of 131/131
HUBUNGAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERCAYA DIRI ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK KELURAHAN PONDOK CABE ILIR Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam anak Usia Dini (S.Pd) Oleh Warda Daulay 11140184000015 JURUSAN PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1441H / 2019 M

HUBUNGAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERCAYA DIRI …

  • View
    1

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of HUBUNGAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERCAYA DIRI …

PERCAYA DIRI ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK
KELURAHAN PONDOK CABE ILIR
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Syarat
Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam anak Usia Dini (S.Pd)
Oleh
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Warda Daulay, NIM: 11140184000015. Hubungan Antara Interaksi Teman
Sebaya Dengan Percaya Diri Anak Usia 5-6 Tahun Di TK Kelurahan Pondok
Cabe Ilir. Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
tidaknya hubungan yang signifikansi antara interaksi teman sebaya dengan
percaya diri anak usia 5-6 tahun di TK kelurahan Pondok Cabe Ilir. Jenis
penelitian yang dilakukan adalah metode kuantitatif dengan desain
korelasional, penelitian ini dilakukan di TK Kelurahan Pondok Cabe Ilir.
Pemilihan Sampel dilakukan dengan metode multistage random sampling,
jumlah sampel yang diambil adalah 47 responden anak usia 5-6 tahun.
Instrumen penelitian yang dilakukan adalah kuesioner
interaksi teman sebaya
dan percaya diri anak. Teknik analisis data yang dilakukan menggunakan uji
statistik Kolmogrov Smirnov dengan perhitungan SPSS. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara interaksi
teman sebaya dengan percaya diri anak usia 5-6 tahun di TK Kelurahan
Pondok Cabe Ilir. Berdasarkan hasil uji korelasi interaksi teman sebaya
dengan percaya diri anak, didapatkan nilai r hitung 0,781 dan nilai r tabelnya
0,288, dengan signifikansi hitung 0,000 < 0,05. Maka dapat disimpulkan,
terdapat korelasi atau hubungan positif antara interaksi teman sebaya dengan
percaya diri anak. Artinya jika anak memiliki percaya diri yang tinggi maka
diikuti dengan interaksi teman sebaya yang tinggi juga, atau sebaliknya.
Determinasi yang dihasilkan adalah 60% maka dapat diketahui bahwa
interaksi teman sebaya memberi kontribusi sebesar 60% terhadap percaya diri
anak.
ii
dengan judul “Hubungan antara Interaksi Teman Sebaya dengan Percaya Diri
Anak Usia 5-6 Tahun di TK Kelurahan Pondok Cabe Ilir” ini dapat terselesaikan
dengan baik.
SAW yang telah menuntun ummatnya menuju jalan yang dirahmati Allah.
Semoga syafaatnya terlimpahkan kepada kita semua.
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu persyaratan
dalam menyelesaikan program Sarjana Pendidikan Islam Anak Usia Dini di UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta dan sebagai wujud serta partisipasi penulis untuk
mengimplementasikan ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama di bangku kuliah.
Penulis sadar bahwa dalam hal ini tidaklah mungkin dapat menyelesaikan
skripsi ini tanpa bantuan, arahan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh
karenanya, penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Siti Khadijah, MA Sebagai Ketua Jurusan Pendidikan Islam anak Usia
Dini (PIAUD), penulis mengucapkan banyak terima kasih atas ilmu
dan support yang telah diberikan selama penulis kuliah di kampus ini.
2. Ratna Faeruz, M.Pd dan Yubaedi Siron, M.Pd sebagai dosen
pembimbing yang luar biasa baik dan luar biasa hebat, penulis juga
mengucapkan terim kasih karena telah membimbing dan mensupport
penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
3. Para dosen dan staf UIN Jakarta yang telah mengajar di Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan. Khususnya yang mengajar di jurusan
Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Penulis banyak mengucapkan
banyak terima kasih atas ilmu yang telah diberikan selama penulis
kuliah dikampus tercinta ini.
4. Kepada kedua orangtua penulis ucapkan terima kasih, karena sudah
memberikan dukungan, doa, cinta dan kasih sayang serta biaya yang
tidak bisa penulis ganti dengan apapun. Semoga Allah memberikan
umur yang panjang untuk kalian.
5. Kepala sekolah TK Islam Ummul Qura, TK Almuta’allimin, dan Tk
Al-Karim, terima kasih penulis ucapkan karena sudah memberikan
penulis kesempatan untuk melakukan penelitian.
6. Teman-teman seperjuangan semasa kuliah PIAUD angkatan 2014,
terima kasih sudah menjadi bahagian dari perjalanan perjuangan ini.
7. Kepada Laznas BSM, terima kasih penulis ucapkan karena telah
memberikan beasiswa sehingga penulis tidak mengalami kesulitan
dalam biaya perkuliahan.
8. Kepada keluarga Alfatih Laznas BSM, terima kasih penulis ucapkan
karena sudah menjadi keluarga sekaligus teman.
9. Kepada keluarga Konkret Academi, penulis ucapkan terima kasih
karena telah banyak memberikan pengalaman-pengalaman serta ilmu
untuk berwirausaha.
ucapkan untuk pertemuan/agenda yang di dakan HIMAPALAS
sehingga penulis tidak merasa sendirian di rantau orang.
11. Kepada keluarga IKAPA Jabodetabek, terima kasih penulis ucapkan
karena sudah mendukung penulis agar dapat menyelesaikan skripsi ini.
12. Fikri Amalia Siregar terima kasih untuk persahabatan yang selama ini.
13. Kepada Suciani, penulis mengucapkan terima kasih karena sudah sabar
menghadapi tingkah laku penulis, sekaligus penulis minta maaf karena
sudah sering jahilin suci.
sering membawa beras dan makanan ke kosan.
15. Memey terima kasih sudah sabar mengajari penulis untuk pengolahan
data dalam skripsi ini.
16. Kepada guru-guru TK Dua Mei, terima kasih telah memberikan
dukungan untuk selalu semangat dalam menjalani perkuliahan.
17. Kepada guru-guru TK Islam Aqilah Legoso sekaligus Partner
mengajar, miss Nadia dan miss Iis, dan miss Ika, terima kasih banyak
sudah mendukung dan memberi saran kepada penulis.
18. Kepada seluruh teman-teman kosan, Rani terima kasih sudah
membantu dalam penulisan skripsi ini.
19. Sakinah terima kasih sudah sabar merapikan dan melihat poto copyan
buku yang bersebaran di kosan.
20. Lanma terima kasih sudah membantu dan menemani penulis mencari
buku referensi untuk penulisan skripsi ini.
21. Hamisa terima kasih telah membantu membaca typo dan cara
penulisan skripsi penulis.
22. Kepada Muhammad Rio Alfin Pulungan terima kasih sudah membantu
penulis selama menjalani perkuliahan.
dukungan untuk penulisan skripsi ini.
24. Terima kasih untuk seluruh teman-teman yang tidak penulis sebut
namanya satu persatu.
Dalam penyusunan skirpsi ini tentunya masih jauh dari kata sempurna, meskipun
penulis telah berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik. Oleh
karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sebagai tambahan
pengetahuan dan penerapan disiplin ilmu pada lingkungan yang lebih luas. Akhir
kata dengan segala kerendahan hati, penulis berharap semoga dengan skripsi ini
dapat bermanfaat bagi penulis sendiri khususnya dan kepada semua pembaca
skripsi pada umumnya.
B. Identifikasi Masalah ......................................................................... 5
C. Pembatasan Masalah ........................................................................ 5
D. Perumusan Masalah ......................................................................... 6
E. Tujuan Penelitian ............................................................................. 6
F. Kegunaan Penelitian ......................................................................... 6
A. Deskripsi Teoritik
a. Pengertian Percaya Diri Anak Usia Dini ............................... 8
b. Aspek-Aspek Percaya Diri Anak Usia Dini ......................... 10
c. Ciri-Ciri Percaya Diri Anak Usia Dini ................................. 12
d. Faktor-Faktor Yang Membangun Percaya Diri Anak
Usia Dini ............................................................................ 16
Usia 5-6 Tahun ..................................................................... 27
vi
C. Populasi Dan Sampel ..................................................................... 35
D. Teknik Pengumpulan Data ............................................................. 36
1. Variabel Percaya Diri ................................................................ 36
a. Definisi Konseptual .............................................................. 36
b. Definisi Operasional ............................................................. 36
c. Uji Validitas .......................................................................... 38
d. Uji Reliabilitas ....................................................................... 40
a. Definisi Konseptual ............................................................. 41
b. Deinisi operasional ............................................................... 41
c. Uji Validitas .......................................................................... 42
d. Uji Reliabilitas ...................................................................... 44
F. Hipotesis Penelitian ....................................................................... 47
A. Deskripsi Data
1. Uji Normalitas ........................................................................... 51
2. Uji Hipotesis .............................................................................. 51
C. Pembahasan Penelitian ................................................................... 55
D. Keterbatasan Penelitian .................................................................. 58
A. Kesimpulan .................................................................................... 59
B. Implikasi ........................................................................................ 59
C. Saran .............................................................................................. 60
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 62
Tabel 3.2 : Kisi-Kisi Instrumen Percaya Diri
Tabel 3.3 : Hasil Uji Validitas Percaya Diri Anak
Tabel 3.4 : Reliabilitas Percaya Diri Anak
Tabel 3.5 : Kisi-Kisi Instrumen Interaksi Teman Sebaya
Tabel 3.6 : Hasil Uji Validitas Interaksi Teman Sebaya
Tabel 3.7 : Reliabilitas Interaksi Teman Sebaya
Tabel 3.8 : Interpretasi Nilai Tabel “r”
Tabel 4.1 : Distribusi Frekuensi Skor Variabel Interaksi Teman Sebaya
Tabel 4.2 : Distribusi Frekuensi Percaya Diri Anak
Tabel 4.3 : Uji Signifikansi Normalitas Data
Tabel 4.4 : Interpretasi nilai r
Tabel 4.5 : Hasil uji korelasi variabel interaksi teman sebaya dengan percaya diri
anak
ix
LAMPIRAN 1 Kisi-Kisi Instrumen Interaksi Teman Sebaya dan Percaya Diri
Anak
LAMPIRAN 2 Lembar Observasi Interaksi Teman Sebaya dan Percaya Diri
Anak
LAMPIRAN 3 Penjelasan Skala Nilai Lembar Observasi Interaksi Teman Sebaya
dan Percaya Diri Anak
LAMPIRAN 4 Uji Validitas Interaksi Teman Sebaya dan Percaya Diri Anak
LAMPIRAN 5 Hasil Uji Validitas Interaksi Teman Sebaya dan Percaya Diri
Anak
LAMPIRAN 6 Uji Realibilitas Instrumen Penelitian Interaksi Teman Sebaya dan
Percaya Diri Anak
LAMPIRAN 7 Uji Normalitas Interaksi Teman Sebaya dan Percaya Diri Anak
LAMPIRAN 8 Uji Signifikansi Interaksi Teman Sebaya Dengan Percaya Diri
Anak
LAMPIRAN 9 Hasil Uji Signifikansi Interaksi Teman Sebaya Dengan Percaya
Diri Anak
LAMPIRAN 11 Surat Keterangan Penelitian
LAMPIRAN 12 Uji Referensi
Anak usia dini merupakan sosok individu yang sedang mengalami
suatu proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan
selanjutnya. 1 Setiap anak memiliki pribadi yang sangat unik dan memiliki
karakteristik yang beraneka ragam. Karakter yang dimiliki anak terdiri dari
beberapa aspek. Aspek perkembangan anak meliputi perkembangan
kognitif, bahasa, fisik/motorik, sosial, emosional, nilai moral dan agama.
Aspek yang ada pada anak perlu dikembangkan sesuai dengan tahapannya.
Salah satunya yaitu aspek perkembangan sosial, dimana anak tidak hanya
berinteraksi dengan satu lingkungan saja, namun berbagai macam
lingkungan yang ada disekitarnya. Selain itu anak harus mengetahui
kemampuan dan kelemahan yang ada pada dirinya.
Perkembangan sosial dan emosional memiliki beberapa dimensi, salah
satunya adalah rasa percaya diri. Rasa percaya diri merupakan suatu
kepercayaan akan kemampuan diri sendiri dan menyadari kemampuan yang
dimiliki serta dapat mengekspresikan kemampuannya. 2
Kepercayaan diri tidak dibawa sejak lahir. Kepercayaan diri mulai
ditumbuhkan dan distimulasi sejak dini. Kepercayaan diri merupakan hal
yang penting bagi anak untuk menapaki roda kehidupan. Kepercayaan diri
akan menjadi modal untuk kesuksesan anak kelak. Anak akan lebih cepat
bergaul, akan lebih cepat menguasai keahlian dan lebih siap menghadapi
masalah. Anak yang memiliki kepercayaan diri maka akan mampu
menguasai bidang tertentu dan lebih mudah menyerap hal yang
diinformasikan padanya. Saat dewasa anak juga akan lebih mampu
menghadapi berbagai tantangan kehidupan secara maksimal tanpa meminta
1 Yuliani Nurani, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, (Jakarta : PT Indeks 2013),
h. 6. 2 Sri Wahyuni, Upaya Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak Usia Dini Melalui Metode
Bercerita, Jurnal Raudhah, Vol. 5 2017, h. 2
2
bantuan yang berlebihan pada orang lain. Anak yang memiliki percaya diri
yang baik akan bisa dan mampu untuk belajar serta berhubungan positif
dengan orang lain. Sedangkan anak yang memiliki indikasi kurang percaya
diri sering menunjukkan sikap kurang baik terhadap orang lain atau orang
disekitarnya.
dan ditanamkan melalui pendidikan, sehingga upaya-upaya tertentu dapat
dilakukan guna untuk membentuk dan meningkatkan rasa percaya diri. 3
Percaya diri dapat tumbuh dikarenakan adanya pengalaman dan interaksi
dengan lingkungannya. Pengalaman tersebut menjadi sebuah pengalaman
untuk anak. Hal-hal yang dialami anak untuk pertama kalinya dalam
kehidupan terutama dalam mengatasi hambatan memberi pengaruh yang
sangat besar terhadap kemampuan anak selanjutnya. Pengalaman-pengalaman
yang dialami seseorang terutama pada saat kanak-kanak menjadi langkah
awal perkembangan percaya diri.
mendorong seseorang untuk maju dan berkembang serta selalu memperbaiki
diri. 4 Pearce juga mengemukakan bahwa kepercayaan diri berasal dari
tindakan, kegiatan dan usaha untuk bertindak bukannya menghindari
keadaan dan bersifat pasif. Pernyataan tersebut kemudian diperkuat oleh
Hakim yang menyatakan bahwa kepercayaan diri adalah keyakinan
seseorang terhadap aspek kelebihan yang dimilikinya dan membuat
kemampuan untuk mencapai berbagai tujuan hidup. 5 Pernyataan tersebut
dapat diartikan bahwa tingkat percaya diri yang baik dapat memudahkan
individu dalam mengambil sebuah keputusan dan dapat memudahkan
3 Muzdalifah M. Rahman, Peran Orangtua Dalam Membangun Kepercayaan Diri Pada
Anak Usia Dini, vol 8, 2013, h. 377. 4 Ibrahim Elfiky, Terapi Berpikir Positif, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta 2009) h. 54.
5 Aprianti Yofita Rahayu, Menumbuhkan Kepecayaan Diri Melalui Kegiatan Bercerita,
(Jakarta: PT Indeks 2011), h. 63.
3
pekerjaan.
Salah satu hal yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya percaya
diri seorang anak adalah teman sebaya, hal ini dikarenakan anak banyak
menghabiskan waktu dengan teman sebayanya. Santrock mengemukakan
bahwa dukungan sosial yang berpengaruh terhadap rasa percaya diri pada
yang seusia dan kematangannya sama dari pengaruh dukungan sosial dan
persetujuan sosial dalam bentuk konfirmasi dari orang lain. 6 Melalui interaksi
dengan teman sebaya anak merasa banyak mendapatkan keuntungan
diantaranya anak dapat belajar lebih mandiri, anak juga dapat belajar
memecahkan masalah dengan caranya sendiri atau dengan cara melihat
bagaimana teman-temannya memecahkan masalah mereka.
Percaya diri penting bagi anak dalam hubungannya dengan proses
sosialisasi dan adaptasi dengan teman-teman dan lingkungannya, terutama
ketika anak memasuki pendidikan formal. Untuk melakukan kegiatan
disekolah khususnya belajar anak perlu melakukan interaksi dengan teman,
guru dan lingkungannya sesuai dengan kemampuannya. Anak diharapkan
mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan khususnya di lingkungan
sekolah, dimana anak tampil dan berkomunikasi dengan baik serta
mengekspresikan keinginan dan harapan-harapan. Apabila kepercayaan diri
semakin kuat, anak akan semakin dirangsang untuk berani mencoba dan
menghadapi masalah baru yang ada di dalam kehidupan sehari-harinya.
Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Tawalujan, Kundre
& Rompas menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara bullying dengan
kepercayaan diri pada remaja di SMP Negeri 10 Manado. 7
Penelitian lain tentang hubungan dukungan sosial dengan kepercayaan
diri pada masa kanak-kanak akhir di sekolah dasar negeri Jember. Oleh
6 Marizki Putri, Hubungan Kepercayaan Diri dan Dukungan Teman Sebaya dengan Jenis
Perilaku Bullying di MTsN Lawang Mandiiling Kec. Silimpaung, Menara Ilmu, Vol XII, 2018. h.
110 7 Aprilia Eunike Tawalujan, Rina Kundre, Sefti Rompas, Hubungan Bullying dengan
Kepercayaan Diri pada Remaja di SMP Negeri 10 Manado, Jurnal Keperawatan, Vol 6, 2018, h.
1
4
Ernawati, dkk, menyebutkan bahwa terdapat hubungan dukungan sosial
dengan kepercayaan diri pada masa kanak-kanak akhir di SDN Jember. Anak
yang memperoleh dukungan sosial berpeluang 6.266 kali untuk memiliki
kepercayaan diri, sehingga diharapkan lingkungan sosial meliputi orangtua,
teman sebaya, dan masyarakat dapat memberikan dukungan yang dapat
meningkatkan kepercayaan diri anak. 8
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Elyana Nur Rohmah
menyebutkan bahwa teknik diskusi kelompok berpengaruh untuk
meningkatkan kepercayaan diri yang dimiliki siswa kelas VIII-D SMPN 8
Kediri tahun ajaran 2016/2017. Oleh karena itu untuk meningkatkan dan
menumbuhkan kepercayan diri yang dimiliki oleh siswa agar dapat meraih
prestasi yang membanggakan disarankan kepada guru agar menerapkan
teknik diskusi kelompok untuk meningkatkan kepercayaan diri yang dimiliki
oleh siswa. 9
Penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni pada TK usia 4-5 tahun di
PAUD Puspa Adi Surabaya mengenai pengaruh sentra balok terhadap rasa
percaya diri anak dengan skor post test menunjukkan 18,86. Hasil ini
tergolong kriteria rasa percaya diri anak muncul karena penyediaan mainan
yang bervariasi, sehingga memberikan kesempatan kepada anak untuk
menuangkan imajinasinya seperti yang pernah anak lihat, serta menghargai
hasil kerja anak. 10
temannya, mereka akan berani mengekspresikan ide, rasa percaya diri tinggi,
merasa nyaman jika dihargai. Karena dapat bergerak dengan sesuai
petualangan mereka. 11
8 Yuyun Ernawati, Hanny Rasni, Ratna Sari Hardiani, Hubungan Dukungan Sosial
dengan Keprcayaan Diri pada Masa Kanak-Kanak Akhir di Sekolah Dasar Negeri Jember Lor 1
Kecamatan Patrang Kabupaten Jember, Artikel Ilmiah, 2012. h. 1 9 Elyana Nur Rohmah, Pengaruh Teknik Permainan Kerjasama Terhadap Keampuan
Komunikasi Interpersonal Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Gurah Tahun Pelajaran 2017/2018,
Simki-Pedagogia, Vol 02, 2018. h. 2.. 10
Made Ayu Anggraeni, Penerapan Bermain Untuk Membangun Rasa Percaya Diri
anak Usia Dini, Jurnal of Early Childhood and Inclusive Education, Vol 1, 2017. h. 2. 11
Ibid,. 2
5
Manfaat percaya diri bagi anak usia dini adalah anak akan mampu
menjadi pemimpin dalam kelompok teman sebayanya. Dikarenakan anak
mampu untuk membuat keputusan yang tepat tanpa ragu-ragu hal tersebut
akan diikuti oleh temannya yang lain, disamping itu anak akan dicontoh oleh
anak yang lain karena apa yang yang dilakukan oleh anak yang memiliki rasa
percaya diri akan menjadi acuan bagi anak lain agar mampu melakukannya.
Selain itu, juga dapat menjadi modal dasar bagi anak apabila anak beranjak
dewasa kelak, anak akan mampu menyelesaikan segala tantangan yang akan
dihadapinya dimasa yang akan datang.
Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini penting diungkapkan dalam
rangka menggambarkan bagaimana hubungan interaksi teman sebaya dengan
percaya diri anak usia 5-6 tahun. Melalui penelitian ini diharapkan akan
menemukan pola dan besaran hubungan interaksi teman sebaya dengan
percaya diri anak usia 5-6 tahun.
B. Identifikasi Masalah
mengidentifikasikan permasalahan yang berkaitan dengan hubungan antara
interaksi teman sebaya dengan percaya diri anak usia 5-6 tahun di TK
kelurahan Pondok Cabe Ilir adalah:
1. Terdapat 7 siswa yang percaya dirinya rendah.
2. Terdapat 3 anak yang memilih bermain sendiri daripada bermain
bersama.
3. Terdapat 4 anak yang kurang berinteraksi dengan teman-temannya.
4. Terdapat 2 anak yang malu ketika disuruh maju ke depan kelas.
5. Pentingnya peran teman sebaya dalam membangun percaya diri anak.
6
oleh peneliti, maka penelitian ini dibatasi pada hubungan antara interaksi
teman sebaya dengan percaya diri anak usia 5-6 tahun di TK kelurahan
Pondok Cabe Ilir.
D. Perumusan Masalah
masalah sebagai berikut
1. Apakah terdapat hubungan interaksi teman sebaya dengan
percaya diri anak usia 5-6 tahun di TK kelurahan Pondok Cabe
Ilir.
anak usia 5-6 tahun di TK kelurahan Pondok Cabe Ilir.
E. Tujuan Penelitian
1. adanya hubungan interaksi teman sebaya dengan perkembangan
sosial anak usia 5-6 tahun di TK kelurahan Pondok Cabe Ilir .
2. Bagaimana hubungan interaksi teman sebaya dengan
perkembangan sosial anak usia 5-6 tahun di TK kelurahan Pondok
Cabe Ilir.
a. Kegunaan teoritis
dengan percaya diri anak usia dini.
2) Sebagai bahan acuan dan referensi untuk penelitian sejenis yang
akan dilakukan peneliti berikutnya.
sekolah.
hubungan antara interaksi teman sebaya dengan percaya diri anak.
Serta memberi pengalaman dan pendalaman keilmuan di bidang
sosial anak usia dini.
2) Bagi Prodi, berguna untuk menambah wawasan dan informasi bagi
jurusan tentang hubungan interaksi teman sebaya dengan percaya
diri anak.
3) Bagi Guru, berguna sebagai pedoman bagi guru TK kelurahan
Pondok Cabe Ilir untuk mengembangkan percaya diri anak melalui
interaksi dengan teman sebaya.
dalam berinteraksi dengan teman sebaya.
8
A. Deskripsi Teoritik
Kepercayaan diri merupakan hal terpenting yang harus dimiliki
anak untuk menapaki roda kehidupan selanjutnya. Kepercayaan diri
memiliki fungsi langsung dari interpretasi seseorang terhadap
keterampilan atau kemampuan yang dimiliki untuk penampilan
perilaku tertentu atau untuk mencapai target dalam kehidupan. Rasa
percaya diri berpengaruh terhadap mental dan karakter mereka. Anak
yang memiliki mental dan karakter yang kuat akan menjadi modal
penting dalam kehidupan dimasa mendatang ketika menginjak usia
dewasa, sehingga mampu merespon semua tantangan dengan
realistis.
untuk bertindak bukan untuk menghindari keadaan dan bersifat tidak
peduli. Dengan kata lain anak dapat dikatakan percaya diri jika anak
berani melakukan suatu hal yang baik bagi dirinya sesuai dengan
pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya. Selain itu anak yang
percaya diri mampu menyelesaikan tugas sesuai tahap
perkembangannya dengan baik dan tidak bergantung pada orang lain.
Kepercayaan diri merupakan suatu kemampuan yang dimiliki
untuk berinteraksi terhadap lingkungan sekitar. Memiliki
kepercayaan diri anak bisa membedakan mana yang baik dan mana
yang tidak baik. Kepercayaan sebagai suatu perasaan yang berisi
kekuatan, kemampuan dan keterampilan untuk melakukan atau
menghasilkan sesuatu yang dilandasi keyakinan untuk sukses.
Kepercayan diri sangat bermanfaat dalam setiap keadaan, percaya diri
juga menyatakan seseorang bertanggung jawab atas pekerjaan karena
9
semakin sulit untuk memutuskan yang terbaik bagi diri mereka.
Pearce mengemukakan bahwa kepercayaan diri berasal dari
tindakan, kegiatan dan usaha untuk bertindak bukannya menghindari
keadaan dan bersifat pasif. Pernyataan tersebut kemudian diperkuat
oleh Hakim yang menyatakan bahwa kepercayaan diri adalah
keyakinan seseorang terhadap aspek kelebihan yang dimilikinya dan
membuat kemampuan untuk mencapai berbagai tujuan hidup. 1
Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa tingkat percaya diri yang
baik dapat memudahkan individu dalam mengambil sebuah
keputusan dan dapat memudahkan individu untuk memertahankan
kesuksesan dalam pembelajaran dan pekerjaan.
Yoder dan Proctor mengemukakan bahwa anak dapat dikatakan
memiliki kepercayaan diri jika anak tersebut aktif namun tidak
berlebihan dalam beraktivitas, tidak mudah terpengaruh oleh orang
lain, mudah bergaul, berpikir positif, memiliki tanggung jawab,
energik dan tidak mudah putus asa, dapat bekerja sama serta
mempunyai jiwa pemimpin. 2 Pernyataan tersebut dapat dijelaskan
bahwa percaya diri adalah aktif, ekspresi yang efektif dari perasaan
diri, dan harga diri. Anak yang percaya diri berperan aktif dan
berekspresi dalam mengajarkan atau melakukan sesuatu, anak yang
dapat mengerti dalam menghargai diri dan orang lain, sehingga anak
yakin akan kemampuan yang dimilikinya untuk menghadapi
kehidupan yang dijalaninya.
mereka yang memiliki optimisme jiwa dan mental yang siap
mengahadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. 3 Pernyataan
tersebut dapat dijelaskan bahwa orang yang memiliki kepercayaan
diri memiliki keyakinan pada kemampuan yang ada di dalam dirinya,
1 Aprianti Yofita Rahayu, Loc. Cit, h. 63.
2 Ibid, h. 69.
3 Ach Syaifullah, Tips Bisa Percaya Diri, (Jakarta: Gara Ilmu, 2010), h. 11.
10
mengahadapi segala kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya.
Menurut Alfiyatin dan Andayani kepercayaan diri merupakan
aspek kepribadian yang berisi keyakinan tentang kekuatan, yaitu
keyakinan dan keterampilan yang dimiliki individu. 4 Seseorang yang
memiliki kepercayaan diri biasanya menganggap bahwa dirinya
mampu melakukan segala sesuatu yang dihadapinya dengan
kemampuan yang dimilikinya. Sesuai dengan pendapat Kumara
bahwa kepercayaan diri merupakan ciri kepribadian yang
mengandung arti keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri.
Berdasarkan pernyataan-pernyataan definisi percaya diri dari
para ahli yang telah diuraikan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
percaya diri adalah keyakinan seorang anak akan kelebihan dan
kemampuan yang dimilikinya untuk dapat melakukan segala sesuatu
secara maksimal. Anak yang memiliki percaya diri akan mampu
menyeimbangkan tingkah laku, emosi dalam dirinnya, dan percaya
diri akan membawa seseorang ke jalan kesuksesan dalam
kehidupannya.
anak menjadi empat tingkatan sebagai berikut,
“Tingkatan pertama, dimulai sejak umur 0:4/0:6 tahun, anak
mulai mendapatkan reaksi positif terhadap orang lain, antara lain ia
tertawa karena mendengar suara orang lain. Tingkatan kedua, adanya
rasa bangga dan segan yang terpancar dalam gerakan dan mimiknya,
jika anak menang dari lomba akan kegirangan dalam gerak dan
mimiknya, tingkata ini biasanya terjadi pada anak usia kuran lebih 2
4 Risnawati, Rini, & M. Nur Ghufron, Teori-Teori Psikologi, (Yogyakarta:Ar-Ruzz
Media Grup, 2010), h. 34
11
tahun. Tingkatan ketiga, jika anak telah lebih dari umur 2 tahun,
mulai timbul perasaan simpati (rasa setuju) atau rasa antipati (rasa
tidak setuju) kepada orang lain, baik yang sudah dikenal atau belum.
Tingkatan keempat, pada masa akhir tahun kedua, anak setelah
menyadari akan pergaulannya dengan anggota keluarga makan akan
timbul keinginan untuk ikut campur dalan gerak dan lakunya. Dan
pada usia 4 tahun anak makin senang bergaul dengan anak lain
terutama terhadap teman yanng usianya sebaya. Ia dapat bermain
dengan anak lain berdua atau bertiga. Kemudia pada usia 5-6 tahun
ketika anak memasuki usia sekolah, anak juga mulai memilih teman
bermainnya”. 5
akan menjadikan orang tersebut kadang kurang berhati-hati dan akan
berbuat seenaknya sendiri. Hal ini menyebabkan sebuah tingkah laku
yang menyebabkan konflik dengan orang lain. 6
Percaya diri juga dilihat dari bagaimana seseorang dapat lebih
mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, dapat berinteraksi
sosial dengan baik dengan lingkungan sekitarnya, dan bagaimana
seseorang memiliki pandangan yang positif terhadap dirinya sendiri.
Menurut Lauster orang yang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi
pada umumnya mudah bergaul secara fleksibel, mempunyai toleransi
yang cukup baik, bersikap positif, dan tidak mudah terpengaruh oleh
orang lain dalam bertindak serta mampu menentukan langkah-
langkah dalam menyelesaikan suatu masalah. 7 Seseorang yang
percaya diri selalu mengimbangi antara cara bergaul, bertoleransi,
bersikap positif serta kemampuan pribadi. Sikap percaya diri ini
menjadi sangat penting dalam mengembangkan percaya diri, karena
tanpa mengetahui bagaimana cara bergaul, bertoleransi, bersikap
5 Abu Ahmadi Munawar S, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: PT Rineka Cipta), h. 102-
103. 6 Ibid, h. 35.
7 Ibid, h. 35
mampu mengembangkan sikap percaya dirinya.
Menurut Maslow kepercayaan diri memiliki kemerdekaan
psikologis, yang berarti kebebasan mengarahkan pikiran dan
mencurahkan tenaga berdasarkan pada kemampuan dirinya, untuk
melakukan hal-hal yang produktif, menyukai pengalaman baru, suka
megahadapi tantangan, pekerjaan yang efektif, dan bertanggung
jawab terhadap tugas yang diberikan. 8 Terbentuknya percaya diri
selalu diawali dengan bagaimana seseorang menyimpulkan, melihat
potret diri, dan mengkonsepsikan diri secara keseluruhan, dengan
begitu akan muncul perasaan positif untuk menghargai diri sendiri
dan menganggap dirinya itu bernilai dan akan muncul keyakinan
dalam dirinya bahwa dirinya mampu untuk melaksanakan dan
menyelesaikan tugas dengan baik dan meyakini apa yang
dikerjakannya akan berhasil.
lain. Anak yang memiliki kepercayaan diri juga akan mudah menjalin
interaksi dan komunikasi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya,
hal ini dikarenakan anak mampu mengubah suatu kondisi yang
canggung menjadi menyenangkan. Anak juga mampu menilai dirinya
sendiri atas kemampuannya, anak mengetahui sampai dimana
kemampuannya dalam menyelesaikan tugas dan selalu berpikir
positif dalam menerima serta menyelesaikan tugas dengan baik.
Percaya diri tidak hanya berani tampil di depan banyak orang
dan menunjukkan kemampuan tetapi percaya diri juga meliputi
kemampuan dalam menghadapi masalah. Seseorang yang percaya
diri akan dengan tenang menyelesaikan setiap permasalahan yang
datang kepada dirinya, hal itu dikarenakan orang tersebut percaya
8 Aprianti Yofita Rahayu, Op.Cit, h. 69.
13
suatu masalah.
Berdasarkan pernyataan-pernyataan mengenai aspek-aspek
percaya diri menurut para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa
percaya diri merupakan keyakinan seorang anak akan kemampuan
yang dimilikinya yaitu dengan menunjukkan kondisi mental dan fisik
yang baik, mampu menyesuaikan diri, bereaksi positif,
berkomunikasi di berbagai situasi, dan kemampuan sosialisasi yang
baik.
Setiap individu memiliki percaya diri yang berbeda, ada yang
memiliki percaya diri yang tinggi ada pula yang memiliki percaya diri
yang rendah. Beberapa tahapan perkembangan menurut Erikson
memiliki ciri utama setiap tahapannya adalh di satu pihak bersifat
biologis dan di lain pihak bersifat sosial. Adapun tingkatan tahapan
perkembangan yang dilalui oleh setiap manusia menurut Erikson
adalah sebagai berikut:
Masa bayi ditandai dengan kecenderungan trus-mistrust.
Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak
mempercayai orang-orang disekitarnya.
batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri, dalam arti
duduk, berdiri, berjalan, bermain, minum dari botol sendiri
tanpa bantuan. Akan tetapi dipihak lain dia telah mulai memiliki
rasa malu dan keraguan dalam berbuat.
14
initiative-guilt. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa
kecakapan, dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong
melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena kemampuan anak
tersebut masih terbatas adakalanya dia mmengalami kegagalan.
Kegagalan tersebut menyebabkan ia merasa bersalah.
4. Kerajinan vs Inferioritas
industry-inferiority,. Sebagai kelanjutan dari perkembangan
tahap sebelumnya, pada masa ini sangat aktif mempelajari apa
saja yang ada di lingkungannya. 9
Lie mengemukakan ciri-ciri perilaku yang mencerminkan
percaya diri yaitu: paham dengan keadaan diri, tidak tergantung pada
orang lain, tidak ragu-ragu, selalu berpikir positif, bersemangat dalam
melakukan sesuatu, dan memiliki rasa keberanian untuk bertindak. 10
a) Ciri-ciri orang yang memiliki percaya diri menurut Lauster: 11
1. Keyakinan akan kemampuan diri.
2. Bersifat optimis dan gembira.
3. Tidak perlu mencemaskan diri untuk memberikan kesan
yang menyenangkan.
5. Tidak ragu pada diri sendiri.
b) Ciri-ciri orang yang percaya diri menurut Wahyudi:
1. Mampu melihat kekurangan dirinya, namun bukan untuk
merasa rendah diri tetapi untuk memperbaiki diri.
9 Galih Pamungkas.2012.Teori Perkembangan Menurut Erik Ericson dan Sigmund
Frued (anyblog-pemungkas.blogspot.com diakses 08 november 2019
Jess Feist., Gregory J. Feist. 2010. Teori kepribadian.Jakarta: Salemba humanika 10
Ibid, h. 68. 11
15
menyombongkan diri, tetapi dimanfaatkan untuk kebaikan.
3. Memiliki keyakinan bahwa seluruh kekuatan ada pada
Allah, hal ini sesuai dengan firman Allah Q.S. Yunus
(10):65.
tentunya memiliki ciri-ciri: 12
dimilikinya lalu mengembangkan potensi yang
dimilikinya.
memberikan penghargaan jika berhasil dan berusaha lagi
apabila tidak tercapai.
banyak mengintrospeksi diri.
mampuannya.
6. Tenang dalam menjalankan dan menghadapi segala
sesuatunya.
d). Sedangkan Dariyo mengatakan bahwa percaya diri (self
confidence) ialah kemampuan individu untuk dapat memahami
dan meyakini seluruh potensinya agar dapat dipergunakan dalam
menghadapi penyesuaian diri dengan lingkungan. 13
Anak yang
12
Kaderisasi IMM Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa (Studi Kasus Di Program Pendidikan
Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Parepare), h. 92. 13
Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama, Cet I (Bandung:
PT Refika Aditama, 2006), h. 206.
16
baik.
yaitu:
”(1) Focus on their strength while managing their weakness, (2)
aren’t afraid to take risk, (3) enjoy challenging themselves and
setting high goals, (4) seek out self improvement opportunities, (5)
aren’t afraid to admid when they don’t know something, (7)
something make good team leaders or mentors, (8) can relate to
others, (9) are honest about their shortcomings”. 14
Karakteristik pertama, fokus pada kekuatan ketika mereka
mengatur kelemahan. Maksud dari pernyatan tersebut adalah dengan
mengalihkan kelemahan yang ada pada diri dengan kekuatan yang
dimiliki, sehingga yang terlihat pada diri bukanlah kelemahan akan
tetapi kekuatan.
yang percaya diri selalu yakin akan kemampuan untuk mengerjakan
sesuatu hal dengan baik, tanpa memaksakan hal-hal yang tidak dapat
dilakukan, sehingga saat mengambil resiko orang tersebut akan
mengetahui apa yang akan diperolehnya tanpa takut akan kegagalan.
Orang yang percaya diri senantiasa memiliki percaya diri yang
positif, jadi ketika orang tersebut mengalami kegagalan dan resiko
yang telah diambil, orang tersebut akan mengambil nilai positif dari
kejadian tersebut.
Karakteristik ketiga adalah menikmati tantangan dan mengatur
tujuan yang besar. Orang percaya diri tidak akan khawatir dan takut
14
& Ventus Publishing Aps, 2010), h. 10-11.
17
menikmati proses yang berjalan sembari belajar dari proses yang
sedang berlangsung.
memperbaiki diri. Orang yang percaya diri bukanlah orang yang
sempurna, namun orang tersebut akan belajar untuk memperbaiki diri
menjadi pribadi yang lebih baik.
Karakteristik kelima adalah tidak takut untuk mengakui ketika
berbuat kesalahan. Orang yang percaya diri akan senantiasa berbuat
jujur pada diri sendiri dan orang lain. Sehingga jika orang tersebut
berbuat kesalahan, orang tersebut tidak akan segan untuk meminta
maaf dan mengakui kesalahan.
bahkan bertanya apabila tidak tahu akan suatu hal. Orang yang
percaya diri akan senang jika mendapat pengetahuan dan informasi
yang belum diketahuinya dan tidak akan segan untuk bertanya
apabila tidak mengetahui informasi atau pengetahuan akan suatu hal.
Karakteristik ketujuh adalah menjadi ketua kelompok yang baik.
Orang yang percaya diri akan berusaha menjadi pemimpin atau ketua
yang baik bagi anggotanya. Bahkan orang yang memiliki percaya diri
tidak akan segan apabila mendapat pendapat, kritik atau saran yang
membangun bagi dirinya.
orang lain. Orang yang percaya diri akan mampu menjalin
persahabatan dengan orang lain dan memulai pertemanan baru. Orang
tersebut tidak akan khawatir dan cemas apabila tidak diterima oleh
orang lain. Hal ini dikarenakan orang tersebut memiliki sikap positif
terhadap orang lain.
Orang yang memiliki percaya diri bukanlah pahlawan super yang
memiliki kekuatan tanpa memiliki kelemahan. Namun orang yang
18
percaya diri akan jujur pada diri sendiri akan kelemahan yang
dimiliki, sehingga tidak akan memaksakan diri ketika tidak sanggup
mengerjakan suatu hal diluar kemampuannya.
Berdasarkan pernyataan yang diungkapkan oleh para ahli
peneliti menyimpulkan bahwa anak yang memiliki ciri-ciri percaya
diri adalah anak memiliki keyakinan terhadap diri sendiri, tidak
pernah ragu dengan keputusan yang diambil, tegas dalam bersikap,
mempunya rasa toleransi kepada orang lain, optimis, menerima
kekurangan, dan mampu membuat pertemanan dengan orang lain.
d. Faktor-Faktor Yang Membangun Percaya Diri Anak Usia Dini
Rasa percaya diri tidak akan muncul begitu saja pada seseorang.
Ada proses tertentu dalam pribadi seserang sehingga terjadilah
pembentukan rasa percaya diri. Percaya diri merupakan modal dasar
seorang anak dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, dimana hal
tersebut akan membantu anak dapat diterima di lingkungan hidupnya.
Percaya diri pada anak tidak akan lepas dari lingkungannya.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Hendra Surya yang
menyatakan bahwa terbentuknya percaya diri merupakan suatu proses
belajar bagaimana merespon berbagai rangsangan dari luar dirinya
melalui interaksi dengan lingkungannya. Jadi pembentukan percaya
diri seseorang perlu campur tangan dari orang lain. 15
Perkembangan menurut Erikson dikenal dengan teori
perkembangan psiko sosial. Teori perkembangan psiko sosial ini
adalah yang terbaik. Erikson memiliki kepercayaan bahwa
kepribadian berkembang dalam beberapa tingkatan. Salah satunya
adalah perkembangan persamaan ego, perkembangan ego merupakan
perasaan yang berkembang dari interaksi sosial. Perkembangan ego
berubah berdasarkan pengalaman, interaksi sosial, dan informasi-
15
Surya Hendra, Percaya Diri itu Penting Peran Orangtua Dalam Membangun Percaya
Diri Anak, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2007), h. 2
19
sosial berarti perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan
tuntutan sosial. Menjadi orang yang mampu bermasyarakat
memerlukan tiga proses. Diantaranya adalah berperilaku yang dapat
diterima secara sosial, memainkan peran sosial yang dapat diterima,
dan perkembangan sifat sosial. 16
Proses terbentuknya rasa percaya diri menurut Hakim adalah
sebagai berikut: 1). Terbentuknya kepribadian yang baik sesuai
dengan proses perkembangan yang melahirkan kelebihan-kelebihan
tertentu. 2). Pemahaman seseorang terhadap kelebihan-kelebihan
yang dimilikinya dan melahirkan keyakinan kuat untuk bisa berbuat
segala sesuatu dengan memanfaatkan kelebihan-kelebihannya. 3).
Pemahaman dan reaksi positif seseorang terhadap kelemahan-
kelemahan yang dimilikinya agar tidak menimbulkan rasa sulit
menyesuaikan diri. 4). Pengalaman di dalam menjalani berbagai
aspek kehidupan dengan menggunakan segala kelebihan yang ada
pada dirinya. 17
seseorang terutama anak sesuai proses perkembangannya dapat
memahami kelebihan dan kekurangan dirinya, kemudian anak
menggali kelebihannya lebih dalam dan yakin akan kemampuan yang
dimilikinya, mencari dan menambah pengalaman hidup dengan
menggunakan kelebihan yang ada pada diri sendiri.
Ghufron & Risnawati menyebutkan bahwa kepercayaan diri
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: a). Pengalaman; pengalaman
dapat menjadi faktor munculnya rasa percaya diri, sebaliknya
pengalaman juga dapat menjadi faktor menurunnya rasa percaya diri
seseorang. b). Pendidikan; tingkat pendidikan terhadap tingkat
16
h. 250. 17
Thursan Hakim, Mengatasi Rasa Tidak Percya Diri, (Yogyakarta: Torren Book, 2002),
h. 6
kekuasaan orang lain yang lebih pandai darinya. Sebaliknya orang
yang mempunyai pendidikan tinggi akan memiliki tingkat
kepecayaan diri yang lebih dibandingkan yang berpendidikan
rendah. 18
dukungan dari lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah, peran
keluarga merupakan faktor tepenting dalam membangun percaya diri
anak, lingkungan keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama
yang sangat menentukan baik dan buruknya kepribadian anak.
Seperti yang dikemukakan oleh Lie ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kemampuan percaya diri anak: 1). Lingkungan
Keluarga; perhatian orang tua sangat berpengaruh terhadap
kemampuan anak akan berpengaruh positif terhadap percaya diri
anak, sedangkan ketidak percayaan orang tua terhadap kemampuan
anak akan berpengaruh negatif pada rasa pecaya diri anak.
2). Lingkungan sekolah; program sekolah yang telah dibuat dan telah
digunakan untuk pembelajaran adalah sebuah program yang dapat
memotivasi anak untuk menyukai belajar dan merasa tertarik dalam
melaksanakan tugas-tugas sekolah, dikarenakan sekolah tersebut
menggunakan metode pembelajaran yang menarik sehingga anak
terlibat aktif dalam pembelajaran, hal tersebut dapat mendorong anak
untuk mengembangkan kemampuan percaya dirinya dengan baik.
Kedua faktor diatas mempunyai peranan penting dalam
mengasah percaya diri anak. Oleh karena itu, baik orang tua maupun
pihak sekolah harus bekerjasama dalam proses perkembangan anak-
anaknya.
ahli peneliti menyimpulkan bahwa anak yang percaya diri memiliki
18
21
aspek: (1). Menunjukkan kondisi mental dan fisik yang baik, (2).
Mampu menyesuaikan diri, (3). bereaksi positif, (4) berkomunikasi di
berbagai situasi, (5). Dan kemampuan sosialisasi yang baik. Dengan
ciri-ciri yang diambil dari beberapa ahli: (a). Memperlihatkan rasa
senang, (b). Menghargai diri sendiri, (c). Menyadari kelebihan dan
kekurangan diri sendiri, (d). Menerima dan memberi kritik dan saran,
(e). Berani menghadapi keadaan, (f). Kepekaan menguasai emosi dan
perasaan, (g). Tekun dan aktif, (h). Optimis dalam mengerjakan dan
menyelesaikan tugas, (i). Berpikir positif dalam bertindak, (j). Tegas
dalam berbicara, (k). Berani menyatakan sesuatu dengan secara
langsung dan terus terang, (l). Mudah mendapatkan teman baru, (m).
Bersikap baik dilingkungan sosial, (n). Bersedia memberi dan
menerima bantuan.
Para ahli psikolog sosial seperti Forsyth menyebutkan bahwa
interaksi adalah kegiatan yang saling mempengaruhi diantara anggota
kelompok. 19
interaksi teman sebaya akan muncul jika tinggal dilingkungan yang
sama, sekolah yang sama, dan berpartisipasi dalam kelompok yang
sama. 20
semua kehidupan sosial, oleh karena tanpa interaksi, tidak akan
mungkin akan ada kehidupan bersama. 21
Pernyataan tersebut dapat
19
Sofyan, S Willis, Psikologi Pendidikan, cet, I (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 130. 20
Setiawati Eka and Suparno, „Interaksi Sosial Dengan Teman Sebaya Pada Anak
Homeschooling Dan Anak Sekolah Reguler, Jurnal Ilmiah Berkala Psikologi, Vol 12., 2010. h.
57. 21
h. 60-61.
atau kelompok yang saling bertukar informasi atau saling
mengirimkan dan menerima pesan merupakan hal yang penting
dalam kehidupan.
bahwa interaksi adalah hubungan antara dua individu atau lebih untuk
mencapai tujuan. 22
interaksi yang terjadi ada tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang
ingin dicapai baik oleh satu pihak ataupun kedua belah pihak.
Interaksi yang terjadi pada anak semula hanya berkisar pada
interaksi yang terjadi antara orangtua dan anak. Seiring bertambah
usia anak bertambah pula interaksi anak. Selain orang tua, anak akan
berinteraksi dengan teman sebaya. Menurut Santrock, dukungan
teman sebaya merupakan sumber penting atas dukungan sosial yang
berpengaruh terhadap rasa percaya diri seseorang yang usia dan
kematangannya sama dari pengaruh dukungan sosial dan persetujuan
sosial dalam bentuk konfirmasi dari orang lain. Pernyataan tersebut
menyatakan bahwa dukungan teman sebaya adalah teman dengan
rentang usia yang relatif sama serta sifat-sifat dan sikap yag relatif
sama sehingga berpengaruh terhadap percaya diri seseorang.
Teman sebaya atau kelompok sebaya adalah lingkungan sosial
selain keluarga dimana dari lingkungan seseorang dapat belajar dan
menambah kemampuan yang akan mengarahkannya menuju perilaku
yang lebih baik melalui koreksi dan masukan yang akan membawa
dampak positif terhadap dirinya. Menurut Usman kelompok teman
sebaya adalah sekelompok teman yang memiliki ikatan emosional
yang kuat dan anak dapat berinteraksi, bergaul, bertukar pikiran dan
22
Waluyo, et, al., Ilmu Pengetahuan Sosial, (Jakarta: PT Gramedia, 2008), h. 43.
23
kehidupan sosial dan pribadinya. 23
Menurut Setiawati & Suparno Interaksi dengan teman sebaya
adalah proses timbal balik antar individu dengan kelompok sosialnya
yang seusia, yang di dalamnya mencakup adanya keterbukaan dalam
kelompok, kerjasama dalam kelompok dan frekuensi hubungan
individu dengan kelompok, yang mana interaksi dengan teman
sebaya tersebut dapat mengajarkan kepada anak tentang cara bergaul
di lingkungan baik dalam keluarga, sekolah dan maupun
masyarakat. 24
terjadi dalam grup atau kelompok, sehingga periode ini sering disebut
“usia kelompok”. Pada masa ini anak tidak lagi puas bermain
sendirian dirumah, atau melakukan kegiatan-kegiatan dengan anggota
keluarga. Hal ini adalah karena anak memiliki keinginan yang kuat
untuk diterima sebagai anggota kelompok, serta merasa tidak puas
bila tidak bersama teman-temannya. Elfiky menjelaskan jika terjadi
sikap saling menghormati diantara dua anak maka akan melahirkan
sikap saling menyayangi dan menyepakati. Perasaan itu menjadikan
satu pihak sama-sama memiliki perasaan positif kepada pihak lain.
Dari situ lahirlah interaksi dan kerja sama yang lebih baik dalam hal
pengalaman, pemikiran dan pengetahuan. 25
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan
bahwa interaksi teman sebaya merupakan sebuah kelompok yang
dibentuk oleh beberapa anggota yang terdiri dari anak-anak yang
memiliki usia yang kurang lebih sama serta terdapat tindakan yang
saling mempengaruhi antara anak yang memiliki tingkat usia dan
23
Irvan Usman, Kepribadian, Komunikasi, Kelompok Teman Sebaya, Iklim Sekolah dan
Perilaku Bullying, Jurnal Humanitas, Vol 5, 2013, h. 58. 24
Setiawati Eka and Suparno, Op. Cit, h. 57. 25
Ibrahim Elfiky, Terapi Kebiasaan Positif, (PT Bentara Aksara Cahaya: Jombang,
2019), h. 171.
aturan bersama agar menjadi pribadi yang baik.
b. Aspek-Aspek Interaksi Teman Sebaya
Interaksi sosial merupakan dasar hubungan sosial, dalam
melakukan interaksi sosial harus ada hubungan, karena tanpa adanya
hubungan antara individu satu dengan individu lain maka interaksi
sosial tidak akan terjadi. Partowisastro merumuskan aspek-aspek
interaksi teman sebaya sebagai berikut:
a) Keterbukaan individu dalam kelompok, dimana individu mampu
menjalin hubungan akrab, mendapatkan dukungan, penerimaan
individu, serta dapat terbuka terhadap kelompoknya.
b) Kerjasama individu dalam kelompok, individu akan terlibat
dalam berbagai kegiatan kelompok dan saling berbagi pikiran
serta ide untuk kemajuan kelompoknya, serta saling berbicara
dalam hubungan yang erat.
individu dalam bertemu anggota kelompoknya, dan saling
berbicara dalam hubungan yang dekat.
Uraian aspek interaksi teman sebaya terdapat individu yang
melakukan hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi
adanya frekuensi dan kerjasama serta mencapai tujuan.
c. Pola Interaksi Teman Sebaya
Interaksi yang semula terjadi kepada anak dengan orang dewasa,
seperti orang tua mulai tergantikan oleh interaksi teman sebaya.
”Strategies imployedduring peer interaction to promote mutual
comprehensionhighlight the differences between peer and native
25
sebaya akan bertambah lebih banyak dan mengambil tempat
pengaruh orang dewasa. Hal ini dinyatakan bahwa pengaruh yang
selama ini diterima oleh anak didominasi pengaruh orang dewasa,
seiring bertambah usia anak akan mulai tergantikan dengan pengaruh
teman sebaya.
menyatakan bahwa umur 6-12 tahun anak disebut juga sebagai usia
kelompok (gang age), dimana anak mulai mengalihkan perhatian dan
hubungan intim dalam keluarga ke kerja sama antar teman dan sikap-
sikap terhadap keluarga atau belajar. 27
Pernyataan tersebut berarti
keluarga ke antar teman sebaya. Perhatian anak juga mulai teralihkan
oleh kerja sama yang terjadi dengan teman sebaya serta hubungannya
dengan sekolah.
teman sebaya, bahwa, “the social relation of Children and adolescent
are centered on their friends as well as their families”. 28
Pernyataan
keluarga. Hal ini menandakan bahwa anak-anak dengan teman sebaya
tak kalah penting dengan hubungan anak dengan keluarga.
Anak yang memiliki teman sebaya mulai membentuk kelompok,
serta mulai menerapkan aturan-aturan dalam kelompok. Menurut
Gunarsa anak yang membentuk kelompok teman sebaya akan
cenderung lebih senang memilih aturan-aturan yang diterapkan
26
Jenefer Philp. Et, al., Peer Interaction and Second Language Learning (New York:
Routledge, 2017), h. 51. 27
Singgih D. Gunarsa and Yulia Singgih Gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak Dan
Remaja (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), h. 13. 28
Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, h. 224.
26
laku dan sebagainya ). 29
mulai membuat peraturan dengan menetapkan peraturan yang sesuai
dengan kelompoknya. Dalam kelompok teman sebaya akan ada
model percontohan yang akan ditiru oleh anggota kelompoknya.
Model tersebut akan dicontoh oleh anggota kelompok mulai dari
gaya berpakaian, berbicara dan bertingkah laku.
Berdasarkan pernyataan diatas maka dapat disimpulkan bahwa
pola interaksi teman sebaya bermula dari interaksi orang dewasa.
Kemudian pengaruh dari orang dewasa tersebut akan mulai
tergantikan oleh pengaruh teman sebaya. Dalam interaksinya dengan
teman sebaya, anak akan mulai membentuk kelompok teman sebaya
yang sesuai dengan minat anak terhadap anak lain. Kelompok teman
sebaya yang terbentuk akan mulai menjadikan satu anak sebagai
contoh model bagi anak agar diterima dalam kelompok. Contoh
model tersebut akan menjadi acuan bagi anak yang lain dalam
berbusana, berbicara dan bersikap.
Teman sebaya bagi anak bukan hanya sekedar teman yang
menemani saat anak bermain. Interaksi teman sebaya juga sebagai
tempat anak berbagi dan mendapat informasi yang bermanfaat
lainnya.
Hartub, dkk, menulis: “The social relations of children and
adolescnts are centered on their friends as well as their families”. 30
pernyataan tersebut dapat diartikan sebagai hubungan sosial anak
dengan orang dewasa dipusatkan pada pertemanan mereka sama
seperti keluarga mereka. Sebab bagaimana pun bagi anak usia
29
Singgih D. Gunarsa and Yulia Singgih Gunarsa, Op. Cit., h. 15 30
Desmita, Op.Cit, h. 224.
orangtua. Teman bisa memberikan ketenangan ketika mengalami
kekhawatiran. Tidak jarang terjadi seorang anak yang tadinya
penakut berubah menjadi pemberani berkat teman sebaya.
Rubin dan Krasnor mencatat adanya perubahan sifat dari
kelompok teman sebaya pada anak usia sekolah. Ketika anak berusia
6 sampai 7 tahun, kelompok teman sebaya tidak lebih daripada
kelompok bermain, mereka memiliki sedikit peraturan dan tidak
terstruktur untuk menjelaskan peran dan kemudahan berinteraksi
diantara angota-anggotanya. 31
diluar keluarga, (2) memudahkan proses penyatuan dirinya ke dalam
aktivitas teman sebaya yang sedang berlangsung, (3) anak-anak
belajar mengenai pola hubungan yang timbal balik dan setara, (4)
anak-anak menggali prinsip-prinsip kejujuran dan keadilan dengan
cara mengatasi ketidaksetujuan dengan teman sebaya, (5)
menciptakan persahabatan yang lebih dekat dengan teman sebaya
yang dipilih. 32
sebaya menghasilkan fungsi yang beragam pada anak. Pertama,
interaksi teman sebaya dapat memberikan informasi mengenai dunia
luar di luar keluarga. Kedua belah pihak mendapatkan informasi yang
mereka butuhkan. Informasi yang didapat bukan hanya informasi
mengenai kehidupan keluarga tetapi juga informasi mengenai
pengalaman masing-masing pihak diluar keluarga.
Kedua, informasi teman sebaya memudahkan proses penyatuan
anak kedalam aktivitas teman sebaya yang sedang berlangsung.
Berinteraksi dengan teman sebaya membuat anak menjadi lebih
31
2003). H. 219-220
yang dilakukan teman sebaya menarik minat anak dan
mengembangkan kemampuan anak akan aktivitas yang dilakukan
bersama dengan teman sebaya.
dengan belajar mengenai pola hubungan yang timbal balik dan setara.
Interaksi teman sebaya menghasilkan informasi yang didapatkan dari
pihak lain, pihak lain mendapatkan informasi pula dari anak,
sehingga menghasilkan hubungan yang timbal balik. Interaksi yang
berlangsung setara, hal ini dikarenakan usia anak yang berinteraksi
relatif sama.
kejujuran dan keadilan dengan cara mengatasi ketidaksetujuan akan
hal-hal yang tidak sesuai dengan kejujuran dan keadilan. Hal ini
dikarenakan usia mereka yang relatif sama membuat anak merasa
nyaman dengan teman sebaya. Anak tidak perlu sungkan dengan
teman sebaya.
lebih dekat dengan teman sebaya yang dipilih. Interaksi teman sebaya
membuat anak lebih dekat dengan teman sebaya. Kedekatan itulah
yang membuat anak mampu menjalin persahabatan dengan teman
sebaya.
mendapatkan informasi. Interaksi dengan teman sebaya membuat
anak membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Menurut
Gunarsa dengan berinteraksi dengan teman sebaya anak belajar
bagaimana berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana ia
mengemukakan identitas diri dan peran jenis kelaminnya, bagaimana
ia melatih otonomi, sikap mandiri dan inisiatif, bagaimana mengatasi
29
Anak yang berinteraksi
komunikatif. Hal ini dikarenakan seringnya anak berinteraksi dengan
orang lain anak mulai memahami informasi yang diterima serta lebih
memahami situasi pada saat interaksi terjadi. Serta mengetahui cara
menempatkan diri ketika berbicara kepada orang yang lebih tua, lebih
muda atau teman sebaya.
identitas diri serta jenis kelamin anak. Melalui interaksi teman sebaya
anak akan paham siapa dirinya dan dengan siapa anak berinteraksi.
Interaksi juga semakin membuat anak paham akan jenis kelaminnya
sendiri, bahwa dirinya akan lebih sering bermain dengan teman dari
jenis kelaminnya sendiri serta paham jenis permainan yang akan anak
mainkan dengan teman sebaya sesuai dengan jenis kelaminnya.
Berdasarkan pernyataan-pernyataan diatas dapat disimpulkan
bahwa fungsi interaksi teman sebaya adalah selain mendapatkan
informasi, anak juga belajar berinteraksi dengan orang lain, baik itu
lebih muda, lebih tua atau bahkan teman sebaya.
e. Karakteristik Interaksi Teman Sebaya Anak Usia 5-6 tahun
Karakteristik interaksi teman sebaya anak usia 5-6 tahun
ditandai dengan terbentuknya kelompok bermain anak yang memiliki
usia yang relatif sama. Lebih jauh Hartup Shareif menjelaskan dalam
Shaffer bahwa karakteristik interaksi teman sebaya pada kelompok
teman sebaya, yaitu :
“(1) Interact on a regular basis (2) Previde a sense of belonging
(3) formulate norms that specify how members are supposed to dress,
think, and (4) develop a hierarchical organization (such as leader
33
Singgih D. Gunarsa and Yulia Singgih Gunarsa, Op. Cit., h. 15.
30
and other roles) that helps group members to work together towards
shared goals”. 34
seharusnya berpakaian, berpikir dan bersikap, mengembangkan
tingkatan organisasi (seperti pemimpin dan peran lainnya) yang
membantu anggota kelompok bekerja bersama untuk mencapai
tujuan.
mendasar yang dilakukan para anggota di dalam kelompok. Harus
terjalin komunikasi dalam kelompok. Dalam berinteraksi para aggota
akan saling membagi pengalaman serta berbagi pendapat dalam
kelompok. Interaksi dengan para anggota juga dibutuhkan ketika
kelompok ini harus memutuskan suatu hal yang penting seperti
membuat peraturan dalam kelompok.
menunjukkan bahwa anak membutuhkan kebersamaan dengan orang
lain terutama yang memiliki usia dan kematangan yang relatif sama.
Adanya kelompok teman sebaya anak akan belajar kebersamaan
dengan anggota lain dalam mencapai tujuan serta menghargai
persahabatan dan kebersamaan.
anak menjadi apa yang diinginkan dalam kelompok. Anak juga akan
merubah penampilan diri guna untuk bertahan didalam kelompok.
Secara tidak langsung cara berpikir anak sama dengan pikiran aggota
kelompok yang lain. Cara bersikap akan seragam dengan anggota
kelompok yang lain. Hal ini dikarenakan berbagai kegiatan dan
34
Adolescence 9 th
31
serta berperilaku anak dengan anggota kelompok lain sama.
Anak usia 5-6 tahun mulai merubah cara permainannya jika
sebelumnya anak masih menikmati kegiatannya secara individu maka
pada masa ini anak lebih menyukai kegiatan yang melibatkan
kelompok, kegiatan yang membutuhkan kerja sama dengan teman
sebaya. Anak juga menyukai diskusi dengan temannya mengenai
apapun dan juga senang untuk berkompetisi untuk memperlihatkan
siapa yang terbaik, anak juga senang untuk mengikuti gaya yang
dianggapnya bagus.
disimpulkan bahwa interaksi teman sebaya merupakan sebuah
kelompok yang dibentuk oleh beberapa anggota yang terdiri dari
anak-anak yang memiliki usia yang kurang lebih sama serta terdapat
tindakan yang saling mempengaruhi antara anak yang memiliki
tingkat usia dan kematangan kurang lebih sama, saling berbagi
informasi, membuat aturan bersama agar menjadi pribadi yang baik
di dalamnya terdapat keterbukaan individu dalam kelompok,
kerjasama individu dalam kelompok, frekuensi hubungan individu
dalam kelompok. Dengan indikator: (a). Penerimaan kehadiran dalam
kelompok, (b). Keterlibatan individu dalam kegiatan kelompok, (c).
Mampu memberikan ide bagi kemajuan kelompok, (d). Intensitas
individu dalam bertemu anggota kelompoknya, (e). Saling berbicara
dalam huunga yang dekat.
1. Penelitian yang dilakukan oleh Adhita Restu Hanum Prawistri yang
berjudul upaya meningkatkan rasa percaya diri anak kelompok B melalui
kegiatan bermain aktif di TK Pembina kecamatan Bantul tahun 2013.
Model penelitian ini menggunakan pendekatan PTK dengan model
Kemmis dan Mc. Taggart. Jenis penelitian ini merupakan penelitian
32
tindakan kelas secara kolaboratif antara peneliti dan guru kelas. Subjek
pada penelitian ini adalah anak kelompok B TK Pembina kecamatan
Bantul berjumlah 24 anak, yaitu 14 anak perempuan, 10 anak laki-laki,
dengan rentan usia 5-6 tahun. Objek penelitian adalah rasa pecaya diri.
Dalam penelitan ini peneliti menggunakan metode observsi dan
dokumentasi dalam pengumpulan data. Teknik analisis data dilakukan
secara deskriptif, kualitatif, dan kuantitatif. Persamaan penelitian ini
adalah variabel penelitian (percaya diri), subjek penelitian (kelompok B).
Sedangkan perbedaan penelitian ini dalam lokasi penelitian, jenis
penelitian tindakan kelas, variabel penelitian (kegiatan bermain aktif).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan bermain aktif yang
dilakukan dalam dua siklus dapat meningkatkan rasa percaya diri anak.
Peningkatan rasa percaya diri dapat dilihat dari data observasi yang
diperoleh setiap siklus mengalami peningkatan. Sebelum tindakan
ketuntasan rasa percaya diri anak pada kriteria belum berkembang 2 anak
(8,33%), mulai berkembang 14 anak (58,3%), berkembang sesuai harapan
7 anak (29,17%), dan kriteria berkembang sangat baik hanya terdapat 1
anak (4,17%).
2. Penelitian yang dilakukan oleh Nyi Ayu Revi Soraya yng berjudul
pengaruh interaksi sosial terhadap percaya diri siswa kelas VII SMP
Negeri 21 Bandar Lampung tahun ajaran 2015/2016. Metode penelitian
ini menggunakan kuantitatif, populasi berjumlah 320 siswa dengan
sampel penelitian 20% atau sebanyak 64 siswa, yang ditentukan dengan
teknik simple random sampling. Persamaan penelitian ini adalah variabel
penelitian (percaya diri) metode penelitian korelasional. Sedangkan
perbedaan penelitian ini adalah lokasi penelitian (Bandar Lampung),
variabel penelitian (interaksi sosial), subjek penelitian (siswa SMP kelas
VII). Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh interaksi
sosial terhadap kepercayaan diri siswa kelas VII SMP Negeri 21 Bandar
Lampung tahun ajaran 2015/2016. Hal ini ditunjukkan hasil perhitungan
korelasi interaksi sosial dengan kepercayaan diri menggunakan regresi
33
koefisien determinasi yang diperoleh dalam perhitungan tersebut adalah
0,371 atau 37,1% yang adapat ditafsirkan bahwa interaksi sosial memiliki
kontribusi sebesar 37,1% terhadap variabel kepercayaan diri dan nilai
signifikan adalah p=0,002 ; p < 0,05. Jadi dapat disimpulkan penelittian
ini terdapat pengaruh interaksi sosial terhadap kepercayaan diri siswa
kelas VII SMP Negeri 21 Bandar Lampung tahhun ajaran 2015/2016.
3. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Xsanitus Megantoro yang
berjudul hubungan interaksi teman sebaya dengan penyesuaian diri di
sekolah pada siswa baru di SMK Kristen Salatiga tahun ajaran 2015/2016.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif
korelasional. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMK
Kristen Salatiga. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 95 siswa,
pengambilan dengan menggunakan teknik ninprobability sampling.
Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakn meode angket berupa
skala likert untuk interaksi teman dan penyesuaian. Persamaan penelitian
ini adalah variabel penelitian (interaksi teman sebaya), metode penelitian
(kuantitatif korelasional). Sedangkan perbedaan penlitian ini adalah lokasi
penelitia, variabel penelitian (penyesuaian diri) subjek penelitian (siswa
SMK kelas X). Hasil penelitianmenunjukkan bahwa r = 0,384, p = 0,000
(p < 0,05). Hal ini dapat diartikan bahwa terdapat hubungan positif yang
signifikan antara interaksi teman sebaya dengan penyesuaian diri pada
siswa.
manusia, karena dengan berinteraksi manusia akan belajar megembangkan
kemampuan mereka di lingkungan sosial dan membantu manusia untuk
beradaptasi dengan lingkungan sosial yang baru. Interaksi juga penting bagi
anak, anak akan belajar bagaimana berperilaku dengan baik terhadap orang
lain terutama dengan teman sebayanya. Melalui interaksi dengan teman
34
diri anak.
Interaksi teman sebaya merupakan kelompok yang dibentuk dengan
beberapa anggota yang terdiri dari anak-anak yang memiliki usia kurang lebih
sama serta mendapat tindakan yang saling mempengaruhi satu sama lain.
Pada masa ini anak akan belajar mengembangkan kerja sama diantara teman
dan belajar bagaimana berbagi dengan teman. Pada masa ini akan sering
bermain dengan teman sebayanya dan juga bermain dengan permainan yang
biasa dimainkan bersama.
Banyak manfaat yang akan didapat anak melalui interaksi teman sebaya
diantaranya adalah anak mampu memahami perilaku dirinya sendiri, seperti
anak sebelumnya berperilaku tidak mau mengalah dan bekerjasama dengan
orang lain namun pada saat anak bermain dengan teman sebayanya maka
anak akan belajar bagaimana menghilangkan rasa egoisnya, anak juga akan
mendapatkan beberapa keahlian baru yang belum pernah didapatkan anak
sebelumnya, seperti pada saat anak diajarkan permainan baru oleh teman
sebayanya, dari situ anak akan mendapatkan keahlian baru bermain suatu
permainan atau adanya suatu transfer informasi karena seringnya komunikasi
yang terjadi antara anak dengan teman sebayanya. Melalui interaksi dengan
teman sebaya anak belajar untuk mandiri dan mampu menyelesaikan
masalahnya dengan caranya sendiri dan hal tersebut juga membantu anak
untuk meningkatkan rasa percaya dirinya bahwa anak yakin akan
kemampuannya sendiri.
yang diberikan kepadanya dapat diselesaikan dengan baik, anak selalu mudah
untuk bergaul dengan orang lain dan cenderung mudah diterima di
lingkungan teman sebayanya dan mudah untuk mendapatkan teman baru.
Anak yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi tidak hanya berguna
bagi diri sendiri, melainkan mampu membawa perubahan bagi
35
lingkungannya. Anak yang percaya diri dapat dijadikan contoh atau acuan
bagi anak yang lain agar bisa memiliki rasa percaya yang sama atau bahkan
lebih. Bahkan anak yang percaya diri mampu membuat orang-orang yang
disekitarnya menjadi percaya diri.
Anak berusia 5-6 tahun merupakan usia yang masih labil dalam
menerima semua pendapat atau kritikan dari luar. Masukan yang berasal dari
teman sebaya akan langsung diterima oleh anak, menjadi pikiran dan perilaku
anak. Teman sebaya berperan cukup penting dalam membentuk rasa percaya
diri anak. Anak cenderung akan menjadikan teman sebaya sebagai acuan
dalan berbusana, bertutur kata dan bertingkah laku.
D. Hipotesis Penelitian
H0 : Tidak terdapat hubungan antara interaksi teman sebaya dengan percaya
diri anak usia 5-6 tahun di TK kelurahan Pondok Cabe Ilir.
H1 : Terdapat hubungan antara interaksi teman sebaya dengan percaya diri
anak usia 5-6 tahun di TK kelurahan Pondok Cabe Ilir.
36
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di TK Kelurahan Pondok Cabe Ilir. Adapun
alasan peneliti menggunakan wilayah ini karena di kelurahan Pondok
Cabe Ilir terdapat banyak sekolah yang memiliki siswa dengan percaya
diri rendah, hal ini dilihat dari anak yang malu ketika disuruh maju
kedepan, tidak suka bergabung dalam kelompok, lebih suka menyendiri
dalam bermain.
identifikasi masalah, seminar Proposal, pengumpulan data, dilanjutkan
dengan penulisan laporan penelitian.
1
Identifikasi
Masalah
mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. 1 digunakan metode
lapangan (Penggunaan metode yang dimaksud adalah untuk menemukan data
yang valid, akurat dan signifikan dengan permasalahan, sehingga dapat
1 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta,
2009). h. 2.
ini digunakan metode lapangan (field research) dengan pendekatan kuantitatif
korelasional, yakni penelitian yang menghubungkan dua variabel atau lebih
agar dapat menemukan tingkat hubungan antara variabel-variabel tersebut.
Variabel tersebut adalah interaksi teman sebaya sebagai variabel X
(independent variabel) dan percaya diri sebagai variabel Y (dependent
variabel). Data yang diperoleh akan dianalisa dengan mnggunakan teknik
statistik, kemudian dilakukan interpretasi data.
C. Populasi dan sampel
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya. 2 Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak usia
5-6 tahun di TK kelurahan Pondok Cabe Ilir yang berjumlah 13 sekolah,
dimana sekolah memiliki masing-masing akreditasi dengan akreditasi
yang beragam.
2. Sampel
yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan
waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari
populasi itu. 3
sampling. Teknik yang digunakan ini dilakukan secara bertingkat,
pertama-tama wilayah yang luas dibagi menjadi daerah yang kecil.
Setelah diidentifikasi tiap-tiap sekolah terdapat 1 sekolah yang
terakreditasi A, 3 sekolah yang terakreditasi B, dan 9 sekolah yang belum
2 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta,
2016). h. 80. 3 Ibid. h. 81.
38
terakreditasi. Akreditasi sekolah ini dijadikan sebagai cluster. Setiap
cluster dibagi kuota sesuai dengan jumlah perbandingan akreditasinya.
Cluster A (akreditasi A & B) diambil kuota 1 sekolah, cluster B (tidak
terakreditasi) diambil kuota sebanyak 2 sekolah.
D. Teknik Pengumpulan Data
hasil penelitian, maka pada pelaksanaan penelitian ini penulis melakukan
langkah dengan memberikan angket yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan yang
tertulis untuk memperoleh informasi dari responden siswa TK di kelurahan
Pondok Cabe Ilir dengan beberapa pilihan.
1) Variabel percaya Diri (Y)
a. Definisi Konseptual
b. Definisi Operasional
seseorang akan kemampuan yang dimilikinya yaitu menunjukkan
kondisi mental dan fisik yang baik, mampu menyesuaikan diri,
bereaksi positif, berkomunikasi di berbagai situasi, dan kemampuan
sosialisasi yang baik. Dengan indikator : (a). Memperlihatkan rasa
senang, (b). Menghargai diri sendiri, (c). Menerima dan memberi
kritik dan saran, (d). Berani menghadapi keadaan, (e). Kepekaan
mengusai emosi dan perasaan, (f). Tekun dan aktif, (g). Optimis
dalam mengerjakan dan menyelesaikan tugas, (h). Tegas dalam
berbicara, (i). Berani menyatakan sesuatu dengan secara langsung
dan terus terang, (j). Mudah mendapatkan teman baru, (k). Bersikap
baik dilingkungan sosial.
pertanyaan dan responden dapat memilih satu dari 4 jawaban sesuai.
39
sering =3, kadang-kadang =2, tidak pernah =1. Pernyataan negatif, bila
jawabannya selalu =1, sering =2, kadang-kadang =3, tidak pernah =4.
Adapun kisi-kisi instrumen percaya diri dapat dilihat pada tabel
sebagai berikut.
Tabel 3.2
Dimensi Indikator Butir
c. Menerima dan memberi
Mampu
menyesuaikan
diri
c. Tekun dan aktif. 12,14 13
Bereaksi
positif
5 b. Berani menyatakan
40
antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada
obyek yang diteliti. Instrumen dikatakan valid apabila instrumen tersebut
telah sesuai mengukur apa yang hendak diukur. 4 Teknik yang digunakan
untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik korelasi product moment yang
dikemukakan oleh Pearson. Yaitu dengan mengkorelasikan jumlah skor
tiap butir dengan jumlah skor total. Butir-butir instrumen yang valid akan
digunakan dalam penelitian, sedangkan butir instrumen yang tidak valid
akan dibuang dan tidak dipakai.
Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan antara kriteria
koefisien korelasi penerimaan butir dengan koefisien korelasi perhitungan.
Butir instrumen akan dinyatakan valid apabila r.hitung merujuk pada tabel
nilai-nilai r Product moment dengan taraf kesalahan 5% dan n=30. Dengan
Rumus korelasi product moment sebagai berikut:
Keterangan :
4 Ibid. hal.121
Dimensi Indikator
Butir Soal
Valid Tidak
Bereaksi
positif
c. Berani menyatakan
Tabel diatas menunjukkan bahwa dari 26 item skala yang diuji
cobakan terdapat 2 item skala yang tidak memenuhi syarat rhtung > rtabel yaitu
pada nomor 13 dan 20.
d. Uji Reliabilitas
pengukuran tetap konsisten apabila dilakukan pengukuran dua kali atau
lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat pengukur
sama. Instrumen yang memiliki hasil yang tinggi menunjukkan bahwa
instrumen tersebut baik dan mampu data yang dapat dipercaya. Teknik
yang digunakan dalam penelitian ini adalah koefisien alpha cronbach
dengan perhitungannya mengggunakan program komputer statistical
packegs for social science (SPSS) for windows version 22. Dengan rumus
sebagai berikut:
Cronbach. Jika koefisien Alpha Cronbach > 0,60 menunjukkan
kehandalan (reliabilitas) instrumen (jika dilakukan penelitian ulang
dengan waktu dan dimensi yang berbeda akan menunjukkan hasil yang
sama). Selain itu, Alpha Cronbach yang semakin mendekati 1
menunjukkan semakin tinggi konsistensi internal realibilitasnya. Maka
43
instrumen dapat dinyatakan reliabel.
Cronbach's
Data tabel diatas menunjukkan nilai cronbachh’s alpha > 0,60. Pada
Variabel pola asuh percaya diri anak menghasilkan nilai cronbachh’s alpha
sebesar 0,943 yang berarti bahwa instrumen yang dipakai dalam penelitian ini
adalah reliabel dan dapat digunakan untuk mengukur variabel yang
bersangkutan, dengan instrumen yang telah dinyatakan valid dan reliabel
inilah penulis mengukur masing-masig variabel.
2) Variabel Interaksi Teman Sebaya (X)
a. Definisi Konseptual
oleh beberapa anggota yang terdiri dari anak-anak yang memiliki usia
yang kurang lebih sama serta terdapat tindakan yang saling
mempengaruhi antara anak yang memiliki tingkat usia dan
kematangan kurang lebih sama, saling berbagi informasi, membuat
aturan bersama agar menjadi pribadi yang baik.
b. Definisi Operasional
sebuah kelompok yang dibentuk oleh beberapa anggota yang di
dalamnya terdapat keterbukaan individu dalam kelompok, kerjasama
individu dalam kelompok, frekuensi hubungan individu dalam
kelompok. Dengan indikator: (a). Penerimaan kehadiran dalam
kelompok, (b). Keterlibatan individu dalam kegiatan kelompok,
44
individu dalam bertemu anggota kelompoknya, (e). Saling berbicara
dalam hubungan yang dekat.
Dimensi Indikator Butir
kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya
terjadi pada obyek yang diteliti. Instrumen dikatakan valid apabila
instrumen tersebut telah sesuai mengukur apa yang hendak diukur. 5 .
Teknik yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik
korelasi product moment yang dikemukakan oleh Pearson. Yaitu dengan
mengkorelasikan jumlah skor tiap butir dengan jumlah skor total. Butir-
butir instrumen yang valid akan digunakan dalam penelitian, sedangkan
butir instrumen yang tidak valid akan dibuang dan tidak dipakai.
Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan antara
kriteria koefisien korelasi penerimaan butir dengan koefisien korelasi
perhitungan. Butir instrumen akan dinyatakan valid apabila rhitung merujuk
pada tabel nilai-nilai r Product moment dengan taraf kesalahan 5% dan
n=47. Dengan Rumus korelasi product moment sebagai berikut:
Keterangan :
5 Ibid. h.121
Dimensi Indikator
Butir Soal
Valid Tidak
Tabel diatas menunjukkan bahwa dari 26 aitem skala yang diuji
cobakan terdapat 2 aitem skala yang tidak memenuhi syarat rhtung > rtabel yaitu
pada nomor 13 dan 20.
d. Uji Reliabilitas
pengukuran tetap konsisten apabila dilakukan pengukuran dua kali atau
lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat pengukur
sama. Instrumen yang memiliki hasil yang tinggi menunjukkan bahwa
instrumen tersebut baik dan mampu data yang dapat dipercaya. Teknik
yang digunakan dalam penelitian ini adalah koefisien alpha cronbach
dengan perhitungannya mengggunakan program komputer statistical
packegs for social science (SPSS) for windows version 22. Dengan rumus
sebagai berikut:
Cronbach. Jika koefisien Alpha Cronbach > 0,60 menunjukkan
kehandalan (reliabilitas) instrumen (jika dilakukan penelitian ulang dengan
waktu dan dimensi yang berbeda akan menunjukkan hasil yang sama).
Selain itu, Alpha Cronbach yang semakin mendekati 1 menunjukkan
semakin tinggi konsistensi internal realibilitasnya. Maka dapat
disimpulkan, jika hasil koefisien realibilitasnya (r11) >0,6 maka instrumen
dapat dinyatakan reliabel.
Data tabel diatas menunjukkan nilai cronbachh’s alpha > 0,60.
Pada Variabel pola asuh percaya diri anak menghasilkan nilai cronbachh’s
alpha sebesar 0,943 yang berarti bahwa instrumen yang dipakai dalam
penelitian ini adalah reliabel dan dapat digunakan untuk mengukur
variabel yang bersangkutan, dengan instrumen yang telah dinyatakan valid
dan reliabel inilah penulis mengukur masing-masig variabel.
E. Teknik Analisis Data
Setelah data terkumpul dan diklasifikasikan antara jawaban kemudian
diolah dan di analisa. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan peneliti dalam
memahami dan menafsirkan makna yang terungkap dalam permasalahan
penelitian.
a) Memeriksa kelengkapan jawaban-jawaban yang diberikan pada
responden dalam daftar isian (lembar observasi).
b) Mengklasifikasikan jawaban-jawaban tersebut untuk dapat dijadikan data
yang mudah dianalisis dan disimpulkan.
c) Penulis memberikan skor terhadap butir-butir pertanyaan yang terdapat
dalam lembar observasi.
product moment sebagai berikut:
49
korelasi dan kekuatan hubungan yaitu pada tabel: 6
Tabel 3.8
0,00-0,199 Sangat Rendah
yang diajukan dalam penelitian ini adalah :”Apakah terdapat hubungan antara
interaksi teman sebaya dengan percaya diri anak usia 5-6 tahun di tk
kelurahan Pondok Cabe Ilir?”
Ho = tidak ada hubungan antara interaksi teman sebaya dengan
percaya diri anak usia 5-6 tahun di tk kelurahan Pondok Cabe Ilir.
H1 = terdapat hubungan antara interaksi teman sebaya dengan percaya
diri anak usia 5-6 tahun di tk kelurahan Pondok Cabe Ilir.
6 Ibid., h. 121
A. Deskripsi Data
Deskripsi data pada bagian ini meliputi data varriabel X (interaksi teman
sebaya) sebagai variabel terikat (endogenous) dan variabel Y (percaya diri
anak) sebagai variabel bebas (exsogenous). Deskripsi masing-masing variabel
disajikan secara berturut-turut mulai dari dari variabel X dan Y.
1. Interaksi Teman Sebaya
Data interaksi teman sebaya diperoleh dari hasil tes angket yag
berlangsung selama 3 hari. Seluruh data dari 47 anak yang menjadi
subjek penelitian dikumulatifkan hingga diperoleh skor untuk setiap
anak. Berdasarkan hasil analisis dari data yang diperoleh, diketahui skor
terendah yaitu 52, sedangkan skor tertinggi yaitu 93. Nilai rata-rata
sebesar 74,66 dengan standar deviasi sebesar 9,75 dimana nilai
variansinya sebesar 95,186, nilai median 73 dan nilai modus 70.
Pengelompokan data dapat terlihat pada tabel distribusi frekuensi berikut
ini.
kelas
interval
52 – 58 51,5 58,5 1 1 2,12%
59 – 65 58,5 65,5 7 8 14,89%
66 – 72 65,5 72,5 13 21 27,65%
73 – 79 72,5 79,5 12 33 25,53%
80 – 86 79,5 86,5 6 39 12,76%
87 – 93 86,5 93,5 8 47 17,02%
Berdasarkan tabel di 4.1 atas, selanjutnya akan dibuat
histogramnya. Ada dua sumbu yang diperlukan dalam pembuatan
histogram yaitu sumbu vertikal sebagai sumbu frekuensi absolut, dan
51
sumbu horizontal sebagai sumbu skor perolehan instrumen. Dalam hal ini
pada sumbu horizontal tertulis batas-batas kelas interval yaitu mulai dari
51,5 sampai 93,5. Harga-harga tersebut diperoleh dengan jalan
mengurangkan angka 0,5 dari data terkecil dan menambahkan angka 0,5
lima setiap batas kelas pada batas tertinggi. Grafik histogram dari sebaran
data instrumen interaksi teman sebaya adalah sebagai berikut:
Histogram Variabel Interaksi Teman Sebaya
Gambar 4.1
skor maksimum 64 dan minimum 35, sehingga rentang skor sebesar
29. Berdasarkan hasil perhitungan statistik deskriptif bahwa
instrumen interaksi teman sebaya mempunyai nilai rata-rata (mean)
sebesar 49,19 dengan nilai standar deviasi 6,34 dimana nilai
variansnya sebesar 40,289 nilai median 49 dan nilai modus 50.
52
berikut ini.
Tabel 4.2
Kelas
Interval
35 – 40 34,5 40,5 3 3 6,38%
41 – 46 40,5 46,5 15 18 31,91%
47 - 52 46,5 52,5 18 36 38,29%
53 – 58 52,5 58,5 7 43 14,89%
59 - 64 58,5 64,5 4 47 8,51%
Berdasarkan tabel 4.2 di atas, maka akan dibuat histogramnya.
Ada dua sumbu yang diperlukan dalam pembuatan histogram yaitu sumbu
vertikal sebagai sumbu frekuensi absolut, dan sumbu horizontal sebagai
sumbu skor perolehan instrumen. Dalam hal ini pada sumbu horizontal
tertulis batas-batas kelas interval yaitu mulai dari 34,5 sampai 64,5. Harga-
harga tersebut diperoleh dengan jalan mengurangkan angka 0,5 dari data
terkecil dan menambahkan angka 0,5 setiap batas kelas pada batas
tertinggi. Grafik histogram dari sebaran data instrumen interaksi teman
sebaya adalah sebagai berikut
1. Uji Normalitas
distribusi normal atau tidak. Pada penelitian ini, uji normalitas dilakukan
dengan menggunakan rumus uji Liliefors pada data interaksi teman sebaya
(X) dan percaya diri (Y). Tabel berikut menunjukkan hasil dari uji
normalitas .
Interaksi Teman
Percaya Diri 0,1088 0,1282 Distribusi Normal
Populasi berdistribusi normal apabila Lhitung < Ltabel. Apabila Ltabel
lebih besar maka data berdistribusi tidak normal. Berdasarkan hasil perhitungan
data interaksi teman sebaya dengan rumus uji Liliefors diperoleh Lhitung =
0,0930 dan Ltabel = 0,1282 pada taraf signifikansi = 0,05 dan n = 47. Ini berarti
Lhitung (0,0930) < Ltabel (0,1282). Artinya sebaran data interaksi teman sebaya
berdistribusi normal, dan berdasarkan perhitungan percaya diri dengan rumus uji
Liliefors diperoleh Lhitung = 0,1088 dan Ltabel = 0,1282 dengan taraf
signifikansi = 0,05 dan n = 47. Ini berarti Lhitung (0,1088) < Ltabel (0,1282),
artinya sebaran data percaya diri berdistribusi normal.
2. Uji Hipotesis
penelitian ini menggunakan korelasi pearson product moment, yaitu salah
satu teknik yang dikembangkan oleh Karl Pearson untuk menghitung
koefisien korelasi. Kegunaan uji pearson product moment atau analisis
korelasi adalah untuk mencari hubungan variabel bebas (X) dengan
54
variabel terikat (Y) dan data berbentuk interval dan ratio, rumus yang
dikemukakan adalah sebagai berikut :
Y : Nilai dari instrumen yang akan dicari
Korelasi pearson product moment dilambangkan r, dengan
ketentuan nilai r tidak lebih dari harga (-1≤ r ≤ + 1). Apabila r = -1 artinya
korelasi negatif sempurna, r = 0 artinya tidak ada korelasi, dan r = 1 berarti
korelasinya sempurna positif (kuat). Atau dengan kata lain, koefisien
korelasi itu bergerak antara 0,000 sampai +1,000 atau antara 0,000 sampai
-1,000, tergantung kepada arah korelasi, nihil, positif, atau negatif.
Adapun kriteria pengujiannya adalah jika r hitung > r tabel maka Ha
dierima dan Ho ditolak, sebaliknya jika r hitung < r tabel maka Ha ditolak
dan Ho diterima. Koefisien yang bertanda positif menunjukkan arah
korelasi yang positif.
Koefisien yang bertanda negatif menunjukkan arah korelasi yang
negatif. Sedangkan koefisien yang bernilai 0,000 menunjukkan tidak
adanya korelasi antara X dan Y. Sedangkan harga r akan dikonsultasikan
dengan tabel interpretasi nilai r sebagai berikut.
Tabel 4.4
hubungan antara variabel X (interaksi teman sebaya) dengan Y (percaya
diri anak), maka terlebih dahulu dirumuskan Ho dan Ha.
Ho = Tidak terdapat korelasi yang signifikan antara interaksi teman sebaya
dengan percaya diri anak di TK kelurahan Pondok Cabe Ilir.
Ha = Terdapat korelasi yang signifikan antara interaksi teman sebaya
dengan percaya diri anak di TK kelurahan Pondok Cabe Ilir.
Adapun langkah selanjutnya, setelah data yang diperoleh dari
setiap responden, dianalisis deskriptif dengan menggunakan nilai
presentasi frekuensi, maka selanjutnya penulis akan mencari korelasi
antara dua variabel penelitian dengan menggunakan rumus korelasi
product moment, penelitian ini menggunakan teknik analisis software
SPSS versi 22. Untuk mendapatkan nilai koefisien korelasi, berikut adalah
tabel hasil uji korelasi interaksi teman sebaya dengan percaya diri anak.
Tabel 4.5
Hasil Uji Korelasi Variabel Interaksi Teman Sebaya Dengan Percaya Diri
Anak
interaksi
1
tersebut maka dapat dilakukan pengujian hipotesis dengan
membandingkan taraf signifikansi (p-value) menggunakan rumusnya.
Hasil perhitungan korelasi didapatkan angka sebesar 781 dengan
signifikansi 0,000. Karena signifikansi < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha
diterima. Artinya ada hubungan yang signifikan antara interaksi teman
sebaya dengan percaya diri anak di TK Kelurahan Pondok Cabe Ilir.
Pengujian:
Jika r hitung > r tabel, maka Ho ditolak
Jika r hitung < r tabel, maka Ho diterima
Perhitungan korelasi dengan taraf kepercayaan 0,05 (5%), maka
dapat diperoleh harga r tabel sebesar 0,288. Ternyata harga r hitung lebih
besar daripada r tabel (0,781 > 0,288), sehingga Ho ditolak dan Ha
diterima. Artinya ada hubungan yang signifikan antara interaksi teman
sebaya dengan percaya diri anak usia 5-6 tahun di TK kelurahan Pondok
Cabe Ilir. Seberapa besar kontribusi antara interaksi teman sebaya dengan
percaya diri anak dapat digunakan koefisien determinasi.
KD = r 2 x 100%
= (0,781) 2 x 100%
Hal ini menunjukkan bahwa antara interaksi teman sebaya dengan
percaya diri anak di kelurahan Pondok Cabe Ilir adalah relatif besar yaitu
60 %, ini artinya terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi interaksi
teman sebaya, sedangkan kontribusi percaya diri anak pengaruhnya pada
interaksi teman sebaya menunjukkan persentase 60 %, selebihnya
dipengaruhi oleh faktor lain.
57
maka akan semakin tinggi juga percaya diri anak. Dengan memperhatikan
harga koefisien korelasi sebesar 0,781 berarti korelasinya bersifat kuat.
B. Pembahasan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari besaran dan signifikansi
hubungan antara interaksi teman sebaya (variabel X) dan percaya diri anak
(variabel Y). Hasil pengujian hipotesis membuktikan b