang

merupakan serangkaian kegiatan/tindakan yang dilakukan oleh perawat

kepada klien. Tindakan keperawatan dilakukan dengan mengacu pada

rencana tindakan/intervensi keperawatan yang telah ditetapkan/dibuat.

2.3.5.Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah tahap terakhir dari proses keperawatan dengan cara

melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan

tercapai atau tidak. Evaluasi keperawatan dilakukan untuk menilai apakah

masalah keperawatan telah teratasi dengan mengacu pada kriteria evaluasi

yaitu :

a. Dispneu menurun

b. Penggunaan otot bantu nafas menurun pernafasan cuping hidung

menurun

Page 48: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

33

c. Frekuensi nafas membaik

d. Kedalaman nafas membaik

e. Mengi menurun

f. Gelisah menurun

g. Frekuensi nafas menurun

h. Pola nafas membaik

Page 49: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain studi kasus yang bertujuan untuk

mengeksplorasi masalah Asuhan Keperawatan Pasien Dewasa Pneumonia

dengan masalah Pola Nafas Tidak Efektif di Rumah Sakit Panti Waluya

Sawahan Malang.

3.2. Batasan Istilah

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dewasa Pneumonia dengan masalah Pola

Nafas Tidak Efektif di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang ini

dilakukan pada pasien dewasa usia antara 21 sampai dengan 60 tahun dengan

batas waktu lama perawatan selama 3 hari. Batasan pasien pneumonia dengan

masalah pola nafas tidak efektif adalah sebagai berikut:

1. Pola nafas abnormal dengan perubahan frekuensi nafas lebih dari

20x/mnt.

2. Penggunaan otot bantu pernafasan pada pasien saat respirasi

3. Adanya fase ekspirasi yang memanjang

4. Adanya pernafasan cuping hidung

3.3. Partisipan

Dalam studi kasus ini yang menjadi partisipan peneliti adalah satu pasien

dewasa 60 tahun yang mengalami pneumonia dengan masalah pola nafas

tidak efektif di ruang rawat inap Yosep Pavilliun Rumah Sakit Panti Waluya

Sawahan Malang yang mendapatkan perawatan selama 3 hari.

Page 50: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

35

3.4. Lokasi Dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di ruang rawat inap Yosep Pavilliun Rumah Sakit

Panti Waluya Sawahan Malang. Penelitian ini berlangsung selama 3 hari

perawatan mulai tanggal 23 Juli 2020 sampai tanggal 27 Juli 2020.

3.5. Pengumpulan Data

Dalam mencari data pada Pasien dewasa dengan Pneumonia dengan masalah

Pola Nafas Tidak Efektif, Penulis menggunakan teknik pengumpulan data,

dengan data yang diperoleh dari pembimbing klinik, sebagai berikut :

1. Wawancara

Wawancara adalah dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh kedua

pihak dan beberapa pihak yaitu penulis dengan pembimbing ruangan.

Wawancara yang dilakukan adalah dengan pembimbing ruangan di Rumah

Sakit Panti Waluya Sawahan Malang. Sumber data yang didapat adalah

dari pembimbing ruangan yang bertugas di ruangan tersebut.

2. Observasi dan Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan menggunakan metode inspeksi,

palpasi, perkusi, auskultasi dan observasi tanda tanda vital melalui

pembimbing ruangan.

3. Studi Dokumen

Studi Dokumen akan dilakukan dengan mengumpulkan data yang diambil

dari catatan rekam medis pasien. Studi dokumen yang digunakan untuk

melengkapi hasil studi kasus didapatkan dari pasien dewasa Pneumonia

Page 51: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

36

yang mengalami masalah Pola Nafas Tidak Efektif di Rumah Sakit Panti

Waluya Sawahan Malang.

3.6. Uji keabsahan Data

Disamping integritas penulis, uji keabsahan data dilakukan dengan cara

berikut ini:

1. Memperpanjang waktu pengamatan/tindakan

2. Sumber informasi tambahan menggunakan observasi dari pasien, perawat

dan keluarga yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

3.7. Analisis Data

1. Pengumpulan data

Data dikumpulkan dari hasil WOD (Wawancara, Obervasi dan Dokumen).

Hasil ditulis dalam bentuk catatan lapangan, kemudian disalin dalam

bentuk transkrip.

2. Mereduksi data

Data hasil wawancara yang terkumpul dalam bentuk catatan lapangan

dijadikan satu dalam bentuk transkrip dan dikelompokkan menjadi data

subyektif dan obyektif, dianalisis berdasarkan hasil pemeriksaan

diagnostik kemudian dibandingkan nilai normal.

3. Penyajian data

Penyajian data dapat dilakukan dengan gambar, bagan maupun teks

naratif. Kerahasiaan dari pasien dijamin dengan jalan identitas pasien

dibuat inisial.

Page 52: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

37

4. Kesimpulan

Dari data yang disajikan,kemudian data dibahas dan dibandingkan dengan

hasil-hasil penelitian yang terdahulu dan secara teoritis dengan perilaku

kesehatan. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan metode induksi. Data

yang dikumpulkan terkait dengan data pengkajian, diagnosis, perencanaan,

tindakan dan evaluasi.

3.8. Etik Penelitian

Dicantumkan etika yang mendasari penyusunan studi kasus, terdiri dari:

a. Informed Consent (persetujuan menjadi pasien)

Lembar persetujuan penelitian akan diberikan kepada klien responden,

tujuan adalah subjek mengetahui maksud dan tujuan penelitian serta

dampak yang diteliti selama pengumpulan data. Jika obyek menolak untuk

diteliti maka peneliti tidak akan memaksa dan menghormati haknya.

b. Anonimity (tanpa nama)

Untuk menjaga kerahasiaan peneliti tidak mencantumkan nama responden

namun lembar tersebut diberikan kode.

c. Confidentiality (kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi Pasien dijamin oleh peneliti dan hanya kelompok

data tertentu yang dilaporkan hasil peneliti.

Page 53: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini peneliti akan menjelaskan tentang hasil dan pembahasan dari “Studi

Kasus Pada Pasien Dewasa Pneumonia Dengan Masalah Pola Nafas Tidak Efektif

di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang”.

4.1 Hasil

4.1.1 Gambaran dan Lokasi Pengambilan Data

Penelitian ini dilaksanakan di ruang St Yosep Paviliun Rumah Sakit Panti

Waluya Malang. Ruang St Yosep Paviliun adalah ruang rawat inap dewasa

kelas VVIP B yang terdiri dari 9 kamar dengan total 9 tempat tidur.

Penelitian terhadap pasien dilakukan oleh peneliti melalui perantara

pembimbing klinik pada tanggal 23 Juli–27 Juli 2020 di kamar 8, dengan

fasilitas masing– masing kamar yang terdiri dari tempat tidur side rail

dilengkapi dengan bel, tempat tidur jaga, TV, kamar mandi dalam ruangan,

ruang tamu, kulkas, wastafel, oksigen sentral, paket mandi dan paket meja.

Page 54: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

39

4.1.2 Karateristik Partisipan

Data karakteristik pasien diperoleh dari pembimbing klinik

Tabel 4.1 Identitas Pasien

Identitas PasienNamaUmurJenis kelaminSuku bangsaStatus perkawinanAgamaAlamatPendidikanPekerjaanDiagnosa MedisTanggal masukTanggal pengkajianNo Rekam Medis

Tn. S60 tahunLaki - lakiJawaKawinKristenJl. WelirangD3Pegawai swastaPneumonia23 Juli 2020 /17.3923 Juli 2020/19.00078561

4.1.3 Data Asuhan Keperawatan

Data status kesehatan pasien diperoleh dari pembimbing klinik

1. Pengkajian

a) Status Kesehatan dan Riwayat Kesehatan

Tabel 4.2 Status Kesehatan dan Riwayat Kesehatan

Riwayat Penyakit PasienKeluhan umum Pasien mengatakan merasa sesakRiwayat Penyakit Sekarang Pasien mengatakan bahwa pada tanggal 23 Juli 2020 pukul

17.00 pasien merasa sesak nafas dan batuk. Pasien juga mengatakan kadang terasa sesak pada saat melakukan aktifitas dan pada saat berpindah tempat. Pukul 17.39 pasien berobat ke IGD RS Panti Waluya . Pasien mengatakan kalau 2 hari yang lalu yaitu pada tanggal 21 Juli 2020 pasien merasakan demam. Di IGD kemudian dilakukan pengkajian dan pemeriksaan fisik, klien mengeluh sesak, GCS E:4 V:5 M:6 dan dilakukan pengukuran TTV: TD: 155/99 mmHg, S: 37,5°C, N: 102x/menit, RR: 28 x/menit, dilakukan pemeriksaan laboratorium dan foto thorak , pasien mendapat terapi cairan Asering 500ml 20 tpm, serta injeksi IV Ceftriaxone 1 gr, inj IV Dexamethasone 4 mg, N-ace 1 tablet, pasien juga diberikan oksigen nasal 2 lpmPada pukul 19.00 pasien di pindahkan ke ruang rawat inap YP kamar 8

Riwayat Penyakit Dahulu Pasien pernah mengalami sakit prostat, pasien juga mempunyai riwayat sakit jantung dan hipertensi

Page 55: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

40

Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada riwayat penyakit keturunan dalam keluargaRiwayat Alergi Pasien mengatakan tidak mempunyai alergiGenogram

Keterangan : : Laki-laki : Perempuan : Meninggal : Garis Perkawinan : Garis Keturunan : Tinggal Serumah : Pasien

b) Data Psikologis

1. Konsep Diri

Data konsep diri pasien diperoleh dari pembimbing klinik

Tabel 4.3 Data Konsep Diri

Konsep Diri Pasien1. Gambaran Diri Pasien mengatakan bahwa dia menyukai apa yang ada pada

dirinya secara keseluruhan2. Harga Diri Pasien mengatakan bahwa tidak merasa malu dengan penyakit

yang diderita saat ini3. Identitas Diri Pasien mampu mengenali dirinya sendiri dengan mampu

menyebutkan nama, usia, jenis dan alamat secara lengkap4. Peran Diri Pasien mengatakan bahwa dia berperan sebagai kepala rumah

tangga dan bekerja sebagai karyawan swasta5. Ideal Diri Pasien mengatakan ingin cepat sembuh dan pulang ke rumah

x

Page 56: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

41

2. Hubungan Sosial

Hubungan sosial pasien diperoleh dari pembimbing klinik

Tabel 4.4 Hubungan Sosial

Konsep Diri Pasien

1. Hubungan Sosial Pasien memiliki hubungan sosial yang baik dengan keluarga terbukti dari anggota keluarga yang selalu menemani dan merawat pasien, selain itu interaksi pasien dengan anggota keluarga yang lain baik karena pasien dan anggota keluarga sering berinteraksi satu sama lain serta banyak saudara pasien yang datang untuk menjenguknya. Hubungan sosial dengan perawat juga baik terbukti dari pasien yang kooperatif saat dilakukan tindakan keperawatan selama dirawat di Rumah Sakit.

2. Spiritual Pasien beragama Kristen, pasien menjalankan ibadahnya dengan baik. Pada saat sakit pasien tidak bisa menjalankan ibadahnya seperti biasanya dan hanya berdoa ditempat tidur.

3. Kecemasan Pasien mengatakan pasrah dengan keadaannya dan merasa cemas karena tidak bisa mencari nafkah seperti biasanya

c) Pola Fungsi Kesehatan

Berdasarkan data yang diperoleh dari pembimbing klinik

Tabel 4.5 Pola Fungsi Kesehatan

Pola

Pasien

Di rumah Di RS

Pola Nutrisi Pasien mengatakan pasien makan 3x dalam sehari. Jenis makanan yang klien konsumsi nasi, lauk pauk, sayur lodeh dan bening, buah (kadang – kadang).Pasien mengatakan pasien menyukai makanan atau masakan bening/sayur beningPasien mengatakan pasien dalam sehari minum 2 botol air mineral (3 L) dan minum kopi minimal 1x sehari.

Makanan : tidak terkajiMinuman: pada saat pengkajian pasien menghabiskan setengah gelas air putih

Pola Eliminasi - Pasien BAK 3 - 4 x/hari, Konsistensi cair, Bau khas urine, Warna urine kuning pekat.

- Pasien BAB 1x sehari. Konsistensi

Pada saat pengkajian pasien belum BAK dan BAB

Page 57: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

42

padat, Bau khas feses, Warna kuning kecoklatan

Pola Istirahat/

Tidur

Pasien tidak tidur siang jika sedang bekerja.

Pasien mengatakan dalam sehari tidur malam selama 6-7 jam dan tidak teratur tergantung jadwal kerjanya.

Pada saat pengkajian pasien masih belum tidur

Pola Personal Hygiene

Pasien mengatakan mandi 2 x sehari, menggosok gigi setiap mandi, keramas setiap kali mandi, menggunting kuku 1 minggu sekali.

Pasien hanya mencuci muka saat akan berangkat ke RS

Pola Aktivitas Pasien berperan sebagai kepala keluarga. Kegiatan sehari-hari banyak diisi dengan bekerja, yaitu sebagai karyawan swasta sebuah instansi, pasien di rumah jarang membantu mengerjakan pekerjaan rumah.

Pasien tampak bedrest dan tidak boleh turun dari tempat tidur serta beraktivitas dibantu keluarga dan perawat.

ADL dipenuhi secara

Pasien mandiri Pada saat pengkajian pasien tampak dibantu minum oleh keluarganaya

d) Pemeriksaan Fisik

Data pemeriksaan fisik didapatkan dari pembimbing klinik

Tabel 4.6 Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : lemah LemahKesadaran : ComposmentisGCS E:4 V:5 M:6Tanda - tanda vital :

Pemeriksaan Fisik(head to toe)Kulit dan Kuku

Kepala

Mata

TD : 155/99 mmHgN : 102 x/menitRR : 28 x/menit (reguler,spontan)S : 37,5 °CSat O2 : 95%

Inspeksi :Warna kulit sawo matang, tidak icterus dan tidak cyanosisPalpasi :Kulit teraba kering, akral teraba hangat, turgor kulit kembali <2 detik, CRT kembali <2 detik.

Inspeksi :Bentuk kepala normochepal, tidak tampak lessi, warna rambut hitam dan ada beberapa uban, persebaran warna rambut dan pertumbuhan rambut merata, kulit kepala tampak berminyak dan terdapat ketombe, tidak tampak massa.Palpasi :Kepala terasa nyeri, saat di palpasi tidak teraba massa, tidak terdapat krepitasi tulang.

Inspeksi :Alis terletak simetris persebaran pertumbuhan dan warna alis

Page 58: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

43

Hidung

Mulut

Telinga

Leher

Thorak

merata, mata tampak cekung dan tampak kantong mata, mata terletak simetris, mata tampak berwarna kemerahan, pupil miosis reflek cahaya +/+, warna konjungtiva merah mudaPalpasi :Bola mata teraba kenyal dan melenting pada saat dilakukan palpasi pasien tidak mengeluh adanya nyeri tekan, pasien dapat menggerakan bola mata ke 8 arah penjuru, pasien menggunakan kacamata untuk membaca.

Inspeksi :Lubang hidung terletak simetris, lubang hidung tampak ada sedikit kotoran, tampak bulu-bulu halus didalam lubang hidung, tidak tampak massa pada bagian dalam hidung, septumnasi tepat berada di tengah, tidak ada epistaksis (pendarahan pada hidung/mimisan) dan tampak adanya pernafasan cuping hidung.Palpasi :Tidak ada nyeri tekan pada seluruh daerah sinus (edmodialis, frontalis, dan maksilaris).

Inspeksi :Mukosa bibir tampak kering, warna bibir tampak kecoklatan, gigi utuh tampak kekuningan, tidak tampak perdarahan pada gusi dan bibir, lidah tampak bersih, uvula tepat berada di tengah berwarna merah muda, tidak tampak pembesaran tonsil (T1).

Inspeksi :Daun telinga simetris, tidak tampak massa maupun lessi, tidak tampak perdarahan pada lubang telinga, telinga bersihPalpasi :Tidak terdapat nyeri tekan pada tragus, fungsi pendengaran pasien baik, terbukti pasien dapat mengulangi kata yg diucapkan pada saat tes berbisik

Inspeksi :Tidak tampak pembesaran vena jugularis, tidak tampak massa maupun lessiPalpasi :Tidak ada nyeri tekan dan massa pada saat dilakukan perabaan.

Inspeksi :Bentuk dada simetris, pergerakan dinding dada simetris, persebaran warna kulit merata, iktus kordis < 1 cm, tampak adanya tarikan dinding dada pada saat bernafasPalpasi :Saat dilakukan pemeriksaan taktil fremitus teraba getaran suara yang sama diseluruh lapang paru, tidak ada massa, tidak ada nyeri tekanPerkusi :Pada area jantung (ICS 3-5 sinistra) terdengar pekak dan suara lapang paru resonan.AuskultasiTerdengar bunyi nafas tambahan wheezing

Wheezing Ronchi

- - + -

+ -

Page 59: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

44

Abdomen

Muskuloskeletal

+ -

+ -Jantung :BJ I : bunyi jantung I terdengar (lup) tunggalBj II : bunyi jantung II terdengar (dup) tunggalBj III : tidak terdengar bunyi jantung tambahan (normal)

Inspeksi :Tidak tampak asites, tidak ada lesiAuskultasi :Bising usus 12 x/menitPerkusi :Terdengar hipertimpani pada hipokondria kanan.Palpasi :Saat dilakukan palpasi tidak ada nyeri tekan pada daerah epigastrik

Inspeksi :- Ekstermitas Atas : tidak tampak massa ataupun lessi, simetris

tangan kanan dan kiri, nadi teraba cepat, pada tangan kiri tampak terpasang cairan infus Asering 20tetes/menit.

- Ekstermitas Bawah : tidak tampak fraktur, kaki kanan dan kiri simetris, terdapat bulu kaki kanan dan kiri

Palpasi :- Ekstermitas Atas : tangan dan akral teraba hangat, tidak terdapat

krepitasi tulang, klien tidak merasa nyeri pada saat tangan kanan dan kiri saat di palpasi, nadi teraba kuat.Pada tangan kiri terpasang infus Asering

- Ekstermitas Bawah : tidak teraba massa pada kaki kanan atau kiri, klien tidak merasa nyeri pada saat kaki kanan dan kiri di palpasi tidak terdapat krepitasi tulang, kaki teraba hangat

- Kekuatan otot 5 5

5 5

e) Pemeriksaan Penunjang

Berdasarkan data yang diperoleh dari pembimbing klinik

Tabel 4.7 Pemeriksaan Penunjang

Pasien Pemeriksaan Hasil Normal

Page 60: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

45

Pemeriksaan23 Juli 2020

Pemeriksaan23 Juli 2020

HEMATOLOGILaju Endap Darah

IMUNOLOGIAnti SARS-Cov-2

Hasil Foto Thorax :Kedua Sinus/Diafragma NormalBentuk dan besar Cor memesar ke kiriPneumonia paru kananCorakan Bronchovaskuler paru normal

H 36 mm/jam

Non Reaktif

< 15

f) Terapi Pemberian Obat

Berdasarkan data yang diperoleh dari pembimbing klinik

Tabel 4.8 Pemberian Obat

Nama dan Dosis Pemberian Fungsi ObatCeftriaxone 1 gr(2x1 fls)

Intra Vena Obat yang di gunakan sebagai antibiotik pada sejumlah infeksi bakteri, yang termasuk golongan sefalosporin golongan tiga.

Vitamin C 200 mg (2x1 amp)

Intra Vena Obat yangmengandung asam askorbat untuk pembentukan kolagen dan perbaikan jaringan

Dexamethasone 4 mg/1 ml (2x1 ampul)

Intra Vena Obat yang digunakan untuk mengatasi peradangan, reaksi alergi dan penyakit atoimun

Infus Asering 20 tpm Intra vena Cairan yang digunakan untuk mengatasi asidosis yang disebabkan oleh dehidrasi dan kehilangan ion alkali tubuh.

Maxifloxacin 400mg (1x1kapsul)

Oral Obat yang digunakan untuk menghentikan pertumbuhan bakteri

Primadol (3x1tablet) Oral Obat yang mengandung analgetik dan antipiretik dan golongan dopamin reseptor antagonis

Viusid sirup (1x1 sdm)

Oral Suplemen makanan dengan kemampuan antiviral untuk memelihara kesehatan

Chana albumin (3x2 tablet)

Oral Mengandung nutrisi alami berupa protein yang berasal dari ikan gabus yang berfungsi untuk membantu menjaga kesehatan tubuh

N-ace (2x1tablet) Oral Obat yang digunakan untuk mengobati penyakit pada saluran pernafasan yang ditandai dengan hipersekresi sputum

Page 61: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

46

2. Analisa Data

Tabel 4.9 Analisa Data

Tgl Analisa Data Masalah Etiologi23 Juli 2020

DS :- Pasien mengatakan

merasa sesak- Pasien mengatakan

kalau merasakan sesak pada saat melakukan aktifitas dan pada saat berpindah tempat

DO :- Keadaan umum lemah- Kesadaran

composmentis- GCS E4 V5 M6- Pasien tampak sesak- Terdapat tarikan pada

dinding dada pada saat bernafas

- Tampak pernafasan cuping hidung

- Nadi teraba cepat- TTV

TD : 155/99 mmHgN : 102 x/menitRR : 28 x/menit (reguler,spontan)S : 37,5 °CSat : 95%

Hasil pemeriksaan penunjang:Anti SARS-Cov-2 Non Reaktif

Hasil Foto Thorax :

Pola nafas tidak efektif

Organisme pneumokokus

Saluran nafas bagian bawah

Eksudat masuk ke alveoli

sel darah merah, leukosit, pneumokokus mengisi alveoli

leukosit + fibrin mengalamikonsolidasi

leukositosis

bersihan jalan nafas tidak efektif

pola nafas tidak efektif

Page 62: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

47

Kedua Sinus/Diafragma NormalBentuk dan besar Cor membesar ke kiriPneumonia paru kananCorakan Bronchovaskuler paru Normal

3. Diagnosa Keperawatan

Tabel 4.10 Diagnosa Keperawatan

Tanggal Diagnosa Keperawatan23 Juli 2020 Pola Nafas Tidak Efektif b/d hambatan upaya nafas

(kelemahan otot pernafasan, nyeri saat bernafas) yang ditandai dengan pasien sesak, adanya pernafasan cuping hidung, RR 28 x/mnt.(SDKI, D.0005)

4. Perencanaan Tindakan Keperawatan

Tabel 4.11 Rencana Keperawatan

Tujuan Kriteria Hasil Intervensi RasionalTujuan pendek :Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam pola nafas kembali efektif

Tujuan panjang :Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari maka ventilasi menjadi adekuat

Pola Nafas (SLKI, L.01004)1. Dipsneu

menurun

2. Penggunaan otot bantu nafas menurun

3. Pernafasan cuping hidung menurun

4. Frekuensi nafas membaik

5. Kedalaman nafas membaik

Tingkat Keletihan (SLKI, L 05046)1. Mengi menurun

Manajemen Jalan Nafas (SIKI, I.01011)Observasi:1. Monitor pola

nafas (frekuensi, kedalaman, usaha nafas)

2. Monitor bunyi nafas tambahan (mis, gurgling, mengi, wheezing, ronkhi kering)

3. Monitor sputum (jumlah, warna,

1. Mengetahui tanda dan gejala awal pola nafas tidak efektif

2. Mengetahui adanya sumbatan pada jalan nafas dan perkembangan status kesehatan pasien

3. Mengetahui produksi sputum yang

Page 63: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

48

2. Gelisah menurun

3. Frekuensi nafas menurun

4. Pola nafas membaik

aroma)

Teraupetik:4. Posisikan semi

fowler atau fowler

5. Berikan minum hangat

6. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu

7. Berikan oksigen, jika perlu

Edukasi:8. Anjurkan

asupan cairan 2000 ml/ hari, jika tidak ada kontra indikasi

9. Ajarkan teknik batuk efektif

Kolaborasi:10. Kolaborasi

pemberian bronkodilator, ekspsctoran, mukolitik, jika perlu

Pemantauan Respirasi (SIKI, 01014)Observasi :

dihasilkan dan untuk menegakkan diagnosa

4. Memberikan posisi yang nyaman untuk pasien, mengurangi sesak nafas

5. Membantu mengencerkan produksi sputum

6. Membantu untuk mengeluarkan produksi sputum

7. Memberikan tambahan oksigen dan mengurangi perburukan keadaan

8. Mencukupi jumlah kebutuhan cairan klien untuk mencegah dehidrasi

9. Memudahkan pasien untuk dapat mengeluarkan sputum

10. Mengencerkan sputum sehingga melancarkan saluran pernafasan

Page 64: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

49

11. Monitor frekuensi , irama, kedalaman dan upaya nafas

12. Monitor pola nafas (seperti bradipneu, takipneu, hiperventilasi, kusmaul, cheyne-stokes, biot, ataksik)

13. Monitor kemampuan batuk efektif

14. Monitor adanya produksi sputum

15. Auskultasi bunyi nafas

16. Monitor saturasi oksigen

17. Monitor hasil X Ray thoraks

Terapeutik :18. Atur interval

pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien

11. Mengetahui tanda dan gejala awal pola nafas tidak efektif

12. Mengetahui tanda dan gejala awal pola nafas tidak efektif dan tanda perburukan penyakit

13. Membantu untuk mengeluarkan produksi sputum

14. Mengetahui produksi sputum yang dihasilkan dan untuk menegakkan diagnosa

15. Untuk membantu menegakkan diagnosa penyakit dan mengetahui perburukan keadaan pasien

16. Mengetahui keadaan pasien

17. Untuk menegakkan diagnosa dan mengetahui perburukan dan perkembangan kondisi pasien

18. Memberikan rasa nyaman dan kesempatan untuk beristirahat kepada pasien

Page 65: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

50

19. Dokumentasikan hasil pemantauan

Edukasi :20. Jelaskan tujuan

dan hasil pemantauan

21. Informasikan hasil pemantauan, jika perlu

19. Mengetahui perkembangan kondisi pasien

20. Agar pasien dan keluarga dapat kooperatif

21. Agar keluarga dan pasien tahu tentang perkembangan dari pengobatan yang dilakukan

3. Implementasi Keperawatan

Tabel 4.12 Tabel Implementasi Keperawatan Aplikatif

Diagnosa Keperawatan

Hari 1 Hari 2 Hari 3

Kamis, 23 Juli 2020 Jumat, 24 Juli 2020 Sabtu, 25 Juli 2020

Pola Nafas Tidak Efektif b/d hambatan jalan nafas (kelemahan otot pernafasan, nyeri saat bernafas)

19.30

19.30

1. Melakukan monitoring pola nafas, yaitu : mengukur frekuensi, kedalaman dan usaha nafas pasien

2. Melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien melalui inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi

3. Melakukan monitoring sputum pasien, melakukan anamnese kepada pasien tentang jumlah, warna dan bau dari sputum pasien

09.00

09.00

09.00

09.00

09.20

1. Mengukur TTV dan saturasi O2 pasien dan mengamati pola nafas pasien

2. Melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien melalui inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi

3. Memonitor produksi sputum pasien

4. Memberikan posisi semi fowler atau fowler kepada pasien

5. Memberikan minuman

08.30

08.35

09.00

09.00

09.00

1. Mengukur TTV dan saturasi O2 pasien dan mengamati pola nafas pasien

2. Melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien melalui inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi

3. Memonitor produksi sputum pasien

4. Memberikan posisi semi fowler atau fowler kepada pasien

5. Menganjurkan pasien untuk minum minuman yang hangat dan

Page 66: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

51

19.30

20.00

19.30

19.30

19.30

19.30

4. Memberikan posisi semi fowler atau fowler kepada pasien

5. Memberikan minuman yang hangat kepada pasien

6. Memberikan edukasi tentang fisioterapi dada, jika perlu

7. Memberikan oksigen nasal 2 lpm, dan mengukur saturasi oksigen

8. Menganjurkan pasien untuk minum minimal 2 liter dalam 24 jam

9. Mengajarkan cara batuk yang efektif kepada pasien yaitu menganjurkan menarik nafas dalam melalui hidung selama 4 detik, ditahan selama 2 detik, kemudian menganjurkan untuk mengeluarkan dari mulut dengan bibir mecucu (dibulatkan selama 8 detik, menganjurkan untuk mengulangi tarik nafas dalam sebanyak 3 kali dan setelah itu

09.25

09.30

09 40

11.30

yang hangat kepada pasien

6. Memberikan edukasi tentang fisioterapi dada, jika perlu

7. Memonitor oksigen yang dipakai pasien dan mengukur saturasi oksigen

8. Menganjurkan pasien untuk minum minimal 2 liter dalam 24 jam

9. Melakukan pemantauan kondisi pasien sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan

10. Mendokumentasikan hasil pemantauan dalam catatan perkembangan pasien

11. Memberikan obat- Primadol 1

tab- Chana 2

kapsul

09.30

11.30

untuk mencukupi kebutuhan cairan dengan minum minimal 2000 l kepada pasien

6. Memonitor oksigen yang dipakai oleh pasien, memonitor saturasi oksigen pasien

7. Melakukan pemantauan kondisi pasien sesuai dengan jadwal kontrol pasien

8. Mendokumentasikan hasil pemantauan dalam catatan perkembangan pasien

9. Memberikan obat- Primadol 1

tab- Chana 2

kapsul

Page 67: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

52

20.00

menganjurkan batuk dengan kuat langsung setelah tarik nafas dalam yang ketiga

10. Mengantar pasien untuk foto thoraks

11. Mengatur interval pemantauan kondisi pasien

12. Mendokumentasikan hasil pemantauan

13. Menjelaskan tentang pentingnya dilakukan pemantauan tentang kondisi pasien

14. Memberikan obat- N-ace 1 tablet

4. Evaluasi Keperawatan

Tabel 4.13 Evaluasi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan

Hari 1Jumat, 24 Juli 2020 (pukul 06.00 WIB)

Hari 2Sabtu, 25 Juli 2020(pukul 13.00 WIB)

Hari 3Minggu, 26 Juli 2020(pukul 13.00 WIB)

Pola nafas tidak efektif b.d hambatan upaya nafas

Berdasarkan data yang diperoleh dari pembimbing 3S :- Pasien mengatakan

badan terasa lebih segar dan sesak berkurang

O:- Keadaan umum

cukup- Kesadaran

composmentis- GCS E4 V5 M6- Pasien masih

tampak sesak- Terpasang O2 nasal

Berdasarkan data yang diperoleh dari pembimbing 3S:- Pasien mengatakan

kalau sesaknya sudah sangat berkurang

O:- Keadaan umum

cukup- Kesadaran

composmentis- GCS E4 V5 M6- Terdapat

pernafasan cuping hidung

Berdasarkan data yang diperoleh dari pembimbing 3S :- Pasien mengatakan

sudah tidak sesak

O:- Keadaan umum

cukup- Kesadaran

composmentis- GCS E4 V5 M6- Tampak pernafasan

cuping hidung- Terpasang O2 nasal

Page 68: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

53

2 lpm- ADL pasien masih

dibantu- Terdapat pernafasan

cuping hidung- Tampak adanya

retraksi dada pada saat bernafas

- Terpasang infus Asering di tangan kiri

- Pasien tampak dalam posisi semifowler

- Pemeriksaan fisik auskultasi wheezing (+)

- Tanda – tanda vital :TD 158/91 mmHgN 78 x/mntS 36,6°CRR 28x/mntSpO2 98%

A : Masalah pola nafas tidak efektif belum teratasi

P: Lanjutkan intervensi- Manajemen jalan

nafas- Pemantauan

respirasi

- Terdapat tarikan dinding dada pada saat pasien bernafas

- Terpasang infus Asering di tangan kiri

- Terpasang O2 nasal 2 lpm

- Pasien dalam posisi semifowler

- Auskultasi wheezing (+)

- Tanda–tanda vital :TD 121/73 mmHgN 76 x/mntS 36,5°CRR 28 x/mntSpO2 96%

A : Masalah pola nafas tidak efektif belum teratasi

P:Lanjutkan intervensi- Manajemen jalan

nafas- Pemantauan

respirasi

2 lpm- Terpasang infus

Asering di tangan kiri

- Pasien masih dibantu dalam melakukan ADL

- Pasien dalam posisi fowler

- Auskultasi wheezing (+)

- Tanda – tanda vital :TD 100/70 mmHgN 78 x/mntS 36,2°CRR 24 x/mntSpO2 96 - 98%

A : Masalah pola nafas tidak efektif belum teratasi

P:Lanjutkan intervensi- Manajemen jalan

nafas- Pemantauan

respirasi

Page 69: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

54

4.2 Pembahasan

4.2.1 Pembahasan Pengkajian

Tabel 4.14 Pembahasan Pengkajian

Fakta :Data yang didapatkan pada pasien ,berusia 60 tahun, terdiagnosa medis Pneumonia. Saat dilakukan pengkajian didapatkan data bahwa pasien mengalami batuk dan sesak nafas dengan frekuensi RR 28 x/mnt, TD 155/99 mmHg, S 37,5°C, N 102 x/mnt, SpO2 95 % dan didapatkan hasil pemeriksaan fisik tampak keadaan umum lemah, pasien tampak sesak, adanya suara tambahan wheezing pada kedua paru paru, mukosa bibir kering. tampak pernafasan cuping hidung dan menggunakan otot bantu pernafasan, pasien menggunakan O2 nasal 2 lpm.

Opini :Berdasarkan hasil pengkajian, pasien mempunyai diagnosa pneumonia dapat dibuktikan dengan adanya hasil foto thorax yang menunjukkan hasil pneumonia dengan masalah pola nafas tidak efektif. Pada pasien pengkajian dilakukan melalui perantara pembimbing klinik karena suatu kondisi tertentu. Dengan keluhan utama yaitu pasien mengatakan sesak nafas dan disertai adanya batuk. Dan pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya pernafasan cuping hidung , adanya otot bantu pernafasan pada saat respirasi dan pada auskultasi ditemukan adanya wheezing serta frekuensi nafas yang abnormal yaitu 28 x/mnt

Teori :Menurut Mutaqin A, 2014 bahwa pada pasien Pneumonia mengalami peradangan pada paru-paru yang menyebabkan adanya eksudat yang akan masuk pada alveoli yang menyebabkan manifestasi antara lain dipsneu, batus, sianosis, yang akan menyebabkan konsolidasi sehingga menimbulkan masalah nyeri akut, hipertermia, bersihan jalan nafas tidak efektif, pola nafas tidak efektif, gangguan tidur dan intoleransi aktifitas serta defisit nutrisi. Pola nafas tidak efektif ditandai dengan adanya dipsneu, penggunaan otot bantu pernafasan, pola nafas yang abnormal dan pernafasan cuping hidung. (PPNI, 2018)

4.2.2 Diagnosa Keperawatan

Tabel 4.15 Pembahasan Diagnosa Keperawatan

Fakta :Pada pasien ditegakkan diagnosa keperawatan pola nafas tidak efektif b.d hambatan upaya nafas yang ditandai dengan pasien sesak, adanya pernafasan cuping hidung, RR 28 x/mnt

Opini :Berdasarkan data yang ditemukan, pasien memiliki masalah keperawatan pola nafas tidak efektif yang berhubungan dengan adanya kelemahan otot nafas karena proses infeksi pada paru-paru. Dengan etiologi yaitu pasien mengalami perubahan frekuensi pola nafas yang lebih dari normal yaitu 28 x/mnt, adanya pernafasan cuping hidung pada pasien, SpO2 95%.

Page 70: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

55

Sehingga peneliti menetapkan diagnosa keperawatan pola nafas tidak efektif b/d hambatan upaya nafas

Teori :Diagnosa keperawatan yang dapat terjadi pada pasien dengan pneumonia menurut Nurarif, 2011 adalah salah satunya pola nafas tidak efektif yang dikarenakan adanya organisme yang masuk ke dalam sistem pernafsan bagian bawah yang mengakibatkan adanya infeksi pada alveoli sehingga menimbulkan adanya konsolidasi pada alveoli yang menyebabkan bersihan jalan nafas tidak efektif dan mengakibatkan pola nafas tidak efektif. Menurut Tim Pokja SDKI DPP PPNI, pola nafas tidak efektif adalah inspirasi dan/ atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat yang disebabkan oleh depresi pusat pernafasan, hambatan upaya nafas (mis. Nyeri saat bernafas, kelemahan otot pernafasan), deformitas dinding dada, deformitas tulang dada, gangguan neuromuskuler, gangguan neurologis (mis. elektroensefalogram (EEG) positif, cedera kepala, gangguan kejang), imaturitas neurologis, penurunan energi, obesitas, posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru, sindrom hipoventilasi, kerusakan inervasi diafragma (kerusakan saraf C5 keatas), cedera pada medula spinalis,efek agen farmakologia, kecemasan. Yang ditandai dengan gejala Mayor :1. Dipsneu2. Penggunaan otot bantu pernafasan3. Fase ekspirasi memanjang4. Pola nafas abnormal (mis. takipneu, bradipneu, hiperventilasi, kusmaull, cheyne stokes)Gejala dan tanda Minor :1. Ortopneu2. Pernafasan pursed – lip3. Pernafasan cuping hidung4. Diameter thoraks anterior-posterior meningkat5. Ventilasi semenit menurun6. Kapasitas vital menurun7. Tekanan ekspirasi menurun8. Tekanan inspirasi menurun9. Ekskursi dada berubah

4.2.3 Intervensi Keperawatan

Berdasarkan dari diagnosa yang telah ditegakkan pada pasien, dapat disusun

rencana tindakan keperawatan kepada kedua pasien berdasarkan teori

Tabel 4.16 Pembahasan Tujuan Intervensi Keperawatan

Tujuan PasienSetelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam maka pola nafas kembali efektif

Berdasarkan data yang diperoleh dari pembimbing 3 bahwa pada pasien ditetapkan tujuan yaitu pola nafas kembali efektif setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari

Opini :Tujuan yang ditetapkan pada pasien adalah untuk memberikan dan memperbaiki pola nafas yang efektif sehingga memberikan ventilasi yang adekuat terhadap pasien yang dapat memenuhi kebutuhan oksigen bagi seluruh tubuh yang jika tidak ditatalaksana lebih lanjut akan mengakibatkan terjadinya perburukan keadaan dan bahkan kematian.

Page 71: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

56

Teori :Tujuan yang telah ditetapkan pada pasien, sesuai dengan teori Tim Pokja SLKI DPP PPNI (2018) yang memaparkan bahwa penetapan tujuan rencana keperawatan bagi pasien Pneumonia dengan masalah pola nafas tidak efektif dapat memberikan ventilasi yang adekuat setelah diberikan asuhan keperawatan kepada pasien dalam jangka waktu tertentu. Menurut Mutaqin (2014) penatalaksanaan kasus Pneumonia secara umum adalah humidifikasi (pemberian nebulizer), oksigenasi, fisioterapi dan hidrasi, operasi (diperlukan jika masalah emfisema terjadi) dan terapi obat berupa antibiotik.(Mutaqin, 2014)

Tabel 4.17 Pembahasan Kriteria Hasil

Kriteria HasilPada pasien ditetapkan 5 kriteria hasil dan sesuai dengan teori pada tinjauan pustaka yaitu :Pola Nafas :1. Dipsneu menurun2. Penggunaan otot bantu nafas menurun3. Pernafasan cuping hidung menurun4. Frekuensi nafas membaik5. Kedalaman nafas membaikTingkat Keletihan :1. Mengi menurun2. Gelisah menurun3. Frekuensi nafas menurun4. Pola nafas membaik

Opini:Berdasarkan data yang ditemukan, kriteria hasil yang ditetapkan pada pasien bertujuan untuk mengevaluasi apakah pada setiap tindakan atau asuhan keperawatan pada pasien dapat meningkatkan kondisi pasien. Kriteria hasil yang telah ditetapkan pada pasien sudah sesuai dengan teori penulis pada tinjauan pustaka. Diharapkan setelah dilakukan asuhan keperawatan maka pola nafas pasien menjadi adekuat

Teori :Kriteria hasil yang ditetapkan pada pasien sesuai dengan Tim POKJA SLKI DPP PPNI (2018) yang menyatakan bahwa pasien yang mengalami pola nafas tidak efektif harus mencapai kriteria hasil pola nafas sebagai berikut, dipsneu menurun, penggunaan otot bantu nafas menurun, pernafasan cuping hidung menurun, frekuensi nafas membaik, kedalaman nafas membaik.(SLKI, 01004) Selain itu juga ditambahkan kriteria hasil tingkat keletihan sebagai berikut mengi menurun, gelisah menurun, frekuensi nafas menurun dan pola nafas membaik. (SLKI, L 05046)

Page 72: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

57

Tabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan

IntervensiManajemen Jalan NafasObservasi:1. Monitor pola nafas (frekuensi, kedalaman, usaha nafas)2. Monitor bunyi nafas tambahan (mis, gurgling, mengi, wheezing, ronkhi kering)3. Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)

Teraupetik:4. Posisikan semi fowler atau fowler5. Berikan minum hangat6. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu7. Berikan oksigen, jika perlu

Edukasi:8. Anjurkan asupan cairan 2000 ml/ hari, jika tidak ada kontra indikasi9. Ajarkan teknik batuk efektif

Kolaborasi:10. Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspsctoran, mukolitik, jika perlu

Pemantauan Respirasi11. Monitor frekuensi , irama, kedalaman dan upaya nafas12. Monitor pola nafas (seperti bradipneu, takipneu, hiperventilasi, kusmaul, cheyne-

stokes, biot, ataksik)13. Monitor kemampuan batuk efektif14. Monitor adanya produksi sputum15. Auskultasi bunyi nafas16. Monitor saturasi oksigen17. Monitor hasil X Ray thoraks

Terapeutik :18. Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien19. Dokumentasikan hasil pemantauan

Edukasi :20. Jelaskan tujuan dan hasil pemantauan21. Informasikan hasil pemantauan, jika perlu

Opini :Pada pasien dilakukan tindakan keperawatan dan asuhan keperawatan yang sesuai dengan tinjauan pustaka. Peneliti merencanakan 21 intervensi untuk pasien karena setiap intervensi yang akan dilakukan disesuaikan dengan keadaan dan kondisi terkini pasien yang didapat saat pengkajian. Intervensi tersebut bertujuan untuk meningkatkan ventilasi yang adekuat.

Teori :Intervensi yang telah ditetapkan bagi pasien telah sesuai dengan teori menurut TIM POKJA SIKI DPP PPNI (2017) yaitu dengan manajemen jalan nafas. Menurut Mutaqin (2014), penatalaksaan yang bisa diberikan kepada pasien Pneumonia meliputi humidifikasi (pemberian nebulizer), oksigenasi, fisioterapi, hidrasi, operasi (diperlukan jika ada masalah sekunder seperti emfisema paru) dan terapi obat yang berupa antibiotik

Page 73: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

58

Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi Keperawatan

ImplementasiFakta :Implementasi yang dilakukan pada pasien adalah1. Melakukan monitoring pola nafas, yaitu : mengukur frekuensi, kedalaman dan usaha

nafas pasien2. Melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien melalui inspeksi, palpasi, perkusi dan

auskultasi3. Melakukan monitoring sputum pasien, melakukan anamnese kepada pasien tentang

jumlah, warna dan bau dari sputum pasien4. Memberikan posisi semi fowler atau fowler kepada pasien5. Memberikan minuman yang hangat kepada pasien6. Memberikan edukasi tentang fisioterapi dada, jika perlu7. Memberikan oksigen nasal 2 lpm, dan mengukur saturasi oksigen8. Menganjurkan pasien untuk minum minimal 2 liter dalam 24 jam9. Mengajarkan cara batuk yang efektif kepada pasien yaitu menganjurkan menarik

nafas dalam melalui hidung selama 4 detik, ditahan selama 2 detik, kemudian menganjurkan untuk mengeluarkan dari mulut dengan bibir mecucu (dibulatkan selama 8 detik, menganjurkan untuk mengulangi tarik nafas dalam sebanyak 3 kali dan setelah itu menganjurkan batuk dengan kuat langsung setelah tarik nafas dalam yang ketiga

10. Melakukan kolaborasi pemberian obat

Opini :Pada pasien intervensi yang telah direncakan berjumlah 21, dan dilakukan implementasi melalui perantara dari pembimbing klinik. Menurut pembimbing klinik pasien sangat kooperatif sehingga memudahkan peneliti dalam melaksanakan implementasi keperawatan sesuai dengan intervensi yang telah direncanakan.

Teori :Hal diatas sesuai dengan teori menurut Setiadi (2012) Implementasi keperawatan merupakan pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Adapun pedoman implementasi keperawatan menurut Dermawan (2012), yaitu tindakan keperawatan yang dilakukan kosisten dengan rencana dan dilakukan setelah memvalidasi rencana keperawatan, keamanan fisik dan psikologis pasien dilindungi, serta selama tahap implementasi perawat, terus melakukan pengumpulan data dan memilih asuhan keperawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan pasien. Semua implementasi didokumentasikan kedalam format yang telah ditetapkan institusi. Menurut Debora (2017), implementasi merupakan tahap perencanaan yang dibuat dan diaplikasikan pada pasien. Tindakan yang dilakukan mungkin sama, mungkin juga berbeda, dengan urutan yang telah dibuat pada perencanaan. Aplikasi yang digunakan pada pasien akan berbeda disesuaikan dengan kondisi pasien saat itu dan kebutuhan yang paling dirasakan oleh pasien.

Page 74: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

59

Tabel 4.21 Pembahasan Evaluasi Keperawatan

Fakta :Berdasarkan data yang di peroleh dari pembimbing klinik, masalah pola nafas tidak efektif pada pasien masih belum teratasi dan pada hari perawatan ke 3 didapatkan data sebagai berikut :1. Keadaan umum cukup2. Kesadaran composmentis3. GCS E4 V5 M64. Terpasang O2 nasal 2 lpm5. Terpasang infus Asering di tangan kiri6. Pasien masih dibantu dalam melakukan ADL7. Pasien dalam posisi fowler8. Auskultasi wheezing (+)9. Tanda – tanda vital :

TD 100/70 mmHgN 78 x/mntS 36,2°CRR 24 x/mntSpO2 96 – 98%

Opini :Pada pasien yang dirawat, setelah 3 hari dilakukan asuhan keperawatan, masalah pola nafas tidak efektif pada pasien masih belum teratasi. Hal ini disebabkan karena ventilasi masih belum adekuat. Namun karena tindakan farmakologis yang telah diberikan serta tindakan keperawatan yang telah dilakukan oleh peneliti, seperti memberikan Oksigen dan melatih untuk batuk efektif dan memberikan posisi semi fowler dapat membantu untuk meringankan rasa sesak yang diderita oleh pasien. Setelah dilakukan tindakan tersebut, pasien mengatakan bahwa sesak nafas yang dialaminya masih ada tetapi sudah berkurang.TeoriMenurut Manurung (2011) evaluasi keperawatan merupakan kegiatan yang perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk mengukur tingkat efektivitas dan keberhasilan rencana keperawatan serta bagaimana rencana keperawatan dilanjutkan, direvisi atau bahkan dihentikan. Hal ini sesuai teori menurut Tim Pokja SLKI DPP PPNI (2018) bahwa hasil yang diharapkan setelah dilakukan tindakan keperawatan adalah; dipsneu menurun, penggunaan otot bantu nafas menurun, pernafasan cuping hidung menurun, frekuensi nafas membaik, kedalaman nafas membaik

Page 75: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan disajikan kesimpulan dan saran penelitian tentang ”Asuhan

Keperawatan Pada Pasien Dewasa Pneumonia dengan masalah Pola Nafas Tidak

Efektif di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang”.

5.1 Kesimpulan

Asuhan keperawatan pada pasien dewasa Pneumonia dengan masalah pola

nafas tidak efektif di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang dapat

dilaksanakan pada pasien selama 3 hari, berdasarkan data yang diperoleh

dari pembimbing 3, setelah dilakukan pengkajian sampai dengan evaluasi,

pada pasien didapatkan pola nafas masih belum adekuat. Pada pasien dapat

mencapai 9 kriteria hasil yang sudah ditetapkan sesuai teori dan 1 kriteria

yang belum dicapai yaitu frekuensi nafas membaik sehingga masalah

keperawatan pada pasien adalah masalah pola nafas tidak efektif belum

teratasi.

5.1.1 Pengkajian

Pengkajian dilakukan pada pasien untuk mendapatkan data guna

menetapkan masalah keperawatan. Berdasarkan data yang diperoleh dari

pembing 3, hasil pengkajian didapatkan pada pasien dengan Pneumonia

didapatkan bahwa pasien mengalami dipsnue, penggunaan otot bantu

pernafasan, pernafasan cuping hidung, pola nafas abnormal. Berdasarkan

teori dan fakta pada klien Pneumonia tersebut mengalami pola nafas tidak

efektif.

Page 76: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

61

5.1.2 Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan data yang diperoleh dari pembimbing 3, pada pasien dapat

ditetapkan diagnosa keperawatan pola nafas tidak efektif berhubungan

dengan hambatan upaya nafas yang ditandai dengan pasien sesak, adanya

pernafasan cuping hidung, RR 28 x/mnt

5.1.3 Rencana Tindakan Keperawatan

Berdasarkan diagnosa keperawatan yang telah ditegakkan pada pasien

disusunlah rencana keperawatan yang berjumlah 21 yang sesuai teori pada

tinjauan pustaka.

5.1.4 Implementasi Keperawatan

Berdasarkan diagnosa keperawatan pola nafas tidak efektif peneliti dapat

melakukan semua tindakan keperawatan yang telah direncanakan pada

pasien yang dilakukan melalui perantara pembimbing 3 berjumlah 20

implementasi mandiri.

5.1.5 Evaluasi Keperawatan

Evaluasi dari tindakan keperawatan yang diberikan pada pasien, mengacu

pada 9 kriteria hasil yang sudah ditetapkan. Pada pasien hanya memenuhi 8

kriteria hasil, sedangkan ada 1 kriteria hasil yang masih belum terpenuhi

yaitu frekuensi nafas membaik.

5.2 Saran

5

5.1

5.2

Page 77: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

62

5.2.1 Bagi Lahan Penelitian

Melalui hasil penelitian ini, peneliti berharap dapat dijadikan sebagai

salah satu bahan referensi oleh tenaga perawat di Rumah Sakit Panti

Waluya Sawahan Malang dalam peningkatan pelayanan dan perawatan

yang diberikan pada pasien, serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan

menjadi lebih baik dengan begitu pasien merasa lebih puas dan mutu

Rumah Sakit Panti Waluya Malang menjadi lebih baik.

5.2.2 Bagi Institusi Pendidikan

Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan penelitian ini dapat digunakan

sebagai salah satu sumber materi asuhan keperawatan pada pasien dewasa

dengan Pneumonia dengan masalah pola nafas tidak efektif, memberikan

pengetahuan kepada mahasiswa, bukan hanya sebagai sebuah bacaan

terlebih sebagai pengetahuan untuk memberikan asuhan keperawatan yang

baik, rencana tindak lanjut, serta menumbuhkan inovasi baru bagi pasien

terlebih pasien Pneumonia dengan masalah pola nafas tidak efektif,

dengan memberikan asuhan keperawatan mandiri yang berupa melakukan

monitor pola nafas (frekuensi, kedalaman, usaha nafas), melakukan

monitor bunyi nafas tambahan (mis. gurgling, mengi, wheezing, ronkhi

kering), melakukan monitor sputum (jumlah, warna, bau), memberikan

posisi fowler atau semi fowler, memberikan minum hangat, melakukan

fisioterapi dada, memberikan oksigen dan melakukan kolaborasi untuk

pemberian obat obatan.

5.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya

Page 78: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

63

Disarankan bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian studi

kasus dengan topik yang sama, diharapkan lebih mampu membina

hubungan saling percaya dengan pasien, agar dalam asuhan keperawatan

lebih optimal serta diharapakan mampu melanjutkan atau mengembangkan

penelitian studi kasus “Asuhan Keperawatan Pasien Dewasa Pneumonia

dengan masalah Pola Nafas Tidak Efektif” dengan metode pengaplikasian

intervensi yang lebih terbaru dan efisien pada pasien Pneumonia yang

menderita pola nafas tidak efektif dan diharapkan hasil dari penelitian

tercapai dengan baik dalam waktu penelitian 3 hari

Page 79: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

64

DAFTAR PUSTAKA

Bararah, T dan Jauhar, M 2013, Asuhan Keperawatan Panduan Lengkap Menjadi

Perawat Profesional, Jakarta : Prestasi Pustakaraya

Black, J. M, & Hawks, J. H. (2014). Keperawatan medikal bedah: manajemen

klinis untuk hasil yang diharapkan. Jakarta: Salemba Medika.

Brunner, and Suddart (2014). Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth.

Jakarta: EGC

Carpenito, Lynda Juall, 2013, Diagnosis Keperawatan, Aplikasi pada Praktek

Klinik (Terjemahan), edisi 6 Jakarta

Data Statistik Rumah sakit Panti Waluya Sawahan Malang, tentang 10 penyakit

terbanyak tahun 2019, RSPW Malang

Debora , Odera (2017) Proses Keperawatan dan Pemeriksaan Fisik, Jakarta,

Salemba Medika

Departemen Kesehatan RI, 2011, Pneumonia penyebab kematian, dari

www.depkes.go.id

Dermawan, D (2012) Proses Keperawatan Penerapan Konsep dan Kerangka

Kerja, Yogyakarta, Gosyen Publishing

Dinas Kesehatan Jawa Timur, 2017 Profil Kesehatan Indonesia

Djojodibroto, Darmanto, 2014, Respirology, Jakarta, EGC

Judith M Wilkinson, 2016, Diagnosis Keperawatan ed 10, Jakarta Amanah

Budaya (EGC)

Manurung, S (2011), Keperawatan Profeional, Jakarta, Trans Info

Page 80: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

65

Muttaqin, Arif, 2014, Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem

Pernafasan, Jakarta, Salemba Medika

Ngastiyah 2015, Perawatan Anak Sakit ed 2, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran

(EGC)

Nugroho T, 2011, Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah dan Penyakit

Dalam, Jogjakarta, Nuha Medika

Nurarif AH & Kusuma AH 2015, Aplikasi Asuhan Keperawatan

BerdasarkanDiagnosa Medis, Jogjakarta : Penerbit Mediaction

PDPI, 2014. Pneumonia Komuniti, pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di

Indonesia, Edisi 2 Jakarta Perhimpunan Dokter Paru Indonesia

PPNI Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator

Diagnostik Edisi 1, cetakan 2, Jakarta

PPNI Standar Luaran Keperawatan Indonesia, Definisi dan Kiteria Hasil

Keperawatan edisi 1, cetakan 2, Jakarta

PPNI Standar Intervensi Keperawatan Indonesia, Definisi dan Tindakan

Keperawatan edisi 1, cetakan 2, Jakarta

Riskesdas, 2018, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen

Kesehatan. Diunduh dari http://www.docstoc.com/docs/19707850

/Laporan-Hasil-Riset Kesehatan

Sektya Yudha, 2018 Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Sistem Respirasi,

Yogyakarta: CV Budi Utama

Setiadi, (2012), Konsep dan Penulisan Dokumentasi Asuhan Keperawatan,

Yogyakarta,Graha Ilmu

Terry & Sharon, 2013, Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik ed 3, Jakarta

Penerbit Buku Kedokteran (EGC)

Page 81: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

66

World Health Organization, 2017 pneumonia di dunia,Jakarta: EGC

Page 82: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

67

LAMPIRAN

Lampiran 1 Studi Pendahuluan

Page 83: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

68

Lampiran 2 Surat Jawaban Studi Pendahuluan

Page 84: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

69

Lampiran 3 Surat Ijin Penelitian

Page 85: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

70

Lampiran 4 Surat Jawaban Ijin Penelitian

Page 86: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

71

Lampiran 5 Lembar Konsultasi Pembimbing 1

Page 87: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

72

Lampiran 6 Lembar Konsultasi Pembimbing 2

Page 88: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

73

Page 89: repository.stikespantiwaluya.ac.idrepository.stikespantiwaluya.ac.id/499/2/KTI Indah... · Web viewTabel 4.18 Pembahasan Intervensi Keperawatan 54 Tabel 4.19 Pembahasan Implementasi

74

Lampiran 7 Lembar Konsultasi Pembimbing 3