of 150/150
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP PERAWATAN DIRI (SELF-CARE) PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE II : SEBUAH TINJAUAN SISTEMATIK Oleh : Atmi Gumingsih 16.14201.30.50 PROGRAM STUDI KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA HUSADA PALEMBANG 2020

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP PERAWATAN …

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP PERAWATAN …

DIABETES MELITUS TIPE II : SEBUAH TINJAUAN
SISTEMATIK
Oleh :
DIABETES MELITUS TIPE II :SEBUAH TINJAUAN
SISTEMATIK
SARJANA KEPERAWATAN
BINA HUSADA PALEMBANG
(xvi + 40 Halaman + 5 Tabel + 1 Bagan + 11 Lampiran)
Angka prevalensi penderita Diabetes Melitus usia ≥ 15 tahun meningkat cukup tinggi,
dari 6,9% di tahun 2013 menjadi 8,5% di tahun 2018 sehingga jumlah penderita
Diabetes melitus di Indonesia mencapai lebih dari 16 juta orang. tujuan dari
penelitian ini data teridentifikasinya “Apakah dukungan keluarga efektif dalam
pencapaian upaya menjalankan penerapan kegiatan Self-Care pada penderita DM
(Diabetes Melitus) Tipe II”. Jenis metode yang di gunakan dalam penelitian ini
adalah cross sectional study. Basis data dalam pencarian artikel yang relevan adalah
melalui Google Scholar dan Sinta. Metode pencarian di lakukan dengan
menggunakan analisis PICO yaitu (1) Populasi: Penderita DM (Diabetes Melitus)
Tipe II, (2) Intervensi: Dukungan keluarga, (3) Perbandingan: Tidak ada pembanding,
(4) Hasil: Dukungan keluarga dalam upaya menjalankan penerapan kegiatan self-care
pada penderita DM (Diabetes Melitus) tipe II. Terdapat 7 artikel yang memenuhi
kriteria inkluasi yang berkaitan dengan judul Hubungan dukungan keluarga terhadap
perawatan diri (self-care) pada penderita diabetes melitus tipe II. Analisis dari 7
artikel ilmiah di atas menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara
dukungan keluarga terhadap perawatan diri (self-care) pada penderita diabetes
melitus tipe II. penelitian ini menunjukan semakin besar dukungan dari keluarga
maka semakin baik penderita diabetes melitus tipe II dalam menjaga kontrol gula
darah dan proses penyembuhan.
Tipe II
NURSING STUDY PROGRAM
2020
Atmi Gumingsih
Family Support Relationship to Self-Care in People With Type II Diabetes
Mellitus: A Systematic Review
(xvi + 40 Pages + 8 Tables + 1 chart + 11 Attachments)
The prevalence rate of people with Diabetes Mellitus aged ≥ 15 years has increased
quite high, from 6.9% in 2013 to 8.5% in 2018 so that the number of people with
Diabetes Mellitus in Indonesia has reached more than 16 million people.The purpose
of this study was to determine the data "Whether family support is effective in
realizing the implementation of self-care activities for people with diabetes mellitus
type II". The type of method used in this study is a cross sectional study. The
database in the search for relevant articles is through Google Scholar and Sinta. The
search method was carried out using PICO analysis, namely (1) Population: Patients
with Diabetes Mellitus Type II, (2) Intervention: Family support, (3) Comparison: No
comparison, (4) Results: Family support in an effort to run implementation of self-
care activities for type II diabetes mellitus sufferers. There are 7 articles that meet the
incluation criteria relating to the title Relationship of family support to self-care in
people with type II diabetes mellitus. The results of the analysis of the 7 scientific
articles above show that there is a significant relationship between family support for
self-care in people with type II diabetes mellitus. This study shows that the greater the
support from the family, the better type II diabetes mellitus sufferers in maintaining
blood sugar control and the healing process.
Keywords : Family Support, Self-Care, Type II Diabetes Mellitus Sufferers
Bibliography : 14 (2015-2020)
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jl Bemban Rt 003 Rw 007 No 04 Kel Muara Enim, Kec
Muara Enim, Kab Muara Enim
No. Handphone : 082178864392 (Telp) / 082178864392 (WA)
Email : [email protected]
viii
Bismillahirrahmanirrahim
Dengan menyebut nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang maha pengasih lagi maha
penyayang.
Kupersembahkan skripsi kepada:
Papa dan Mama tercinta dan tersayang ku ucapkan terima kasih tak terhingga
untuk kalian yang telah membesarkan ku dan merawat ku dengan penuh kasih
sayang sampai aku berada dititik ini dan berkat do’a dan restunya lah aku dapat
menyelesaikan pendidikan ini.
Abang-abangku yang sangat ku sayang Adri Agustian, Ade Saputra, dan Addan
Sangkian terima kasih telah menjadi Abang yang terbaik untukku yang selalu
menyayangi dan mendukung ku selama ini.
Untuk yang tersayang dan tercinta Wawan Setiawan terima kasih karena telah
begitu baik dan banyak membantu dan mendukung ku selama ini sehingga aku
berhasil mengatasi semua tantangan ini dan sekarang aku memiliki harapan untuk
masa depan yang lebih baik.
Almamater tercinta, aku akan selalu menjaga nama baikmu.
MOTTO:
( QS Al-Baqarah : 286 )
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
dan rahmat-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul
“Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Perawatan Diri (Self-Care) Pada Penderita
Diabetes Melitus Tipe II”. Sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
mendapatkan gelar Sarjana Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina
Husada Palembang.
semua pihak yang telah memberikan dukungan moril maupun materil sehingga
skripsi ini dapat selesai.
Ucapan terima kasih ini penulis tujukan kepada :
1. Dr. Amar Muntaha, SKM., M.Kes Selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Bina Husada Palembang.
2. Ns. Kardewi S.Kep., M.Kes., M.Kep Selaku Ketua Jurusan Keperawatan Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada Palembang.
3. Ns. Sutrisari Sabrina Nainggolan, S.Kep., M.Kes., M.Kep Selaku Ketua Program
Studi Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada Palembang.
x
4. Ns. Dian Emiliasari, S.Kep,. M.Kes selaku Dosen Pembimbing yang telah
membimbing dan membantu dalam penyelesaian skripsi ini sehingga dapat
terselesaikan tepat pada waktunya.
5. Ns. Raden Surahmat, S.Kep., M.Kes., M.Kep selaku Dosen Penguji I yang telah
banyak memberikan dorongan, kritik dan masukannya dalam penyelesaian skripsi
ini.
6. Ns. Yofa Anggraini Utama, S.Kep., M.Kes., M.Kep selaku Dosen Penguji II yang
telah banyak memberikan kritik dan sarannya dalam penyelesaian skripsi ini.
7. Papa dan mama serta abang-abangku yang telah memberikan doa, dorongan dan
semangat selama penyusunan skripsi ini.
8. Sahabat-sahabatku Dwi Sri Lestari dan Ria Novita Sari yang selalu memberikan
motivasi dan dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini.
Meskipun telah berusaha menyelesaikan skripsi ini sebaik mungkin, penulis
menyadari bahwa skripsi ini masih ada kekurangan. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca guna
menyempurnakan segala kekurangan dalam penyusunan skripsi ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini berguna bagi para pembaca
dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Palembang, 24 Agustus 2020
ABSTRAK ...................................................................................................................... iii
ABSTRACT .................................................................................................................... iv
RIWAYAT HIDUP PENULIS ..................................................................................... vii
1.2 Pertanyaan Penelitian ...................................................................................... 6
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................................ 6
2.1.1 Sumber Pencarian .................................................................................. 7
2.1.2 Strategi Pencarian .................................................................................. 7
2.1.3 Seleksi Studi .......................................................................................... 9
2.1.3.2 Kriteria Inklusi ........................................................................... 10
2.1.3.3 Kriteria Eksklusi ......................................................................... 11
2.3 Ekstraksi Data ................................................................................................. 13
3.1 Karakteristik Studi ......................................................................................... 14
melitus tipe II. ...................................................................................... 26
Menjalankan Penerapan Kegiatn Self-Care Pada Penderita
DM Tipe II ........................................................................................... 29
Melitus Tipe II ..................................................................................... 34
Tabel 2.4 Kriteria Kualitas Studi ......................................................................... 12
Tabel 3.1 Hasil ..................................................................................................... 15
xv
1. Hubungan Dukungan Keluarga Dan Efikasi Diri Dengan Self-Care Penderita
Diabetes Melitus Tipe-2 di Puskesmas Kasihan II Bantul.
2. Efikasi Diri Dan Perilaku Perawatan Diri Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di
Wilayah Kerja Puskesmas Pahandut.
3. Pengaruh Relaksasi Benson Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Pada Pasien
Diabetes Melitus Tipe 2.
4. Faktor-Faktor Internal Yang Mempengaruhi Self Care Management Pasien
Diabetes Melitus Tipe 2 di Poliklinik Khusus Penyakit Dalam RSUP Dr.M.Djamil
Padang.
5. Hubungan Karakteristik, Pengetahuan Dan Dukungan Keluarga Dengan
Kemampuan Self-Care Pada Pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Cilacap Tengah 1
Dan 2.
6. Hubungan Dukungan Sosial Keluarga Dengan Perilaku Perawatan Diri Pada Klien
Diabetes Melitus Tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Kaliwates, Jember.
7. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kemampuan Self-Care Pada Pasien
Diabetes Melitus Tipe 2.
8. Dukungan Keluarga Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II di Wilayah Binaan
Puskesmas Babakan Sari.
xvi
9. Dukungan Keluarga Terhadap Self Care Pada Lansia Dengan Diabetes Melitus
Tipe 2.
10. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Perawatan Diri (Self Care Activity) Pada
Pasien Diabetes Melitus Tipe 2.
11. Dukungan Keluarga Dan Perilaku Self-Management Pada Pasien Diabetes
Melitus Tipe II di Puskesmas Simpang IV Sipin Kota Jambi.
1
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika
pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau ketika tubuh tidak dapat secara
produktif menggunakan insulin yang dihasilkannya. (Who, 2017)
Penyakit diabetes melitus dapat terjadi pada setiap orang baik usia produktif
maupun usia keluarga miskin sehingga berdampak pada kepentingan hidup orang usia
lanjut. Diabetes melitus adalah suatu ancaman kesehatan bagi setiap orang. Diabetes
melitus (DM) adalah salah satu dari 10 faktor utama kematian secara global. Semua
negara mengalami penyakit Diabetes melitus bahkan wabah penyakit akan terus
meningkat. (International Diabetes Federation, 2017)
Berdasarkan hasil data terbaru Diabetes melitus (DM) tahun 2019 terdapat
463 juta orang dewasa berusia 20-79 tahun menderita Diabetes Melitus, sekitar 10%
dari pengeluaran kesehatan global dihabiskan untuk Diabetes Melitus sekitar 760
miliar USD. Penderita Diabetes Melitus sebanyak 79% bertempat tinggal di beberapa
negara dengan penduduk ekonomi rendah dan menengah didapatkan 2 dari 3
penderita Diabetes Melitus tinggal di daerah perkotaan (310,3 juta) dan di Indonesia
diperkirakan jumlah penderita Diabetes melitus (DM) akan terus meningkat pada
tahun 2015 dari 10 juta orang menjadi 16,2 juta orang di 2040. (International
Diabetes Federation, 2019)
Berdasarkan data terbaru penderita Diabetes Melitus (DM) di Indonesia telah
mencapai 9,1 juta orang. Tingginya angka kejadian tersebut Indonesia menduduki
peringkat keempat di dunia dengan jumlah penderita Diabetes melitus (DM)
terbanyak setelah Amerika Serikat, China dan India. (PERKENI, 2015)
Angka prevalensi penderita Diabetes Melitus usia ≥ 15 tahun meningkat
cukup tinggi, dari 6,9% di tahun 2013 menjadi 8,5% di tahun 2018 sehingga jumlah
penderita Diabetes melitus di Indonesia mencapai lebih dari 16 juta orang. Kemudian
berpotensi terkena penyakit lain, seperti stroke, serangan jantung, kebutaan dan gagal
ginjal bahkan dapat mengakibatkan kelumpuhan dan kematian. (Kemenkes RI, 2019)
Berdasarkan data terbaru riset kesehatan dasar tahun 2018 di Indonesia, secara
umum jumlah kasus Diabetes Melitus (DM) mengalami peningkatan yang cukup
tinggi selama 5 tahun terakhir. Pada tahun 2013, angka kasus Diabetes Melitus pada
orang dewasa mencapai 6,9 % dan di tahun 2018 angka terus meningkat menjadi
8,5% (RISKESDAS, 2018)
Untuk Provinsi sumatera selatan jumlah kasus penderita Diabetes melitus
tahun 2016 sebesar 45 %, tahun 2017 sebesar 55 %, dan tahun 2018 sebesar 62,6 %.
(Dinkes Prov Sumsel, 2018)
Di Kota Palembang jumlah penyandang Diabetes Melitus pada tahun 2016
sebanyak 4.442 orang, kemudian pada tahun 2017 sebanyak 4.823 orang, dan pada
tahun 2018 mengalami kenaikan menjadi 10.038 orang yang terjadi di Kota
Palembang. (Dinkes Kota Palembang, 2018)
3
Salah satu puskesmas yang mempunyai banyak penyandang Diabetes Melitus
di Kota Palembang adalah Puskesmas Plaju, pada tahun 2016 sebanyak 1478 orang,
pada tahun 2017 sebanyak 952 orang dan pada tahun 2018 sebanyak 817 orang. Data
tersebut adalah data yang didapatkan 3 (tiga) tahun terakhir. (Puskesmas Kota
Palembang, 2018)
Salah satu terapi Diabetes Melitus untuk mengendalikan kadar gula darah
sehingga tetap dalam batas normal adalah dengan cara pemberian diet atau dikenal
dengan Terapi Nutrisi Medis (TNM). Pengaturan makan ini harus makanan yang
seimbang (Karbohidrat 45%-65%, Protein 10%-20%, Lemak 20%-25%),
memperhatikan kualitas makanan yang sesuai dengan kebutuhan kalori, penderita
DM sering kali kesulitan untuk memahami dan menghitung kandungan kalori
makanan sehingga memerlukan kandungan praktis manajemen terapi nutrisi medis.
(Lindawati, 2019)
yang bisa dilakukan melalui perilaku seseorang dalam menjaga kesehatan dan
mempertahankan hidup sehat. (Thojampa, 2019)
Self-care merupakan kebutuhan manusia terhadap kondisi dan perawatan diri
sendiri dengan melakukan perencanaan dan pelaksanaan metode perawatan yang
baik. Cara tersebut dilakukan secara rutin untuk mempertahankan penyembuhan dari
penyakit agar dapat mengatasi komplikasi yang akan terjadi. Oleh karena itu keluarga
diikutsertakan dalam proses ini dalam memberikan informasi terhadap klien dalam
4
membantu mereka untuk melaksanakan kegiatan self-care secara efektif. (Borji et al.,
2017)
Self-care pada penderita Diabetes melitus (DM) adalah kegiatan penting yang
harus dilaksanakan untuk menghindari komplikasi akut dan kronis dan diperlukan
perawatan rutin, self-care penting untuk peningkatan kualitas kesehatan pada
penderita Diabetes melitus. Kegiatan self-care pada penderita Diabetes melitus
melibatkan makan makanan sehat, kepatuhan pengobatan, pengontrolan gula darah,
coping aktif secara fisik, dan sehat sempurna. (Gurmu et al., 2018)
Peningkatan kadar gula darah bisa dicegah dengan melaksanakan kegiatan
self-care yang terdiri dari olah raga, pengaturan diet, perawatan kaki, terapi obat, dan
pengontrolan gula darah. (Chaidir et al, 2017)
Kegiatan Self-care sangat perlu dilaksakan apabila self-care tidak
dilaksanakan dengan baik akan menimbulkan dampak buruk bagi kualitas hidup
penderita DM tipe-2, meningkatkan potensi komplikasi hingga kematian. Self-care
yang dilaksanakan dengan baik akan meningkatkan kualitas hidup (Chaidir, 2017)
Mematuhi serangkaian kegiatan self-care adalah tantangan yang besar.
Perasaan bosan atau pun jenuh bisa timbul dan dengan mudah penderita DM tipe-2
tidak patuh lagi dalam melaksanakan kegiatan self-care (Lutfha, 2016)
Dukungan keluarga sangat penting untuk penderita diabetes melitus,
dukungan yang bisa didapatkan dari keluarga yaitu mendukung penderita Diabetes
melitus dengan cara melaksanakan pengobatan atau kegiatan self-care. Semakin besar
5
dukungan dari keluarga maka semakin baik penderita Diabetes melitus dalam
menjaga kontrol gula darah. (Rahmawati et al, 2018)
Salah satu bentuk dukungan yang dapat diberikan pada pasien adalah melalui
bekerja sama antara keluarga dengan tenaga kesehatan profesional dalam program
perawatan Diabetes Melitus yang dapat diwujudkan melalui pendidikan terstruktur.
Melalui pendidikan terstruktur ini diharapkan pengetahuan tenaga profesional
kesehatan, pasien dan keluarga dapat meningkat serta aktivitas perawatan diri juga
semakin baik sehingga kontrol glikemik juga bagus dan masalah psikologis berupa
Diabetes Distress dapat teratasi (Funnell et al., 2011; International Diabetes
Federation, 2015)
Berdasarkan jurnal dan artikel yang ada, maka perlu dilakukan rangkuman
literature yang bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan dukungan keluarga
terhadap perawatan diri (self-care) pada penderita diabetes melitus tipe II dan
mengidentifikasi kegiatan Self-Care dalam upaya penyembuhan penyakit diabetes
Melitus tipe II.
penerapan kegiatan Self-Care pada penderita DM (Diabetes Melitus) Tipe II?
2. Apakah kegiatan Self-Care dapat mempengaruhi dalam upaya penyembuhan
penyakit DM (Diabetes Melitus) Tipe II?
1.3 Tujuan Penelitian
Melitus) Tipe II.
DM (Diabetes Melitus) Tipe II.
7
yang terindeks Sinta, dan Google Scholar.
2.1.2 Strategi Pencarian
Pencarian literature menggunakan pendekatan PICO berdasarkan kata kunci.
Kata kunci ini dapat disesuaikan dengan pertanyaan penelitian yang telah dibuat
sebelumnya. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian dapat dilihat pada tabel
sebagai berikut :
Tabel 2.1
Strategi Pencarian
Penderita DM
Diagram 2.1
dan Sinta dengan kata kunci Dukungan keluarga terhadap
perawatan diri (Self-care) pada penderita diabetes melitus tipe
II n=17
saring (n=9)
untuk kelayakannya
saring (n=7)
Berdasarkan hasil pencarian literature melalui publikasi di dua database
Google Scholar dan Sinta dengan kata kunci Dukungan keluarga terhadap perawatan
diri (self-care) pada penderita diabetes melitus tipe II, peneliti mendapatkan 17 hasil
artikel yang sesuai dengan kata kunci tersebut. Hasil pencarian yang sudah
didapatkan digambarkan dalam Diagram Flow kemudian di periksa duplikasi,
ditemukan terdapat 1 artikel yang sama sehingga dikeluarkan dan tersisa 16 artikel.
Peneliti kemudian melakukan penyaringan berdasarkan judul terdapat 7 jurnal yang
tidak sesuai dengan judul yang akan di identifikasi sehingga di hapus dan tersisa 9
jurnal yang dapat di identifikasi berdasarkan judul. Dan kemudian peneliti kembali
melakukan penyaringan berdasarkan abstrak terdapat 2 jurnal yang tidak sesuai
dengan abstrak yang akan di identifikasi sehingga di hapus dan tersisa 7 jurnal yang
dapat di identifikasi berdasarkan abstrak. Assasment yang dilakukan berdasarkan
kelayakan terhadap kriteria inklusi dan ekslusi didapatkan sebanyak 7 artikel yang
bisa dipergunakan dalam literature review.
2.1.3.2 Kriteria Inklusi
Kriteria Inklusi adalah semua aspek yang harus ada dalam penelitian yang
akan di review. Kriteria Inklusi dalam penelitian ini ditetapkan berdasarkan item
PICOS. Adapun kriteria inklusi dalam penelitian ini dijelaskan dalam tabel berikut:
11
Kriteria Eksklusi adalah faktor yang dapat menyebabkan sebuah penelitian
menjadi tidak layak untuk di review. Adapun Kriteria eksklusi dalam penelitian ini
sebagai berikut :
Tabel 2.3
Kriteria Eksklusi
Participant/Population (Populasi) -
Intervention (Intervensi) -
Comparison (Perbandingan) -
Outcome (Hasil) -
Intervention (Intervensi) Dukungan Keluarga
penerapan kegiatan Self-Care pada penderita
DM (Diabetes Melitus) Tipe II
Studi Design/Context Cross Sectional
Penilaian kualitas atau kelayakan pada penelitian ini didasarkan pada data
(artikel penelitian) dengan memenuhi kriteria yang ditentukan (Kriteria Inklusi) dan
Kriteria Eksklusi. Dengan teks lengkap (Full Teks), Jurnal/artikel penelitian nasional
yang di publikasikan terindeks SINTA dan Google Scholar, tahun publikasi 2015-
2019. Kriteria kualitas studi pada penelitian ini dijelaskan pada tabel berikut ini :
Tabel 2.4
terindeks SINTA dan Google Scholar
Batas Pencarian 2015-2019
Abstraksi data Satu orang yang mengabstraksi data
sementara yang lain memverifikasi
memverifikasi
mandiri menilai menilai studi
Alat penilaian resiko bias/Alat
Data studi akan diekstraksi menggunakan format standard an dimasukan ke
dalam spreadsheet Microsoft excel. Data akan diekstraksi oleh satu reviewer dan di
periksa keakuratan dan kelengkapannya oleh reviewer kedua. Data yang diekstraksi
meliputi:
b. Khusus : Kriteria inklusi, item RQ
14
Pada Penderita Diabetes Melitus II
No Author Tahun Volume,
Hasil
penelitian
Menunjukan
bahwa
sectional
diseleksi menggunakan teknik
menggunakan uji regresi linear
sederhana (Uji statistik analisis
kuantitatif
II
V:
2 di wilayah kerja Puskesmas
Wara Selatan Kota Palopo
sebanyak 153 orang dengan
jumlah sampel 121 orang.
responden pasien diabetes melitus
di Puskesmas II Denpasar Barat
V:
responden yang menderita DM
lebih dari satu tahun.
self-care pada penderita DM tipe II.
Dari 9 jurnal yang di identifikasi terdapat 7 jurnal yang hasilnya signifikan
untuk di review dengan judul mengenai “Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap
Perawatan Diri (Self-Care) Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe II”.
Jurnal pertama dengan judul “Hubungan Karakteristik, Pengetahuan Dan
Dukungan Keluarga Dengan Kemampuan Self-Care Pada Pasien DM Tipe 2 Di
Puskesmas Cilacap Tengah 1 Dan 2” Hasil analisa menunjukkan terdapat hubungan
signifikan antara umur, pengetahuan tentang DM dan dukungan persuasif verbal
dengan kemampuan selfcare pasien DM tipe 2. (Dewi Prasetyani et al, 2018)
Jurnal kedua dengan judul “Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan
Perilaku Perawatan Diri pada Klien Diabetes Melitus Tipe 2 di Wilayah Kerja
Puskesmas Kaliwates, Jember” Menunjukkan hasil analisis data untuk mengetahui
adanya korelasi antara dukungan sosial keluarga dengan perilaku perawatan diri
menggunakan uji statistik spearmen rank dan didapatkan hasil p value = 0,001 yang
berarti bahwa Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara
dukungan sosial keluarga dengan perilaku perawatan diri. Nilai korelasi antara dua
variabel tersebut sebesar 0,378 yang menunjukkan bahwa kekuatan hubungan lemah.
Nilai korelasi positif, hal ini berarti semakin tinggi dukungan sosial keluarga maka
akan semakin tinggi pula perilaku perawatan diri klien DM tipe 2. (Wahyuningtias
Rahmadani et al, 2019)
Jurnal ketiga dengan judul “Hubungan Dukungan Keluarga Dengan
Kemampuan Self-Care Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2” Hasil analisis regresi
linear menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara dukungan keluarga dengan
kemampuan self-care DM (p = 0.290; α = 0.05). (Dewi Prasetyani et al, 2016)
Jurnal keempat yang berjudul “Dukungan Keluarga Pada Pasien Diabetes
Mellitus Tipe II di Wilayah Binaan Puskesmas Babakan Sari” Hasil penelitian
menunjukan dukungan keluarga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
keberhasilan manajemen diabetes, adaptasi terhadap penyakit, kualitas hidup, diet
gula, dan kepatuhan minum obat. (Erna Irawan, 2019)
Jurnal kelima yang berjudul “Dukungan Keluarga Terhadap Self Care Pada
Lansia Dengan Diabetes Melitus Tipe 2” Hasil uji bivariat menunjukkan adanya
hubungan yang bermakna antara dukungan emosional,dukungan instrumental,
dukungan penghargaan, dukungan informasi terhadap self-care pada lansia dengan
DM tipe 2 dengan hasil uji chi square diperoleh p value = 0,001 (p < 0,05). (Hera
Heriyanti et al, 2020)
Jurnal keenam yang berjudul “Hubungan Dukungan Keluarga Dengan
Perawatan Diri (Self Care Activity) Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2”
Menunjukkan bahwa didapatkan p-value<0.001 yang menunjukan ada hubungan
yang signifikan antara dukungan keluarga dengan perawatan diri (self care activity)
pada pasien diabetes melitus tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas II Denpasar Barat.
Hubungan ini ditunjukkan dengan kekuatan korelasi sebesar 0,370 yang termasuk
dalam kategori rendah (0,20-0,399), dengan arah korelasi positif positif yang berarti
26
semakin baik dukungan keluarga maka semakin baik pula perawatan diri yang bisa
dilakukan oleh pasien dengan diabetes melitus tipe 2. (Ni Wayan Yatik Marlinda et al,
2019)
Jurnal ketujuh yang berjudul “Dukungan keluarga dan perilaku self-
management pada pasien diabetes melitus tipe II di Puskesmas Simpang IV Sipin
Kota Jambi” Berdasarkan Hasil penilitian menunjukkan terdapat hubungan yang
bermakna antara dukungan keluarga dengan perilaku self-management pada pasien
Diabetes Mellitus Tipe II di Puskesmas Simpang IV Sipin Kota Jambi dengan p-value
= 0,019. (Rasyidah AZ, 2018)
terhadap perawatan diri (self-care) pada penderita diabetes melitus tipe II. Karena
semakin tingginya dukungan keluarga maka semakin besar kemampuan pasien dalam
melakukan kegiatan self-care.
3.2.2 Kegiatan self-care dalam upaya penyembuhan penyakit diabetes melitus tipe
II.
Melitus Tipe II”.
Jurnal pertama dengan judul “Hubungan Karakteristik, Pengetahuan Dan
Dukungan Keluarga Dengan Kemampuan Self-Care Pada Pasien DM Tipe 2 Di
Puskesmas Cilacap Tengah 1 Dan 2” Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan
27
signifikan antara pengetahuan dengan kemampuan self-care pasien DM. Hal ini
sejalan dengan beberapa hasil penelitian lain yang menunjukkan adanya hubungan
signifikan antara pengetahuan pasien DM dengan kemampuan self-care (Ismonah,
2009; Yuanita, et al, 2014; Kueh, et al, 2015; Dewi Prasetyani, et al, 2018).
Jurnal kedua dengan judul “Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan
Perilaku Perawatan Diri pada Klien Diabetes Melitus Tipe 2 di Wilayah Kerja
Puskesmas Kaliwates, Jember” Hasil penelitian yang dilakukan di wilayah kerja
puskesmas kaliwates menunjukkan bahwa rata – rata nilai perilaku perawatan diri
klien DM tipe 2 adalah 2,27 hari dalam seminggu. Hal tersebut menunjukkan bahwa
perilaku perawatan diri belum dilakukan secara optimal, dikarenakan belum
dilakukan secara rutin dalam 7 hari. Indikator terendah variabel perawatan diri dalam
hasil penelitian ini adalah perawatan kaki dengan nilai rata – rata 0,12 hari. Hal ini
memiliki arti bahwa dalam seminggu klien DM tipe 2 tidak pernah melakukan
perawatan kaki. Hambatan dari klien DM jarang melakukan perawatan kaki
dikarenakan munculnya rasa malas, dan tidak patuh dalam melakukan perawatan kaki
karena harus menggunakan kaos kaki dan sandal atau sepatu yang sesuai.
(Wahyuningtias Rahmadani et al, 2019)
Jurnal ketiga dengan judul “Hubungan Dukungan Keluarga Dengan
Kemampuan Self-Care Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2” Hasil penelitian
menunjukkan setiap aktivitas self care DM belum dilakukan secara penuh 7 hari
dalam seminggu. Keseluruhan aspek self care DM saling mendukung dan harus
dilakukan oleh pasien DM sehari-hari agar tercapai kontrol gula darah yang baik
28
sehingga dapat meminimalkan terjadinya komplikasi DM. (Dewi Prasetyani et al,
2016).
Jurnal keempat yang berjudul “Dukungan Keluarga Pada Pasien Diabetes
Mellitus Tipe II di Wilayah Binaan Puskesmas Babakan Sari” Dukungan keluarga
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan manajemen diabetes,
adaptasi terhadap penyakit, kualitas hidup, diet gula, dan kepatuhan minum obat.
(Erna Irawan, 2019)
Jurnal kelima yang berjudul “Dukungan Keluarga Terhadap Self Care Pada
Lansia Dengan Diabetes Melitus Tipe 2” Dukungan emosional yang diberikan
keluarga kepada lansia dengan DM akan mendorong lansia tersebut untuk dapat
menjalani perawatan secara teratur, hal ini dikarenakan dukungan yang diberikan
tersebut dijadikan sebagai energi penggerak bagi penderita dalam menjalankan suatu
program terapi dan dapat melakukan self-care dengan baik. Pasien yang sedang
berada pada masa penyembuhan akan lebih cepat sembuh apabila memiliki keluarga
yang bersedia menolong (Baron & Bryne 1994). Dukungan emosional keluarga yang
ditunjukkan melalui ungkapan rasa simpati, pemberian perhatian, kasih sayng,
penghargaan serta kebersamaan akan membuat lansia dengan DM merasa tenang
dalam menghadapi berbagai keadaan tidak menyenangkan. (Hera Heriyanti et al,
2020)
Jurnal keenam yang berjudul “Hubungan Dukungan Keluarga Dengan
Perawatan Diri (Self Care Activity) Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2” Hasil
penelitian terdapat 22 (22,2%) responden menunjukan bahwa perawatan diri (self
29
care activity) pada pasien diabetes melitus tipe 2 kurang. Menurut pendapat peneliti,
hal ini dapat disebabkan oleh karena pasien tidak mau memikirkan penyakitnya, tidak
mau merawat dirinya, dan tidak ada motivasi di dalam dirinya maupun dari luar yang
mendorong pasien untuk rutin melakukan perawatan diri. (Ni Wayan Yatik Marlinda
et al, 2019)
Jurnal ketujuh yang berjudul “Dukungan keluarga dan perilaku self-
management pada pasien diabetes melitus tipe II di Puskesmas Simpang IV Sipin
Kota Jambi” Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden
telah menerapkan self-management yang baik khususnya pada aspek latihan fisik.
(Rasyidah AZ, 2018)
kegiatan self-care dalam upaya penyembuhan penyakit DM (Diabetes Melitus) tipe II.
3.3 Pembahasan
penerapan kegiatan self-care pada penderita DM (Diabetes Melitus) Tipe II.
Berdasarkan 7 jurnal yang diidentifikasi dengan judul mengenai “Hubungan
Dukungan Keluarga Terhadap Perawatan Diri (Self-Care) Pada Penderita Diabetes
Melitus Tipe II”.
Jurnal pertama dengan judul “Hubungan Karakteristik, Pengetahuan Dan
Dukungan Keluarga Dengan Kemampuan Self-Care Pada Pasien DM Tipe 2 Di
Puskesmas Cilacap Tengah 1 Dan 2” Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan
30
yang signifikan antara umur dengan kemampuan self-care. Sejalan dengan teori dan
penelitian sebelumnya, pasien yang berusia tua cenderung mengalami penurunan fisik
dan kognitif yang dapat mempengaruhi kemampuannya dan keaktifannya untuk
melakukan aktivitas self-care. Selain itu, timbulnya komplikasi pada usia tua juga
akan mempengaruhi kemampuan pasien dalam melakukan self-care. Kemampuan
pasien akan meningkat jika pasien aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang dapat
meningkatkan pengetahuan dan motivasi untuk melakukan aktivitas self-care, seperti
kegiatan Prolanis atau Persadia. (Dewi Prasetyani et al, 2018)
Jurnal kedua dengan judul “Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan
Perilaku Perawatan Diri pada Klien Diabetes Melitus Tipe 2 di Wilayah Kerja
Puskesmas Kaliwates, Jember” Hasil uji statistik dalam penelitian ini menunjukkan
bahwa terdapat hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan perilaku perawatan
diri klien DM tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Kaliwates Kabupaten Jember. Hasil
tersebut dibuktikan dengan nilai p value = 0,001. Dukungan sosial keluarga dan
perilaku perawatan diri memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kekuatan
yang lemah. Nilai korelasi bersifat positif yang berarti semakin tinggi dukungan
sosial keluarga semakin tinggi pula perilaku perawatan diri pada klien DM tipe 2.
Dukungan sosial keluarga merupakan sumber dalam perubahan perilaku kesehatan
mengenai perawatan diri diabetes. Diantara masyarakat, keluarga merupakan salah
satu anggota yang dapat memberikan dukungan sosial untuk perawatan diri klien DM
tipe 2. Hal ini sejalan dengan penelitian lain yang menyatakan bahwa salah satu
manajemen penyakit DM yaitu perawatan diri, dalam perawatan diri klien DM tipe 2
31
outcome yang baik. Dukungan sosial keluarga mempunyai hubungan yang signifikan
dengan perilaku perawatan diri pada klien DM tipe 2, dengan adanya intervensi yang
fokus pada peningkatan dukungan sosial dari keluarga dan perawatan diri dalam
mengontrol diabetes nya akan lebih efektif dalam meningkatkan kontrol glikemik.
(Wahyuningtias Rahmadani et al, 2019)
Jurnal ketiga dengan judul “Hubungan Dukungan Keluarga Dengan
Kemampuan Self-Care Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2” Hasil penelitian
menunjukkan bahwa rata-rata usia responden adalah 63.8 Usia sangat erat kaitannya
dengan kenaikan gula darah, dimana semakin meningkat usia maka resiko mengalami
DM tipe 2 semakin tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga
pada pasien DM kurang dan setelah dilakukan analisa bivariat didapatkan bahwa
tidak ada hubungan signifikan antara dukungan keluarga dengan kemampuan self
care DM pada pasien DM tipe 2. Sedangkan untuk variabel kemampuan self care
pada pasien DM tipe 2 didapatkan hasil bahwa rata-rata aktivitas self care pasien DM
adalah 2.5 hari dengan rentang waktu antara 2 hingga 5.5 hari dalam seminggu.
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan self care pada
pasien DM masih rendah (Dewi Prasetyani et al, 2016).
Jurnal keempat yang berjudul “Dukungan Keluarga Pada Pasien Diabetes
Mellitus Tipe II di Wilayah Binaan Puskesmas Babakan Sari” Hasil analisis
didapatkan rata-rata usia responden adalah 48,3 tahun, (95% CI 46,3-50,6) median 49
tahun dengan standard deviasi 4,58 tahun. Usia terendah 38 tahun dan usia tertinggi
32
55 tahun. Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95% diyakini bahwa
rata-rata responden berada diantara 46,3 sampai dengan 50,6 tahun Hasil
menunjukkan hampir seluruhnya yaitu 33 orang (82,5%) memiliki dukungan keluarga
yang mendukung pada pasien DM tipe II. Dukungan keluarga memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap keberhasilan manajemen diabetes, adaptasi terhadap
penyakit, kualitas hidup, diet gula, dan kepatuhan minum obat. Salah satu faktor yang
mempengaruhi dukungan keluarga adalah faktor ekonomi. Sebagian besar
responden(75%) memiliki penghasilan diatas UMR yang mana menurut Punawarman
(2008) semakin tinggi penghasilan seseorang maka akan semakin cepat menanggapi
penyakit yang diderita. Dalam hal ini adalah penyakit yang DM tipe II yang dirasakan
anggota keluarganya. (Erna Irawan, 2019).
Jurnal kelima yang berjudul “Dukungan Keluarga Terhadap Self Care Pada
Lansia Dengan Diabetes Melitus Tipe 2” Hasil penelitian menunjukkan bahwa
responden sebagian besar memiliki umur dengan usia pertengahan (45-59 tahun)
yaitu 75 responden (62,0%). Responden dengan Jenis kelamin perempuan sebanyak
72 responden (59,5%),sebagan besar responden dengan pendidikan tinggi 72
responden (59,5%). Responden dengan pendapatan dalam kategori rendah sebanyak
85 responden (70,2%). Responden dengan lama menderita 1-4 tahun sebanyak 68
responden (56,2%). Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna
antara dukungan emosional,dukungan instrumental, dukungan penghargaan,
dukungan informasi terhadap self-care pada lansia dengan DM tipe 2 dengan hasil uji
chi squarediperoleh p value = 0,001 (p < 0,05). (Hera Heriyanti, 2020)
33
Jurnal keenam yang berjudul “Hubungan Dukungan Keluarga Dengan
Perawatan Diri (Self Care Activity) Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2”
Berdasarkan uji korelasi dengan Spearman’s Rho menggunakan program computer
SPSS 22 for windows didapatkan p-value<0,001 yang menunjukan ada hubungan
antara dukungan keluarga dengan perawatan diri (self care activity) pada pasien
diabetes melitus tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas II Denpasar Barat. Hubungan ini
ditunjukkan dengan kekuatan korelasi sebesar (0,370) yang termasuk dalam kategori
rendah (0.20-0.399), dengan arah korelasi positif positif. Hasil ini menunjukkan
semakin tinggi dukungan keluarga makan semakin baik perawatan diri yang bisa
dilakukan pada pasien yang mengalami diabetes melitus tipe 2. (Ni Wayan Yatik
Marlinda et al, 2019)
Jurnal ketujuh yang berjudul “Dukungan keluarga dan perilaku self-
management pada pasien diabetes melitus tipe II di Puskesmas Simpang IV Sipin
Kota Jambi” Berdasarkan Hasil penilitian menunjukkan terdapat hubungan yang
bermakna antara dukungan keluarga dengan perilaku self-management pada pasien
Diabetes Mellitus Tipe II di Puskesmas Simpang IV Sipin Kota Jambi dengan p-value
= 0,019. Hasil penelitian didapatkan bahwa Dukungan keluarga yang diberikan
berupa: dukungan emosional (51,9%), dukungan penghargaan (51,9%), dukungan
informasi (59,3%), dukungan instrumental (54,3%) dan network support (86,4%).
Dari 81 orang responden sebanyak 38 responden (46,9%) tidak melakukan self
management dan sebanyak 43 responden (53,1%) melakukan self management. Self
management yang dilakukan berupa : melakukan managemen gula darah (66,7%),
34
diet (69,1%), latihan fisik (77,8%) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (70,4%).
Berdasarkan Hasil penilitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara
dukungan keluarga dengan perilaku self-management pada pasien Diabetes Mellitus
Tipe II di Puskesmas Simpang IV Sipin Kota Jambi dengan p-value = 0,019.
(Rasyidah AZ, 2018)
terhadap perawatan diri (self-care) pada penderita diabetes melitus tipe II. Karena
semakin tingginya dukungan keluarga maka semakin besar kemampuan pasien dalam
melakukan kegiatan self-care.
3.3.2 Kegiatan self-care dalam upaya penyembuhan penyakit diabetes melitus tipe II.
Berdasarkan 7 jurnal yang diidentifikasi dengan judul mengenai “Hubungan
Dukungan Keluarga Terhadap Perawatan Diri (Self-Care) Pada Penderita Diabetes
Melitus Tipe II”.
Jurnal pertama dengan judul “Hubungan Karakteristik, Pengetahuan Dan
Dukungan Keluarga Dengan Kemampuan Self-Care Pada Pasien DM Tipe 2 Di
Puskesmas Cilacap Tengah 1 Dan 2” Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan
signifikan antara pengetahuan dengan kemampuan self-care pasien DM. Hal ini
sejalan dengan beberapa hasil penelitian lain yang menunjukkan adanya hubungan
signifikan antara pengetahuan pasien DM dengan kemampuan self-care (Ismonah,
2009; Yuanita, et al, 2014; Kueh, et al, 2015; Dewi Prasetyani, et al, 2018).
Jurnal kedua dengan judul “Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan
Perilaku Perawatan Diri pada Klien Diabetes Melitus Tipe 2 di Wilayah Kerja
35
Puskesmas Kaliwates, Jember” Hasil penelitian yang dilakukan di wilayah kerja
puskesmas kaliwates menunjukkan bahwa rata – rata nilai perilaku perawatan diri
klien DM tipe 2 adalah 2,27 hari dalam seminggu. Hal tersebut menunjukkan bahwa
perilaku perawatan diri belum dilakukan secara optimal, dikarenakan belum
dilakukan secara rutin dalam 7 hari. Indikator terendah variabel perawatan diri dalam
hasil penelitian ini adalah perawatan kaki dengan nilai rata – rata 0,12 hari. Hal ini
memiliki arti bahwa dalam seminggu klien DM tipe 2 tidak pernah melakukan
perawatan kaki. Hambatan dari klien DM jarang melakukan perawatan kaki
dikarenakan munculnya rasa malas, dan tidak patuh dalam melakukan perawatan kaki
karena harus menggunakan kaos kaki dan sandal atau sepatu yang sesuai. Faktor lain
yang dapat mempengaruhi perawatan kaki ialah kondisi lingkungan disekitar tempat
tinggal responden. Indikator tertinggi perawatan diri yaitu manajemen konsumsi obat
dengan rata rata 5,26 hari yang artinya responden mengkonsumi obat selama 5 hari
dalam seminggu. Klien yang memiliki kepercayaan mengenai bentuk dari
penyakitnya memiliki pengaruh yang besar terhadap keinginan mereka untuk
mengikuti saran kesehatan dalam melakukan terapi pengobatan. Kepatuhan dalam
minum obat yang terjadi pada klien DM tipe 2 dikarenakan mereka mempunyai
kesadaran dan memiliki pemahaman yang baik tentang pentingnya mengkonsumsi
obat OHO, supaya kadar glukosa darah tetap dalam rentang normal. (Wahyuningtias
Rahmadani et al, 2019)
Kemampuan Self-Care Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2” Untuk variabel
36
kemampuan self care pada pasien DM tipe 2 didapatkan hasil bahwa rata-rata
aktivitas self care pasien DM adalah 2.5 hari dengan rentang waktu antara 2 hingga
5.5 hari dalam seminggu. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa
kemampuan self care pada pasien DM masih rendah. (Dewi Prasetyani et al, 2016)
Jurnal keempat yang berjudul “Dukungan Keluarga Pada Pasien Diabetes
Mellitus Tipe II di Wilayah Binaan Puskesmas Babakan Sari” Dukungan keluarga
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan manajemen diabetes,
adaptasi terhadap penyakit, kualitas hidup, diet gula, dan kepatuhan minum obat.
(Erna Irawan, 2019)
Jurnal kelima yang berjudul “Dukungan Keluarga Terhadap Self Care Pada
Lansia Dengan Diabetes Melitus Tipe 2” Berdasarkan hasil analisis multivariat
dengan regresi logistik ganda maka variabel yang paling dominan dan erat kaitannya
dengan Self-Care adalah Dukungan emosional. Berdasarkan nilai korelasi yang
paling kuat hubungannya dengan self-care klien DM tipe 2 adalah Dukungan
Emosional Keluarga (Coefficients Beta (Exp (B)) = 10,875). Dukungan emosional
yang diberikan keluarga kepada lansia dengan DM akan mendorong lansia tersebut
untuk dapat menjalani perawatan secara teratur, hal ini dikarenakan dukungan yang
diberikan tersebut dijadikan sebagai energi penggerak bagi penderita dalam
menjalankan suatu program terapi dan dapat melakukan self-care dengan baik. Pasien
yang sedang berada pada masa penyembuhan akan lebih cepat sembuh apabila
memiliki keluarga yang bersedia menolong (Baron & Bryne 1994). Dukungan
emosional keluarga yang ditunjukkan melalui ungkapan rasa simpati, pemberian
37
perhatian, kasih sayng, penghargaan serta kebersamaan akan membuat lansia dengan
DM merasa tenang dalam menghadapi berbagai keadaan tidak menyenangkan. (Hera
Heriyanti et al, 2020)
Jurnal keenam yang berjudul “Hubungan Dukungan Keluarga Dengan
Perawatan Diri (Self Care Activity) Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2” Pada
penelitian ini perawatan diri pada pasien diabetes melitus tipe 2 dapat dibedakan
menjadi dua kategori yaitu perawatan diri baik dan perawatan diri kurang.
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan perawatan diri (self care activity) pada
pasien diabetes melitus tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas II Denpasar Barat berada
pada kategori baik yaitu 77 (77,8%) dan kategori kurang yaitu sebanyak 22 (22,2%)
responden. Perawatan diri yang dimiliki responden dalam penelitian ini sebagian
besar dapat dikatakan baik karena adanya pemberian informasi tentang penyakit
diabetes melitus yang diberikan oleh pihak Puskesmas dan telah dilakukanya
penyuluhan kesehatan dalam menjaga perawatan diri pada pasien DM pada saat
adanya kegiatan peguyuban yang dilaksanakan satu bulan dua kali oleh program
Puskesmas II Denpasar Barat di masing-masing posyandu yang ada, sehingga
menambah pengetahuan dan memotivasi dari pasien untuk rutin dalam melakukan
perawatan diri. Hasil penelitian terdapat 22 (22,2%) responden menunjukan bahwa
perawatan diri (self care activity) pada pasien diabetes melitus tipe 2 kurang. Menurut
pendapat peneliti, hal ini dapat disebabkan oleh karena pasien tidak mau memikirkan
penyakitnya, tidak mau merawat dirinya, dan tidak ada motivasi di dalam dirinya
38
maupun dari luar yang mendorong pasien untuk rutin melakukan perawatan diri. (Ni
Wayan Yatik Marlinda et al, 2019)
Jurnal ketujuh yang berjudul “Dukungan keluarga dan perilaku self-
management pada pasien diabetes melitus tipe II di Puskesmas Simpang IV Sipin
Kota Jambi” Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden
telah menerapkan self-management yang baik khususnya pada aspek latihan fisik.
Tingkat pendidikan yang cukup dapat memudahkan pasien DM tipe 2 dalam
menentukan aktivitas yang baik untuk diabetesnya salah satunya adalah latihan fisik.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden telah
rutin dalam mengunjungi pelayanan kesehatan. Pasien DM yang mempunyai
kemampuan ekonomi akan rutin melakukan kunjungan ke pelayanan kesehatan.
Kemampuan ekonomi secara langsung memfasilitasi pasien DM tipe 2 dalam
memanfaatkan pelayanan kesehatan. Melalui pelayanan kesehatan, pasien DM tipe 2
akan mengetahui pentingnya melakukan kunjugan ke pelayanan kesehatan secara
rutin untuk mengontol diabetes yang dimiliki. Pada pengujian hipotesis dengan
menggunakan uji statistik dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang
signifikan antara dukungan keluarga dengan perilaku selfmanagement pada pasien
DM tipe 2 di Puskesmas Simpang IV Sipin Kota Jambi dengan p-value = 0,019
(0,05). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan King et al (2010) yang
mengemukakan bahwa salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perilaku self-
management yaitu dukungan sosial keluarga. Untuk meminimalisir dampak buruk
penyakit DM maka penderita DM dapat menerapkan self-management dalam
39
kehidupan sehari-hari. Penerapan selfmanagement telah terbukti meningkatkan
kondisi kesehatan pasien DM melalui penurunan kadar HbA1c yang akan berdampak
secara langsung menurunkan resiko kesakitan, hospitalisasi dan kematian akibat
penyakit DM . Keefektifan Penerapan self-management ini salah satunya bergantung
pada dukungan sosial keluarga yang diberikan pada penderita DM. (Rasyidah AZ,
2018)
kegiatan self-care dalam upaya penyembuhan penyakit DM (Diabetes Melitus) tipe II.
40
penderita diabetes melitus tipe II. Karena semakin tingginya dukungan keluarga maka
semakin besar kemampuan pasien dalam melakukan kegiatan self-care.
Dan terdapat pengaruh kegiatan self-care dalam upaya penyembuhan penyakit
DM (Diabetes Melitus) tipe II.
DAFTAR PUSTAKA
Azhari R (2018). Dukungan keluarga dan perilaku self-management pada pasien
diabetes melitus tipe II. 1Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Harapan
Ibu, Jambi, Indonesia. Riset Informasi Kesehatan, Vol.7, No.1 Juni 2018
Hanifah R A, Lutfi N A, Edy S (2019). Hubungan Dukungan Keluarga Dan Efikasi
Diri Dengan Self-Care Penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Puskesmas
Kasihan II, Bantul
Heriyanti H, Sigit M, Lily H (2020). Dukungan Keluarga Terhadap Self Care Pada
Lansia Pada Diabetes Melitus Tipe 2. Fakultas Keperawatan
Muhammadiyah, Jakarta. Journal Of Islamic Nursing Volume 5 Nomor 1,
Juli 2020
Irawan E (2019). Dukungan Keluarga Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe II. Fakultas
Ilmu Keperawatan, Universitas BSI. Jurnal Keperawatan BSI, Vol. 7 No. 2
September 2019
Lindawati, SpPD-KEMD (2019). Diet Serving For Diabetes Patient. Bagian Ilmu
Penyakit Dalam, RSUD Kabupaten Gayo Lues. The 3 rd
Aceh Endocrinology
endocrinology-and-diabetes-update-2019
Manuntung A (2020). Efikasi Diri Dan Perilaku Perawatan Diri Pasien Diabetes
Melitus Tipe 2. Poltekkes Kemenkes Palangka raya, Kalimantan Tengah.
Adi Husada Nursing Journal, Vol 6 No 1, Juni 2020/ Hal. 53
Marlinda N W Y, I Kadek N , Ni Ketut N (2019). Hubungan Dukungan Keluarga
Dengan Perawatan Diri (Self Care Activity) Pada Pasien Diabetes Melitus
Tipe 2. Institut Teknologi dan Kesehatan Bali. Vol 3, No 2 (2019).
Prasetyani D, Evy A, Yuni S E R (2018). Hubungan Karakteristik, Pengetahuan Dan
Dukungan Keluarga Dengan Kemampuan Self-Care Pada Pasien DM Tipe 2.
Puskesmas Cilacap Tengah 1 Dan 2. Jurnal Kesehatan Al-Irsyad (JKA), Vol.
Prasetyani D, Sodikin (2016). Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kemampuan
Self-Care Pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Stikes Al-Irsyad Al-
Islamiyyah Cilacap. Jurnal Kesehatan Al-Irsyad (JKA), Vol. IX, No. 2,
September 2016
Keluarga dengan Perilaku Perawatan Diri pada Klien Diabetes Melitus Tipe
2. Fakultas Keperawatan Universitas Jember. e-Journal Pustaka Kesehatan,
vol. 7 (no. 2), Mei 2019
Rahmi H (2019). Pengaruh Indonesian Group-Based Diabetes Education
Programmed (InGDEP) Dan Dukungan Keluarga Terhadap Pengetahuan,
Self-Care Activity Dan Diabetes Distress Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe
II. Puskesmas Kota Padang. http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/50312
Sari S M (2020). Pengaruh Relaksasi Benson Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah
Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. STIK Siti Khadijah, Palembang.
Volume 12, Nomor 1, Juni 2020
Sastra L, Lola D (2020). Faktor-Faktor Internal Yang Mempengaruhi Self-Care
Management Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Poliklinik RSUP Dr M Djamil,
Padang. Vol 3 No 3 April 2020
Solissa M D, Sudarman (2020). Dukungan Keluarga Mempengaruhi Self Care Pada
Pasien Diabetes Melittus. Kendal, Kota Makassar. Jurnal Keperawatan
Volume 12 No 2, Hal 319 - 326, Juni 2020
MELLITUS TIPE-2 DI PUSKESMAS
MELLITUS TIPE-2 DI PUSKESMAS
Pada Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
MELLITUS TIPE-2 DI PUSKESMAS
KASIHAN II BANTUL 1
3
ABSTRAK
tipe-2. Dukungan keluarga dan efikasi diri menjadi penting untuk mengontrol self-
care. Dukungan keluarga dan efikasi diri tinggi dapat memberikan motivasi pada
pasien dalam mempertahankan dan meningkatkan status kesehatan serta mencegah
terjadinya komplikasi.
Tujuan: Mengetahui hubungan dukungan keluarga dan efikasi diri dengan self-care
penderita diabetes mellitus tipe-2 di Puskesmas Kasihan II Bantul.
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain
penelitian deskriptif korelasi melalui pendekatan cross sectional. Pengambilan
sampel sebanyak 63 dengan teknik purposive sampling. Analisa data menggunakan
Kendall Tau dan menggunakan instrumen yaitu kuesioner.
Hasil: Menunjukkan mayoritas dukungan keluarga kategori cukup sebanyak 40
responden (63,5%), efikasi diri kategori baik sebanyak 50 responden (79,4%) dan
self-care dalam kategori cukup sebanyak 24 responden (83,1%). Hasil analisis
Kendall Tau menunjukkan bahwa dukungan keluarga berhubungan dengan self-care
penderita DM tipe-2 p-value=0,032 dengan keeratan yaitu 0,247. Hasil analisis
Kendall Tau menunjukkan bahwa efikasi diri berhubungan dengan self-care
penderita DM tipe-2 p-value=0,024 dengan keeratan yaitu 0,271.
Simpulan dan saran: Ada hubungan dukungan keluarga dengan self-care pada
penderita diabetes mellitus tipe-2 di Puskesmas Kasihan II Bantul. Sedangkan
keeratan yang lebih pada efikasi diri dengan self-care pada penderita diabetes
mellitus tipe-2 yaitu r=0,271. Diharapkan penderita DM tipe-2 meningkatkan self-
care dan efikasi diri serta diharapkan keluarga tetap mengoptimalkan dukungannya,
selalu memenuhi kebutuhan, selalu mengingatkan jadwal makan, olahraga, cek gula
darah, perawatan kaki dan minum obat.
Kata Kunci: Dukungan Keluarga, Efikasi Diri, Self-Care, Diabetes Mellitus Tipe-2
Kepustakaan: 23 buku (tahun 2008-2019), 49 jurnal, 6 skripsi, 9 internet, 1 Mushaf
Al-Quran
Jumlah Halaman: xi, 89 halaman, 9 tabel, 1 gambar, 15 lampiran
1 Judul Skripsi
THE RELATIONSHIP OF FAMILY SUPPORT AND
SELF-EFFICACY TO SELF-CARE PATIENTS
Rifa Asmah Hanifah 2 , Lutfi Nurdian Asnindari
3
ABSTRACT
Background: Diabetes self-care is an effort to control type 2 diabetes. Family
support and self-efficacy are important factors to control self-care. Family support
and high self-efficacy can motivate patients to maintain and improve their health
status and prevent complications.
Objective: The study aimed at determining the relationship between family support
and self-efficacy to self-care type 2 diabetes mellitus patients at Kasihan II Bantul
Primary Health Center.
Research Methods: This research applied a quantitative study with a descriptive
correlation research design through a cross sectional approach. The samples were 63
respondents taken by a purposive sampling technique. Kendall Tau was used as data
analysis, and questionnaire was used as the research instrument.
Results: It shows that the majority of family support can be categorized in the
sufficient category as many as 40 respondents (63.5%); the self-efficacy was in good
category as many as 50 respondents (79.4%), and the self-care was the sufficient
category as many as 24 respondents (83.1%). Kendall Tau's analysis results show
that family support was related to self-care in type 2 DM patients with p-value =
0.032 with a closeness of 0.247. Kendall Tau's analysis results show that self-
efficacy was related to self-care in type 2 DM patients with p-value = 0.024 with a
closeness of 0.271.
Conclusion and suggestion: There was a relationship between family support and
self-care in people with type 2 diabetes mellitus at Kasihan II Bantul Primary Health
Center. Whereas the highest closeness was on self-efficacy to self-care in patients
with type 2 diabetes mellitus with r = 0.271. It is expected that type 2 diabetes
patient improve self-care and self-efficacy and it is expected that families continue to
optimize their support, always meet their needs, always remind their eating schedule,
exercise, check blood sugar, foot care and take medication.
Keywords: Family Support, Self-Efficacy, Self-Care, Type-2 Diabetes Mellitus
References: 23 books (2008-2019), 49 journals, 6 theses, 9 internet, 1 Al-Quran
manuscript
Pages: xi, 89 pages, 9 tables, 1 picture, 15 appendices
1 Title
2 Students of Nursing Program, Faculty of Health Sciences Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
3 Lecturer of Faculty of Health Sciences Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
PENDAHULUAN
pankreas tidak menghasilkan cukup
secara efektif menggunakan insulin yang
dihasilkannya (WHO, 2017). Prevalensi
adalah DM tipe-2 sebanyak 352,1 juta
jiwa. Indonesia menduduki peringkat ke-
6 dari 10 negara di dunia sebanyak 10,3
juta jiwa. Peningkatan angka prevalensi
DM akan meningkatkan terjadinya
kematian (IDF, 2017).
Selama ini masyarakat
(Pudyasti, 2017). Strategi dalam
pengendalian DM tipe-2 pemerintah
Indonesia kerjasama dengan Badan
efisien (BPJS Kesehatan, 2014).
Sulistria (2013) penderita DM
dapat melakukan upaya pengendalian
diabetes merupakan sebuah program
sepanjang kehidupannya dan menjadi
Bentuk self-care penderita DM tipe-2
meliputi perilaku aktivitas fisik
(olahraga), pengaturan pola makan,
pengobatan, dan perawatan kaki
memberikan dampak negatif bagi kulitas
hidup pasien DM tipe-2, meningkatkan
resiko komplikasi hingga kematian. Self-
care yang dilakukan dengan baik akan
meningkatkan kualitas hidup (Chaidir,
tipe-2 tidak lagi disiplin melakukan
tindakan self-care (Lutfha, 2016).
Dukungan keluarga memberikan dampak
positif yaitu dapat meningkatkan
kepeduliaan dalam melakukan perawatan
maka akan semakin baik pula perilaku
self-care (Putri, 2016).
Upaya pengelolaan suatu
individu terhadap kemampuan dirinya
dengan baik. Efikasi diri pada penderita
DM difokuskan pada keyakinan dan
kemampuan pasien dalam mengelola,
merencanakan perilaku secara mandiri
sehingga dapat meningkatkan kepatuhan
hidup menjadi lebih baik (Ariani, 2012).
METODE PENELITIAN
perubahan (Arinto, 2013). Menggunakan
adalah 166 pasien DM tipe-2 di
Puskesmas Kasihan II Bantul. Teknik
pengambilan sampel menggunakan
peneliti sendiri, berdasarkan sifat-sifat
yang sudah diketahui (Notoatmodjo,
sebanyak 63 responden.
Metode pengolahan data yaitu editing,
coding, entry data dan cleaning. Analisis
data yang digunakan adalah analisis
univariat untuk menjelaskan
untuk mengetahui hubungan dukungan
Kasihan II Bantul.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Karakteristik Responden
2019
responden (52,4%), berdasarkan jenis
kelamin mayoritas perempuan sebanyak
32 responden (50,8%), berdasarkan
tingkat pendidikan mayoritas tamat
SD/sederajat sebanyak 19 responden
lama menderita DM >5 tahun sebanyak
33 responden (52,4%) dan mayoritas
dengan tidak memiliki komplikasi
sebanyak 47 responden (74,6%).
> 65 tahun 18 28,5
Dukungan
Keluarga
2 di Puskesmas Kasihan II Bantul
memiliki dukungan keluarga
dukungan keluarga pada kategori
kurang sebanyak 10 responden
Efikasi Diri F Persentase
2 di Puskesmas Kasihan II Bantul
memiliki efikasi diri baik sebanyak
50 responden (79,4%) dan paling
sedikit adalah efikasi diri kurang
sebanyak 13 responden (20,6%).
Bantul Tahun 2019
2 di Puskesmas Kasihan II Bantul
memiliki self-care cukup sebanyak
sedikit adalah self-care kurang
sebanyak 19 responden (30,2%).
Sumber : Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.5 diketahui
responden yang mempunyai dukungan
Responden yang mendapatkan dukugan
Sedangkan responden mendapatkan
menunjukkan signifikan p-value sebesar
hasil correlation coefficient sebesar
hubungan dalam kategori rendah.
Tipe-2 Di Puskesmas Kasihan II Bantul 2019
Sumber : Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan
diri baik akan memiliki self-care baik
yaitu sebanyak 19 responden (30,2%)
dan responden yang memiliki efikasi diri
kurang akan memiliki self-care yang
cukup yaitu sebanyak 7 responden
(11,1%). Hasil analisis uji korelasi
Kendall Tau menunjukkan signifikan p-
value sebesar 0,024 dengan nilai
signifikan p<0,05 dan hasil correlation
coefficient sebesar 0,271 yang
menunjukkan sifat keeratan hubungan
F % F % F % F %
Kurang 7 11,1 3 4,8 0 0 10 15,9 0,032
Cukup 8 12,7 19 30,2 13 20,6 40 63,5
Baik 5 7,9 2 3,2 6 9,5 13 20,6
Total 20 31,7 24 38,1 19 30,2 63 100
Efikasi
Diri
F % F % F % F %
0,024 Baik 14 22,2 17 27 19 30,2 50 79,4
Total 20 31,7 24 38,1 19 30,2 63 100
PEMBAHASAN
yang diberikan keluarga belum
maksimal, yang artinya terkadang
responden (52,4%). Hal ini didukung
penelitian Lutfha (2016) yang
menemukan sebagian besar usia
memasuki tahap lansia. Dimana
semakin meningkatnya usia maka
semakin perlunya dukungan yang
diberikan oleh anggota keluarga
kepada lansia karena adanya
penurunan fungsi tubuh dan
kemampuannya dalam merawat diri
sendiri dan semakin membutuhkan
orang lain (Anggina, 2010).
efikasi diri yang baik sebanyak 50
responden (79,4%). Sesuai dengan
responden (56,9%).
Berdasarkan karakteristik responden
berbagai masalah secara mandiri
termasuk saat mengalami penyakit
memiliki kecenderungan lebih patuh
dalam menjalani pengobatan dan
perawatan diri dibandingkan laki-
tahun memiliki efikasi diri yang baik
sebanyak 28 responden. Hal ini
didukung penelitian Ratnawati
baik. Hal ini disebabkan karena
seseorang telah memiliki
pengalaman dalam menghadapi
memiliki koping yang tepat.
(38,1%). Penelitian Hidayati (2017)
juga menemukan sebagian besar
(83,9%).
yang kurang. Kusniawati (2011)
perawatan diri lebih baik
dibandingkan dengan pasien yang
Menurut peneliti pasien yang telah
lama menderita DM pada hakikatnya
dapat mempelajari perilaku
carenya. Sesuai dengan penelitian
Retnowati (2012) responden yang
memiliki dukungan keluarga yang
cukup akan lebih berhasil
tipe-2 karena dengan adanya
dapat meningkatkan kepercayaan
dirinya dengan lebih
memperlihatkan usahanya untuk
meningkatkan kesehatan (Papalia,
yang berada dalam lingkungan
keluarga dan diperhatikan oleh
anggota keluarganya akan dapat
menimbulkan perasaan nyaman dan
meningkatkan motivasi untuk
melaksankan perawatan diri.
dukungan yang baik berupa
tipe-2.
care penderita DM tipe-2
Berdasarkan tabel 4.6 mayoritas
penelitian Setyorini (2018)
yang baik menandakan kesiapan
untuk merubah perilakunya dan
kesiapan untuk melakukan perilaku
akan kegagalan, meningkatkan
yang baik dapat meningkatkan
tipe-2 akan terdorong dalam
perawatan DM lainnya. Berdasarkan
(52,4%). Menurut peneliti semakin
lama menderita diabetes maka
(2011) menyatakan bahwa pasien
kronis ≥5 tahun memiliki efikasi diri
yang baik dari pasien yang
menderita penyakit akut, hal tersebut
disebabkan karena adanya
pengalaman dalam mengelola
Puskesmas Kasihan II Bantul
di Puskesmas Kasihan II Bantul
mayoritas baik.
dan efikasi diri dengan self-care pada
penderita DM tipe-2 di Puskesmas
Kasihan II Bantul tahun 2019.
4. Berdasarkan tingkat keeratan yang
lebih yaitu pada efikasi diri dengan
self-care pada penderita DM tipe-2 di
Puskesmas Kasihan II Bantul tahun
2019 dengan nilai r = 0,271.
Saran
Diharapkan dapat mepertahankan
dan diharapkan terus meningkat
perawatan kaki.
obat.
Motivasi Dengan Efikasi
Konteks Asuhan Keperawatan Di
Jakarta : FIK Universitas
and Related Factor in Older
People with Type 2 Diabetes.
Journal of Clinical Nursing.
Care Dengan Kualitas Hidup
Pasien Diabetes Mellitus. StiKes
Journal Endurance Vol.2(2), hlm.
Puskesmas 7 Ulu Palembang
Tahun 2017. Jurnal ‘Aisyiyah
Puskesmas Wirobrajan Kota
https://www.idf.org. Diakses pada
16 Agustus 2018.
Diabetes Dengan Cerdik. Jakarta.
Mellitus Tipe 2 Di Rumah Sakit
Umum Tangerang. Tesis.
Salatiga. Jurnal Keperawatan
Pada Penderita Diabetes Mellitus
Semarang, Analisis Rasch Model.
Nurscope Jurnal Keperawatan dan
Melitus Tipe 2. Jurusan
R.D. (2009). Humaan
Keluarga Dengan Perilaku Self-
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas
Efficacy Dengan Self-Care
Menagement Lansia Yang
Agustus 2018, hal 58-64.
Sulistria, Yessy Mardianti. (2013).
Tingkat Self-Care Pasien Rawat
Puskesmas Kalirungkut Surabaya.
Diabetes Mellitus Type 2 in Ho
Chi Minh City. UPPSALA
health: Applying medical
anthropology. SanFransisco: Jhon
Mei 2019, dari
Penyakit Dalam Rumah Sakit
Umum Pusat Fatmawati Jakarta.
Corresponding author:
Alfeus Manuntung
PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2
DI WILAYAH PUSKESMAS PAHANDUT
Poltekkes Kemenkes Palangka Raya
Jl. George Obos No. 30, 32, Menteng, Kec. Jekan Raya, Kota Palangka Raya, Kalimantan
Tengah, Indonesia
Abstrak Diabetes Melitus Tipe 2 memerlukan perawatan dan pengelolaan secara mandiri untuk mencegah
komplikasi akut dan kronis. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis hubungan antara efikasi diri
dan perawatan diri diabetesi di wilayah Puskemas Pahandut dan menggunakan rancangan
penelitian deskriptif korelasi cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan
consecutive sampling. Pengumpulan data efikasi diri menggunakan DMSES dan perilaku
perawatan diri menggunakan SDSCA. Analisa data menggunakan uji Chi Square. Berdasarkan
hasil penelitian diperoleh bahwa mayoritas responden DM Tipe 2 tingkat efikasi dirinya tinggi
(61,7%), sedangkan tingkat perilaku perawatan diri responden DM Tipe 2 rendah (53,2%). Hasil
analisis data Chi Kuadrat diperoleh ada hubungan antara efikasi diri dan perawatan diri diabetesi.
Pendekatan perilaku dapat dilakukan untuk menurunkan angka komplikasi dan mengoptimalkan
kualitas hidup diabetesi.
Kata Kunci: efikasi diri, perilaku perawatan diri, DM Tipe 2
Abstract Type 2 Diabetes Mellitus requires treatment and management independently to stop acute and
chronic complications. The aim of this study was to research correlation between self efficacy and
diabetes self care behavior within the work area of the Pahandut Public Health Center with a
correlational descriptive study design employing a cross sectional. The sampling technique used
consecutive sampling. Data collection was done by identifying self efficacy and self-care behavior
employing a questionnaire. Data analysis using Chi Square. The results showed that the absolute
best level of efficacy of Type 2 DM respondents (61.7%), while the extent of self-care of Type 2 DM
respondents was low (53.2%). Chi Square data analysis results obtained there's a relationship
between self-efficacy and self-care behavior of Type 2 DM patients. Behavioral approaches are
often wont to reduce the amount of complications and optimize the standard of lifetime of people
with diabetes.
PENDAHULUAN
terjadi sehingga memerlukan
penyakit kronis serius dan salah satu dari
penyakit tidak menular yang terjadi karena
sel betha kurang mampu menghasilkan
hormon insulin dan atau tidak dapat
memanfaatkan hormon insulin untuk
Pada tahun 2012 penyakit Diabetes Melitus
menyebabkan angka mortalitas di dunia
sebesar 1,5 juta jiwa dengan tambahan 2,2
juta kematian pada diabetesi dengan gula
Alfeus Manuntung - EFIKASI DIRI DAN PERILAKU PERAWATAN DIRI PASIEN DIABETES
MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH PUSKESMAS PAHANDUT
darah yang melebihi angka normal. Kematian
ini terjadi sebanyak 43% dari 3,7 juta jiwa
pada diabetesi dengan usia di bawah 70
tahun. Negara miskin dan negara
berkembang didapatkan angka mortalitas
Hasil laporan dari IDF tahun 2019
menyatakan bahwa terdapat 463 juta orang
dewasa (20-79 tahun) menderita Diabetes
Melitus, sekitar 10% dari pengeluaran
kesehatan global dihabiskan untuk Diabetes
Melitus sekitar 760 miliar USD. Penderita
Diabetes Melitus sebanyak 79% bermukim di
beberapa negara dengan ekonomi rendah dan
menengah didapatkan 2 dari 3 pengidap
Diabetes Melitus tinggal di daerah perkotaan
(310,3 juta) dan di Indonesia diperkirakan
jumlah penderita DM semakin bertambah
pada tahun 2015 dari 10 juta menjadi 16,2
juta di 2040.
dunia setelah RRT, India, USA, Brazil, dan
Meksiko jumlah diabetesi dengan umur 20
sampai dengan 79 tahun sejumlah 10,3 juta
jiwa.
pada tahun 2013 dan makin meningkat tajam
sejumlah 8,5% pada tahun 2018. Hal ini
didukung berdasarkan diagnosis dokter yang
menyatakan Diabetes Melitus pada tahun
2018 prevalensi usia yang mengalami
penyakit Diabetes Melitus tertinggi yaitu 55-
64 tahun dengan angka 6,3%, prevalensi jenis
kelamin yang mengalami penyakit Diabetes
Melitus tertinggi yaitu perempuan dengan
angka 1,8%, serta prevalensi antara daerah
perkotaan dan pedesaan yang mengalami
penyakit Diabetes Melitus tertinggi yaitu di
daerah perkotaan dengan angka 1,9%
(RISKESDAS, 2018).
tingkat partisipasi pengelolaan mandiri
adalah pasien cenderung kurang patuh dan
kurang menyadari bahayanya penyakit DM.
Perilaku perawatan diri diabetes untuk
mengontrol kadar glukosanya juga masih
rendah sehingga dapat dirumuskan tentang
“Bagaimana efikasi diri dan perawatan diri
diabetesi?”. Tujuan penelitian yaitu
diabetesi di wilayah Puskesmas Pahandut
Kota Palangka Raya.
sampel 47 responden diabetesi di wilayah
kerja Puskesmas Pahandut Kota Palangka
Raya, bulan September - Oktober 2019,
tehnik sampling consecutive sampling.
Instrumen yaitu DMSES (Diabetes
variabel efikasi diri dan SDSCA (Summary of
Diabetes Self-Care Activities) untuk variabel
perilaku perawatan diri diabetesi. Analisis
data univariat untuk mengidentifikasi
karakteristik responden dan variabel
penelitian, sedangkan bivariat menggunakan
Chi Kuadrat untuk mengidentifikasi
HASIL
pekerjaan, penghasilan, dan lama sakit adalah sebagai berikut.
Adi Husada Nursing Journal, Vol 6 No 1, Juni 2020/ Hal. 54
Alfeus Manuntung - EFIKASI DIRI DAN PERILAKU PERAWATAN DIRI PASIEN DIABETES
MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH PUSKESMAS PAHANDUT
Tabel 1
Karakteristik Responden DM Tipe 2 Berdasarkan Usia, Jenis Kelamin, Pendidikan,
Pekerjaan, Penghasilan, Dan Lama Sakit Tahun 2019
No. Karakteristik Median Modus SD Min-Mak
Usia
Jenis Kelamin n %
Penghasilan
2 Rp. 1 juta - Rp. 5 juta 26 55.3
3 > Rp. 5 juta 1 2.1
Lama sakit DM
2 6 s.d.10 tahun 15 31.9
3 11 s.d.15 tahun 3 6.4
4 >15 tahun 5 10.6
Tabel 1 didapatkan umur pasien DM Tipe 2 rata-ratanya adalah 57,40 tahun dengan
mayoritas jenis kelaminnya yaitu perempuan sebanyak 57,45%. Mayoritas responden Diabetes
Melitus Tipe 2 merupakan tamatan SLTA sebanyak 42,6%. Mayoritas responden Diabetes Melitus
Tipe 2 merupakan ibu rumah tangga atau tidak bekerja berjumlah 42,6%. Mayoritas responden
Diabetes Melitus Tipe 2 mempunyai penghasilan Rp. 1 juta - Rp. 5 juta berjumlah 55,3%. Sebagian
besar responden menderita Diabetes Melitus Tipe 2 antara 3 bulan sampai dengan 5 tahun sebanyak
51,1%.
Di Wilayah Puskesmas Pahandut Tahun 2019
No Efikasi Diri n %
3 Sedang 16 34
4 Tinggi 29 61,7
Total 47 100
Tabel 2 didapatkan sebagian besar responden memiliki efikasi diri tinggi yaitu 61,7%.
Adi Husada Nursing Journal, Vol 6 No 1, Juni 2020/ Hal. 55
Alfeus Manuntung - EFIKASI DIRI DAN PERILAKU PERAWATAN DIRI PASIEN DIABETES
MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH PUSKESMAS PAHANDUT
Tabel 3
No Perilaku Perawatan
2 Rendah 25 53,2
3 Sedang 6 12,8
4 Tinggi 5 10,6
Total 47 100
Tabel 3 menunjukkan mayoritas responden perilaku perawatan mandiri DM-nya rendah
yaitu 53,2% berdasarkan hasil penelitian tentang perilaku perawatan diri DM pada responden DM
Tipe 2.
Tabel 4
Di Wilayah Puskesmas Pahandut Tahun 2019
No Tingkat Efikasi
2 Rendah 0 0 0 0 0 0
3 Sedang 1
(50%)
1
(50%)
(6,38%)
25
(53,19%)
6
(12,77%)
5
(10,64%)
8
(17,02%)
47
(100%)
Tabel 4 menunjukkan bahwa perilaku perawatan diri rendah memiliki efikasi diri sedang
sebanyak 87,50%.
Tabel 5
Hasil Uji Chi Kuadrat Efikasi Diri dan Perawatan Diri Diabetesi
Di Wilayah Puskesmas Pahandut Tahun 2019
Nilai Uji Korelasi (r) p
17,007 0,030
Tabel 5 hasil analisis data dengan uji Chi Kuadrat didapatkan ada hubungan positif antara
efikasi diri dan perawatan diri diabetesi dengan p value = 0,030 dan nilai r = 17,007.
PEMBAHASAN
Hasil penelitian didapatkan data
61,7% dimana responden mempunyai
kemampuannya untuk mengatur atau
Diabetes Melitus Tipe 2 yaitu rata-rata lama
menderita Diabetes Melitus Tipe 2
menyebabkan terjadinya perbedaan efikasi
bahwa norma subjektif dan efikasi diri
Adi Husada Nursing Journal, Vol 6 No 1, Juni 2020/ Hal. 56
Alfeus Manuntung - EFIKASI DIRI DAN PERILAKU PERAWATAN DIRI PASIEN DIABETES
MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH PUSKESMAS PAHANDUT
mempengaruhi intensi seseorang. Makin
makin tinggi juga niat yang muncul dari
dalam dirinya, makin tinggi kepercayaan diri
dan kesiapan mental seseorang, maka makin
besar juga niatnya untuk melakukan suatu
tindakan. Teori Tindakan Beralasan
menyatakan proses pengambilan keputusan
dipengaruhi oleh sikap. Hal ini juga dapat
dikatakan bahwa minat untuk melakukan
sesuatu dipengaruhi oleh sikapnya sendiri.
Hasil penelitian ini juga didukung
oleh Edberg (2010) melalui teori Health
Belief Model yang menjelaskan bahwa
individu yang telah memperoleh pendidikan
kesehatan dan keterampilan untuk perawatan
dirinya akan memperoleh persepsi yang baik
pula terhadap penyakitnya. sehingga dapat
tingkat efikasi dirinya semakin meningkat.
Rias (2016) menyatakan bahwa suatu
perilaku kesehatan seseorang dipengaruhi
hal ini disebut dengan efikasi diri.
Perilaku Perawatan Diri Pasien DM Tipe
2
perilaku perawatan dirinya dalam 7 (tujuh)
hari terakhir, seperti diet, terapi pengobatan,
olahraga, pengecekan kadar glukosa, dan
perawatan kaki berada pada kategori rendah
yaitu 53,2%. Menurut Suharyat (2009),
kekuatan besar dalam menentukan perilaku
diperoleh dari individu itu sendiri, seperti
motif, nilai, kepribadian, dan faktor
lingkungan.
program yang harus dijalankan oleh diabetesi
selama hidupnya secara penuh tanggung
jawab. Dengan menekankan upaya pelayanan
kesehatan yang berfokus pada peningkatan
kesehatan dan pencegahan dengan tanpa
mengabaikan upaya pelayanan kesehatan
kuratif dan rehabilitatif, pengelolaan
dan mortilitas serta komplikasi akut dan
kronis akibat dari Diabetes Melitus. Menurut
Sutandi tahun 2012 menjelaskan bahwa
kontrol DM menjadi lebih optimal apabila
ditekankan upaya preventif dengan
merawatnya.
kerja hormon insulin, aktivitas fisik/olahraga
membantu dalam pengaturan kontrol BB,
sehingga gula darah dibakar menjadi kalori
dalam tubuh yang menyebabkan sel tubuh
lebih sensitif terhadap hormon insulin yang
diproduksi oleh sel beta dalam kelenjar
pankreas, perawatan diri/kaki dapat
pada pasien Diabetes Melitus yang dapat
berkembang menjadi ulkus diabetik,
diabetik seperti jenis obat derivate
sulfonilurea dapat membantu penyerapan
untuk menghambat proses pembentukan
darah rutin dapat digunakan sebagai acuan
untuk menilai keberhasilan dari penanganan
diabetes yang telah dilakukan, dan dapat
dijadikan sebagai motivasi diabetesi untuk
mengendalikan kadar glukosa darahnya di
dalam rentang yang normal.
Perawatan Diri pada Diabetesi
bahwa tingkat efikasi diri berdasar perilaku
perawatan diri diabetesi sebagian besar dalam
kategori efikasi diri sedang dan perawatan
Adi Husada Nursing Journal, Vol 6 No 1, Juni 2020/ Hal. 57
Alfeus Manuntung - EFIKASI DIRI DAN PERILAKU PERAWATAN DIRI PASIEN DIABETES
MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH PUSKESMAS PAHANDUT
diri yang rendah sejumlah 87,50%. Hasil uji
Chi Kuadrat nilai p = 0,030 dan nilai r =
17.007 menunjukkan terdapat hubungan yang
linier efikasi diri dan perilaku perawatan diri
pasien Diabetes Melitus Tipe 2.
Menurut Ariyani, dkk tahun 2012
menjelaskan terdapat hubungan efikasi diri
dengan motivasi dan dukungan keluarga.
Dengan hasil ini perawat direkomendasi
untuk memberikan dukungan pada diabetesi
dengan memberikan penyuluhan atau
dukungan sosial.
oleh DM Tipe 2 dapat dilakukan dengan
manajemen perawatan secara mandiri oleh
diabetesi. Rendahnya tingkat efikasi diri
seseorang dan kurangnya dukungan sosial
merupakan faktor-faktor penghambat
pengelolaan perawatan diri.
penting bagi pasien Diabetes Melitus dalam
hal mempertahankan diet dan pemantauan
gula darah untuk melakukan perilaku
perawatan secara mandiri. Mencapai tujuan
yang diinginkan dalam hal pengontrolan gula
darah, diabetesi yang mempunyai efikasi diri
yang baik terhadap kemampuannya untuk
mengatur gaya hidup sehat akan mampu
melakukan perilaku perawatan diri yang baik
pula untuk penanganan Diabetes Melitus.
KESIMPULAN
mengurangi komplikasi dan mengoptimalkan
keperawatan. Jurnal Keperawatan
Indonesia, 15(1), 29-38.
Diabetes. Isbn, 978, 6–86.
http://www.who.int/about/licensing/c
opyright_form/index.html.
diabetes self-management education.
S104. https://doi.org/10.2337/dc08-
riskesdas 2018. Jakarta: Badan
absences: Breaking the parent-child
https://doi.org/10.1017/CBO9781107
415324.004.
Diri Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2
Dalam Pengelolaan Diabetes
Mellitus. Jurnal Kesehatan
Manarang, 3(1), 31.
Diabetik di Wilayah Kerja
Tahun 2017. Jakarta: Kementerian
PENGETAHUAN DAN KEYAKINAN
DENGAN EFIKASI DIRI
PENYANDANG DIABETIC FOOT
Alfeus Manuntung - EFIKASI DIRI DAN PERILAKU PERAWATAN DIRI PASIEN DIABETES
MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH PUSKESMAS PAHANDUT
Sarwoko, E. (2011). Kajian Empiris
Entrepreneur Intention Mahasiswa.
Education (DSME) sebagai Metode
Alternatif dalam Perawatan Mandiri
WHO. (2016). Global report on diabetes:
executive summary (No.
SELF EFFICACY DAN DUKUNGAN
Volume 12, Nomor 1, Juni 2020 Sri Mulia Sari
Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan | 10
PENGARUH RELAKSASI BENSON TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA
DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2
Sri Mulia Sari
[email protected]
ABSTRAK
Latar belakang: Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit metabolik yang ditandai oleh
kenaikan kadar glukosa dalam darah. Komplikasi dari DM adalah hipoglikemia, diabetes ketoasidosis,
sindrom hiperglikemia hiperosmolar non ketotik, oleh karena itu diperlukan terapi untuk menurunkan
kadar gula darah, yang salah satunya Terapi Benson. Tujuan: Diketahuinya Pengaruh Relaksasi
Benson Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Metode: Desain
penelitian ini adalah pre eksperimental, dengan rancangan penelitian one group pre-post test design.
Tehnik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel
sebanyak 16 responden yang dilaksanakan pada tanggal 5 Agustus sampai dengan 30 November 2019
di Puskesmas Palembang. Kemudian data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan uji Wilcoxon.
Hasil: Rata-rata nilai kadar GDS sebelum relaksasi benson dengan nilai tertinggi 498 mg/dl dan nilai
terendah 212 mg/dl. Rata-rata nilai kadar GDS sesudah terapi benson dengan nilai tertinggi 377 mg/dl
dan nilai terendah 110 mg/dl. Ada pengaruh relaksasi Benson terhadap penurunan kadar gula darah
dengan hasil p value = 0,001 (<0,05). Saran: Salah satu alternative untuk menurunkan kadar gula
darah pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 adalah dengan cara relaksasi benson.
Kata Kunci: Relaksasi Benson, Gula Darah
ABSTRACT
Background: Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disease characterized by increased levels of
glucose in the blood. Complications of DM are hypoglycemia, diabetes ketoacidosis, hyperosmolar
non-ketotic hyperglycemia syndrome, therefore therapy is needed to reduce glucose levels, one of
which is Benson Therapy. Aim: Knowing the Effects of Benson's Relaxation on Reducing glucose
Levels in Patients with Type 2 Diabetes Mellitus. Method: The research design was pre-experimental
with one group pre-post test design. Sampling technique used is purposive sampling with a sample
size of 16 respondents conducted on August 5 up to November 30, 2019 at the Public Health Center in
Palembang. Then the data were analyzed using the Wilcoxon test. Results: The average value of GDS
levels before Benson relaxation with the highest value is 498 mg / dl and the lowest value is 212 mg /
dl. The average value of GDS levels after Benson therapy with the highest value of 377 mg / dl and
the lowest value of 110 mg / dl. There is an effect of Benson's relaxation on decreasing glucose levels
with a p value = 0.001 (<0.05). Suggestion: One alternative to reduce glucose levels in Type 2
Diabetes Mellitus Patients is by Benson relaxation.
Keywords: Benson's Relaxation, Glucose
Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan | 11
PENDAHULUAN
Adanya gangguan tersebut mengakibatkan
akhirnya menyebabkan kadar gula dalam
darah tinggi atau hiperglikemia (IDF,
2013).
angka kejadian dan kematian yang masih
sangat tinggi. Berdasarkan data World
Health Organization (WHO), Indonesia
dengan jumlah pasien diabetes di Asia. Di
Indonesia pada tahun 2000 jumlah pasien
diabetes sekitar 8.426.000 jiwa. Angka ini
diprediksikan akan semakin meningkat
21.257.000 jiwa.
secara umum angka kejadian Diabetes
Melitus mengalami peningkatan yang
% dan di tahun 2018 angka terus melonjak
menjadi 8,5% (RISKESDAS, 2018).
Provinsi Sumatera Selatan termasuk
pada tahun 2016 sebesar 45%, tahun 2017
sebesar 55% dan pada tahun 2018 sebesar
62,6 % (Dinkes Prov. Sumsel, 2018).
Di Kota Palembang jumlah penderita
Diabetes Melitus pada tahun 2016
sebanyak 4.442 orang, kemudian pada
tahun 2017 sebanyak 4.823 orang, dan
pada tahun 2018 mengalami peningkatan
menjadi 10.038 orang dan ini terjadi di
Kota Palembang (Dinkes Kota Palembang,
2018). Salah satu puskesmas yang
memiliki banyak penderita Diabetes
Plaju, yang didapatkan 3 (tiga) tahun
terakhir berjumlah, pada tahun 2016
sebanyak 1478 orang, pada tahun 2017
sebanyak 952 orang dan pada tahun 2018
sebanyak 817 orang (Puskesmas Plaju
Palembang, 2018).
mengakibatkan tidak terkontrolnya kadar
jika tidak di obati dengan benar maka akan
menimbulkan dampak yang buruk pada
tubuhnya. Beberapa dampak atau
Diabetes Melitus adalah hipoglikemia,
untuk mencegah terjadinya komplikasi
Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan | 12
Diabetes Melitus maka diperlukan
melalui perubahan gaya hidup pasien DM
tipe 2. Dalam melaksanakan pengontrolan
kadar gula darah terdapat beberapa cara
diantaranya terapi relaksasi benson (Moyad
& Hawks, 2009).
membantu pasien mencapai kondisi
kesehatan dan kesejahteraan. Kelebihan
mudah dilakukan bahkan dalam kondisi
apapun serta tidak memiliki efek samping
apapun, disamping itu kelebihan dari
teknik relaksasi lebih mudah dilaksanakan
oleh pasien, dapat menekan biaya
pengobatan, dan dapat digunakan untuk
mengontrol kadar gula darah dalam tubuh
(Yosep, 2007; Handayati, 2018).
Relaksasi benson dapat menurunkan
menekan pengeluaran hormon-hormon
yaitu epinefrin, kortisol, glucagon,
dengan cara menekan pengeluaran
epinefrin sehingga menghambat konversi
glikogen menjadi glukosa, menekan
pengeluaran kortisol dan menghambat
metabolisme glukosa, sehingga asam
hati dalam bentuk glikogen sebagai energi
cadangan. Menekan pengeluaran glukagon
sehingga dapat mengkonversi glikogen
pengeluaran glukagon sehingga dapat
glukosa. Menekan ACTH dan
glukokortikoid pada korteks adrenal
sehingga dapat menekan pembentukan
lyposis dan katabolisme karbohidrat dapat
ditekan, yang dapat menurunkan kadar
glukosa darah (Smeltzer & Bare, 2002).
Dari hasil penelitian sebelumnya
tentang pengaruh terapi benson terhadap
kadar gula darah pada lansia dengan
diabetes melitus di posyandu lansia
Matahari Surabaya tahun 2016
menunjukkan bahwa relaksasi benson
Ratnawati, dkk (2017) tentang terapi
pengaruh relaksasi benson termodifikasi
perbedaan perubahan kadar gula darah
Volume 12, Nomor 1, Juni 2020 Sri Mulia Sari
Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan | 13
yang signifikan pada lansia dengan
diabetes melitus (p<0,05). Purwasih, dkk
(2017) tentang relaksasi benson dan terapi
murattal surat ar-rahmaan menurunkan
diabetes melitus tipe 2 di kecamatan Maos
menunjukkan bahwa kombinasi relaksasi
tipe 2 dibandingkan dengan pemberian
relaksasi benson saja dengan hasil
(p=0.000). Hasil penelitian Kuswandi, dkk
(2018) di RS Tasikmalaya yang
menunjukkan bahwa ada pengaruh antara
Relaksasi Benson Terhadap Penurunan
Berdasarkan studi pendahuluan yang
terhadap 5 (lima) responden yang
menderita Diabetes Melitus wilayah kerja
Puskesmas Plaju Kota Palembang yang
dilakukan dengan cara wawancara,
dilakukan dalam mengatasi Diabetes
metode penurunan kadar gula darah dengan
menggunakan teknik relaksasi. Pada saat
ditanya mengenai penanganan diabetes
benson mereka belum mengetahuinya.
melakukan penelitian dengan judul
“Pengaruh Relaksasi Benson Terhadap
Palembang Tahun 2019”.
eksperimental dengan rancangan penelitian
pengambilan sampel yang digunakan
penelitian ini, peneliti mengajukan
penelitian, setelah mendapatkan
meliputi : informed consent (persetujuan),
(kerahasiaan).
November 2019 di Puskesmas Palembang
dan pengambilan data pada tanggal 2
September s.d. 19 Oktober 2019.
Pengolahan data dalam penelitian ini
meliputi pengecekan data, pemberian kode
data, pemprosesan data, pembersihan data
dan keluaran hasil data. Analisa data
meliputi analisis univariat dan analisis
bivariat dengan uji t dependen dengan
interval kepercayaan 95%.
Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan | 14
HASIL PENELITIAN
Sesudah diberikan Relaksasi Benson
melitus tipe 2 pada penelitian ini adalah
sebagai berikut :
Tabel 1
Variabel F Median Min Max
Kadar GDS Sebelum 16 276,50 212 498
Kadar GDS Sesudah 16 151,50 110 377
Berdasarkan Tabel 1. didapatkan
sebelum diberikan Relaksasi Benson
GDS adalah 212 dan nilai tertinggi 498.
Sedangkan setelah diberikan Relaksasi
Nilai terendah pada kadar GDS adalah 110
dan nilai tertinggi 377.
Pengaruh Relaksasi Benson Terhadap
Hasil analisis bivariat pengaruh
gula darah pada pasien Diabetes Melitus
Tipe 2 pada penelitian ini adalah sebagai
berikut :
Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2
Variabel F
Sebelum Sesudah
nilai sig Kadar gula darah sebelum
diberikan Relaksasi Benson adalah 0,028 <
0,05 sedangkan nilai sign Kadar gula darah
sesudah diberikan Relaksasi Benson adalah
0,002 < 0,05. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa data Berdistribusi Tidak
Normal, kemudian dilanjutkan dengan
menggunakan uji Wilcoxon test.
Tabel 2 diketahui p value = 0,001 (<0,05),
sehingga hipotesis dalam penelitian ini
diterima dimana secara statistik, dapatkan
Volume 12, Nomor 1, Juni 2020 Sri Mulia Sari
Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan | 15
ada pengaruh Relaksasi Benson Terhadap
Penurunan Kadar Gula Dara