of 41/41
HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU DENGAN KUNJUNGAN BALITA KE POSYANDU DI DESA DLANGU KECAMATAN BUTUH KABUPATEN PURWOREJO Disusun oleh: Titis Sensussiana S.Kep.,M.Kep Yuniar Ika Fajarini, S.Kep.,MPH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) DUTA GAMA KLATEN 2018

HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU DENGAN KUNJUNGAN BALITA …

  • View
    4

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU DENGAN KUNJUNGAN BALITA …

PURWOREJO
DUTA GAMA KLATEN
PURWOREJO
INTISARI
Latar Belakang: Pelayanan yang di dapatkan di posyandu khususnya balita yaitu:Pemantauan Status
Gizi (penimbangan), pemberian imunisasi, konseling dan pelayanan anak diare. Penyakit pada balita
yang tidak dilakukan imunisasi penularan penyakit TBC,tetanus, hepatitis B, polio, difteri dan
campak . kartu menuju sehat atau atau yang sering disingkat dengan KMS adalah kartu yang penting
di gunakan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan balita untuk memberi imunisasi
pemberian vaksin BCG, DPT, Hepatitis B, polio, dan campak.
Tujuan Penelitan: Untuk mengetahui hubungan karakteristik ibu dengan kunjungan balita ke
posyandu di Desa Dlangu Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo.
Metode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah obsevasional, pendekatan
crossectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita di RW 01 dan RW 02 di
Desa Dlangu Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo yang berjumlah 45 orang, dengan teknik
sampling total sampling. Instrumen penelitian kuesioner. analisis data menggunakan spearmen rank.
Hasil: Karakteristik responden umur sebagian besar 28-38 tahun, pendidikan tinggi, pekerjaan lebih
dari 8 jam, penghasilan tinggi dan jumlah anak besar.
Kesimpulan: Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa tiadak ada hubungan umur ibu dengan
kunjungan keposyandu karena nilai p=0,126(>0,05). Karakteristik pendidkan ada hubungan antara
pendidikan dengan kunjungan keposyandu dangan nilai p=0,020 (p<0,05). Sedangkan karakteristik
pekerjaan ada hubungan pekerjaan dengan kunjungan posyandu dengan nilai p=0,000(p<0,05).
Karakteristik pengahasialan ada hugungan dengan kunjungan posyndu dengan nilai p=0,005(p<0,05).
Karakteristik jumlah adak ada hubungan dengan kunjungan posyandu dengan nilai p=0,023(p<0,05).
Kata kunci: Karakteristik, Kunjungan Keposyandu
PENDAHULUAN
tahun per 1.000 kelahiran hidup dalam
kurun waktu satu tahun. Angka kematian
balita menggambarkan tingkat
sebesar 11,50/1.000 kelahiran hidup dan
untuk tahun 2012 meningkat menjadi
11,85/1.000 kelahiran hidup. Jika
harapakan dalam Millenium Development
23/1.000 kelahiran hidup, angka kematian
balita Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012
sudah melampaui target(http://www.dinkes
9,68/1000 kelahiran hidup. Jika
dibandingkan dengan indikator Millenium
(http://www.dinkespurworejo.go.id)
merupakan ukuran antropometri yang
pada bayi baru lahir (neonates). Berat
badan digunakan untuk mendiagnosa bayi
normal atau BBLR. Dikatakan BBLR
apabila berat badan bayi lahir di bawah
2500 gram atau di bawah 2,5 kg. Pada
masa balita berat badan dapat
dipergunakan untuk melihat pertumbuhan
Pemberian imunisasi diberikan pada
umur 4 bulan: DPT/ HB 3 dan Polio 4, dan
diskusi kelompok dengan orangtua atau
keluarga anak balita untukmemotivasi
Membimbing orangtua melakukan
balita masih menyusui, diberi air matang
dan cairan makanan (air sayur, air tajin
atau oralit), diberikan makanan, cuci
tangan pakai sabun sebelum dan sesudah
makan dan sesudah buang air besar
(http;//www.promkes.depkes.go.id)
Menuju Sehat atau yang sering disingkat
dengan KMS adalah kartu yang penting
digunakan untuk memantau pertumbuhan
untuk saat ini adalah KMS balita, yaitu
kartu yang memuat grafik pertumbuhan
serta indikator perkembangan yang
dari sejak lahir sampai berusia 5 tahun
dengan demikian KMS dapat diartikan
sebagai rapor kesehatan gizi dan catatan
riwayat kesehatan imunisasi di antaranya
yaitu: imunisasi BCG memberikan
kekebalan aktif terhadap penyakit
tumberkulosis (TBC), penyakit tetanus
berbahaya karena mempengaruhi sistem
DPT, imunisasi hepatitis B untuk
mencegah penyakit yang disebabkan virus
hepatitis B yang berakibat pada hati,
imunisasi polio memberikan kekebalan
memberikan kekebalan aktif terhadap
penyakit difteri, imunisasi campak
untuk melindungi terhadap penyakit
didatangi oleh masyarakat.Tujuan
masih cukup tinggi, meskipun dari tahun
ketahun sudah dapat diturunkan, untuk
meningkatkan peran dan kemampuan
terutama pada balita khususnya untuk itu
perlu adanya keaktifan orang tua dalam
mengunjungi posyandu yang di
diberikan oleh pemberi pelayanan
kesehatan (Sulistyorini, dkk 2010).
Pelayanan posyandu dikenal dengan
masing-masing meja mempunyai kegiatan
untuk pelaksanaannya tetapi kegiatan
penimbangan; 4) penyuluhan dan
pelayanan kesehatan oralit (Sulistyorini,
menunjukan secara Nasional cakupan
posyandu sekurang-kurangnya satu kali
berkurang dengan semakin meningkatnya
anak usia 6-11 bulan yang ditimbang di
Posyandu 91,3%, pada anak usia 12-23
bulan turun menjadi 83,6% dan pada usia
24-35 bulan turun menjadi 73,3%
(http://www.google.com/journal.
respati.ac.id)
satunya dipengaruhi oleh cara pandang
orang tua yang merasa anaknya tidak perlu
lagi dibawa ke posyandu seiring
bertambahnya umur, selain itu minimnya
kepercayaan para orang tua terhadap
kinerja kader posyandu. Berdasarkan Data
Riskesdas 2010, bahwa 50% balita
Indonesia tidak melakukan penimbangan
kecenderungan semakin bertambahnya
penimbangan rutin semakin menurun
dimasyarakat terutama pada bayi maupun
balita, maka ibudiharapkan mempunyai ciri
khusus atau sifat khas yang sesuai dalam
perwatakan tertentu (karakteristik). Seiring
muncul, maka karakteristik mempunyai
kedudukan yang strategis untuk
membangun kepribadian individu dalam
masyarakat demi memajukan peradaban
yang lebih maju (http://emprin.uns.ac.id )
Manfaat posyandu bagi masyarakat
merupakan kemudahan untuk mendapatkan
anak balita dan ibu, pertumbuhan anak
balita terpantau sehingga tidak menderita
kurang gizi atau gizi buruk. Bayi dan anak
balita mendapatkan kapsul vitamin A, dan
bayi memperoleh imunisasi lengkap
16 Maret 2014, dengan mengadakan
wawancara kepada 2 kader mengenai
kunjungan balita ke posyandu dan 5 ibu
balita mengenai karakteristik ibu yang
berkunjung ke posyandu.Dari hasil
balita yang ikut posyandu dengan tingkat
kehadiran 70% dari 45 balita. Sedangkan
hasil wawancara pada 5 ibu balita
mengenai karakteristik ibu yang
terakhir dan 2 ibu berpendidikan SMA,
pekerjaan minimal 7 jam/hari dengan
mengikuti kegiatan posyandu sebanyak 6
kali selama 1 tahun terakhir.
Berdasarkan uraian diatas, maka
“Hubungan Karakteristik Ibu Dengan
Dlangu Kecamatan Butuh Kabupaten
analitik dalam penelitian ini adalah peneliti
akan meneliti karakteritik ibu dengan
kunjungan balita ke posyandu di Desa
Dlangu Kecamatan Butuh Kabupaten
karakteristik ibu dan kunjungan balita ke
posyandu diambil secara lansung dalam
waktu yang bersamaan dan sekali tidak
diulang (Notoatmodjo, 2010). Penelitian
Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo.
ibu yang memiliki balita di RW I dan RW
II di Desa Dlangu Kecamatan Butuh
Kabupaten Purworejo yang berjumlah 45
orang. Pengambilan sampel dengan total
sampling yaitu semua anggota populasi
dijadikan sebagai sampel. Jadi sampel
dalam penelitian ini sebanyak 45 orang.
Instrumen penelitian yang
umum. Sedangkan instrumen kunjungan
2014, dilihat dari Kartu Menuju Sehat
(KMS) serta catatan daftar (register
kunjungan) hadir yang dimiliki oleh kader
posyandu.Analisi statistik berupa univariat
dengan menggunakan korelasi Spearmen
Butuh Kabupaten Purworejo
No Karakteristik Frekuensi (%)
bahwa umur ibu paling banyak adalah
ibu yang berumur 28-38 tahun yaitu 18
responden (40,00%). Sedangkan sisanya
paling sedikit yaitu 12 responden
(26,7%) dan ibu yang berumur 17-27
tahun sebanyak 15 responden (33,30%).
Berdasarkan tabel 4.1 di atas bahwa
Pendidikan ibu paling banyak adalah
ibu dengan pendidikan menengah yaitu
21 respoden (46,70%) sedangkan
responden (22,20%) dan tinggi
sebanyak 14 responden (31,10).
waktu lebih dari 8 jam yaitu 26
responden (57,80%) dan paling sedikit
pekerjaan ibu yang terikat waktu kurang
dari 19 responden (42,20). Sedangkan
tabel 4.1 di atas bahwa Penghasilan ibu
paling banyak adalah tinggi atau >
1.075.000 yaitu 21 orang (46,70%),
sedangkan sisanya penghasilan cukup
responden (15,60%).
bahwa jumlah anak ibu paling banyak
adalah jumlah besar syaitu 23
responden (51,10%) dan paling sedikit
jumlah kecil yaitu 22 responden
(48,90%).
Tabel 4.2
Dlangu Kecamatan Butuh Kabupaten
Tidak Baik < 8 kali 17 (37,80%)
Jumlah 45 100,00)
baik atau ≥ 8 kalitahun yaitu sebanyak
28 responden (62,2%). Sedangkan yang
tidak baik atau ≤ 8 kalitahun sebanyak
17 responden (37,80%).
kunjungan balita ke Posyandu di Desa
Dlangu Kecamatan Butuh Kabupaten
Dlangu Kecamatan Butuh Kabupaten
balita tidak menunjukan hubungan
dimana nilai rho = 0,231 dan p= 0,126
> 0,05 sedangkan variabel pendidikan
,pekerjaan, penghasilan dan jumlah
anak terdapat hubungan dengan
nilai rho = 0,345, 0,573, 0,416 0,338
dan p = 0,020, 0,000, 0,005 0,023<0,05.
Pembahasan
dengan kunjungan posyandu karena nilai p
= 0,126 (>0,05). Hasil ini sesuai
menunjukan umur responden tidak
berpengaruh pada kunjungan posyandu,
melakukan kunjungan posyandu dengan
anaknya sudah mendapatkan imunisasi
makin bertambah.
tinggi pendidikan maka semakin baik
kunjungan posyandu. Menurut Suharjo
rendahnya tingkat pendidikan erat
memanfaatkan sarana kesehatan
rendah mempengaruhi penerimaan
merupakan faktor yang mempengaruhi
posyandu. Menurut Mubarak (2007),
berikan seseorang pada orang lain terhadap
suatu hal agar mereka dapat memahami.
Berdasarkan tabel 4.3 bahwa
variabel karakteristik pekerjaan terdapat
posyandu dengan nilai rho = 0,573 dan p =
0,000<0,05. Hasil menunjukkan bawa
peran ibu yang berkerja dan tidak bekerja
sangat berpengaruh terhadap perawatan
keluarga. Menurut Husnaini (1989),
bekerja dan yang tidak bekerja sangat
berpengaruh terhadap perawatan keluarga.
diberikan ibu untuk mengasuh dan
membawa anaknya berkunjung ke
pekerjaan. Bekerja merupakan kegiatan
akan mempunyai pengaruh terhadap
Wawan (2010), pekerjaan dapat di kaitkan
dengan pendidikan seseorang maksudnya
diinginkan.
posyandu dengan nilai rho = 0,416 dan p =
0,005<0,05). Penghasilan mempunyai
Wahyutomo, 2010), penghasilan adalah
satu bulan yang dapat dikategorikan dalam
penghasilan yang kurang, cukup maupun
penghasilan tinggi yang nantinya akan
berpengaruh dalam memantau tumbuh
terdapat hubungan dengan kunjungan
0,338 dan p = 0,023<0,05. Hasil ini
menunjukkan bahwa jumlah anggota
keluarga akan mempengaruhi kehadiran
hadir di posyandu. Menurut Hurlock
(2005) bahwa semakin besar keluarga
maka semakin besar pula permasalahan
yang akan muncul di rumah terutama
untuk mengurus kesehatan anak. Dalam
kaitannya dengan kehadirannya ke
waktunya akan habis untuk member
perhatian dan kasih sayang dalam
mengurus anak-anak dirumah.
KESIMPULAN DAN SARAN
Butuh Kabupaten Purworejo sebagai
Dlangu Kecamatan Butuh Kabupaten
Purworejo : bahwa umur yang
yang banyak yaitu pendidikan
menengah sebanyak 21 responden
yaitu lebih dari 8 jam sebanyak 26
responden (57,80%), penghasilan ibu
dan jumlah anak yang terbanyak dalam
kategori besar sebanyak 23 responden
(51,10%).
Dlangu Kecamatan Butuh Kabupaten
responden (62,20%).
tidak menunjukan hubungan dengan
nilai rho = 0,231 dan p = 0,126 > 0,05.
Sedangkan variable pendidikan,
terdapat hubungan dengan kunjungan
0,000, 0,005 0,023<0,05.
kajian bagi pengembangan ilmu
Gama Klaten
jadikan kajian pustaka, sehingga dapat
menambah refrensi mengenai
sebagai literature dalam pengembangan
bidang profesi keperawatan khususnya
bidang profesi keperawatan anak
Dlangu Kecamatan Butuh Kabupaten
meningkatkan derajat kesehatan balita.
ilmiah yang dapat dijadikan dasar untuk
mengadakan penelitian selanjutnya.
Jakarta. Sujudi.
dengan Upaya Peningkatan
Kebo Kecamatan Trucuk Kabupaten
Keperawatan Dan Teknik Analisis
Data. Jakarta: Salemba Maedika.
Bascommetro.com
http://digilib.unimus.ac.id/
Anggota keluarga.
Kesehatan.http://digilib.unimus.ac.id
Wonosari Kabupaten Gunung
Kidul.Skripsi Kesehatan Masyarakat
Universitas Respati Yogyakarta.
Pada Balita.Yogyakarta: Nuha
Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
. 2010. Metodelogi Penelitian Kesehatan.
Medika.
Jakarta: EGC.
Dan Anak(KIA)Dalam Millenium
Development Goals (MDGs).
Yogyakarta: Nuha Medika.
Anak. Edisi keempat. Jakarta:
Berhubungan Dengan Kunjungan
Bascommetro.com
dan Ilmu Pendidikan. Yogyakarta:
dan Desa Siaga. Bantul: Muha
Medika
Pengukuran Pengetahuan, Sikap,
PASIEN DI RSU PKU MUHAMMADIYAH DELANGGU KABUPATEN KLATEN
Disusun oleh:
DUTA GAMA KLATEN
akan dilakukan oleh rumah sakit. Tujuan
dilakukan orientasi salah satunya
sakit. Orientasi terhadap pasien baru
merupakan usaha memberikan
rumah sakit (Ragusti, 2008).
Praktik orientasi dilakukan saat
Orientasi diberikan pada pasien dan
didampingi anggota keluarga yang
menggunakan format orientasi.
kegiatan rutin ruangan antara lain waktu
makan, mandi, kunjungan dokter dan
waktu besuk. Namun demikian, praktik
orientasi ini banyak yang tidak dilakukan
oleh perawat. Secara umum perawat
menerima pasien rawat inap dari instalasi
gawat darurat, melakukan anamnesa atas
pasien kemudian melakukan beberapa
sebagainya, sementara memperkenalkan
sebagainya tidak dilakukan
pasien/keluarga dimana terdapat
terbina (Nining, 2008).
dilakukan orientasi mengalami tingkat
seringkali mengalami kecemasan,
pesien tetapi juga keluarga. Hal ini dapat
disebabkan kerena ketidaktahuan tentang
memerlukan penjelasan lebih lanjut
(Purwadarminta, 1999 dalam Wellem,
yang sifatnya akut maupun kronik
(menahun) merupakan komponen utama
(psychiatric disorder). Diperkirakan
ini baik akut maupun kronik mencapai 5%
dari jumlah penduduk, dengan
banding1. Dan diperkirakan antara 2% -
4% diantara penduduk Disuatu saat dalam
kehidupanya pernah mengalami gangguan
Hawari, Dadang 2011).
standar deviasi 0,612 dan pada kelompok
kontrol nilai P 0,004 dengan standar
deviasi 0,690 sehingga disimpulkan bahwa
ada pengaruh antara orientasi terhadap
tingkat kecemasan pasien. Berdasarkan
untuk melaksanakan protap program
dirawat dan masih perlu diadakan
penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh
orientasi terhadap tingkat kecemasan
(http//.PolitekniKesehatanMakassar.htm).
dilihat dari kebingunagan pasien dan
keluarga tentang tempat pelayanan rumah
sakit misalnya, kasir, ruang pengambilan
obat dan ruang perawat. Dapat juga pasien
dan keluarga bingung atau tidak tahu
tentang siapa dokter yang memeriksa,
nama perawat yang merawat pasien.
Berdasarkan survei di lapangan yang
dilakukan oleh peneliti pasien yang masuk
rumah sakit sering mengalami kecemasan
dari kecemasan tingkat ringan sampai berat
(Hawari, 2011).
akan mengalami kecemasan ketika berada
di lingkungan baru RSU karena ketidak
tahuan pasien dan keluarga mengenai
kegiatan yang ada di rumah sakit.
Kecemasan sering di alami oleh
kebanyakan orang, ketika individu berada
dalam suatu lingkungan sosial yang baru
atau berada dalam lingkungan sosial yang
berbeda dengan lingkungan sosial di mana
individu biasa berada. Woody dan
Rodriguez dalam jurnal berjudul „Self-
Focused Attention and Social Anxiety in
Social Phobics and Normal Controls
menyatakan bahwa jika seseorang
antara current state dan tujuan, dan
perbedaan ini tidak diseimbangkan maka
kecemasan kemungkinan akan dialami,
terutama apabila perbedaan ini
yhu, 2012). Selain itu perawat telah
memenuhi hak pasien ketika perawat telah
melakukan orientasi kepada pasien.
Hasil studi pendahuluan yang
PKU Muhamadiayah Delanggu Kabupaten
dapat diketahui bahwa, yang mengalami
tingkat kecemasan sedang 40%, ringan
30% dan berat 30%. Maka penulis
bermaksud mengadakan penelitian tentang
“Pengaruh Pemberian Orientasi Pasien
Muhamadiyah Delanggu“.
METODE PENELITIAN
ramcangan cross sectional dalam
pengaruh orientasi pasien baru terhadap
tingkat kecemasan pasien di RSU PKU
Muhamadiyah Delanggu.
berjumlah 770 pasien setiap bulanya.
Sampel pada penelitian ini adalah
semua pasien baru yang memenuhi kriteria
peneliti, Pengambilan sampel pada
yang secara kebetulan/incidental bertemu
kriteria inklusi sebagai berikut:
rawat inap PKU Muhammadiyah
> 17 tahun.
adalah Orientasi Pasien baru serta variabel
terikatnya adalah tingkat kecemasan
masuk di ruang rawat inap meliputi:
a. Tempat
b. Kunjungan
kategori jawaban Ya kode 2, tidak kode 1
Kategori : Baik jika skor 10-12, Sedang
jika skor 7-9, Kurang jika skor < 6. Cemas
adalah Kondisi yang dirasakan pasien saat
pelayanan di rumah sakit. Kuisioner
Berupa lembar observasi untuk mengetahui
tingkat kecemasan dengan HRS-A. <14
tidak ada kecemasan, 14-20 Kecemasan
ringan, 21-27 Kecemsan sedang, 28-41
Kecemasan berat, 42-56 Kecemasan berat
sekali.
produck moment. Untuk menilai
tergantung dari taraf signifikan (r tabel)
yaitu 0,05. Apabila rhitung > rtabel 0,05
berarti bahwa item pertanyaan valid dan
dapat dipergunakan jika rhitung < rtabel 0,05
maka pertanyaan tidak valid. Setelah
dialkukan uji validitas dari 13 item soal
terdapat 6 item soal yang valid diantaranya
adalah soal no 1, 2, 6, 9, 10, 12. Sedangkan
ada item yang tidak valid diantaranya
adalah nomor 3, 4, 5, 7, 8, 11, 13.
Sehingga peneliti akan menggunakan 6
item soal untuk digunakan sebagai alat
ukur dalam penelitian ini.
karakteristik umur, pendidikan dan
berdasarkan Umur di
diketahui bahwa mayoritas pasien
responden (45,45%), dan minoritas
responden (4,54%).
Muhammadiyah Delanggurata rata-
umur tersebut merupakan usia dimana
seseorang sudah renta terhadap suatu
penyakit. Akan tetapi di umur tersebut
proses berfikirnya dalam menagkap
dikatakan dalam menerima orientasi
No Umur Frekwensi Prosentase
1 < 30 4 4,54
4 > 50 7 7,95
berpendapat bahwa semakin cukup
umur, tingkat kematangan dan
dalam berfikir.
1 SD 24 30,68
2 SMP 49 55,68
3 SMA 15 17,04
diketahui bahwa mayoritas pasien
berpendidikan SMP sebanyak 49
responden (55,1%), dan minoritas
PKU Muhammadiyah delanggu adalah
mayoritas bekerja sebagai Petani.
rumah sakit sehingga pasien tidak
merasakan kecemasan. Hal ini
(2011) semakin tinggi pendidikan
seseorang semakin mudah dalam
berdasarkan pekerjaan di
RSU PKU Muhammadiyah
1 Buruh 39 44,31
2 Petani 31 35,22
3 Wiraswata 17 19,31
4 PNS 1 1,13
responden (43,8%), dan minoritas
1 responden (1,1%).
PKU Muhamaadiyah Delanggu adalah
mapan pekerjaan seseorang maka
semakin membuat orang tersebut
PNS, pekerjaan buruh dan petani tidak
mendapatkan pension atau masa
mendapatkan pensiunan. Hal ini
kinicky (2004) menyatakan bahwa
diantaranya adalah telah beradaptasi
pegawai merasa anman dengan
pekerjaanya. Penyebab lain juga
atau perusahaan mengenai jaminan
RSU PKU Muhammadiyah Delanggu
Muhammadiyah Delanggu
No Oriestasi
Pasien baru
Frekwensi Prosentase
Muhammadiyah Delanggu baik
responden (1,1%).
bahwa Orientasi yang tiangkap rata rata
pada pasien Baik. Sebab, setiap pasien
yang datang dirumah sakit wajib
diberikan orientasi pasien baru. Pasien
mempunyai hak yang harus di penuhi
oleh perawat. Hal ini diperkuat dengan
dan kewajiban pasien dalam UU No 44
2009 tentang Rumah Sakit (Pasal 32
UU 44/2009) menyebutkan bahwa
setiap pasien mempunyai hak
kewajiban pasien. - Memperoleh
dan tanpa diskriminasi.
Delanggu
Muhammadiyah Delanggu.
baru mengalami tingkat kecemasan
sebanyak 39 responden (43,8%).
delanggu mengalami tingkat
seseorang tersebut akan mengalami
rumah sakit secara langsung akan
merasa kebingungan akan tempat arau
fasillitas yang ada di rumah sakit
tersebut serta peraturan yang harus
ditaati, hal tersebut yang membuat
pasien merasa cemas. Hal ini diperkuat
dengan teori (PPDGJ-II, Rev. 1983
dalam Hawari, Dadang 2011) faktor
ketidaktahuan dapat menimbulkan
(menahun) merupakan komponen
kejiwaan (psychiatric disorder).
mengetahui keeratan hubungan antara
korelasi sederhana menunjukan
antara dua variabel.
Muhammadiyah Delanggu.
dengan Tingkat Kecemasan Di
bahwa nilai sig 0,00 < 0,05 maka Ho
ditolak yang artinya ada pengaruh
orientasi pasien baru dengan tingkat
kecemasan pasien di RSU PKU
Muhammadiyah Delanggu.
dapatkan seseorang maka semakin
dialami. Pasien baru jika dari awal
masuk sudah mendapatkan orientasi
kebingungan dengan lingkungan baru
tidak akan mengalami kecemasan. Hal
ini di dukung dengan teori hawari
(2011) bahwa orientasi pasien baru
sangat perlu dilakukan oleh perawat,
karena pasien baru akan mengalami
kecemasan ketika berada di lingkungan
baru RSU karena ketidak tahuan pasien
dan keluarga mengenai kegiatan yang
ada di rumah sakit. Kecemasan sering
di alami oleh kebanyakan orang, ketika
individu berada dalam suatu
mana individu biasa berada.
karna tidak semua pasien mau mengisi
kuisioner yang ada di rumahsakit. Hal
tersebut yang menyebabkan peneliti
mengalami dalam mengumpulkan hasil
penelitian ini adalah metode
Asymp. Sig. .000
a. 0 cells (.0%) have expected frequencies less than 5. The
minimum expected cell frequency is 45.7.
bervariasi supaya dapat dibandingkan
dan memilih karakteristik didalamnya
sehingga Peneliti mendapatkan apa
Tingkat Kecemasan Pasien di RSU PKU
Muhammadiyah Delanggu, dapat
disimpulkan sebagai berikut :
) dan minoritas < 30 tahun sebanyak 4
responden ( 4,45%) , berdasarkan
berdasarkan pekerjan mayoritas Buruh
(56,2%).
Muhammadiyah delanggu, mayoritas
Muhammadiyah Delanggu. Hal ini
dengan Chi-square mendapatkan nilai
pengaruh Orientasi Pasien Baru
PKU Muhammadiyah Delanggu
Delanggu
Delanggu.
lebih signifikan.
terhadap tingkat kecemasan.
3. Bagi responden
Menambah pengalaman kepada
sebuah penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta;
Kebidanan. Jakarta: Buku
Bahasa Indonesia (online):Diakses
12 Januari 2015
Penelitian Keperawatan Dan
FKUI Jakarta.
Jakarta; GaraIlmu.
rawat inap di rumah sakit bakti
wira tamtama semarang. Skripsi
tentang layanan keperawatan di
rumah sakit : Universitas Gajah
metodologi penelitian ilmu
keperawatan. Jakarta : Salemba
fundamental keperawatan
Tamtama Semarang. Skripsi
Kesehatan Terhadap
Universitas Brawijaya. Skripsi
Kedokteran EGC.
http//www.SOP.htm
Sakit (Online).
Profesi Perawat. Jakarta; EGC.
Karakteristik berdasarkan Umur
Terhadap Tingkat Kecemasan
Internal Rsud Kabupaten Papua
Barat; Poltekes Kemenkes Sorong
Dihasilkan Dari Atribusi.
UNTUK BAYI USIA 9-12 BULAN TERHADAP KETRAMPILAN KADER DI DESA
NANGGULAN KECAMATAN CAWAS KABUPATEN KLATEN
Disusun Oleh :
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
(STIKES) DUTA GAMA KLATEN
NASI TIM UNTUK BAYI USIA 9-12 BULAN TERHADAP KETRAMPILAN
KADER DI DESA NANGGULAN KECAMATAN CAWAS
KABUPATEN KLATEN
Latar Belakang : Pelatihan merupakan bentuk nyata yang dapat dilakukan oleh pemerintah
untuk meningkatkan mutu kader, selain itu sebagai salah satu jawaban atas kritik masyarakat
terhadap pemerintah. Pelatihan kader dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan
pengetahuan kader serta ketrampilan sekaligus dedikasi kader.
Tujuan : Untuk mengetahui Pengaruh Pelatihan Kader Posyandu tentang pembuatan nasi tim
untuk bayi usia 9-12 bulan terhadap Ketrampilan Kader di Desa Nanggulan Kecamatan
Cawas Kabupaten Klaten.
Metode Penelitian : Penelitian menggunakan metode pra eksperimen dengan pendekatan one
group pre test posttest. Populasi dalam penelitian ini adalah kader kesehatan di Desa
Nanggulan, Cawas, Klaten sebanyak 20 orang. Instrument menggunakan checklist, analisa
data menggunakan paired t-test
Hasil Penelitian : Ketrampilan kader mengenai pembuatan nasi tim untuk bayi usia 9-12
bulan, sebelum diberikan pelatihan di Desa Nanggulan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten
adalah 11-21. Ketrampilan kader mengenai pembuatan nasi tim untuk bayi usia 9-12 bulan
sesudah diberikan pelatihan di Desa Nanggulan, Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten adalah
17-21
Kesimpulan : Ada Pengaruh Pelatihan Kader Posyandu tentang pembuatan nasi tim untuk
bayi usia 9-12 bulan terhadap Ketrampilan Kader di Desa Nanggulan Kecamatan Cawas
Kabupaten Klaten dengan nilai = 0,000 (p<0,05).
Kata Kunci : Pelatihan, Kader, Posyandu, Nasi Tim, Bayi Usia 9-12 Bulan, Ketrampilan
PENDAHULUAN
tentang Kesehatan pasal 3 yaitu bertujuan
untuk meningkatkan kesadaran, kemauan,
orang, sebagai investasi bagi pembangunan
sumber daya manusia yang produktif
secara sosial dan ekonomis.
Salah satu upaya mewujudkan
pembangunan bidang kesehatan pada
dengan memberdayakan masyarakat. Salah
mengikutsertakan anggota masyarakat atau
dalam masalah-masalah kesehatan. Kader
ditengah-tengah masyarakat, yang
dan Yuswanto, 2011).
mengalami kemajuan dalam perkembangan
harus memperhatikan komposisi
dan tidak lebih. Masa ini merupakan masa
adaptasi masa bayi memasuki masa anak-
anak. Masa ini anak mulai dikenalkan
dengan makanan yang bertekstur kental,
agak kasar dan padat seperti nasi tim. Hal
ini dimaksudkan agar bayi mulai
mengunyah ketika gigi susunya tumbuh
(Lalage, 2013).
mewujudkan derajat kesehatan masyarakat
kader dalam mengembangkan program
dimaksudkan untuk meningkatkan
Yuswanto, 2011).
untuk meningkatkan mutu kader, selain itu
sebagai salah satu jawaban atas kritik
masyarakat terhadap pemerintah. Pelatihan
kader dimaksudkan untuk meningkatkan
ketrampilan sekaligus dedikasi kader.
kader dalam melayani masyarakat, baik di
posyandu maupun saat kunjungan rumah
(Hartono, 2011).
kelangsungan hidup anak di Indonesia. Hal
ini diperkuat dengan Undang-undang
setelah bayi usia 6 bulan.
Ketrampilan adalah kemampuan
diperoleh melalui pengamatan langsung
maupun tidak langsung (Notoatmodjo,
dan penyajiannya.
menunjukkan bahwa pengetahuan kader
melakukan pelatihan bagi kader.
Hasil studi pendahuluan yang
285 dari kunjungan posyandu dari Januari -
Desember 2014 terdapat 89 orang balita
yang termasuk gizi baik. Berdasarkan
interview yang dilakukan pada bidan di
Desa Nanggulan Kecamatan Cawas
Kabupaten Klaten mengatakan bahwa
bidan pernah melakukan pendidikan
kesehatan tentang pemberian makanan
pengolahan. Wawancara dengan 10 ibu
yang mempunyai bayi sebanyak 6 orang
ibu mengatakan bahwa jenis makanan bayi
yang diberikan adalah buatan seperti bubur
sumsum dan instan misalnya nasi tim dan
sayuran. Sedangkan 4 orang ibu
mengatakan jenis makanan yang diberikan
adalah makanan lumat yaitu nasi tim. Hasil
wawancara dan pengamatan dalam
posyandu di Desa Nanggulan Kecamatan
Cawas Kabupaten Klaten didapatkan
dan dapat mempraktekkan dalam
yaitu bisa menyebutkan 5 cara dan bahan
yang digunakan untuk membuat makanan
bayi usia 9-12 bulan yaitu nasi tim dan 4
kader belum tahu dan terampil dalam
membuat makanan bayi usia 9-12 bulan
atau nasi tim.
penelitian tentang ”Pengaruh Pelatihan
tim untuk bayi usia 9-12 bulan terhadap
Ketrampilan Kader di Desa Nanggulan
Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten”.
melakukan kegiatan percobaan yang
pengaruh yang timbul sebagai akibat dari
adanya perlakuan. Percobaan yang
variabel (Notoatmodjo, 2012). Rancangan
test design, yaitu suatu rancangan yang
mengungkapkan hubungan sebab akibat
Populasi dalam penelitian ini adalah kader
kesehatan di Desa Nanggulan, Cawas,
Klaten sebanyak 20 orang. Teknik
pengambilan sampel yang digunakan
pengambilan sampel jumlah populasi
(Notoatmodjo, 2012). Sampel dalam
Desa Nanggulan Cawas Klaten sebanyak
20 responden. Analisis bivariat merupakan
analisis untuk mengetahui interaksi dua
variabel baik berupa komparatif, asosiatif,
maupun korelatif (Saryono, 2008). Analisis
bivariat dilakukan terhadap dua variabel
yang diduga berhubungan atau berkorelasi
(Notoatmodjo, 2012). Analisis bivariat
kepercayaan penelitian ini 95%.
bahwa sebagian besar umur
responden pada penelitian ini
dewasa menengah (21-49 tahun)
sebanyak 14 responden (70%)
sedangkan sebagian berada pada
Pendidikan responden sebagian
sebagian kecil responden tamat
(35%). Pekerjaan diketahui bahwa
sebagian besar responden sebagai
orang (45%), sebagai petani
sebanyak 7 responden (35%),
responden (15%) dan sebagian
hanya 1 orang (5%).
b. Ketrampilan kader mengenai
9-12 bulan, sebelum diberikan
pelatihan di Desa Nanggulan
bulan, sebelum diberikan
9-12 bulan, sebelum diberikan
pelatihan di Desa Nanggulan
c. Ketrampilan kader mengenai
9-12 bulan sesudah diberikan
pelatihan di Desa Nanggulan,
bulan sesudah diberikan
9-12 bulan sesudah diberikan
pelatihan di Desa Nanggulan,
2. Analisa Bivariat
a. Uji Normalitas
dan Postest Ketrampilan
kader mengenai pembuatan
bulan
sedangkan pada kelompok posttest
berdistribusi normal.
Posyandu tentang
bahwa Ho ditolak dan Ha diterima
jadi ada Pengaruh Pelatihan Kader
Posyandu tentang pembuatan nasi
terhadap Ketrampilan Kader di
Desa Nanggulan Kecamatan Cawas
bulan terhadap Ketrampilan Kader di Desa
Nanggulan Kecamatan Cawas Kabupaten
Hasil ini didukung dengan penelitian yang
dilakukan oleh Anis (2013) Universitas
Negeri Sebelas Maret Surakarta dengan
judul “Pengaruh Pelatihan Pemberian
Terhadap Pengetahuan, Keterampilan,
% kategori kurang.
ketrampilan sekaligus dedikasi kader.
kader dalam melayani masyarakat, baik di
posyandu maupun saat kunjungan rumah
(Hartono, 2011). Hasil ini didukung
dengan penelitian Hidayad (2012) di
Daerah Terpencil Kabupaten Pacitan, Jawa
Timur didapatkan hasil bahwa
pengetahuan kader tentang memasak
pengetahuan kader masih perlu
ditingkatkan misalnya dengan melakukan
disimpulkan bahwa ada Pengaruh
Pelatihan Kader Posyandu tentang
bulan terhadap Ketrampilan Kader di Desa
Nanggulan Kecamatan Cawas Kabupaten
Klaten yang ditunjukkan dengan
diadakannya pelatihan sehingga
kader akan lebih optimal jika adanya
dukungan atau motivasi, serta pelatihan
dalam hal ini adalah motivasi dan pelatihan
yang diberikan dari tenaga kesehatan atau
bidan desa setempat. Hal ini didukung oleh
Mubarak (2007), bahwa Pengalaman
seseorang dalam berinteraksi dengan
tersebut menyenangkan maka secara
mendalam dan membekas dalam emosi
kejiwaannya dan akhirnya dapat pula
membentuk sikap positif dalam
sebelum dilakukan pelatihan dalam
menjadi 21 melakukan langkah-langkah
pelatihan. Hasil ini sesuai dengan teori
Tujuan umum pelatihan kader posyandu
adalah meningkatkan pengetahuan,
2011).
besar adalah lebih dari 35 tahun. Hal ini
menunjukkan bahwa pada usia lebih dari
35 tahun merupakan suatu tahap dimana
orang usia paruh baya bertanggung jawab
terhadap sistem sosial yang berhadapan
dengan relasi kompleks. Hasil ini sesuai
dengan teori Mubarak (2007), yang
mengatakan bahwa dengan bertambahnya
perubahan pada aspek fisik dan psikologis
(mental). Pertumbuhan fisik secara garis
besar dapat dikategorikan menjadi empat,
yaitu perubahan ukuran, perubahan
timbulnya ciri-ciri baru. Hal ini terjadi
akibat pematangan fungsi organ. Pada
aspek psikologis atau mental taraf berfikir
seseorang semakin matang dan dewasa.
Hasil ini didukung dengan hasil tabel
4.1 umur responden sebagian besar adalah
lebih dari 35 tahun sebanyak 14 responden
(70%). Hasil ini menunjukkan bahwa umur
responden termasuk umur dewasa. Umur
dewasa dapat lebih matang atau lebih
bijaksana dalam melakukan suatu hal
menerima hal baru. Hasil penelitian sesuai
dengan penelitian Anis (2013) Universitas
Negeri Sebelas Maret Surakarta dengan
judul “Pengaruh Pelatihan Pemberian
Terhadap Pengetahuan, Keterampilan,
umur kader adalah lebih dari 35 tahun.
Tabel 4.2 Pendidikan responden
dengan pendidikan responden sebagian
SMA. Hal ini menunjukkan bahwa
responden telah memahami arti penting
pendidikan sehingga dapat menempuh
pendidikan hingga tingkat menengah.
Semakin tinggi pendidikan seseorang
banyak pula pengetahuan yang
dimilikinya. Sebaliknya jika seseorang
tingkat pendidikannya rendah, akan
menjalankan perannya (Mubarak, 2007).
Tabel 4.3 Pekerjaan responden
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
rumah tangga atau tidak bekerja. Hal ini
sesuai dengan teori Mubarak (2007) yang
mengatakan bahwa lingkungan pekerjaan
dapat menjadikan seseorang memperoleh
Berdasarkan hasil penelitian, teori
tidak ada kesenjangan antara teori, hasil
penelitian dan penelitian terdahulu maka
dapat dikatakan bahwa pelatihan
tim pada bayi 9-12 bulan dengan didukung
umur, pendidikan dan pekerjaan kader.
KETERBATASAN PENELITIAN
informasi. Bias seleksi yaitu kesalahan
sistematik dalam pemilihan responden atau
sampel, karena setiap penelitian yang
sifatnya probabilitas terdapat bias atau
standar error 5%, sehingga untuk
mengurangi bias seleksi, sampel ditentukan
sendiri oleh peneliti tanpa pertimbangan
dari bidan setempat.
checklist. Dalam pengambilan data
terhadap responden, responden mengisi
bias, untuk itu perlu dilakukan persamaan
persepsi terlebih dahulu antar numerator
agar ketika responden mengisi checklist
tidak mengalami kesulitan atau perbedaan
informasi antara numerator. Persamaan
yang diberikan sehingga bias yang terjadi
dapat dikurangi seminimal mungkin.
12 bulan, sebelum diberikan pelatihan
di Desa Nanggulan Kecamatan Cawas
Kabupaten Klaten dengan skor nilai
11-21, lebih dari rata-rata (15)
sebanyak 30%.
12 bulan sesudah diberikan pelatihan
di Desa Nanggulan, Kecamatan Cawas
Kabupaten Klaten dengan skor nilai
17-21,lebih dari rata-rata (20)
untuk bayi usia 9-12 bulan terhadap
Ketrampilan Kader di Desa Nanggulan
Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten
SARAN
Klaten
referensi untuk melakukan penelitian
sejenis, meningkatkan pengetahuan dan
tim untuk bayi usia 9-12 bulan.
2. Bagi Institusi Desa Nanggulan
Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten
digunakan sebagai masukan untuk
dilakukannya suatu pembinaan yang
masyarakat sehingga kader posyandu
ataupun masyarakat dapat lebih
12 bulan, dengan cara bekerja sama
dengan tenaga kesehatan dalam
dan kualitas pelayanan terutama
dengan pemberian pelatihan tentang
bayi usia 9-12 bulan.
12 bulan sehingga dapat
mendemonstrasikan pada ibu-ibu yang
mempunyai bayi desa setempat.
5. Bagi Ibu Bayi
mengikuti pendidikan kesehatan tentang
DAFTAR PUSTAKA
Suatu Pengantar Praktek. Jakarta:
dalam Usaha Perbaikan keluarga.
dan Perkembangannya di Indonesia.
Makanan Tambahan. Yogyakarta :
Kebidanan. Jakarta : Salemba
Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Yulifah, Rita dan Yuswanto, .J.A. 2011.
Asuhan Kebidanan Komunitas.
Jakarta : Salemba Medika.