of 13/13
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu Variabel modal, umur, curahan jam kerja, pengalaman, harga jual dan hasil tangkapan mendapatkan hasil uji F dengan selang kepercayaan 95% menyatakan bahwa semua variabel bebas yang meliputi modal, umur, curahan jam kerja, pengalaman kerja, hasil tangkapan dan harga berpengaruh nyata terhadap pendapatan nelayan desa Klampis tahun 2014. Nilai R 2 pada penelitian ini adalah sebesar 0,811453 yang berarti bahwa semua variabel bebas mempengaruhi pendapatan nelayan desa Klampis tahun 2014 sebesar 81,14%, sedangkan sisanya sebesar 18,86% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk didalam model penelitian. Sedangkan variabel curahan jam kerja, pengalaman nelayan, harga dan hasil tangkapan pada tingkat kepercayaan 95% secara parsial signifikan mempengaruhi pendapatan nelayan desa Klampis 2014 (Jamal, 2014). Variabel pendapatan melaut yang diteliti meliputi umur nelayan, nilai aset kapal dan alat tangkap, daya mesin kapal, curahan kerja melaut, dan pengalaman melaut. Variabel pengeluaran rumah tangga nelayan meliputi pendapatan melaut, pendapatan non melaut, jumlah anggota keluarga, dan pendidikan. Hasil dari penelitian tersebut memperlihatkan bahwa variabel jumlah kapal, pengalaman melaut, dan daya mesin kapal berpengaruh nyata terhadap pendapatan melaut secara statistik. Apabila variabel-variabel tersebut ditingkatkan maka akan berdampak terjadi peningkatan terhadap pendapatan nelayan. Variabel yang berpengaruh nyata terhadap pengeluaran rumah tangga nelayan yaitu pendapatan melaut, pendapatan non melaut, jumlah keluarga dan pendidikan nelayan (Primyastanto, 2013).

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulurepository.ub.ac.id/7986/3/BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA.pdf · Alat Tangkap Menurut KKP (2011), mengelompokkan klasifikasi alat penangkapan

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulurepository.ub.ac.id/7986/3/BAB 2 TINJAUAN...

  • II. TINJAUAN PUSTAKA

    2.1. Penelitian Terdahulu

    Variabel modal, umur, curahan jam kerja, pengalaman, harga jual dan

    hasil tangkapan mendapatkan hasil uji F dengan selang kepercayaan 95%

    menyatakan bahwa semua variabel bebas yang meliputi modal, umur, curahan

    jam kerja, pengalaman kerja, hasil tangkapan dan harga berpengaruh nyata

    terhadap pendapatan nelayan desa Klampis tahun 2014. Nilai R2 pada penelitian

    ini adalah sebesar 0,811453 yang berarti bahwa semua variabel bebas

    mempengaruhi pendapatan nelayan desa Klampis tahun 2014 sebesar 81,14%,

    sedangkan sisanya sebesar 18,86% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak

    termasuk didalam model penelitian. Sedangkan variabel curahan jam kerja,

    pengalaman nelayan, harga dan hasil tangkapan pada tingkat kepercayaan 95%

    secara parsial signifikan mempengaruhi pendapatan nelayan desa Klampis 2014

    (Jamal, 2014).

    Variabel pendapatan melaut yang diteliti meliputi umur nelayan, nilai aset

    kapal dan alat tangkap, daya mesin kapal, curahan kerja melaut, dan

    pengalaman melaut. Variabel pengeluaran rumah tangga nelayan meliputi

    pendapatan melaut, pendapatan non melaut, jumlah anggota keluarga, dan

    pendidikan. Hasil dari penelitian tersebut memperlihatkan bahwa variabel jumlah

    kapal, pengalaman melaut, dan daya mesin kapal berpengaruh nyata terhadap

    pendapatan melaut secara statistik. Apabila variabel-variabel tersebut

    ditingkatkan maka akan berdampak terjadi peningkatan terhadap pendapatan

    nelayan. Variabel yang berpengaruh nyata terhadap pengeluaran rumah tangga

    nelayan yaitu pendapatan melaut, pendapatan non melaut, jumlah keluarga dan

    pendidikan nelayan (Primyastanto, 2013).

  • 7

    Variabel yang diteliti dalam penelitian ini meliputi modal kerja, tenaga

    kerja, pengalaman, dan jarak tempuh melaut, hasil penelitian ini didapatkan

    bahwa dari hasil estimasi nilai F-statistik yang diperoleh sebesar 3,1236 yang

    lebih besar dari F0,05 (5,94) = 2.30; ini berarti bahwa modal kerja, jumlah tenaga

    kerja, pengalaman, dan jarak tempuh melaut secara bersama-sama

    mempengaruhi pendapatan nelayan di Kabupaten Langkat dengan tingkat

    kepercayaan 95%. Berdasarkan uji t-statistik, diketahui bahwa variabel yang

    berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan nelayan di kabupaten

    langkat yaitu modal kerja dan tenaga kerja. Sedangkan variabel pengalaman dan

    jarak tempuh malaut tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan

    nelayan di kabupaten langkat. Hasil estimasi dari koefisien regresi modal kerja

    adalah 0,293 yang artinya bahwa setiap penambahan 10 tenaga kerja maka

    pendapatan nelayan dapat meningkatkan sebesar 2,58% (Sujarno, 2008).

    2.2. Teori Produksi

    Menurut Sudarman (2001), menyatakan bahwa teori produksi yaitu teori

    yang mempelajari bagaimana cara mengkombinasikan berbagai macam input

    pada tingkat teknologi tertentu untuk menghasilkan sejumlah output tertentu.

    Sasaran teori produksi adalah untuk menentukan tingkat produksi yang efisien

    dengan sumberdaya yang ada. Sumberdaya yang digunakan dalam produksi,

    diklasifikasi oleh Doll dan Orazem (1984) menjadi sumberdaya tetap dan

    sumberdaya variabel. Suatu sumberdaya disebut sebagai sumberdaya tetap, jika

    kuantitasnya tidak berubah selama periode produksi tersebut dan suatu

    sumberdaya disebut sumberdaya variabel, jika kuantitasnya berubah pada

    permulaan atau selam periode produksi. Sumberdaya tetap dan variabel adalah

    digunakan untuk mengklasifikasikan panjangnya periode produksi sebagai

    berikut: (1) jangka sangat pendek, yakni periode waktu begitu singkat sehingga

  • 8

    semua sumberdaya adalah tetap, (2) jangka pendek, yakni periode waktu

    sedemikian panjang yang setidaknya ada satu sumberdaya dapat bervariasi

    sedangkan sumberdaya lain adalah tetap, dan (3) jangka panjang, yakni periode

    waktu begitu panjang sehingga semua sumberdaya dapat bervariasi.

    Menurut Budiono (2002), setiap proses produksi mempunyai landasan

    teknis, yang dalam teori ekonomi disebut fungsi produksi. Fungsi produksi

    menggambarkan laju sumberdaya ditransformasikan menjadi produk. Ada

    banyak hubungan input output dalam pertanian karena laju input

    ditranformasikan menjadi output akan bervariasi diantara jenis, tanah, binatang,

    teknologi, jumlah curahan hujan, dan seterusnya. Secara simbolik, fungsi

    produksi dapat ditulis sebagai berikut:

    Keterangan:

    Y = Output

    X1,X2,X3,...,Xn = input berbeda yang ambil bagian dalam produksi Y

    2.3. Budidaya Perikanan

    Budidaya perikanan didefinisikan sebagai suatu kegiatan untuk

    memproduksi biota (Organisme) akuatik secara terkontrol dalam rangka

    mendapatkan keuntungan (profit). Definisi budidaya perikanan lainya adalah

    campur tangan (upaya-upaya) manusia untuk meningkatkan produktifitas

    perairan. Istilah lain dari budidaya perikanan adalah akuakultur, perikanan

    budidaya, budidaya ikan, dan budidaya perairan. Ruang lingkup budidaya

    perikanan berdasarkan spasial mencakup kawasan sejak pegunungan hingga

    laut dalam, berdasarkan sumber air yang dimanfaatkan mencakup budidaya air

    tawar, budidaya air payau dan budidaya air laut, berdasarkan pada kegiatan

    Y = ƒ(X1, X2, X3,...,XN)

  • 9

    mencakup pengadaan sarana dan prasarana produksi, proses produksi hingga

    pemanenan, serta penanganan pascapanen dan pemasaran (Effendi, 2004).

    2.3.1. Jenis-jenis Budidaya Air Tawar

    a. Budidaya Kolam

    Budidaya kolam adalah suatu kegiatan budidaya di suatu tempat yang

    sengaja dibuat oleh manusia dengan kapasitas air dan luas yang terbatas. Kolam

    bisa terbuat dari kolam tanah, kolam semen, kolam beton, kolam terpal, maupun

    kolam bak fiber. Pembuatan kolam harus memerhatikan lingkungan budidaya,

    topografi tanah, sumber air, keamanan dari predator, dan luas lahan budidaya.

    Kolam biasanya menggunakan air tawar yang mempunyai salinitas rendah

    hingga mencapai salinitas 0 ppm. Ikan yang dibudidayakan di kolam : Ikan lele

    (Clarias sp), Gurame (Osphronemus gouramy), Nila (Oreochromis niloticus),

    Patin (Pangasius pangasius), dan Bawal (Nastiti, 2014).

    b. Budidaya Keramba

    Budidaya ikan dalam Keramba Jaring Apung (KJA) merupakan salah satu

    teknologi budidaya yang handal dalam rangka optimasi pemanfaatan perairan

    danau dan waduk. Agar dapat melakukan budidaya ikan dijaring terapung yang

    menguntungkan maka konstruksi wadah tersebut harus sesuai dengan

    persyaratan teknis. Konstruksi wadah jaring terapung pada dasarnya terdiri dari

    dua bagian yaitu kerangka dan kantong jaring. Kerangka berfungsi sebagai

    tempat pemasangan kantong jaring dan tempat berjalan orang pada waktu

    memberi pakan dan saat panen. Kantong jaring merupakan tempat pemeliharaan

    ikan yang akan dibudidayakan. Dengan memperhitungkan konstruksi wadah

    secara baik dan benar akan diperoleh suatu wadah budidaya ikan yang

    mempunyai masa pakai yang lama. Dalam mendesain konstruksi wadah

    budidaya ikan disesuaikan dengan lokasi yang dipilih untuk membuat budidaya

  • 10

    ikan dijaring terapung. Budidaya ikan dijaring terapung dapat dilakukan untuk

    komoditas ikan air tawar dan ikan air laut. Sebelum membuat konstruksi wadah

    karamba jaring terapung pemilihan lokasi yang tepat dari aspek sosial ekonomis

    dan teknis benar. Sama seperti wadah budidaya ikan kolam dan akuarium

    persyaratan secara teknis dan sosial ekonomis dalam memilih lahan yang akan

    digunakan untuk melakukan budidaya ikan harus diperhatikan (Nasution, 2003).

    c. Budidaya tambak

    Budidaya tambak merupakan kolam buatan, biasanya di daerah pantai,

    yang diisi air dan dimanfaatkan sebagai sarana budidaya perairan (akuakultur).

    Hewan yang dibudidayakan adalah hewan air, terutama ikan, udang, serta

    kerang. Penyebutan “tambak” ini biasanya dihubungkan dengan air payau atau

    air laut. Kolam yang berisi air tawar biasanya disebut kolam saja atau empang.

    Tambak merupakan salah satu jenis habitat yang dipergunakan sebagai tempat

    untuk kegiatan budidaya air payau yang berlokasi di daerah pesisir. Secara

    umum tambak biasanya dikaitkan langsung dengan pemeliharaan udang windu,

    walaupun sebenamya masih banyak spesies yang dapat dibudidayakan di

    tambak misalnya ikan bandeng, ikan nila, ikan kerapu, kakap putih dan

    sebagainya. Tetapi tambak lebih dominan digunakan untuk kegiatan budidaya

    udang windu. Udang windu (Penaeus monodon) merupakan produk perikanan

    yang memiliki nilai ekonomis tinggi berorientasi eksport (Kuri, 2009).

    2.4. Perikanan Tangkap

    Perikanan menurut Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009, perikanan

    merupakan suatu kegiatan yang berhubungan dengan pemanfaatan dan

    pengelolaan sumberdaya ikan dan lingkungannya, mulai dari praproduksi,

    produksi, pengolahan sampai pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu bisnis

    perikanan. Kemudian perikanan tangkap menurut Undang-Undang tersebut,

  • 11

    dijelaskan bahwa perikanan tangkap adalah suatu kegiatan ekonomi dalam

    bidang penangkapan dan pengumpulan binatang dan tanaman air secara bebas

    baik di laut maupun di perairan umum. Pada perikanan tangkap kegiatan

    menangkap binatang atau tanaman air air tersebut sangat terbuka bagi siapa

    saja karena sumberdayanya bersifat open access, dimana semua orang dapat

    memanfaatkan sumberdaya alam tersebut tanpa harus memilikinya. Perikanan

    tangkap merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengeksploitasi

    sumberdaya hayati perairan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia melalui

    kegiatan menangkap dan mengumpulkan. Menurut Monintja (1989) dalam Triana

    (2010), komponen utama kegiatan perikanan tangkap adalah unit penangkapan

    yang terdiri dari :

    1. Kapal

    Berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009 tentang Perubahan

    atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, Kapal

    Perikanan adalah kapal, perahu, atau alat apung lain yang digunakan untuk

    melakukan penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan ikan,

    pembudidayaan ikan, pengangkutan ikan, pengolahan ikan, pelatihan perikanan

    dan penelitian atau eksplorasi perikanan. Modal yang dikeluarkan untuk

    pembelian kapal merupakan modal terbesar pada usaha penangkapan ikan.

    Kapal memiliki fungsi sebagai alat transportasi yang membawa hasil tangkapan

    dari Fishing ground (daerah penangkapan), menuju ke pembeli utama yang

    membeli langsung di laut atau membelinya di tempat pelelangan ikan, sehingga

    sumberdaya ikan dapat sampai ke tangan konsumen.

    2. Alat Tangkap

    Menurut KKP (2011), mengelompokkan klasifikasi alat penangkapan yang

    terdiri dari 9 kelompok yaitu : (1) pukat tarik (trawl), (2) pukat kantong (seine net),

  • 12

    (3) pukat cincin (purse seine), (4) jaring insang (gill net), (5) jaring angkat (lift

    net), (6) pancing (hook and lines), (7) perangkap (trap), (8) alat pengumpul

    rumput laut, penangkap kerang, teripang dan kepiting, (9) lain-lain.

    3. Nelayan

    Berdasarkan waktu dalam melakukan kegiatan penangkapan, nelayan

    dapat diklasifikasikan sebagai beikut: (1) nelayan penuh, yaitu nelayan yang

    seluruh waktunya digunakan dalam kegiatan penangkapan, (2) nelayan sambilan

    utama, yaitu nelayan yang sebagian besar waktunya digunakan dalam kegiatan

    penangkapan dan sebagian waktu yang lain digunakan untuk melakukan

    pekerjaan lainnya, (3) nelayan sambilan tambahan, yaitu nelayan yang sebagian

    kecil dari waktunya dilakukan untuk kegiatan penangkapan ikan (KKP, 2011).

    2.5. Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi

    Salah satu indikator yang sangat penting dalam menganalisis

    pembangunan ekonomi yang terjadi disuatu negara adalah pertumbuhan

    ekonomi. Pada dasarnya pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi

    mengandung makna yang berbeda. Pembangunan ekonomi pada umumnya

    didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan kenaikan pendapatan riil

    perkapita penduduk suatu negara dalam jangka panjang yang disertai oleh

    sistem kelembagaan. Adapun pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai kenaikan

    GDP atau GNP tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih

    kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk, atau apakah perubahan sruktur

    ekonomi terjadi atau tidak (Arsyad, 1999).

    Pertumbuhan ekonomi dicerminkan dari adanya perubahan PDB dari satu

    periode ke periode berikutnya, yang merupakan salah satu petunjuk nyata

    pembangunan, baik secara langsung maupun tidak langsung merupakan

    keberhasilan implementasi kebijakan. Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi

  • 13

    diartikan sebagai suatu proses pertumbuhan output perkapita dalam jangka

    panjang. Hal ini berarti, bahwa dalam jangka panjang, kesejahteraan tercermin

    pada peningkatan output perkapita yang sekaligus memberikan banyak alternatif

    dalam mengkonsumsi barang dan jasa, serta diikuti oleh daya beli masyarakat

    semakin meningkat (Boediono, 1992).

    2.6. Produk Domestik Regional Bruto

    Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan nila tambah bruto

    seluruh barang dan jasa yang tercipta atau dihasilkan di wilayah domestik suatu

    daerah yang timbul akibat berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu periode

    tertentu tanpa memperhatikan apakah faktor produksi yang dimiliki residen atau

    non-residen (BPS Kabupaten Tulungagung, 2016).

    Berdasarkan BPS Kabupaten Tulungagung (2016), Data pendapatan

    nasional adalah salah satu indikator makro yang dapat menunjukkan kondisi

    perekonomian nasional setiap tahun. Manfaat yang dapat diperoleh dari data ini

    antara lain adalah:

    1. PDRB harga berlaku (nominal) menunjukkan kemampuan sumberdaya

    ekonomi yang dihasilkan oleh suatu wilayah. Nilai PDRB yang besar

    menunjukkan kemampuan sumberdaya ekonomi yang begitu besar, juga

    begitu juga sebaliknya.

    2. PDRB harga konstan (rill) dapat digunakan untuk menunjukkan laju

    pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan atau setiap kategori dari tahun

    ke tahun.

    3. Distribusi PDRB harga berlaku menurut lapangan usaha menunjukkan

    struktur perekonomian atau peranan setiap kategori ekonomi dalam suatu

    wilayah. Kategori-kategori ekonomi yang mempunyai peran besar

    menunjukkan basis perekonomian suatu wilayah.

  • 14

    4. PDRB per kapita atas dasar harga berlaku menunjukkan nilai PDB dan

    PNB per satu orang penduduk

    5. PDRB per kapita atas dasar harga konstan berguna untuk mengetahui

    pertumbuhan nyata ekonomi per kapita penduduk suatu negara.

    Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) diperoleh dari produksi seluruh

    sektor perekonomian regional berdasarkan tahun dasar 2000 yang dijabarkan

    dalam 9 sektor yaitu sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian,

    sektor industri pengolahan, sektor listik, gas, dan air bersih, sektor bangunan/

    konstruksi, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan

    komunikasi, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, serta sektor

    jasa-jasa. Kemudian berdasarkan keterangan BPS setelah februari 2015, BPS

    akan menghitung PDB berdasarkan tahun dasar 2010 yang mempunyai 17

    sektor diantaranya adalah (1) pertanian, kehutanan, dan perikanan, (2)

    pertambangan dan pengolahan, (3) industri pengolahan, (4) pengadaan listrik

    dan gas, (5) pengadaan air, (6) konstruksi, (7) perdagangan eceran dan besar,

    reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor, (8) transportasi dan

    pergudangan, (9) penyediaan akomodasi dan makan minum, (10) informasi dan

    komunikasi, (11) jasa keuangan, (12) real estate, (13) jasa perusahaan, (14)

    administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib, (15) jasa

    pendidikan, (16) jasa kesehatan dan kegiatan sosial dan (17) jasa lainnya.

    Berdasarkan BPS (2015) dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha

    Indonesia (KBLI) yaitu adanya pergeseran lapangan usaha dan munculnya

    beberapa lapangan usaha kegiatan ekonomi yang baru, susunan struktur. KBLI

    2015 mengalami beberapa perubahan, pada KBLI 2015 menyediakan klasifikasi

    yang lebih rinci dan lebih lengkap pada semua tingkatan dibandingkan KBLI

    2009 khususnya untuk kegiatan jasa. Perubahan struktur berupa pergeseran

  • 15

    pengelompokan suatu kegiatan dari satu klasifikasi ke klasifikasi lainnya, dan

    penambahan klasifikasi baru yang disebabkan adanya perubahan-perubahan

    kegiatan ekonomi yang berkembang, memungkinkan untuk membentuk kategori

    yang berdiri sendiri atau digabungkan dengan kategori lain. Berikut tabel

    perbedaan struktur kategori KBLI 2009 dengan KBLI 2015.

    Tabel 1. Perbedaan Kegiatan Usaha Pada KBLI 2009 dengan KBLI 2015

    KBLI 2009 KBLI 2015

    No Kategori Judul Kategori No Kategori Judul kategori

    1 A Pertanian, Kehutanan, dan perikanan

    1 A Pertanian, kehutanan, dan perikanan

    2 B Pertambangan dan penggalian

    2 B Pertambangan dan penggalian

    3 C Industri pengolahan 3 C Industri Pengolahan

    4 D Pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin

    4 D Pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin

    5 E Pengendapan Air, pengelolaan sampah dan daur ulang pembuangan dan pembersihan limbah dan sampah

    5 E Pengelolaan air, pengelolaan air limbah, pengelolaan dan daur ulang sampah, dan aktivitas remediasi

    6 F Kontruksi 6 F Kontruksi

    7 G Perdagangan Besar dan eceran; reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor

    7 G Perdagangan Besar dan eceran; reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor

    8 H Transportasi dan Pergudaangan

    8 H pengangkutan dan Pergudaangan

    9 I Penyediaan Akomodasi Dan Penyediaan Makan Minum

    9 I Penyediaan Akomodasi Dan Penyediaan Makan Minum

    10 J Informasi dan komunikasi

    10 J Informasi dan komunikasi

  • 16

    11 K Jasa keuangan dan asuransi

    11 K Aktivitas Keuangan dan Asuransi

    12 L Real Estat

    12 L Real Estat

    13 M Jasa Profesional, Ilmiah dan Teknis

    13 M Aktivitas provesional, ilmiah dan teknis

    14 N jasa persewaan dan sewa guna usaha tanpa hak opsi, ketenagakerjaan, agen perjalanaan dan penunjang usaha lainya

    14 N jasa persewaan dan sewa guna usaha tanpa hak opsi, ketenagakerjaan, agen perjalanaan dan penunjang usaha lainya

    15 O Administrasi Pemerintah, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

    15 O Administrasi Pemerintah, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

    16 P Jasa pendidikan 16 P Pendidikan

    17 Q Jasa kesehatan dan kegiatan sosial

    17 Q Aktivitas Kesehatan dan Kegiatan Sosial

    18 R Kesenian, Hiburan dan Rekreasi

    18 R Kesenian, Hiburan dan Rekreasi

    19 S Kegiatan Jasa Lainya

    19 S Aktivitas Jasa Lainya

    20 T Jasa Perorangan yang Melayani Rumah Tangga, Kegiatan yang Menghasilkan Barang dan Jasa oleh Rumah Tangga yang Digunakan Sendiri untuk Memenuhi Kebutuhan

    20 T Aktivitas rumah tangga sebagai pemberi kerja; aktivitas yang menghasilkan barang dan jasa oleh rumah tangga yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri

    21 U Kegiatan Badan Internasional dan Badan Ekstra Internasional lainya

    21 U Aktivitas Badan Internasional dan Badan Ekstra Internasional lainya

    Sumber: Badan Pusat Statistik, 2015

  • 17

    2.7. Kerangka Berfikir

    Didalam subsektor perikanan Kabupaten Tulunggagung terdapat dua

    jenis perikanan yaitu perikanan tangkap dan perikanan budidaya, dari kedua

    jenis perikanan ini dipengaruhi beberapa faktor-faktor yang berbeda-beda.

    Didalam perikanan tangkap faktor-faktor produksi yang mempengaruhi adalah

    jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP), banyaknya alat tangkap yang

    digunakan, banyaknya armada yang digunakan. Sedangkan didalam perikanan

    budidaya faktor-faktor yang mempengaruhi produksi adalah jumlah Rumah

    Tangga Perikanan (RTP), luas lahan yang digunakan, dan jumlah benih yang

    diproduksi.

    Dari beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi produksi perikanan

    tangkap maupun perikanan budidaya akan di analisis menggunakan analisis

    regresi linear berganda untuk menentukan faktor-faktor yang paling berpengaruh

    terhadap produksi perikanan tangkap dan budidaya. Setelah mengetahui faktor-

    faktor yang paling berpengaruh, selanjutnya melihat seberapa besar kontribusi

    sub sektor perikanan di tulungagung terhadap Produk Domestik Regional Bruto

    (PDRB) dengan menggunakan analisis kontribusi. Dapat dilihat dalam gambar

    konseptual pada gambar 1.

  • 18

    Kontribusi Sub Suktor Perikanan terhadap

    PDRB Kabupaten Tulungagung

    Perikanan Budidaya Perikanan Tangkap

    Faktor-faktor yang mempengaruhi:

    Faktor-faktor yang mempengaruhi:

    RTP (X1)

    Luas Lahan (X2)

    Benih (X3)

    RTP (X1)

    Alat Tangkap (X2)

    Armada (X3)

    Faktor Yang Paling

    Berpengaruh

    Perikanan Budidaya Perikanan Tangkap

    PDRB

    Kontribusi sub sektor perikanan

    tehadap PDRB

    Gambar 1. Kerangka Pemikiran