Identifikasi Cagar Budaya Untuk Pengembangan Kawasan Pariwisata

  • Published on
    26-Dec-2015

  • View
    189

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

cagar budaya

Transcript

BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangCagar Budaya mempunyai pengertian yang serupa seperti cagar alam yang sudah sering didengar dalam masyarakat. Cagar alam adalah sebidang lahan yang dijaga untuk melindungi flora dan fauna yang ada didalamnya, sedangkan cagar budaya yang dilindungi bukan suatu daerah yang bersifat alamiah melainkan hasil kebuadayaan manusia yang berupa peninggalan masa lalu.(Fransisca dan Sunarya, 2012)Cagar budaya tidak saja menjadi saksi sejarah pada masa silam. Cagar budaya dapatdikatakan artefak yang memiliki nilai sebagau wujud infomasi bagi perkembangan sebuah kota atau lingkungan terdekatnya cagar budaya dapat dianggap juga memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan . (M.Ridah, 2012)Dalam upaya pembangunan perkotaan yang mempunyai identitas, salah satu aspek yang terlupakan adalah pelestarian objek/bangunan maupun kawasan bersejarah, dewasa ini perhatian terlalu banyak dicurahkan untuk bangunan baru yang moderen, akibatnya pada beberapa tahun terakhir ini banyak bangunan dan kawasan bersejarah yang mengalami penurunan kualitas seperti terdegradasi secara alami atau maupun oleh masyarakat setampat yang belum mengenal nilai historis dari objek atau bangunan sebagai cagar budaya yang ada di lingkungannya. Ini tampak dari terjadinya banyak penyalahgunaan, menutupi objek atau bangunan sejarah, dan pengerusakan yang terjadi pada objek atau bangunan sejarah. . Kota Manado yang sedang dalam perkembangannya memiliki berbagai peninggalan-peninggalan sejarah pada kawasan kota lama yang seharusnya dapat menjadi daya tarik dan dinikmati oleh masyarakat lokal dan mancanegara. Secara visual keberadaan kota lama ini merupakan peninggalan masa prakolonial dan kolonial yaitu kawasan dengan berbagai fungsi kegiatan sebagai pelabuhan, tempat transit, dan perdagangan. Sedangkan pada masa kolonial dengan hadirnya bangsa belanda dan kebijakannya dalam membangun kota yang bertumpu untuk menciptakan kekuasaan dalam kegiatan ekonomi, politik dan administrasi. Dengan melihat Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Manado 2010-2030, kawasan kota lama manado merupakan lokasi terdapat beberapa peninggalan Cagar budaya yang seharusnya menjadi lokasi yang mempunyai nilai historis sebagai tempat informasi pengetahuan sejarah kota manado pada masa lalu serta areal yang berpotensi untuk dijadikan Objek Wisata Budaya yang memadukan kepentingan pelestarian dan pariwisata. Pada umumnya objek-objek cagar budaya pada kawasan kota lama manado saat ini menjadi aset di sektor Pariwisata. Namun demikian, demi peningkatan daya tarik dan pelestariannya, sudah saatnya, masing-masing lokasi dibenahi; terutama dalam hal peruntukan, harus segera direnovasi, rekonstruksi dan direvitalisasi. Bahkan, perlu dipertimbangkan untuk dialih kelola langsung oleh pemerintah (RTRW Kota Manado 2010-2030).Baik karena kurangnya perhatian pemerintah yang dihinggapi obsesi membangun dan upaya yang dilakukan sebagian besar hanya ke kawasan dan objek/bangunan yang baru sehingga kesan objek dan bangunan bersejarah pada kawasan kota lama manado tidak mempunyai identitas dan sebagian besar objek menjadi terdegradasi selain itu kurangnya kesadaran dan rasa memiliki masyarakat tentang kawasan yang memiliki nilai sejarah, Sehingga, diperlukan adanya sosialisasi pengenalan dan pemahaman tentang cagar budaya, dan manfaat dari adanya cagar budaya di kota manado yang potensial bagi pariwisata dan memberikan manfaat dan memberikan pengaruh positif terhadap pemerintah, lingkungan, masyarakat sekitar dan para wisatawan yang datang berkunjung di kawasan Kota lama Manado.

1.2. MasalahMasalah yang ada yaitu :1. Ketidakjelasan Cagar budaya akibat pertumbuhan dan perkembangan kota dengan wajah bangunan-bangunan baru.2. Cagar budaya beralih fungsi menjadi tanpa bentuk arsitektur dan tidak mempunyai nilai sejarah bangunan.

1.3. Tujuan Tujuan dari pembahasan ini yaitu1. Mengidentifikasi cagar budaya yang berada pada kawasan kota lama2. Mengenal Cagar budaya yang memiliki kriteria-kriteria pelestarian pada kawasan Kota lama manado.

1.4. ManfaatManfaat dari pembahasan ini yaitu mengenal cagar budaya yang ada di kawasan kota lama Manado dan pertimbangan dalam mengembangkan kawasan kota lama sehingga dalam proses pengembangannya tidak menghilangkan nilai histori yang ada, dan mempertahankanya sebagai daerah kota bersejarah yang dapat menawarkan kawasan pariwisata di kota manado.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1.Cagar Budaya2.1.1.Pengertian Cagar Budaya Dalam Undang-Undang No 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.1. Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.2. Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap.3. Struktur Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan manusia.4. Situs Cagar Budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu.5. Kawasan Cagar Budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua Situs Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas.2.1.2. Pelestarian Cagar BudayaPelestarian kawasan cagar budaya adalah segenap proses konservasi, interpretasi, dan manajemen terhadap suatu kawasan agar makna kultural yang terkandung dapat terpelihara dengan baik. Dalam sebuah pelestarian kawasan cagar budaya perlu disediakan kesempatan kepada masyarakat yang bertanggung jawab kultural terhadap kawasan tersebut untuk ikut berpartisipasi dalam proses pelestarian. Kriteria pelestarian dapat diukur dari kekhasan kawasan, kesejarahan kawasan, keistimewaan kawasan, dan partisipasi masyarakat.Filosofi pelestarian didasarkan pada kecenderungan manusia untuk melestarikan nilai-nilai budaya pada masa yang telah lewat namun memiliki arti penting bagi generasi selanjutnya. Namun demikian tindakan pelestarian makin menjadi kompleks jika dihadapkan pada kenyataan sebenarnya. Tindakan pelestarian yang dimaksudkan guna menjaga karya seni sebagai kesaksian sejarah, kerap kali berbenturan dengan kepentingan lain, khususnya dalam kegiatan pembangunan. James Mastron (1982) mengungkapkan bahwa hal ini menggambarkan begitu kompleksnya masalah yang ada dalam aktivitas pelestarian. Pelestarian secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu usaha atau kegiatan untuk merawat, melindungi dan mengembangkan objek pelestarian yang memiliki nilai guna untuk dilestarikan. Namun sejauh ini belum terdapat pengertian yang baku yang disepakati bersama. Berbagai pengertian dan istilah pelestarian coba diungkapkan oleh para ahli perkotaan dalam melihat permasalahan yang timbul berdasarkan konsep dan persepsi tersendiri. Berikut pernyataan para ahli :1. Nia Kurmasih Pontoh (1992:36), mengemukakan bahwa konsep awal pelestarian adalah konservasi, yaitu upaya melestarikan dan melindungi sekaligus memanfaatkan sumber daya suatu tempat dengan adaptasi terhadap fungsi baru, tanpa menghilangkan makna kehidupan budaya.2. Eko budihardjo (1994:22), upaya preservasi mengandung arti mempertahankan peninggalan arsitektur dan lingkungan tradisional/kuno persis seperti keadaan asli semula. Karena sifat prservasi yang stastis, upaya pelestarian memerlukan pula pendekatan konservasi yang dinamis, tidak hanya mencakup bangunannya saja tetapi juga lingkungannya (conservation areas) dan bahkan kota bersejarah (histories towns). Dengan pendekatan konservasi, berbagai kegiatan dapat dilakukan, menilai dari inventarisasi bangunan bersejarah kolonial maupun tradisional, upaya pemugaran (restorasi), rehabilitasi, rekonstruksi, sampai dengan revitalisasi yaitu memberikan nafas kehidupan baru.3. Dalam Piagam Burra Tahun 1981 (Sumargo, 1990), disepakati istilah konservasi sebagai istilah bagi semua kegiatan pelestarian, yaitu segenap proses pengelolaan suatu tempat agar makna kultral yang dikandungnya terpelihara dengan baik. Konservasi dapat meliputi segala kegiatan pemeliharaan dan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat dapat pula mencakup preservasi, restorasi, rekontruksi, adaptasi dan revitalisasi. 4. Mundardjito (2002) : Terbentuknya suatu kota dalam banyak sisi dapat dilihat sebagai suatu produk dari perkembangan kebudayaan di dalamnya terdapat perwujudan ideologi sosial serta perkembangan teknologi yang membantu mengkonstruksikan suatu daerah menjadi kota yang kita kenal kini. Artinya, terbentuknya kota sedikit banyak berdasarkan atas pengetahuan, norma, kepercayaan dan nilai-nilai budaya dari masyarakatnya di masa lalu.

2.1.3. Kriteria Pelestarian Dalam menentukan apakah suatu bangunan, artefak, situs, kawasan, dan benda bersejarah lainnya termasuk dalam obyek yang perlu dilestarikan, digunakan kriteria-kriteria pelestarian. Berikut terdapat kriteria-kriteria pelestarian diantaranya :1.Estetika BangunanIstilah estetika dapat digunakan untuk mengganti pengertian indah, bagus , menarik atau mempesona (Lubis, 1990 : 96). Penilaian estetika suatu bangunan sangat tergantung dari perasaan, pikiran, pengaruh lingkugan dan norma yang bekerja pada diri pengamat. Estetika suatu bangunan sangat terkait erat dengan penampilan bangunan, wajah bangunan dan tampak bangunan yang kita lihat dengan mata sebelum dirasakan kesan estetisnya dalam perasaan. Dalam menilai estetika suatu bangunan.2.Contoh dari gaya/langgam arsitekutur tertentu (kejamakan)Kejamakan suatu bangunan dinilai dari seberapa jauh karya arsitetur tersebut mewakili suatu ragam atau jenis khusus yang spesifik, mewakili kurun waktu sekurang-kurangnya 50 tahun. Dalam hal ini ragam/lagam yang spesifik yang pada arsitektur bangunan-bangunan bersejarah (Ellisa, 1996) : Langgam arsitektur Klasik/Kolonial (Neoklasik/Art Deco/ Gothic/Renaisans/Romanik. Langgam arsitektur Kolonial tropis (langgam arsitektur Klasik yang telah diadaptasi dengan iklim tropis di Indonesia). Langgam arsitektur Eklektik/Indisch Style (langgam arsitektur Klasik/Kolonial tropis yang mengandung unsur tradisional Melayu atau daerah lainnya di Indonesia). Langgam arsitektur campuran (Klasik/Kolonial dengan Cina, Islam, atau India, atau campuran diantaranya)3.KelangkaanKriteria kelangkaan menyangkut jumlah dari jenis bangunan peninggalan sejarah dari langgam tertentu. Tolak ukur kelangkaan yang digunakan adalah bangunan dengan langgam arsitektur yang masih asli sesuai dengan asalnya. Yang termasuk kategori langgam arsitektur yang masih asli (Ellisa, 1996) :1. Langgam arsitektur Klasik/Kolonial (Neoklasik/ Art Deco/ Gothic/Renaisans/Romanik.2. Langgam arsitektur Cina3. Langgam arsitektur melayu4. Langgam arsitektur India5. Langgam arsitektur Malaka (Melayu-Cina)6. Langgam arsitektur Islam4.Keistimewaan/KeluarbiasaanTolak ukur yang digunakan untuk menilai keitimewaan/keluarbiasaan suatu bangunan adalah bangunan yang memiliki sifat keistimewaan tertentu sehingga memberikan kesan monumental, atau merupakan bangunan yang pertama didirikan untuk fungsi tertentu (misalnya Mesjid pertama, Gereja pertama, Sekolah pertama, dll).Kesan monumental suatu bangunan dinilai dari skala monumental yang dimiliki bangunan tersebut. Pengertian skala dalam arsitektur adalah suatu kualitas yang menghubungkan banguna atau ruang dengan kemampuan manusia dalam memahami bangunan atau ruang tersebut. Sedangkan yang dimaksud dengan skala menumental adalah suatu skala ruang yang besar dengan suatu obyeknya yang mempunyai nilai tertentu, sehingga manusia akan merasakan keagungan dalam ruangan. Dengan melihat bangunan yang memiliki skala menumental diharapkan pengamat akan merasa terkesan (impressed) dan kagum, tetapi bukannya merasa takut karena merasa kecil dan rapuh. 5.Peranan sejarahTolak ukur yang digunakan untuk menilai bangunan yang memilki peranan sejarah adalah : Bangunan atau lokasi yang berhubungan dengan masa lalu kota dan bangsa, merupakan suatu peristiwa sejarah, baik sejarah Kota Bandung, sejarah Nasional, maupun sejarah perkembangan kota . Bangunan atau lokasi yang berhubungan dengan orang terkenal atau tokoh penting. Bangunan hasil pekerjaan seorang arsitek tertentu, dalam hal ini arsitek yang berperan dalam perkembangan arsitektur di Indonesia pada masa Kolonial.6.Penguat kawasan disekitarnyaTolak ukur yang digunakan adalah bangunan yang menjadi landmark bagi lingkungannya, dimana kehadiran bangunan tersebut dapat meningkatkan mutu/kualitas dan citra lingkungan sekitarnya. Beberapa keadaan yang dapat memudahkan pengenalan terhadap suatu bangunan sehingga dapat menjadi ciri dari suatu landmark antara lain adalah (lynch, 1992 : 79-83) : Bangunan yang terletak disuatu tempat yang strategis dari segi visual, yaitu di persimpangan jalan utama atau pada posisi tusuk sate dari suatu pertigaan jalan. Bentuknya istimewa karena besarnya, panjangnya, keindahannya, ketinggiannya, atau karena keunikan bentuk. Jenis penggunaannya, semakin banyak orang yang menggunakannya maka akan semakin mudah pula pengenalan terhadapnya. Sejarah perkembangannya yaitu semakin besar peristiwa sejarah yang terkait terhadapnya maka semakin mudah pula pengenalan terhadapnya.Berdasarkan Peraturan Daerah DKI Jakarta No. 9 Tahun 1999 Bab IV, dijabarkan tolok ukur kriteria sebuah bangunan cagar budaya adalah :1. Tolok ukur nilai sejarah, dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa perjuangan, ketokohan, politik, sosial, budaya yang menjadi simbol nilai kesejarahan pada tingkat nasional dan atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta.2. Tolok ukur umur, dikaitkan dengan usia sekurang-kurangnya 50 tahun.3. Tolok ukur keaslian, dikaitkan dengan keutuhan baik sarana dan prasarana lingkungan maupun struktur, material, tapak bangunan dan bangunan di dalamnya.4. Tolok ukur tengeran atau landmark, dikaitkan dengan keberadaaan sebuah bangunan tunggal monument atau bentang alam yang dijadikan symbol dan wakil dari suatu lingkungan sehingga merupakan tanda atau tengeran lingkungan tersebut.5. Tolok ukur arsitektur, dikaitkan dengan estetika dan rancangan yang menggambarkan suatu zaman dan gaya tertentu.

Sedangkan kriteria kawasan dan Bangunan Cagar Budaya menurut Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2009 Kota Bandung adalah :1. Nilai SejarahHal-hal yang berkaitan dengan peristiwa atau sejara...