of 76/76
HUBUNGAN PERILAKU PENGGUNAAN LENSA KONTAK TERHADAP KEJADIAN MATA MERAH PADA PELAJAR SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI DI KECAMATAN TANJUNG KARANG PUSAT (Skripsi) Oleh SHAFA INAYATULLAH M PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2019

HUBUNGAN PERILAKU PENGGUNAAN LENSA KONTAK …digilib.unila.ac.id/57795/3/SKRIPSI TANPA BAB PEMBAHASAN.pdf · 2019-07-17 · adalah neovaskularisasi kornea, keratitis, konjungtivitis

  • View
    43

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of HUBUNGAN PERILAKU PENGGUNAAN LENSA KONTAK …digilib.unila.ac.id/57795/3/SKRIPSI TANPA BAB...

  • HUBUNGAN PERILAKU PENGGUNAAN LENSA KONTAK TERHADAP

    KEJADIAN MATA MERAH PADA PELAJAR SEKOLAH MENENGAH

    ATAS NEGERI DI KECAMATAN TANJUNG KARANG PUSAT

    (Skripsi)

    Oleh

    SHAFA INAYATULLAH M

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

    FAKULTAS KEDOKTERAN

    UNIVERSITAS LAMPUNG

    2019

  • ABSTRACT

    RELATIONSHIP OF CONTACT LENSES WEARING BEHAVIOR TO

    THE OCCURENCE OF RED EYE ON THE STUDENTS OF PUBLIC

    SENIOR HIGH SCHOOL IN TANJUNG KARANG PUSAT SUBDISTRICT

    By

    Shafa Inayatullah Machmud

    Background : Contact lenses wearing can cause negative effect, especially for

    wearer who did not follow the usage instructions. Well-usage behaviour of

    contact lenses wearing will reduce the risk of the complications occurrence. This

    behaviour can be seen from the knowledge, attitudes, and lenses care doing. The

    most frequent negative effects from contact lenses wearing are corneal

    neovascularization, keratitis, giant papillary conjunctivitis, and dry eyes, in which

    red eye symptoms are found. This study aims to determine the relationship of

    contact lens usage behaviour to red eye incident on the student of Public Senior

    High School in Tanjung Karang Pusat Subdistrict.

    Method : The design of this research was analytical study with a cross-sectional

    approach. The population of this study were all students of Public Senior High

    School in Tanjung Karang Pusat Subdistrict who wear contact lenses, consists of

    37 respondents, with total sampling technique. The data of this research was

    collected from previous researchers by using questionnaire which had been tested

    for its validity and reliability. Data was analyzed using chi square univariate and

    bivariate analysis.

    Results : The results showed that contact lens users in Public High Schools in

    Tanjung Karang Pusat Subdistrict had behaviors (54.1%), attitudes (64.9%), and

    actions (51.4%) using good, but had a poor knowledge (54,1%) of contact lens

    use. There is a significant relationship between behavior and the incidence of red

    eye (p-value = 0.001), while for sub behavioral variables it is known that there is a

    relationship between knowledge (p-value = 0.036), attitude (p-value = 0.030),

    attitude (p value = 0.030), and action (p value = 0,000), to the red eye incidence.

    Conclusions : There was a relationship of contact lenses wearing behaviour to the

    occurence of red eyes on the student of Public Senior High School in Tanjung

    Karang Pusat Subdistrict.

    Keywords : behaviour, contact lenses, red eyes

  • ABSTRAK

    HUBUNGAN PERILAKU PENGGUNAAN LENSA KONTAK TERHADAP

    KEJADIAN MATA MERAH PADA PELAJAR SEKOLAH MENENGAH

    ATAS NEGERI DI KECAMATAN TANJUNG KARANG PUSAT

    Oleh

    Shafa Inayatullah Machmud

    Latar Belakang: Penggunaan lensa kontak dapat menimbulkan dampak negatif,

    terlebih apabila tidak mematuhi aturan penggunaan. Perilaku penggunaan lensa

    kontak yang baik akan mengurangi resiko komplikasi akibat penggunaan lensa

    kontak, bisa dilihat dari pengetahuan, sikap, dan tindakan perawatan lensa.

    Dampak negatif yang paling sering terjadi akibat dari penggunaan lensa kontak

    adalah neovaskularisasi kornea, keratitis, konjungtivitis papiler raksasa, dan mata

    kering. Pada penyakit-penyakit tersebut didapatkan gejala mata merah. Penelitian

    ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku penggunaan lensa kontak

    terhadap kejadian mata merah pada pelajar SMA Negeri di Kecamatan Tanjung

    Karang Pusat.

    Metode: Desain penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross-sectional.

    Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pelajar SMA Negeri di Kecamatan

    Tanjung Karang Pusat yang menggunakan lensa kontak dengan jumalah sampel

    37 responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling.

    Alat pengumpulan data berupa kuesioner dari peneliti sebelumnya yang telah di

    uji validitas dan reliabilitasnya. Analisa data menggunakan analisa univariat dan

    bivariat: Chi-Square.

    Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengguna lensa kontak di SMA

    Negeri di Kecamatan Tanjung Karang Pusat memiliki perilaku (54,1%), sikap

    (64,9%), dan tindakan (51,4%) penggunaan lensa kontak yang baik, namun

    memiliki pengetahuan (54,1%) penggunaan lensa kontak yang kurang baik.

    Terdapat hubungan siginifikan antara perilaku dengan kejadian mata merah (p-

    value = 0,001), sedangkan untuk sub variabel perilaku diketahui bahwa ada

    hubungan antara pengetahuan (p-value=0,036 ), sikap (p-value=0,030 ), dan

    tindakan (p-value=0,000) penggunaan lensa kontak dengan kejadian mata merah.

    Kesimpulan: Terdapat hubungan antara perilaku penggunaan lensa kontak

    terhadap kejadian mata merah pada pelajar SMA Negeri di Kecamatan Tanjung

    Karang Pusat.

    Kata Kunci: lensa kontak, mata merah, perilaku.

  • HUBUNGAN PERILAKU PENGGUNAAN LENSA KONTAKTERHADAP

    KEJADIAN MATA MERAHPADA PELAJAR SEKOLAH MENENGAH

    ATAS NEGERI DI KECAMATAN TANJUNG KARANG PUSAT

    Oleh

    SHAFA INAYATULLAH M

    Skripsi

    Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar

    SARJANA KEDOKTERAN

    Pada

    Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

    FAKULTAS KEDOKTERAN

    UNIVERSITAS LAMPUNG

    2019

  • RIWAYAT HIDUP

    Penulis dilahirkan di Bandar Lampung, Lampung pada tanggal 26 September

    1997, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, dari Bapak Dr. Hi. Mahmudin

    Bunyamin Lc. MA dan Ibu Hj. Yuniarti Sukurmin ,S.Pd. Adik penulis yaitu

    Alfainul Ezzah dan Moch. Azka Athaullah.

    Penulis menyelesaikan pendidikan di Taman Kanak-kanak (TK) Al-Muttaqin

    Tangerang Selatan pada tahun 2003, Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SDN 2

    Rawa Laut pada tahun 2009, Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP Negeri 1

    Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2012, dan Sekolah Menengah Atas

    (SMA) di SMAN 2 Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2015.

    Pada tahun 2015, penulis terdaftar sebagai mahasiswa pada Fakultas Kedokteran

    Universitas Lampung. Pada masa perkuliahan penulis mengikuti lembaga

    kemahasiswaan yaitu Forum Studi Islam Ibnu Sina (FSIIS) Fakultas Kedokteran

    Universitas Lampung, serta menyelesaikan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa

    Pandan Sari, Kabupaten Pringsewu pada tahun 2018.

  • PERSEMBAHAN

    Segala puji kehadirat Allah SWT yang telah memberika Karunia, Rahmat dan

    Ampunan-Nya kepada penulis. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan

    kepada Rasulullah SAW beserta keluarga dan para sahabat beliau

    ”WE KNOW WHAT WE WANT, BUT ALLAH KNOWS WHAT WE NEED”

    Dengan penuh syukur kupersembahkan karya sederhana ini

    teruntuk

    “Mamah, babah, dan adik-adikku yang tersayang”

    Yang selalu memberi dukungan, nasihat, dan saran dalam setiap proses

    pembelajaran hidup yang membuat diriku menjadi lebih baik.

  • SANWACANA

    Puji dan syukur Penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan

    hidayah-Nya skripsi ini dapat diselesaikan. Sholawat serta salam semoga selalu

    tercurahkan kepada Nabi Muhammad S.A.W.

    Skripsi dengan judul “Hubungan Perilaku Penggunaan Lensa Kontak terhadap

    Kejadian Mata Merah pada Pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri di

    Kecamatan Tanjung Karang Pusat” adalah salah satu syarat untuk memperoleh

    gelar sarjana Kedokteran di Universitas Lampung.

    Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:

    1. Bapak Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P., selaku Rektor Universitas

    Lampung.

    2. Dr. Dyah Wulan Sumekar RW, S.KM, M.Kes., selaku Dekan Fakultas

    Kedokteran Universitas Lampung.

    3. Dr. dr. Muhartono, S.Ked., M.Kes, Sp.PA., selaku pembimbing akademik

    saya.

    4. dr. M. Yusran, S.Ked, M.Sc, Sp.M (K)., selaku Pembimbing Utama yang

    selalu bersedia menyempatkan waktu untuk membimbing, mengarahkan,

    memberi masukan dan nasihat selama proses penyelesaian skripsi serta ilmu

    yang begitu bermanfaat selama penelitian skripsi ini.

  • 5. dr. Merry Indah Sari, S.Ked, M. Med. Ed., selaku Pembimbing Kedua atas

    kesabaran dan kesediaan memberikan bimbingan, ilmu, saran, dan nasihat

    dalam proses penyelesaian skripsi ini.

    6. dr. Rani Himayani, S.Ked, Sp.M., selaku Penguji Utama untuk masukan dan

    saran-saran yang telah diberikan pada proses perkuliahan dan penyelesaian

    skripsi ini.

    7. Terimakasih kepada SMAN 2 & SMAN 3 Bandar Lampung yang telah

    memberikan izin untuk melakukan penelitian.

    8. Terimakasih kepada para responden yang telah bersedia untuk terlibat dalam

    penelitian ini.

    9. Terimakasih kepada seluruh staf dosen dan civitas akademika Fakultas

    Kedokteran Universitas Lampung atas ilmu dan waktu yang telah diberikan

    selama perkuliahan.

    10. Terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Babah, Mamah, serta adik-

    adikku Ezzah dan Azka yang selama ini telah memberikan doa, segala kasih

    sayang, perhatian, dukungan, motivasi dan nasihat serta setiap doa yang

    telah dipanjatkan selama ini. Terima kasih atas perjuangan kalian selama ini

    selalu memberikan yang terbaik untukku. Semoga Allah SWT selalu

    memberikan kesehatan dan lindungan dan menjadikan ladang pahala.

    11. Seluruh Keluarga Besar yang telah membantu dalam berbagai hal, doa,

    dukungan dan motivasi.

    12. Terima kasih kepada teman seperbimbingan, Raisah, Asy, Gerry, dan Bagas

    atas perjalanan dan pengalaman menyelesaikan skripsi selama ini.

    13. Terimakasih kepada sahabatku A6in aja, teman seperjuanganku, Syfa,

  • Aliezsa, Fadila, Maya, Icha ,Pita, Mega, Puji.

    14. Terimakasih kepada teman-teman seperjuangan yang selalu membantu dan

    memberi semangat, Bonga, Ayu, Divian, Yati, Nurul, Mercon, Meiwa

    15. Terimakasih kepada kak Cut Iklima, kak Arninda, dan kak Fahma yang

    dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan penulis saat proses

    pengerjaan skripsi

    16. Keluarga Besar FK Unila 2015 (Endom15ium) yang tidak bisa disebutkan

    satu persatu atas kekompakan, canda, tawa, proses pembelajaran yang telah

    memberikan warna serta makna tersendiri. Semoga kebersamaan dan

    kekompakkan selalu terjalin baik sekarang maupun ke depan nanti.

    17. Kakak-kakak dan adik-adik tingkat saya (angkatan 2002-2018) yang sudah

    memberikan semangat kebersamaan dalam satu kedokteran.

    Penulis menyadari skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan dan jauh dari

    kesempurnaan. Namun, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat

    dan pengetahuan baru kepada setiap orang yang membacanya. Semoga segala

    perhatian, kebaikan dan keikhlasan yang diberikan selama ini mendapat balasan

    dari Allah SWT. Aamiin.

    Bandar Lampung, 23 April 2019

    Penulis,

    Shafa Inayatullah Machmud

    1518011123

    .

  • DAFTAR ISI

    Halaman

    DAFTAR ISI ........................................................................................................... i

    DAFTAR TABEL ................................................................................................ iii DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ iv

    BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1 1.1 Latar belakang ............................................................................................. 1

    1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 4 1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................................... 4

    1.3.1. Tujuan Umum ................................................................................... 4 1.3.2. Tujuan Khusus .................................................................................. 4

    1.4 Manfaat penelitian ....................................................................................... 5

    1.4.1 Bagi Peneliti ...................................................................................... 5

    1.4.2 Bagi peneliti lain ............................................................................... 5 1.4.3 Bagi masyarakat ................................................................................ 5

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 6 2.1 Lensa Kontak ............................................................................................... 6

    2.1.1 Definisi .............................................................................................. 6

    2.1.2 Kegunaan Lensa Kontak ................................................................... 7

    2.1.3 Jenis Lensa Kontak ........................................................................... 7 2.1.4 Indikasi dan Kontra Indikasi Penggunaan Lensa Kontak ............... 11 2.1.5 Cara Penggunaan Lensa Kontak ..................................................... 12

    2.1.6 Perawatan Lensa Kontak ................................................................. 13 2.1.7 Faktor Resiko Terkait Komplikasi Penggunaan Lensa Kontak ...... 15 2.1.8 Komplikasi Penggunaan Lensa Kontak .......................................... 16

    2.2 Mata Merah ............................................................................................... 17

    2.2.1 Anatomi Mata.................................................................................. 17 2.2.2 Definisi Mata Merah ....................................................................... 23 2.2.3 Etiologi ............................................................................................ 24 2.2.4 Klasifikasi Mata Merah ................................................................... 25 2.2.5 Pendekatan Diagnosis Mata Merah ................................................. 31

    2.3 Konsep Perilaku ........................................................................................ 32 2.3.1 Pengertian Perilaku ......................................................................... 32 2.3.2 Perilaku Sehat.................................................................................. 32

    2.3.3 Domain Perilaku.............................................................................. 33 2.4 Kerangka Teori .......................................................................................... 41

  • ii

    2.5 Kerangka Konsep ...................................................................................... 42

    2.6 Hipotesis .................................................................................................... 42

    BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 43 3.1 Rancangan Penelitian ............................................................................... 43 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ................................................................... 43

    3.3 Populasi dan Sampel ................................................................................. 43 3.3.1 Populasi ........................................................................................... 43 3.3.2 Sampel ............................................................................................. 43

    3.4 Kriteria Penelitian ..................................................................................... 44 3.4.1 Kriteria Inkulusi .............................................................................. 44

    3.4.2 Kriteria Eksklusi.............................................................................. 44 3.5 Identifikasi Variabel .................................................................................. 44

    3.5.1 Variabel Bebas ................................................................................ 45

    3.5.2 Variabel Terikat .............................................................................. 45 3.6 Definisi Operasional Variabel dan Skala Pengukuran .............................. 45 3.7 Cara Pengumpulan Data ............................................................................ 46

    3.7.1 Alat .................................................................................................. 46

    3.7.2 Uji Validitas dan Reabilitas ............................................................ 47 3.8 Prosedur dan Alur Penelitian ..................................................................... 48

    3.8.1 Prosedur Penelitian.......................................................................... 48 3.8.2 Alur Penelitian ................................................................................ 49

    3.9 Pengolahan dan Analisis Data ................................................................... 49

    3.9.1 Jenis Data ........................................................................................ 49

    3.9.2 Pengolahan Data.............................................................................. 50 3.9.3 Analisis Data ................................................................................... 50

    3.10 Etika Penelitian ......................................................................................... 51

    BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................ 53 4.1 Hasil Penelitian ......................................................................................... 53

    4.1.1 Karakteristik Responden ................................................................. 53

    4.1.2 Analisis Univariat............................................................................ 55 4.1.3 Analisis Bivariat .............................................................................. 57 4.1.4 Distribusi Hasil Penilaian Jawaban Kuesioner ................................ 61

    4.2 Pembahasan ............................................................................................... 64 4.2.1 Analisis Univariat............................................................................ 64 4.2.2 Analisis Bivariat .............................................................................. 69

    4.3 Keterbatasan Penelitian ............................................................................. 75

    BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 76 5.1 Kesimpulan ................................................................................................ 76 5.2 Saran .......................................................................................................... 77

    5.2.1 Bagi Pengguna Lensa Kontak ......................................................... 77

    5.2.2. Bagi Sekolah ................................................................................... 77 5.2.3 Bagi Peneliti Lain ............................................................................ 77

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN

  • DAFTAR TABEL

    Tabel Halaman

    1. Komplikasi Penggunaan Lensa Kontak (Alipour, 2017). ............................... 17

    2. Diagnosis Banding Mata Merah (NICE, 2012)............................................... 32

    3. Definisi Operasional (Iklima, 2015) ............................................................... 45

    4. Distribusi Karakteristik Responden ................................................................ 54

    5. Distribusi Perilaku Penggunaan Lensa Kontak ............................................... 55

    6. Distribusi Pengetahuan Penggunaan Lensa Kontak ........................................ 55

    7. Distribusi Sikap Penggunaan Lensa Kontak ................................................... 56

    8. Distribusi Tindakan Penggunaan Lensa Kontak ............................................. 56

    9. Distribusi Kejadian Mata Merah ..................................................................... 57

    10. Hubungan Perilaku Penggunaan Lensa Kontak terhadap Kejadian Mata Merah .............................................................................................................. 58

    11. Hubungan Pengetahuan Penggunaan Lensa Kontak Terhadap Kejadian Mata Merah .............................................................................................................. 59

    12. Hubungan sikap penggunaan lensa kontak terhadap kejadian mata merah .. 60

    13. Hubungan tindakan penggunaan lensa kontak terhadap Kejadian mata Merah .............................................................................................................. 61

    14. Distribusi Hasil Penilaian Jawaban Kuesioner ............................................... 62

  • DAFTAR GAMBAR

    Gambar Halaman

    1. Lensa Kontak (Eye HK, 2006) .......................................................................... 8

    2. Anatomi Mata (Marieb & Hoehn, 2015). ....................................................... 18

    3. Kerangka Teori................................................................................................ 41

    4. Kerangka Konsep ............................................................................................ 42

    5. Alur Penelitian ................................................................................................ 49

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar belakang

    Lensa kontak merupakan hasil perkembangan teknologi di bidang oftalmologi

    berupa plastik tipis dan bening yang digunakan pada mata untuk memperbaiki

    penglihatan (Boyd, 2016). Leonardo Da Vinci merupakan pengemuka

    pertama ide pembuatan lensa kontak pada tahun 1508. Saat ini perkembangan

    dan penggunaan lensa kontak sudah semakin pesat dan tersedia beragam jenis

    lensa kontak (Heiting, 2017).

    Alasan orang lebih memilih untuk menggunakan lensa kontak daripada

    kacamata berdasarkan American Optometric Association adalah dikarenakan

    lensa kontak dapat mengikuti pergerakan bola mata dan lapang pandang tidak

    terganggu, sehingga kualitas penglihatan sangat baik dan tidak terganggu.

    Penggunaan lensa kontak juga dapat memperindah penampilan, lebih

    nyaman, lebih terang, tidak berkabut, dan tidak menghalangi aktivitas.

    Seiring dengan perkembangan teknologi, bahan baku lensa kontak saat ini

    adalah silikon dan rigid gas permeable lenses. Bahan-bahan ini sangat terasa

    nyaman di mata dan memungkinkan asupan oksigen yang dibutuhkan oleh

    kornea masuk dengan lebih maksimal (Key, 2007).

  • 2

    Pada tahun 2004, diketahui sekitar 38 juta penduduk Amerika Serikat

    merupakan pengguna lensa kontak, dan rata-rata pengguna lensa kontak di

    seluruh dunia sekitar 128 juta orang (Barr, 2005). Saat ini jumlah pengguna

    lensa kontak di dunia sudah mencapai lebih dari 140 juta orang (Cope et al,

    2015). Sekarang penggunaan lensa semakin populer dikalangan remaja.

    Menurut sebuah penelitian di Universitas India pada tahun 2009 diperoleh

    data dari semua pengguna lensa kontak, sebanyak 72,3% menggunakan lensa

    kontak untuk tujuan kosmetik dan sebanyak 67,23% menggunakan lensa

    kontak untuk mengoreksi kelainan refraksi (Quraishy& Khan, 2009).

    Penggunaan lensa kontak dapat menimbulkan dampak negatif yang harus

    diwaspadai, terlebih apabila tidak mematuhi aturan penggunaan (Dart, 2008).

    Masalah atau dampak negatif yang sering terjadi pada penggunaan lensa

    kontak tergantung dari beberapa faktor, seperti pemahaman, kepatuhan, dan

    prosedur penggunaan lensa (Ibrahim, Boase & Cree, 2009). Perilaku

    penggunaan lensa kontak yang baik akan mengurangi resiko komplikasi

    akibat penggunaan lensa kontak, bisa dilihat dari pengetahuan, sikap, dan

    tindakan perawatan lensa (Bhandari & Hung, 2012).

    Dampak negatif yang paling sering terjadi akibat dari penggunaan lensa

    kontak adalah neovaskularisasi kornea, keratitis, konjungtivitis papiler

    raksasa, mata kering, dan corneal staining. Pada penyakit-penyakit tersebut

    didapatkan gejala mata merah (Alipour, 2017). Banyak kondisi yang mungkin

    berhubungan dengan kejadian mata merah, seperti konjungtivitis, blefaritis,

    canaliculitis, cedera kornea, episkleritis, skleritis, iritis, keratitis,

  • 3

    keratokonjungtivitis, glaukoma, infeksi bakteri atau virus, atau trauma

    (Graham, 2017). Ada enam penyebab serius mata merah, yang dapat

    menyebabkan hilangnya penglihatan, yaitu glaukoma sudut tertutup akut,

    keratitis, iritis, skleritis, benda asing yang melekat, dan bahan kimia yang

    membakar mata (NICE, 2012).

    Mata merah adalah keluhan atau gejala yang sering muncul. Keluhan ini

    diakibatkan oleh terjadinya warna bola mata yang berubah dari putih menjadi

    merah (Ilyas, 2010). Mata merah dapat terjadi akibat tiga masalah seperti

    trauma mekanik, trauma kimia, dan infeksi atau peradangan (Johns, 2009).

    Pada penelitian di Universitas Syiah Kuala, dari 193 responden yang

    menggunakan lensa kontak, 126 diantaranya mengalami mata merah (65%)

    (Idayati& Mutia, 2016).

    Pada tahun 2016, ada sekitar 3,6 juta remaja berusia 12-17 tahun di Amerika

    Serikat yang memakai lensa kontak. Dari remaja yang memakai lensa kontak,

    85% melaporkan setidaknya satu perilaku yang menempatkan mereka pada

    risiko infeksi mata terkait penggunaan lensa kontak, dibandingkan dengan

    81% orang dewasa muda (Cope et al, 2017). Perilaku penggunaan lensa

    kontak yang kurang baik dapat menyebabkan infeksi mata, dimana salah satu

    gejala infeksi mata adalah terjadinya mata merah (Iklima, 2015).

    Menurut data (Riskesdas, 2013) proporsi penduduk yang mempunyai

    kacamata atau lensa kontak di perkotaan sekitar dua kali lebih banyak

    dibandingkan di perdesaan. Pusat kota Bandar Lampung adalah Kecamatan

    Tanjung Karang Pusat. Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah

  • 4

    diatas, maka peneliti tertarik untuk melihat “Hubungan Perilaku Penggunaan

    Lensa Kontak Terhadap Kejadian Mata Merah pada Pelajar SMA Negeri di

    Kecamatan Tanjung Karang Pusat”, untuk diteliti.

    1.2 Rumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang diatas didapatkan rumusan masalah sebagai

    berikut:

    Apakah terdapat hubungan antara perilaku penggunaan lensa kontak dengan

    Kejadian Mata Merah?

    1.3 Tujuan Penelitian

    Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penelitian ini yaitu

    sebagai berikut:

    1.3.1. Tujuan Umum

    Mengetahui hubungan perilaku penggunaan lensa kontak dengan

    kejadian mata merah.

    1.3.2. Tujuan Khusus

    1. Mengetahui gambaran kejadian mata merah pada pengguna lensa

    kontak pada pelajar SMA Negeri di Kecamatan Tanjung Karang

    Pusat

    2. Mengetahui hubungan pengetahuan pengguna lensa kontak

    terhadap kejadian mata merah pada pelajar SMA Negeri di

    Kecamatan Tanjung Karang Pusat

  • 5

    3. Mengetahui hubungan sikap pengguna lensa kontak terhadap

    kejadian mata merah pada pelajar SMA Negeri di Kecamatan

    Tanjung Karang Pusat

    4. Mengetahui hubungan tindakan pengguna lensa kontak terhadap

    kejadian mata merah pada pelajar SMA Negeri di Kecamatan

    Tanjung Karang Pusat

    1.4 Manfaat penelitian

    Dari penelitian yang dilakukan diharapkan hasil yang dapat bermanfaat bagi

    ilmu pengetahuan, bagi peneliti dan juga masyarakat. Adapun manfaat

    penelitian ini adalah:

    1.4.1 Bagi Peneliti

    Menjadi pengalaman yang berguna dan dapat mengembangkan

    pengetahuan peneliti mengenai hubungan perilaku penggunaan lensa

    kontak terhadap kejadian mata merah.

    1.4.2 Bagi peneliti lain

    Diharapkan dapat menjadi dasar dan juga acuan untuk penelitian

    selanjutnya.

    1.4.3 Bagi masyarakat

    Penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi mengenai dampak

    perilaku penggunaan lensa kontak yang tidak baik.

  • BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Lensa Kontak

    2.1.1 Definisi

    Lensa kontak adalah alat bantu untuk mengatasi gangguan refraksi

    yang diletakkan di permukaan kornea. Kelebihan dari lensa kontak

    adalah mudah digunakan, nyaman untuk dipakai saat beraktivitas dan

    berolahraga, memberikan lapang pandang lebih luas, dan secara

    estetik lebih baik (Chalmers et al, 2010). Lensa kontak merupakan

    suatu hasil perkembangan teknologi di bidang oftalmologi yang

    digunakan sebagai alternatif pengganti kacamata untuk mengatasi

    kelainan refraksi mata (Tiarasan & Bahri, 2013).

    Banyak orang terutama kaum wanita menggunakan lensa kontak

    bukan sekedar untuk alat bantu penglihatan tetapi juga dipakai sebagai

    alat kosmetika untuk mempercantik bagian mata dengan berbagai

    warna yang menarik (Pietersz, Sumual & Rares, 2016). Dilaporkan

    bahwa sekitar 128 juta orang memakai lensa kontak di seluruh dunia

    (Barr, 2005). Hasil survei berbasis populasi, diperkirakan 40,9 juta

    orang-orang di Amerika Serikat berusia ≥ 18 tahun memakai

    kontaklensa (16,7% orang dewasa A.S.) (Cope et al, 2015). Di Asia,

  • 7

    suatu penelitian melaporkan bahwa prevalensi penggunaan lensa

    kontak sekitar 37,8 % di antara siswa sekolah menengah Jepang

    (Zhuet al, 2017).

    2.1.2 Kegunaan Lensa Kontak

    Penggunaan lensa kontak sangat umum, dan merupakan sebuah

    industri yang menguntungkan. Lensa kontak diresepkan untuk

    manajemen kesalahan bias yang tidak bisa diatasi oleh kacamata

    seperti afakia, keratokonus, kelainan kornea, dan anisometropia tinggi.

    Selain itu, lensa kontak bisa digunakan untuk pengelolaan yang

    sederhana sebagai alternatif kacamata untuk mengoreksi kesalahan

    refraksi. Bahkan, lensa kontak bisa digunakan untuk penatalaksanaan

    mata kering pada sindrom Stevens-Johnson atau Sjogren syndrome,

    rehabilitasi post refractive surgery. Selanjutnya, penggunaan lensa

    kontak sebagai kepentingan kosmetik sangat populer saat ini (Alipour

    et al, 2017).

    2.1.3 Jenis Lensa Kontak

    Jenis dari lensa kontak dibagi dua yaitu berdasarkan bahan penyusun

    dan lama pemakaian (Flynn et al, 2013).

  • 8

    Gambar 1. Lensa Kontak (Eye HK, 2006)

    1. Berdasarkan bahan penyusun

    a. Lensa Kontak Keras

    Lensa ini terbuat dari poly methyl methacrylate (PMMA).

    Lensa ini tidak dapat ditembus oleh oksigen sehingga

    mengandalkan pemompaan air mata ke dalam celah antara

    lensa dan kornea saat berkedip untuk menyediakan oksigen

    bagi kornea (Riordan-Eva & Witcher, 2009). Kelebihan dari

    jenis lensa kontak ini adalah berbahan keras dan padat

    sehingga tidak mudah hancur atau rusak, selain itu lensa

    kontak keras tidak berpotensi untuk membiakkan kuman dan

    bakteri. Selain itu lensa kontak keras juga memiliki

    kekurangan yaitu, waktu pemakaian lebih pendek serta mudah

    copot dan tidak nyaman (Department of Health, 2010).

    Indikasi penggunaan lensa kontak keras adalah untuk

  • 9

    mengoreksi astigmatisme ireguler, seperti pada keratokonus

    (Riordan-Eva & Witcher, 2009).

    b. Rigid gas permeable (RGP)

    Lensa ini terbuat dari kombinasi bahan poly methyl

    methacrylate (PMMA) yang tidak dapat dilalui oksigen dan

    hydroxy methyl methacrylate (HEMA) yang dapat dilalui

    oksigen, sehingga menghasilkan lensa kontak keras yang dapat

    dilalui oksigen (Wahyuni & Saleh, 2007). Keunggulan lensa

    kontak RGP adalah rigiditasnya bermanfaat untuk mengoreksi

    kelainan permukaan kornea yang tidak rata. Bahan RGP yang

    rigid menyebabkan pengguna lensa kontak RGP memerlukan

    penyesuaian lebih lama dibandingkan lensa kontak lunak.

    Keunggulan lain dari lensa kontak RGP adalah bisa bertahan

    lebih lama sehingga harganya lebih murah (Wu et al, 2010).

    Selain itu lensa kontak RGP juga mudah dan nyaman dipakai

    (AOA, 2006). Walaupun lensa kontak RGP memiliki

    kekurangan, namun dengan kelebihan yang dimiliki lensa

    kontak RGP masih belum dapat digantikan oleh lensa kontak

    jenis lainnya (Wahyuni & Saleh, 2007).

    c. Lensa Kontak Lunak (Soft Lens)

    Lensa kontak lunak terbuat dari plastik lunak dan fleksibel

    yang memungkinkan oksigen untuk masuk ke kornea. Bahan

    lensa ini memungkinkan penyesuaian yang lebih mudah dan

  • 10

    kenyamanan yang lebih baik dari lensa kontak keras atau lensa

    kontak RGP (CDC, 2015).

    Kelebihan dari lensa kontak lunak adalah, nyaman dan mudah

    beradaptasi, serta waktu pemakaian lebih lama yaitu 12-16 jam

    per hari. Adapun kekurangan dari lensa kontak lunak adalah

    mudah robek karena kuku, prosedur perawatan lebih rumit dan

    lebih memungkinkan untuk kuman berkembangbiak, serta

    jangka waktu penggunaan cukup pendek sehingga perlu diganti

    setiap 12-18 bulan (Department of Health, 2010).

    2. Berdasarkan lama pemakaian

    Berdasarkan lama pemakaian, lensa kontak dibagi menjadi dua

    tipe yaitu disposable dan extended wear. Tipe disposable hanya

    digunakan untuk satu kali pemakaian. Sedangkan tipe extended

    wear dapat digunakan berulang kali sampai waktu tertentu,

    misalnya satu minggu atau satu bulan. Tipe extended wear

    dikembangkan menjadi tipe overnight continuous wear sehingga

    lensa kontak dapat dipakai sepanjang hari hingga malamtanpa

    perlu dilepas saat tidur (Flynn et al, 2013).

    Namun, lensa kontak tipe extended dan overnight continuous wear

    memiliki risiko infeksi lebih tinggi karena mikroorganisme dapat

    melekat dan berpindah ke permukaan mata. Oleh karena itu lensa

    kontak tipe extended dan overnight continuous wear hanya

    dianjurkan bagi individu dengan gangguan penglihatan derajat

  • 11

    berat yang memerlukan koreksi penglihatan sepanjang hari (Flynn

    et al, 2013).

    2.1.4 Indikasi dan Kontra Indikasi Penggunaan Lensa Kontak

    Prinsip indikasi dan kontra indikasi penggunaan lensa kontak adalah

    sebagai berikut:

    1. Indikasi penggunaan lensa kontak (Mannis et al, 2004):

    a. Indikasi optik

    Sebagian besar pengguna lensa kontak termasuk dalam

    kelompok ini. Mayoritas terbesar adalah rabun dekat dengan

    atau tanpa astigmatisme.

    b. Indikasi medis

    Pada penyakit-penyakit mata yaitu eratokonus, astigmatisma

    ireguler, anisometropia, unilateral aphakia, nistagmus, pasca

    bedah refraksi.

    c. Kosmetik

    Lensa berwarna sering digunakan pada pasien dengan bekas

    luka kornea untuk meningkatkan estetika mata. Lensa kosmetik

    juga dapat digunakan untuk mengubah warna mata.

    d. Lensa terapi

    Lensa terapi adalah lensa yang diaplikasikan khusus untuk

    pengobatan penyakit kornea.

    2. Kontraindikasi penggunaan lensa kontak (Flynn, 2013):

    a. Radang akut atau subakut pada bagian depan bola mata

  • 12

    b. Infeksi bola mata akut ataupun kronik

    c. Setiap kelainan yang mempengaruhi kelopak mata,

    konjungtiva, serta kornea.

    d. Gangguan sensasi pada kornea

    e. Glaukoma yang tidak terkontrol

    f. Tidak dapat mentoleransi pemasangan beda asing pada mata

    g. Penyakit sistemik atau alergi yang bisa kambuh karena dipicu

    oleh lensa kontak.

    2.1.5 Cara Penggunaan Lensa Kontak

    Hal utama yang harus diperhatikan saat memasang dan melepas lensa

    kontak adalah kebersihan jari tangan. Oleh sebab itu, sebelum

    menyentuh lensa kontak pengguna diharuskan mencuci tangan dengan

    sabun antiseptik yang tidak mengandung parfum atau lotion kemudian

    dikeringkan dengan linen bersih (Sitompul, 2015).

    Langkah-langkah untuk memasang, mengambil dan meletakkan lensa

    kontak di telapak tangan, kemudian membersihkan dengan

    menggosok dan membilas. Memberikan 2-3 tetes cairan kemudian

    menggosok lensa kontak menggunakan jari telunjuk secara ringan

    dengan gerakan melingkar dari dalam ke luar selama 15 detik pada

    kedua sisi. Setelah itu, meletakkan lensa kontak yang sudah dibilas

    dengan cairan garam fisiologis diujung jari telunjuk pengguna.

    Menggunakan jari tengah di tangan yang sama untuk menarik dan

    menahan kelopak mata bawah. Jari telunjuk tangan lainnya digunakan

  • 13

    untuk menarik dan menahan kelopak mata atas. Selanjutnya

    mengarahkan pandangan mata ke atas dan memasang lensa kontak di

    bagian bawah bola mata yang berwarna putih lalu melepaskan

    pegangan terhadap kelopak mata atas dan bawah .mengarahkan

    pandangan ke bawah dalam keadaan mata tertutup dan memejamkan

    mata beberapa saat, maka posisi lensa kontak akan berada di tengah

    bola mata (Sitompul, 2015).

    Untuk melepas lensa kontak, dengan cara mengarahkan pandangan

    mata ke atas, kemudian menggunakan jari tengah tangan dominan

    menarik kelopak mata ke bawah. Meletakkan jari telunjuk tangan

    yang sama di batas bawah lensa kontak dan menggeser lensa kontak

    perlahan ke bawah. Lensa kontak dapat diambil menggunakan jari

    telunjuk dan ibu jari. Jika lensa kontak sudah terlepas dari mata,

    mencuci lensa kontak dengan cara yang sama seperti saat

    memasanglensa kontak. Lensa kontak harus dilepaskan sesuai

    jenisnya. Lensa kontak dengan jenis continuous wear harus dilepas

    setidaknya satu malam dalam seminggu. Saat berenang atau berendam

    di air panas, lensa kontak harus selalu dilepas (Sitompul,2013).

    2.1.6 Perawatan Lensa Kontak

    Memilih cairan perendam, menyimpan, dan merawat kotak

    penyimpan lensa kontak dengan tepat adalah hal-hal yang penting

    dalam perawatan lensa kontak (Wu et al, 2010). Cairan perendam

    digunakan untuk membersihkan lensa kontak dari kotoran dan

  • 14

    mikroorganisme sehingga dapat menurunkan risiko infeksi. Cairan

    perendam juga menjaga lensa kontak agar tetap lembab sehingga tidak

    kering dan nyaman digunakan (Panjwani, 2010). Jenis cairan

    perendam lensa kontak bermacam-macam. Multipurpose solutions

    adalah cairan yang paling mudah digunakan dan dapat dipakai untuk

    membersihkan, membilas, dan menyimpan lensa kontak (Wu et al,

    2010).

    American Optometric Association merekomendasikan cara perawatan

    lensa sebagai berikut :

    a. Sebelum memegang lensa kontak, memastikan sudah mencuci dan

    mengeringkan tangan

    b. Membersihkan lensa kontak secara hati-hati dan teratur.

    c. Mengganti lensa kontak minimal setiap tiga bulan sekali. Setiap

    kali selesai digunakan, membersihkan tempat penyimpanan lensa

    dan membiarkan tetap terbuka dan kering selama pembersihan

    d. Untuk membersihkan dan mensterilkan lensa mata hanya

    menggunakan produk yang direkomendasikan oleh dokter.

    e. Jangan pernah menggunakan cairan pembersih mata secara

    berulang-ulang. Selalu menggunakan cairan pembersih yang baru

    untuk membersihkan lensa kontak

    f. Selalu mengikuti jadwal penggantian lensa kontak yang

    disarankan dan diresepkan oleh dokter

    g. Sebelum berenang, melepaskan lensa kontak

  • 15

    h. Melakukan pemeriksaan lensa kontak dan mata yang telah

    dijadwalkan secara rutin oleh dokter

    2.1.7 Faktor Resiko Terkait Komplikasi Penggunaan Lensa Kontak

    a. Bahan Lensa Kontak

    Terjadinya komplikasi dapat disebabkan oleh kandungan atau

    bahan yang ada dalam lensa kontak (Arimbi & Meida, 2012).

    Frekuensi komplikasi lebih besar terjadi pada penggunaan lensa

    kontak lunak dibandingkan dengan penggunaan lensa kontak RGP.

    Yang paling sering digunakan adalah lensa silikon dan lensa

    hidrogel. Lensa silikon lebih jarang menimbulkan komplikasi,

    namun lensa silikon jarang digunakan karena alasan kenyamanan

    (Beljan, 2013).

    b. Kontaminasi Lensa Kontak

    Berbagai kontaminasi di lingkungan bisa juga membentuk deposit

    lensa yang termasuk minyak, kotoran, lotion, make-up, bedak dan

    semprotan rambut, parfum, dan zat lainnya yang bisa diaplikasikan

    dengan tangan. Debu, asap, dan aerosol lain juga dapat

    berpartisipasi dalam kontaminasi lensa (Beljan, 2013).

    Kontaminasi lensa kontak juga dapat terjadi pada cairan perawatan

    lensa kontak yang terkontaminasi oleh mikroorganisme patogen

    (Yung et al, 2007).

  • 16

    c. Deformasi dan Kerusakan Lensa

    Deformasi lensa ditunjukkan peningkatan atau penurunan gerakan

    lensa pada kornea. Ini bisa menyebabkan trauma pada epitelium

    dan meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi lain akibat

    penggunaan lensa kontak (Beljan, 2013).

    d. Membersihkan Lensa Kontak

    Kondisi kebersihan sangat berperan dalam peningkatan resiko

    ketidaknyamanan mata (Zhu et al, 2017). Tren dalam penanganan

    lensa kontak adalah penggunaan multi-purpose solution. Multi-

    purpose solution harus mengandung deterjen pembersih, sarana

    desinfeksi, pengawet dan polimer atau pelunak yang membuat

    lensa kontak lebih nyaman dipakai (Beljan, 2013).

    2.1.8 Komplikasi Penggunaan Lensa Kontak

    Lensa kontak telah meningkatkan kualitas hidup tidak hanya dengan

    mengoreksi kesalahan bias tapi juga dengan menyediakan penampilan

    yang lebih baik dan sedikit pembatasan dalam aktivitas. Sayangnya,

    lensa kontak bisa menimbulkan komplikasi (Alipour et al, 2017).

    Komplikasi lensa kontak dapat disebabkan oleh iritasi mekanik jangka

    panjang terhadap struktur kelopak mata, antara lain kelenjar meibom.

    Keluhan yang dirasakan ketika terjadi gangguan pada kelenjar

    meibom adalah rasa terbakar, iritasi, kering, dan pandangan kabur

    (Beljan, 2013).

  • 17

    Bahan pengawet pada cairan perendam lensa kontak atau sabun cuci

    tangan yang tidak dibilas dengan benar dan sampai kering dapat

    bersifat toksik dan iritatif sehingga bisa memicu reaksi inflamasi.

    Reaksi inflamasi tersebut ditandai dengan mata merah yang akan

    membaik setelah pemakaian lensa kontak dan bahan kimia yang

    memicu keluhan dihentikan (Beljan, 2013).

    Tabel 1. Komplikasi Penggunaan Lensa Kontak (Alipour, 2017).

    Komplikasi Insidensi

    Neovaskularisasi Kornea 1-20%

    Keratitis Bakteri 1.2‑25.4% Konjungtivitis Papiler Raksasa 1.5‑47.5% Mata Kering 50%

    Pewarnaan Kornea 54%

    2.2 Mata Merah

    2.2.1 Anatomi Mata

    a. Anatomi Konjungtiva

    Konjungtiva merupakan membran mukosa yang transparan dan

    tipis yang membungkus permukaan posterior kelopak mata

    (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera

    (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva berbatasan dengan kulit pada

    tepi palpebra dan dengan epitel kornea pada limbus. Pada tepi

    superior dan inferior tarsus, konjungtiva terlipat ke posterior dan

    membungkus jaringan episklera menjadi konjungtiva bulbaris

    (Riordan-Eva & Witcher, 2009).

  • 18

    Konjungtiva terdiri dari tiga bagian, yaitu:

    1. Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus

    2. Konjungtiva bulbi yang menutupi sklera

    3. Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva yang

    merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan

    konjungtiva bulbi (Ilyas, 2010).

    b. Anatomi Bola Mata

    Gambar 2. Anatomi Mata (Marieb & Hoehn, 2015).

    Bola mata berbentuk bulat dan memiliki panjang maksimal 24

    mm. Pada bola di bagian depan (kornea) memiliki kelengkungan

    yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk dengan 2

    kelengkungan yang berbeda. Bola mata dibungkus oleh 3 lapis

    jaringan, yaitu:

  • 19

    1. Sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberi

    bentuk pada mata, serta merupakan bagian terluar yang

    melindungi bola mata. Bagian terdepan dari sklera disebut

    kornea yang bersifat transparan.

    2. Jaringan uvea adalah jaringan vaskular. Jaringan uvea terdiri

    dari iris, badan siliar, dan koroid. Pada iris terdapat pupil yang

    tersusun oleh 3 otot. Pada bagian belakang iris terdapat badan

    siliar yang menghasilkan cairan akuos humor.

    3. Lapis ketiga dari bola mata adalah retina yang terletak paling

    dalam dan memiliki 10 susunan lapis membran neurosensoris.

    Lensa terletak dibelakang pupil, dan memiliki pernanan

    akomodasi (Ilyas, 2010).

    c. Sklera

    Sklera merupakan bagian putih pada bola mata yang bersama-

    sama dengan kornea membungkus dan melindungi isi bola mata.

    Sklera berjalan dari papil saraf optik sampai kornea (Ilyas, 2010).

    Permukaan luar sklera anterior dibungkus oleh lapisan tipis

    jaringan elastik halus yang disebut dengan episklera. Episklera

    mengandung banyak pembuluh darah untuk memperdarahi sklera

    (Riordan-Eva & Witcher, 2009).

    d. Kornea

    Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang

    tembus cahaya dam merupakan lapisan jaringan yang menutup

  • 20

    bola mata sebelah depandan terdiri atas lima lapisan yaitu epitel,

    membran bowman, stroma, membran desemet, dan endotel (Ilyas,

    2010). Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 550 μm di

    pusatnya (terdapat variasi menurut ras); diameter horizontalnya

    sekitar 11,75 mm dan vertikalnya 10,6 mm (Riordan-Eva &

    Witcher, 2009).

    e. Uvea

    Uvea adalah lapisan vaskular di dalam bola mata dan dilindungi

    oleh kornea dan sklera yang terdiri dari tiga bagian, yaitu:

    1) Iris

    Iris merupakan perpanjangan badan siliar ke anterior dan

    mempunya ipermukaan yang relatif datar dengan celah yang

    berbentuk bulat ditengahnya, yang disebut pupil. Iris memiliki

    kemampuan untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk

    ke dalam bola mata secaraotomatis dengan mengecilkan

    (miosis) atau melebarkan (midriasis) pupil (Riordan-Eva &

    Witcher, 2009).

    2) Badan Siliar

    Badan siliar merupakan susunan otot melingkar yang

    memiliki fungsi untuk mengubah tegangan kapsul lensa

    sehingga lensa dapat fokus untuk objek dekat maupun jauh

    dalam lapang pandang (Ilyas, 2010). Badan siliaris terdiri atas

    zona anterior yang berombak (pars plicata), dan zona

    posterior yang datar (pars plana). Prosesus siliaris dan epitel

  • 21

    siliaris berfungsi sebagai pembentuk akuos humor. Muskulus

    siliaris tersusun dari gabungan serat longitudinal, sirkular, dan

    radial. Serat-serat ini memiliki fungsi untuk mengubah

    tegangan pada kapsul lensa sehingga lensa dapat memiliki

    berbagai fokus baik untuk objek berjarak dekat atau jauh

    (Riordan-Eva & Witcher, 2009).

    3) Koroid

    Koroid merupakan segmen posterior uvea yang terletak di

    antara retina dan sklera. Koroid berisi pembuluh-pembuluh

    darah dalam jumlah besar, berfungsi untuk memberi nutrisi

    pada retina bagian terluar yang terletak di bawahnya(Riordan-

    Eva & Witcher, 2009).

    f. Lensa

    Lensa merupakan suatu struktur bikonveks, avaskular, tidak

    berwarna, dan hampir transparan sempurna.Memiliki ketebalan

    sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm. Di sebelah anterior lensa

    terdapat humor aquos, di posteriornya terdapat humor vitreus

    (Riordan-Eva & Witcher, 2009).

    g. Retina

    Retina merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang

    menerima rangsangan cahaya. Lapisan-lapisan retina mulai dari

    sisi luar yang berbatas dengan koroid adalah sebagai berikut:

  • 22

    1) Epitel pigmen retina (Membran Bruch)

    2) Fotoreseptor

    Lapisan fotoreseptor terdiri dari sel batang dan sel kerucut.

    3) Membran limitan eksterna

    4) Lapisan nukleus luar

    Lapisan nukleus luar merupakan susunan nukleus sel kerucut

    dan sel batang.

    5) Lapisan pleksiform luar

    Lapisan ini merupakan lapisan aselular tempat sinapsis sel

    fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal.

    6) Lapisan nukleus dalam

    Lapisan ini terdiri dari tubuh sel bipolar, sel horizontal, dan

    sel Muller serta diperdarahi oleh arteri retina sentral.

    7) Lapisan pleksiform dalam

    Lapisan ini merupakan lapisan aselular tempat sinaps sel

    bipolar dan sel amakrin dengan sel ganglion.

    8) Lapisan sel ganglion

    Lapisan ini merupakan lapisan badan sel dari neuron kedua.

    9) Serabut saraf

    Lapisan serabut saraf berupa akson sel ganglion yang menuju

    ke arah saraf optik. Di dalam lapisan-lapisan ini terletak

    sebagian besar pembuluh darah retina.

  • 23

    10) Membran limitan interna

    Membran limitan interna berupa membran hialin antara retina

    dan humor vitreus.

    2.2.2 Definisi Mata Merah

    Mata merah adalah keluhan atau gejala yang sering muncul. Keluhan

    ini diakibatkan oleh terjadinya warna bola mata yang berubah dari

    putih menjadi merah. Pada mata yang normal, sklera akan terlihat

    berwarna putih karena sklera dapat terlihat melalui bagian konjungtiva

    dan kapsul tenon tipis dan dapat ditembus sinar. Konjungtiva yang

    heperemis terjadi karena bertambahnya asupan pembuluh darah atau

    berkurangnya pengeluaran darah. Mata yang sebelumnya berwarna

    putih akan terlihat merah bila terjadi pelebaran pembuluh darah

    konjungtiva atau episklera atau perdarahan antara konjungtiva dan

    sklera (Ilyas,2010 ).

    Mata terlihat merah akibat terjadinya pelebaran (injeksi) pembuluh

    darah konjungtiva. Pada konjungtiva terdapat pembuluh darah: arteri

    konjungtiva posterior yang memperdarahi konjungtivaa bulbi dan

    arteri siliar anterior atau episklera.

    a. Injeksi Konjungtival

    Injeksi konjungtival ini terjadi akibat melebarnya pembuluh darah

    arteri konjungtiva posterior, selain itu dapat terjadi akibat adanya

    pengaruh mekanis, alergi, atau infeksi pada jaringan konjungtiva .

    Injeksi konjungtival memiliki sifat, yaitu mudah digerakkan dari

  • 24

    dasarnya, didapatkan terutama didaerah forniks, ukuran pembuluh

    darah makin besar ke bagian perifer, berwarna merah segar, dan

    gatal (Ilyas, 2010) .

    b. Injeksi siliar

    Injeksi siliar terjadi akibat melebarnya pembuluh darah peri-

    kornea atau karena radang kornea, benda asing pada kornea,

    radang jaringan uvea, glaukoma, ataupun endoftalmitis. Injeksi

    siliar ini memiliki sifat, yaitu berwarna lebih ungu dibanding

    dengan injeksi konjungtival, pembuluh darah tidak tampak, tidak

    ikut serta dalam pergerakan konjungtiva, ukuran sangat halus

    terletak di sekitar kornea, paling padat di sekitar kornea dan

    berkurang ke arah forniks, terdapat fotofobia, sakit tekan dalam di

    sekitar kornea, serta pupil dapat mengecil dan melebar (Ilyas,

    2010).

    2.2.3 Etiologi

    Mata merah dapat terjadi akibat tiga masalah seperti trauma mekanik,

    trauma kimia, dan infeksi atau peradangan (Johns, 2009).

    Konjungtivitis adalah penyebab paling umum mata merah dan

    merupakan salah satu indikasi utama untuk antibiotik. Penyebab

    konjungtivitis dapat menular (misalnya, virus, bakteri, chlamydial)

    atau tidak menular (alergi, iritasi). Penyebab mata merah termasuk

    blefaritis, abrasi kornea, benda asing, perdarahan subkonjungtival,

  • 25

    keratitis, iritis, glaukoma, luka bakar kimia, dan skleritis (Cronau,

    Kankanala & Mauger, 2010).

    Anamnesis pasien yang teliti dan pemeriksaan mata dapat

    memberikan petunjuk tentang etiologi mata merah. Riwayat harus

    mencakup pertanyaan tentang keterlibatan mata unilateral atau

    bilateral, durasi gejala, jenis dan jumlah debit, perubahan visual,

    tingkat keparahan rasa sakit, fotofobia, perawatan sebelumnya,

    kehadiran alergi atau penyakit sistemik, dan penggunaan lensa kontak.

    Pemeriksaan mata harus termasuk kelopak mata, kantung lakrimal,

    ukuran pupil dan reaksi terhadap cahaya, keterlibatan kornea, dan pola

    serta lokasi hiperemia. Keterlibatan kelenjar getah bening preaurikular

    dan ketajaman visual juga harus dinilai (Cronau, Kankanala &

    Mauger, 2010).

    2.2.4 Klasifikasi Mata Merah

    Mata merah dibedakan menjadi mata merah dengan visus normal dan

    mata merah dengan visus terganggu.

    1. Mata merah dengan penglihatan normal

    a. Hematoma subkonjuntiva

    Hematoma subkonjungtiva bisa terjadi pada keadaan ketika

    pembuluh darah rapuh (umur, hipetensi, arteriosklerosis,

    konjungtivitis hemoragik, anemia). Hematoma subkonjungtiva

    juga dapat terjadi akibat trauma langsung ataupun tidak

    langsung (Ilyas, 2010). Gejala pada penyakit ini adalah

  • 26

    terjadinya mata merah mendadak tanpa nyeri dan kadang-

    kadang pasien merasa seperti ada yang lepas atau pecah (Olver

    & Cassidy, 2012).

    b. Pterigium

    Pterigium adalah suatu pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva

    yang bersifat degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini

    biasanya berada pada celah kelopak bagian nasal atau temporal

    konjungtiva yang meluas ke daerah kornea (Ilyas, 2010).

    c. Episkleritis

    Episkleritis merupakan reaksi radang jaringan ikat vaskular

    yang berada antara konjungtiva dan permukaan sklera (Ilyas,

    2010). Radang episklera mungkin bisa disebabakan oleh reaksi

    hipersensitivitas terhadap penyakit sistemik seperti

    tuberkulosis, reumatoid artritis, lupus, gout dan lainnya (Hung

    & Tsai, 2015). Gejala yang dirasakan pasien adalah adanya

    mata merah dengan tamda injeksi episklera difus atau

    lokalisata (Olver & Cassidy, 2012).

    d. Skleritis

    Skleritis merupakan gangguan granulomatosa kronik yang

    ditandai oleh destruksi kolagen. Kelainan ini diperantarai oleh

    proses imunologik dan disebabkan oleh penyakit sistemik.

    Namun dapat juga disebabkan oleh tuberkulosis, bakteri,

    benda asing, dan paska bedah (Hung & Tsai, 2015). Pada

  • 27

    skleritis terdapat perasaan sakit yang berat menyebar ke dahi,

    alis, dan dagu. Selain itu terdapat mata merah, berair,

    fotofobia, dengan penglihatan menurun (Ilyas, 2010).

    e. Konjungtivitis

    Konjungtivitis merupakan inflamasi pada jaringan konjungtiva

    yang bisa disebabkan oleh terjadinya invasi mikroorganisme,

    reaksi hipersensitivitas atau perubahan degeneratif pada

    konjungtiva. Pada pasien konjungtivitis biasanya terdapat

    keluhan mata merah, edema konjungtiva serta keluarnya sekret

    yang berlebih (Azari & Barney, 2013). Konjungtivitis

    dibedakan menjadi bentuk akut dan kronik. Penyebab

    terjadinya konjungtivitis bermacam-macam seperti bakteri,

    virus, klamidia, alergi toksis, dan molluscum contagiosum

    (Ilyas, 2010).

    1. Konjungtivits bakteri

    Konjungtivitis bakteri merupakan suatu konjungtivitis

    yang dapat disebabkan oleh infeksi gonokok, meningokok,

    staphylococcus aureus, streptococcus pneumoniae,

    hemophilus influenzae, dan escherichia coli. Didapatkan

    gejala sekret mukopurulen dan purulen, kemosis

    konjungtiva, edema kelopak, terdaapt papil pada

    konjungtiva dan mata merah (Ilyas, 2010).

  • 28

    2. Konjungtivitis alergi

    Konjungtiva bakteri merupakan bentuk radang konjngtiva

    akibat dari reaksi alergi terhadap noninfeksi, bisa berupa

    reaksi cepat seperti alergi biasa dan reaksi terlambat

    sesudah beberapa hari kontak seperti pada reaksi terhadap

    obat, bakteri, dan toksik. Gejala utama pada konjungtivitis

    alergi adalah radang (merah, sakit, bengkak dan panas),

    gatal, silau berulang dan menahun. Selain itu terdapat juga

    papil besar pada konjungtiva (Ilyas, 2010).

    3. Konjungtivitis Virus

    Merupakan konjungtivitis yang disebabkan oleh

    adenovirus. Virus lain yang dapat meyebabakan

    konjungtivitis virus adalah virus herpes simplex (HSV),

    virus varisella zooster, picornavirus, poxvirus, dan human

    immunideficiency virus (HIV) (Scott, 2018). Gejala pada

    konjungtivitis virus biasanya mengenai satu mata, yaitu

    mata sangat berair dan ada sedikit kotoran mata (Ilyas,

    2010).

    f. Trakoma

    Trakoma merupakan suatu bentuk konjungtivitis folikular

    kronik yang disebabkan oleh Chlamydia trachromatis.

    Penyakit ini lebih sering ditemukan pada orang muda dan

    anak-anak. Cara penularan penyakit ini dapat melalui kontak

    langsung dengan sekret penderita atau melalui alat yang

  • 29

    digunakan sehari-hari. Keluhan pasien pada penyakit ini

    adalah fotofobia, mata gatal, dan mata berair (Ilyas, 2010).

    g. Sindroma Mata Kering

    Sindroma mata kering merupakan penyakit multifaktorial

    dengan gejala berkurangnya cairan air mata dan gangguan

    pada permukaan mata yang diakibatkan oleh terjadinya

    perubahan permukaan epitel sehingga menurunkan jumlah air

    mata dan sensitifitas permukaan mata dimana hal ini dapat

    menyebabakan reaksi inflamasi (Alkozi, Colligris, & Pintor,

    2013). Faktor resiko terjadinya sindroma mata kering meliputi

    usia lanjut, kehamilan, beberapa penyakit seperti kekurangan

    vitamin A, infeksi hepatitis C, diabetes melitus, infeksi HIV,

    obat-obatan seperti antihistamin, antidepresan trisiklik,

    diuretik, antikolinergik, terapi radiasi, merokok, alkohol, dan

    lingkungan yang memiliki kelembapan rendah (Chan et al,

    2015).

    2. Mata Merah dengan Penglihatan Turun Mendadak

    a. Keratitis

    Keratitis merupakan peradangan kornea yang disebabkan oleh

    berbagai hal seperti kurangnya air mata, keracunan obat, dan

    reaksi terhadap konjungtivitis menahun. Gejala yang muncul

    berupa mata merah, rasa silau, dan merasa kelilipan. Keratitis

    dibagi kedalam beberapa jenis seperti keratitis pungtata,

  • 30

    keratitis marginal, keratitis interstisial, keratitis bakterial,

    keratitis jamur, dan keratitis virus (Ilyas, 2010).

    b. Ulkus Kornea

    Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan

    kornea akibat kematian jaringan kornea. Terbentuknya ulkus

    kornea disebabkan oleh adanya kolagenase yang dibentuk oleh

    sel epitel baru dan sel radang. Gejala yang timbul berupa nyeri,

    berair, fotofobia, blefarospasme, dan baisanya ada riwayat

    trauma pada mata (Rajesh, Patel & Sinha, 2013).

    c. Glaukoma Sudut Tertutup Akut

    Pada glaukoma sudut tertutup akut tekanan intraokular

    meningkat mendadak. Cairan mata yang berada di belakang

    iris tidak dapat mengalir melalui pupil sehingga mendorong

    iris ke depan, mencegah keluarnya cairan mata melalui sudut

    bilik mata. Keluhan yang dirasakan berupa nyeri pada mata

    yang berlangsung beberapa jam dan dapat hilang setelah tidur

    sebentar, melihat pelangi di sekitar lampu, kelopak mata

    bengkak, mata merah, iris bengkak, dan dapat disertai gejala

    gastrointestinal (Ilyas, 2010).

    d. Uveitis

    Uveitis merupakan inflamasi di uvea yaitu iris, badan siliar dan

    koroid yang dapat menimbulkan kebutaan (Miserocchi et al,

    2013). Penyakit ini dapat disebabkan oleh kelainan pada mata,

    infeksi, kelainan sistemik, trauma, dan idiopatik (Kanski &

  • 31

    Bowling, 2016). Uveitis biasanya terjadi pada dewasa muda

    dan usia pertengahan, ditandai dengan adanya riwayat sakit,

    fotofobia, penglihatan yang kabur, mata merah tanpa sekret

    dan pupil kecil atau ireguler (Nurwasis, 2006).

    e. Endoftalmitis

    Endoftalmitis merupakan peradangan yang berat pada bola

    mata, biasanya diakibatkan oleh infeksi setelah trauma atau

    bedah, atau endogen akibat sepsis (Ilyas, 2010). Gejala yang

    timbuk berupa penglihatan yang kabur, mata merah, nyeri, dan

    pembengkakan (Kernt & Kampik, 2010).

    2.2.5 Pendekatan Diagnosis Mata Merah

    Pendekatan diagnostik sistematis untuk pasien dengan mata merah

    akan membantudokter mencapai diagnosis diferensial, itu akan

    mencakup sebagian besar penyebab mata merah. Seperti halnya

    masalah diagnostik, informasi yang diperoleh dari riwayat yang

    cermat dan pemeriksaan harus mengarahkan pendekatan manajemen.

    Mata merah biasanya berasal dari dilatasi pembuluh darah. Permulaan

    dari mata merah, durasi, dan tentu saja klinis harus dicatat untuk

    membantu membedakan penyebabnya agen: trauma, bahan kimia,

    infeksi, alergi, atau kondisi sistemik (Johns, 2009).

  • 32

    Tabel 2. Diagnosis Banding Mata Merah (NICE, 2012).

    Karakteristik Konjungtivitis Perdarahan

    Sub

    konjungtival

    Keratitis Iritis Glaukoma

    Sudut

    Tertutup

    Akut

    skleritis

    Injeksi

    konjungtiva

    Menyebar,

    unilateral atau

    bilateral

    Unilateral Pola siliaris,

    unilateral

    Pola

    siliaris,

    unilateral

    Pola

    siliaris,

    unilateral

    Terlokalisasi

    , unilateral

    Kornea Jernih Jernih Berkabut,

    infiltrat

    Mungkin

    berkabut

    Berkabut,

    detail iris

    tidak jelas

    Jernih

    Pupil Tidak

    terpengaruh

    Tidak

    terpengaruh

    Tidak

    terpengaruh

    Konstriksi,

    respon

    cahaya

    lemah

    Tetap Tidak

    terpengaruh

    Penglihatan tidak

    terpengaruh

    Tidak

    terpengaruh

    Berkurang Cukup

    berkurang

    Cukup

    berkurang,

    kabur

    Mungkin

    berkurang

    Discharge Ya: purulen,

    berair

    Sedikit

    (berair)

    Ya: biasanya

    berair

    Sedikit

    (berair)

    Sedikit

    (berair)

    Sedikit

    (berair)

    Nyeri okular Ya: nyeri

    tajam atau

    menusuk

    Tidak Ya: biasanya

    berat

    Ya:

    sedang-

    berat

    Ya:

    biasanya

    berat

    (disertai

    muntah

    dan sakit

    kepala

    Sedang-berat

    Fotofobia Tidak Tidak Ya Ya terkadang terkadang

    2.3 Konsep Perilaku

    2.3.1 Pengertian Perilaku

    Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme atau makhluk

    hidup yang bersangkutan. Oleh karena itu, dari segi biologis semua

    makhluk hidup termasuk binatang dan manusia, mempunyai

    aktivitasnya masing-masing (Notoatmodjo, 2010).

    2.3.2 Perilaku Sehat

    Perilaku kesehatan (health behavior) adalah respons seseorang

    terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sehat-sakit,

    penyakit, dan faktor-faktor yang mempengaruhi sehat-sakit

    (kesehatan) seperti lingkungan, makanan, minuman dan pelayanan

  • 33

    kesehatan. Perilaku kesehatan dapat pula diartikan semua aktivitas

    atau kegiatan seseorang, baik yang dapat diamati (observable)

    maupun yang tidak dapat diamati (unobservable), yang berkaitan

    dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan (Notoadmodjo,

    2010).

    2.3.3 Domain Perilaku

    Benyamin Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan,

    membedakan adanya 3 domain perilaku, yakni kognitif (cognitive),

    afektif (affective) dan psikomotor (psychomotor). Dalam

    perkembangan selanjutnya, dikembangkan menjadi 3 tingkat domain

    perilaku sebagai berikut:

    A. Pengetahuan (knowledge)

    Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu

    seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata,

    hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu

    penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat

    dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap

    objek.Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui

    indera pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata)

    (Notoadmodjo, 2010).

    Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau

    tingkat yang berbeda-beda (Notoadmodjo, 2010). Pengguna lensa

    kontak seharusnya memiliki pengetahuan tentang perawatan lensa

  • 34

    kontak dan komplikasi yang ditimbulkan akibat penggunaan lensa

    kontak (Bhandari& Hung, 2012).

    Secara garis besar tingkatan pengetahuan dibagi menjadi:

    1) Tahu (know)

    Tahu diartikan sebagai recall (memanggil) memori yang telah

    ada sebelumnya setalah mengamati sesuatu. Untuk mengetahui

    atau mengukur bahwa orang tahu sesuatu dapat menggunakan

    pertanyaan-pertanyaan(Notoadmodjo, 2010).

    Menurut American Optometric Association, seorang pengguna

    lensa kontak harus mengetahui jenis-jenis lensa kontak,

    indikasi dan kontraindikasi penggunaan lensa kontak,

    komplikasi dari penggunaan lensa kontak, serta bagaimana

    cara penggunaan lensa kontak.

    2) Memahami (comprehension)

    Memahami artinya dapat menginterpretasikan secara benar

    tentang objek yag diketahui, bukan sekedar tahu terhadap

    objek tersebut atau sekedar dapat menyebutkan saja

    (Notoadmodjo, 2010).

    Menurut American Optometric Association, ada beberapa hal

    yang harus dipahami oleh pengguna lensa kontak, yaitu

    pengguna lensa kontak harus memahami cara pemakaian lensa

    kontak, bukan hanya sekedar menyebutkan cara-caranya,

  • 35

    seperti mencuci dan mengeringkan tangan, menggosok lensa

    kontak dengan jari dan membilas lensa sebelum direndam

    dengan larutan pembersih lensa, membersihkan tempat

    penyimpanan lensa kontak, dan mengganti cairan pembersih

    lensa, tetapi juga harus dapat menjelaskan mengapa cara-cara

    tersebut harus dilakukan.

    3) Aplikasi (application)

    Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek

    yang dimaksud dapat menerapkan prinsip yang diketahui

    tersebut pada situasi yang lain (Notoadmodjo, 2010).

    Pada American Optometric Association dijelaskan bahwa

    seseorang yang telah paham mengenai cara pemakaian lensa

    kontak, ia dapat menggunakan lensa kontak dengan benar

    dimana saja.

    4) Analisis (analysis)

    Analisis merupakan kemampuan seseorang untuk menjabarkan

    dan memisahkan, serta mencari hubungan antara komponen-

    komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang

    diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah

    sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut

    telah dapat membedakan, mengelompokkan, membuat

    diagram (bagan) terhadap pengetahuan mengenai objek

    tersebut (Notoadmodjo, 2010).

  • 36

    American Optometric Association menyatakan bahwa,

    pengguna lensa kontak harus bisa membedakan penggunaan

    antara lensa jenis rigid gas-permeable, daily-wear soft lens,

    extended-wear, extended- wear disposible, dan planed

    replacement serta mengetahui juga masing-masing kelebihan

    dan kelemahannya.

    5) Sintesis (synthesis)

    Sintesis adalah hal yang menunjukkan suatu kemampuan

    seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam satu

    hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan

    yang dimiliki (Notoadmodjo, 2010).

    Berdasarkan informasi yang didapat dari American Optometric

    Association, pengguna lensa kontak dapat menyimpulkan

    dengan kata-kata atau kalimat sendiri mengenai bahaya dari

    penggunaan lensa kontak.

    6) Evaluasi (evaluation)

    Evaluasi adalah kemampuan seseorang untuk melakukan

    penilaian terhadap suatu objek tertentu.Penilaian ini dengan

    sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan

    sendiri yang berlaku di masyarakat (Notoadmodjo, 2010).

    Berdasarkanperawatan lensa kontak yang direkomendasikan

    oleh American Optometric Association, pengguna lensa kontak

  • 37

    akan dapat menilai apakah perawatan lensa kontak yang

    dilakukannya sudah baik atau belum.

    B. Sikap (attitude)

    Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau

    objek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi

    yang bersangkutan (Notoadmodjo, 2010). Pengguna lensa kontak

    seharusnya memiliki sikap yang baik tentang kebersihan lensa

    kontak, perawatan tempat penyimpanan lensa kontak, penggantian

    lensa kontak dan cairan pembersih lensa kontak (Bhandari &

    Hung, 2012).

    Seperti halnya pengetahuan, sikap juga mempunyai tingkat-tingkat

    berdasarkan intensitasnya, yaitu:

    1) Menerima (receiving)

    Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau

    menerima stimulus yang diberikan (objek) (Notoadmodjo,

    2010).Sikap seseorang terhadap penggunaan lensa kontak

    dapat diketahui dari apakah dia melakukan konsultasi dokter

    mata sebelum membeli lensa kontak seperti yang dianjurkan

    oleh American Optometric Association atau tidak.

    2) Menanggapi (responding)

    Menanggapi yaitu memberikan jawaban terhadap pertanyaan

    atau objek yang dihadapi (Notoadmodjo, 2010). Ketika

    pengguna lensa kontak yang berkonsultasi dengan dokter mata

  • 38

    seperti yang dianjurkan oleh American Optometric Association

    ditanya atau diminta menanggapi oleh dokter mata kemudian

    dia menjawab atau menanggapi.

    3) Menghargai (valuing)

    Menghargai diartikan sebagai memberikan nilai yang positif

    terhadap objek atau stimulus dalam arti, membahasnya dengan

    orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau

    menganjurkan orang lain untuk merespons (Notoadmodjo,

    2010). Seorang pengguna lensa kotak yang berkonsultasi

    dengan dokter mata sebelum membeli lensa kontak akan

    mendiskusikan dengan temannya tentang penggunaan lensa

    kontak yag benar seperti yang direkomendasikan oleh

    American Optometric Association.

    4) Bertanggung jawab (responsible)

    Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung

    jawab terhadap apa yang telah diyakininya. Seseorang yang

    telah mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya, dia

    harus berani mengambil risiko bila ada orang lain yang

    mencemoohkan atau adanya risiko lain (Notoadmodjo, 2010).

    Pengguna lensa kontak yag mau melakukan konsultasi dengan

    dokter mata sebelum membeli lensa kontak seperti

    rekomendasi dari American Optometric Association, dia harus

    berani untuk mengorbankan waktunya atau mengorbankan

    uangnya.

  • 39

    C. Tindakan atau praktik (practice)

    Praktik atau tindakan dapat dibedakan menjadi 3 tingkatan

    menurut kualitasnya, yaitu:

    1) Praktik terpimpin (guided response)

    Praktik terpimpin adalah apabila subjek atau seseorang telah

    melakukan sesuatu tetapi masih tergantung pada tuntunan atau

    menggunakan panduan (Notoadmodjo, 2010).). Menurut

    American Optometric Association pengguna lensa kontak

    harus mencuci dan mengeringkan tangan setiap akan

    menggunakan dan melepaskan lensa kontak. Ketika pengguna

    lensa kontak mencuci dan mengeringkan tangan setiap akan

    menggunakan dan melepaskan lensa kontak tetapi masih selalu

    diingatkan oleh orang tua atau temannya, maka pengguna

    lensa kontak tersebut berada di tingkatan praktik terpimpin.

    2) Praktik secara mekanisme (mechanism)

    Praktik secara mekanisme adalah apabila subjek atau

    seseorang telah melakukan atau mempraktikkan sesuatu hal

    secara otomatis maka disebut praktik atau tindakan mekanis

    (Notoadmodjo, 2010). American Optometric Association

    merekomendasikan pengguna lensa kontak untuk mencuci dan

    mengeringkan tangan setiap akan menggunakan dan

    melepaskan lensa kontak, ketika pengguna lensa kontak

    mencuci dan mengeringkan tangan setiap akan menggunakan

    dan melepaskan lensa kontak tanpa harus diingatkan orang tua

  • 40

    atau temannya lagi, maka penggua tersebut berada di tingkatan

    praktik secara mekanisme.

    3) Adopsi (adoption)

    Adopsi adalah suatu tindakan atau praktik yang sudah

    berkembang. Artinya, apa yang dilakukan tidak sekedar

    rutinitas atau mekanisme saja, tetapi sudah dilakukan

    modifikasi tindakan dan perilaku yang berkualitas

    (Notoadmodjo, 2010). Seorang pengguna lensa kontak

    dikatakan berada ditingkatan adopsi apabila pngguna tersebut

    memakai dan melepas lensa bukan sekedar memakai dan

    melepas begitu saja, namun dengan cara-cara yang benar

    seperti yang dianjurkan oleh American Optometric

    Association.

  • 41

    2.4 Kerangka Teori

    Berdasarkan tinjauan pustaka diatas, maka disusun kerangka teori sebagai

    berikut:

    Gambar 3. Kerangka Teori

    Perilaku :

    - Pengetahuan

    - Sikap

    - Tindakan

    Trauma Mekanik Infeksi/

    inflamasi

    Trauma bahan

    kimia

    Pelebaran pembuluh darah di

    mata

    Mata merah

    Pewarnaan Kornea

    Mata Kering

    Neovaskularisasi

    Kornea

    Konjungtivitis

    Papiler Raksasa

    Keratitis Bakteri

    Penggunaan lensa kontak

  • 42

    2.5 Kerangka Konsep

    Kerangka konsep dalam suatu penelitian adalah abstrak atau gambar

    pemikiran teoritik hubungan antara variabel yang akan diteliti atau diukur

    sebagai landasan dalam penelitian.

    Gambar 4. Kerangka Konsep

    2.6 Hipotesis

    A. H0

    Tidak terdapat hubungan perilaku penggunaan lensa kontak terhadap

    kejadian mata merah

    B. H1

    Terdapat hubungan perilaku penggunaan lensa kontak terhadap kejadian

    mata merah.

    Variabel Independent:

    Perilaku penggunaan lensa

    kontak

    Variabel Dependent:

    Mata Merah

  • BAB III

    METODE PENELITIAN

    3.1 Rancangan Penelitian

    Rancangan dalam penelitian ini adalah rancangan analitik dengan pendekatan

    cross-sectional (Notoatmodjo, 2010).

    3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

    Penelitian dilakukan di Sekolah Menengah Atas Negeri di Kecamatan

    Tanjung Karang Pusat yaitu SMA Negeri 2 Bandar Lampung dan SMA

    Negeri 3 Bandar Lampung. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember

    2018.

    3.3 Populasi dan Sampel

    3.3.1 Populasi

    Populasi dalam penelitian ini adalah pelajar SMA Negeri di

    Kecamatan Tanjung Karang Pusat.

    3.3.2 Sampel

    Sampel penelitian ini adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti

    (Dahlan, 2010). Sampel diambil menggunakan teknik purposive

    sampling. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 37 orang yang

    memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

  • 44

    3.4 Kriteria Penelitian

    3.4.1 Kriteria Inkulusi

    Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian pada

    populasi terjangkau (Arikunto, 2010). Kriteria inklusi penelitian ini

    adalah:

    1) Pelajar SMA Negeri di Kecamatan Tanjung Karang Pusat yang

    bersedia menjadi responden penelitian.

    2) Pelajar SMA Negeri di Kecamatan Tanjung Karang Pusat yang

    sedang menggunakan lensa kontak.

    3.4.2 Kriteria Eksklusi

    Sebagian subjek yang tidak memenuhi kriteria inklusi harus

    dikeluarkan dari studi karena berbagai sebab. Kriteria ekslusi

    penelitian ini adalah:

    Pelajar di SMA Negeri Kecamatan Tanjung Karang Pusat yang

    memiliki riwayat terkena skleritis, pendarahan subkonjungtival,

    uveitis, dan glaukoma sudut tertutup akut.

    3.5 Identifikasi Variabel

    Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang

    dimiliki atau didapat atau satuan penelitian tentang suatu konsep pengertian

    (Notoadjmojo, 2010).

  • 45

    3.5.1 Variabel Bebas

    Variabel bebas dalam penelitian ini adalah perilaku penggunaan lensa

    kontak.

    3.5.2 Variabel Terikat

    Variabel terikat pada penelitian ini adalah kejadian mata merah

    3.6 Definisi Operasional Variabel dan Skala Pengukuran

    Definisi operasional adalah uraian tentang batasan variabel yang

    dimaksud,atau tentang apa yang di ukur oleh variabel yang bersangkutan.

    Penyusunandefinisi operasional variabel dilakukan karena menunjukan alat

    pengambilan data mana yang cocok digunakan.

    Tabel 3. Definisi Operasional (Iklima, 2015)

    No Variabel/subvari

    abel

    Definisi

    Operasional

    Alat Ukur Hasil Ukur Skala

    A.

    Perilaku

    penggunaan

    lensa kontak

    1.Pengetahuan

    2. Sikap

    Suatu kegiatan atau

    aktivitas pelajar

    yang bersangkutan

    tentang penggunaan

    lensa kontak.

    Domain perilaku:

    -Pengetahuan

    -Sikap

    -Tindakan

    Hasil penginderaan

    pelajar , atau hasil

    tahu pelajar

    terhadap lensa

    kontak

    Respons pelajar

    terhadap

    penggunaan lensa

    kontak

    Kuesioner

    Kuesioner

    Kuesioner

    Total pertanyaan:30

    Benar = 2

    Salah = 0

    Baik ≥ 45

    Kurang < 45

    Total pertanyaan: 11

    Benar = 2

    Salah = 0

    Baik ≥ 16,5

    Kurang < 16,5

    Total pertanyaan: 9 Benar = 2

    Salah = 0

    Baik ≥ 13,5

    Ordinal

    Ordinal

    Ordinal

  • 46

    B.

    3. Tindakan

    (praktik)

    Kejadian Mata

    Merah

    Segala sesutu yang

    dilakukan pelajar

    terhadap

    penggunaan lensa

    kontak

    Warna bola mata

    yang berubah dari

    putih menjadi

    merah dalam

    rentang waktu

    penggunaan lensa

    kontak

    Kuesioner

    Kuesioner

    Kurang < 13,5

    Total pertanyaan: 10

    Benar = 2

    Salah = 0

    Baik ≥ 15

    Kurang < 15

    Nilai ukur:

    1. Ada

    2.Tidak ada

    Ordinal

    Nominal

    3.7 Cara Pengumpulan Data

    3.7.1 Alat

    Alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah daftar

    pertanyaan (kuesioner) yang dibuat oleh peneliti sebelumnya yang

    mengacu pada tinjauan kepustakaan berdasarkan panduan penggunaan

    lensa kontak dari American Optometric Association. Kuesioner ini

    telah diuji validitas dan reliabilitasnya mengenai perilaku penggunaan

    lensa kontak (Iklima, 2015). Secara umum kuesioner tersebut terbagi

    atas tiga bagian, yaitu:

    a. Bagian A merupakan data demografi meliputi usia, jenis kelamin,

    kelas, lama penggunaan lensa kontak dalam setiap pemakaian,

    jenis lensa kontak yan digunakan, riwayat mata merah dan

    riwayat penyakit mata.

  • 47

    b. Bagian B berupa kuesioner yang bertujuan untuk

    mengidentifikasi perilaku penggunaan lensa kontak yang terdiri

    dari 30 item pernyataan. Yang terdiri dari:

    1. Pengetahuan

    Terdiri dari 11 pernyataan (1-11), 8 pernyataan positif yaitu

    nomor 1,2,3,5,6,9,10,11 dan 3 pernyataan negatif yaitu

    nomor 4,7,8.

    2. Sikap

    Terdiri dari 9 pernyataan (12-20), 6 pernyataan positif yaitu

    nomor 13,14,16,17,18,20 dan 3 pernyataan negatif yaitu

    nomor 12,15,19.

    3. Tindakan

    Terdiri dari 10 pernyataan (21-30), 7 pernyataan positif yaitu

    nomor 21,22,23,26,27,29,30 dan 3 pernyataan negatif yaitu

    nomor 24,25,28.

    Jawaban responden dinilai benar jika pertanyaan positif dijawab

    dengan pilihan “benar” dan jika pertanyaan negatif dijawab

    dengan pilihan “salah”.

    3.7.2 Uji Validitas dan Reabilitas

    a. Uji Validitas

    Uji validitas adalah uji untuk menilai ketepatan dan kecermatan

    alat ukur (tes). Berdasarkan content validity yang telah dilakukan

    oleh peneliti sebelumnya, kuesioner ini dinyatakan valid (Iklima,

    2015).

  • 48

    b. Uji Reliabilitas

    Berdasarkan uji reliabilitas yang telah dilakukan maka pernyataan

    untuk variabel perilaku dengan subvariabel pengetahuan, sikap dan

    tindakan berjumlah 30 item dinyatakan reliabel dengan cronbach’s

    alpha 0,939 untuk subvariabel pengetahuan, 0,913 untuk

    subvariabel sikap dan 0,928 untuk subvariabel tindakan, sehingga

    pernyataan dianggap reliabel untuk digunakan (Iklima, 2015).

    3.8 Prosedur dan Alur Penelitian

    3.8.1 Prosedur Penelitian

    Penelitian ini dilakukan pada pelajar SMA Negeri di Kecamatan

    Tanjung Karang Pusat yang sedang menggunakan lensa kontak

    setelah melakukan survey dan mendapatkan izin penelitian dari pihak

    sekolah. Kemudian peneliti akan menjelaskan mengenai penelitian

    yang akan dilakukan serta responden diminta untuk mengisi lembar

    kuesioner dimana pengisiannya dipandu oleh peneliti. Kuesioner yang

    digunakan berisi beberapa pernyataan yang mana dari pernyataan

    yang ada responden bisa memilih jawaban sesuai dengan

    pendapatnya.

  • 49

    3.8.2 Alur Penelitian

    Gambar 5. Alur Penelitian

    3.9 Pengolahan dan Analisis Data

    3.9.1 Jenis Data

    Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dengan cara

    pengisian kuesioner.

    Pemilihan responden berdasarkan kriteria inklusi dan

    eksklusi

    Hasil

    Pengolahan dan analisis data

    Pengisian kuesioner oleh responden dan dokumentasi

    oleh peneliti

    Permintaan persetujuan sebagai responden pada siswa-

    siswi SMA Negeri di Bandar Lampung

    Pengajuan Proposal Penelitian

    Pengajuan Ethical Clearance

    Perizinan

  • 50

    3.9.2 Pengolahan Data

    Setelah data terkumpul maka dilakukan pengolahan data. Pengolahan

    data dimulai dengan memeriksa data. Tahapan tersebut terdiri dari:

    1. Cleaning

    Tahapan dilakukan pada saat mengumpulkan dan memeriksa

    kuesioner.Data diperiksa kembali apakah ada kuesioner yang

    kurang lengkap.

    2. Coding

    Tahapan memberikan kode pada jawaban responden untuk menjaga

    kerahasiaan identitas responden dan mempermudah proses

    penelusuran responden bila diperlukan serta mempermudah

    penyimpanan dalam arsip data.

    3. Scoring

    Tahapan ini dilakukan untuk memberikan skor pada setiap

    kuesioner.

    4. Entering

    Tahapan ini dilakukan dengan cara memasukan data yang telah di

    skor kedalam komputer.

    3.9.3 Analisis Data

    Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan

    program komputer di mana dilakukan 2 macam analisis data, yaitu

    analisis univariat dan analisis bivariat.

  • 51

    1) Analisis Univariat

    Tujuan dari analisis univariat adalah untuk menerangkan

    karakterisitik dari masing-masing variabel. Dengan melihat

    distribusi frekuensi masing-masing variabel.

    2) Analisis Bivariat

    Tujuan dari analisis bivariat adalah untuk melihat ada tidaknya

    hubungan antara dua variabel, yaitu variabel terikat dengan

    variabel bebas.Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini

    adalah uji chi-square untuk mengetahui hubungan yang signifikan

    antara masing-masing variabel bebas dan varabel terikat (Dahlan,

    2013).

    3.10 Etika Penelitian

    1. Inform Consent (lembar persetujuan)

    Lembar persetujuan untuk menjadi responden yang dibagikan sebelum

    penelitian dilaksanakan pada seluruh responden yang bersedia diteliti.

    Jika responden bersedia untuk diteliti maka responden diharuskan

    menandatangani lembar persetujuan.

    2. Secrecy (kerahasiaan)

    Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan dari responden dijaga

    oleh peneliti. Data yang akan disajikan atau dilaporkan hanya data yang

    berhubungan dengan penelitian ini.

    3. Comfortable (proteksi rasa nyaman)

    Responden mendapat perlindungan dan merasa nyaman, serta tidak ada

    paksaan untuk berpartisipasi pada proses penelitian ini.

  • 52

    4. Approval (persetujuan)

    Penelitian telah mendapatkan persetujuan dari Komite Etik Penelitian

    dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung (No.

    5152/UN26.18/PP.05.02.00/2018).

  • BAB V

    KESIMPULAN DAN SARAN

    5.1 Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelitian yang telah didapatkan serta tujuan penelitian

    mengenai hubungan perilaku penggunaan lensa kontak terhadap kejadian

    mata merah pada pelajar SMA Negeri di Kecamatan Tanjung Karang Pusat,

    maka peneliti dapat mengambil kesimpulan

    1. Terdapat hubungan antara perilaku penggunaan lensa kontak terhadap

    kejadian mata merah pada pelajar SMA Negeri di Kecamatan Tanjung

    Karang Pusat

    2. Presentase kejadian mata merah pada pelajar SMA Negeri di Kecamatan

    Tanjung Karang Pusat sebanyak 21 responden (51,6%)

    3. Terdapat hubungan antara pengetahuan penggunaan lensa kontak dengan

    kejadian mata merah pada pelajar SMA Negeri di Kecamatan Tanjung

    Karang Pusat

    4. Terdapat hubungan antara sikap penggunaan lensa kontak dengan

    kejadian mata merah pada pelajar SMA Negeri di Kecamatan Tanjung

    Karang Pusat

    5. Terdapat hubungan antara tindakan penggunaan lensa kontak dengan

    kejadian mata merah pada pelajar SMA Negeri di Kecamatan Tanjung

    Karang Pusat

  • 77

    5.2 Saran

    Adapun saran dari penelitian ini adalah:

    5.2.1 Bagi Pengguna Lensa Kontak

    Diharapkan dapat berkonsultasi dengan dokter mata serta mencari

    informasi sebelum menggunakan lensa kontak untuk meningkatkan

    pengetahuan mengenai penggunaan lensa kontak yang baik

    5.2.2 Bagi Sekolah

    Diharapkan dapat mengadakan penyuluhan mengenai penggunaan

    lensa kontak

    5.2.3 Bagi Peneliti Lain

    Diharapkan dapat menggunakan data yang bersifat lebih jelas seperti

    rekam medik

  • DAFTAR PUSTAKA

    Alkozi HA, Colligris B, Pintor J. 2013. Recent Developments on Dry Eye

    DiseaseTreatment Compounds. Saudi J Opthalmol. 28(1): 19–30

    Alipour F, Khaheshi S, Soleimanzadeh M, Heidarzadeh S, Heydarzadeh S.

    2017.Contact-lens related complications: A review.J Ophthalmic Vis

    Res.12(2): 193-204

    American Optometric Association. 2006. Advantages and Disadvantages of

    Typesof Contact Lenses. America: American Optometric Association

    American Optometric Association. 2006. Recommendation for contact lens wears.

    America: American Optometric Association

    Arikunto S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan