435
PBOF v. i>«- s. c ;A l'TV' ,A SI1- v KEDUV FRESCO ljt- .lAKA&'TA mrnm\ BANDUNG : 'r ! 1

Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

PBOFv. i>«- s. c ; A l 'TV ' ,A SI1- —

v

KEDUV

F R E S C O lj t - . lA K A & 'T A

m r n m \

B A N D U N G

: 'r ! 1

Page 2: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Perpustakaan Soediman Kartohadiprodjo FHUI Buku ini hams dikembaHkanpada:(Keterlambaten pengennbalian pada tanggal dibawah ini dikenakan denda Rp. 500.- (perhari/1 buku)

I

21M

11

Tanggal

?9 OCT MKT

—SFP&7 NOV (in

17 NOV mg1

d M .

NoJcartu ama)

R - w - L

AsrrtX f l

i - S B - 1

f-JLSEL1 5 SEP wsr

2

2 L .

m t

ParafPetugas

" A

E S

i n gl ■

Page 3: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

L+Wlo twUoW '

HUKUM PERDATA

•NTERN'ASIONAL INDONESIA

PRO F. M R D R GOUW G IO K SIO NG G urubesar luar biasa Fakultas Hukunv dan Pengetahuau M Ssjarakat Univer- sitas Indonesia, P e rg u ru ^ .T in g g i Ilmu kepolisian , Perguruan Tinggj H ukum M iliter di D jakarta, Adpokat dan pe- ngajjara di* D jakarta

D JIL ID ' KEI <•

j y n - j n

oleh

1972

P.T. ERESCOBandung — Djakarta

Page 4: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

'IW S U S A ,-- P ,t U |Tar»«3al :--- 0 . ...r ....*. V

**■. Silsilafi : _ ^ 4 n . ^ £

Page 5: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

k a t a p e n g a n t a r

Buku ini merupakan djilid II bagian pertama d a r i -baku ,.Hukum Perdata Internasional Indonesia” . Djilid I telah diteibi -kan pada tahun jang lalu.

Semula telah clirantjangkan agar supaja m ateri jang dibahas ini dapat tertjakup dalam 3 djilid. Djilid II jang hendak m e m u a t: 1eori2 umum, „regles generates” dari hukum Perdata In te rna­sional ternjata demikian luas hingga memerlukan pem etjahan dalam bagian pertam a” dan „bagian kcdua” . Bagian pertam a n S cm k an bersama ini. Didalamnja term uat soaP tentang siste- matik Hukum Perdata Internasional Indonesia, tentang titik- nertalian (aanknopingspunten) jang merupakan bagian pentm g dari ilmu Hukum Perdata Internasional dan ^chususnja tentang titik2 taut „Kewarganegaraan” dan „Domicilie .

Bagian kedua dari Djilid II diharap dapat m enjusul dalamwaktu tidak terlalu lama.

Sebagian daripada isi buku ini telah merupakan bahan pula dari kuliah2 kami kepada mahasiswa- Fakultas Hukum dan Pe- n e e t a h u a n Masjarakat Universitas Indonesia, Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian dan Perguruan Tinggi Hukum M ihter d i Dja-

ksrtsKepada mereka jang telah m embantu kami dalam memper-

siaDkan buku ini patutlah djika kami m engutjapkan rasa terim a kasih iang sedalam-dalamnja ! Disini dapat disebut para Assisten kami pada Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masjarakat, Nj. Mr G Soekahar-Badwi, Nj. Mr. S. Hanifah, Nn. Mr. M. Sumanv nouw dan Mr. Ch. Huang, untuk bantuan dan penukaran pikiran L i e berharga, kepada Sdr2. Nn. L. Panggabean, A.C T. Heng- l'elare B. Sjafei, The Tjoan Bie, Kristo Soegondo, Lie N an Chmg H a n Sie Pek Hoat jang telah membantu mengadakan research tentang status orang asing dan pengisian pengcrtian faham „Ke- warganegaraan Indonesia:” .

Semoga buku ini dapat m erupakan sumbangan sederhana bagi pembinaan Hukum Nasional kita !

P e n u l i s .

3

Page 6: Hukum perdata internasional indonesia.pdf
Page 7: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

K A T A — P E N G A N T A K.

TJETA K A N - KE II

S e te lah lam a dinanti--kan ach irn ja dapat d iselesaikan tje ta - k an ked u a d a ri B uku H ukum P erd a ta In te rnasional Indonesia D jilid II B agian 1.

T je tak an kedua buku ini sebenarn ja sudah lam a d id jand jikan oleh P e n e rb it sem ula. T etap i baru pen erb it „ERESCO” jan g d a p a t m elaksanakann ja , un tuk miana kam i u tjapkan terim a-kasih.

Sem oga d ju g a tje tak an kedua ini dapat b e im an faa t bagi m ereka ja n g b erke tjim pungan dalam dunia hukum , teru tam a pai'a m ahasisw a.

Djakarta, 1 D j u 1 i 1972.

P e n u l i s .

5

Page 8: Hukum perdata internasional indonesia.pdf
Page 9: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

B A B IV

S I S T E M A T I K H U K U M P E R D A T A I N T E K N A S I O N A L

I N D O N E S I A .

K a t j a a n : .• „ i. v: ; „ n i- Hukum Antargolongan tjetaxan

r ,° " .jurisprudensi Indonesia chu^m ,»Recht” .

1 7 1 . L in g k iu ig a n - k u a s a - s o a l - I I P I .

- Seperti halnja dengan susunan buku lentang.Hukum Antar Tata lukum (HATAH,_ Indonesia . » t e ^ n , p e m b a h a s a n HATAH m d o n e s i a .b e r l a k u d i I n d o n e s i a ,m e m 'b e r ik a n s i s t e m a t ik d a n p a d a HPI ] &

. . . oV an m e n g i k u t i d j e d j a k j a n gmem'berikan sistematik danpaaa n n j & . , ■ „ 0

Dal am melakukan hal ini k lta^ kJn ^ T n ta i ’golongari” tadi. telah diambil pula dalam buku y^ 1 nU1dariDada sistem atik H PI Jakni, kita akan memberikan ^ daftar kartu (Kaart-Indonesia dengan berpegangan kepa■ seperti dihimpunkanreg ister)*) dari jurisprudensi Indonesm sepedalam „Indisch Tijdschrift van het Recnt . )

172. Pembagian kaarbysteem Juris]pn>*»“ * " van hetDalam Kaartsysteem danpada ,, hf>vikiit •

Recht” kita ketemukan pembagian se ag

a. Umum. RPianda atau hakim asing).b. Kompetensi (haknn Hindia %

_______ ___J) H ukum Antargolongan, bab II. waktu achiv telah fiten--) Kaartsysteem j u r i s p r u d e n s i Indonesia * sardjana hukum A m erika

dapat penghargaan dan pudjtan d a n seor. ^ . j J £ r m ahaguru d a n Seriklatt jang kenamaan, A r buku A n t o n y A l l o t ,Colum bia University d'alam P© ‘ A frican Law (I960), h . 175.„Essays in African Law 4 Jom nai _ d digunakan setoagaiBeliau berpendapat b a h w a 'kaartsystee . h 181; ch ll.tjontoh untuk menjusun him punan ju r isp ru d en t a

susnja n. 3). kdkurangan jang terasa bahw a> :J n L l a h „H ukunv’ (kini : ,,H ukum d an M as,am -

Page 10: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

k.1.m .

c. Kewarganegaraan. c. 1 . Domicilie. cl. Perseudjuan2 (verdiragen). e. Ketertiban umum (Openbare orde). t. Pilihan lluTcuni TRechtskeuze).

t H u t o te te to r g a a f” 'Staa‘ “ .bevoeStlheid>-

j- Hukum wiisan”* Perka'™ an dan alimentatie.

(gezag van gewijsde) Pcral)ukllan sel'ta „kekuatan pasti"

l . a ” at r ChUSUS<bijZOm,ereVraagS,Ukk“ >-ntahukan bahwa s u b ie k ^ l l^ ^ f pemkuat K aartegister ini dibe- suatu kepastian sedemikian1 e . disebut belum mempimjaipula.4) Bahkan diharaokan ncy1U^a ^ aPat di-roba2

wdjukan usul2 untuk penam Eh SU,pa3a dari fihak Pai’a pem inat baikan. *) Penambahan2 atau perobahan2 kearah per-

Djelasnja, HPI j nr]Ajang masih berada dala™ ^ ! / ^ 1? 11 SUatu tiailt>ang ilmu hukumiuri w a? Pa.Sti belum lagi ac]a pe];kembangan. Suatu sistim ter-kan^ri 8in-Si Ind°nesia masih rv& e5natik. daripada kaartregisteitertenfUn^ belum lagi daDat J f uk daripada sem purna ! Bah’dalam k m susunan kaartrfJ'e+ 'blti ara tentang suaitu sistim

'•tom nntaitSysteeni ini hanialah f f 1' !ni' Apa Jan§ disadjikawUjteratuu persoaIah2 jang term himPunan belaka berbaga’ # * a t u u r HPI di m ^ ^ u k bidang ju r isp ru d e n t dan

' n .^ ara tin% u a n kita. uibawah ini k't

'^UmValrf diaafiJikyn dalam ? engan memtoeritahukan hal2-------- _ _ ^ W eem tersebut. S e S 6 (k f T pok jang diperintji

Lihat pendjeiasan • . 3 ltu kita akan memibanding'pada Karsh w-

8) Ka\ ? acla bagian »)C onfrnf kan scbaga^;!!' het kaantregister Con^da t , P ^ fcu a t daftar , nrecht” . oduksi pada dan pexnisahanVei ^ 1 ^ ‘Sesloten £ar*ut tersebut : - ...

e behoeft”. ’ at deze opzet a’i J w ordt niet ontveinsd,s eerste poging, in de toekonist

Page 11: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

kan sistematik daripada HPI dan HAG Indonesia seperti terdapat dalam kaartsysteem ini. Pada aehirnja kita akan berikan kesanadan kesimpulan2 jang dapat ditarik daripada segala sesuatu ini.174. T jatatan2.a. Uiniim.

Pada sub a „Algemeen” kita saksikan dihimpunkannja teru* tama publikasi- jang terdapat tentang HPI Indonesia. Pem batjaan tentang HPI Indonesia ini tidak banjak. Hanja beberapa penulis jang setjara tertentu membahas persoalan- dibidang ini. Dianta- ranja terutam a dapat disebut K o 11 e w i j n, L e m a i r e dan W e r t h e i m jang telah menghiasi pula berbagai keputusan2 hakim jang diumumkan dalam „Indisch Tijdsehrift van het Recht” ini dengan tjatatan'-nja (annotaties).c).

Seperti telah diberitahukan lebih d ahu lu ,7) pembatjaan tentang HPI Indonesia ini belum banjak.b. Kompetensi.

Dalam kelompok b „Bevoegdheid (Nederl.-Indische of bui- tenl. rechter)” dihimpunkan keputusan- hakim jang mempersoal- kan tentang kompetensi daripada sang hakim ini.

Tjontoh-tjontoh : Apakah misalnja suatu permohonan untuk memperoleh idzin untuk menghipotikkan suatu persil terletak di Djakarta, kepunjaan anak2 Arab jang belum dewasa dan ber- diam di negeri Arab dapat diadjukan kepada Pengadilan Negeri di Djakarta ? 8) Apakah Raad van Justitie (RvJ) berwenang untuk mengadili suatu gugatan jang diadjukan oleh seorang asing jang tidak ibertempat tinggal atau berdiam di Indonesia terhadap seorang asing lain jang djuga tidak bertem pat tinggal atau ber­diam d is in i!)) atas barang- bergerak siapa telah diletakkan sitaan dengan idzin RvJ tersebut ? 10) Apakah hakim Indonesia berwe-

0) Sebagai gurubesar2 Ja lam m atapeladj'aran „H ukum porselisihan” (ter-m asuk H PI dan H A G ) tentunja sudah sejogjanja bahw a d ari m erekainilah d iharapkan funtunan dan pim pinan dalam m em pcrkerabangkantjabang ilm u hukum jang dipertjajakan kepada m ereka itit.

7) Bdek. H PI, 1, no. 168.8) T . 136/232, Ldr. D jakarta, 1927.. Ldr. m engaaggap dirin ja tidak kora­

pe ten.0) Kedual2h ja bertem pat tinggal di Singapura.

10) T . 135/549, RvJ M edan 20-11-1931, ;d'engan tja taU n K o 11 e w i j nRvJ m enganggap d irin ja tidak berwenang. K eputusan ini d lba ta lkan u H gH 5-1-1933, T . 138/539, I-IgH 5-1-1933. ° leh

9

Page 12: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

nang untuk mengadUi gugatan jang diadjukan terhadap suatunegara jang berdaulat (Amerika Serikat) ? n)

pok b m ° T Sematiam inilah ia"g dikural)l"ka" -pada kelom-

Djika kita raemperhatikan konsepsi- HPI to..* . >•negara2 Iain, maka persoalan’ sematjam inilah ifn l termasuk dalam bidang ..choice of jurisdiction” ™ m . sistim HPI jang dianut di-negara= lain t e r s e b u f l l \ pun termasuk dalam bidang HPI Tetani W i i baSlan undikenal di Indonesia sebagai warisan dari p e t n ^ " PI jang persoalan kompetensi ini tidak demikian 7- elanda> maka diberi tempat pula, maka h a n j a S , ‘ “ ' Pf ! n* " ; ») Djika meluas dan mendalam seperti dalam negara^ a3 setj ara tidak

Apabila kita memperhatikan perintjian ^teem „Hukum Antargolongan” maka danat matlk kaartsys- djuga pada HAG ini terdapat rumus „komDet .f,aksikan bahwa Tetapi, djika dibandingkan dengan s is tem a ti/m n ini (sub b ) ,u) lok perbedaannja. Kompetensi jang dipersoalka ,lantas menjo- HAG ialah. mengenai psmbatasan kewenangan*1 am suasan:a Eropah atau hakim Indonesia” . 17) Sebaliknia n ailtara »hakim tensi pada HPI ialah mengenai pembatasan ifT SOalan kompe- „hakim Indonesia atau hakim a sing”. N ja tahh 6 Uasaan antara -------- ------ Pula disini perbe-

) T. 144/26, Res. rechter D jakarta 17 t, IQ's,:tidak berwenang. Bdgk. tentang persoalln • ini menganMan r ' • mtecnasional piada nasionalisasidi S lan. »unniunity» J l I,l1,ll’a

“ ) Lain2 keputusan a.i. ialah T h ' 38 <£. *’ hukl,mRvJ Djakarta, 9-9-1939 (tiaia a„ S ’ HfiH 16-4- I93q . T Ie

' i f ?H PI I, no. 14 Bdgk. texbook1- HPI-Ine(^ RW M eda" ’M isa nja tidlak dalam buku2 K % 's? e r i p - •M isalnja seperti dilakukan oleh M n I h 1J m a n s, V a n r ,■ ,dst Dalam arti ini pula harus Jkita nilaikanH' 44 dst> J ' • t a h 588bahwa m em irut pandangan p e n u l t RP‘ ? ut»aPan N V in ’ w i f dalam bidang H PI ini qu es tio n s , anda “mmnnia t HaS5elt’et d’execution des j u S i e n ts 1 f t P,'°C6dl,re erm asuk ^ ll:'d e , 1 e - N i b o y e i d

1 6 , ^ Y S ' B a S " f V I > h ■ 6 0 1 n o ■ 4 3 >- 0lt internationa nr P f 8j ; H A G -Pengantar, h. 43. 1 pr,ve d es

Perbedaan in i k in i sudah tidak Ben tin o i •

FAK- HUK [

18)14)15)

17)

10

Page 13: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

daan jangnam pak antara HPI dan HAG ini. Jang disebut pertam a adalah mengenai hubungan . . e x t e r n " (Antara negara R I dan negara- lain) sedangkan jang disebut belakangan m elulu mengenai hubungan „ i n t e r n ” (dalam batas- ..staatsverband” jang sama : dalam negeri).18)c. Kewarganegaraan.

Jurisprudensi dan<batjaan jangbersangkut-pau-t dengan soal2 kewarganegaraan diberi tempat dalam bagian ini.

Kewarganegaraan ini merupakan suatu titik-pertalian faan- knopingspunt) dalam HPI. in) Chususnja bagi Indonesia, dim ana dianut prinsip natio'nalitet kewarganegaraan ini penting sekaliT^J

Djilca dibandingkan dengan sistematik kaartsysteem HAG maka njatalah bahwa tem pat daripada ..Kewarganegaraan” pada HPI ini digantikan dengan „golongan-rakjat (bevolkingsgroep).Dan mernang, bagi HAG titik-pertalian primer, jakni salah satufaktor jang mentjipakan persoalan HAG ialah ..golongan-rakjat” ini, jang karena titik- persamaannja dengan ..nationaliteit” per- nah disebut pula dengan istilah „quasi-nationaliteit” . 21) Perbeda- an dalam golongan-rakjat antara para fihak menimbulkan p er­soalan2 HAG. Perbedaan antara kewarganegaraan daripada para fihak menimbulkan persoalan HPI. Golongan2-rakjat terdapat da- Ilam suasana hukum nasional sedangkan ..kewarganegaraan” berada pada tingkat hubungan ..internasional” . Satu dan lain !sesuai dengan sifat2 daripada HAG dan HPI. ;c.l. Domicilie.

Selain daripada soal2 jang berkenaan dengan kewarganega- ;raan diberikan pula tempat tersendiri dalam sub c .l. ini kepada ;soal2 ..domicilie” .

Seperti diketahui disamping kewarganegaraan djuga dom i­cilie ini merupakan suatu titil^pertalian dalam HPI. Faktor -

'iis ) Bdgk. H PI, I, no. 4. I19) A kan ditjndjau kem udian setjara tesendiri. \20) Bdgk misalnja „kop” daripada T. 153/499, RvJ M edan 22-9-1 c m <a

ngan tjaitatan W e r t h e i m). ’ ’ '21) N e id le irb lu a - 'g h , W et en Adat, I, h. 198 dan h ^93 n "> • ftd i

pula pendirian A n d r e d e l a P o r t e , jang m enganggan sebagai „qiiasi-m ternatioiiaal privaatrecht” . L ihat karangan b e l L »s’c h o iiw in g e n o v e r q u a s i-in te rn a tio n a a l p r iv a a tr e c h t” T q i u 1 , ” B e 'no. 94 ; H A G -Pengaatar, h. 15. ’ 1 h ‘ 1 d5t 5 H P I,

11

Page 14: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

domicilie dalam biclang H P I in i «itersendiri kelak. «) an dltln<Uau pula setjara

Indonesia tidak menean.it • sjP nasionalitet untuk m e n e n t u ^ 1 0miCiIit! melai^ a n prin-

personu seseM,„ g S t -VB ^ ^ ^ b«*•

t a a „ J .ila k ^ p S 'r153"^ CSaTC ^ f a " h *

*■»*>

Peigunakan hukum Djakai'ta pada ta-if hal dem iklan-

d#rai" » s t

dl^l’barkan. Hulcim • PL ak orang tuaI T 5 ^ no „■ ^ b e , 1 a k "2 Lihat & ? ■ 18«-

tiatatanJUKa0 J? 3'71 ^ V r v j " D ^ 3'1 k ep m u sii44-'

HgH 9-9-joq7 Spmdensi j an n®. saroa. Bd'gk ' J , / 3 5 ! ' U ntuk H A G A11-6-1925 h J T‘ 94/455 R w S but disana' a f A ntarSo]ongan’\ ^ 3-kassar 6^ o"0’ 56 ; T X . J2lkarta 15-7 t o ,1 ' 69/ 13 ) ; W. 1790,*:*• iuJ 81; ® 29 W 2I 6 303/ n327- U r B u Iu h ° V T - 122/458> H gHLda\ arta l4-J2- 9J 39 /9 f. Rvj n - \ r - 135/290 l T P “ M ' 1925> R vJ t f r Manado in T - 144/2K T rla 8-12-f o r ! P adang 5-12-1931,T I / ’ I4V 352I2; 1934 ; T f f i j - M I / 166, RvJ

' s f l f1!H adai , ’ “ VJ D i-,1 ^ no. 8 0 - t < ’ *■ l 5 2 '

„ tia ta ,a„ • • ,5 , / 1 6 3 - Rv'12 • rentang ,?ada (Uik-D e rh . K 0 1 1 e w - i; n ir .b U,:1 lihat i-o^, v r lalian s„ i, n - K eputusan

kemiI* an , n o . f 8“b«cl.air” , l l a u „ E r .s : l i .

Page 15: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

pembubaran perkawinan ini adalah hukum darioada n i h a t ajah. Dalam H P, Indonesia ditenm a a z a s - k c ^ X ^ d S

im - Akan tetaP|> djikalau sang ajah tern jata tidak-berkewar- ganegaiaan, maka tidaklah dapat diputuskan persoalan ini denean mempergunakan hukum sang ajah. Oleh karena itu azas-domicili* harus membantu. Hukum dari domicilie sang ajah jang ham s di perlakukan. -*«) Persoalan domicilie ini penting pula berkenaan dengan masalah penundjukan-kembali (teriigverwijz'ing“ 'ren.

d. Persetudjuan- (Verdragen).

Seperti telah kita kemukakan lebih dahulu -s) maka dalam bidang HPI ini Persetudjuan- internasional merupakan sumber hukum jang penting.

Djika dibandingkan dengan sistematik daripada HAG maka kita saksikan bahwa pada HAG ini tidak terdapat ..persetudjuan-” dalam kaartsysteem jurisprudensi Indonesia. Hal ini disebablcan pula oleh sifat- jang chas daripada kedua bagian HATAH ini • HAG hanja berlaku dalam stiasana hukum „i n t e r n - nasional” sedangkan HPI adalah berkenaan dengan hubungan- i n ’ t e r 11 a s i o n a 1

Dalam bagian ini kita ketemukan tulisan- daripada -berba«ai penulis dan keputusan- jang mempersoalkan beberapa p&rdjan- djian cliusus dibidang HPI. Antara lain meminta perhatian disini persoalan- hukum berkenaan dengan wissel dan cheque b&rk-e* naan dengan diterimanja ..Uniform Law of Bills of E xchan ge’’ pada Persetudjuan Djenewa 1930, jang seperti diketahui telah dinjatakan berlaku pula untuk Indonesia dengan S. 1935-480 -n)e. Ketertiban umiun (openbare orde).

Masalah ,.ketertiban luniun” (openbare orde, ordre public public policy) m erupakan suatu leerstuk tersendiri dibidang ilmu’ HPI. Pada djilid pertam a dari buku ini telah kita ketem ukan setjara sepintas lalu persoalan- jang berkisar pada m asalah

26) T. 153/499, RvJ M edan keteta.pan 22-9-1939 (tjatatan W ^ , u =T) Bdgk. T . 151/63 RvJ Padang, 26-10-1939 (dengan advi« d in V 1 m )‘

W e r t h e i m ) . Persoalan penim djukkan-kem bali in i . a n t J Q atari setjara tersendiri kelak. 1 1111 akan d ibahas

28) H PI, I, no. 150 157, 161,29) L ihat H PI, I, no. 150.

13

Page 16: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

ini'"> i“ « * •“ «■«»» akan dibahas p ula

tiban umura” ff lW d a n g T p illu 'f f la r tta T J T " iSU' ah ”keter‘ sejogianja menurut azas^ HPI han« r 5 ? asmg janghal tertentu tidak diperlakukan v dlPerIakukan dalam suatudengan sendi2 daripada negara bertentanSancgdid sang hakim sendiri.

Misalnja : Menurut azas2 HPT h3 v berdasarkan azas-feewarganegaraan laku di Indonesia,hukum perkawinan berlakulah ii„ t Us Pers°nil, untukfihak jang hendak menikah (pasal IiTa J?asional danpada para Bilamana dua orang asing hendak m en ik p w r™ ^ pertam a)-31) masing2 mi harus memenuhi siarat2 7 .1Smi m a k a m e r e k a oleh hukum nasional mereka untuk Jang d itentukanperkawinan. Misalnja dua orang w a S f melangsungkan suatu menikah disini. S jaraf jang hams dipl“ h f ” 1Dier“ “ hendak ukan dalam BOB Djerman. Pada wP“ Uhl “M * apa ja „g diten-

terkenallah peraturan2 larangan perka! gWle Nazi-Djerman pemerintah N ad berkenaan dengan p“ S iimg <Uadakan oleh mereka. Orang* Djerman jang t e ^ a s u ^ '™ * " " N e g a r a

m e m k a h ,d e n g a i l ^ f olongan „Arier” tidakPernah disangsikan oleh pegawai Kantor »*«l»w W Sr».apakah larangan perkawinan Nazi-DierrJ n SiPil Semaranf* un tidak harus diperlakukan pula l ^ ^ T S«Jak menikah dihadapannja. . PaMa Wi» 6= Djerma7 h J

Page 17: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Tentang persoalan ini sudah dalam tahun 1935 K o 1 1 e - w i j n telah mengutarakan pcndapatnja. Setjara tegas beliau mengemukafcan dalam karangan jang chusus ditulisnja berkenaan dengan persoalan ini, bahwa pegawai- JBurgelijke Stand di Indonesia tidak usah ragu- untuk mengenjampingkan larangan- menikah sematjam ini karena bertentangan dengan sendi- azasi daripada hukum perkawinan jang terdapat disini. Larangan- kawin Nazi-Djerman harus dikesampingkan walaupun hukum perkawinan Djerman ini lazimnja diperhatikan apabila orang- Djerman hendak menikah disini. Inilah tjontoh daripada pen^- gunaan lembaga „ketertiban umum”. Larangan-kawin jang dikeluar'kan oleh Nazi-Djerman dipandang bertentangan dengan sendi- azasi hukum p.vkawinan jang berlaku disini. Sendi-azasi jang antaranja dapat dilihat dengan njata dalam susunan kata- jang tegas daripada ajat 2 pasal 7 Peraturan Perkawinan Tjarn- puran S. 1898 No. 158 (disingkatkan: G H R): ,,Perbedaan agama, golongan rakjat atau keturunan tidak pernah dapat m eru­pakan penghalang untuk menikah”. :!l) A jat ini telah ditam bahkan pada pasal 7 GHR karena pengaruh daripada konpsrensi Den Haag tentang HPI jang pertama.

Kita saksikan kemudian, bahwa djuga dalam keputusan2 Hakim, antaranja dari Raad van Justitie Djakarta ditahun 1936,:i(i) penglihatan K o 11 e w i j n ini dibenarkan.

Djika kita mengadakan peibandingan dengan sistematik HAG njatalah bahwa pada HAG ini tidak terdapat ,,ketertiban umum” seperti bagian te rsen d iri.:,T) Oleh karena pada HAG kita berhadapan dengan stelsel- hukum jang semuanja term asuk stelsel- hukum daripada sang hakim sendiri maka tidak terdapat persoalan- seperti dalam bidang HPI. Semua stelsel hukum jang dipertautkan pada suatu peristiwa HAG adalah stelsel 'hukum

a-*) L ihat untuk ini chususnja, dJs. Perkaw inan T jam puran h. 26 dst, 148 dst 3«) L ihat H PI, I no. 152.33) K o l l e w i j n , H et Duitse verbod van huwelijken tussen A riers en

niet-Ariers, T. 142/473.30) T . 143/466, RvJ D jakarta 22-1-1936 H.K. no. 32 dengan tja ta ta ,

K o l l e w i j n . 1 l *37) A pa jang terkenal sebagai „intcrgen(iele openbarc orde” adalah berhin

daripada „ketertiban uinmn” dibidang H PI ini. L ihat L e m i ' ' pidlailo pelantikan, h. 1 4 ; K o l l e w i j n , V .O .,.h . 195. 1 e >

15

Page 18: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

sang hak im send iri. Pada w aktu k ita m em b itja rak an n e rb ed aan ^ a n ta ra HAG dan I iP I sudah d ikem ukakan bahw a salah s a tu p er- bedaan jan g m enjolok an tara kedua bagian darip ad a H A T A H ini d ju s tru ialah soal „ketertiban um um ” . 3R)

f. Pilihan hukum (rechtskeuze).

P esoalan2 sekitar „pilihan hukum” (rechtskeuze) a tau uartii- autonom ie” term asuk salah satu ad ja ran chusus d ib id an g ilm u HPI-

„ P ilihan hukum ” jang oleh berbagai penu lis d ip a n d an g sebagai salah satu sendi-azasi daripada H PI. ■"■>•) akan k ita t in d ja u setjara te rsen d iri kelak. J

. v. Da!a£ ,hubungan sekarang ini perlu k iran ja d is in g g u n g bahwa tat'kala Kami m engadakan tind jauan d a rip ad a H A T A H in tern dalam buku , Hukum A ntargolongan” kam i te lah m em p er- gunakan istilah „pihhan hukum ” dalam a rtik a ta jan g le b ih Iu a S daripada is t i la h j ang lazim nja d ipergunakan oleh p a ra p e n u lis

J b id a n g H PI m aupun dibidang HAG. M enuru t p e n g e r tia n jang kita pergunakan istilah „pilihan hukum ” in i tid ak te rb a ta s kepada perb u a tan 2 memilih hukum dibidang hukum h a r ta b e n d a s a d j^ D engan istilah kita dibidang HAG in i tefah M ta a r t S „segala perbuatan-hukum jang m engaklbatkan bahw a k a re n a kem auan s e n t o , bagi jang bersangkutan b e rlak u lain h u k u m perdata danpada hukum perdata jang lazim d iten tu k an b a g ta a m enuru t p e ra tu ran 2” . 4°) p ilihan hukum ini b e rk en aan ba le dengan bidang hukum perdata m aupun hukum publik.

Tetapi pada H PI sekarang ini, kam i pun akan m e n g ik u ti pengertian jan g sudah diterim a dikalangan p ara s a rd ja n a H p J dengan isti ah ltu, jakm : „ taesvnjheid” a tau „partyautonomie” jan g dibataskan pada perbuatan2 dibidang hukum harta-benda chususnja hukum perd jandjian . ’

Dalam 'bagian „pilihan hukum ” ini oleh p em b u at k a a r tre - g ister ju r i s p ru d e n t Indonesia telah d ihim punkan k a ra n g an 2 i an g berkenaan dengan m asalah ini serta kepu tusan 2 ja n g ada sang-

38) H P I, I, no. 97 sub 8.30) L ih a t k em u d ian d a lam pem bahasan tersendiri. 40) H u k u m A n targo longan , h. 102.

16

Page 19: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

kut-pautnja dengan persoalan2 tersebut. Tetapi bahan- jang disadjikan disini nampak sedikit sek a li" ) dan masih memer- Jukan penambahan2 oleh mereka jang kelak akan m elandjulkan tugas luhur untuk menjempurnakan sistim-kartu dari jurispru- densi di Indonesia ini. '

Djika kita mengadakan perbandingan dengan sistematik daripada HAG njatalah bahwa pada bidang „reehtskeuze” ini

■ terdapat titik2 persamaan antara HPI dan HAG. Djuga pada kaartsyteem HAG terdapat bagian chusus „Rechtskeuze” ini. Jang berbeda hanja ialah bahwa dalam sistematik HAG ini ditambahkan dibelakang istilah „Rechtskeuze” perum usan : ..termasuk didalamnja penundukan sukarela untuk perbuatan hukum tertentu dan penundukan-dianggap” (daaronder begrepen vrijwillige onderw erping voor een bepaalde rechtshandehng en veronderstelde onderwerping).

g. Status dan kewenangan (slaat en bevoegdheid).

Dalam bagian ini oleh pembuat-undang2 telah dihimpunkan tulisan2 para sardjana clan keputusan2 hakim jang berkenaan dengan persoalan ,,status personil” (personeel statuut).

Seperti diketahui dan telah dikemukakan berkali-kali di- atas, ,2) dalam sistim HPI jang berlaku di Indonesia, s-a us personil seseorang ditentukan oleh kewarganegaraannja. u *un nasional seseorang tetap berlaku untuk „de staat en de evoeg heid” (pasal 16 kalimat 1 A.B.) daripadanja.

K eputusan2 jang ada sangkut-pautnja dengan pasal 16 A. kalimat pertam a dihimpunkan disini.

Tjontoh-tjontoh : Perwalian daripada anak2 s e o r a n g Djei man setelah pertjeraian harus diatur m enurut ke , me_B.G.B. D jennan. Perwalian ini term asuk status pere nuru t pasal 3 dan 16 A.B. maka djuga untu oia o nasi0nal berada di Indonesia berlakulah dalam j13^ 1111 h+s;j10f pada mereka. Demikian telah dikemukakan oleh Hoogg tahun 1932. 4a)

n ) H an ja terdapat 2 kartu.12> H P I, I, no. 8, 143, II dibaw ah sub c dia s*. Surabaj a 23-4-1932,

T. 136/319, H gH 23-6- 1932, b a n d m g a n ^ T 151/349, R vJketjam an d ari L o g e m a n n . T \ 136/5UU, n o .D jak a rta , 9-9-1939 (tja tatan W e r t h e i m ) .

,a)

17

Page 20: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

S ja ra t2 m a ten il jang harus d ipenuhi untuk dapat m enikah ditentukan pula o leh hukum nasional daripada p ih a£ 2 j a g b e r - sangkutan. S ja ia t- m atenil in i dipandang term asuk s ta tu s ! son il Orang2 w arganegara T iongkok ian ^ ?kaulanegara Be,anda dan

5 S n ' a 2 1 Malay States) b0leh — i K a f l a ldapan Ija ta tan bipil di M edan setelah tju k u p 21 tahun w alan tanpa perse udjuan orang-tua, d juga bH am ana m e ,e ™ b e t a beruraur 30 tahun. Karena personil s ta tu t m ereka ini d ite n tu k a n oleh hukum nasional m ereka sendiri. H ukum T iongkok m aupun hukum Inggns tidak m engenai p e rse tu d ju an o rang tua sesu d ah mentjapai 21 tahun (tetapi belum tju k u p 30 tahun). S ia ra t2 tertjantum dalam B.W. jang m asih m engharuskan p e rse tu d ju a n orang tua itu sebeium m entjapai usia 30 tahun (pasal 42) Itidak berlaku bagi orang- asing Tionghoa jan g te rla h ir dan berdom i- cilie d. Malaya in.. D em ikian telah d ipu tuskan oleh Hoogge- rechtshof pada tahun 1936, berla inan daripada Raad van JusUUe Medan. l4)

i -f D lkM dlbvanf ingk.a,n sistem atik H PI dengan sistem ati'k HAG kita saksikan bahwa tidaklah te rd ap a t bagian „staa t en bevoegd-heid m i pada HAG. M emang persoalan* jang term asuk p erso n il statu t berdasarKan pasal 16 kalim at pertam a A.B. m eru p ak an bagian jang chas ) daripada H PI dim ana kita be rh ad ap an de- ngan hukum - nasional jang dinprtanf^an ..internasional” « ) J g a ip e rtau tk a" <Ialam su asana

h. Hukum K ekeluargaan (Familierecht).

Disini dihim punkan karangan= para sard jana ja n g b e rk en aan dengan hukum kekeluargaan. M isalnja tu lisan- ten tan g p e rtje -

44) T q J 4^ 5’ 29- 10' 1936’ bandingan a tas kepu tusan RvJ M ed an 17-7- n , , 8 .' pu la T ‘ 15 0 /526 , R vJ M edan , 31-3-1939 (dengan tja ta ta n W e r t h e i m).

45) Dem i'kian chasnja, hingga pada istilah „versch illend personeel re c h t” jang d igunakan oleh L e m a i r e u n tu k H A G , tidak te p a t u n tu k m engartikannja da lam a rtik a ta „persoueel s ta tu u t” d a r ip a d a 16 A .B . ini, seperti hendak d ilak u k an o leh K l e i n . L ih a t dis. B ijd rag en to t de studie van h e t intergentiel p riv aa trech t, verm ogensrech t, L eiden , 1933, h. 9 dst. Bdgk. H ukum A n targo longan , h . 110.

40) D alam a rtik a ta jang d igunakan oleh k ita , d jika k ita b itja ra te n tan g HPT, lihat H PI, I. no . 8.

18

Page 21: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

raian, perkawinan, larangan-menikah, pengakuan anak. Djuga keputusan- hakim jang berkenaan dengan hukum kekeluargaan diberi tempat disini. Misalnja tentang pembatalan perkawinan, 47) tentang perw alian ,48) pengakuan anak ,!)) tentang adopsi, r,°) dsb.

Djika kita bandingkan dengan sistematik HAG maka ternjata bahwa djuga dalam kaartregister HAG terdapat bagian ..hukum kekeluargaan” ini. r,J)

i. Hukum harta-benda perkawinan dan alimcntatie (Huwelijks- vermogensrecht en alimentatie).

Soal- jang termasuk hukum harta-benda dalam perkawinan dan soal alimentatie sebagai akibat daripada pemutusan hu- bungan perkawinan ternjata telah diberikan tempat chusus pula. Sebenarnja soal2 ini dapat djuga dimasukkan dalam sub h diatas (Juikum kekeluargaan”).

Dalam sistematik HAG kita tidak ketemukan bagian tersen­diri tentang hukum harta-benda perkawinan dan uang nafkah mi.

j. Hukum wavisan (erfrecht).

Dalam bagian ini dihimpunkan tulisan- dan hakim jang berkenaan dengan hukum wansan dalam hubunga

HPI.Terutama berkenaan dengan hukum warisan

asing Tionghoa, Arab « ) jang mempunjai ^ t a - b ^ d i timbullah persoalan- HPI jang diadjukan,dihadapa

" « ) T . 137/24, H g H 29-9-1932 J^vJ 1 Ja ta taA K o l l e w i j n ) .3 ^ . 1 ^ . - L o g e .

" > t M % 2 , H gH 2 -5- 193* bahw a istilahs i) Pada pem bitjaraan s.stem a A H , d# sistematik h u kum ad a t

. .f a n ii l ie re c l i t” ini adalah le b ih t j o g lebih suk a b itja ramengingait bahw a dalam h. 42.tentang . .p e rso n c n re c li t . Li a , D ;akarta 19-8-1932 ; T . 136 / 42 2 ,T jon toh : T . ' S / T K o l l e w i j n ) .RvJ D jak arta 2 < H H « 4 ; T 39/855 (“ 8T. 149/410, Ldr D jam bi l y n ,

r*-)53)

19

Page 22: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

U. Hukum hai'labenda perdata (burgerlijk verm ogensrecht).Karangan- clan keputusan- hakim jang dikum pulkan dalam

bagian ini term asuk berbagai lapangan te r te n tu jan g m engenai hukum harta-benda. Tambahan istilah „ p e rd a ta” adalah agak tak lazim dalam istilah hukum jang se-hari- digunakan. Oleh k a ren a berkenaan dengan hubungan2 hukum an tara ^private p e rso n e n ” tambahan kata „perdata” ini boleh dikatakan adalah agak ber- kelebih-lebihan.

Apa sadja jang dianggap oleh pem buat kaartsysteem sebagai termasuk disini ? Kita saksikan bahwa jang banjak te rd ap a t ia lah perkara2 mengenai kontrak kerdja atau m engenai p e rb u a tan me- langgar hukum, perkara-' milik perindustrian .

Tjontoh2 : Seorang tukang dansa w anita Miss V era P rae d Gee jang sedang berada dalam perd ja lanan d ari S ingapura ke Australia telah ditaw arkan untuk selama 3 m inggu b e rd an sa di Carltonclub Djakarta kepunjaan Johny D uell dan 3 m inggu beri- kutnja di ,.Maison la Gaiete” Surabaja. T e rn ja ta bahw a se te lah berdemonstrasi beberapa hari sadja se tja ra m endadak tu kang dansa itu diberhentikan oleh fihak Ducll. Dalam p e rk a ra tu n tu ta n gantirugi karena pem berhentian se-konjong2 dan tak sah in i Residentiei schter Djakarta pada tahun 1931 (dikuatkan oleh R vJ Djakarta ditahun 1932) 5‘1) telah m enjatakan bahw a kon trak antara tukang dansa dan pemilik Carltonclub itu adalah su a tu kontrak-kerdja. Fihak m adjikan jang se tja ra m endadak mem'ber- hentikan pegawainja tanpa alasan m endesak harus m erm bajar gantirugi.

Seorang reparateur mobil2 te lah m em asang papan m e re k „Ford Service” Oleh karena an tara Ford M otor Com pany of Canada Ltd dan tukang reparasi jang tinggal di D jakarta ini tidak ada hubungan dagang apapun m aka Ford M otor Coy ini im erasa dirinja dirugikan. K arenanja d itun tu t agar supaja tukang re p a ras i itu tidak diperkenankan lagi untuk m em akai nam a ,,Ford” pada papan merek-nja. Dalam tingkat pertam a oleh Raad van Ju s tit ie pada tahun 1933 telah dikabulkan gugatan Ford M otor ini. T e tap i

51) T . 135/503, Res. rech ter D jak a rta 2-5-1931, R vJ D ja k a r ta 22-1-1932. Bdgk pu la keputusan ten tang k o n trak k e rd ja d engan pem im p in 2 o rkes, T . 146/360, Res. rech ter D jakarta 4-5-1937.

20

Page 23: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

H° ° ggerechtshof ditahun 1935 DS) dalam tingkat bandinean ah dibatalkan keputusan tersebut dan gugatan Ford M otor

Co tidak dikabulkan. A lasannja ialah bahwa pem akaian perka- aan „F o rd ’ bukan hanja m enundjuk kepada fabrikant m elainkan

djuga pada mobil- jang dihasilkannja. Setiap orang bebas untuk m ereparasikan mobil- m erek apapun. Tetapi orang djuga boleh dengan bebas m engum um kan kepada chalajak ram ai dalam me- naw arkan service-nja, bahwa ia ini chusus mengadakan spesiali- sasi dalam mobil- berm erek chusus (i.e. merek „F ord”).

Tjontoh lain jang m enarik perhatian dalam zaman kita seka- tan g ini ialah keputusan dari Hooggcrechtshof tahun 1940 berkenaan dengan peniruan pentjetakan Koran di D jakarta oleh seorang India lainnja jang tinggal di Singapura (Koran tiruan ini diim port dan didjualkan di Palem bang.r'7) Filiak jang m eniru dihukum karena melakukan konkurensi tidak s a h .r,s)

Dalam kaartsysteem daripada HAG kita saksikan bahwa apa jan g dim asukkan dalam sub k pada sistematik H PI ini telah di- bagi dalam bagian- te rs e n d ir i: „schulden-en delictenrecht” serta >,arbeidscontract”. Kedua bagian jang disebut belakangan ini te lah ditjakup dalam „bm'gcrlijk vermogensrecht” pada sistema- tik HPT.

1- Hukiun Dagang (handelsrecht).

Dalam bagian ini dihimpunkan karangan- serta keputusan- hakim jang berkenaan dengan hukum dagang internasional. Soal H P I jang term asuk dalam bidang perdagangan ini, seperti telah kita lihat, m erupakan bagian daripada Hukum Dagang inteinasio-

T. 141/486, H gH , lc K. 14-2-1935. T jontoh^ lain,,onrechtm atige d aa d ”, T. 146/437, H gH 2-9-1937 ; T. 146/544, H gH 16-9-1397. , . _

M engingat ban jakn ja persoa lan - jang tim bul beikenaan , abu k u 2 jan g ditjetak setjara lebih m urah di D jepang Pa a

•) T . 153/268, i lg H le K.., 8-8-1940 bandingan RvJ D jaikarla 29-9-1939.8) B erlainan daripada keputusan pidana T. 148/124, L d r P alem bang 24-2-

1937 jang m snganggap setiap orang bebas untuk incn tje tak d a n m t nci- b itkan K oran dalam beatuk jang disukainja scndiri.

5C)

0 7)

21

Page 24: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

nal, (droit international prive commercial) suatu bagian chusus daripada H P I.59)

Terutama perkara2 jang berkenaan dengan tjap dagang telah disebut pula dalam bagian ini. Diatas telah kita saksikan bahwa perkara2 sematjam ini sudah dihimpunkan pula dalam bagian sub k mengenai „hukum harta-benda perdata” .

Tjontoh® : Perusahaan dagang jang berkedudukan di London ” . Apollmaris Coy Ltd” telah mengadjukan tuntutan agarsupaja drbatalkan merek tjap dagang ,.Apollo” jang didaftarkan oleh seorang pedagang Tionghoa dari Surabaja. Perkara sema­tjam im idjatuh dibawah kekuasaan Reglemen industrieele Eigen- dom Kolomen S. 1912 no. 545. Merek „Apollo” ini dipandang sebagai smgkatan daripada merek „Apollinaris” (untuk • Minp raalwater ajer Blanda”) dan dianggap dalam bun j in ja dan bentuk-lahirnja demikian banjak persamaannja h in g V daoat menimbulkan kekeliruan pada chalajak ramai. Oleh k a re m itn oleh Raad van Justitie Djakarta pada tahun 1931 dikabulk™ permohonan daripada perusahaan Inggris tersebut mmta pembatalan daripada merek pedagang Tionghoa tersebut.

Suatu perusahaan dagang jang berkedudukan di Djakarta

kepada T , 'a 0 lh "Paris. Hutang te rSeblrt ialah ^bajar oleh tergugat firma L. Platon Malam Iikvvidasi) keondn penggugat Etabhssements Pastival sebanjak $ 0.10 Hap

Bdgk. H PI, I, no. 2 sub k. Bdgk P A r m i n ; r. • international prive commercial, Paris Cl 9481 x t" , ‘s dc droit h. 3. no. 2 dan penulis2 jang disebutnja. ’ u s s b a 11 ni. o.c.T. 135/497, RvJ D jakarta, 21-10-1931RvJ D jakarta 10-9-1930; T. 133/403“ HgH 1L 9 1930" ? r - [ 33 /475- D jakarta 18-1-1929 („George D ralle / V RvJD jakarta 15-10-1930; T. 133/481 RvJ i X V T \ I3 3 /4 ™, RvJ m ens”) ; T. 145/545, HgH 11-3-1937 merk ^ '193° (”SiC'Libby, M e Neill & Libby), T. 146/667, u J 30 1 U S -A ’tjara m em bungkus balsem „Tjap M atian” dari H™, » M (mcrek dan p o re ); T. 147/778, RvJ D jakarta 11-5-1938 (mcrk w , S r° thcr5 Shlga- John D ew ar & Sons Ltd dari Parth. di Scholl™,) ,1 ” I I-abel” dari 385, RvJ D jak arta 12-10-1938 (tjatatan J b 7 T f ondon>; T - 149/T. 149/521 H gH 5-1-1939 T .-149/54 ; RvJ D ia k a rh er Jzn) =555, RvJ D jak arta 29-3-1939 T.. 149/805 P e d i S "n 938 ; T - 14^ /karta 19-8-1938; T. 150/647, HgH RvJ D **H a t tu r n ) . ~ Ojatatan V a n

59)

00)

22

Page 25: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

kaleng ,.Valda” pastilles jang didjual oleh Platon daripada perse- diaan konsinjasi kiriman dari perusahaan Perantjis tersebu t Perkara ini telah diputus dengan berpegangan kepada ketentuan dalam pasal 1756 B.W. jang memberi keleluasaan kepada tergu- gat untuk membajar barang- konsinjasi jang dikirimkan kepada- nja ini dalam mata uang U.S. Dollars atau djumlah aequivalenft dalam valuta Hindia-Belanda m enurut koers jang berlaku pada hari pem bajaran dilakukan.,:l) Demikian telah diputuskan oleh Raad van Justitie Djakarta pada tahun 1935.c-)

Disamping itu kita ketemukan pula perkara2 berkenaan de­ngan wissel dan cheque,,!:!) assuransi.11')

Dalam sistematik kaartsysleem HAG tidak terdapat bagian chusus tentang „hukum Dagang” ini.

m. Hukum Atjara dan pembuktian serta ,.gezag van gewijsde” .

Disini dihimpunkan berbagai karangan dan keputusan-' ha­kim jang berkenaan dengan hukum atjara mengenai perkara2 perdata jang bersifat internasional. Persoalan2 jang termasuk hukum atjara ini terutam a m enurut konsepsi HPI dari negara2, jang mengenai ,.conflicts of jurisdiction” sebagai bagian tersen­diri dari HPI, dipentingkan. Tetapi bagi sistim HPI kita jang lebih dekat kepada sistim HPI jang terutama membataskan HPI kepada soal2 „choice of law” soal2 hukum atjara ini hanja dising- gung setjara sepintas lalu. Pem bitjaraan2 tentang hukum atjara dan pembuktian ini tidak terlampau dikedepankan.

K eputusan2 hakim jang dikumpulkan dalam bagian ini te ru ­tama dengan sjarat2 pemberian djaminan untuk membajar ongkos2 perkara (cautio judicatum solv i,,n) jang harus diberikan

fn) Sega la sesuatu ini telah terdjadi sebelum peraturan-’ deviezen m ulai ber­laku pada tahun 1940.

02) T. 134/177, HgH 16-4-J931 T. 142/406, RvJ D jakarta 16-8-1935.fi3> T jon toh 2 T . 134/197, HgH 16-4-J931 ; T. 141/512.. RvJ D jakarta , 15-2-

1935 : bandingan HgH 12-12-1935, T. 144/392 (dengan tja ta tan W e r t h e i;m). T. 150/501, RvJ D jakarta 22-4-1938 (tjatatan W e r t h e i m).

04> Tjontoh-’ : T. 142/34, HgH 6-6-1935 ; T. 142/52, H gH 4-7-1935 T. 143/540, HgH 2-1-1936.

or>) Pasal 128 R.V. M enurut a tjara H.I.R. pada waktu sekarang oleh juris-prudensi dianggap tak berlaku lagi.

23

Page 26: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

oleh pihak orang asing jang mengacljukan gugatan perdata d isin i,««) tentang pengambilan sumpah dengan seorang kuasa di Indonesia oleh seorang jang berada diluar negeri, ©7) tentang sitaan orang asing (vreemdelingenbeslag),,iS) eksekusi, «•) lerdje- mahan daripada naskah- dalam bahasa asing,70) atjara berper- kara bebas b e a ja ,7*) kekuatan keputusan hakim asing bent.ik testamen luar negeri.7;i) ’

- Djuga dalam sistematik kaartsysteem HAG terdapat baeian mengenai hukum atjara, pembuktian dan eksekusi ini

n. Masalah2 chusus (bijzondere vraagstukken).

Dalam bagian ini dihimpunkan karangan dan keputusan jane bersifat chusus dibidang HPI. J 8

Tidak banjak bahan» jang telah dikumpulkan. Hania sati, karangan jang disebut, jakni karangan L e m a i r e tentangmasalah penundjukan kem bali74) dan hania v T tentang penetapan perwaiian „lehbei’dasarkan ketentuan- dalam Consulaire Wet. ™) tbdnken

Djuga dala.m kaartsysteem daripada 1IAG terd-n.Mf i ■ tentang masalah2 chusus ini. ' 1 bagian

««) T jontoh2 : T. 133/50, RvJ M edan 7-11-1930 • T n8-3-1935 tjalatan L;o g e m a n n tentang n e n e m ' Dj'akart:'

C7) T. 137/696. RvJ Medan 17 . 3.1933 mn ” lnSezetene”).---------------- ----------— jl/ -j -1933. ------------;•CS> LUmt P'asaI 757 dst R.V. T jontoh2 : T. 135/540 PvI ,

H gH 5-1-1933, T. 138/539. RvJ Medan 20-I0-J931,c») T. 140/567, HgH 18-10-19347 0 ) ™ ---------------------- -

n )

T. 140/596, Res. rechter Bandung 5. m u , , , „ T ( tja ta tan . IC o 11 e w i j 11). ’ D jakarta 8-2-1935.T. 146/369, Res. rechter D jakarta, 4-5-1937 ■ t 28-5-1937. ’ 147/ 72- Rv) Medan

T. 149/410, L dr D jam bi 2-6-1937, RvJ D jakarta 18 2 i<m ^RvJ D ja k a rta 28-2-1938 (tjatatan We r t h e i t ’ Tl ,53/18> T. 151/345, RvJ D jakarta 4-8rl939. m

u ) L e m a i r e , „D e tenigverwijzing in het N ederhnH ci. tT. 148/1. Uandsch-Indische i.p,r,”,

75> T. 146/461, RvJ D jakarta 28-7-1937.

72) T

RvJ73)

24

Page 27: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

175. liosume-Kesinvpuhni.

Apabila kita melakukan tindjauan daripada sistematik H PI dan membandingkannja dengan sistematik HAG seperti dipapar- kan dalam kaartsysteem jurisprudensi Indonesia maka setjara resum erend dapatlah ditarik kesimpulan- sebagai b e rik u t:. '

1. Baik HAG maupun HPI berkenaan dengan masalah2 jang dikenal pula dalam hukum intern biasa, diluar hubungan2 vPertem uan” (conflictsvcrhoudingen) antara stelsel-’ hukum jang berbeda faneka warna hukum).

Masalah- jang diperintji dalam sistematik daripada kedua bagian daripada HATAH ini termasuk bagian2 daripada hukum intern biasa.

2. Sifat" chas daripada masalah- jang diperintjikan tern ja ta daripada ditjantumkannja setjara tersendiri bagian- jang dapat dianggap termasuk dalam apa jang dikenal dengan istilah ,.titik- pertau tan”, seperti pada H P I : „Kewarganegaraan” (sub c) dan ,,domicilie” (sub c 1.) dan pada HAG „golongan-rakjat” (sub c) dan „agama” (sub d).

3. Disini pun nampak perbedaan jang njata antara HPI dan HAG, Jang disebut pertama merupakan HATAH- e x t e r n , sedangkan jang'disebut toelakangan adalah HATAH- i n t e r n. HPI berkisar dalam hubungan2 perdata dengan „unsur~ asing', dalam hubungan2 „internasional” terhadap HAG jang hanja berlangsung dalam suasana hukum „intern-nasf'onal” .

4. Tjiri ini nampak dengan djelas daripada titik pertautan „kew arganegaraan” dari HPI dan „golongan-rakjat” daripada HAG. Kewarganegaraan merupakan pembatasan daripada keangfc gautaan 7U) sesuatu negara terhadap lain negara. Golongan-rakjat*. # hanja m erupakan pembagian daripada penduduk dalasi satu * negara.

T jiri ini nampak pula pada soal „kompetensi hakim” (sub b). Pada H PI soal kompetensi ini 'berlangsung antara hakim Indo­nesia atau hakim asing. Pada HAG persoalan kompetensi ini terl-etak pada kewenangan „hakim Eropah’” atau „hakim Indonesia” .

70) Bdgk. G o u w g i o k s i o 11 g, T afsiran U.U. K ew arganegaraan fth. 1 d s t ; i d e m , warganegaxa dan O rang Asing, h. 3° <jst ■>

25

Page 28: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

5. Salah satu daripada sumber8 hukum HPI telah disebut pula sebagai bagian tersendiri oleh pembuat-kaartsysteem jakni • „persetudjuan2” (verdragen) (sub dj.

‘s s s ■ a r r a s rS S X S Z & f f ? " »■—

dalam suasanT hpt itu diseblJt Pula bagian2 jang terdapat baik f e u L S ma? Un dalam suasana HAG tetaPi disebutpada sistematik HPT uklt berlainan (sub h sampai dengan m k f r a n r S t ^ ^ / SUb g ~ n pada s^ em a tik HAG). Hal ini

ja disebabkan karena pada sistematik HPI pengaruh dari-f sJf atlk hukum jang tertera dalam B.W. - W v K adalah

m“ l ™ rrtaSredan/ kan. SiStematik HAG kita = a t e i l l pengar mendalam daripada sistematik Hukum a d a t.77)

77-* HAG-Pengantar, h. 44.

26

Page 29: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

B A B V .

TiTIK-'JIl'iK PERTALIAN (AANKNOPINGSPUNTEN)

B a t j a a a :

N i e d a r c r , h. 147 d s t.; S c h n i t z e r , I, h. 118 dst • F r a n k e n s t e i n , I, h. 49 dst, 85 dst. ; K ^ g e l h 135 I ’, . K e g;e 1, Komme.Uar, h. 514 d s t ; R a a p e, h. 36 dst • W o l f f — IPR Deutschlands, li. 37 dst. ; ’ 1 f fW o l f f , h. 99 d s t ; C h e s h i r e , h. 51 dst, D i x e v —M o r r i s , h. 41 dst, S c h m i t t h o f f , h. 48 d s t ; ’G r a v e s o n, h. 56 dst, F a l c o n b r i d g e , h. 126 dst • A r m i n j o n . I, h . 191 d s t; B a t i f f o l . h. 309* dst • ’ R e c z e i , h. 66 d s t; H i j m a n s , h. 61 ; ’G o u w g i o k s i o 11 g, Hukum Antargolongan, Bab I lf

176. Titik- pertalian.

Dalam perum usan HPI jang telah kita berifcan ]) telah d-iper- gunakan istilah „titik2 pertalian”. Telah diberitahukan pula bahwa istilah ini dikenal djuga dalam berbagai bahasa denffan n a m a : 8

aanknopingspiuiten,») points de rattachment, *) Anknttpfungs- punkte, 5) monienli di collegamento,«) ^connecting fa c to r,?)

3

J) H PI, I no. 69.2) H PI, I no. 69 sub g.

Oleh penulis2 Belanda. a.i. Van B r a k e l , h. 137: Lem aire, H et recht in Indonesie — H ukum Indonesia, h. 183. H ijmans m engetjam istilah ini. K ata beliau : ,,Aanknooping is een gevaarlijk woord. In het I P w ordt daarm ede veel gemanoevreerd.- Reeds K a h n sprak he t n it' Ook w ordt door velen gesproken van elciucnten der aankuoping v m aanknoopingsbcgrippeu : iedereen verstaat daaronder iets anders. Ik ' achthet verloren m oeite op ,dit alles in te gaan ; het is h ier uitsluitend dtevraag, in welken zin ik d it woord gebruik” . (h. 61 ; kursip dari kam i)

4) O leh penulis2 Perantjis, a.i. A r m i n j o n , M a u r y .5) Oleh penulis2 D jarm an dan Swis seperti^m isalnja R a a p e , h. 3 d<it

W o l f f IPR Deutschlands, h. 37 d s t; K e g e l , h. 73 d st.’( A nkn im ' fungsnorm ”) S c h n i t z e r , h. 45 .' n»P-

fi) O leh penulis2 Italia.7) O leh penulis2 Anglo-Saxon, m isalnja C h e s h i;r e, h. 45 •

G r a v e s o n , h. 56 ; F a l c o n b r i d g e , h. 128 dst. L o r e nC haracterization in the Conflict o f Laws, h. 92 ; N u s s 'b a u 6 n ’

27

Page 30: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

points of con tac t,«) „test factor” »•) ,.localizator”, ..elements of introduction”. 11) - ^ * /

Dengan mengikuU tjara tindjauan jang disadjikan dalam buku; ,Hukum Antargolongan” sekarang ini kita akan membahas set]ax a lebih mendalam apakah jang dimaksudkan dengan pe­ngertian ini dibidang HPI. s pe

Titik peitalian ini dapat dibagikan d a la m 'hnhor'mn u tertentu Ada berbagai mat jam pembagian dan perintjian lebih djauh daripada titik2 peitalian ini. P e m b a e i a n ' t tincijau ber-turut2 dibawah. Salah satu pembagian i l t " , perlu diperhatikan ialah pembagian dalam : utama

I' pertf 1lian priiner (Primaire aanknopingspunten)H * SekUmler fcccundafre aanknopingspun-

Apakah jang diai tikan dengan masing2 istilah ini ? Pertanjaan mi akan kita djawab dalam tindjauan jang beri-

177. Titik2 pertalian primer.

Sebelum kita memberikan perumncan • i diarlikan dengan istilah „titik pertalla„ „,- pa ‘ m Ja"e

j E s z s r * * apakah »■« * . * 2 2

8) L o r e n z Le n- 20 Columbia L.R h 269 • » u ,v e s o n , h. 56 ; n> 269 , R a b e I, T h. 43 • O n -

9) Wolff, h. 99.

N u s s b a u m , 40 Columbia L.R h 14fid ..„ l o c a l i z e r ”, N u s s b a u m , h 73 r , t? " ea dieunakan Istilah U n g e r : Lain2 /stiiah ialah : Ankniinf f R a b e l > h. 42.m erkm al” „p „ „ fo di collegamento’ s e b ^ ^ f j 6^ ”’ »Ankniipfungs- n. ) ; B .rfchuntf-, ^ e d ® ® r- h. 147contact”, „cireonstance de ra ttad .m en t” ’ t - •: d a ,tech«”> ..Point da >,elem ent de rattachem ent”, criferio d<>’ ® I“ c,pe t,e rattachem ent”, ncollegam enfo” (disebut oleh F a 1 c a n 5 .egamento”. „riehiam o”, ..Ankniipfungsfaktoren” ( R e c z e i , 1, n ^ d g e ’ h ' 128' 129> 5Hukum A ntargolongan, h. 47 . ’

10)

ii)

28

Page 31: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

m aanmerking doen komen het een of andere rechtsstelsef-3” ^ ® C h e s h i r e memberikan uraian ians? spmn*

ouktancfing Ufact°w hich *estabi'ishes nat u r a f °co * ' ' la l3h

s i u , a l i 0 " b e f o r e

t o t u S dH P , ^ ,anKaj ^ .“ ‘T , K r m m l>,iraer “ tehirlah hubingan* Apabila tidak ada titik pertalian primer, maka hubungan hnkmn

i n ' t ^ nU, • l,da? meri,l)akan hubungan hukum perdaTa T. J ; ® 1 n a s i o n a 1 melainkan hubungan i n t e r n bplnk-n m Titik- pertalian prim er karenanja ..merupakan alat- pertam a bagi pelaksana nukum - teristimewa hakim - untuk m e n S ta hui apakah sesuatu perselisihan hukum m erupakan soal h , ! , antar tata hukum ”. Demikian telah kita m e r X i s k a S « \ Um J)uku pengantar „Hukum Antargolongan”. am

HPI sebagai 'f'akt01'1' Jang melahirkan persoalan

" h t l ^178. T*ei‘i»tiian T.P.P.

Sebagai titik2 pertalian primer dapat. d iseb u f: >")

■Kewarganegaraan parapihak dapat merupakan faktor k aren i mana tim bul persoalan HPI. ^aicna

T j o n t o h : Seorang J W menikah dengan seorai/e w a r

ganegara P_erantjis, seorang warganegara Djerm an m b la W a n

L e m £» i r e , Het recht is Indtmesie, h. 183.) D itekannja kepada segi processuil oleh penulis ini sem-rti .,>i, u , .

sakstkan, disebabkan karena pengaruh dan'paida konsensi H p iV a dapat di-negara- Anglo-Saxon ini (HPI, T no. 39 ) P H P IV n g ter-

lo> C h e s h i r e, h. 45. ^1«) Bdgk. perunnisan dalam Hukum A ntargolongan h. 47

') Bdgk. L e m a i r e , H et recht in Indonesie, h lsVIfll r\l nl> XII TV /t.. S~< - I:1. n _ I * n I . . ' 118)10) Oleh Nj. M r Gadis Soekahar-Badwi dan o’leh Panitv-i u m l i , , ,

Untuk perinfjian- litik pertalian a.i. A r m in i n n r H u^um .W o l f f , P.I.I. no. 9 1 , '9 2 . 1 n J 0 n , I no. y0 J s l

29

Page 32: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

daripada para pibak berbeda, dalamorangan dalam bidang perdata ini riikaifi, I , perse'pada berbagai negara. K ew arganegaraanpSf- hh',kUm1,<iari-

i s r faMor ^ Hukt a ? s atan

runan daripada para fihak. fioiongan-i akjat atau kelu-

Kewarganegaraan ini dapat dimasnkL-™ i , tautan jang didasarkan kepada prinsip n P r 3 . titik" per‘ganegaraan, seperti djuga halnia den?m n ? s o n 1 1 . Kevvar- sukubangsa) termasuk dalam kelompok AnkniSp1'13^ ^ (agama> der Personalhoheit”. 2") ” knuPfl,ngspunkte aus

2- Q s M m ^ a r ik a p a i.

gafl2^ ^ a u , kapal dapat

pemiliknia b e r k e w a r ^ ^ ^ — ^ —S a d e r a ^ ^ m a s,,c|angltan

da" J^SiMudukant e M M j n d o a e s ia d e n g a n i S , " ,gka” kl i i i l ] i i j i r dan barang2 milik jang d i s e b ® b & | s | f f ^ eSSaJllclonesia

Disini bendera kapal m pm i.tt , tentu. Karenanja timbul p^rsoa'lan-1 hukumT SWsel hnkum ter- unsur- asmg, maka tertjiptalah soal" i f ™ Jang “ “ “PerUtatkan

20) S c h n i t z e r , I, ft. j 4321) A r in i n j o n , I, h. 192 ■ t

com parable * * „»e ^ • J S t f j g j g f f t * . lie„

JO

Page 33: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

3. Domicilie.

n . « b S ^ ; S r H l l . C'aPat PUh " ™ " ® * « " i - g ,M -

Jang ber-

"§H £§jB gS 25 J jang berdomictlio dtaggaraX Dua o i S F w n t jang berdomicihe di Djerman Baraf. h e r h n h i m g .n s t u d i ® nielangsungkan perkawinan dinegara tersebut. 3

Dalam tjontoh- ini domicilie-lah jang merunakan fatf™. hmgga tertjip ta suatu hubungan HPI.

Pr ins? n ° T iUe. ^ SUk, titik2 P ^ i a j L j a n g didasarkan kepada —fir - r 1 1 o 1 1 a -I- Domicilie ini karena dikaitkam m

D o ? a ilkl'nl tertentu kePada ,e rritoir termasuk dalam kelom-1 k „Anknupfungspunkte aus der Gebietshoheit” . B3)

4- Tempat kediaman.

Disamping domicilie dalam artian tehnis djuga „ tempat kc- diainan” (residence) atau tempat berada (place of sojourn) defakto seseorang dapat melahirkan persoalan2 HPI.

T j o n to h : Dua orang warganegara Malaya jang berke- cliainan di Indonesia untuk sementara waktu telah melanffsimaVan Perkawinan. -')

Tem pat kediaman defakto dari mereka ini jang telah men- djadi sebab lahirnja persoalan HPI.

Djuga tempat kediaman atau kediaman defakto ini termasuk kelompok titik- pertalian jang bersifat territorial.

a -) Untuk jurisprudensi Indonesia, bdgk. T. 136/232 Ldr i r iberkenaan dengan anak-' jang 'be rtem pat tinggal di A rab • T A 9,27’R vJ M edan 20-1,-1931 berkenaan dfengan para p i h £ m J r ' J 49 >Kheng dan Whee See) jang bertem pat tingcal atau berdiam Hi if, hl£iuw(Singtipura) ; oeraiam d iluar negeri

- 3) S c h n i t z e r , I, h. 1 J8.**) Bdgk. T. 144/455, HgH, IK, 29-10-1936, j ^ g bersanckm n ♦ J

perkawinan oleh orang jang dilahirkan di Perak dan h a den8anPenaag (Federated Malay States) dan menikal, S h a £ ™ S B ," 1 S diKeputusan ini disebut oleh V a n B r a k e l h 2? n - f j S‘ M edan ;(T. 148/1 p.h. 5 : „D e tenigverwijzing in he t Ned T ,L e . m a ii r e berkenaan dengan soal „renvoi”. Indische i,p .r .)

31

Page 34: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

a~ an (residence) ini umumnja dipakai sebagai alternafap (pengganti) djika domicilie tak difeenal (belum tervvu- d jud).25)

5. Tempat kedudukan.

, «e' f f gaJlegaraan' domM'ie, tempat kediaman atau temMt t J f rlakU lmtUk Perse01'angan, demikianlah

h u t a n S r Sfen ( ’ adalah penting 'into!' suatu badan-flukurp (legal person, corporation).

d a , J H r , tempat kedudukan daripada badan2 hukum ini pun papat timbul persoalan- HPI.

jang feeronpra J 1 .I]Jdonesia terdapat banjak badan- hukumdiluar~npppri U Sln* tetapi jang kedudukan hukum nja b era da turan5~3akm rflrfJv6033!11! dcn^an Peratllran2 devisen dan pera- tahun 19fi0iin3rtn T, 1,? Undang2 Pokok Agraria (no. 5HPI Menurnt ^ acbn’2 ini telah tim bul berbagai persoalan S u m ' t Z w “ ,tUf , dalam UTJ Pokok A graria harlja badan mempuniai ii ® dudukan di Indonesia diperbolehkan untuk h n S l n 1 (pasal 36 ajat 1 sub b). Badan* waktu satu n)ei]lenubi sjarat ini harus m em enuhinja dalamPa£ 24 S J t t ," ! G?Ja.k mUlai berlak«»3a UU Pokok Agraria kepada fihnl iT- • atau memindalikan haknja atas tan ah pada waktu memenuhi sjarat. Kita saksikan bahwa24 September iqrvi acbivnja djangka waktu tersebut (sampaijang telah diamhii sekali transaksi- dan tindakan2 hukumdahkan ted u d n !r a J k i Jang bersangkutan untuk memin- negeri Demikian -u . bukum dari iuar negeri kedalam Perlu membm-il,lS ! n| a, ? ai'a notaris dan fihak LAAPLN (jang jangberarti npmKQ • ? i gga diperlukan peraturan12 chusus

P Ib erian icelonggaran daripada sjarat2 lazim in i .2(!)

kutdii ^ m|bul karena badan2 'hukum jang. bersang-l u a r n e g ^ t— -U...ReCl§tiwa hukum terten tu herkedlidukaTi di-

deutschen G ese^pn1 : ”®‘n A uslim der kann In lande nach denfalls er keiuen Wni e ")mund,'s t werden, wenn er seinen W obnsitz o d c i, (kursip dari f e S ^ M ^ seinen A u f e n t h a 11 im In lande hat alternatip. ,lat !eblh djauli pada pem bitjaraan titik2 p e rta lu n

Circulaire LAAPI m nao- 1093 tanggal 22 Sept. 1961.

26)

32

Page 35: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Karena f aktor tenipjllm \u.t_berjbitjara pada „tem pat kedu- dukan” ini maka djuga titik pertalian ini b^r.qifnt ftn jtm ja i

6. Pililian hukum dalam hubungan intern.

Pilihan hukum (rechtskeuze, autonomie van partijcn) jang dikenal dibidang hukum harta-benda (chususnja hukum ikatan) dapat merupakan pula titik pertalian primer.

Karena pilihan hukum jang dilakukan dalam hubungan intern tertjiptalah suatu hubungan H PI.

T j o n t o h : Dua orang pengusaha WNI di Djakarta menga- dakan transaksi djual-beli daripada barang7 baKan suatu pabrik jang penjerahannja memakan waktu djangka pandjang dan ba- rangnja diimport dari luar negeri (Inggris). Dalam kontrak jang dibuat dinjatakan bahwa perdjandjian cljual-beli ini diatur oleh hukunLinggi’is. darimana barang- jang didjual berasal.

Karena adanja pemilihan hukum oleh para pihak jang me- nutup kontrak djual-beli ini kearah hukum jang berlainan dari­pada hukum nasional mereka, maka lahirlah hubimgan HPI.

D^lam hubungan in tern ini pilihan hukum merupakan suatu faktor jang melahirkan liu b u n g an _ H P I. Dalam hubungan e x t e r n - i n t e r n a s i o n a l pilihan hukum ini — seperti akan kita saksikan dibawah kelak — m erupakan suatu titik perta- lian jang „Menentukan” akan hukum jang harus diperlakukan, adalah suatu „titik pertalian sekunder ” .

179. _TjtiKii.pertaIian sekunder.

Dengan m enjebut istilah „titik pertalian s e k u n d e r ” tibalah kita pada pem bitjaraan lebih djauh tentang bagian kedua daripada titik2 pertalian ini.

Diatas telah diberitahukan ibahwa karena terdapatnja „ titik pertalian prim er” telah tertjiptalah suatu hubungan HI)I. Setelah diketahui bahwa kita menghadapi suatu persoalan HPI, sipelak- sana hukum perlu bertindak selangkah madju lagi. Kini perlu ia memberi djawaban atas pertanjaan i n i : hukum m anakah ia n 2 harus dipergunakan ? Tugas ini adalah tugas-utama daripada « tiap pelaksana hukum dibidang HPI. Bukankah H PI m " konsepsi jang dikenal di Indonesia terutam a merupakan p ?nurut

33

Page 36: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

tentang >)£hpice of law” -") atau hntnm ■;-k a n ’’ (rechtstoepassingsrecht) ? ->8)” i— -— ^ U j ai’us diperguna-

Dalam melaksanakan tueasnia ini lah jang m-emberi foantuan kepada sidpIpv" p e rt®han sekunder.

pertalian sekunder i n f « a la h

fung) hanja clil-enfl' duTfektn'” TW> <primSrc A nkn tiV

Ankniiphmgen d i p a n d a n g s e h L ? • ini '’prin'a,'catau „Grui:danknUpfungen”. (T .P^okok1IdasaiT, 71pp ’'>r'S SC*le '' t«r hubungan- hukum jfn g * X ‘mi setjara langsung dan dalam keseluruhannja (uitputtend) Akan tetapi mungkin pula lingkungan-kuasa dari sesu2 “telsrf huk™ mi dibataskan hingga hanja setjara tidak - langsung m o n t u

lain U n g " d S , !Jerla^U- ? en? fn bantllan daiipada suatu faktor orang atau hpnrl h’SC lU1]al(,e f^aU ’'derivative Ankniipfmig” kum la ii^ a n t t , bersangkuta,n *Pertautkan kepada stelsel h i tai dapat dXh,? ^ mendJ,atii belkuasa i"i- Sebagai faktor*enpatkonvak„ h T ! m '' Tt ”lpat ting«al' temPat berada,

k u to ternMl n t t Ua ’ ,em,Pa P018,11511'183". tompat delik bersang.Kutan, tem pat peikara diadjukan dsb. :n)

Titik- pertalian prim er dapat diibaratkan seperti im p mwn

S ” d f l K T Per,T , a' "> T iW pertaIia” sekuntfei ini - dapat diibaratkan se-olah- memberikan „extra contact”

27) M enuru t penulis- Inggeris, a.i. C h e s h i r e , h 5 dst ■ W n l f fh. 9 D i c e y - M o r r i s , h. 3 dst. ' ^ ' W ° ' * U

-’«) V a n Z e v e n b e r g e n L ihat H PI, 1 no. 14. Bdgk. S c h m i t -t h o f f : Since it would therefore be correct to assert tha t theproblem o f connection coincides w ith that o f the choice o f law, it has becom e custom ary to use these term s interchangeably” (h. 48,49)!

- 9) L ihat perum usan dalam H ukum A ntargolongan, h. 4930) F r a n k e n s t e i n , I, h. 49 dst.

) Istilah „sekunder An-kniipfung” d igunakan pula dalam arti seperli ini, jakni dalam arti „ s n b o r d i n i e r t e r A n k n i i p f u n g ”, ad. oleh N i e d e r e r, h. 206.

83 istilah Inggris „points o f contact”.e m a i r e, H et recht in Indonesie, h. 183.

34

Page 37: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

dengan salah satu stelsel hukum jang d ipertau tkan hingga stelsel hukum inilah jang diperlakukan un tuk m enjelesaikan persoalan H PI bersangkutan. Faktor2 dan hal2 jang tu ru t te rd ap a t pada sesuatu persoalan H PI dan m enentukan hukum jan g harus dipilih ialah titik2 pertalian sekunder ini.

Titik2 pertalian sekunder ini karena sifa tn ja sebapai p np m enentukan akan hukum j ang harus_drgerlakukan, pernah diusul- kan untuk disebut pula’ dengan is tilah : Titik t au t n ft n <vn -t u” . 34)

Nam paknja W o l f f teringat pada titik perta lian sekunder ini tatkala m em berikan perum usan „points of contact” sebagai b e r ik u t: „In every set of facts one or m ore circum stances are present that may serve as possible ,,tests” fo r the determ ination of the applicable law” . 30)

180. Pflrintiian TPS.

Ada banjak sekali titikrJ pertalian sekunder. K ita tidak dapat m enjebut semua titik2 pertalian sekunder ini. H anja jang terpen- ting akan diperin tji dibawah ini.

Akan kita saksikan pula bahwa ada faktor- dan hal2 jang sekaligus dapat m erupakan baik titik2 p erta lian p rim er m aupun titik- pertalian sekunder.

Dibawah ini disebut :

a. Kewarganegaraan.

K ew argangaraan daripada seseorang — seperti te lah kita saksikan diatas — dapat m enim bulkan suatu persoalan H PI. Ka- renanja k ew argan egaraan ini telah kita sebut sebagai titik p erta ­

lian prim er.

84) O l e h l j j o n j a M r G a d i s S o e k a h a r - B a d w i dan o leh P an ity a

’ 8 5 ) W o T f f t o . 91. D em ikian pula ada lah kesan jan g d ipero leh d a n u raian G r a v e s o n ten tang c o n n e c t in g fac to r” ini s e b a g a i: „E very S a l situation contains elem ents w hich, in re la tion to a given system o f conflict o f laws, indicate w hich legal system s o r system s sha ll ot m a y govern those facts” (h. 56). Bdgk. p u la E 1 1 e r. V o m E m fluss des SouvfriinitatsgcdflDikcns ctuf das IIR * h. 159.

35

Page 38: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Akan tetapi, disamping itu kewarganegaraan pun dapat m e­rupakan faktor jang .menentukan akan hukum iang harus diper- lakukan.

T j o n t o h : Apabila misalnja seorang W N Ljang berada dnuaiinegeri hendakjnm ikah maka _§ia£a£Ljnatedil jang harus dipenuhinja untuk dapat melangsungkan perkawinan tersebu t menurut HPI Indonesia adalah hukumi.e. hukum Indonesia. Hal ini d is e b a to T k ire n 'a soal siarat^ untuk dapat menikah ini termasuk dalam bicIangTTtafiiut_per sogeg l ^eseorang. Dan menurut azas-kewarganegaraan (nationali- teitsbegmsel) jang dianut oleh R.I„ hukum nasional daripada warganegara Indonesia tetap berlaku untuk ..status dan kewe- nangan” (den staat en de bevoegdheid”) dimanapun m ereka ber- ada (pasal 16 A.B. kalimat pertama).

Disini kita saksikan bahwa kewarganegaraan daripada sese- orang menentukan akan hukum jang harus diperlakukan dalam suatu peristiwa HPI.

Tjontoh- jurisprudensi.

Kemampuan untuk bertindak dalam hukum.

Tjontoh dari jurisprudensi Indonesia : Kewarganegaraan dari seorang perempuan Djepang, Fumie Jamada. m en-ntukan hukum jang harus berlaku baginja berkenaan dengan kem am puannia untuk bertindak sendiri dalam hukum. Sebagai ..openbare koon- vrouw” ia dipandang berhak untuk meminta palisemen atas per" mohonan sendiri, tanpa bantuan dari suaminja, K. Shiraishi Karena palisemen ini ia telah terlepas dari penjenderaan (gijze- ling) jang diadakan atas permintaan Veerappa Chetty, m erek Nana Moana Ana. Bantahan dari jang belakangan ini terhadap permohonan palit dari Fumie Jamada tidak dikabulkan. so)

Hukum perkawinan.

Kewarganegaraan dari seorang lelaki Tionghoa asing, Dji Djiri Sice, tukang mas dengan merek Fong Tjin menentukan hukum jang berlaku baginja berkenaan dengan perkawinan. Da-

30) T. 123/50.1, RvJ, M edan, 18-12-1925.

Page 39: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

lam tahun 1903 ia telah m enikah tja ra adat di T an d ju n g Balai dengan perem puan Chin Teng Lark (jang d ilah irkan d a ri p e rk a ­w inan tjam puran an tara T jin Toek N jan dan p e rem p u an Batak, Rendok). Tatknla D ji pulang ke T iongkok dalam tahun 1923 ia m enikah lagx dengan perem puan Chin A Kim ja n g kem udian dibaw anja pulang ke T andjung Balai. Is te ri pertam a m enggugat pem utusan dari perkaw inan karena p erd jin aan d isebabkan biga- mie dari Djie ini berdasarkan pasal 27 B.W. jan g m ulai berlaku un tuk para fihak s edjak 1 Mei 1919. Raad van ju s titie M edan dalam tahun 1926 beranggapan bahwa karena Dji bersta tu s asing, w arganegara Tiongkok dan bukan kau lanegara Belanda, hukum nasional Tiongkok-lali jang berlaku. Hukum ini m em bolehkan bahwa disam ping perkaw inan dengan is te ri uta-ma (hoofdvromv) diadakan lagi suatu „nevenhuw elijk” se tjara sah. Oleh karena itu hidup bersam anja dengan perem puan Chin A Kim bukan m e ru ­pakan perzinaan m ela irkan sah adanja 37)

H ukum liarta-benda dalam perkaw inan.

U ntuk hukum harta-Toenda dalam perkaw inan (huwelijksgoe- derenrecht) ini djuga dipergunakan hukum nasional daripada para fihak jang bersangkutan. Hal in i telah dipcrtimbang.kan pula se tjara tegas oleh H ooggerechtshof pada tahun I Jab. ■ ) B erlainan daripada Raad van Justitie D jakarta M ahkamah peia- dilan tertingg i ini beranggapan bahwa un tuk orang- asmg negara Tiongkok Tjiong A Liong dan isterin ja Liong A i y jan g telah m enikah di Tiongkok pada tahun 19 10 to U k u la h hukum harta-benda perkaw inan Tiongkok. S taatsblad 1855 n . tidak dapat d iperlakukan untuk m ereka ini. :!!’)

Kewarganegaraan merupakan faktor jang m enentukan akan hukum jang harus diperlakukan.

Lain tjontoh.Seperti dapat disaksikan dari lain tjontoh t e « r g * 8 a ™ “

m enentukan pula hukum jang berlaku untuk harta-benda dalam

37) T . 125 /55 , RvJ M edan , 8-10-1926.38 T. 144/288 , H gH , 25-6-1936, R vJ D jak a rta , 4-1-1935 p e n d ju a ian39) T u n tu la n p ihak T jiong A Liong agar su.paja d in ja tak an ba P J

„rrc-;i ian e d ilakukan oleh iste rin ja te lah d m ja ta k an a a p a id U e r i m a k arena kesalahan m engad jukan tu n tu ta n ( t i d a k m en u n tu sem uap ihak jan g te lah m engadakan transaksi b ersangku tan ).

37

Page 40: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

perkawinan (huwelijksgoederenrecht) karena ini dianggap te rm a ­suk s t a t u t personil. Tatkala seorang D jerm an, R ichard L iesendahl m enuntut pentjabutan „maritaal beslag” jang telah d ile takkan atas perm intaan isterinja, Louise Kessler, P residen R aad van Justitie Djakarta dalam atjara sidang kilat telah m enentukan dalam tahun 1927 ,0) bahwa BGB Djerm an jan g h arus diperlaku- kan untuk menentukan ada-tidaknja suatu harta-bersam a. M enu- ru t B.W. terdapat suatu harta-bersama bilam ana kedua fihak tidak membuat sjaratJ2 perkawinan. Tetapi m enurut B.G.B. tidak terdapat harta-beisama ini tanpa dibuat s jarat2 un tuk itu. Jan g terdapat hanja „Verwaltung imd Nutznieszung des M aim es” . K a­rena mempergunakan B.W Presiden RVJ semula te lah m engabul- kan tuntutan sitaan-marital oleh sang iseri ini (conform pasal 215 B.W. dan 840 jo 823 RV). Dengan berlakunja BGB D jerm an, maka tuntutan pen ja u an sitaan tersebut oleh sang suam i harus dikabulkan pula.

iSifaan marital-

Berkenaan dengan sitaan-maiital ini ada lain keputusan jan g menarik perhatian dan President Raad van Justitie Sem arang ditahun 1928. dari seorang Arm enia (Persia) N j. E.A. van Stralendorf telah meletakkan marital beslag. Suam inja, A.A. Galstaun jang arena e a iran i Pei’sia dianggap berkew arga- negaraan Persia, menga Ju an antahan supaja sitaan d itjabu t. RvJ m em per timbangkan bahwa tidak terang hukum kew argane­garaan a t a u hukum domicilie jang harus dipergunakan. B eliau mempertimbangkan bahwa sedjak Konvensi 1905 ten tang hukum harta-benda 1 enma prinsip jang pro nasionalitet. Seandainja kita hendak mempergu akan hukum nasionalitet dalam p e rk a ra ini, maka perlu disehdiki hukum Persia ini. T ern ja ta hukum Persia tentang hal i n i h u k u m Islam, jang tidak kenal harta- bersama. Menurut kesimp ' Hakim, setelah didengar seorang ahli, hukum nadonal Persia^ untuk orang2 A rm enia-N asrani in i menundjukkan ba w g Sara Persia-Arm enia jan g p erg i keluar negeri ini harus mempei a ikan hukum dari tem pat bam - nja („dat de Pers- rmeme , ie zich elders gaat vestigen, aan

40) T. 126/222, Presiden RvJ D jakarta, 12-6-1927.41) T. 127/350, Presiden RvJ Sem arang (M r A .E . van A rkel), 17-2-1928.

Page 41: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

statutum personale niets in dc m ars m edeneem l dan de m ailing zicli te gedragen naar liet tor plaatse heerschend re c h t”). Gals- taun selama hidupnja sedjak unuir 15 sam pai 49 tahun kini, selalu berada disini tanpa pernah pulang'- ke Persia. M 'snurut hukum , baik hukum nasional (hukum Persia) m aupun hukum dom icilie (Indonesia), ke-dua-nja m enghasilkan bahwa h u kum dari tem pat domicilie para pihak-lah jang berlaku untuk perkaw inan m ereka. Oleh karena itu dipergunakan hukum Indonesia. Dan karen a hukum Indonesia jang dipergunakan, terdapatlah liarta-bersam a (algehele gemeenschap van goederen) berhubung tidak d ibuat sjarat'-’ perkawinan. Tuntutan Galstaun tidak berhasil.

Disini kita saksikan bahwa Hakim telah m em pergunakan hukum domicilie karena m enurut pandangannja hukum nasional dari jang bersangkutan djuga berpendapat sedemikian. Inilah j a n g s e t j a r a singkat dikenal dengan istilah „ r e n v o i (penun- djukan kembali) jang kelak akan kita membahas setjara te rsen ­diri.

Hasil pendirian Presiden RvJ Sem arang ini adalah berlainan daripada Presiden RvJ D jakarta te rsebut diatas tadi.

Perwalian nnak setelah bertjcrai

Tjontoh pertama : suami-isteri Djerman.

K e w a r g a n e g a r a a n djuga m enentukan hukum jang harus di- perlakuan dalam hal perw alian anak-anak setelah pertjera ian , Setelah dilakukan pertje ra ian an tara H.D.A.E.A. Tra*e dan W L H Behre dihadap'an Raad van Justitie di P a d a n g oiei instansi peradilan ini ditahun 1933 - ) dipandang tidak^ dapat diadakan persediaan tentang perw alian sesuai dengan dalam pasal 229 B.W. W alaupun kedua pihak beiyendapat ba a d a la h sebaiknja djika anak W ilhelm H erm ann (jang ^ la h u k a n di Padang tetapi akan segera berangkat dengan ibunja Djerman) diberikan kepada pihak ibu seoagai walinja, RvJ ae p e n d a p a t dalam ketetapannja dari t a h u n 1933 bahwa tidaklal ada tem pat untuk m engatur perw alian sem atjam im Ha disebabkan karena hukum B.G.B. D jerm an jang h am s dipeigu-

42) T . 139/ 97 , RvJ Padang, 5 - 10- 1933 , dengan tjiatatan K. o 1 1 e w l j n .

39

Page 42: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

nakan. Satu dan lain karena suami — isteri ini _ adalah warganegara D jerm an dan anak jang belum dewasa d juga berstatus demikian. Oleh karena itu hukum D jerm an jan g berlaku untuk status personil jang bersangkutan. D juga d jika diperhatikan bahwa kekaulanegaraan Belanda d a rt anak iersebut akan hilang karena ia ini akan tu ru t dengan ib u n ja

danU S 1910m no denSan Pasal 2 sub 4edan S. 1910 no. 296) maka djuga terhadap anak in ilahdapat dianggap berlakulah hukum D jerm an. D an hukum Djerman ini menentukan bahwa dalam hal p e rtje ra ian d iutjap- kan karena perzmaan, maka pihak jang m enun tu t p e r tje ra ia n milah jang akan diserahkan pem eliharaan dari anak2. ,3) Bagi kita penting dalam hubungan pem bitjaraan sekarang ini bahw a

ewarganegaraan daripada pihak jang bersangkutan-lah jan g ipandang oleh Hakim sebagai faktor jang m enentukan hukum

jang harus diperlakukan.

Tjontoh kedua.

n d ^-eputusan Padang 1933 ini sesungguhnja berbeda dari-n t at^ r ^ t nr ? ° ° ggereChtsh0f ditahun 1932 « ) jang n a m p a k .nLta niph tL™ an P ^ an2an> walaupun tidak d isebut dengannjata. Oleh Kamar pertama dari Hoogpereohtehof dalam tah u n1932 ini telah diambil ketetaoan riSnm T ? v ♦chotvij cieidpan aalam perkara perw alian an ta raLuitnold F p h rp n h a ^ f , S Pertjeraian. P em banding Otto Darla Raad van Ti f+- c m n a 'bandingan atas ke te tap an dari-

lian atas anak= 'belum d e w m G « Z R*ah P * T '

atas pasal 229 B W SPm tapatl RvJ Sura'baja ini d idasarkan s pasal zzy B.W. Setelah m engutjapkan p e rtje ra ian a n ta rajUf P telah melakukan persediaan perw alian u n tu k

anak jang belum dewasa. Pem banding mengem ukakan bahw a oleh karena kedua pihak (suami isteri) 15) ini dianggap berk ew ar­ganegaraan Djerman sedangkan anak- m ereka ini, w alaupun

43) Berdasarkan pasal 1635 BGB. Pasal ini sudah d itja b u t o leh E hegese iz d a n 6-7-1938. L ihat E r m a n - A r n d t c.s H an d k o m m en ta r zum Burgerlichen Gesetzbuch, 2 ° dr., 1958, h . 1796.

44) T. 136/319, HgH, 1° K am er, ketetapan. 23-6-1932, ban d in g an k e te ta p anRvJ Surabaja 23-6-1932.

46) Sang suam i m em ang berkew arganegaraan D jerm an sed an g k an sang isteri m em peroleh status itu karena perkaw inan.

40

Page 43: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

karena kelahiran di Indonesia m erupakan kaulaneffam n,* i u warganegara D jerm an pula, maka persoalan hukum « i iini dipandang telah berlangsung antara para w arganeeara n w man. " !) Dan m enurut BGB D jerm an dalam hal te lah dilakukan* pertjeraian karena perzinaan daripada salah satu p ihak m aka ke­pada pihak penuntut jang tidak bersalah-lah diberikan tugas un ­tuk pem eliharaan anak2. Dalam perkara sekai'ang ini pe rtje ra ian telah dikabulkan oleh hakim karena tuntu tan daripada pihak pembanding. Maka tidaklah pada tem patnja apabila anak12 jang belum dewasa diberikan kepada sang ibu jang telah dinjatakan bersalah melakukan perzinaan. Hal ini adalah berten tangan de­ngan pasal 1635 BGB. Dan djustru pasal ini dari BGB-lah jang harus diperlakukan dalam perkara ini m engingat para pihak ada­lah berkewarganegaraan D jerm an dan soal perw alian term asuk statu t personil mereka.

Bagaimana pendirian dari Hooggerechtshof ? Kita saksikan bahwa Mahkamah peradilan tertinggi ini telah m em berikan per- timbangan mengapa dalam perkara2 status personil daripada oi-ang2 asing harus dipergunakan hukum nasional m ereka. Hal ini disebabkan karena ketentuan2 dalam pasal 3 dan pasal 16A.B. M enurut pasal 16 A.B. maka para kaulanegara Belanda jang berada diluar negeri mengenai status personil m ereka ini tetap berada dibewah B.W. Dan m enurut pasal 3 A.B. maka hukum perdata dan hukum dagang untuk orang2 asing dan para wargane­gara di Hindia Belanda adalah sama adanja, selama tidaklah di­tentukan berlainan oleh Undang .2 1T) Hal ini berarti bahwa djuga untuk orang '2 asing jang berada di Indonesia m engenai status personil mereka tetap berada dibawah hukum nasional mereka. Suatu ketentuan in terpretasi setjara analogis jang sudah sering- kali kita bentangkan diatas.

Dalam perkara sekarang ini para pihak m erupakan warga­negara Djerman. Soal2 jang berkenaan dengan perw alian term a­suk bidang status personil. Maka dalam perkara perw alian seka-

40) H al ini telah diketjam oleh L o g e m a n n karena dianggap ta tsn aniang keliru tentang dvvikewarganegaraan dim ana t e r s a n g k u t kekaulanega- raan Belanda, T . 1 3 6 /5 0 0 : „N ederlandsch O n d e r d a a n s c h a p en h e t H ooggerechtshof”. , ,

47) Peiriaikaian pasal 3A.B. sebenam ja tidak tepat dalam hubungan ini, Bdgk.K o l l e w i j n , dalam T. 126/143 idem, „Z ekerheid van R echt” .p ida to pem bukaan di G roningen (1936), h. 15, W e r t h e i m , T. 151/349, no. 2.

41

Page 44: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

ang ini jang harus dipergunakan ialah r p p tv karena itu tidaklah dapat dipertahanlin I w Djerman. Oleh mendasarkan sesuatu atas " ketetapan dari RVJ jangpembanding telah d L b !flkan A n dal am B'W' T untitaS diserahkan pemeliharaannia kensri, i ! T g . belum devvasa telah

Pada pokoknia k i t T Z v T Plhak 3J3h Fe^en b ach . bersamaan dengan pendirian fan ^ d f keputusan ini adalah keputusannja dari tahun 1933 jafg eTaf l,0| eht RvJ p ^ a n g dalam

j. ^ n g da,am hubungan pembMi “ ^ t M 'ting diperhatikan iaiah bah^a t J aM kita s<*arang ini oen- mempergunakan kewarganeeaiaa putllsan tersebut te lihhuk„„ ■ harus d.p J ^ g a , a « , Sebaga, jang ^

bahwa kewarganegaraan merumi™ Slkaa daripada hal- ini

SUat" fakto'' - n S t a h u C UUkTjontoh ketiga. 3ang bcrlaku-

w S Z Z g iS T * Pe™a'«" dari ' ,Oleh Raad van Justitie n ? DJe™ an teiaI? L l ^ Setelal’ 1939. •'*) Disini Hto ? Jakai'ta (Kamar cilPutuskan pula

mukakan diatas ta d i/c S -h 3” 'bahwa P e n d i r K !” 0 Pada tehu11RvJ Padang dalam ’tah. ggeret'htshof r?ai S SUt,ah dike- M a m menentukan siapaH, d il« h ™ ahu" *<■*“ anak2 b S , ' Jan« «tugaskan „fet|a,'a csama.oleh RvJ Djakarta, telah Setelah nej't en^an Pemelihara*nasional daripada pihak ber 6ntukan bahwa dabf131? 11 c,iutJaPkan

RvJ n x e m n erC ! ^ “^ t a n jang ^ hal ^ hukum adalah w S S S g - * * P a r ^ ^ 1™ ' ' o r a n r asing raenuru‘ ' « " ■Djerman. Ol J slIi™ i-isteri ini 16 A.B. mereka ini telan S"h ,la,am Da„ e„ a itu sel>agai kenaan dengan status hukum S dan Pasaldewasa termasuk pula Peraeliharaa„ m ereka ber-

M ate jang /,anis di JanS M u mdang2an Djerman. 1 erlakukan ialah te le m

an- dalam perun-

2 " * 9-9.t m „

Pendirian K™> 1 U w f j n adj bf Wal1 n o o t"n o w e r I: h. e i

B' daiam hubungan ini. U h a U o o I ^ tc'm &esi,ai dengan[2 "ool „o. 47 d ia t'^ u k m cnjcbut pasal 3

Page 45: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Ketentuan jang dipergunakan ialah paragrap 81 daripada U.U. Perkawinan Djerman jang bam dari tahun 1938 (Gesetz ziu* Vereinheitlichiuig des Rechts der Eheslieszimg in Lande Oes- terreich imd in iibrigen Reichsgebiet vom 6en Juli 1938). Dalam peraturan baru ini terdapat ketentuan jang toerlainan daripada pasal 1635 BGB jang seperti kita saksikan diatas, telah dipergu­nakan oleh Hooggerechtshof dan RvJ Padang sebagai dasar kepu­tusan mereka. Berlainan daripada ketentuan dalam BGB ini sekarang pemeliharaan anak tidak diserahkan kepada pihak jang tidak bersalah dalam pertjeraian. Jang mendjadi pegangan dalam ketentuan baru ini ialah kepentingan sang anak. Dalam setiap peristiwa pemeliharaan anak ini oleh ,,Vormimdschaftgprjcht” akan ditentukan pihak manakah jang paling baik diserahkan pemeliharaan anak bersangkutan demi kepentingan sang anak sendiri. Demikian pula RvJ Djakarta setelah mengutjapkan p e r­tjeraian antara kedua pihak harus menentukan pihak-m anakah jang lebih tepat untuk diserahkan pemeliharaan anak ini dengan berpegangan kepadak kepentingan sang anak sendiri. Dalam perkara ini kita saksikan bahwa anak bersangkutan baru berum ur 9 tahun dan memang sudah berada pada sang ibu. Djuga par!a pihak seia-sekata bahwa m enurut pendapat m ereka masing- se- baiknja untuk kepentingan sang anak sendiri-lah fcahwa sang ibu Njonja X tinggal di Wiesbaden, bekas isteri dari Y, diserahkan tugas pemeliharaan dari anak belum dewasa A.H.J.W.Y.

Tjontoh ke-em pat: suami-isleri Swiss.

Berkenaan dengan perwalian anak setelah pertjeraian ini menarik pula keputusan dari Raad van Justitie Padang dari tahun 1939 co) jang diumumkan pada halaman- berikut keputusan ter- sebut diatas. Kini jang bertjerai adalah suami-isteri warganegara Swiss jang telah menikah di W interthur, negara Swiss, pada tahun 1935. Dari perkawinan ini telah dilahirkan anak dibawah m nur bernama E. di Padang. Suami X jang bertem pat tinggal di Indarung m enuntut pertjeraian dari isterinja Y, jang defakto berkediaman di Padang. Pertjeraian ini dikabulkan dengan k^- putusan RvJ Padang 1939 berdasarkan perzinaan oleh sang isteri jang tidak melawan (referte). RvJ mempergunakan Schweizeris-

Page 46: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

ches Zivilgesetzbuch nada m w ,,menurut RvJ persoata ini “ ii karena■»le”. Djuga menuru, B.W. S t " „ ! ‘f • ’statatal” Pers* TCn ang 'tOuderlijke inaclit” atas anak h " akan ketentuan- Tjtok dikenal , perwalL„” 0 betrsa"gkutan (pasal 274).

. 0 eh RvJ Padang ^ <Wm B.W. kita.akan diserahkan ..ouderlijke mach ,P“ >enksaa'1 P^ak mana-

. . ^ kepu te a „ hli kila sa t .™ Pada pihak- bersang“ tan t " ”ah'va ^warganegaraan harus diperlakukan. *) Jang “ “ entukan hukum jang

Fjonloh kii-liiiio» warganegara Tiongkok.

kanTT Ja”Pg ^ ^ Uahwarbltk,m hukumsaudara- nerpm-«, . inenclahlkan bahwa ia .k0,, , oe01an£ hprira ttpuannja (anak- benar a • keihak mewakili

daripada anak* Hpi V ™ harus diPergunak;m 1 3 daIamnakan hukum perd^ ? " asa bersangkutan. K a r e n a ^ n3Si° naI hal salah satu dari s„n . Men« m B . W . T i n dlperSu’tua jang masih hidun af I™ '18161’1 meninggal niak ngkok c,alamsekarang ir, J t Z t * l i n ' f * ° ™ «masih hidup. Oleh karem 'jh ’ Perempuan .,i„„ Perkara

■adoptip mereka, s e b a g a T ,gu®atai' >™g diadi f ’ tlewasatutan warisan t er hadan„ ! UMuk ™ewka d ,i eh Saudaia™ * « itu, ternjata tida^! ^ ^ a U n g l ^ P6rka>'a t«n- _________ a t d»Pa' diterima memegang sebagian

•’*) Dallam perkara ' •

dj™gkTZktii)lrC™ ,ne,nPe)‘gunak-' n.8m*bmii nii„,i. m 'nn m i iu?nu..??Si'1

5S)

53)

44

setjara kn,.„ J aJuga telah Bangka wakt,’, ,■! Cna dJabatatl” a, ' nc'nPerguna.|f.

# 8$ kemfoiisef? p ih kmirul m <i itu I f asal 150 B-W. W e r th e ? * SS t i PCrtje- -n i s

M * * ie Putusand; ,dbm (no ] Te^ an8t , - t hatUr kpertjeraian. jihat puIf dengan per^ ' 354)- JamWtjatatan W e r t h f ' J53/499 ,! Vd,lan dan , |lm

T . I 4 4 / 1J R v r n - V m - M e d a n k e t ^ “ t e J a hW / I 5 , RvJ D jakarta, 8 - 3 . J 9 3 5 ^ P a n 22-9-1939,

Page 47: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

tambahan, hukum domicilie dari sioew am * i .ukan oleh Raad van Justitie D M a ^ ahun 1934 «») tatkala mcngadili perkara ivarisan dari Ho” Tin ^

n e e v i R r t 26f d,a ,i Sidjoek <Bmton> Ja»g semula adalah kaiib?11 Hh f ’ .tetapi karena kepergiannja ke Tiongkok untuk fseo iU\ anja tanpa Cembali, telah kehilangan status itu ( esuai ketentuan dalam pasal 2 sub 4e S. 1910 no 296) Pevviris

„Br f P U , , -di^ Hukum Tiongkok s e ^ a i ^ ? asional sipewans (dan djuga hukum domicilie, djika dipandang waiganegaraannja tidak dapat ditentukan dengan pasti) adalah

J g m engatur pewarisan budalnja. Menurut hukum perdata ^ongkok jang berlaku pada tahun 1927 (tahun meninggalnia pewans) maka anak- perempuan sudah diakui sebagai ahli-waris ietapi hanja mereka jang beium keluar dari keluarganja karena 1 eikawinan („est sortie (de sa i'amille) par le marriage”). Dalam Perkara kita sekarang ini penggugat- Njonja Ho A Piang —

janda Tjin Kie Kioen dan Njonja Ho A Hian — Djanda Lim mg Boen, sebagai anak- -perempuan dari almarhum sudah

keluar dari hubungan keluarga ajah mereka karena perkawinan, inaka oleh RvJ dipandang tidak berhak atas harta warisan! Karenanja gugatan mereka terhadap Tjia Teng Giauw jang dida- sarkan atas perbuatan melanggar hukum, karena harta pening- galan almarhum telah dilelang oleh jang belakangan in untuk Pelaksanaan tagihan hutang terhadap saudara lelaki daripada para penggugat.", telah ditolak.

Tjontoh lain ; warganegara Austria.

Pewarisan dari seorang warganegara Austria ditentukan nienurut hukum Austria. Walaupun pada tahun 1936 telah mem- buat testamen dihadapan notaris Mr. Chavannes di Bandung kemudian dianggap sebagai sail pembuatan testamen lain setjara lisan jang diutjapkan sebelum meninggalnja di Kotschen (Austria) pada tahun 1938. Berlakunja testamen setjara lisan ini didasa • kan atas ketentuan12 B.W. Austria. Tuntutan pihak isteri ' bertem pat tinggal di Bandung dan telah diberikan l^ T a t

°») T. 139/855 RvJ D jakarta, 1 >■ K am er 20 4 1 o n ,K o l l e w i j n . 4 -D 34. dengan tja tu tau

53 \

Page 48: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

100.000 Schilling Austria dengan testamen dihadapan notark ,nBandung tersebut tidak diterima. Demikian ditentukan oleh Raad van Justitie D jakarta pada tahun 19 3 9 . acl

b. Bendjera Kapal.

Disamping faktor jang dapat m enim bulkan hubungan H P I bendera daripada suatu kapal dapat m erupakan pula fak to r f a n s m enentukan hukum jang harus diperlakukan.

i T 1 ° V ° ? • Se,01.’ang nac'hoda kapal berkebangsaan Po land.a dan kapal jang d.kem udlkannja berbendera IndonesTa Serta dm U ik! oleh warganegara Indonesia. Segala soal jang fcu en a hubungan hukum antara kapal dan nachoda atau p e r a i l in “ d i

1’UkUm danpac,a tersebut, i.e. h l l„ ™

Djuga segala persoalan jang borsangkut-paut dengan kontrak= jang .d.adakan dengan kapal tersebut, misalnja kontrak-' pen„a?„kutan atau pemuatan barang, akan ditentukan menurut hukumdaripada bendera ini. 71) KUm

Disini kita saksikan bahwa faktor bendera adalah faktor ians

SStSSikS ’" kum ,a n g h a ™s ta 1 a k “

c. Domicilie,

Djuga dengan domicilie ini kita ketemukan ke,nungki»a„ jang serupa seperti halnja dengan kewarganegaraan ter " diatas. ldl

FaktordgmiciUg ini baik dapaffuerupakan faktor yAnn tjip tak a jU u ib u n g an JjP I m aupun dapat^m erupakan f a k t f f l ^ * m enentukan akan hukum ja n g harus diperlakukan.

T j o n t o h : Apabila- seorang warganegara Inggris hendal-111 elangsungkan_kon^a^dj£al-toeli dim ana ia berdom icilie m0V nuru t H PI Inggris komampuannja un tuk bertindak dafam TTukuni iril harus ditentukan o leh jiukum dimana ia berdomicilie. Demi- kian”pula halnja bilamana ia ini hendak menikah.

7°) rf 151/345, D jakaita , 4-8-1939,71) K etjiM i djika para P l,nik le,ah '“ enghendaJki lain,

54

Page 49: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Jang pei lu d iperhatikan ialah bahwa kew arganegaraan dari pihak- jang bersangkutan adalah jan g m enen tukan hukum iane harus diperlakukan. J s

Tjontoh ke-enam : w arganegara Arab.

Dalam suatu ketetapan lain jan g diberikan oleh Raad van Justitie D jakaita dalam tahun 1938 ;!-1) berkenaan dengan perw a­lian seorang anak A rab jang bertem pat linggal di H adram aut tidak diperhatikan segi- HPI-nja. W e r I h e i m drJam tja ta tan dibawah keputusan tersebu t m enjesalkan hal ini.- A dalah disa- jangkan bahwa RvJ sama sekali tidak m enjelidiki lebih djauh ten tang status para pihak, i.e. dari anak Talib bin D jafar bin Oem ar Balfas. Djika ia berstatus asing karena bukan kaulanegara Belanda maka persoalan perw alian ini harus d iperhatikan m e­nu ru t azas- H PI jang berlaku. Jang harus d iperlakukan m enuru t H PI Indonesia dalam hal perwalian ini ialah hukum nasional daripada anak belum dewasa bersangkutan. Djika Talib w arga­negara Hadram aut, m aka hukum H adram aut atas perw aliannja adalah jang harus diperlakukan. R upanja RvJ sama sekali tidak m enjinggung hal ini dan tanpa m em persoalkannja lebih djauh telah m em pergunakan sadja hukum Indonesia. •"■)

Hukum kekeluargaan ditentukan oleh hukum nasional.

K ew arganegaraan djuga m enentukan hukum jan g harus di- perlakukan dalam hal- jang berkenaan dengan hukum kekeluar­gaan. Diatas sudah kita ketem ukan sebagai tjontoh berbagai ke­putusan m engenai pertje ra ian perwalian se te la h tje ra i dan hubungan harta-benda dalam keluarga. Kita akan m em berikan sekarang ini berbagai tjontoh dibidang hukum kekeluargaan pada umumnja.

Pembatalan perkawinan.

Seorang lelaki warganegara Swiss, Y, pernah m enuntut pem ­batalan daripada perkaw inannja dengan perem puan M ary X jang

n i) T. J53 /299 , 1-dr. D jak. 30-9-1938, tja ta tan W e r t h e i m da n S o e - p o m o.

no) Bdgk. K etjam an W e r t h e i m pada T. 153/304 sub 1 dan 2 tja ta ta n S o e p o m o p u n t 1.

45

Page 50: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

karena perkawinan telah mendjadi w arganegara S w iss.r"'') Jan g dipergunakan sebagai alasan ialah keten tuan jang d ikenal dalam Code Civil Suisse. M enurut pasal 125 a ja t 1 dari B.W. Swiss ini maka dapatlah diadjukan perm intaan pem batalan daripada p e r­kawinan jang dilangsungkan karena alasan „Tauscluuig iiber die Ehvenhaftigkeit des andem Ehegatten”. 5T) Pada pokoknja alasan jang dimaksudkan ini ialah bahwa salah satu pihak m enganggap dirinja telah tertipu mengenai kehorm atan (Ehrenliaftigk,eit) dari- pada pihak jang lain. Dalam perkara jang d iad jukan dihadapan

. Hooggerechtshof pada tahun 1932 B») telah dikem ukakan h a l2sebagai b e rik u t: Para pihak telah m enikah di B andung padatahun 1929. Penggugat lelaki mendalilkan bahwa sebelum ia menikah dengan Mary X, ia ini sama sekali tidak d iberitahukan oleh isterinja itu, bahwa ibu Mary X ini tidak m enikah dengan lelaki dengan siapa ia pada waktu itu hidup bersam a dan jang oleh penggugat dipandang sebagai ,,stief-schoonvader”-nja. Tam- bahan lagi, penggugat m endapat tahu kem udian bahwa orang ini jang ia pandang sebagai orang jang terhorm at, te rn ja ta telah per- nah dihukum pen.dja.ra ! M enuiut faham 2 Swiss ia ini m em punjai |suatu keputusan jang hina terhadap dirinja. Djuga hal ini oleh *Mary X telah dirahasiakan terhadap penggugat. Atas dasar in i ia telah menuntut pembatalan daripada perkaw inannja m en u ru t ketentuan dalam B.W. Swiss. Dalam tingkat pertam a Raad van Justitie Djakarta telah mengabulkan perm ohonan ini dan perka- winan antara kedua pihak telah dinjatakan batal. Tetapi kem udian oleh Hooggerechtshof telah dibatalkan keputusan ini atas pertinv bangan bahwa m enurut sedjarah dan tafsiran teks ke ten tuanB.W. Swiss tersebut, istilah „Ehrenhaftigkeit” ini m elulu harus mengenai tingkah laku daripada orang jang menikah sendiri dan tidak daripada orang lain. Tingkah laku atau noda2 daripada anggota keluarga pihak bersangkutan tidaklah dapat dim asukkan

os) M engenai ini terdapat tja ta an dari R edaksi T . jang m engem ukakanbahw a pada w aktu perkawinan dilangsungkan n ja tan ja M ary X belumberkewarganegaraan Swiss.

57) Pasal 125 a jat 1 ini b e rb u n ji: ,/Em E hegatte k ann die Bhe an fech ten :1 . wenn er durch don andem oder n u t dessen V onvissen d u rch einen D ritten arglistig uber die Ehrenhaftigkeit des andern E hegatten getaiischt und dadurch zur Eheschhessung bestim m t w orden ist” .

58) T. 137/25, H gH ( le K), 29-9-1932.

46

Page 51: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

dalam pasal ini. Dalam perkarq sek a ran g ini ja n g d id ia iik -m alasan bukanlah noda- dari M ary X. M aka a tas d a sa r ini tidak lah dapat d im intakan pem batalan daripada perkaw inan .

Jan g pen ting bagi hubungan p em b itja raan kita ialah bahw a kew arganegaraan daripada para pihak-lah ja n g m en en tu k an h u ­kum jan g harus d iperlakukan. W alaupun perkaw inan bersan^- ku tan te lah dilangsungkan di B andung jan g h arus d iperlakukan atas perm in taan pem batalan daripadan ja adalah hukum Swiss jakn i hukum jan g d iten tukan oleh kew arganegaraan daripada p ara pihak. Disini n ja ta lah lagi fak tor kew arganegaraan sebagai titik perta lian sekunder.

Pengakuan anak

K ew arganegaraan djuga m enentukan hukum jan g h aru s d i­pe rlak u k an berkenaan dengan pengakuan anak (erkenning). Hukum daripada p ihak orang tua jan g m elakukan pengakuan adalah hukum jan g dipergunakan. Apabila pihak jan g m engakui ini adalah berkew arganegaraan D jepang, maka hukum nasional D jepanglah jan g dipergunakan. r>!') Djuga bilam ana anak-' jan g diakui ini dilahirkan di Indonesia. Dem ikianlah dapat kita saksi­kan dalam perkara jan g diadjukan oleh perem puan Hisayo Kawai. P erem puan D jepang ini te rn ja ta telah m elakukan pengakuan daripada anak- dibawah um ur bernam a H ien Siang Kawai alias The H ien Siang, Hien Lien Kavvai alias The Hien Lien dan Hien D jien Kawai alias The Hien Djien. „A jah” dari anak2 te rsebu t adalah The Ing Bian. Jang belakangan ini m em punjai is te ri sah N jonja H an Biauw Nio jang kini d iperkarakan oleh perem puan Hisayo Kawai, untuk d iri sendiri dan anak-nja te rseb u t diatas. Hisayo Kawai berpendapat bahwa ia sebagai p e iem p u an jepang dapat m elakukan pengakuan jang sah daripada anak- bersang­kutan, walaupun anak- ini telah d ilahnkan d an p a a ^ g „ a ja h ” jan g sedang t e r ik a t oleh suatu p e ita lian pei awi ngan seorang p e r e m p u a n lain. Jang m endjadi p o w p e is o a a n disini hukum m anakah jang sesungguhnja harus d iperlakukan untuk pengakuan anak ini. Apabila hukum B.W. jan g d ipeilaku- kan (m engingat anak2 ini dilahirkan di Indonesia c ai 1 o rang ua

50) T. 141/35I? HgH (le K.), 10-1-1935.

47

Page 52: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

jang dianggap „gevestigd” co) disini dan karena itu te rm a su k golongan lak ja t Europeanen dari ibu m ereka) m aka m e n u ru t pasal 283 B.W. tidaklah dapat dilakukan pengakuan d a rip a d a anak" jang dilahirkan dalam perzinaan (seperti haln ja sek a ra n g ini mengingat pada waktu anak2 ini d ilah irkan The Ing B ian berada dalam hubungan perkawinan dengan H an Biauw Nio). Tetapi bilamana hukum perdata D jepang jan g d ip e rg u n ak an , maka dapatlah dilakukan pengakuan ini se tjara sah oleh k a ren a dalam hukum Djepang ini pengakuan daripada anak- lu a r kaw in dapat dilakukan setjara tidak terbatas. K arena pengakuan in ip u n menurut hukum Djepang anak- bersangkutan te lah d itaroh d i­bawah kekuasaan orang tua (ouderlijke macht) daripada p ihak jang melakukan pengakuan itu. Raad van Ju stitie di S u rab a ja pada tahun 1932 berpendapat bahwa pengakuan oleh H isayo Kawai ini tidak dapat dilakukan oleh karena itu nvenurut hukum ia pun tidak mempunjai ,,ouderlijke m acht” atas anakJ b e rsan g ­kutan. Tetapi Hooggerechtshof berpendirian lain. Dalam hal pengakuan anak ini hukum jang harus d iperlakukan ialah hukum daripada pihak jang melakukan pengakuan itu (rcch t van de erkennende ouder)01) dan bukan hukum daripada p ihak anak- jang diakui. ff2) Djadi hukum perdata D jepang jang h arus d ip e r­lakukan. Dan djika demikian halnja maka pengakuan jan g te lah dilakukan oleh Hisayo Kawai sah adanja dan perem puan ini pula-

adalah j an§ mempunjai ,.ouderlijke macht.” dan k arenan ja

} r r c h ts h o f^ d S anpihaklerdaPat perbedaan pandangan antara- Hoogge-dilain pihak. HooggcrechtsW** ° g C m a n n dan K ,° f. C! 1 J.ntingsbesluit” dalam lfin artikan. istilah ini dalam artikata „Toela-roleh „Vergunning tot hanja *-geves,i8d” setelah mempe-istilah ini sebagai- h /w i f 11?8 • Gurubesar2 tersebut memandang woonplaats hebbend’’’V i n t - , ,'■*f hebben, mettcrwoon gevestigd zijn,

«i) Ketentuan serupa kita ^ ^ T ' 141/354 dSt' . . t ,dibidang HAG. Bdgk k e rJ t ^ pula sebagai hasil ju risp rudensi te tap 278, HgH 24-6-1915, T ] 24/ 1 T ' " / 482> H gH 16-1-1913, T . 105 /

62)

diDiaang HAG. Bdck A p u t ie °agai nasu278, HgH 24-6-1915 T K T ' H gH 16-1-1913, T . 105 /W. 707/12, RvJ Semarang , H g H 1 8-3-1926. J i i r i s p r u d e n ^ i tu a a n :

1 e K), 5-7-1877. W 1536/ iqtT i j ’ di us a da lam W. 742/ 14^ i Jurispm densi HPT:' T 9-9-1892, T . 69 /128 , H gH 9-9- 897.K o l l e w i j n ) , T. 140/48i 5p ’TRvJ Diakarta> ^ .4 -1 9 3 4 (tjatata"RvJ Dtaikartn 18-7-1934.

pokoknja sesuai d e l g l p a S g L T S T r s ( ^ M a n J i t J S

48

Page 53: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

adalah jan g dapat mewakili anak- dihadapan hakim. Hoo^ee- rech tshof m em pertim bangkan dalam arresln ja dari tahun 1935 bahwa m asalah pengakuan anak ini term asuk bidang personeel s ta tu u t dan oleh karena itu ditentukan oleh hukum nasional dari­pada pihak bersangkutan, dalam hal ini seorang perem puan Dje- pang jang tak m enikah. Pengakuan anak- bersangkutan jang te rn ja ta telah dilakukan dengan pen tjatatan didalam „B ijregister tot inschijving der acten van geboorten” pada Burgelijke Stand di Surabaja dianggap sah adanja. K etentuan hukum D jepang jang tidak m engenai pem batasan dalam hal pengakuan anak ini dan karena itu m em bolehkan pengakuan daripada anak2 jan g dilahir­kan dalam perzinaan sekalipun, dipandang tidak berten tangan dengan ,,openbare o rde’’ (kelertiban umum) dinegeri ini. ,13) Oleh karena itu ketentuan hukum Djepang ini boleh berlaku dalam perkara sekarang.

Bagi hubungan pem bitjaraan kita sekarang jang penting ialah bahwa oleh Mahkamah Peradilan Tertinggi ini dalam hal penga­kuan anak telah diperlakukan hukum daripada pihak jang m ela­kukan pengakuan dan bahwa hukum ini adalah ditentukan oleh kew arganegaraan daripada jang bersangkutan ini. Disini kita saksikan bahwa kew arganegaraan m erupakan faktor jang m enen­tukan pula hukum jan g harus dipergunakan. K ew arganegaraan kita saksikan sebagai titik pertalian sekunder.

S jarat- perkawinan.

Djuga sjarat- jang harus diperiuhi sebelum dapat dilangsung kan suatu perkaw inan term asuk bidang status personil clan m enuru t H PI Indonesia d itentukan oleh hukum nasional daxi pihak- jang bersangkutan. Kewarganegaraan djuga dalam lial ini m erupakan fak tor jan g m enentukan hukum jang harus ciipei a- kukan.

T jontoh pertam a.

Diatas sudah kita ketem ukan suatu keputusan d a n Hoogge­rechtshof pada tahun 1936 jang m enjinggung persoalan mi. )

) I.iha t tentang ini ketnudian, pem bahasan te rsendiii w i j n m engatakan tentang ini bahw a beliau m enjaanbu l <-ini d engan gem bira. ' i 174

°'4) T . 144/455 , 29-10-1936, bandingan RvJ M edan 17-7-1936 ; L <sub g p ad a B ab IV.

49

Page 54: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

S eo ran g pegawai Burgerlijke Stand untuk orang- Tionghoa di M edan telah dituntut karena dianggap telah rnelanggar ketentuan ’2 tentang T ja ta ta n Sipil (pasal 867 dst R.V.). Ia telah mclangsung- kan perkawinan antara orang2 Tionghoa jang benar s^udah dewasa (sudah memperoleh usia 21 tahun) tetapi belum berum ur 30 tahun, tanpa terbukti adanja persetudjuan daripada orang tua m ereka. Orang12 jang bersangkutan telah dilahirkan di Perak dan b e rtem p a t tinggal di Penang, keduanja termasuk wilajah F ede­ra te d Malay States. Orang2 lain jang dipersoalkan pula dalam perkara ini dilahirkan di Tiongkok dan oleh karena itu m erupa­kan warganegara Tiongkok dan bukan kaulanegara Belanda.

Hooggerechtshof mempertimbangkan dalam tahun 1936 cri) ini bahwa hukum nasional daripada para pihak jang hendak m e­nikah adalah hukum jang harus diperlakukan dalam hal ini. cn) Menurut hukum Tiongkok maupun m enurut hukum Inggris orang2 jang sudah mentjapai usia 21 tahun tetapi belum berum ur 30 tahun boleh menikah dengan leluasa tanpa m em erlukan p erse­tudjuan chusus daripada orang tua mereka. K etentuan seperti tertjantum dalam pasal 42 B.W. tidak terdapat baik dalam hukum Perdata Tiongkok maupun dalam hukum perdata Inggris. Oleh karena itu pegawai B.S. bersangkutan tidaklah melakukan suatu perbuatan jang dapat dihukum.

Jang penting dalam hubungan pembahasan kita sekarang ini ialah bahwa kewarganegaraan pihak2 bersangkutanlah jang te lah merupakan faktor jang menentukan hukum jang harus d iperlaku­kan. Karena soal- sjarat2 jang harus dipenuhi untuk d ap at menikah ini dianggap termasuk bidang statut personil, m aka berdasarkan prmsip kewarganegaraan, hukum nasional para pihak adalah hukum jang berlaku.

05) T. 144/455 HgH 29-10-1936. Putusan ini d isebut o leh V a n B r a k e l , h. 22 n. 2 dan oleh L e m a i r e (T. 148 /1 , p .h . 5 : »D e tenigverwijzing m het Nederlandsch-Indische in te rnationaal p rivaa- trecht”), berkenaan dengan soal „renvoi”.

06) Bdgk. pula p end iran HgH jang serupa ta tkala dim inia adviesnja m enge­nai perm ohonan dispensasi untuk m enikah berdasarkan pasal B -W. oleh p ara pihak orang- asing Tionghoa jang bertem pat tinggal d i G a m t, B o n n , E., „Huwehjken van minderjarige N ederlanders w ier oudlers in bezet N ederland wonen, alsmede een tweetal beslissingen en u itge- brachte adviezen betreffende disipensatie (artt 29 en 48 B.W .), d a lam T. 153/611, p.h. 613.

50

Page 55: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

T j o n t o h k < * d u a .

Dalam hubungan ini m enarik p u la suatu k ep u tusan daripada ta a d van Ju s tit ie di M edan pada tahun 1939. :Djuga perkara

nn b e rh u b u n g a n dejigan s ja ra t- ja n g h aru s d ipenuh i sebelum p erk aw inan d ap at d ilangsungkan. Seorang p e rem p u an w argane- g a ra T iongkok ja n g d ilah irkan di Tiongkok dan b e rtem p at tinggal di M edan, Law Sioe T jin te lah m ohon kehadapan Raad van Ju s tit ie d i M edan agar supaja kepadan ja d iberikan keleluasaan u n tu k m elangsungkan perkaw inan dengan lelaki w arganegara 'liongkok , T jong Hok, um ur 30 tahun, lah ir di Tiongkok dan tinggal di M edan pula. P erem puan ini baru b e rum ur 18 tahun. Perm ohonan un tuk dapat m elangsungkan perkaw inan ini d iadju- kan kepada R aad van Ju s titie jan g d iharapkan dapat n iem berikan k e te tap an ten tang „genoegzaam ” atau tidaknja su ra t- jan g di- ad ju k an oleh para jjihak un tuk perkaw inan itu (berdasarkan pasal 1 sub 1 h u ru f c alinea 3 d ari S. 1917 no. 129). Jan g m endjadi persoalan ialah bahwa perem puan bersangku tan baru berusia 18 tahun , djadi m asih dibawah um ur. A pakah perkawinan. in i d ap a t d ilangsungkan oleh pend jabat B.S. d i M edan ?

Raad van Ju stitie m em pertim bangkan bahwa un tuk w arga­negara Tiongkok jan g berada di Indonesia ini unenurut H P I Indonesia d ipergunakan hukum nasional m ereka. Dem ikian pu la m enuru t H P I Tiongkok d ipergunakan prinsip nasionalitet. Oleh kai ena itu dipei gunakan hukum perd a ta Tiongkok u n tu k m em e- tjahkan persoalan ini. M enurut hukum perda ta Tiongkok in i bila- m ana o iang- 'belum dewasa liendak m enikah, m aka perlu lah m ereka ini m em peroleh p erse tud juan daripada kedua o rang tua, a tau bilam ana salah satu daripada o rang tu a tidak bisa mem'beri- tahukan fceinginannja dari orang tu a jang lain seorang d iri (pasal 12, 980, 981 dan 1089 daripada B.W. Tiongkok). R vJ m em pertim - bangkan pula foahwa tidaklah d iterangkan lebih d jauh dalam hal- n ianakah sadja boleh dianggap bahwa salah satu dari o rang tua

c7) F' 150 /526 , R vJ M ed an 31-3-1939. T jaitatan W e r t h e i m . K ep u ­tusan in i te lah d isebu t p u la d a lam advies D irek lu r van Ju s titie kepadia pem erin tah dengan su ra t ttg. 4-1-1941 no. 7 /1 /1 b erk en aan d engan p erm o h o n an dispensasi u n tu k m en ikah b erd asa rk an p asa l 29 (2) B.W . o leh seorang le lak i T ionghoa jang d ilah irk an d i H en g h o a (T iongkok) d an be lu m tjukup 18 tahun . L iha t p em b eritah u an d ari B o n n o c T . 153 /611 , p.h, 613 n. 1.

51

Page 56: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

in i berada dalam keadaan liriai- h;™ > ^ .nja. Oleh karena itu bolehlah dianggap 'bThwa kehendak-ini dapat dilakukan seperti ketentuan? n .iT f islran ketentuan dan hukum Belanda jang s ^ T a i a ^ C ^ Indonosia bungan dengan ajah pihak pemohon nerPm r! ekarang ini hu- Tidak diketahui dimanakah sang aiah ini 2 h h terPutu<;.memang berada di Tiongkok Selatan t e t a n ^ f 113™ 13 berada- la litik waktu itu fperang dengan DjeDan<n ™ ? a i®na keadaan po- dapat diadakan hubungan dengan sang aiah h i f J erangIah tidak dapat m engutarakan pendapatnia m e n U J gga,la lni ticlaklah hendak dilangsungkan oleh anaknja ■ Karena if„P^ l a™nan . Jan2 adanja persetudjuan danpada ibu sadia Pe. rrmh lang§aP tjukup itu dikabulkan dan perkawinan dapat d ila n g su n k 3” perem puan

Ada persoalan lain jang telah disinggw pegawai B.S. dapat melangsungkan perkawin Apakahasing warganegara Tiongkok ? r vj b e r p e n d a * antara 01-ang- gangan kepada hasrat untuk mengediar ? oahuva berpe- (rechtszekerheid) dapatlah'diterim a (sesuai d pastlan hukum selama ini) bahwa orang- Tionghoa-asing praktek hukumbentuk-perkawinan (huwelijksvoim) s e n e r r r pat m elakukan turan tentang Registers B.S. untuk orang- m- ur dalam pera- Belanda. Hal ini dapat dipertanggung-diawah>ngh0a'kauIanegara bahwa anak-’ daripada orang- Tionghoa-asine • ■ PUla m en£ing'at disini akan mendjadi kaulanegara Belanda ss™ 1 karona kelahiran

Dalam hubungan pembitjaraan kita sekar ting bahwa kewarganegaraan pihak'- b e rsa n p ^ f adalah pen- menentukan hukum jang harus diperlakuka £ adalah jang m erupakan faktor jang menentukan hukum ia f Warganegaraan kan, suatu ticik pertalian sekunder. ng hari‘s diperlaku-

Pewarisan: warganegara Tiongkok.

K ew arganegaraan djuga mengatur hukum ian dalam hal pewarisan. Hukum nasional dari sinew? • * Us berlaku lakukan. Baru apabila ini tidak dikenal, d iperguna^ " 8 d ip er‘

”fiS) o i e j T w e r t h e i m diketjam perlimbangan darimrf-. D .berpendapat bahwa orang-’ T.onghoa-asing m em, ? T ,RvJ ini. Beliau SL& fc Belanda. fpasai 163 J.S.) djagaO osterlin gen -C ln n eezen kaiena pasal 163 I.s. i„i tid . ®an ”Vrccm d'c kau lan egara Belanda sadja (Bdgk. K 1 e i n t j e s l . terbat;is Pada I, h. 105, 108). ’ Slns,ellingen,.

52

Page 57: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Hal ini disebabkan karena kedua tjontoh ini te rm asuk „s a us person,1” daripada seseorangJ Dan menurut H P U a n ?

aku di Inggns status personil seseorang ini d iten tu k an oleh bp J*Um ng bei,Iaku Pada domicilienja. Azas-domicilie (domicilie-

daIam SiSti“ H PI

n a , Ha! ini kita saksikan misalnja djika kew arganegaraan dari 1 acla pihak jan g bersangkutan tidak ada atau tidak dapat diketa-

ui. Dalam hal ini prinsip kew arganegaraan tidak dapat d ip e r­gunakan, maka perlu dibantu oleh hukum domicilie.

Tjontoh Jurisprudensi.

T j o 11 t o h : Dalam tahun 1939 7-) Raad van Justitie M edan telah m em eriksa perkara perwalian setelah pertje ra ian an tara H einrich Gores, p lan ter bertem pat tinggal di Kwala Bingei dan M arielise Emma Helen Engel (perempuan D jerm an) jan g ibertem- pat tinggal di H erm ansburg (Hannover, Djerman). Setelah oleh R vJ diutjapkan keputusan pertje ra ian dari perkaw inan para Pihak dilangsungkan di London, maka perlu lah dilakukan perse- diaan perwalian dari anak- dibawah um ur Jorn D etlef P e te r R obert H elm ut dan Eva Dorothea Anina, anak m ana sudah berada pada ibu mereka di D jerm an, RvJ m em pertim bangkan bahwa dalam hal perwalian ini oleh H PI Indonesia d ianu t prinsip nasionalitet. Hukum jang harus diperlakukan karenanja adalah hukum nasional dari Gores (pihak suami pada sebelum saat p e r­tjeraian). Gores ini tern ja ta asalnja ialah seorang A ustria, te tap i kem udian sedjak perang dunia akan m endjadi w arganegara Po- iandia karena berasal dari rak ja t A ustria jang diserahkan kepada P olandia. K arena ia tidak m elakukan pendaftaran-kem bali pada w atkunja ia m endjadi apatride. RvJ m em pertim bangkan bahw a dalam hal ini prinsip kew arganegaraan m em perlihatkan keku- I'angan. Azas-domicilie hukum dari tem pat dimana Gores raene- tap, perlu membantu. Hukuin domicilie ini, hukum B.W. jang karenan ja dipergunakan. B erdasarkan keten tuan 2 B.W. ini, demi kepentingan anak2 tersebut, sang ibu jang tinggal d i Turners- trasse 329, K reis Celle, H erm ansburg, Hannover, telah diangkat sebagai wali.

T. 153/499 , RvJ M edan, 22-9-1939 dengan tja ta tan W e r t h a a m .

55

Page 58: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Jang pentmg-bagi hubungan pem bitjaraan kita ia lah bahw a tern jata hukum domicilie jang m erupakan fak to r ja n g m e n en tu ­kan hukum jang harus diperlakukan. Domicilie adalah titilctaut sekunder.

Disini kita saksikan dom icilie sebagai titik p er ta lia n311 u ^ ant*’ Pac*a waktu m em bahas m asa lah

h n p r.n lll - ®“!>sl?iair ini setJara tersendiri kita akan m em ba­has persoalan ini lebih d ja u h .7J)

d. Tempat kediaman.

ton Pu*a dengan tem pat kediam an (residence)atau t pat berada (place of sojourn): D isam ping fak to r- jangmelahnkan hubungan HPI, faktor* ini dapat pula m erupakan jang menentukan akan hukum jang harus d iperlakukan .

iMenU1Ut sistim HPI Jang berlaku di IndonesiaS i dam t Wr! ^ 0leh hukum nasi011al cJari sipew aris. A kanini tidak diketahui dariPada «l>ewarislial ia ini ariaioi-,— ^ a au m em ang tidak ada (dalammaka ianp niA se-01ang apatride). Dalam hal sedem ikian inidaripada te m m n &r ” akan hukurn Jang berlaku ialah hukum dunia 75) C Cl3111an sipewaris pada waktu ia m eninggal

Disini kita sak^iinn u i faktor jang menentuk™\»l ? , pat !<ediaman m erupakandalam persoalan HPI ? , .ukum jang harus d iperlakukan suatu titik pertalian sekundeJ ^ kodiaman ,,ie ru Pakan

e. Tempat kedudukan.

SUat«D'tadSan t a k m f aeral ^ ^ 7 ™ ^ k?dudukan daripadaHPI. Tempat kedudukan f r , meIahirkan M >«"gan=

merupakan titik pertalian p rim er.

; . •L ihat djuga tjontoh T 139/«s< « ,K o l l e w i j n jang siKfah £ ? ja f.arta ' “ K‘ 2U' 4 ' 1934- tja ta lan L ihat no. 183 dibawah. 1 d latas-Bdgk. T. 153/499, RvJ Medan 22 0 iuici ♦ u t r i r v t n o ­ose i <. „ ’ zz‘y-1939 tersebut d talas. D ju g a I . J39/855, RvJ U jakaita, 1 1 k 2 I U m n j - ,• *. . ir i i

i„ l zu-4-1934 dengan tja ta lan K o l l e w i j njang sudah kita stnggung diatas tadi

73)

7-1)

75)

56

Page 59: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

T etap i d isam ping itu, tem p at ked u d u k an in i dapat pu la m e ­ru p a k a n su atu fak to r jan g m enen tukan akan hukum ja n g h aru s d ip erlak u k an .

M en u ru t sistim H PI jan g d ian u t dalam berbagai n eg a ra 2 m aka te m p a t k ed udukan pusat adm inistrasi sesuatu badan hukum („siege social, centre o f adniimsTfalidiri^alatrjan^g^TrenehluHn hukum p e rso n il d ari badan hukum tersebu t. Tem pat kedudukan d arip ad a suatu badan hukum dipandang um um nja sebagai tem pat p u sa t ad m in is tra si ini. T,i) D isini kita saksikan bahwa fak tor jan g m enentukan hukum ja n g h arus d iperlakukan ialah tem pat pusat adm in istrasi badan hukum itu. Tem pat kedudukan hukum dalam hal ini m eru p ak an titik p e rta lian sekunder.

M en u ru t sistim H P I jan g d ianu t dalam negara- lain m aka hukum p e rso n il d a ripada suatu badan hukum ialah hukum clan- pada te m p a t d im ana badan te rsebu t d itjip takan (,,place of incor­p o ra tio n ” ). 77) T em p at d im ana badan hukum ini telah „incoipO ' r a te d ” lazim nja dalam p rak tek m erupakan pula tem pat dim ana badan hukum b ersangku tan berkedudukan. Dalam hal ini m aka tem p a t d id ir ik an n ja badan hukum ini adalah titik tau t penen tu akan hukum ja n g h arus diperlakukan.

Lain- titik- pertalian sekunder.

Selain daripada titik- perta lian jang telah disebut diatas m asih te rd a p a t ban jak titik-’ perta lian sekunder lam nja.

B eb erap a d ian ta ran ja kita akan sebut dibawah ini .

f. T em p at le tak n ja benda.

T em p at le tak n ja suatu benda (situs, lex i e t itik ta u t ja n g m enen tukan hukum jang h a iu s ipei a

N e g a ra 2 ja n g m en g an u t pend irian s e d e m i k o n S t a ^ l a i n n j a ’ italial, S p an jo l, A u stria , Swiss, P o land ta <ja n g te rb a n jak . ■ , n e e a ra A in e rik a L a tin sepertiM isa ln ja d i-n eg a ra2 A nglo-Saxon, b f ber^ | j (dengan sed ik it pe- B raz illia , P e n ., C uba , G u a te m a la d im Sovjet-i<iissia ^n jim p an g a n ). B dgk. W o l f f , h . ^ 9 J a n d o d r in e k e g e social, ce n tre p u la te o ri2 la in ja n g m en ek an k an k ep ad a „ «vnln ita fin n ”o f ad m in is tra tio n ’’ d an d o c trin e d a rip a d a „ccn tre o f ex p lo ita tio n .

57

70)

Page 60: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Untuk 'benda- tetap berlakulah ketentuan bahwa hukum clari tem pat letaknja benda bersangkutan adalah hukum jang berlaku un tuk hubungan2 hukum berkenaan dengan benda bersangkutan Terutam a berkenaan dengan hak'- jang bersifat kebendaan.

Tetapi bukan untuk benda- tetap sadja berlaku k e ten tu an ini. Djuga untuk benda2 bergerak dibidang H PI um um nja dite^ rim a bahwa hukum dimana benda bersangkutan te rle tak rneru- pakan hukum jang harus diperlakukan.

Pada zaman dahulu, dengan pengaruhnja ad jaran S ta tu ta azas lex re i sitae ini — sedjalan dengan perkem bangan feodalis- me dibataskan kepada benda2 tak-bergerak (Statuta Realia) U ntuk barang2 bergerak berlakulah k e ten tuan : „mobilia personam sequun tu r” . 78) Akan tetapi, sedjak S a v i g n y pada um um nia dalam H PI diterim a pula azas lex rei sitae ini untuk benda- b • gerak jang dengan toertambah m adjunja ekonomi keuangan dan tampil kem ukanja kapitalisme serta runtuhnja sistim feodalism p m endjadi bertam bah besar peranannja. ™)

T j o n t o h : Seorang warganegara negara X hendak mp letakkan hypotheek atas tanah berikut rum ah kepunjaan w ar? " negara negara Y dimana benda tersebut terletak. Hukum i a J harus diperlakukan ialah hukum dimana benda tetao hor kutan terletak. 1 ucrsang-

Hasil bumi daripada bekas perkefounan Belanda iane rV sionalir oleh R.I. telah diekspor oleh PPN-Baru P e rt . a" apakah PPN-Baru telah memperoleh hak milik atas hasH I?33" jang berada di Indonesia sebelum diekspor keluar negeri rt f1” 11 tukan m enurut hukum Indonesia dimana hasil bumi (h , n " bergerak) terletak, sesuai dengan azas „lex re i sitae” . s«) a ian g

Dalam tjontoh2 ini tem pat dimana benda- terletak m kan fak tor jang menentukan akan hukum jang harus cj?ru p a ‘ kukan. lPerla-

g. Tem pat dilangsiuigkannja perbuatan-hukum.

Tem pat dimana dilangsungkan suatu perbuatari-hukuin perd jand jian dibua't (lex loci actus, lex loci contractus) merup^ 1

78) Bdgk. keadaan untuk H A G, H ukum A ntargolongan, h. 95.79) Bdgk. S c h n i t z e r , I, h- 135.80) Bdgk perkara fembakau Indbnesia di Bremen. L ihat untuk ini, Chn

S e g i2 H ukum internasional pada nasionalisasi d i Indonesia, h. 23 ^ UsnJa

58

Page 61: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

lak u k an 101' ^ n,e,1C1,lukan akan hukum J'a »g h aru s diper-

T j o n t o h : Seorang W NI inem buat k o n trak di D jakarta dengan suatu perusahaan P e ran tjis ten tang b an tu an tehn ik Tem pat dim ana kontrak dilangsungkan (i.e. D jakarta) adalah rak to r jan g m enentukan ten tang hukum jan g h arus berlaku.

Seorang pedagang nasional m engadakan hon trak dj ual-beli dengan perusahaan asing jan g berkedudukan di S ingapura. K on­trak te rseb u t d itu tup di Singapura. A pabila tidak ada k e ten tu an - lain maka hukum jang berlaku ialah hukum S ingapura sebagai hukum daripada tem pat dim ana kontrak dilangsungkan.

Tjontoh dari ju risp ru d en si Indonesia : Lie Soe T jhe alias Lioe Ka D joen dan Lie Sam Tjin (nam paknja kedua--n ja o rang asing) telah m engadakan p erd jand jian pem indjam an uang jang d ibuat di Tiongkok. Hukum dari tem pat dim ana p erd jan d jian dibuat, hukum Tiongkoklah jang berlaku. D em ikian d iputuskan oleh Raad van Justitie M edan dalam tahun 1926. S1) D ilam balikan pula sebagai pertim bangan berlakunja hukum Tiongkok ini, ialah karena m enuru t „m aksud para pihak” m em ang hukum tem pat p e rd jand jian inilali jang m ereka kehendaki un tuk m engatur hu- bungan m ereka. 82)

K arena w esel2 dalam perkara Louis Zecha law an Sam uel Jones & Co (Export) Ltd. telah d itarik di London oleh George Mann Company Limited (London) dan endossem en- dilakukan di London, maka (disamping lain2 pertim bangan) sahnja_endossem en- dan akibat2 d'aripadanja, m enuru t H ooggerechtshof dalam tahun 1935 's'a) harus ditentukan m enuru t hukum Inggris.

Dalam perkara jang berkenaan dengan penghibnan daripada ben da- jan g te rle tak di Indonesia {terdiri d a ri a.i. suatu persil jang disengketakan) telah ditentukan oleh Presiden Raad van

8*) T. 124/404, R vJ M edan, 5-3-1926 dengan tja ta tan K o l l e w i j n .82) D aJajn tja ta lan K o l l e w i j n disetudjui pem ilihan hukum T iongkok

atas pertim bangan2 ini. Jang han ja d isajangkan oleh beliau ia lah bahw a R vJ te lah m em adjukan pertim bangan 2 jan g keliru ten tang pem isahan an ta ra jan g din'am akan bagian m ateriil dim bagian form il d a ri p a d a hu- kum a tja ra pem buktian.

> T. 144/3.92, H gH (1« K am er) 12-12-1935, bandingan RvJ D ja k a r ta (1 e K am er), 15-2-1935, T. 141/512.

59

Page 62: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Justitie D jakarta pada tahun 1938 «■*) balnva sahnja suatu su ra t nazar jang dxbuat di negeri Arab, harus d iten tukan m en u ru t

hukum Arab. Djadi untuk sementara te lah diterima bahwa hukum daripada tem pat dim ana naskah dibuat adalah jan g d ip e r­lakukan untuk m enentukan apakah perbuatan hibah bersane- kutan sah adanja. 8“) ' s

Sedikit sedjarah hukiun.

Ditei imanja ,,lex loci actus” dalam H PI sebagai titik tau t penentu ini sudah dikenal dari sed jarah perm ulaan perkem bangan tjabang ilmu hukum itu. *■) Dalam zaman abad perte- ngahan kita saksikan bahwa para saudagar te lah datang d a ri sana sini berkum pul di-pasar- atau gelanggang2 dagang jan g d iadakan di Italia. Orang- jang datang untuk m elakukan djual-beli berasa l daripada berbagai sukubangsa dan ko ta2. D i-tem pat2 inilah d i­langsungkan kontrak2 jang bersifa t H PI ini.

Sedjak semula orang hendak m em berikan p e rtan g aungan djawab mengapa hukum daripada tem pat dim ana k o n trak ^d ilan ? sungkanlah jang harus dipergunakan. Ada penulis jang mukakan bahwa tem pat ditutupnja kontrak ini dapat d i n a n r i J J sebagai „tam pat kelahirannja” daripada perd jand jian Dp™ demikian „lex loci actus” ini dianggap sebagai „lex o r i e j J ^ Ada pula jang mengemukakan bahwa dasar mengapa hukum h •’ pada tem pat dilangsungkannja kontrak harus diperlakukan karena para pihak bersangkutan dapat dipandang setjara d •> telah menghendaki untuk m enundukkan diri keoada h t ”1" jang berlaku ditem pat dilangsungkannja kontrak. 8*/ nukum

Ketjam an.

Lex loci contractus sebagai titik taut penentu terniata t i u m engalam i ketjam an2 pula. K etjam an2 jang diadakan i sedjalan dengan perkembangan selandjutnja daripada behidupan

*4) T . 148/75, Pres. RvJ D jakarta, 4-3-1938.ar‘) M engingat perkara ini diadjukan dalam atjara sidlang k i |a t ,

geding”)- (>,kort8G) N am p ak n ja dalam hal ini tidaklah dipergunakan „lex rei sitae”87) S c h n i t z e r , I, 128 dst.88) Bdgk. par-timbangan RvJ M edan, 5-3-1926 dalam T. 124/404 <

diatas. 4 te i* * u t

60

Page 63: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

ekonomi dan perdagangan internasional. Pada im emang b en a r kontrak* dagang terutam a b e r l a n g s u n ^ p w a r a n " a tau bursa-’ berkala jang diadakan atau dipabrtk da ripada

nkan . Tetapi sekarang ini dalam dunia perdagangan in t e r m sional segala sesuatu telah berobah. Kini kontrak'-’ da“ an i’ teru tam a terd jad i dengan tjara tertulis, dengan su ra t kawat telex atau telefoon. Dengan perobahan kenjataan ini m anfaat jang praktis daripada „hiikum tempat d itu tupnja kon trak ” 1 te lah

ng- Lagi pula dalam prakteknja seperti kita alami sekarang atjapkali adalah sukar sekali untuk m enentukan dimanakah sebe­n arn ja telah d itu tup suatu kontrak. Apakah misalnja d item pat dimana pihak jang melakukan -penawaran telah m engirim kan penaw arannja atau ditempat dimana tawaran telah diterim a ? Dalam stelsel- H PI berbagai negara tidak ada persesuaian faham tentang hal ini. „Tem pat ditutupnja kontrak” te m ja ta dalam prak tekn ja dikwalifisir setjara berlainan dalam sistim- H PI dar i­pada berbagai negara. 8!))

Lagi pula, ada suatu keberatan lain jang n jata te rhadap lex loci actus sebagai titik taut penentu ini.

Kerapkali terdjadi dalam praktek bahwa suatu kontrak di­langsungkan disatu tempat tertentu se-mata- setjara kcbfetulan sadja. Djika demikian halnja, maka kehidupan ekonomis daripada tem pat dimana kontrak dibuat sebenarnja sama sekali tidak ter- sangkut-paii't dengan peristiwa hukum tersebut.

T j o 111 o h : Seorang pedagang WNI melakukan kontrak dengan seorang pedagang Djepang mengenai pengleveran tran ­sistors oleh jang belakangan pada waktu para p ihak bertemu di H ongkong sebagai touris. Pengleveran daripada transistors jang dibuat di Djepang ini harus dilakukan pada tem pat kedudukan Perusahaan sipedagang WNI di Djakarta.

Disini sebenarnja transaksi bersangkutan tidak ada sangkut- Pautnja sedikitpun dengan hukum Hongkong. Transaksi ini hanja berkenaan dengan suasana kehidupan ekonomi dari D jepang dan Indonesia. Bahwa kedua pihak telah menutup kontrak di Hong- ’°ng hanja setjara kebetulan sadja.

) T e n la n g k w a lif ik a s i in i akan d ib a lia s se tja ra tersen d iri k em u d ia n .

61

Page 64: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Oleh karena itu sukarlah clapat dipertanggung-cljawabkan bahwa hukum Hongkong sebagai hukum daripada tempat dimana kontrak ditutup adalah jang harus dipergunakan.

Apa jang kita saksikan daripada uraian ini ?

Kita saksikan bahwa karena perobahan2 dalam hubungan2 dagang internasional pada waktu sekarang ini, azas „lex loci con­tractus” adalah tak dapat dipertahankan lagi setjara memuaskan. Azas sematjam ini kini sudah merupakan azas jang kuno dan tak dapat dipertahankan lebih lama karena keadaan- jang berobah.

Pada waktu sekarang ini „lex loci eontractusV hanja mungkin untuk dipergunakan torus dalam hal- dimana untuk hubungan hukum bersangkutan benar2 adalah essensiil bahwa kontrak ber­sangkutan ditutup pada tempat bersangkutan dan tidak lain Harus ada suatu pertautan setjara funksionil antara transaksi- jang berlangsung dan sistim hukum jang berlaku ditempat di­mana kontrak ditutup.

Dibidang perkawinan „lex loci actus” ini dikenal dengan istilah „lex loci celebrationis” , tempat dimana perkawinan di­langsungkan.

Menurut sistim HPI jang berlaku diberbagai n-Para terlPntn lexloci celebrationis” ini dipergunakan sebagai titik taut penentu untuk berbagai penstiwa hukum jang bersangkut-paut dVnean perkawinan.- ) Misalnja djuga persoalan tentang dapat d S kannja atau batalnja perkawinan jang telah dilangsungkan.

1. Tempat diluksaiiakan pei’djanctjiaii.

Salah satu faktor lain jang menentukfln u 1harus berlaku adalah tempajt dimana nerdimdiian rriU ^Um f ng tempat dimana para pihak]traktuil mereka. Tempat dilaksanakannja perdiand t n ^ ^ — is, ,„ c executionis) adaiah

90) M isalnja di-negara2 Anglo-Saxon.0 1 \ T o r I n r i r n n f r a r h i c i i_*01)

62

“‘ “wsui« ^igiu-oaxon.Lex loci contractus tidak berlaku untuk h n t „ m i, . , jang oleh Presiden R vj D jakarta dhnew m T llarta;beuda-perkawinan T. 126/ 222, Presiden RvJ D jakarta \ z 6 K m 'T n ,statlls Personil,K ew arganegaraan sebagai TPS, N o 180 sub ■ diatas, dibawah

Page 65: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

T j o n t o h : Seorang WNI mengadakan kontrak pembo- rongan dengan kontraktor asing dari luar negeri mengenai pembangunan daripada instalasi pembangkitan tenaga untuk pabriknja di Indonesia. Apabila tidak ditentukan lain maka dapat- lah diperlakukan hukum Indonesia karena pekerdjaan ibersang- kutan dilaksanakan disini.

■Seorang WNI jang berada diluar negeri memberikan surat- kuasa dagang kepada seorang asing jang berada di Indonesia. Pelaksanaan surat-kuasa ini harus dilakukan di Indonesia. Hu­kum dari tempat pelaksanakan perbuatan hukum bersangkutan adalah jang harus dipergunakan.Tjontoh jurisprudensi.

T j o n t o h dari jurisprudensi Indonesia: Antara para pihak jang berkewarganegaraan Djerman telah dilangsungkan kontrak kerdja jang dibuat di Hamburg dan ditulis dalam bahasa Djerman. Tetapi, walaupun kewarganegaraan kedua pihak adalah Djerman dan kontrak tersebut dibuat dikota Hamburg dan dalam bahasa Djerman namun Raad van Justitie Surabaja (sesuai de­ngan hakim dalam tingkat pertama) pada tahun 1936 °-) telah menentukan bahwa hukum Indonesia-lah jang berlaku karena kontrak kerdja tersebut njatanja telah ditudjukan untuk dilaksa­nakan di Indonesia dimana pihak madjikan (Firma G. Bantle) mempunjai tempat kedudukan dan tempat berusahanja. Berda- 4sarkan kenjataan ini telah disimpulkan pula adanja „maksud daripada para pihak” agar supaja perdjandjian-kerdja ini diatur oleh hukum Indonesia. '■'•'*) Djadi, dari pertimbangan hakim jang menekankan kepada „lex loci executionis” ini kita saksikan bahwa faktor tempat dimana perdjandjian dilaksanakan telah didjadikan faktor jang menentukan akan hukum jang dipergu­nakan.Lain tjontoh.

Tjontoh lain kita saksikan telah diberikan oleh Raad van Justitie Medan ditahun 1939!,J) berkenaan dengan kontrak- kerdja pula. Sewaktu para pihak (ke-dua-nja orang2 British- India asing) berada di India mereka telah merabuat perdjandjian- kerdja untuk melakukan pekerdjaan di Medan. Kontrak ini dibuat didalam bahasa Tamil dan antara lain memuat ketentuan

»2) T. 144/482, RvJ Surabaja (1 * K) 17-6-1936.03) H al ini sudah kita b itjarakan tatkala keputusan ini dibahas dalam rangka

pilihan hukum sebagai TPS. Lihat. dteitas no. 180 sub k.'»*) T . 152/428 RvJ Medtm, 9-6-1939.

63

Page 66: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Oleh karena itu sukarlah dapat dipertanggung-djawabkan bahwa hukum Hongkong sebagai hukum daripada tem pat dimana kontrak ditutup adalah jang harus dipergunakan.

Apa jang kita saksikan daripada ura ian ini ?

Kita saksikan bahwa karena perobahan- da lam hubungan- dagang internasional pada waktu sekarang mi, azas „lex loci coi - tractus” adalah tak dapat d ipertahankan lagi setjara memuaskan. Azas sematjam ini kini sudah m erupakan azas jang kuno dan a ' dapat dipertahankan lebih lama karena keadaan2 jang beroban.

Pada waktu sekarang ini „lex loci con tractu s’-’ hanja mungkin untuk dipergunakan torus dalam hal- dim ana untuk hubungan hukum bersangkutan benar2 adalah essen siii bahwa kontiak bei- sangkutan ditutup pada tem pat bersangkutan dan tidak laim Harus ada suatu pertau tan setjara funksionil an tara transaksi- jang berlangsung dan sistim hukum jang berlaku ditempat di­mana kontrak ditutup.

Dibidang perkawinan „lex loci actus” ini dikenal dengan istilah ,,lex loci celebrationis” , tempat dimana perkawinan di­langsungkan.

Menurut sistim H PI jang berlaku diberbagai negara terten tu lex loci celebrationis” ini dipergunakan sebagai titik tau t penentu untuk berbagai peristiwa hukum jang bersangkut-paut dengan perkaw inan .0u) Misalnja djuga persoalan tentang dapat diibatal- kannja atau batalnja perkawinan jang telah d ilangsungkan.9J)

1. Tempat dilaksanakan. perdjandjian.

Salah satu faktor lain jang menentukan akan hukum jang harus berlaku adalah t empat dimana perd jandjian dilaksanakan, tem pat dimana para pihak harus menunaikan kewadjiban '2 kon- trak tu il mereka. Tempat dilaksanakannja perdjandjian (lex loci solutionis, lex loci executionis) adalah titik pertalian sekunder pula.

90) M isa ln ja d i-negara- Anglo-Saxon.o i) L ex loci con tractus tidak berlaku u n tu k hukum harta-benda-perkaw inan

ja n g o leh Presiden RvJ D ja k a r ta dianggap term asuk sta tus personil, T . 126 /2 2 2 , P residen RvJ D jakarta , 12-6-1927. L ihat diatas, d ibaw ah K ew arg an eg araan sebagai TPS, N o. 180 sub a.

62

Page 67: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

T j o n t o h : Seorang WNI mengadakan kontrak pembo- rongan dengan kontraktor asing dari luar negeri mengenai pembangunan daripada instalasi pembangkitan tenaga untuk pabriknja di Indonesia. Apabila tidak ditentukan lain maka dapat- lah diperlakukan hukum Indonesia karena pekerdjaan bersang­kutan dilaksanakan disini.

'Seorang WNI jang berada diluai negeii membeiikan ©uiat- kuasa dagang kepada seorang asing jang berada di Indonesia. Pelaksanaan surat-kuasa ini harus dilakukan di Indonesia. Hu- kum dari tempat pelaksanakan perbuatan hukum beisangkutan adalah jang harus dipergunakan.Tjontoh jurisprudensi.

T j o n t o h dari jurisprudensi Indonesia : Antara para pihak jang berkewarganegaraan Djerman telah dilangsungkan kontrak kerdja jang dibuat di Hamburg dan ditulis dalam bahasa Djerman. Tetapi, walaupun kewarganegaraan kedua pihak adalan Djerman dan kontrak tersebut dibuat dikota Hamburg dan dalam bahasa Djerman namun Raad van Justitie Surabaja (sesuai ce- ngan hakim dalam tingkat pertama) pada tahun 1936 • -) telah menentukan bahwa hukum Indonesia-lah jang berlaku karena kontrak kerdja tersebut njatanja telah ditudjukan untuk Maksa- nakan di Indonesia dimana pihak madjikan (Fnma . an mempunjai tempat kedudukan dan tempat beiusahanja. ei a sarkan kenjataan ini telah disimpulkan pula adanja , ,m a’su daripada para pihak” agar supaja perdjandjian-kerdja im diatiu oleh hukum Indonesia.!,;t) Djadi, dan pertunibangan h a k im ja g menekankan kepada „lex loci executionis ini i a. s n v bahwa faktor tempat dimana perdjandjian dilaksa v* didjadikan faktor jang menentukan akan hukum jang p nakan.Lain tjontoh.

Tjontoh lain kita saksikan telah diberikan oleh Rajid1 van Justitie Medan ditahun 1939 »>) bafcenaan deagankerdia pula Sewaktu para pihak (ke-dua-nja oiang Biitish India asing) berada di M i a mereka telah m en,buat P - d J » kerdja untuk melakukan pekerdjaan di Medan. Kontiak im dibuat didalam bahasa Tamil dan antara lam memuat ketentuan

pilihan hukuin sebagai TPS. Lihat ditntas no. 180 sub k.91) T. 152/428 RvJ M edan, 9-6-1939.

63

Page 68: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

dari pihak Pana Lana Tina Ramasami alias Eramasami Chettyar (dahulu penggugat kini terbanding) „Saja djandji pergi ke Medan, kedei toean Rawana Mana Rawan Mana boeat pekerdjaan men- djalankan wang sam-pei lamanja tiga talioen...............” !)5)

Raad van Justitie Medan mempertimbangkan bahwa dari ke- njataan dapat dilihat bahwa para pihak tidak telah menghendaki sesuatu matjam hukum jang chusus untuk perdjandjian-kerdja mereka. Berhubung dengan itu maka diletakkan titik berat atas kenjataan bahwa perdjandjian ini melulu mengenai pekerdjaan jang akan dilakukan di Indonesia dalam suatu perusahaan me- lepas uang dari pihak madjikan jang untuk beberapa lama -sebelum dibuatnja kontrak sengketa sudah berkedudukan dan berdjalan di Indonesia. Pemberhentian jang diberikan oleh madjikan jang kini diperkarakan (Ramanathan Chaettyar, berda- gang dibawah merek Rawa Mana Rawana Mana di Medan dan dengan merek Navenna Lena Rawana Mana di Karei Koedi) djuga telah dilakukan di Indonesia. Oleh karena itu Raad van Justitie telah menggunakan hukum Indonesia untuk menjelesai- kan perkara ini.

Disini kita saksikan bahwa faktor tempat dimana perdjan­djian dilaksanakan adalah titik pertalian sekunder jang menen­tukan hukum jang harus diperlakukan.

Pendirian daripada hakim dalam tjontoh2 jang telah disebut diatas ini adalah sesuai dengan keputusan- Jainnja. Boleli dikata- kan adalah jurisprudensi jang tetap di Indonesia bahwa atas perdjandjian kerdja jang akan dilaksanakan di Indonesia diper­lakukan pula hukum Indonesia.00)

Dari tjontoh- ini kita saksikan bahwa tempat dimana pei’- djandjian dilaksanakan merupakan faktor jang menentukan hukum jang harus berlaku.

05) U ntuk naskah l e t s perdjandjian ini, lihat T. 152/431. .9B) Dipertimbangkan setjara tegas a.i. dalam keputusan2 Hgl-I 24-5-1917.

T 109/68. menguatkan RvJ M edan, T . 104/202, I.W. 2515, RvJ D ja­karta 23-1-1914, T. 104/412. Setjara diam 2 T. 135/503, Res. rr D jakarta2 5 1931 ■ T 140/699, Res. rr. Surabaja 20-1-1934; T. 146/360 Res. rr D ja k a r ta 4-5-1937; T. 151/70 Resger. D jakarta 17-5-1938, RvJ D jakarta 12-5-1939 'Bdgk. tjatatan J.H. W a g e n e r pada keputusan ini. T. 152/434 dst.

64

Page 69: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

► Ketjam an.K ebera tan1'- jang serupa seperti te lah d iad ju k an te rhadap

„lex loci contractus” dapat d iadjukan pu la disini.

Sedjak zaman V o n S a v i g n y o rang te lah bei-pegangan kepada ,,lex loci solutionis” ini sebagai titik ta u t p en en tu . °7) Sebagai dasar djuga dikem ukakan 'bahwa bolehlah dianggap bah ­wa para p ihak jang m elangsungkan p e rd jan d jian se-olah2 te lah m enghendaki sendiri bahwa hukum daripada tem pat pelaksanaan p e rd jand jian m erekalah jang b e r la k u . !>s) T e tap i t ja ra bei’p ik ir sedem ikian ini tidaklah m em uaskan. Keinginan para pihak sema- tjam ini hanja m erupakan suatu fictic belaka. on)

H an ja dapat d ipertanggung-djaw abkan pem akaian daripada hukum tem pat pelaksanaan p e rd jan d jian ini b ilam ana m em ang essentiil un tuk hubungan hukum bersangku tan bahw a pe laksana­an pe rd jan d jian dilakukan pada tem pat be rsangku tan sad ja dan m elulu d item pat itu sadja. Lex loci solutionis ini m erupakan suatu pengertian jang tidak m udah un tuk dikwalifisir. Oleh berbagai stelsel hukum p enger tian ini akan dikwalifisir se t ja ra berlainan.

A tjapkali „lex loci solutionis” in i p un adalah be rsam aan dengan tem p a t kediam an dari pihak atau tem pa t k edudukan da ri­pada perusahaan ja n g bersangkutan . Dalaan hal sedemikian. ini tidak p e rlu digunakan ,,lex loci solutionis” sebagai fak tor jan g m enentukan hukum , karena sudah dapat d iten tukan hukum jang berlaku ini dengan faktor12 tem p a t ked iam an atau tem p a t kedu ­dukan itu.

Pem akaian „lex loci solutionis” sebagai titik pe rta lian sekun­d e r ini adalah sedjalan dengan usaha un tuk m en tja ri akan „zetel (Sitz) daripada tiap2 hubungan hukum . Kita m engetahu i bahw a V o n S a v i g y telah m em perkem bangkan tjaxa b ekerd ja sedemikian ini sebagai reaksi atas teori s tatu ta. lon)

&7) H P I, I no . 137.os) B dgk. p ts .2 te rse b u t d ia tas.°°) Bdigk. tc n tah g „fic tieve bedoeling van p artijen ” d ib id a n g H A G ini,

H u k u m A n ta r-go longan , h. 50 dst. L ih a t a .i. T . 1 3 2 /4 1 7 R es. G e r P a - d ang , 9-5-1930 ; R vJ P a d an g 14-8-1930 ; T . 1 4 8 /7 6 4 , L d r. M a la n g 16- 2-1938, H .K . no . 1 ; H . 1957, 1 — 2, h . 137, P .N . D ja k a r ta 21 -11-1956 ,H .K . no. 26.

ioo) H P I, I no. 137.

65

Page 70: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

1 tei djadinja perbuatan mejanggai- huktini.

s s . i t , s i r **«■»

™ > ™ g s T \ Z L T ™ g ^ e n a a „ 7 e “ J„an“ T ' ^ ' 11" P *unlawful act. tort) Paria \ f t,ge claatl, uneilauhL’“"m"11' la n 8Perbuatan melanffffar i \ P 8 1 ,a tan 'J matjam ini t l andlluig- Meti commissi”) adalah V i ? ltU dilakukan „T atorM P ,dlniana harus c!ipel-Iaku,kaandaiah * * « ■ Jang . . e n ^ C ^ ' ^

Jallg

S S ? f Jnelawan Pedagang" s S ™ , kapal, di Stogapurfdan ; L,0ndon tetapitersebut. J«»>) P e i 'b u s f^ ^ tldak berhak untuk n t ? 10 kePada

r mo‘°"

Limited) karIn, ,■ he United States R , , ^ ' * dlrikan m enurut Penggelanan „ Ian£gaP telah m ehfcnt ?61’ E xP°rt Company

d im ga “S S t T m t V n H '*!1Pula tuntutan ganljm J:” !® 31' 'hukum itu cl,).,)',™'" todonesia, konkurensi t ju ? a " f (p ? ^ s“ « n g Ind a d™ s i n ? ” ' Demlki“

g (Pemruan Pentjetakan al S ur " g ? U a kareM ^ r „ , isaI„ _ ........ ^ “ - O . D J e p a u g , •

102)

66

misaJnja perkara2 w djaksmm Agung dan LAApTm jaj'a’ 'ndev itn . u

S S T f Sin8apura, i?orwc"?adi,,kan fihi,k K<>HP , kaf dl 5Upa' a dcv ezen T S,U’ B " r™a d'an m ' , m dihadapan H P M no. 2 sub m. ,e* n dapat diperoleh J L S " ^ 0n8 'erhadap L 141/486, HgH i 4-2-J 93 c , 0,1 0,eh R '- Lihat

3" ^ ^ , , (asno. 1 7 4 s u b k _

Page 71: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

jang dilakukan oleli orang India Sjechmaidin Radjamaidin Kither Mohamad Maricar) dari Palembang telah diselesaikan nampaknja menurut hukum dan pada tempat dilakukannja perbuatan me- langgar hukum itu (Indonesia).

Tetapi amat disajangkan bahwa dalam keputusan jang dise­but ini para hakim semuanja tidak memberikan pertimbangan- chusus mengenai hukum jang telah mereka pergunakan.

Sedikit sedjarah hukuin.Apa alasannja untuk memandang tempat dilakukannja suatu

perbuatan melanggar hukum ini sebagai faktor jang menentukan hukum jang harus berlaku ? Pada pokoknja kita saksikan per­kembangan jang serupa seperti pada „lex loci actus” tadi.

Pada a wain j a setiap orang bersangkutan dibiarkan dalam hukum suku-bangsa atau golongan mereka masing'-’. Hukum ini pun berlaku djika telah terdjadi perbuatan2 melawan hukum. Apabila terdjadi perbuatan melanggar hukum maka timbullah kesulitan hukum manakah jang harus dipilih djikalau hukum daripada sipembuat dan hukum daripada sikorban adalah ber- lainan. 103)

Untuk mengatasi kesulitan ini telah dipergunakan tempat di­mana terdjadinja perbuatan melanggar hukum itu sebagai faktor jang menentukan hukum jang harus diperlakukan. Pemakaian faktor penentu seperti ini mempunjai pula suatu keuntungan praktis oleh karena pada umumnja kompetensi hakim untuk mengadili perkara bersangkutan djuga djatohnja bersamaan dengan tempat dimana dilakukan delik ini.

Kesulitan- dalam praktek dapat timbul bilamana lebih dari satu tempat adalah tempat dimana delik dilangsungkan, misalnja pada suatu delik jang dilandjutkan (voortgezette handeling). Tiap2 tempat dimana telah terdjadi bagiani- dari perbuatan’- melang'gar hukum ini merupakan „loci delicti” .

Dalam praktek kita saksikan bahwa djuga tempat dimana telah timbul -kerugian oleh perbuatan melanggar hukum dipan­dang sebagai tempat dimana perbuatan itu telah dilangsungkan. Sebenarnja tempat dimana timbul akibat- kerugian ini lebih baik dibandingkan dengan „loci executionis” , tempat dimana per­buatan telah dilaksanakan.

103) Dibidang HAG jang berlaku di Indonesia hingga sekarang pada p er­buatan melanggar hukum um um nja dipergunakan „liukum daripada fihak jang berbuat” (recht van de dader). L ihat H ukum A ntargoloncan h. 97 dan jurisprudensi jang disebut disana.

67

Page 72: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

j. Tem pat terdjadinja perbuatan m oi1 m elanggar hukum.

Diatas telah kita saksiknn tempat clilakukannia perbuatan * . WLa Pac*a perbuatan- hukuin contractus) adalah faktor iang mp61Se* lex Ioci actus> lex l°ci Sekarang ini kita saksikan adania w Uk?n hukum j £nS berlaku. ralel dengan itu sepandjang b e r k p ^ ^ 311 Jang b° rdjalan pa- melanggar hukum (onrechtmati«*p / n ,dengan Perbuatan- jang unlawful act, tort). Pada perbuatani- f • miei’laubte Handlung. perbuatan melanggar hukum itu rHioi , -lam lni tempat dimana lien commissi") adalah S t t o i i«„Laknka" ”Tato,t- lex '«ci harus diperlakukan. m enentukan hukum jang

T j o n t o h . Seorang exnortir i, j hasil buminja kepada maskapai p e r k a m i ^ ° ^ SIa menj erahkan angkutke London. Hasil bumi tersebut t i t 1 Norwegia untuk di- hukum tidak diserahkan kepada alamat setjara melawantelah diturunkan dari kapal di Singapura J i I L ° ndon tetaPi pedagang- Singapura jang tidak berhak unfui ° kepadatersebut. 101) Perbuatan ini adalah nerhnat mejler«na barang Perbuatan melanggar hukum tersebut tplah” t ^ r " S * 1 hukum - pura. Maka dalam hal ini hukum SingaDurHS, • J,adl dl SinSa- untuk mengadili perbuatan melangga, hukuni “ rsebSr'gU"ak"n

Tjontoh Jurisprudensi Indonesia • t w * * , .Company of Canada Ltd terhadap reparatenr ° v ! ^ ° ld Motor dianggap telah melakukan perbuatan m e w L I jang memasang merek didepan bengkelnn p ^ V Um dengan menurut hukum Indonesia. T u n lu lV ’ l r , Scrvice” ^ \ \ l \ kan terhadap fill at LI pei’USahaan di New" Ynrt n 'lr !-i3ang diudj u* hukuin Amerika (The United States Rubbe’- leilurutLimited), karena dianggap telah nieJakuk™ in,1 . 1 , lml3anypeilggelapan, nampaknja diselesaikan menurut°hukina TUi entang dimana perbuatan melanggar ' hukum itn n Inc*onesia,pula tuntutan ganlirugi oleh seorang i n d l d ° emi ki an konkurensi tjurang (peniruan pentjetakan al-QUr'”f di'Djepang"

dimana fihak Kc- tuntutan dihadapan

Hp'ri"»o.TSpb m: ..........

1 0 2 ) T. 141/486, HgH 14-2-1935. Lihat diatas no. 174 sub k.

66

Page 73: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

jang dilakukan oleh orang India S jechm aid in R ad jam a id in K ith e r Mohamad Maricar) dari P a lem bang te lah d ise lesa ikan n am p ak n ja m enuru t hukum dan pada tem p a t d i lak u k an n ja p e rb u a ta n me- langgar hukum itu (Indonesia).

Tetapi am at d isajangkan bahwa dalam k ep u tu san ja n g d ise ­but ini para hakim sem uan ja t idak m em b e r ik a n p e r t im b a n g a n - chusus mengenai hukum jang te lah m ereka pevgunakan .

Sedikit scd jarah hukum.

Apa alasannja untuk m em andang tem p a t d i lakukann ja suatu perbua tan m elanggar hukum ini sebagai fak to r ja n g m en en tu k an hukum jang h a ru s be rlaku ? Pada pokoknja k ita saksikan per- kem bangan ja n g serupa seperti pada „Icx loci ac tus” tadi.

Pada awalnja setiap orang bersangku tan d ibiarkan dalam hukum suku-bangsa a tau golongan m ereka masing-. H ukum ini pun berlaku djika telah terd jad i p e rb u a tan 2 m elawan hukum. Apabila te rd jad i perbua tan m elanggar hukum m aka tim bullah kesulitan hukum manakah jang harus dipilih djikalau hukum daripada sipembuat dan hukum daripada sikorban adalah ber- lainan. 103)

Untuk mengatasi kesulitan ini telah d ipergunakan tem pat d i­mana terdjadinja perbuatan m elanggar hukum itu sebagai fak tor jang m enentukan hukum jang harus diperlakukan. Pem akaian faktor penentu seperti ini mem punjai pula suatu keuntungan praktis oleh karena pada um um nja kompetensi hakim untuk mengadili perkara bersangkutan djuga d ja tohnja ibeisamaan dengan tem pat dimana dilakukan delik ini.

Tiap2 tempat dimana telah terd jad i melanggar hukum ini m erupakan ,,loci c e c 1

Dalam praktek kita saksikan bahwa telah timbul kerugian oleh pe rbua tan fi;ianesungkan.dang sebagai tempat dimana Pe^ u a t a n itu tel febih baikSebenarnja tem pat dimana timbul akibal-Jte i g c „ e r .dibandingkan dengan „loci executioms , tem pat dimana i buatan telah dilaksanakan.

■•*) Dibidang H A G jang berijVu

S h (« c h t van de d a ta ) . Liha. Hukum A „lar8o lo „ 6a„,h. 97 d'an ju risprudensi jan g disebut disana.

67

Page 74: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

k. Maksud para pihak.

k a r e S ^ S e S r s b.“ iak"partijen, bedoeling van nartiien^ hprWi^ £ (autonomie van sekunder tersebut diatas j^n g ’ mfnHik " UtU£‘, I5ertalia"personil atau territorial Titik^ tan? f an pada lkatan-PU.a sebagai termasuk

(y®r ^in enis^enredi^Udiberikana'tonDat ChususnJl1 hukum ikatan Pihak untuk menentukan s S r i W * J3ng leluasa bagi para« a me?.|atakan berlaku. Disini t e r X n t i 3? 31™11 jang hendak sebagai „pihhan hukum” (rechtskeu/ef m m jang terkenal penganutnja tenbanjak, 1,1 n) rechtskpn? . enurut adjaran jang dalam bidang hukum harta-benda chn? m- dapatlah dilakukan , * 'bidang, seperti misalnja pad, h S USnj? hukum ikatan. d " lah mungkin dilakukan pilihan bnt u.ni kekeluargaan tidak-in ’ d m l l m r t Ja" S dik™ u k ak a ™ a ir tgh t!is'‘kai 0l®<> Para urut I n f h ,an maka ba"lalt orang- u t ^ahwa cljikalau hal

turut serta dalam perbuatan-hukum t* L (jang tak langsung karenanja.lufi) nnukum tersebut) akan dirugikanPilihan hukum dalam HAG.

Kita sudah saksikan .hatimr, i pmban h„k„m ini pun memegmg ^ ^ n g n ,

titik-taut pemtedaf“ a“ l!S kPp ^ | " k™ ini merupakan suatu jiptakan suatu hubungan HAG (HPI). piuner> faktor jang ,nen-

Dalam hubungan e x t p r titik taut penentu titit t -P hukum im* ^ menentukan akan hukum C * 5 “ S e k * n 7 1

langsungkan kontrakdensma in(P T ' Hotel Imlonesia i„i„,

= t ekrnd° neSialah ja"8 ak- t a - I a k u ' S S X n S ^ h t"u m

S c h n i tz e r , f, h ^1 Li hat K o l l e w i j n V o i

T. 5 7 /3 9 5 , H gH 2 7 - l6 - l8 9 ? '’ t \ , 150 ^ t . Rech( .

s s : s : i a 'in!“ 0t E/, r hHeH 2 0 ' 2 ■

3 00) 107)

6850 dst.

Page 75: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Disini kita saksikan bainva pilihan hukum seperti dikehen- daki oleh para pihak merupakan faktor jang menentukan hukum jang harus berlaku.

Masalah- jang termasuk pilihan hukum ini merupakan suatu persoalan tertentu jang merupakan adjaran tersendiri dalam ilmu HPI, hingga lazimnja memerlukan pula tindjauan chusus setjara lebih mendalam. Hal ini akan djuga dilakukan oleh kita kelak. ,nT“)

Tjara- mengularakan kehendak para pihak.

Disini hanja perlu diberitahukan — sedjalan dengan apa jang telah kita lakukan dalam buku pengantar „Hukum.Antargo­longan” bahwa dalam prakteknja kerapkali tidak demikian mudah untuk menentukan apakah jang sesungguhnja telah merupakan kehendak daripada para pihak ini. Kehendak ini dapat diutarakan setjara „dengan sedemikian banjak perkataan” (uitdrukkelijk) atau „setjara diam2” (stilzwijgend). Djika dilakukan dengan tegas maka tidak perlu timbul ke-ragu2an tentang maksud para pihak ini.

T j o n t o h : Dalam kontrak antara pedagang WNI dan pedagang Djerman Barat ditentukan setjara tegas bahwa keten­tuan2 tentang arbitrase internasional berlaku dalam hal timbul perselisihan. Hal ini telah diatur dalam suatu pasal tersendiri. Dalam hal ini tidak ti-mbul ke-ragu-an tentang hukum jang harus dipergunakan.

Tetapi, bilamana maksud para pihak ini tidak setjara tegas diutarakan, maka harus kita simpulkan maksud ini daripada ber­bagai hal2 dan faktor2 tertentu.

T j o n t o h : Dalam kontrak antara pedagang WNI dan saudagar Hongkong hanja disebut bahwa untuk pelaksanaan per- djandjian ini para pihak memilih tempat kediaman hukum (domicilie) pada Kan tor Panitera Pengadilan Negeri di Djakarta, atau dalam kontrak tersebut terdapat pasal- daripada B.w ! Indonesia.

Hal-’ ini menundjukkan bahwa adalah maksud para pihak pada waktu melangsungkan kontrak tersebut bahwa perdjandjian mereka ini akan takluk dibawah hukum perdata Indonesia .

107a) L ihat kemudian.

Page 76: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Tjontoh dari Jurisprudensi Indonesia : hukum Tiongkok dipergunakan untuk perdjandjian uang jang berlaku di T iongkok antara orang2 asing Tiongkok karena rupanja adalah „m aksutl para pihak” bahwa hukum setempat dimana perd jand jian d ibua t adalah jang mengatur perdjandjian mereka. in7h)

Djangan mengkonstruir „maksud para pihak” jang fictief.Maksud para pihak ini dapat dinjatakan setjara tegas (dengan

sedemikian banjak perkataan) atau setjara d i a m - d i a 111. Dalam hal jang belakangan ini maksud para pihak disim-pulkan dari kenjataan1'- (omstandigheden). Disini kiranja boleh d iu langi apa jang kami sudah kemukakan berkenaan dengan HAG, jak n i bahwa kita harus 'bertindak hati2, agar supaja djangan sam pai mengkonstruir suatu „bedoeling van partijen” jang „fictief” . 10s)

Bentuk naskah jang dibuat, bahasa jang dipergunakan, mata- uang jang ditentukan pendek kata „vorm en inhond van lvet contract” dapat diperhatikan untuk menjimpulkan maksud pa ra pihak akan hukum jang mereka menghendaki supaja d ipergu­nakan.

Misalnja: Bahasa Inggris, mata-uang Inggris, bentuk (vorm) jang lazim dipergunakan dinegeri Inggris, disamping lain- fak tor (tempat dibuatnja naskah2 bersangkutan), oleh Hooggerechtshof dalam tahun 1935 10u) dan RvJ Djakarta 110) dalam tahun itu pula telah didjadikan faktor2 jang menentukan pemakaian hukum Inggris atas wissel dan endossemen-.

Dalam perkara ini pula Hoogerechtshof telah menganggap hukum Hindia-Belanda jang harus diperlakukan untuk cessie ja n g dilakukan setelah hari-djatuh daripada tagihan-wissel2 b e rsan g ­kutan, karena akta2 telah dibuat dalam bahasa Belanda dan d juga isi daripada akta12 bersangkutan menundjukkan bahwa „ced en s als de cessionaris de toepasselijkheid van het Nederlandsch- Indisch recht voor oogen stond”.

10Tb) T. 124/404, RvJ Medan, 5-3-1926 dengan tja ta lan K o l l ! a W i f nL ihat diaitas, no. 81. *

108) „H ukum Antargolongan” h. 50. Bdgk. jurisprudensi jang disebut disitn T . 132/417, Res. Ger. Padang, 9-5-1930 RvJ Padang 14-8-1930, T 1 4 8 / 764, Ldr. M alang 16-2-1938 H.K. no. 1. H . 1957, 1 — 2, h. 137 p m D jakarta 21-11-1956 H.K. no. 26.

109) T. 144/392, HgH (1 e K) 12-12-1935, perkara Louis Z echa („S oekaboe- m ische Snelpersdrukkerij”) Ia. Samuel Jones & Co. (Export) L td. b e rk e ­dudukan di London.

110) T. 141/512, RvJ D jakarta (1 e K), 15-2-1935.

70

Page 77: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Maksucl para pihak ini pe rnah pula d is im pulkan oleh Iiaad van Justit ie Surabaja pada tahun 1936, U1) sesuai d e n g an hakim tingkat pertam a-dari ken ja taan bahwa k o n trak -k e rd ja j a n g di- sengketakan an tara para p ihak (G.A. B an tle la. F.M.O. P re iss , keduan ja berkew arganegaraan D jerm an) telah d ilakukan d en g an m adjikan (Firma G. Bantle) jang b e rk ed u d u k an di B an d ja rm a s in dan n ja tan ja d itud jukan untuk d ilaksanakan pu la di Indonesia d im ana perusahaan sang m adjikan b e r a d a . " - ) Dari kontrak- ke rd ja bersangku tan n:t) d juga tidak te rn ja ta bahwa para p ihak m enghendaki se tjara tegas d iperlakukann ja suatu stelsel hukum lain.

1. Tem pat d iad jukann ja proses perkara .

Djuga tem pat d im ana proses d iad jukan atau d im ana lain- pe rbua tan form il telah dilakukan atau diberikan, m isa ln ja pen- dafta ran tanah dalam kadaster, p en tja ta tan - hak a tau beban- te rten tu atas tanah (Hypotheek umpamanja), 11,a) pem berian hak- milik perindustrian , hak tjap dagang, hak oktroi, hak pa ten t dsb., ini sem ua pen ting sebagai faktor- jang m en en tu k an hukum jang harus diperlakukan.

T j o n t o h : Suatu m erek tjap dagang ,,Dr D ra lle ’s Bii- kenhaarw asser” telah d idafta rkan oleh F irm a D ralle dari H am ­b u rg pada kan to r p endaf ta ran m erek di Bodenbach. P e n d a f ta ian m erek ini dilakukan atas nam a filiaal dari p e rusahaan D ialle jang berada di Bodenbach (pada waktu itu te rle tak didalam wilajah Austria). M erek ini dianggap telah te r t j ip ta m en u ru t hukum A u s ­tria, kedudukan m erek te rsebu t ialah di A ustria dan hukum jang berlaku ialah hukum Austria. Tatkala pem erin tah Tssjeehoslo

x11) ;T . 14 4 /4 8 2 , RvJ S u ra b a ja (1 c K), 17-6-1936.112) L ih a t te'ksnja p ad a T . 1 4 4 /4 8 3 , n . 1.

D jad i d isa rm in g „ .n ak su d p a ra p ih ak ” te rn ja ta d ju g a „ lcx loc . ex ecu t.o - n is” ja n g d ianggap sebagai T PS o leh hukum . L ih a t te n tan g in. kem ud 'ianno. 180 sub 1. y

i is n ) D a la m U U P okok A g ra ria no . 5 th . 1960 h a k - h y p o th e ek a ta s ta n a h -E ropah d in ja ta k a n te tap tak lu k p ad a k e ten tu a n h y p o th e ek ja n g tc r t ja n - tum dalam B.W . (pasal 57) B dgk. A r m i n j o n , 1, h . 194, 1 9 5 ; R c c z e i h. 68, 69.

71

Page 78: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

wakia hendak mengadakan konfiskasi daripada merek tersebut. oleh hakim Austria hal ini tidak dibenarkan. 11 ■*)

Untuk hukum atjara formil kita saksikan bahwa hukum da ri­pada sang hakim (lex fori) adalah penting sekali dalam hal m e n en ­tukan hukum jang harus dipergunakan. Untuk segala hal- jan g termasuk hukum „atjara” („procedure”) hukum daripada sang hakim dimana perkara bersangkutan diadjukan, m erupakan hukum jang berlaku.

m n serupa sudah kita saksikan terdapat pula dalam suasana HAG pada waktu sebelum perang di zaman Hindia belanda Pada waktu itu dikenal apa jang dinamakan suatu „ ormeel rechtelijk lex fori” berhubung dengan adanja hukumnesia” (I R ^ H i UR ^ m ) ,hakim Eropah” (R-V-) dan ,fhakim Indo-

.ur sPrudcnsi Indonesia : Apa jang dinamakan se- t1 L° r m ^1 daripada hukum pembuktian, m enuru t

^ ^ ^,ec*an ditahun 1926, harus diselesaikan m e­nurut hukum daripada tempat dimana perkara diadjukan. 110)

HPT °lai;*Pac*a ^ »lex f°ri” ini penting pula untuk bidangdinprlairnVan3^ ^ J '^ e p a n d j a n g hukum asing jang seharusnjadaiam rrpnioi dak dapat diketahui oleh sang hakim, m akakonaria h n i esa^ an tugasnja ini sang hakim kerapkali kerribaliqpio?iinia ,.umi^ a sendiri. Atau dalam hal hukum asing jangk a r e n a j n ’ { am chusus perlu dikesampingkanini merimatan T f . en§an »ortlre public”, maka djuga lex fo ii

P n faktor jang menentukan hukum jang diperlukan.

179. PERINTJIAN TITIKa PERTALIAN LEBIH LANDJUT.B a t j a a n :N i e d e r e r, h. 203 dst; A r m i n jj o n, li. 197 dst: S c h n i t - zer, h. 48.

a k a n ^ f er^ an ^ eraPa tjontoh TPS diatas ini kitariarinarla mf ^a tikan perintjian lebih landjut dan pembagian- aaripada pengertian titik3 pertalian ini. i s

-11- A JIL ( ? 9 5 lf Aut tr[a’ 10' 5-1950> H offm an v. D ra lle , 45internasional nadn _ . a ? enrt>ahasan keputusan ini pada „Segi2 h ukum

1- - , m iernas'onal pada nasionalisasi d Indonesia” h 1 S dstn * ) L ihat Hukum Antargolongan h 49 nesia ’ 11 ’ 13 dst-n o ) T. 124/404, RvJ Medan, 5-3-1926, dengan tia ta tan K o l l e w i v n

valam bagian formil dan materiil dariT Ihnt n oleh RyJ dalam perkara in i tid a k

w V ^ t pembitjaraan keputusan ini d iatas pada w ak tudibahas „Iex loci contractus sub j.

72

Page 79: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Selain dai'ipada pem bagian da lam titik p e r ta l ia n p r im e r dan t itik p e r ta l ian sekunder, m asih d ikenal la in 12 pemibagian.180. Titik p e r ta l ia n kum ulatip .

Salah satu pe rin t j ian lebih d jauh d a p a t k i ta saks ikan pada t it ik2 pe r ta lian ja n g m engakibatkan bahw a se t ja ra b e rsam a a n sekaligus berlaku berbagai stelsel hukum .

Jan g d im aksudkan ialah bahw a te rd a p a t su a tu k u m u - I a s i (penum pukan) daripada titik- p e r ta lian . Titik- ta u t sem atjam ini dikenal dengan istilah „ titik p e r ta l ia n k u m u la t ip ” („K um ulative A nkn iip fung” ).

B ilam ana kita m enghadapi titik p e r ta l ian jan g k u m u la tip ? Kita m enghadap in ja b ilam ana un tuk m end jaw ab satu pe rsoa lan h ukum te r te n tu se tja ra sekaligus dan be rsam aan d ip e rg u n ak an d u a a tau lebih stelsel hukum.Dua m atjam kumulasi.

Kumulasi ini dapa t b e rlangsung dalam dua b en tu k te r ten tu . Salah satu dari stelsel- hukum ja n g b e r lak u b e rsam a a n ini adalah stelsel hukum nasional dan ja n g la inn ja ada lah stelsel hukum asing (a) a tau s te lse l2 hukum ja n g b e rlaku b e rsam aan ini adalah stelsel2 hukum jang k eb e tu lan d ip e r tau tk an (b).(a) Kumulasi daripada hukum sendiri dan hukum asing.

T j o n t o h : U n tuk p e r t je ra ia n a tjapkali k ita k e tem u k an dalam stelsel- H P I berbagai n eg a ra bahw a s ja ra t2 u n tu k dapat b e r t j erai ini ha rus t e rp e n uhi ba ik m e n u ru t stelseE hukuin ijasional, daripada _ para p ihak m aupun m e n u ru t _ s te l^ew m kurn jan g berlaku di negara b e r s a n gku tan. K e ten tu an sem atjam mi m isa ln ja" te rdapa t di n egara Swiss. D i s i n i kita saksikan bahwa p e r t je ra ian dar ipada o rang asing d inegeri Swiss h a£us—cuiang- su n g k an jjn en u ru t d asa r2 t je ra i j ang dikenal. -ka ik .da lam i^K um nasional p a ra p ihak m aupun m e n u ru t hukum Swiss (pasai N A G : ) .310")

K eten tuan iang serupa k iran ja dikenal pula dalam stelsel H P I Indonesia. 117)

n o a ) B dgk. pasa l 17 E G B G B a ja t 4 ja n g m e n s ja ra tk a n k u m u la s i p u l a , , A u £ Schei'diing k an n a u f G ru n d e ines au s lan d isch en p e s e tz c s im In la n d e e rk a n n t w erden , w enn sow oh l n ac h d em au slan d isch en G ese tze als n a c h d en deu tschen G ese tzen d ie S cheidung zu lassig sem w u id e .

117) B dgk. m isa ln ja k ep u tu san P .N . D ja k a r ta , 5-12-1953 . _h . 44 d a r i m a n a d a p a t d is im p u lk a n b ah w a Pe r t e r a ia " . b a g ^ ^ “ f1hf h A R .R .T . ja n g b e ra d a d isin i, h a n ja d a p a t d ite r im a d jik a te rp e n u h i b a k s ja ra t- h u k u m -perkaw inan R .R .T . m a u p u n B .W . In d o n e s ia , w a la u p u n p ertim b an g an H a k im m e m p erg u n ak a n p e n g e r tia n „ o rd re p u b lic •

73

Page 80: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Menurut HPI—Djerman maka untuk menentukan telah ter- diadinja perbuatan melawan hukum (unerlaulite Handlung) oleh seorang Djerman diluar_]negeri harus^dipergunakan setjara ku- mulatip baik hukum jiasional Djerman maup un Hukurrf tem pat dimana dilakukan perbuatan tersebut (pasal 12 EGBGB). UK)

Ketentuan jang seiupa dikenal pula dalam HPI Inggris. Suatu tuntutan kaiena perbuatan melanggar hukum (action for tort) hanja~aapat diadjukanUi inggris~apabila perfvuatan itu djuga dapat mentjiptakan suatu tuntutan sedemikian m enurut hukum Inggris. Djadi sjarat jang harus dipenuhi ialah bahwa perbua tan bersangkutan dipandang sebagai melanggar hukum baik oleh hukum daripada negara dimana perbuatan itu dilakukan maupun menurut hukum negara Inggris. n ")

(b) Kumulasi daripada dua stelsel hukum iang willekeurie”(kebctulan). b ” *

Disini kita saksikan bahwa oleh kaidah^ HPI bersangkutan disjaratkan berlakunja setjara kumlatip dua stelsel hukum iang harus dituruti. Salah satu daripada stelsel hukum ini nuingkin lex fori. &

T j o n t o h : Dalam suatu perkara HPI diadjukan dua tagihan oleh masmgp pihak setjara timbal balik dengan alasan bahwa sudah terdjadi kompensasi hingga tak ada hutang lagi Dalam hal sematjam ini adalah sebaiknja menurut pandangan beberapa penulis- "»“) HPI bilamana untuk mendjawab pertania- an apakah benar telah terdjadi kompensasi, diukur ini m enurut kedua stelsel2 hukum jang dipertautkan.

Dalam jurisprudensi Anglo-Saxon kita saksikan bahwa pada penjelesaian daripada perdjandjian- dipertautkan fcaik kepada „proper law of the contract” maupun dengan „lex solutionis” untuk mendjawab pertanjaan apakah tidak telah terdiadi pelanggaran2 daripada sjarat- essentiil. ]-»)

318) Pasal 12 EGBGB berbunji : „Aus einer im Auslande bcgangenen im erlaubten Handlung konnen gegen emen Deutschen nicht weitergehendo Auspruche geltend gemacht werden, als nach den dcutschen G esefe-n begriindet sind”. Bdgk. pasal 11 ajat 2 «Jan 3 dari U.U. D icpane i s 6-1898. Makarov-Quellcn, I no. 27 sab A 1

ii» ) L ihat W o l f f , P.I.L., h. 6.119a) a.i. N-i c d e r e r, h. 204 n, b, dari siapa kita kulip liontyh ini120) U ntuk tjontoh2 ini lihat djuga L e w a 1 d, Regies gendrales ( 1941)

h. 34 — 35. ’

74

Page 81: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

181. Titik2 pe rta lian a ltem atip .Selain dar ipada titik2 p e r ta l ia n kum u la tip ini kita m engena i

pu la p e r in t j ia n titik a l t e m a t i p .Dalam hal ini kita saksikan adan ja leb ih d a r i s a tu titik p e r ­

ta lian ja n g d ap a t m en en tu k an hukum ja n g berlaku . Salah sa tu da ripada dua a tau lebih fak to r2 ini dapa t m e ru p a k an fa k to r ja n g berlaku. Oleh k a ren an ja d isebu t t i t ik2 pe rta lian sem a tjam ini sebagai t i t ik2 pe r ta lian a ltem atip . K arena dapa t d ipilih an ta ra be rbaga i titik pe rta lian ini p e rn a h disebut pula : „W a h 1 a n - k n ii p f u n g ” . 121)

T j o n t o h - : Dalam H P I D je rm an kita saksikan a t ja ra te r te n tu ten tang d ita ro h n ja o ran g dibawah perw alian safih (curatele). 122) Seorang asing dapat ditaroh dibaw ah perw alian safih di D je rm an bilam ana ini berdom icilie di D je rm a n a tau apa­bila tidak ada domicilie ia m em pun ja i tem pa t ked iam ann ja di D je rm an (pasal 8 EGBGB). lii3) Disini k ita saksikan bahwaf seba­gai a l tem a tip daripada domicilie d ipakai te m p a t kediam an. F ak to r domicilie a tau tem p a t kediam an di D je rm an jan g m eru ­p akan titik tau t penen tu .

Salah satu daripada fak to r te rseb u t adalah jan g d ap a t diper- gunakan.

T jon toh lain kita saksikan b e rk e n aa n dengan b e n tu k p e r­b u a tan hukum (vorm der rech tsliande lingen , F o rm eines Rechts- geschaftes, form e d ’une acte jurid ique). Dalam H P I D je rm an kita saksikan hahwa -bentuk p e rb u a tan hukum ini dapa t dilangsung-

121) o ^ u « i f ^ i h . *-48.

122}1 2 3 )

75

Page 82: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

hukum daripada para pihak jang melakukan perbuatan hukum bersangkutan bilamana hukum ini sama sadja (pasal 26). 1-5) Sedjalan adalah ketentuan dalam HPI Swiss tentang ben tuk ke- mauan terachir, perdjandjian- mengenai warisan dan legaat (pasal 24 NAG). 1 )

Tjontoh lain kita ketemukan dalam HPI Inggris. Berkenaan dengan kemampuan (capacity) untuk menutup kontrak- dagang (m ercantile contracts) HPI Inggris menentukan bahwa hal ini diatur setjara alternatip atau oleh hukum domicilie para pihak atau oleh lex loci contractus. Apabila menurut salah satu dari dua stelsel 3a«g bersangkutan dianggap mampu untukmengadakan perdjandjian-, maka kontrak bersangkutan dianggap sah adanja. -Seperti diketahui, ukuran kedewasaan diberbagai negara'tidak sama adanja. Di Swiss 20 tahun, berlainan dari di Hungaria (24 tahun) atau di Inggris (21 tahun). Apabila misalnja seorang warganegaia Swiss jang berdomicilie dinegaranja berusia 20 tahun dan seorang Hungaria jang berumur 22 tahun membuat kontrak di London, maka kontrak ini sah adanja karena warga­negara Swiss beisangkutan sudah dewasa menurut hukum Swiss (umur 20) walaupun belum menurut hukum Inggris (21 tahun) sedangkan orang Hungaiia harus dipandang dewasa menurut hukum Inggris walaupun belum dewasa menurut hukum Hunga-

125)

120)

Pasal 11 a ja t i r -u o w o u u ..j i . „ u ie ho rm eines R echts-iie^hxn. bestim m t sich nach den Gesetzen, welche fUr das den G ccenstinn . Rechtsgeschafts bildende Rechtsverhaltnis massgebend sind. Pc „„ jedoch die Bcobacbtung der Gcsetze d!es Ortes, an dcm das Recht<;nUS ch jjft vorgcnom nien wird . • Scs-Pasal 26 dari C.C. Italia dari 16-3-1942 : „Loi regissant la form « j actcs. La form e des actcs entre vits et des actes de derniere volnnt - CS regie par la loi du lieu oil fac te est accompli ou par celle aui r ' f CS* substance de I’acte, on par la loi nationale din dkposant ou n-ir n ° eontractants si elle. leur est com m une”. 1 ce l|e desPasal 24 dari N A G berbuiiji : „Les dispositions de derniere v m . , pactes successoraux, et les donations a cause de mnrt i i * nte> lesI la form e, si ce lled satisfait au droit dir L ^ lables ^ an tselui du canton du domicile lors de la nass-ihYm P a e e passe ou a

* n * r o. S eeiui d„ m J V ^ S ^ S u S r “ dro“ duBdgk. pula pasal 5 (Ian U.U, tentang HPI Polandia dari 2-8-1926.

76

Page 83: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

i ia (24 tahun). l-~) K e ten tu an - se ru p a k ita saks ikan p u la dalam H P I D je rm an a tau H P I Swiss. 1JS)

D juga dalam Code B u stam an te k ita saks ikan a d a n ja b e rb ag a i k e te n tu a n - j a n g m en g an d u n g titik- p e r ta l ia n a l te m a t ip . M isaln ja da lam k e te n tu a n ten ta n g k e w arg a n e g a raa n d a r ip a d a p e r s e ro a n - te rb a tas . D iten tukan bahw a w arg an eg a ra b a d an - h u k u m d a g a n p in i d i te n tu k an oleh p e rd ia n d i ia n p en d ir ian dan apabila tidak ada k e ten tu an d ida lam nja ten tan g hal ini m aka k e w arg a n e g a raa n n ja d iten tu k an oleh hu k u m daripada d im ana lazim nja R ap a t Um uni P e m e g an g . Saham berkum pul dan b ilam ana~“cf]if^a tidJ ik"ada d i te n tu k a n oleh hukum da ri tem p a t a tau k ed u d u k an te ru tam a d a r ip ad a p u sa t d ireksi a tau adm inis trasi (pasal 19). 1-“") D juga b e rk en aan dengan akibat- ba ta ln ja perkaw inan kita saksikan k e ­te n tu a n 2 a l te m a tip . Dalam hal tidak ada p e rd ja n d j ia n a n ta ra sua- m i-isteri m aka bei 'kenaan dengan p e raw a tan daripada anak2 ja n g d ilah irkan dari perkaw inan batal d ip e rg u n ak an h u k u m person il da r ipada pa ra suam i-isteri apabila ini adalah sam a u n tu k kedua m em pela i itu. Apabila tidak ada ini m aka akan d ip e rg u n ak an

127) T jo n to h ini d ia m b il d a r i W o l f f , P.1.1., h. 7 K cd c w a sa an d inegeri D je rm a n , P e ra n tjis , Italia-, N e d e rla n d , D e n m a rk , A u s tr ia , In g g ris d a n n e g a ra 2 bag ian te rb a n ja k d a r i U .S .A ., (S p an jo l se d jak 1943) d ite n tu k a n :21 ta h u n , d i Swiss, 20 ta h u n (ps. 14 Z G B ), S p an jo l 23 ta h u n , H u n g a r ia d a h u lu 24 ta h u n , k in i 18 ta h u n se d jak 1952 p asa l 12 a ja t C .C . a j a t 1 : „A m in o r is a p e rso n w ho has n o t yet co m p le ted h is e ig h tee n th y e a r o f age, excep t w h en m a rr ie d ” . L ih a t R e c z e i, h. 151), sesua i d en g an tendensi urn urn d a lam n e g a ra 2 S osialis b lok T im u r, D D R , dsb ., m e- ng iku ti U .S .S .R . ; d em ik ia n p u la d i T u rk i, L ib a n o n . Is ra e l ( liha t S c h n i t z e r , V erg le ichende R ech tsleh re , 2 ° d r., 1961 (II), h. 479 ;R 6 c z e i, h . 151).

128) P asa l 7 a ja t 3 E G B G B b e rb u n ji : „ N im m t ein A u s la n d e r im in la n d e in R ech tsg ech aft vo r, fiir das e r g esch a ftsu n fa h ift o d e r in d e r G e- , sc h aftsfah ig k e it b esch ran k t ist, so g ilt e r fu r d ieses R e ch tsg esch aft insow eit a ls e r n ac h den d eu tsch en G ese tzen gesch iiftsfah ig sein w iird e” . P asa l 59 (titre final) d a r i C .C . Swiss 10-12-1907.

120) P asal 19 b e rb u n ji : „ P o u r les societes an o n y m es, la n a tio n a lite se rad e te rm in e e p a r le c o n tra c t social e t le ca s e c h e a n t p a r la lo i d u lieu o u se re u n it n o rm a le m e n t l’A ssem b lee de leu rs ac tio n n a ries , e t, a diefaut, p a r ce lle du lie u ou siege leu r p rin c ip a le assem b lee oil conseil d e d ire c ­tion e t d ’a d m in is tra tio n (P rin c ip a l Ju n ta o C o n se jo d irec tiv o o ad m in is- ta tivo).

77

Page 84: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

hukum daripada pihak sang suami (pasal 49). ’»") K e ten tuan alternatip kita saksikan pula dalam pasal berkenaan dengan tafsiran daripada perdjandjian2. Pasal 86 m enentukan bahwa hukum jang diperlakukan pertama- ialah hukum personil j ang garnallaripada para pihak dan bilamana tidak ada ini maka hukum daripadaJ^emPaTjlimana Kontrak^dibuat adalah jang berlaku. i:n)

Ratio dari TP alternatip.

Apa alasannja untuk ketentuan2 seperti ini ? Mengapa para pihak jang melakukan perbuatan hukum terten tu se-olah-' dibe- rikan keleluasaan untuk memilih diantara berbagai stelsel hukum jang lebih disukainja ? Apakah kemungkinan ini diberikan se- mata2 demi kepentingan para pihak bersangkutan ? Hal ini nam- paknja tidak demikian adanja. Bukan hanja para pihak, melainkan djuga demi kepentingan daripada keseluruhannja telah diberikan kemungkinan titik2 pertalian alternatip ini.

Djelaslah kiranja hal ini daripada ketentuan-’ ten tang sjaratf- kemampuan untuk melakukan perbuatan hukum seperti dilukis- kan dengan tjontoh2 diatas (WN Swiss dan Hungaria jang ber- kontrak di London). Disini penggunaan ketentuan12 a lternatip bukannja dalam kepentingan daripada pihak jang d justru hendak mengemukakan tak sahnja perdjandjian karena ia tidak berwe- nang. Tetapi kepentingan daripada pihak lainnja dan penged ja ran kepastian hukum se-dapat2nja jang mendjadi pendorong un tuk tetap menganggap herlakunja perdjandjian itu dalam hal telah dilaksanakan sesuai dengan sjarat2 kemam puan jang berlaku setempat (dalam negeri).

182. Titik pertalian pengganti.

Apa jang dikenal dengan istilah ,,titik pertalian a l t e r - n a t i p” diatas tadi berhubungan erat dengan titik2 perta lian

130) Pasal 49 Code Bustam ante berbunji : „P our la garde des en fan ts issus de m arriage nuls. l’on appliquera la loi personelle des epoux, si e lle est com m une a tous les deux ; a son defaut, l’on appliquera celle d e l’epoux qui au ra agi de bonne foi, e t a defau t des deux, celle du m ari, q uand les epoux ne peuvent ni ne veulent rien stipuler a cet egard”.

131) P asa l 186 C ode Bustam ante b e rb u n ji: „D ans les autres contrats e t pou f le cas prevu dans l’article precedent, on appliquera en premier lieu la lo i peTsonelle commune aux contractants et a son defaut la lo i d u lieu ou ils on ete conclus” .

78

Page 85: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

j a n g te rm a su k „ ti t ik - p e r ta l ian p c n g g a n t i ” ( „E r s a t - z a n k n u p f u n g ” , 132> a tau s u b s i d i a i r e A n k i i u p - f u 11 g ” , ,:w) titik tau t s u r o g a a t ) .

J a n g d ia r t ik an den g an is tilah ini ia lah t itik- portalifln ja n g d ip e r la k u k an a pabila titik ta u t j a n g se h a ru sn ja d ip e rg u n a k an t idak t e r d a p a t 1:{') M isalnja b e rk en aan d en g an t i t ik - 'p e r ta l i a n ja n g pa lin g u tam a : k ew arg a n e g a raa n a tau domicilie. S e ringkali te rd ja d i bahw a titik ta u t p e n en tu ja n g h a ru s d ip e rg u n ak an ini t idak te rd a p a t da lam casus positie te r te n tu . M isalnja dalam n eg a ra - i ang m engg u n ak an prins ip nasiona li te t un tuk s ta tus p e rso n il p ihak ja n g b e rsan g k u tan dalam pe rso a lan H P I te rd a p at s eo ran g ja n g tidak b e rk cw arg an eg a raan (apa tr ide ) a tau jan g k e w arg an eg a raan n ja tidak dapa t j l ip a s t ik a n . D em ikian ha ln ja b ilam ana d ip e rg u n ak an azas^dflxnicilic te tap i t e r n ja ta j a n g ber- s an g k u ta n tidak,._mempunjai_ dom icilie .in i. Dalam hal- sem a tjam ini p e r lu d ipero leh d ja lan ke luar . D ja lan ini ialah d engan mem- p e rg u n a k an titik ta u t p e n en tu su-bsidiair un tu k m en g g an tik an ja n g p e r ta m a itu. M isalnja dalam hal a p a tr id e d ip e rg u n ak an o rang hukum domicilie. Dalam hal domicilie ini t idak d ike tahu i d ipakailah tem pa t k ed iam an (residence, A ufen thalt) .

T j o n t o h - t j o n t o h : Di Indonesia s e p e r t i d ike tahu ik ita m em akai azas k e w arg an eg a raan (pasal 16 a ja t 1 A.B.). Sebagai k e lan d ju tan daripada p em aka ian azas k ew arg a n e g a raa n ini k ita saks ikan bahw a u m u m n ja d ip e rg u n ak an h u k u m nasional da ripada ja n g b e rsan g k u tan dalam m en je lesa ik an soal- ja n g t e r ­m asuk b idang s ta tus personil. D em ikian pu la h a ln ja dengan h u k u m w arisan . M enuru t H P I di Indones ia p ew arisan d ia tu r m e n u ru t hukum nasional d a r ip ad a s ipew aris (erflater'i. Tetapi b agaim ana h a ru s d iselesaikan p e rk a ra H P I ini b ilam ana p ihak pew aris ada lah seo rang apa tr ide a tau tidak d ike tahu i den g an pasti apakah jang m eru p ak an k ew arg an eg a raan n ,a ? Dalam hal ini h a ru s d ip e rg u n a k a n titik ta u t p e n en tu p e n g g a n t i , t itik ta u t ja n g s u b s i d a i r. Hal ini te lah d i lakukan m isa ln ja o leh R aad van Jus ti t ie D jak ar ta pada tahun 1934. 13j) Oleh k a ren a k ew arg an eg a raan daripada sipew aris tidak pasti adan ja , te lah d ipe rgunakan domicilie da rip ad an ja u n tu k m e n en tu k an huk u m ja n g berlaku .

132) S c h n i t z c r , I, h. 48.133) N i e d e r e r , h. 205.134) A r m i n j o n , P recis, I, no . 94. . , . ,13°) T . 1 3 9 /8 5 5 . R vJ D ja k a r ta , 20-4-1934 , t ja ta ta n d a n K o l l e w i j n .

79

Page 86: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Tiontoh lain kita saksikan. berkenaan dengan soal ten tang p e rw a lian dan alimentatie sebagai akibat daripada pe rtje ra ian . P ada u m u m n ja d ipergunakan hukum kewarganegaraan dalam n e rk a ra 2 n ia tja m mi. Tetapi dalam sengketa te r ten tu te rn ja ta sang a ja h adalah seorang apatride. Oleh karena itu Raad van Justitie M edan d^!a^ a^ n 1939 telah mempergunakan domicilie sebagai pengganti. ) Keputusan ini sudah kita bahas diatas tatkala mempcrsoalkan domicilie sebagai titik pertalian sekunder.

Bukan s ad j a dalam jurisprudensi kita saksikan adanja titik taut p e n g g a n ti mi. Selarn danpada sang hakim, djuga seringkali pembuat-undang- sendiri mengatur hal2 jang serupa. M isflnja dalam tjontou- jang su ah kita kutip diatas berkenaan dengan titik taut alternatip. sa i

T j o n t o h - 1 j o n t o»h . Kita telah saksikan bahwa dalam EGBGB Djerman terdapat ketentuan tentang perwalian safih. Apabila seorang asing er omicilie di Djerman maka dapatlali ia ini ditaroh dibawah perwalian safih menurut ketentuan2 hukum

S f J T e r s e W r S E T Z O ™ 1:bilamana ia bertempat kediaman (Aufenthalt) l i DTernfaT unTukmemperlakukan hukum Djerman baginja (pasal ’s). ^ m sinikita saksikan bahwa titi taut pada domicilie telah diganti olehtitik taut pada tempat kediaman. uiganu oleh

gerkenaaB-Clangan benda'2 bergerakJdia saW.-tan ^nja ketentuan aaripatojjerutatoi. dap padaslpemiliit )

Titik taut pengganti ini kita ketemukan pula hprt*™,. dengan p e rd ja n d jia n 2. Bilamana tidak dapat dipastikan tom ^ dimana perdjandjian ditutup flex oci contractus) dapatlah diner- gunakan tempat dimana perdjandjian dilaksanakan (lex ioejsolutionis) sebagai pengganti. ex 10C1

183. Perbedaan titik taut subsidair dan titik taut alternatip.Apakah perbedaannja antara tiktik taut nene«anti dan titik

taut altematip ? Hubungan antara kedua matjanT titik tau t ini

dCn8an tj— We r t h e i m.138) N i e d e r e r, h. 205.

80

Page 87: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

e ra t a d an ja . T it ik ta u t p en g g an ti d ap a t m e ru p a k a n pu la titik tau^ a l te rn a t ip . H a l ini su d ah k ita saksikan p a d a t jo n to h ja n g d isebut d ia tas. P e rb e d a a n n ja ialah 'bahwa pada t it ik tau t-p en g g an t i ini se la lu p e r- tam a- d iu ta m a k an sa lah sa tu fa k to r te r te n tu . Misal- n ja d iu ta m a k a n k ew arg a n e g a raa n a tau domicilie, j a n g k a re n an ja d in a m a k an pu la ,,H a u p t a n k n u p f u n g ” . 1 i<>) B aru bila­m an a t id ak ada fak to r te r te n tu ini h a ru s d i t ja r i akan pengganti- n ja („Ersatzanknupfung”). Oleh k arena itu pu n titik-pertalian- p e n g g a n t i ini dapa t d im asukkan pula dalam kelom pok„a b h a n g i g e A n k n u p f u n g e n ” . 1 n ) P ad a t it ik tau ta l te rn a t ip k ita saksikan bahw a adalah m ungk in bahw a berbagai fa k to r pada sa tu saa t se t ja ra be rsam aan dapat be rlaku . T e tap i ja n g dipilih d ia n ta ra n ja h an ja salah sa tu faktor. D jadi disini kita saks ikan ad an ja kem u n g k in an u n tu k m eniilili oleh p ih ak ja n gb e rsan g k u ta n , d ian ta ra titik2 tau t ini, ja n g m an a ja n g disu-kainja.

Titik tau t p enggan ti ini d iperlukan oleh k a re n a titik ta u t ja n g seh a ru sn ja d ipergunakan pada satu saa t te r te n tu tidak ada.184. T itik p e r ta l ia n tam bahan.

M ungkin te rd jad i pu la bahwa titik tau t p e n en tu ja n g harus berlaku ad an ja tidak m en tjukup i. Dalam hal ini d ip e r lu k a n suatu titik p e r ta l ian t a n i ' b a h a h a n (,,E r g a n z u n g s a n k - n ti p f u n g ” ). 143)

T j o n t o h : Suatu negara seperti Indones ia m en g an u tprinsip k ew arg an eg araan un tuk HPI-nja. Sem ua apa ja n g ter- m asuk s ta tus person il d iten tu k an o leh hukum nasional. Kini te rd ja d i bahw a o rang jan g b e rsan g k u tan adalah seo ran g jang berdw ikew arganegaraan . Misalnja, seperti nam pak se-hari2 di Indonesia, d isam ping k ew arganegaraan R.I. ia ini m em punja i

1 :in) P asa l 8 E G B G B d!a,pat d id ja d ik a n tjo n to h baik d a r ip a d n titik ta u t a lte r- riatip m a u p u n p a d a titik ta u t penggan ti.

n o ) S c h n i t e r , I , h. 48.i4 i ) N i e d e r e r , h . 205 ; L ih a t d ju g a A r m i n j o n , I, h. 499 no. 94.i i2 ) M isa ln ja o leh o ra n g ja n g m e lak u k a n p e rb u a ta n h u k u m d ia n ta ra h rdup

a ta u k e m a u a n te ra c h ir se p an d ja n g b e n tu k n ja d a p a t m e m ih h d ia n ta ra h u k u m d a r ip a d a te m p a t d ilakukann ja; h u k u m m a te n il ja n g m e n g a tu r p e rb u a ta n te rseb u t, h u k u m n as io n a ln ja a ta u h u k u m b e rsa m a a n d a r ip a d a p a ra p ih a k ja;ng b e rk o n tra k (pasal 26 d a i i C .C . I ta l ia ja n g d ik u tip ia as).

143) S c h n i t 7. e r, I, h . 48.

81

Page 88: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

pula kew arganegaraan R.R.T. 1'H) Dalam hal seperti ini tidaklah dapat kita menjelesaikan peristiwa-1 HPI dengan menundjuk kepada kewarganegaraan sadja. Jang manakah ? Kewargan.e<ra- raan R.I. atau kewarganegaraan R.R.T. jang berlaku ? Maka untuk mengatasi k^sukaran ini disamping faktor kewargane­garaan masih diperlukan lagi faktor lain jang menentukan hukum jang harus diperlakukan. Dalam hal bipatridie ini lazimnia orang memeilukan titik taut tambahan berupa domicilie Diadi dalam hal seorang bipatridie ini kita sasikan bahwa faktor kewarganegaraan sadja tidak tjukup untuk menjelesaikan peristiwa- HPI bersangkutan. Faktor domicilie turut membantu sebagai tambahan jang menentukan. Djika orang berdwikewar- ganegaiaan R . RJR/T. maka faktor domicilie-nja di Indonesia jang menentukan bahwa hukum Indonesia-lah jang dipergunakan untuk menentukan status personil-nja.

185. Titik pertalian accessoir.

Suatu perintjian lebih djauh adalah apa jang dinamakan itik-pertalian a c c e s s o i r” U k z e s s o r i s c h e r A „

k n u p f u n g”) 11:’ ^ n

Dengan istilah ini diartikan Pjmempatan suatu hubungan

hubungan hukum jang lebih utama. ----------- - -

• J L V 1 h Suat“ '1,!3rnlna" liredu ditentukan oleh hukum jang sama seperti jang berlaku untuk hutang bersangkutan Perdjandjian reassuransi ditentukan pula oleh hukum jang *ngatur assuransi pokok. J ° me‘

186. Tindjauan chusus.

Diatas ini hanja telah kita singgung setiara seointas iai titik’ pertalian jang terpenting. Kita telah m em beritahuSn ■bahwa suatu tindjauan jang lebih mendalam diperlukan daripada berbagai titik pertalian im. Ditawah ini akan menjusul tindjau™

1.4 4) Sebelum Jewatnja 20 Djanuari 1962 u u- ■

1958). menjdeSaikan ^ ikcWa«-SaneSaraan m ^ u ru t 'T u " n a 2145) n i e (1 e r e r, h. 205.

Hukum Perdata Internasional Indonesia

82

Page 89: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

ch u su s t e r s e b ’it s e te la h k ita saks ikan p e r in t j ian - ' d a r ip a d a titik-' p e r ta l ia n ini.

187. K e w a rg a n e g a ra a n a tau dom icilie seb ag a i t i t ik j ie r ta l ia n .

11 :« t j u a it :B i i t i f f o l , h. 3 2 2 d s t ; R a a p e, h . 4 8 d s t ; W o l f f , I P R D e u t s c h l a n d s , h . 3 8 d s t ; S c h m i t 1 h o f f, h . 6 9 d b t ; C h e s h i r e , h . 194 d s t ; K u h n , h . 69 d s t : V a n B r a k e l h . J 3 6 d s t ; H i j m a n s , li. 115 d s t ;R e p e r t o i r e , d i b a w a h „ D o m i e i l i e e t R e s i d e n c e " d a n „ N a - t i o n a l i t e " : . . . .E t t c r , K . H . , V o m E i n f l u s s d e s S o u v e r a m t a t s g e d a n k e n s a u f d a s I n t e r n a t i o n a l e P r i v a t r e c h t , Z u r i c h ( 1 9 5 9 ), p .h . 1 5 0 : , , D i e A n k n u p f u n g i m K o l l i s s i o n s r e c h t : S t a a t s a n g e h o r i g k e i t u n d W o h n s i t z ” ;B r !i g a , S t a a t s a n g e h o r i g k c i t s o d e r W o h n s i t z p r i n z i p ? ( 1 9 5 4 ), p e t i k a n d a l a m R a b e l s Z ( 1 9 5 3 ). h . 2 2 7 d s t : L o n g , D o m i c i l v. N a t i o n a l i t y , 18 R a b e l s Z ( 1 9 5 3 ) ,U n t u k s u m b e r - h u k u m : M a k a r o v — Q u e l l e n , S y s t e m a t i s c h e s R e g i s t e r (d j i l id 1, s u b V I I I ; d j i l i d II , s u b V I I ) ;

K ita ak an m ula i d e n g an m e m b e r ik a n t in d ja u a n d a r ip a d a p e rso a la n te n ta n g . .K e w a rg a n e g a raa n ” dan ..D om icilie” , du a t i t ik p e r ta l ia n j a n g te rm a su k titik- p e r ta l ia n u ta m a a ta u ,,Hanp- ta n k n i ip fu n g e n ” . P e i 'b ed aan a n ta ra k e d u a p r in s ip in i m e ru p a k a n pei^bedaan ja n g pa lin g u ta m a dalam sistim H P I j a n g d ew asa in i b e r la k u d i-negara- sedun ia . 140)

D alam d jilid p e r ta m a d a r ip a d a b u k u k ita su d a h d is in g g u n g bahw a s te lse l2 H P I d a r ip a d a n eg a ra - d id u n ia in i t idak sep ah am te n ta n g p r in s ip m a n ak a h d ia n ta ra k e d u a p r in s ip ini a d a la h ja n g te rb a ik u n tu k d ip e rg u n a k a n b ag i p e n e n tu a n s ta tu s p e r s o n i l se se ­orang . 147) A da n e g a ra - j a n g m e m e g a n g te g u h k e p a d a p r in s ip k ew arg a n e g a raa n . S ta tu s p e rso n il dai'i s e se o ra n g (baik w a rg a n e ­g a ra m a u p u n asing) d i te n tu k a n o leh h u k u m n as iona l m e re k a . Se- ba likn ja n e g a r a 2 ja n g m e n g a n u t p r in s ip dom ic ilie m e n g g a n tu n g - k a n s ta tu s p e rso n i l sese o ran g d a r ip a d a h u k u m ja n g b e r la k u d i domicilie-nja. K ita su d ah m e m b e r ik a n p e r in t j ia n da i 'ipada n e g a r a 2 ja n g m e n g a n u t m a s in g 2 p r in s ip ini. 11S)

188. P e r in t j i a n le b ih l a n d ju t d a r i N e g a ra - m asing - .

a. N e g a ra - d e n g a n p r in s ip nas io n a li te t .S ek a ra n g in i d a p a t k ita b e r ik a n p e r in t j ia n le b ih d ja u h d a r i ­

pad a n e g a ra 2 ja n g m em ak a i p r in s ip n a s io n a l i te t d a la m H P I

i ^ j ) K e g e 1, h . 1 3 9 ; S c h n i t z e r , I, h . 1 1 9 ; H i j m a n s , h . 1 1 5 , 1 3 9 . 147) H P I , I , n o . 138 — 1 4 4 . i ^ 8) H P I , I , n o . 1 4 3 , 1 4 4 .

83

Page 90: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

kewarganegaraan terdapat dalam CodP p- i** pemakaian P^nsip Kemudian dapat disebut n e g tT la ta !?3S,al 3 ^ 3)'sebagai „pahlawan” pula diantara n a n L dipandangnalitet ini, ialah Italia dan diadiahan" Kpi engan P^nsip nasio- kewarganegaraan ini dapat diketemukan berk3" ' ten? ng PrinSip lakunja Code Civil dad tahun S S ? k6naan dengan *>**-diperlakukannja Code Civil (Disposizio’ni P ^ r p.erat.uran2 untuk Civile, pasal 6) K>0) kemudinn 1 Pl eliminaii del CodiceDisp. Prel. pasal 7 ^ ! disu f Z " C C' 1938Disp. Prel. pasal 17 ajat 1). ir-i) Civil 1942 Cdalam

dalam C o d e 'c i v a ' t ^ a ^ T a M 3'®*™Di j" ' “ ‘tj.a"tur" kal1 Pula Pula (C.C. pasal 3 ajat 3). DL a d ^ m^ Xem“0'"rg ^ k i a n pasal 3 ajat 3). *=■') Dineeeri R p i S clemikla" * Monaco (C.C. serupa ini telah ditjantumkan r t a l a m ^ u ketelltuanS- no..28 („Wet houdende Algemeene Bern. ® , 15 Mei 1829 van het Koninkrijk”, pasal 6 f an Wetgevingdansi kita saksikan bahwa di Hindis J i ' azas konkor-t o n jang serupa jakm dafa " pUn diterimaWetgeving” (so AprJu ^ 'Iala'ra ^ ^ e m e e n e Bepalingen van

J0' 652)- S - U U i , hingga kini m a s i h & 1MS- 299Kini masih -berlaku untuk Republik

Menurut K u h n d't •..significant victorv” , nm anJa pasal 3 ajat 3 r rh. 63). Ct0ry dan Prinsip kew arganegar^'n ' , m c!:uPakan suatu

;o) Bdgk. kim pasaI J? . Saia“n <Uas P "™ P domicile

Teks M e t j l \ s ° ' r 6)' -Vntuk ‘© k p a s a lT dari" i y 942 - (M a k a r o v - Idem seperti no i 5q q ’.' ^ 15. dan D “ Pos.oni Preliminari,

etrange^^aefs^MTkf-To6"1 q* “ e m r ^ n f * 13

15

151)

158)

154)

Q u e l l e n , I, no. 36 3 a->at 3. Teks m ,- “) L ihat djuga jurisprudensi dari H R c , 1n a r o v -

Pasal- ini telah diganti sediak Ha.’i , ,9 l7 > W. 10444 NT io mhet internationaal privaatrccht f lnja -Eenvorm icc w \ u (lihat HPI, no. ,“ “ h' <*■" H-5-,95,

Page 91: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Di Rumania terdapat ketentuan serupa dalam Code Civil (pasal 2), demikian di Bulgaria, >**) Finlandia (U.U. no. 379 «ari_5 Desember 1929), ir,!'j Djerman dengan EGBGB-nja jang sudah seringkali disebut (pasal 7, 9, 13-15, 17-25), Ui0) Junani dengan Code Civil modern dari tahun 1940 (pasal 4), 1,H) Hunga- ria herdasarkan hukum kebiasaan, Ui-) Liechtenstein dalam Zivilgesetzbuch Personen und Gesellschaftrecht (pasal 23), Ui:i) Montenegro dalam Code Civil (pasal 788), J«-‘) Polandia dalam U.U. dari 2 Agustus 1926 tentang HPI (pasal 1 ajat 1), U!r,y Por-

Indonesia. Demikian halnja di-djadjahan- Belanda lainniaouuname (U.U. 4 September 1868, pasal 7). J5«)

157

13

ino)

) L ihat K o l l e w i j n , T. 141/343, p.h. 348. tjalatan pada M r. J. J d e F I i n e s, ..Oavcant Consules”. Untuk Hindia Belanda dikem u­kakan oleh beliau, bahwa ..konstante nederlands-indiese en nederlandse jurisprudentie bij a n a l o g i c ook op vreemdelingen in Indie of Nederland wordt toegepast (p.h. 344). Bdgk. pula K o l l e w i j n T. 132/323. p.h. 334, D e moderne Chinese kodifikasi.

) Bdgk. kini pasal 12 dari Codul civil Carol ad 11-lea dari 193{j TeksM a k a r o v - Q u a l l o n , I, no. 46 sub 5 ; C.C. pasal 2 ajat2, Teks M a k a r o v . Q u e 11 e n, I, no. 46 sub 1.

s) Lihat jurisprudensi jang disebut dalam R a b e l 1. h. 114 darim ana dikutip perintjian ini.Bdgk. pasal 1 dari U.U. 1929 te rseb u t: „Le droit d’un citoyen finlandais de contracter marriage est regie par la loi finlaindaise memo loreque le

.m a rria g e est celebre a I’etrangcr”, Teks M a k a r o v . O i i i . i l . 'I, no. 17 sub 1. '

lfi0) Bdgk. K e g e l , Kommentar, h. 5 1 4 : „Das EG hat dam it das vorher in Deutschland iibenviegend geltende W ohnsitzprinzip verlassen”

1C1) Pasal 4 C.C. Junani dari 15-3-1940: ..Condition des G rangers- L’eim . nger jouit des memes droits civils que le national”.Pasal 5 : „Capaeitc juridique. La capacite juridique de la personncphysique est reglee par la loi nationale”. rsonneBasal 6 : Absence. L ’absence est regie par la loi nationale”

io n (1 ®ks M a k a r o v - Q l , e l l e n . I, no. 19 sub I)) Llhat litcratur pada R a b e l , I h 114 - u

10S) Pasal 23 C.C. Liechtenstein : ,.La capacite d ’un* » *’ 3‘par la loi de sa patrie ou par

.« « , T'H l r n° ' f 2, « * " ,9 , ‘ •) Tidak dimuat dalam M a k a r o v - Q u e l 1 e n105') Pasal 1 ajat 1 U.U. Polandia 1926 : „L a capacite pw sonnelle d ’une ner

sonne physique est regie par les lois de I'E tat dont cette p e r s o n n lJ 'ressortissant: lorsqu’un etranger ne psu t justifier d’aucunesa capacite est regie par les lois de son domicile” (Teks M n t lte’Q u e l l e n , I no. 44 sub 1). U M a k a t r o v -

85

Page 92: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

mereka. Per-tama- dapat disebut negara Perantjis dan negara2 djadjahan Perantjis. Ketentuan jang mengatur pemakaian prinsip kewarganegaraan terdapat dalam Code Civil (pasal 3 ajat 3 ) .1,!>) Kemudian dapat disebut negara lain jang seringkali dipandang sebagai „pahlawan” pula diantara negara- dengan prinsip nasio­nalitet ini, ialah Italia dan djadjahan2. Ketentuan- tentang prinsip kewarganegaraan ini dapat diketemukan berkenaan dengan ber- lakunja Code Civil dari tahun 1865, dalam peraturan2 untuk diperlakukannja Code Civil (Disposizioni Preliminari del Codice Civile, pasal 6), 13°) kemudian berkenaan dengan C.C. 1938 dalam Disp. Prel. pasal 7 ajat 1, disusul oleh Code Civil 1942 (dalam Disp. Prel. pasal 17 ajat 1). ™i)

Di Belgia prinsip kewarganegaraan ini ditjantumkan pula dalam Code Civil (pasal 3 ajat 3). lr>-) Di Luxembourg demikian pula (C.C. pasal 3 ajat 3). ]',:!) Djuga demikian di Monaco (C.C. pasal 3 ajat 3). 1,‘) Dinegeri Belanda seperti diketahui ketentuan serupa ini telah ditjantumkan dalam U.U. tanggal 15 Mei 1829 S. no.. 28 (,,Wct houdende Algemeene Bepalingen der Wetgeving van het Koninkrijk , pasal 6 dan 9). lr>3) Berdasarkan azas konkor- dansi kita saksikan bahwa di Hindia Belanda pun diterima keten­tuan jang serupa jakni dalam „Algemeene Bepalingen van Wetgeving” (30 April 1847, S. no. 23, diubah S. 1915, no. 299 jo. 652), pasal 16 jang hingga kini masih berlaku untuk Republik

149) M enurut K u h n , cliterimanja pasal 3 ajat 3 C.C. ini m erupakan suatu s ig n ific a n t v.ctory dari prinsip kewarganegaraan atas prinsip domicile h. 63),

150) Bdgk. kini pasal 17 d a n C.C. Italia dari 16-3-1942 ( M a k a r o v - Q u e l l e n , I, no 26). U ntuk teks pasal 6 dari Disposioni Prelim inari Teks M e i j e r s , Recueil, h. 15.

151) I d e m seperti no. 150. Dalam M a k a r o v - Q u e 11 e n tidak dimuat peraturan2 ini.

152) Pasal 3 a jat 3 C.C. Belgia b e rb u n ji: „Les lois concernant l’e ta t e t la capacite des personnes regissent les Beiges, m em * residant en pays etranger” (Teks M a k a - r o v - Q u e l l e n , I no. 5).

153) Pasal 3 a ja t 3 C .C. Luxem bourg ini bunjinja sam a dengan pasal 3 ajat 3 C .C. Belgia. Teks M a k a r o v - Q u e l l e n , I, no. 34.

154) Idem un tuk C.C. M onaco ptasal 3 a jat 3. Teks M a k a r o v - Q u e 11 e n, I, no. 36.

3 55) L ihat djuga jurisprudensi dari H.R . 5-1-1917, W. 10444, N .J. 1919, 1032,P asal2 ini telah diganti sedjak berlakunja „Eenvormige wet betreffenda het internationaal privaatrccht dari 11-5-1951 antara negara2 Benelux (lihat H PI, no. 149 n. 14).

84

Page 93: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Di Rumania terdapat ketentuan serupa dalam Code Civil (pasal 2), 1'-') demikian di Bulgaria, Finlandia (U.U. no. 379 dari_5 Desember 1929), >■'") Djerman dengan EGBGB-nja jang sudah seringkali disebut (pasal 7, 9, 13-15, 17-25), 1U0) Junani dengan Code Civil modern dari tahun 1940 (pasal 4), ,(U) Hunga­ria berdasarkan hukum kebiasaan, UI-) Liechtenstein dalam Zivilgesetzbuch Personen und Gesellschaftrecht (pasal 23), lo:*) Montenegro dalam Code Civil (pasal 788), ],il) Polandia dalam U.U. dari 2 Agustus 1926 tentang HPI (pasal 1 ajat 1), lor,J Por-

Indonesia. Demikian halnja di-djadjahan- Belanda lainnja,Suriname (U.U. 4 September 1868, pasal 7).

ir,c) Lihat K o l l e w i j n , T. 141/3 43, p.h. 348. tjatatan pada M r. J. J.d e F l i n e s . „Oaveant Consules”. Untuk Hindia Belanda dikemu- kakan oleh beliau, bahwa ..konstante ncderlands-indiese en nedlerlandse jurisprudentie bij a n a l o g i c ook op vreemdelingen in Indie of Nederland wordt toegepast (p.h. 344). Bdgk. pula K o l l e w i j n , T. 132/323, p.h. 334, D e m oderne Chinese kodifikasi.

157) Bdgk. kini pasal 12 dari Codul civil Carol ad II-lea dari 1938 TeksM a i k a r o v - Q u a l i e n , I, no. 46 sub 5 ; C.C. pasal 2 ajat2, Teks M a k a r o v . Q u e l l e n , I, no. 46 sub 1.

13S) Lihat jurisprudensi jang disebut dalam R a b e l 1, h. 114 darim ana dikutip perintjian ini.

15*») Bdgk. pasal 1 dari U.U. 1929 te rse b u t: „Le droit d ’un citoyen finlandaisde contracter marriage est regie par la loi finlaindaise memo lorsque le m arriage est celebre a retranger” , Teks M a k a r o v - Q u c l l e n , I, no. 17 sub 1.

ifiO) Bdgk. K e g e l , Kommentar, h. 51 4 : „D as EG hat dam it das vorher inDcutschland ubenviegend geltende W ohnsitzprinzip verlassen”.

i d ) Pasal 4 C.C. Junani dari 15-3-1940: „Coudition des etrangers : L ’etra-nger jouit des memes droits civils que le national”.Pasal 5 : „Capacite juridique. La capacite juridique de la personne physique est regies par la loi nationale”.Paisal 6 : „Absence. L’absence est regie par la loi nationale”.(Teks M a k a r o v - Q u e l l e n , I, no. 19 sub I).

i«e) L ihat literatur pada R a b e l , I, h. 114; R e c z e i , h. 143.103) Pasal 23 C.C. Liechtenstein : „La capacite d’une personne sera determ inee

par la loi de sa patrie ou par sa loi nationale” (Teks M a k a. r o v, Quellen, I, no. 32 sub I ; M e i j e r s - R e c u e i 1, h. 19).

104) T idak diniuat dalam M a k a r o v - Q it e 11 e n.105) Pasal 1 ajat 1 U.U. Polandia 1926 : „L a capacite p:rsonnelle d ’une per­

sonne physique est regie par les lois de l'E tat dont cette personne est le resso rtissan t: lorsqu’un etranger ne p su t justifier d 'aucune nationalite, sa capacite est regie par les lois de son domicile” . (Teks M a k a ir o v - Q u e l l e n , I no. 44 sub 1).

85

Page 94: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

tugal dalam Code Civil (pasal 24, 27),10G) Spanjol dalam Code Civil (pasal 9 ) .1G7) Swedia (dalam U.U. dari 8 Djuli 1904 dan perubahan 27 Djuni 1924), 108) Turki (U.U. 1 Maret 1915 untuk orang2 asing),lon) Iran dalam Code Civil (pasal 962), 17(l) Tiongkok (U.U. dari 5 Agustus 1918, pasal 5), 1T1) Djepang (U.U. dari 15 Djuni 1898 pasal 3). 172)

Dari negara- Amerika Latin dapat disebut Costa Rica (jang memuat ketentuan bersangkutan dalam Code Civil (pasal 3), 17:>) Cuba dalam Code Civil (pasal 9), 171) Republik Dominika dalam Code Civil (pasal 3 ajat 3), 17r>) Ecuador dalam Code Civil (pasal

loe) Pasal 24 C.C. Portugal dari 1-7-1867 : „Les portugais qui voyagcm ouresident a I’etranger restent sou mis au lois portugaises conccm ant leur capacite civile, leur etat, et leur propriete im m obiliere situee au Portugal, quant aux actes qui doivcnt produiro effet dans ce p a y s ; toutefois !a' form e extericure das actes est regie par la loi du pays oil ils ont etc passes, excepte dans, les cas ou la loi decide express em ent le co n tra ire”. Pasal 27 : ,:I ’etat et Ia capacite civile des etrangers sont regies p a r la loi de leur pays” (Teks M a k a r o v - Q u. Ij Le n, I no. 45 sub 1).

107) Pasal 9 C.C. S p a n jo l: „Les lois relatives suix droits ct aux devoirs defamille, a 1 e tat et a la capacite legaledes personnes, obligent Espagnols m em e s’ils resident en pays etranger”. ’

108) Teks M a k a r o v - Q u e 1 1 e n, I no. 49 .109) Teks M a k a r o v - Q u e l l e n , I, no. 56 sub 1.170) Teks M a k a r o v - Q u e l j l e n , I, no. 24 sub I, pasal 6.i ‘ i) Pasal 5 ajat 1 U.U. Tiongkok 5-8-1918, ,,La capacite d’une personne est

determ inee par sa loi nationale” (Teks M a k a r o v - Q u e l l e n I no. 10).

i"2) Pasal 3 ajat 1 U.U. D jepang 1898 : „La capacite d ’une personne est regiepar les lois de 1’auquel aippartient cette personne” (Teks M a k a r o v - Q u e l l e n , I, no. 27 sub A ; M e i j e r s , Recueil, h. 75).

173) Pasal 3 C.C. C osta Rica : „Les lois de la Republique concernant Petal:et la capacite des personnes obligent les ressortissanls de Cotsta R ;ca

pour tout acte jurid ique ou con tra t doit etre execute a C osta Rica, quel soit le pays ou a ete etabli ou passe l'acte ou lc c o n t r a t ; clles obligent aussi les etrangers en ce qui concerne les actes qu’ils etablissent ou ]es contrats qu’ils passent e t qui doivent e t r e , executes a C osta R ica” (Teks M a k a r o v -. Q u e l;l) e n, 1 no. 11 sub 1).

174) Pasal 9 C.C. C uba 11-5-1888 : „Les lois relatives aux dro its et devoirsd e la famille, a l’etat, a la condition at a la capacite legale despersonnes obligent tous les C ubains m em e s’ils resident en pays e tran g er”(Teks M a k a r o v - Q u e l l e n , I no. 30).

1?5) Pasal a ajait 3 C.C. D om inika dari 1845 : „Les lois concernant l’e ta t etla capacite des personnes sont obligatoires pour tous les D om inicains, meme residant en pays etranger”.

86

Page 95: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

14),17U) Haiti dalam Code Civil (pasal 7), 17T) Honduras dalam Code Civil (pasal 13),178) Mexico dalam Code Civil dari 1884 (pasal 12), m ') Panama dalam Code Civil (pasal 5a), 3S0) Venezuela dalam Code Civil (pasal 9). l81) Kemudian kita saksikan pula dianutnja prinsip kewarganegaraan ini dalam perdjandjian antara Columbia-Equador dari 18 Djuni 1903 (pasal 2). I8-)

Prinsip kewarganegaraan ini telah mendjadi dasar pula dalam berbagai perdjandjian- internasional dibidang HPI. Dapat disebut disini, Konvensi- Den Haag dari tahun 1902 dan 1905 jang sudah kita sebut dalam uraian kita pada djiiid pertama. ,s:i) Demikian pula telah dipergunakan prinsip kewarganegaraan ini dalam Persetudjuan di Lima dari tahun 1878. tHI)

b. Negara- dengan ,prinsip domicilie.

Dalam kelompok ini dapat disebut: Semua negara- Inggris jang menganut sistim „common law” . Djuga Scotlandia, Afrika Selatan dan Quebec (pasal 6 C.C.) dapat disebut d is in i ; Den-

1 <0) Teks M a k a r o v - Q u e 1 1 e n, I no. 15 sub 1.i " ) Pasal 7 C.C. Haiti 27-3-1825 : ,.Les H aitiens qui habitent m om entane-

ment cn pays etranger sonl regis pair les lois qui concernent l’c ta t et la capacite des personnes en Haiti”. Teks M a k a r o v - Q u e 1 1 ei 11, I, no. 22 .

17*5- Teks M a k a r o v - Q u e H e n , [ no. 23 sub I.179) Teks Teks M a k a r o v - Q u e l l e n , I, no. 35.180) c.C. Panam a 22-8-1916, teks M a k a r o v , I no. 41 sub 1.181) C.C. Venezuela 13-8-1942, Teks M a k a r o v , I no. 61 sub 1.182) Pasal 2 Perdjandjian Columbiflt-Ecuador, 18-6-1903, „L ’etat et la capa­

cite juridique des personnes seront determ ines selon leur loi nationale, merne s’il s’agit d 'actes executes ou de biens situes dans 1 autre pays” (Teks M a k a r o v - Q u e l l e n , II, h. 120.

183) H PI, I, no. 151, 152.184) M enurut taksiran C h e s h i r e (1961) kurang lebih 500 d ju ta orang

diseluruh dunia berada dibawah prinsip kew arganegaraan (196). Z e b a l l o s telah menaksir angka ini 460 djuta. terhadap 500 d ju ta o rang dibawah dtoniicilie pada tahun 1909. L ihat W o l f f , h. 105. N u s s b a u m , h. 2 4 ; N i e d e r e r , h. 154. noot 14. jang sem uam enundjuk pada taksiran Z e b a l l o s itu.

87

Page 96: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

m ark ,181a) Nonvegia, ls'tb) Jteeland ; 184i;) negara2 A m erika Latin , Argentina (pasal 6 dan 7 C.C.),184d) Brazillia (pasal 7 U.U. 1942),181e) Guatemala (pasal XVII U.U. ten tang kekuasaan pcra- dilan, 1936); pasal 17 dan 18 U.U. orang asing 1936), ls4f) N ica­ragua (pas. pembuka VI, I), 1S4fe’) Paraguay (pasal 6, 7 C .C .) ; ' s“ ') Peru (pasal- pembuka V dari C.C. 1936, untuk orang- bukan warganegara Peru). 18,i) Dalam perse tud juan Montevideo tahun 1889 (antara Argentinian Bolivia, Paraguay, P e ru U ruguay)

181a) Tidak ditjantum kan se tja ra tegas da lam p era tu ra n te rtu lis . Bdgk.B o r u m, Q.A. dan M e i j e r, K a r s t c n „ D ro it in te rn a tio n a lprive du D anem ark”, 6 R epertoire, li. 213, p.h. 216 no . 1 9 ;P h i 1 i p, 'A I 1 a n, A m erican - D anish p rivate in te rn a tio n a l law . New Y ork (1957), h. 16, 36.

184b) Disim pulkan dari hukum kebiasaan. Bdgk. C h r i s t i a n s e n ,H e i m a n, „ D roit international prive d e la N orvege, 6 R ep erto ire ,h. 561, p.h. 569, no. 66.

184c) L ihat R a b e l , I, h. 119.i84d) Pasal 6 C.C. A rgentina dari 29-9-1869 ; „L a capac ite ou l’incapacite des

personnes domicilees sur le territo ire de la R epub lique, q if il s’agisse de nationaux ou d’etrangers, seront jugees d ’apres les d ispositions d e ce Code, meme s’agit d ’aetes executes ou de biens situes dans la R ep u b li­que” . Teks M a k r o v - Q u e I I e n , I no. 3 sub 1.

184e) Pasal 7 dari Loi d i’ntroduction au C ode Civil B resillien du 4 -9 -1 9 4 2 : . „Ia loi du pays dans lequel la personne est dom icifiee d e te rm in e les droits de famille”. Teks M a k a r o v - Q u e l l e n , I, no. 7 sub A , 1.

8^ ) Pasal XVII dari La loi constitutive dn pouvoir jud ic ia re du 3-8-1936 ; ,,’etat et la capacite personnes sont regis p a r lois de leu r dom icile".Pasal 17 dari U.U. 25-1-1936 m engenai o rang asing : ,,Les lois gunte- malteques obligent toute personne se trouvan t sur le te rrito ire du G u a te ­m ala sans distinction de nationalite. L 'e ta t e t la caparite des personneset les relations de fam ile sont regis p a r la lo i personnelle qui e s t celle du domicile” . Teks M a k a r o v - Q u e l l e n , I no. 21, sub 2.

iS 4 g ) Pasai v i sub 1 dari C.C. N icaragua 1094 : ,.D ie H and lungsfah igkeit(capacidad civil) der N ikaraguaner richtet .sich nach dem G ese tz ih res W ohnsitzes” , Teks M a k a r o v - Q u e l l e n I no. 38, sub I .

i84h> p asal 7 c c Paraguay, sam a bunjin ja dengan C .C . A rgen tina(m enurut U.U. 27-7-18-1889). L ihat diatas, no. 184d). M a k a r o v - Q u e l l e n , I no. 42.

184i) Pasal V dari C.C. Peru dari 30-8-1936 : „L ’e ta t et la capacite civile des personnes sont regis par la loi du dom icile, n ia is la lo i peruvierfine s’appliquera lorsqu’il s’agit des Peruviens” . T eks M a k a r o v - Q u e l l e n , I no. 43 sub 1.

88

Page 97: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

pasal l. >»>J) (Teks da ii 1940, pasal 1, jan g d irn iiiikasi oleh A rgentin ia , U ruguay dan Paraguay). ls,k)

189. Tidak ada prinsip jang a priori lebih baik.

P e rb e d a a n an ta ra kedua prinsip ini seperti telah kita saksikan, pada pokoknja dapat d ikem balikan pada perbedaan d ile takkann ja titik <berat atas segi personalit'et a tau segi territo- r ia l i te t daripada hukum . 1S5)

Jan g m ana d ian ta ra d ian tara kedua stelsel adalah jang lebih baik hal ini t idak dapat d iten tukan begitu sadja se tja ra a priori, 18,i) p e r tan jaan ini tidak dapat d id jaw ab dengan baik ter- lepas da ripada k en ja taan sosial dan hubungan- hidup jang te rdapa t dalam n eg ara2 m asing2 untuk mana sistim H P I .bersang­ku tan berlaku. Tegasnja, p e r tan jaan ini tidak dapat didjawab se t ja ra abstrak dan a priori. J an g han ja dapat diiberikan ialah d jaw aban dalam suatu hubungan chusus te rten tu , m engenai suatu negara a tau kelom pok n eg ara2 te r ten tu . Selalu harus diadakan hu b u n g an an tara sistim H P I te r ten tu dengan negara jang b e r­sangkutan . T crlepas daripada negara un tu k m ana sistim jang m anakah d ian ta ra kedua . sistim ini adalah jang terbaik un tuk dipilih. Masing- sistim, baik sistim jang m enganu t prinsip kew ar­g anegaraan m aupun sistim jang m enganu t prinsip domicilie - m em punja i k eu n tu n g an 2nja dan k e ru g ian 2nja. H an ja untuk suatu negara te r te n tu atau kelompok negara- te r ten tu dapat didjawab pe rtan jaan sistim m anakah ja n g sebaiknja dipilih d ian ta ra kedua

18«) L ih a t H P I n o . 154 sub IV , M aj(k a r o v - Q u e l l e n , I I no . 2 ;M e;i j e r s - R e c u e i I, h . 54. P asa l 1 b e rb u n ji : „ D ie H and lungs- fiihigkeit d e r P ersonen r ic h te t sich n ach d en G esetzen ihres W ohnsitzes” (kursip kaimi).

is ik ) M a k a r o v - Q u e l l e n , I I no . 3. P asa l 1 b e rb u n ji : „D a s Beste-hen , d e r S tan d u n d d ie G eschaftsfah igkeit (capacidad) von na tiirlich eu P erso n en w ird ’ n ac h dern G ese tz ih res W ohnsitzes bestim m t. E ine G es- ch a ftsu n fah ig k e it s tra frech tliohen C h a ra k te rs , und so lche, d ie au f G ri'tnden d e r R elig ion , d e r R asse, d er N a tio n a lita t od er d er M einung b eru h en , weixlen n ich t a n e rk a n t” .

18r>) B dgk. N i e d i e r e r , h . 14 dst. E 1 1 e r, V om E in flu ss des Souve-ran itjitsgedankens a u f das IP R , h. 159.

lfJ(:) B u kan lah tugas d a ri H P I u n tu k m e n g em u k a k an p e n d irian - p ro a ta uk o n tra p rin sip dom ic illie a ta u p rin sip k ew a rg a n eg a ra an ini. T u g as te o ri H P I h a n ja u n tu k m en em u k an su a tu „m o d u s v ivend i” a n ta ra p e n d ir ia n 2 ja n g sa ling b erten tan g an . B dgk. N i e d e r e r , h. 154.

89

Page 98: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

sistim ini. Seperti telah kita saksikan djuga disini hubungan kausal antara sistim2 jang mendjadi realitet dan kenjataan2 masjarakat tidak dapat diabaikan.

190. Ketjondongan jnegara-negara E ropah-Kontinental terhadap negara-negara Anglo-Saxon!

Stelsel2 hukum Negara2 Eropah kontinental ternjata telah mengandung lebih banjak arti pada' segi personalitet daripada negara2 Anglo-Saxon jang meletakkan titik ’berat kepada titik2 taut jang [befs"egften’itorial.|1S7) HPI daripada masing2 negara2 itu djuga terpengaruh oleh pandangan umurn tentang hukum ini. Titik2 taut dalam HPI negara2 Eropah kontinental lebih mengke- depankan segi personalitet daripada hukum. Sebaliknja titik2 taut dalam HPI negara2 Anglo-Saxon lebih mengkedeipankan segi territorial daripada hukum. ,S8) Hal ini sudah kita singgung dalam djilid pertama. 18!')

191.. Territorialitet terhadap personalitet daripada hukum.

Menurut sistim domicilie jang mengkedepankan segi territo­rialitet daripada hukum, maka semua hubungan2 daripada orang2 jang berkenaan dengan soal2 tentang perseorangan, kekeluar- gaan, warisan. s ingkatn ja : „Status personil” d itentukan oleh domicilie-nja^ Lingkungan-kuasa territorial daripada hukum sesuatu negara jang dikedepankan. Dengan demikian kita saksi­kan bahwa s_e_rri u a orang jang berada didalam wilajah sesuatu negara dianggap takluk dibawah hukum Negara itu. tuo) Hal ini adalah akibat daripada dikedepankannja titik2 pertalian iang ber- sifat territorial

187) Bdgk. E t t e r , o.c. h. 165 ; L ihat G r a v e s o n , h. 57188) T iga teori u tam a dalam H PI A nglo-Saxon: „teori-co.nitas” sedjaJc

S t o r y , „teon vested-rigl.ts” dari D i c e y dan B e a l e , dan „teori ocal law d a n C o o k dan L o r e n z e n sem ua ini d idasarkan

teru tam a atas segi ,,territoriality” daripada hukum.Bdgk. de V r i e s , Recent developm ents in the P.I.L. in the U.S., dalam 75 Recueil 1949 II, h. 210.

iM) H PI, T, no. 132 - 135.10°) Bdgk. E t t e r , h. 167.

90

Page 99: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Sebaliknjn. menurut sistim jang dianut dalam negara2 Eropah kontinental, segi personalistis jang dikedepankan. ,!") M enurut teori personalistis ini hukum 2 jang bersangkutan dengan status seseorang adalah erat sekali hubungannja dengan o rang2 te rse­but, dikaitkan kepadanja se-erat2nja. Hukum asal atau hukum nasionalnja ini tetap mengikutinja dimanapun ia ini pergi. Kata E 11 e r dalam hubungan ini bahwa kewarganegaraan se-olah2 mendjadi suatu ,,mystisch rechtichen Band, das den Rechts- genossen mit dem Staate, mit seines ,,1-Ieimat verbindet . 10~) Hukum personil dari seseorang adalah hukum nasionalnja, hukum jang ditentukan oleh kewarganegaraannja. Setiap w aiganegaia ini tetap takluk dibawah hukum nasional daiipada negaianja kemanapun ia pergi.

Demikianlah pokok2 pikiran daripada sistim kewaigane- garaan dan sistim domicilie sebagai titik taut utama tentang hukum jang harus diperlakukan.

192. Masing- aliran mempunjai pembela-nja.

Sedjak beberapa lama, jakni tidak kurang daripada sedan achir abad ke-19 para sardjana sudah memperdengarkan suaia-- pro dan kontra antara kedua sistim ini. Masing2 pihak mempunjai ,,pembela2-nja” tersendiri. ina) Mereka ini meng’eniukakan berbagai alasan2 satu terhadap jang lain. UVUx) Kedua pihak ini

lf tl) H al ini d isebabkan karena „nirgends au f der W elt d er B egriff dei ..Naition” zuerst politisch, d an rechtlich, d era rte hoch entw ickelt ist wie au f dem K on tinen t” ( E t t e r , h. 165).

1(>2) E t t e r , o.c.h. 162.li,:!) G olongan p ro prinsip-kew arganegaraan m isalnja niendapat dukungan

kuat dari F r a n k e n slit e i n (lihat tex tbooknja I, h. 3 7 : „dieR echtsordnung, der jedier M ensch angehort, n u r d ie desjenigen Staates

• ist, dem er durch das B and der S taatsangehorigkeit verknupft ist’ ;h. 39 : „So fu h rt alles, die psychologische U ntersuchung der B egriffe von R echt und G esetz und d ie E insicht in die w irklichen V erhaltn isse des Lebens zu dem selben Ergebnis : d ie S taatsangehorigkeit, n ich t der W ohnsitz bestim m t die Rechtsordnung, d e r jeder angehort . T e tap i 24

- . tahun kem udian penulis ini berbalik sam a s e k a li! L ihat no. 204N i e d e r e r pun tjondong kepada prinsip dom icilie (lihat texbooknja, h 149 * De lege ferenda sind die territorialen A nkniipfungsm erkm ale „v0 izuz"iehen”). D juga E t t e r : „D ie m odeine Entvvicklung gehtin der Richtung auf die erneute Bevorzugung des W ohn-sitzpnnzips ,o.c. h. 167. , _ j

i'.t:ia) K u h n b c rk a ta : „T hus a b a ttle ensued betw een the tw o standardsfo r the determ ination, o f personal law w hich has continued to the presen t day” (h. 63) Bdgk. C h e s h i r e li. 196 dst.

91

Page 100: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

saling mengemukakan iang sain tp r h ^ , , • mereka ini adalah „kolot, middeleeuws” 1 f>- 'la^ 1 balnvaprinsip nasionolitet misalnia f T • ° * ang - ja n g membela cilie jang bersandarkan kepada ses r ' tpPa”tka” ,bahwa azas domi" adalah pikiran dari mereka ian? n .[eu itona l danpada hukum tjara- berpikir jang b e ^ f p n f i * , ™ 6111688" 8 teguh kePada dalam wilajah .Tuan” ini d i p a n d a n g j ang berada jang harus takluk dibawah huk.fm f sebagai budak-*njaitu. p Sebaliknja mereka jang membflaTUan” - daIam territoir mandang prinsip „that a man c a r n l u P n n ?ip cIomicilie me‘ personal law” adalah „a medieval one” Wlth him his 0nly

193. Kepentingan sendiri turut berbitjara.

Sesungguhnja, seperti telah u t , untuk dapat memberikan djawaban S t atakan diatas, sukarlah setjara lepas daripada kepentingan' ™ ^ ™ aa!!kab W terbaik HPI mi harus berlaku. Dalam m-alrtoi • uk mana stelsel2djustru kepentingan negara* ini sendfriiT Saksikan bahwab e S aantegf a2 maSing2 s sUm f Jf ng tdah membawaberkata tentang mi bahwa alasan'' f V tertentu. Ada ian£,dalam ..egoistischen Intere e n ^er i ngkah tedetakjan*; misalnja kita saksikat d a , ^ Staaten” m ^

r Z g S I C t r “ f - S dengan £ ? * ^

Djerman dan Italia MeJ n ^ f 3'garaan oleh karena mereka lm men§anut prinsip k l salnjamereka djuga jang sudah rnen8'hendaki bahwa w war£ane'

s J*ng sudah mengumbara kPW Warganegara3 --------------- Keiuai negeri, sedapat

- ) Sdg: B ^ SnS; s!iha4 BcBV /;J> h. 52.e?1'* u i*rrics c/]; 1no. 4. S e b e n a - - B e a l «;C h e s h i r e -

,9C) Bdgk. E t t e r ,

.197)

92

Sebenarnja 'jang fepa t^ ia lah da" N i ^ e r e r h Ie

m V r, „h1 « " s t . » S

*swr£s; v s s s y * ' s z s z r t t e T r ‘ ^ n ■ i s

Political motives”,

Page 101: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

mungkin tetaplah takluk dibawah hukum mereka sendiri. lus)final” tj?ntoh jang lebih te§as la& daripada sikap jang memen- tingkan kepentmgan sendiri ini terlihat dalam sistim HPI ians dianut di Sovjet Russia. Menurut HPI negara ini prinsip territo nalitet dipergunakan sepandjang mengenai pemakaian daripada lukum Sovjet dinegara Sovjet. Akan tetapi prinsip nasionalitet-

lah jang dipergunakan bagi para warganegara Sovjet jang berada diluar negeri, dengan tudjuan supaja hukum Sovjet djuga berlaku terus untuk warganegara Sovjet diluar negara Soviet Russia. J

194. Kombinasi prinsip domiccilie dan kewarganegaraan.

Ada negara-’ lain jang mengenai ketentuan2 serupa. Untuk orang- asing jang berada didalam negeri diperlakukan prinsip domicilie. Tetapi untuk warganegara sendiri jang berada diluar negeri dipergunakan prinsip nasionalitet tanpa memperhatikan sama sekali bagaimana adalah pendirian daripada negara dimana warganegara ini berdomicilie. Negara- jang menganut sistim serupa ini terdapat di Amerika Latin, a.i. Chili, Equador Colom­bia, Peru, El Salvador, Venezuela dan Mexico. Negara-^ ini njatanja menganut pendirian serupa karena terdorong oleh hasrat jang tak dapat dipudji, jakni hasrat jang pernah dinama­kan : „Juristiscliem Chauvinismus”. -on)

Menurut sistim jang dianut di Chili ini tidak diperlukan domicilie untuk diperlakukannja hukum Chili. Setiap orang jang merupakan penghuni Chili, tanpa memperhatikan apakah^ia ini

108) Bdgk. pula azas ius sanguinis dan ius soli pada peraturan- kewargane­garaan pelbagai negara. Lihat G o u w g i o k s i o n g , W arganegara dan orang asing, 1 1 ; idem, Tafsiran U.U. Kewarganegaraan R .I . ° \ 3 Berhubung dengan ini N u s s b a u m telah kem ukakan bahwa „growing political tension has raised doubts about the wisdom of a rule which chains immigrants to their native countries” (h. 138) Bd™k K u h n , h. 66. Perhatikan ketjam an W o l f l : ; „andi covers a desire for expansion and for the exercise of a certain control within the sphere of foreign countries” (h. 105).

UJ) Lihat M a k a r o v , Le droit international prive sovietiquc d a la mRecueil 1931, h. 500. Sama dengan HPI Russia, Code Mexico dari 1928J-lampi'- bersamaan, dim ana warganegara walaupuii berada diluar neseri ditaroh dibawah hukum nasional m ereka dan orang asinc didnlqm r, ■ tund'uk kepada hukum domicilie mereka : Ausfri? P en , V gf ' - Lihat W o l f f , P.l.L. no. 94, h. 102. ’ : VenC21’^ -

20°) G o l d s c h m i d t , s.d. K e g e l , h. 139 .

93

Page 102: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

disana- tawukmampu3,, ulltuk berltadak dalam melakukan b e r b ^ S a t e l tertentu dan berkenaan dengan hu-h-inaan nansaksilakukanlah hukum Chili b a g f w a i g ^ -1P^berada diluar negeri. Pikirin Z f S walaupun la inikarena dipandang telah memperluas huT U'Pa . telah cii:<etJam batas2 jang lazinT R a b e l ,m nasi°™ 1 j 115 di]uai>memandang sikap sedemikian ini sebagni” ™ T ' ? a"cated modern endeavors” dengan t u S n S * ..sophisti-national law beyond the limits of thP ha ” , expand their own have adopted” S e b e n ^ j f X ^ P " ^ l e which th<ysistim HPI negara2 Amerika Latin in adalah ? ? Jantum dalam sistim HPI jang telah dipergunakan d a l t?I'1,en8aruh oleh pem'buat-undang2 Code Civil Austri-, AlJstria- -,(M) Menurut domicilie jang akan diperlakukan u n t u k a?u n . 1811 hukum

■-hidup di Austria maupun diluar negeri n , n g‘ , asing baik -ian§' Austria sepandjang berkenaan dengan warganegarabilamana mereka berada diluar negeri h i ? personil mereka, negaraah. *»*) Prinsip sematjam ini i W . prinsiP kewarga- oper oleh pembuat-undang2 Code Civil pi*!”3313 tclah diamrbil Kemudian djuga lain2 negara Ameriki T dari lahun *855. tadi mengopernja. a Latln -lang sudah disebut

Djadi, jang kita saksikan ialah smh, t , kedua prinsip ini. Tetapi kombinasi jang d ^ i , ? Uasi daripada dipudji, karena terdorong^ieh h a s r a t I a n . t lni tklak daPa* memperluas berlakunja hukum sendiri se fL lv a"? murni’ 3akni

' a se-banjak2nja.195. Aliran- di Perantjis.

Djuga di Perantjis dalam masa

berada

2(n) R »b<?i, i, ], , 27

« '■ "■ s) Rub el, f j, j204) T-V__

94

J-y U 6 .

JJemikian adalah j

Perbedaan faham timbul* k a ^ f ?enulis tc ibanjak (pasal 34) adalah tak djelas en,uai] dalam A

A 118- KGB Austria

Page 103: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

didalam negeri haruslah dipergunakan hukum Perantjis sebagai hukum domicilie. Salah suatu pelopor jang kenamaan daripada aliran ini ialah sardjana hukum Perantjis N i b o y e t . Beliau telah mengemukakan pendirian bahwa sebagai negara imigrasi adalah dalam kepentingan Perantjis untuk menghadapi persoalan daripada orang- asing jang terdapat dalam djumlah besar dine- gara Perantjis sebelum petjahnja perang dunia kedua. Faedah- nja sistim domicilie untuk negara- imigrasi terasa benar2 oleh sardjana kenamaan ini. Oleh karena itu ia telah mengkedepankan untuk memperlakukan sadja hukum Perantjis untuk semua orang- jang berada di Perantjis. Aliran ini ternjata telah memperoleh dukungan2 kuat dan tertentu. Sardjana hukum kenamaan Pe­rantjis lainnja, L e r e b o u r s . P i g e o n n i e r e dapat di­anggap termasuk pula dalam aliran chusus ini. Semula kita saksikan bahwa pendapat sedemikian ini telah memperoleh dukungan daripada hampir semua ahli hukum Perantjis a.i. jang tergabung dalam Comite Frangais de Droit International Prive” . 20n)*

Tetapi, setelah perang dunia kedua kita saksikan bahwa aliran seperti dikemukakan oleh N i b o y e t ini, jang tjon- dong kepada prinsip domicilie, telah tidak dapat dukungan jang bulat lagi. 20°) B a t i f f o 1 misalnja telah memperdengarkan suara jang berlainan.20T)

Jang perlu diperhatikan bagi rangkaian tindjauan kita seka­rang ialah bahwa aliran seperti dikemukakan di Perantjis ini adalah sedjalan dengan pikiran2 jang telah mendorong para

- 05) Lihat R a b e l , I, h. 164, 165;W o l f f , P.I.L., h. 102; 5 Repertoire „Dom icile et Residence”,no. 104, 106.

- 0G) Tetapi perlu diakui pula bahwa m enurut berbagai penulis diwaktu achir- ini nainpaklah dalam H PI m odern ini, suatu tendensi jang diperbaharui kearah prinsip domicili.Perkembangan ini terpengaruh oleh beberapa hal : adanja. banjakpclariari-, kenjataan bahwa nasionalisme di Eropah kontinental sudah mengalami „H 6hepunkt”-nja dan kini pelahan- njata tendensi2 kearah solidaritet dalam rangka jang lebih besar dari batas- negara (a.i.) Fede- rasi Eropah, European Common M arket dsb.) tendensi~~struklur politis dan ekonomis jang tidak , .favourable” untuk faham kew arcanecaraan Bdgk. E t t e r , o.c. h. 167.

'207) .B ■» t i f f o 1, Principes de droit international prive dalam 97 (1959), p. 435 dst., chususnja p. 506 dst.

Page 104: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

pem buat-undang2 dari negara2 Amerika Latin untuk menerima ketentuan2 chusus jang mengkombinasikan prinsip kewargane­garaan dan prinsip domicilie setjara terlampau berat sebelah. -ofl)

196. Kombinasi dalam sistim HPI Swiss.Sistim HPI jang dianut dinegara Swiss djuga berpokok

pangkal pada kombinasi daripada sistim kewarganegaraan dan sistim domicilie.2on) Untuk orang2 asing jang berdomicilie di­negara Swiss diperlakukan hukum perdata Swiss. Kepada warga­negara Swiss jang berada diluar negeri akan berlakulah pula hukum dari tempat domicilienja itu. Akan tetapi, apabila hukum daripada negara dimana ia berdomicili ini tidak menaroh warga­negara Swiss itu dibawah hukum jang berlaku dinegara itu, maka pengadilan2 di Swiss harus memperlakukan hukum daripada kanton darimana jang ‘bersangkutan adalah warganegara. Misal­nja ketentuan jang sedemikian ini terdjadi apabila terdapat w a r g a n e g a r a Swiss jang berdomicilie dalam n e g a r a 2 jang me­nganut prinsip kewarganegaraan, seperti antara lain negara Perantjis, Italia, Djerman atau Indonesia. Dengan djalan ini dapatlah dihindarkan terdjadinja pertentangan dengan hukum daripada domicilie jang bersangkutan. Hukum Swiss hanja diper­lakukan apabila pengadilan daripada tempat domicilie jang ber­sangkutan djuga menentukan demikian.

197 . Sifat2 relatip dari masing2 prinsip dalam pelaksanaamija.

Dari pada apa jang diuraikan diatas djelaslah bahwa dalam prakteknja ternjata sistim2 jang dianut seringkali tidak disandar- ltan seluruhnja atas hanja satu pi insip teitentu. Kita saksikan bahwa seringkali telah diperlakukan kedua sistim bersangkutan. Hanja terdapat perbedaan dalam gradasi daripada pemakaian prinsip2 ini. Ada sistim2 HPI jang menekankan kepada prinsip jang lain. Tjara kombinasi ini adalah agak relatip. Adakalanja bahwa hubungan kombinasi ini dipergunakan setjara kurang memuaskan karena jang dikehendaki ialah^pemakaian._ sedagat mungkin daripada hukuiiiJiasional-s^n^o,.jXntuk-Persoalq^^ (misalnja negara2 Amerika-Latin). Tetapi adakalanja pula bahwa sistim hukum setjara tjampuran (mixed) ini telah tersusun setjara lebih 'baik (misalnja seperti dinegara Swiss), jakni dengan tudju-

208) R a b e l , i, h. 128.'209) Pasal 2 dan 28 NAG. Titik berat diletakkan atas prinsip domicilie.

S c i h n i t z e r , I, h. 119. Bdgk. R a b e l , I. h. 124; R a a p e ,h. 50

96

Page 105: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

an un tu k m engh indarkan tim bulnja konflik2 dengan sistim* H P I lainnja. Kombinasi ja n g diadakan an ta ra kedua prins ip ini dapat d ia tu r se tja ra seha t a tau tidak sehat. Pada w aktu kita m em bitia- ra k a n lebih d jauh hubungan an tara prinsip k ew arganegaraan dan prinsip domicilie ini akan kita ren u n g k an lebih d jauh sambil m engem ukakan k eu n tu n g an 2 dan keru g ian 2 daripada masing- prinsip bilamana d itaroh jang satu te rhadap jan g lain. K eun­tu n g an 2 dan kerug ian2 daripada prinsip kew arganegaraan dan prinsip domicilie akan kita t ind jau lebih djauh dibawah ini.

198. Alasan- pro prinsip kew arganegaraan.

1. Paling tjo tjok untuk perasaan hukum seseorang.

Salah satu unsur te rpen ting jang selalu dikem ukakan oleh aliran jang m endukung prinsip’ kew arganegaraan ialah bahwa han ja dengan prinsip inilah dapat terlaksana suatu adaptasi ke ­pada perasaan hukum daripada jang bersangkutan („adaptation au ten iperm en t des nationaux”) . 2t0) H ukum nasional ini m e ru ­pakan hukum jang dihasilkan oleh karja para warga daripada suatu negara te rten tu . Setiap kew arganegaraan adalah pembawaan daripada sesuatu negara. H ukum jang dibuat didalam negara te rseb u t adalali pula ka rja daripada para warga dari negara itu. H ukum nasional ini te lah dibuat untuk para w arganegara. Para pem buat hukum te rsebu t adalah o rang2 jang paling kenal akan kepribadian daripada para w arganja ini. 211) Apa jang paling baik bagi m ereka dan paling berm anfaat bagi m ereka djuga dikenal paling bailc oleh p e m b u a t-u n d a n g 2 hukum nasional itu. Oleh karena itu jang paling tjotjok bagi seseorang adalah hukum nasionalnja sendiri. Ini adalah segi „ p s y c h o l o g i s o h ” ->1-)

21 °) D em ik ian an laran jn M a n c i n i • da lam m engem ukakan a la sa n - jangp ro p rin sip kew arganegaraan , s.d. B a t i f f o I, 97 Rec- y -'’p. 435 dst., p.h. 501 : „P rincipes des d ro it in te rn a tio n a l p rive , chusus- n ja da lam bagian ,,C hap itre 111 : L ’opposition de la na tionalite au d om i­cile”, p. 408 dst.

an .) Bdgk. F r a n k e n s t e i n , I. h. 41 : „D c r G ru n d sa tz d er S taatsange-horigkeit ist n icht n u r d e r wissenschaftlich richtige, sondern ensprich t allein den V erhaltn issen des L ebens” . 5 R eperto ire , D om icile et R esi­dence, no. 103.

212) a.i. o leh F r a n k e n s t e i n , ta tk a la m engem ukakan (I, h. 39) :„So fiih rt alles, d ie psvcliologische U ntersuchung d er B egriffe von R ech t und G esetz und die E insicht in d ie w irk lichen V erhaltn isse des L ebens, zu dem selben E rgebnis : d ie S taatsangehorigkeit, n ich t d e r W oh n sitz bes- tim m t die R ech tso rdnung der je d sr an g eh o rt” (kursip kam i).

97

Page 106: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

jang dikemukakan oleh .pembela2 pro prinsip-nasionalitet suatu „mystisch’ rechtlichen Band” jang mengikat individu dengan „Heimat'”-nja. -12")

Hubungan dengan negara manakah jang tererat bagi sese­orang ? j) Hubungan dengan negara d a r im a n a ia m e r u p a k a n anggota (waiganegaia) atau dengan negara dimana ia tinggal ? Pertanjaan ini perlu didjawab untuk melihat prinsip manakah jang lebih baik, prinsip kewarganegaraan atau prinsip domicilie sepandjang ini ditindjau dari segi kejjentingan pribadi orang- jang bersangkutan. *») Seseorang dipandang lebih berakar dalam bangsanja daripada dalam rumahnja. Seperti telah dikata- kan M a n c i n i : ,,personality is recognized by nationality” - I:i) Hukum nasionalnja adalah jang paling dikenal dan sesuai dr-ngan kepribadian orang- bersangkutan. '

Ketjaman.

Kenjataan dalam praktek se-hari2 tidak seialu membenarkan apa jang dikemukakan diatas mi. Ternjata bahwa pada orane' jang pergi mengimigrasi ke-negara2 lain seringkali terdiadi a r ia n tasi jang tjepat kepada kebiasaan2 dan hukum jang tariatai dmegeri barunja. Seringkali pun terdjadi bahwa si-imigrant ini mendjadi lebih kenal akan hukum daripada negeri barunia I a n s berlaku disekitarnja daripada hukum negara nasionalnja iane telah lama ia tinggalkan ! • J J “ s

Resepsi hukum.

Ada lain kenjataan lagi jang membuktikan bahwa kebenaran daripada alasan persesuaian dengan temperament bangsa d a r i pada hukum nasional ini tidak dapat dipertahankan dalam s o /a ln bidang. Bukankah kenjataan telah membuktikan bahwa rial am sedjarah hukum seringkali kita saksikan adanja ^edialT' terkenal sebagai „resepsi” daripada hukum. Kita saksikan bah

J i 2a) E t t e r , o.e. h. 162. Bdgk. pula apa jang diken-.nl- iL e r e b o u r s - P i g e o n n i e r e , bahw a dalam ®h

^ nalitcit ini lerdaipat „plus de sentim ent que de raison” i d r If* • S'°"Principes de d.i.p. b. 5 5 2 ; S c h n i t z e r , I, h. 1 4 9 'H i j in a n s, h. J45,2I3) II i j m a n s.

'J 14) - - -111 j 111 a m n.K e g e l , h. 14 0 bitjara tentang „P a r 1 e i i n t e r e s s e” disampinc „ 0 r d n 11 n g - si i( n it c r © s s e”. p gs.d. W o l f f , P.I.L., h. 103.

98

Page 107: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

hukum jang berlaku dinegara A misalnja telah diambil oper dalam keseluruhannja atau dalam pokok-nja oleh negara2 B, C dan D. Terkenal adalah resepsi daripada hukum Romawi oleh negara Djerman, sedangkan toh hukum Romawi ini tidak ditjip- takan untuk bangsa2 IDjerman. Demikian kita saksikan bahwa negara Djepang telah mengadakan resepsi daripada Code Civil mereka itu. Demikian pula dengan lain- negara jang telah me- ngoper Code Civil dari Djerman atau dari Perantjis. Djika kita saksikan pula bahwa dalam kenjataannja negara Turki modern telah mengambil oper ketentuan2 jang tertjantum dalam Code Civil Suisse, kita tidak dapat menerima dengan begitu sadja, alasan2 jang telah dikemukakan berkenaan dengan kepribadian bangsa dan hukum jang sebaiknja berlaku chusus untuk warga­negara sendiri. Kenjataan menundjukkan adanja proses resepsi dan adaptasi daripada sistim'- hukum oleh negara2 dan bangsa2 untuk mana sedianja tidak ditulis hukum bersangkutan. Prinsip2 Hukum Romawi hingga sekarang masih berlaku dalam berbagai sistim hukum diberbagai dunia ini. Bukankah sudah terang bahwa hukum Romawi ini chusus ditulis untuk bangsa2 Romawi, tetapi toh dalam kenjataan prakteknja dapat diterima sebagai hukum jang se-baik2nja oleh orang2 lain ? ‘-1G)

Teranglah bahwa alasan bahwa hukum nasional ini lebih sesuai dengan temperamen para warganegara bukanlah suatu kebenaran jang dapat dipertahankan setjara mutlak. Argumen2 ini hanja relatip benar adanja. Dan praktek kenjataan se-hari2 telah memperlihatkan kebenaran hal ini.

2. Lebih (permanent dari hukum domicilie.Alasan lain jang sering dikemukakan sebagai manfaat dari­

pada prinsip kewarganegaraan ialah bahwa prinsip ini adalah lebih t e t a p (permanent, „bestendig”, „duurzaam”) daripada prinsip domicilie.

Kewarganegaraan seseorang tidak demikian mudah untuk di-robah2 seperti halnja dengan domicilie.217) Terutama ber-

l2lc) Tentang resepsi hukuin ini, bdgk. S c h o l t e n , P., ons Burgerlijk Wetboek honderd jaar, rede 1938. Zwolle, h. 7 dst.

- 17) Bdgk. K e g e l , h. 142: K u h n , h. 64.Dalam hubungan ini perhatikanlah kesimpulan C h e s h i r e setelah mempertim bangkan pro dan kontra dari m asing2 prinsip : Perhaps a fair conclusion, speaking very generally, is to say that, as determ ination of the personal law nationality yields a predictable but frequently an inappropriate law, domicil yields an appropriate bu t frequently an unpredictable law (h. 198) 5 Repertoire, ..Domicilie e t Residence no. 103 ; "

99

Page 108: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

kenaan dengan soal2 jang termasuk dibidang statut personil, seperti huibungan keluarga, hukum prib&di dsb, diperlukan stabilitet se-banjak-nja. Oleh karena itu para penganutnja lebih tjondong kepada prinsip kewarganegaraan daripada prinsip domicilie. 218)

Ketjaman.

Apakah bonar kewarganegaraan lebih sukar untuk dirobah daripada domicilie ? Hal ini pernah disangsikan. Dan memang dalam hal ini mungkin terdapat perbedaan pendapat. Beralasan- lah untuk mengatakan bahwa perobahan domicilie pun tidak demikian mudah bilamana orang teringat kepada sistim domicilie jang berlaku dalam konsepsi negara Inggris. Disana terdapat sjarat2 jang berat untuk merobah domicile seseorang. Hal ini kita akan tindjau lebih djauh kelak pada waktu diperdalam pembahasan tentang pengertian domicilie. Tetapi sekarang ini sudah dapat dikemukakan bahwa perobahan „domicilie asal” (domicil of origin, domicile of origin) tidaklah demikian m u­dah. 21u) Tidak dapat orang menurut kehendaknja sendiri melepaskan diri daripada domicilie-asal ini (domicilie daripada ajahnja jang diperolehnja pada waktu kelahiran). Tidak dapat diubah domicilie ini se-mata2 dengan berpindah kelain negeri. Antaranja karena adanja sjarat2 jang berat untuk terlepas dari­pada domicil of origin ini kita saksikan bahwa dalam sistim HPI jang berlaku di Inggris orang hendak mcmberikan perlindungan terhadap 'berlakunja sistim2 hukum jang berlainan setjara prin- sipiil daripada sistim hukum Inggris sendiri. 22°) Terutama misalnja sistim2 hukum daripada negara2 Timur jang menganut sistim polygamie. Orang2 Inggris jang pergi ke-negeri2 Timur,a.i. ke India, sukar sekali dipandang telah memperoleh domi­cilie dinegeri jang baru ini. Mereka ini dianggap masih tetap berdomicilie di Inggris. Dengan demikian ini kediaman defakto mereka diluar negeri telah dikesampingkan. Setjara demikian ini

218) Bdgk. F r a n k e n s t e i n , I. h. 40, 41.- 10) Bdgk. F r a n k e n s t e i n , I. h- 62. U ntuk parumuSan ,,domicil of

origin” ini, lihat R a b e l , I, h. 118. Bdgk. appreciasi agak bcrbedadari N u s s b a u m (h. 134 135). L ihat pula ketjam an C h e si h i r e atas konsepsi domicilie Inggris ini, h. 170, 198, 199.

2-°) B a t i f f o 1, Principes de droit international prive p.h. 502

10

Page 109: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

boleh lah d ikatakan bahwa hukum Inggris , ialah hukum dom i­cilie m erek a ini, m asih te tap be rlaku un tuk s ta tu s person il m ereka. Maka m erek a k a ren a itu d ip a n d an g t idak dapa t takluk dibaw ah stelsel huk u m ja n g polygaam .

T etapi b ilam ana kita iberpendirian sedem ik ian , apakah tidak bera lasan lah un tuk m engem ukakan bahw a seb en a rn ja apa jang d iperkenalkan sebagai „domicil of o rig in” ini dalam p ra k tek n ja adalah tidak Iain daripada sem atjam nasiona lite t pula ? - - 1) Bukankah dengan dem ikian ini ikatan'-' ja n g d iberikan oleh pe- ngertian domicil of origin adalah serupa dengan ikatan'-' daripada prinsip kew arganegaraan ? ---)

K ew arganegaraan um um nja h an ja dapat d irobah d jika dir>e- nuhi fo rm ali te t2 te r ten tu . Dan lazimnja fo rm a li te t2 ja n g h a ru s te rpenuh i ini tidak m udah. Sebaliknja perobahan domicilie (dalam artika ta E ropah kontinental) adalah lebih m udah. H an ia dengan berp indah tem pat tinggal dan d ipenuh in ja b eberapa hal jan g m em buktikan adan ja p e rp indahan kepen tingan hidup ke- negara- lain, sudahlah dapat d ipandang teiah te rp en u h i pemin- dahan domicilie itu. D engan d ite rim an ja prinsip domicilie m en u ru t konsepsi kontinenta l un tuk s ta tus personil akan lebih m udah te rd jad i p e ru b a h an 2 status dan p e ru b a h a n 2 hukum jang dapat m erug ikan orang- lain. 22:i) Kata W o l f f dalam hu­bungan ini : „It allows a person to change the law governing his personal situation by his own private act, tha t is. by changing his

a21) a.i. M e i j e r s. E .M . „T h e B enelux C o n v en tio n on p riv a te in te r ­n a tio n a l law ” , d a lam V .P .O . (1955), II, :h. 401. F r a n k e n s t e i n ,I, h. 6 2 ; K e g e l , h. 1 4 2 : ...Die englische A n k n iip fu n g kom m t alsoder S taa tsangeho rigkeit n iiher als clem W oim sitz im iiblichen s io n ” ;R a a p e, h. ' 50 no . 42, h. 75.R a b e l , I. h. 118 : , , l t co rresp o n d s to C o n tin en ta l n a tio n a lity ra th e rthan to C o n tin en ta l d o m ic il” : ........................... the B ritish dom icil is no t adom icil a t a ll” (h. 167).

222) R a b e l , I, h. 165.22:i) T e ru ta m a di P eran tjis seringkali d ik em u k ak an a lasan ini te rh a d a p pene-

rim aan daripad li p rin sip dom icilie. Bdgk. K e g e l , h. 162. B arh u b u n g d engan itu k ita saksikan p u la b ah w a u sa h a 2 te rten tu d ia d ak a n u n tu k m em b u at sistim dom icilie in i m e n d jad i leb ih stabil. D isam p ing in troduksi ,,dom icil o f o rig in ” ja n g sudah k ita saksikan d ia tas d ikenal p u la k e ten tu a n jan g m em b atask an p e r o b a h a n 2 sta tu s ka ren a p e ro b a h a n dom icilie .Sebagai tjon toh d apa t kiranja. d isebu t disini : Pasal 2 d ari P e rse tu d ju anM ontevideo 12-2-1889 : ,,Le ehangeinent du dom icile ne m odifie pas lacapacite civile acquise par em anc ipation , m a jo ritc ou h ab ilita tio n ju d i- c ia ire” a tau d a lam teks 19-3-1940 : „Le clinngcm ent du d om icile jie res tre in t pas la capacite line fois acqu ise” (T e rd jem a h an M a k a r o v -Q u e 11 e n, II no . 2 dan 3, ku rsip d a ri kam i).L ih a t d juga R a b e l , I, h . 160.

101

Page 110: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

domicile” . 22t) Padahal stabilitet dibidang status personil ini demikian difoutuhkan !

Teranglah dari uraian ini bahwa keuntungan lebih tetapnja (permanentnja) prinsip nasionalitet daripada prinsip domicilie hanja merupakan suatu hal gradasi.

3. Prinsip kewarganegaraan membawa lebih banjak kepastian.

Alasan lain jang dikemukakan pula bagi mereka j a n g pro prinsip nasionalitet ialah bahwa prinsip ini lebih membawa k e p a s t i a n daripada prinsip domicilie.

Pengertian kewarganegaraan umumnja adalah lebih mudah untuk diketahui daripada domicilie seseorang. Peraturan- ten­tang k e w a r g a n e g a r a a n adalah lebih pasti karena ditentukan oleh sesuatu negara j a n g ‘bersangkutan. Tjara memperoleh dan kehi- langan k e w a r g a n e g a r a a n umumnja diatur setjara chusus menurut k e te X a n ^ fang tetap dalam peraturan2 kewarganegaraan daripada negara2 masing2. Terutama dalam perundangan-an i a n g modern t e n t a n g kewarganegaraan orang lihat adanja ke- tjondongan untuk memperhatikan sepenuhnja tjara2 memperoleh dan kehilangan kewarganegaraan ini.

Ketjaman.

Hal ini perlu dikemukakan walaupun kadang2 dalam prak­teknja tak dapat disangkal dapat terdjadi pula berbagai kesulitan bagi sang hakim untuk menentukan apakah jang merupakan kewarganegaraan seseorang! Atjapkali kita saksikan bahwa dalam jurisprudensi ini sang hakim harus nientjapaikan d m untuk menjelidiki benar2 akan status kewarganegaraan danpacla para pihak jang bersangkutan : apakah ia ini foerkewarganegaraan negara A atau negara B ? Kesulitan2 bertambah dalam praktek in i karena kadang2 orang2 bersangkutan m dari satu k e w a r g a n e g a r a a n . dua, tiga, atau lebih lagi. Sebalilv j diuga dapat terdiadi — terutama diwaktu a c h i r - i n i beitambah - bahwa seorang tak m e m p u n j a i kewarganegaraan sama sekali! 224a) Semua hal2 ini m e n g a k i b a t k a n bahwa dalam^meil e n

tukan k e w a r g a n e g a r a a n seseorang sang halum kadang punjai tugas jang tidak enteng.

w 0 i f f p j .L ., h. 103. Kcm udian ditam bahkan beliau : „ It is so to sneak an individualistic and liberal system” . f . .

224a) N u s s b a i u m m e n u n d ju k d a l a m h u b u n g a n in i P a^ 'a . P r °cxDatriatie setjara besar^an jang dilakukan oleh Sovjet Russia dan didjalankan m enurut prosedur informil hingga m enam bah ketidak pastian (h. 138). Bdgk. K u h n , h. 64.

102

Page 111: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

A kan te tap i, w alaupun k e b e ra ta n ! ini tidak d ap a t d iabaikan begitu sadja, toh m asih dapa t d ikem ukakan s e t ja ra bera lasan , bahw a un tuk m en e tap k a n dom icilie seo ran g ini un iu iun ja adalah lebih su lit d a r ipada u n tu k m en en tu k an k ew arg an eg a raan n ja . H al ini d isebabkan k a ren a dalam m en en tu k an dom icilie sese­o ran g ini k ita te ru ta m a p e rlu sekali m e m p erh a t ik an ke ing inan- dan kehendak- da ripada orang- bersangku tan . In te n t ie daripada o rang jan g sedang d ipersoalkan dom icilienja m e n u ru t huk u m ini p e r lu d ip e rh a tik an sepenuhnja . Tidak t ju k u p un tuk h an ja m em ­perha tikan tem p a t ked iam an seb en a rn ja da ripada orang bersan g k u tan H arus dilihat d im anakah te ru ta m a te r le tak kepen tingan- da ripada orang- be rsan g k u tan ini. Dan um um nja bagi m ereka jan g lazim nja m enim bulkan persoalan- dibidang H PI, kepen tingan- m ereka ini scringkali te r le tak dalam berbagai negara sekaligus, bukan han ja dalam satu negara te r ten tu . Dan apakah orang- ini tidak seringkali m em p u n ja i „ csp r i t die re to u r” ? Hal ini adalah akibat daripada sjarat-’ jan g m elekat pada pengertian domicilie pada um um nja ini. P e io o a h an uomi- d i ie jang d igan tungkan kepada in ten tie seseo iang ini tidak sem udah d iten tukan seperti halnja dengan p e rubahan kew arga­negaraan . U m um nja p e ru b ah an kew arganegaraan ini m udah d ibuktikan dengan berfoagai dokum en2. T idak dem ikian haln ja dengan p e rubahan domicilie. Oleh k a ren a itu adalali lebih sukar dalam p rak tek n ja un tuk m en en tu k an se tja ra pasti domi­cilie daripada seseorang daripada m enen tukan kew arganegai a- annja.A nekaw arna p enger tian domicilie.

Ada satu segi lain jang perlu d iperha tikan pula dalam hu- bungan ini. P engertian ten tang domicilie jan g berlaku di'berbagai negara adalah tidak sama. ->2S) M enuru t sistim 2 H P I jang berlaku d iberbagai negara didunia te rdapat pe rbedaan faham ten tang apa jang m eru p ak an domicilie seseorang. Disini dapat oikemuna 'an sepintas lalu bahwa pengertian domicilie m en u ru t sistim hukum

224h\ B a t i f f o l P rinc ipes de d ro it in te rn a tio n a l p rive p.h. 505, 506.Bdgk. d a lam h u b u n g an in i a p a jan g d ik em u k ak an o leh NI u s s fc» a u m , iaikni b ah w a p rin sip k ew arg an eg a raan ini d ilih a t „ f ro m a s tric tly ju i ldical po in t o f view P erang sekali ..o ffered in p o in t o f defin iteness im m en se advan tages ov er the dom ic il p rincip le” (h. 137, ku rsip d a r i kam i). C h e s i r e m e n g e m u k a k a n : ..N ationality as co m p ared w ith dom ic ilenjoys the ad v an tag e th a t n o rm ally it is easily asce rta in ab le (h. 197).Bdgk. N i e d ’e r i e r , h . 152.D ala m h u b u n g an ini m en arik p e rh a tian apa* ja n g d ik e m u k ak a n o leh H i j m a n s p a d a w ak tu m u la i p em b a h a sa n n ja te n tan g p e n g e rtian ..dom icilie” . K a ta b e liau : „D e h ie r te rsp ra k e k o m e n d e s to f b ie d t een ex tra-m oeilijkheid . E r m oe t no. 1. een o n d erw erp b esp ro k en w o rd e n , w aarvan m en tevoren niet wee*, w at h e t eigenlijk is” (h. 126).

103

Page 112: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Inggris adalah berlainan misalnja daripada pengertian domicilie menurut hukum America Serikat, sedangkan perbedaan jang lebih besar lagi terdapat dengan pengertian domicilie menurut menurut konsepsi negara- Eropah kontinental. Oleh karena itu seringkali dalam prakteknja pengertian domicilie seseorang ini adalah tidak pasti atau samar-. Segala sesuatu ini tidak berlaku untuk pengertian kewarganegaraan. Untuk menentukan kewar­ganegaraan seseorang terdapat peraturan- chusus dalam per- undang2an daripada negara jang kewarganegaraannja sedangdipersoalkan.22")

Adanja perbedaan dalam kepastian tentang kewarganega­raan disatu pihak dan domicilie dilain pihak ini setjara baik diilustrir daripada djumlah perkara2 jang telah diadjukan dalam jurisprudensi negara2 jang menganut sistim domicilie. seperti Inggris — Amerika dan negara- jang menganut prinsip

226) Salah satu prinsip utam a dalam hukum kewarganegaraan ialah bahwa siapa2 jang merupakan warga- dari suatu negara ditentukan setjara mutla'k oleh negara2 bersangkutan sendiri. Bdgk. pasal 1 dari Konpe- rensi Den Haag, 12-4-1930, concernant certaines questions relatives aux conflits de loi sur la nationaiite” ; . „il appartient chaque E ta t do determiner par sa legislation quels sont ses nationaux” s.d. B ' a i t i f f o ] Traite no. 72, h. 74. Konvensi ini ditandatangani oleh G reat Britain, Belgia, Belanda, Norwegia, Swedia, Polandia, A ustria, Canada, India, Marocco, Brazillia, Tiongkok. .E t t e r , o.d. h. 163, 164; L ihat djuga N u s s b a u m , h. 139 dan jurisprudensi jang disebut pada no. 25 ;K e g e l , h. 142; W o l f f , h. 126 d s t.;Wo l f f - I . P . R . Deutschlands, h. 3 9 ; M a k a r o v , Allgemeine Lehren des Staatsangehorigkeitsrechts, Stuttgart (1947), h. 161 : „Selten herrscht in den Rechtswissenschaft eine dermassen unbeschrankte Ein-s- timmigkeit wie die iiber das fiir die Beurteilung der Staatsangehorigkeit massgebende Recht. Ob jemand Angehorigen eines Staates ist, richtet sich nach der Rechtsordnung dieses Staates, m.a.W . — wenn m ann die Staatsangehorigkeitsfrage konkretisiert — ist die Staatsangehorigkeit einer Person nach der Rechtsordnung desjeningen Staates zu beurteilen, um dessen Angehorigkcit es sich handelt” (dengan m enjebut banjak penulis2 lain dalam no. 1) ;F r a n k e n s t e i n , I, h. 86 ; K o S w a n S i k, D e meervoudige nationaliteit, diss. Leiden (1957), h. 15 d s t; N i e d e r e r , h. 1 5 5 , R e c z e i , h. 141; H a m b r o , o.c. I, no. 115, 116, m engutip,Decrets de nationaiite promulgues a Tunis e t au M aroc”, P .C .IJ .

Series B no. 4, pp. 23-24 : „La question dc savoir si une certaine m atiero rentre ou ne rentre pas dans le dom aine exlusif d un E ta t est uno question essentiellemen relative : elle depend du developpem ent des rapports internationaux -C’est ainsi que dans l’e tal actuel du droit international, les questions de nationaiite sont en principe, de l’avis de la Couv, comprises dans ce dom ain reserve” (kursip kam i) ; S c h n i t z e r, I h. 151; C o d1 i g o B u s t a m a n t e , pasal 9 . „Chaque Etat contractant appliquera son propre dro it a la determ ination de la nationaiite d ’origine de toute personne individuelle ou juridique

104

Page 113: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

nasionalitet. H im p u n a n J u r is p ru d e n s i n e g a r a 2 A nglo-Saxon ini bo leh d ik a tak an m e m u a t b a n ja k sekali p e r s o a la n 2 s e t ja ra m endalam d a n m e lu a s te n ta n g p e n g e r t ia n dom icilie djika d ib an d in g k an d e n g an ju r i sp ru d e n s i n e g a ra 2 d en g an p r in s ip k e w arg an eg a raan ini b e rk en aan den g an k e w a rg a n e g a ra a n o ra n g 2 b e rsan g k u tan . 227)

B ei 'hubung d engan a lasan ten ta n g leb ih p a s t in ja p r in s ip k ew arganegaraan daripada prins ip domicilie d ap a t d ik em u k ak an pu la bahw a pada sistim H.PI jan g m e n g an u t p r in s ip ja n g d isebu t be lakangan ini p in tu leb ih leb ar te rbuka u n tu k b e rb ag a i p e rb u a tan jan g pada h akeka tn ja m eru p ak an p e rb u a ta n p u r a2 un tuk m engelakkan b e rlak u n ja k e te n tu a n 2 hukum ja n g tidak diingini. 22711) M isalnja dengan m erobah domicilie seseo rang dapat se tja ra leb ih m udah m engelakkan s ja r a t2 perkaw inan te r te n tu jang sukar un tuk te rpenuhi. D engan b e rp in d a h dom i­cilie o rang dapat m elakukan p e r t je ra ian jan g seb en a rn ja akan tak m ungkin m e n u ru t k e te n tu a n 2 daripada hukum jan g be rlaku d item pat domicilienja jang lama. P ad a pem akaian prinsip k ew arganegaraan k em u n g k in an 2 sem atjam ini tidak dem ikian m udah dilaksanakan. W alaupun ten tu n ja h a ru s d iakui bahwa kem ungkinan un tuk m elakukan b erbaga i p e rb u a tan p u ra 2 dengan m erobah2 kew arganegaraan dalam p ra k te k n ja dapa t disaksikan te rd jad i pula. 22«)

K eun tungan kepastian hukum dari pem aka ian p rins ip k ew ar­ganegaraan atas prinsip domicilie k iran ja d jelas adanja . Tetapi keun tungan ini d juga h an ja b e rs ip a t relatip , h an ja m erupakan suatu pe rbedaan gradasi. O rang tidak dapat pastikan bahw a , dengan m enggunakan pi’insip nasionalite t ini hilanglah sem ua ketidak-pastian ! Kita telah saksikan bahw a ke-ragu-’an a tjapkali te rd jad i ! M emang harus diakui bahw a adan ja ketidak-pastian ini selalu te rdapa t dalam bidang hukum ! B ukankah la ta mi dalam suasana hukum tidak b ekerd ja dengan kepas tian2 absoiuut sebagai pada ilmu pasti ? K epastian hukum jan g sam a pastin ja dengan keadaan dibidang ilmu pasti han ja idam -an belaka .

2^7) B dgk. m isa ln ja C h e s h i r e , h. 197. U n tu k cases d o “ «»lwini lih a t M o r r i s , C ases o n P .I.L ., O x fo rd , 3e ed . ( I9 6 0 )h . 43 dst., C h a p te r 5 : ,.D om icile ; G r a v e s o n , C ases o n th eco n flic t o f law s, L o n d o n (1949), h . 77 dst. C h a p te r 4.

22T«) B dgk. K u h n , h . 65.228) in g a t Sa d ja m isa ln ja p a d a p e iis tiw a d e F e r r a r i .

105

Page 114: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Setelah menjebut alasan2 jang dikemukakan oleh mereka jang pro kepada prinsip kewarganegaraan akan kita rnengikuti alasan- jang mendukung pemakaian daripada prinsip domicilie.

1. Hukum domicilie ialah hukum dimana jang bersangkutansesungguhnja liidup.

Pertama-tama dapat disebut disini alasan bahwa dengan pemakaian prinsip domicilie ini tertjapai bahwa hukum jang dipergunakan adalah hukum dimana orang jang bersangkutan ini sesungguhnja liidup dalam kehidupannja se-hari2. Status daripada seseorang, kemampuan-nja dan hak- pribadinja dipan- dang sebagai sesuatu jang erat hubungannja dengan rumah tinggalnja dan dengan keluarganja. Domicilie inilah jang dapat dipandang sebagai pusat daripada kehidupan seseorang. Oleh karena itu adalah pada tempatnja bahwa hukum inilah jang di­pergunakan untuk menentukan status personilnja.

Hukum daripada negara didalam mana seseorang hidup sesungguhnja adalah hukum jang lebih berat untuk diperlakukan daripada hukum negara jang sudah ditinggalkan olehnja. Segala sesuatu jang bersangkutan dengan tempat tinggalnja jang baru merupakan faktor2 jang lebih penting untuk diperlakukan. Boleh dikatakan bahwa adalah „naturlich” 22!') bahwa setiap orang ini hidup pula dibawah hukum daripada negara dimana ia hidup se-hari2. Bukan sadja ke-biasaan2 dalam negara tersebut, atau bahasa atau pandangan2 sosial daripada negara baru ini * perlu diperhatikan oleh orang jang bertamu ini. Ia perlu djuga men- tjotjoki diri kepada segala sesuatu daripada lingkungan hidupnja jang baru ini. Dan tentunja adalah dengan sendirinja pula bahwa

199. Alasan- pro prinsip domicilie.

- ) N i e d e r e r h. 152. Bdgk. C h e s i r e : , , . . . ............ domicil meanscountry in which a m an has established his perm anent home, and what can be m ore natural or m ore appropriate than to subject him to his home la w ?” (h. 196). Berhubung dengan ini bdgk ketjam inC h e s h i r e terhadap konsepsi „domicil of origin jang mengakibatkan bahwa „tbc legel domicil of a man is out of touch with reality” karena dengan demikian seseorang m enurut hukum dapat diberikan” domicil in a country which by no strctch of the imagination can be called his hom e” (h. 197); 5 Repertoire, ..Dom icile et Residence” , no 102; R a a p e , h. 51.

106

Page 115: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

djuga ketentuan- hukum daripada negara dimana ia hidup harus menentukan status personilnja.

Dengan dipergunakannja hukum daripada tempat domicilie seseorang ini kiranja djuga akan tertjapai kepastian jang lebih banjak bagi orang2 disekitar si orang asing ini jang mengadakan hubungan2 hukum dengannja.230) Mereka ini tak akan dipusing- kan dengan berlakunja hukum2 asing bagi orang asing bersang­kutan setjara tidak ter-duga2. 231) Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemakaian prinsip domicilie ini adalah demi kepentingan daripada lalu-lintas dan demi kepentingan tata-tertib („Verkehrsinteresse iuhI Ordnung'sinteresse”) .23-) Kata K e g e l dalam hubungan in i : „Fiir die Umwelt im Wohnsitztaat ist es angenehmer, vvenn der wohnhafte Auslander dem hiesigen Recht untersteht”. 233) Terutama berkenaan dengan hal2 jang terletak dibidang status personil jang ada sangkut pautnja dengan harta- benda, s e p e r t i 'misalnja soal2 kemampuan untuk bertindak dalam hukum, hukum harta-benda perkawinan, hukum harta- benda anak2, hukum warisan dsb. Disini kita saksikan bahwa adalah dirasakan sebagai demi kepentingan lingkungan sekitai*- nia orang bersangkutan bilamana hukum setempat-lah jang berlaku Tetapi dibidang lain daripada status personil, jakni jang berkenaan dengan hal2 jang semata2 mengenai pribadi perse- orangan belaka, seperti hubungan hidup antara para mempelai dalam perkawinan, alasan2 untuk tjerai, hubungan orang tua- anak ternjata pemakaian prinsip nasionalitet tidak membawa banjak hal2 jang kurang menjenangkan bagi „Umwelt” daripada jang bersangkutan ini.

Apa iang dikemukakan sebagai kepentingan daripada lalu- lintas ini memang adalah suatu faktor jang ternjata perlu dioerhatikan Dan kita saksikan pula dari perkembangan dalam nr-ktek daripada negara2 jang menganut prinsip kewarganega­raan bahwa perlu diadakan berbagai persediaan tertentu untuk inpneatasi kesulitan2, Misalnja berkenaan dengan kemampuan untuk bertindak dalam hukum, kita saksikan bahwa berbagai

230) B dgk . S c h n i t ; z e r , I , h- 119.

”3i) Bdgk. R a a p e , h. 51. . . . . .h 140, 141. Berlaman danpada prinsip nasionalitet jang

lebih meniperhatikan „Partciinteressc” .

233) K e g c J , li- 1^0>

107

Page 116: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Setelah menjebut alasan- jang dikemukakan oleh mereka jang pro kepada prinsip kewarganegaraan akan kita mengikuti alasan- jang mendukung pemakaian daripada prinsip domicilie.

1. Hukum domicilie ialah hukum dimana jang bersangkutan sesungguhnja hidup.

Peitama-tama dapat disebut disini alasan bahwa dengan pemakaian pnnsip domicilie ini tertjapai bahwa hukum jang dipergunakan adalah hukum dimana orang jang bersangkutan mi sesungguhnja hidup dalam kehidupannja se-hari-. Status daripada seseorang, kemampuan-nja dan hak- pribadinja dipan­dang sebagai sesuatu jang erat hubungannja dengan rumah tinggalnja dan dengan keluarganja. Domicilie inilah jang dapat dipandang sebagai pusat daripada kehidupan seseorang. Oleh kaiena itu adalah pada tempatnja bahwa hukum inilah jang di­pergunakan untuk menentukan status personilnja.

Hukum daripada negara didalam m-mn sesungguhnja adalah hukum jang lebih berat untukTperiakukaS dar.pada hukum negara jang sudah ditinggalkan olehnja Segala sesuatu jang bersangkutan dengan tempat tinggalnja ans baru merupakan faktor* jang lebih penting untuk d ip e . la L .k a n Boleh dikatakan bahwa adalah „naturlich” « 0) bahwa seti ^hidup pula dibawah hukum daripada negara d innm ia \ se-hari2. Bukan sadja k e b ia s a a n 'd a ia n ,^ g a ™ ™ s ebut \ ta u bahasa atau pandangan* sosial daripada negara baru in i ' perlu aiperhatikan oleh orang jang bertamu ini. Ia perlu diuea rnp-i tjotjoki diri kepada segala sesuatu daripada lingkungan hldupnia jang baru ini. Dan tentunja adalah dengan s e n d i r in ^ u f a bahwa

2*>) N i e d e r e r h. 152. Bdgk. C h e s i r e - ,country in which a m an has established ~ .......... aom icil means

— b' — or more . t a n T ” ? 0 " ' - " * " hr“home la w ? ” (h 196) Bprhnhn a subject him to hisC h e s h i r e lerhadap L S I ' ■ ■■ T " . blW -bahwa „!he lesel domicil of a m m i T u t of I * * ? ' “ "if mcn8* kibatk!mdengan demikian seseorang menurnt , touch with reality” karenaa country which by no stretch nf th -m ?p3t dibenkan” domicil in hom e” (h. 197); 5 ReDcrtni,.fl A .lma2lnat|on can be called his R a a p e , h. 51. * epcit011e> -D om icile et Residence”, no. 102 ;

199. Alasan- pro prinsip domicilie.

106

Page 117: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

djuga ketentuan- hukum daripada negara dimana ia hidup harus menentukan status personilnja.

Dengan dipergunakannja hukum daripada tempat domicilie seseorang ini kiranja djuga akan tertjapai kepastian jang lebih banjak bagi orang2 disekitar si orang asing ini jang mengadakan hubungan2 hukum dengannja. 230) Mereka ini tak akan dipusing- kan dengan berlakunja hukum2 asing bagi orang asing bersang­kutan setjara tidak ter-duga2. 23]) Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemakaian prinsip domicilie ini adalah demi kepentingan daripada lalu-lintas dan demi kepentingan tata-tertib („Verkehrsinteresse und Ordnungsintercsse”). 232) Kata K e g e 1 dalam hubungan i n i : „Fiir die Umwelt im Wohnsitztaat ist es angenehmer, wenn der wohnhafte Auslander dem hiesigen Recht untersteht”. 23S) Terutama berkenaan dengan hal2 jang terletak dibidang status personil jang ada sangkut pautnja dengan harta- benda, seperti 'misalnja soal2 kemampuan untuk bertindak dalam hukum, hukum harta-benda perkawinan, hukum harta- benda anak2, hukum warisan dsb. Disini kita saksikan bahwa adalah dirasakan sebagai demi kepentingan lingkungan sekitar- nja orang bersangkutan bilamana hukum setempat-lah jang berlaku. Tetapi dibidang lain daripada status personil, jakni jang berkenaan dengan hal2 jang semata2 mengenai pribadi perse- orangan belaka, seperti hubungan hidup antara para mempelai dalam perkawinan, alasan2 untuk tjerai, hubungan orang tua- anak, ternjata pemakaian prinsip nasionalitet tidak membawa banjak hal2 jang kurang menjenangkan bagi „Umwelt” daripada jang bersangkutan ini.

Apa jang dikemukakan sebagai kepentingan daripada lalu- lintas ini memang adalah suatu faktor jang ternjata perlu diperhatikan. Dan kita saksikan pula dari perkembangan dalam praktek daripada negara2 jang menganut prinsip kewarganega­raan, bahwa perlu diadakan berbagai persediaan tertentu untuk mengatasi kesulitan2; Misalnja berkenaan dengan kemampuan untuk bertindak dalam hukum, kita saksikan bahwa berbagai

230) Bdgk. S c h n i t ; z e r , 1, h. 119.231) Bdgk. R. a a p e , h. 51.232) K e g e l , h. 140, 141. Berlainan daripada prinsip nasionalitet jang

lebih memperhatikan „Parteiiuteresse”.233) K e g e l , h. 140, 141,

107

Page 118: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

negara jang menganut prinsip kew arganegaraan telah harus mengadakan langkah- tertentu jang dimaksudkan un tuk melin- dungi kepentingan- daripada masjarakat um um nja jang mela- kukan transaksi2 hukum dengan orang2 jang bcracla dinegara bersangkutan.

T j o n t o h :

a* Sebagai tjontoh dapat disebut disini m isalnja apa jang telah dikemukakan olcli W o l f f berkenaan dengan berlakunja titik-peitalian alternatip dengan sedikit variasi : Seorang Ho- ngaria jang berumur 22 tahun dan telah mengadal can kon trak di nggiis tidak dapat meminta pernjataan batalnja kontrak atas

a asan bahwa menurut hukum nasionalnja ia ini belum dewasa (baru djika sudah tjukup 24 tahun). Satu dan lain karena m enuru t

ukum Inggris ia ini sudah harus dipandang dewasa. -:u)b. Menurut hukum Mexico kedewasaan baru tertjapai

engan usia 25 tahun. Seorang Mexico jang berusia 23 tahun*I" Un u*c melakukan pembajaran kepada seorang

1 §1 e i antjis b 6 r d a s a r l r a n a la c n n .hciViixra m n n n r n t h n lc n m

ueisanSkutan tidak dapat diharapkan bahw a ia akan mengenai semua hukum w ir«nn««

234) Wol f f , pj.i h 7

Page 119: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Harus tertjapai suatu synthese antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum ini. Apabila diterima bahwa orang asing ber­sangkutan dapat mengelakkan tagilian2 pemtoajaran dari pihak kreditur berdasarkan alasan bahwa ia sesungguhnja belum tjukup umur tatkala melakukan transaksi dagang bersangkutan, maka kepertjajaan jang demikian diperlukan dibidang perda­gangan ini, akan terganggu sekali. Fem'berian kredit akan membantu perkembangan daripada usaha- perdagangan. Per- kembangan jang belakangan ini teranglah adalah djuga demi kepentingan umum. Oleh karena itu beralasanlah bahwa hukum setempat toh dinjatakan berlaku dalam hal jang chusus ini walaupun negara bersangkutan dimana peristiwa2 ini terdjadi menganut prinsip kewarganegaraan.

Keuntungan jang relatip.

Keuntungan daripada prinsip domicilie ini diatas prinsip kewarganegaraan adalah bersifat relatip pula. Memang disatu pihak harus cliakui bahwa adalah lebih mudah bagi „Umwelt’” untuk mengetahui hukum' daripada tempat dimana seseorang hidup daripadi hukum dari negara jang ditinggalkan olehuja. Tetapi perbuatan- hukum dibidang internasional djustru sering­kali dilaksanakan d i l u a r negara2 daripada domicilie jang bersangkutan. Dan adalah kiranja sama sukarnja untuk menge­tahui bahwa orang bersangkutan ini sebenarnja mempunjai suatu domicilie dinegara lain !

Tambahan lagi, apa jang termasuk bidang status dan kewe- nangan seseorang lazimnja tidak demikian banjak t e r d j a d i seperti sebaliknja dengan transaksi2 dagang jang termasuk apa jang dinamakan „les transactions de la vie courante” . 2nfi) Maka karena itu lebih banjak alasanlah bagi para pihak jang bersang­kutan untuk lebih mencliti tentang status sebenarnja (asing atau bukan) daripada para pihak jang bersangkutan.

2. Prinsip kewarganegaraan seringkali meinerhikan bantuandomicilie.

Alasan kedua jang seringkali dikemukakan oleh mereka jang pro prinsip domicilie ialah bahwa dalam prakteknja prinsip

u:sc) B a t i f f o l , Principes de droit international prive, h. 310.

109

%

Page 120: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

mengadakan l™ n g £ ^ telah harusdungi kepentingan- darimrin lmaksudkan untuk melin-kukan transaksi- hukum d e n ^ aSJaiakat umumnj a jang mela- bersangkutan. 1 dengan jang berada dinegara

T j o n t o h :

telah dikemukakan o le? w j f f * disini misalnja apa jang 1 lk-pertahan alternatip dengan cSn?.1?3311 dengan berlakunja

ngana jang berumur 22 tahun dan , "?lklt varia s i : Seorang Ho- nggris tidak dapat meminta nern ^ menSadakan kontrak di

(b a iT d '^ a ,menurut hu^um nasionalrr b.atalnja ‘ kontrak atas (baiu djika sudah tjukup 24 tahun???« T 13 ini belllm dewasa

ukum Inggris ia ini sudah harus dinanrt l3m karena menu™t*■ Menurut hukum M 1Pandan§ dewasa. - - )

a s a s

s r s r’ gan ^ e w a s a a n

P sec’-cmikian ini memana i

gan perseorangan dan kepentinganmbangan

'yi4) W o l f f , p .u ,

» . P “ "Uni evolution possible cle h ,nternatio'Wl prive, c,, ' * 111 oleh I’Europe con tinen ta l, daJam v v " ? " 0" d“ statut ^ ide'" ,11 icts Law”, Legal Essay's in i Ce»tury Comp r u dansLeyden (1961), h 295 1 1 d ? . honor Qf H e u ®P* UlVev anJ Con- ketentuan-1 dalam Persefn r 3 1 hubungan dem»i n t « m a , Km « £ 1*89 “S’ »"

Page 121: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Harus tertjapai suatu synlhese antara kepentinean n.-i w r a kepentingan unuini ini. Apabila diterima bahwa o n n i nc , sangkutan dapat mengelakkan tagihan2 inmihn-n as|nS her- kreditur berdasarka,, alasan b a h w a ia ‘Z m Z Z , ' “ ,P? a t tjukup umur tatkala melakukan transaksi daganf be "fneku an" maka kepertjajaan jang demikian diperlukan d i b i d a n g t ’ gangan ini, akan terganggu sekali. Femberian kredft membantu perkembangan daripada usaha= perdarangan PeT kembangan jang belakangan ini teranglah adalah" dju“ ' don i kepentmgan umum. Oleh karena itu beralasanlah bah™“ hukmn setempat toh dmjatakan berlaku dalam hal jang chusus ini walaupun negara bersangkutan dimana peristhva» ini erdind menganut prinsip kewarganegaraan. ujadi

Keuntungan jang relatip.

Keuntungan daripada prinsip domicilie ini diatas prinsin kewarganegaraan adalah bersifat relatip pula. Memang disatu piha,: harus dwkui bahwa adalah lebih mudah barn Umwelt"

f X ^ “ k“ Z i da„‘l S ? aa i a n ^ l i t ^ T “ T ° ranSTetapi perbuatan* hukum dibidang internasional "dju'stn, serin":kah dilaksanakan d 1 1 u a r negara2 daHnari., • -V- im *bersangkutan. Dan adalah k i r a n T M m a ^ s X ^ j a ' u S m e ^ g e 8 tahm bahwa orang bersangkutan m. sebenarnja mempunjai s Sdonncille dmogara lam !

Tambahan lagi, apa jang termasuk bidang status dan kewe- nangan seseorang lazimnja tidak demikian banjak terdjadi seperti sebaliknja dengan transaksi2 dagang jang termasuk apa jang dinamakan „les transactions de la vie courante” . 2n(i) Maka karena itu lebih banjak alasanlah bagi para pihak jang bersang­kutan untuk lebih mencliti tentang status sebenarnja (asin« atau bukan) daripada para pihak jang bersangkutan.

2. Prinsip kewarganegaraan seringkali mcmerlukan bantuan domicilie.

Alasan kedua jang seringkali dikemukakan oleh mereka jang pro prinsip domicilie ialah -bahwa dalam prakteknja prinsip

2yG) B a l i f f o l , Principes de droit international prive. h. 3 io

109

Page 122: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

kewarganegaraan ini seringkali tidak dapat dilaksanakan dengan baik tanpa di'bantu oleh prinsip domicilie.

Perbedaan kewarganegaraan dalam keluarga.

Terutama diwaktu achir2 ini kita saksikan adanja pe rk em ­bangan tertentu berkenaan dengan hal2 kewarganegaraan jang mengakibatkan bahwa tambah banjaknja perbedaan kew argane­garaan dalam suatu keluarga. 23‘) Pihak suami dan isteri m asing2 mempunjai kewarganegaraan lain,23S) anak dan ajah pun tidak mempunjai kewarganegaraan jang sama.

Peibedaan kewarganegaraan antara suami dan isteri.

Sebagai akibat daripada aliran emansipasi wanita te rn ja ta sudah dipandang sebagai usang pendirian bahwa pihak isteri dalam perkawinan selalu harus memperoleh sadja dan mengikuti kewarganegaraan daripada sang suami. 2:’») Ketentuan jang dipandang „kolot dan merendahkan derad ja t pihak wanita se-olah jang belakangan ini tidak dapat mengeluarkan suara

a am menentukan nasibnja sendiri dibidang kewarganegaraan, kini tambah lama tambah ditinggalkan oleh negara2 modern. Sesuai dengan aliran emansipasi wanita jang b e r tud juan p^samaan-peilakuan dan persamaan-hak dengan pihak pria (.,Gleichberechtigung”) 2‘°) kita saksikan bahwa pihak wanita se arang ini diberikan kesempatan untuk menentukan sendiri kewarganegaraannja dalam perkawinan.

237) Bdgk. pula uraian K o l l e w i j n tentang „O iitaard ing van h e t

f . , gms,el m het moderne international p riv aa trech t” , 1929, h. 32, 33. Lihat pula pada no. 345 kemudian

238) Bdgk. dalam hubungan ini Perdjandjian R.I.' _ R .R .T. ten tang pen je-^ wl' kewarP Degaraan» U .U . no. 2 tahun 1958, pasal I a ja t 2.

^ ' o u w g i o k s i o n g , Tafsiran U.U. K ew arganegaraan R .L,h. 125 dst.

240) D i D jerm an terdapat aliran chusus jang telah berhasil dengan d ite rim an ja „Gle,chberechtignngsgcsetz” dari 18-6-1957. Sedjak diiterim anja p asa l 3 dari G iundgesetz Bonn 1953, menurut pendirian jang p en g an u tn ja ter- banjak kebebasan bagi fihak wanita dibidang kew arganegaraan d juga harus diakui. Lihat n. 606.

110

Page 123: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Perkc inbangan di Indonesia.

D juga di Indonesia kita saksikan adan ia innriD„ • • se rupa D im ana dalam P e ra tu ra n P erkaw inan T jam p u ran d a if tah u n 1898 (S. no 158) masih te rd ap a t k e ten tu an bahw a setiap w anita jang m elakukan perkawinan t jam p u ran m e n u ru t h u k u m m engikuti status suam inja, baik dibidang hu k u m p e rd a ta m auoundib idang hukum publik (pasal 2), *....) sekarang ini k ita saksikanbahwa dalam Undang- K ew arganegaraan tahun 1958 (no 68) telah d iu tam akan pendirian jang m em berikan kebebasan bagi pihak isteri un tuk m en en tu k an sendiri apakah ia ini hendak m em pero leh kew arganegaraan daripada pihak suam inja a tau tidak. Seorang p e rem p u an asing tidak dengan sen d ir in ja m em ­pero leh kew arganegaraan R.I. bilamana ia tidak m em intan ja (pasal 7 a ja t 1). - 11) Seorang perem puan W N I tidak dengan send ir in ja kehilangan kew arganegaraan R.I.-nja ka rena p e rk a ­winan dengan pria asing. Ia han ja m endjad i kehilangan k ew arganegaraan R.I.-nja b ilam ana n ien ja takan kehendaknja akan itu dan m em pero leh kew arganegaraan suam inja (pasal 8). Selain dalam U.U. K ew arganegaraan R.I. dapat kita saksikan sikap jang serupa b e rk en aan dengan kedudukan pihak wanita dalam P e rd ja n d j ia n Socnaric-Chou ten tang Pen je lesa ian Dwike- w arganegaraar. jang d ia tu r dalam U.U. no. 2 tahun 1958. Djuga disini kita saksikan adan ja kebebasan bagi pihak w anita untuk m enen tukan sendiri s ikapnja dalam hal- dw ikew arganegaraan ini. P ihak wanita w adjib m engadakan pem ilihan sendiri diantara kedua kew arganegaraan , jang m anakah jang lebih disukainja. Tidak d igan tungkan lebih lama sta tusn ja ini kepada pilihan jang dilakukan oleh sang -suami. D engan tegas d injatakan hal ini : ,,Orang p e rem p u an dalam perkawinan, jan g m em punjai dua k ew arganegaraan te rsebu t diatas, djuga harus m em ilih satu d ian ta ra dua kew arganegaraan itu, dengan dasar m e n u ru t kehen­dak ja n g berkepen tingan sendiri” (pasal 1 a ja t 2).

2J 0n) B dek . G o u w g i o k s i o n g , diss., h. 134 dst.- n ) D a la m a ja t k ed u a a k a n te tap i d iten tu k an b ah w a k e w a rg a n eg a ra an R .I.

d a r i sang suam i ini d ip e ro leh d 'juga o leh sang is te n asrng b ila m a n asu a m in ja tid a k n ie n ja tak a n k e te ran g an m elepaskan k ew a rg a n eg a ra an R .I. te rseb u t dan fihak p ere m p u an tid a k m e n d jad i d w ik ew arg an eg a raan k a re n an ja . L ih a t u n tu k ini, G o u w g i o k s i o n g , T a fs ira n U .U .K e w arg a n eg a raa n R .I. h . 140 dst.

U42) S eperti h a ln ja d a la m ran g k a p e lak sa n aa n pem bag ian k e w a rg a n e g a ra a nd ari K .M .B ., L .N . 1950 no . 2, pasal 10.

Ill

Page 124: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

i,av-iTegf lah1kiian;’a bahwa denSan adanja kebebasan jang di-d ^ P^ak isteri untuk menentukan sendiri nasibnja

aiam hal- kewarganegaraan ini, akan semakin bertambahlahemungkman untuk perbedaan kewarganegaraan dalam perka-

vinan. asing2 suarni dan isteri dapat mempunjai kewar-g egaiaan asalnja jang berbeda dalam suatu perkaw inan internasional.

Perbedaan kewarganegaraan orang tua dan anak.

kita Pei’bedaan kewarganegaraan antara suami-isteria n a t^ i S1 3n adanJa Pula perbedaan kewarganegaraan antara dalnn can °? an§ tua mereka. Apabila mereka ini telah dilahirkan merpv a, a^ ne&ara daripada ibu mereka, maka seringkali ibu m 3 ?3n^ aP sebagai memperoleh kewarganegaraan daripada DertavfreJ a *tU Dan dalam perkawinan ini sang ibu mem- aiah a\ an kewar§ane8araan jang berlainan daripada sang darinaria & sal5:s an bahwa berbedalah kewarganegaraannegara dan San^ ^u. Mungkin pula bahwa djugakepada can!1*! ^ a ah ini memberikan kewarganegaraankewarganesaralf i Dalam hal demikian kita saksikan, bahwakewarganegavi R aup san§ anak ini agar berbeda daripada

T h 0kh karena sa"S anak diberikan ( p i (laJam hul ^ ■ 3*V Pac*a san£ ibu. Kesulitan jang diha- ternjata mpmn mi S6babkan. karena negara daripada sang ibu ini pun azas *US so^- ~K:) Pemakaian azas ius soligaraan dalam tim,bulnja perbedaan kewargane-dalam suatu tiBu U am* dlsebabkan kelahiran jang kebetulan atau dari sang ^ ,r. tu j an§ l,)ukan negara dari sang ajah wilajah negam v ? Misalnja seorang anak dilahirkan dalam dari Y ini ia ™ 311 berdasarkan ketentuan2 kewarganegaraanAkan te£n ™ r r r°leh kewa^ aneg araan Y karena ius soli. sang ifeu tatkaia san^ anak berkewarganegaraan X sedangkan asalnja Z D enfran^ f memPertahankan kewarganegaraank e l u ^ a ter^entgu l f ! r ? lan, kita Saksikan bahwa dala™ satwnalitet dari negara2 X Y dan z kewarSane£araan” ’ nasio-

warganegaraan amiihatS 'US sanguinis dalam Peraturan’2 ke-sangehorigkeiSrechte^ h. 84 dst r ° V’ Allgemeine Lehrcn des Staat-

243)

112

Page 125: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

K esulitan- pem akaian prinsip kewarganegaraan pada aneka ke- warganegaraan dalam keluarga. aneka

K e su lita n 2 dalam b id an g hukum p erd a ta in te r n a s io n a l n am pak se tjara n jata apabila p r in s ip k e w a r g a n e g a r i n T a n e d ia n u t dan terd ap at p erb ed aan k ew a r g a n e g a r a a n d alam satu k elu arga m i. “ ldra sa in

T jon toh - ja n g se r in g k a li d ik em u k ak an d a lam ran gk a in i ia lah ja n g b erk en aan d en g a n p er tjera ia n . M isa ln ja ada dua ora n g su a m i is te r i ja n g m a sin g 2 m em p u n ja i k e w a rg a n eg a ra a n sen d ir i dan m en u ru t s is tim H P I ja n g b er lak u d i-n egara2 m erek a d io er- gunak an prin sip n a sio n a lite t . Iiu k u m nasional n eg a ra m an ak ah ja n g h aru s d ip ergu n ak an dalam hal para p ihak h en d ak b e r tje r a i ? D ari p ihak suam ikah atau dari pihak ister ik a h ? D an b aga im an a b ilam an a m en u ru t salah satu sistim hukuin in i tidak ^dikenal p e r tje r a ia n seb aga i tjara untuk m em u tu sk an p erk aw in an ? A p a ­kah dalam hal sed em ik ia n in i h aru s d ip ergu n ak an hu k u m daripada m em p ela i ja n g m em b o leh k a n p ertjera ia n atau dari n egara ja n g tidak m em b oleh k an p e r tjera ia n ?

T j o n t o h k o n tr it : (a) S eo ra n g w an ita P era n tjis te la h m en ik a h d en gan p r ia Italia . W anita P e r a n tjis in i tetap m em per- ta h a n k a n kew argan egaraan . D alam p er-u n d a n g 2an p erk aw in an Ita lia tid ak d ik en a l p ertjera ia n . B ilam an a p ih ak p erem p u a n P er a n tjis ini h endak b ertjera i d juga, djalan m anakah harus d item p u h ? 2U) B ilam an a gu ga tan tjera i d iad ju k an d ihadapan H akim , toerdasarkan hukum m anakah h a ru s d ise le sa ik a n p e r is t iw a H P I in i ? A p akah huk um n asion a l P e r a n tjis atau h u k u m n asion a l Italia ja n g p er lu d id jad ik an dasar k ep u tu san n ja ?

(b T jon toh la in b erk en aan d e n g a n k eadaan d i In d on esia se k a r a n g in i dapat tim b u l b ilam ana seo ra n g su am i w argan egara R R T m in ta p er tje r a ia n daripada ister in ja W N I. A p ak ah dapat ia m em in ta tjera i berdasarkan alasan „persesuaian faliam” ja n g d ik en a l dalam U .U . P erk aw in an R R T ja n g m od ern . 2i3) A ta u b er la k u la h k e ten tu a n 2 dalam B .W . ja n g m eru p ak an huk um n a sion a l dari sa n g is te r i ? - 16)

2-14) B dgk, casus positie dalam p eiistiw a 13 c- F c i r u i i .y-ir.) P asa l 17 U .U . Perkawinan R R T (m ulai berlaku 1-5-1950), kalim at per­

tam a berbunji : „D ivorce shall be granted w hen husband and w ife b othdesire it” .

2-40) B dgk. k ep u tu san d a r i P .N . D ja k a r ta , 5-12-1953, H . 1958, 7-8, h . 44d a la m peiistiw a ' ja n g h a m p ir b e rsam aan . L ih a t H P I. I, no . 2 sub f.

113

Page 126: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Bukan sadja berkenaan dengan hal- pertjeraian nampak kesulitan2 pada penggunaan prinsip kewarganegaraan dalam peristiwa2 dimana para pihak dalam satu keluarga tunduk kepada kewarganegaraan jang berbeda. Djuga dalam hal- lain*jang b er­kenaan dengan status personil dan hubungan keturunan m enurut hukum kita saksikan adanja kesulitan2 jang serupa. M isalnja apakah menurut hukuin terdapat hubungan antara seorang anak dan ajah atau ibunja, bagaimana harus ditentukan ini m enurut hukum nasional daripada para pihak djika mereka takluk dibaw ah hukum jang berbeda ? Andaikata dalam hukum rasional dari sang ajah dikenal azas bahwa penjelidikan kearah asal-usul (onderzoek naar het vaderschap, la recherche a la paternite) adalah terlarang, sedangkan menurut hukum nasional daripada sang anak tidak demikian nalnja. Hukum nasional manakah jang harus dipergunakan ?

Prinsip domicilie perlu membantu.

Djelaslah kiranja bahwa dalam prakteknja di-perlukan bantuan daripada lain- titik pertalian bagi prinsip kew argane­garaan ini. Tidaldah dapat diselesaikan peristiwa2 jang berdasar- kan anekawarna kewarganegaraan dalam fam ilie ini dengan djalan penggunaan prinsip kewarganegaraan sadja. Dan kita saksikan bahwa dalam prakteknja orang tjondong kepada p en g­gunaan daripada prinsip domicilie. Suatu keluarga (family) ini umumnja terdiri dari suatu kelompok tertentu jang terdiri dari seorang ajah, ibu dan anak-. Mereka ini lazimnja hidup pada satu tempat tertentu setjara ber-sama2, oleh karena itu m ereka umumnja mempunjai domicilie jang sama. Oleh karena itu prinsip domicilie-lah jang dipergunakan untuk m en je les a ik an peristiwa2 sematjam ini. Hukum nasional jang ditentukan o leh prinsip kewarganegaraan tidak dapat dipergunakan. H ukum domicilie jang ternjata harus menggantikannja atau m em bantu- nja dalam praktek.

Keuntungan prinsip domicilie hanja relatip.

Tetapi djuga disini kita saksikan bahwa keuntungan2 jang diberikan oleh pemakaian prinsip domicilie hanja bersifat relatip adanja.

Page 127: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

D alam p rak tek n ja kita sa k sik a n bahw a d iu stru D a d a p e r so a la n - ja n g tim bul d ib id an g H P I b erk en aan d e n g a n p erb e- d a a n k ew a rg a n eg a ra a n dalam sa tu k e lu a rg a , para pihak ia n g b e r k e p e n tin g a n m em a n g tidak m em p u n ja i d o m ic ilie ja n g sam a B ila m a n a k a h tim b u l p e r se lis ih a n - faham dalam atjara p e r tje r a ia n te n ta n g huk um ja n g harus d ip erlak u k an ? D jik a para p ih ak su d a h berada dalam tara f se n g k e ta d im u ka H akim . D an b iasan ja , k a ren a p e r tje k tjo k a n 2 ja n g tim bul antara su am i-ister i h in g g a d ia d ju k a n tu n tu tan tjera i, para pihak in i su d ah tidak le b ih lam a tin g g a l d isatu rum ah, tidak leb ih lam a d isatu „ d o m ic ilie ” . -*7) B ia sa n ja m erek a ja n g m en gad ju k an gu ga tan tjera i d ihadapan H ak im se tja ra d efak to su d ah h id u p terp isah p u la . D a n dalam hal para p ihak m em p u n ja i k ew argan egaraan ja n g b er la in a n m a sin g 2 p ih a k m em p ela i in i lazim nja telah k em b ali b e r tem p a t t in g g a l d in e g e r i a sa ln ja . M aka sukarlah pula un tu k m em p erg u n a k a n p r in sip d o m ic ilie in i seb a g a i p rin sip sa tu -n ja ja n g d ap at m em u as- kan p era sa a n hukum daripada para p ih ak ja n g b ersan gk u tan . D alam p rak tek n ja su k arlah b ag i hakim dari n egara d en g a n p r in sip d o m ic ilie untuk m en g a d ili p e r is t iw a 2 d im an a para m em ­p e la i te la h terp isah , ja n g satu b e rd o m ic ilie d in egara hakim dan ja n g la in b erd o m ic ilie defak to d in egara la in . K esu k aran in i tidak k u ra n g k iranjn daripada bagi sa n g hakim dari n egara b erp rin sip k e w a rg a n eg a ra a n ja n g harus m en g a d ili p er is tiw a dari para m em ­p e la i ja n g b e r b ed a k ew argan egaraan .

Tegaslah k iran ja dari ken ja taan ini, sifat re la tip daripada k eu n tu n g an azas domicilie ini.

3. H u k u m d o m ic ilie ser in g k a li sam a d e n g a n H ukum san gH akim .

H ukum d o m ic ilie dalam terban jak hal d juga adalah b ersa ­m aan d en g a n hu k u m daripada san g H akim ja n g h aru s m e n je le ­sa ik a n p e r is t iw a H P I bersan gk u tan . U m um nja d item p a t t in g g a l para p ih ak atau se-k u ran g2nja dari sa lah sa tu pihak, d im ana d ia d iu k a n tu n tu ta n 2 hukum . D an m em an g p en g a d ju a n perkara d ih a d a p a n hak im dari tem p at tin gga l para p ihak atau p ihak

D isin i d ia n g g ap „diom icilie” sebagai m e n ek a n k an k ep ad a h a l2 ja n g fe ite liik ” d a la m m e n e n tu k a n „h o o fd v e rb lijf h eb b e n ” , tid a k s u a tu

J u r id is c h dom ic ilie -beg rip” ja n g m engenai „a fh an k e lijk e d o m ic ilic” d a r iseorang isteri.

115

Page 128: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

tergugat inilah jang merupakan pegangan utama jang dinpvmi. nakan untuk m enentukan kom petensi jurisdiksi sang hakim

Adalah pula demi kepentingan daripada semua pihak bihwn sedapat m ungkin seorang hakim ini boleh m em pergun-kan hukumnja sendiri. Hal ini disebabkan karena kenjataan iane'riil

ahwa tentunja setiap hakim lebih m engenai hukum nasionalnin sendm danpada hukum a s i n g . - ) Dan bilamana i , keten.uan- HPI diperbolchkan untuk mempergunakan hukumniT sendiri, bolehkah dikatakan bahwa dengan demikian lebih hpcar ah djaim nan bahwa ia akan m engadili perkara bersanpk-ntan

setjara se-baik-nja. -*•»!») Bukan karena ia tidak man m em pereuna- kan hukum asing, akan tetapi karena ia ini seringkali k ifm nJ m engetahui akan hukum asing itu. ang

Pemakaian dom icilie jang seringkali merupakan pula hnknm danpada sang Hakim ini memang tak dapat disangkal membawa 'euntungan- Tetapi kiranja djuga sekarang ini keuntungan"nin

tidak perlu di-lebih=i. Bukankah kepada faktor lex fori S w ? hukum jang harus m enentukan ini kita tidak boleh m e l e t a k S titik berat setjara ber-kelebih*an ? Djika kita berbuat rtl m aka tidak ada gunanja lagi untuk m en t^ ri se-baik-nja dipergunakan dalam m enjelesaikan p e r s o a W i p Tg Bukankah adalah lebih mudah untuk s e 1 a 1 u m e m a S " " f 1'

HPI'V n S f.»aV ang haldm ini un,uk i P e rso a h i’H P I 1? Djika dem ikian, maka tidak ada lagi persoalan H P ? 1 „ tak xlapat diatasi. Hukum asing tidak perlu la<*i untuk rr soalkan karena toh hanja hukum nasional jang J e r l u a L S T ' Kan. Apabila dapat diterimn i e.,*:eu u aiPerlaku-

S r i l S f " SOaP HPI adalah hUkllm "as‘° - > 1 - i ^ H a k t a

K e g e l , (h 141): * * ■/ ■„ r,usl;a „ d i Sc K s 6 R a f l f f '™ ” 1’’

, ’S , aIs ln Stamen m il W ohnsitzprinzin” ^ K 1 a n z u '2 4 0 ) Dem ikian sudah dikemukakan oleh V o n S . v i r , '

t i f f o 1 P rin c ip es d e dro it in tern ation al prive h 5 0 9 < * £ ' ® a '„DomiciJie et Residence”, no 10? ■ p > , ’ Repertoire

250) Bdgk. HPI , I no. 115 tentang peneha™ ™ t \ ? ' 49 'se b a g a i sen d i-u ta m a dari ilm u H P I B d ck G ^ .h u k u m asin gDie philosophischen Grundlaga,g en era te s d e s c o n f lit s d e lo is R ec. (19 3 6 ), I l [ , h 3 2 5 ’ 8

116

Page 129: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

4. Kepastian untuk lingkungan sekitar ditem pat domicilie.

B ukan sadja bagi sang hakim d o m ic ilie in i adalah leb ih m udah untuk diketahui daripada hukum asing, tetap i djuga untuk lin gk u n gan sekitar orang- bersangkutan hukum d item pat tin ggal ini adalah lebih tjepat d iketahui dan leb ih m udah dipas- tikan. -ni)

O rang- jang dalam kehidupan se-hari- m elakukan berbagai transaksi dengan orang- asing jang berada didalam n eg er i um um ­nja pun tidak dapat m enduga leb ih dahulu bahwa m ereka ini takluk dibawah hukum jang berlainan daripada apa jang berlaku didalam negeri bersangkutan. A palagi djika transaksi- bersang­kutan ini terdjadi dibidang hukum harta-benda atau hukum ikatan. Lain halnja dengan bidang hukum kekeluargaan dimana kita m enghadapi hubungan- jang leb ih m endalam dan um um nja leb ih berisikan perasaan- hingga dipandang sebagai perbuatan- jan g leb ih „ serieu s” . Pada perbuatan2 jang belakangan ini lebih lazim terdjadi bahwa jang bersangkutan m ejakinkan diri akan hukum jan g harus diperlakukan bagi si-orang asing itu. Dan dibidang inipun pem akaian daripada hukum nasional dari orang asin g itu lebih mudah dapat diterim a oleh lingkungan sekitarnja ditem pat dom icilienja.

T egasnja, daripada sesuatu ini kiranja sudah tcrang adanja bahwa pem akaian hukum dom icilie ditindjau dari seg i in i dapat m em baw a kepastian hukum jang lebih banjak.

T etapi .djuga hal ini hanja bersifat relatip karena sep er ti telah diuraikan diatas, untuk m enentukan ada — tidaknja dom i­c ilie m enurut hukum dari seseorang sendiri sudah m em perlihat- kan kesukaran- tertentu, m engingat bahwa pengertian dom icilie ini sendiri tidak pasti adanja. - r>-).

5. Tjontoh untuk negara- dengan pluralism e hukum.

A lasan lain jang dikemukakan oleh m ereka jang pro prinsip dom icilie ialah bahwa prinsip inilah jang satu2nja dapat d ipeigu- nakan dengan baik dalam negara- jang susunan hukumnja tidak m engenai hukum kesatuan. Apabila terdapat anekawarna hukum

23i) N i e d e r e r , h. 152.^52) Bdgk. R a b e l , I. h. 138 dst.

117

Page 130: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

dalam suatu negara maka orang tidak dapat menemukan djalan keluar dengan memakai prinsip nasionalitet se-mata2. 253)

Jang manakah jang merupakan hukum nasional ini ? Misal­nja dalam negara2 federatif seperti keadaan di Amerika Serikat atau di Sovjet Russia. Disini kita saksikan bahwa tiap- negara bagian mempunjai hukum perdatanja sendiri. Untuk m engetahui hukum perdata manakah jang berlaku bagi seorang warganegara Amerika Serikat perlu diperhatikan domicilienja. Apakah ia ini berdomicilie di California atau di New York, semua ini m enen­tukan hukum perdata negara bagian manakah jang berlaku bagi­nja. Disini kita saksikan bahwa dengan pemakaian prinsip nasionalitet se-mata2 tidaklah dapat kita mengetahui hukum perdata manakah jang berlaku bagi orang bersangkutan. D em i­kian pula halnja dengan negara- federasi lainnja. Kita dapat menundjuk dalam hubungan ini pula kepada keadaan hukum daripada apa jang dikenal sebagai Keradjaan In ggris.2nt) Hukum perdata jang berlaku untuk England adalah berlainan daripada jang berlaku untuk Scotlandia. Di Uni Sosialis Sovjet Russia dan lain2 federasi2 kita saksikan pula anekawarna hukum perdata jang ditentukan untuk masing2 negara bagian.

Keuntungan ini hanja bersifal relatip.

Alasan jang mengemukakan bahwa prinsip domicilie inilah jang se-mata2 tjotjok untuk negara2 dengan sistim hukum ian? anekawarna pun harus terima hanja sebagai kebenaran ian« relatip. Alasan ini tidak dapat dipergunakan setjara mutlak Diantara negara2 jang berbentuk federatip, seperti misalnin U.S.S.R., terdapat ketentuan2 jang mengenai kewarganegaraan- tersendiri daripada negara'- bagian masing2 jang merupakan anggota2 daripada Um Federasi.

253) Bdgk. K u;h n, h. 6 5 ; C h e s h i r e , h. 196 197 • s i>-..Domicile et Residence”, no. 103. ’ cpertoirc.

204) Bdgk. W e b b , P.R.H. and B r o w n , D J L A 1 1

Conflict o f Laws Londbn (1960), Introductory, 'pada J S S E f c ? O£great advantage of the Anglo-American adherence to domicile is tha t it entirely obviates the necessity o f solv,ing such problems as w hat '>

__ 1 to«ir a c.ihzen of thft TTmfo c „ _ . . . Ianational law of a citizen of the United States, of a British subject, o f an individual possessed of moie than one nationality or o f none at a ll” (h. 3).

118

Page 131: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

A d a m u n g k in p u la u n tu k m e n g a tu r s e t ja r a b e r la in a n d a r i­p a d a m e lu lu m e n g g a n tu n g k a n s e su a tu k e p a d a p r in s ip k e w a r g a ­n e g a r a a n a tau p ad a p r in s ip d o m ic ilie . A d a n e g a r a - j a n g tid ak m e n g e n a i k e w a r g a n e g a r a a n lok a l d a r ip a d a n e g a r a - b a g ia n t e ta p i se b a lik n ja te ta p m e m p e r g u n a k a n p r in s ip k e w a r g a n e g a r a a n u n tu k h u b u n g a n - H P I m erek a . H a n ja u n tu k h u b u n g a n - H A T A H i n t e r n m erek a te la h d iad ak an p e r a tu r a n 2 c h u su s s e tja r a te r s e n d ir i.

T j o n t o h : K ea d a a n ja n g se m a tja m in i k ita sa k s ik a n te r d a ­p a t d i P o la n d ia an tara p e r a n g d u n ia k e dua. D in e g a r a te r s e b u t h u k u m p erd a ta te ta p a n ek a w a rn a te r u ta m a d ib e b e r a p a b id a n g c h u su s . S e te la h p e r a n g d u n ia p er ta m a b e r la k u la h d i P o la n d ia in i h u k u m p e r d a ta ja n g a n ek a w a rn a d ari zam an se b e lu m n ja . 255) A d a b er la k u huk um p erd a ta D je r m a n d i p r o p in s i- b a g ia n b arat, h u k u m p erd a ta A u str ia b er la k u d ju g a d ib a g ia n te r te n tu , d ib a g ia n T im u r b er la k u h u k u m p erd a ta R u ss ia , d an d ib a g ia n ten g a h b e r la k u la h h u k u m p erd ata ja n g d iw a r is i d ar i C od e N a p o le o n . U n tu k m en g a tu r h u b u n g a n a n tara an ek a w a rn a h u k u m p e r d a ta in i te la h d ite r im a baik U n d a n g - dari 1 9 2 6 ja n g m en g a tu r p en je - le s a ia n soa l- H A T A H in te r n . 2r,,:) D id a la m h u b u n g a n H A T A H in te r n in i te la h d ip erg u n a k a n p r in s ip d o m ic ilie . A k a n te ta p i u n tu k h u b u n g a n - H A T A H e x t e r n , u n tu k s o a l2 H P I, te la h d iad ak an p era tu ra n ch u su s te r se n d ir i. 2r,T) D is in i d ip erg u n a k a n te r u s p r in s ip k ew a rg a n eg a ra a n . D ja d i, p er g u n a k a n p r in s ip dom i- Qilie u n tu k m en je le sa ik a n se m u a p e r so a la n ja n g te r le ta k d ib id an g H A T A I- I. "Prinsip d o m ic ilie se -b a n ja k 2n ja h a n ja dapat m em b aw a k e u n tu n g a n b ah w a p e n je le s a ia n d arip ad a p e r so a la n 2 H A T A H in te r n dan ex tern , k ed u a n ja , dapat la k u k a n m en u r u t tjara p e n je ­le s a ia n ja n g sam a. T e ta p i p r in sip d o m ic ilie in i t id a k b er lak u se tja r a m u tla k d alam artikata b ah w a sem u a so a l2 H A T A H (jang in te r n m au p u n ja n g ex tern ) harus d ise le sa ik a n m en u r u t p r in s ip d o m ic ilie in i K aren a adalah m u n gk in d ju ga u n tu k m e n j e l e s a i k a n so a l2 H P I in i tetap m en u ru t p rin sip k e w a rg a n eg a ra a n , se d a n g k a n p r in s ip d o m ic ilie hanja d ip ergu n ak an untuk m e n je le sa ik a n soa i-H A T A H in tern .

S , S £ - t o ! ’ 2 - S ° 9 2 6 5 U ^ i c * * in i m.ai M a k a , o v . Q * . I L

2 3 T) u .L J . d a r i 2-8-1926 p u la . U n tu k teks, lih a t M a k a r o v - Q u c l l e n ,1 no . 4 4 d a n M c y o r s - R e c u e i l , h . 35 .

119

Page 132: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

6. Dimana prinsip kewarganegaraan tidak dapat dilaksanakan.

' prinsfp^omicUie ilfah dikem^kakan sebagai keuntungan dari

™?gaanmeg S ( a p a M S ^ f " gS” ° ™ K * W k t r k tkewarganegaraan leWh riL 1 ^ garl 01an2~ jang mempunjai

W * ^ ^ - n gk„‘a„ flluku„ ; , ,asS r n ; af a T ‘a ^ S

Keuntungan ini hanja relatip pula.

hal iM k t a n l H ^ f di‘UnS i T paJa dalamsebaliknja, berkenaan dptisan n,- ^ ' 1 elatlP. Pula- 01eh karena terdjadi bahwa ada pula orang? iane f?d fclCllle inip“ n lnungkin sama sekali. Mereka ini telah m J * menipiuijai domicilic?semula dan k e m u d S mengembar f ** • d° midlie mereka diam tjukup lama dalam aia dibeibagai negara tanpa ber-dianggap menurut hukum snrHhnegara l®rtentu hingga dapat ini tergolong orang- iang sanpat mempunjai domicilie. Merekatjara demikian ini mereka lm an rSn f Ja an,dengan sikaP dan Golongan ini jang teiken f 1 3t mengelakka» padjak. zwervers”. dengan nama djulukan : „fiscale

kakan ^ u lT ^ iw ^ d iu g ^ a ^ a ln l116 31'3! ” rangkaP daPat dikemu- punjai ie:bih da?i satu ad^ ah,mungki» bahwa seorang mem- menentukan bahwa seorana 1° * per-undang-an jangdalam satu negara 2no'i Adii tC & lllemPunjai dua domicilie ---------------- s a. ) Adalah mungkin pula bahwa menurut

2j8) Ch^s^Tr5 n°' 180 sub c-

S § ? ^ H X " « (" z he i, V W .Tjontoh: Pasal 7 BGB n ' . •kann gleichzeitig an m eh rp rp ^ l11* Jarlu a '*! mcrl£:nUikan : „D er W ohn siiz agak m enjim pang darinad^ bestchen” . K etentuan ini dipandang m en u ru t L a p r a d e H e m ■ hPrmCipe t 5 1!,Jllif6 d o m ic ile” , jang tous les pays” (5 Rcnerin;.^ l n , ° y I 1, atla'ah » adm is dans presque no. 41). p 011 e > dibawah ..D o m ic ile et R esidence, h, 58H:

Saxon.P Bdgk°mN u's s b a il' lni, lic1;'^, tUterima dalam hukum Anglo-jan g m enundjuk pada par I / ’ ri- • w ♦ Lihat t1ju-ca K 11 h h - 6 5 ’all times o n e domiin - i 1 ^ estatcme n t: ..Kvcry person has at at a time”. a 110 Pers°n has more than one domicileD !i c c y - JVf o r r i s Rut i itime have more than nnr. -i -8m :>> ”No Person can at tlie sanie h . 5 2 ; M , 5 > R “ " ™

Page 133: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

hukum dari negara X seorang m em p u n ja i domicilie da lam X, te tap i m enuru t negara Y orang itu m em p u n ja i domicilie di Y« Tam bahan lagi adalah mungkin pula bahwa m e n u ru t hukum dari negara X seorang berdomicilie d inegara Y, sedangkan m e n u ru t hukum dari Y ia ini berdomicilie di X. -,u) Segala sesu a tu ini dapat m enam bah kesulitan- jang serupa sep e r t i pada pe rsoa lan kew arganegaraan rangkap. Kata H i j m a 11 s dalam h u bungan ini : „E r zit niets vreem ds in een dubbel domicilie gelijk m e n oen dubbel leven kan leiden in den slechten zin van he t woord, kan men dit ook in den goeden” . 20-)

7. Demi kepentingan adaptasi dan assimilasi n eg ara - iniigran.

Alasan lain jang seringkali dikemukakan pula oleh m ereka jang pro prinsip domicilie m erupakan suatu alasan ja n g bers ifa t politis. Negara- imigrasi m em punjai kepentingan bahwa hukum dari tem pat domicilie jang dipergunakan. Dengan dem ikian ini dapat tertjapai suatu proses adaptasi dan assimilasi setjepa/tnja daripada orang- asing masuk kedalam negeri. -’«">) Bukan sadja orang- asing ini diassimilir sedapatnja dilingkungan tem pat tinggalnja jang baru sepandjang mengenai bahasa, adat-istiadat, kebiasaan- tetapi djuga dalam pandangan- hukum nja. D engan demikian dapat tertjegahlah adanja kelompok- o rang2 asing jang letap m em pertahankan hukum mereka dan dalam ta ra f lebih luas ikatan- dengan negara asal mereka. -(i4) Djika te rd a p a t terlam pau banjak orang asing didalam negeri jang masing2 m em pertahankan hukum nasional m ereka bahaja lebih besar bagi negara bahwa m ereka ini tidak dapat diassimilir didalam nagara dimana mereka berdiam. Berlakunja hukum dari tem pat tingga' mereka jang baru ini harus dipandang sebagai suatu

2<n >

l-m)

2fi I)

Lihat diatas, dibawah no. 252.H i j m a n s. h. 147.K-ita R a b e l (I, 163) dalam hubungan ini : „the dom icile principle has" found support in the desire o f im migration countries to incorporate new immierants into the legal life o f the country as soon as possible and thereby tcT avoid difficulties that would arise if each new im migrant prior to naturalization were to be judged in accordance with the law s o f his hom e country” .Tendensi serupa ini dapat disaksikan di U .S .A . ( . B e a l e , III, 1935), Swiss Arcentinia (jang m cnenm a prinsip kewarganegaraan dalam tahun 1857 d'in m en°uatkannja dalam tahun 1862, tetapi dengan C.C. tahun 1869 menugantlnja dengan prinsip dom icilie), njata sekali di BrasilUa (U U . 4-9-1942, pasal 7 menggantikan prinsip kewarganegaraan dari C .C . dengan prinsip dom icilie. Lihat M a k a r °;v-Q u e l l e n I, n o. 7 ; G uatem ala (scdjak C.C. 1926), P e r u (C.C. 1936).

Page 134: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

faktoi pschychologis jang besar artinja kearah assimilasi se t jep a t mungkin Kepentingan bagi negara- imigrasi bukan sadja ber­kenaan dengan assimilasi orang2 asing ini. Dengan berlakun ja hukum domicilie dapat pula dipenmidah sistim pem bagian administrasi dan pembagian hukum (rechtsbedeling, administra­tion de la justice) dari negara2 bersangkutan.

Djangan melebih2-kan.

Kepentingan bagi negara2 imigrasi untuk mempergunakanh n u T r f T mang berarti‘ TetaPi djuga arti ini tidak

f an 1npada- pi'opoi'si JMg sebenarnja. UsahadinnnJ * T ™ djanganlah sampai mengakibatkan apa jang

a!lf, agai bahaJa dari ),cristallisation des noyaux ... . ■ ’ , , . 1'neSara* imigrasi dimana nampak bahaja sede-

mi ian .infiadalal; Pada ‘empatnja untuk mempertahankan prinsip nasionalitet. Suatu tjontoh kita saksikan di Perantjis- Ternjatan f e ^ e a M ^ h 0ran§ menganggap sebaiknja untukadanif PnnSlp nasionalitet berhubung dengankeoada „p„h£- ^ ^ hubun§an hli dapat ditundjukdisana-sini -W Iv 'h ^ ■ y e t j anS sudah disinggungdarinada aliral • ^ 101 t&lah mendJadi Pelopor terpenting

di Pei’antjis pada tahun8 s*belum semua orano- n • 8" ua untu^ menerima pengawasan atashukum Pprant Um Perantjis dengan mempergunakan k S r S 3hP Hal ini d^ a b k a n ticfak sedi-

- D 1 bertambahnJa djumlah orang2 asing jang bukan

peJ ng Pf f r , ktU itU‘ AUran ini “ “ W setelahkenada ! dltinggalkan.2«*) Orang telah kembalikepada mempertahankan prinsip kewarganegaraan. 2fi!))

26°) B a t i f f o l , Principes de d.i.p h 5111 2 iO ”? Ni b o l e t ’ T ra^ HI, h. 195 dst. Lihat no. 195

™t£,Toi£rZaZutfZJs; 7 wS5“,t 1 ia"e1939, dengan pasal 1 ajat-„ja: ,,L’etat et la P " v6 ’ tahunsoumis a la loi du pays de leur domicile”. Teks S° ntR e c u e i l , Annexe I, h. 93. P‘ 4 M e i j e i s|-

2G3) B a t i f f o l , Principes de d.i.p., h. 553; K e g e l , h. 141

2«») Dalam hubungan ini boleh ditundjuk kepada B W Junm; •, udari 15-3-1941 (mulai berlaku sedjak 23^1946) V dari C C ^ s i r 16-7-1948 jang pertama2' mengekedepankan prinsip kewargangaraan

122

Page 135: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Setelah m elihat alasan2 pro dan kontra prin sip 2 kew argane­g a r a a n /dom icilie , dapatlah kita m em berikan resum e sebagai berikut :

1. Tidaklah dapat d itentukan setjara a p rio r i p rinsip m an a­kah jang lebih baik- Sistim manakah jang lebih tjotjok harus dipandang dalam hubungan hidup dan kenjataan sosial dalam negara tertentu untuk mana sistim bersangkutan berlaku.

2. Masing2 aliran mempunjai pem bela2nja dan alasan2nja jang tertentu. Kesatuan pendapat antara kedua aliran ini tidak dapa t diharapkan akan tertjapai.

3. S e r in g k a l i ternjata bahwa kepentingan2 sendiri daripada n e g a r a 2 m a s in g 2 jang m em egang peranan m enentukan akan s is t im jang dipilih-

4. Alasan2 jang seringkali diadjukan pro prinsip kewarga­n e g a r a a n a.i. ialah :

a) Prinsip kewarganegaraan ini paling tjotjok untuk m em enuhi kebutuhan daripada para warganegara hingga terlaksanalah suatu adaptasi kepada perasaan hukum dari jang bersangkutan (adaptation au tem pe­ram ent des nationaux”).

b) prinsip kewarganegaraan adalah leb ih tetap, lebih ^permanent” (bestendig, duurzaam) daripada prinsip domicilie.

. prinsip kewarganegaraan lebih mendjamin kepastian d a rip a d a prinsip domicilie.

tapi telah kita saksikan bahwa keuntungan2 dari prin- 5- „rtflvaon iang disebut ini lianja bersifat r e l a t i psip k e w a r g a n e g a i a a u j

adan:ia sebaliknja alasan5 pro prinsip domicilie ia la h :Prinsip domicilie m enghasiltan bahwa hukum jang dipergunakan ialah hukum dimana orang* jang ber- sangkutan pada peristiwa' hukum tertentu sesnngguh- nja hidup dalam kehidupannja se-hari-.

200. R <; s n m e :

123

6 .

a)

Page 136: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

b) Prinsip kewarganegaraan seringkali dalam praktek­nja tidak dapat dilaksanakan setjara baik tanpa ban- tuan dari prinsip domicilie.Misalnja dimana terdapat perbedaan kewarganegara­an dalam keluarga. Perbedaan ini t im b u l:

aa) antara kewarganegaraan suami dan isterib) antara kewarganegaraan orang tua dan

anak.c) Hukum domicilie seringkali sama adanja dengan hu-

kum saner J °

bb)\

kum sang Hakim.

^ dom*c^ e niembawa lebih banjak kepastian untuk lingkungan sekitar ditempat domicilie.„ U Um, domicilie adalah jang lebih tjotjok untuknegara-dengan pluralisme hukum.

g u S ^ p a d a f n6garaan tenijata Udak dapat diper‘

) hal dimana tersangkut orang- jang tanpakewarganegaraan (apatriden).warafr, memPunjai lebih dari satu ke-

Dinakaini v, egaiaar* (bipatriden, multipatriden).

adaptasi dan dem‘ ke))enting“negara2 imigrasi. para innSran Pada

7. -Dju. 3. alasan^ r* """bersifat r e l a t i p ' adanja^* C'0m*ci**e *ni ternjata hanja

201. Djalan keluar.

Setelah melihat alasan2 pro prinsip kewarganegaraan rlnl-f *adJukan oleh mereka jang cihe dapatlah kita tindjau lebih ?.le i®ka Jang pro prinsip domi-piaktek orang telah mentiari aU l-iara~ bagaimana dalamjang ditimbulkan oleh masinpa m,-n . e _uar diantara kesulitan2 bagaimana dalam praktek telah ri;<i+nS-P ^ a akan saksikan diantara kedua prinsip tersebut S T , Perbedaan2 jang terdapat djauh pendirian manakah jane J i itu akan kita bahas le b ih 'dipergunakan dalam sistim hpt ai\ja adalah lebih ba k untukdatang. untuk Indonesia jang akan

Page 137: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

202. Tjara2 mengatasi kesulitan2.

Perbedaan antara kedua prinsip ini setjara teoretis dapat diatasi dengan berbagai djalan. Dibawah ini kita akan mengemu- kakan beberapa pendapat jang pernah dikemukakan dalam ling­kungan ilmu HPI.

203. Jang satu diganti seluruhnja oleh jang lain.

a) Salah satu daripada titik pertalian bersangkutan, kewar­ganegaraan atau domicilie diganti seluruhnja oleh titik pertalian jang lain. Jang satu menggantikan jang lain. 270) Tegasnja, prin­sip kewarganegaraan diganti dengan prinsip domicilie atau seba- liknja jang belakangan diganti oleh jang disebut lebih dahulu.

Dalam praktek telah kita saksikan adanja penggantian sema- tjam itu. Dan jang nampak pada waktu belakangan ini ialah bahwa tendensi untuk menggantikan prinsip kewarganegaraan dengan prinsip domicilie kuat adanja .271) Terutama dalam tahun- sebelum perang dunia kedua kita saksikan adanja ketjondongan untuk menggantikan prinsip kewarganegaraan dengan prinsip domicilie ini. Bahkan dalam negara2 jang lazimnja terkenal seba- gai pembela2 terutama dari prinsip kewarganegaraan, seperti misalnja Perantjis dimana dengan Code Civilnja untuk pertama kalinja dalam HPI modern telah diterima prinsip nasionalitet sebagai pengganti dari prinsip domicilie, kita saksikan adanja tendensi ini. Diatas sudah ditundjuk kepada peranan dari N i ib o y e t 272) dan L e r e b o u r s - P i g e o n n i e r e 27S) dalam hubungan ini.

Keadaan di Perantjis pada waktu itu dengan njata memper- lihatkan segi2 politis daripada aliran- jang menghendaki diperla- kukannja h u k u m Perantjis bagi orang asing jang berada di Perantjis. Pemerintah Perantjis sendiri ternjata dalam tahun 1913 sudah mengopseg Tractaat- Den Haag jang beikenaan dengan

2l0) Bdgk. N i e d e r e r , h. 153.271) Bdgk. N i e d e r e r : „Die gegenwartige Entwieklung verlaft zu

Gusten der Ankntipfung an das Domizilrecht (h. 153).“7:i) N i b o y c t , Traite III. li. 195 dst. dan literatur jang disebut disitu ;

Bdgk. 5 Repertoire, ..Domicile et Residence” , no. 104, 106.■"d) Lihat no. 195.

125

Page 138: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

y - '-

r f

hukum kekeluargaan. Apa sebabnja ? Jang mendjadi sebab sebe- tnarnja daripada pernjataan opseg ini ialah kenjataan bahwa Itidaklah dapat diterima berlakunja hukum Djerman dengan '?rlarangan kawin bagi para deserteur Djerman dari Elsas-Lotha- ringen. 2U) Para deserteurs ini banjak jang telah mengadakan hubungan dengan perempuan2 Perantjis. Menurut pasal 1 dari­pada Tractaat perkawinan Den Haag hukum nasional daripada para pihak dipergunakan untuk menentukan kewenangan meni­kah in i .275) Larangan kawin jang dikeluarkan untuk para jdeserteur Djerman ini berdasarkan ketentuan tersebut (dan ber- aasarkan azas nasionalitet) harus diperlakukan pula dalam hal kawin tjampuran dengan perempuan- Perantjis di Perantjis ini.Akan tetapi, ternjata pemerintah Perantjis tidak dapat menerima kegandjilan tersebut hingga mengundurkan diri dari Perdjan­djian Den Haag bersangkutan.27(i) Djuga negara2 lain telah meng-opseg perdjandjian tersebut (Belgia 1918, Swedia 1958). ~77)

Menindjau segala sesuatu ini maka menurut H i j m a n s pada waktu menulis bukunja tentang HPI, gedjala2 menundjuk- kan bahwa ,,de slinger der geschiedenis naar het domicilie teruggaat” . 278) ^

) Bdgk. pengunduian diri oleh Swiss dari T ractaat Den Haag mengenai pertjeraian dan hidup terpisah dari medja dan tempat tidur, dibawah no. 246 dst.

275) Pasal 1 ini berbunji : „Les droits et les devoirs des epoux dans leursrapports personnels sont regis par leur loi nationale” (Teks M a k a ­r o v - Q u e l l e n , II, h. 595).

2<6) D alam hubungan in 1 H i j m a n s telah mentjeritakan tentang usaha- fihak ahh-hukum Belanda untuk „menolong” Perdjandjian Den Haag itu, tetapi tanpa hasil: „Een paar bejaarde Nederlandsche juristen, die de Haagsche tractaten, waarop Nederland (ten on rech te!) zoo trotsch is, w id en redden zijn naar Parijs getrokken, en hebben daar den etrijd met de Fransche bruidjes aangebonden, waarbij ze natuurlijk jam m erlijk het onderspit geaolven. hebben (h . '148, 149).

2 77) Bdgk. H P I? I no. 152.278) H i j m a n s, h. 149. Bdgk. pula N u s s b a u m, jang mengemukakan

bahw a prinsip nasionalitet mi „never conquered the common-law coun­tries, and on the continent because of the decay of the Law of Nations theory of Private International Law, it has been definitely on the retreat during the last few decades, at least in its familiar M ancinian variety” 9.137), dengan m enjebut sardjana21 jang mengetjam prinsip kewaiganc- garaan, a.i. C a s s i n , La nouvelle conception du domicile dans le reglem ent du d.i.p., 34 R e c (1 9 3 1 ); V o n S c h i l l i n g , „W ohnsitz o d e r Heiniatsrecht, Rabelsz 1931, h. 633 ; S i m o n s , La conceptiondu d.i.p. en Allemagne, 15 Rec. (1926), h. 483, 565 ; N i b © y e t .

126 '■as*.

Page 139: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

204. Koinpromis antara kedua prinsip.

b) Penjelesaian lain dapat tertjapai apabila pengertian2 „kewarganegaraan” dan „domicilie” se-olah2 digabungkan m en­djadi satu dalam suatu pengertian jang bersifat kompromis. Mi­salnja oleh A s s e r 27°) pernah dikemukakan usul serupa : - Hukum nasional berlaku terus untuk orang asing selama 6 tahun lamanja ia ini mempunjai tempat kediamannja („residence”) pada tempat jang sama. Setelah itu maka hukum dari tempat kediaman- nja-lah jang dipergunakan.

Djuga sardjana2 hukum lain, antaranja F r a n k e n s ­t e i n pernah mengusulkan pengertian jang bersifat kompro­mis kedua prinsip ini. Sardjana hukum ini mengemukakan suatu pengertian baru jang dinamakannja „domicile statutaire”. Setiap orang asing jang berada diluar negara asalnja mempei'oleh „residence pennanente” setelah 3 ta h u n .2S0) Status personil se­seorang ditentukan oleh „domicile statutaire” -nja i n i .2f!1)

Dengan mengintrodusir pengertiannja tentang domicilie jang bersifat chusus ini, „pahlawan” prinsip kewarganegaraan jang semula demikian besar kejakinannja pro prinsip-nasionalitet itu, telah berputar haluan ! Ia telah berbalik tjondong kepada prinsip domicilie.282)

• B a t i f f o l telah memberikan usul tersendiri jang sedja- lan dengan ini. Beliau telah mengusulkan pemetjahan dengan menekankan atas hukum kewarganegaraan, tetapi pemakaian hukum domicilie untuk orang2 asing jang sudah menetap tanpa

270) A n n u a ire de l ’ln s ti tu t d e d ro it In te rn a tio n a l, 1906\ J \ \ v : « p r i i m2««) Code F r a n k e n s t e i n , L eyden (1950), U;b l- ^ e c a

pasal 56 d an 58 „ P ro je t d ’un code E u io p e c n , Di.

- ) BraaagPae , (ohc .h 5 6 6 dst.) djuga tjondong untuk ^atas hukum dari tempat dimana seseorang c ,, ‘ ^ e j nPeibedaannja dengan ..dom icile s ta tu ta ire ” da. F a n k e r , * t ^ n ,ia lah bah w a B r a g a tidak m en je tu d ju i a c e r t i f ie d d e d o m ic ileu n tu k ..dom icile S ta tu ta ire ) d an tid ak m em erlu k an „ c e rt ,f ,c a t d e d o m .c .lc

82.) B d S l a i E U C r o c h 160, jang m enam bahkan bahw a perobahan; Dac k. D t i c i , u.c. i . Y, • sireben nach m odernem , dempendirian ini m en u n d ju k k an adan ja suatu ,, (ij ,iir i dispG ange d e r E ntw ick lu n g angeppass tem K o lh s io n srcch t jang d ju g a d tsc-su a ik an d en g an k en ja taan .

127

Page 140: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

hasrat untuk kembali kenegeri asal (..preponderance de la loi nationale, application de la loi du momicilie aux etrangers fixes sans esprit de r e tour”. 283)

205. Domicilie membantu' prinsip kewarganegaraan.

c) Pengertian domicilie dapat dimasukkan dalam sistim HPI jang terutama disandarkan atas prinsip kewarganegaraan.

Seperti telah kita saksikan dari uraian diatas prinsip kewar­ganegaraan dalam prakteknja harus memperoleh bantuan dari­pada prinsip domicilie dalam berbagai hal tertentu. Kita sebut disini :

1. Apabila orang jang bersangkutan tidak mempunjai ke­warganegaraan. 284)

2. Apabila kewarganegaraan orang bersangkutan ialah dari­pada suatu negara jang sistim hukumnja anekawarna. -8S)

3 Apabila para pihak jang berhubungan mempunjai' kewar­ganegaraan jang berbeda, misalnja suami-isteri mengenai pertjeraian, as0) ajah-anak tentang persoalan mentjari asal-usul keturunan.

283) B a t i f f o l , Traile (1949) h. 403 ,1st.; 97 Rec. (1959), chusus p. 498 dst.

284) Domicilie lazimnja mendjadi titik taut suhsidiaii.2Sr,) Hanja berlaku untuk negara2 dengan. persoalan- HAT, Iulak njata untuk

negara* dengan soal2 HAG. B a t i f f o l berkesunpu an : , ,L e domicile est superieur a la nationalite en ce qui conccrne es Etas dont la legislation non unified est divisee territorialem ent, la nationalite est superieure au domicile quand la legislation non umfiee distingue scion la race ou la religion” (Principes de d.i.p., h. 530).

280) Dalam peristiwa R i v i e r a . Cour de Cassation Perantjis denganarrest dari 17-4-1953 telah menentukan pemakaian domicilie sebagai pe^gganU kewarganegaraan. (Lihat RCDIP 1953 I,. 412 ,ja ,ata„B a t i f f o l ) , Bdgk. B.a 1 1 f f o 1, Principes de d.i.p., h. 54.

280a) . Bd’ek Konp-’rensi Den Haag ke-8 tentang HPI (1956) jang m enerim a' koixsep konvensi jang menggantungkan kewadjiban memberi al.mentasi

bagi seorang anak-Iuar kawin kepada hukum danpada tem pat kediaman (residence) daripada sang anak jang menggugat. D jadi pada pokoknja lex fori jang berlaku. Lihat untuk ini B a 1 1 f f o 1, Une evolution possible de la conception du status personnel dans 1 Europe continental*;, dalam „XX th Century Comparative and conflicts law, Legal Essays in honor of H e s s e l E. Y n t e m a, Leyden (1961), h. -95 p.h. 299. Lihat djuga jurisprudensi Perantjis jang disebut p.h. 298.

128

Page 141: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

4. Apabila kaidali- jang p e r lu d ip e rg u n ak an bertalian era t dengan hal- a t ja ra (procedure) seperti m isaln ia berkpna an dengan perlindungan daripada o ran g 2 jang tirfav m am pu bertindak dalam hukum . Dalam hal ini per ln lah d ipergunakan hukum daripada hakim jan g d im in ta un tuk

® ei?San lain perkataan , ja n g k ita saksikan ialah bahw a hukum domicilie daripada o rang j a n s tidak m am pu bertindak inilah jang d ipe rgunakan dalam praktek. iU

Dalam semua kem ungkinan- jang d isebut ini kita saksikan bahwa prinsip kew arganegaraan sadja tidak dapat membawa penjelesaian jang diharapkan. Penger­tian domicilie te rn ja ta perlu m em bantu dalam m enentu­kan hukum jang harus diperlakukan.

206. Konsesi2 prinsip domicilie pada pengertian kewarga­negaraan.

d) Sebaliknja daripada apa jang diuraikan diatas ini, kita saksikan pula bahwa dalam praktek sistim2 jang disandarkan atas prinsip domicilie seringkali m engadakan pula konsesi2 te rten tu kepada pengertian kewarganegaraan.

Sebagai tjontoh- dapat d isebut dalam hubungan ini :

207. Pengertian domicilie HPI Inggris.

1. Dalam sistim H PI di Inggris kita kenal pengertian dari­pada apa jang dinamakan „domicil of origin” disamping „domicil of choice” . 2ST)

Apa jang dinamakan ,.domicil of origin” ialah domicilie se­seorang jang digantungkan kepada domicilie ajahnja. Dengan adan ja pengertian chusus ini kita saksikan bahwa m enuru t faham- hukum Inggris seorang Inggris jang m em punjai domicil of origin- n ja di Inggris ini tidak mudah dapat m em peroleh suatu domicil of choice diluar negeri. Dengan djalan demikian kita saksikan dalam prak tekn ja bahwa sistim H PI Inggris ini hendak memberi- kan perlindungan se-besar-nja terhadap berlakunja sistim2 hukum jang berlainan pada azasnja daripada konsepsi2 hukum Inggris. Misalnja, sistim'- perkawinan polygamis seperti dikenal dibekas d jad jahan- Inggris d i 'Ind ia dan Pakistan ini tidak akan berlaku

287) Lihat lentang ini lebih djauh kemudian.

129

Page 142: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

r

bagi seorang warganegara Inggris jang mempunjai domicil origin-nja di Inggris walau defakto bertempat tinggal sedjak lam a di India atau Pakistan. -8S)

Dengan adanja fahani sedemikian ini kita saksikan bahwa sebenarnja faham2 domicilie dan kewarganegaraan sudah s a l i n g mendekati. Karena pengertian domicilie bagi orang- Inggris ini tidak diartikan dalam arti jang sama dengan untuk orang2 asing sedangkan hubungan domicilie dapat tetap melekat atau m u d a h dihidupkan kembali, djelaslah sudah kiranja bahwa faham k e w a r ­ganegaraan (sebagai ikatan dengan hukum negara asal) mulai turut tampil kemuka.

Bahkan menurut penulis- seperti a.i. M e i j e r s , pe­ngertian domicilie Inggris adalah tidak lain daripada faham„pseudo-nationaliteit” . 28°)

Dalam sistim jang bersifat domicilie telah d i k e d e p a n k a n faham- jang berdjiwa kewarganegaraan.

208. Perdjandjian Uni Skandinavia.

2. Tjontoh lain daripada introduksi faham- nasionalitet dalam sistim domicilie kita saksikan pada perkembangan P e r­djandjian regional dari Uni Skandinavia.

Negara- Skandinavia, jakni Swedia, Norwegia, Denmark, Yslandia dan Finlandia telah mengadakan berbagai tractaat- pada tahun2 1931 dan 1934. 2!)0) Kita sudah ketemukan Perd jan­djian dari negara- jang tergabung dalam Uni Skandinavia ini tatkala dibitjarakan tjita2 unifikasi hukum setjara regional.

Telah kita singgung bahwa jang menarik perhatian dalam Uni Skandinavia ini ialah tjara untuk mengatasi kesulitan2 jang timbul karena diantara negara2 Skandinavia ini terdapat negara2 jang menganut sistim HPI jang berbeda. Ada negara2 jang me-

288) Bdgk. C h e s h i r e , h. 166 dst.2-8») Kata Moijers : Countries accepting the principle of domicil have only

two ways of escape : public policy or the introduction of a dom icil o foriein But a domicil of origin (Hcimatsort) is nothing but a substitutefor nationality .................” , The Benelux Convention on P.I.L., d a jamV.P.O., II, h. 401.

2tK’) Lihat HPI, 1 no. 155.

130

Page 143: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

n ganu t p rins ip domicilie, seperti D enm ark , N orw egia dan* Islandia. N e g a ra 2 la inn ja m e n g an u t p r in s ip nasiona lite t. Basai-

m ana m engatas i kesulitan ini ? Kita saksikan bahw a te lah dite- r im a baik suatu kom binasi pem aka ian k ed u a p r in s ip in i hingffa te rd ap a t t ja ra pem etjah an ja n g dapat d ite r im a oleh sem ua pihak U ntuk h u b u n g an 2 an tara n eg a ra2 Skandinavia te lah diper<*unakan p rinsip domicilie, sedangkan un tu k h u b u n g an d en g an la in2 negara, m asing2 negara Skandinavia m e m p erg u n ak an sistim H PI- n ja sendiri. D engan dem ikian k ita saksikan bahw a apabila seo rang Swedia telah berdomicilie u n tu k lebih dari 2 ta h u n di Copenhagen, prinsip domicilie-lah ja n g d ipergunakan . T e tap i apabila seorang Sw edia m engadakan h u bungan d e n g an w arga­negara D jerm an, d iperlakukanlah prinsip nasionalite t un tuk m enen tukan status personil-nja. 201)

209. P e rb ed aan an ta ra „S ta tu s” dan „k ew enangan” .

3. Ada lain kombinasi lagi jan g se tja ra teo re tis m ungkin d item puh an tara prinsip nasionalite t dan prinsip domicilie. P r in ­sip K ew arganegaraan d ite rim a u n tu k b idang „sta tus” seseorang, sedangkan „kew enangan” seseorang ini lazimnja te rh i tu n g pada peris tiw a2 hukum jan g tidak sering te rd jad i dan m em pun ja i sifat jang pen ting sekali, seperti m isalnja perkaw inan , p e r t je ra ian a tau hubungan ke tu runan . A k iba t2 hukum daripada peris tiw a2 d ibidang ini adalah p a n d jan g dan m endalam bagi o ran g 2 jang bersangkutan . P eris tiw a2 jan g te rd ja d i dibidang in i m em punja i a r t i jang p en ting sekali bagi seseorang. P en g a ru h n ja akan dii’a- sakan un tuk w aktu jan g lama. Oleh k a rena itu, adalah sesuai dengan sifatnja ini, bilam ana p e rb u a tan 2 sem atjam itu d ia tur oleh stelsel hukum jang stabil dan tidak m udah di-robah2. K arena itu adalah w ad jar bilam ana un tuk bidang te rseb u t d ipergunakan hukum kew arganegaraan . K ebera tan bahwa hukum nasional dari seorang asing ini um um nja sukar un tuk d iketahu i o leh ling- kungan sek itarn ja dalam bidang status ini k iran ja tidak d irasakan sebagai te r lam pau berat. Oleh karena kita be rh ad ap an dengan peris tiw a2 hukum jang penting bagi jang bersangku tan ini, k ira ­nja adalah dapat d ipertanggung-djawabkan bilamana dimintakan sua tu penelitian jang lebih m endalam akan hukum jan g sesung- g uhn ja berlaku bagi para pihak jang m elakukan h u bungan hukum

201) B dgk. tjo n lo h 2 j<wig d isebu t pu la d a lam H P I, 1 no. 155.

131

Page 144: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

ini. Kita tidak berhadapan dengan perbuatan2 hukum jangtermasuk bidang perbuatan- jang mengalir se-hari-’, sepertimisalnja perbuatan- hukum dibidang hukum lalu-lintas (verkcers- recht).

Sebaliknja perbuatan- jang terdjadi berkenaan dengan „ke- wenangan” untuk bertindak dalam hukum dari seseorang lazim nja berlangsung dibidang kehidupan jang mengalir („la vie courante”). Oleh karena itu kita saksikan adanja ketjondongan untuk menerima berlakunja hukum domicilie untuk bidang ke- wenangari” berkontrak ini.

Dalam sistim HPI jang diterima dalam negara- Anglo-Saxon kita saksikan bahwa kewenangan seseorang untuk bertindak dalam hukum ini telah digantungkan kepada hukum domicilie atau tempat dimana kontrak dibuat dan tidak kepada hukum nasional daripada para pihak. -!l-)

210. Pendirian kita.

Setelah melihat berbagai tjara jang dapat ditempuh untuk mengatasi kesulitan2 jang timbul karena adanja dua prinsip HPI jang berlaman itu, tibalah kita pada saat untuk menentukan sikap kita sendiri tentang masalah ini.

Dalam melakukan hal ini pertama-tama perlu kiranja dike­mukakan bahwa menurut pendapat kita tidaklah akan mungkin untuk memperoleh kata-sepakat dalam hal ini diantara stelsel2

beisangkutan. Adalah tidak mungkin untuk mensatukan kedua aliran ini hingga tertjapai berlakunja hanja salah satu dari­pada prmsip2 tersebut. Kata K o l l e w i j n dalam hubungan ™ ' ”y ° ors anders van hot national it eitsb eginsel en voorstanders

-van he t d o m ic ilie beginsel overtuigen elkaar zelden of nooi . ') Tidaklah mungkin untuk menentukan bahwa prinsip kewarganegaraanlah jang akan menang atau prinsip domicilielah jang akan umum diterima. Kenjataan pada dewasa ini membukti- xan bahwa baik prinsip kewarganegaraan maupun prinsip domi­cile tetap berlaku jang satu disamping jang lain. Keadaan ini kiranja akan tetap berlangsung. Unifikasi dibidang ini tidak akan

8H3V Lihat diatas tj ° ntoh dai'i W o l f f , no. 181.K o l l e w i j n . O nlaarding van het nationaliteits>bcginsel in hetmodcrne intem ationaal privaatrccht, 1929, h. 8.

132

Page 145: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

mungkin tertjapai. Hal ini disebabkan antaranja karena — seperti telah kita katakan — kepentingan- jang bersifat politis -0l) dan tradisi2 2ftr') daripada negara2 jang bersangkutan memegang peranan jang penting dalam menentukan sikapnja. Kebirtuhan-* hukum masing2 negara pun berbeda.

Kita perlu mejakinkan diri bahwa menurut kenjataan seka­rang ini, dapatlah dikatakan bahwa kedua prinsip masih terus berlaku setjara berdampingan. Bukanlah tugas daripada ilmu HPI untuk mengemukakan se-mata- pembelaan daripada salah satu prinsip terhadap prinsip jang lain. Adalah lebih baik bila­mana ditjarilah akan suatu „niodus vivcndi” jang dapat diperla­kukan antara kedua prinsip te rsebut.2!,,i) Diatas telah kita lakukan hal ini. Kemungkinan2 kombinasi daripada kedua prinsip telah kita kemukakan.

Tinggallah sekarang ini kita merenungkan sistim jang ma­nakah sebenarnja adalah jang sebaiknja dipergunakan bagi HPI kita dimasa jang akan datang.

211. Prinsip nasionalitet jang berlaku sekarang untuk R.I.

Pada waktu sekarang ini dinegara kita dianut prinsip nasio­nalitet seperti tertjantum dalam pasal 16 A.B. kalimat pertama. Pemakaian prinsip nasionalitet ini belum berusia lama. Baru setelah Hindia Belanda mempunjai peraturan kewarganegaraan tersendiri dalam bentuk ,,Wet op het Nederland Onderdaans- chap” dari 1910 (S. 1910 no. 296) telah dirasakan perlu untuk menindjau kembali prinsip domicilie jang tadinja dipergunakan dalam menentukan status personil ini. 2UT) Dengan S. 1915-299 telah diadakan perobahan daripada prinsip domicilie dengan prinsip kewarganegaraan jang hingga kini berlaku. 2.!,s)

2!M) Bdgk. R a b e l , r, h. 162.28r>) Bdgk. R a b e l , I, h. 161.20,i) R a b e l pernah iisulkan „inodus vivendi” antara kedua prinsip ini

dengan lembaga „Renvoi” jang dikemukakannja. Bdgk. R a b e l . I,h. 168.

21'7) Sebelum U.U. Kekaulanegaraan Belanda ini, orang bekerdja denganpengertian „ingezetenchap” . Bdgk. G o u w g i o k s i o n g , W arga- negara dan orang asing, h. 50 dst.

2!ls) Untuk Suriname dan Curacao tidak ada perobahan seperti ini. Karenanjaprinsip domicilie tetap berlaku disana. Lihat K o 11 w i j n, T. 141/ 343, p.h. 348, tjatatan dibawah karangan M r J.J. F l i n t s . ,-Caveant C onsules!”.

133

Page 146: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

212. Sedjarah perubahan prinsip domicilie dengan prinsip nasionalitet.

Oleh K o l l e w i j n telah diberitahukan sedjarah hukum jang mengakibatkan terdjadinja perobahan prinsip domicilie dengan prinsip kewarganegaraan. Dalam penukaran pikiran mengenai usul perubahan dari pasal 16 hingga kata- „ingeze~ teneri” diubah mendjadi „Nederlandsche onderdanen” telah dikemukakan a.i. bahwa maksudnja ialah tidak lain daripada agar supaja „in het artikel hetzelfde beginsel van internationaal pri- vaatrecht neder te leggen als artikel 6 der Nederlandsche Algemeene Bepalingen van wetgeving behelst, namelijk dat de persoonlijke staat beheerscht wordt door de nationale wet en niet door die van het domicilie. 20°) Pemerintah Belanda telah mene- gaskan lebih djauh mengapa menurut pandangannja perubahan ini baru diadjukan pada tahun 1915 itu. Menurut pendirian resmi hal ini disebabkan karena Hindia Belanda baru mempunjai Undang2 tentang kewarganegaraan Belanda dalam bentuk „Wet op het Nederlands Onderdaanschap” pada tahun 1910. Oleh karena itu per-undang2an di'Hindia Belanda baru dapat mengi- kuti ketentuan12 dalam A.B. Belanda setelah diterimanja pera­turan tentang kekaulanegaraan tersebut.

213. Ketjaman Kollewijn.

K o l l e w i j n mengetjam pendirian ini. Menurut beliau alasan sedemikian ini tidaklah masuk diakal. Bukankah baru de­ngan adanja Undang2 Belanda tentang „Nederlanderschap” 1892 rakjat di Indonesia telah k e h i l a n g a n nasionalitet Belanda- nja jang sudah dimilikinja sedjak lama ? Bukankah pada waktu dalam 1848 mulai berlaku A.B. untuk Hindia Belanda sebenarnja rakjat disini sudah mempunjai nasionalitet Belanda untuk tidak kurang dari 10 tahun lamanja ? 30°)

209) K o l l e w i j n , Interrcgionaal recht, kupasan disertai W a g e n e r ,De verhouding tusschen het N sderlansche en het nederlansch-indischeprivaatrecht (1932), dalam T . 137 p. 215, chususnja h. 225.

3D0) Jiang dim aksudkan oleh K o l l e w i j n tentunja ialah bahw a orang2jang dilahirkan didalam djadjahan2 Belanda ini term asuk m ereka jangmempunjai „Burgerreclitelijk N ederlanderschap” . L ihat untuk iniG o u w g i o k s i o n g , W arganegara dan Orang Asinga h. 18 dst.

134

Page 147: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Menteri Djadjahan rncnambahkan pula bahwa setelah ada­nja ,,S. 1910 no. 55 a,n) tentang kckaulanegaraan Belanda dari orang- bukan-Belanda” ini adalah suatu keharusan bahwa azas domicilie diganti oleh azas jang berlaku di ,,moederland” dan jang dianut diluar negeri oleh negara- terbanjak didunia. Ditam- bahkan beliau bahwa „handhaving van het domic-iliair beginsel zou aanleiding kunnen geven tot rechterlijke. uitspraken, welke tegen het positieve internationale recht zouden indruischeri” . :)0:1) Sebagai tjontoh disebut bahwa azas domicilie ini akan membawa bahwa misalnja seorang Turki jang berasal dari „Europeesch Turkije” , jang mendjadi penduduk („ingezetene”) ;dari Hindia Belanda dan selama kediaman sementara di Turki telah menga­dakan perkawinan kedua, mengenai perkawinan keduanja ini akan dipandang sebagai tidak sah oleh Hakim Hindia Belanda. Pemakaian azas kewarganegaraan akan mengatasi kegandjilan ini.

K o l l e w i j n telah menjatakan setjara tegas bahwa beliau tidak dapat mengikuti pendapat se-olah'- pemakaian dari­pada azas domicilie ini adalah bertentangan dengan hukum inter­nasional jang positip. Dengan mengemukakan utjapan- sematjam ini. se-olah2 Menteri Djadjahan hendak mengetjam HPI Inggris .iang berdasarkan azas domicilie. r,°4)

301) Indisch S 1910 no. 296, E, h. 120.S02) L e m a i r e menganggap ini suatu „lichtvaardig streven van den

wctgevcr van ons huidig art. 16, A.B. naar concordantie met Nederland” (T. 148/1, p.h. 21, De terugverwijzing in het Nederland.sch Indischci.p.r.), Belia mengemukakan bahwa sjarat konkordansi ini menurut pasal 75 (lama) R.R. dan 131 I.S. hanja berlaku untuk hukum i n t e r n dan tidak untuk HPI.

30S) s.d. oleh K o l l e w i j n pada T. 137/236.,',°4) D itam bah oleh K o l l e w i j n : „alsof de Minister F r a n k e n s t e i n

al had gelezen” (T. 137 p.h. 226).Seperti diketahui dengan buku nja „Internationales Privatrecht” dari tahun 1926 penulis ini telah memperkenalkan diri sebagai pelopor prinsip nasionalitet (I, h. 39). Tetapi 24 tahun, kemudian, dalam „Projek d ’un Code European” penulis jang sama telah berkesimpulan bahwa 'kewarga­negaraan karena „caractere rigide”-nja tidak dapat dipertahankan. Jang kini dikedapankan olehnja ialah pengertian domicilie jang bersifat chusus jang mengkombinasikan stabiliteit dari hukum untuk seseorang dengan mobilitetnja jang bertam bah dalam waktu achir2 ini. Usul beliau ialah ,,domicile S tatutaire” jang sudah kita sebut (no. 204, no. 193). Bdgk. E t t e r , Vom influss des Souveriinitatsgedankans auf das In terna­tionale Privatrecht, h. 160.

135

Page 148: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

214. Praktek hukum belum mejakinkan berlakunja prinsip- kewarganegaraan.

Walaupun prinsip kewarganegaraan sudah menggantikan prinsip domicilie dinegeri in sedjak berlakunja S. 1915 no. 299, ternjata bahwa dalam praktek seringkali hal ini belum dijakin- kan oleh para pelaksana hukum. Lama setelah perobahan ini masih kita melihat suatu sikap jang ragu- dalam hal ini. Bahkan kita saksikan 'bahwa setjara keliru telah terus dipergunakan ketentuan2 jang berdasarkan pada prinsip domicilie.

Suatu illustrasi jang menjolok kita saksikan berkenaan dengan orang2 Tionghoa asing, warganegara Tiongkok, jang berada disini. Terhadap mereka ini ternjata terus dipergunakan ketentuan2 jang tertera dalam B.W. Indonesia. Kita saksikan bahwa hal- jang berkenaan dengan status personil, dan djuga hal2 jang mengenai pewarisan dari orang- Tionghoa-asing ini, telah diselesaikan menurut ketentuan dalam B.W. Demikian menjolok adalah kekeliruan ini hingga seorang sardjana hukum telah merasakan perlu untuk dalam tahun 1934 memberikan peri- ngatan kepada para pelaksana hukum : „Waspadalah !” , „Caveant Consules !” 305)

Mr. de F l i n e s dari Padang ini telah mentjeritakan suatu peristiwa penjelesaian warisan jang telah dilakukan oleh Balai Harta Peninggalan disini. Sipewaris adalah seorang Tiong­hoa jang dilahirkan di Tiongkok, djadi bukan seorang kaulane­gara Belanda, karenanja seorang a s i n g . Ia meninggal di Indonesia dalam bulan Nopember 1934. Dan ia meninggalkan seorang djanda serta beberapa anak2 jang dilahirkan dari isteri- nja itu, anak2 mana sudah dewasa adanja. Selain daripada mereka ini ia djuga meninggalkan anak2 jang masih dibawah umur dan dilahirkan daripada suatu hubungan luar-kawin. Salah satu dari­pada anak- itu dilahiikan disini, sedangkan anak2 jang lainnja dilahirkan di Tiongkok. Ibu daripada anak2 luar kawin ini tinggal dalam satu rumah dengan anak2 dan sipewaris, tatkala jang hela- kangan ini meninggal dunia.

3°o) M r, J J . de F 1 i n e s, „C aveant C o n su les! H et op Chineezenvreem- delingen toetepassen recht”, T. 141/343.

136

Page 149: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Sekarang timbul pertanjaan menurut hukum manakah harus clitentukan hubungan hukum antara sang ajah dan anak2 luar kawin ini. Djika dipergunakan B.W. Tiongkok (jang mulai berlaku sedjak 5-5-1931) 300) maka menurut pasal 1065 anak2 .bersang­kutan dipandang sebagai anak- sah .3u') Tetapi djika B.W. Indonesia jang dipergunakan maka anak2 tersebut adalah anak2 tidak sah dan karenanja tidak dapat mewaris.

Balai Harta Peninggalan bersangkutan ternjata telah menen­tukan bahwa anak2 jang belum dewasa ini merupakan anak- jang tidak sah dan tidak diakui. Karenanja menurut ketentuan2 hukum Indonesia mereka ini harus dianggap sebagai tidak mem- punjai hak atas warisan. Menurut keterangan jang diperoleh Balai Harta Peninggalan sampai mempergunakan hukum B.W.’ Indonesia atas ' persoalan ini, karena beranggapan bahwa Balai ini tidak ingin menjimpang dari suatu praktek jang berlaku. Praktek manakah ini ? Praktek untuk tidak membedakan antara orang2 Tionghoa - a s i n g dan orang- Tionghoa - kaulanegara Belanda, sepandjang mengenai hukum perdata jang berlaku bagi rnereka.

Sudah hampir 20 tahun berlangsung sedjak Hindia Belanda pada tahun 1915 menerima prinsip kewarganegaraan untuk sistim HPl'-nja. letapi, walaupun sudah demikian lama merupakan hu­kum, ternjata toh dalam praktek dipergunakan setjara berlainan.

Apa jang diberitahulcan oleh D e F 1 i n e s tentang peiistiwa jang diselesaikan oleh Balai Harta Peninggalan ini, memang menurut apa jang diberitahukan oleh sumber lain, merupakan praktek penjelesaian jang lazim. Notai’is L e c 1 e r q pernah memberitahukan adanja praktek di Medan, bahwa me­mang Weeskamer disana tidak mengadakan perbedaan mengenai

aoo) Lihat untuk ini K o 11 e w i j n. De m oderne Chinese kodifikatie T. 132/323 dst.

30") Pasal 1065 C.C. Tiongkok ini b e rb u n ji: „A child born out* olr wedlock who has been akcnowledged by the father is deemed to be legitim ate!; where he has been maintained by the natural father, acknowledgement is deeni&d to have been established.In the relation to his mother, a child born out of wedlock deemed to be legitimate and no acknowledgement is necessary” (Terdjemahan dari The Civil Code of the Rcpublik of China, translated into English by C h i n g - L i n H s i a, J a m e s L.E. C h o w , L i u C h i e h Y u k o n C h a n g , Shanghai, 1931). 5

137

Page 150: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

tjara penjelesaian warisan* dari orange Tionghoa asing atau

k t a t a T l f t ' U.anega,;a Belanda- Sikap Weeskamer sedemi-

dornicm; me„ Z rtS Un‘Uk Hi" dia Be,anda dirobah P™ *Pw i j n dianggan c PnnslP kewarganegaraan oleh K o l l e -ini telah m!!Z I T GurubesarW e e l l r d a f n ,?ahWa Praktek dariPada bagianOleh Dinas jan« disebut nr'b™- Dj,Ustlsl tldak deraikian adanja. antara orang* m <thoa i ! tT ln‘ dladaka" P«'»eciaan jang tegas jang berstatus I™ 1 ' S asin£ dan orang- Tionghoa

f ngan ketemi,an= *“ * - *Hal jang belakanL -T ■ T v 3lam HPI dinegeri inLsendiri. 01 mengetahui karena informasi

215. Djuga Tiongkok mempergunakan prinsip nasionaliet.

dan ^ 1“ ^ h“kum jang kita sebut diatas, de F 1 i n e sbahw a. tidakla* tepat bila-

sonil dan w-irici i ^ f 13 menjelesaikan soal- status per- ket n an l ° rang9 Ti0ngh°a menurutP r insip ke war e B-W-'Ind° neSia- JaaS diperlakukan ialah t_ j P kewarganegaraan, seperti ditentukan oleh sistim HPI Indonesia sendiri. Dan dalam hal ini tidak n , ? J , guan^ karena sudah teranglah bahwa d J3dl keV&'menganut prinsip kewarganegaraan untukHPTTl0ngk0k Sendiri’ Undang2 dari 5-8-1918 Republik Tiongkok mereka' Dengan kewarganegaraan ini. Karena berlakunia n , menenma prinsip an oleh Tiongkok sendiri, maka tidaklah ,Unsip kewarganegara- HPI Tiongkok ini kepada hukum ri • Penundjukkan oleh kediaman daripada w a r g a n e g a r a n i / ^ ^ 3 t6mpat tinggal atau

ha6]!” ™.)13, 11 perJtataan. PersoaIan= le n T a n ^ ™ ^ di‘Uar negeri' bah ) (renvoi) ti(jak a)(an ™ anS »Penundjukan kem-n ang- Tiongkok tahun 1918 fin m Pasa 5 daripada

__________ 8 <Jang dlt“«P dari pasal 7 EGBGB

»“ > K o M e w i j ^ 'S ; * ™ R' 3 m -334 no. 1. °ceinc Chinese kodifik r -r

S1") Tentang persoahn ™ ifikatle> T. 132/323. p.h.fc pusoalan „reuvoi” ini m,.,, , ‘

’ 1Ihdt kemudian138

Page 151: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Djerman) kita saksikan ketentuan bahwa kewenangan seseorang ditentukan oleh hukum nasionali-nja.311)

Bahwa Republik Tiongkok menganut prinsip kewarganega­raan ini pernah disangsikan oleh penguasa2 di Indonesia dahulu.31-)

Antara negeri Belanda dan Republik Tiongkok pernah di­adakan penegasan lebih djauh tentang prinsip kewarganegaraan jang dianut oleh Republik Tiongkok ini. Dalam surat dari Men­teri Luar Negeri Tiongkok dari 234-1931 jang dilampirkan pada perdjandjian jang diadakan antara kedua negara di Nanking berkenaan dengan hukum jang berlaku untuk kaulanegara Belanda jang berada di Tiongkok (N.S. 1931 no. 522) telah dite- gaskan pula dengan sedemikian banjak perkataan- bahwa baik Republik Tiongkok maupun Nederland, ke-dua-nja menganut prinsip kewarganegaraan dalam HPI mereka untuk status per- sonil. Tetapi perdjandjian ini nampaknja hanja berlaku untuk negeri Belanda ditepi Noordzee sadja, karena ternjata tidak dipublikasikan lebih djauh dalam Staatsblad Hindia Belanda.313)216. Kesimpulan.

Sikap jang ragu- daripada Balai Harta Peninggalan di Indo­n e s i a tentang hukum manakah jang harus diperlakukan untuk warganegara Tiongkok jang' merupakan orang2 asing di Indonesia

3i i ) Dalam ajat- selandjutnja dari pasal 5 ini terdapat ketentuan2 penge- tjualian untuk orang2 asing jang berada di Tiongkok. K etentuan2 ini Ifdak berlaku bagi warganegara Tiongkok jang berada diluar negeri.

~Pasal 5 ini berbunji : ,.Die Handlungsfahigkeit einer Persou wirdi nach ihrem Heim atrecht beslimmt.Ist ein Ausliinder nach seinem Heim atrecht geschaftsunfiihig, aber nach chinesischem Recht geschaflsfahig, so wird er beziiglich seiner in China vorgenommenen. Rechtsgeschiifle als geschaflsfahig betrachtet, es sei denn. dass es sich uni ein familienrechtliches oder erbrechtliches Rechtsgeschaft oder ein Rechtsgeischaft iiber eine unbewegliche Sache im Auslande handelt.Erwirbt ein geschaftsfiihiger Auslander die chinesische Staatsange- horigkeit und ist er nach chinesischen Recht geschaftsunfiihig, so behalt cr seine ursprungliche Geschaftsfahigkeit” . (Terdjemahan M a k a r o v. Quellen, I, dibawah „C hina”), L ihat djuga pada M e i j e r s , Recueil. h. 71.

yia) Bdak sirkuler Procureur Generaal G.W. U h l e n b e c k dari9-3-1922 temuat dalam T. 115/302, jang memberitahukan bahwa untuk siarat2~persetudjuan menikah bagi orang2 warganegara Tiongkok m aupun Tionghoa-kaulanegara Belanda- jang berada disini, berlakulah B.W. Indonesia karena Tiongkok menganut prinsip domicilie. ,

313) Lihat tentang ini, „Opmerking” dari K o l l e w i j n , dalam T. 14 1 /347.

139.

Page 152: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

ini merupakan petundjuk jang djelas bahwa prinsip kewarea-

s : s f lira hpi indonesia ini rupanja beiumsa“ ',ju i‘ i: f n r e" g°Cd'' dia"tara kalangan para p e l *

tahwa^prmsip^kewarea'1'1 1501811 tljr'anclanS sebagai petundjuk mengenai anekawa _ neSaraan dalam susunan hukum jang dirl, 1S p a n d ^ T ^ d a l a m b a t a s ' J ^ g a r a sonhukum para Dplak- Ulang »herbitjaran kepada perasaanlebih mentjotfoki 7*™ m’ hingga PrinsiP domicilie adalah

217- Ketjondongan kepada prinsip domicilie.

hukum di Indonesia* bahwa diantara kalangan para sardjana

Pnnsip kewarganegaraan adalah'' k a t M e Pakat b * hw agunakan bagi Indonesia n fli ^ Palmg tjoti°k unluk di'Per* kita saksikan bahwa d i u s t ^ ^ ? ? ™ SebeUlm kemerdekaan’ sebagai salah seorang sarrtian K 0 ) 1 e w * j n, jang dipandang bend” dalam bidang H A T aw t I jang paling -g ezagheb' ketjondongan kenarla nr- • ndone?ia telah memperlihatkan hahwa pemakaian pHn1 1 001101116' 01ch beliau dikemukakan membawa kepada apa in™ ewarSanegaraan setjara kaki

Pa 3ang dlsebut beliau „ontaarding”. ^kaku akan

r>)

kiranja dapat' dikcmu!f-!k',nPlati!Ckl.'Sf ‘l l a l p ; K l a wakUl sekarang ini. ■ dewasa ini atjapkali tidak din" t . ,a a djuga oleh badan- peradilan

kewarganegaraan ini. Bahk™ ° dengan baik berlakunja prinsipnja para peJaksana hukum • piaktek k ‘ta saksikan bahwa lazim- berkenaan dengan oranr>-' i.„ ° ' C a a m keputusan m ereka (terutam a kewarganegaraan sebenarnin . r t 111311 ^ onfi’loa) tidak m em pcrsonlkan soalnja lebih djauh kita saksikan h- h * " R R T ' • D e n g a n t id a k m snclaah Tionghoa ini adalah B W TnH ,d*lw a Jang diperlakukan untuk orang- rek* berstatus asing^ a t ^ w n l ’ tanpa raemP ^h a tik a n apakah m e -

Sebaliknja di-neeara®terdengar suara? jang b e L T ^ - T Pri'1S,ip domiciiieJ scpe.li di inggris,Bef ra2 Eropah-kontinental Bd*»f°Pei ■ ? nSepsi k ew a>'ganegaraan dari B y 11 (1935), h . 84> s ™dlR Bdgk. m isalnja , F o s t e r , dalam 16

t0 »e to ad°P* ' the doctHn ’ ch> 167 : ” the best “ urse wouldP * sa,dian'a g g m i p " * f ? 1 «! * •

Brin sin r i J ! telah mencusniv, . 1 D enm ark jang kena-(R a b s l r r il6dUa menerima p r i n ^ T D enm ark ,nclepaskann. 116, no. 23). p b|P kewarganegaraan. (Lihat

140

Page 153: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Diatas tadi sudah kita ketemukan ketjondongan gurubesar ini talkala beliau mengetjam pendirian pembuat-undang-’ Hindia Belanda pada waktu jang belakangan ini memberikan pendje- lasan mengapa prinsip domicilie untuk Hindia Belanda perlu dirobah dengan prinsip kewarganegaraan.

Pendirian K o l l e w i j n jang pada pokoknja lebih tjon- dong kepada pemakaian azas domicilie untuk Hindia Belanda ini dapat kita saksikan lebih djauh setjara djelas pada kesem- patan lain. Dalam pidato peringatan lustrum pertama Recht- shogeschool pada tahun 1929 di Djakarta jang terkenal, Ontaar- ding van het nationaliteitsbeginsel in het modelne internationaal privatrecht” . :U7)

Dalam tjeramah ini telah diuraikan bahwa pendirian jang m engem ukakan se-mata- pembelaan daripada salah satu dari ke­dua prinsip (kewarganegaraan atau domicilie) ini, adalah djalan jang tidak dapat dipertanggung-djawabkan. Kedua pendapat ini m em punjai alasan1- tersendiri. Jang merupakan pokok perbedaan faharn antara mereka jang masing2 mendukung pendiriannja dalam hal ini sebenarnja bukanlah soal apakah jang seharusnja dipertahankan ialah hukum jang ditundjuk oleh kewarga­negaraan atau hukum jang ditundjuk oleh domicilie.

218. Sjarat „bestendigheid”.

Jang dipersoalkan oleh kedua pihak ialah apakah jang sebe­narnja merupakan hukum jang lebih „bestendig”. Jang harus dipilih ialah hukum jang lebih stabil ini. Untuk soal2 jang ter­masuk bidang status personil, seperti soal2 berkenaan dengan pertjeraian, kewenangan bertindak dalam hukum, kedewasaan, dirasakan oleh semua orang bahwa hukum jang mengatur soal2 ini se-dapat2nja harus bersifat ,.duurzaam” . Djanganlah mudah

Jain Djuga L e m a i r e , sebagai murid K o l l e w i j n , berpendapat bahwa sebaiknja untuk H india Belanda terus dipergunakan prinsip dom i­cilie mengingat sifatnja sebagai suatu negara imigrasi. Prinsip domicilie untuk negeri ini m enurut beliau djuga ternjata dalam prakteknja

deuglijk” (T. 148/p.h. 21)..U7 pidato ilmijah ini telah menarik pula perhatian dari R a r b e l , jang

menjebutnja sebagai tjontoh bagaimana „many continental writers are quite set upon restoring the principle of domicil” (I, h. 167, lihat

L?hat6 djuga O f e r h a u s , Gedenkboek B.W., 1838-1938, h. 705.

141

Page 154: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

S t a S ' V S T " kl ' T . t,alas ne”“eri"jaEropah kontinental) ?Pnra ^ 1erapa d,am untuk negara2 didirinja daripada nerwar ^ Ulil dewasa dapat menarikberhak untuk menuntuf3^ W? m.ja ataU seoranS isteri jang tak Pertjeraian itu. •''«) J a n / l f l ' f 11, b° leh dapat memperoleh digheid” ini. Oleh ira,-0 dlPei| tmgkan ialah sjarat „besten- daripada kediia aliran in- T - i 3 saksikan *>ahwa pembela- jang pro prinsiD na<dn V / ! ;*ang Pro .Pr insiP domicilie maupun sistim jang dianut nlph1 & ’ ®‘c5ua' 11Ja mengemukakan balnvadia m in n n 4 a n b e s t e n d t n ? ? ^ ^ nimbflWa lebih banJakn oestendig-nja hukum jang berlaku.

in i tidak dapat 1 ^ /r PendukunS ' d a ri kedua a lira nH al in i disebabkan antnr3*1] ef eka akan tetaP berbeda faham . van nationalite it en in t^ r arena ” bestend igh eidsfak to renvrijwel tegen elkaar opwegen’’™ *)1 L d n ^ 801? 6^ dom idlie negara karena sediarah ru V am danPada itu, berbagaisalah satu prinsip tertentu. Negara" kel>adajang banjak tentunja pun agak se,.an nn , 0ra"S as,,1«nasionalitet dengan seeala a t i w T • , menenma prinsiplah suatu k e n E ^ J t S df \P a d a n ja . Lebih djauh ada-

gaan jang hidup dalam masing2 negaraTenfa31’ •!'allWa penghar‘ Jang sebenarnja harus dipandang sebagai? S g ^ manakah dengan orange bersangkutan, adalah tidav berhubungan dimana ikatan kewarganegaraan dinar,*! a‘ Ada llegara'Sebaliknja ada negarf jang t o e r a t

arena saxnen-lcvcn en samenmw X n " n? ^ alan jang terw»d.iud 21 q „ ■ adaJah jang lebih erat.

• • Mentjegah „ontaarding”.

Karenanja K o 11 e w i • iane^Ia^h14!!11 salah satu pihak d an \aSa , ^ dak ada manfaatnja

^ S p n in s r iakr kan i ri'ukan ia la h L Sla belaka ! j an» CA? ab Jan8 benar- SikaP

enundjukkan bagaimanf ® ani akn3a dapat dila- ------------dlterimanja salah satu

3 S ^ s s s a a ' j «J&ng „le plus ancieai le ni,lc - engemukakan bahwa •pratiques”, 5 ReoertoJr ^ eprouve, done u i pnnsiP ^ilah ialah

Kepertou-e, ..Domicile et S i * P‘lIS T o r i n o aus besoms 1 4 2 residence”, no. 102.

Page 155: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

pihak setjara terlalu kaku akan dapat membawa bahaja tertentu. Azas kewarganegaraan ini djika dilaksanakan setjara keterlaluan dan setjara salah akan membawa bahaja bagi perkembangan sehat daripada ilmu HPI.

Oleh sardjana HATAH jang kenamaan ini kemuuian telah diberikan illustrasi daripada bahajanja „ontaarding” daripada azas kewarganegaraan dengan memakai dua tjontoh. Jang per­tama ialah peristiwa pertjeraian D e F e r r a r i , jang kedua ialah penghentian dari Tractaat Pertjeraian Den Haag oleh negara Swiss.

220. Tjontoh perkara D e F e r r a r i .

Peristiwa D e F e r r a r i ini seringkali dikemukakan oleh para sardjana pada waktu menibitjarakan diperlakukannja prinsip nasionalitet untuk perkawinaiTHKareria pentfngnja per­kara ini ada baiknja bilamana kita menelitinja lebih djauh.

Duduknja perkara.

Njonja F e r r a r_i_ adalah seorang wanita berkewarga- negaraan P e r t a n j i s ” £ a r e n a kelahiran. Pada tahun 1893. ia telah menikah dengan tuan F e r r a r i, warganegara ifaTia. Karena perkawinan ini, sesuai dengan ketentuan2 dalam Undang2 Kewar­ganegaraan jang berlaku pada waktu itu di-negara- Italia dan Perantjis perempuan ini memperoleh kewarganegaraan Italia dari suaminja. 3v) Di Italia tidak dikenal pertjeraian. Jang hanja dapat diperoleh ialah persetudjuan para pihak untuk tidak hidup bersama lagi. Hakim dapat menguatkan persetudjuan para pihak ini. Hubungan perkawinan tidak tei’putus karenanja. Para pihak tidak dapat menikah lagi. Dengan demikian terlaksanalah suatu keadaan jang dalam B.W. dapat dipersamakan dengan hidup terpisah medja dan tempat tidur (scheiding van tafel en bed).

Hidup suami-isteri D e F e r r a r i tidak berbahagia. Sudah dalam tahun_1899 tatkala para pihak masih hidup di Genua mereka telah meiakukan'persetudjuan hihup terpisah medja dan

:t2i) Pada no. 246 dst.Lihat M a k a r o v - Q u e 11 c n, II.

322) Bdgk. no. 347.

143

Page 156: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

' tempat tidur ini. Njonja F e r r a r i ..... ...^ S h lirD S la m f a f c l 9 i T i T T 7 I 7 r ‘ p i"anS kencgeriSail mendjadi wareaneM™ P e r a n t i i ^ r S f — r ‘SaS. ’“ ’“ V- warganegara Italia. ) Suam in ja te tap tinggal

Gugatan pertama.n * u ^ * 1 5 ?

tni J !?• ,ta h u n /se te la h naturalisasi itu N ion ia F e r r a r iLyon a S f f I T T ? di? adapan P e"8»di' ^ “ "gkat peftaraa d, Italia ini rh, k 1 ,P. t e iPlsah m ed ja dan tem p a t t id u r t ja ratahun m8? d jt dl p e r t j e ra ian - Dalam k e p u tu sa n dari

V }T? ? ertiml)an8kan bahw a k a ren a na tu ra lisas i ini pei-undang-an Italia tidak berlaku lagi baginja.

Dari pihak tuan F e r r a r i te lah d ik em u k a k an bahw a pendirian sematjam ini adalah te rlam pau b e ra t sebelah. D engan jara emikian ini maka m enuru t hukum P e ra n t j is b e n a r isteri-

nja akan dipandang te r t je ra i daripadan ja , te tap i t idaklah m e n u ru t u um Italia dari sang suami. M enuru t hukum ja n g b e lakangan

mi para pihak masih tetap d ipandang sebagai suami-isteri.

Pendirian Cour de Cassation.

Keputusan dari Pengadilan tingkat p e r ta m a di Lyon ini te lah dikuatkan oleh Hof Lyon atas a lasan2 ja n g sama. T e tap i o leh P2.u— Cassation pada tahun 1922 te lah d iba ta lkan k e p u tu sa n dgri Hof Lyon ini. 32r>) Jan g m enarik p e rh a t ian k ita ialah bahw a djuga m enurut Mahkamah te rt ingg i di Pei’an tj is ini N jo n ja F e r r a r i setelah naturalisasi un tuk s ta tus person iln ja , tak luk dibawah hukum Perantjis . Oleh k arena itu ia b e rh a k u n tu k me- madjukkan tun tu tan supaja hidup te rp isah m ed ja dan te m p a t tidurnja t ja ra Italia ini dikonversi dalam p e r t je ra ian m e n u ru t hukum Perantjis. Tetapi m en u ru t panclangan Cour de Cassation lembaga hidup terpisah m ed ja darT tem pat tid u r t ja ra Ita lia ini masihTielum tjukup m em enuhi s ja ra t2 un tuk d iubah m e n d ja d i pertjeraian tjara Peran tjis .

323) D alam 3 R eperto ire te lah d ik e m u k ak a n b ah w a p e rb u a ta n n a tu ra lis a s i in iada lah p u ra 2 (fraud uleus, In fra u d e m legis), d ib a w a h „ C a p a c ite ” no. 133. ,

324) K epu tusan 29-7-1916, R evue D arra s -L a p ra d e lle 1922-1923, h . 444.32c) A rrest 6-7-1922. R evue D arra s-L ap rad e lle , 1922-1923, h . 448.

Page 157: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

(Jugalan kedua.Dengan adanja pernjataan jang terang dari Mahkaniah Pe-

i'antjis tertinggi ini Njonja F e r r a r i se-olah- diberikan petundjuk2 bagaimana sebenarnja dapat memperoleh djuga tudjuannja itu. Perkara tjerai baru telah diadjukan lagi. Tetapi kini jang dipergunakan ialah se-mata- Jiukum perdata Perantjis. Ilukum Italia telah dikesampingkannja. Kita saksikan bahwa dalam tahun 1928 perkara kedUcLJnLleJj)h .J ito .jyem.baIi pada Cour do Cassation.;1-7) Mahkamah ini memutuskan bahwa hukum Perantjis jang harus diperlakukan untuk Njonja bersang­kutan jang sudah memperoleh naturalisasi kembali mendjadi warganegara Perantjis.

Achirnja „bertjerai” djuga.Setelah berperkara lebih dari 13 tahun kita saksikan bahwa

Njonja F e r r a r i telah berhasil memperoleh pertjeraian ini. Tetapi hasil jang diperoleh dengan susah pajah ini masih pintjang adanja. Pintjang oleh karena pertjeraian ini hanja diakui oleh hukum Perantjis, disangsikan apakah akan diakui oleh negara-’ lain, tetapi pasti tidak akan diakui di Iltalia, tidakdiakui oleh hukum sang suam i!

221. Pengelonan hukum Perantjis.Apakah jang membikin proses d e F e i i a i i ini mendjadi

demikian menarik perhatian dikalangansardjana HPI ? Sebabnja ialah oleh karena dalam keputusan12 dari Hakim Perantjis ini njatalah sikap jang dianut dalam HPI Perantjis: bahwa Jerda-_ sarkan prinsip kewarganegaraan untuk status pci sonil seo,rang warganegara Perantjis.selalu akan diperlakukan hukum Perantjis dengan tidak memperdulikan apakah oleh hukum dari pihak lain jang berkewaTgaraan berbeda akan diakui keputusan ini. Tidak dlpentingkan apakah keputusan Perantjis ini akan diakui dalam negara daripada pihak lain atau dalam negara- lain. Djika dalam suatu hubungan hukum terdapat ikatan antara seorang Perantjis

»2G) Bdgk. B a t i f f o l , Traite h. 513 no. 60.3-7) Setelah m e l a l u i keputusan Pengadilan Lijon, 4-3-1925, Revue Darras-

Lapradelle, 1926, h. 39, dan Hof Lyon 17-12-1925, Clunet 1926, R, 3845 Arrest 14-3-1928, Revue Darras-Lapradelle 1928 h. 651, Clunet 1928,382.

145

Page 158: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

clan orang jang berkevvarganegaraan lain, maka hakim Perantiis ini akan hanja memperhatikan pihak Perantjis. :!-s) Dencan liara demikian ini ia se-olah* tidak memperdulikan sama sekali bahwa sesungguhnja tudjuan daripada HPI ialah untuk mentjari apakah

. jang merupakan hukum dalam hubungan perdata untuk k e d u a pihak. Tidak patutlah kiranja bilamana seorang hakim dari negara tertentu se-mata* hanja memperhatikan hukumnja sendiri dan kepentingan daripada warganegaranja sadja. Djika seoiang Hakim bersikap untuk melulu memperhati­kan kepentingan daripada para warganegaranja sadja, maka ia tidak memenuhi tugasnja dalam bidang HPI setjara baik. Inilah suatu sikap jang melulu mengeloni kepentingan2 daripada warga­negara se n d ir i ! Inilah suatu . J ^ in ^ c h ^ ^ u v in i s m e ’’, <-'») suatu sikap „nationale zelfgenoegzaatnheid” :1>") jang tidak pada tern- patnja !

222. Akibat2 sikap berat-sebelah ini.

K o 11 e w i jj_n telah mendjelaskan lebih djauh bahwa sesungguhnja bukan sadja demi kepentingan tuan F e r r a r i djuga demi kepentingan Perantjis sendiri-lah adalah sewadjarnja untuk memperhatikan pula sjarat- jang ditentukan oleh hukum dari sang suami itu. Dengan adanja keputusan hakim- Perantjis ini Njonja F e r r a r i hanja dipandang telah bertjerai di Perantjis. Di Italia, seperti telah dikatakan, ia dipandang seperti masih menikah setjara sah dengan F e r r a r i. Apabila Njonja ini menikah lagi di Perantjis maka hal itu adalah mungkin. Tetapi di Italia ia dapat dituntut melakukan tindak pidana bigamie karena kawin lagi. Dan bagaimana djika dari perkawinan kedua mi dilahirkan anak ? Anak2 ini di Perantjis boleh dipandang sebagai anak2 sah dari suami kedua, tetapi di Italia anak2 iniuntuk tuan F e r r a r i merupakan anak2 jang dilahirkan dalam perzinaan !

Sebenarnja setiap hakim jang baik perlu pula memperhati­kan akibat2 seperti ini daripada keputusannja.

•”28) Ini berten tangan dengan asas-persam arataan seim ia stelsel hukum im«r te ru tam a dikem ukakan dibidang H A G .

'J20) K o l l e w i j n , o.c. h. 19, 20 dst.330) K o l l e w i j n , o.c. h. 15.

146

Page 159: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

223. Ternjata prinsip nasionalitet membawa kesukaran djika ada perbedaan kewarganegaraan.

Apabila Hakim Perantjis telah memperhatikan pula kepen­tingan daripada pihak jang lain kita saksikan bahwa dalam prak­teknja ia akan menemukan kesukaran dengan berlakunja prinsip nasionalitet dalam HPI.

Tjara berpikir hakim Perantjis kiranja harus demikian : Perem puan F e r r a r i sudah dinaturalisir kembali mendjadi warganegara Perantjis. Karena itu adalah tepat bahwa berdasar- kan prinsip nasionalitet jang berlaku dalam HPI Perantjis hukum jang harus diperlakukan untuk status personil perempuan ber­sangkutan, ialah hukum Perantjis. Tetapi sebaliknja sang suami adalah warganegara Italia. Menurut HPI dan negaranja sendiri djuga dipergunakan prinsip nasionalitet, djadi hukum Italia untuk status personil. Akan tetapi para pihak ini dalam kenjata- annja sudah terikat mendjadi satu, dan dalam hubungan bersama ini tak akan mungkin untuk tetap mempeigunakan hukum nasional daripada pihak jang satu tanpa mempeigunakan pula hukum nasional ini kepada pihak jang lain. Pi insip nasionalitet ternjata tidak dapat dilaksanakan untuk kedua- pihak tanpa me- ngurangi hak- daripada salah satu pihak. PijnsilL nasionalitet t e rn jata tidak_. dapat d i p e r g u n a k a n setjara baik bilamana kita berhadap_an denffan suatu perkara pertjeraian dimana para pihak m em punjai kewarganegaraan jang berlainan dan takluk dibawah hukum nasional jang berbeda.

224. Tiga matjam tafsiran terhadap perkara F e r r a r i .

Ada berbagai tafsiran jang mungkin diadakan berkenaan dengan sikap hakim dalam memperlakukan hukum Pei antjis pada menjelesaikan perkara pertjeraian ini. Tiga tafsiran dapat dikemukakan. Adalah mungkin untuk mengemukakan bahwa jang mendjadi pegangan bagi sang Hakim ialah penggunaan hukumPerantjis karena :

225. j> Penggunaan hukum setjara distributif.a) pemakaian setjara d i s t r i b u t i f daripada hukum

jang dipertautkan.

147

Page 160: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Salah satu hukum daripada m ra hju. l kara ialah jang dipilih AunliV^t* i- ? J3ng sedanS berper-kebalikan L i p a d a a p a j a t ^ d n f l ' l jlli adalahl a t i v e ” *») Vada penZ V a n T J c u m u -pertjeraian b e^a^ j k ^ f f | ^ - ^ - ^ l™latip ini perkarasistim hukum daripada para memplfaf ? menurul kedua jang berbeda daripada fiukum l a n V T s t f * 1 kum sanS suanii Dalam hal ini pertjeraian harus r i , f i ! Us diPerfiunakan.tarn Perantjis daripada p i l T i s S i ^ n,enurut hl"menurut hukum Italia dari pihak qiT!, j - 1 nlenSg>lgat maupun ™ jang dipergunakan maka pertjeraian i f ? Siarat kumu M p Karena pertjeraian te M r dikena 1 “ ! ! f akan *kabulkan. Penggugat sang isteri, tetapi tidak ri„, , Ukum PeI'ant,jis dari nja se-olah- sjarat* kumula a.fpada * ^ Halia- N™ P ak- dipertautkan ini adalah b e r d a s a S t SMsel hukl™ Jang terhadap semua stelsel hukum iano r pei'samaan penghargaan guhnja tidak demikian halnja Karenf ^ Utkan- Tet* & s^ g -hukunSJarat kUmulatiP ^ ialah selalu j3n§ terdJ'adihukuna jang paling terbatas n / p n§elonan daripada

S 5 S * - * - a t n ^ S l i

S ' ” te ang lfh hdaripa<la kedua stelsel“ a ' aka" berhasil d» « a n g Ug a L ? tj eX Waa Ni°" ia F 6 '' r a > '

P e r r a f i ini tehwa dalam Perkara d

sendiri. p i d ^ S ^ i ^ u J U c e M d a hukumn™ Pikiran* * « a w i i S S h* » W S H ? K 3 S £

ngabulkan tuntutan tierai d»r f Ian Itai‘a- Hakim teT-i J dasar bahwa pihak- ian danPada sang isteri Pm- nie'tiis jang m e i e h f f ‘ak>u! d t wah 1 " p‘ a' 3Spun hukum Italia darisa ^ Tunta‘an d kabuft Peran '

sang suami tidak mengena, „ r , lkan wala“ -__________ 8 nal P8rtjeraian ini.331 Sudsh kita bitjarcikrin TP 1-1

i32) LJ hat B a tAf f 0 1’ T ra itf h t,P 4 £ tas' no- 18 0 .; ^ o n n 1e r e . L o USSo Uarn; \ n 0 389 338 , , e u b o u r s _

’ 0 1 e w i j n 0 _c

Page 161: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Konsekwcnsi2 jang tidak memuaskan.Akan tetapi, teranglah sudah bahwa dengan tjara penggu-

m uU,kl,m setJara disrtibutip ini dalam prakteknja kita akan nenghadapi suatu kegandjilan. Jang manakah? Kegandjilan

jang sudah kita sinjalir diatas tadi. Jakni, bahwa pertjeraian jang diutjapkan ini tidak sempurna adanja. Menurut hukum Perantjis boleh dianggap para pihak sudah bertjerai, tetapi tidak demikian menurut hukum Italia. Menurut jang belakangan ini para pihak masih tetap suami-isteri menurut hukum. Dengan demikian se-olah- terdjadilah apa jang disebut sebagai „la situation d operette d’une femme mariee n’ayant plus de marie et d’un mari divorce ayant toujours une femme”. :m). Konsekwensi lebih djauh daripada tafsiran setjara distributip lni ialah bahwa apabila pihak suami Italia jang menuntu-t per­tjeraian, maka ia ini selalu tidak akan dapat dikabulkan dalam Permohonannja karena hukum Italia jang merupakan hukum Pcrsonilnja tidak mengenai pertjeraian itu. Tambahan lagi, akibat lebih djauh daripada tafsiran distributip ini ialah bahwa pihak Perempuan Perantjis bersangkutan dipandang telah bertjerai menurut hukum personilnja, sedangkan pihak suami Italia, djuga di Perantjis sendiri, akan dipandang masih tetap dalam perka­winan menurut hukum personilnja sendiri (Italia). Djadi, pihak isteri akan boleh setjara bebas menikah lagi di Perantjis menurut hukum Perantjis. Tidak demikian dengan suaminja.Djuga menurut hukum di Perantjis sang suami Italia ini tidaklah dapat melakukan perkawinan lain setjara sah bilamana tafsiian Setjara distributip hendak diperlakukan setjaia konsekwen. Uhatlah disini, ,.sandiwara lutju”, ,.operette” jang disinggung t a d i !

Tafsiran distributip karenanja tidak dapat diterima setjara mejakinkan.

226 .X Huknm P e r a n t j i ^ Jipergujiakan karena merupakan, lex fori..

b) Tafsiran lain ialah bahwa hukum Perantjis telah diper­gunakan oleh hakim karena ini merupakan hukum dan sang Hakim sendiri. Hukum Perantjis jang dipergunakan karena ini adalah „lex fori”.

* ® ® r ~ L T 7 7 b o U. r s - P i a e ' O i i n i i r e - L o u s s o u a r n , h. 389 no. 2.L iha t d juga B a t i f f o l , Principes de d >.p h. 535 dst.

" 33:l) Bdgk. B a t i f f o l , Principes de d.i.p., h. 337 dst.

149

Page 162: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Tafsiran ini pun tidak mejakinkan sebagai jang se-benar-nja telah mendjadi dorongan bagi hakim untuk menggunakan hukum Perantjis.

227{*)Hukum Perantjis dipergunakan karena salah satu pihak adalah W.N. Perantjis.

c) Jang lebih masuk diakal ialah bahwa Hakim Perantjis telah memakai hukum Perantjis untuk menjelesaikan perkara ini semata-mata karena salah satu pihak dalam perkara tjerai ini merupakan warganegara P e r a n t j i s . ) Hukum Perantjis-lah jang dipandang sebagai hukum jang harus dianggap lebih berat. Djadi dalam hal ini „chauvinismew turu t berbitjara. ',35) Disinilah kita saksikan „juridiscli chauvinism©” daripada hakim Perantjis , untuk mengeloni hukum Perantjis sendiri. Bukankah disini kita berhadapan dengan seorang warganegara Perantjis sendiri ? Dan apakah boleh negara Peran tjis demi kepentingan daripada seorang asing, tuan F e r r a r i, membiarkan bahwa salah satu warganegara daripada negara Perantjis sendiri, Njonja F e r r a r i , ditinggalkan tanpa diberikan perlindungan ? Bu­kankah hukum nasional d justru diadakan un tuk m em berikan perlindungan kepada para warganegara sendiri, kem ana djuga mereka ini pergi atau dimana sadja mereka ini berada ?

228. Ketjaman.

Pendirian hakim Perantjis jang terpengaruh oleh azas uasio- nalitet jang didukung oleh perasaan2 nasionalisme ber-kelebih-an dan tidak pada tempatnja, ditindjau daripada segi perkem bangan HPI jang sehat, tidak dapat dipudji.

Prinsip kewarganegaraan jang terlalu d iruntjingkan setjara kaku, ternjata telah membawa kepada hasil- jang kurang bagus. Djikalau kita menghadapi perbedaan kewarganegaraan dalam

P andapat ini te ru tam a selalu d ikem ukakan oleh N i b o y c I, Lih.it B a t i f f o l , T raite , h. 446. . . . . .

335> Bdgk. K o l l e w i j n , D e on taard in g van het nationalite itsbeginsel,h. 19, 20. • • • •

33°) Alasan kedua jang mendukung hakim Perantjis dalam chauvinisme-njaini, menurut K o l l e w i j n , adalah anggapan, bahwa H P I merupakan suatu „kon flik t ke d au la ta n ” , sedangkan alasan ketiga ialah, bahwa hu­kum nasional ini bertudjuan untuk memberikan perlindungan xigi seorang warganegara jang berada diluar negeri, o.c. h. 22,

150

Page 163: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

satu ke lu a rg a , m aka njatalah prinsip kew arganegaraan tidak dapat m e m b a w a k ep ad a p enje lesa ian ja n g seh at djika terus di­p e r g u n a k a n setjara rigoreus. Jang diperlukan ialah bantuan daripada h u k u m d om ic ilie dalam m engatasi kesulitan- ja n g t im ­bul itu.

P erk ara F e r r a r i telah m em beri tjontoh bagaimana p e m a k a ia n daripada prinsip kewarganegaraan ini m enurut kata- K o l l e w i j n dapat ))ontaard ’ P e r |v a r a F e r r a r i ini kare- nanja o le h p en u lis - , djuga di P era n tj is sendiri, telah m engalam i b erb a g a i k e t ja m a n - ja n g pedas. 337>

225). Perkembangan selandjutnja clad jurisprudensi Perantjis.

K ita saksik an bahwa perkembangan dalam ju i is p iu d e n s i P e r a n tj is , negara ja n g terkenal sebagai pendekar utama d a n p rinsip nasionalitet- di-waktu2 jang achir ini djuga telah ber- balik. B erp u ta ra n haluan telah kita saksikan berkenaan dengan p e n je le s a ia n perkara-’ pertjeraian antara pa ia p n a s. suamwsi e n ja n g b e r k e w a r g a n e g a r a a n berbeda. Pengutam aan .t jis s e -m a ta 2 bilam ana terdapat seorang w aigan egai Jseb a g a i p ihak — seperti halnja dalam peristiwa d<e . e 1 * a i 1- te lah d ilep ask an ! „Cause ce leb re” jang membufctikan adanja p erp u ta ra n haluan ini ialah : peristiwa R i v i e 1 > . o leh Cour d e Cassation dalam tahun 1953. 1 j

• 230. Perkara R i v i e r e.i t - • • i ini riqiam rangka uraian kita,K aren a p en t in g n ja perkaia ini uaiai

p er lu d it in d jau n ja leb ih landjut.• ( 7 0 f f seorang asal Russia

Nona L j ld i a _ R perant j l sT/ t el ah jang telajLdinatui-alisu- emula berke-menikah di Paris denSf ^ ^ dfa m em p ero le in E S ^ g an *

garaan Ecuador. ^ J ^ ^ o ^ i a ^ 11 telahP menikah dengan kewarganegaraan Perantjis-nja walau kan suami-isteriorang asing. Setelah perkawinan. d-, f .„n karona .r,ersetu- Petrov; ini telah'' m emperoleh jJAalU. -Pgl£le- - xerniatadjuan k e d ^ a a r i l f f " ( » c o i i s e n t e m e i i t ^u tue l ). Teinjatanjonja L yd ia R o u m ia n tze lL in i agak lom an 1 • .ga l d iam se te la h perkawinan pertamanja. -_c-- - - - -

»3») Com- de Cassation, 17-4-1953, RCDIP (1953), 412 ; tjatatan B a t i f f o l .

151

Page 164: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

telah menikah lagi di Marokko, kali ini dengan tuan R i v i e r e seorang_„citoyen frangais”. Tetapi, kemudian ternjata bahwa djuga perkawinan jang kedua ini tidak berbahagia adanja Njonja Roumiantzeff kembali mengadjukan gugatan tjerai terhadap suaminja dimuka pengadilan tingkat pertama di Casablanca.Pembelaan fihak suami.

Terhadap gugatan tjerai jang diadjukan oleh' isterinia ini tuar^ ivie r ^ ip ig a d ju k a n ^ keberatan. Sebagai pembelaan ia kemukakan, bahwa sebenarn.ia perkawinan jang telah dihng sungkan olehnja dengan Njonja. Roumiantzeff bukanlah suahi perkawinan jang sah. Perkawinan ini sesungguhnja harus dipan­dang bataladanja. Perkaw inan in ibatal adanja karena pertieraian jang telahRounmntzeff adalah tidak sah <1,™ tidak berakibat apapundi Peran$is Oleh karena itu perkawinan pertama daripada Nionia Roumiantzeff masih berlangsung menurut hukum Peiantiis Diika demikian maka tidaklah .a mi dapat setjara sah melakukan perkawinan lag. dengan pthak Riviere. Bupanja pihak jang is“ but belakangan in. telah memperoleh nasehaP dari penasehat= hukum jang berpengalaman dan ulung ! Meneana Skannja alasan batalnja perkawinan amara kedua pihak dan “ dakmembiarkan sadja perkawinan moi-nkn ’ UtU1 uclaKtjeraian, dimana toh kedua pihak nampalana 4ch h hidup bersama terus ? Alasan p c m b e l ^ , d?patdikemukakan oleh karena denganHTaTflvrrf/i' ‘l-tP e,' ^awil;-an ilTHnenghaHpkati dapat terlepas “darinada iUnlf t ^ Rlvi6re dan risik o 2 f i n an s i i 11 a i n n j a jang mendiflrli ! . f a u l ieilla^ e- suatu pertjeraian ! Djika perkawinan dim a'J,aan daripadatjerai, maka pihak suami ini akan menealam^r ,enganf c,ljalan nanggung berbagai akibat finansiil Diika nPrf P I11,1! .me' karena kesalahan berada dipihak suami 1 2 -“ “ i, n apini harus memberikan alimentatie rnsJfi? ™ i belakan§an isterinja. ^ e n ta t ie fnafkah) kepada bekas-

Karena itu Riviere memadiukan Hoi;i i , • ,diatas. Nampaknja dalil jang diadjukan . .pembeIaannJa tersebut daripada pandangan2 dalam HPI PeranHi memPunJai dukungan jang hingga waktu itu berlaku Boleh dikai ”?engei ai P^tjeraian L i tetap dari HPI Perantjis' W b l w ^ k ^ i u ^ ^ m S tidak mempunjai akibat di Perantjis bilamana dalam keputu an itu tidak dipergunakan hukum jang menurut HPI Perantjis harus diperlakukan. Sekarang ini kita saksikan bahwa hakim di Ecuador telah mengujjapkan pertjeraian antara suami TsterTTeFovTRo,].

152

Page 165: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

miantzefl' atas alasan „consentem ent m utuel”. b a n alasan sem a' tja in ini tidak dikenal dalam hukum p e rtje ra ian Peran tjis ! O leh karena itu. beralasan-lah clalil jang dikem ukakan oleh pihak R iviere bahwa pertjera ian oleh hakim Ecuador ini tidak dapat diakui oleh hukum Perantjis.

2 :il. Dukungan dari perkara F e r r a r i ?

Boleh dikemukakan pula, bahwa dengan adanja k e p u tu sa n d e F e r r a r i , pihak R iviere m em peroleh dukungan dalam pem belaannja. Bukankah m enurut keputusan dalam perkara F e r r a r i ini, setiap kali bilamana terdapat warganegara Perantjis sebagai pihak, maka selalu hukum jang m engatur&pe- m utusan dari hubungan keluarga itu, haruslah merupakan hukum Perantjis pula ? Dalam perkara jang diadjukan dihadapan hakim di Ecuador im boleh dianggap bahwa pihak perem puan iang ber­k e w a r g a n e g a ra a n Perantjis-lah jang telah adjukan ‘tuntutan tjerai. Karena tuntutan tjera ini diadjukan dengan m em akai alasan „pernm fakatan kedua belah pihak” bolehlah dianggap pula bahwa kedua pihak ini se-olah- masing- m erupakan penggugat jang satu terhadap jang lain. &

Oleh pihak Riviere telah dikemukakan pula sebagai pem be- laan tambahan, bahwa biar bagaimanapun keputusan daripada hakim Ecuadorj t u harus dianggap bertentangan dengan ;,ordre public” 3;,n)_di Perantjis dan karenanja tidak dapat m em punjai akibat- didalam suasana hukum Perantjis.

232. Pendirian hakim Perantjis.

B a g a im a n a sikap daripada pengadilan- jang harus mengadili p e rk a ra pertje ra ian Riviere-Roumiantzeff ini ?

Dalam tingkat pertam a dalil- pembelaan dari p ihak Riviere te rn ja ta diterima.'’K eputusan jang diutjapkan m enjatakan bahwa perkawinan jang dilangsungkan antani pihak Riviere dan Njonja R o u m ia n tz e ff pada fahun 1939 di Marokko adalah batal. Tetapi, kem udian kita saksikan bahwa dalam tingkat bandingan Cour de R abbat m e m b e r ik a n ju a tu keputusan jang beiia inan._Kep_utusan dalam tingkat pertam a dibatalkan atas alasan- jang tidak demi- kian te rang adanja claj3_bei^sarkji^n £ e r t i m b ^ n g a ^ begitu penting dalam rangkaian tindjauan kita sekarang ini. Kita

339) T en tan g „o rd rc public” ini, lihat kem udian.

153

Page 166: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

saksikan kemudian bahwa pihak Riviere telah mini a pemeriksaan kasasi. Dan dalam pemeriksaan tingkat tertinggi ini Cour de Cassation dalam keputusannfa dari tanggal~17-4-1953 jang sering­kali disebut ini, telah membenarkan keputusan dalam tingkat bandingan.

234. Pendirian Cour de Cassation.

Alasan2 jang diberikan dalam keputusan kasasi ini penting untuk diperhatikan dalam rangka pembitjaraan kita tentang hu­bungan antara prinsip kewarganegaraan dan prinsip domicilie. Kita saksikan adanja passage2 pertimbangan jang menarik perha- tian. Passage'2 jang seringkali disebut berbunji:

•>que le seul fait de la nationaiite fran?aise de la femme ne suffit pas a rendre dans tous les cas ou l’etat de cette der­niere est en cause la loi frangaise obligatoirement comne- tente” . :««> 1

(,,bahwa fakta kewarganegaraan Perantjis belaka tidaklahtjukup untuk selalu memaksakan diperlakukannja hukum Perantjis dalam perkara2 dimana status daripada seorang perempuan warganegara Perantjis sedang dipersoalkan” ).

235. Menjimpang dari putusan F e r r a r i .

Dengan adanja pertimbangan jang tegas ini njatalah Cour ae Cassation hendak mengutarakan pendapatnja jang tidak mem-

enar an pendiriannja jang semula dalam peristiwa d e e / . r a r i bukankah, seperti telah-kita saksikan diatas, dalam.

per aia e n a r i tadi, Cour de Cassation telah memilih diperlakukannja hukum Perantjis, se-mata2 karena pihak peng- gugat adalah seorang perempuan warganegara Perantjis? Kini,

Pertimbangan jang tegas dalam perkara Riviere, kita mehhat adanja tendensi jang menjimpang. Perasaan^cKauvinis- me daripada hakim Perantjis ternjata telah mulai limtur.

ewarganegaraan Perantjis dari salah. satu pihak sadja belum |ag ^ l lugup.,,,u^ukjelahi memaksakan diperlakukannja hukum ^ a n t j i s j ^ a d a perkara'2 pertjeraian.

34°) Kursip kami.

154

Page 167: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

236. Pem akaian hukum dari domicilie — bersam a.

K em udian te lah ditam bahkan pula- p e r t im b an g an - lain oleh C our de Cassation dalam kepu tusan R iviere ini. D juga p e r t im ­b an g an 2 ini p e r lu k ita perliatikan. B un jin ja ialah sebagai b e r ik u t :

..en l ’espece les epoux Petrov-Jioum iantzeff avan t une natio­nalite difference, mais e tan t domicilies 1’un et l ’au tre en E quateur, e’est a bon dro it que la Cour d ’A ppe l a decide que leur divorce e ta it reg i par la loi du domicile, qui se trouvait au su rp lus e tre identique a la loi personelle du m ari e t a la loi du for ; que de lors le divorce a ete reg u lie rem en t acquis a la suite d ’une decision e tran g ere fa isant application de la loi norm alem ent com peten te” . 3n)(-,berkenaan dengan suami-isteri Petrov-Roiuniantzeff jan g m em punja i kew arganegaraan berbeda, te tap i m em punja i domicilie bersam aan di Ecuador, adalah tepat bahwa Cour d’Appel te lah m enen tukan bahwa p e r t je ra ian m ereka ini d iatur oleh hukum domicilie, jang tam b ah an lagi adalah sama dengan hukum personil daripada jpihak suami dan dengan hukum daripada sang hakim ; hingga dengan dem ikian p e r ­t je ra ian telah diperoleh se tja ra wadjar, se te lah suatu k ep u ­tusan hakim asing jang telah m em pergunakan hukum jan g m em ang sew ad jarn ja d iperlakukan”).

237. H ukum domicilie bersam a dipentingkan.

Pengadilan Tertinggi ini te lah berpendapat bahwa dalam hal pe r tjera ian harus d iu tjapkan an tara p^ara' piEak jang m em punja i kew arganegaraan lam, maka hukum domicilie bersam a daripada para p ihak adalah jang h a r u s ' d iperhatikan. Djadi bukan lagi kewarganegaraan jang se-mata'2 harus dipentingkan. Tam bahan lagi, bukan kew arganegaraan P eran tjis belaka jang harus dieloni dalam penggunaan hukum, bilamana salah satu pihak jang ber sangkutan adalah berkewarganegaraan Perantjis . Djadi, dalam perkara sekarang ini, walaupun Njonja Roumiantzeff adalah war­ganegara Perantjis , m enuru t H PI Perantjis , tidaklah selalu dalam perkara pertje ra iann ja diperlakukan hukum Perantjis . Dalam perkara pertje ra ian ini diletakkan titik-berat kepada hukum dari- domicilie bersam a dari para pihak bersangkutan. Suami-isteri

341) K ursip dari kami.

155

Page 168: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Petrov-R oum iantzeft tatkala perkara pertjeraian mereka diadili oleh Pengadilan di Quito (Ecuador) berdomicilie disana. Hukum domicilie inilah jang harus dipergunakan untuk mengadili per­kara pertjeraian bersangkutan. Djadi hukum Ecuador, sebagai hukum domicilie adalah jang setjara tepat diperlakukan. Karena- nja, pertjeraian jang diadjukan dihadapan Pengadilan di Ecuador, berdasarkaiT alasan tjerai jang dikenal dalam hukum pertjeraian EaTadorTlakni .,persetudjuan bersama” adalah suatu keputusan jang sahT Menurut hukum, perkawinan antara suami-isteri Petrov- Roumlantzeff telah terputus karena tjerai. Djuga menurut HPI Perantjis diakuilah pertjeraian ini sebagai sah adanja. Dalil jang dikemukakan. oleh Riviere tidak diterima. Dalil didasarkan atas pendirian dalam keputusan d e F e r r a r i ternjata telah ditinggalkan oleh Pengadilan Tertinggi di Perantjis sendiri. Djuga dalam negara jang merupakan pendekar utama daripada prinsip kewarganegaraan, kita saksikan adanja suatu perputaran haluan berkenaan dengan pemakaian prinsip kewarganegaraan ini untuk perkawinan dimana para pihak mempunjai kewargane­garaan jang berbeda.

238. Ketegasan masih diperlukan.

Akan tetapi, djika kita menelitikan lebih djauh pertim­bangan'- resmi daripada Cour de Cassation seperti dipaparkan diatas tadi, masih dapatlah kita merasa agak ragu-, apakah ane- mang benar Mahkamah Tertinggi di Perantjis ini telah menghen- daki penggantian daripada hukum nasional dengan hukum domicilie pada peristiwa- dimana terdapat perbedaan kewarga­negaraan antara suami-isteri. Benar telah dikemukakan pula istilah „loi du domicile” ini sebagai jang tepat harus diperlaku­kan. Tetapi, kita saksikan, daii pemakaian perkataan- jang sengadja telah kami ltursipkan diatas tadi, bahwa ada lain2 per­timbangan pula jang dikemukakan oleh Cour de Cassation ini. Oleh Mahkamah ini dikemukakan djuga pertimbangan, bahwa

__ lom”. hukum darinarifl ------ .

156

Page 169: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

apakah m em ang benar, ju r isp ru d en s i di P e ra n t j is ini te lah ber- balik se tjara dem ikian tegas seperti d ipaparkan d iatas tadi, mele- paskan pem akaian hukum nasional dan p en g g an tian dengan hukum domicilie dalam peristiwa- a n ta ra suam i-isteri ja n g b erbeda kew arganegaraan . Mereka ja n g m enen tan g p e ru b ah an b a ru ini dapat m engem ukakan, bahwa b e r lak u n ja hukum domicilie bersam a ini harus dilihat se t ja ra t e r b a t a s . Mereka jang tidak suka akan p e ru b ah an pend irian ini k iran ja boleh m engem ukakan, bahwa hukum domicilie bersam a, m e n u ru t Cour de Cassation ini, hanja dapat diperlakukan, b ilam ana hukum i tu 'm e m a n g djuga m eru p akan hukum nasional da ripada sang suami dan adalah sesuai dengan „lex fori” . Tafsiran m ereka ini adalah tafsiran jang bersifa t restrik tip . Demikian pro-nja m ereka m em bela prinsip kew arganegaraan ini- hingga m ereka tidak mau m enerim a bahwa sebenarn ja pem akaian daripada hukum domi­cilie ini m erupakan suatu pe rp u ta ran haluan jang sungguh- dari ju risp rudensi di Perantjis .

239. Peristiwa I- e w a 11 d o \v s k j .

Suatu keputusan lain masih diperlukan u n tu k m em buktikan bahwa penglihalan m ereka jang menganggap adan ja p e rp u ta ran haluan (jang m enggantikan hukum nasional dengan hukum domi­cilie dalam perkara- m engenai hubungan suami-isteri dengan kew arganegaraan berbeda) m em ang d jitu adanja.

Dan keputusan ini te rn ja ta telah d iberikan pula pada tanggal 15-3-1955 dalam perkara L e w a n d o w s k i . 34:!) Ke-raguan2 jang timbul karena adanja tam bahan pertim bangan dalam arret- Riviere tadi, m endjadi hilang sama sekali dengan adan ja k ep u ­tusan Lewandowski ini.

Dalam perkara ini kita saksikan persoalan hukum jang tim ­bul karena gugatan pertje ra ian an tara seorang suami Polandia dan seorang perem puan Perantjis . T ern ja ta bahwa Cour d ’Appel

^•e) T e tap i m em ung d apa t diakui bahw a ad a n ja tam b ah an alasan , peisam uandencan hukum person it dari sang suam i d a n d engan h ukum sang hak im ini te lah m em baw a ke-raguan-’ scdjenak. U n tu k tu lisan - m engenai per- soa'lan ini, lihat L e r e b o 1 1 r s - P i g e o n m e r e - L o u s s o 1 1 a r n , -

343) C o u r^d e 'c a ssa tio n , C ham brc Civile, 15-3-1955, R C D IP (1955), h. 320,noot B a t i f f o 1.

157

Page 170: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

1

telah mengabulkan tuntutan tjera i jang diadili dengan m el- gunakan hukum Polandia dari sang suami. Akan tetapij s a k l t a t f ' lah bahwa Cour de Cassation telah tidak membenarkan p en hukum tersebut. Keputusan clari Cour d’Appel telah dibatalka*1- Dan oleh Cour de Cassation kem udian telah dipergunakan lvuiuii11 Perantjis berdasarkan alasan jang dikemukakan setjara te?as> bahwa hukum ini adalah hukum daripada domicilie bersama °

240. Pertim bangan jang menitik-beratkan hukum doinicm e

Dengan sedemikian banjak perkataan telah dipei-f g- kan : 1 yd

„Attendu que le divorce de deux epoux de nationals ’ Yf f e- ren te est regi par la loi du domicile commun” . 3i. 7yjC1-ni- bang, bahwa pertjeraian antara suami-isteri jang b e - l ^ a r - ganegaraan berlainan diatur oleh hukum daripada bersama”). » domi ci l e

Hilanglah semua ke-ragu-an tentang sikap Mahkamah t r di Perantjis mengenai persoalan ini ,..Fort heureusement” v ta L e r e - b o u r s - P i g e o n n i e r e - L o u s s u a r n . ‘ arang djelaslah sudah adanja perputaran haluan ini. k e

241. Arrest F e r r a r i dikesampingkan.

Pendirian hakim dalam arret-F e r r a r i telah dileijaqkau ! Keputusan dalam perkara Riviere ini telah memberikan e- tjahan daripada berbagai kesulitan jang mendjadi peinK^0m daripada jurisprudensi Perantjis sedjak k ep u tu sa n -F e i’r a w a a l Setjara implicite, kita saksikan dengan adanja keputusan^? * U0 (jang dikuatkan dengan keputusan-Lewandowski in i lvie1 „application distributive” kepada tiap2 mempelai, mas' 1 ^allWa ru t hukum nasionalnja sendiri, seperti hendak d it* 8" menU* dengan keputusan de Ferrari, telah ditinggalkan n em ukakan ditinggalkan adanja ketjondongan jang dikemuv !Uga tel&h arrM-Ferrari. jakni untuk selalu n J g u L a n ^ " ° ' ^ Perantjis, se-mata= karena salah satu daripada narl ?pakan warganegara Perantjis/ Sebaliknja, ^eputusa^ £ £ £

3 4 i) K u r s ip d a r i kam i.L e r e b o i i r s - P i g e o t t n i p r s i ~ .

> i b c o n n i e r e - L o u s s o u a r n , h. 391.

158

Page 171: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

perkara Riviere membawa keuntungan. bahwa setjara tegas dike­mukakan, bahwa adanja fakta, bahwa salah satu pihak adalah warganegara Perantjis, belum lagi tjukup untuk m engharuskan diperlakukannja hukum Perantjis. Bahwa pihak perem puan b e r­sangkutan berkevvarganegaraan Perantjis, tidak lagi m entjukupi untuk memaksakan berlakunja hukum Perantjis pada penjelesaian perkara2 seperti itu.

242. Banjak suami-isteri dengan kewarganegaraan berbeda.

Sikap daripada Cour de Cassation dalam perkara->Riviere dan Lewandowski ini telah membawa penjelesaian jang m em uaskan berkenaan dengan soal2 jang timbul karena banjaknja perka­winan- di Perantjis jang dilakukan oleh orang2 imigran asing dengan perempuan2 Perantjis. Seperti diketahui, Undang2 K ewar­ganegaraan Perantjis dari tahun 1927 m enentukan bahwa seorang Perempuan Perantjis jang menikah dengan orang asing, te tap tinggal berkewarganegaraan P e ra n t j is .31u) M enurut Undang3 tahun 1927 djuga anak- jang dilahirkan di Perantjis memperoleh kewarganegaraan Perantjis karena dilahirkan disitu dari seorang perempuan Perantjis. Dalam hubungan2 dimana terdapat aneka- vvarna kewarganegaraan dalam satu kehiarga ini akan dirasalcan sebagai amat gandjil bilamana semua hubungan hukum kekeluar­gaan ditentukan oleh hukum daripada sang ajah sebagai kepala keluarga.

243. Hukum domicilie bersama jang dipakai.

Kita saksikan bahwa dalam perkara Riviere telah diterima suatu tjara penjelesaian untuk masalah ini. Titik bera t diletakkan diatas domicilie bersama daripada para pihak dalam keluarga bersangkutan. Hubungan hukum dalam keluarga bersangkutan ditentukan oleh hukum jang memang benar- boleh dipandang merupakan hubungannja setjara riil. Apabila suatu rumah-tangga telah dibina diluar negeri, maka beralasanlah djikalau djuga hukum daripada tempat dimana rumah-tangga itu berada adalah hukum jang menentukan sesuatu. Dalam perkara Riviere kita saksikan bahwa rumah-tangga bersama telah dipindahkan ke- negeri Ecuador. A'dalah beralasan pula djika hukum daripada

a i0) Sc-ticlak-nja djika bertem pat tinggal. di Perantjis, sebelum perubahan d a ­lam tahun 1945. L ihat no. 347.

159

Page 172: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

domicilie bersama inilah. hukum perdata Ecuador, adalah hukumjang mengatur hubungan2 bersangkut paut dengan soal pertje-raian^Dan dalam perkara Lewandowski kita saksikan pula bahwatitik berat daripada penjelesaian telah diletakkan atas berlakuniahukum daripada domicilie bersama. Rumah-tangga bersangkutantelah berada di Perantjis. Adalah beralasan pula diika h ' n nPerantjislah jang dipergunakan. Pemakaian C u mdalam perkara jang terachir ini njatanja tidak d id a sa rk m ataspertimbangan- chauvinistis seperti diperlihatk™ 1J 1 , 7perkara-Ferrari. 347) 1 uipeinhatkan hakim dalam

Njatalah dari tjontoh- peristiwa- Riviere d™ t > ini bagaimana achir-nja orang telah kemhnr i LewancIowskt jang setjara bekelebih’an menekankan kepada' s ^ n C' ' ala!’ Persaan- nasionahsme jang tjondona kemri-f ^ nasional-telah diperlunak. Prinsip L l a S S * * juridis dilaksanakan lebih djauh setiara knlcn ‘ -i . -lata telah tidak nurut kata- Mngga me-perkembangan jang menggembirakan ■ »ontaard”. Suatu

244. Sesuai dengan visie R o l l e w i j „

Djika kita perhatikan perkemlnnp-m • • katakan, bahwa apa iang achir2nia w maka bolelilali di- lang ini (1953 dan 1955) telah diteriml h J?eb®raPa tahun berse- tertinggi di Perantjis, sebenarnja ad ,I t Vlani jurisprudensi jang sudah mendjadi harapan K oi Jalan dengan apa mengutjapkan pidato peringatannjapada V 1 latkala beliau Rech shogeschool di Djakarta d itahun192i f T pertama ^lari berselang Gurubesar dalam HATAH Si r i ' Su.dah 33 tahun usulkan, agar supaja dalam hal terdanaV n°sia itu telah mens- raan antara suami-isteri, d i p ^ S , I T * ™ " '“ “ ^ n e g S - c x l i e bersama mereka. Unsur nl hlUillm dari d o m i - kedua mempelai, unsur jan g w !ls™a»n jang berlaku un tu t tukan hukum jang berlaku, i a j i ,Pal ^ untuk menen- Hukum daripada negara dimana L " 0 0 ” P 1 a a t s” mereka hidup se-hari-, hukum inilah jan' J‘.a su™Wsteri sesungguhnja

S i , V C Se‘iara tel« ‘K o l l e w i j n . „Het recht van het S . Jang berlaku. Kata__._______ vVaar zich hun huwe-347) Lihat atas, no. 220 dst.

160

Page 173: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

lijksleven afspeelt, beheerse ook hun huwelijk”. 34s) Dan menurut beliau, usul penjelesaian jang dikemukakannja ini adalah sesuai dengan apa jang telah diusulkan pula oleh beberapa penulis Pe­rantjis sendiri.3'40)

245. Prinsip kewarganegaraan dilepaskan untuk suami-isteri dengan kewarganegaraan berbeda.

Perbedaan1- kewarganegaraan dalam satu keluarga menurut kenjataan kian hari akan. kian bertambah. Hal ini sudah kita kemukakan. diatas tatkala kita sedang membahas alasan2 jang dikemukakan pro prinsip domicilie. 33°) Djuga K o l l e w i j n mengemukakan pula oleh hal ini. Peristiwa2 bahwa pada saat perkawinan dimulai para mempelai tidak mempunjai tempat- tinggal bersama (gemeenschappelijke woonplaats) dalam praktek­nja akan tidak sering terdjadi. Tidaklah perlu dichawatirkan, bahwa dengan diterimanja prinsip domicilie untuk peristiwa2 perbedaan kewarganegaraan antara suami-isteri ini, akan ter- bengkalailah hukum perkawinan dalam hal- dimana tidak terda­pat domicilie-bersama ini sama sekali. Mengingat akan hal2 itu, menurut gurubesar tersebut adalah sebaiknja bilamana untuk peristiwa- perbedaan kewarganegaraan dalam keluarga ini, dile- paskan sadja prinsip kewarganegaraan untuk digantikan oleh hukum dari domicilie bersama. Beliau menekankan agar supaja djanganlah kita terbawa oleh perasaan2 nasionalisme jang tidak pada tempatnja dan setjara ber-kelebih-’an dalam menentukan status personil ini. Disini njata ada bahaja ! Hukum nasional tidak akan dapat membawa penjelesaian jang memuaskan pera­saan hukum. Kata beliau dalam hubungan i n i : „Want hoeveel schoons het nationalisme ook in zich moge bergen, het is een slechte gids om te vinden wat recht is tussen personen, die niet zijn van dezelfde nationaliteit”. 351)

818) K o 11 e w i j , o.c. h. 46.n40) Lihat penulis2 jang disebut oleh K o l l e w i j n dalam no. 1 pada

h. 4 6 : C h a m p c o m m u n a 1 dan N i b o y e t , sebelum jangbelakangan ini turut serta dalam aliran chauvinistis jang terasa di Peran­tjis pada waktu itu.'

3"°) Dibawah no. 199 dst.3ul) K o l l e w i j n , o.c. 49. 50.

161

Page 174: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

‘‘T‘*ry

domicilie bersama inilah. hukum perdata Ecuador, adalah hukum jang mengatur hubungan2 bersangkut paut dengan soal pertje­raian. Dan dalam perkaia Lewandowski kita saksikan pula bahwa titik berat daiipada penjelesaian telah diletakkan atas berlakunja hukum daripada domicilie bersama. Rumah-tangga bersangkutan telah berada di Perantjis. Adalah beralasan p tla djika hukum Perantjislah jang dipergunakan. Pem akaian huk u m Perantjis dalam perkara jang terachir ini njatanja tidak didasarkan atas pertimbangan- chauvinistis seperti diperlihatkan hakim dalam perkara-Ferran. 3l1)

Njatalah dari tjontoh peristiwa. Riviere dan Lewandowski un bagaimana achir-nja orang telah kembali darlpada djalanjang set ara bekeiebih’an menekankan kepada segP nasional. Persaan- -'asionahsme jang tjondong kepada chauvinisme juridis te ah diperlunak. Prinsip kewarganegaraan ternjata telah tidak dilaksanakan lebih djauh setjara kaku demikian rupa hingga me- nurut kata' K o l l w i j n , telah mendjadi on aard" Suatuperkembangan jang menggembirakan. " h" atu

244. Sesuai dengan visic K o l l CWi j n

Djika kita perhatikan nerkpmh-.,^ • • katakan, bahwa apa jang achir2nja hani'i .b? lelllJ h d‘‘lang ini (1953 dan 1955) telah diterima baik , lapa tahun bf 1'sc; tertinggi di Perantjis, sebenarnja adalah T Jui'isprudensijang sudah mendjadi harapan K n U sedJalan dengan apa mengutjapkan pidato peringatannia nari! V 1J latkala beliai1 Rechtshogeschool di Djakarta ditah.m um Pertama daribersdang Gurubesar dalam M A H I ^ ^ k J - 33 tahun usulkan, agar supaja dalam hal terdannt « * ° J la ltU telah meng' laan antara suami-isteri, dipereunakLi 1, ei‘bedaan kewarganega- c i l i e bersama m ereki U „ ™ ? ^ " lah h"!‘Um dari d o m i ' kedua mempelai, unsur jang kirann rfaam?a?*',a”g berlaku untuk tukan hukum jang berlaku ialah nma untuk menen-Hukum daripada nega S a m I f ° ° " .P 1 a a ‘ S” hidup se-hari-, hukum T V ? * '

dipergunakan untuk menentukan hukum j a n g 'h e r lZ , Kata K o l l e w i j n : „Het recht van het land Jaa® zic* h™ huwe-

347) Lihat atas, 110. 220 dst.

160

Page 175: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

lijksleven afspeelt, beheerse ook hun huw elijk” . 34S) D an m e n u ru t beliau , usul pen je lesa ian jan g d ik em u k ak an n ja in i ada lah sesuai dengan apa jan g te lah diusulkan pula oleh b e b e rap a p en u lis P e ­r a n t j is sendiri. 31°)

245. Prinsip kew arganegaraan d ilepaskan u n tu k suam i-is teri dengan kew arganegaraan berbeda.

P erbedaan- kew arganegaraan dalam satu ke luarga m e n u ru t k en ja taan kian hari akan. kian bertam bah . Hal in i sudah kita kem ukakan diatas tatkala kita sedang m em bahas alasan- jang d ikem ukakan pro prinsip dom icilie .35u) Djuga K o l l e w i j n m engem ukakan pula oleh hal ini. Peristiwa- bahw a pada saat perkaw inan dimulai para m em pelai tidak m em punja i tem pat- tinggal bersam a (gemeenschappelijke woonplaats) dalam p rak tek ­n ja akan tidak sering terdjadi. Tidaklah p e r lu d ichaw atirkan, bahwa dengan d iterim anja prinsip domicilie un tuk peris tiw a2 p e rb ed aan kew arganegaraan an ta ra suami-isteri ini, akan ter- bengkalailah hukum perkawinan dalam hal- d im ana tidak te rd a ­pa t domicilie-bersama ini sama sekali. M engingat akan hal- itu, m e n u ru t gurubesar te rsebu t adalah sebaiknja b ilam ana u n tu k peristiwa- perbedaan kew arganegaraan dalam keluarga ini, dile­paskan sadja prinsip kew arganegaraan un tuk d igantikan oleh hukum dari domicilie bersam a. Beliau m enekankan agar supaja djangan-lah kita terbaw a oleh p e rasaan2 nasion’alisme jang tidak pada tem patn ja dan se tjara ber-kelebih-an dalam m enentukan status personil ini. Disini n ja ta ada bahaja ! H ukum nasional tidak akan dapat m em bawa penjelesaian jang m em uaskan pera- saan hukum. K ata (beliau dalam hubungan i n i : ,,Want hoeveel schoons het. nationalisme ook in zich moge bergen , h e t is een slechte gids om te vinden wat re ch t is tussen personen, die n iet zijn van dezelfde nationaliteit” . 351>

s is ) K o l l e w i j , o.c. h. 46.349) L ih a t penu lis2 jan g d isebu t o leh K o l l e w i j n d a lam no 1 p a d a

h . 4 6 : C h a m p c o m m u n a l d an N i b o y e t, sebelum jan gb elak an g an in i tu n it serta da lam a liran chauvinistis jan g te ra sa d i P e ra n ­tjis p a d a w ak tu itu.

aao) D ibaw ah no. 199 dst.301) K o l l e w i j n , o.c. 49, 50.

161

Page 176: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

246. Pengunduran Swiss dari Traktaat Den Haag.Uraian beliau ini dan usul jang dikemukakannja, telah dilu-

kiskan dengan mengambil peristiwa pengunduran diri dari Traktat Den Haag oleh negara Swiss pada tahun 1928. :!5-)

Pemerintah Swiss telah merasa perlu untuk mengundurkan diri dari Perd jandjian Den Haag tentang pertjeraian dan perpi- sahan medja serta tempat tidur jang telah mulai berlaku baginja sedjak tahun 1905. •'•’•') Jang mendjadi sebab untuk pengunduran diii ini ialah adanja keberatan terhadap ketentuan” dalam Per- djandjian tersebut jang tidak memungkinkan seorang perempuan waiganegaia Swiss untuk bertjerai djika hukum nasional dari pihak suami tidak mengenai pertjeraian. Seperti diketahui P e r­djandjian Den Haag ini didasarkan atas pemakaian daripada prinsip nasionalitet.

427. Kesulitan djika hukum nasional tidak mengenai pertjeraian.Dalam pasal 1 ditentukan bahwa para mempelai tidak dapat

meminta pe itje ia ian apabila hukum nasional mereka dan hukumdari tempat dimana diadjukan permohonan it“ ak m“ mperSe-nankan suatu pertjeraian. *») Kita saksikan disini bahwa E r a tkan penggunaan daripada titik- taut setjara kumulatin untuk dapat memperoleh pertjeraian. uiaup untuK

248. Tjontoh.

t>jadi djika kita ambil sebagai tW « v , „ ,dilakukan oleh seorang peremnuan c, ? Perkawinan jang maka ternjata bahwa perkawinan ini !v SS lelaki Italia,tuskan dengan tjerai, djika harus dinennhi dapatlah diPu' tukan dalam pasal tersebut. Seperti tPinh ^ sJarat- jang diten- nasional Italia tidak mengenai pertjeraianluraikan diatas, hukum

S a p a T d 01!™ PU,a * » * P * " * * . - *

3«-) Pada tanggal 28-11-I97K > •Q u c J l e n , [I no. 24 9 , ’ h ' S I ' 6' 1929’ lihat M a k a r o v -

‘-fJ) tanggal 15-9-1905. ‘351) Pasal 1 berbunji: „Les epoux ne

.q u e si leur loi nationale ct la r mer une dem ande en divorceadm ettcnt le divorce I’une ct r a„tro» r r , U 011 la dcm!>nde est form ee II). dU,Ie • <Feks M a k a r o v - Q u e l l e n ,

162

Page 177: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

suami-isteri tidak mempunjai kewarganegaraan jang sama, maka untuk pelaksanaan Perdjandjian itu akan dianggap sebagai ke­warganegaraan nasional mereka ialah perundang2an mereka bersama jang terachir (laatste gemeenschappelijke wetgeving). 355)

249. Dahulu tidak ada perbedaan kewarganegaraan dalamkeluarga. , ■

Jang mendjadi pokok pikiran daripada para pem buat P e r ­djandjian. tersebut ialah bahwa tidaklah akan mungkin bahwa para suami-isteri itu tidak mempunjai suatu per-undang2an ber­sama. Pada waktu itu semua peraturan'2' kewarganegaraan dari­pada negara2 peserta menentukan bahwa pihak isteri karena perkawinan dengan lelaki asing, selalu akan memperoleh status daripada pihak suami. 350)

Kemudian ternjata bahwa hal jang disebut belakangan ini tidak selalu demikian adanja. Maka teks dari pasal 8 telah diper- luas sedemikian rupa hingga djuga djikalau kedua mempelai akan merobah kewarganegaraan setelah menikah sedangkan suami- isteri masing^ akan mempunjai kewarganegaraannja sendiri, namun kewarganegaraan bersama jang terachir ini akan selalu. Dengan demikian diterimalah setjara njata bahwa perobahan ke­warganegaraan setelah perkawinan oleh salah satu pihak tidak akan dapat merobah hukum jang tadinja berlaku untuk kedua pihak.

Pada intinja pikiran sematjam itu adalah sehat. Memang boleh dikatakan adalah patut, bahwa harus ditjegah terdjadinja kemungkinan bahwa karena perobahan status jang dilakukan oleh salah satu pihak akan dapat dirobah hukum jang tadinja berlaku untuk kedua pihak. Bahwa suatu perbuatan setjai'a sebe- lah pihak akan dapat merobah hukum jang berlaku untuk kedua pihak, sewadjarnja tidak diterima.

250. Keberatan3 pem'erintah Swiss.

Walaupun ketentuan- pasal 8 ini memperlihatkan suatu pokok pikiran jang boleh dikatakan baik adanja, kita saksikan bahwa djustru terhadap pasal 8 ini, pemerintah Swiss telah me- ngadjukan berbagai keberaian.

355) Lihat M a k a r o v - Q u e l l e n , II.oGO) Bdgk. pasal 2 daripada Peraturan Perkawinan Tjam puran.

16S

Page 178: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Kita saksikan dari kenjataan, bahwa banjak sekali terdjadi, bahwa orang2 lelaki Italia masuk kedalam negara Swiss sebagai imigran-.

Mereka mentjari pekerdjaan dan berumah-tangga pula di­negara Swiss ini. Banjak diantara mereka menikah dengan perempuan2 Swiss. Kini seringkali terdjadi bahwa suami- Italia ini telah pulang kembali kenegara asal mereka dengan mening- galkan isteri- mereka. Perempuan2 Swiss ini telah mendjadi warganegara Italia karena perkawinan mereka dengan lelaki2 Italia. Walaupun mereka ini sepandjang hidup mereka tidak pernah meninggalkan Swiss dan djuga tidak pernah mengikuti suami mereka ke Italia, kita saksikan bahwa menurut peraturan12 jang berlaku pada waktu itu, mereka ini dipandang sebagai ber- status warganegara Italia, mengikuti suami mereka.

Sekarang timbul kesulitan2 bilamana isteri- jang ditinggalkan oleh suami mereka ini hendak bertjerai. Kesulitan timbul karena pertjeraian jang dikehendaki ini tidak akan dapat diperoleh menurut hukum nasional jang berlaku untuk suami- Italia merka Oleh karena itu kita saksikan dalam praktek bahwa para isteri2' S a n T l r U.ntUk pertjeraian ini, telah mulaimprAlra p ' ama "leminta kembali kewarganegaraan Swiss„ ei n°honan untuk dinaturalisasi kembali mendjadi war-

ia wiss ini lazimnja dikabulkan oleh pemerintah Swiss.

251. Hukum bersama jang terachir.

walauPun mereka kini mendjadi warganegara feTan hpT Perkawinan mereka dengan suami- Italia ini masihp e r k a w i n a n i r 8- menu,:ut pasal 8 M diuraikan diatas ma iant? , anmasih tetaP diatur oleh hukum bersa-hii i-n- h , ' r ( a ste g«m«enschappelijke wetgeving) Dalam

Djadi menurut Perdjandjian ini, hakim- Sw'ss pun harus mempergunakan hukum Italia dalam mengadili permohonan2 peitjeiaian jang diadjukan oleh perempuan1 bersangkutan. Dan djika hukum Italia jang harus dipergunakan,. sudah teranglahbahwa pertjeraian akan t.dak dapat diperoleh. Hal ini dipandang sebagai gandjil sekali!

164

Page 179: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Adalah tidak dapat d ipertanggung-djaw abkan, dem ikian p e n ­dirian pem erin tah Swiss, bahwa seorang p e rem p u an w arganegara Swiss tidak akan dapat- bertjerai, se-mata- karena ia ini telah m enikah dengan seorang w arganegara daripada negara p e se r ta perd jandjian jang tidak mengenai p e rtje ra ian . ;!"’7)

Oleh karena itu kita saksikan bahwa p em er in tah Swiss k e m u ­dian telah mengopseg Perd jand jian Den H aag bersangku tan .

252. Prinsip kew arganegaraan tidak dapat dipakai.

Dari tjontoh ini kita saksikan sekali lagi, bahwa prinsip kewarganegaraan tern ja ta tidaklah dapat dipakai dengan me- muaskan untuk m engatur segala sesuatu m engenai hubungan kekeluargaan, dalam hal dimana te rdapat perbedaan kew argane­garaan an tara suami-isteri. Djika para suami-isteri ini sedjak perm ulaan perkawinan dilangsungkan sudah berbeda kew argane­garaan, atau selama perkawinan berlangsung m endjad i berbeda kewarganegaraan njatalah bahwa prinsip kew arganegaraan tidak dapat d ipergunakan setjara baik.

Jang sebenarnja paling tjo tjok untuk dipergunakan sebagai ukuran tentang hukum jang harus dipelakukan dalam hal- seperti ini, ialah hukum jang berlaku di d o m i c i l i e bersam a mereka. Hukum daripada tem pat tinggal bersam a inilah jang paling baik untuk dipergunakan. U kuran inilah jang sesungguhnja paling tepat untuk dipergunakan dalam mengatasi kesulitan2 jang timbul berkenaan dengan adanja tuntutan-’ tje ra i dari perem ­puan2 Swiss jang ditinggalkan oleh suami- Italia mereka. Kepada hal ini K o l l e w i j n m enundjuk dalam uraiannja jang m endjadi pokok pangkal pem bitjaraan kita sekarang ini.

253. Pendapat Kollewijn dahulu adalah sesuai dengan juris­prudensi Perantjis sekarang.

Teranglah, bahwa idee2 jang telah dikemukakan oleh K o l l e w i j n pada tahun 1929 ini, adalah pada pokoknja sesuai, dengan apa jang dikemukakan kemudian pada tahun 1953 dalam perkara- R i v i e r e dan. perkara- L e w a n d o w s k i ditahun 1955. Seperti dikatakan penglihatan jang telah dikemu-

:ir'7) D isini kita saksikan adanja garis2 persam aan an ta ra tja ra berp ik ir H ak im 2' P eran tjis dalam m cngadili perkara F e r r a r i dan pem erin tah P e ­ran tjis ini.

165

Page 180: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

kakan oleh Gurubesar dalam HATAH Indonesia jang kenamaan ini, ternjata telah mendjadi pendapat umum jang dikuatkan oleh jurisprudensi tetap di Perantjis, „bakermat” dari prinsip-kewar- ganegaraan sendiri, setelah 25 tahun lalu !

254. Tendensi untuk memperluas berlakunja hukum domicilie bersama.

Ketjondongan jurisprudensi untuk mempergunakan hukum domicilie bersama dari para pihak jang berkewarganegaraan ber­beda, seperti diperlihatkan oleh keputusan2 R i v i e r e dan L e w a n d o w s k nampaknja telah mempertebal pula ke- inginan di Perantjis untuk meletakkan titik berat atas faktor domicilie ini. Dengan njata dapat kita saksikan hasrat sematjam ini. pada persoalan jang timbul berkenaan dengan orang'- asing jang berdomicilie di Perantjis.

255. Perkara2 pertjeraian orang- asing jang berdomicilie di Perantjis.

Dalam arret2 Riviere dan Lewandowski jang sudah kita bahas diatas, kita saksikan bahwa salah satu pihak daripada suami-isteri adalah warganegara Perantjis. Kini timbul pertanjaan : Bagaima- nakah harus diselesaikan persoalan, pertjeraian daripada para suami-isteri jang ke-dua2nja berkewarganegaraan asing tetapi berdomicilie di Perantjis ? Bagaimana harus diselesaikan perkara pertjeraian apabila menurut hukum nasional daripada para suami- isteri bersangkutan mereka tidak dapat bertjerai, tetapi menurut hukum domicilie bersama mereka (hukum Perantjis) pertjeraian diperibolehkan ? Dalam prakteknja kita saksikan misalnja bahwa persoalan2 sematjam ini timbul apabila oleh suami-isteri jang ke-dua2nja berkewarganegaraan Italia atau Spanjol dan berdomi­cilie bersama di Perantjis, diadjukan permohonan tjerai diha- dapan hakim Perantjis. Bagaimanakah hakim Perantjis akan mengadili hal ini ?

Seperti diketahui masih sadja berlaku di'Perantjis ini pasal 3 ajat 3 dari Code Civil jang menentukan bahwa untuk status personil berlakulah hukum nasional daripada pihak2 jang ber-sangkutan.3d8) Dalam perkara pertjeraian jang diadjukan diha-

/358) Setjara analogis, mengingat pasal 3 ajat 3 C.C. ini hanja bitjara tentang

orang2 Perantjis jang berada diluar negeri.

166

Page 181: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

i

dapan hakim P eran tjis oleh para suam i-isteri jan g m e n u ru t hukum nasional m ereka tidak boleh b e r t je ra i , t im bullah p e r ­soalan : K epada hukum m anakah titik b e ra t akan d ile takkan ? Kepada hukum nasional mereka, sehingga j je r t je ra ian tidak akan dikabulkan, atau kepada hukum domicilie be rsam a jang m em bo­lehkan pertje ra ian ? Apakah ketjondongan un tuk m e m p erg u n a ­kan hukum domicilie 'bersama, seperti sudah d iu ta ra k an dalam peristiwa- Riviere dan Lewandokski ini dapat d juga disaksikan, pada perkara- dim ana hukum nasional dari kedua pihak jang berkepentingan ini tidak m engenai p e r t je ra ian ? Djika demikiah halnja, dan perkara- pertje ra ian sem atjam ini diselesaikan pula m enuru t hukum dari domicilie bersama, kita saksikan bahwa ketjondongan kearah hukum domicilie sebagai penggantian dari hukum nasional di Peran tjis ini, akan m endjadi lebih bulat adanja.

256. P erkara B i s b a l .

Suatu perkara jang seringkali d isebut dalam hubungan p e r ­soalan ini ialah peristiwa dari B i s b a l c. B i s b a , 1, jang d iputuskan oleh Cour de Cassation pada tahun 1959. 3r,!)) Suami- isteri Bisbal ini ke-dua-nja adalah w arganegara Spanjol. Seperti diketahui, m enuru t hukum Spanjol sekarang ini p e r t je ra ian tidak diperbolehkan. :iti0) Djadi, djika dipergunakan hukum nasional Spanjol oleh hakim Perantjis , para pihak tidak akan dapat m em ­peroleh pertje ra ian .

Kita saksikan bahwa dalam perkara p e rtje ra ian jang diadju- kan oleh pihak kami Bisbal, te rn ja ta bahwa hukum P er a n tjis - la h , sebagai hukum domicilie bersama dari pada pihak, telah dipergu­nakan. Mengenai hal ini Cour de Cassation telah menguatkan pendirian daripada Cour d ’Appel dari Paris. Oleh Cour d ’Appel de Pai'is ini telah diutjapkan pertje ra ian antara suami-isteri Spanjol jang berdomicilie di Perantjis. Perm ohonan sang suami supaja „separation de corps” jang te rdapat an tara para suami- isteri dikonversi m endjadi pertjeraian , telah dikabulkan. Walau-

33!») C o u r de C assation (C ham bre civ., le Sect.), 12-5-1959, R C D IP (1960), h 62

3,!n) Padia zam an R epublik Spanjol (1932) p e rtje ra ian d iperbo lehkan . T etap i o leh pem erin tahan d ik ta tu r jang s'ekarang berkuasa , kem ungk inan b e r ­tje ra i te lah d itiadakan . S c h n i t z e r , A .F . V ergleichcnde R echtslehre, 11, 2P auflage, Basel (1961), h. 509.

167

Page 182: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

pun hukum nasional Spanjol melarang pertjeraian, kita saksikan bahwa hakim Perantjis telah menganggap dapat dipertanggung- djawab'kan untuk memakai hukum Perantjis sebagai hukum dari­pada domicilie para pihak. Alasan jang dikemukakan oleh Cour de Cassation ialah bahwa hukum Spanjol tidak diminta untuk dipergunakan oleh para pihak tatkala diadili perkara itu. Oleh karena kaidah- HPI Perantjis, menurut pandangan Cour de Cassation tidaklah bersifat „ordre public” , maka apabila para pihak sendiri tidak mengadjukannja, hakim Perantjis tidak akan mempergunakannja setjara „karena djabatan” (ex officio). Pihak isteri telah mengadjukan dalil untuk kasasi kehadapan Cour de Cassation, bahwa .sebenarnja setjara-ex officio haruslah hakim Perantjis dalam mengadili perkara tjerai ini memakai hukum nasional daripada para pihak, jakni hukum Spanjol. Akan tetapi, berdasarkan pertimbangan jang telah kita sebut diatas tadi, Mah- kamah peradilan tertinggi di Perantjis membenarkan pemakaian hukum Perantjis dalam mengadili perkara pertjeraian ini.

257. Kesimpulan.

Apa jang sebenarnja kita saksikan pada keputusan ini ? Kita melihat dari perkara Bisbal ini, adanja hasrat tertentu jang hidup dikalangan para pelaksana hukum di Perantjis, untuk tjondong kepada pemakaian hukum domicilie bersama (Perantjis) bilamana menghadapi perkara- pertjeraian, sekalipun berkenaan dengan orang2 asing jang hukum nasionalnja tidak mengenai pertjeraian Padahal Perantjis sendiri setjara resmi masih mendjundjung tinggi prinsip nasionalitet. Djika penglihatan ini benar adania maka kita saksikan bahwa dengan arrest Bisbal ini hakim Pe’ rantjis telah meneruskan lebih djauh dan mengu’atkan arah langkah-nja jang sudah mulai kentara sedjak keputusan Riviere dan Lewandowski terurai diatas.

Dalam melakukan hal ini, kita saksikan bahwa hakim Peran­tjis se-olah2 hendak mengemukakan pendapatnja, bahwa dipan­dang sebagai kedjam , ketentuan’ dalam hukum perkawinan asmg jang tidak mengenai pertjeraian itu. Nampaknja sukar untuk diterima bahwa orang2 asing jang berdomicilie di Perantjis, akan tidak dapat bertjerai.3G1)

SG1) p r n T p 1 n 0Bh3 6 S f P° di^ ah kePutusaa B isb a r tersebut, RC D IP (I960), p.h. 65. Para penduktmg arrest irii se-olah2 „estLmant cruel ou vain dimposer 1 mdissolubilite du marriage a des etrangers etablis en France”. b

1 6 8

Page 183: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

258. K e tjam an B a t i f f o l .B a t i f f o l j a n g . m enghiasi k epu tusan ini dengan sebuah

tja ta tan , te rn ja ta te lah m engetjam se tja ra pedas. p en d ir ian jan g diambil oleh Cour de Cassation dalam p e rk a ra ini. M enuru p e r a ­saan sard jana hukum P eran tj is jang kenam aan ini pen d ir ian Colli­de Cassation tidak dapat d ipertanggungdjaw abkan . H ingga kini P e ran tjis masih m end jund jung tinggi p rinsip kew arganegaraan . Apabila te rdapa t suami-isteri asing jang b erkedudukan di P e ra n ­tjis, dan m ereka ini hendak bertje ra i, m aka huk u m nasional m erekalah jang harus diperlakukan. Dalam hal ini sama sekali tidak dapat unsur „kekedjam an” apapun.

Apabila orang- asing bersangkutan m enganggap hukum nasional mereka adalah tidak tjo tjok lagi bagi m ereka dan seba- liknja hukum Perantjis-lah jang lebih baik bagi k eb u tu h an hukum mereka, maka bolehlah m ereka ini meminta sadja natiiralisasi mendjadi w arganegara Perantjis . Djika m ereka sudah dinatura- lisir ini, maka dapatlah dipertanggung-djawabkan bilam ana hukum Peran tjis jang diperlakukan bagi m ereka. 'M~) Tetapi, djika m ereka ini belum lagi dinaturalisir m end jad i w arganegara Perantjis , maka adalah sewadjarnja, djika te rhadap m ereka ini, terus dipergunakan hukum nasional Spanjol mereka.

259. Bahaja ,,1'orum shopping” .

Djika diterim a tjara penjelesaian seperti dilakukan oleh Cour de Cassation dalam perkara Bisbal ini, dichawatirkan bahwa pintu akan terbuka lebar sekali untuk m atjam pe rb u a tan 2 pura- jang terkenal dengan istilah „forum shoping” . B a n j a k l a h paia aspirant penun tu t t je ra i akan men-tjari2 akan hakim jang lefoi „favorable” bagi m e r e k a . D e n g a n demikian dalam prakteknja nanti akan mengaliriah para aspirant peminta t je ia i ini jang

:u\2) K ata B a t i f f o l ; -S i deux epoux espagnols d o m i c i n e s c n F ra n cc trouven t la lo i frangaise plus convenable la loi espagnole qu il* sen -itu a lise r” U n e ev o lu tio n p oss ib le d e la co n cep tio n d u s ta tu t p e rso n n e l n a tu aU ser , u n e ev o ii y 305 B dgk p u la k e b e ra ta n ’ ja n g seba-clini-s 1 Eiope contiruntaie * . . . . « ■ /•„ i.lik n ja d ia d ju k a n te rh a d a p tjara'-* n a urahsasL ja n g b e ^ p e n d a p a f te n ta n g pe ris tiw a ..n a tu a lisa s i E s tla n d .a , L ih a t te n ta n g imT afsiran U .U . K ew arganegaraan R .l.

8G3) B i t i f f o l - ............. e t nul sur,OLlt n a p p ro u v e ra sans dou te lin lrouduction en F rance du fam eux fo rum shopping qm sevit dans ce rta in spay ; les dem andeurs en divorcc chercherons les favorab les .......................o.c. h. 65. \

169

Page 184: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

masuk kedalam Perantjis dan dengan segala daja-upaja akan berusaha untuk memperoleh domicilie menurut hukum di Pe­rantjis sebagai djalan untuk kemudian setjara mudah memper­oleh pertjeraian jang menurut hukum nasional mereka dinegara asal mereka ini, tidak dimungkinkan. Bahaja bahwa banjak sekali para tjalon bertjerai ini akan berkerumun di Perantjis dari negaia- tetangga Italia dan Spanjol adalah suatu bahaja jang r n l ! F r a n c e s c a k i s bitjara tentang bahaja bahwa Pe- iantjis bisa mendjadi suatu ,,paberik tjerai jang besar” (une ,,usiiie” de divorce), dimana akan berkembanglah apa jang di Amerika disebut ,,1’industrie du divorce”. :i,il)

Berdasarkan pertimbangan- ini B a t i f f o 1 menolak keputusan dari Cour de Cassation dalam peristiwa Bisbal ini. Dengan adanja pendirian Hakim tertinggi Perantjis dalam per- kaia tersebut, teranglah kiranja bahwa hakim rendahan Perantjis akan merasa telah memperoleh suatu tundjangan teguh untuk dapat mengutjapkan pertjeraian diantara para suami-isteri asing jang berkediaman di Perantjis menurut ketentuan2 hukum Pe- lantjis. Dengan djalan demikian ini, maka pemakaian hukum nasional para pihak untuk perkara- pertjeraian hanja akan dila­kukan, apabila pihak mempelai jang digugat. mengadjukannja sebagai pembelaan.

Hukum domicilie bersama dipentingkan.

rioio KebeiaIan dari B a t i f f o 1 dapat kita faham'i. T etap i.m langca tindjauan kita sekarang perkembangan. prinsip

nasionalitet dan prinsip domicilie, menariklah perhatian bahwa djuga dalam negara Perantjis sendiri, jang boleh dipandang se- agai ,,bakeimat daripada prinsip kewarganegaraan ini, telah

mu ai teidengar suara-' jang santar dan popitip jang menekankan kepada diperlakukannja hukum domicilie bersama. Perkara Bisbal

F r a n c e s c a k i;s, Ph. ijatatan dibawah keputusan D a m e M a - s i n o (Dawn Addams) c. suaiminja, President du Tribunal d s G rande Instance de la Seine 28-9-1959, RCD IP (1959), h. 504 d s t; djuga dalam . .Jurisprudence de droit international prive” Paris (1961) h. 358 dst,. p.h. 363 dan 365. .

•’) Lihat B a t i f f o I, Uni evolution possible de la copcoption du status personnel dans l’Europe Continentale, dalam XXth Century comparative and conflicts law, Legal Essays in honor ;of H e s s e 1 E. Y n t c m i (1961), h. 295, p.h. 301.

170

Page 185: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

ini boleh mem bawa kita pada kesim pulan, bahw a p rins ip nasio­nalitet di P eran tjis sendiri sedang m engalam i p roses diperketjil- kan bidangnja. 8G6)

260. Pertjeraian orang- asing oleli hakim Perantjis kadang2 tidak diakui dalam negara nasional jang bersangkutan.

P erkara B i s b a l m em perlihatkan bahw a adalah m ungkin bagi o rang2 asing jang bertem pat tinggal di P e ra n t j is un tuk m em peroleh perjera ian berdasarkan k e ten tu an 2 hukum P eran tjis . R upanja djuga sebelum putusan dalam pe rka ra Bisbal ini diutjap- kan oleh Cour de Cassation, bagi orang2 asing jang berd iam di Peran tjis adalah mungkin untuk m em peroleh p e r t je ra ian atas dasar'2 jang berlaku dalam hukum P eran tjis itu.

Salah satu tjontoh adalah apa jang dikemukakan dalam suatu perkara jang telah diadili oleh Arrondissem ents-Rechtbank di Den Haag pada tahun 1952 . 30,la) K eputusan ini telah disebut pula oleh L e m a i r e dalam karangannja tentang hubungan ,,nationaaF’ dan „internationaal” dalam H PI jang d iterb itkan dalam tahun 1961. 3C0b) Keputusan ini adalah tjontoh ten tang adanja hubung­an2 hukum jang „pintjang” (dalam istilah L e m a i r e : „luciupele reclitsvcrliouding”). 3G(ic)

Dalam keputusan ini kita saksikan bagaim ana sepasang suami-isteri jang keduanja berkew arganegaraan Belanda dan bertem pat tinggal di Perantjis , telah m em peroleh pe rtje ra ian dari Tribunal Civil de La Seine Paris dengan keputusan dari tahun 1935. Keputusan t je ra i ini diutjapkan berdasarkan keten­tuan2 dalam hukum Perantjis . Alasan jang dipergunakan ialah ,,kwaad\villige verlating” jang akan tetapi masih belum mem enuhi s jara t2 jang ditentukan dalam B.W. Belanda. P ertjera ian telah diberikan atas dasar ,,kwaadwillige verla ting” m enuru t liukum Perantjis, jang belum tjukup 5 tahun, seperti disjaratkan oleh B.W. Setelah pertjera ian ini pihak perempuan, H e l e n e , B.L.F., telah menikah kembali di Perantjis. Sang suami,

3«G) A tau : apakah hukum dom icilie bersam a inilah jang d ipergunakan k a re n a m erupakan hukum Peran tjis ? H al ini m asih boleh dianggap m eru p ak an suatu p e rtan jaan jang b slum d apa t did jaw ab se tja ra tegas.

iiGGu) A ir . R ech tbank s’G ravenhage, 18-6-1952, N .J . (1953) no. 356.3oob) L e m a i r e, In tem atio n aa l „en „na tionaal” in ons m terna tionaal prx-

vaa trech t, 8 N T IR (1961).. h. 240 dst. 241. acoe) Idem . p.h. 240.

171

Page 186: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

A r t h u r J.C.F., kemudian telah kembali kenegeri Belanda dan dalam tahun 1951 teiah ingin menikah lagi dengan seorang perempuan Belanda lain, J u l i a J.M.C. van den B. Tetapi oleh Arrondissements Rechtbank „stukken” jang diperlihatkannja untuk menikah lagi ini dipandang „ongenoegzaam” (tidak men- tjukupi). Pertjeraian jang telah diutjapkan oleh hakim Perantjis dipandang tidak sah adanja karena diutjapkan atas alasan jang tidak dikenal dalam B.W. Oleh karena itu Arthur hanja boleh menikah kembali setelah menuntut lagi pertjeraian daripada isterinja semula, Helene dengan siapa ia pada tahun 1935 sudah dianggap tertjerai menurut keputusan hakim Perantjis. Dan sbrgai alasan untuk tuntutan pertjeraian dihadapan Arrondisse- ments-Rechtbank Den Haag ini telah diadjukan dalil bahwa He­lene dipandang telah melakukan „perzinaan” dengan melangsung- kan perkawinan keduanja di Perantjis itu. Tentunja pihak Helene ini tertjengang sekali waktu mendengar bahwa ia telah dioer- salahkan melakukan perzinaan, padahal perkawinan keduanja di Perantjis itu hanja dilangsungkan setelah terdapat keputusan tjerai dari hakim Perantjis atas dakwaan dari pihak Arthur sendiri. Boleh di'katakan kedua pihak jakin bahwa mereka telah tertjerai setjara sah. Tetapi, rupanja tuntutan pertjeraian kedua kalinja dihadapan hakim di Den Haag ini adalah satu2nia dialan supaja Arthur dapat menikah kemibali deilgan Julia

Apa jang telah terdjadi ini sungguh mengetjewakan bagi r plh‘lkJ la" 6 bersangkutan, terutama tentunja

df p e r a t i i t SUamil;ja f " ? dengan siapa ia menikahf S n r n f " kwalitikasi „overSi>el” ditindjau dari

kakan o i l I ..ethisch”, tetapi seperti telah dikemu-jang mungkin -J ^ agaimana halnja dengan status anak-jang kedua i t u ’ A n W a r i .,perhubungan perkawinan Heleneanak- jang dilahirkaiwlai ' ^ PUn akan tliPandang sebagai daripadanja ? dalam Perzi»aa»> dengan segala akibat

hukum31 L n tar^pihak-^^an ^U ?31 b^ ? a pintjangnJa hubungan-telah diutjapkan oleh hakhn Ppra i r an mL Keputusan janSsangkutan bertemnat t l Z i■ £ J1S W °VangJ asillg ber' dalam negara nasirmai n • i PerantJ’ls ternjata tidak diakui m nebaia nasional danpada orange bersangkutan sendiri.17 2:

Page 187: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Soperti dalam perkara F e r r a r i, k ep u tusan dari hakim P eran tjis tidak akan diakui di Italia, sek a ran g ini k ita saksikan bahwa keputusan P eran tjis dalam p e rk a ra A rth u r-H elen e te lah tidak diakui oleh hakim Belanda.

D ilihat dari segi ini tam bah bera lasan lah ketjam an jan g te lah d iperdengai’kan oleh B a t i f f o l te rhadap kep u tu san B i s ­b a l . Dan berhubungan dengan itu adalah pada tem p a tn ja pula bila diadakan pem batasan te rten tu te rhadap kem ungkinan- tje ra i oleh orang- asing m en u ru t hukum P eran tjis b e rten tan g an dengan hukum nasional dari m ereka sendiri.

A danja pem batasan ini akan kita saksikan kem udian pada pem bitjaraan keputusan M a s s i m o - D a w n A d a m s jan g ' akan m enjusul dibawah.

261. Petomdjuk- dari kearah ini.

Tendensi un tuk lebih m enguatkan hukum jang berlaku pada tem pat dom icilie bersam a dari pai'a pihak, te rn ja ta pula daripada perkem hangan lain, jang njata telah berlangsung di P e ran tjis dalam w aktu achir1- ini. B erkenaan dengan s jara t- m ateriil un tuk dapat m enikah jan g seperti d iketahui te rm asuk bidang status personil, dalam tahun 1955 dapat kita saksikan adan ja suatu instruksi adm inistratip jang d ikeluarkan di P eran tjis . M enurut instruksi ini m aka berkenaan dengan s ja ra t- m ateriil dari o rang2 asing jang berkediam an d i P eran tjis ini, bolehlah dipergunakan sadja hukum P eran tjis . A tas perm in taan daripada para m em p e la i , pendjabat nikah di P e ran tjis ini dapat m elangsungkan perkaw inan m enuru t hukum m ateriil P eran tjis . :,,5T) Dengan dem ikian kita saksikan adanja hasrat untuk m em perm udah dilangsungkannja perkaw inan1-, walaupun m enuru t hukum nasional daripada pihak bersangkutan dan m ungkin pula m enuru t badan- perad ilan , pei- kaw inan jang dilangsungkan ini akan m engalam i risi'ko tidak akan diakui sebagai sah. Para pendjabat nikah m em peiingatkan para m em pelai ten tang adanja kem ungkinan tidak-diakui ini. T etapi atas desakan daripada para m em pelai asing ini, ,,p e rk a­w inan” an tara m ereka toh akan dilangsungkan oleh pendjabat- nikah itu.

In struksi um um tentang T ja ta lan Sipil, 21-9-1955, pasal 465, R C D IP (1955), h. 547.

173

Page 188: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

A r t h u r J.C.F., kemudian telah kembali kenegeri Belanda dan dalam tahun 1951 telah ingin menikah lagi dengan seorang perem puan Belanda lain, J u l i a J.M.C. van den B. Tetapi oleh Ari’ondissements Rechtbank ,,stukken” jang diperlihatkannja untuk menikah lagi ini dipandang „ongenoegzaam” (tidak men- tjukupi). Pertjeraian jang telah diutjapkan oleh hakim Perantjis dipandang tidak sah adanja karena diutjapkan atas alasan jang tidak dikenal dalam B.W. Oleh karena itu Arthur hanja boleh menikah kemibali setelah menuntut lagi pertjeraian daripada isterinja semula, Helene dengan siapa ia pada tahun 1935 sudah dianggap tertjerai menurut keputusan hakim Perantjis. Dan sb?gai alasan untuk tuntutan pertjeraian dihadapan Arrondisse- ments-Rechtbank Den Haag ini telah diadjukan dalil bahwa He­lene dipandang telah melakukan „perzinaan” dengan melangsung- kan perkawinan keduanja di Perantjis itu. Tentunja pihak Helene ini tertjengang sekali waktu mendengar bahwa ia telah diper- salahkan melakukan perzinaan, padahal perkawinan keduanja di Perantjis itu hanja dilangsungkan setelah terdapat keputusan tjerai dari hakim Perantjis atas dakwaan dari pihak A rthur sendiri. Boleh dikatakan kedua pihak jakin bahwa mereka telah tertjerai setjara sah. Tetapi, rup.anja tuntutan pertjeraian kedua kalinja dihadapan hakim di Den Haag ini adalah satu2nja djalan supaja Arthur dapat menikah kemibali dengan Julia.

Apa jang telah terdjadi ini sungguh mengetjewakan bagi perasaan hukum pihak2 jang bersangkutan, terutama tentunja dari Helene dan suaminja jang kedua dengan siapa ia menikah di Perantjis. Bukan sadja kwalifikasi „overspel” ditindjau dari segi moril adalah tidak „ethisch”, tetapi seperti telah dikemu­kakan oleh L e m a i r e, bagaimana halnja dengan status anak2 jang mungkin dilahirkan dari perhubungan perkawinan Helene jang kedua itu ? Apakah anak2 itu pun akan dipandang sebagai

daripadanja ? PCTZinaan’ dengan Segala akibat

Dan tjontoh mi dapat kita Jihat betapa pintjangnja hubungan-hukum antara pihak- jang bersangkutan ini. Keputusan jangtelah diutjapkan oleh hakim Perantjis karena orang2 asing ber­sangkutan bsitempat tinggal di Perantjis ternjata tidak diakui dalam negara nasional daripada orang2 bersangkutan sendiri.

1 7 2 :

Page 189: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

S eperti dalam perkara F e r r a r i, kep u tu san d ari hakim P e ran tjis tidak akan diakui di Italia, sek a ran g ini k ita saksikan bahwa keputusan P e ran tjis dalam p e rk a ra A rth u r-H elen e te lah tidak diakui oleh hakim Belanda.

D ilihat dari segi ini tam bah bera lasan lah ketjam an jan g te lah d iperdengai'kan oleh B a t i f f o 1 te rh ad ap k ep u tu san B i s * b a l . Dan berhubungan dengan itu adalah pada tem p a tn ja pula bila diadakan pem batasan te rten tu te rh ad ap kem un g k in an 2 tje ra i oleh orang- asing m en u ru t hukum P eran tjis b e rten tan g an dengan hukum nasional dari m ereka sendiri.

Adanja pem batasan ini akan kita saksikan kem udian pada pembitjaraan keputusan M a s s i m o - D a w n A d a m s jan g ' akan m enjusul dibawah.

261. Petundjuk-- dari kearah ini.

Tendensi un tuk lebih m enguatkan hukum jang berlak u pada tem pat dom icilie bersam a dari para pihak, te rn ja ta pula daripada perkeimbangan lain, jang n ja ta te lah bex’langsung di P e ran tjis dalam w aktu achir1- ini. B erkenaan dengan s ja ra t2 m a te riil un tuk dapat m enikah jan g seperti d iketahu i te rm asuk bidang status personil, dalam tahun 1955 dapat k ita saksikan adan ja suatu instruksi adm in istra tip jang d ikeluarkan di P eran tjis . M enurut instruksi ini m aka b erkenaan dengan s ja ra t2 m ateriil dari o rang2 asing jan g berkediam an di P eran tjis ini, bolehlah d ipergunakan sadja hukum P eran tjis . A tas perm in taan daripada para m em pelai, pend jaba t nikah di P e ran tjis ini dapat m elangsungkan perkaw inan m enuru t hukum m ateriil P eran tjis . :,0T) D engan demi'kian kita saksikan adan ja hasrat un tuk m em perm udah dilangsungkannja perkawinan'-, w alaupun m en u ru t hukum nasional daripada p ihak bersangku tan dan m ungkin pula m enuru t badan- perad ilan , pe i- kaw inan jang dilangsungkan ini akan m engalam i risi'ko tidak akan diakui sebagai sah. Para pend jabat nikah m em peringatkan para m em pelai ten tang adanja kem ungkinan tidak-diakui ini. T etap i atas desakan daripada para m em pelai asing ini, ,,p erka­w inan” an tara m ereka toh akan dilangsungkan oleh pendjabat- nikah itu.

;U!7) In struksi u m um ten tang T ja ta tan Sipil, 21-9-1955, pasal 465, R C D IP (1955), h. 547.

173

Page 190: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Disini kita melihat sekali lagi suatu tjontoh dari tendensi untuk memperlcuat berlakunja hukum dari tempat kediaman para pihak (Perantjis), dengan mengurangi batas berlakunja hukum nasional.

262. Pertjeraian orang asing dihadapan hakim Perantjis.Suatu persoalan lain jang berhubungan pula dengan faktor

kediaman di Perantjis dalam soal- pertjeraian dapat kita saksi­kan pada perkara2 dimana orang- asing mendjadi pihak. Dalam perkara B i s b a l , jang telah kita ketemukan diatas kedua pihak suami-isteri adalah orang2 asing jang mempunjai domicilie ber- sama di Perantjis. Sekarang timbul persoalan pula bagaimana kiranja harus diselesaikan peristiwa pertjeraian jang diadjukan di Perantjis oleh salah satu pihak orang asing jang berkediaman di Perantjis terhadap pihak lain (orang asing pula) jang berdomi­cilie dinegara lain. Apakah tendensi jang dikemukakan oleh hakim tertinggi di Perantjis dalam perkara B i s b a l tadi, djuga dapat diteruskan dalam hal2 dimana hanja salah satu pihak telah berdiam di Perantjis ? Djika demikian halnja, maka pasti akan bertambahlah dalam praktek perkara2 pertjeraian jang akan diadjukan oleh para kandidat-tjerai jang chusus melakukan „forum shopping” di Perantjis !

263. Perkara Massimo — Dawn Addams.

Salah satu peristiwa jang menarik perhatian dalam hubungan ini adalah perkara tjerai jang baru '2 ini telah diadjukan oleh aktris Inggris kenamaan D a w n A d d a m s terhadap suaminia M a s s i m o , Perkara D a m e M a s s i m o c. s o n m a r i telah diputus oleh President du Tribunal de Grande In s to re la Seine dalam tahun 1959. Stance de

264. Duduknja perkara.

Tuan M a s s i m o adalah seorang warganegara Italia ian* berkediaman di Italia, 145 Corso Vittorio Emmanuel Roma Pad? <ahun 1954 ia telah menikah di Roma dengan aktris D a w 'n A d d a m s jang berkewarganegaraan Inggris. Domicilie ber­sama mereka setelah perkawinan itu ialah di Roma pada alamat

368) President du Tribunal de Grande Instance de la Seine, 28-9-1959 R C D IP(1959), h. 504 d st.; djuga dikutip dalam F r a n c c s c a k i s Ph’Jurisprudence de d.i.p. (1961), h. 358 dst.

174

Page 191: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

te rseb u t tadi. D alam tahun 1958 para p ihak te lah m enghadap pada P residen P engadilan di Rom a u n tu k m em p ero leh suatu k e te tap an bahw a m ereka boleh h id u p te rp isah . K aren a tid ak d apat d iadakan perdam aian lagi a n ta ra k edua p ihak m aka oleh P engadilan Rom a itu te rn ja ta te lah d ib e rik an k e te ta p a n te rse b u t. K em udian kita saksikan bahw a N jo n ja D awn A ddam s te lah datang ke P e ran tjis dan b e rtem p at tinggal disana, pada a lam at 5 ru e de B agatelle di N euilly-sur-Seine. Ia te lah m em pero leh „ ca rte de se jo u r” (kartu kediam an, k a rtu penduduk) sem en ta ra , ja n g berlaku dari 22-4-1959 sam pai 21-4-1960. K ep adan ja d juga d ib e ­rikan ,,carle de trava il” (kartu izin bekerd ja) sebagai seo ran g artiste . T etapi p ihak suami Massimo te tap berd iam di Ita lia , tidak tu ru t berp indah dom icilie ks Italia.

Kini N jonja Massimo-Dawn A ddam s te lah m em ad jukan gu ­gatan tje ra i te rhadap suam inja itu d ihadapan T ribunal d.e G rande • Instance del a Seine.

Apakah gugatan ini dapat berhasil ? H ukum m anakah jan g harus d ipergunakan ? Djika d ipergunakan hukum nasional d a ri­pada para pihak m aka p e rtje ra ian tidak akan dapat d ilangsung­kan. Hukum nasional dari p ihak suami, hukum Italia , tidak m em peroleh p ertje ra ian . H ukum daripada pihak is te ri sendiri, hukum Inggris, djuga tidak akan dapat m enghasilkan p e rtje ra ian . D jika pe rk ara ini d iad jukan di Inggris m aka hakim Inggris tidak akan dapat m engadili p e rk ara ini. M engapa tidak ? Oleh karena m enuru t H P I Inggris jang kom peten t un tuk m engadili perkara ini se-mata- ialah hakim dari tem pat dom icilie pihak suami. •!(!!’> Dan domicilie dari suam i Massimo ialah di Italia.

265. P en d irian hakim P eran tjis .

K ita saksi'kan bahwa hakim P eran tjis jang dim inta untuk m engadili perkara ini telah dapat meloloskan diri daripada pem- berian djaw aban atas hukum jang harus d ipergunakan dalam m engadili perkara p ertje ra ian ini. Hal ini disebabkan karena

309) L ih a t C h e a l h i ire , h. 385 .Since a w ife takes the dom icil o f h e r husband upon m arriage, the sole question in e a c h case is w h eth er the husband' is dom iciled in England at the tu n e o f the suit. N o th in g else is im p o rta n t” . ..S elandju tn ja : „M oreover, it is im possible fo r the w ife to acquire du ring the subsistence o f th e m arriag e a d iffe ren t dom icil fro m th a t o f h e r husband . Even a decree o f jud ic ia l separation does not co n fe r this liberty upon h e r” .

175

Page 192: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

hakim terlebih dahulu telah memeriksa persoalan apakah ia kompetent untuk mengadili perkara ini. Hakim Perantjis ternjata telah menganggap dirinja tidak berwenang untuk mengadili perkara ini. Dan ke-tidak-wenangan ini telah diutjapkannja „ex officio” . Karena gugatan diadjukannja bukan pada tem pat di­mana pihak tergugat mempunjai domicilienja, maka President du Tribunal de Grande Instance de la Seine telah menjatakan diri tidak berwenang untuk menerima gugaTan tjerai jang diadjukan oleh Njonja Massimo-terlahir Dawn Addams ini.

266. Menjatakan diri tidak berwenang „karena djabatan” .

Beberapa hal menarik perhatian dalam rangka pembitjaraankita.

Djika kita bandingkan dengan pei'kara B i s b a l jang telah dibahas diatas, dapatlah disaksikan bahwa dalam perkara sekarang ini hakim Perantjis telah menjatakan dirinja setjara „ambtshalve” tidak berwenang. Dan dalam perkara Bisbal tadi Cour de Cassation telah mengemukakan bahwa kaidah2 hukum HPI Perantjis jang menentukan hukum manakah harus dipergu­nakan, tidaklah merupakan sesuatu jang harus dipergunakan setjara „karena djabatan” (berhubungan dianggapnja tidak ber- sifat „ordre public”). Djadi disini kita saksikan adanja suatu perbedaan appresiasi daripada hakim Perantjis m engenai bila­mana dapat diperlakukan sesuatu kaidah hukum setjara ex officio” atau tidak. Dalam tjatatan dari B a t i f f o l pada ke­putusan Bisbal tadi, telah dikemukakan pula hal in i.3™)

267. Mentjegah „forum shopping”.

01t h frB 3 fvf ° I dlsetudjui sepenuhnja apa jang sudah dikemukakan oleh F r a n c e s c a k i s ^ ) dalam tjatatannja dibawah keputusan Massimo ini. Jang belakangan ini telah me­ngemukakan bahwa keputusan dari President du Tribunal de Grande Instance de la Seine ini adalah penting untuk menghin- darkan bahwa orang- asing jang menganggap bahwa di Perantjis akan dapat lebih mudah bertjerai akan datang kesana, chusus untuk minta pertolongan hakim Perantjis. Karena hakim Peran-

370) RCD IP (1960), h. 63 dst, p.h. 65.371) RCDIP (1959), h. 506 dst.

176

Page 193: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

tjis dalam perk ara Massimo telah n ien ja tak an d irin ja berw enang berw enang untuk m enerim a gugatan tje ra i ini tidak berhasillah usaha ,,1'orum shopping” jang d ikehendaki. Sebelum d iadakan perubahan pada teks K itab H ukum A tja ra P e rd a ta b e rsan g ­ku tan :!T-) te rd ap a t .bjihaja bahwa hakim P e ra n tjis tidak akan m engutjapkan d irin ja tidak berw enang karen a d jabatan . M enuru t ke ten tuan jang lam a maka suatu badan p e rad ilan P e ra n tjis w ad jib un tuk m enerim a sem ua tu n tu tan jang d iad jukan p ad an ja apabila pihak te rg u g a t tinggal diam dan tidak m en g ad ju k an pem belaan . D engan dem ikian akan terbukalah kem ungkinan bagi o ran g 2 asing untuk m em peroleh p e rtje ra ian d ihadapan hakim P e ra n tjis , sedangkan hal ini tidak akan m ungkin m en u ru t hukum nasional jan g berlaku bagi mer-eka. P erk ara jang d iad jukan oleh N jon ja Massimo-Dawn A ddam s ini oleh B a t i f f o l d ipandang sebagai salah satu tjon toh bagaim ana o rang 2 asing dapat berusia un tuk m em pero leh p e rtje ra ian di P eran tjis , sedangkan p e rtje ra ian ini tidak akan m ungkin, baik m en u ru t hukum nasional d a ri p ihak suam i m aupun dari pihak istre ri. B ahaja lain jang akan tim bul b ilam ana dapat berhasil tu n tu tan tje ra i sep erti d iad jukan oleh N jon ja Massimo ialah bahw a akart'laertam bahlah te rd jad in ja pem- bikinan dom icilie pur a- di P e ran tjis jang d im aksudkan un tuk m engelakkan hukum '2 nasional send iri jan g dianggap tidak tjo tjok un tuk tu d ju an pihak jan g hendak m en tja ri p e rtje ra ian .

268. Perbandingan dengan keputusan3 lainnja.

D jika diadakan perband ingan dengan arrest-F e r r a r i m aka n ja ta lah bahw a tidak lah dapat d ipergunakan sedikitpun alasan2 dalam perk ara klassik itu un tuk m enolong Dame Massimo. B ukankah pada perk ara F e rra r i ini k ita m enghadapi suatu pei- soalan dim ana p ihak perem puan j a n g , m enghendaki p e rtje ra ian m erupakan seorang w arganegara Perantjis ? Dalam p erk a ia Massimo pihak is te ri adalah w arganegara Inggris.

D juga p e rk a ra R i v i e r e dan L e w a n d o w s k i tidak akan dapat mem bawa pegangan bagi N jonja Massimo im. Satu dan lain karena dalam perk ara 2 te rsebu t kita bekerd ja dengan p en g ertian „dom icilie com m un” . Dalam perkara Massimo seka­ran g in i, kita sa k sik a n bahwa dom lcilie-bersam a ini adalah

P asal 171 N ouveau d ari C ode de P rocedure Civile, m en u ru t b u n jin jase d ja k 2 2 -1 2 -1 9 3 8 .

177

Page 194: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

domicilie di Roma. Djadi walaupun terdapat persamaan antara perkara Riviere, Lewandowski dan Massimo sekarang ini dalam hal bahwa suami-istcii semuanja mempunjai kewarganegaraan jang berbeda, tidaklah dapat dipergunakan hasil- perkara** jang disebut lebih dahulu ini, karena pada perkara jang tcrachir tidak terdapat domicilie bersama di Perantjis. Dalam hubungan pembitjaraan mi F r a n c e s c a k i s telah menundjuk pula kepada arrest dari Cour de Cassation dalam perkara B i s b a l jang sudah kita saksikan diatas. Menurut keputusan itu dua orang asing, suami-isteri jang keduanja berkewarganegaraan Spanjol telah berhasil untuk memperoleh pertjeraian dari hakim Perantjis, karena mereka ini ke-dua2nja berdomicilie-bersama di Perantjis. Perkara ini terang telah mementingkan hukum domi­cilie diatas hukum nasional, sedangkan toh di Perantjis masih berlaku prinsip nasionalitet. Tetapi kiranja perlu diperketjil kemungkinan2 ini untuk perkara- tjerai sematjam ini. B a - t i f f o 1 telah mengetjam keputusan dalam perkara B i s b a l . Dan untuk menghindarkan bahwa akan bertambah meradja-lela kemungkinan2 untuk mengadakan pertjeraian oleh orang- asing jang masuk ke Perantjis chusus dengan. tudjuan untuk memper­oleh pertjeraian ini, perlulah diadakan sortering daripada perkara- mana jang masih boleh diterima dan perkara2 mana iang tidak dapat diadili di Perantjis. Dalam hal ini djanganlah soal2 kompetensi hakim digantungkan kepada kehendak bebas dari para pihak bersangkutan (la volonte des parties). Karena diika dikomhinasikan ketjondongan kearah pementingan daripada domicilie dengan kebebasan daripada para pihak untuk menentu­kan forum jang kompeten, maka akan terdapatlah di Perantiis ini „une ’usine’ de divorce au profit des ressortissants des nave qui l’interdisent” . 37r’)

Oleh karena itu F r a n c p t m a t H , * i • •rian hakim dalam perkara Massimo ini .mt enj JU1 PencIi- .• , 1 ' ' iIVCUrt ^assimo ini untuk menerangkan s p -

tjara karena djabatan” (declarer d’office) bahwa sang hakim Perantjis adalah tidak-kompeten untuk mengadili.perkar? im

373) F r a n c e s c a k i s , o.c. h. 364.37i) Idem, p.h. 365.375) F r a n c e s c a k i s o.c h 365 kursip kami. Terdjem ahan: suatu

pabrik tjerai jang besar dem, keuntungan daripada angsota negara* jang melarangnja . 1 b

178

Page 195: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Demikian te lah kita sadjikan diatas ini p e rk a ra 2 m engenai p e rtje ra ian daripada suami-isteri jan g berkew arganegaraan b e r­beda dan dari o rang 2 asing jang m erupakan „causes ce leb res” dalam ju risp rudensi Perantjis. Kita perlu m em perlia tikann ja, karena dalam ;perkara2 jang telah disebut ini ( F e r ' r a r i , R i v i e r e , L e w a n d o w s k i, B i s b a l dan D a m e M a s - s i m o - D a w n A d d a m s) dapat kita saksikan se tja ra tegas perkem bangan daripada hubungan an tara hukum dom icilie dan hukum nasional sepandjang berkenaan dengan p e rtje ra ian dalam. ju risp ru d en si di Perantjis. Kita telah m erasa dapat d ipertang- gung-djaw abkan untuk m em perhatikan pula ju risp ru d en si ini (lalam rangka pem bitjaraan kita m engenai prinsip dom icilie dan prinsip kew arganegaraan, karena negara P eran tjis ini d justru-lah m erupakan negara jang terkenal sebagai „ben teng” daripada p rinsip nasionalitet, negara dimana untuk pertam a kalinja telah d itje tuskan prinsip nasionalitet ini dan kem udian diperkem bang- kan lebih d jauh dengan mem p'engaruhi ban jak sekali negara2 la inn ja d iseluruh plosok dunia. D juga kita di Indonesia ini, sep e rti d iketahui, telah m enerim a prinsip nasionalitet karena adanja pengaruh Code Civil P e ran tjis ini, jang telah dioper oleh negeri Belanda, dan berdasarkan prinsip konkordansi kem udian te lah d iterim a pula di H india B elanda dan diw arisi oleh Indonesia sekarang.

P erkem bangan ini m em perlihatkan bahw a prinsip kewarga- negaraan d inegara jang m erupakan tem pat asal-usul kelahirannja sendiri, te lah te rpaksa m engalam i berbagai pelem butan. s,ti) Konsesi- te r te n tu telah harus diberikan. H ingga b e ra la sa n la h djuga bagi k ita un tuk m engadjukan pertan jaan , apakah apa jang dikem ukakan oleh K o l l e w i j n tiefek kurang 33 tahun

269. Kesimpulan.

B a ru 2 ini L e m a i r e te lah m engem ukakan p u la visie jang serupa, lih a t kaxangann ja „ In te rn a tin a a l” en „n a tio n aa l” in ons in te rnationaal p r iv aa trec h t” , d a lam 8 N T IR (1961), h. 240, p.h. 245 : ,,D it w o rd t geillustreerd d o o r de in m ijn ogen op gang gekom en verschum ng^ die regels v o o rr onderw erpen v an fam ilirech t van he t nationahteitsbegm sel n a a r h e t dom iciliebeginsel doorm aken” . G ele t op w at p laats vrad t, g aa t h e t n ic t m e e r o m o f nationaliteitsbeginsel o f h e t dom iciliebeginsel, m a a r om een gu lden m idden. In he t algem een b lijft het nationaliteitsbeginsel staande , m a a r d e strenge ongeclausuleerde toepassing d aa rv an m o et w o rd en afgew ezen” . V oor bepaalde kw esties is de w oonplaats (p laats v an v o o rtd u re n d verblijf) als localisatiefactor verkieselijk” .

179

Page 196: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

b e t f b a ® a i \e k ^ insij:) ,iasionalite! in i m em perlihatkanperlu untuk d t t S . T l1- u '? ek P ^ a n a a n hukum , tidak

dalam [angka „cn,binaann a s i o n a l s e L S ini : L r f g l n e g a ™ k ita d a la m a lamprinsip kew areanpaarfa •' • )(rn &au la:n p erk a ta a n : A pakah H FI-Indonesia ? n m i m asih p er lu d ip erta h a n k a n untuk270. Perkembangan dilain bidang.

sekitar pelem butan^hpHat38 -elah kita saksikan perkembangan

■ t o t o i i f u L ™ r a « ™ tohhur ,la da,i adanj„adan pertjeraian kita saksikan adanja k o S tp rS "? perkawina" diberikan oleh prinsip nasionalitet kepad, n S Lu P®1.1" Djuga dibidang hukum kekeluargaan lam nS £ ? P dT 1C masalah perwalian dapat kita saksikanadani’a to f " 83-" i f f akan memberikan illustrasi dari hal ini ripno endensi ini. Kita wah, suatu perkara jang pada waktu achir'^ membalias diba-lalah peristiwa anak Bo l l . :i7!<) 1 senngkali disebut,271. Perkara B o l l .

Perkara anak B o l l telah menarik- i daripada kalangan para sardjana hukum i ? lan J’anS besar __________ 11UKUm internasional. :i7») Per-

Pertanjaan ini kita akan kupas lebih dinnh 1 Keputusan H of International di Den H a™a 1 application de la Convention de 190? n „Affaire relativeB d T n T , ,aS, C' S“i de’’ Pour regler la tutelle desDclgk. B a t i f f o l dan F r a n c e ^ r v *in ternationale d e Justice et sa con trih ,,fL „ ^ L ’a ,rS t Boll de La r m i r tional prive. da lam X L X III R C D IP f theorie du d ro it inW nn-

?an Justice, ^ ^ " a S n S l e H of

tions de dro it international prive ‘m itatlon ^ dom aine d e s 1 m & C m tenationale d e Justice du 28 novem hi, pijopos de 1’arret d e u n

cation d e Ia C onvention de 1902 nonr / , ans l ’a ffa ire relativp ' i>* V-1 ,,Ius et L ex ”. F estgabe M , * ? ? ur ™8Ier la tu telle e a 1 *ppl1’

(La neuvieme session dela\onV * * r’ Basel prive V III NTfR ( i nJi, conference de l-> h .

K„ The Hague c o n ^ i Z l V r , ^ } ' h‘ 3 1 dst., p h . ^y f ^ de droit law and public policy. 8 IOLO lnternationaI h w / P,s t c ‘ n ’La protection des mineuxs daas l ^ ’ ' . 506 ds t- ; V i tT n Tf L,'^ h. 361 dlsf. p.h. 365 dst w roit international v S i x’ B 61 a ’ notes sur la Conference de’ l a 1 r a ‘ e n, m h v n ^ (1,960)’ NTTO ( I 9 « ) . h. 60 * t , *.h « " “& *

»77)STS)

379)

180

Page 197: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

soalan jang berkenaan dengan pemeliharaan daripada seorang anak libawah umur ini telah sampai mendjadi pokok sengketa antara pemerintah- dari dua negara berdaulat jang achirnja telah minta pertolongan daripada Mahkamah Internasional di Den Haag. Keputusan jang diberikan oleh Mahkamah ini diutjapkan pada tanggal 28-11-1958. Tidak sering Mahkamah Internasional ini telah diberikan kesempatan untuk menelaah persoalan- jang berkenaan dengan masalah- HPI. Perkara- jang banjak diadjukan kehadapan Mahkamah tersebut ialah peikaia- jang beisifathukum publik. Perkara B o l l ini adalah untuk kedua kalinja bahwa soal2 HPI telah didjadikan bahan penelitian oleh Mah­kamah tersebut. Perkara jang pertama ialah dan tahun 1929, berkenaan dengan hutang- Servia dan Brazillia J»") Untuk hubungan pembitjaraan kita arrest dari Mahkamah Agung Intei- nasional jang terdiri dari 16 hakim- Agung ini menan pei a lan, karena dengan djelas kita saksikan bagaimana prinsip ewaiga negaraan jang telah dipergunakan sebagai dasai anpa a Perdjandjian tentang perwalian Den Haag pada tahun , e a tidak memenuhi kebutuhan dalam praktek. Pelaksanaannja telah memperlihatkan .berbagai kesulitan jang mengakibatkan bavwa orang mendjadi lebih tjondong kearah hukum daripada domici lepihak anak jang bersangkutan.

bitjaraan kita dibawah ini.

muv possess the eharaeiu between States. But apart fro rules form pnr< (,f nll,iucl’1

181

Page 198: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

M a r i a E l i s a b e t h p n n * > . tanggal 7-5-1945 di NorkoDnins? (<* CJ kan pac,aE 1 i s a b e t h L i „ d w Ibun>a' G e r "ganegara Swedia. Ajahn/a adalah r!!'? peremPuan war'seorang warganegara Belanda f 11 n e s B o l l ,seorang warganegara Belanda Ninnin t6^ p f ’kawinan dengankewarganegaraan Belanda. Hal ini adalnl men,Perolehtuan dalam undang2 kewarpmorro alab sesuai dengan keten* (N.S. 1892-268 pasal 5) Tpfan" Belanda dari tahun 1892raan Swedia fang be' lak Jp ^ ” t“ UrUt ,U"t,a"g2 Kewarganega- kan (dari tahun 1924) maw ” " Perka™ a n itu dilangsimg-mempertahankan kevvarganegaS ters1! but telah tetaPsang ibu ini telah w f ^aiaan Swedianja. Dengan demikian Swedia dan warganegara ra"gltaP’ warganeSara

vvarganegarat^Rp?11? ^ t3'^ Maria EIisabeth BolL han.ia berke- Swedia dan di 3' tldak memperoleh kewarganegaraan Swedia j a n g Undang2 darioleh kewarganegaraanVwedia.1 ^ ’ * ‘k'a'< aka" ''aPat meml,e'"

tjaraan.n kita atah U.nt,L'k (UP f 'batikan PLlla daIani ranSka pembi- menerus teiai ? bahwa Pihak ibu dan anak ini setjara terus- Ialah Snwi f n ' p tinggal dan berkcdiaman didalam \vi iqco *a- VJll§a tatkala sang ibu meninggal dunia pada 5-12-toggal di Swed?aEllSab8th itU tCtaP berada disana' SanS aJah Pl»n

man Tatkc?Ia sanS ibu meninggal pada tahun 1953, sesungguhnia rl'h v. kum Belanda, anak Maria Elisabeth mendjadi berada

0 Iian dariPada ajahnja. Demikian ditentukan oleh pasal 378 B.W. Belanda.382) Tetapi kita saksikan bahwa mda anggal 18-3-1954 sang ajah telah memadjukan permohonan kej

pacla Pengadilan di Norrkoping agar supaja ia ini ditjatat sebnpai ah dari anak Maria Elisabeth.3S:!) Hal ini didasai’kan atas

jj®1) Lihat K o l l e w i j n , o.c., h. 311.oH i Untuk pasal ini lihat B.W. Ned. dalam Fruin, himpunan Kitaba

) Untuk perintjian fakta2 ini, lihat setjara chronologis, B a t i f f iF r a n c e s c a k i s , o.c. h. 261 dst. Lihat djuga Affaire r u a Im plication de la convention de 1902 pour regler la tutelle d=s (Pays-Bas c. Suede), Arret du 28 Novembre 1958 : C.I.J Recueil ( m s H a m b r o , E d v a r d , The case law of the International Court' (La jurisprudence de la cour Internationale), II (1952-1958), Leyden (1960) no. 46 dst.

272. Duduknja perkara.

1 8 2

Page 199: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

k e ten tu an 2 dalam hukum Swedia. P engad ilan N orrkop ing te rn ja ta te lah m engabulkan p en tja ta tan sang a jah sebagai w ali ini. A kan te tap i, hal ini sesungguhnja adalah suatu kek eliru an .

M engapa suatu kekeliruan ? Oleh k a ren a seb en a rn ja bukan hukum Swedia-lah jang harus d ipei'gunakan dalam perw alian te rseb u t. Hal ini dapat kita saksikan d a ri k e t e t a p a n P en g ad ilan N orrkoping itu pula jang diambil pada tanggal 16-9-1954. M enu­ru t ke tetapan kedua ini perw alian tidak akan te ru s d ilaksanakan m en u ru t k e ten tu an 2 dalam hukum Swedia. T e tap i pada kesem - patan itu pula telah dikuatkan lagi pengangkatan daripada em bah M aria E lisabeth, jakn i E m i l L i n d w a l l (ajah d a ri ibu anak tersebut) untuk te tap bertindak sebagai cu ra to r (god m an) dari anak tersebut. Sang em bah ini telah diangkat sebagai cu ra to r dengan ketetapan pertam a dari Pengadilan N orrkoping (dari 18-3-1954). Perm ohonan untuk m en tjabu t kedudukan sebagai cu ra to r dari Em il Lindwall ini te lah ditolak, karen a ia ini te rn ja ta telah berhasil- un tuk m em buktikan bahw a di Swedia te rd ap a t benda- jan g ditinggalkan oleh sang ibu dan bahw a an ta ra sang ajah dan anak te rseb u t te rd ap a t perbedaan kepentingan . K arena adan ja perbedaan kepen tingan an ta ra sang ajah dan anak, bera lasan lah un tuk m engangkat suatu cu ra to r un tuk m engaw asi kepen tingan daripada sang anak jan g m asih dibaw ah um ur. P engangkatan cu ra to r ini dianggap harus d iten tukan m enuru t hukum Swedia karena harta peninggalan d a ri sang ibu m enuru t H PI Swedia d ia tu r oleh Hukum Swedia. K em udian kita saksikan bahw a cu ra to r in i te lah d itjab u t dari d jabatann ja . T etap i ini baru dilakukan dengan kepu tusan M ahkam ah Swedia dari 2-7-1955. H al ini te lah dilakukan karen a m en u ru t M ahkamah A gung Swedia perw alian bersangku tan harus d ia tu r oleh hukum Belanda.

Apa jan g disadjikan diatas belum m erupakan pokok sengketa sebenarn ja . K o l l e w i j n berkata dalam hubungan ini : „Dit alles was ech ter slechts een voor-en tussenspel” . 3S4) Jang m en­d jad i ,.wei’kelijke dram a” ialah keputusan dari P residen t Dewan P erlin d u n g an A nak2 dari N orrkoping tertanggal 26-4-1954. D engan kepu tusan itu kita saksikan bahw a anak perem puan M aria E lisabeth telah diberikan „perlindungan” oleh Dewan te rseb u t dan un tuk sem entara diberikan tem pat' tinggal pada

384) K o l l e w i j n , o.c. b. 311.

183

Page 200: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

gurunja, hingga telah diselidiki setjara pschyshatrisch. Anak ini d ita roh ' dibawah pendidikan jang bersifat melindungkan (skyddssuppfostran ; ,,1’education protectrice”, 3S •) „beschermen- de opvoeding”, 38°) p ro tec tive upbringing”. 38fl'>) Lembaga ini diatur dalam Undang2 Swedia dari 6-6-1924. Jang mendjadi dasar untuk keputusan ini ialah bahwa pihak ajah dianggap tidak patut untuk tetap mendidik anak tersebut. Apa jang mendjadi sebab2 mengapa pihak ajah dianggap tidak patut itu tidak diberitahukan lebih djauh.

Kemudian oleh Dewan untuk Perlindungan Anak- ini telah dibenarkan keputusan daripada Presiden Dewan tersebut (kepu­tusan 5-5-1954).

Tetapi kita saksikan bahwa anak tersebut dalam waktu 2 bulan sedjak Presiden Dewan Perlindungan Anak- memberikan keputusannja itu, diserahkan kepada embahnja, Emil Lindwall, untuk dipelihara lebih djauh. Anak tersebut sedjak itu tetap ber- diam didalam rumah dari embahnja dan dibesarkan pula disitu.

Pada tanggal 2-6-1954 terdapatlah interventie pertama berupa suatu ketetapan dari hakim Belanda. Oleh Kantonrechter dari Amsterdam telah diangkat J a n A 1 b e r t u s I d c m a, seorang warganegara Belanda jang berdomicilie di Dordrecht', Nederland sebagai wali-pengawas (tocziende voogd).

Ajah Boll dan wali-pengawas ini telah membantah keputusan daripada Dewan Perlindungan Anak- di Swedia itu. Mereka menjangkal kebenaran daripada tuduhan2 terhadap sang ajah itu Menurut pendapat mereka ini sama sekali tidak ada alasan untuk pendidikan-perlindungan itu. Dengan adanja pendidikan-pelin- dungan oleh Dewan tersebut kekuasaan daripada pihak ajah atas anaknja mendjadi hilang sama sekali. Oleh karena itu pihak ajah dan wali-pengawas ini telah mengadjukan bandingan terhadap keputusan dari Dewan Perlindungan Anak2 itu, bandingan mana diadjukan pada Pemerintah Provinsi dari Oster^otland Akan tetapi, djuga oleh badan bandingan ini telah dikuatkan keputusan daripada Dewan Perlindungan Anak2 tadi. Kemudian telah dimin- takan lagi pemeriksaan oleh instansi jang tertinggi Kepada Mahkamah administratip jang tertinggi di Swedia, jakni kepada

38n) B a t i f f o l - F r a n c e s c a k i s , o.c. h3»«) K o l l e w i j n , o.c. h. 312,3 6“) H a m b r o , o.c. II, no. 48 dst.

184

Page 201: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Tladja dalam D ew an, te lah d iadakan p erm ohonan pen in d jau an k e mbali. T etap i p e rm ohonan ini d juga tidak berh asil (kepu tusan tanggal 5-10-1954).

S em en ta ra itu , pihak Boll te lah m e n je tu d ju i agar supaja ia ini m en g u n d u rk an d iri sebagai wali. Sebagai g am in ja te lah diangkat Njonja l d e m a - P o s t m a (ketetapan 5-8-1954). Pengadilan Dordrecht m em erintahkan supaja anak Maria Elisa­beth diserahkan kepada wali jang baru. Sekarang ini wall jang baru diangkat, telah mentjoba lagi ber-sama- dengan wali-penga- was agar supaja dihentikan pendidikan-perlmdungan oleh Dewan P e rlin d u n g an A nak2 di Swedia.

, o « 1 Q'S'i Dewan un tuk P erlin d u n g anD engan kepu tusan 3-0-1955 »=Anak- di N orrkop ing telah menoiaK peiIdem a dan w ali-pengaw as Belanda.

R elanda itu kem udian te lah P ihak w ali dan ^aU-pengI Dan kita saksikan .bahw a

naik appel pada Pemern,.tah^P onan pentjabutan perlin-oleh P em erin tah Provinsi ini 1 . dungan Anak* Swedia itudungan-pendidikan o l e h Dewa didasarkan atas adanja fakta*te lah d ikabu lkan . K eputusan disebut : bahw a k in i bukanbaru. Antara fakta* baru i r n d a p * * ^ pihak wali. jang lagi p ihak a jah jan g m endjad f ^ ^ gaksikanb a ru diangkat. D an kem udia sw edia te lah m enentukanbahw a p ihak p enun tu t um um diadakan tu n tu ta n 2 krim inilbahw a te rh ad ap Boll . disebut sebagai alasan m engapau n tu k p e rb u a tan 2 jang tamn} m endidik anak b ersan g k u tania ini dianggap tidak patu t (kepu tusan 28-10-1955).

• t, 1, npw an untuk P erlindungan A nak2 Alcan tetapi, kirn pihak D keputusan tersebut dan

dari Norrkoping tidak senang Mahkamah Tertinggi Admi- m.nta peradilan lebih t ngg • ^ keputusan jangmstratip d an Swedia kemud ^ proyinsi 0 sterg otlandm em batalkan keputusan d a n ni ini m akatadi. Menurut pertimbangan- Mahkamah Te t i n g g i m maka ..according to the evidence in the ease the child is still in need

Page 202: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

of waidship 3&<) (keputusan dari 21-2-1956). Dengan adanjaS S ? npnS-rt-l tair f tertinS8i ini letaplah sudah adanja tinda-

1 " M6 ^ 11 lgan terlladaP anak Maria Elisabeth itu.fugaU g‘ Mahkamah Tertinggi ini tidak dapat diganggu-

■« P pihak sendiri sudah tidak ada djalan hukum lagij ng dapat ditempuh untuk mengubah keadaan tersebut.

273. Intervensi dari pemerintah3 Negara-’ para pihak bersang­kutan.

Kini kita saksikan bahwa pemerintah Belanda telah tu ru t tjampur tangan untuk membela pula kepentingan daripada warga­negaranja. Menurut faham pemerintah Belanda ini Swedia telah melanggar Perdjandjian tentang perwalian anak- dibawah umur dari Den Haag tahun 1902. Baik Nederland maupun Swedia telah menandatangani Perdjandjian itu. 88S)

Dalam pasal 1 dari Perdjandjian tersebut telah diterima baik, bahwa perwalian daripada seorang anak dibawah umur diatur oleh hukum nasional dari sang anak .:isn)

Dengan 'berpegangan pada peraturannja dari tahun 1924 jang didjadikan dasar untuk tindakan2 perlindungan chusus terhadap Maria Elisabeth, pemerintah Swedia telah melanggar Perdjandjian Den Haag dari tahun 1902 ini.

s.d. K o l l e w i j n , o.c. h 312 Keputusan dari 21-2-1956 inilah mengakibatkan bahwa kemudian t.mbullah suatu sengketa an ta r a NpJ? 8 land dan Swedia jang diadjukan kehadapan I.C.J. di Den H aa t r h T pertimbangan dari I.C.J. inii: The judgement of the Supreme a 7 nistrtive C ourt o f February 21st, 1956, merits particular attention 'ru '" judgement was given on an appeal against a decision of th? p ^ G overnm ent of Ostergotland which had held that t L T r°vm cial protective upbringing should be terminated • if muio,. i ■ m easiue ot there would have been nosubiect for ! l . ended ,here-dispute only as a result o f the iudcment i c 'k 6n‘,S a sufc>ject for

djuga, H l'i, I no. 152 Teks pada S c h n i t z e r , II, h 1017 Pasal ini berbunji: Die Vormundschaft iiber einen M inderiShrieen

H e S S a a S ’ 1 * ^ dem ° r angeh5rt des

388)

389)

186

Page 203: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

P em erin tah N ederland te lah m ad ju k an gug a tan n ja dengan perm ohonan tanggal 9-7-1957.

K ita saksikanlah disini bagaim ana suatu u ru san ja n g m enge­nai k ep en tin g an pem eliharaan seo ran g anak k e tjil d ibaw ah uniur, te lah sam pai m endjadi pokok sengketa a n ta ra p em erin tah dari dua negara.

Dan pokok- sengketa jang d ikem ukakan in i m engenai pula rangka p em b itja raan kita ten tang hubungan a n ta ra p rinsip nasio­nalite t dan prinsip dom icilie.

Dalam sura t-gugat dari pem erin tah B elanda te lah dim adju- kan perm ohonan agar supaja k iian ja M ahkam ah A gung In te rnasional sudi m enerangkan ; ,,bahw a tindakan- jan g diam bil oleh p en d jab a t- Swedia berkenaan dengan anak d ibaw ah urnur M arie E lisebeth Boll, jakn i tindakanJ „skydsu p p fo stian jan g diadakan dan d ipertahankan dengan keputusan- dari 5-5-1954, 22-6-1954 5-10-1954 3-6-1955 dan 21-2-1956, adalah tidak sesuai dengan kew adjiban* jan g diletakkan kepada Swiss te rh a d ap N ederland , berdasarkan P erd jan d jian d a n 1902 un tuk m engatu i perw alian d ari anak2 dibawah um ur ;

Bahw a Swedia berkewadjiban untuk mentjabut tindakan- te rs e b u t” . nn")

Dan terhadap tuntutan ini S w e d i a telah adjukan pembelaan jang pada pokoknja m enolak tu n tu tan itu. )

Kedua pihak kemudian setjara mendalam telah memberikan pendjelasan2 lebih djauh tentang pendiuan ' ' . ,,

Pihak Rpinnria m eneem ukakan bahwa perw alian a tas anak Belanda me g ,,kan m enuru t hukum B elanda

M aria E lisabeth Boll h a l^ hukum n a s i o n a l daripadan ja . Ber-karena m ilah jan g m e™Pafkan * * i i an dari tahun 1902 hukum dasarkan P e rd jan d jian ten tang peiw a

---------------------- • nar les au to rites suedo ises a H’e g a rd:inn) „ Q u e la m esu re p rise e t p skyd d su p p fo stran ” in stitue e t m a in -

d e M a rie E lisabeth B oll, a savoi ”22 . in 1954 du 5 o c to b re 1954, d utenue p a r decre ts du 5 m ai » co n fo rm e a u x o b lig a tio n s q u iju m 1955 et d u 21 fevrier 195 , p B as en v e r tu de la C o n v e n tio n d ei n c o m b e n t a l a S u e d e vis avis a rs . Q u e ia Suede est ob ligee d e1902 p o u r r e g l e r l a tu te lle des m in e m * , ^

01)lever ce tte ™ s u re . . reSpec tueusem ent la C o u r de d e c la re r la”, G o u v ern em en t s u e d m s ^ l L d a i s sans fondem en t.demande du G ouvernem ent ne K i s c h dan Mr R i p h a g e n ,

..J2) N ed e rlan d d iw akili • o len , l u _ . , H„n p e t r e nSw edia o leh P ro f. R o 1 1 n, D a h l m a n n d a n P e t i e n .

187

Page 204: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Belanda-lah jang harus mengatur perwalian bersangkutan Dengan mengadakan lindakan= jang bcrsifal memberikan pendi- dikan setjara memperlindungkan terurai diatas, pendjabat- Swedia telah melanggar perdjandjian internasional tersebut. Tindakan- Swedia mi sebenarnja dipandang sebagai tindakan- jang pada hakekatnja adalah perwalian („equivaut virtucllement

e, ’ hingga meruPakan suatu ,,perwalian saingan’’ WuteUe uvale ) daripada perwalian Belanda dan jang disebut

® ^ 4.mendjadi -.completely absorbed whittled away,m en^m ! V ? fr1UStrated”- A n d a i k a t a pihak Swedia hendak ordr “ n "mbaga ”ketertiba" (openbare orde,bar a o ' e n h t r i pun tidak ak‘™ dapat berhasil. Lem-kewadjiban- ja n T tL b iT ter iif mengenjamPingkansional danpada suatu perdjandjian interna-

sama sekali raen§emukakan bahwa mereka inida- Perdjandjian

Swedia bukanlah tindakan- fa" T 8 dllakukan o leh P endjabat- perwalian tersebut Tindai™ — masuk dalam Perdjandjian perwalian. Hak' dar J a d f ^ ttdakWl bersifat ******* tidak berdasar atas ketentuan* ^ ° U ataS anaknJa hak' JanS djandjian 1902. Hak2 dari pihak jang diatur oleh Per"apa jang dinamakan hak2 dari . a . anaknJa ini termasuk Dari sinilah dapat disimpul-k-n h (vaderliike macht).pribadi anak Marie Elisabeth 1 • ariPada pihak Boll atas lah diluar hak2 perwalian Dem ii/ ^ gai'de”)- Hak" ini ada‘ jan g kemudian diangkat iakni m-™” *?!* hak" dari sang wali i m W aiangan ini M-,h ,0"Ja Mei«a-Postma. Bukankali ian g h an jam L o u n a \ ,mper0leh dari BollHak- jang diberikan kepadT ’ terhat,aP anak”ja W ?tidak merupakan perwatian" ,i Nj011ja Idema-P°stma ini

»peiwalian dalam artikata Perdjandjian 1902.

pembeSannjan,dbfhwahlL d a k dia’ mengemukakan sebaSai Pokok' kan iang telah . an" Pendidikan setjara melindung-k u L ifng be^ad? Clengan a" ak asing bei’sang-kutan jang beiada dalam wilajah Swedia didasarkan atas

383) Lihat H a m b i o , o.c. u , no 47

188

Page 205: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

ke ten tu an - dalam hukum Swedia jan g b e rs ifa t luikum publik da oleh k a ren a itu k e ten tu an H P I jang te rm u a t d a l a m P e i cl]ana]lan 1902 tidak dapat m engurang i p e ra tu ran - Sw edia in i . " )

L eb ih d jau h Sw edia m engem ukakan pu la alasan »ord re p u ­blic” daripada k e ten tu an - Swedia b e rkenaan d engan p ordrete rhadap an ak 2 itu . K a ren a p e ra tu ra n 2 c h u su sm i public” , m aka tidak . b isa tid ak p e ra tu ran - m i h a iu s b e ila k u un tuk sem ua o ran g jan g berada didalam w ilajah Swedia, apakah ia in i b e rs ta tu s w arganegara Swedia atau o ia g ; . tid a^ k e ten tu an - jan g bersiCat k e tertiban um um ”dap at d ikesam pingkan , d juga tidak ole^ in ternasionalin te rnasional. A pabila telal\ d iadakana.Pea1an ao5) jan g berm aksud b e rk en aan d engan m ate rie jang d ilih a t perd jan-un tuk m en g a tu r soal2 ..conflicts of law 1harusw authorizing> Qjian m i sebagai ..contain ing an im plied res applicationon the g round of o rd rc public, the overruling o law toof the fo re ign law recognized as norm al y R em udian d itam . govern the legal re la tionsh ip in question . ) n „hiic” iangbahkan pula k e te ran g a n bahw a lem baga asing jangm engenjam pingkan pem akaian daripada u p en getjuali- se tja ra se jo g jan ja h a ru s d ipergunakan adala national lawan jang ,,recognized in the system s of p iiv a te ,. f of those coun tries w hich jo ined the p a rtia l codi 1 branch of the law ” . nn7)

1. Pendirian dari Mahkamah Agung I n t e r n a s i o n a l .

Bagaim ana pendirian daripada Mahkamah Agung sional dalam sengketa ini ? d benarkan

T e r n ja ta b a h w a p e n d ir ia n d a r i s '^®d i? '^ ^ r)e r lin d u n g a n ja n g N e d e r la n d d ik a la h k a n , t in d a k a n 2 P e n d l M aria Elisabeth Boll d ia d a k a n o le h in s ta n s i- S w a d i a terhactap b e r d a s a r k a n Per- d ip a n d a n g t id a k m e la n g g a r k e w a d j i a n — d ja n d jia n D en H aag 1902.

~ ______ _ > fan.t sc trouvun tr!01) „q u e la m esu re p ro tec trice u 1 e g a id J_u" .e su£<j0 ise d e d ro it public d o n t

te rr ito irc suedois l’a ete en v ertu v ro n flits d e lois con tenues dans a (’app lica tion echappe aux regies de confl.tsC o n v en tio n d e 1S>02” . w endirian Sw edia, .karena pel wa-

3®5) D a la m hal ini tidak d cn llk ‘aJ ' n ‘fi. . L 1,apLaja b e rla in an d arip ad a tin d a k an - Han m e n u ru t P e rd ja n d jia n 19 t t U S w ed ia ta h u n 1924.p e n d i d i k a n - p e r l i n d u n g a n b e r d a s a r k a n U . U .

:!»«) H a m b r o, o.c. II, no. 52. _ ^

Page 206: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Keputusan dari Mahkamah Agung Internasional ini'didjatuh- kan pada tanggal 28-11-1958. Kita saksikan bahwa diantara para Hakim jang telah mengadili perkara ini tidak terdapat kata- sepakat. Tuntutan pihak Belanda telah dikesampingkan dengan 12 melawan 4 suara. Dari pihak Hakim Agung jang menentang- nja, 3 membuat „separate opinions” tersendiri. Djuga antara para penjokong keputusan tersebut terdapat 5 hakim jang membuat opinion tersendiri, karena mereka ini tidak dapat me- njetucljui dasar- pertimbangan jang telah dikemukakan dalam keputusan tersebut. Dua hakim lainnja hanja memberikan suatu tjatatan singkat. Dengan demikian kita saksikan bahwa hanja 5 dari 16 Hakim Agung jang telah mendukung keputusan tersebut dalam keseluruhannja.39s)

Diantara para hakim jang membuat ..separate opinins” ini terdapat pula L a u t e r p a c h t . Dan pendirian sardjana hukum kenamaan ini pada pokoknja telah membenarkan dalil" dari pemerintah Belanda. Karenanja, kita saksikan pula bahwa K o l l e w i j n telah membahasnja setjara tersendiri dalam komentar beliau atas arrest Mahkamah Agung Internasional bersangkutan.3" ) Pandangan '2 L a u t e r p a c h t ini terutama mengenai hubungan sebenarnja aritaraykewadjiban* suatu negara ,e..„ !Sf rkan Perd-1 a*1 djijmjjrternasiona k

perdjandjian m tern S toS T ® n .

jang ^ ”" * • >’Ublk”akan kita tindjau lebih diauh dai !JP^ n penting adanja, tidak sekarang ini, «o) j ang ;ber , , am ^ubungan pembitjaraan kita

prinsip kewarganegaraan dan p r ^ p d o m lc L hubungan anta1'3

398> B d g k . K o l l e w i j n , o .c h 322

300) K o l l e w i j n b e r J c a ta : , B e s l a a t ' i,dzijden druks, de ..separate oninir. » 8 le arrest zeventien bl»-tw e e n tw in t ig b la d z i jd e n ” . o .c . h m " V an L a 1,1 e r p a c h t v e r g t

400) U ntuk ini, lihat pada K o 1 l e w i i n h ut e r p a c h t”. o.c. h. 322 • Berdas ’ v ”P C menin8 van L a U .' policy” sebagai termasuk dalam opni ^ ?eildiriannia tentang „publ>c opinion dai L a u t e r p a r c h t "ini ^rinc'P*c of international law > hasil keputusan jang diambil Lilni & hal;ekatnja menjetudjui djuga 507, 520 dst. ' L l p s t e i ". 8 TCLQ (1959), P-h-

190

Page 207: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Apa jang telah dikemukakan oleh Mahkamah Agung Inter­nasional dalam arrest-nja itu ?

Jang menarik dalam hubungan pembitjaraan kita tentang prinsip kewarganegaraan dan prinsip domicilie ialah adanja Passages- tertentu dalam pertimbangan- Mahkamah Agung Internasional jang berkisar pula pada pokok uraian kita.

Mahkamah Agung Internasional mengemukakan bahwa me- lnang terdapat titik- pertalian mengenai hal2 jang harus diatur °leh hukum n a s i o n a l daripada anak bersangkutan berke­naan dengan perwalian. Akan tetapi, disamping itu ada pula hal jang terletak diluar hukum nasional dari sang anak teisebu~t~ dan djatuh dalam ]ingkungan-kulisa~daripada"Riikum s e t e m p aX Kata Mahkamah te rseb u t: .,th e re niay~be some points of contact between matters governed by the national law of the infant which is applicable to guardianship and matters falling within the ambit of the local law”. "'M Dan dalam hal- sedemikian ini tidak benar- ah bahwa hukum nasional daripada~satig anak harus sfelalu

diutamakan atas^berlakunja llularm setempat. ,,1'fdoes not follow that iiV siTcircTse^ tl!FTiatftmsl'1 a \r_&'f1:he''infant must always pi evail over the application of the local law. 4T)2)

Lebih djauh telah dikemukakan pula oleh Mahkamah terse­but berkenaan dengan -persoalan ini, bahwa adalah maksu daripada tudjuan Konperensi2 Hukum Perdata di Den Haag, bahwa akan ditjapai penjelesaian tentang persoalan hukum mana­kah jang akan dipergunakan. Apakah hukum nasional danpada sang anak jang akan diutamakan atau sebaliknja hukum danpada tempat kediamamija (place of residence, dsb). Tetapi tidakla Jimaksudkan untuk m e n g e n j a m p i n g k a n 1 . •

hukum setempat dimana sang anak berada a am nokokniaHanja soal- jang termasuk ..perwalian -la Jahg P , k k dikesampingkan dari hukum setempat ini, c e ra w Pntuan ians hukum asing dari sang anak. Akan tetapi, lain- ketentuan ja g M ak termasuk istilah „penvalian” , tetapi djuga bermaksud

°C' !']’ Z » **"# ■> H a m b r o. o.c. II. no’ ’

275. Jang berkenaan clengan persoalan prinsip kewarganega­

raan dan prinsip domicilie.

191

Page 208: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Belanda-lah jang harus mengatur perwalian bersangkutan. Dengan mengadakan tindakan2 jang bersifat mcmberikan pendi-

. dikan setjara memperlindungkan terurai diatas, pendjabat2 Swedia telah melanggar perdjandjian internasional tersebut.

indakan- Swedia mi sebenarnja dipandang sebagai tindakan2 jang pada hakekatnja adalah perwalian („equivaut virluellement? tUt*11 U ^ merupakan suatu ,,perwalian saingan”

uteue nvale ) daripada perwalian Belanda dan jang disebut oeiakangan mi mendjadi ,.completely absorbed whittled away, o venued and frustrated”. Andaikata pihak Swedia hendak mengemukakan lembaga „ketertiban umum” (openbare orde, 01 re public), maka hal ini pun .tidak akan dapat berhasil. Lem- a^a „openbare orde” Swedia ini tidak dapat mengenjampingkan

kewadjiban- jang timbul daripada suatu perdjandjian interna­sional.

Pihak Swedia sebaliknja mengemukakan bahwa mereka ini sama sekali tidak melanggar ketentuan2 dari Perdiandiian perwalian tahun 1902. Tindakan- jang dilakukan oleh pendiahat-' Swedia bukanlah tindakan2 jang termasuk dalam Perdiandii™ perwalian tersebut. Tindakan2 ini tidaklah bersifat tindakm - perwalian. Hak2 daripada sang ajah Boll atas anakn ja hak2 iancr tidak berdasar atas ketentuan2 perwalian jang diatur oleh PP? djandjian 1902. Hak2 dari pihak Boll atas an ak n ja ini t i V apa jang dinamakan halC dari seorang ajah (vaderliito maf ! f Dan sinilah dapat disimpulkan hak2 daripada pihak Boll t pnbadi anak Marie Elisabeth („le droit de garden TJ\ 3t3S lah diluar hak2 perwalian. Demikian pula haV t 11U ada'jang kemudian diangkat, jakni Njonja Idenn Pn ♦ SaHg WaU]ang belakangan ini telah memperoleh ha ' ma' Bukankah jang hanja mempunjai ..vaderfijke m a c h f M lT , ''™ Pihak Bo1' Hak- jang diberikan kepada wali” at- hadaP anaknja ini ? tidak merupakan „perwalian” dalam V-J°nja Idema-Postma ini

, aWhi „ m artlkata Perdjandjian 1902.Lebih landjut pihak Swedia

pemfoelaannja, bahwa „tindakan'21 engeJ|Tlukakan sebagai pokok- kan jang telah cliambil berkenaan l an set.iai’a melindung- kutan jang berada dalam wiiaw 6llgan anak asin2 bersan^‘

djah Swedia didasarkan atas

38s) L ihat H a m b r o , o.c. no 4?

188

Page 209: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

ketentuan- dalam hukum Swedia jang bersifat hukum ln*blik ,^1! oleh karena itu ketentuan HPI jang term uat d a l a m Perdjandjian 1902 tidak dapat mengurangi peraturan- Swedia ini . )

Lebih djauh Swedia mengemukakan pula alasan: ,,oi;die pu bhc” daripada ketentuan- Swedia berkenaan dengan p 0J j re erhadap anak- itu. Karena peraturan- chusus ini b , ,

Public”, maka tidak. bisa tidak peraturan- ini haius beilaku u^tuk semua orang jang berada didalam wilajah Swed a, apakah ia mi berstatus warganegara Swedia atau )r0!.a ig ‘ di ini tidal k e e n t M j r t t b j . u m u m

dikesampingkan, djuga tidaK ui internasional

berkp aSi°nal Apabila telah CUadf rsalman 3«5) jang bermaksud untuk113™ dengan m aterie1-]ang fb? S> haruslah dilihat perdjan- diian mengatur soal" ”confhctS 0 S e d reservation authorizing,J an mi sebagai ,.containing an imp:ll® of the applicationn the ground of ordrc public, the ove llv f hp m-0per law to

govp6 f?reign law recognized as norma Kemudian ditam-baht n legal relationslnp 111 q?e* w a ' ordre public” jang m pu*a keterangan bahwa lemb g >> asing jangs ?ngenjanipingkan pemakaian danpa suatu pengetjuali-an3ara sej°gjanja harus dipergunakan a . tg international lawof nfng ”rec°gnized in the systems of P codification of this g those countries which joined the paitial codincu,a«ch of the law” . "«*•)

n t - T e m u n a , , <la , i M a l,k a n .a l , A g u n g I n te n ,a s io > .» l .

si0, pendlrbn d « .p .d . ^lal dalam sengketa ini ? . ^ibenarkan.

N p/ r ernjata bahwa pendirian d f 1 Sw etoJa jajg^ jang - la n d dikalahkan, tindakan- P maria Elisabeth Bol

Sfdakan oleh instansi- Swadia f ll l d^ vedia berdasarkan Pei- £ Pandang tidak melanggar kewadjian bw uJandjian Den Haag 1902.

_____ .. , Vun enfant etranger se trouvant en

’S t o ^ s u & K t s ? " L s ° ? ac~rntoirc suedois I a eie de’application cchappe aux fa nerwi-

arrsr £lian m enurut I - r d j a n c l j . a ' : ^ aI.kan U.U. Swedia tahun 1924.•mi.. P eiu lid ik an -p erJ im lu n gan

H a m b r o . o.c. •*> n ' ^ p.h. 75.'!0 '> H a m b r o , o .c . « , 5 2 '

l o o

Page 210: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

- '• - r

I

Keputusan dan Mahkamah Agung Internasional ini didjatuh-

flTkim L T f f ? 8'11'1958- K“ a saksikan bahwa Paraf e f i t , ! "uenga<liIi perkara W tWak ‘®dapat kata- 12 m e la w a n ? P n* Belanda teIah " ^ a m p in g k a n dengan 1 a L L T * D ali Pihak Hakim AS™ « meuentang- nar’a r m J Z ' ”sc|wl'ate opinions” tersendiri. Djuga antara m em h,!atT kepi.tusan tersebut terdapat 5 hakim jangn i e t o S T " T terSendiri' karena me,'eka ini tidak dapat me- kenufiKjan ,aSai pertimbanSan Jang telah dikemukakan dalam tiatetan I w n DUa hakim lainnja hanja memberikan suatu

W t ; §an demildan kUa saksikan bahwa ha"Ja 5 dan 16 Hakim Agung jang telah mendukung keputusan tersebul dalam keseluruhannja.39s)

D iantara para hakim jang membuat „separate opinins” ini pula L a u t e r p a c h t . Dan pendirian sardiana

hukum kenamaan ini pada pokoknja telah membenarkan dalil" dari pemerintah Belanda. Karenanja, kita saksikan n„io i uf ' " ' - ) ” membahasnja setjara tm en d ir i hI ” komentar beliau atas arrest Mahkamah Aeune T»t mbersangkutan. 309j Pandangan* L a u t e r p a c l t - nasional mengenai hubungan sebenarnja aritara?kewadiiba.i2 W1 terutama berdasarkan Perdjandjian internasi n n a i ^ j j ^ L sual“ ” f f ara ftreM atu F s^ d lrT h ukunTnjaTPers o a I aTPjanTMJ^ icpertentangan antara hukum* perdjandiian inf c ~ il^£ d ap a t hukum nasional intern ini, serta persoalan lternasional dan- jang berhubungan dengan itu. walaunim n ?*g ”01’dl'e public” akan kita tindjau lebih djauh dalam huhimS g adanja’ tidak sekarang ini, *oo) jang berpokok-panekal . f pembi« araan kita prinsip kewarganegaraan dan prinsip domicil'3 ^ U Un^an antara

398)

399)Bdgk K o l l e w i j n , o.c. h. 322 K o l l e w i j n b e rk a ta : „BesHnt i ,dzijden druks de ..separate opinion” arrest zevenlien bla-

400) 7™ lt)18„b,ad2ijden”. o.c. h . S V8n L a ^ e r p a c h . vergt4«0) untuk mi lihat pada K o 11 e w ; j „ . u

t e r p a c h t ’. o.c. h . 322; B e rd isV a n ’ C m.enin6 va» L a u -policy sebagai teimasuk dalam eenpmi ?en n an nja tentang „public opinion dai L a u t e r p a r c h t ini ” 1 p r*nciP ^ of international law” , hasil keputusan jang diambil T jha< r • hakekatnja menjetudjui djuga507, 520 dst. mal L i P s t e i n, 8 ICLQ (1959), p.h.

190

Page 211: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

275. Jang berkenaan dengan persoalan^prinsip kewarganega­raan dan prinsip domicilie.

Apa jang telah dikemukakan oleh Mahkamah Agung Inter­nasional dalam arrest-nja itu ?

Jang menarik dalam hubungan pembitjaraan kita tentang prinsip kewarganegaraan dan prinsip domicilie ialah adanja passages- tertentu dalam pertimbangan- Mahkamah Agung Internasional jang berkisar pula pada pokok uraian kita.

Mahkamah Agung Internasional mengemukakan bahwa me- mang terdapat titik- pertalian mengenai hal2 jang harus diatur °Ieh hukum n a s i o n a l daripada anak bersangkutan berke­naan dengan perwalian. Akan tetapi, disamping itu ada pula hal2 jang terletak diluar hukum nasional dari sang anak tersebut^ dan djatuh dalam lingkungan-kuasa ~ daripada ~7uiTuim s e t e m plTT Kata Mahkamah te rseb u t: „There niajnSe'some points of contact between matters governed by the national law' of the infant which !s applicable to guardianship and matters falling within the ambit of the local law”. Dan dalam hal- sedemikian ini tidak benar- lah bahwa hukum nasional danpailTr^S'ang- anak harus- selalu diutamakan atas berla k uh ja InTkum s etempat. „If~does not follow that in sucli“cases” tTie''TTati?)nirl'law"Oftlre- infant must always pievail over the application of the local law. ro2)

Lebih djauh telah dikemukakan pula oleh Mahkamah terse­but berkenaan dengan persoalan ini, bahwa adalah maksud daripada tudjuan Konperensi2 Hukum Perdata di Den Haag, bahwa akan ditjapai penjelesaian tentang persoalan hukum mana­kah jang akan dipergunakan. Apakah hukum nasional daripada Sang anak jang akan diutamakan atau sebaliknja hukum daripada tempat kediamannja (place of residence, dsb). Tetapi tidaklah dimaksudkan untuk mengenjampingkan sama sekali berlakunja hukuin setempat dimana sang anak berada dalam keseluiuhannja. Hanja soal2 jang termasuk ,.perwalian”-lah jang pada pokoknja dikesampingkan dari hukum setempat ini, demi diperlakukannja hukum asing dari sang anak. Akan tetapi, lain- ketentuan jang tidak tfermasuk istilah ,,perwalian , tetapi djuga beimaksud

^ H u m b r o, o.c. II, no. 5 0 ; kursip kursip.°2) H a m b r o , o.c. II, no. 5.0, h. 7 1 ; kursip kami.

191

Page 212: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

untuk m emberikan perlindungan terhadap sang' anak dalam peme- liharaannja, tidaklah dikeluarkan daripada hukum setempat. Setjara tegas dipertimbangkan oleh Mahkamah : „It was intended, in accordance with the general purpose of the Conference on Private International Law, that it should put an end to the diver­gences of view as to whether preference ought to be given in this connection to the n a t i o n a l law of the infant, to that of his p l a c e o f r e s i d e n c e , etc., but it was not intended to lay down, in the domain of guardianship, and particularly of the right to custody, any imunity of an infant or of a guardian with respect to the whole body of the local law. The local law with regard to guardianship is in principle excluded, but not all the orovisini-K of the local law”. 40;i) 1

Dari pertimbangan2 diatas ini kita saksikan adanja persoalan- jang timbul berkenaan dengan berlakunja hukum nasional dari pada pihak jang bersangkutan atau hukum setempat dimana sane anak berdiam. s

Hal ini telah didjelaskan lebih djauh dalam bagian lain dari' pada pertimbangan Mahkamah Agung Internasional dimana dikemukakan asal-mulanja daripada persoalan jang timh.il

jang haruS dlPerSimakaii tatkala dibuat Perdian- djian d an ahun 1902 itu. Pada waktu itu orang sedand e n g a n n’?“akah jiT sebaiknia diperlakukan berkenaanc engan hukum atas perwalian anak- dibawah umur • hukum liasionaUtah, atau hukum tcniiiat-kediainan-kal, a n,,' h , 1

had to meet a problem of the conflicVnf °2, Co" vent1011 presupposes the hesitation which was felt in th» !* ,i ul‘'5' 11 applicable to a given lesal the cll01ce (,t the lawindividual, the law of hfs nlal T - V The " a“ onal ™gave the Pr efereMe to the national law of1 - V * ? t01% etC‘ 11 prescribed to the courts of each conlraoHno 1 H and thereby apply a foreign law when infant involved w ^ -hey should perfectly concevable that the c o u r t s o f a \ f° ^ lgner ' t t isl cases apply a foreign law”. 4fj4) should m certain

403) H a m b r o , o.c. II, no. 5 3 ; spat,e kami 4<M) H a m b r o , o.c. If, no. 5 4 ; kursip kami.

192

Page 213: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Pertimbangan- diatas dari Mahkamah Agung Internasional itu mempunjai hubungan dengan pokok pembitjaraan kita seka­rang ini. Ternjata bahwa telah diadakan pemilihan sikap berke­naan dengan ikatan2 jang dianggap sebaiknja antara orang- jang statusnja dipersoalkan. Apakah iphih baik dipergunakan ikatan Personil, jakni hukum nasional-nja, atau ikatan'2 jang bersifat- .territorial, jakni hukum jang berlaku pada tempat dimana orang bersangkutan b e ra d i Kita saksikan bahwa dalam Perdjandjian Den Haag 1902 untdk soal2 perwalian daripada anak dibawah umur telah ditekankan kepada faktor hukuni nasional dari sang anak. Tetapi, kita saksikan pula, bahwa dalam pelaksanaannja seringkali timbul ketegangan. Hal ini dilukiskan dengan njata oleh tjontoh perkara Maria Elisabeth B o l l jang sedang dibitjarakan. Pemakaian dari prinsip nasionalitet untuk perwalian dari pihak anak warganegara Belanda tersebut telah mengalami berbagai kesulitan. Demikian besar kesulitan2 im, jang ternjata telah dirasakan pula oleh Mahkamah Agung Internasional hlngga K o l l e w i j n dalam pembahasan arrest tersebut telah mengemukakan, bahwa sesungguhnja arrest B o l l mi tela Merupakan „de doodsteek voor het toch reeds weinig vitale voog-dijverdrag”. J°5)

Kita akan menarik kesimpulan2 kita lebih djauh kelak, Setelah kita saksikan bagaimana a d a l a h - pendirian resmi danpa a Mahkamah Agung Internasional dalam s e n g k e ta mengenai an a ' R n 1 i • .

3 ,s - Alasan2 jang membenarfcm pendirian Swedia.

Jang per-tama* harus diputuskan oleh ^toternaslonal ini ialah apakah sebenarnja jang dia t i t a n de.agan >s«Ja!l_afierwalian-> pada P e r d j a n d j i a n dan: tahun

(qualificatie, qualification, classification). *)

405) 71406) ^ 0 11 e w i j;n. o.c h. 331. tersendiri dibidang HPI, jang

' Persoalan ini merupakan suatu lee Lihat djuga B a t i f f o l -akan k ita tindjau kemudian setjara chusus. Lihat a j igP i a n c e s c A i s , o.c. h. 269 dst.

Page 214: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Apakah tindakan2 jang dilakukan oleh instansi2 Swedia terhadap anak Maria Elisabeth Boll termasuk pula dalam istilah ,,perwalian” jang mendjadi pokok persetudjuan daripada Per­djandjian Den Haag tahun 1902 ?

Seperti telah dikemukakan diatas tadi, pihak Swedia menge­mukakan bahwa tindakan- jang diadakan oleh instansi Swedia berdasarkan Undang2 Swedia tahun 1924 adalah berlainan dari­pada „perwalian” dari Perdjandjian 1902.-

Dari pertimbangan2 jang dikemukakan dalam arrest ber­sangkutan kita saksikan adanja ketjondongan dari Mahkamah Agung Internasional untuk membenarkan pendirian Swedia dalam hal ini.

Diatas sudah dikutip passage2 jang mengatakan, bahwa dalam hal perlindungan jang diberikan terhadap anak- dibawah umur terdapatlah berbagai tindakan2 jang harus dipandang sebagai terletak diluar pengertian „perwalian”.

Dalam arrest tersebut telah ditindjau lebih djauh makna daripada Perdjandjian tahun 1902 dan makna daripada hukum Swedia tahun 1924 jang diadakan demi perlindungan chusus bagi anak2 dibawah umur. 5

Dalam Undang2 1902 sendiri tidak terdapat definisi tentang apakah jang diartikan dengan istilah ,,perwalian” (la tutelle) Akan tetapi, kiranja tidak ada kesangsian bahwa dalam sistim2 hukum dari negara2 jang hendak mentjari permufakatan untuk mengatur setjara bersama-sama akan materie ini, telah terdanat persesuaian faham, bahwa jang diartikan dengan istilah nprwa lian” ini G,understood and understand”) ialah : „an institution the object of which is : the protection of the infant • the protec tion and guidance of his person, the safeguarding of his necu mary interests and the fulfilling of the functions rendered necessary by his legal incapacity”. 40?)

Apakah jang diartikan dengan perlindungan-chusus terharian pemeliharaan anak (..protective upbringing”, F e d u c a t i o n i J S - trice”) dalam arti Undang2 Swedia tahun 1924 ini ? Plote^

d iam S ^ Z V PeSif A ar[ p“ atur“ ini i ^ h untuk memberikan djaminan- bagi pendidikan chusus dari anal** -jw b rn ^T rH h m

407) H a m b r o , o.c. II, no. 52.

194

Page 215: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

*

. . . , ,-hiasa d isek itar m erek a p erlu d ipe lih a ra^ se n d ir i a tau k e a d a a n j n -irxxz— niakaTBukan. sad ja an ak 2 in i akan

s e tja ia cITusus. D jika i ^ t a p i d juga m asja rak a t d isek itarn ja . d irug ikan se tja ra Prib a „h r in ging” ini k a re n an ja pertam a-tam a T indakan- ^pro tective . . ^ - - r ^ ^ e r l i n d u n g a n k e p ^ d a m asjarakat narus dilihat un tuk m em Ep ^ ungan k ep ada sang anak sendiri.disam ping m em berikan P tidak bolehlah cEEesampingkaiiOleh karena itu, dalam m en g a tu r hal b ersangku tan . D enganhukum Swedia, jang chus tective upbring ing con tribu tes totegas d ipertim bangkan • » &t the sam e time> and abQve ^the p ro tec tion of the chi ’ *e t against th e dangers resu ltin g it is designed to p ro tec in adequate hygiene, or m oral corrup- from im p ro p er u p b rin g in g

___ . .ios\

—— liiLdjukan peraturan '2 ~cMsxfs~iTriri?^alaiipun,• a‘sil{g tidak terluPl p erd jandjian 1902, u n tu k perw alian

& 'b e rdasa l k an hukum nasional d a ri anak2 m asing2. Tetaiii i%S i‘ nastonal untuk perwalian ini, tidak

u p ln -in g in .. i t , Hal initerm asuk . public serv ice” ja n g berlaku di Swedia. ,

Walaupun dapat d iaku i bahw a tindakan '2 p ro te c t iv e u p b ri­ng ing” dan p e r w a l i a n m em p u n ja i suatu tu d ju an jang s e b a ­g i a n sama sekedar u n tu k m em berikan perlindungan bagi sang anak, boleh lah d ik a tak an bahw a jan g disebut pertam a ini m asih mempunjai tu d ju a n la in ja n g lebih luas, j a k n i : m em perlin- dungi m asjarak a t pada um um nja .

Menurut p en d irian M a h k a m a h A gung In ternasional perwa- lian m en u ru t hukum B e la n d a a tas anak M aria E1isa tidak d ikurang i oleh t in d a k a n 2 jan g dilakukan oleh ^ t i r n s i Swedia D ikem ukakan pula, bahw a baik dalam ke tetapan d a n P engadilan N orrkoping d a ri 1 6 -9 -1 9 5 4 m aupun dalam keputusan dari Mahkamah T ertin g g i dan M ahkamah A dm im statip T ertm ggi Swedia dari 2 -7 -1 9 5 5 , se r ta dalam kepu tusan 5 -1 0 -1 9 5 4 dan achi n ja dalam kepu tusan 2 1 -2 -1 9 5 6 , te lah d iterim a bahw a u n tu k perw alian anak B o l l h a r u s diperlakukan hukum B elanda.

408) H a m b r o , o-.c. I I , n o . 52, p .h . 73.

195

Page 216: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

■1

Hak untuk bertindak daripada wali jang diangkat oleh Pengadilan Dordrecht, Njonja Idema-Postma, diakui.400) Akan tetapi, setelah diperiksa segala fakta2 sekitar permohonan sang wali ini, ternja- talah tidak ada tjukup alasan untuk mengadakan perubahan tentang p ro tec tiv e upbringing” jang diadakan oleh Dewan untuk Pelindiungan Anak2 di Swedia.

Ditindjau dari segi ini, tindakan2 jang dilakukan oleh Dewan untuk Perlindungan Anak2 ini bukanlah didasarkan atas hak ' sobagai wali. Antara perwalian menurut Perdjandjian 1902 dan ,.protective upbringing” terdapat perbedaan. Jang belakangan ini tidaklah dapat dipandang sebagai suatu „perwalian-saingan” daripada perwalian jang diadakan menurut hukum Belanda ber­dasarkan Perdjandjian 1902 : „The protective upbringing applied to the infant, as it appears in these decisions, i.e. according to the facts in the present case, cannot be regarded as a rival guar­dianship to the guardianship established in the Netherland in accordance with the 1902 Convention”. 110)

Ditambahkan lebih djauh, bahwa boleh dikatakan, tindakan2 jangje la h diadakan oleh. instansi2 Swedia^ tidak menutupTsama sekali, hak- ..daripada wali Belanda bersangkutan. 'T indakan-' instansi2 Swedia ini „n’a pas eleve l’edueation protectrice en institution dont l’effet serait d’absorber completement la tutelle neerlandaise” . m )

Persoalan kwalifikasi daripada pengertian ,.perwalian” padaPerdjandjian 1902 dan „skyddsuppfostran” dari Undang2 Swedia1924 telah dipetjahkan oleh Mahkamah Agung Internasionaldengan menerima bahwa jang satu adalah berbeda daripada jang lam. ^

277. Ketjaman K o l l e w i j n .

Dalam pembahasan K o l l e w i j n atas arrest Mahkamah Agung Internasional ini, telah diberikan suatu L t iS n a n te n te S hasil kwalifikasi jang telah diberikan dalam arrest tersebut

Pada pokoknja K o l l e w i j n memandang pendirian dari­pada International Court ini tidak tepat.

•409) Bdgk. B a t i f f o l - F r a n c a k i s , o.c h 26841°) H a m b r o , o.c. JI, no. 47, p.h. 67.4 n ) Bdgk. B a t i f f o J , Principes, h. 566. ■ •

196

I

Page 217: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

, n bahw a tid ak lah d ap a t k ita kem ukakan B eliau m engem ukaK a „ ini s e .m ata2 merUpakan suatu

dengan baik, bahw a pe .ivaatrec lite lijk ) sedangkan perlin-lem baga hukum Perd a ,-ka ta m odern) b e rs ifa t hukum publik dungan anak- (dalam a r i ku i bahw a p e rw a lian jan g berada(publieki-echtelijk). H aru k j ang m en u tu p P e rd ja n d jia n 1902dalam alam p ik iran p a ra P rlin(jungan anak- se tja ra m oderna a ah agak lain daxip3 sed jak w aktu itu. A kan te tap i, disam- jan g m ulai tam pil kem ul* t ban jak pokok- persam aan . n -)ping perbedaan-. masih te ia ^ F .

t d ipandang sebagai b e rs ifa t hukum erw alian tidak aP mbaga perw alian ini te rd a p a t pula

p e rd a ta se-mata". D alam p u blik. K o l l e w i j n tidakunsur- jan g b e r s i f a t i . s e n apa jan g dikem ukakan o le h . -l e n d a k m enerim a s e r a u n j an g m em andang perw alian iniseoxang penu lis H P I s-er* , ^ k b e la k a .41:1) T etap i peng liha tan ini se agax em baga hukum P g u k an kah k ita saksikan p e ran an dari p i h a i f UnJai in t i k e b e n a l . , s e k a l i pada lem baga perw ak ilan ini.

Penguasa pun sena„tiasa m elakukan pengawasan atas tindak- tanduk daripada sang wali ini. A pabila p e rlu d ilakukan pentja- b u tan hak- seo rang w ali, h a l m ana d ilakukan o leh hakim atau suatu instansi penguasa la in n ja . D jad i di-m ana=pun dikenal orang akan tu ru t tjam p u r ta n g a n n ja penguasa dalam haP perw alian. Boleh d ikatakan bahw a hukum p e rd a ta dan hukum publik (Hu­kum adm in istra tip ) tu ru t m em egang p e ran an se tja ra bergan- dengan pada lem baga p e rw a lian ini. )

Dalam perkara ja n g diadjukan dihadapan Mahkamah Agung Internasional ini m enurut K o l l e w i j n adalah terang bahwa bukan terutama kepentingan perlindungan masjarakat jang me-

■jist ° C .-mnk'ikan D ie Vormitndschaft ist im heutigen’ p h . ke1„r; S r h S S r E i n H c h l u n g " , .P R < 1 9 ® , p.h. 743, ,d .

“ *> i f " i h t S k S i t xr ig h ts o fa th e Ppa7ties esp ec ia lly in a n in te rn a tio n a l d ispu te, o u g h t n o t to b e d e te rm in e d by r e f e r e n c e to th e co n tro v e rs ia l m y steries o f th e d is tin c ­tio n betw een p riv a te a n d p u b lic law ” (p-86, s.d. K o l l e w i j n , o .c . h . 318). .

197

Page 218: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

megang peranan. Bukankah anak jang dipersoalkan kedudukan- nja ialah seorang jang baru berum ur 13 tahun (dilahirkan dalam tahun 1945). Katanja anak ini telah mengalami bahaja bahwa dalam rumah daripada orang tuanja ini ia akan dapat diantjam oleh hal2 jang dapat merugikan kesehatannja setjara djasmani maupun rohani (moril). Djika demikian halnja, maka djelaslah bahwa jang sesungguhnja harus dikemukakan dalam perkara sekarang ini ialah bahwa tindakan2 instansi2 Swedia per-tama2 terdorong karena hasrat untuk memberikan perlindungan kepada sang a n a k , dan bukan kepada masjarakat Swedia.415)

T ja ra ' tafsiran jang dilakukan oleh Mahkamah Agung Internasional dipandang sebagai „uitholling” daripada pengertian perwalian jang tradisionil.416)

Setelah menelaah duduknja perkara jang sebenarnja, dan setelah melihat bagaimana anak Maria Elisabeth Boll hanja untuk sementara sadja ditempatkan dirumah gurunja dan dalam suatu klinik psychatris untuk anak- serta kemudian diberikan kepada embahnja untuk dididik dalam rumahnja selandjutnja, K o l ­l e w i j n berkesimpulan dengan L a u t e r p a c h t , bahwa tindakan2 dari instansi2 Swedia ini benar2 merupakan suatu „rival guardianship”. 117)

278. Kesimpulan.

Kita saksikan bahwa oleh Mahkamah Agung Internasional achirnja telah dibenarkan pendirian dari Swedia. Tindakan2 jang telah diambil oleh instansi2 Swedia' terhadap analc Maria Elisa­beth Boll dianggap terletak diluar pengertian „perwaliari” jang diatur dalam Perdjandjian 1902.

Untuk hubungan pembitjaraan kita jang sedang mengadakan penjelidikan tentang perkembangan diwaktu achir2 ini antara prinsip nasionalitet dan prinsip domicilie arrest ini menarik

415)

41G)

K ata L a u t e r p a c h t dalam hubungan in i: „It is wholly unreal to insist that the measures taken under the law on Protective Upbringing for the safety, health and happiness of Elisabeth Boll were not measures taken primarily in the interest of that child — and therefore not measures of guardianship of her p e rso n — , but primarily in the interest o f society a t large” (h. 85, s.d. K o l l e w i j n , o.c. h. 319).K o l l e w i j n , o.c. h. 319.K o l l e w i j n , o.c. h. 321.

198

Page 219: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

v. Aid i elaskaTi> b ah w a dalam arrest dari p erha tian . D iatas tad i telah “ dj D en H aag sendwM ahkam ah A g u n g In ter n a s m em t,eri k e sa n ten ta n g adanja djuga p er tim b a n g a n 2 ^ n?iHsar sek ita r p e r so a la n prinsip natio- p en d ap at- ter te n tu ja n g t»elKn a lite t dan d o m ic ilie . a lam p ik iran daripada p en d jab at2

K ita sak sik an b ah w a eta r im aan dari P e r d ja n d jia n 1902ja n g te la h m elangsungkan P n asion a lit e t adalah ja n g 'd ia n g g a p ten ta n g p erw a lian in i, Jue n eatu r p erw a lia n an ak 2 d ibaw ah seb aga i p a lin g baik u n tu k in j ter n ja ta ia lah ja n g d iutam akan ,um ur. D an p r in sip n asion a l perw alian anak2 d ib aw ah um urk aren a te la h d iter im a baik , f gang anak (pasal ^ M en u ru tdiatur o leh luikrnn nasion* p e r d ja n d jia n 1902 in i te la hK o l l e w i j n para P em„ t llo u sia sm e voor h e t n ation a lite its-m em p erh h atk an su atu „ e n tn °b e g in s e l” . . , ,

rr, . . . . d em ik ian m u d ah m elu p ak an ada-e tapi, ru p an ja k in i m -insip n a sio n a lite it in i, „dat de

™ de H aagse < ^ e r? tieb e z ie ld e ” . 11!>)

D alam h u b u n gan h a l in i d ap atlah d im e n g er ti m en gap a orang dalam m en afsirk an se g a la se su a tu b erk en a a n d en g a n P erd ja n ­djian 1902 te la h m em p e lih a tk a n k e tjo n d o n g a n u n tu k m em berik an ta fs iran ja n g terb a ta s m u n g k in ten ta n g b e ila k u n ja hukum n asional. Se-olah* o r a n g m e r a sa ch aw atir b ah w a akan diper- lu aslah b erlak u n ja h u k u m n a s io n a l in i h in g g a d ip erlak u k an pula un tu k suatu, b id an g ia n * te r le ta k d ilu ar b id an g daripada apa ja n g d iter im a dalam P e? d ja n d iia n te n ta n g p erw a lian 1902 itu .

O leh K o l l e w i j n d ian ggap p en d ir ian sem atjam imdapat d im en g erti. A pabila o ra n g tidak „ en th o u sia st terhadap b erlak u n ja hukum n a sion a l un tu k soa l- ja n g b ersan gk u t pa d en gan p erw a lian in i, d a p a t la h s e t j a r a m u d a h orang ?ampa. pada ta fsiran ja n g se m in im a l m u n gk in . K o l l e w i j m em an g sed ja k lam a tidak dapat m en je tu d ju i p e m a k a i a n d a nprinsip nasionalitet dalam b a n j a k hal; Uan ?„ « i f l i t a o r ” kan oleh beliau. D i k a t a k a n n j a bahwa ,ik zelf ook behoordiantara m erek a „d ie d it en th o u sia sm e (untuk p u n s ip nasiolitet) n ie t delen” . 420)

418) K o l l e w i j n , o.c. h. 322.419) K o l l e w i j n , o.c. h. 322.420) K o l l e w i j n , o.c. h. 322.

199

Page 220: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Akan tetapi, ditambahkan pula oleh beliau, bahwa hal ini adalah suatu jang lain sekali daripada mengemukakan bahwa adalah^ „ondenkbaar” bahwa diatur sesuatu berkenaan dengan perwalian ini menurut hukum nasional dari sang anak, jang bisa menjimpang daripada hukum jang setempat berlaku dimana sang anak bertempat tinggal. Pemakaian hukum nasional ini bukan sadja tidak „ondenkbaar”, tetapi djustru telah diharuskan oleh Perdjandjian bei'sangkutan.4-1)

279. Terdorong oleh ketjondongan untuk mengutamakan prinsip domicilie.

Daripada sikap instansi2 Swedia jang telah mengambil tindakan2 demi kepentingan dari anak Boll dan djuga dari sikap Mahkamah Agung Internasional di Den Haag, dapatlah kita simpulkan' bahwa semua instansi jang disebut ini telah terpenga- ruh °leh „voorliefde” mereka untuk mengutamakan prinsip domicilie (hukum daripada tempat tinggal sang anak jang diper- soalkan) daripada hukum nasional. Kata K o l l e w i j n : „De voorliefde voor het domiciliebeginsel heeft zich in de zaak Boll, zeker in Sweden, m aar naar m ij wil voor komen ook bij het Hof in Den Haag, laten gelden”. 422)

Bagi pendjabat2 Swedia njatanja adalah „de meest natuur- ij e zaak van de wereld”, bahwa mengenai seorang anak jang e ah dilahirkan di Swedia dari seorang ibu Swedia, telah dibesar- ■"an isitu, dan terus telah tinggal di Swedia dengan orang-tuanja, jang arus diperlakukan ialah tidak lain daripada hukum Swedia.

^ ^ k a h a n lagi, prinsip nasionalitet ternjata di Swedia ini tidaklah menerima dukungan jang bulat. Suatu ketjondongan

earah prinsip domicilie selalu nampak dikalangan para sardjana hukum disana. Dan dalam hubungan ini dapat kiranja ditund juk

) K o l l e w i j n , o.c. 322: „Met een overweging over de mogeliikheid van toepassing van het nationaliteitsbeginsel van het verdrag op rege- lingen betreffende kindcrbescherming in het algemeen had de zaak Boll met mogen worden beslist. Hot H of heef al te ver afstand genomen van het concrete geval, dat hem ter beslising werd voorgelegd. Hetgeen in Zweden in werkelijkheid was gebeurd, was de vervanging van het ene familielid van Elisabeth Boll als haar ,.gezagvoerder” door een ander. De toepassing van de nationale wet van het kind op een dergelijk geval was niet alien niet „ondenkbaar”, m aar was door het verdrag voorzien” .

422) K o l l e w i j n , o.c. h. 332.

Page 221: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

pula p ada ken jataan , bahw a dalam P erse tu d ju an regional an tara N egara2 S k a n d in a v ia u n tu k m engatur soal- H PI, telah diterim a baik, bahw a prinsip domicilie-lali jang berlaku , sekedar m engenai hubungan2 H P I an ta ra negara2 S kand inav ia .4-3)

Setelah adan ja keputusan M ahkamah A gung Internasional dalam p e rk a ra B o l l ini, pem erintah Swedia te lah m enjatakan hendak m en gundurkan d iri dari P e rd jand jian 1902 pada 29-11- 1958. Dalam su ra t-pem beritahuan opseg tersebu t dari pem erin tah Swedia te rtan g g al 11-12-1958, jang disam paikan pada M enteri Luar N egeri B elanda, te lah dikem ukakan bahwa apa jang m en­djadi dorongan un tuk m elakukan pengunduran d iri ini ialah agar supaja^ d im ungkinkan „d ’etud ier la possibility d ’un usage plus ex tensif du p rincipe de dom icilie dans le dro it in ternational prive suedois” .

K o l l e w i j n m e n a m b a h k a n , b a h w a p e n g u n d u r a n d ir i Swedia d a i i P e r d j a n d j ia n Den Haag 1902 s e b e n a r n ja b u k a n la h d is e b a b k a n k a r e n a a d a n ja p e r k a r a B o l l . Memang s u d a h s e d ja k b e b e r a p a w a k tu dikandung n ia ta n u n tu k m engundurkan d ir i d a n P e r d j a n d j ia n - Den Haag ja n g b e r s a n d a r k a n p a d a p r in s ip n a s io n a lite t . D j u g a P erd jan d jian m e n g e n a i p e r k a w in a n te la h di- o p se g - o le h S w e d ia .

M engingat a d a n ja ik lim ja n g p r o p r in s ip d o m ic ilie in i, a d a la h lo g is b a h w a p a r a p e n d ja b a t2 Swedia, s a m a s e k a li t id a k t e r in g a t a k a n a d a n ja k e m u n g k in a n , b a h w a k a r e n a b e r la k u n ja su a tu P e r d j a n d j ia n in te r n a s io n a l, a k a n d a p a t d ih a r u sk a n b e r la k u p u la h u k u m a s in g b e r k e n a a n d e n g a n seorang" a n a k j a n g te la h d ila h ir k a n d a n d ib e s a r k a n s e r ta b e r a d a te r u s -m e n e r u s d id a la m w ila ja h Swedia. Dan m e n u r u t u r a ia n K o l l e w i j n , m a k a p e n d ja b a t2 Swedia, ta tk a la d ip e r in g a tk a n a k a n h a l in i, t e la h m e- m a n d a n g p e m a k a ia n h u k u m a s in g in i d e m ik ia n a b n o r m a l ad a n ja , h in g g a m e r e k a t e la h m e n g e m u k a k a n k o n s tr u k s i d a r ip a d a „ordre public” u n t u k m e n g e n ja m p in g k a n b e r la k u n ja h u k u m a s in g itu .

Djadi, sesungguhnja, keadaan pada waktu peristiw a B o l l terdjadi. adalah berla inan sekali daripada iklim tatkala para

423) L ih a t H P I, no . 155. . . . . ,■2 4) L ih a t K o l l e w i j n, o.c* h* 322, djugci n. 1 .; B a t i f f o l -

• F r a n c e s| c a k i s, h . 275, n. 1 : „D ’apres les parues dans la presse, le m o tif d e la denoncia tion est que la Suede est en tra in de reconsiderer sa position q u an t au rattachem ent d u s ta tu t ppersonnel a la lo i nationale” .

201

Page 222: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

pembuat Perdjandjian Den Haag tahun 1902 menelorkan produk mereka. Para waktu itu semua pihak jang menutup Perdjandjian tersebut masih sedang enaknja berada dalam „nationaliteitsroes”. Dalam pandangan mereka hanja hukum nasional dari sang anak- lah ialah satu2nja hukum jang akan paling baik dipergunakan demi kepentingan dan perlindungan anak2 bersangkutan dan benda- mereka. Tetapi, jang kita saksikan kini, ialah bahwa orang teian mulai mendusin daripada „roes” mereka. Prinsip nasiona- met djuga dibidang perwalian ini ternjata membawa kepada Derbagai konsekwensi jang akan sukar untuk diterima, sepertil 3 diperlihatkan dalam perkara B o l l ini. Adalahebih memenuhi perasaan kebutuhan hukum, bahwa hukum dari

tempat dimana sang anak bersangkutan, hidup sebenarnja dalam kehidupan se-hari2, dimana ia telah dilahirkan, dibesarkan dan terus-menerus berada, adalah hukum jang paling tepat dipergu­nakan berkenaan dengan perlindungan bagi anak tersebut, berbentuk „perwalian” atau lain- tjara pemberian perlindungan. Hukum nasional dalam hal ini dipandang sebagai usang. 12a)

P erd jan d jian Den Haag tah u n 1902 jan g d idasarkan atas prinsip n asion a litet tern jata d irasakan k in i seb agai agak g an d jil adanja. P erbaik an2 dalam hal in i d iperlukan.

280. Akibat dari perkara B o l l .

Sebagai reaksi atas perkara B o l-l ini kita saksikan bahwa telah diusulkan untuk mengadakan tindjauan kembali daripada Konvensi Perwalian tahun 1902. Dalam Konperensi Den Haag ke-IX jang diadakan pada tahun 1960 telah dibahas soal2 perwa­lian ini. 420)

i ^ k o k persoalan jang ditimbulkan oleh arrest B o l l ialah apakah perwalian jang diatur dalam Konvensi 1902 itu masih ^ s™ r aen§an keadaan dewasa ini. Apakah dalam pengertian p wanan mi harus dianggap termasuk pula berbagai tindakan '2 cnusus jang diambil guna perlindungan terhadap anak2 jang masih dibawah umur. Kenjataan telah membuktikan bahwa pengertian „perwalian” diberbagai negara2 tidak sama adanja.

42s) K o l l e w i j n , h. 332.426) Lihat untuk ini karangan V o n O v e r b e c k , La neuvieme session

de la Conference de la Haye de d.i.p., V III NTIR' (1961), h. 31 dst. p.h. 48 dst.

202

Page 223: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

p e rb an d m g an hukum an tara sistim 2 jan g d ianu t d iberbagai n eg a ia d ap a t m em p erliha tkan bahw a tidak lah te rd ap at perce- suaian faham te n ta n g apa jan g d ipandang term asuk dalam istilan mi.

^Sekarang tim bu llah persoalan : apakah p en g ertian ,p e rw a ­lian ” in i h an ja d ita fs irk an se tja ra te rb a tas , a tau pun harus d iperluas sedem ikian ru p a hingga sem ua tindakan 2 chusus jang diadakan gunat m em berikan perlindungan bagi o ran g 2 jan g belum dew asa se r ta sem ua tindakan ’2 jan g d iadakan dem i perlindungan bagi m asja rak a t setem pat, d ipandang term asuk pula dalam istilah te rsebu t. D jika ta fs iran luas adalah jan g d iterim a, m aka pengli- ha tan m i adalah berla in an daripada apa jan g d iterim a, m aka peng lihatan in i adalah berla inan daripada apa jan g d iperliha tkan oleh M ahkam ah A gung In ternasional dalam p erk ara B o l l . K arena, sep e rti te lah k ita saksikan diatas, apa jang terkenal dengan istilah ..p ro tective upbring ing” d ipandang sebagai tidak te rtjak u p oleh ..guard iansh ip” .

T endensi um um nja m em perliha tkan , bahw a sekarang ini orang tjondong kepada su atu ta fs iran jan g luas. 427) Jang hendak a ipan ang sebagai te rm asu k dalam pen g ertian ..perlindungan

c kaw ah u m u r” ialah ..toutes les m esures de n a tu re in ivi uelle te n d a n t a la p ro tection d ’un m ineur qui ne se trouve plus dans la situation ,,norm ale” d ’enfan t 'soum is a la puissance paternelle , exercee convenablem ent, de ses p e re et m ere” . 42S)• luas in i lebih tjo tjok djika disebut denganistilah ,,p ro tec tion des m in eu rs” (perlindungan dari anak2 dibawah um ur).

S uatu pe rso a lan lain jan g n ja ta tim bul sebagai akibat dari a rre s t B o l l ia lah hubungan jan g seharusnja diadakan an tara p rinsip dom icilie dan prinsip kew arganegaraan.

Dalam a rre s t B o l l te rn ja ta M ahkamah A gung In te rn a­sional te lah m engam bil suatu sikap jan g lebih tjondong kepada pengu tam aan daripada prinsip domicilie. Jang dilitik-beratkan ialah hukum d ari tem pat tinggal sang anak (la residence habituelle).

D engan adan ja pengutam aan daripada hukum dari tem pat tinggal anak bersangkutan , te lah d ibenarkan tindakan*- chusus

427) V o n O v e r b e c k , o.c. h . 49.428) I d e m .

203

Page 224: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

jang telah diadakan oleh instansi2 setempat (Swedia). Adanja pengakuan daripada berlakunja hukum dari tempat tinggal sangdanatim mengatur tindakan2 chusus jang telah diadakan,dapat membawa risiko2 tertentu. A rrest B o l l ini mungkin

■embuka pmtu se-lebar2nja untuk kewenangan daripada instansi'2 se er^Pat. Peiatuian- jang dipandang bersifat hukum publik akan

apat didasarkan atas berlakunja hukum setempat ini. ■»-») Dengan emi ian dapat terdorong kebelakang-lah tindakan- jang diada- an o eh instansi- nasional dari sang" anak dalam mengatur

Perwaliannja.

Dan ketjondongan jang diperlihatkan oleh arrest B o l l Ir|i einjata diperkuat lagi oleh tendensi jang nampak pada umum- uja untuk memberi tempat jang 1 ebih utama kepada prinsip

omicilie. Dalam hubungan ini dapat ditundjuk pula pada pengun- uran d in dari Swedia dari Konvensi Den Haag mengenai

Perwalian dan perkawinan. Penarikan diri ini telah terdjadi setelah arrest B o l l diutjapkan dengan membawa kemenangan

a§i pendirian Swedia. Akan tetapi, nistjaja demikian Swedia tt*asih menganggap perlu untuk menarik diri dari Konvensi2 Den Haag tersebut. Sebagai alasan dikemukakan bahwa Swedia lebih tjondong untuk pemakaian daripada prinsip domicilie dalam me- n§atur hal2 ini. 43°). ■ Dalam bidang perlindungan terhadap anak2 dibawah umur

selalu tampil kemuka alasan2 kuat jang diadjukan supaja diberikan kekuasaari2 jang besar kepada instansi2 setempat di- mana sang anak berada. Dalam arrest B o l l sudah kita saksikan adanja ketjondongan ini.

Apabila prinsip nasionalitet hendak dipertahankan sebagai dasar daripada P e r s e t u d j u a n tentang perlindungan bagi anak2 dibawah umur ini, maka perlulah diadakan pembatasan antara kedua hal tersebut.

Dan bagaimana harus diatur bilamana sang anak pindah kelak kedalam wilajah daripada negara nasionalnja ? Tentunja dalam hal demikian ini dapat dipertanggung-djawabkan bahwa

**“) B d d T ~ V a n H o o g s t r a t e n M.H., Quelques notes sur laconference de la Haye de d ,,p . (VI), VI NTIR (1959), h. 60 dst, p.h, 69.

4d0) H al inf sudah diberitahukan diatas. Lihat djuga V a n H o o g s t r a -<e n , o.c. h. 70 n.l.

2 0 4

Page 225: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

m d o m ic ilie s e m u la in i d a p a t d ik e s a m - k e w e n a n g a n d a r ip a d a huK ^ t e r s e b u t . -,:n) p in g k a n k a r e n a p e r p in d a

kevVarganegaraan dan prinsip domicilie. Hubungan antara prinsip K

j a n g s e la lu ta m p i l k e m u k a a p a b ila S u a tu p o k o k s e n ®^x ax-a m en g atu r j a n g s a m a u n tu k m e n je -

d ih a d a p i u s a h a - k e a r a h p e r s 0 a la n t e n t a n g p r in s ip k e w a r g a -le s a ik a n p e r is t iw a - H P I ia K a r e n a a d a n ja p e r b e d a a n titik -n e g a r a a n a ta u d o m ic ile® ^ a n p i l ih a n . Dan p i l ih a n j a n g h a r u s p e r t a l ia n in i p e r lu la h k n lu d a h a d a n ja . M engenai K o n v e n s i d ia d a k a n in i s e r in g k a l i t i jj.e-IX d i D en H aag in i , b o le h d ika-j a n g d i t e r im a p a d a K o n v e ^ t e r d a p a t s u a tu k o m p r o m is .t a k a n b a h w a d a la m h a l im

, n a s k a h j a n g t e r a c h ir d ite r im a t e la n T e i n j a t a b a h w a p a j a n g d a p a t d i l ih a t d a la m k o n s e p s i

t e r d a p a t p e r b e d a a n d e l lg * r ik a n s u a tu t e m p a t j a n g l e b ih b e s a r s e m u la . A c h ir n j a t e la h negaraan ini. H a l in i d is e s a lk a n o le hpad a4m k p e r t a l i a n k e»a ' g-> keJX .... ,, , Setjagai

beibagai kom m entatoi benarnja hukum dom icilie dari anaka l a s a n dikemukakan bahwa j ooff;,iabersangkutan-lah a d a l a h jang pahng ba,k mengatur segala s e s u a tu in i .

P engalam an dengan Perdjandjian 1 9 0 2 t e n t a n g penvahantelah membuktikan b a h w a instansi- nasional dan s a n g a " ^ 11 dapat melaksanakan

sangg,nanaka iT e s f B o U telah membutikan hal V DJitodiperhatikan hal ini, maka bolehlah d j u g a d i k a t a k a n b a h w a has.

~ -i. , Konperensi ke-IX di Denjang telah diperoleh dalam Oi-toimia anak-, ^.inriarkan bahwa dalam prakteiaijaIfn g b e l m n ^ r i T i t m u m n j a akan tunduk kepada k e w e n a n g a n

d a r ip a d a in s t a n s i2 s e te m p a t-

I S p f k ‘^ “ ^ v ^ O v e ^ e c k , o.c. h . 5 1 : „ C o n c e d o n s t o u t d c.® ' m isaln3a p a r t p l u s g r a n d e a l a n a t i o n a l i t e q u e 1 a v a n

s u i t e q u e celle-ci a f a i t u c a r les au to ritgs e t la lo i d u m ilieu d a n s

P araissen t en reg ie g ^ r a l e l e s onieu* p.acee*

p o u r reg le r son so rt” .205

Page 226: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

D em ik ian dalam garis2 besar pertukaran p ik iran ja n g te la h liakukan b erk en aan d en gan p ersoalan ten tang prinsip k ew arga­

n egaraan dan prin sip dom icilie in i sebagai akibat daripada arrest B o l l . 433) •

281. Tjaia penjelesaian dari „perselisihan” antara prinsip ke- wai ganegaraan dan prinsip domicilie.

Dalam tahun 1951 ^ ]3en Haag telah dimulai Konperensi tentang HPI jang ke-VIl. Pada kesempatan ini telah diterima baik sua u ,, onvensi untuk mengatur „perselisihan” jang terdapat f 11] a - + U •Um e^ ar2ane§araari hukum domicilie”. Konvensi ini ntfancra e.n ?tla .pada tanggal 15-6-1955. Negara- jang telah rnenan- datanganmja ialah :Belgia, Perantjis, Luxembourg, NederlandS T r r f , d3la k tah" n 1955>’ dan Spanjol (1957). Jang telah meratifikasinja baru Nederland.

m asa^^T en v o i’ afan131111 dalam Konvensi ini termasuk bidang masalah „i envoi atau penundjukan kembali.

pf lu J»W>eilie amhiia 1 p pemakaian daripada hukum donu-dipergunakan n ^ SUatn »benirokan” antara sistim2 jangL o S ! m . PasaI 1 «tentukan sebagai beriim tl

I’anniiVct;^ a ’ ,°U *a Pers°nne interessee est domicilee. prescrit sonnp pet n 6 t-a l0i nationale, mais que l’Etat, dont cette per- cilie tnnt r ®fs°rtlssante> prescrit l’application de la loi du domi- intpriiA r? i a, C01ntractant appliquera les dispositions du droit bila a i - f u, domicilie”- Disini dikemukakan bahwa apa-ber domidi p rn am mana seseorang jang bersangkutanliknja negara berlakunia hukum nasional, tetapi seba-domicili, maka tetap° negara* • menentukan berlakunja hukum ini, mempergunakan hukum inf" 8 ™enandatan§ani Perdjandjian domicilie. <»») Ukum mtern (Sachnormen) daripada hukum

p e r l i i d u n g M ^ a n i k ^ f n r 1t l ^ d i b a h a f ' S i h hCn! r 1 9 6 0 t s n t a n s

^ Uhat M V o n " ( ^ e r -434) Tractatcnbiad, 1961 no. 4, pada taneeil ?? 10 io™

r o v - Q u e 11 e n, II, no. 29 ; Lihat djuga HPI j nn i ^ a k a -435) K i ta a k a n m e m b a h a s n ja s e t ja r a te r s e n d ir i k - fa k

435) djaUhUIltUk Perdi andj*ali Den^ Haag ke-VII ini, K e g e l ,

206

t

Page 227: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

282- P cn d ap a t p a ra p en u lis ten tan g p rin sip dom icilie dan p rin ­sip k ew arganegaraan .

D jika pada w ak tu sekarang in i k ita m engadakan perban- dingan a n ta ra p a ra penulis jan g pro p rin sip domicilie dan m ereka jang pro p rin s ip kew arganegaraan , m aka m asih boleh d iperta­hankan k ira n ja apa jan g te lah dikem ukakan oleh H i j m a n s dalam tah u n 1937, bahw a ketjondongan k earah prinsip dom icilie m asih nam pak d en g an n ja ta .

D ari p en u lis 2 jan g pro domicilie ini boleh d isebut m isalnja disam ping II i j m a s sendiri, R a b e l , 43C) N i e d e r e r , 437) N i b o y e t, dan ten tu n ja penu lis2 texbook dari negara Anglo-Saxon se p e rti C h e s h i r e, 439) S c h m i t t h o f f , 440) dsb.

D ari p en u lis2 ten tan g H P I Indonesia dapat d isebut K o l l e ­w i j n jan g p e n d iria n n ja sudah d ipaparkan se tja ra saksam a diatas 441) dan L e m a i r e . 442)

P en u lis2 jan g m asih te tap m em pertahankan prinsip kew ar­ganegaraan m eru p ak an m inoritet, a.i. K e g e l , 443) B a 11 i - f o 1, 444) dsb.

D jika d iingat pada p e rp u ta ra n haluan sep erti diperlihatkan oleh F r a n k e n s t e i n , jan g tad in ja te rkenal sebagai pendekar-u tam a pro p rinsip kew arganegaraan , te tap i 24 tahun kem udian (dalam ta h u n 1950) te lah m em pelihatkan ketjondongan

430) R a b e l I, h . 171.437) N i e d e r c r , h . 153. 0 . . n r ; n -438) N i b o y e t , T ra it6 , I II , h . 195 dst. L ih a t d juga S ° P h i e ^

b e r g - V i n a v e r , d a lam R eperto ire , d ibaw ah ..D oR esidence” , no . 103 bis. . M. T . r , . s h i r e ,

430) D en g a n p erlu p e rb a ik an p a d a konsepsi dom icilie Inggris, o n e s

440) S c h m H t T o f f bitjara tentang ..Superiority o f D om icile over

441) D a la m ta h u n 1929, p id a to d ies-n ja : ,,0 n taa rd mg van h ^ beginsel in h e t m o d e rn s i.p.r ” , dan pada tahun 1959 da lam„ H e t Haagse. V o o g d ijv e rd ra g v o o r h e t In te rn a t io n a le H o f v a n Ju s titie ,V I N T IR (1959), h . 311 dst, p.h . 322.

442) ' L e m a i r e , T . 148, p.h . 21.443) K e g e l , K o m m en tar, h . 514 no . 23. «»m hntn<!an2444) B a t i f f o l , Principes de d.i.p., h. 498 dst. D engan pembatasan

te rten tu .

207

Page 228: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

T e n d ^ 01S i d8WaSa ini UmLlmnja lebil1 .favorable” '_ densi mi se-tidak-nja memperlihatkan, bahwa Demakaian

Setjara kakU'rig0reus tida* dapat diper-

kearah prinsip domicilie,44c) maka njatalah bahwa angin untuk

283. Prinsip manakah jang sebaiknja untuk Indonesia ?

... Pada umumnJ'a dapatlah dikemukakan faktoi® sebagai beriku t

“ u S f S l P . S P

11 Sebagai alasan praktis dapat dikemukakan bahwa dengan

takum aasing!M P!“ pemataia" t o i Pada

Pemakaian prinsip nasionalitet mempuniai sebaga i •

gunaka7“ b3hWa ^ * “

2) ^ jang disebut diatas ini> kita m e' se-hari2 rifmul d n bahwa da]am atJai'a -berperkara. dinprpimav a PenSatiilan2 di Indonesia ini lazimnja

^ , , an sac*Ja B.W. untuk semua orang jang dapat A*;™ ? golongan rakjat Eropah atau Timur-Asmg, tanpa memperhatikan lebih djauh apakah orang3 mi berstatus WNI atau asing. *«)

3) Kiianja hal ini adalah sesuai pula dengan apa jang telah i a saksikan diatas pada waktu membitjarakan keluhan2 ari berbagai sardjana hukum, bahwa sipelaksana hukum1 Indonesia masih sadja kurang mejakinkan dalam

praktek, bahwa orang2 asing (ehususnja Tionghoa), tidak dapat dengan begitu sadja termasuk dibawah B.W> Indonesia untuk status personil mereka. 44S)

445) Lihat diatas, no. 204.i46J Bdgk. K e g e l , h. 141.44‘) Sebagai alasan untuk sikap sedemikian dari para Hakim ini, pernah di-

kemukakan oleh seorang Hakim jang berpengalaman pada kami, bahw a persoalan tentang pemakaian hukum jang sebenarnja hanja akan ditero- pong bilamana para pihak sendiri mendalilkan status kewarganegaraan mereka (WNI atau asing). D jika tidak, Hakim akan tinggal diam tentang - soal2 H PI ini. Bdgk. Keputusan dalam perkara B i s b a l di Perantjis, jang telah dibahas diatas.

448) D e F l i n e s , Cavearit Consules, T. 141/343.

2 0 8

Page 229: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

A pakah pem akaian p rinsip domicilie un tuk R.I. akan leb ih m endekati „rechtsw erkelijkheid” ?

4) Di Indonesia pada dewasa in i m asih belum tex’dapat tju ­kup balian 2 b a tjaan un tuk m engetahui dengan baik akan hukum asing. D juga ahli2 ten tan g hukum asing jang n iungk in dapat didengar sebagai expert oleh Pengadilan tidak te rsed ia . Daripada m enggunakan hukum asing se­tja ra ke liru atau se tja ra kurang tepat, leb ih ba ik raem- p e rg u n ak an hukum sendiri. 14i’) D jam m an2 untuk suatu tja ra pem akaian hukum setjara se-baik2nja dengan dem ik ian akan m endjadi lebih banjak. 15°)

5) Di Indonesia sekarang ini te rd ap a t pluralism e hukum. A nekaw arna hukum perdata ini didasarkan bukan sadja pada p e rb ed aan dalam golongan rakjat, tetapi djuga a n ta ra sesam a golongan bum iputera dari lingkungan- hukixm-adat jan g berbeda. ,D1)

D iatas sudah diux'aikan bahw a faktor anekawarna hukum in ilah jang telah dikem ukakan pula sebagai alasan un tuk pem akaian prinsip domicilie.

Tetapi, te rhadap pertim bangan ini, dapat dikemuka­kan bahw a anekaw arna hukum jang setjai’a menjolok dikenal ialah perbedaan hukum perdata antara golongan ra k ja t. P e rb ed aan dari ox’ang2 jang berada dibawah jjVerschillend [personeel re ch t” ini tidak tei’ikat pada fak to r tei'rito ir.

Lain haln ja dengan m isalnja persoalan2 jang timbulkai'ena berlakunja anekaw arna hukum p e r d a t a da amnegara- bagian dari Federasi Amerika Sei'ikat atau ni Sosialis Sovjet Russia. -,53)

T etap i persoalan2 jang term asuk HAG di In^ on? ^ in i m em bawa pula bahwa setiap persoalan jang frers _ H P I p e rlu ditindjau djuga dalam hubungannja deng soal2 HAG. Dalam hubungan ini kiranja dapat ditunuj

449) B dgk. akan te tap i ap a jang dikem ukakan o leh K o 11 e w i j n “ 8s u m b e r2 h u kum d ari hukum Tiongkok m odern, jangag ak m u d a h u n tuk diperoleh. T . 132/323 dst.

450) B dgk. d ia tas , p a d a pem bitja ra „Iex fo ri .4 5 1 ) L i h a t b u k u H A G , s u a t u p e n g a n t a r .453) L ih a t d ia tas , no. 199 sub. 5.

209

Page 230: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

dalil jang .dipertahankan dalam diseriasi L e m a i r e , jakni bahwa hubungan hukum perdata internasional jang bertalian (aanknopen) dengan stelsel hukum Hindia Belanda, selamanja djuga bersifat hukum perdata antar­golongan. 4o4) Apabila menurut ketentuan2 HPI Indonesia telah dipastikan bahwa hukum Indonesia-lah jang perlu dipergunakan, maka perlu diadakan perintjian lebih jauh hukum-golongan (groepsrecht) manakah jang harus ipeigunakan dalam casus positie tertentu itu.

Dan apabila ditindjau dari segi ini, teranglah HPI sadja belum tjukup untuk menjelesaikan persoalan2 jang bersangkut-paut dengan stesel hukum Indonesia. Hukum mana jang perlu diperlakukan masih harus ditentukan lebih djauh berdasarkan ad jar an2 HAG.

Dalam melakukan hal ini, pada mentjari hukum me­nurut ketentuan2 HAG, ukuran jang dipakai bukanlah faktor tempat, karena pada HAG kita ini hanja bekerdja dengan ikatan2 personil dari hukum. Tempat kediaman seseorang, domicilie-nja tidak penting adanja. Djadi, ditindjau dari segi jni,' boleh dikatakan bahwa faktor domicilie bagi sistim pluralisme hukum Indonesia tidak merupakan satu faktor jang berarti untuk menentukan hukum jang berlaku.

Akan tetapi, seperti telah diuraikan diatas, disamping faktor12 personil jang njata pada HAG ini masih terdapat pula faktor2 t e r r i t o r i a l pada persoalan2 HAT. 455) Pada soal2 jang termasuk „interlocaal recht” ini, dise- babkan karena perbedaan lingkungan-hukum-adat dian­tara golongan rakjat Indonesia dan Timur-Asirig bukan- Tionghoa, faktor tempat kediaman memang penting adanja. Disinilah kita saksikan bahwa faktor domicilie memegang peranan jang besar dalam menentukan hu­kum jang harus diperlakukan. Djadi, dalam hubungan ini, kita saksikan suatu perkembangan jang boleh dika­takan paralel dengan apa jang kita saksikan dalam sistim3 Federasi U.S.A. dan U.S.S.R. tersebut diatas.

454) Dalil no. IV dari diss. L e m a i r e .45<s) HAG, suatu penganlar, h. 27 dst.

210

Page 231: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

B erk en aan dengan in i dapat k ita terim a pula a la sa n ' p lu ra lism e hukum in te rn sebagai fak tor jang m engun- tu n g k a n d a ri pem akaian p rinsip dom icilie ini.

6) In d o n es ia h ingga beberapa w ak tu berselang m erupakan su a tu n eg a ra im m igrasi. B anjak sekali o rang 2 asing jang te rd a p a t disini. B erhubung sifa tn ja sebagai negara d ja ­d ja h an H ind ia Belanda, ini telah m em buka p in tun ja u n tu k pem asu k an daripada o rang 2 asing jan g tenaga k e rd ja n ja d ibu tuhkan disini a tau jan g hendak m en tja ri n a fkah d ikepu lauan N usan tara ini.

B en a r sed jak pengisian daripada kem erdekaan jang d ip ero leh , te lah kita saksikan perobahan politik dalam h a l p em asu k an o ran g 2 asing ini. K ini sangat dibataskan- lah im m ig rasi ini. 1DG)

Tetapi, n is tja ja dem ikian, m asih boleh kita katakan bahw a d ju m lah o ran g 2 asing - jang berada di Indonesia adalah tju k u p besar. H al ini disebabkan pula karena ke* n ja ta a n bahw a sebagian dari m ereka jan g dahulu tergo- long kelom pok „Nederlandse Onderdanen”, kini telah m en d jad i o rang asing. Jan g dim aksudkan ialah mereka d a ri golongan kaula-negara Belanda ke tu runan Tionghoa ja n g pada P e rse tu d ju an P eriha l Pem bagian W a r g a n e g a r a

d ari K onperensi M edja Bundar, te lah m e m p e r g u n a k a n

hak repudiasi m ereka. 457) M enurut perk iraan djumlah in i adalah lu m a ja n .45S) Dan pada djum lah ini bolen ditam bahtaan pula 'bagian daripada orang2 jang bermvi- kewarganegaraan R L-RRT, jan g telah tinggal diain a n ta ra periode 20-1-1960 cian 2U-1-1962, pada waktu d ilaksanakan U.U. no. 2 tahun 1958 tentang Persetudjuan P e n j e le s a ia n D w ik e w a r g a n e g a r a a n . 45a)

D jika d ipergunakan prinsip kew arganegaraan, maka te rh ad ap o rang 2 asing ini dalam hubungan an tara me- reka , m engenai status personil, akan dipergunakan hukum nasional m ereka. Ini akan m enjebabkan lebm

4S0) H a n ja o ra n g a a h li d a n p a ra tu r is s a d ja ja n g iaikan d ite r im a d e n g a n m u d a h .« * ) L ih a t p a s a l 5 L.N. 1950 no. 2.4o8) B d g k . a n g k a a j a n g d ib e r ik a n s e t ja ra re sm i d a la m p e rk ira a n d a n p e m e

r in ta h p a d a U .U . D a r . P a d ja k B angsa A sing .N a m p a k n ja tid ak begitu banjak.

211

Page 232: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

banjak diperlakukannja hukum asing daripada djika dianut prinsip domicilie. Hal ini sudah ditegaskan diatas tadi.

7) Sebagai negara immigrasi ini tentunja Hindia Belanda c.q. Republik^ Indonesia berkepentingan bahwa orang2 asing ini setjepat mungkin dapat diassimilir. Orang2 asing jang diterima mendjadi kaula-negara setjara mu­dah berdasaikan ius soli (azas daerah kelahiran) tentunja perlu pula diassimilir setjapat mungkin kepada keadaan2 didalam negeri dimana mereka hidup, supaja dapat men­djadi kaula-negara jang baik. Seperti diketahui U.U. Kekaula-negaraan Belanda dari tahun 1910 didasarkan atas azas ius soli ini. Anak2 dari orang asing, jang baru sadja datang masuk disini, anak2 mana dilahirkan dalam wilajah Hindia Belanda, sudah terhitung mendjadi kaula­negara Belanda. Hal ini merupakan pula suatu faktor jang turut membantu kearah assimilisi setjepat mungkin dari orange asing. Dan proses assimilasi ini tentunja akan dibantu pula djika pihak orang tua anak2 bersangkutan (jang masih tetap tinggal asing tetapi sudah lama ber- djam disini) akan tunduk pula dibawah hukum dari tempat dimana mereka hidup setjara menetap. Apabila ikatan2 dengan hukum nasional diputuskan, proses assi­milasi dapat diperlantjar.

Sekarang ini, sedjak berlakunja Undang- tentang Kewarganegaraan R.I. no. 62 tahun 1958 pada 1 Agustus 1958 kita menganut prinsip ius sanguinis. 400) Azas ius soli dilepaskan. Dengan demikian akan lebih banjak lagi orang2 jang terhitung asing dinegeri ini. Anak2 jang dilahirkan dari orang asing jang berada disini, tadinja terhitung sebagai warganegara R.I. (dahulu : kalau-negara Belanda). Tetapi sekarang ini anak2 dari orang2 asing itu, akan tetap tinggal asing, walaupun mereka dilahirkan di Indonesia. Hanja anak2 dari orang jang berstatus WNI akan mendjadi WNI pula karena kelahiran. Azas-ketu- runan-lah jang menggantikan azas daerah-kelahiran.

460) Lihat G o u w g i o k s i o n g , Tafsiran U.U. Kewarganegaraan R.I.. h. 4 dst.

212

Page 233: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

4o;*)

Hal in i b e ra rti, bahwa dalam prakteknja lebih banjak- lah orang2 asing. Djika d ipertahankan prinsip kewaiga- negaraan untuk status personil m aka hukum asing a an lebih ban jak diperlakukan. M e n g i n g a t akan hal ini lra- nja dapat pula dikemukakan bahwa perobahan Perr* axar ius sanguinis dalam Undang2 K ew arganegaiaan . • mi boleh dianggap sebagai salah satu fak tor jang pen mg kearah pem akaian prinsip domicilie.

Pada waktu dipergunakan ius soli dalam Undang K ekaulanegaraan Belanda maka orang akan e 'as ipai\ dang s e b a g a i warganegara. Apabila penerim aan oiang asing m endjadi warganegara ini dilakukan setjara ei am- pau m udah maka bolehlah kita pandang djuga oanwa sebenarn ja pemakaian prinsip domicilie tela +S8r!ai™ dengan ,',kedok” pem akaian ' sistim nationalitet. uaiam hubungan ini misalnja dapat d itundjuk kepada apa j dikem ukakan oleh W o l f f , sebagai „disguising tne domicilie system under the system of national! y ■ )Sistim jang berlaku diperkenalkan sebagai prinsip n nalitet. T etapi jang sebenarnja berlaku ialah p“ J ? domicilie. M engapa ? Oleh karena orang2 jang datang luar dan m asuk kedalam wilajah negara bersang se tja ra m udah dan tjep a t sekali d i a n g g a p sebagai w negara. Pengalam an jang serupa telah kita saksi V enezuela pada tahun 1850 dan Brazil ditahun

D a l a m i k l i m p e m a k a i a n i u s s o l i u n t u k U n d a n g ^ a u

l a - n e g a r a a n B e l a n d a d a r i t a h u n 1910 d a p a t luta untufe P u l a p e r k e m b a n g a n j a n g s e r u p a . A d a l a h m u

t e r h i t u n g m e n d j a d i k a u l a - n e a g a r a B e l a n J J - d i d a l a m h i r a n d i s i n i d a r i o r a n g t u a j a n gn e g e r i s u d a h m e n t j u k u p i . I s t i l a h . , g e v e s i g • d a l a m s i r k a n s e t j a r a l u a s . B u k a n m e n u r u t k e t e n t u a .

p e r a t u r a n - i m m i g r a t o i r t e t a p i p e n g e r d i n e r g u n a -,,hoofdvciblijf hebben” a d a l a h u k u r a n j a i g - n gk a n . D e n g a n d e m i k i a n b a n j a k l a h o r a n g

401) W o l f f, P .I.L ., h. 1044 02) L ihat W o l f f , idem. . . , K n n M r H e r la n d s O nder-

L iha t i n t e r p r e t s L o g e m a n „ T. 136/500, N e d e r l a n adaanschap en h e t H o o g g e r e c h t s h o f D iatas, n. 46.

213

Page 234: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

m em enuhi sjarat. Anak2 dari orang asing jang dilahirkan disini sudah dianggap sebagai kaula-negara (nationalen). D itindjau dari segi ini bolehlah dipertanggung-djawab- kan <=pula djika prinsip kewarganegaraan jang diper­gunakan. Karena orang® toh tjepat d ipandang sebagai memperoleh status warganegara di Hindia B elanda itu.

8) Indonesia ini boleh dianggap se-olah- terletak dalam lingkungan suasana daripada negara2 tetangga jang tjon­dong kepada pemakaian prinsip domicilie. Negara" jang tergabung dalam Commonwealth, seperti Australia, India, Pakistan, Singapura, Malaya, terpengaruh oleh sistim HPI jang berdasarkan „common law”, lebih tjon­dong kepada pemakaian prinsip domicilie untuk status personil. i64)

Alasan ini pernah dipergunakan untuk mengemuka- . kan bahwa adalah lebih baik djika dipergunakan prinsip domicilie untuk Indonesia.

Kami memandang alasan ini kurang mejakinkan, karena negara tetangga seperti Tiongkok 4C5) jang mem­punjai paling banjak warganegara-nja cli Indonesia, dan negara2 dari Eropah kontinental seperti D jerm an, Peran­tjis, Italia, jang merupakan bagian b e ra r t i daripada kelompok orang2 Barat di Indonesia, mempergunakan prinsip nasionalitet.

Demikian beberapa faktor jang dapat dikemukakan sebagai alasan2 untuk mempergunakan prinsip domicilie di Indonesia.

284. Alasan3 pro prinsip nasionalitet untuk R .I .: Nasionalisme sedang bergelora.

Pada waktu sekarang ini faham tentang nasionalisme sedang bergelora didalam alam Republik Indonesia. Sebagai negara muda jang baru sadja memperoleh kemerdekaannja, adalah logis bahwa faham2 tentang nasionalisme kini mengalami perkem ­bangan jang subur.

464) Lihat no. 187.405) Demikian pula adalah keadaan dengan negara Djepang.

214

Page 235: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

B erla in an daripada keadaan dalam negara 2 E ropah dim ana' d ju s tru k ita saksikan bahw a m asa nasionalism e sudah m elew ati p u n tjak k ed ja jaan n ja dan kini sedang berada dalam ta ra f „m erosot kebaw ah” , karena orang m ulai b e rp ik ir dalam hubungan ika tan2 ja n g lebih luas daripada hanja dalam hubungan kenega- raan , k ita d isin i b a ru m ulai m engindjak ta ra f pertam a daripada p erk em bangan nasionalism e itu.

U n tu k keadaan pada waktu sekarang di-negara2 E ropah ini R a a p e m engem ukakan adanja „die A uffassung, das nicht m ehr d e r S taa t das hochste Gut des M enschen sei (Felix DahnX sondern die zu erhoffende Gemeinschaft der S taaten bzw. N ationen, d ah er der Bindung an den Staat nicht m ehr so grosse B edeu tung fu r die Ankniifung im IPR zukomme wie b isher” . 400) P rinsip kew arganegaraan dalam hubungan ini d ipandang sebagai tidak dapat d ipertahankan lebih djauh.

K ita di Indonesia berada dalam keadaan jang berlainan. Sebagai negara m uda dalam kelompok negara2 Asia-Afrika jang baru d ap at m em bebaskan diri daripada sistim pendjad jahan ada­lah pada tem patn ja bahwa faham 2 tentang nasionalisme sedang bergelora.

Akan inner ini tentunja subur pula untuk faham 2

mi, ianam - nasionalism e jang ~kearah pem akaian daripada prinsip nasionalitet un tuk H P i aiIndonesia.

dipakal prinsip domicilie. 40')

4GB) R a a p e. h4C7) B erdasarkan , ’analogische toepassing” . Bdgk. jurisprudensi te tap m e S

pasa l 16 A .B?

Page 236: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Sistim jang konsekwen.

Harapan kami demi perkembangan jang sehat daripada HPI Indonesia, ialah bahwa djangan sampai diterima sistim jang agak tidak-konsekwen, ja k n i: mempergunakan prinsip nasionalitet untuk warganegara sendiri jang berada diluar negeri dan mem­pergunakan ibegitu sadja hukum domicilie untuk tiap orang2 asing jang berada didalam negeri. los) . °

Nasionalisme dan hukum perdata.

Dan dalam hubungan ini mungkin ada baiknja djika ditam- bahkan pula, bahwa sebenarnja faham2 tentang nasionalisme ini tidaklah pada tempatnja untuk memegang peranan jang m e n e n t u k a n dalam segala sesuatu jang berkenaan dengan bidang hukum perdata. Dalam sistim Hukum Perdata jang ter­dapat diberbagai negara, setjara tegas diadakan perbedaan antara hukum publik dan hukum perdata bagi orang-' asing ini. Lazimnja terdapatlah ketentuan jang serupa seperti dikenal pula dalam B.W.*Indonesia, bahwa „Menikmati hak2 perdata adalah terlepas daripada hak2 kenegaraan” (pasal 1) .4(i0)

Nasionalisme mengandung banjak unsur12 jang baik dan bagus. Tetapi, faham2 nasionalisme untuk bidang hukum perdata kiranja tidak boleh diutamakan demikian rupa hingga memper­oleh kedudukan jang ..decisive”.

285. Pendirian kami.

Dari pada apa jang telah diuraikan diatas dan dari tjara pemaparan persoalan (betoogtrant) jang telah dilakukan, sudah dapat ditarik kesimpulan jang njata, bahwa kami pun berpen- dirian, bahwa sistim jang sebaiknja dipergunakan untuk Indo­nesia, ialah prinsip domicilie.

468) Sistim seperti dikenal dalam HPI-Russia, dan beberapa negara Amerika- Latin.

460) „Het genot van burgerlijke rechten is on afhankelijk van staatkundige regten”. Terdjem ahan dari Mr. R. S u b e k t i dan T j i t r o s u - d i b i o („menikmati hak kewargaan tidaklah tergantung pada hak kenegaraan”) kami anggap kurang djelas untuk hubungan pembitjaraan kita sekarang ini. Perhatian kata2 jang dikursipkan.

216

Page 237: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Dalam hal ini kami sependapat dengan penulis2 terbanjak dibidang H PI, jan g beranggapan bahw a sistim domicilie k iran ja adalah jan g paling baik untuk d ipergunakan bagi Republik Indonesia.

T etapi, p e rlu k iran ja ditambahkan, bahwa dalam hal ini kami tidak m enolak pem akaian daripada prinsip nasionalitet bagi sistim H P I Indonesia. Akan tetapi, jang tidak_dapat dipertang- gung-djaw abkan ialah djika pemakaian prinsip nasionalitet ini d ilakukan se tja ra rigoreus-kaku, hingga membawa kepada „juri- disch Chauvinism e” .

P rak tek hukum telah membuktikan, baik dari perkem bangan diluar negeri (terutam a Perantjis), maupun didalam negeri, bahwa suatu pem akaian dari-prinsip nasionalitet setjara terlam- pau kaku dengan pengelonan se-mata2 daripada hukum nasional sendiri, tidak akan membawa hasil jang dapat memuaskan pera­saan hukum para justitiabelen.

P rinsip nasionalitet, bila hendak 'dipertahankan terus, sebaik- nja dikom binasikan dengan prinsip domicilie, sedemikian lupa seperti m isalnja pernah diusulkan oleh penulis- A s s e r , F r a n k e n s t e i n dan B r a g a tersebut d ia ta s .4-0)

D itentukan m isalnja, bahwa prinsip kewarganegaraan terus berlaku bagi orang2 asing jang berada di Indonesia selama me- reka ini tidak lebih dari 2 tahun berdiam disim ) Hukum nasional m ereka selama itu dipergunakan untuk statut p ■Tetapi djika setelah djangka waktu itu m ereka masjh terus m enetap disini, maka hukum domicilie (i.e. hukum Indonesian jang akan m endjadi berlaku.

U ntuk para W NI jang berada diluar negeri, tetap beria hukum nasional In d o n es ia guna_ statut personil mereka.

286 . K esiinpulan.

Djadi, kesim pulan pendirian kami ialah : +ovrianata) K i t a m e r o b a h prinsip nasionalitet jang km i te idapat

dalam^pasal 16 A .B , untuk HPM ndonesia, m endjad. prinsip d o m i « i l i e !

470) L ih a t no . 204. -* rt tcntcinfi471) M a sa 2 tah u n ini disesuaikun dengan pera tu ran2 unigrato ir vcn g

K a rtu Izin M asuk.

217

Page 238: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Tetapi, raengingat bahwa faham ..kewarganegaraan Indo­nesia” adalah suatu hal jang penting clan baru berada dalam taraf permulaan perkembangan sedjak mulai berlakunja Undang2 tentang Kewargangaraan R.I. no: 62 tahun 1958, kiranja dapat dipertanggung-djawabkan bilamana diperhatikannja setjara lebih saksama daripada apa jang lazim terdapat dalam textbook2 dari penulis2 HPI Belanda.

Bagi negara Republik Indonesia jang masih muda dan baru sadja mengindjak alam kemerdekaan adalah pada tempatnja djika diperhatikan faham2 kewarganegaraan setjara mendalam. 'm )\

Hal ini akan dilakukan dalam garis2 jang berikut.

2*88. Warganegara adalah „anggota~” negara.

Setiap negara jang merdeka dan bexdaulat tidak bisa tidak harus mempunjai warganegara2. Tidak ada negaia bei'daulat jang tidak mempunjai warganegara2. Tanpa warganegara suatu negara adalah tidak komplit. 475)

Negara adalah suatu organisasi, suatu oiganisasi ke-kuasaan .S7c)

Suatu organisasi memerlukan orang- sebagaianggota^ daripada organisasi bersangkutan - 7 dnbaratkan sebagai suatu perkumpulan. Suatu peikumpulantanpa anggota adalah suatu kmuBtahilan. Suatu negara tanpa Warga2 djuga adalah suatu hal jang tak mungki .

Para warganegara dari

j«ng S ® sesuatu ° rSaniSaS‘ he"dak

r r : — , T n f . i r a n U .U . K e w a rg a n e g a ra a n R .I . ’1.475{ ? , gk-’ K ata Pengantar pada ,,Tat sangeh6rigkeit besleht so langa

75) M a k a r o v , o.c. h. 17: ”^ f lpfz e ite b s c h n it ie a der Geschichte derwie der Staat selbst, denn in alien Fonn gewesen sem mag,M enschhdt haben die Staaten, ' staatsvolk war zu alien Zeiteneinen personliches Substrat genao . ,jje auch rechtlich erfassteine soziologische Voraussetzung

47(j\ werden musste” . , Kepala Negara kita, Presiden) H al ini seringkali dikemukakan j L o g e m a n n , H et

Sukarno, dalam pidato2 “7®staatsrecht van Indonesie, (1*W> • tQ intemational law (1947),Bdgk. S t a r k e , J.G. An in international law and human rights, h. 180 ; L a u t e r p a c h 1, . . Nationaliteit en burgerschapNew Y ork (1950), h. 7 ; . K.o n e ' dones,g„ If 1947j h . 98 . K ohi de Nederlands-Indonesiscne un , » dis. L e iden (1957), h. 1S w a n S i k, De meervoudig idisclie nationaliteit” ; M a k a r o v , dengan definisinja mengenai »J

477)

o.c0 h. 24 dst.

219

Page 239: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

A t a u :

b) Tetap dipertahankan prinsip nasionalitet ini, tetapi dengan tam bahan: untuk orang asing jang berada didalam wilajah R.I. tetap berlaku hukum nasional mereka ini selama 2 tahun menetap disini. Setelah itu, akan berlakulah hukum Indonesia, sebagai hukum domicilie dimana orang2 asing bersangkutan hidup dan menetap.

KEWARGANEGARAAN.

287. Tintljauan chusus tentang kewarganegaraan.

B a t j a a n :

M a k a r o v , A l e x a n d e r , N .’ Allgcmeine I-chren des Staat- sangahorigkeitrechts, Stuttgart (1947); B e r g m a n n , Interna­tionales Ehe- upd Kindschaftsrecht, 3 djilid, tjet. ke-3 (1955), Frankfur am Main ; G o w g i o k s i o n g , Tafsiran U ndang2 Kewarganegaraan R.I., D jakarta (1960); i d e m , W arganegara dan Orang Asing, D jakarta, tjet kedua, (1960).

Setelah mengikuti dengan saksama tindjauan tentang alasan2 pro dan kontra prinsip kewarganegaraan tibalah waktunja untuk menelaah setjara lebih mendalam akan pengertian kewarganega­raan ini. Oleh karena bagi HPI kewarganegaraan merupakan suatu titik-pertalian-utama jang terpenting perlulah kita membe­rikan tempat jang tjukup untuk membahasnja.

Terutama bagi kita jang menganut prinsip nasionalitet untuk HPI. w )

Dalam djilid I dari buku ini .telah didjelaskan bahwa kita di Indonesia tidak menganut faham jang luas tentang HPI hingga tertjakup pula didalamnja soal2 jang berkenaan dengan tjara2 untuk memperoleh dan kehilangan kewarganegaraan.47a) Materie ini termasuk hukum kenegaraan atau hukum kewarganegaraan (nationaliteitsrecht).

472) Bdgk. M a k a r o v , o.c. h. 13; „Die Anwcndung der Kollisionsnormen, sowc-it sie die Staatsangehorigkeitsankniipfung verwerden, sind m it der Beantwortung der Staatsangehorigkeitsfrage aufs engste verkniipft”.

< « ) H PI, I, no. 14.

218

Page 240: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

r

T etapi, m eng ingat bahw a faham ..kew arganegaraan Indo­nesia” adalah su a tu h a l jang penting dan baru berada dalam taraf perm u laan perkem bangan sedjak m ulai berlakunja U ndang2 tentang K ew argangaraan R.I. no. 62 tahun 1958, kiranja dapat d ipertanggung-djaw abkan bilamana d iperhatikannja se tja ra lebih saksama daripada apa jang lazim te rdapat dalam textbook2 dari penulis2 H P I B elanda.

Bagi negara R epublik Indonesia jang masih m uda dan baru sadja m engind jak alam kem erdekaan adalah pada tem patnja djika diperhatikan faham 2 kew arganegaraan setjara mendalam . 'm ) \

Hal ini akan dilakukan dalam garis2 jang berikut.

2 8 8 . W a r g a n e g a r a a d a la h „ a n g g o ta ~ ” n eg a ra .Setiap neg ara i a n g m erdeka dan berdaulat tidak bisa tidak

harus m em punja i w a r g a n e g a r a 2 . Tidak ada negara berdaulat jang tidak n iem punjai wai'ganegava2. Tanpa w aiganegaia sua negara adalah tidak komplit. 475)

N egara adalah suatu organisasi, suatu organisasi ke-kuasaan .47«)

Suatu organisasi memerlukan .rang* jaM ffla n ^ P anggota- daripada organisasi bersangkutan. ) N g idiibaratkan sebagai suatu perkumpulan. Suatu P®lJ™ nP„tanpa anggota adalah suatu kemustahilan. Suatu ne&ara Pwarga2 d juga adalah suatu hal jang tak mungkin .

P a ra w arganegara dari suatu negara adalah „anggota’’ d a n ­pada negara bersangkutan. W arga2 ini m e r u p a k a n suatu jang tidak dapat d i k e s a m p i n g k a n bila sesuatu oigamsasi hena

474) Bdgk., K a ta P engan tar pada „Tafsiran U.U. K e w a r g ^ r a w i475) M a k a r o v o c h 17: » 9 ie s ta a t?angc^ or-lg ^ ^ ^ h i ^ h t e der

' vie d e r S taa t selbst, ’ denn in 'a lien F orm a w e sen sein mag,M enschhcit haben die Staaten, welche lhre F o im ge ^ Zeiteneinen personliches Substrat S ^ a b . das Staatsvolk w ar ch erfassteinc soziologische V oraussetzung des istaates, m e aucn

,,o>s t a a t s r e c h t v a n I n d o n e s i e , (1954), n . . (1947),

477'> B d°k S t i r i . t r ' A n i n t r o d u c t io n t o i n t e r n a t io n a l la w477) ^ S t a r k e , J; ° ; P h t H . I n t e r n a t i o n a l l a w a n d h u m a n r ig h ts .

N ew Y o rk (1 9 5 0 ) 'h ! 7 ; K o 11 e w i j n N ationaliteit en £in de N ederlands-Indonesische Unie, „Indonesie I, 1947, J1- „ ’ j S w a n S f k D e m e e r v o u d ig e .nationalite,t, d.s. L eiden (1957), h . 1 dengan defin isin ia m engenai „jundische nationalite it” ; M a k a r o v , o.c., h . 24 dst. -

219

Page 241: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

mempeikenalkan diii sebagai suatu negara. Menurut adjaran ilmu hukum negaia, untuk dapat terhitung sebagai suatu negara haruslah dipenuhi tiga essentialia. Tiga sjarat pokok untuk negara ialah :

1) haius mempunjai suatu wilajah tertentu (staatsgebied);

2) harus mempunjai suatu organisasi tertentu ;

3) harus mempunjai suatu kelompok anggota- tertentu („personengebied”). 47«)

Apabila salah satu unsur ini tidak terdapat, maka belum dapat kita bitjara tentang suatu negara jang merdeka dan berdaulat. '

289. Peraturan2 kewarganegaraan R.I.

Negara kita, negara Republik Indonesia, adalah suatu negara jang merdeka dan berdaulat. Maka oleh karena itu, djuga negara kita tidak terketjuali daripada apa jang ditetapkan sebagai-sjarat mutlak untuk dapat diakui sebagai sedemikian. Negara Republik Indonesia pun harus mempunjai warga2nja sendiri.

A.Apakah sjarat ini dipenuhi oleh negara kita ? Republik

Indonesia memang sudah memenuhinja. Setelah diproklamirkan kemerdelcaan pada tahun 1945 Republik Indonesia jang baru dilahirkan itu, telah mentjiptakan pula peraturannja jang te r­sendiri tentang kewarganegaraan. Siapa- jang merupakan warganegara daripada Republik Indonesia menurut susunan lama Djokjakarta, diatur dalam suatu peraturan tersendiri, ia lah : „Undang2 tentang warganegara dan pendud.nk negara Indonesia” (U.U. tahun 1946 No. 3).479) Kemudian, setelah Undang2 ini tidak berlaku lagi untuk beberapa lama Republik Indonesia belum mempunjai suatu peraturan kewarganegaraan sendiri. Akan tetapi, walaupun peraturan sendiri tidak ada, ini tidak berarti bahwa Republik Indonesia tidak mempunjai warganegara3 sendiri. Warganegara2 ini tetap ada sedjak semula Republik Indonesia dilahirkan. Republik Indonesia tetap mempunjai

478) L e m a i r e , H et reohl in Indonesie, li. 102, 127.47°) Lihat Lam piran 1 pada buku W arganegara dan Orang Asing. .

220

Page 242: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

warg an eg ara2-nja ini te tap ada sedjak sem ula R epublik Indonesia dilahirkan. R epub lik Indonesia te tap m em punjai w arganegara-- nja sendiri.

290. P e rse tu d ju an Periha l Pem bagian W arganegara.

T atkala te rd ja d i pem ulihan kedaulatan pada tanggal 27 D esem b er 1949 dengan sedem ikian banjak perkataan telah diada­kan pem bagian w arganegara” antara Republik Indonesia dan Keradjaan B elanda (stijl baru). Pembagian ini d ia tu r dalam apa jang d inam akan „Persetudjuan perihal pembagian wargane­gara” ,83) dari K onperensi Medja Bundar.

B olehlah dikatakan bahwa pada waktu pengakuan kedaulatan itu, te lah d iadakan pem bagian daripada anggota- K eradjaan Belanda dalam bentuk jang lama. Kita harus m em andang perse­tudjuan K.M.B. jang mem-bagi2kan warganegara ini sebagai suatu hal statis. •«-•) Pada waktu pengakuan kedaulatan itu telah terd jadi pem bagian daripada warga- dari negara jang dahulu antara negara2 jang dipisahkan itu.

291. U.U. K ew arganegaraan 1958.

Setelah diadakan persiapan2 jang memakan waktu tidak sedikit, ach ir2nja dalam tahun 1958 Negara ldta telah mentjip- takan U ndang- K e w a r g a n e g a r a a n n j a jang pasti, jakni „Undang tentang K ew arganegaraan Republik Indonesia” (U.U. no. tahun 1958). Dengan diterima baiknja Undang2 ini h ilang ian keragu-raguan ten tang siapa2 jang terhitung sebagai warga­negara R epublik Indonesia.

292. Siapa w arganegara ditentukan setjara mutlak oleh negarabersangkutan.

Siapa jang m erupakan warganegara dari sesuatu negara dite- tapkan send iri oleh negara jang bersangkutan. Ini adala

4«o> W arganegara dan O rang Asing, h. 83 dst.« i ) E. I960, h. 98 ; W a r g a n e g a r a dan Orang Asing. L am p.ran n o . ^

d juga ..P era tu ran P e m e r in ta h pelaksanaan pem bagian w arganega , P .P. no. 1, 31-1-1950, L.N. 1950-8, E.h. 103 dst.

iS 'J ) L e m a i r e , o.c.h. 134 dst.

'iiIf

•hJ

221

Page 243: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

mutlak daripada suatu negara jang berdaulat.483) Tidak dapat negara lain menentukan siapa2 jang merupakan warganegara daripada negara kita. Siapa warganegara dari R.I. ditentukan oleh negara R.I. sendiri. Lain negara tidak dapat tjampur tangan dalam hal ini. Misalnja negara Amerika Serikat atau Uni Sovjet tidak dapat mentjampuri hal siapa- jang adalah warganegara R.I. 484) Demikian pula sebaliknja R.I. tidak dapat mentjampuri untuk menentukan siapa2 adalah warganegara Amerika Serikat atau warganegara Sovjet. Adalah hak mutlak daripada R.I. sendiri untuk menentukan siapa jang merupakan warganegara R.I. seperti djuga negara Amerika Serikat dan negara Sovjet Russia setjara mutlak dapat menentukan sendiri siapa adalah warganegar a2-n j a .

Ketentuan ini adalah salah satu azas pokok jang diterima dalam hukum internasional (hukum antarnegara). 485)

293. Prinsip2 umum tentang kewarganegaraan.

Akan tetapi, dalam menentukan siapa2 jang merupakan warganegara ini kebebasan jang diberikan pada sesuatu negara bukanlah tidak terbatas. Ada djuga batas2nja tertentu. Batas2 ini ditentukan oleh apa jang dikenal sebagai ,,prinsip- umum” („general principles”) dibidang hukum internasional tentang kewarganegaraan. Peraturan12 kewarganegaraan jang diadakan oleh negara2 masing2 harus sesuai dengan apa jang diterima dalam „konvensi2 internasional, kebiasaan internasional dan prinsip2 hukum jang umum setjara internasional diterima berke­naan dengan kewarganegaraan” in i.480)

Apakah jang diartikan dengan istilah2 jang disebut diatas ini ? Apa jang merupakan kebiasaan internasional dan prinsip2 hukum jang umum diterima dibidang kewarganegaraan ini, masih merupakan suatu hal jang agak samar2. Tidak dapat diberikan suatu uraian jang pasti tentang apa jang dimaksudkan dengan

483) Lihat penulis2 jang disebut dalam no. 226.484) Bdgk. tjontoh N i e d e r e r dengan kewarganegaraan Perantjis

o.c. h. 155.485) Lihat misalnja jurisprudensi M ahkam ah Internasional Den H a a g : „La

qualite de ressortisant d ’un E tat ne peut se fonder que sur la loi de cet E ta t” ; H a m b r o , ;o.c. I, no. 115, 116.

488) Bdgk. Konvensi untuk codificatie Den Haag, 1930.

222

Page 244: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

istilah- ini. O rang h a n ja dapat m enegaskan lebih djauh apa jang d im aksudkan d en g an is tilah2 te rseb u t tanpa dapat m em berikan kepastian se ra tu s persen .

294 . B atas2 k ebebasan iw tuk m enen tukan siapa2 w arganegara.M isalnja d ap a t dikatakan, bahwa sesuatu negara dalam me-

nen tukan siapa- ja n g m erupakan w arganja, tidak dapat m enarik didalam nja sem b aran g orang sadja. O rang2 jan g sama sekali tidak m em pun ja i hubungan sedikitpun dengan negara bersang­kutan, tid ak lah boleh dim asukkan m endjadi w arganegara negara bersangkutan . *s-) T jobalah kita m endjelaskannja dengan tjontoh. Republik Indonesia adalah bebas untuk m enentukan siapakah jang m en d jad i w arganegara R.I. Akan tetapi R epublik Indonesia tidak d ap at m enetapkan bahwa misalnja orang2 jang hidup dibagian K u tub U tara atau Kutub Sejatan adalah term asuk djuga sebagai w arganegara2nja ! Tjontoh ini adalah suatu tjontoh jang ekstreem . T en tu n ja tidak akan terdjadi hal sem atjam ini dalam praktek. A kan te tap i dengan tjontoh jang ekstreem ini kiranja m endjadi leb ih djelas apakah jang dim aksudkan dengan k a ta - :,,Tidak ada hubungan sedikitpun” !

Seringkali d iberikan la in2 tjontoh oleh para penulis untuk* m endjelaskan k e ten tu an in i .4SS) Misalnja, tidaklah daipat di en-

ma djika suatu negara m enentukan bahwa orang2 jang m em punjai agama te rte n tu , atau orang2 jang berbitjara bahasa s e - a n te rten tu , a tau orang jang berwarna-kulit tertentu adalah w - negaranja. H al sem atjam ini dirasakan sebagai berten ang dengan p rin s ip 2 um um jang diterim a berkenaan dengan ganegaraan.

T jontoh : Djika misalnja negara X m e n r a ta k a n bahwasem ua orang jan g berada diduma mi jang beragama Batau beragam a Islam adalah warganegaranja k e t e n t u a n sematjanini sukar un tuk m em peroleh pengakuan. A tau djika neto m enentukan bahwa sem ua orang didunia jang berbahasa ln &° atau berbahasa D jerm an adalah warganegaranja, djuga kete” ™*“ sem atjam ini tidak akan diterima oleh dunia internasional. > djika negara Z m enentukan, bahwa semua orang jang berKum kuning atau berku lit hitam adalah warganegaranja, maka Ke tuan sem atjam in i pun tidak akan diakui oleh negara2 lam.

487) K o S w a n S i k , o.c. h- 20 dst.488) B dgk. M a k a r o v , o.c. h. 1^0-

223

Page 245: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

295. Negara lain tidak dapat tu ru t tjam pur dalam penentuan siapa2 warganegara sesuatu negara.

Prinsip bahwa setiap negara adalah berdaulat untuk menen­tukan sendiri siapakah warganegaranja tanpa tjampur tangan dari negara lain, adalah suatu prinsip jang penting. Sebagai konsekwensi daripada diterim anja azas ini dapatlah kita saksinja, bahwa tidak bolehlah suatu n e g a r a l a i n menentukan siapakah jang merupakan warga daripada sesuatu negara. Misal­nja, negara A hanja dapat menentukan siapa- jang merupakan warga2 dari negara A. Tetapi negara A ini tidak dapat m enentu­kan. dalam undang- kewarganegaraannja, siapa2 jang merupakan warganegara B. 480) Kedaulatan negara B tidak akan mengizinkan hal itu. Demikian pula dalam hal sebaliknja. Negara B hanja dapat menentukan siapa adalah warganegara dari B dan tidaklah dapat negara B ini menentukan siapa adalah warganegara dari A. Kedaulatan dari negara A tidak akan mengizinkannja.

296. Tidak ada keseragaman peraturan3.

Akibat daripada prinsip kebebasan untuk menentukan sendiri siapakah jang merupakan warganegaranja bagi negara- masing2 ini adalah bahwa ternjata tidak terdapat keseragaman, tidak ada uniformitet dibidang peraturan2 kewarganegaraan ini. 490) Tiap negara mempunjai peraturannja sendiri. Sebaliknja daripada keseragaman, djustru kita melihat dalam kenjataan bahwa dalam bidang kewai'ganegaraan ini terdapat keaneka- warnaan daripada per-undang2an.

297. Dwikewarganegaraan, tanpa kewarganegaraan.

Negara'2 bebas untuk memilih azas2 manakah jang hendak dipakainja untuk menentukan siapa2 termasuk warganegaranja. Karena tidak adanja keseragaman ini dan adanja peraturan2 jang agak simpang-siur dibidang kewarganegaraan ini, kita saksikan pula tidak adanja pembagian jang merata dalam hal2 kewarga­negaraan ini. Ada orang2 jang memperoleh kebanjakan kewarga­negaraan, dalam artikata ,,lebih dari satu” (dua atau lebih, bipatride atau multipatride, d w ik ew argan egaraan , kewaigane-

4»9) Bdgk. N i e d e r e r , h. 155.« 0 ) Bdgk. K o S w a n S i k , o.c. h. 15.

224

Page 246: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

garaan rangkap). A da orang2 lain, jan g terla lu kesedlkitan memPeroleh kew arg an eg araan ini, dalam artikata „tidak kebagian sama sekali” (tanpa kewarganegaraan., a p a tr id e ) .4fl2)

298. Ius'soli atau ius sanguinis.

Ada du a azas te rp en tin g jang m erupakan azas utam a dari­pada k e ten tu an 2 k ew arg an eg a raan .« 3) Azas12 ini ialah :

1 ) azas k e lah iran (ius soli)2) azas ketu runan . (ius sanguinis).

Ad 1) D engan azas ius soli ini diartikan, bahwa kew argane­garaan seseo ran g d iten tukan oleh tem pat kelaliirannja. Olang iang d ilah irkan dalam w ilajah negara X adalah terh itung warga­negara pu la d a r i negara X.

Ad 2) Sebaliknja azas ius s a n g u i n i s m emandang kepada ketu- runan daripada o rang bersangkutan. Orang jang dilahn orang tua jan g berkew arganegaraan Y, m erupakan pula g negara daripada negara Y itu.

T j o n t o h : Sebagai tjontoh daipada pera tu ran2 g*negaraan jan g m asing2 m enganut azas kclah“ *:a ke.keturunan in i d ap a t kita sebut berbagai nGnSa|u a nw arganegaraan jang dikenal dinegen mi sebelum nja p g ^ kedaulatan. Dalam zam an Hindia Belanda beilaku peratu ran jan g m engatur soal2 kewarganegaraan.

a) P ertam a adalah Undang2 tentang ^N ederianderscliap’’ (Wet op h e t N ederlanderschap en het lngezetenschap,Ned. Staatsbalad tahun 1892 no. 268). - ) Undang- m .^ ^ r k a n atas azas ketu runan . Jang dikedepankan ialah ba 1&jang d ilah irkan dari seorang j a n g berstatus Belan a kan„N ederlander” . Dimana orang ini dilahirkan bukan soal jang penting.

492) L ih a t D e ° G 7 o o t , ^ e t p ersonee l sta tu u t van A p a trid en en B ipa- tr id e n v o lg eu s N ed e rlan d sch l.p.r*

•« * ) S e b e lu m F b e r la k u n ja p e r a tu r a n itu d ikena l p en g ertian ten tan grechtelUk N ed e rlaU erscb ap ” L lhat W arganegara dan O rang A h. 17 dst.

225

Page 247: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

b) Peraturan jang kedua ialah Undang2 tentang „kekaula- negaraan Belanda” (Nederlands Onderdaanschap) (Wet houdende regeling van het Nederlands onderdaanschap van niet-Neder- landers, Staatsblad 1910 no. 296).49r’)

Peraturan ini didasarkan terutama atas azas kelahiran. Me­reka jang dilahirkan di Hindia Belanda dari orang tua jang djuga „menetap” (gevestigd)10C) disini adalah kaulanegara Belanda. Walaupun orang tua daripada anak bersangkutan adalah orang asing (bukan kaulanegara Belanda), status daripada sang anak akan mendjadi kaulanegara Belanda bilamana dilahirkan disini.

299. Dwikewarganegaraan.

Terutama karena dianutnja azas2 jang berbeda ini dalam peraturan2 kewarganegaraan timbullah masalah bipatridie atau multipatridie jang kita sebut diatas. Orang dapat m em punja i lebih dari satu kewarganegaraan, dua dan kadang2 lebih dari dua (multipatride). Apabila satu negara menganut azas kelahiran dan negara jang lain menganut azas keturunan dapat timbullah dwikewarganegaraan.

T j o n t o h : Tjontoh jang terkenal untuk keadaan di Indonesia ialah masalah dwikewarganegaraan. daripada orang2 turunan Tionghoa jang berada disini. 407) Menurut Undang2 kewarganegaraan Tiongkok dari tahun 1929 maka setiap orang jang dilahirkan dari orang tua warganegara Tiongkok, dimana- pun mereka berada dan bertempat tinggal serta beberapa lama pun mereka sudah merantau diluar Tiongkok, tetap tinggal warganegara Tiongkok. Undang2 Kewarganegaraan Tiongkok disandarkan atas azas keturunan (ius sanguinis). 408)

495) Lihat untuk sedjarah hukum peraturan ini, W arganegara dan OrangAsing, h. 16 dst.

406) Tentang istilah „gevesfigd” ini, lihat interpretasi dari L o g e m a n n ,T. 136/500. Lihat diatas, no. 46 dan 463.

487) Lihat L i e m T j i n g H i e n - K h o , Perdjandjian dwikewarganc-garaan R.I.-R.R.T. dan pelaksariaannja, D jakarta (1961).

498) Lihat G o u w S o e i T j i n g , De Chinecsche Nationaliteitswetm.b.t. de Peranakan Chineezen in Indonesie, „Mededelingen van 0 Chung Hwta F a Lu She Hui, H impunan Ahli Hukum Tionghoa , thn-I, Febr. (1948) h. 8, II.

226

Page 248: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Sebaliknja, m e n u ru t p e ra tu ran kew arganegaraan untuk Hindia B elanda (W et op h e t N ederlands O nderdaanschap) tahun 1910) te rseb u t d ia tas dan m enurut p e ra tu ran R epublik Indonesia stijl lama (U.U. tah u n 1946 no. 3 ten tang W arganegara dan P e n d u d u k N egara) m aka orang2 tu ru n an Tionghoa jang dilahir­kan di Indonesia daripada orang tua jang „m enetap” disini atau J a n g lah ir dan bertem p at kedudukan dan kediam an selama sedikitnja 5 tah u n bertu ru t-tu ru t jang paling achir dalam daerah Negara Indonesia” , adalah pula warganegara Indonesia. P era­turan ini d idasarkan atas azas daerah kelahiran. <«»)

Oleh karen a baik negara Tiongkok (kini Republik Rakjat Tiongkok) m aupun Hindia Belanda (kini Republik Indonesia) dudsn ja m enganggap orang2 bersangkutan sebagai w arganegara m ereka k ita saksikan bahwa orang2 bersangkutan m em punjai kew arganegaraan rangkap. Mereka ini berstatus dwikewargane­garaan.

Dalam P e rse tu d ju an Perihal Pembagian W arganegara dari Konperensi M edja Bundar diadakan pembagian daripada kelom- pok kau lanegara Belanda antara Republik Indonesia dan K eradjaan B elanda stijl baru. Orang2 turunan Tionghoa bersang­kutan jan g tidak m e m p e r g u n a k a n hak repudiasi (hak untuk menolak) jan g d iberikan kepada mereka dalam djangka w a r n

2 tahun setelah pengakuan kedaulatan (27-12-1949 sampai 27- 1951) te tap dipandang sebagai warganegara Republik Indonesia. Oleh karena hal ini pun m ereka mempunjai status k e w a r g a n e ­

garaan rangkap. soo)

300. Perdjandjian penjelesaian dwikewarganegaraan.

B aru dengan diadakannja Persetudjuan antara Republik. Indonesia dan R epublik Rakjat Tiongkok mengenai s o a l dwuse w arganegaraan” (Undang2 no. 2 tahun 1958) jang ditandatang oleh kedua M enteri Luar Negeri negara '2 bersangkutan m x S c e n a r i o dan C h o u E n L a i pada tahun 1955 aan pera tu ran 2 pelaksanaannja, telah dapat diatasi dan diselesajKan kesulitan2 berhubung dengan ini. Persetudjuan mi mulai beriaKu pada tanggal 20 D januari I960, jakni hari dilakukannja penu-

498) L ih a t L e m a i r e H et rech t in Indonesie, h. 130. 600) L ih a t L e m a i r e , o.c. h. 131 d s t

227

Page 249: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

karan su ra t2 pengesahan jang dilangsungkan di Peking. 50x) Dalam djangka waktu 2 tahun setelah hari te rsebu t (dari 20-1- 1960 sampai 20-1-1962) orang6 jang berstatus dwikewarganega- raan R.I. dan R.R.T. ini harus memilih salah satu dan m elepaskan jang lain.

Dengan demikian berachirlah suatu masa jang penuh dengan kegandjilan dan m endjadi sebab daripada berbagai kesulitan berhubung dengan kew arganegaraan dobel i n i !

301. Siapa sadja jang dianggap warganegara R.I. ?

Siapa jang dianggap sebagai w arganegara Republik Indo­nesia ditentukan dalam Undang- Kewarganegaraan Republik Indonesia (U.U. no. 62 tahun 1958). Bahwa R.I. sebagai negara jang berdaulat adalah satu2nja negara jang dapat m enentukan siapa- sadja term asuk warganegara R.I. adalah sesuai dengan ketentuan hukum internasional seperti telah dipaparkan diatas.

Didalam Undang- Kewarganegaraan R.I. tahun 1958 ini ditentukan siapa2 sadja jang disebut warganegara R.I.

Dalam pasal pertam a daripada Undang2 ini dimulai dengan m emberikan suatu perin tjian ten tang kelompok2 orang2 jang dianggap term asuk w arganegara R.I. r'02) Ada 10 kelompok orang- jang berstatus warganegara Indonesia ini.

302. Perintjiam ija :

Dibawah ini kita akan m cnindjau m asing2 kelompok ini setjara sepintas lalu :

a) Orang2 jang berdasarkan perundang-undangan dan/atau perd jand jian2 d an /a tau peraturan-peraturan jang berlaku sedjak proklamasi 17 Agustus 1945 sudah warganegara Republik Indonesia.

501) L ihat P.P. no. 11 thn. 1960 tentang Penegasan m ulai berlakunja P.P.no. 20 thn. 1959 tentang pelaksanaan U.U. tentang persetudjuan perdian-djian an ta ra R.L dan R .R.T . m engenai soal dw ikew aiganegaiaan.

502) U ntuk kom m entaar jang agak luas tentang pasal 1 ini, lihat TafsiranU .U . K ew arganegaraan R.I., pada pem bahasan .3Pasal dem i Pasal >h. 24^dst.

2 2 8

Page 250: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Dalam perintjian jang pertama ini ditegaskan bahwa orang2 jang sudah dianggap sebagai warganegara Indonesia pada waktu sebelum diterimanja Undang2 Kewarganegaraan 1958 ini (mulai berlaku 1 Agustus 1958), tetap dianggap sebagai warganegara. Djuga disinilah berlaku sem bojan:,,Sekali warganegara Republik Indonesia, tetap warganegara Republik Indonesia” . Ketegasan ini dianggap perlu untuk menghilangkan segala ke-ragu'-an.r,(M.) Terutama tentang orang- jang berketurunan asing tetapi m enurut per-undang- an jang lama dianggap sebagai warganegara R.I. aKan diperoleh kepastian. Dengan adanja ketentuan ini hilanglah kebimbangan bahwa orang2 keturunan asing jang su a i dipandang warganegara R.I., baik setjara otomatis \.aiena kelahiran disini daripada orang tua jang menetap disim maupun karena pewarganegaraan (naturalisasi), ) a di-ragu2kan kembali status Warganegara R.I.-nja.

303. Rakjat asli.Setjara resm i didjelaskan lebih djauh siapa2 sadja jang

dianggap terhitung warganegara Indonesia sedja p kemerdekaan.

Mereka ini terdiri antara lain d a r i :1. Orang2 jang termasuk golongan penduduk oiang a s ^

di Indonesia. Adalah logis bahwa mere a ] , ge.sebagai rakjat asli dikepulauan Indones jrianbagai warganegara Indonesia. Djuga ra ’jBarat termasuk warganegara Indonesia. •)

304. Orang2 keturunan asing.2. Orang keturunan asing jang

Belanda bukan orang Belanda (Ne er a

«03) Hasil amandemen S u p r a p to,, c.s. (Nji Umie Sardjono. D i r k H a g e, Mr. T a m b u n a n, A b u -h J menurut u .U . 1946

50t) Untuk orang2 jiang telah dinalural^irmenj dalam Djawaban atasno. 3, lihat daftar jang diberikan oleh Pemerm^ah U aPemandangan Umum Babak IT, a t e s ^ r ^ m M ^ oia dibawah no. 3 ; Lihat, Tafsiran U.U. K g S K . p . R . S i t u -

50ti) Lihat pertukaran pikiran dalain DPR., ■ • R;salah Semen-m e a n g, Pemandangan Umum Babak II, 16-6-1958, Risaiantara. h. 26, 27.

229

I, r ,

Page 251: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

niet-N ederlanders) jang t i d a k m e n o l a k kewarga­negaraan R.I. dalam djangka waktu an tara 27-12-1949 dan 27-12-1951.

Inilah golongan jang m em peroleh kew arganegaraan R.I. karena bersikap p a s s i p, tidak m em pergunakan „hak repudiasi” (hak untuk menolak) jang diberikan kepada mereka.

Dalam kelompok ini termasuk terutam a orang2 keturim an Tionghoa jang dilahirkan di Indonesia dari orang tua jang m enetap disini. 00°) Djuga orang2 A rab jang lahir di Indonesia term asuk kelompok ini.

3. Orang2 jang keturunan Belanda (N ederlander) jang lahir di Indonesia a tau ‘bsrtem pat tinggal di Indonesia seku- rang-kurangnja enam bulan sebelum 27-12-1949 jang dalam 2 tahun setelah pen jerahan kedaulatan m enjatakan m e m i 1 i h kew arganegaraan R.I.

Inilah jang disebut kelompok jang telah memperoleh kew arganegaraan R.I. dengan djalan m em pergunakan „hak opsi” . M ereka ini m em peroleh kewarganegaraan R.I. setjara a k t i p.

Dalam golongan ini terdapat banjak padri2 Roma Katholik jang dengan djalan dem ikian telah m em peroleh kewarga­negaraan R.I. 507)

4. Orang asing jang sudah m em peroleh kewarganegaraan R.I. karena naturalisasi (pewarganegaraan) berdasarkan Undang- no. 3 tahun 1946 dari zaman R.I.-Djokjakarta.

Tidak banjak orang jang telah m em peroleh kewarga­negaraan R.I. karena naturalisasi ini, jakn i hanja 9 o ra n g .509

soe) Bdgk. pasal 1 sub a.607) D ju m la h o ra n g 2 ja n g m e n e r im a k e w arg an eg a raan R .I. k a re n a opsi ini

ad a la h 12.871 o r a n g ; D ja w a b a n P e m e rin ta h te rh a d a p P em an d an g an U m u m B ab ak I, 13-6-1958, R .S . h . 14,

B09> L ih a t n o o t 504.

230

Page 252: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

r

305. Status anak2.Bagaimana dengan anak2 daripada orang- jang berstatus

warganegara R.I. ? M enurut ketentuan jang tegas dalam U.U. Kewarganegaraan 1958 anak- ini pun m emperoleh status warga­negara R.I. 51°) D iantara sang ajah jang berstatus warganegara R.I. dan sang anak harus ada suatu hubungan kekeluargaan jang sah m enurut hukum. Djika tidak ada hubungan hukum an ara anak dan ajah ini, status sang anak mengikuti status sang 1 u.

Tegasnja status sang anak ini digantungkan kepada ajahnja (c.q. ibunja) jang sah. Dengan demikian faktor keturunan. Faktor tempat kelahiran tidak deim:ikian d P - tingkan. Djuga bilamana anak jang beisang 'u an a diluar wilajah Republik Indonesia ia ini dianggap se negara R.I., djika ajahnja adalah warganegara

Jang kita saksikan ialah dipentingkannja az?^ ^ J , tama. n g u i n i s” . 511) Memang azas keturunan mi 3 gi P r tama m endjadi dasar daripada dipergunakan dalamHal ini adalah berbeda dengan azas jan* P 94g d jUndang2 Kewarganegaraan dan ia l" p“ -zaman Djokjakarta. Pada waktu itu j a n g P utamaan azastama-tama azas daerah kelahiran U u s - feetentuan dalam ius sanguinis adalah berbeda pula a & 296) jangUndang2 Kekaulanegaraan Belanda tahun 1910 (S. no. -9b, jtelah kita saksikan diatas.

306. Apakali sebabnja pemakaian azas „ius sang

Setjara resmi telah didi elaska^ .olak dasar untukazas k e t u r u n a n - l a h jagg dlP a gal ini dipandangmenentukan kewarganegaraan K.1. 0 guatu n.egarasebagai lazim adanja. Adalah sewadj J Himananun ia dilahir-menganggap anak sebagai warga“ ®ga egara dari negara tersebut. kan, apabila orang tua anak itu warga • g

,• m terdorong pula oleh peiasaanKiranja ketentuan sematjam ini t nation” iang kuat-

nasionalisme jang hendak membina suatu ..nation jang

610) Pasal 1 sub b. _ . . W arcancgara dan Orang Asing-,5 ii) U ntuk pem akaian ius sanguinis ini. Lin

h. 91 dst. -231

t

Page 253: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

kokoh r-12) Tentunja sukar untuk diterim a adanja hubungan jang kuat an tara negara nasional dan warganegaranja ini, bilamana dengan kelahiran diluar wilajah R.I. sadja sudah hilang kewarga­negaraan daripada anak seorang warganegara R.I.

Dilain pihak tidak sem ata-m ata karena kelahiran dalam wilajah R.I. belaka sesuatu orang akan sudah terhitung sebagai w arganegara R.I. H arus ada s ja ra t2 jang lebih mendalam untuk m em berikan lebih banjak djam inan bahwa orang jang diterim a sebagai w arganegara R.I. ini benar2 akan mendjadi suatu warga­negara jang baik. Kini dalam U.U. K ewarganegaraan R.I. tidak­lah lagi d itentukan bahwa orang jang dilahirkan di Indonesia ini dari orang tua asing jang kebetulan menetap disini, sudah akan m em peroleh status warganegara R.I., seperti dahulu ditentukan dalam U ndang2 Kewarganegaraan Belanda tahun 1910 . dan U ndang2, ten tang W arganegara dan Penduduk tahun 1946. n13)

307. K elahiran dalam wilajah R.I. dari tju tju „seorang asing” .

Kelahiran dalam wilajah R.I. hanja dapat menghasilkan kewarganegaraan R.I. dari jang bersangkutan bilamana dipenuhi pula lain2 sjarat2 tertentu. Disamping kelahiran di Indonesia maka disjaratkan bahwa djuga ajah dari jang bersangkutan (atau bilamana tidak ada hubungan hukum dengan sang ajah, ibu-nja) djuga dilahirkan disini. 514) Djadi hanja seorang „ tju tju ” daripada im igran asing jang m em punjai kem ungkinan untuk m emperoleh kewarganegaraan R.I. karena kelahiran didalam wilajah negara ILL- Tetapi bukan karena kelahiran dari ajah jang dilahirkan disini jang disjaratkan untuk dapat terh itung sebagai wargane- gara R.I. karena kelahiran disini. Disamping itu, jang bersang- kutan harus djuga bertem pat tinggal- didalarn wilajah R.I. Dan tam bahan lagi, karena kelahiran disini dari ajah jang djuga dilahirkan disini ditam bah dengan tem pat tinggal disini, jang bersangkutan belum lagi dapat m em peroleh kewarganegaraan

512) B dgk. te n ta n g „N a tio n b u ild in g ” in i P res id en S o e k a r n o , am a n a t p en eg asan d id e p a n sidang is tim ew a D ep e rn a s . 9 -1-1960, lih a t L am p iran D /1 d a la m „ M a n u s ia d a n m a s ja ra k a t b a ru In d o n es ia” („C iv ics”), P ener- b itan D ep t. P .P . d a n K . D ja k a r ta (I9 6 0 ), h . 388 dst., p .h . 401 dst.

Bis) B dgk. L e m a i r e , o .c . h . 130 d st.G14) P a sa l 1 sub d. U n tu k k o m m e n ta r , l ih a t T a fs ira n U .U . K ew arg an eg araan

R .I ., h . 40 dst.

232

Page 254: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

R.I. setjara otomatis. Ia harus m engadjukan permohonan untuk memperoleh kewarganegaraan R.I. kepada J.M. M enteri Keha- kiman. Dan perm ohonan ini hanja akan dapat. dikabulkan bilamana jang bersangkutan tidak m em punjai kewarganegaraan lain. Djika ia -mempunjai kewarganegaraan lain' ini, kewarga negaraan ini harus dilepaskan pada waktu ia memperoleh kewar­ganegaraan R.I. (pasal 4 U.U. Kewarganegaraan 1958). °13)

Disini kita saksikan adanja perbedaan jang menjolok dengan ketentuan- dalam per-undang2an kewarganegaraan jang pernah dikenal dinegeri ini. P ero b ah an jang besar telah teidjadi. Prinsip ius soli kini telah dilepaskan. Prinsip ius sanguinis jang telah menggantikan. Prinsip ius soli telah digeser ketem pat belakang. Prinsip ius sanguinis jang dikedepankan. Satu kenjataan jang sesuai dengan perkembangan faham nasionalisme jang sedang bergelora dalam negara kita dewasa in i.jlc)

308. Peraturan- k e w a r g a n e g a r a a n produk nasionalisme.

Dalam hubungan ini tidak boleh kita lupakan bahwa pera­turan2 tentang k ew arganegaraan memang selalu merupakan sua u produk daripada nasionalisme. Ada hubungan eia an aiai a ™ kewarganegaraan dan faham2 tentang nasionalisme Peraturan kewarganegaraan adalah pembawaan daiipa^ a ji a modern. Baru dengan dibentuknja „Negaia- as101 * SPtiara dirasakan kebutuhan akan peraturan2 jang menentukan set]a a pasti siapa2 sadja jang dipandang sebagai „anggo' a„k<L an negara bersangkutan .niT) Oleh karena itu, dapatlah -i bahwa memang peraturan2 tentang kewaiganegaiaan dikatakan adalah agak ..recent”, belum begitu la m a .Je ia tu a tentang kewarganegaraan ini adalah pembawaan ^vhpntnk- kembangan zaman. Baru diwaktu belakangan, denga nja negara2 nasional, orang dimuka burni ini mu ai m

515) H asrat untuk mentjegah a p a t r id ie .510) L ihat no. 310. dst.- b S “ k ’ f , ~ i i N a t io n a l i l e i t e„ ij, h e .

Inn i ’ r S U - * staatsrechtelijke M « l »Commissie Visman, Verslag II, h. 99.

233

Page 255: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

hal2 sekitar kewarganegaraan: Usia dari peraturan2 kewargane­garaan ini dapat dikatakan masih muda adanja. 018)

309. N egara2 imigrasi tjondong kepada ius soli.

Pada waktu Undang2 kekaulanegaraan Belanda dari tahun 1910 dibuat, ius soli adalah azas jang dianggap jang terbaik dan setjara praktis paling dapat dipertanggung-djawabkan untuk keadaan Hindia Belanda waktu itu. 51°) Karena banjaknja orang2 asing sebagai negara im m igrasi ini, telah dirasakan oleh pengu- saha sebagai demi kepentingan sendiri, bilamana selekas mungkin w argangara asing ini dianggap telah term asuk m endjadi warga­negara Hindia Belanda. Dengan demikian akan terhindarlah berbagai kesulitan jang timbul karena terlam pau banjak adanja orang2 asing (vreemdelingen-vraagstuk) dengan segala tjam pur tangan pem erintah2 asing sebagai pem bawaannja. C20) Pemakaian azas ius soli ini boleh dikatakan adalah sedjalan dengan praktek negara2 imigrasi terbanjak. N egara2 im igrasi ini, dengan banjak orang2 asing jang masuk, um um nja lebih tjondong untuk meng- gunakan prinsip ius soli bagi pe ra tu ran 2 kewarganegaraan m ereka .521)

Djuga pada waktu Republik Indonesia telah memproklamir- kan kemerdekaannja, pada tahun 1946 harus m enentukan siapa2 adalah warganegara R.I. dengan Undang2 1946 no. 3 masih diang­gap demi kepentingan negara un tuk m enggunakan azas ius soli. Negara jang baru sadja dilahirkan ini akan m enghadapi terlam ­pau banjak kesulitan2 djika setjara m endadak dihadapi dengan persoalan2 orang2 asing dalam djum lah2 besar didalam wilajah negara.

310. Proces ,,nation building” ; ketjondongan kepada iussanguinis.

Tetapi, pada waktu dalam tahun 1958 Republik Indonesia harus m enentukan lagi siapa2 jang m erupakan w arganegaranja keadaan sudah berubah. Pada w aktu itu R.I. sudah mempunjai

Bdgk. M a k a r o v , o.c. h . 17 d s t ; U n tuk keadaan disini, W arganegaradan O rang Asing, h. 16 d!st.

B19) Bdgk. V a n S a n d e B a k h u y z e n , N ederlandsch O nderdaanschap,diss. Leiden (1900), h. 26, 65 dst.

620) Bdgk. F r o m b e i g , Verspreide Geschriften, h. 645 dst.52i) Bdgk. W arganegara dan O rang Asing, h . 91 dst.

234

Page 256: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

warganegara2 (m enurut atau berdasar atas Persetudjuan Perihal Pembngian w arganegara samfcil menunggu terw udjudnja Un­dang2 Kewarganegaraan jang pasti, seperti tertjantum dalam pasal 144 UUDS). Pada waktu pem buatan Undang2 1946 no. 3 ternjata ius soli-lah jang diutamakan. Tetapi sekarang perkem- tyngan m enundjukkan adanja tjita2 jang berlainan. Faham nasionalisme kini sedang bergelora ! Pembinaan suatu „nation” dalam artikata modern, proses ..nation building” ini mendorong kearah pem akaian daripada prinsip2 jang sesuai dengan itu. Djanganlah dianggap sembarang orang sadja, jang kebetulan dilahirkan disini, sebagai warganegara dari negara hii. Hanja mereka jang dapat dipertjaja mempunjai tjukup „bahan2” untuk mendjadi w arganegara jang baik adalah lajak untuk diteiima sebagai warganegara. Oleh karena itu, jiisamping sjarat kelahiian disini, dim intakan pula bahwa ajah dari orang bersangkutan di- lahirkan pula disini. °23) Dengan demikian dapat diharapkan bahwa pertaliannja dengan negara ini sudah tjukup lama dan tebal adanja. Dan jang bersangkutan harus pula memenuhi sjara tempat tinggal disini serta melepaskan kewarganegaraan am

* jang ada padanja, untuk dikabulkan peimo onannja ^llmendjadi w arganegara .r’21) Dengan demikian nasa an, ■ sudah ada tjukup djaminan objektip bahwa hanja n .orang2 asing jang memenuhi sjarat2 inilah jang a ' al , .sebagai warganegara R.I. karena kelahiran didalam

Pada waktu Undang2 Kewarganegaraan R.I. diterima, warganegara Republik Indonesia ip‘ k -ail ius tjukup banjak. Penjaringan perlu diadakan. Ma P samasanguinis, jang menggantikan ius sob dan Unctang sekali tidak mengherankan.

522) L ihat surat pendjelasan Menteri ^ endld^ ^ P a n tjajaan Prof. D r. P r i j o n o , ttg 10-iu . M asjarakat baru

Daep a rtem V ’P.P. daa K„ D jakarta (1960),

°2B) Pasal 4 V.TJ Kewarganegaraan r Tdjelasan atas pasal itu. Lihat laxwiouh. 66 dst. . , .

B24) M entjegah terdjadinja bipatridie adalah salah satu tudjuan u ama U .U . K ew arganegaraan R.I. 1958.

235

Page 257: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

311. Mentjegali apatride pada anak2.

Anak- jang dilahirkan dari seorang ajah jang tidak m em pu­njai kewarganegaraan, atau jang kew arganegaraannja tidak diketahui, mengikuti status dari ibunja, jang berkevvarganegaraan R.I. 5-5)

Disini kita saksikan bahwa pem buat-undang2 hendak melin- dungi sedapat mungkin akan sang anak itu. Djika ajah sah dari anak bersangkutan tidak m em punjai kewarganegaraan (apatride) atau tidak diketahui status kew arganegaraannja, maka anak ber­sangkutan djuga akan m endjadi tanpa-kewarganegaraan djika terus mengikuti status ajahnja. Dan dalam Undang2 Kewarga­negaraan djustru sedapat mungkin hendak dihindarkan terdjadi- nja keadaan tanpa-kewarganegaraan ini. Seboleh-bolehnja harus dihindarkan bahwa seorang ini akan m endjadi tanpa-kewarga­negaraan. Maka ditentukanlah, bahwa antara sang ibu dan anak dalam bidang kew arganegaraan ini akan selalu terdapat hubungan kekeluargaan. Karena sang ibu bersangkutan berstatus warga-. negara Indonesia, maka dipandang sebagai sebaiknja djika sang, anak diberikan pula status w arganegara R.I. ini, daripada mendjadi tanpa kew arganegaraan karena ikut status ajahnja. 52fi)

312. Anak jang kedua orang tuanja tidak dikenal.

Hasrat jang serupa, jaitu untuk mentjegah terdjadinja tanpa- kewarganegaraan, jang djuga telah mendorong pembuat-undang2 kewarganegaraan untuk menerima bahwa dalam hal seorang anak dilahirkan didalam wilajah R.I. dan k e d u a orang tuanja tidak diketahui, maka anak itu pun akan dianggap sebagai warga­negara R .I .r>27) Djadi disini kita saksikan, bahwa telah diberikan suatu konsesi kepada prinsip ius soli. Satu dan lain untuk men* tjegah sedapat mungkin akan terdjadinja tanpa-kewarganegaraan.

313. Anak jang diketemukan sebagai „vondeling” .

Demikian pula halnja dengan seorang anak jang diketemu- kaii (vondeling) dalam wilajah Republik Indonesia selama tidakI

Pasal 1 sub e U.U. K ew arganegaraan no. 62 tahun 1958. r'-0) Bdgk. M em ori Pendjelasan, sub A. dibawah a.;>2‘) Pasal 1 sub f dari U .U . no. 62 tahun 1958.

•236

Page 258: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

r

diketahui kedua orang tuanja. Djuga anak sedemikian ini akan memperoleh status warganegara R.I. :,-R) Disini kita saksikan lagi bahwa azas ius soli telah digunakan sebagai perlunakan atas azas ius sanguinis. Tudjuan untuk mentjegah terdjadinja tanpa-kewar­ganegaraan dipandang sebagai lebih b e r a t !

Anak jang kedua orang tuanja tanpa-kewarganegaraan.

Sedjalan dengan ini ditentukan pula bahwa sang anak jang dilahirkan didalam wilajah R.I. akan mendjadi warganegaia apabila kedua orang tuanja tidak mempunjai kewarganegaraan atau selama kewarganegaraan dari kedua oiang uanja 1 a ' diketahui.r,:!")

Diatas sudah kita saksikan, bahwa bilamana kewai‘ ^ ‘ i’aan sang ajah sah tidak ada, maka sang anak a -an status kewarganegaraan dari ibunja, jang ei mDunjajR.I. Dalam hal bahwa k e d u a orang ua u a ' tglahkewarganegaraan atau kewarganegaraannja ic - ’ditentukan pula bahwa sang anak sedapatnja a "an a araPerlindungan ini berbentuk pembenan s Indonesia kepadanja karena kelahiran didalan R.I. ini.

Sekali lagi kita saksikan betapa menganggap penting untuk mentjegah ter ja 1

ganegaraan.

314. Tjorak- modern dalam Undang- Kewaiganeg

Tjita* untuk sedap^ mungkin kewarganegaraan (apatndie) adalah su 3 bgdaku pada waktuper-undang-an kewarganegaraan K.i. J s

Pasal 1 sub g dari U.U. no. 62 w'ilajah RepublikBdgk. M em ori Pcndjelasan . „ oleh keWarganegaraan dalamIndonesia sebagai dasar untuk menghindarkan adanja orangundang-undang in. ha™sMJ pj J , ir didalam wilajah Republik Indonesia ^ J S T S S S ’X T i * * untuk menghindarkan itu” (d.bawah A.

528)520)

530)U m um , I, sub a).Pasal 1 sub h dafi U.U. no. 62 tahun 1958.

237

Page 259: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

sekarang in i .531) Disamping itu, djuga hasrat untuk m entjegah sedapat mungkin terdjadii.ja dwikewarganegaraan (bipatridc) atau lebih-kewarganegaraan (multipatride), adalah suatu hasra t jang modem . o3c) Tjita- ini adalah sesuai dengan aliran2 dalam dunia modern mengenai pera tu ran2 kew arganegaraan.

Diatas tadi telah kita saksikan adanja tjontoh2 daripada Undang2 Kewarganegaraan ten tang tjita2 untuk m entjegah tim- bulnja apatride dan bipatride 'berkenaan dengan status anak2. Dibawah ini kita akan m em berikan tjontoh2 lain daripada tjorak utama Undang2 Kewarganegaraan kita ini. D33)

315. Melenjapkan dan m entjegah dwikewarganegaraan.

Keinginan untuk m enghindarkan dan m em perketjil sedapat mungkin terdjadinja dw ikew arganegaraan ini adalah suatu has­ra t jang sesuai dengan aliran2 m odern pada- waktu sekarang ini dalam bidang hukum kew arganegaraan (nalionaliteils-recht).

Umumnja dapat dikatakan bahwa dwikewarganegaraan ini bagi negara2 jang bersangkutan m erupakan sesuatu jang dirasa- kan sangat gandjil. Orang jang berdw ikew arganegaraan ini se-olah2 ,;m engindjak dua perahu” . 531) Berbagai kesulitan timbul berkenaan dengan hak2 dan kew adjiban2 jang harus dipenuhi oleh orang jang bersangkutan ini terhadap dua negara jang, masing2 menganggapnja sebagai anggotanja. K esulitan2 dengan kewadjiban berdinas militer, kesulitan berkenaan dengan perlin­dungan jang dapat diberikan oleh suatu negara kepada wargane­garanja, kesulitan berkenaan dengan apakah jang dipandang sebagai hukum nasional dari jang bersangkutan dibidang hukum

} t e S i s T u S d dicPA/BC K h 4/64' S -S -l^T ‘S® eJ f linaticln ^ State'« » ) Bdgk."1 Knoth S w T i T s T k 0 ' D e UCti° n ^ A /C N . 418L

(1957), h. 273 dst. m eeroudige nationaliteit, diss. LeidenES3) Bdgk. W arganegara dan O rane Acin<r u .

U .U . Kewarganegaraan • U ndang tL , • • Memori Pendjelasan berkelebihan kewarganegaraan akan V11. meilleini adanjatidak bisa ditjegah” (sub A Um um , dibawah La'in-laln**)^11 ^

a3 i) S eorang tidak dapat melajani dua Tuan e t c ” • .dua agam a, a tau dua „insteri” (tentunia untiik ™emPunjai dua ibu> a1au i- i x lunja untuk. m ereka lane tunduk diba-wah sistim hukum m onogam ), L iha t K o S w a n S i k , o . c . h S l S d s t

238

Page 260: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

perdata. Bagi orang bersangkutan pun akan amat sukar-lah untuk mendjadi warganegara jang baik daripada negara2 bersangkutan. Hal ini disebabkan karena ia ini ibarat harus „melajani dua Tuan” . Untuk proses „nation building” tentunja keadaan sedemikian ini merupakan suatu -penghalang jang amat teiasa. Oleh karena itu dinegara merdeka seperti Republik Indonesia, kita saksikan bahwa adalah demi kepentingan perkembangan ■ nasional negara, bilamana dihapuskan selekas mungkin kea aan dwikewarganegaraan daripada mereka jang terhitung sebagai warganegaranja.

316. Aliran modern „anti-bipatride .

Dan tjita2 untuk menghindarkan dwikewarganegaraan ini, seperti telah dikatakan tadi, adalah sesuai dengan tji ] g hidup dewasa ini dalam aliran- modern 1 1 ang sebagaiganegaraan. Dwikewarganegaraan ini pernah dipandang sebajpu „kedjahatan terbesar daripada kehidupan m ini” (,,the g reatest evil of present internasional )■

ni.Hima hukum internasional Oleh berbagai perlumpunan said an penjelesaian

ber-ulang2 telah diadakan usaha- teitentu k .Hu:keWareanega- daripada kesulitan2 jang timbul karena masaljJ d w ik ew a rg a n e- m n ini. Dengan togas ditolak.garaan ini. Dalam berbagai pertemuan ill J anusul2 agar supaja dapat dilenjapkan dwikewarg

Sebagai akibat daripada usaha"- ini kitadalam per-undang=an negara nasional jang mo kemudianbaik ketentuan2 jang bertudjuan a®a p ’ ini CK) Disamping hari ditjegah timbulnja dmkewaigan g kutan maslngsperdjandjian2 chusus antara netoara TTT,,inT1p2 Kewarga-negara telah membuat pula ^ ‘“ ‘“ ^ J g ^ d a r k a n terdjadinja negaraannja masing- jang henciaK n &dwikewarganegaraan ini.

--------------------- • .. Vnnnerensi Kodifikasi 1930, s.d. K o535) U tjapan waldl Estlandia pada K o p

S w a n S i k , o.c. h. 273. peraturan2 kewargane-®a«) Bdgk. K o S w a n S i k , o.c. h. 274 dst. aan P

garaan berbagai negara jang disebut disitu.

239

Page 261: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

317. Djuga R.I. bersikap anti-bipatride.

Djalan seperti ini telah ditem puh pula oleh Republik Indo­nesia. Negara kita, seperti telah disinggung sepintas lalu diatas, telah mengadakan persetudjuan chusus dengan Republik R akjat Tiongkok pada tahun 1955 untuk m engatasi kesulitan- jang timbul karena terdapat kelom pok w arganegara n e g a ra . R.I. di Indonesia jang sekaligus m em punjai kew arganegaraan R.R.T. pula. Perdjandjian penjelesaian dwikew arganegaraan antara R.I. dan R.R.T. ini telah m endjadi Undang- tersend iri dari R.I. (U.U. no. 2 tahun 1958),537) jang kem udian telah dilaksanakan lebih djauh. Mereka jang serem pak berdw ikew arganegaraan R.I. dan R.R.T. diberikan kesem patan untuk memilih salah satu kewarga­negaraan itu dalam masa 2 tahun (dari 20-1-1960 sampai 20-1- 1962). 53s) Setelah tanggal 20-1-1962 dapat dikatakan bahwa masa dwikewarganegaraan R.I.-R.R.T. ini telah berachir. Sedjak tanggal itu, m ereka jang bersangkutan, tidak lagi 'berdwikewarga­negaraan, tetapi hanja memiliki kew arganegaraan tunggal, R.I. atau R.R.T.

Disamping mengadakan persetud juan bilateral, Republik Indonesia telah mengadakan usaha lain untuk sedapat mungkin menghindarkan terd jad in ja lagi dwikew arganegaraan ini. Hal ini telah dilakukan dengan m engadakan ketentuan- chusus dalam Undang2 Kewarganegaraan jang berm aksud untuk m entjegah terdjadinja dwikewarganegaraannja ini. 53B)

318. Tjontoh2 dalam U.U. Kewarganegaraan.

Beberapa tjontoh akan kita sadjikan disini :Anak luar kawin dari ibu Indonesia.

®37) K o S w a n S i k , o.c. h. 302 d s t; N j. L i e m T j i n g H j e n -K h o , P erd jandjian dw ikew arganegaraan R .I.-R.R.T. dan pelaksanaan-nja, D jak a rta (1961).

538) p . p . no. 11 t a h u n 1960 t e n t a n g Penegasan m u la in j a b e r l a k u Peraturan. P e m e r i n t a h No. 20 t a h u n 1959 t e n t a n g p e l a k s a n a a n U ndang2 t e n t a n g

persetudjuan perdjandjian an tara R.I. dan R.R.T. m engenai soal dwike­w arg an e g araa n ; P.P. no. 5 tahun 1961 tentang Perubahan dan tam bahan P.P . no. 20 tahim 1959 tentang pelaksanaan U .U . teijtang Persetudjuan P erd jand jian an ta ra R.I. dan R.R.T. mengenai soal dwikewarganegaraan (L.N . 1961 no. 23).

539) U ntuk tind jauan jang lebih m endalam , Tafsiran U.U. ICewarganegiaraan R.I., h. 2 dst.

240

Page 262: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

a) Anak- jang dilahirkan diluar perkawinan dari seorang Ibu Indonesia atau dalam perkawinan tetapi setelah bertjerai diserahkan kepada asuhan sang ibu warganegara R.I., dapat memperoleh pula status warganegara R.I. r,,°) Sebenarnja anak ini m engikuti kewarganegaraan dari sang ajah jang berstatus asing. Tetapi kepadanja diberikan kesempatan untuk memperoleh kewarganegaraan R.I. dengan djalan mengadjukan permohonan. Kini ditentukan, bahwa kesempatan untuk mengadjukan peimo- honan supaja memperoleh kewarganegaraan R.I. ini hanja dapat dilakukan oleh anak2 jang dengan memperoleh kewarganegaraan R.I. itu akan kehilangan kewarganegaraan asalnja (jang diper- olehnja karena untuk turut status sang ajah). Bilamana kewarga­negaraan lain ini tidak hilang, maka sang anak tidak akan dapat dikabulkan permohonannja untuk mendjadi warganegara R.i. Djadi, disini kita saksikan bahwa pembuat-undang- hendak men­tjegah terdjadinja dwikewarganegaraan.

319. T ju tju se o r a n g im igvan asin g .

!b) Diatas sudah kita saksikan bahwa seorang danseorang im igran asing, dapat J’ . diantarauntuk memperoleh kewarganegai aan R.I. ) P mo-sjarat2 jang harus dipenuhinja sebelmn dapat dikabulkan pei honannja itu, terdapat ketentuan bahwa dengan sebagai warganegara R.I. ia ini tklak akan men j negaraan. Pada saa t-ia mengadjukan Peim01°., diuSa Suratdjadi warganegara R i. haruslah ia ini men].amp 1 lain iangpernjataan bahwa ia menanggalkan kewargan mungkin dimilikinja.

320. Form ule su m p a li N atu ra lisa si.

c) Djelas sekali hasrat untuk daripada proses untuk memperoleh kewaigan g • ^n a tu r a lisa s i (p ew argan egaraan ). Ditentukan b - n natura-jang hendak mendjadi warganegara R.I. J pnga . hilamana ia lisasi ini hanja dapat dikabulkan permohonannja tidak mempunjai kewarganegaraan lain bilamana l djadi warganegara R.I.

S4°) Pasal 3 U .U . Kewarganegaraan no. 62 tahun 1958. 54!) Pasal 4 U .U . Kewarganegaraan nO. 62 tahun 1958.

241

Page 263: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Dalam form ule sumpali jang harus diutjapkan bilamana telah dikabulkan perm ohonan naturalisasi, djuga njata sekali adanja tjita2 untuk m entjegah dwikewarganegaraan ini. Dengan sedemi­kian banjak perkataan harus d iu tjap k an : ,;Saja bersum pah (berdjandji) bahwa saja melepaskan seluruhnja segala kesetiaan kepada kekuasaan asing”. S42)

321. Perkawinan tjam puran internasional.

d) Karena menikah dengan seorang w arganegara R.I., seorang perem puan asing dapat m em peroleh k ewarganegaraan R.I. dari suam inja.B43) Hal ini akan kita uraikan lebih djauh kem udian .B44)

Sekarang ini perlu kita perhatikan, bahwa hanja perem puan3 asing, jang" karena perkawinan ini kehilangan kewarganegaraan asalnja, adalah jang dapat memperoleh status warganegara R.I. daripada sang suami. Apabila mereka ini tidak kehilangan kewar­ganegaraan asal karena memperoleh kewarganegaraan R.I. dari sang suami, m ereka ini tidaklah akan mendjadi warganegara R.I, karena tu ru t status suami.

322. Memperoleh kewarganegaraan lain.

e) Ketentuan lain jang setjara tegas memperlihatkan pula sikap „anli-bipatriile” dari pembuat-undang- Kewarganegaraan R.I. ialah ketentuan bahwa seorang warganegara R.I. jang dengan sukarelalah memperoleh kewarganegaraan lain, setjara otomatis akan kehilangan kewarganegaraannja. 5,s)

Dengan melakukan perbuatan memilih dengan suka sendiri y akan kewarganegaraan lain ini, orang jang bersangkutan telah

mempeilihatkan bahwa ia sudah tidak lagi mengharapkan kewar­ganegaraan R.I.-nja. Adalah selajaknja bilamana orang jang bei sikap demikian ini dipandang tidak lagi sebagai warganegara R. I<

p42) T e n ta n g p en tin g n ja fo rm u le sum pah p ad a a tja ra na tu ra lisasi ini, lih a t T a fs ira n U .U . K ew arganegaraan R .I., h. 119 dst.

543) pasal 7 U.U. Kewarganegaraan no. 62 tahun 1958.6*4) L ih a t u n tu k ini, B ab V II „M em pero leh kew arganegaraan R .I. k a ren a

p e rk a w in a n ”, p a d a T a fs iran U .U . K ew arganegaraan R .I. h . 123 dst.G45) pasal 17 sub a U.U. Kewarganegaraan no. 62 tahun 1958.

242

Page 264: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

323. Tidak mempergimakan kesempatan untuk melepaskan ke- warganegaraan lain.

f) Ada lain kemungkinan untuk kehilangan kewarganega- garaan R.I. Djika seorang warganegara R.I. tidak menolak atau tidak m elepaskan kewarganegaraan lain, sedangkan ia ini diberi­kan kesem patan untuk itu, maka ia akan kehilangan kewarga­negaraan R .I.-n ja .510) Demikian buruk dipandang dwikewargane­garaan oleh pembuat-undang- Kewarganegaraan R.I. ini. hingga suatu sikap „masa-bodo” dan „tinggal diam peluk tangan” sedangkan diberikan kesempatan untuk melepaskan diri daripada kewarganegaraan lain ini, dipandang kurang menghargakan kew arganegaraan R.I. Akibat daripada kurang penghargaan ini ialah bahwa jang bersangkutan dikenakan „hukuman” hilangnjakewarganegaraan R.I.

Bagi m ereka jang berdwikewarganegaraan R.I. dan R.R.T. ketentuan ini perlu diperhatikan. Kepada mereka dibeiikan kesempatan untuk melepaskan kewarganegaraan R.R.T. dalam djangka waktu 2 tahun setelah persetudjuan antara R.I- dan

en an§ penjelesaian dwikewarganegaraan mulai berlaku. Djika m ereka ini tidak mempergunakan kesempatan untuk mele­paskan kew arganegaraan R.R.T. ini, maka mereka akan kehi­langan kewarganegaraan R.I. Hal ini bukan sadja ditentukan dalam persetudjuan bilateral antara R.I. dan R.R.T. (U.U. no. 2 tahun 1958), r>‘<) tetapi dalam Undang- Kewarganegaraan R.I. sendiri d itentukan hal jang serupa.

324. Mempunjai paspor asing.

g) Selain daripada itu, kita saksikan pula sikap anti-bipa- tride ini daripada ketentuan lain jang mengakibatkan hUangnja status warganegara R.I. Apabila seorang warganegara R.I. tei- njata m em punjai surat paspor asing (atau surat jang eisi a paspor), maka karenanja ia akan kehilangan kewarganegaraa R .I.-n ja .B48)

!54e) Pasal 17 sub b U.U. Kewarganegaraan no. 62 tahun 1958‘°47) Pasal I dan II U.U. no. 2 t a h u n 1958 (L.N. no. 5 5 tahun 1958). 0 i8 ) pasa 1 7 s u b ^ u u K e w a r g a n e g a r a a n no. 62 t a h u n 1958.

243

Page 265: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

>

Kesetiaan bulat terhadap R.I. diminta dari setiap wargane­garanja ! Tidak dapat diterima suatu sikap jang ragu2. Dengan mempunjai paspor negara asing, warganegara R.I. bersangkutan memperlihatkan ke-tidak-setiaannja kepada R.I. Oleh karena itu adalah sewadjarnja, bilamana kewarganegaraan R.I.-nja ini dinja- takan hilang. „Berdiri atas dua perahu” tidak dapat diterima lebih lama.

325. Dianggap hanja Warganegara Indonesia.

h) Pembuat-undang- Kewarganegaraan R.I. telah menja- takan hal ini dengan le'bih tegas lagi. Menurut kata- jang djelas dalam U.U. Kewarganegaraan R.I. ini ditentukan bahwa ,,seorang warganegara R.I. berada didalam wilajah R.I. dianggap tidak mempunjai kewarganegaraan Iain”. r,1°) Dengan lain perkataan : pembuat-undang2 hanja ingin mengenai satu matjam kewargane­garaan (jaitu kewarganegaraan R.I.) pada warganegaranja.r,no)

Demikianlah beberapa tjontoh jang setjara djelas membuk­tikan adanja.sikap jang „anti-!bipatride” dari Undang- Kewarga­negaraan R.I.

326. Anti-apatride.

Disamping hastrat untuk menghindarkan dwikewarganeg'a- raan kita sudah saksikan, bahwa pembuat-undang2 Kewarga­negaraan R.I. djuga tidak suka akan adanja tanpa-kewargane­garaan. Setjara tegas njata pula sikap „anti-aipatride” dari pembuat-undang2 ini.

327. Alasan- contra tanpa-kewarganegaraan.

Mengapa tanpa-kewarganegaraan perlu ditjegah ? Karena keadaan. ini membawa banjak kesulitan bagi orang bersangkutan. Seorang jang tak-iberkewarganegaraan tidak mempunjai negara jang dapat memberikan perlindungan kepadanja. Ia tidak dapat memiliki paspor negara tertentu. Bagaimana untuk mengenjah-

5«) Pasal I Peraturan Penutup U.U. Kewarganegaraan no. 62 tahun 1958.550) Tentang akibat2 hukum dari pernjataan seperti ini Bdgk K o S w a n

S i k , h. 276 dst.

244

Page 266: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

j,annja (m engusir, uitw ijzen) ? K enegara m anakah ia harus diki- .•lT1 ? Ia in i d iib a ra tk an sebagai ,,vessels of the open sea not sajling u n d e r th e flag of a state, which likewise do not enjoy any p r o t e c t i o n ” (,,kapal dilaut terbuka tanpa bendera, karenan ja tak ^ m p u n j a i p e rlin d u n g an sedikitpun !”). fi51)

D ibaw ah ini k ita akan m em berikan beberapa tjontoh tentang h a s r a t p em buat-undang- kew arganegaraan untuk m entjegah t anpa-ke\varganegaraan ini :

328. Anak jang tak mempunjai hubungan dengan ajahnja.

a) P ad a um um nja seorang anak tu ru t m em peroleh status kew arganegaraan d a ri sang ajah. Apabila sang ajah warganegara Indonesia m aka sang anak djuga akan memperoleh status itu. Hal ini sudah k ita saksikan diatas.

A k a n tetapi-, apabila d iantara sang ajah' dan anak tidak te rd ap at h u b u n g an kekeluargaan m enuru t hukum, maka status anak ini d iten tu k an oleh sang ibu jang b e r k e w a r g a n e g a r a a n

R .I .5r’-) D engan dem ik ian dihindarkan bahwa sang anak mendjadi tanpa-kew arganegaraan karena tidak dapat memperoleh status sang a jah .

329. Anak jang diketemukan.

b) A nak-anak jang diketem ukan didalam wilajah Indonesia tanpa d ikenal o rang tua m ereka diberikan status w a r g a n e g a i a

Indonesia. r,r>:<) H a l ini te rang adalah untuk m entjegah s u p a j a sang anak tidak m en d jad i tanpa-kew arganegaraan.

330. Anak jang orang tuanja tidak clikctaliui.

c) D juga an ak 2 jang orang tua-nja tidak d i k e t a h u i kewar- ganeg araan n ja d idjadikan w arganegara Indonesia. -•> ) H n ja tan ja un tuk m enghindarkan bahwa m ereka ini men jkew arganegaraan .

351>. O p p e n h e i m , lih a t d ju g a F _a " ^ ° 1 s’ J P A - ’ H a n d b °h e t v o lk e n re c h t, tje t. ke-2, I, h . 475 dst.

3S2) P a sa l 1 su b di.-•r.3) P a s a l 1 su b g.501) P a s a l 1 su b f.

245

Page 267: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

R.I. karena pengangkatan ini ialah untuk m enghindarkan te rd ja ­dinja perbuatan- penjelundupan2 (perbuatan „pura2” 5,u) jang diadakan se-m ata2 untuk m emperoleh status w arganegara R.I.).

Dan djuga dengan adanja s jarat ini diharapkan bahwa me­reka jang diangkat ini masih betul2 bisa merasa dirinja sebagai, warganegara Indonesia.5G2)

P e r n j a t a a n sah oleh Pengadilan Negeri ini harus dim inta dalam djangka waktu setahun setelah pengangkatan dilakukan.

Hal ini dianggap perlu demi kepastian hukum.

336. Naturalisasi.

ad b) Karena melakukan pewarganegaraan (atau : „natu- ralisasi”) seorang asing dapat mendjadi warganegara I n d o n e s i a pula.

B e r b a g a i s j a r a t j a n g d i a d a k a n u n t u k d a p a t m e m o h o n k e w a r ­g a n e g a r a a n R . I . k a r e n a d j a l a n in i .

337. Sjarat2 untuk naturalisasi.

Orang asing bersangkutan. ini harus memenuhi s ja ra t2 seba­gai b e r ik u t: o6i) •'

a. Sudah berumur 21 tahun.Sjarat ini mudah dirnencrorti Ai-n i -t

d-wasa d a la m nrt; i * &ertl- 0 rang' Jang dianggap belumrijn-inda-rip knr i 3 masih di'bawab umur, lazimnjadipandang kurang tjukup me-nenum siarat untuk danat m elakukan perbuatan hni, lu-ncnum s ja ia t untuK dapat

m , JUKum sepenting seperti naturalisasi.Tetapi dalam hubunpumumnja dalam Und g a n *m m enarikperhatian bahwa pada

lah sudah dianggan f t Kewarganegaraan usia 18 tahun- send iri.5fil) Untuk nat ^ untuk daPat m enentukan nasib naikkan. Hal ini kiran'Ur^ rSaS* ernja a batas um ur ini di-

dla,da:kan untuk menegaskan sekali

561) Untuk perbuatan , pm-, D „Rechterlijke Vrijhavens T HATAH ini Jihat W e r t h e i m ,

562) Bdgk. Memori Pendjelasan / 423-h. 48, 49. S ' dalam Tafsiran U.U. K ew arganegaraan,

363) Pasal 5 U.U. Kewarganegaraan » i ,5e4) Bdgk. Tafsiran U.U. KewarganeganT,' h 21 dst. ^

248

Page 268: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

lagi, bahwa tja ra m em peroleh kewarganegaraan dengan djalan pew arganegaraan ini adalah suatu hal jang serious dan m em erlukan „kem atangan” saperlunja dari jang *bersangkutan.

b. Lahir dalam w ilajah Republik Indonesia, atau bertempat tinggal dalam wiJajah Republik Indonesia, atau bertempat tinggal dalam daerah itu selama sedikit-dikitnja 5 tahun bertu ru t-tu ru t jang paling acliir atau sama sekali selama 10 tahun tidak berhm it-tu ru t.

A ntara sipemohon dan negara R.I. harus ada suatu hubungan perta lian terten tu . Hubungan ini ada karena jang bersangkutan dilahirkan disini atau sudah bertempat tinggal lama disini. Lam anja bertem pat tinggal disini ditentukan se-kurang-nja 5 tahun berturut-turut atau 10 tahun setjara tidak bertu ru -tu ru t (artinja : dengan diseling masa bepergian keluar negeri). Pada waktu permohonan diadjukan djangka2 waktu kediam an ini sudah harus dipenuhi.

Memang adalah logis bahwa hanja mereka jang mempu­njai hubungan e ra t dengan R . I . adalah jang boleh diterima sebagai w arganegara-nja dengan djalan naturalisasi ini. Apabila sipemohon tidak ada ikatan sama sekali dengan R . I . ,

tidak pada tem patnja untuk m emberikan kepadanja kesem- patan untuk m endjadi warganegara R . I . K a r e n a k e k u r a n g a n

ikatan ini ia tentunja tidak akan dapat mendjadi warga­negara jang b a ik .CBr>)

c. Memperoleh persetudjuan sang isteri.

Untuk dapat mengadjukan permohonan naturalisasi seorang suami harus dapat persetudjuan dari isteri. Hal ini dapat dipertanggung-djawabkan oleh karena apabila natu­ralisasi dikabulkan, maka djuga pihak isteri akan turut me- ngalami perobahan status (mendjadi warganeara R.I.) )

ccc) Pasal 5 a ja t 2 b. ■ ,n0°) Bdgk. a tja ra persam aan - hak (gelijkstelling ps. 163 I S.), pe»™ *ikan

sukarela un tu k seluruhnja a tau sebagian (pasal 18 S. 1 9 1 7 / i / ; , d y a i n a t u r a l i s a s i m endjadi, „N ederlander”). Lihat buku H A O , suatu Pengantar, h. 155, 160.

249

Page 269: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Tentunja perubahan status ini perlu disetudjui terlebih dahulu oleh mereka jang akan mengalaminja.

Dengan turut berubahnja status isteri ini mengikuti sang suami memperoleh kewarganegaraan R.I. karena naturalisasi tertjapailah kesatuan hukum dalam keluarga. 567) Suami-isteri akan mempunjai status jang sama dan karena itu djuga akan tunduk kepada hukum jang sama.

d. Tjukup dapat berbahasa Indonesia dan mempunjai sekedar pengetahuan tentang sedjarah Indonesia.

S;Pem°h0n ^arus menundjukkan bahwa ia mempunjai . 3 a , m311 , ^ U UP untuk mendjadi warganegara Indonesia jang baik. Oleh karena itu disjaratkan bahwa ia faham bahasa Indonesia dan mengetahui sedjarah negara kita. Tetapi en unja 1 a pei u segala sesuatu pangetahuan itu sampai

sedalam-dalamnja dan se-sempurna-’nja. Ia hanja harus ,,tjukup dapat bitjara Indonesia untuk pergaulan se-hari2

engan warganegara jang lain. Pengetahuan sedjarah pun S t v -a S6t'1ara ”sekedar” tjukup untuk menun-Indonesia jang b a ik '" ^ 1111'’ ,1>el'hasrat warganegara

kat‘"a m' lakuki"> sm <" kedjaiiatan

banf^O^ph°t-0n mSruPakan suatu warganegara jangtidak ^ n t i a ' tu,.’’crhninal record”-nja harus bersih. Ia ianff mprnffit6rna karena melakukan kedjahatanhatan sedpm i^ ne^ r+a- ®ranS ianS telah melakukan kedja-untuk mendjadTwargandeHaraaPat t " ? 315 memenuhi s->arat ganegara jang baik dan sedjati.

667) Azas kesatuanA zas kesatuan — hukum ,persama — ratam 5n t, . . uar2a kini telah ditinggalkan. AzasKarena fihak isteri d iW T sua™l"isteri dipandang lebih penting adanja.dibidang kewarganegaraan a l l I Un‘uk menentukan sendiri statusnjapasal J, U.U. no 7 t-u ? s' 1 8 U -U - Kewarganegaraan R.I.,kesatuan hiilmm a r tUn ^ita saksikan bahwa kadang2_tidak adatinrr'l-an tpcnfn 3 ai? uar8a ini. Tetapi pada naturalisasi masih dipen-

«««. o f , ™ ~ hukum dalam keluarga ini.h 91 dst em0n ^ endjclasan dan Tafsiran U.U. Kewarganegaraan,

Page 270: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

S ja ra t sedem ikian ini adalah lazim pula dalam p e ra tu ran 2 pew arganegaraan dari negara2 lain. 509)

f. Sehat ro ch an i dan djasmani.T en tun ja negara hanja ingin m enerim a sebagai wargane­

garan ja m ereka jang tidak sudah „afgeschreven”. Dengan orang jan g sehat ini diartikan, bahwa orang bersangkutan tidak b erp en jak it jang berbahaja bagi umum.

g. Membajar uang naturalisasi diantara Rp. 500,— sampai Rp. 10.000,—.

S ja ra t pem bajaran untuk naturalisasi ini adalah sjarat jang lazim di-negara2 lain. B7?) Per-undang2an naturalisasi m em ang pada um um nja mengenai sjarat ini. Beaja jang harus d ibajar ini se-kurang2nja adalah Rp. 5 0 0 ,— dan setingginja Rp. 1 0 . 0 0 0 , — Djaw atan Padjak jang m enentukan djumlah ini m elihat penghasilan tiap bulan dari jang bersangkutan. D jum lah ini tidak boleh melebihi djumlah penghasilan sebu- lan dari sipemohon.

h. Mempunjai mata-pentjaharian jang tetap.S ja ra t in i diadakan untuk menghindarkan bahwa orang

jang d id jadikan w a r g a n e g a r a dengan djalan naturalisasi mi kelak m endjad i beban negara.

I. Tidak mempunjai k e w a r g a n e g a r a a n lain.U n tu k d a p a t d ik ab u lk an perm ohonan n a tu ra lisas in ja sipe-

m o h o n t id a k b o le h m em p u n ja i kew arg an eg araan lain p in g k e w a rg a n e g a ra a n R.I- ja n g d ib e rik an k ep ad an ja . D jika ia s u d a h m e m p u n ja i k ew a rg a n eg a ra a n lain m aka h a ru s la n p e rm o h o n a n n a tu ra lis a s i d ise r ta i p e rn ja ta a n h ilan g n ja ke- w a i 'g a n e g a ra a n la in in i ^ seg era apabila p e rm o h o n a n n ja d ik ab u lk a n .

“®»j Bdgk. E ncyclopaedia Britannica, dibawah ..Naturalization laws”, vol. 16, h. 162 A . x

s7°) Bdgk. T afsiran U .U . K e w a r g a n e g a r a a n R .I., h. 96.

251

Page 271: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Seperti telah didjeiaskan diatas, sjarat ini adalah sesuai dengan tjita2 dalam Undang2 Kewarganegaraan kita untuk mentjegah terdjadi dwikewarganegaraan.571)

Dari waiganegaia jang baru diterima disjaratkan kese- tiaan jang bulat dan tidak ter-bagi2 kepada negaranja jang

338. Tjara mengadjukan permohonan.

“ T u"tuk mendjadi warganegara melalui naturali-P « „ i , ! ' » T . |lemerlntah RI dengan perantaraanN p o l i iano geu, ll)pal tinggal Sipemohon. Pengadilansedjarah sipemTon. “dlla" t8ntanS kepandaian bahasa serta

339. Sumpah setia.

mohoSn t haihuSPm rm !)t f \ PeWarganegaraan ini dikabulkan sipe- negara R I ap an sumpah atau djandji setia kepada

sumpa^nf,^pewarga^egaraan\a?an^ DenSan tidak diutjapkan waiganegaraan belum lagi mempunjai akibat. -™)'W ar-gaiiGgara ianj? barn •

sumpahnja (djandjinja) bahwa T ' 1IU perlu mengutjapkannegara jang baik merupakan suatu warga-

34». Pengumuman dalam Berlta Negara.Sifat resmi 'dibGrik’nn lronn/i i .

ketentuan bahwa setelah Hi,,? ^ * na‘“ralisasi ini denganraan dari jang b e r i n i ^ f a" SUmpah Setla’ P ^ ^ n e g a - Neffara 57‘) no™ S^utan akan diberitahukan dalam Berita

mengetahui bahw TjanT taT a reSmi semua orang dapat»anggota” dart p a i ^ f f c T S“dah d“ erim0 m6

671) Lihat no. 317 dst.

073) T s l i a t &7 u u T teraohlr u u - Kewarganegaraan 1958 no. 62.Ps' 5 a!at 7 U -U - Kewarganegaraan 1958 no. 62.

57-J) P s . 5 ajat 7 U.U. Kewarganegaraan 1958 no. 62.

252

i

j

Page 272: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

341. Naturalisasi demi kepentingan negara.A p a j a n g d id je la s k a n d ia ta s a d a la h p e w a rg a n e g a ra a n ja n g

d ilakukan a ta s in is ia t ip d a rip a d a ja n g b e rk e p e n tin g a n se n d iri. D isam ping a t j a r a p e w a rg a n e g a ra a n s e p e r t i itu m asih d ikena l n a tu ra lisas i s e t j a r a la in .

J a n g d im a k s u d k a n ia lah n a tu ra lis a s i d em i k ep e n tin g an N e g a ra .57r') D jik a a d a la h dalam k e p e n tin g a n n e g a ra bahw a sese­o rang d i-n a tu ra lis a s i m ak a d ap a tlah hal in i d ila k u k a n ta n p a p e rlu d ip en u h i s ja r a t - ja n g te ru ra i d ia tas u n tu k p ew arg an e g a ra a n biasa.

D ju g a d a p a t d ila k u k a n p e w a rg a n e g a ra a n in i apab ila o rang jang h e n d a k d in a tu ra l is i r te lah b e rd ja s a te rh a d a p N egara .

D alam h a l- in i p e m e rin ta h d a p a t m em b e rik a n kew arganega­raa n In d o n e s ia k e p a d a seo rang a s in g d en g an p e rse tu d ju a n d a r i­pada D ew an P e rw a k ila n R akjat.

342. P e rk a w in a n tja m p u ra n in ternasional.ad c) K a re n a perkawinan dengan seorang suam i w argane­

gara In d o n e s ia s e o ra n g perem puan asing d apa t m en d jad i w aiga- n egara p u la . 57«)

D e n g a n d ja la n in i d ib e rik an kesem patan agar su p a ja pe*em puan a s in g m e m p e ro le h s ta tu s suam i Indonesia-n ja. Hal im 1 en tukan d e m i k e p e n tin g a n k esa tu an hukuin dalam k e lu a ig a . en ° a adan ja kesatuan dalam bidang kew arganegaraan diharapK an bahw a a k a n te rh indar p u la be rbaga i kesu litan jan g tun u ad an ja h u k u m ja n g b e rb e d a didalam sa tu keluarga itu .

S e p e rti d ia ta s te la h d iberitahukan , o rang peren^uan asing b e rsa n g k u ta n h a n ja ak an d ap a t m em pero leh kewa1^ dwike- dari su am in ja , bilam ana- k a ren an ja ia tidak akan m en j hkanw arg an eg av aan . r,7K) H al in i b e ra rti, bahw a h a n ja dipe k e p a d a n ja untuk m en d ap a t kewarganegaraan Indonesia suam in ja , b ila m a n a kewarganegaraan asaln ja hilang. d em ik ian a ta u tid ak te n tu n ja te rg an tu n g daripada

3 -5) Ps. 6 U .U . K e w a rg a n e g a ra an 1958 no . 62.578j Ps. 7 U .U . K e w a rg a n e g a ra a n 1958 no . 62.

7) B dgk. tja ta tan . p a d a no. 567).5"S) D ib a w a h no . 321.

253

Page 273: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

kewarganegaraan dari negara asal sang perempuan. Ada negara2 jang menentukan bahwa djika seorang perempuan warganegara

S n t a t a t l S i T 1 ^ ^ kar6na"ia ™ m per o le f "war- ganegaraan daripada sang suami itu, maka dengan sendirinjakewarganegaraan asalnja akan hilang.«») Tetf " 'f a S a

s r mi ” „ehgr ntg tegi,h pada prteif>dapat mempengaruhi kewarganegaraan daripada warganegaraaSi„g. M ^ i n i

seandainja negara daripada san? <?na ^ ara semula walaupunneearaannia Vpnarin ” suann memberikan kewarga-negaiaannja kepada sang isten 580'i riniiv.-. u 1 -l. <•

tidak demikian halnja. JanS disebut belakangan

sesuai d ^ g a ^ t^ita^Hjfembu^und3 ke!eM,!Uan seperti ini adalahu n t u ^ e ^ e r d j a ^

343. T jara2 keh ilan gan kew arganegaraan R.I.

ganegaraan R J^D afa^U ndangK e31 tj3ra2 memPeroleh kewar- ditentukan tentang tiara2 n n lv t l T negaraan IazimnJa dJu£a Ketentuan2 tentang kehilangan kewa a" kewargane^araan- pula dalam U n d a n g 2 Kewn,I kewarganegaraan ini diketemukan

Salah satu sebab lT peft " eg3raan R J '.tahun 1958‘ 581>negaraan Indonesia ialah • ^ untuk kehilangan kewarganega-

a. Memperoleh kevvargasendiri. negai aan lain karena kemauannja

kemaua/sendM™ ™^!^01011 kewai'ganegaraan lain dengansebagai warganegara I n d o L ^ ^ ^ kg i dian®*ap

tikan pula dakm h^bung^n^n^Pa!?1 jang perlu kita perha‘s ni. Pada waktu jang bersang-

h. lo"dst. Hegara2 Jang disebut da,am Nationality of married women,

««) ^sallni7’uXSTewargMeKiSeblI\ o al™ idem > h- 12 *t.155 dst. f egaraan J958 no. 62; Bdgk. S c h n i t z e r , I,

254

Page 274: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

ku tan m em pero leh kew arganegaraan lain itu ia harus berada d ilu a r negeri. D jika ia berada didalam wilajah R.I. maka kew arganegaraan R.I.-nja tidak hilang dengan sendirinja.

A pabila jan g bersangkutan m asih berada didalam wilajah R.I. m aka m asih terdapat hubungan jang erat antaranja dan negara R.I.

K eh ilangan kew arganegaraan R.I. membebaskan orang jang b ersan g k u tan dari kewadjiban2 sebagai warganegara. T idaklah dapat diterim a bahwa seseorang akan dapat mem­bebaskan d irin ja dari beban ini karena suatu perbuatan sebelah pihak s a d ja .ns2) Padahal ia ini karena masih berada d id a lam , w ilajah R.I. nam paknja masih m em punjai tjukup hubungan dengan R.I-

U ntuk m - e n g h i n d a r k a n hal sedemikian itu maka ditentu­kan ibahwa dalam hal seperti itu barulah kewai ” e^aiaa*| R.I. h ilang apabila dinjatakan hilang oleh M enteri Kehakiman dengan persetud juan Dewan Menteri.

T idak menolak atau meiepaskan kewarganegaraan lain, sedangkan ia m endapat kcsempatan nntuk 1

A pabila diberikan kesempatan kepada seorang ^ ar^ _gara R.I. jang berstatus dwikewarganegaraan unituk-

kan kew arganegaraan lainnja, maka la aius maka iakannja. 5S3) Djika ia tidak melakukan a sikapm em perlihatkan sikap jang tidak sesuai ^daripada seorang warganegara Indonesia JanS meiepaskankarena itu, sikapnja jang paSsip mi (tida ™ kesem-kew arganegaraan jang l ai n. ”iana„ ki warganegaraan patan padanja) akan mengakibatkan bahwR.I.-nja hilang pula. - 0

K etentuan sem atjam ini adalah sesuai dengan apa ^jang d itjan tum kan dalam ^PerEetudjiian en an g P vvarga- dw ikew arganegaraan antara R.I. dan R.R.T. l negara jang berstatusdan tidak meiepaskan kewaiganegaiaan R.R. .

582) Bdgk. M e m o r i P e n d je l a s a n , d ib a w a h s iib II.583) Pasal 17 sub C, u.U . K ew arganegaraan 1958 no. 62.

255

Page 275: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

djangka waktu 2 tahun jang ditentukan, kehilangan kewarga­negaraan R.I. m ereka.B84)

Ketentuan ini sesuai dengan hasrat pembuat-undang" Kewarganegaraan R.I.' untuk menghindarkan dwikewarga­negaraan sedapat mungkin.

c. Diakui sebagai anak oleh seorang asing.

Karena pengakuan sebagai anak (erkenning) tertjiptalah hubungan hukum antara anak bersangkutan dan sang ajah. Karena itu adalah selajaknja bahwa anak bersangkutan me­ngikuti pula status ajahnja jang mengakuinja.

riiaiir ^ , dapat kehilangan kewarganegaraan R.I. karenariihawph Se?«ar i 3SirLg lni’ anak bersangkutan harus dibawah umur 18 tahun. Batas 18 tahun ini diambil, karenapada umumnja usia tersebut adalah batas untuk dapat me­nentukan nasib sendiri dibidang kewarganegaraan.

Pengakuan anak W.N I olph com-™,. • i ,nm oalan h p t 01en seoian§ asing merupakanpersoalan H.P.I Berbagai persoalan hukum timbul berke­naan dengan ini. 585) “u

d. Dinjatakan hilang atas permohonan sendiri.

d i b e t 'S ^ k l s ^ p a t f n 3 u n tu k " m e n ^ t r 1 ™ * * * ^

kepada pemerintah supaja kewarganegar^annja"'din'atakan

U ndang^K ew tg^Lg^A TnT l in' bahvva dalamorang2 jang dianswrn ^ • dlben kebebasan kepadakan sendiri sikan wargane2ara untuk menentu-disukai Ikatan to 3’ wargane§araan mana jang lebih

iang tidak l£ lama

modPerndljang m ^genS ad3lah S0SUai dengan faham3 expatriatie”. 5««) pa Jang disebut sebagai „hak

•>8i) Pa&al II. I l l U.U. no. 2 tahun 1958585) Bdgk. ketetapan P.N. D jakarta ifi f. ioco

dengan adopsi dari seorang anak W N I i l 5 2 7 / 19 5 9 P- berkenaanHPI I no 2 sub i NI ° Ieh W N A m erika Serikat. L ihatH P I, I no. 2 sub j.

588) Bdgk. T afsiran U .U. K ewarganegaraan, h. 106 dst,

256

Page 276: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

T etap i, k eb eb asan un tuk d in ja takan hilang kew argane­garaan In d o n esia ini, h an ja lah terbuka bagi m ereka jang karenan ja tid ak ak an m endjad i tanpa-kew arganegaraan.

e. Masuk dalam d inas ten ta ra asing.P e rb u a ta n m asuk dinas ten tara asing m em perlihatkan

suatu p e rta lia n ja n g sedem ikian rupa dengan negara asing bersangku tan , liingga njatalah orang ini tidak m enghargai lebih la n d ju t akan kew arganegaraan R .I.-n ja .687) Kewa­djiban m ilite r pada um um nja hanja m endjadi beban jang chas daripada seo rang warganegara. 58S)

O leh k a ren a itu sanksi kehilangan kewarganegaraan dalam hal sedem ik ian adalah sesuatu jang lazim.

L ain h a ln ja bilam ana jang bersangkutan sebelum masuk dalam dinas te n ta ra asing ini terlebih dahulu telah m em per­oleh idzin daripada M enteri Kehakiman. Dalam hal jang belakangan in i m aka kewarganegaraannja tidak akan men­djadi hilang.

Masuk dinas n eg ara asing.K arena m asuk dalam dinas negara asing tanpa idzin

terleb ih dahulu d ari M enteri Kehakiman R.I., seorang warga­negara R .I. dapat kehilangan pula kewarganegaraannja. ) D jabatan jan g dipangkunja itu adalah sedemikian penting hingga menurut p era tu ran R.I. hanja dapat dipangku o e w arganegara a tau m em erlukan suatu sumpah (djan j djabatan.

D engan m asuk dinas negara asing ini disamakan pula masuk dalam dinas organisasi internasional darimana tidak m endjad i anggota.

§• M engangkat sum pah atau menjatakan djandji setia kepada negara asing.

M engangkat sum pah atau djandji setia kepada ne§alz asing adalah suatu perbuatan jang mempelihatkan bahwa

°87) P asal 17 sub. U .U . Kewarganegaraan 1958. °88) Bdgk. S c h n i t z e r , I, h . 154.®S9) P a s a l 17 su b . f . U .U . Kewarganegaraan 1958.

257

Page 277: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

jang bersangkutan tidak lebih lama menghargakan kewarga- negaraannja. Tadi telah kita saksikan diatas bahwa lazimnja suatu sumpah setia sematjam ini diperlukan dalam atjara naturalisasi. Sesuai dengan prinsip kesetiaan bulat seratus persen jang diminta dari tiap warganegara perbuatan sumpah setia kepada negara as in g - tidak dapat dibiarkan djika dila­kukan oleh seorang warganegara R.I. Sebagai „hukuman” atas pei'buatan demikian itu kewarganegaraan R.I.-nja otomatis hilang. B9°)

h. Tuvut serta dalam pemilihan jang bersifat ketatanegaraan untuk suatu negara asing.

Djika seorang warganegara Indonesia tu ru t serta dalam suatu pemilihan jang bersifat ketatanegaraan, umpamanja pemilihan Presiden, pemilihan wakil2 rakjat dalam Dewan2 Perwakilan Rakjat dst., maka perbuatan ini memperlihatkan sikap jang sangat tertjela. Dengan demikian ia memperlihat- kan masih mempunjai huibungan2 dengan negara asing.

r Adalah sewadjarnja bahwa orang sematjam ini dinjatakan hilang kewarganegaraan Indonesia-nja. 591)

i. Mempunjai paspor atau surat jang bersifat paspor dari. negara asing atas namanja.

Apabila seorang warganegara R.I. mempunjai paspor asing maka ia menundjukkan ketidak-setiaan terhadap negara R.I. Oleh karena itu adalah selajaknja bahwa per-

m en §ak^ a tk a n h ilan gn ja k ew argan egara- an . ) D engan paspor in i d isam akan pu la su ra t2 la in]ang b ersifa t paspor. Surat2 in i harus m asih berlaku .• adan a ketentuan ini njatalah lagi tudjuan peme-

r intan. R.I. untuk meminta kesetiaan jang mutlak dari para warganegaranja. Sikap anti-bipatride njata sekali tlari keten-

590) Pasal 17 sub. h. U.U. Kewarganegaraan 1958.691) Pasal 17 sub, i. U.U. Kewarganegaraan 1958.892) Pasal 17 sub j. U.U. Kewarganegaraan .1958,

268

/

Page 278: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

j. Lain d ari un tuk dinas negara, selama 5 tahun b ertu ru t-tu ru t tinggal d iluar n egeri dengan tidak nienjatakan keinginannja untuk te tap m end jad i w arganegara.

D jika seorang warganegara berada diluar negeri untuk djangka w aktu jan g lama, maka lazimnja dalam perundang- undangan kew arganegaraan ditentukan bahwa ia harus mela­kukan p e rn ja taan berkala untuk tetap mendjadi warga­negara. P e rn ja taan ini dilakukan dihadapan Perwalian R.I. dinegara bersangkutan . Pern jataan ini harus dilakukan sebelum lew at 5 tahun kediam an diluar negeri. Kemudian harus diulangi tiap2 dua tahun sekali. 593)

K arena tidak nienjatakan keterangan ini maka kewarga­negaraan R.I. dari jang bersangkutan mendjadi hilang. Akan tetapi, djika kelak orang itu kembali bertem pat tinggal di Indonesia m aka ia akan memperoleh kewarganegaraan R.I.- nja kem bali. U ntuk ini diperlukan bahwa jang bersangkutan nienjatakan keterangan dihadapan Pengadilan Negeri dalam waktu setahun setelah kembali.

D em ikianlah tja ra2 terpenting untuk kehilangan kewai-_ ganegaraan R .I.

344. P e rn ja taan hilang k e w a r g a n e g a r a a n .

Selain daripada dengan tjara2 kehilangan kewarganegaraan tersebut diatas, tja ra2 m ana djuga lazim t e r d a p a t dalam pera­turan2 kew arganegaraan dari berbagai negara. °04-) dalam prak ewaktu achir2 in i kita kenal pula pentjabutan kewarganegaraan setjara massal. B erdasarkan pertimbangan2 politis, rassistis a au keagamaan berbagai negara tertentu telah melakukan pent j a u an kew arganegaraan setjara besar-an ini. 595)

693) P asal 17 sub k. U U Kewarganegaraan 1958. t“ *) Bdgk. S c h n i t z e l , I, h. 155 dst. ^ araa n68s) Bdgk. Dekrit U S S R 1921 den 1924 ; pentjabutan kewargane=a

oran g 2 A rm enia oleh T u rk i; U.U. Nasional sosialis D jerm an l_-> >djuga d ari tahun 1941 tentang pentjabutan kewarganegaraan oraxb Jah u d i jang berkediam an diluar negeri. U ntuk ini, lihat M a k a r .D ie D eutschen Ausburgeruiigen 1933-1945 im intem ationalen Kec verkehr, F estschrift R a a p e, Ham burg (1948), h. 257 dst.

259

Page 279: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Ditindjau dari segi hukum internasional dapat disangsikan sahnja tindakan-2 pentjabutan kewarganegaraan sedemikian rupa itu. Dapat dikemukakan bahwa pentjabutan kewarganegaraan setjara massal itu membawa beban tertentu bagi negara2 lain. Negara- ini tidak akan dapat mengadakan pengenjahan lagi dari orang* asing jang telah mendjadi tanpa-kewarganegaraan. Djika mereka ini merupakan warganegara daripada negara lain, maka dapatlah diadakan pengenjahan kenegara asal dari orang asing bei sangKutan. Tetapi bilamana kita menghadapi orang" jang tidak-berkewarganegaraan timbullah kesulitan.

Apabila telah dilakukan pentjabutan kewarganegaraan oleh sesuatu negara maka tidaklah dapat hakim dari negara lain tidak mengakuinja dan tetap memandang WN dari negara jang disebut semula dengan beipegangan kepada lembaga ordrc public (keter- tiban umum). Lembaga ini hanja dapat dipergunakan untuk mengenjampingkan hukum asing jang sejogjanja dipergunakan dalam suatu casus tertentu untuk dapat mempergunakan lembaga ordre public ini hams ada hukum nasional sang hakim sendiri jang dapat dipergunakan sebagai pengganti daripada hukum asing jang dikesampingkan. Tetapi halnja tidak mungkin dengan peraturan kewarganegaraan daripada suatu negara lain. Pera­turan rcewargianegaraan dari negara lain ini tidak dapat diganti- kan oleh peraturan kewarganegaraan dari negara sang hakim- Peraturan- kewarganegaraan tidak mengatur soal2 kew arga­negaraan setjara abstrak dan umum. Peraturan2 kew argangaraan

anja menga ur setjara konkrit dan chusus kew arganegaraan daripada sesuatu negara tertentu.

r , ,T L°n!(t0Hh; n eraturan RRT tentan§ kewarganegaraantidak c.ap at digantikan oleh Undang2 Kewarganegaraan R.I- r-nn ganegaraan RRT hanja mengatur kewarganega-

a t I angkan Undang- Kewarganegaraan R.I. hanja mengatur kewarganegaraan R.I.

APa Jang kita saksikan ini adalah sesuai dengan azas utama dalam bidang hukum kewarganegaraan jang sudah kita saksikan

OM) Bdgk. pula kesulitan jang kini dihadapi dalam praktek imigrasi di Indonesia er enaan dengan orang2 Tionghoa Kuomintang. M ereka ini tidak dapat dienjahkan dalam prakteknja. Kemana ? RRT tak m au me- nerima mereka , Djngan Taiwan, R.I. tak mempunjai hubungan diplo- matik. Lihat no. 366.

260

Page 280: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

diatas,-™7) jakni bahw a tiap 2 N egara adalah berdau lat untuk mengatur send iri s iapa2 jang m erupakan w arganegaranja. N egara lain tidak dapat m entjam purin ja . Sebaliknja Negara bersangkutan djuga tidak dapat m engatu r kew arganegaraan dari negara lain.

Oleh karena itu kita saksikan bahwa pen tjabutan kew arga­negaraan jang te lah dilakukan oleh negara lain ini harus diterim a pula sebagai suatu kedjadian hukum, lepas daripada pertim ­bangan apakah dianggap adil atau tidak. Dengan lembaga „ordre public” tidak d ap at d ie lakkann ja .r,0h)

Sebaliknja dapatlah dipergunakan „ordre public” ini untuk tidak m engakui pemberian kewarganegaraan dalam hal tertentu . Misalnja, d jika suatu negara m«miberikan' kewarganegaraan ke­pada seseorang dengan maksud se-mata- agar supaja dapat m ela k u k a n p en tjab u tan hak milik (onteigening; konfiskasi) terhadapnja se tja ra lebih mudah. Hal ini dapat didasarkan atas pertim bangan, bahw a suatu negara tidak dapat diwadjibkan untuk m engakui pem berian kewarganegaraan jang dilakukan oleft suatu negara lain. 59s>)

345. Kewarganegaraan daripada sang isteri.

N ationality “ / married ' ^ C N . " «G en era l, U .N . Pub lica tions, E. CN 6 l2 6 / • ’ L J A De129 /R ev . 1 ; djuga E /C N 6 /2 5 4 ; ^ ° ° 1 Personeelnationalite it van gehuwde viouwen, a * » Nationa]jteits.S taa tu u t” (HPS) (1952), h. 89 , P r c ■ ^ „ j Q danrech t, d io lah oleh S e p t . e i , A.J.C., . n 9 5 4 ) h - 9 Kd e G r o o t . L.J.A M p h - aan van de

2 = 3 vrouwU ill 6 Belgfe en i n l a n d , Assen-An^erda™

K edudukan dari sang isteri dalam ^ dang.hukuJ11t^ 1a„ U(jalam menirrtbulkan berbagai persoalan. K o l l e w i j n persoonhubungan ini : ,,De lehuw de vrouw is steens een lastige p « ^in h e t in ternational privaatrecht geweest . ) J ffaraankenaan dengan statu? wanita dalam bidang kewarganegaraa

507) L ih a t d ia tas, no. 198 sub 3 ; n. 226.508) Bdgk. N i e d e r e r , h. 156; S c h n i t z e r , I, h. 156.so»). Lihat N i e d i e r e r , h. 155 dst.000) K o l l e w i j n , O ntaarding van het nahonaliteitsbeguisel, h.

261

Page 281: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

selalu telah m enarik perhatian. Banjak batjaan dan publikasi2jang telah diterbitkan berkenaan dengan soal kedudukan wanita mi.

346. Pendapat klassik dan pendapat modern.

Dua pola tertentu jang dapat disaksikan dalam perkem­bangan sekitar kedudukan kewarganegaraan sang isteri dalam perkawinan internasional.

M enurut pola jang k l a s s i k pihak isteri ini memperoleh dan m eng.kut, seterusnja kedudukan daripada pihak sang suami.r a, .'."J .. I T a , m‘ keIienti'>Sa« „kesatuan hukum <Ialam te u ga (een eid van 1 echt in het gezin). COl

Demikian dipentmgkan kesatuan hukum dalam keluarga im, hingga dite ima bahwa untuk mentjapai tudjuan ini, pihak isteri harus mengikutr (volgen) slalus hukum sangJsuami J re„ aperkawinan sang isteri m m n Q „ 1 u , s

e„9mi Tetfn,- , m e m P e r ° l e h status hukum dari san££ suam i. Ictap i untuk setGrusnia TnaVuin r. 1 iw b n ffQ n n a n ihat •* . . aPafc)ua selam a p erk aw in anberlangsu g pihak suami mi merobah pula status hukumniamaka sang isteri ini harus m « « J - i \ nukumnja,.,mengekor” dari sang isteri ini k-it V -i 1 PUla‘ Sjang klassik. Sang isteri se-olah* d tn ln f pada pendidantak-bernjawa, di-bawa2 kemam sad^a Sebagai benda l anguntuk p e rg i! semana sadja sang suami berkehendak

dengan tj e r i t a ^ r i K U ab ^ u tii^ e1 digam barkan keadaan in i puan R u t h . Menurut geMl pendiria“ dari perem-kesatuan keluarga, haruslah DilS? • klassik ini> maka demiwinan tjampuran, bersikan s i n Jang melakukan perka-Lama. Seperti diketahui nor * Ruth dari Kitab Sut;’i Wasiat kan sebagai seorang perempuan ini telah diPerkena1'dan tatkala sang suami ttfJh sekali kepada suaminja(mertuanja), „ £ £ £ £ * ^ ■ » -a m in ja pulang keneseri asalnia w Tatkala Naomi ini hendakdari Ruth) sudah meningeal"6113 anakf ja jang ditjintainja (suamiuntuk pulang sadja k e r u L ’o™ t telah dipersilahkannja* Ja Kerumah orang tua asalnja, tidak perlu tu ru t

G01) Lihat diatas, no. 342.

262

Page 282: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

dengan N aom i k e n eg e ri o rang Israel. A kan tetapi R uth telah berseru kepacla N a o m i: „Bangsam u adalali bangsaku dan Allali- ku!” (Kitab R uth I : 16). C02) Dalam suasana pikiran sem atjam ini amat tjo tjok -lah apa jang dikem ukakan pula dalam K itab Indjil P e rd ja n d jia n B aharu, bahwa seorang perem puan ,,harus meninggalkan ajah-ibunja dan m endjadi satu dengan suam inja !” (Mattheus 19 : 6).

Dalam p an d angan ini keluarga dilihat sebagai sendi utam a dari m asjarakat. K eluarga ini hanja dapat te rpelihara dengan baik, djika te rd ap a t kesatuan didalamnja. K esatuan ini m eiupa- kan suatu k esa tu an lahir dan bathin, term asuk djuga kesatuan dalani hukum . H an ja dengan djalan inilah terdapat harm oni dalam keluarga, kesatuan hukum, kesatuan k ew arg an eg a raan , suasana kesatuan jang' demikian dibutuhkan demi kesedjahteraan m a s ja ra k a t!

D itindjau d a ri segi ini pandangan klassik, jang m enentukan bahwa sang is te ri harus mengikuti sang suami, bukanla sukan u n tu k m engadakan diskriminasi an taia Pu a wanita. 603)

M enurut pendapat m o d e r n sebaliknja p e n d ir ian klassik ini dipandang sebagai menjakitkan. Martabat warn■ sesama m achluk m anusia se-olah2 dikebelakangkan grim anja keten tuan bahwa sang isteri harus bidangsuami baik dalam bidang hukum perdata maupunhukum publik. dalam

Prinsip klassik ini tidak dapat diterima lebih la' ^ harusan alam pergerakan pem bebasan wamta (e?"a" sip“ dipandanguntuk tu ru t „m engekor” tanpa dapat membuka ianangansebagai m erendahkan m artabat wanita ! Dalani^ se Demikiankehidupan w anita tidak mau dibelakangkan daii a* . ■ ^arus pun tidak dibidang kewarganegaraan. Kepada pi a d iberikan kebebasan meniiUh sendiri. -nilih

Sikap jang m en e k a n k a n kepada kebebasan sangsendiri dan tidak m en g ik u ti sadja kewaiganegai

_______________ • t r ) e N e d e r-602) T jo n to h in i d iam b il d a r i v 8 n iu n i-D ju U 1953,

lan d se natio n a lite itsw etg ev in g cn tisch bezien, 4 H P S , D ju n i ujh . 45 . 1 0 7 rist.

cos)' L ih a t leb ih d ja u h , Tafsiran U .U . K ew arganegaraan R .I., h. 12/ o263

Page 283: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

suami, dapat diilustrasikan dengan baik dari apa jang telah- dike-t ari Amerika Serikat Pada Konperensi

j P en HaaS-. Katanja, bahwa D e 1 i 1 a, kiranjatidak akan mengalami demikian banjak ketjaman untuk per-s S i t n T i n f d ^ anati’’ S a m s ° dan nama buruk sepertiq p o r a n / F ili\l in P vfnjf W in i d iPanclang sebagai m asih tetap se o ia n g F ih stin Perbuatannja akan m em punjai leb ih banjakalasan untuk dibenarkan, bahkan dipandang dari 5 S i nsebagai perbuatan p a tr io t, djika bahwa S "

Z tw L ST e n lik u tfs ™ iang t6taP 'aat f * DagonJ a L e «“ ) g‘kUtl Samstm' se0™ S t a e l dengan Allahnja

347. Perputaran haluan kearnh ,,pihak isteri. S kebebasan memilih untuk

Boleh dikatakan bahwa alh-sr, ^ ,diberikan kebebasan lebih haniav i nf m.enShendaki supaja perkawinan internasional adalah ar epada P ^ ak wanita dalam kemenangan. °05) Banjak ’negara2 i a n ^ t ^ 8-t8lah memperoleh mengikuti” kemudian telah melepaskannja * menganut ”azaS

Negara2 didunia ini danati e - P dipenntji sebagai b eriku t:•&> Tiegara jang mengakuipihak wanita : San memilih sendiri bagi

Albania, Argentinia, Australia •,Bulgaria, Birma, Camhnrt \ Selatan, Brazilia, Cuba, Denmark, Djermarw ^ nada> Chli> Columbia, Ecuador, Eire, El Salvari (STeT Jak 1953)> 600) Djepang, Jugoslavia, Luxemborp at1"’ Honduras> Inggris, Israel, Sailan, Selandia Baru ,°rwegia’ Polandia, Rumania,U.S.A., R.R.t . ’ SW6dia> Tsjechoslowakia, U.S.S.R.,

klassik, bahwa pihak t6gUh kepada Pr in siPAfghanistan, Belanda B e StatUS p ih ak p r ia '> Belgia, Ethopia, Finlandia, Haiti,

004) Tjontoh ini djuga dikutip dari Van c605) Bdgk. S c h n i t z e r I h k h v a n Y s s e l t , o .c ., h . 53.e o o ) W alaupun belum setjara’t e w , .

banjak penganutnja, sedjak bw laVm,;PI mtejrPretasi Jang P ^ S

i i r “

264

Page 284: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

H ongaria , Iran , Irak . Italia, Jordania, Junani, K orea Selatan , L ibanon , L iechtenstein , P e ran tjis Gang menga- lam i p e ru b a h an b e rk a li-k a li: sem ula azas-mengikuti, k em u d ian d iu b ah m endjadi azas persam arataan dan te ra c h ir d iubah kem bali m end jad i azas-mengikuti), 'Portugal, Spanjo l, Swiss, Thai, Turki. 00T)

Pada n eg ara- ja n g d isebu t dibawah sub a kita saksikan bah­wa perkaw inan tja m p u ra n internasional tidak dengan sendirin ja m engakibatkan, bahw a seorang perem puan w arganegara akan kehilangan kew arganegaraannja . Kepada pihak wanita dibei'ikan kebebasan u n tu k m em ilih. Perkaw inan tidak dengan sendirinja m erupakan d ja lan un tuk m em peroleh kew arganegaraan sang suami oleh sang is te ri. Jang hanja k ita saksikan ialah bahwa per­kawinan ini um um nja membuka d jalan bagi sang isteri untuk mem peroleh kew arganegaraan sang suami dengan tja ra d ip erm u - dah. Hal in i dapat dilakukan atau dengan djalan opsi („m enja- takan k e te r a n g a n ” ) «os) atau dengan djalan naturalisasi setjara diperm udah („ v e re e n v o u d ig d e n a tu ra lis a tie ” , „ p e rm o h o n an ). Tetapi adakalanja, bahw a perkawinan itu sama sekali tidak m em ­punjai pen g aru h apapun atas kewarganegaraan. G09)

348. Keadaan d i In d o n es ia .

P erkem bangan jang serupa kita saksikan pula di Djuga d inegara in i dapat dilihat adanja p en g g ese ran p terhadap kedudukan w anita dalam perkawinan tjampuran.

Di Indonesia te lah kita kenal, baik prinsip klassik, maup prinsip jan g m odern. -ta

Prinsip klassik, jang m enentukan bahwa status pihak■ ditentukan oleh sang suami, dapat kita ketemukan da ^tu ran te rtu lis tenang perkawinan tjampuran Dalam p daripada P e ra tu ran Perkaw inan Tjampuran (S. 189

■--------------------- . < r i N Publi-«07) U n tuk p erintjian ini, lihat N ationality ° f married w o m e^ U ^iN ^ ^

ca tion , d a n penibahasannj'a oleh e T ® ° 5 Nationaliteitsrecht,gehuw de vrouw en, o.c. h. 89, djuga P r a c t i c u s , Na G r 0 o td io lah o leh S e p t e r , A J .C . S c h o u t e n J.G ., dan D e ^L .J.A ., h. 9.1.

eos) B dgk . p a sa l 7 U .U . K ew argan egaraan R.I. 1958.eoa) M isa ln ja se p e r ti d i USSR, E cu ad o r, H onduras.

265

Page 285: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Regeling op de Gemengde huwelijken) 01°) telah ditentukan bahwa ,.seorang perem puan jang melakukan perkawinan tjanv puran, m e n g i k u t i status daripada suaminja, baik dalam bidang hukum perdata maupun dalam bidang hukum publik” .

Disini teranglah, bahwa prinsip kuno, didjadikan pe- gangan. Demi kepentingan kesatuan hukum dalam keluarga, diterim a baik ketentuan itu. Djika kita m emperhatikan, bahwa peratu ran tentang perkawinan tjampuran: dibuat dalam tahun 1898, maka dapatlah dimengerti mengapa diterim a ketentuan seperti itu. Boleh dikatakan, bahwa pada waktu itu, tidak bisa lain, pembuat undang-undang harus meae- rim a bahwa pihak suami-lah jang menentukan segala sesuatu dalam bidang hulcum jang berlaku dalam perkawinan. P a d a waktu itu, orang tidak sampai memikirkan bahwa adalah mungkin bahwa diterima suatu ketentuan jang berlainan, sede- mikian rupa hingga kepada pihak isteri diberikan k e b e b a sa n untuk m enentukan sendiri sikapnja dalam bidang kewarganega­raan. itu. Diatas telah kita saksikan, bahwa djuga pada waktu orang berkum pul di Den Haag pada achir abad jang lampau dan peim ulaan abad ini, untuk nientjiptakan Perdjandjian2 t e n t a n g perkawinan, orang tidak bisa berpikir lain, daripada bahwa dalam tiap perkawinan tjampuran, pihak isteri akan mengikuti status sang suami demi kepentingan kesatuan hukum dalam ke- iuarga. *) Bahwa seorang isteri dapat mempunjai kewarganesa- raan jang berbeda dari suaminja adalah suatu produk d a rip a d a perkembangan waktu achir2 ini. 612)

Jn(*onesia kita saksikan perobahan i n i . . S e p e r tid iu n d iu n / t i t f ^ ran-g Indonesia sekarang ini djuga men-s S i 1P b wa setiaP wanita daPat menentukannakM ^p+n v I dlbldan§ kewarganegaraan. Hal ini sudah meru- pafcan suatu kenjataan dalam hukum positip.

349. Tjontoh : U.U. Kewarganegaraan R.I.

kita Vndai?g! Kewarganegaraan R.I. no. 62 tahun 1958npff. T, ukan ketentuan ibahwa seorang perem puan warga-

§ , jang menikah dengan lelaki asing, tidak dengan

^ diperkenalkan sebagai pasal jang terpenting dari seluriih ilmu. , . ’ Tr-?n!* menSen}u.kakan prinsip pcrsamarataan dari semua stelselnuKum. Lihat untuk mi, chususnja; Segi2 hukum peraturan perkawinantjam puran diss, h. 114 dst.

611) L ihat no. 342 dst.c l ) Bdgk. K o l l e w i j n , Ontaarding van het nationaliteitsbeginsel, h. 38.61S) D ibaw ah no. 342 dst.

266

Page 286: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

sendirinja kehilangan kew arganegaraan Indonesianja. Djuga apabila hukum dari negara sang suami melim pahkan k e w a r^ - negaraan sang suam i kepada pihak perem puan, belum la<n perem puan Indonesia itu, akan kehilangan kewarganegaraan Indonesianja. H asra t untuk memberikan kesem patan m enentukan sendiri bagi pihak w anita ini demikian didjundjung tingginja. hingga d ipandang sebagai lebih kuat daripada tjita2 untuk meng- hindarkan sedapat m ungkin terdjadinja dwikewarganegaraan. 01‘) Padahal, dari seluruh Undang2 Kewarganegaraan tersebut, dapat kita saksikan se tja ra tegas, bahwa hasrat untuk mentjegah bipatride ini, adalah suatu hal jang selalu diutamakan ! nl5> Djika seorang perem puan warganegara R.I. menikah dengan pria w arganegara B elanda misalnja, maka ia ini dengan berlakunja U ndang2 K ew arganegaraan R.I., akan berkewarganegaraan R.I. d a n w arganegara Belanda. Dengan demikian kita saksikan bahwa terdapatlah dalam perkawinan itu, kewarganegaraan jang berbeda an tara suami (hanja warganegara Belanda) dan isteri (warganegara R.I. dan warganegara Belanda). Djuga apabila seorang perem puan warganegara R.I. menikah dengan pria wai- ganegara A m erika Serikat (jang . tidak mengenai pem benan kew arganegaraan Amerika setjara otomatis kepada pihak puan asing karena melakukan perkawinan dengan warganeg sendiri), m aka terdapat perbedaan2 kewarganegaraan an ai suami-isteri, karena masing2 pihak mempertahankan h hi sendiri. iPihak perem puan akan tetap warganegara • • f lelaki te tap w arganegara Amerika Serikat.

K arena adanja ketentuan ini timbullah kemungkinan daan kew arganegaraan dalam keluarga (antara suan Perbedaan ini terdapat sedjak permulaan perkawinai sungkan. j

Seorang perem puan asing jang kawin dengan P“ a j djuga tidak dengan sendirinja memperoleh kewarganega mdari sang suami. Ia hanja dapat memperolehnja bllan? ngan waktu satu tahun menjatakan keterangan untuk itu,

ci4) Setjara”resmi diberikan alasan sbb. : „dirasakan berat apabila m en ga^ S kan begitu sadja seorang warganegara jang kawin dengan o.ang M em ori Pendjelasan dibawah A Umum, II, sub 1.

015) Tjontoh2 : pasal-pasal t e r s e b u t diatas, no. 299, 315-325.267

Page 287: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

m ana tidak boleh d ilakukann ja apabila ia k a re n a n ja akan m en-djad i dw ikew arganegaraan (pasal 7 a ja t 1). D isini k ita saksikan ,

a wa asrat untuk menghindarkan dwikewarganegaraan dipan-ang leb ih b e ra t daripada m engutam akan k esa tu an hukum dalam

keluarga. 01G)

rlinctaetelah Wa^l u SatU tahun liwat seorang perempuan asing djuga memperoleh kewarganegaraan R.I. dari sang suami, asal

d S ^ -m Wak,tU itU tid3k m enolak k ew arg an eg a raan R.I-d e n a r i m ^ 611 f an kehilangan k ew arganegaraan asa ln ja dengan m em peroieh kew arganegaraan R.I. dari suam in ja (pasal

d e n e ^ V ^ f 31! 8 dar! PaS3l:J tersebut diatas, ialah bahwa berbeda T Z u ra n tic I " ! P3S31 2 dari P e ra tu ra n P erkaw in ano U m T t u i f 1 J P bahwa Pihak perem puan se tja rad ib e r ik in " status sanS suami. Kepada p ih ak is te ridibidang kewaro^ 6 ebasan untuk menentukan sendiri sikapnja aiDiclang kewarganegaraan ini.

Tjontoh . U.U. Penjelesaian dwikewarganegaraan.

kebebasan m enpnt Saksikan I3'1113 hasrat. un tuk m em b erik anlam p e r L tu d u n h W S6ndirt kePada P * a k is te ri in i, dida-

penjelesaian soa. d w i k ^ r S " ^ ' 1 ‘’e',gan RRT menge”ai

kan untuk rnpnpnt ^ & m P U 3 n dalam perkawinan diharus-dapat dibatja d a la m ^ a s a u ”? ^ , f kapn ja- Hal in i s e tja ra tegaS

P al 1 AJat 2 dari U.U. no. 2 tahun 1958 :

kewarganP0emPUan dalam Pei'kawinan, jang mempunjai duad S a Z T 'SebUt diat3S’ d^ ga ha™ memilih satUkehendnk in <r ^Warganegaraan itu, dengan dasar m e n u ru tkehendak jang berkepentingan sendiri” .

n e i“S af d T m S djC,a“ n -ki.ta saksikan- bahw “ azas-kesatuan kew arga-

ini d i p a n d a n g. „ k a I a hU be r a t \ e r h a'l'n i k '*11 T * a p i ’ diakUi PU'a’ bahWa'itan m fm . u terhadap azas mentjegah d w ik e w a r g a n e g a r a a nc a azas-m em pertahankan perem puan W N I jang m enikah dengan o rang asm g. J3 i, pengutam aan azas-kesatuan kew arganegaraan ini, se -o lah 2 e a „ u i Be i o o e ketentuan2 l ain! L ihat M em ori Pend je lasan , d ib a ­

w ah A U m um , II, sub 1.

268

Page 288: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Disini se tjara tegas kita saksikan adanja kebebasan ba°i sang isteri u n tu k m enentukan nasib sendiri berkenaan dengan kewar­ganegaraan.

Hal ini adalah sesuai dengan perkembangan zaman.T en tun ja dapat kita sambutnja pula dengan gembira. Hanja

perlu k iran ja ditam bahkan pula, bahwa kemungkinan untuk m e m ilih send iri kew arganegaraan jang disukainja ini, akan dapat m engakibatkan, bahwa dalam praktek akan bertam bahJ kemung­kinan- perbedaan kewarganegaraan dalam keluarga. Dan perbedaan ini dapat berlangsung dari saat permulaan perkawinan.

M elihat segala sesuatu ini, bolehlah dikemukakan, bahwa persoalan- jang tim bul karena perbedaan kewarganegaraan antara suam i-isteri ini bagi kita di Indonesia bukan hanja meru­pakan persoalan2 jang bersifat akademis. Soal2 jang ditimbulkan karenanja m em punjai arti jang praktis untuk mengatasi berbagai kesulitan jang djuga nampak dalam pelaksanaan hukum di- negeri ini.

Oleh karena itu, tja ra penjelesaian jang telah kita ketemukan dalam berbagai keputusan dari jurisprudensi Perantjis jang telah kita iku ti dengan' saksama, mempunjai arti besar sebagai bahanJ perbandingan bagi kita.

351. D w ik e w a rg a n e g a ra a n .

B a t j a a n :K o S w a n S i k, D e m cervoudige nationaliteit, dis. Leiden (1957), D e G r o o t, L., H et Personeel statuut van A p a lr id e n en B ip a trid en vo lgens N ederlandsch internationaal privasitrecht, dis. L e iden (1938). F e r i d , Z u r kollisionsrechtlichen behanJIung von In la n d e rn m it zuglcich Ausliindischer Stautsangehorigk-it, R abe lsZ (1958), h. 498 dst, idem Festgabe A .N. M a k a r o v ,M a k a r o v . Allgemeine lehren des S t a a t s a n g e h o r i g k c i t s r e c n t . v

S tu t tg a r t (1947), li. 278 dst.

Diatas telah berkali-kali diberitahukan bahwa salah satu azas terpen ting dalam bidang hukum kewarganegaraan ialah, bahwa tiap2 negara berdaulat adalah pihak jang menentukan sendin setjara m utlak siapa2 termasuk warganegaranja.017) Karen adanja kebebasan untuk mengatur sendiri ini kita saksikan tm> bulnja berbagai peraturan2 dibidang kewarganegaraan jang tiaa

L ih a t no. 292 dst.

269

Page 289: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

sesuai satu dengan lain. Karenanja kita saksikan se-olah2 terd jadi a fa u k o S ® Mungkin ta d ja d i j.kolisi” jang p o s i t i pdes ^ {Positive und negative kollisioneute rd i^df h[ia 1 Sr ’ “18) Sua,u ..konflik” jang positip lerbaBai ^ r ana menurl,t P«aturan= kewarganegaraan dari m asinS n l f ™ “ 0ranS| U'r l™1' 1 dianggap sebagai warganegara K L K bersangkutan. Dengan demikian terd jad ifa ii:J S J S S E ! kewar^aneg0r'1“,l' ''"'^"'arganegaraan, bipahide,

peraturan*2 i^varcr-in^ cf® ne^aj P terdjadi djika menurut semua tertenta tidak d U n ^ 8 T •ari negan,! dUunU ini “ orang

te„tuU" ^ S f S ^

353. Sebab3 timbulnja dwikewarganegaraan.

mendjadi bipah-fde. S6bab ^ nS mengakibatkan bahwa seorang

negaraan m ens^iil^kpw ^^^ bahwa berbagai peraturan kewarga- adalah akibat darinada J t 3^ 8®3™311 setj ara berlainan. Hal ini negara berdaulat untuk 6 asan j an§ diberikan kepada tiap2

Aka t mengatur kewarganegaraannjaperaturan2 keu- J^kew aiganegaraan dapat timbul pula apabila sama buniinia u f anegaraan daripada negara2 bersangkutan dmgan peristiwa C a r I i e r .dl0 ustras^ an dalam jurisprudensi

619) ^ I a k a r ° v , o.c. h. 278 dst.j Ui. ^ / O UjIiv-our de Douai, 14-12-1881, 416. Lihat C a m i l l e J o r d a n o^natonahtes da!am Repertoire IV, h. 647 no. 39 ; Lihat M a k a r o v,

273- Walaupunmendjadi berbarang WN Belgia dan WW pUn;m3 C a r 1;i e r im keturunan jang dianut oleh Perantjis ia Kar6nadisamping itu ia dinaa mem™,*- • t adalah WN Perantjis. Tetapitelah mempergunakan hak one! ^ e^ rsane-'araan Belgia karena ia orang2 serupa ia jang dilahirkan dH ^ lea°erik an oleh U.U. Belgia bagi dalam perundang2an Perantjis. Carlier m endfad fw N ^B ds’ tE£dapat pula itu, tetapi kewarganegaraan Perantjisnja tak hilane s ! w v na -°PS1

S S ^ negaraan " tdah Untuk dlta kairm°arsuk6d S

270

Page 290: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

D w ikew arganegaraan dapat disebabkan pula karena terdjadi peralihan w ilajah d a ri sa tu negara kepada lain negara. Perdjan­djian2 jang d iadakan berkenaan dengan peralihan wilajah ini tidak m engatu r soal2 kew arganegaraan setjara harmonieus.

Lain daripada itu . kew arganegaraan rangkap dapat timbul pula karena te rd a p a t perbedaan dalam hukum perdata dari berbagai negara. S eperti diketahui pemberian kewarganegaraan dalam prak tekn ja d ipertau tkan kepada berbagai pengertian- hukum perdata, sep e rti misalnja perkawinan. sah atau tidak sahnja anak, pengakuan, pengesahan, adopsi, kedewasaan. kewe­nangan b ertin d ak dalam hukum d.1.1.020) Karena perbedaan pernilaian jang diberikan oleh beberapa negara kepada titik2- taut perdata, dapat te rd jad i bahwa masing- negara ini niengang- gap seorang te rte n tu sebagai warganegaranja. Dengan demikian seorang te rten tu dapat m em punjai lebih dari* satu kewarga­negaraan.

Dalam p rak tek n ja kita saksikan bahwa dwikewarganegaraan ini dapat te rd jad i karena berbagai tjara. Per-tama2, karena k e lah iran : neg ara dim ana sang anak dilahirkan mengakuinja sebagai WN (ius soli), sedangkan negara dari sang ajah (atau sang ibu, djika anak itu m erupakan anak tidak sah) djuga rneng- anggapnja sebagai W N (ius sanguinis).

T j o n t o h dalam praktek dinegara i n i : Kita saksikan terdjadinja dwikewarganegaraan karena kelahiran ini, pada orang2 kaulanegara Belanda jang berdasarkan ius soli kaiena kelahiran disini dianggap berstatus demikian, sedangkan kai ena keturunan Tionghoa mereka dianggap sebagai WN-Tiong'O pula ius sanguinis).

D juga dapat te rd jad i dwikewarganegaraan ini karena winan. M enurut hukum kewarganegaraan dari sang istevV ut perkawinan ia tidak kehilangan kewarganegaraannja. M ? n , ^ pera turan kew arganegaraan negara sang suami, karena P winan is te ri tersebu t memperoleh kewarganegaaan suami itu.

20) D isini k ita saksikan, bahw a bukan sadja H PI bertitik-taut pada u(.n egaraan , te tap i s e b a l ik n ja djuga h u k u m p erd a ta m e r u p a ^ ^u n tu k h u kum k e w a r g a n e g a r a a n . Lihat R o S .w a n * S ik . o.c.

27 i

Page 291: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

t j o n t o h dalam praktek dinegara in i: Djika m isalnja seorang perem puan. WNI menikah dengan pria Belanda. M en u ru t Undang2 Kewarganegaraan R.I. wanita ini tidak kehilangan kewarganegaraan R.I.-nja (pasal 8), sedangkan menurut U ndang2 Kewarganegaraan Belanda ia ini memperoleh k ew arganegaraan Belanda (pasal 5 Ned. S. 1892 no. 268, S. 1937/514). Perem puan bersangkutan karenanja berdwikewarganegaraan.021)

Karena imigrasi masuk kesatu negara tertentu dapat pula diperoleh kewarganegaraan daripada negara jang dimasukkan, sedangkan kewarganegaraan asal tidak mendjadi hilang. Djuga dengan tjara ini timbul kewarganegaraan rangkap. ft22)

Demikianlah beberapa tjara jang menjebabkan terdjadinja dwikewarganegaraan.

353. Hukum manakah jang digunakan pada dwikewarganega­raan ? & &

Negara2 dengan prinsip nasionalitet untuk statut personil menghadapi kesulitan bilamana pihak jang bersangkutan dalam suatu persoalan HPI berstatus dwikewarganegaraan

Diantara kewarganegaraan2 ini harus dipilih salah satu jang ciapat dipergunakan sebagai titik-taut jang menentukan

Berbagai tjara dan berbagai kemungkinan m emerlukan perhatian dalam hubungan ini. ' memeiiuKan

Semua perlu diadakan perbedaan antaro ™ ganegaraan rangkap in i: amara dUa mat-lam kewar’

A. Diantara kewarganegaraan jang iobih ini, salaU satlI

B. Kewarganegaraan2 jang rangkap ini merupakan dua sang Hakim. kewal^ane®araan A asing ^ “ a*

Tjara penjelesaian daripada sub A dan B ini adalah tidaksama

621) Tjontoh ini sudah disebut diatas, lihat no 345 dst622) L ihat untuk kemungkinan^ ini, K e g e l , h. 143; K o S w a m S i k ,

o.c., h. 59 d st., W o l f f , IPR-Deutschlands h. 40 dst.

272

Page 292: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

354. Salah satu d ari kew arganegaraan rangkap ini m erupakan lex fori.

ad A. A pabila salah satu dari kewarganegaraan jang lebih ini m erupakan pula kew arganegaraan daripada negara sang hakim, m aka lazim nja dipergunakan luikum dari negara sang hakim ini.

K ew arganegaraan dari negara sang hakim sendiri dipenting- kan. Hal ini adalah logis dan dapat dipeutanggung-djawabkan.

Dalam p e ra tu ra n - hukum positip jang berlaku di Indonesia sekarang ini dapat d juga diketem ukan ketentuan jang membenar- kan tja ra pen je lesa ian ini.

Pasal 20 d ari U ndang2 Kewarganegaraan 1958 m enentukan: „Barangsiapa bukan w arganegara Republik Indonesia adalah orang asing” .

Seorang jan g berdwikewarganegaraan dan jang salah satu dari kew arganegaraann ja m erupakan kewarganegaraan R.I- biar bagaim anapun adalah W NI pula. «'-3) Walaupun ia mempunjai lebih dari satu kew arganegaraan, salah satu daripadanja adalah kew aiganegaraan R.I. K arenanja ia ini bukan orang asing. Djadi hukum nasional jan g harus dipergunakan untuk orang bersang­kutan, d itind jau d ari segi ini merupakan hukum Indonesia.

Penegasan leb ih djauh lagi dapat kiranja kita saksikan pada P era tu ran P enu tup , pasal I, dari Undang2 Kewarganegaraan R l> jang b e r b u n j i :

,,Seorang w arganegara Republik Indonesia jang berada di-dalam w ilajah Republik Indonesia dianggap tidak m einpiuijaikew arganegaraan lain” .W alaupun disangsikan apakah dapat dipertahankan

effektip bahwa seorang WNI jang berada didalam negeri udapat dianggap bipatride, ketentuan ini m e m p e r l ih a t k a n deng‘njata h asra t jan g serupa seperti dipaparkan. diatas untu . s^tu apabila d ian tara kewarganegaraan jang lebih ini salah. ilah m erupakan kew arganegaraan R.I., maka jang belakangan jang berlaku. &-i)

023) Bdgk. pasa l 12 W et op he t Nederlanderschap 1892. ^ n t u r a n 2024) M a k a r o v m en u n d ju k p u la dalam hubungan ini pada per ^

kewarganegaraan iang berbun ji serupa, m isaln ja pasal 87 aa i_P o la n d ia dari 17-3-1921 : ,,E in polnischer Staatsangehoriger Kanug le ich ze itig A n g eh o rig e r eines anderen S taates seein” (o.c. h . 281, n.

273

Page 293: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

T j o n t o h dalam praktek dinegara in i: D iika m is a ln iaU n d ^ Pe^ em pUan W N I m enikah den§an Pria Belanda. M enurut

aang K ew arganegaraan R.I. wanita ini tidak k eh ilan gan ewarganegaraan R.I.-nja (pasal 8), sedangkan menurut Undang3

Kewarganegaraan Belanda ia ini memperoleh kewarganegaraan Belanda (pasal 5 Ned. S. 1892 no. 268, S. 1937/514). P erem puan bersangkutan karenanja berdwikewarganegaraan. °21)

Karena imigrasi masuk kesatu negara tertentu dapat pula diperoleh kewarganegaraan daripada negara jang dimasukkan, sedangkan kewarganegaraan asal tidak mendjadi hilang Djuga dengan tjara ini timbul kewai'ganegaraan rangkap. ®22)

Demikianlah beberapa tjara jang menjebabkan terdjadinia dwikewarganegaraan.

353. Hukum manakah jang digunakan pada dwikewarganega- raan ?

Negara2 dengan prinsip nasionalitet untuk statut personil menghadapi kesulitan bilamana pihak jang bersangkutan d 1 suatu persoalan HPI berstatus dwikewarganegaraan. & am

Diantara kewarganegaraan2 ini harus dipilih salah satu ‘ dapat dipergunakan sebagai titik-taut jang menentukan

Berbagai tjara dan berbagai kemungkinan merrip perhatian dalam hubungan ini. l n

Semua perlu diadakan perbedaan antara dua matia ganegaraan rangkap in i : kewar-

A. Diantara kewarganegaraan jang lebih ini, salahmerupakan pula hulaim daripada negara diman ^ kara diadjukan. a per"

B. Kewarganegaraan'2 jang rangkap ini merupajja(atau lebih.) kewarganegaraan jang asing bagi ne sang Hakim. Sara

Tjara penjelesaian daripada sub A dan B ini adalah tidak sama.

Tjontoh ini sudah disebut diatas, jihat njj, ^ ■} '

45 dst.'*• imiit I . L ...IHUI UllUtll JlLlilu[lj>Kinan2, ini, K e g e l , Ji. 143 ; K o Sv/iain S i k,

h. 59 dst. j W o l f f , JPR-Duutschlands h. 40 dst.

272

Page 294: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

354' lSexafoi5atU dmi keWargaiiegaraan ^ngkap ini merupakan

ad A. A pabila salah satu dari kew arganegaraan iang lebih mi m erupakan pula kew arganegaraan daripada negaJa sanghaSm ’iiiT mnja diPerSunakan hukum dari negara sang

K ew arganegaraan dari negara sang hakim sendiri dipenting- kan. Hal ini adalah logis dan dapat dipettanggung-djaw abkan.

Dalam peraturan* hukum positip jang berlaku d i Indonesia sekarang ini dapat djuga diketem ukan ke ten tuan iang membenar- kan tja ra penjelesaian ini.

Pasal 20 d ari Undang* K e w a r g a n e g a r a a n 1958 m e n e n tu k a n : ,,B a r a n g s ia p a b u k a n warganegara Republik Indonesia a d a la h orang asing”.

Seorang jang berdwikewarganegaraan dan jang salah satu d a n kew arganegaraannja m erupakan kew arganegaraan R I biar

Z f L T I " 31311 W NI PUla- C23) ^ a l a u p ^ ^ l a m em punjai160 ^ r ^ n e S r L n e« aTrgT r e2araan’-Salah satu daripadan ja adalah kew aiganegaraan R.I. K arenanja ia ini bukan orang asing. Diadihukum nasional jang harus dipergunakan un tuk o?ang bersang-M tan , d itin d ja u d a n seg i in i m e ru p a k a n h u k u m In d o n e s ia .

jang b e rb u n ji: undang- K ew arganegaraan R . I . ,

Seorang w a r g a n e g a r a Republik I n d o n e s ia ia n g berada di- da am vi a ja h Republik In d o n e s ia dianggap tidak m e m p u n ja i kewarganegaraan Iain”. ssap naaii 1Walaupun disangsikan apakah dapat d ipertahankan setjara

e ffe k tip bahwa seorang W NI jang berada didalam negeri tidak dapat dianggap bipatride, ketentuan. ini m em perlihatkan dengan n ja ta hasrat jang serupa seperti dipaparkan. diatas untuk H PI : a p a b i l a diantara kewarganegaraan jang lebih ini salah satu m e r u p a k a n kewarganegaraan R . I . , maka jang belakangan inilah jang berlaku. <**)

Bdgk. pasal 12 W et op he t N ederlanderschap 1892

Polm scher S taa tsaneehoriger k an n n ich tP J T O l j j ^ andcTcn S taates s e e i n g , ft- 281, n. 13).

273

Page 295: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

P e n d ir ia n se p e r ti d ikem ukakan ini adalah sesuai p u la d e n g a n apa jan g m en d jad i pokok p erse tud juan antara berbaga i n e g a ra dalam P e rd ja n d jia n Den H aag m engenai kew arganega­r a a n d a ri 1930. D alam pasal 3 dari ..Convention concernan t c e rta in e s questions rela tives aux c o n flits de lois sur la n a tio ­n a li te ” k ita k e tem u k an :

..Sous re se rv e des dispostions de la p resen te Convention, u n ind iv idu possedan t deu x ou plusieurs nationalites p o u rra e tre consider., p a r chacun des E ta ts dont il a la nationalite ,com m e son re sso r tisa n t’’. °25)D tuga p en u lis2 te rb a n ja k dapat dianggap m enjetudjui pen-u ju g a penu iis tex ud j bilam ana hukum mi bo leh

d iria n in i (f2G) Lex fo ri d ipergunaka ebensverli-iif, •. . . , , . M irtelpunkt der ^ e,jensvcriialtm ssend ipandang m eru p ak an „ d e i M itteip d ik em ukakan bahw adev b e tre ffen d en person . ' ) . Vl,„, i,„i • ,.hukum ini d ipergunakan , bukan karena 1Pa n 'dang sebagai leb ih baik, te ta p i sebagai hu d ik en a loleh hakim . 028) _

Pend irian dari penulis2 H P I B e la n d a m em punjai a rti ja n g chusus bagi pen je lesa ian soal"2 H P I dl n ° neS*a’ m eng in g a tbahw a sistim hukum jang k ita w arisi d a n sis lm ukum N e d e r­land. D juga penulis2 H P I Belanda ini um um nja menjetudjui bahw a lex fori-lah jang d ipergunakan apa l a sa a satu daripada kew arganegaraan jang rangkap itu m e iu p a 'a n ew arganegaraan nasional dari sang hakin, Hal i n i 12 d a ri U ndang2 K ew arganegai aan a eu . )

Terdjem ahan bebas^ atau lebfhKonvensi mi seorang j a n g ^ siapa ^ mempimja. , ° a raandapat dianggap oleh tiap . L ihat djuga Codigo RUst;imarga~negaraan, sebagai warganegaranja^ t ^ ^ ^ m e n te ,

pasal 9 (Teks M a J a J6 . S c h n i t z e r, I- h- >« ; M a k a r

n c h. 280 dan penuiis'K c jr e 1, h. 144.

« 8 ) R a a p e, h. 56, n. 54. .«26> pasal 12 mi berbunji „Alien, die den staat van Nederiander niet bezitten

of niet uit anderen hoofde Ncdctlandscbc Onderdanen zijn, zijn vreenv- delingen” .

•274

Page 296: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

tex tbook V a n ^ I T a T e l ^ o ) ^ bu t penc3ir ia n 2 d ari penulis® t e r s. C3-) 1 } H i J m a n s mi) dan K o s -

n eg araan sendiri i n f J'3IcS- m en?u tam akan kew arga-wijd verb re ide p rac tijk ” . 033) U 1 berkata : ,,D it is een

k e te m u k a n b e t e n t u a * ^ ^ m te rn a s io n a l d a p a t k i ta

p e ra tu ra n - nasional daripada berbagai negara danatadan ja keten tuan- jang tjondong k S a r f* t P , saksikand iu ra ik an diatas. lJonc,ong kepada tja ra pen je lesa ian jan g

Sebagai t jo n to h dapat d isebut rlisini i- + + i i nM esir dari ta h u n 1948 ja n g s e tia r i k e te n tu a n dalam B.W.s e d e m ik ia n itu . g s m en Ja ta k a n p e n je le s a ia n

D ju g a da lam ju r is p ru d e n s i k ita s a k s ik a n d i te r im a n ia t ia r a p e n je le s a ia n ja n g m e n g u ta m a k a n k e w a r^ a n -e c a ra a n s e n d ir i

P e r tm b ™ ^ <*»««. tentang alasan^nja. « “

630) V a n B r a k e l , h. 41.631) H i j m a n s , h. 1 1 9 .

d ip e rg u n a k a n b i lT ? sam cn v aU en ”D dSediklt v a ria s i- f o r i in i banja.b e rsa n g k u ta n . H i j m a n s I d a V d c n f a n te m p a t k e d ia m a n d a r i o ra n g in i (o .c. h . 120). J m a n s t,d a k » e n th o u s ia s t” a k a n t ja r a p e n je le sa ia n

633> ^ 9 3 9 (su d ah cUsehnf L i^ a t a k a " te ta Pi k e p u tu sa n R v J P a d a n g , 2 6 -1 6 -k e w a r g a n ia r a n n s l K Z f , ^ a ’ p ’n ' 5 0 >- ^ m e n g u ta m a k a n

L T g e ' i n a t n 1’”" N r f S T d T n rtkew" S S !S 2 ‘‘S g P d a f t e t jS K j ;136/500 3W’ K o n“ t ? i » .hjt, HooM» « h«ho ,”

k e w a rg a n c e a ra a n U Z h , u SUb a ’ P 'n ‘ 5 0 >> i*»B m e n g u ta m a k a nh in figa d ik e tia m w ? , . a n a k b ip a tr id e S w iss -k a u la n e g a ra B e la n d a£ n ? ? l ^ o V r ar? W e r t h e w n (T . 1 5 1 /3 5 4 , p .h . 3 5 5 ), B dgk . d ju g a

*19, jang m e n g a n g g a p k e k a u l a n e g a - : w a r g a n e g a r a a n asing dan k e t j a m a n rdanschap en het H o o g g e r e c h t s h o f ”

137-221, 1 1 3 9 /2 2 1 .634■, V lu ra litc d e n a t i n n n l i t ^ T ' 1 1 ^ l=' IJUnjl1.: ” 1- E n c a s d ’a p a tr id ie o u d e

h s a i S ! i 's z- s i& z

& • » < « » 30 * ' * dMl BW«m ** * w - r ^ . v .Kewarganegaraan lluilgaria (pasal 23) dan Israel (pasal 14 sub b).

636) JJhat jmispiutlensi jang disebut oleh M a k a r o v oc. li. 282 no. 16d a n K o S w a n S i k , o.c. h . 1 7 2 d s t . ’

275

Page 297: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Pengutamaan daripada kewarganegaraan sendiri kadang- didasarkan atas pertimbangan bahwa kewarganegaraan hprsifat „ordre public” . Karena sifatnja ini, maka berlakunja kewargane­garaan sendiri tidak dapat dibatasi oleh adanja kewarganegaraan asing. Djuga dikemukakan sebagai variasi atas p a r X g a n berdasarkan ordre public ini bahwa kewarganegaraan dipandfng sebagai suatu materi jang termasuk hukum publik K- r -tmaka harus diberikan pengutamaan kewarganegara^ rdiatas kewarganegaraan asing, Lain daripada itu ada pu a aTasan jang dikemukakan, bahwa berdasarkan kedaniit f anegara, maka haruslah diberikan pengutamaan a tn s l 1 garaan sendiri.«*«). atas kewargane-

Terhadap alasan2 ini K b S w a n S i k f u ketjaman. Menurut pendapatnja maka tidaklah i memberikan pengutamaan 'kewarganegaraan sendiri ini at didasarkandan ordre public. Karena djika demikian ad kedaulatannegaraan sendiri ini selalu akan harus dipe3”33’ ™aka kewar2a‘ terdapat kewarganegaraan sendiri itu dian.tarrgkmakan’ bilamana jang berkelebihan. Tetapi praktek membukrkkevvar3anegaraan- sengadja dalam beberapa peristiwa terten ti^M ’ ballwa setJara kewarganegaraan asing. Tjontoh jang nj * • diuta™akandengan tindakan2 jang diambil terhadan 3 i3lah berkenaan suh. °37) Menurut pendirian K o suatu ne WarSanegara- mu- (bevoegd) tetapi tidak w a d j i b (verpiicjft? a hanja b e i ’ h a k kewarganegaraan sendiri atau kewargane? U° tUk men§angSaP ititik-taut penentu. Negara mempunjai n asing sebaSaijang tak terbatas dalam hal ini, djika" d ^ atU kel)ebasan hukum positip. Akan tetapi, sebaliknja 1.!rhat dari sudutitikan, bahwa l a z i m n j a Negara hendak r 3 e k membuk- tamaan untuk kewarganegaraan sendiri ^ emberikan pengu- beberapa hal- jang djarang terdjadi, negara ™ hanja dalam daripada ini, apabila penjimpangan terseb t menjimPa«g k e p e n t i n g a n negara bersangkutan Se„mrr « » )h <l e mi

830) Untuk alasan2 ini, lihat K o S w a n S i i rh. 284 dst. n S l k l ° ’c- h. 175 dst.; M ak n

637> K o S w a n S i k , o.c. h. -176 ^ . ° V’h. 42 dengan tjontoh H n n c + *’ n * . . *

83S) K o S w a n S i k . o.c. h. 179 S ' e w a r t C h a m f f i J

Page 298: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

355. Pendapat2 jang menjimpang.

Diatas telah diberitahukan bahwa menurut hukum positip jang dipraktekkan pula, aliran jang pendukungnja terbanjak, menerima baik pemakaian daripada hukum kewarganegaraan sendiri bilamana diantara kewarganegaraan'2 jang lebih ini ter- dapat kewarganegaraan sang hakim sendiri.

Ada beberapa pendapat jang agak berbeda daripada pendi- l’ian jang penganut2nja terbanjak itu.

Disini dapat disebut a.i. pendapat dari F r a n k e n s t e i n . Seperti diatas telah dapat kita saksikan, tatkala dibahas persoalan pro dan kontra prinsip kewarganegaraan, kita lihat bahwa penulis ini meletakkan titik-berat daripada pandangannja pada segi- psehychologis dari faham kewarganegaraan. Menurut ang- gapan sardjana ini seorang hanja dapat dipandang terikat pada satu tata-tertib hukum tertentu dengan mana ia terikat dalam suatu „pschychologische Zusammenhang” . Sistim hukum inilah jang oleh orang bersangkutan dipandang sebenarnja sebagai sistim hukumnja. Sistim hukum ini jang harus dipergunakan untuk menentukan statut personil-nja. 03D) •

M a k a r o v mempunjai pula suatu pendirian jang tersen­diri dalam hal ini. Beliau hendak mengadakan perbedaan' antara segi hukum p.ublik dan segi hukum perdata. Mengenai bidang hukum publik kewarganegaraan dari lex fori selalu akan diang­gap sebagai jang menentukan. Akan tetapi, mengenai bidang hukum perdata harus diperhatikan lebih djauh sampai dimana lex fori ini merupakan pula „Mittelpunkt d e r Lebensverlialtnisse” . Bilamana lex fori ini hanja bersifat formil sadja tetapi sesung- guhnja kewarganegaraan jang lain-lah adalah jang merupakan ..Mittelpunk der Lebensverhaltnisse” ini, maka lex fori tidak akan dipergunakan, melainkan kewarganegaraan jang lain itulah jang akan dipergunakan.04") Kiranja ditentukan pula oleh ipenulis ini pada pengertian „n a t i o n a 1 i t e e f f e c t i v e” jang kita akan balias lebih djauh kemudian.

Dengan menund'juk kepada pendirian dari M a k a r o v ini, M u r a d F e r i d telah mengemukakan pula pendiriannia jang menjimpang daripada pengutamaan lex fori dalam seeala hal. Sesuai dengan M a k a r o v , untuk kehormatam siapa telah

,l3n) F r a n k e m s t e i n , , I, h. 89 dst.

277

Page 299: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Pengutamaan daripada kewarganegaraan sendiri kadang* didasarkan atas pertimbangan bahwa kewarganegaraan bersifat ,,01'dre public” . Karena sifatnja ini, maka berlakunja kewargane- gaiaan sendiri tidak dapat dibatasi oleh adanja k e w a r g a n e g a r a a n

asing. Djuga dikemukakan sebagai variasi atas pandangan berdasarkan ordre public ini bahwa kewarganegaraan dipandang sebagai suatu materi jang termasuk hukum publik. Karena itu maka harus diberikan pengutamaan kewarganegaraan sendiri diatas kewarganegaraan asing. Lain daripada itu ada pula alasan jang dikemukakan, bahwa berdasarkan kedaulatan daripada negara, maka haruslah diberikan pengutamaan atas kew argane­garaan sendiri.

Terhadap alasan- ini K o S w a n S i k telah m emberikan ketjaman. M enuiut pendapatnja maka tidaklah dapat didasarkan pengutamaan 'kewarganegaraan sendiri ini atas dasar kedaulatan dan oidre public. Karena djika demikian adanja, maka kewarga­negaraan sendiii ini selalu akan harus dipergunakan, bilamana terdapat kewai ganegaraan sendiri itu diantara kewarganegaraan- jang berkelebihan. Tetapi praktek membuktikan, bahwa setjara sengadja dalam beberapa peristiwa tertentu telah diutamakan kewarganegaraan asing. Tjontoh jang njata ialah berkenaan dengan tindakan- jang diambil terhadap warganegara- mu- rh*1 J Menurut pendirian K o suatu negara hanja b e r h a k (bevoeg e api tidak w a d j i b (verplicht) untuk menganggap kewarganegaraan sendiri atau kewarganegaraan asing sebagai -1 1 a T U NeSara mempunjai suatu kebebasan

t ^ dalam hal ini’ dilihat dari suduttikan hahw ^1 ^ tetapi’ sebaliknja p r a k t e k membuk-tamaan untuk 1 m n a Ne§ara hendak memberikan pengu-

beberapa haF d“ dalamdarinada ini L o v i ] g . terdJadl> negara akan menjimpang W n A t P PenJimpangan tersebut adalah d k e p e n t i n g a n negara bersangkutan sendiri.038)

e m 1

030)k 2 M d i!3112 mi’ lihat K o S w a i ) s i k, o.c. h. 175 d s t . ; M ak a r o v,

837) W/ n S l !C’ t°'u S ' ;176 dst- ; W o l f f - I P R D eutschlandsh. 42 dengan tjontoh H o u s t o n S t e w a r t C h a m b e r l a i n .638) K o S w a n S i k . o.c. h. 179.

276

Page 300: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

D iatas te la h d ib eritah u k an bahw a m enuru t hukum positip jang d ip ra k te k k an pula, a liran jan g pendukim gnja terbanjak, m enerim a baik pem akaian daripada hukum kewarganegaraan sendiri b ilam ana d ia n ta ra kew arganegaraan- jang lebih ini te r­dapat k ew arg an eg araan sang hakim sendiri.

A da b e b e rap a p en d ap a t jang agak berbeda daripada pendi­rian jan g p e n g a n u t2n ja te rb an jak itu.

D isini d ap a t d iseb u t a.i. pendapat dari F r a n k e n s t e i n . Seperti d ia tas te lah d ap at k ita saksikan, tatkala dibahas persoalan pro dan k o n tra p rinsip kew arganegaraan, kita lihat bahwa penulis ini m ele takkan titik -berat daripada pandangannja pada segi- pschyehologis d ari faham kew arganegaraan. M enurut ang- gapan sa rd ja n a ini seorang han ja dapat dipandang terikat pada satu ta ta -te rtib hukum te rten tu dengan mana ia terikat dalam suatu ,,pschycliologlsche Zusaminenliang”. Sistim hukum inilah jang oleh o ran g bersangkutan dipandang sebenarnja sebagai sistim h ukum nja . Sistim hukum ini jang harus dipergunakan untuk m en en tu k an s ta tu t personil-nja. C3°)

M a k a r o v m em punjai pula suatu pendirian jang' tersen­diri dalam hal ini. B eliau hendak m engadakan perbedaan antara segi hukum publik dan segi hukum perdata. Mengenai hukum publik kew arganegaraan dari lex fori selalu akan diang gap sebagai ja n g m enentukan. A kan tetapi, mengenai bidang hukum p e rd a ta h a ru s d iperhatikan lebih djauh sampai dimana exfori in.i m eru p ak an pula „M ittelpim kt der Lebensverhaltnisse .B ilam ana lex fo ri ini han ja bersifat formil sadja tetapi seSl? guhnja k e w a r g a n e g a r a a n jang lain-lah adalah jang mf " P ak ,,M ittelpunk d e r L e b e n s v e r h a lt n is s e ” ini, maka lex . r l .fujah akan d ip e r g u n a k a n , m elainkan kewarganegaraan jang lam h jang akan d ip e r g u n a k a n . (i,°) K iranja ditentukan PlUa y e„ penu lis in i pada p e n g e r t i a n . . n a t i o n a l i t y e f f e c t jang k ita akan bahas lebih djauh kemudian. q y

D engan m enund juk kepada pendirian dan ^ f ^ n n j a ini, M u r a d F e r i d te la h mengemukakan pula penai jang m enjim pang d a rip a d a pengutamaan lex fo n daiam e hal. Sesuai d e n ^ n M a k a r o v , untuk kehormatan siapa

355. Pendapat- jang menjintpang.

Page 301: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Tetapi, k iranja boleh dikemukakan, bahwa „heersende le e r”masih tetap menganggap bahwa kew arganegaraan sendiri harusaiberikan prioritet dalam m enjelesaikan persoalan bersang- Kutan. 64°)

356. Jurisprudensi Indonesia.

Djuga di Indonesia ju risprudensi boleh dikatakan berpe- gangan kepada pengutam aan daripada kew arganegaraan sendiri dalam menjelesaikan statu t personil daripada orang2 dw ikew arga­negaraan jang m erupakan pula kaulanegara Belanda c.q. w arga­negara Indonesia.

Keputusan- daripada badan- peradilan dinegeri ini jang mengadili dalam perkara- dimana terdapat orang- dwikewarga- negara Hindia Belanda (Indonesia) dan Tiongkok (RRT), selalu memperlakukan orang- ini sebagai kaulanegara Belanda c.q. WNI. Sedjak berlakunja prinsip nasionalitet un tuk negara inipun, jakni mulai dari tahun 1915, kita saksikan bahwa untuk s ta tu t personil orang- bersangkutan ini. selalu dipergunakan hukuinB.W. Indonesia sadja. Kepada kew arganegaraan sendiri telah dibeiikan prioritet oleh badan2 peradilan di Indonesia, tanpa memperdalam persoalannja lebih djauh. G5°)

357. Kewarganegaraan jang berkelebihan ini semua m erupakan kewarganegaraan asing.

ad B. Tjara penjelesaian daripada dw ikew arganegaraan dimana antara kewarganegaraan12 bersangkutan tidak terdapat nasionalitet dari forum, adalah sedikit berlainan daripada jang disebut dibawah sub A diatas.

Banjak tjara penjelesaian jang dapat dikemukakan. 0B1)Diantara tjara2 penjelesaian ini pada umumnja d itjari akan

kewarganegaraan dengan siapa jang bersangkutan m em punjai ikatan2 jang te re ra t (eine engere Bindimg). °52)

C4U) De lege lata berlakulah tjara penjelesaian jang m em berikan perio rite tkepada hukum kewarganegaraan lex fori. U sui2 baru jang dikem ukakan hanja bersifat de lege fe re n d a ; Bdgk. M a k a r o v , h. 288.

650) Lihat K o S w a n S i k , o.c. h. 174, n. 3.8B1) K o s t e r s m enjebut 7 m atjam penjelesaian, h. 285 dan 288.e52) N i e d ' e r e r , h. 157.

Page 302: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

D ib aw ah in i k ita ak an ik u ti dalam g ar is2 besar tjara- p e n j e ­lesaian ja n g te la h d ik em u k ak an .

1. Titik pertalian kewarganegaraan dilepaskan.

T ja ra p e n je le sa ian jan g pertam a dapat d isebu t dalam hubungan in i ia lah ja n g hendak m enggan tikan prinsip kew arga­negaraan d engan p rin s ip domicilie. "5:t) K ew arganegaraan dilepas­kan dan d ig an ti d en g an dom icilie.

Dalam p e ra tu ra n 1- d a ri berbagai negara te rten tu pernah dikem ukakan tja ra p en je lesa ian in i .05‘) D juga dalam ju risp ru ­densi berbagai n e g a ra d ap at d isaksikan adan ja keputusan- jangdidasarkan a tas p en g g an tian kew arganegaraan oleh domicilie ini.

Pem akaian dom icilie sebagai pengganti ini dapat dilihat djuga sebagai p e tu n d ju k k ea rah penggunaan daripada nasionalitet jang effektip. D apat d ikatakan , bahwa domicilie ini dapat m e ru p a k a n petundjuk jan g baik u n tu k m enem ukan kew arganegaraan jang benar2 effek tip itu.

2. Nasionalitet jang „effektip” atau „aktip”.

U ntuk m en je lesa ikan persoalan ini d itjarilah kew argane­garaan m anakah dapat dipandang jang „effektip” atau bagi o rang bersangku tan . Suatu kewarganegaraan dapat disebu „effektip” a tau „aktip” djika hubungan jurid is an tara orang dan negara bersangku tan adalah sesuai dengan keadaan hidup

653) .B d g k . K a h n , I, h . 6 0 ; N i b o y e t , Traite. I, no. 469.65‘) M isa ln ja U .U . T h a ilan d tentang perselisihan hukum d a n 10-3-

6 a ja t 2 : ..L o rsque la lo i nationale est applicable et que ®question possede deux ou plusieurs nationalite acquises sim uitan o n ap p liq u e la lo i d e la nationalite du pays lequel cette PcrsonI“5 d o m ic ilie ; lo rsq u e ce tte personne a son domicile dans un Pays aU 4ro .1’u n d e ces pays, o n ap lique la lo i de son d e m is e au tdu c tio n d e l’in s ta n c e ; lo rsque le dom icile d ’une teU e^personn y . m cornni. o n app lique lai lo i du pays oft eUe a sa residence (M a » »Q u l l e n , I. n o 51 • kursip kam i, Teks Inggris p ad a M e >R ec., h. 81 ; lih a t d juga U .U . Tjechoslowakia 11-3-1948, pasal 52). ^

655) L ih a t M a k a r o v o c h. 288 dan no. 3 3 ; K o S w a n S i k , h . 230 dst.

281

Page 303: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

defakto (feitelijk), tingkah-laku, pe rasaan 2 dari orang bersang- kutan. C5G) Inilah kew arganegaraan daripada negara dengan m ana orang bersangkutan adalah „am engsten v erk n u p ft” . r,5T).

Hakim harus m enjelidiki kew arganegaraan m anakah adalah jang paling „hidup” bagi jang bersangku tan ini. Hal ini harus diselidikinja daripada kenjataan '2 hidup se-hari- d ari jang bersangkutan. H aruslah d iperha tikan .,,tatsacnlichen L eb en sv er - haltnissen” dari orang bersangku tan ’ ini un tuk m engetahu i hubungan2 dengan negara m anakah ini m erupakan jan g te re ra t. Dengan demikian dapat d iketahui kew arganegaraan jan g m ana­kah adalah jang boleh dianggap sebagai jan g , ,te r k u a t” („starkste”). B5f>)

U ntuk dapat m engetahui, kew arganegaraan m anakah jang lebih effektip atau aktip ini, perlu d iperhatikan sem ua p e tu n d ju k 2 jang dapat diketem ukan. Tidak tjukup bila han ja d iperhatikan satu ukuran sadja. Perlu d iperhatikan segala segi dan pe tu n d ju k dalam tiap2 peristiwa te rten tu un tuk dapat m enen tukan kew arga­negaraan jang m anakah adalah jang paling effektip. c39) Tem pat tinggal atau domicilie sadja tidak boleh dipandang sebagai tjukup menentukan.

M enurut M a k a r o v , CG1) m aka teo ri ten tang „nationalite active” ini pada waktu sekarang boleh dianggap adalah jang paling banjak penganutn ja. 002) Djuga dalam hukum positip, baik

65e) Perum usan ini ia lah d a r i K o S w a n S i k , o.c. h. 2 4 4 ; B dgk.N i e d e r e r , h . 1 5 8 : kew arganegaraan jang „ n n te r B erucksich tigung aller U m stande a ls w irksam er erschein t .

8®7) M a k a r o v , o.c. h . 295.C“S) M a k a r o v , o.c. h. 295. . ,.6G0) D em ikian pend irian K o S w a n S i k , o.c. h. 251. jang b ah k a n d juga

hendak m em perhatikan pu la „ind ividuelc v o o rkcu r d a n jang b ersan g ­kutan sepandjang ini tidak m em baw a kerugian bag* fi • fe •

G6°) Bdek akan te tao i V a n B r a k e 1, h. 1 4 2 : „A Is n a t io n a l i s t enw oonplaats (w aafbij m en, eerder d an aan eenm oet denken aan de „rcsidence hab ituelle e t p r in c ip a l ) sam ern alien , bestaat m et da t land ongetw ijfsld de sterkste b and .

BdgkkaFr r°aVn k T n s ? e i2n95dengan pSclr hologischcA^n«pf,,Ug”.njao.c ; W o l f f , IPR -D eutsch lands, h 42 ; A r m J n ^ d s t .; H i j m a n s m en jeb u tn ja „V 1 r i n e c i c . ATL „ td irum uskannja sebagai ,.de nationalite it. w elke m menschen*w at kan b lijken u it d e taal, w aarin m en zich gewoo ,l,jk u .t <3e n ^ n sch e n ,in wien gezelschap m en h e t m eest verkeert, en he ^ , m n sinoae liik -bij voorkeur ophoud t o f w aa r m en he t cen trum zUncr bestaansm ogelijKheid heeft” (h. 120 ; ku rsip kam i).

282

Page 304: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

dalam Perdjandjian2 internasional maupun dalam per-undang2an negara2 tertentu dapat kita ketemukan pemakaian penjele­saian ini.

Dalam pasal 5 d a r i Konvensi Den Haag 1930 m engenai ke­w arganegaraan k ita saksikan bahwa pengertian nasionalitet effektip in i te lah d ip erg u n ak an sebagai titik -tau t a lternatip . Pasal tersebut b e rb u n ji :

„D ans un E tat tie rs , l’individu poss§dant p lusieurs nationa- lites d ev ra e tre tra ite comme s’il n’en avait qu’une. Sans p re ju d ice des reg ies de d ro it appliquees dans I’E tat tie rs en m a tie re de s ta tu t personnel e t sous reserve des conventions en v iguer, cet E ta t pourra, su r son territo ire , reconnaitreexlusivem ent, parm i les nationalites que possede un_telindividu soit la nationalite du pays dans lequel il a sa residence hab ituelle et p rincip le , soit la nationalite de celui auquel, tl’ap res les circonstances, il apparait ccmme sc liattacliant le p lus en fa it” . GC3)Dalam pandangan kam i memang dapat dipertanggung-dja-

wabkan b ilam ana kew arganegaraan jang effektip inilah dipergu­nakan sebagai titik-taxit-penentu .0<H)

3- Pemakaian lex fori.

B ilam ana te rd a p a t suatu perkara dimuka hakim dimana Pihak jan g bersangku tan m em punjai lebih dari satu kew argane­garaan, m aka tidaklah dipergunakan kewarganegaraan2 dari jang bersangkutan, m elainkan dipergunakan sadja lex fori.

08S) T e rd je m ah a n bebas : „D alam negara ketiga, seorang jangbeberapa kewarganegaraan diperlakukan se-olah- hanja m e m p u n j D engan tidak mcngurangi peraturan2 hukum jang diperlakukan * ^negara ketiga itu berkenaan dengan statut personil dan dengan n o tjualikan perdjandjian2 jang berlaku berkenaan dengan un,' bersangkutan, didalam wilajahnja, hanja mengakui, diantara ncgaraan2 jang dipunjai oleh orang sedemikian, atau k c w a r g a n e ^ ^ daripada negara dimana ia mempunjai kediamannja se-han- jang ^ atau kewarganegaraan jang diantaranja menurut kenjataan2 merup sebagai jang benar2 tererat”. . u„

®4) Sajang dalam jurisprudensi Indonesia belum dapat kita k e m u k a k a n tusan tentang persoalan ini.

283

Page 305: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Dalam beberapa peraturan kita saksikan diterim anja tjara penjelesaian ini. G65)

V a n B r a k e l mengetjam pemakaian lex fori untuk hal ini jang dipandangnja terdorong oleh „gemakzucht” dari sang hakim. 08C) Menurut penglihatannja lex fori ini hanja dapat diper­gunakan dalam hal- pengetjualian dalam keadaan serba darurat, misalnja djika hakim berada dalam ploksok2 terpentjil, hingga bagi sang hakim ini sukarlah untuk m enentukan apakah sesung­guhnja orang-5 bersangkutan mempunjai kew arganegaraan jang dikemukakan, atau djika isi daripada hukum asing itu tidak dapat ditentukan dengan p asti.u'17)

Djuga D e G r o o t memandang pemakaian dari lex foil dalam hal ini tidak pada tempatnja. Tjara penjelesaian sematjam ini adalah sewenang- (willekeurig) dan hanja terdorong karena hendak gampang sad ja .n,ls) A r m i n j o n djuga tidak dapat m enerim anja.cu9)

Boleh dikatakan bahwa tjara penjelesaian ini akan selalu membawa penjelesaian jang ber-beda2 tergantung dihadapan forum manakah perkara diadjukan. Dengan demikian ini ketidak- pastian hukum njata adanja.

Dalam hal ini kita menghadapi keadaan jang berlainan dari­pada apa jang tertera dalam sub A diatas tadi. Sekarang ini kita menghadapi suatu persoalan dimana kewarganegaraan2 jang lebih ini semuanja tidak merupakan kewarganegaraan dari forum. Dalam hal sedemikian ini, kurang pada tempatnja untuk meletakkan titik-berat kepada lex fori ini.

66°) Code Bustamente, pasal 11 (sebagai titik-taut subsid iair): „A defau t dece domicile, on appliquera au cas pr6vu dans l’article prec6dent, lesregies adoptees p ar la loi du tribunal” ( M a k a r o v - Q u l l e n ,II, no. 1 ; kursip kami).

<“>«) V a n B r a k e l , h. 142.687) Bdgk. diatas, no. 199 sub 3 dst.e68) D e G r o o t , o.c. h. 142.eeo) A r m i n j o n , II, h. 43.

284

Page 306: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Sem ua k e w a r g a n e g a r a a n dari jang bersangkutan diperhati­kan. Sem ua hak- dan kew adjiban- jang m elekat pada masing3 kew arganegaraan d iperhatikan se tjara kumulatip. Dengan demi* kian jang d ip e r g u n a k a n bukannja salah satu dari pada kewarga­negaraan bersangkutan .

Oleh karena itu boleh dikatakan, bahwa tja ra penjelesaian ini tidak dapat k ita pergunakan. Bukankah pada persoalan kita sesungguhnja harus dilakukan pilihan an tara kew arganegaraan2 bersangkutan jang m anakah satu dapat dipergunakan ? 07°)

Lagipun tja ra penjelesaian sedem ikian ini adalah tidak- praktis karena p e ra tu ran - kew arganegaraan- bersangkutan dapat berten tangan satu dengan lain. Djuga dapat dilihat dari pem a­kaian kum ulatip ini suatu tja ra jang dapat membawa keuntungan atau kerug ian daripada status dw ikew arganegaraan setjara tidak seh a t.,!71)

5- Kewarganegaraan jang paling sesuai dengan azas2 hukumdari lex fori.

M enurut t ja ra penjelesaian ini jang diperhatikan ialah ke­w arganegaraan d a ri negara jang pada pokoknja lebih sesuai dengan hukum daripada sang hakim sendiri.

D jika m isalnja negara sang Hakim berazaskan ius sanguinis, maka jan g akan dipilih ialah kew arganegaraan dari negara jang djuga berazaskan ius sa n g u in is . Dan bilam ana negara sang hakim berpegangan pada ius soli, maka jang dipilih ialah k e w a r g a n e g a ­

raan d ari negara bersangku tan jang memakai pula ius soli ini.

D engan dem ikian jang didjadikan pedom an un tu k menJe lesaikan persoalan ini, ialah ketjondongan sang hakim a hukum nja sendiri.

4. Semua kewarganegaraan dipergunakan setjara kumulatip.

67°) M a k a r o v , o .c. h. 289, N i e d e r e r, h . 158.° 71) L ih a t K o S w a n S i k , o .c. h. 233.

285

Page 307: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

nri J J penjelesaian mi perlu diketjam. Djika ditindjau setjara

fiara D en ie le? 1” PlakliS UdaWah dapal dipertahankanT ? ln‘ “gal1 men,llaskan- ,!a) Tidak ada alasan

sama sekah untuk mempergunakan lex fori dalam hal ini. Bukan-Lah jang chpersoalkan ialah m elulu dua atau lebih stelsel hukum jang asm g bagi sang hakim ? Djika dalam m enghadapi p e rso a lan m i diutam akan hukum dari sang hakim sendiri maka ini akan membawa kepada suatu „onaanvaardbare zelfingenonmenheid* en bekrom penheid” untuk hukum sendiri, „die in de hedendaagse samenleving en wetenschap niet m eer op h-un plaats zijn” . 073) Bukankah, setiap sistim hukum ini dapat dianggap baik a tau buruk. hanja bilamana ditindjau bersamaan dengan masjarakat untuk siapa telah ditjiptakan peraturan2 itu ? Bukan kepada sang

hakim dari lain negara ililierikan krieliiasaan untuk mcmjgimll- kannja dengan hukum sendiri karena ia menganggap hukumnia itu lebih baik. T jara penjelesaian sematjam ini m em perlihatkan suatu „gemakzucht” jang tidak dapat diterima. o™)

Setjara praktis tidak akan dapat dipergunakan pen jelesaian ini apabila, karena berbagai hal akan tern jata tidak mungfcin untuk m enentukan jang manakah adalah jang lebih sesuai dengan lex fori. K arena adanja berbagai seluk-beluk dan kom binasi2 berbelit-belit dalam praktek memang tidak akan terd jadi hal ini.

Penjelesaian ini djuga tidak baik untuk kepastian hukum karena tern jata hukum jang dipeigunakan akan ber-ubah2 sedjalan dengan penggantian foium dimana perkara diadjukan.

6. K e w a r g a n e g a r a a n jang diperoleh lebih dahulu.

Ada tja ra penjelesaian lain jang hendak mengutamakan k e w a r g a n e g a r a a n jang pertam a diperoleh. Pokok pik iran d a ri pendapat ini ialah penghorm atan atas teori daripada liaks jang

672) K o S w a n S i k , o.c. h, 234.673) K o S w a n S i k , o.c. h. 235.674) Bdgk. M a k a r o v : „Jeder Staat hat in den ihm zu regeln, u n d die

von ihm geitroffene Regelung d arf nicht im V ergleich m it d er lex fo ri alsau f einer niedrigeren W crtstufe stohend betrachtot w crden” (h. 291).

.286

Page 308: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

d ip ero leh (vei'kregen rechten) °75) H ak2 jang telah diperoleh lebih dahulu h a ru s dihorm ati.

K eb era tan terhadap tja ra penjelesaian ini ialah bahw a ia ini h a ru s d ipandang sebagai agak kuno. Tidak ada lagi penganut-- nja. C7r') T ja ra pen jelesaian ini djuga hanja dapat dipergunakan b ilam ana kew arganegaraan2 masing2 tidak d ipero lehn ja setjara bersam aan . D juga agak sukar untuk m em pergunakan saa t d iper­o lehn ja kew arganegaraan ini sebagai pegangan un tuk m enentukan kew arg an eg araan jang harus berlaku. Saat m em perolehnja kew arganegaraan ini hanja m erupakan suatu hal jan g abstrak dan um um nja tidak m em punjai hubungan apapun dengan keada­an h id u p seb enarn ja dari jang bersangkutan. K riterium ini k i ra n ja su kar untuk digunakan sebagai jan g m enentukan.

U \g i \m \ teovl lentnng \\w\P jm\g diperoleh iul iikun ilipev^um\kai\ sopandjimg alum nu'inbiHVft kMUlttttfttW t a p

o rang jang bersangkutan . Bilam ana ternjaLa pem akaian kewarga­n eg araan jang d iperoleh sem ula ini, akan mem bawa kerugianPaglJ ^ ng frersan§kutan, m aka tidaklah dapat dipergunakan teori ini. 677) ■

7. K ew arganegaraan jang d iperoleh paling achir.

A da tja ra pen jelesaian lain jang hendak* m eletakkan titik b e ra t kepada kew arganegaraan j ang d ip er o leh paling belakang. P ?nJd l ia,n m i Pengaruh oleh anggapan bahwa ada „hak expra- tr ia lie dai'i seseorang, hak untuk dapat m eiepaskan d iri daripada keanggo taan sesuatu negara. Sedjak abad ke-19 m ulailah berkem- bang p engertian ten tang kebebasan individu untuk m engganti kew arganegaraann ja ini.

D a la m b erb a g a i p era tu ra n n asion al k ita s a k s ik a n ketentuan2 j a n g m e m b o r i prioritet kepada kew arganegaraan ja n g terachir d ipero leh ini. °78)

. d e r e r,678) Bdgk. P i l l e t , P rincipes de d.l.p. h. 568 no 316- L iha t N i eh. 158.

ore) D e G r o o t , h. 136.677) B dgk. K o S w a n S i k , o .c. h. 237. (U.U.678) M isa ln ja D jepang (U .U . 21-6-1891, par. 27 a ja t 1 ; V-Z^fiatid (P -u .

ten tan g pem akaian p era tu ra n 2 asing, 5-8-1918, pasal 2), '£” r 5 1 . 10-3-1939, par. 6), Tsjechoslow akia, U .U tentang H P I 19

287

Page 309: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Tjara penjelesaian ini perlu diketjam. Djika ditindjau setjara pi'insipil maupun setjara praktis tidaklah dapat dipertahankan tjara penjelesaian ini dengan m em uaskan.G72) Tidak ada alasan sama sekali untuk mempergunakan lex fori dalam hal ini. Bukan- Icah jang dipersoalkan ialah melulu dua atau lebih stelsel hukum jang asing bagi sang hakim ? Djika dalam menghadapi persoalan ini diutamakan hukum dari sang hakim sendiri maka ini akan raiem'bawa kepada suatu ,,onaanvaardbare zolfingenonmenheid en bekrompenheid” untuk hukum sendiri, „die in de hedendaagse samenleving en wetenschap niet meer op hun plaats zijn” . s:3) Bukankah, setiap sistim hukum ini dapat dianggap baik atau buruk. hanja bilamana ditindjau bersamaan dengan masjarakat untuk siapa telah ditjiptakan peraturan2 itu ? Bukan kepada sang hakim dari lain negara diberikan keleluasaan untuk m engganti- kannja dengan hukum sendiri karena ia menganggap hukumnja itu lebih baik. Tjara penjelesaian sematjam ini m em perliha tkan suatu „gemakzucht” jang tidak dapat d ite rim a .B7'')

Setjara praktis tidak akan dapat dipergunakan penjelesaian ini apabila, karena berbagai hal akan tern jata tidak mungkin untuk menentukan jang manakah adalah jang lebih sesuai dengan lex fori. Karena adanja berbagai seluk-beluk dan kombinasi2 beibelit-belit dalam praktek memang tidak akan terdjadi hal ini-

Penjelesaian ini djuga tidak baik untuk k e p a s t i a n hukum, arena ternjata hukum jang dipergunakan akan ber-ubah*

sedjalan dengan penggantian forum dimana perkara diadjukan.

6. K ew a rg a n eg a ra a n ja n g d ip e r o le h le b ih dah u lu .

kew arganplT^ pen^eIesaian lain jang hendak m engu tam akan

pendapat in i ' iT iV 3" 8 pertaraa diperoleh. Pokok pikiran pendapat mi ralaH penghormatan atas teori daripada hak2 J

672) K o S w a n S i k n673> K o S w a n s k ’ 234'674> Bdek lw ° -0' hl 235-

von ihm % J ° V ”'fecler Staat liat in den ihm zu regeln, uUtl_ auf einer nied C RegelunS darf nicht im Vergleich mit der lex l°n ^

medrigeren Wertstufe stehend betrachtet werden” (h. 291)--286

Page 310: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

* 1 4 x 675\ Hak2 iang telah diperoleh lebihdiperoleh (verkregen rechten) ) H

dahulu harus dihormati. bahwa ia ini

Keberatan terhadap tjara Pfn^ eSr? ijak ada lagi penganut- flarus dipandang sebagai agak kuno. dapat d i p e r g u n a k a n

nja.«-c) Tjara penjelesaian in i djuga diperolehnja setjarabilamana kewarganegaraan2 masing- rgu n ak an saat diper-)ersamaan. Djuga agak sukar untuk u n tu k menentukanolehni* J * * i«i se b a g a i p eg a n g a n u» _____ ^ rn1ehnia

dT u£T agak sukar untuk - ^ ^ ^ n e n t u k a n olehnja kewarganegaraan ini sebagai pe " . ^ u ip e ro leh n ja^ a tg a tv eg av aan jang harus hex a ' • ^^wavgaxvegavaan m i han ja m erupakan ‘ dengan fceada-

an umumnja tidak m em p u n ja i l m b u n g a n ^ - Kriteriuin inia* hidup sebenarnja dari jang

an3a sukar untuk digunakan sebagai 3Lagi pun teori tentang hak2 jang a keuntungan bagi

^aPat dipergunakan sepandjang akan men kaian kewarga-rang jang bersangkutan. Bilamana tein] - membawa kerugianegaraan jang diperoleh semula im, a ,- raunakan teori

S jy - H g bersangkutan, maka tidaklah dapat dipeiBui

Kewarganegaraan jang diperoleh palingi m eletakkan titik

^■da tja ra penjelesaian lain jang ie naling belakang.P ^ al kepacla kew arganegaraan jang cUper° Pada „hak expra-li'* 1 u’*-an *ni terpengaruh oleh anggapan kan dir i daripada

dari seseorang, hak u n t u k dapat “ d e p a s t o n ^ anggotaan sesuatu negara. Sedjak abac. - tuk mengganti

£ n8 Pengertian tentang kebebasan mdividi v Warganegaraannja ini. saksikan ketentuan2

*“ * ta r^ “ r

--------- , j 1 o h. 568 no. W 'B'd'gk. P i l l e t , Principes de d- -P

®fo\ 2*-158. i n i Ue7T> ^ G r o o t , h. 136- . 237. . t 1 ; Tiongkok. • •678)' ®dSk. K o S w a n S i k , Par’ 27o i s a l 2). Tha <1 ’ '

M isalnja D jepang (U.U. 2 l ' 6' asing, 5-8 'J918' ^ S P l 1948, par. •entang pemakaian peratura " . U .U . e 00710-3-1939, par. 6), Tsjechoslov***’ M l

7)

7.

, Ada oerat

Page 311: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

s e o e S ^ ^ 3laSan in i terd aP at k eb era ta n ja n g saina nakan b ilam a^61?-^ GiSaian dibaw ah n o - 6 - Ia tidak d a p a t d ipergu- m elainkan 1 f 3da kew-ar&an e garaan ja n g su su l-m en ju su l, J^ng sama kew aiW ^ a a n te la h d ip ero leh pad a saat

bahwa ber aku Pu*a aPa ja n g d ik em u k a k a n diatasspsnah, i Q dlPerolehnj a k ew argan egaraan in i h a n ja adalah tukan J f g, a^Strak dan tidak dapat d ip ergu n ak an untu k m en en - sesuai dp * kew arganegaraan ja n g hendak d ip ilih itu adalah diairni v> v,ngan ”rea len L eb en sv erh a ltn issen ” .<;79) W alaupun ini adalah ^ m em ang seringkali k ew argan egaraan ja n g terach ir

nam un kew arganegara^a naSi° n a lite t ja n g « “ * * *-akan setagai peganga'n SeWU diPergU'

•atau Tempat k e d ia m a n 83,03 djatohnja dengau domici,ie

jan g^ telah ^ m en urut tjara P enj e le sa ia "hipatriiie ini hendat ! . tltlk'taut k ew a rg a n eg a ra a n padaSekarang ini kita w t dlSantlkan dengan titik -taut d om ic ilie . terus dipergunakan T 1 - bahwa titik 'taut k ew a rg a n eg a ra a ndari negara jang sekali? ^ Jang dlpiUh ialah kewarganegaraan k e d ia m a n d a r i j a n g b e r s a n g k u t a n ^ ^ ^ d ° m i.d l i e 3t3U te m P 3 t

tidak terdapat'' d o m ic m r a ta u T 8^ 1113 311 kekuran gan bilam ana bersangkutan. Djuga tidak da T T * kediam an dalam n e g ara2 bilamana terdapat lebih dari J h tj3ra Penj e le sa ia n in lbersangkutan. Ukuran iane h , om icllie dalam n egara '2 ja n g tersebut tidak a d a .««) K e k L n T dlPergunakan dalam h a l3m erupakan suatu pengertian hnt” “ lalah bahw a » d o m ic ilie ”kwalifiaksi lebih djauh S n e e r t ? 3ang memerlukan suatU ' ini mpmnprlihafi-Qn - • tempat kediaman dalam halmemPerlihatkan unsur2 jang lebih baik.

079) M a k a r o v , o.c. h. 295,650) K o S w a n S i k , o.c. h 238651) Bdgk. K o S w a n S i k , 0 'c* > n, Z41 ; M a k a r o v , o.c. li. 293.

288

Page 312: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Dalam beberapa p e ra tu ran - neg ara2 te rten tu dan persetu ­djuan in ternasional, kita saksikan pem akaian dari kew arganega­raan jang d ja tohn ja bersam aan dengan domicilie atau tempat- kediaman. °82)

M enurut pandangan beberapa penulis maka bersam aan djatohnja dom icilie dan kew arganegaraan ini dianggap sebagai bukti jang n ja ta ten tan g adan ja nasionalitet jang effektip. °83)

Pilihan dari jan g b ersangku tan sendiri.

T jara p en je lesa ian jan g se land ju tn ja pernah diusulkan pulawlah agar supaja d iberikan kebebasan kepada jang bersangkutanuntuk m enentukan send iri kew arganegaraan m ana jang disu- kainja.

Disini k ita saksikan bahw a soal kew arganegaraan hendak itentukan pula oleh pem ilihan hukum oleh jang bersangkutan.

^esuai dengan p en d irian V a n B r a k e l kami menganggapnja "e aga* suatu hal jan g b e rten tan g an dengan sifat hukum publik

aripada kew arganegaraan . C85) P ilihan hukum hanja terbuka

isaln ja , p asa l 30 a ja t 2 C .C . L iechtenstein : „A ux personnes qui reS^ j n tissen t d e p lu sieu rs E ta ts e tra n g ers d o it e tre appliquee la loi de des E ta ts N a tio n au x d an s Icquel elles on t leu r dom icile, a defaut i residence le d ro it d e i’E ta t d an s lequel e lles o n t leu r residence et a e ad u residence le d ro it d e I’E ta t do n t elles o n t la n a tio n a lite en eFT>2 2

lieu (M a k a r o v - Q u e l l e n , I, n o . 3 2 ; kursip kami). a ja t 2 Z iv ilgesetzbuch R u m an ia d a r i 1939 : „H eim atrech t des j^nigenw elcher m e h re re S taatsangehorigkeiten bcsitzt, ist das Recht ^ oder S taates, dessen A n g eh o rig e r e r ist und in dem e r W o -enjgenA ufentlialt ha t, o d e r in E rm angelung eines solchen das Recn ^ )iat”S taates, dessen S taa tsangehorigkeit er du rch A bstam m ung ervvo ^ 2( M a k a r o v - Q u e l l e n , I, no. 46, kursip k a m i) ; P f r - dj ika d a ri U .U . 10-3-1939 ten tan g Perselisihan hukum d ari ™ A a’ r o v -ke\varganegaraan.2 bersangku tan d ipero lehnja bersam aan (M a p our les Q u e l i e n , I no. 5 1 ) ; P asal 10 Codigo B u s ta m e n te : ” , £ t a t Gu

con flits su r la n a tio n a lite d ’origine, auxquels n ’est pas intereS7 jtige oil ja ils so n t souleves, o n ap p liq u era la lo i de celui des pays en ^ j ]j ei n» p erso n n e d o n t il s’ag it a son domicile” ( M a k a r o v - W >

esax U n ° - 1 : kursiP kami). . W o l l f '. J M isaln ja , K o s t e r s, h . 2 8 7 ; V a n B r a k e l , h . >

0 IP R D eu tsch lands, h . 42.) M a k a r o v , o.c. h . 2 8 9 ; N ’i e d e r e r , b , 158.

5) V a n B r a k e l , h . 142.289

Page 313: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

bagi perbuatan2 dibidang hukum perdata, dan disinipun hanja dalam bidang jang terbatas. hukum harta-benda atau chususnja hukum katan (verbintenissenrecht).

Djuga akibat2 daripada pemilihan oleh jang bersangkutan ini tidak akan dapat diterima, karena ia kadang2 dapat m e m i l i h

kewarganegaraan jang satu dan pada lain kesem patan memilih jang lain. Djika misalnja dalam atjara gugatan konvensi orang jang bersangkutan memilih kewarganegaraan dari negara X dan kemudian dalam taraf rekonvensi dari perkara itu djuga memilih kewarganegaraan negara Y, maka hal ini akan membawa ketida pastian hukum jang amat m enjolok.08G)

Djuga dalam perkara2 jang terpisah karena djangka waktu satu dari jang lain akan dapat kita saksikan berbagai konsek- wensi jang tidak dapat diterima bilamana dipergunakan kebe­basan untuk menentukan sendiri kewarganegaraan oleh jang bersangkutan ini. Tjdntohnja misalnja : Seorang Italia jang djuga berkevvarganegaraan Peanrtjis, dapat menganggap dirinja sebagai warganegara Perantjis untuk dapat bertjerai an menikah kembali. Dan apabila ia nanti hendak meminta pem a talan dari perkawinannja jang kedua, maka dapatlah dikemu a sannja bahwa ia sebenarnja warganegara Italia ! 087)

10 Kewarganegaraan jan g leb ih m en g u n tu n g k a n b a g i jan g bersangkutan.

Tjara penjelesaian jang m e m p e r h a t i k a n k e p e n t i n g a n dari orang jang bersangkutan p e r n a h diusulkan pula. K e w a r g a n e ­

garaan jang paling m e n g u n t u n g k a n bagi jang b e r s a n g k u t a n

adalah jang diutamakan.Hal ini telah dikemukakan setjara tegas oleh K o s -

t e r s . «88) Djika jang bersangkutan tidak mempunjai domicilie 'toam salah satu negara bersangkutan, maka haruslah dipilib kewarganegaraan jang paling menguntungkan baginja.

68e) Va;n B r a k e ! , ll. 143.087) Tjontoh diambil dari V a n B r a k e l , ;h. 143.68s) K o s t e r s , h. 2 4 0 : „ W ij menen, dat in den strijd van pe rsoon lijk e en

staatsbelangen, die' hier is op te lossen, de intereressen van den persoon beslissend kunnen belangen, die V/iilen de aangelegenheid bcoordeeki zien volegene deer nationale wetten, waarvan de toepassing voor den belang- hebbende het voordeligst en meest gewenscht is” .

290

i

Page 314: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

K eberatan te rhadap pendirian ini ialah bahwa seorang jang berstatus b ipatride dengan dem ikian m cndapat lebih banjak keuntungan darip ad a seorang jang berkew arganegaraan tunggal. Karena jan g belakangan ini tidak m em punjai kewarganegaraan jang lebih m e n g u n tu n g k a n baginja ! H a l ini k iian ja adalah tidak sesuai dengan usaha- jan g dikerahkan untuk mengatasi persoalan dw ikew arganegaraan ini. oso)

Dem ikianlah d ia tas ini tja ra 2 p en je lesa ian jang pernah d ik e ­mukakan un tuk m engatasi persoalan dwikewarganegaraan.

Disamping apa jan g dikemukakan diatas masih ada beberapa tjara pen jelesaian jan g kurang penting fo ti kaienanja 1

diuraikan disini. °®°)

R € s u m e

1- T ja r a p e n je le s a ia n d aripada m asalah d w ik e w a g garaan a d a lah b e r la in a n d a la m h a l : . .

A. Salah satu dari k e w a r g a n e g a r a a n Jan§ g

m erupakan n a s io n a lite t d aripada fo im n , < kanB . S e m u a k e w a rg a n e g a ra a n bersan£ ^ r u m d im an a

k e w a rg a n e g a ra a n ja n g asing uip erk ara diadjukan. um um mem*

- • D a la m h a l jan g pertam a ini ketjondonga ^ Hakim perlihatkan pengu tam aan daripada kewarganegaS endiri' . .. -ni iang te rn ja ta

3. P e n u lis 2 te rb a n ja k m en g an u t p e n d iiia n i ’ ^ a m h u k u m d id u ku n g p u la o le h ju r is p ru d e n s i dan keten uapositip berbagai negara. v a p e n d i r i a n

4. D juga di Indonesia boleh dianggap .f DUtusan" j allSinilah jan g d ian u t dalam jurisprudensi. Dalam g ejanda (WNI) m engenai orang- dwikew arganegara kaulanegai . wa hakim didan w arganegara Tiongkok (RRT) kita s a k s ik a n o--------------_ _ _ • euerzijds m oet689) B d g k . K o S w a n S i k , o .c. h . 241 : „T erw ijl * v e rb o n d « .

streven n a a r d e apheffing van dc nadclen, die a zettelyk u l t , r toch is h e t anderzijd s o n toe laa tbaar om bcw ust en | enen, w aardoo voo rtsp riiitcn d e voordalcn aan het individu te S i k>rech ten v an derd en geschaad kunnen w orden • o S w a 11

09°) L ih a t u n tu k ini, M a k a r o v , o.c. h. 298 s . . .h. 248 dst. 291

Page 315: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Indonesia selalu mempergunakan B.W., se-olah- hanja memper- hatikan bahwa mereka ini berkewarganegaraan Indonesia sadja.

5; Di u§a dalam Undang2 Kewarganegaraan R.I. terdapat ketentuan2 jang memberi kesan bahwa pandangan inilah jang kmi dianut di Indonesia.

6- T ara Penjelesaian lain jang telah dikemukakan ialah Ketjondongan untuk menekankan kepada apa jang terkenal sebagai „effectieve” atau „actieve”, „virtuefe” nationaliteit.

7. Mengenai penjelesaian daripada persoalan* dwikewarga-

ku?anaaL ? ngva v darL f g3rf j3ng asing bagi ^ r u m bersang-baniak matiam tiara2 p ™ e« ahan

Antara lain dapat disebut •

1 ^ : t ^ ^ j r wargme8-aan jang diganti3. Pemakai a^l ex1 1 ”aktip” atau „virtueel” ;

1 a t i*p kewarganeSaraan dipergunakan setjara k u m u -

dari lex fo ri313311 J&ng paIin§ ses«ai dengan azas12 hukum

7- Kewarganegaraan diperoleh lebih dahulu.8- Kewarganegaraan I T * diper°Ieh ^aling ach“ -

atau tempat kediaman§ Sama dj atohnja dengan domicilie. 9 , Pilihan dari jang bersangkutan sendiri10- Kewarganegaraan jang lebih J * ,

bersangkutan. menguntungkan bagi jang

tjondong untuk memilih^ Ja? g diusulkan ini. kamiatau „aetieve” (H i j m a „ /" S e T e " t S M "

359. Tanpa-kewarganegaraan (apatride).

B a t j a a n :

D e G r o o t , L , Het personeel statuut van Apatriden en Bipa- triden volgens Nederlandsch i.p.r.” diss. Leiden (1938). M » - k a r o v o.c. h 301 dst.; H i j m a n s , h. 119 dst.; v a n B r a k e ; ! , h. 143, K o s t e r s , h. 288 dst.; K e g e l h 144; N i e d e r e r , h. 159 dst.;

292

Page 316: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Sebagai kebalikan daripada orang ja n g m em punjai lebih d a r i satu kew arganegaraan k ita ketem ukan orang ja n g sam a sekalih u b l r r PT ja i kew arSaneSaraan - M enurut perkem bangan hubungan an tarn eg ara dan hubungan politis divvaktu achir- ini Kita saksikan bahw a tam bah lama tam bah bertam bah-lah kem ungkinan2 te rd jad in ja tanpa-kew arganegaraan ini. B eberapa negara te rten tu telah m ulai m em pergunakan p en tjab u tan kew ar­ganegaraan sebagai sem atjam hukum an. A pabila orang- jan g terkena d in ja takan hilang kew arganegaraannja oleh negara bersangkutan dan m ereka ini belum dapat m em peroleh kew arga­negaraan pengganti, m aka m ereka ini berstatus tanpa-kew arga­negaraan. P rak tek 2 jang dapat disaksikan pada revolusi Russia dan kem udian regim e Nazi di D jerm an, telah m enjebarkan pe la rian 2 ke berbagai plosok dunia. P a ra pelarian ini kem udian te lah d in ja takan hilang kew arganegaraan m ereka.

Djuga di Indonesia ini kita kenal sekelom pok o rang2 jang terkenal pula sebagai „staatlozen” . M ereka ialah o rang2 jan g dianggap pro „K uom intang” . Oleh RRT m ereka in i tidak diakui sebagai w arganegara RRT. Dan karena tidak ada hubungan diplom atik an tara R.I. dan Taiwan, maka m ereka ini d juga tidak dapat diakui sebagai w arganegara2 Taiwan. C01) M ereka ini se-tidak2nja m erupakan „de facto apatriden” .

Djika kita m enghadapi seorang jan g t a n p a - k e w a r g a n e g a r a a n

ini, bagaimanakah harus diselesaikan persoalann ja ? H ukum kew arganegaraan m anakah jang harus d ipergunakan ?

T e r n j a t a bahwa dalam praktek d iperlukan suatu titik-taut p e n g g a n t i (Ersatzankniipfnng) G92) untuk m engatasi persoalan ini. Oleh karena tidak ada hukum ,,nasional” dari jang bersangkutan haruslah d itjari titik-taut penggantinja, jang dapat d ipergunakan sebagai faktor m enentukan hukum jang harus diperlakukan.

091) Bdgk. tentang apatride, W arganegara d an O rang Asing, h . 9 dst. ,Tafsiran U .U . K ew arganegaraan R .I., h . 12 dst. L iha t d ju g a k ep u tu sanP e n g u a s a Perang P usat no. K p ts /P e p o rp u /0 4 3 8 /1958, 16-10-1958 ten tangpenguasaan perusahaan2 Tionghoa perantauan (H oa K iauw ) ja n g bu 'an^ n^^Nr e? a ra asing jang tidak m em punjai hubu n g an d ip lo m a i

CSe*1 d a n /a ta u m em pero leh pengakuan d a r i R * > •w ■ 11 m rT«Y ^ en tan g status o rang2 p ro K uom in tang ini, lih a t jugar w * tsi -vt ° D a 1 d E ., T h e na tio n al s ta tus o f th e chinesee m Indonesia, N.Y. (i961)j h 43

Page 317: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Berbagai tjara penjelesaian jang telah diusulkan.

1. Pem akaian hukum domicilie a tau tem pat kediaman.

T jara penjelesaian jang per-tam a- ditjari ialah m eletakkan titik bera t atas hukum dari domicilie atau tem pat kediam an dari jang bersangkutan.

Djika tidak ada titik-taut kewarganegaraan, maka diutama- kanlah titik-taut domicilie. Dan apabila djuga tidak ada domicilie mi, maka jang dipergunakan ialah hukum dari tem pat kediam an (Aufenthalt) orang jang bersangkutan.

Tetapi ada m ungkin pula bahwa ditekankan dalam hal bela­kangan ini atas berlakunja „lex fori”. 002a)

Dalam keten tuan2 hukum positip dari berbagai negara dapatPf a pemakaian domicilie atau tem pat kediam an

sebagai titik-taut-pengganti ini. 093)

kenufusa^ ! ! f h™,ia iS i Il,dones« pernah kita ketemukan pula “ an d S belpe^ - a w n jang sama seperti

JustiurMedrnd1939ki' » ,ketemUkan keputusa" <*■>* Raad vanPerkara jang harus diadili berkenaan

anak2 jang dilahirkan dari seorang aiah ia i Perwalian dari tidak diketahui atau jang tidal? • kewar§anegaraannja(Heinrich Gores) dan seorang ibn mempunJai kewarganegaraan Emma Helen Engel). Setjara teeas rg*negara DJewnan M arielise Pengadilanr.egaraan Ditambahkan pula bnliwa nriniin u S'P ko'varSa-

| un!’11’ e'vnrSonegarann ini

«»*) Bd0k. tenlimg ini „ w ,kan ik slechts als een w anhoopsdaad beschouwen” 8 Daar de lcx fori

6H3) Bdgk. M isalnja, pasal 30 B.W. Junani 1940: .Staatsangehorigkeit, so findet als H eim atrecht, das R e c i t 'd PerSon keiu®und in E rm angelung eines W ohnsitzes das Recht des A W ohnsitzerA nwendung” ( M a k a r o v - Q u e l l e n , I, no. 19) • ™'thaItsortesU.U. Tjsechoslowakia 11-3-1948 ( M a k a r o v - ' o n ! n 52 d ari, ■

rr 1 * v u o 11 e n, I,lio. 55 dst.).G9i ) D ibaw ah no. 180 T. 153/499, RvJ M edan 22-9-1939. • 1

360. Tjara2 penjelesaian.

2 9 4

Page 318: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

memperlihatkan kekurangan2 bilamana kita menghadapi per- soalan dimana tersangkut orang2 jang tidak-berkewarganegaraan.

RvJ Medan mempertimbangkan ;„0 . dat in het Nederlandseh-Indisch internationaal p ri­vaatrecht het nationaliteitsbeginsel is aanvaard, doch, waar het waarschijnlijk is dat Gores statenloos is, dat beginsel in het geven van een opplossing tekort scliiet, op grond waar- van de Raad van oordeel is, dat de beslissing moet worden,’

‘ gelaten aan het domicilie-beginsel en dus de wet van het land, waar Gores is gevestigd, moet worden toegepast” . 005) Dalam tjat&tannja dibawah keputusan ini W e r t h e i m

telah mengemukakan bahwa keputusan untuk memakai pnnsip domicilie pada orang2 jang tanpa-'kewarganegaraan im, a sesuai dengan apa jang diterima oleh banjak pen k 0 s - hubungan ini telah ditimdjulc kepada Panda“ ^ d |u i tjara ‘ e n - l Djuga W e r t h e i m d epenjelesaian ini. Pendapat dan H i ] , nasionalitetG r o o t 008) jang hendak ” e" ® ^ t?,ndianggap beliau suatu jang effektip atau „virtuelc nationaliteit d gg 1 laatsten„afwijkend standpunt” jang baru muntjul „m

Keputusan lain jang djuga memperlihatkan *193 4 700) Djugaialah dari Raad van Justitie Djakarta tah^ m,em bitjarakan perkara ini sudah kita sebut diatas pada waktu meititik2 pertalian sekunder.701) nqsional dari

Perwarisan umumnja diatur menuiut h um . evvaris (Ho sipewaris.. Apabila tentang kewaiganegaiaa .,kmeester di Tjoeng Kon, selama hidup pernah men ja i , (icunl jang Sidjock, Biliton) terdapat ketidak-pastian, maka 1 wafetu liarus illuergunaknn ialah domicilie dan sipew an l _

meninggalnja. PepUnibangmi RvJ a.l, ialah sebagai be

095)__J T . 153, p.h. 502, kursip kami, T jatatan W e r t h e i m .696) K o s t e t s, h. 288 dst.607) H i j m a n s , h . 120.698) D e G r o o t , h. 173.699) T. 153 h. 501.700) RvJ D jakarta 20-4-1934, T . 139/855.701) Dibawah no. 180, sub »Kewarganegaraan!’.

295

Page 319: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

„0verwegsnde, dat de Raad ten aamien van de vraag aan

~ t ^ I n ! T r CMen mMten "w d e " ^ t o e S met13 w er ,,a" ap ” " « * be-toevopmncf . , narionaIe W et van den e rf la te r , o n d e r

onzekerheid b p 0mt r ent de n a tiona lite it v an dezenten tijde van ziin n ’ V3n het domicilie van den erlaterBerhubnno- ? verllJden toepassing moet vinden”- ™")

di Tiongkok ta tka la^ fm P ^0111 11!6 pih3k pew aris Ho T jo e n g K on nakan hukum Tiongkok. ™ ” gg3 P3da tahUn 1927, teIah d iP e r£ u‘

dom icilie te lah d i p e r g u n t k a n ^ . saksikan bahw a fa k to r karena titik -tau t kew arganegaraan??! ,W ik pertaM an p en g g a n ti, tah u i dengan pasti). ada (tldak d a p a t d ike-

2. Kewarganegaraan jang teracliir.

A dakalanja bahwa penjelesaian w ■ , pe rh a tik an kew arganegaraan t e r a c h h h “ d ?ngan d ja Ia n m em ' sangkutan. 704) u anpada o rang ja n g ber-

T jara penjelesaian ini tidak rlnn^t ^ • kew arganegaraan sudah hilane e n m a ' APa b ila su a tubahwa hubungan" dari orang L p u , PatIah k ita k em u k ak an negaran ja m em ang sudah tidak ad 01.sangkutan d engan bekas- kew arganegaraan negara semulania t ^ Ia te lab k eh ilan g an n ja karena ia m enjatakan k e te r a n ^ 6113 berbagai t ia ra , m isal- negaraan tersebut, atau karena ia in 7 . meIePaskan k ew arg a ­negaraann ja oleh negara bersano-i/ + lnJa^akan h ilang kew arga- m elakukan imigrasi. Dalam semf,a ;!* 3t3U karena ia te la h x hubungan-nja dengan n e g a r a n i a nJat aI ah bahw a adanja. Adalah tidak rlil bilamana semuIa sudah te rp u tu s hankan kew arganegaraan jang s u d a ^ h ^ ^ ' / 1811 ^ m em P e rta '

702) T. 139, p.h. 856703)

704)

D isam ping pertim bangan bahwa Hr,W N T iongkok, karena kekauIaneearL If6^ 3? 2 harUS dianSgap adalahhilang karena ia 'fe ld i lam a pulang ke T - , e an^an-ia telah m en d jad idjiban m endaftarkan. 10ngkok tanpa m em en u h i k ew a-

D em ik ian di Djerm an, sebelum r>enih«uEG BG B, sebelum diubah 12-4-19« SrUa 1938' Bdgk> pasal 29 I, no. 13). ( M a k a r o v - Q u e l l e n ,

296

Page 320: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

■ A<^<snn m ere k a ja n g te rm a su k „d e B a g a im a n a k e a d a a n n ja d g se tj a ra fo rm il m asih m em -

a p a tr id e n ” , ja k n i m e re k a l s p ra k tis tid ak d ap a tp u n ja i s u a tu k e w a r g a n e g a r a a n , i t * t m ere k a itu d i-negara- f a s i l i te t2 d a r ip a d a p e rw ak ilan b a g a i p e la r ia n a ta u im ig ra n 2. as ing d im a n a m e re k a be.rd iam b e rk agai b u k ti- te n ta n g s ta tu s M erek a in i t id a k d a p a t m em p e io e ^ k u k t i u n tu k m en ik a h dsb. m e re k a , k e w a rg a n e g a ra a n d a n 1 Qr a n g 2 s e m a tja m ini, bo leh d a r i p e rw a k ila n 2 n e g a ra 2 m e r e k a . g s e tja ra ju r id is ter-d ip e rs a m a k a n d e n g a n o ra n g 3 j an £m asu k tanpa-kewarganegaraan. d iu ra ik a n b e rk e -

T ja r a 2 p e n je le s a ia n te r s e b u t ■ ! j ur i di s fo rm il sudah n a a n d e n g a n o ra n g 2 ja n g ^ eua l n n t u k o ra n g 2 d efac to -apa tn - te rm a s u k a p a tr id e n , d juga b e rla k u d e n in i. T05)

3G0. u d a t bel.kewarganegara-1. T ja ra penjelesaian m e ie k J hukum d a ri dom icilie a tau

an lazimnja diatur men _ +empat kediam an orang jangdjika ini tidak ada, m em uut t

b e rs a n g k u ta n . . m em p u n ja i p e n g a n u t-n ja2. Penjelesaian1 sedem ik ian

te rb a n ja k . n am p a k n j3 d ju g a tjo n d o n g3 . J u r isp r u d e n s i d i Indonesia

k e a ra h itu . . h p r l a i n a n , m isa ln ja , jan g4. Ada djuga pendapat’ jang ..nasionalitet jang

hendak memperlakukani l e * » harf3 ,,v n 'U e c n a »benar2 ..liidup” dalam k ° nl f aane t[ec t ,e v e na6onaUte>t naUteit” dari H i J m a ’dari D e G r o o t). d i k e m u k a k a n pula ialan

5. T ja ra p e n je le sa ia n ja n g P er k e w a rg a n e g a raa n ]angu n tu k m en g g u n a k a n huku™ , a ian in i m e m p e rlih a tk a nterachir. Tetapi tjara penjelesa unsur2 jang tidak liil-

i • 2 t i a r a p e n je le sa ia n , m isa l-

TJrlcrlr H l j H > a l l S | p e n je le sa ia n m i. BogK. j 2 9 7

Page 321: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

361. Status orang asing (Vr'eemdelingen Statuut).

1 d3ri buku kita ini sudah d iuraikan bahwa sebagai h-h berlaku di Perantjis, apa jan g terkenal Tidak b ! ?GS EtranSers” term asuk pula dalam HPI. 700) lebih semDif 3 neSara<! jang' m enganut konsepsi jang iZ L r i , Indonesia Pun m enganut konsepsi jang lebih sempit

danpada konsepsi Perantjis.

^emikian', dalam textbook2 jang ditulis oleh para hprton 3 U jUm ®e*anc*a> tidak diabaikan sama sekali apa jang M i ri3an. eiJ§an status daripada orang asing. Misalnja ianff h ik 1-! 93 • menj ediakan suatu bab chusus (Afdeling III)

d^erikannja d ju d u l: ..Vreem delingenrecht".dari nr^< f .memberikan pula perhatian kepada statusnia dalam biiknm*16-513’ chususnJa berkenaan dengan kedudukan-hatikan pula peraturTn2 perdata‘ Kita akan m em per'bersifat hiiii-ii™ ? •)an£ bersifat hukum publik m aupun

bagi hak^ dari o ra n g ^ ? s£ adlPl jang , memPunjai akibat te rten tu® asing dalam kehidupan perdata dinegeri mi.

negaraan I X & l]S e^ i? ,,l|V1S , kepada faham ”Kewar* * karena peraturan2 L L f , , 3 tmdjau Pula- ^ Bukan sadja nasionalisme tetaDi 113 m eruPakan Produk daripadapenting adania Snt,.v rangka Pembitjaraan kita memangmemberi isi” kenar i af ™emperhatikan pula peraturan '2 jangmengikuti diatas tadi in \ setelah kltaganegaraan negara jang Suda S ^ 3 daripada Pera tu ran kewar‘

sucl^li dipl^QVoii j . bagaimana pada awalnia nr sedjarah perkem bangan H PI Lambat-laun terdanat non w 8 3Sing dipandang sebagai musuh.

Parla wav+ 1 P6rubahan dalam hal ini. ™°)Pada waktu achir2 ini .paklah dengan djelas ad ’ h Pengakuan kedaulatan nam-faham kewarganegaraan rT proses pem berian „isi” kepada -merupakan warganegara Pembatasan antara orang2 jang

ganegara dan orang2 asing mendjadi lebih tegas.

™C) H PI, I, no. 14.707) M u l d e r , h. 51.708)7°9) H P IH p f l ^ T 1P164 Santar kami pada b“ku „W arganegara dan O rang A sing” .

298

Page 322: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Semakin banjaknja pera tu ran2 jang dikeluarkan oleh pemerintah nasional jang mengadakan pembatasan jang njata antara warga­negara clan orang asing. 71°)

362. Perbedaan antara WNI dan orang asing.

P e r b e d a a n a n ta ra sta tu s W N I d an o ra n g a s in g texu tam a n a m p a k d a la m b id a n g hak p o lit is dan k e n e g a ia a n pox e t en staatkiuxdige rechten). H ak untuk turut serta dalam pemerrn- ta h a n d a n b a d a n 2 p erw a k ila n rakjat, hak2 u n tu k memU,h. d a n

d ip i l ih (a c t ie f en p a ss ie f k ie srech t), sem u a i n i : s a“ satu hak aza si d ar i se o r a n g w a rg a n eg a ra . O rang- as,n g ; Mak d ip e r k e n a n k a n tu ru t dalam p e m ilih a n um um . ) K e . 1 8

s e r u p a te r d a p a t p u la dalam P=™ turan ‘^ ^ s P ®“ ulttikan t a j lw aD e w a n Perwakilan Rakjat Daeiah. ) para Indonesia”o r a n g ia n g terp ilih „benar seorang warganegaxa Indonesia(pasaf 9 1 ) . Ketentuan2 ini merupakan p e ' a l ^ a n a a n d a r x p . .da apa

i a n g d ite n tu k a n da lam d en g a nwarganegara berhak tu ru t seita • dipiUh denganlangsung atau dengan perantaxaa TIndan«-2” 713)bebas m enurut tjara jang ditentukan oleh Undane .

• haru dari hukum kenega-Djugadalamrangka penjusunan ba ^

raan baru2 ini kita saksikan a anj Rakjat Gotong-U n tu k m endjadi anggota dari Dewan Demikian pulaRojong disjaratkari kewarganegaraan . permusj awaratan berkenaan dengan susunan dan Perantjang NasionalRakjat Sementara. 714n) Djuga unt per-tama :kita saksikan bahwa sjarat untuk m e n d j a d i Ketua

7 io) P roses ini te lah kita ikuti pula dalam ..W arganegara dan O rang

h. 57 dst. _ j Tkt 1053 no. 29.P asal 1 dari U .U . P e m ilih a n Umum, • •

«»> Pasal 2 d an 120 dari ^713) D alam UU D-1945 kita ketemukan ketenu714) Pen. Pres. R.I. no. 5, I960. L N nQ J917 N am a go.7i4a) Pasal 3 d a ri Per. P re* no golongan „P eranakan T ionghoa/

» T ja dlS1b a n l W N keturunan asing kini sudah tam pil kem ukaB elanda" karena banjak daerah .bersama-sama dengan jang

299

Page 323: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

W a M S ~ E I ” ’,S) De“ iki» ‘ « N » untuk monc.ja<li

politik ini kita saksikan bahwa negaraan R.I. pu]a Q ®erta dalam kepartaian ialah kewarga- Pengurus atau 3Sing tidak boleh mendjadi anggotaW asa.^7) D - a Pengurus kehorm atan atau anggotamaka partai2 tidak bnlph ^ 3llWa tanPa idzin dari P e m e r i n t a h

memberikan bantuan m ,enenm a bantuan dari pihak asing atau Untuk ePada pihak asing. 7*8)

Pun adalah status warganegara^0^ ^ ron ^ asionaI sjarat mutlak°juga berbagai lemh ^

bersifat resmi serta Panitya jangm isalnja dapat disebut disini t SUS bagi WNL Sebagai tjontoh

en itlikan Nasional) 72o\ p ean§S°taan dari Mapenas (Madjelis a”f sa di Indonesia penenvi & ,Lemba§a Persahabatan Ant31’

'.TetaPi djuga orang a s in J^ tUa dan sekretarisnja h a ru s endjadi angg°ta H S ari negara2 bersangkutan boleh

hPrt^r- tahui lembaga2 ini P? lu mertlPakan bagian besar. danp^v ,3”. Untuk memupuk np a? lah or§anisasi2 swasta janglain 74 U ajaan antara bangsa Indon^ 311 kerdjasam a m '] ssa Indonesia dan bangsa dari negar#

Sebagai tjontoh daring

b8rkenaan dengantlb dl kan2. lahl Jang diadakan oleh Pprp^1 1 a Sebut disini misalniaer<5aSai bidanS dari kehidupan n g o f C n r tGntang sja^at2 npn^Urat K e p u tia n dari Menteri

Hanja WNI S j ’ r]timbangan d a / S f ™ jang bertugaSJ g daPat diangkat 72- b a ra n g 2 dagangan.

77^ T7— ■ ’ U n tu k dapat mendjadiPP'•” » “ T >’»■ Pa.a,

" ’> Pen. p « s . 1959 n f ? 1 13' ' no. 2 ; TLN 1728.T18) Idem, pasal 6 sub ? ^ 6L'N - 1959 n ,719) K ep . Pres. R .i. no ° ' 9 > T L N no. 1916. /720) Kepts. Menteri P.p. d ' 3 P ^ a l 4.

no> 81 n°‘ 1°4787/tt tt nAiT21) L .N . 1961 no. 262. 14-12-1960 , B .N . 1961

” *) Kepts. Menteri Perekonomian) no

o Aa " ‘ M * 8* 2 -1 9 5 4 ; B .N . 1954 no .

; F A K - H ' J K j

Page 324: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

anggota dari IVIadjelis Piinpinan Hadji pun disjaratkan status WNI. 723)

Berkenaan dengan ini dapat disebut pula adanja ketentuan2 chusus berkenaan dengan organisasi massa jang dianggap perlu disalurkan oleh penguasa. Sebagai tjontoh dapat disebut disini Gerakan Pramuka. Dalam Anggaran Dasarnja ditentukan bahwa status WNI diutamakan pula. 724)

Dalam hubungan ini dapat ditundjuk pula adanja larangan chusus bagi berbagai Organisasi asing jang alasan dan tudjuannja dianggap mempunjai dasar dan sumber dari luar Indonesia jang tidak sesuai dengan Kepribadian Nasional. Sebagai tjontoh disebut disini larangan terhadap „Rotary Club”, 725) „Devine Life Society”, 72°) „Moral Rearmament”, 727) „Vrijmetselaaren- Loge” 728) dan „Ancient Mystical Organization of Rosae Cruisers”. 72°)

Salah satu hak dan kewadjiban lain jang chusus disediakan untuk warganegara dibidang hukum publik ialah segala sesuatu jang berkenaan dengan kewadjiban dinas miJitei”, pembelaan negara dsb. Sebagai tjontoh kita sebut disini sjarat untuk dapat diterima sebagai anggota dari Angkatan Perang R.I.S. 73») Ketentuan2 mengenai Wadjib Militer D aru ra t731) dan Wadjib Militer hanja ditudjukan kepada WNI. 732) Sjarat jang serupa

723) Peraturan Menteri Agama, 1959 no. 5 tentang Piinpinan Hadji, pasal 3, B.N. 1959 no. 101.

724) Kep. Pres. 1961 no. 238, B.N. 1961 no. 57.726) Per. Peperti 1961 no. 5 ; TLN 2155.72e) Per. Peperti 1961 no. 6, TLN 2156.727) Per. Peperti 1961 no. 7, TLN no. 2157.738) Per, Peperti 1961 no. 7, TLN 2157.

m) I'er, lUpevti 1961 no. I 'n^ J anoWO) U.U. Dar. 1950 no. 4, J . N . no ' p'rt/peperpu/03g/1959) B N igsg

n a J t T a S b S S D a r u r a t A n g k a ta n Laut, K e p ts 18-11-1957, p a s a l

^ S * * 2, L.N. 1958 no. TLN 1651.

780)

731) P e r

301

Page 325: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

kita saksikan pada peraturan mengenai dinas m iliter suka- lela. 33) Suatu peraturan jang berhubungan dengan ini ialah tentang Wadjib kerdja bantuan kepada alat2 negara. 73i)

363. Pengaw asan chusus terhadap orang a s in g .

Oiang asing tidak dapat bergerak setjara leluasa seperti warganegara.

Tindakan'- chusus diadakan berk en aan d e n g a n p e n g a w a s a n atas orang asing in i. t35) M,.ereka jan g b era d a d id a la n l w i i aja h

1 ’ a v '!lk dibawah berbagai peraturan pengawasan. P e ra tu ran 2 P anaan telah diadakan dalam rangka pengawasan terhadap orang asing ini. Terhadap orang2 asing dapat d iadakan darTn3n berada ditempat tertentu di Indonesia (pasal 5d a p ra h ^ T ^ 11 tersebut)‘ Sebagai tjontoh- pelaksanaannja sebagai orane asin^HW! °rang asing‘ ^ Terhadap tem pat tinggal ialah nPm ^ * pengawasan chusus. Tjontoh konkrit la innjaberpindah h a ? 11 l3r3ngan memasuki, bertem pat tinggal atau idzin K S A L 3Smg ke 3taU di SabanS dan Tarakan tanpa

733)

734)

735)

730)

P -P. 1958 no. 52 novil o t xtno- 37, pasal t ^ ^ 2’ 195« "o. 130, T L N 166 ; P .P . 1959Peraturan Penuua™ p n° ’ 59’ TLN 1802-B-N. 1958 no. 49 Crang P“Sat n a Prt/P e p e rp u /0 2 2 /1958, 19-5-1958,

lasan ° rang Asing’ L N - 1953 n o - 64 ’• Pendje-dst-! W i H m o t t ‘ tukLin,> Warganegara dan O rang A sing, h . 66Misalnja: P.P h’ 70 dst.jang berada di Indoles' PeTlaj\sanaan Pengawasan terhadap orang asing soal laporan djika beoer^n J?' 1954 n a 45’ TLN 645■ >ane m engatu r Militer no. P rt/PM /012/ 1Q<;7 ginap ditemP:lt lain > P e r- Pcnguasapengawasan oranea.s- • 3' 7’1957 tentang Pelaksanaan K oordinasikemudian d ite ta n k ^ v u",? berada di M b n e sia , B.N . 1957 no. 60KSAL Z V/T/?8 “'J' » • . P r t /P e rp u /0 8 /1 9 5 8 1 1 -4 -1 9 5 9 ;no. 9 tahun I960, L N i960 mudian ditjabut dengan P er. P eperti

1960. Menten Keamanan Nasional no. M I/B /0 0 4 8 4 /1 9 6 0 , 6-10-

.3 .) K e p R K ep a l. S W A ,gk ,„ » U u ,, No. z 1 /1 /2 S , 8-3-1960, B .N . 1960

302

Page 326: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

S egala sesuatu ja n ^ m engenai penjelenggaraan u ru sa n ber- adanja o ran g asin g di Indonesia diatur oleh M enteii E eam an an N asional. D em ik ian diatur dalam Peraturan Presiden 1960. 730>

364. Pekerdjaan bagi orang asing.

U ntuk oran g asin g tidak terdapat k ebebasan untuk m ela ­kukan p ek erd jaan di Indonesia . Sudah seb e urn p enga uan k ed au la tan orang m engenai peraturan 2 chusus 1 ®asin g in i p okok daripada peraturan jan g m en gg g k em u n gk in an bekerdja bagi orang asing dari adanj,[ chusus iang diberikan oleh Menteri Ferburuhan, ditjantumkan dalam U.U. no. 3 tahun 1958 '••) tentangasing. Orang- asing dilarang untuk I ^ J » lDeterdi<Jtanizm dari M enteri Perburuhan. A pabila su k diangaaporan g asing in i pada waktu peraturan d i a d a k a n m a l a dianggap bahwa untuk ini telah diperolehl izin selama 6 ^aporanharus diberikan tentang dipekeidjakannja wmsuler bebasorang asing. Pegawai= dari korps diplom at* dan tonsuler bebas daripada peraturan izin ini.' I------------------------ j i K-pots M K .N . n o . M I / A / 0 0 4 5 7 /730) K e p ts . P e r s . 19 6 0 n o . 184. B d g k . P * K P ' 0rans A s in g b a g i D a e r a h

1 9 6 0 , 2 2 -9 -1 9 6 0 , te n ta n g P a n ity a S c reen g K e a m a n a n N a s io n a l , d a n D ja k a r t a R a y a , ja n g d ia t^ . f ^ a/ n “ gA / 6 0 te n ta n g P e m b e n tu k a n P a n i ty a d ju g a K e p ts . M .K .N . n o . ,.{ k n m e n g a d a k a n p e n ja r in g a n . te r h a -S c re e n in g O ra n g A sin g , ja n g d ®e e n try p e rm it b a g i o r a n gd a p p e r p a n d ja n g a n iz in tin g g a l, p e _ k e p a d a K e p a la K a n to ra s in g . K e m u d ia n d is e ra h k a n tu g a s s c re e n in g M I / A / 0 0 3 8 /6 1 m u la iIm ig ra s i D a e r a h , p a s a l 1 d a r i K ep ts .. j. • • • ,g /Q Q 8 7 /6 1 ; M K N n o .10 A p r i l 1 9 6 1 . L ih a t p u la K e p ts . M K N n o . M J / B / 0 0 4 5 5 /6 0 , 2 2 -9 -M I / B / 0 0 5 0 1 / 1960 , 5 -1 1 -1 9 6 0 ; . BJ u n d ju k -p e tu n d ju k te n ta n g1 9 6 0 te n t a n g E x it d a n R e -e n try p e rm d j a n g a n iz in tin& galp e m b e r ia n v i ,»

u m u m , u n tu k W N I , l ih a t In s t r*J"“ p a s a i 5 U .U . 1959 n o . 14 ,t e n t a n g p a s p o r - s u r a t p e r d j a l a n ^ R . ^ ^ ^ U T J D a r . n o . 4 0 ta h u nu n tu k o r a n g a s in g ja n g b e rd ia m

7 3 9 )

7 4 0 )

u n iu K o r a n g a i m s o1 950 , L .N . n o . 82 . . Va n N e d . In d ie , I , h - 1 - .T V

— bot s ,“ Brecht v“' S ig’i9 5 8 3noSt'8. U ntuk pem bahasan peraturan ini, lih at W arganegara

d a n O r a n g A s in g , h. 58 dst.

303

Page 327: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Apabila izin untuk pekerdjaan orang asing ditolak ada ke-sempatan bagi madjikan untuk mengadjukan keberatan2. Untukraembantu Menteri dalam menjelesaikan hali ni, maka diadakan

ewan eitimbangan Tenaga Asing jang ditugaskan untuk mem-,ei^ .an Peitimbangan- kepada Menteri tentang keberatan2 jang diadjukan oleh pihak madjikan ini. )

Tetapi tenaga pegawai bangsa asing jang ahli diberikan pula berbagai tundjangan luar biasa oleh pemerintah.

■Pan da am ^ubun§an memadjukan turisme sebagai sumberu sa h a ,^ev^ en untuk negara, kita saksikan adanja pulaak a n mpm>n ^ memPermudah masuknja orang2 asing jang akan mengundjungi dan mengenai Indonesia «»)

365. Usaha dagang orang asing.

a s i n g ^ t e i ^ a p a t &k e ^ j a n g b ° l e h d i a d a k a n o l e h o r a n fmereka chusus jang membatasi bidang usaha

untuk w ^ a n e T r ^ ^ 1183113311 tertentu jang chusus disediakan mengusahakannia Ti n 3Sing tidak diperbolehkan untuk penjosohan beras Perusa'haan penggilingan padi dan

’ } Ferusahaan Muatan Kapal Laut, 740) ten-

P.P. no. 30 tahun 1958 *L.N. 1958 no. 50 Ien,ang Dewan Pertimbangan Tenaga Asing,P-P. no. 10 tahun 1951 r mTLN 88; perubahan PP ! no‘ 20. TLN 28 J L-N- 1951 no' 20’no. 22 tahun I960 tent 1951 tersebut> p p 1951 no - 62 : P RL.N. I960 no. 54 TLI'T ^o^1 ^ 11 PenShasilan pegawai negeri asing,pegawai asing (di'corl 1, Peraturan chusus tentang pengangkatanno. 78; Bdgk. pula .U an Persetudjuan Dewan Menteri), U .U . 1952pegawai/perburuhan dal * Peperpu tentang kebidjaksanaan dibidangruhan dalam perusahaan™ Perusahaan negara mengenai pegaw ai/perbu-warganegaraan asine ' " negara mengenai pegawai/buruh jang berke-djangan hubungan kerdiT' 1:mSr/PeperPu /° 89 / ' 959, 25-7-1959: perpan-tenaganja belum bisa gM tenaga asin8 hanJa d'ibcrikan bilam anaprojek ..Aerial survey” p T l f -tenaga W N I; Tenaga asing un tuk"R "NJ 1Q61 v * 244.B.N. 1961, 23; Kepts Pres. 1961 n0 65

- V P.P. 1954 no. 42, L.N. 1954 „ 0 73745) P.P. 1954 no. 62, L.N. 1954 no. 107.

741)

742)

743)744)

304

Page 328: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

tan g p em b ik in an garam rak ja t ja n g chusus dim onopoli oleh W N I, 74C) dsb. 7t7)

L ain d a rip ad a itu pada w aktu ach ir2 in i k ita saksikan ad an ja b e rb ag a i tin d ak an - chusus jan g d iadakan b e rk en aan d en g an p e n ja lu ra n d a ri pe ru sah aan 2 asing. T in d a k a n - in i um um nja apa d id a sa rk an a tas p e ra tu ra n pokok ten tan g Pem ba asan e iu sa aan ( ,,B ed rijfsreg lem en terin g s O rd o n a n tie ” ,4S) jan g iw ans an a ri p en g u asa seb e lu m kem erdekaan.

D alam ra n g k a proses „Indonesiasi” te lah d ia d a k a n b e rb a g a i tin d ak an - chusus. T indakan2 in i berm aksud supaja dapat d iper- t je p a t p ro ses In d o n e s ia s i ini d ib idang perdagangan. P e n i s a a o ran g asing in i Gang tidak d im ihki o leh W N a au ^ b u k an b en tu k hukum lain dim ana b eb erap a pem ega f d i .W N I) p ada h ak ek a tn ja tidak diizinkan un tuk d id m a p d ah k an te m p a t a tau dipindahkan hak n ja se r ta ^ P 61^ }in i te lah rlitP^aqkan pula dalam S u ra t M en te ii P e id a &angan , te la h d itegaskan pm* 75 Dalam su ra tk ep a d a M en ter i K ehakim an p a d a tahte rs e b u t d id je la sk an ten tang tindakan ja jg *n a a n d e n g a n p en ja lu ran ' jan g harus d .am b .1 ia lah

a) Penghentian segala pendirian perusahaan dagang asing,b) P en g u ra n g a n djum lah perusahaan= p e r d a g a n g a n a s in g

jang telah ada, nenerangan dan fasilitet* lainnjac) P em b erian foimbingan, peneiang

kepada perusahaan perdaganganp K-pmitusan M enteri K eam an an

d a p a t k i t a s a k s i k a n a d a n j a K P & d i n j a t a k a n b e r b a g a i N a s i o n a l tah u n 1960 b e r k e n a

t e m p a t t e r t e n t u d i I n d o n e s i a .

----------------------- „ 1959 p e n e t a p a n U .U . D ar. 1957 no . 25, L .N . 1959746) U .U . n o . 13 tahun 1 9 ^ . v

N o . 3 8 ; T L N 1771- W a rg a n e g a ra d an O rang A sin g , h . 59 dst.L ih a t ten tan g im lebl a A,ahasan p e ra tu ran ini, lih a tS. 1938 no. *6. U »«* P ‘ Pe-dasa.san,A n w a r , Pedoman PenJiin.m r*i>Bandung (1961). nqinm N eeeri dan Perekonom ianPengum um an D javvatan ? 8. j 9 5 7 . Jang sudah ada sedjak dike-U m iin i no. 3683/C -I-0/D P P U 1 0 ISO/. J b gan dan M en tenluarkan s u r a t keputusan d. 2 4 3 0 /M /p er(ias. u n lu t sem .n lara ber-

d X “S “ M g * I - ' - N °- 3’ ^ ^ -I-I/D P P U -

747)7 4 8 )

749)

305

Page 329: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Perusahaan asing memerlukan idzin chusus dapat melan-djutkan usahanja sementara ini

n * fnguasa telah mengadakan tindakan'2 lebih landju t berke- Menteri11p^1‘^^ril^f{laan2 3Sing ini‘ DenSan Keputusan Bersama 195?™.) Perdagangan tanggal 3-9-dienis nM'ncnh o • perusahaan a s i n g termasukPerusahaan"’ Tua3311 i-Jang clitundjllk °leh Menteri, terhadap

diperlakukan Bab I dari Ordonansi Pemba-n S a S S f d°nanSi Penialurai1 Perusahaan, Bedrijs- p e C Z t T t a i 1 ° “ ant;e 1934 s - 1»3« no. 86). Dalam bermodai asing atau"^? 'T*' 1>8rusahaan jang untuk 100% terdiri dari S a ! ^ ^ j a untuk sebagianmusan dari perusahaan asin? in Sf babkan karena dalam perU' jang ditilik dari sudut kedudnv^’ tertjakuP semua perusahaan haan asing atau jang unhit ?nn]a’ modalnja bersifat perusa- atau dikuasai oleh bukan wa ^ Uru*inja a*a:u sebagian dimiliki

n varganegara Indonesia.

? ' tanggal 28’10-1958 ara iberikan idzin kepada n 1 en^ an bahwa untuk semen' berbagai sjarat tertentu. perusahaans asing jang m em enuh i

75°) Surat Menteri Perdaea

750a) SwafTepmusan b’1957’ ^ Kehatiman No- 2755/M dadgangan no. 2077/ a, Menteri PerinH, . • „__^/M -Perm d eruidustrian dan M enteri Perda-

J A I n / --- •, 3-Q-1ft«T • 24 M ^ ^ d IT ’ 3-9-15»57.Lampiran 2 nach u , s '

7 B 1 ) a.I. telah berdifi dan h J1 C h a i ^ u l A n wDjawatan Peri n d u s ®k®rdJa pada 3-9-1957 . °'C‘ h‘ 67 'asing jang sebelum Kenm * sebelum 3! •* m ohon idzin kepadateri Perdagangan 3-9 Be« a ma M * 2 term asuk PerusahaanBagian Penjaluran Pen,, ? tldak d'hariKV, erindt,s,rian dan M en‘sampai 31-12-1959 di D ja k ™Skaf . memPunjai lisensi dari

h. 35 dst. dan L am p irJ^ Iebih d» u h C T d iberikaa berIaku Keputusan Menteri pPtv, Pada 'buku L h % V 1 r U 1 A n w a r> ° 'c - keputusan Bersama t e r s e b u f f “ no- ^ 3 3 /mtara dan idzin lisensi bagi ‘l * eng*nai djangka w i t ’ ,lf rdasarkaaK abnpaten, kcrcsidenan asi"8

11 n k k q ’ kotaPradja KetJ“ /e tje ran diluar lbukotasampa* 31-12-1959. dan propins- berdjangka w akty

366

Page 330: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Dengan adanja berbagai ketentuan tentm g industri dan perusahaan dagang asing ini 1 f nerdaeanganberbagai peraturan2 p e i^ a n a a n uw dalam

asing jang berupa Perdagang® ianesung dengan produsenbidang impor-ekspor dan berhubuig mendjadi perantara)besar) maupun perusanaan Pera gkan mernpunjai idzinatau Perusahaan Ketjil Idzin djuga diperlukanuntuk mendjalankan peius. • usahaan jang mendjual bagi perusahaan asing jang bedrijven) jang be*atau membeli d j a s a (di t i o n t o h 2 : pemangkasserak dilapangan f r a m b u t , salon* ketjanti- rambut, photo stdudio, binatu, Rentingkan dstb. ' 53) . dan keradjinan terdapat

B e r k e n a a n dengan in u®'n erj[. MUda P e r in d u s t r ia n Rakjatberbagai ketentuan chusU®‘ ^T nada permulaan 1960 jang pada Pernah mengeluarkan ins u diberikan idzin perusahaanPokoknja menentukan, supaja dang keradjinan dan industrikepada pengusaha- asing, a a* menengah dapat diberikanketjil. Kepada perusahaan 111 2nja 5 tahun di-tempat2 jangidzin untuk djangka waktu se- Untuk peraindahan hak danditentukan oleh Kepala Daswa asjng lainnja tidak diberikanPerusahaan asing kepada peng afean dib8rikan idzin untukidzin. Kepada pengusaha aSing dalam bidang keradjinan dannielandjutkan perusahaan2 asi indahan tempat perusahaan2industri ketjil. Djuga untuk P diberikan idzin. 754) keradjinan industri taftd asm ^ asLllg tertentu.

366. Tindakan2 chusus ter g.an orang asing telah diada-Terhadap perusahaan- * ^ tindakan2 pengambilan

kan tindakan1: chusus.. Terfce__ A I f ' T /W

752)

753)

754)

»------ - «.*»•*» ■’“ “ “ S p o t ! Z ' z m m / ZS m O T , 20-1.1958. P 0 » l «»»■»» K » to r T j» ta ,g ,rind 4 0 3 0 /M/PertJ^S- .B.a h _ in tersendiri (pasal 2 dan 3).,masing2 harus jnem “:,“1a an Perdagangan Dalam Negeri no. 1905/HL ihat Peneuxnum an1-0/D PPN /P , 23-5-19.5 . , perindra no. 524/25/m .m .. 22-1-1960.

Surat instuksi Menter> Muda r

Page 331: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

tindakan2 lebih landjut berke- M * X P f aSi"g ini' Den«“ KeP„tus»n Bersama51“ '"■) m S a S r h Menteri tanggal 3-9-dienis nprnaoh ■> ■ va Perusahaan a s i n g term asukperusahaan-m 3311 J3ng cIitundi uk °leh Menteri, terhadap tasan P prnsah^3 1Perlakukan Bab I dari Ordonansi Pemba- reglementp • rdonansi Penjaluran Perusahaan, Bedrijs-

° r °nnantie 1934 S‘ 19^ no. 86). D a linbermodai asing* a ta ^ n e r ^ perusahaan j an§ untuk 100%terdiri dari modal asm? w ? ^ hanja untuk seba§ianmusan dari perusahaan ^ di§ebabkan karena dalam Peru‘jang ditilik dari sudut kedudulT’ tert;|akup semua Perusahaan haan asing at*,, keaudukannja, modalnja bersifat perusa-

atau dikuasai oleh b X T w a r e f WUhnia ^ sebagian dimiUkiganegara Indonesia.

M. 8921/gM. PerindilT -Menteri Perindustrian tanggal 28-10-1958 tara diberikan idzin ,flan’ teIafl ditentukan bahwa untuk semen- berbagai sjarat tertentu m ) perUSahaan2 asin§ Sang m em enuhi

750) Surat Menteri Per/ToNo. 2754/M / 1R kepada Ment«n K ehakim an N o. 2755 /M dan

76°a) Surat Keputusagangan no. 2077/M-Perind ^ fenteri Perindustrian dan M enteri P erda-

T „ . 24307m ^ ^ 7 ’ 3’9' 1957-

7B1) a . l . T l a r be2rdid d L bbekU ^ h a i r u 1 A n w a r , o.c. h . 67.Djawatan PerindUsTria n ^ ; telah m ohon idzin kepadaas»ng jang sebelum K e m .tn ^ S“bclum 31' 3-1958 ; term asuk perusahaan teri Perdagangan 3-9 T San?a Mcnferi Perindustrian dan M en-Bagian Penjaluran Ppmcv. * j- ^ '^ aniskati m em punjai lisensi dari sampai 3 1-12-1959 t v, D akarta- Iz>n jang diberikan berlakuh. 35 dst. dan L a L ™ , ^ C h a i r u l A n w a r , o.c.K eputusan Menteri P e rd a c a n ^ U h ' 69 Bdgk' paSal porlanlilkeputusan Bersama tersebut mengenai d ” 3'? * ’ I4‘5' 1959’ berdasarka» tara dan idzin lisensi bagi perdaeancn Jangka waktu surat idzin semen- Kabupaten, keresidenan t e i? /e « e » n d iluar ibukotasampai 31-12-1959. J “ pr° pmsi> berdjangka w aktu

Perusahaan asing memerlukan idzin chusus dapat melan-djutkan usahanja sementara ini.

306

Page 332: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

D e n g a n a d a n ja b e rb a g a i k e te n tu a n tentang p e ru sah aan in d u s t r i d a n p e ru s a h a a n dag an g asin g in i k ita k e tem u k an pula b e rb a g a i p e r a tu r a n 2 p e lak san aan lain. P e ru sa h aa n p e rd ag an g an a s in g ja n g b e r u p a p e rd ag an g an b e sa r (jan2 bex g erak dalam b id a n g im p o r-e k sp o r d an b e rh u b u n g an lan g su n g d engan p ro d u sen b e sa r) m a u p u n p e ru sa h a a n P e ra n ta ra (jang m en ja p e ia n ta ia ) a ta u P e r u s a h a a n K e tjil (e tje ran ), d ih a ru sk an m em p u n ja i idzin u n tu k m e n d ja la n k a n p e r u s a h a a n . - ) Id » n d ju g a d ip e rlu k an b a g i p e ru s a h a a n asin g jan g b e ru p a p e ru sah aan ja n g m end jua latau m em b oli d j a s a (dienstverlenende e r J _

rambut, saion* ketjanti-

k a n d s tb . . . .B e rk e n a a n d e n g an in d u stri ^ t j ^ J ^ ^ p ^ d u s t r i a n R ak jat

b e rb a g a i k e te n tu a n chusus. M e n te i^ 1960 ja n g padaP e rn a h m e n g e lu a rk a n m s tiu P e rikan idzin p e ru sah aanp o k o k n ja m en en tu k an , supaja tid k e ra d jinan d a n in d u strik e p a d a p e n g u sa h a - asing, dalam \ a <,ah d ap at d ib e rik ank e tj i l . K e p ad a p e ru sa h a a n indus 1 tahun d i-tem p at2 jan gidzin u n tu k d jan g k a w aktu se-lam a-nji in d ah an hak darid i te n tu k a n o leh K epala D aswati 1. l a i n n j a tidak d ib erik anp e ru s a h a a n asin g kepada p e n g u s a h a asing ^ .berik an idzin u n tu k id'zin. K e p ad a p en g u sah a asing tidak aika g kera d jin a n danm e la n d ju tk a n p e ru sah aan - asing da am mDat p e ru sah a an 2in d u s tr i k e tjil . D juga un tuk Pe™ d aerikan idzin. 7S1) k e r a d j in a n in d u s tr i k e tjil asing tidak

3 6 6 . T „ chusus terhadap

kan S S £ B — ~ r S h tindakan3 peng ambitan

Pengumuman Djawatan Perd*gan???outusan Bersama no. 2077/M /P e-D P P N /P , 20-1-1958, berdasarkan ^KP^usat maupun Kantor Tjabang,f in d , ^SO /M /P erxJag- ®ai. . .+_rSpndiri (pasal 2 dan 3).v m a sin g 2 harus m em punjai^ i d z u ^ D alam N egeri n o . 1905/H L ihat Pengum um an Djawatan1-0 /D P P N /P , 23-5-1958. « 4 /2 5 /m .m ~ 22-1-1960.

S urat instuksi M enteri M uda Permdra n o . 524/25/mQ<V7

7 5 2 )

7 5 3 )

Page 333: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

m T S r ’m i r 111 ? eh nasionalis“ i terhadap perusahaan’ telah 7 ? D^ a ““? * ■ » ' t oKuonuntang tjukup dikenal o l h p l Smg J3ng changgap Protahun 1958 ™7) telah dikehm±e P f ang Pusat dalamtukan bahwa semua perusahaan? f L kePu usan menen- auninistrasi, pelajaran dan Z v t t perkebunan> asuransi- seluruhnja adalah milik o r g a n L s i T f * jang scbagian atau untuk orang2 Tionghoa peran tau in^m ° leh dan /atauwarganegara dari negara asine i l , ^ n g bukandiplomatik dengan R I dikuasa- , , ah menipunjai hubungan penguasaan ini termasuk bendai J Pemerintah R.I. Didalam bergerak, termasuk keuangan d a ^ f erak maupun jang tidak haan itu. Penguasaan ini diusa m f Ura^ berharga milik perusa- bagian2nja dari perusahaan- her Cantor2 tjabang berikut

Kemudian kita saksikan hah*18 ^ chusus lebih djauh mengenai l W& diadakan ketentuan wasan daripada perusahaan- o r a ^ ^ 311 organisasi2 dan penga- tang ini. Dalam tahun I960 t e l^ " ang dian§gaP pro Kuomin- jang melarang organisasi2 janr ! r 7 dlkeluarkan suatu peraturan asing, sepandjang mereka-ini lr*kan °leh atau untuk orang mempunjai kewarganegaraan dav- 3 ^ k ew arg an eg araan , atauo eh R.I. atau ja„g jang tidak diakuio e R.I. Djuga termasuk daia ^ °ma^ nJa telah diputuskan menurut hukum dari negara i a n ^ r ° mpok ini orang2 jang sudkan ialah RRT) mempunjai kew * °leh R L ^ ang dimak----------- — aiganegaraan negara tersebut,735) a.i. Pedntah KASAD, lO -n .io

KA&ADanS A 3 0 /^ iS ,268375179’5700 ^ 0°7/1957 ; Radi0graI? no. 1059/PM T/1957 16'12-1957 • Ken t Radi° sram instruksl"1957 8-12 19V7 v 5 7 ! Kennf putusan Menteri Pertahanan

s A sad . ^ r K^ D “ • io63/pmt/milik Belanda; Circulair P ^ w a s J t T ' ™ / 0 8 0 / 1957 ’ KepU'8-2-1958 tentang instruk.'a?^ PcnSuasa Peran ! m ^ g3S dun llstr,k dari perusahaan2 Belanda • d'iauh terhadap Peu kSE/Pcperpu/02/58, tentang pcmbentukan Badan-^p Ulan Pem=nntah 26 2*1958 pen£™ aS‘™ (Bappit), L.N. 1958 no. i t ^ “tentang penempatan semua 1958 no. 23 r w in Tamban8

757) Keputusan Penguasa Perang Pu‘sat dalam pengawasan 58 n°' 391958 B.N. 1958 no. 87. n°- KPts/PePerpu/0438/T958, 16-10-

308

Page 334: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

akan tetapi jang tidak diturut oleh jang bersangkutan (pasal 1). Semua perusahaan jang didirikan oleh atau untuk oiang asing termaksud diawasi oleh pemerintah R.I. (pasal 2 ajat 1). *-)

Disamping peraturan2 -chusus t e r h a d a p kelompok oiang

asing terten tu tadi, kita ketemukan pula ket^ntu^ V tertentu' djukan teristimewa terhadap golongan oia & Larangan

g dimaksudkan dis * * * asing didaerah SwatantraJKaha perdagangan ketjil di', 'r kota Peraturan ini jang■ngkat 1 dan II serta K w ® *™ 8 „ perha-

texkenal sebagai P.P . 10 tahu laranean untuk perda-tlan chalajak ramai. B e r k e n a a n eng^ saksikan ketentuan- jang gangan ketjil dan etjeran asi g perusahaan= tersebutmengatur soal keharusan u tentan£r pemindahan hak dan (P asal2j 3 dan 4). Djuga " a n g dimaksudkanPemindahan tempat dan I(Pasal 5-10).

367. Ketentuan2 tentang m o*1 astog-, i Hiadakan peraturan tersendm me-

Dalam tahun 1958 tela i ,-jnvestaSi di Indonesia.760) ngenai modal asing jang dapa , etenrukan suatu interpretasi

Didalam undang2 1111 * gap sebagai ..pengusaha asing .°ntentik tentang apa jang f istilah ini ialah pengusahaTemjata jang dimaksudka" d«W* „„tuk selumlmjajang bukan WNI. Perusahaan J WNi dianggap asmg.pula. atau sebagian oleh orang2 jang perekonomian nasional.

P em erin tah R.I- menganu P rintah menghendaki adanja dengan in i dimaksudkan ba^ ekonomi. Terutama diberbagai keseimbangan diseluruh bidang e ional, penndustnanbidang chusus seperti perdagangim per,u diadakanPerkebunan besar, Perdagadn;°ifcian kita saksikan bahwadjbe- keseimbangan ini. Df'i1San aan. Sesuai dengan ,rtkan isi akan faham k e « r«“" J f aaalah dapat dimengert. b a ta a negara R.I. jang merdeka, i

t l N no. 2105 untuk pendje-1960 no. 50, L.N. i960 no.

758> L.N . 1959 no. 128. modai asing, U.U. 1958 no. 78.7eo) U .U . te n ta n g p e n an am a

Page 335: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

berbagai usaha telah diadakan dengan tudjuan agar supaja peiekonomian Indonesia ini dapat diselenggarakan sedapat mungkin oleh orange Indonesia sendiri.

Pemeiintah mendjalankan politik nasional dibidang pereko- mian mi an tetapi, hal ini tidak berarti bahwa dalam semua

bidang usaha pemerintah sendiri jang turut serta.

rintah .''an® c^usus disediakan bagi usaha peme-

~ ini disebut 8 matjam p eru sah aan -:1. kereta api,2. telekomunikasi,

3. pelajaran dan penerbangan primair dalam negeri4. pembangkitan tenaga listrik negen,5. irigasi dan air minum6. pabrik mesiu dan sendjata7. pembangkitan tenaga atom8. pertambangan2 bahan2 vital

Perusahaan2 ini tertutup bagi modal •T . , . ® JncKial asm? 762\Lain daripada itu tertutun

jang lazim dikerdjakan oleh m°dal asing> perusahaanindustri ketjil (small scale inf] I! {pasal 4)- Di5ini term asuk

Mengenai perusahaan* j Z ”1 USahi> Ch“SUS' ■Indonesia ditentukan bahwa n U mendialankan usahanja di bentuk kesatuan perusahaan rei'uisaJlaan12 ini harus mempunjai __________ , en lri- Tjara pembentukan ialah761)

762)

763)

Sampai berapa djauh modalditentukan sendiri oleh pemerintah dapat diikut sertakan nanti akan Pasal 3 dari U.U. Penan " " -

n n t a h d a p a t m e n g a d a k a n pindiam0d? A s i n 8 1 9 5 8 no. 7 8 . T e t a p i psrtic-pat menggunakan modal a s in w dengan Perdjandjian2 chusus untuk

Dewan Modal Asing akan m ^ 2)'dalam golongan perusahaan i n T T ^ " lebih djauh apa jang term asuk mengurangi adianja hak Dewan aransan untuk modal asing ini, tidak antara modal nasional dan modal Un'Uk meil2ntukan tja ra kerdja sanifl bantuan modal asing iaiah 1 £,s®8 dalam hal ini. Tudjuan daripada dipertinggi. Asistensi d'ari \nar dapat ditam bah dan m utum engenai te c h n ic a l and m a n a g e l, l" arapkan «n*uk dapat bimbingan djelasan). L ihat djuga diatas. w how” '.Bdgk. M em ori Pen-

310

Page 336: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

dengan pendirian menurut hukum Indonesia dan djuga berke dudukan di Indonesia.7<H)

Perusahaan2 jang bermodal asing ini akan ^m pero leh fasilitet2 terten tu mengenai hak- atas tanah, ) ^pentjegahan padjak dobel, ,0‘) dsb. Djuga me bahwa kepada perusahaan indusM asmg ^ ^minan, bahwa penisahaannja tidak .^ianeka waktuatau diubah mendjadi milik nasional, untuk djangkainaksimum 20 tahun.7flS) .. . i n<y

Sebagai tjontoh daripada perusahaan p e m ^ r ^ t perusahaan disediakan chusus untuk WNI misalnja P Menteri Perhu-turisme. 700) Perusahaan ini menuiut ePu w b en tu k badanbungan harus merupakan perusahaan .la“» dimilikihukum m enurut hukum perdata Indonesia danoleh WNI (pasal 5 sub a). . . . . savsikan

Dalam rangka penjusunan e^on01™ t i n d a k a t f jang ’bahwa oleh penguasa telah diamibil p “ us untuk WNI.njata. Berbagai funksi telah disedia a s arat untuk men-Misalnja dapat disebut disini sebagai jon perusahaandjadi anggota dari Dewan PenguiuS ” ,t e g a s bahwaEkspor Indonesia Sementara” . Dinjatakan g Deinjkianlahhanja WNI sadja jang dapat mendjadi ss - dagangandapat kita batja dalam Keputusan dan Menteri tah u n 1961 . 770)

704)u dan lihat p u la U.U.

B dgk. d iatas, p ada TPS, k e d u d u k a n b^ada untuk d a p a ^ 1 , j 6P okok A gararia , no . 5 tahun . sub b), hak guna- , 45 sub c).h ak guna u saha (pasal 30, aj dan hak wa . tersendiri.

1 sub b), hak p - w ■<« 0M >Bdgk. noot diatas, n. 764. A k

6) Pasal 14 dst. oerkebunanI07) Pasal 1 1 . wu ini adalah 30 tahun untuk per^ & &

®8) Pasal 13 ajat 1. D j ^ g^ nTan dengan Persoal“ i ^nlor in derogation of besar asing. Bdgk. berk® ^ wiibout cofflp??> ^ n a t i o n a l law?, Pro- taking of an alien’s ^ R a t i o n of J?“bl£ Branch of the Inter- the term s of a contract in of the Americancedings and) Commits® n959_i96(J). n / s /1 8-7-1959 tentang

«») t o / *,au Krfia-

„ E S S . S S - * » o . ™4/«, - * 1’•°) K eputusan M enteri Pe

Page 337: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Dilain pihak kita saksikan bahwa tidak semua funksi chusus disediakan untuk WNI sadja. Ada djuga organisasi2 resmi jang membolehkan bahwa pengusaha2 asing mendjadi anggota. Misal­nja dapat disebut disini sebagai tjontoh ketentuan- tentang keanggotaan daripada „Perserikatan Usaha Dagang untuk Barang Sedjems”. Dalam rangka ekonomi terpimpin kita saksikan bahwa telah ■ dikeluarkan peratui'an2 chusus jang berkenaan dengan

proclulcsi dan Penjaluran. Menurut ketentuan jang tflhnn 1 Q?Q 7n f m ,SUrat kePutusan Menteri Perdagangan. dari maimnn na’ * l^- a p e r u s a b a a n 2 perdagangan, baik jang asing

]r g telah memPunjai surat lisensi atau surat golongan baran? dalam laPangan satu djenis atau

diwadjibkan untuk m enggaW k POk? Rakjat maUpUn anggota dari Perserikatan Usaha da*am ^ T f Sbarang jang bersangkutan (0 P s l » ? U1'tUk dJeniS ® ™m asing dapat mendjadi a n g S i ^ t ^ ! " ^ ma

dengan pembcria!rpcmba35tCntLlanl waktl1 achh' ini berkenaa" Jalam bidang perokonomian antara slatua WNI dan a

368. Perusahaan2 Negara.

Perusahaan2 Belanda i kemudian dinasionalisasi t P i ^ r 61 diambiI alih> dikuasai dan ketentuan12' chusus. 10rganisir lebih landjut -menuru

daripada man^ement j S f ** adanja k^entuan2 pengopera* proses IndonesiL ^ j3ng njata "

Pada tiap2 djenis perusaha™ • badan12 jang chusus ditugaskan Jang telah dikuasai ditoehtu* itu. Berbagai „Badan Pusat pUntuk melaksanakan penguasaa telah dibentuk. Sebagai w u ngUasa Perusahaan2 Belanda dari Penguasa P e r ^ ^ * * * ^ u t disini keputusan

tukan Badan Pusat Peneuaw « n 1 9 5 8 tentang ”pe ,„Perusahaan Pharmasi

?7i) S urat K eputusan Menteri Muda P -apasa l 5, diterbitkan dalam B.N. noei^ aSanean no. 7464/M/26-11-1959,

312

Page 338: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

'B a p p h a rf . "*) D iten tu k a ntiap^ perusahaan jang dikuasai d 3 laksanatam manage* nja bcrwarganegaraan J “ J onc*ia Delaksana melakukan segala went pada perusahaan2 itu. Pa P , „ Hal j ang serupasesuatu atas petundjuk2 dan BaP P ‘ pela]-aran tahun .1959 kita saksikan dalam keputusan 1anangan tugas dari „Badan tentang pembentukan, susunan_ a n ^ da„ 77J) Daiam pera- Pusat Penguasa Perusahaan- waIIlu" peruSahaan jangturan tersebut ditentukan bahwa Pa Indonesia, jang akan dikuasai ditundjuk tenaga2 warganeBa « Dewan pimpinanmerupakan suatu dewan pimpinan Pel haan2 jang bersang-ini akan m elakukan management pada p Maritim.kutan atas petundjuk2 dari Badan eng dian telah dirobah

Perusahaan- jang telah dikuasai ini 'elDa]anl taraf terachir statusnja mendjadi „Perusahaan Nega • diterimanja milah kita telah saksikan adanja peruba i sanaan reorganisasi le i iang didjadikan dasar daripada p

' ^ a i a , Perpu no. 19 tahun « f n " h a n ^ S

(pasal 7 ajat 2). Orang asing . .anggota direksi Perusahaan negai 3 ^ ketentuan ini „ Kemudian telah d i t e g a s k a n k i t a akan m en^hutberbagai peraturan2 pelaksanaa •dibawah sebagai tjon toh : pex-tambangan inJ

1. -Pendirian Perus‘l haaJ p Nno J tahun ^ D i r l k s i adalah Indonesia (Pertamui), P-I • wa anggota DireksDalam pasal H ditentu a p p 0 13WNI. . Ilinxun „Assuransi, P.P. no.

2- Pendirian „Badan PimPina " tahun 1961.776) nQ1o«

at no. P ts/Peperpu/0348/1958, 9-8-1958,

772) Keputusan Penguasa Perang Q/q/22 13-6-1959, B.N. no. 70oB.N. 1958 no. 77. Peiajarafl no. 8 / 3 / t , ' a L.N. I960 no. 59,

; « ) S«M Kepulusan P e r » » « »T1) Perpu 19 tahun

TLN no. 1989.77a) L.N. 1961 no. 7.77e) L.N. 1961 no. 34. 3X3

Page 339: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

4.

5.

6.

7.

8.

10 .

S m Z ® l l UOdrd“ “ aTOiahWa angg0'a Bat,an Pin,Pinan

Dahrni pasal 8 ditentukan bahwa anggota Direksi harus

p ^ i b S S . ^ Negara Djawa Timur’Dalam pasal 8 ditentukan k„uWNI. bahwa anggota Direksi harus

P6p.^no319^ a h 196 u *a n a 11 Negara Djawa Tengah,

WNL PaSal 8 dltentukan bahwa anggota Direksi ialah

P.P. n0a 21PtT h * 9 6 i K7e8?)Utanan Negai’a Sumatra Selatan,

P e X ia n Dp eekSi ^ ^ ^ WNI ^ asal 8>-no. 22.78i) erUsahaan Kehutanan Negara Riau, P.P. 1961

PentoanDperkSi f WNl (pasalP-P. 1961 no 23 ^ eilutanan Negara Sumatra Utara,

P en d h ianDp €kS1 mellUU terdM dari W N I <Pasal 8>-no. 24.788) erUSahaan Kehutanan Negara Atjeh, P.P.. 1961Hanja WNI iant* iPendirian p 1 mend;>adi anggota Direksi (pasal 8).Barat P p i k e h u t a n a n Negara Kalimantan , „ . ’ r - iy61 no. 25 . 784)

^1 jang dapat mendjadi anggota (pasal 8).

77s) L N 196} n° ' 38> TLN 2172.779 L N or! n°- 39> TLN 2173.780 L N 96 n° ' 40’ TLN 2174.781 L N 96 D°- 42' TLN 2176-> i-.ty. 196] no. 43 TTM

L.N. 1961 « ; £ £ I ' l l»fl r ’w 1961 45> TLN 2IM-) L.N. 1961 no. 46, TLN 2180.

314

Page 340: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

11- Pendirian Perusahaan Kehutanan. Negara KalimantanTengah, P.P. 1961 no. 26. 785)Anggota Direksi disediakan untuk W NI (pasal 8).

12. Pendirian Perusahaan Kehutanan N egara K alim antanSelatan, P.P. 1961 no. 27 . 78G)Anggota Direksi adalah WNI (parsal 8).

13. Pendirian Perusahaan Kehutanan N egara K alim antanTim ur, P.P. 1961. no. 28. 787)Anggota Direksi adalah WNI (pasal 8).

14. Pendirian Perusahaan Kehutanan Negara Sulawesi Selatan, P.P. 1961 no. 29. 788)Anggota Direksi adalah WNI (pasal 8).

15. Pendirian Perusahaan Kehutanan N egara Maluku, P .P . 1961 no. 30. 7S0)Anggota Direksi adalah WNI (pasal 8).

16. Pendirian Badan Pimpinan Umum P erusahaan P e rk eb u n an N egara (B.P.U.-P.P.N.), P.P. no. 141 tahun 1961. 79°)H anja W NI jang boleh mendjadi anggota D ireksi (pasal 8).

17. P endirian P eru sa h a a n P e rk eb u n a n K e sa tu a n A tjeh („PPN - A tjeh”) P.P. 1961 no. 142. 701)Kuasa Direksi dan Pembantu Kuasa Direksi h a ru s W N I (pasal 8). "

18. Pendirian P eru sah aan P e rk e b u n a n N egar3^ Sum atera-U tara I, („PPN-Sumut I ), P. - h W N IKuasa Direksi dan Pembantu Kuasa Direksi hai us W N I(pasal 8). _

19. P e n d ir ia n P e r u s a h a a n P erk eb u n an N e g a r a K e s a tu a n Su- m atera-U tara II (,,P.P.N .-Sum ut i n ,Hanja WNI jang dapat mendjadi Kuasa Direksi dan P bantu Kuasa Direksi (pasal 8).

785) L.N. 1961 no. 47, TLN 2181.7sd) l ]n . 1961 no. 4K, T IN 21fc~787) l ,N . 1961 no. 49, TLN 2181788) l .N.. 1961 no. 50, T L N 2184.7S0) l .N . 1961 no. 51, T L N 2185.780) l .N . 1961 ho. 166, T L N 2229.701) L .N . no . 167, T L N 1961 no. 2230.702) l .N . 1961 no. 168 T L N 2231.7»3) L .N . 1961 no. 169’ T L N 2232,

315

Page 341: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

20. Pendirian Perusahaan Perkebiinan Negara Kesatuan Sumatera-Utara („P.P.N.-Sumut III”), P.P. 1961 no. 145. 794) Hanja WNI dapat mendjadi Kuasa Direksi dan Pem bantu Kuasa Direksi (pasal 8).

21. Pendirian Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Su­matera-Utara IV („P.P.N.-Sumut IV”), P.P. 1961 no. 146 795) Hanja WNI jang dapat mendjadi Kuasa Direksi dan Pern- bantu Kuasa Direksi (pasal 8). '

22. Pendirian Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Su­matera-Utara V, („P.P.N.-Sumut V”), P.P. 1961 no. 147. 79B) Djabatan Kuasa Direksi dan Pem bantu Kuasa Direksi dise- diakan untuk WNI (pasal 8).

23. Pendirian Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Su­matera-Utara VI („P.P.N.-Sumut VI”), P.P. 1961 no. 148. 707) Djabatan Kuasa Direksi dan Pembantu Kuasa Direksi dise- diakan untuk WNI sadja (pasal 8).

24. Pendirian Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Suma­tera-Utara VII („P.P.N.-Sumut VII”), P.P. 1961 no. 149. 708) Hanja WNI jang dapat mendjadi Kuasa Direksi atau Pem ­bantu Kuasa Direksi (pasal 8).

25. Pendirian Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Su­matera-Utara VIII („P.P.N.-Sumut V III”), P.P. 1961 no. 150.79°)Hanja WNI jang dapat mendjadi Kuasa Direksi atau Pem ­bantu Kuasa Direksi (pasal 8).

26. Pendirian Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Suma­tera-Utara IX („P.P.N.-Sumut IX”), P .P . 1961 no. 151. 80°) Hanja WNI jang boleh mendjadi Kuasa direksi atau Pem ­bantu Kuasa Direksi (pasal 8).

27. Pendirian Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Suma- tera-Selatan I („P.P.N.-Sumsel I”), p.p. 1961 no. 152. 801)

L.N. 1961 no. 170, TLN 2233L.N. 1961 no. 171, TLN 2234*L.N. 1961 no. 172, TLN 2235L.N. 1961 no. 173, TLN 2236.’L.N. 1961 no. 174, TLN 2237L.N. 1961 no. 175, TLN 2238L.N. 1961 no. 176, TLN 176. TLN 2239L.N. 1961 no. 177, TLN 2240

791)705)706)707)798)799)

800) 801)

316

Page 342: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

28.

29.

Direksi harus WNI Kuasa Direksi dan Pembantu Kuasa(pasal 8). Vp(,al.a K esatuan Suma-P en d irian P e ru sah aan Perkebunan N 8 ig g l n0 153 soa) te ra -S e la tan I I („P.P.N.-Sum sel I I )» p ire^si harus W NI K uasa D ireksi dan Pem bantu Kuasa(pasal 8). Mpgara Kesatuan Dja-P en d irian P e ru sa h aa n P erkebunan 154. soa)w a-B arat I („P .P .N .-D jabar I ”)- p F ‘ -pireksi harus WNIK u asa D ireksi d an Pem bantu Kuasa(pasal 8). Mpgara K esatuan Dja-

30- P e n d ir ia n P e ru sah aan P erkebunan ^55 soi)w a-B ara t I I („P .P .-D jabar I I ”)- p P - pireksi ham s WNIK uasa D ireksi dan Pem bantu Kuasa(pasal 8 ). Negara K e s a t u a n Dja-

31. P e n d ir ia n P e ru sah aan P e r k e b u n a n 19 6 I no. 15.6. 'w a-B arat I I I („P.P .N .-D jabar II I”). D ireksi harus winK uasa D ireksi d a n Pembantu Kuas(Pasal 8). N egara K esatuan W *

32. P e n d ir ia n P eru sah aan Perkebuna ±961 no. 1 ,w a-B ara t IV („P .P .N ,D jabar IV”), dan Pem bantuH an ja W N I dapat m endjadi Kuasa ^ Dja.K uasa D ireksi (pasal 8). jyjegara So7\P e n d irian P eru sah aan P erkf ^ np p 196 1 no. w N j.w a-B ara t V („P.P.N .-D jabar V >, r - Direksi * arl Dja.K uasa D ireksi dan Pembantu Ku j^egara ^ eSf 5g sos)P e n d ir ia n P erusahaan P e r k e b u n a n - 96! no. pem-w a - B a r a t V I ( ..P .P .N .-D ja b a r V I’ ), p l r e l® d anH an ja W N I jang d ap at m endja « .--atuan D3a'b a n tu K uasa D ireksi (pasal oj. ^ egara R l 6o. 80°)

35. P en d irian Perusahaan Perkebuna^ ^ 196 I no.w a-Tangah I (P.P.N.-Djateng 1 >’

802) L .N . 1961 n o . 178, T L N 2241.803) L .N . L .N . 1961 n o . 179, T L N 2 ^ -2243-804) L .N . 1961 no . 1961 no. 180, T L N 2805) L .N . 1961 n o . 181, T L N 2244.800) L .N . 1961 n o . 182, T L N 2245,807) L .N . 1961 n o . 183, T L N 2246 .808) L .N . 1961 n o . 184, T L N 2247. Q-1780») L .N . 1961 n o . 185. T L N 2248. w

33.

34.

Page 343: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

Hanja WNI jang dapat mendjadi Kuasa Direksi d an P e m ­bantu Kuasa Direksi (pasal 8).

36. Pendirian Perusahaan Perkebunan Negara K esatuan D ia wa-Tengah II (,.P.P.N,Djateng II"), p .p lo e i no “ l • » )Hanja WNI jang dapat mendjadi Kuasa Direksi dan Pern-bantu Kuasa Direksi (pasal 8).

37. Pendirian Perusahaan Perkebunan Negara K esa tin n n in wa-Tengah III („P.P.N,Djateng III”), P.P. 1961 no 162Hanja WNI jang dapat mendjadi Kuasa Direksi d an Ppm bantu Kuasa Direksi (pasal 8).

38. Pendirian Perusahaan Perkebunan Negara K esati,n«wa-Tengah IV („P.P.N,Djateng IV”). P .R 1961 ^ l e a a'A* Djabatan Kuasa Direksi dan Pembantu Kuasa D i r ^ . 7 ^ diakan untuk WNI (pasal 8). d ise-

39. P end irian Perusahaan Perkebunan N e-ara Kesat,,* r.-wa-Tengah V <.,P.P.N,Djateng V ) , p .p " ” 3 D^ ‘D jabatan Kuasa Direksi dan Pembantudiakan untuk WNI (pasal 8). D ireksi d ise-Pendirian Perusahaan Perkebunan Nesat-a wa-Tngah I (..P.P.N.-Djatim I”), p .p lo f i n0 l ^ «an D Ja-Hanja WNI jang dapat mendjadi Kuasa D il i ! ' bantu Kuasa Direksi (pasal 8). D neksi dan P e m .Pendirian Perusahaan Perkebunan Negara I ' wa-Timur II („P.P.N.-Djatim I I”) P P K e sa tu a n £>ja -Hanja WNI jang dapat m endjadi K u a « n- ^ 8lG> bantu Kuasa Direksi (pasal 8). D ireksi d a n p e m _

42. Pendirian Perusahaan Perkebunan Neear* rrwa-Timur III („P.P.N.-Djatim I I I”) P P gl q * K esatuan D ja ,Hanja WNI jang dapat m endjadi K uasa t u - T - ^ 8 l°> bantu Kuasa Direksi (pasal ay D u €ksi ^

S10) L-.N. 1961 no. 186, TLN 2249,811) L.N.. 1961 no. 187, TLN 2250812) L.N. 1961 no. 188. TLN 2251813) L.N. 1961 no. 189, TLN 2252814) L.N. 1961 no. 190, TLN 2253sis) l .N. 1961 no. 191 TLN 22Sd816) L.N. 1961 no. 200’, TLN 2255

318

40.

41

Page 344: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

44

45.

Negara Kesatuan Dja-43. Pendirian Perusahaan Perkebunan 1 s ggi no 16g 817)

w a-T im u r IV („P .P .N .-D jatim TV ), • ■ D ireksi d an Pem -I ia n ja W N I ja n g d a p a t m en d jad i K u »b a n t u K u a s a D ire k s i (p a sa l 8). ^ g a v a K e s a tu a n D ja-

' ' P e n d i r i a n P e r u s a h a a n P e r k e b u n a n . i s t ^ 818)w a - T im u r V ( , ,P .P .N .-D ja tim V ), • • D ire k s i d a n P em -H a n j a W N I j a n g d a p a t m e n d j a d i K ubantu K u a s a D ire k s i (p asa l 8). Kesatuan D ja-P e n d i r i a n P e r u s a h a a n Perkebunan i e 1961 no . 170 . 81{>) w a - T im u r V I ( , .P .P .N .-D ja tim V I ), • _ D ire fcsi d a n P em -H a n j a W N I j a n g d a p a t m e n d ja d i K-Udb a n t u K u a s a D ire k s i (p a sa l 8). K e s a tu a n D ja-

4 6 . P e n d i r i a n P e r u s a h a a n Perkebunan no. I ? 1- ®'0)w a - T im u r V I I ( „ P .P .N .-D ja tim V I I ” ), p r Di‘re k s i d a n P en i- I l a n j a W N I j a n g d a p a t m e n d ja d i Kuasabantu Kuasa D ireksi (pasal 8). ^ ara K esa tuan Dja-

4 7 . P e n d i r i a n P e r u s a h a a n p p 196w a - T im u r V I I I ( ,,P .P -N .-D ja i P em -1.72. 821) K u asa D ir e k s i danH a n j a W N I j a n g d a p a t m e n d ja d i ivb a n t u K u a s a D ire k s i (p asa l 8). V p g a ra K e s a tu a nP e n d i r i a n P e r u s a h a a n P e r k e b u n a n 1961 n 0 , pevn-w a - T im u r IX („ P .P .N .-D ja tim IX >, D ire k s i d a nH a n j a W N I j a n g d a p a t m e n d ja d i .b a n t u K u a s a D ire k s i (p asa l 8). N e g a ra KeSf S sas)P e n d i r i a n P e r u s a h a a n P e r k e b u n a n g l nQ. 1 •w a - T im u r X („ P .P .N .-D ja tim X ),* '-* '• D ire k s i h a r u s K u a s a D ir e k s i d a n P e m b a n tu u p e .

( p a s a l 8). K 6Sa5 0 . P e n d i r i a n P e r u s a i ia a n s*eritieb*m8& ®24)

r i n t i s ( „ P .P .N . P e r in t i s ” ), P P 1901 n

81T) L .N . 1961 n o . 1 9 3 , T L N 2 2 5 6 .s i s ) l .N . 1961 n o . 194 , T L N 2 257 .8 i» ) L .N . 1 9 6 1 n o . 192 , T L N 2258 .820 ) l . N . 1961 n o . 196 , T L N 2 259 .821) L .N . 1 9 6 1 n o . 197 , T L N 2260 .8 2 2 ) l . N . 1961 n o . 1 9 8 , T L N 2 261 . Q823) l .N . 19 6 1 n o . 199 , T L N 2 262 . 3 1

48.

49.

Page 345: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

70. Pendirian P eru sah aan N eg ara F a rm asi d an A la t Ke- sehatan „B hineka K ina F a rm a ” , P .P : 1961 n o . 106 844) H an ja W N I jan g d ap a t m endjadi an g g o ta D ire k s i fp a sal 9).

71. P e n d ir ia n B adan P im p inan Um um P e ru s a h a a n 2 T am - fe,ang B atu B a ra N e g a ra , P .P . 1961 n o . 86 845)H anja W N I ja n g d ap a t m endjadi an g g o ta D ire k s i (p a ­sal 9.)

72 P e n d ir ia n B adan P im pinan Um um P e ru s a h a a n 8 T a m ­bang T im ah N eg ara , P .P . 1961 n o . 87. 848)A n g g o ta D ireksi a d a la h W N I (p a s a l 9).

70 . P e n d ir ia n P eru sah aan N eg ara „Sedjati B hakti”, P P . 1961 no. 90 847)A n g g o ta D ireksi a d a la h W N I (p a s a l 9).

-7a P p n d ir ia n P e r u s a h a a n N e g a ra T am bang B a tu b a ra „Bu- k i t A sa m ” , 'P - P - 1961 no. 93 848)A n g g o ta D ire k s i a d a la h WNI (p a sa l 9)..

75 P end irian B adan M uatan Indonesia, P .P . 1 9 6 1 n o .Q A 8 4 0 \

A n g g o ta D ire k s i a d a la h WNI (p a sa l 9).76. P e n d ir ia n P e r u s a h a a n ^ N egara T am bang T im a h

AnSota Direksi adalah WNI (pasal 9 ajat 1).

pP| r S 6 f n o n 97N. T a T am bang T t a a hA n g g o ta D ire k s i a d a la h WNI (p asa l 9 ajat 1).

« £ «!irian Badan Pimpinan Umum Industri A lat P«78. -Pendl" S « n P P. 1961 no. 98. 852) A la t P e ’

^ n S DTreksi adalah W N I (pasal 9).Anggo R adan Pim pinan Umum „Pen£rh„u 79- P en d m an B adan n o i P 853) ’ e n g h u b u n g

A n g g o ta P im p in a n U m u m a d a la h W N I (p a s a l 9 ) .

no. 106.' r xi t961 no. HU.

S i 1961 no. HI- 848) L.N. 1961 ^847) tafeU no. Wl.849> V 'S ' 1 9 6 1 no. 1 2 0 , Bdgk. kotcnljmn jang serupa unh,L- u BB0) ' ra Tam bang Tim ah „ticlilung . 1.1*. 1961 no. 95 , L N iq ?

LN { £ 1961 "O' >19'

% k !8! s S:322

Page 346: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

83.

84.

P.P.

pD vhubuns,^^ UdRi ci80. Pendirian Perusahaan N e g a r a l e i a 1Q2> 854)„Garu'd,a Indonesian Airways” P-P- jA nggota Direksi adalah W NI (pasa ' &k dan Gas

81. Pendirian Badan Pimpinan UmumBum i, P.P. 1961 no. 103 855) ,A nggota Direksi adalah WNI (pas buhatl

82. Pendirian Badan Pimpinan Umum1961 no. 104. 880) -I q-iA nggota D ireksi adalah W NI (pasa ^ p 1061

Pendirian Badan Pimpinan Umum ^ ari no. 105. 8B7) ,A nggota D ireksi adalah W NI (pasa ^ p erkapalainPendirian Perusahaan Negara Surabaja”, P.P. 1961 no. 109. 8S8)A nggota Direksi adalah W NI (pasal . aJl ^ ir dan

85. Pendirian Perusahaan N e g a r a > ,Aw®D ok Sem arang”, P P. 1961 no- j ^ al 9). #A n ggota D ireksi adalah W NI (p ^ g ^ u ta n Air

86. Pendirian Perusahaan N egaradjaja”, P .P. 1961 no. (paSal 9)- ^ d j u n gA n ggota D ireksi adalah WN kaptd Ta

87. P en d ir ia n Perusahaan N egara „P riok ”, P .P. 1961 no. 114. ) } 9) - T. aprab I”,A n ggota D ireksi adalah WN p eiabuhan Da *

88. P en d ir ia n Perusahaan N egara ,»P.P . no. 115. 802) w N I (pasal 9)- rah H”>A n ggota D ireksi adalah W p elabuhan

89. Pendirian Perusal\&«U\ N eSalP . P . 1 9 6 1 n o - 1 1 6 . ,,0B) (D !ls n lA n g g o t a I D i r e l t s i a d a l a h W IN

8B*) L .N . 1961 n o . 126.856) l .N . 1961 n o . 127.806) l . N . 1961 n o . 128.857) l .N . 1961 n o . 129.858) l .N . 1961 n o . 133.859) l .N . 1961 n o . 136.860) l . N . 1961 n o . 137.8 6 1) l . N . 1961 n o . 138.802) l . N . 1961 n o . 139.883) l .N . 1961 n o . 140. . 323 .

Page 347: Hukum perdata internasional indonesia.pdf

III”^P p niQfii1Usa^aan Negara „Pelabuhain Daerah , r-P. 1961 no. 117. sot,Anggota Direksi adalah WNI (pasal 9 ).

L xv”dp p ni Q erusahaan Negara „PeIabuhan D a e ra h y , r.p. 1961 no. 118. 80v)A n crom fo • ■. , - _____

92

93

y , j- r. iyoi no. 118. 80v)Anggota Direksi adalah WNI (pasal 9).Pendinan P e r u