of 110/110
HUBUNGAN BODY SHAMING DENGAN INTERAKSI SOSIAL TEMAN SEBAYA DI SMKN 7 TANGERANG SELATAN Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos) Disusun Oleh: Ridha Putriana Sari NIM. 11140541000020 PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1441 H/ 2020

HUBUNGAN BODY SHAMING DENGAN INTERAKSI SOSIAL …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/52269... · 2020. 9. 15. · HUBUNGAN BODY SHAMING DENGAN INTERAKSI SOSIAL TEMAN

  • View
    1

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of HUBUNGAN BODY SHAMING DENGAN INTERAKSI SOSIAL...

  • HUBUNGAN BODY SHAMING DENGAN

    INTERAKSI SOSIAL TEMAN SEBAYA

    DI SMKN 7 TANGERANG SELATAN

    Skripsi

    Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu

    Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

    Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

    Disusun Oleh:

    Ridha Putriana Sari

    NIM. 11140541000020

    PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL

    FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    1441 H/ 2020

  • ii

    ABSTRAK

    Ridha Putriana Sari. Hubungan Body Shaming dengan Interaksi Sosial

    Teman Sebaya di SMKN 7 Tangerang Selatan, 2020

    Di zaman sekarang ini masyarakat begitu mudahnya menilai orang lain

    salah satunya dengan melakukan body shaming. Body shaming adalah

    tindakan mengkritik, mengomentari, menghina fisik diri sendiri maupun

    orang lain. Body shaming termasuk ke dalam kategori perundungan secara

    verbal, yang bisa terjadi pada siapa saja terutama kaum remaja yang paling

    rentan mengalaminya, karena remaja selalu ingin mengikuti tren sehingga

    remaja sangat memperhatikan penampilannya. Namun sayangnya,

    masyarakat masih menganggap bahwa body shaming merupakan hal yang

    sepele, sehingga perlakuan body shaming sudah menjadi suatu kebiasaan

    meskipun dalam konteks candaan. Padahal terdapat dampak buruk yang akan

    ditimbulkan bagi korbannya seperti ketidakpercayaan diri (Sripurwaningsih,

    2017), gangguan makan (Chairani, 2018), depresi dan menutup diri dari

    lingkungannya (Alexandara, 2018).

    Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif

    dengan jenis penelitian studi korelasional dan dilaksanakan di SMKN 7

    Tangerang Selatan. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan

    yang signifikan antara body shaming dengan interaksi sosial teman sebaya di

    SMKN 7 Tangerang Selatan. Tingkat body shaming siswa di SMKN 7

    Tangerang Selatan berada dalam kategori sedang dengan presentase 60% dan

    interaksi sosial teman sebaya berada dalam kategori sedang dengan

    presentase 64,32%. Hasil korelasi menunjukkan arah hubungan negatif

    antara body shaming dengan interaksi sosial teman sebaya berdasarkan data

    yang diperoleh nilai sebesar 0,865 dengan nilai Sig. sebesar 0,000

    dan nilai sebesar 1,765. Artinya i (0,865) > i (1,765) dan

    nilai probabilitas Sig (0,000 < 0,05) maka Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya

    semakin tinggi perlakuan body shaming yang diterima maka semakin rendah

    interaksi sosial.

    Kata Kunci : Body Shaming, Interaksi Sosial, Perundungan

    Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

    Disusun Oleh :

    Ridha Putriana Sari

    NIM. 1113043000040

  • iii

    KATA PENGANTAR

    Alhamdulillahi Rabbil’alamiin, segala puji bagi Allah SWT yang

    telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya dalam memberikan banyak

    kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

    dengan baik. Shalawat serta salam tidak lupa penulis haturkan kepada Nabi

    Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya yang senantiasa berjalan

    di jalan Allah hingga akhir zaman dan membawa rahmat bagi semesta alam.

    Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari bahwa selesainya skripsi

    ini tidak terlepas dari dukungan serta bimbingan dari berbagai pihak, baik

    bersifat moril maupun materil. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan

    ucapan terima kasih kepada:

    1. Suparto, M.Ed., Ph.D sebagai Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu

    Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ibu Dr. Siti Napsiyah

    Ariefuzzaman, MSW sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik. Bapak

    Dr. Sihabuddin Noor, M.A sebagai Wakil Dekan Bidang

    Administrasi Umum. Bapak Drs. Cecep Sastrawijaya, MA sebagai

    Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan.

    2. Bapak Ahmad Zaky, M.Si, sebagai Ketua Program Studi

    Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Ibu Hj.

    Nunung Khoiriyah, MA sebagai Sekretaris Program Studi

    Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Terimakasih

    atas kesediaan waktunya dalam membantu dan menerima penulis

    untuk mengurus segala persyaratan dalam proses penyusunan skripsi

    dari awal hingga akhir. Semoga bapak dan ibu dapat terus

    memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan program studi.

  • iv

    3. Ibu Artiarini Puspita Arwan, M.Psi, selaku Dosen Pembimbing

    Skripsi yang meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan,

    nasihat, serta motivasi kepada Penulis selama proses pengerjaan

    skripsi ini. Terima kasih karena ibu sudah sangat sabar dalam

    membimbing dan membantu.

    4. Ibu Nurul Hidayat, MA, sebagai Dosen Pembimbing Akademik

    5. Para Dosen Program Studi Kesejahteraan Sosial yang telah

    memberikan ilmu, bimbingan serta arahannya selama proses

    perkuliahan saya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta dalam

    proses penyusunan skripsi ini. Semoga bapak dan ibu selalu diberikan

    rahmat oleh Allah.

    6. Perpustakaan Umum dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan

    Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, terimakasih telah

    membantu penulis dalam memberikan referensi buku, jurnal, maupun

    skripsi.

    7. Kedua orang tua yang Penulis hormati dan Penulis cintai, tanpa doa

    dan dukungan mereka Penulis tidak bisa sampai di titik ini. Yang

    tidak pernah bosan memberikan semangat dan menjadi grada

    terdepan untuk mendukung baik secara moril maupun materi kepada

    Penulis. Tak ada kata-kata yang dapat menggambarkan rasa terima

    kasih Penulis kepada mereka, tidak sanggup rasanya membalas segala

    kebaikan dan cinta tanpa syarat yang mereka berikan kepada Penulis.

    Semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan dan keberkahan

    umur sehingga Penulis memiliki kesempatan untuk berbakti dan

    membahagiakan mereka.

    8. Kepada teman-teman, Ika Dwi Sayekti, Masliyah Anggi Purba, Sonia

    Putri Partama, dan Inge Cyntiasari. Terima kasih sudah menjadi

  • v

    tempat berbagi keluh kesah, duka, dan canda tawa. Terimaksih atas

    dukungan yang telah kalian berikan.

    9. Kepada teman-teman Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah

    Jakarta 2014, atas dukungan dan memori zaman kuliah yang tidak

    akan penulis lupakan.

    10. Kepada para informan siswa-siswa SMKN 7 Tangerang Selatan,

    terima kasih atas informasi dan partisipasinya dalam pengumpulan

    data untuk penelitian skripsi ini.

    11. Kepada semua pihak yang tidak bisa Penulis sebutkan satu per satu

    atas bantuan dan dukungan sehingga Penulis dapat menyelesaikan

    penelitian skripsi ini dengan baik.

  • vi

    DAFTAR ISI

    ABSTRAK ................................................................................................................ ii

    KATA PENGANTAR ............................................................................................. iii

    DAFTAR ISI............................................................................................................ vi

    DAFTAR TABEL ................................................................................................... ix

    DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................ x

    BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1

    A. Latar Belakang Masalah ............................................................................... 1

    B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ........................................................... 8

    1. Pembatasan Masalah .................................................................................. 8

    2. Perumusan Masalah ................................................................................... 8

    C. Tujuan Penelitian .......................................................................................... 8

    D. Manfaat Penelitian ........................................................................................ 9

    E. Tinjauan Pustaka ........................................................................................... 9

    BAB II LANDASAN TEORI ................................................................................ 14

    A. Body Shaming ............................................................................................. 14

    1. Pengertian Body Shaming ........................................................................ 14

    2. Aspek-aspek Body Shaming ..................................................................... 15

    3. Jenis Body Shaming ................................................................................. 16

    4. Dampak Body Shaming ............................................................................ 17

    5. Standar Tubuh Ideal ................................................................................. 20

    B. Interaksi Sosial ............................................................................................ 21

    1. Pengertian Interaksi Sosial ....................................................................... 21

    2. Aspek-aspek Interaksi Sosial ................................................................... 22

    3. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial ................................................................ 23

  • vii

    4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Interaksi Sosial Siswa .................... 26

    C. Teman Sebaya ............................................................................................. 29

    1. Pengertian Teman Sebaya ........................................................................ 29

    2. Aspek-aspek Interaksi Teman Sebaya ..................................................... 30

    3. Fungsi Teman sebaya ............................................................................... 30

    4. Penerimaan dan Penolakan Teman Sebaya .............................................. 31

    5. Pentingnya Teman Sebaya bagi Perkembangan Remaja ......................... 33

    D. Kerangka Pemikiran.................................................................................... 35

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN ............................................................ 38

    A. Pendekatan dan Metode Penelitian ............................................................. 38

    B. Ruang Lingkup Penelitian ........................................................................... 39

    1. Subjek dan Objek Peneletian ................................................................... 39

    2. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................................. 39

    3. Populasi dan Sampel ................................................................................ 39

    C. Metode Pengumpulan Data ......................................................................... 40

    D. Variabel Penelitian ...................................................................................... 41

    E. Definisi Konseptual dan Operasional Variabel ........................................... 42

    F. Instrumen Penelitian ................................................................................... 43

    G. Kisi-kisi Instrumen...................................................................................... 43

    H. Uji Instrumen .............................................................................................. 46

    I. Teknik Analisis Data................................................................................... 50

    1. Analisis Unit ............................................................................................ 50

    2. Uji Prasyarat Analisis .............................................................................. 53

    3. Uji Hipotesis ............................................................................................ 54

    BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...................................... 39

    A. Deskripsi Data Penelitian ............................................................................ 39

    1. Body Shaming .......................................................................................... 39

    2. Interaksi Sosial Teman Sebaya ................................................................ 57

    B. Analisis Data ............................................................................................... 59

  • viii

    1. Analisis Unit ............................................................................................ 59

    2. Uji Prasyarat ............................................................................................. 61

    3. Uji Hipotesis ............................................................................................ 63

    C. Pembahasan ................................................................................................ 65

    BAB V PENUTUP .................................................................................................. 57

    A. Kesimpulan ................................................................................................. 57

    B. Saran ........................................................................................................... 72

    DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 72

    LAMPIRAN............................................................................................................ 75

  • ix

    DAFTAR TABEL

    Tabel 3.1 Variabel Penelitian ................................................................................. 47

    Tabel 3,2 Skala Likert ............................................................................................ 48

    Tabel 3.3 Blue Print Skala Body Shaming (Variabel X) ....................................... 49

    Tabel 3.4 Blue Print Skala Interaksi Sosial (Variabel Y) ...................................... 50

    Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas Body Shaming ......................................................... 52

    Tabel 3.6 Hasil Uji Validitas Interaksi Sosial Teman Sebaya ............................... 53

    Tabel 3.7 Hasil Uji Reliabilitas Body Shaming ..................................................... 55

    Tabel 3.8 Hasil Uji Reliabilitas Interaksi Sosial Teman Sebaya ........................... 56

    Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Body Shaming SMKN 7

    Tangerang Selatan ................................................................................. 61

    Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Interkasi Sosial Teman Sebaya

    SMKN 7 Tangerang Selatan.................................................................. 64

    Tabel 4.3 Analisis Unit .......................................................................................... 67

    Tabel 4.4 Gambaran Umum Subjek Berdasararkan Jenis Kelamin ....................... 67

    Tabel 4.5 Deskripsi Data Uji Normalitas ............................................................... 68

    Tabel 4.6 Deskripsi Data Uji Reliabilitas Anova................................................... 69

    Tabel 4.7 Hasil Uji Korelasi .................................................................................. 70

  • x

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1. Cover Judul Skripsi di Acc

    Lampiran 2. Surat Tugas Bimbingan oleh Dosen Pembimbing

    Lampiran 3. Surat Izin Penelitian Skripsi

    Lampiran 4. Surat Permohonan Judgment Instrument

    Lampiran 5. Surat Keterangan Validasi Instrument Penelitian

    Lampiran 6. Kuesioner Penelitian

    Lampiran 7. Skor Angket Body Shaming

    Lampiran 8. Skor Angket Interaksi Sosial

    Lampiran 9. Hasil Uji Normalitas

    Lampiran 10. Hasil Uji Reliabilitas

    Lampiran 11. Hasil Uji Korelasi

    Lampiran 12. Dokumentasi

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Setiap manusia pasti telah dianugerahi Tuhan mempunyai kelebihan serta

    kekurangan baik dari segi fisik, keterampilan, kemampuan akademis, dan

    semua kemampuan lainnya. Kondisi tubuh adalah salah satu bagian yang

    mudah dilihat dari diri seseorang. Tubuh menjadi bagian yang pertama

    dilihat dan sangat mudah dinilai oleh diri sendiri maupun orang lain. Adanya

    fenomena mengenai standar tubuh yang ideal yaitu pria tampan memiliki

    tubuh yang tegap dan berbadan tinggi, atau wanita yang cantik memiliki

    tubuh yang langsing dan berkulit putih. Karena munculnya standar tubuh

    ideal tersebut, terkadang orang lain menuntut dirinya atau seseorang untuk

    merubah penampilannya sesuai dengan standar ideal yang diinginkan

    masyarakat.

    Informasi yang semakin mudah diakses menyebabkan banyaknya iklan

    pada media mengenai gaya hidup, kecantikan, dan perawatan tubuh mampu

    mengubah pandangan masyarakat terkait tubuh yang ideal sesuai dengan

    konten iklan tersebut. Media memiliki peran yang besar dalam mengubah

    persepsi masyarakat, dari berbagai tayangan iklan baik di telivisi maupun

    media sosial, seolah menyampaikan pesan bahwa memiliki tubuh gemuk

    atau tubuh pendek adalah hal yang memalukan. Ketika individu yang merasa

    tubuhnya tidak ideal dan dengan mudah menerima penilaian yang

    disampaikan oleh iklan atau media tersebut, hal ini akan menimbulkan

    ketidakpuasan individu terhadap bagian tubuhnya (Knauss, Paxton &

    Alsaker, 2008). Disamping itu dengan banyaknya iklan yang sedang gencar-

    gencarnya menampilkan tubuh yang ideal, dunia memang sudah mempunyai

  • 2

    penilaian terkait adanya bentuk tubuh yang dianggap ideal dan tidak ideal.

    Akibatnya ketika individu tidak sesuai dengan standar tubuh ideal yang

    ditetapkan oleh masyarakat akan timbulah penilaian dari orang lain dengan

    cara mengkritik, mengomentari, bahkan menghina fisik yang disebut dengan

    body shaming.

    Body shaming adalah tindakan membandingkan, mengkritik atau

    menghina fisik, penampilan, atau citra diri seseorang yang dilakukan oleh

    orang lain ataupun diri sendiri yang akan menimbulkan perasaan malu

    (Chaplin, 2005). Body shaming terjadi dalam tiga cara yang utama, yaitu

    mengkritik diri sendiri, mengkritik orang lain, dan mengkritik orang lain

    dibelakang mereka. Body shaming merupakan ketidakmampuan untuk

    memenuhi standar-standar yang kemudian menghasilkan perasaan negatif

    tentang tubuh seseorang dan melemahkan persepsi seseorang tentang dirinya

    sendiri. Beberapa kasus body shaming yang dialami individu menjadi bahan

    ejekan orang lain seperti terlalu pendek, terlalu kurus, gendut, berjerawat,

    berkulit hitam, dan kalimat lain yang ditujukan untuk mengkritik fisik.

    Dalam Islam menghina adalah hal yang dilarang. Ini dibuktikan dengan

    ayat Al-Quran pada surat Al-Hujurat ayat 11 yang berbunyi:

    يَبأَيُّهَبالَِّذيَه اًَمىُىاالَيَْسَخْرقَْىٌم ِمْه قَْىِم َعَسى أَْن يَُكىوُىاَخْيًراِمْىهُْم والَوَِسبٌءِمْه

    ثِْئَس ااِلْسُم اْلفُُسىُق وَِسبِءَعَسى أَْن يَُكهَّ َخْيًراِمْىهُهَّ َوالَتَىَبثَُزواثِل ْْلَْلقَبِة

    ثَْعَداْْليَمبِن َوَمْه لَْم يَتُْت فَأُولَىَِك هُْم الظَّبلُِمىنَ

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-ngolok

    kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih

    baik dari mereka (yang mengolok-ngolok). Dan jangan pula wanita-wanita

    (mengolk-ngolok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita

  • 3

    (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-ngolok)

    dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri. Dan janganlah kamu saling

    memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah

    (panggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak

    bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim”.

    Dalam kandungan ayat tersebut sangat jelas bahwa Allah SWT melarang

    seseorang menghina ataupun merendahkan orang lain karena akan

    menimbulkan perasaan malu yang dapat menjatuhkan harga diri orang

    tersebut. Menurut (Fredrickson & Robert, 1997:180) penilaian terhadap

    tubuh sendiri seperti “bagaimana aku dipandang orang lain” hal itu

    menyebabkan individu hanya berfokus pada kekurangannya dan tidak

    melihat kelebihan dalam dirinya atau potensi apa yang bisa dilakukan oleh

    tubuhnya. Sehingga mencela diri sendiri hanya akan meningkatkan perasaan

    malu pada suatu tubuh.

    Body shaming sebenarnya sudah melekat di lingkungan sekitar kita,

    dalam komunikasi sehari-hari tanpa disadari sering sekali terdapat kalimat

    candaan yang mengarah pada body shaming. Body shaming bisa terjadi

    dimana saja, seperti di lingkungan keluarga, sekolah, atau di lingkungan

    pertemanan. Body shaming bisa terjadi pada siapapun terutama pada kaum

    remaja yang paling rentan mengalami body shaming. Menurut Papalia dan

    Olds (dalam Budiargo, 2015:3) pada saat remaja adalah waktu dimana

    remaja akan mengalami masa transisi, hal itu pula yang menjadikan remaja

    cenderung akan mengikuti tren agar tidak ketinggalan terkait soal gaya

    hidup, perawatan tubuh, dan kecantikan. Dari tren tersebut yang berkembang

    dikalangan remaja memungkinkan terjadinya tindakan body shaming bagi

    mereka yang dianggap temannya tidak sesuai dengan tren.

  • 4

    Bagi remaja mendapat perlakuan body shaming dari teman atau lawan

    jenisnya memberi kesan buruk dan paling membekas dalam hidup mereka.

    Misalnya saja ketika remaja berada di lingkungan sekolah yang baru dan

    teman-teman yang baru pula, adanya intimidasi tidak langsung yang

    mengarah pada body shaming karena merasa berbeda dengan yang lainnya..

    Terlebih saat berada di tempat ramai dan orang lain pun turut mendengar

    ucapan body shaming kepada korban, hal itu akan semakin membuat korban

    tertekan dan memberi ingatan yang buruk pada korban. Menghadapi body

    shaming membutuhkan proses dan tidak cepat berakhir. Namun sayangnya,

    baik masyarakat maupun remaja masih menganggap sepele terkait

    permasalahan ini, mereka tidak menyadari terkait resiko yang ditumbulkan

    dari body shaming. Seseorang akan mengalami perasaan malu, sakit hati,

    tidak percaya diri, depresi, pendiam dan menutup diri dari lingkungannya

    (Alexandra, 2018:7-8).

    Bartky (dalam Stephen dan Dina, 2009:2) berpendapat bahwa rasa malu

    tubuh yang dialami seseorang sesuai dengan sejauh mana ia telah

    menginternalisasi standar budaya. Perasaan malu yang disebabkan penilaian

    dari orang lain dan dirinya dapat mempengaruhi perilaku, kepribadian,

    pikiran, perasaan serta situasi. Seseorang yang merasa tidak puas akan

    bentuk tubuhnya akan memandang negatif terhadap tubuh, dengan

    melakukan body checking, usaha kamuflase tubuh, merasa malu, dan

    mejauhkan diri dari aktivitas sosial atau kontak fisik dengan orang lain

    (Rosen dan Reiter.1995:263). Menurut dr. Yunias Setiawati (dalam BAS

    Putri, et al, 2018:2) body shaming adalah salah satu bentuk dari perundungan

    secara verbal dimana pelakunya sering kali tidak menyadari bahwa ia sedang

    mendapat perlakuan body shaming karena dianggap wajar, padahal

    kekerasan verbal yang mengandung kata-kata menyakitkan atau tidak

    menyenangkan dapat menyebabkan trauma psikis.

  • 5

    Body shaming merupakan bagian dari kekerasan verbal atau perundungan

    secara verbal, Sejiwa menjelaskan bahwa perilaku perundungan penghambat

    besar bagi individu untuk mengaktualisasi diri. Sehingga orang yang pernah

    mengalami perundungan tidak bisa mengeksploitasi dirinya dengan baik dan

    menghambat interaksi sosialnya menyebabkan hubungan sosial dengan

    teman sebaya menjadi renggang. Begitu pula yang terjadi saat individu

    mendapat perlakukan body shaming, ketika orang-orang di lingkungan

    sekitarnya sering melontarkan kalimat-kalimat buruk yang mengarah pada

    fisik seperti menghina dan merendahkan, yang kemudian semua hinaan

    tersebut akan menumpuk dalam hati seseorang dan akan membuat mereka

    merasa kurang percaya diri, selain itu juga akan berpengaruh pada aspek

    kehidupan pribadi maupun kehidupan sesialnya.

    Bonner (dalam Gerungan, 2004:62) menyebutkan interaksi sosial adalah

    suatu hubungan antara dua orang individu atau lebih, dimana tingkah laku

    individu yang satu mempengaruhi, mengubah, memperbaiki tingkah individu

    yang lain. Ketidakmampuan atau permasalahan siswa dalam melakukan

    interaksi sosial akan berdampak besar terhadap kenyamanan. Interaksi sosial

    yang baik sangat diperlukan oleh siswa sehingga siswa mampu bersosialisasi

    dan bergaul dengan lingkungannya tanpa ada tekanan. Oleh karena itu dapat

    diterima oleh kelompok teman sebaya merupakan bagian yang sangat

    penting bagi siswa, penerimaan atau penolakan berkontribusi besar terhadap

    kehidupan sosial remaja itu sendiri. Ketika remaja dapat diterima oleh

    lingkungan teman sebayanya, hal tersebut berpengaruh terhadap kesempatan

    remaja untuk belajar berinteraksi dengan teman sebayanya dan ikut

    berpartisipasi dalam kelompok. Sedangkan, remaja yang mendapat

    penolakan akan menyebabkan remaja sulit berinteraksi dengan teman

  • 6

    sebayanya sehingga remaja menjadi pribadi yang kurang percaya diri,

    tertutup, dan sulit bekerjasama dengan teman sebaya lainnya.

    Survey yang dilakukan di Amerika menunjukkan 94% remaja perempuan

    dan 64% remaja laki-laki pernah mengalami body shaming, pengalaman

    mendapat ejekan mengenai penampilan mereka dari orang-orang dalam

    kehidupan mereka, seperti orang tua hingga teman yang membuat mereka

    merasa lebih buruk tentang diri mereka sendiri (WCNC, 2017). Kasus body

    shaming yang terjadi di Thailand pada tahun 2018 remaja berusia 17 tahun

    bunuh dari akibat tidak tahan karena selalu diejek gendut oleh teman-teman

    di sekolahnya. Di Indonesia sendiri telah dilaporkan dari seluruh Indonesia

    sepanjang tahun 2018 terdapat 966 kasus penghinaan fisik yang ditangani

    polisi, sebanyak 374 kasus telah diselesaikan, baik melalui penegakan hukum

    maupun pendekatan mediasi antara korban dan pelaku. Komisioner KPAI

    Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan kekerasan fisik dan

    perundungan adalah kasus yang terbanyak terjadi di sepanjang tahun 2018,

    salah satunya adalah kasus Cyberbully yang meningkat cukup signifikan

    dikalangan para siswa seiring dengan penggunaan internet dan media sosial

    dikalangan anak-anak, termasuk kasus body shaming (Lazuardi, 2018).

    Penelitian lain yang dilakukan Brigittan Anggraeni di Surabaya dalam

    kampanye “Sister’s Project” sebagai upaya pencegahan body shaming,

    ditemukan fakta sebanyak 96% siswa SMA negeri maupun swasta pernah

    menjadi korban body shaming dalam lingkup pergaulan mereka (BAS Putri,

    et al, 2018).

    Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Alexandra dan Meg, 2018)

    dalam jurnalnya “Weight Shame, Social Connection, and Depressive

    Symptoms” di salah satu Universitas Amerika menujukkan hasil yang

    signifikan bahwa mereka yang pernah mengalami body shaming memiliki

  • 7

    lingkup pertemanan yang rendah, baik perempuan maupun laki-laki mereka

    cenderung menutup diri dari lingkungannya. Penelitian lain yang dilakukan

    oleh Rizki Nur Khalifah dalam jurnalnya yang berjudul “Hubungan Perilaku

    Bullying dengan Kemampuan Interaksi Sosial Siswa Sekolah Dasar”. Hasil

    penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara

    perilaku perundungan dengan kemampuan interaksi sosial. Perilaku

    perundungan memberikan dampak bagi interaksi sosial siswa sehingga

    membuat anak yang tidak memiliki teman semakin terkucil serta tidak dapat

    berinteraksi dengan baik dilingkungannya. Hal ini juga dijelaskan oleh

    Dolezal (2015) rasa malu tubuh memainkan peran penting dalam hubungan

    sosial. Dimana penerimaan dan pengakuan diri sendiri menjadi suatu hal

    yang penting.

    Salah satu contoh kasus body shaming yang baru baru ini terjadi pada

    Agustus 2019 di SMKN 7 Tangerang Selatan, remaja usia 16 tahun

    berinisial HV mengalami perlakuan body shaming oleh kakak kelasnya

    karena seragam sekolahnya terlalu ketat, karena kakak kelasnya tidak senang

    akhirnya mereka menegur korban yang diperparah dengan kekerasan fisik.

    perlakuan yang didapatkan korban di tampar oleh 8 kakak kelasnya. Yang

    lebih parahnya lagi berawal dari perilaku body shaming ini merambah pada

    kekerasan fisik. (Hambali, 2019).

    Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti

    mengenai “Hubungan Body Shaming Dengan Interaksi Sosial Teman

    Sebaya di SMKN 7 Tangerang Selatan”.

  • 8

    B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

    1. Pembatasan Masalah

    Agar pembatasan dalam penelitian ini lebih terarah, makan peneliti

    mencoba memberikan batasan permasalahan yang akan diteliti.

    a. Responden yang penulis teliti adalah siswa baik laki-laki maupun

    perempuan kelas 3 di SMKN 7 Tangerang Selatan.

    b. Penulis hanya meneliti apakah body shaming berhubungan

    dengan interaksi sosial teman sebaya di SMKN 7 Tangerang

    Selatan.

    2. Perumusan Masalah

    1. Apakah ada hubungan Body Shaming dengan Interaksi Sosial

    Teman Sebaya di SMKN 7 Tangerang Selatan?

    2. Bagaimana tingkat body shaming siswa kelas XII SMKN 7

    Tangerang Selatan?

    3. Bagaimana tingkat interaksi sosial siswa kelas XII SMKN 7

    Tangerang Selatan?

    C. Tujuan Penelitian

    1. Untuk mengetahui tingkat body shaming siswa kelas XII SMKN 7

    Tangerang Selatan.

    2. Untuk mengetahui tingkat interaksi sosial siswa kelas XII SMKN 7

    Tangerang Selatan.

    3. Untuk mengetahui hubungan body shaming dengan interaksi sosial

    teman sebaya di SMKN 7 Tangerang Selatan.

  • 9

    D. Manfaat Penelitian

    1. Manfaat akademis

    a. Secara akademis hasil dari penelitian ini diharapkan dapat

    memberikan sumbangan kepada bidang Ilmu Kesejahteraan

    Sosial

    b. Diharapkan dapat memperkaya literatur bagi pengembangan

    penelitian serupa di masa yang akan datang.

    c. Dapat menambah wawasan penulis berkaitan dengan teori,

    konsep, dan metodologi penelitian

    2. Manfaat sosial

    Secara sosial penelitian ini diharapkan dapat membantu

    masyarakat untuk lebih menerima perbedaan, agar masyarakat bisa

    melihat dan menilai diri sendiri ataupun menilai orang lain bahwa

    setiap manusia mempunyai keunikan masing-masing.

    3. Manfaat praktis

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan dapat

    menjadi bahan bacaan serta masukan bagi peneliti dan masyarakat

    mengenai gambaran body shaming, dampak yang akan ditimbulkan,

    bagaimana menyikapi perlakuan body shaming. Dengan begitu baik

    peniliti maupun masyarakat bisa menyadari dan memberikan

    perhatian lebih terkait body shaming.

    E. Tinjauan Pustaka

    Tinjauan pustaka adalah tinjauan atas kepustakaan (literatur) yang

    berhubungan dengan topik pembahasan suatu penelitian yang dilakukan pada

    penulisan skripsi. Tinjauan pustaka digunakan sebagai referensi untuk

    membantu dan mengetahui dengan jelas penelitian yang akan dilakukan

    untuk penulisan skripsi (Hamid Nasuki, et al, 2007). Dalam melakukan

  • 10

    penelitian dan penulisan judul ini penulis terlebih dahulu melakukan

    peninjauan pustaka terhadap beberapa karya ilmiah sebelumnya yang

    menjadi ide awal dilakukannya penelitian ini dan menjadi tolak ukur dalam

    penulisan karya ilmiah ini. Adapun tinjauan pustaka dalam penulisan skripsi

    ini sebagai berikut;

    1. Karya ilmiah skripsi dengan judul “Dinamika Psikologis Perempuan

    Mengalami Body Shame” yang ditulis oleh Tuti Marianna Damanik dari

    Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Hasil

    penelitian ini menunjukkan body shaming berpotensi menjadi gangguan

    mental jika dilakukan terus menerus dan kebiasaan menginteralisasi

    pengamatan dapat menyebabkan perempuan mengalami kondisi

    kehilangan diri (loss of self).

    2. Jurnal ilmiah dengan judul “Hubungan Perilaku Bullying dengan

    Kemampuan Interaksi Sosial Siswa Sekolah Dasar” yang ditulis oleh

    Rizki Nur Khalifah dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

    Universitas Lampung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat

    hubungan yang signifikan antara perilaku bullying dengan kemampuan

    interaksi sosial. Hasil uji hipotesis sebesar 0,0832 termasuk dalam

    kategori sangat kuat, hal ini menunjukkan bahwa apabila perilaku

    bullying tinggi maka kemampuan interaksi sosial rendah.

    3. Jurnal ilmiah dengan judul “Hubungan antara Perilaku Bullying (Korban

    Bullying) dengan Kemampuan Interaksi Sosial Pada Remaja SMA” yang

    ditulis oleh Wahyu Endang Setiowati dkk dari Fakultas Ilmu

    Keperawatan Universitas Islam Sultan Agung Tirtayasa. Hasil penelitian

    menunjukkan adanya hubungan antara perilaku bullying (korban

    bullying) dengan kemampuan interaksi sosial.

    4. Jurnal Internasional dengan judul “Why Weight Matters: Addressing

    Body Shaming in the Social Justice Community” yang ditulis oleh Farah

  • 11

    Fathi dari Columbia Social Work Review. Hasil penelitian ini berfokus

    pada individu yang mengalami kelebihan berat badan dan mengalami

    diskriminasi di lingkungan dimanapun mereka berada. Dalam penelitian

    ini penulis berupaya menyoroti diskriminasi yang dilakukan terhadap

    individu yang mempunyai berat badan berlebih sebagai masalah keadilan

    sosial. Stigma yang diberikan akan berdampak buruk pada kesejahteraan

    orang gemuk.

    5. Jurnal Internasional dengan judul “Is Body Shaming Predicting Poor

    Physical Health and Is There a Gender Difference?” yang ditulis oleh

    Eva Lind Fells Eliasdottir dari Departement of Psychology. Dalam

    penelitian ini menjelaskan dampak body shaming bagi kesehatan fisik,

    selain itu dalam penelitian ini juga menunjukkan perbedaan gender,

    dimana wanita lebih tinggi mengalami body shaming dibandingkan

    dengan pria. Perempuan lebih mungkin melaporkan kesehatan fisik

    mereka dibandingkan dengan pria.

    F. Sistematika Penulisan

    Untuk memudahkan pemahaman keseluruhan isi skripsi ini, maka

    penulis membuat sistematika penulisan sebagai berikut:

    BAB I: PENDAHULUAN

    Pada bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah,

    pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat

    penelitian, tinjauan pustaka dan sistematika penulisan.

    BAB II : LANDASAN TEORI

    Pada bab ini menguraikan landasan teori yang berkaitan dengan

    permasalahan penelitian. Membahas landasan teori tentang

  • 12

    pengertian body shaming serta jenis-jenis body shaming ,

    pengertian interaksi sosial, bentuk-bentuk interaksi sosial,

    pengertian teman sebaya serta penerimaan dan penolakan antar

    teman sebaya.

    BAB III: METODOLOGI PENELITIAN

    Pada bab ini menjelaskan metodologi penelitian, pendekatan dan

    desain penelitian, definisi dan operesional variabel, pengukuran

    variabel, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, hipotesis

    penelitian, uji instrument, dan teknik analisa data, rekapitulasi

    validitas dan reabilitas instrument.

    BAB IV: HASIL PENELITIAN

    Pada bab ini merupakan hasil penelitian yang membahas mengenai

    persiapan alat ukur, uji pengolahan instrument, dan analisis data

    penelitian.

    BAB V: PENUTUP

    Pada bab ini akan diuraikan mengenai kesimpulan dan saran.

  • 13

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Body Shaming

    1. Pengertian Body Shaming

    Menurut Dolezal (2015:6) body shaming merupakan tindakan

    mengkritik, mengomentari, atau membandingkan fisik orang lain maupun

    dirinya sendiri. Dalam kamus Oxford dijelaskan bahwa body shaming ialah

    tindakan menghina, mengomentari, dan mengkritik tentang tubuh atau

    ukuran tubuh baik dilakukan oleh orang lain maupun diri sendiri yang

    bertujuan untuk mempermalukan individu. Menurut Fredikson & Robert

    (1997:182) body shaming adalah ketika individu memiliki kesadaran diri

    akan tubuhnya yang tidak sesuai dengan standar ideal dan memiliki

    pandangan negatif terhadap dirinya sendiri karena merasa gagal untuk

    memenuhi standar ideal. Bagi sebagian orang memenuhi standar ideal suatu

    bagian yang penting terutama bagi remaja yang mudah menginternalisasi

    atau merealisasikan sendiri standar-standar tersebut. Banyak individu merasa

    tidak dapat memenuhi standar sehingga menimbulkan perasaan negatif yang

    diarahkan pada diri sendiri yang kemudian tanpa disadari akan timbul

    perlakuan body shaming.

    Body shaming adalah suatu keadaan emosional yang bisa sangat

    menyakitkan karena merasa mendapat penolakan sosial dari orang lain, serta

    perasaan muak pada diri sendiri (Roberts & Goldenberg, 2007:389). Body

    shaming merupakan bagian yang berpotensi menjadi rasa malu karena

    seseorang tidak hanya mengamati tubuh sebagai bagian dari diri kita tetapi

    orang lain juga akan memberikan penilain subyektif pada tubuh kita. Rasa

  • 14

    malu adalah perasaan emosi yang membuat individu tidak nyaman dan

    sangat tidak menyenangkan, individu akan merasa dalam dirinya ada sesuatu

    yang tidak terhormat, tidak sopan, atau tidak senonoh (APA dictionary,

    2015). Rasa malu ini biasanya ditandai dengan menutup diri dari lingkungan

    sosial, seperti menghindari atau mengalihkan perhatian orang lain dari

    tindakan yang memalukan yang dapat memiliki dampak yang mendalam

    pada psikisnya dan hubungan interpersonal. Seseorang yang mengalami body

    shaming akan berdampak tidak hanya pada perilaku menghindar, tetapi juga

    merasa terancam, hingga melampiaskan amarah. Penelitian psikologi secara

    konsisten menginformasikan resiko seseorang yang mengalami body

    shaming akan berimbas pada psikologis, seperti gejala depresi, gangguan

    makan, kecemasan, dan harga diri yang rendah (APA dictionary, 2015).

    Perempuan, yang mengalami body shaming sebagai akibat dari standar

    budaya, mereka secara terus-menerus diposisikan seolah tidak memadai atau

    tidak sesuai jika dibandingkan dengan standar ideal tubuh yang sudah

    ditetapkan oleh masyarakat. Rasa malu tubuh menjadi kemungkinan

    permanen yang akan terus diingat. Akibatnya, perempuan sudah terbiasa

    dengan perasaan rasa malu tubuh, mereka merasa bagian tubuh mereka

    memiliki kekurangan, tidak sesuai dengan ekspetasi, dan tidak terlihat dari

    apa yang seharusnya standar tubuh ideal. Gagal mencapai tubuh ideal

    menandakan penguasaan tubuh dan kontrol tubuh yang gagal lebih dalam.

    Sikap memalukan ini begitu meresap dan tidak pasti sehingga seringkali

    berada di luar jangkauan kesadaran. Karena nilai-nilai normatif

    diinternalisasi secara menyeluruh untuk memastikan rasa pengakuan dan

    kepemilikan dalam kelompok sosial. Perempuan bahkan mungkin tidak

    menyadari bahwa mereka mengalami body shaming atau bahwa mereka

    mengerahkan upaya yang berlebihan untuk menghindarinya. Sebaliknya

    mereka sibuk berusaha menyusaikan tubuh mereka dengan standar ideal,

  • 15

    upaya pribadi terus dilakukan seperti membeli produk kecantikan, perawatan

    tubuh, olahraga, diet, hingga bedah untuk mendapatkan apa yang

    diharapkannya. Saat individu mengalami body shaming akan ada perasaan

    kecewa pada tubuh, individu akan merasa bahwa apa yang diinginkan

    harusnya ada pada tubuhnya bukan sebaliknya. Misalnya, individu akan

    merasa kecewa dengan warna kulitnya sendiri karena tidak sesuai dengan

    apa yang ditampilkan oleh media saat itu. (Dolezal, 2015).

    Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa body shaming

    merupakan tindakan mengkritik, mengomentari, atau membandingkan fisik

    orang lain maupun dirinya sendiri yang kemudian bisa menimbulkan

    perasaan yang sangat menyakitkan dan perasaan malu ketika tubuhnya tidak

    sesuai dengan yang diharapkannya.

    2. Aspek-aspek Body Shaming

    Menurut Vargas (dalam Chairani 2018:16) tindakan body shaming ditandai

    dengan aspek-aspek yang meliputi:

    1. Mengomentari diri sendiri serta membandingkannya dengan orang lain

    yang dianggap ideal. Misalnya seseorang yang melihat dirinya lebih

    gemuk daripada orang lain.

    2. Mengomentari penampilan atau fisik seseorang di depan orang tersebut

    dan membandingkannya dengan orang lain. Seperti mengatakan bahwa

    orang tersebut memiliki kulit yang gelap sehingga harus memakai

    pemutih wajah.

    3. Mengomentari penampilan atau fisik orang lain tanpa sepengetahuan

    orang tersebut. Seperti mengosipkan penampilan teman yang

    pakaiannya terlihat kurang bagus atau tidak pantas.

  • 16

    3. Jenis Body Shaming

    Menurut (Dolezal, 2015:8-10) body shaming terdiri dari dua jenis yaitu

    acute body shame dan chronic body shame:

    a. Acute body shame

    Acute body shame berkaitan dengan aspek perilaku dari tubuh, seperti

    gerakan, gaya berbicara, tingkah laku, dan kenyamanan yang

    berhubungan dengan presentasi diri. Biasanya hal ini disebut dengan

    embarrassment atau rasa malu. Acute body shame terjadi pada kasus-

    kasus dalam interaksi sosial, seperti ketika seseorang sedang berbicara

    kemudian mengalami kegagapan atau gagal dalam berperilaku yang

    diharapkan di lingkungan sosial, sering muncul sebagai akibat dari

    pelanggaran perilaku, penampilan, atau hilangnya kendali sementara atas

    tubuh dan fungsi tubuh seseorang.

    Acute body shame biasanya terjadi secara tak terduga dan tanpa

    persiapan yang tidak pasti. Contoh dari jenis body shame ini mungkin

    terkait dengan beberapa aspek fisik tubuh atau pada waktu lain berkaitan

    dengan perilaku atau tingkah laku. Acute body shame bertindak sebagai

    pengatur keberhasilan dalam interaksi sosial. Ketika seseorang

    mengalami acute body shame, itu menandakan individu tersebut telah

    melampaui batas sosial mengenai penampilan dan kenyamanan yang

    dapat diterima lingkungannya. Akibatnya, acute body shame

    menghambat interaksi sosial yang diwujudkan.

    Acute body shame adalah sesuatu yang normal dialami dan kadang

    diperlukan. Tidak ada yang terhindar dari kasus-kasus rasa malu tubuh

    ini. Acute body shame terjadi secara rutin dan menjadi bagian dari proses

    sosial. Acute body shame memainkan peran penting dalam keterampilan,

  • 17

    representasi diri, manajemen tubuh dan pembentukan skema tubuh,

    belum lagi dalam masalah-masalah yang lebih luas dari kontrol sosial

    dan ketertiban tubuh.

    b. Chronic body shame

    Chronic body shame ini berkaitan dengan tubuh seseorang yang lebih

    berkelanjutan atau permanen, seperti berat badan, tinggi badan, atau

    warna kulit. Chronic body shame juga dapat timbul karena beberapa

    stigma atau kelainan tubuh, seperti bekas luka atau cacat. Di luar

    penampilan, chronic body shame sering dikaitkan dengan fungsi dan

    kecemasan tubuh di sekitar bagian tubuh seperti jerawat, penuaan, dan

    sebagainya. Selain itu, mungkin timbul dalam masalah kontrol tubuh,

    seperti dalam kasus gagap atau kekakuan kronis. Apa pun yang

    menyebabkannya, jenis body shaming ini datang secara kronis dan

    berulang-ulang ke dalam kesadaran seseorang dan membawa rasa sakit

    yang berulang atau mungkin terus-menerus. Rasa malu dalam hal ini

    akan menjadi lebih akut mungkin pada saat seseorang menginternalisasi

    penilaian diri, menyebabkan pengalaman tubuh berkurang sehingga

    mempengaruhi harga diri dan penilaian diri.

    4. Dampak Body Shaming

    Setiap indivdu mempunyai reaksi yang berbeda saat menghadapi

    perlakuan body shaming, begitu pula dampak yang muncul pun berbeda.

    Body shaming memberikan dampak bagi individu ketika orang lain ataupun

    dirinya sendiri secara terus-menerus memandang negatif pada tubuhnya.

    Dampak tersebut antara lain:

  • 18

    a. Gangguan Makan

    Merasa tidak puas pada bentuk tubuh menjadikan banyak orang

    seringkali salah memandang bentuk tubuhnya. Seseorang yang menilai

    tubuhnya dan merasa tidak sesuai dengan bentuk tubuh ideal cenderung

    akan mengupayakan berbagai cara agar tubuhnya idal dengan melakukan

    diet untuk menurunkan berat badan atau sebaliknya mengkonsumsi

    berbagai makanan tanpa memperhatikan resikonya untuk menaikkan

    berat badan, dengan begitu diharapkan dirinya bisa diterima di

    lingkungannya bisa menghindari body shaming. Namun, di samping itu

    tindakan mengubah bentuk tubuh menyebabkan seseorang hanya

    berfokus pada keinginan untuk mengubah bentuk tubuhnya tanpa

    memperhatikan efek dari diet tersebut bagi kesehatannya. Selain itu

    tindakan mengubah bentuk tubuh berpotensi mencapai kegagalan yang

    justru akan mendapatkan perlakuan body shaming yang lebih dari

    sebelumnya. Seperti yang dikatakan oleh Noll & Fredrickson (1998:623)

    bahwa kegagalan mencapai tubuh ideal karena melakukan usaha-usaha

    seperti menurunkan berat badan dapat menjadi penyebab semakin tinggi

    terjadinya body shaming.

    Body shaming dapat menuntun seseorang untuk melakukan

    perubahan-perubahan pada tubuhnya. Penelitian sebelumnya

    menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara body shame

    dengan gangguan makan (Chairani, 2019). Hal ini memberikan gambaran

    bahwa body shaming dapat menjadi antisipasi yang meyakinkan dalam

    memprediksi gangguan makan. Sejalan dengan penelitian (Mustapic,

    Marcinko, Vargek, 2015) terdapat hubungan yang positif body shaming

    dan perilaku makan. Dimana semakin tinggi tingkat body shaming maka

    cenderung memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perilaku

  • 19

    makan. Selain memberikan dampak pada gangguan makan, body

    shaming memiliki dampak pada kesehatan seseorang, seperti melakukan

    diet mati-matian, minum obat pelangsing, memakai obat pemutih instan,

    dan berbagai macam upaya lain yang justru akan berdampak lebih serius

    pada tubuhnya. Lamont (2018) dalam penelitiannya menjelaskan adanya

    hubungan yang positif antara body shame dengan infeksi maupun gejala

    dari suatu penyakit yang disebabkan karena perhatian pada kesehatan

    tubuh yang rendah.

    b. Depresi

    Hidup di budaya yang memiliki penilaian adanya tubuh ideal dan

    tidak ideal, memberikan kecendrungan seseorang untuk menerima

    pandangan orang lain tentang tubuhnya. Sehingga ketika orang lain

    melontarkan kalimat buruk tentang tubuhnya, indvidu tersebut akan

    mendengarkan sepenuhnya komentar buruk itu dan melemahkan

    perspektif dirinya sendiri tentang tubuhnya. Komentar buruk yang terus-

    menerus diterima membuat indvidu merasa dirinya tidak berharga,

    kondisi ini memungkinkan individu mengalami stress yang berujung

    depresi. Tindakan yang lebih ekstrem korban body shaming dapat

    berpikir untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

    c. Body Shaming dan Self-Esteem

    Individu yang mengalami body shaming akan melakukan penilaian

    diri dengan terus melakukan body checking pada tubuhnya atau

    penampilanya, selain itu tentunya individu juga akan melakukan

    penilaian terhadap keberhargaan dirinya. Ketika individu merasa malu

    dengan kondisi tubuhnya maka individu tersebut akan merasa tidak

  • 20

    percaya diri dan memiliki harga diri yang rendah. Menurut (Noser &

    Zeigler-Hill, 2014:703) ketika seseorang sering melakukan penilaian

    terhadap penampilan diri mereka sendiri, kondisi tersebut cenderung

    akan berdampak pada tingkat self-esteem yang rendah. Menurut

    Baumeister (dalam Santrock, 2007) menjelaskan individu dengan harga

    diri rendah akan beranggapan dirinya memiliki keterbatasan, merasa

    bersalah karena kekurangannya, dan berada dalam kondisi yang tidak

    aman.

    5. Standar Tubuh Ideal

    Menurut Bakhshi (2008:374-394) kemunculan kriteria standar tubuh

    ideal dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, budaya, ekonomi, dan ekologi

    yang mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap konsep tubuh ideal.

    Kelompok masyarakat di berbagai belahan dunia memiliki penilaian

    berbeda-beda dalam kriteria yang dianggap menarik atau tidak menarik,

    tinggi atau pendek, gemuk atau kurus, berkulit gelap atuh putih. Menurut

    Wolf (dalam Bestiana, 2012:2) mitos-mitos kecantikan yang berlaku dalam

    masyarakat juga ikut mempengaruhi konsep tubuh ideal. Standar tubuh ideal

    dalam msyarakat bisa saja berbeda, misalnya individu yang dianggap

    berkulit gelap oleh masyarakat di lingkungannya, bisa jadi dianggap normal

    oleh masyarakat di luar lingkungannya. Media ikut memberikan pengaruh

    besar dalam pandangan masyarakat terkait standar tubuh ideal, iklan-iklan

    yang ditampilkan oleh media seolah memberi kesan memiliki tubuh gemuk

    atau berkulit gelap adalah sesuatu yang memalukan dan harus diubah

    (Bestiana, 2012:8). Menurut Kulick dan Meneley (dalam Kholifah dan

    Kuncoro, 2019:682). Tanpa disadari hal tersebut mengubah persepsi konsep

    tubuh ideal di masyarakat sehingga menciptakan ketidakpuasan individu

  • 21

    terhadap tubuhnya dan berkeinginan untuk memenuhi standar ideal yang

    berlaku dalam lingkungan sosial dan budayanya.

    B. Interaksi Sosial

    1. Pengertian Interaksi Sosial

    Menurut Walgito (2003:65) interaksi sosial adalah hubungan antara

    individu satu dengan individu yang lain, individu satu dapat mempengaruhi

    individu yang lain atau sebaliknya, sehingga terdapat hubungan yang saling

    timbal balik. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis yang

    menyangkut hubungan antar orang perorangan, antar kelompok-kelompok

    manusia dan antar orang dengan kelompok-kelompok masyarakat. Interaksi

    terjadi apabila dua orang atau kelompok saling bertemu dan pertemuan

    antara individu dengan kelompok dimana komunikas terjadi diantara kedua

    belah pihak (Yulianti, 2003:91). Sedangkan pengertian lain dari interaksi

    sosial menurut Thibaut dan Kelly (dalam Mohammad Ali dan Mohammad

    Asrori, 2004:87) adalah peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika

    dua orang atau lebih hadir bersama, mereka menciptakan suatu hasil satu

    sama lain, atau berkomunikasi satu sama lain.

    Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial oleh karena itu

    tanpa adanya interaksi sosial tidak akan mungkin ada kehidupan bersama.

    Interaksi sosial dimaksudkan sebagai pengaruh timbal balik antar individu

    dengan golongan didalam usaha mereka untuk memecahkan persoalan yang

    diharapkan dan dalam usaha mereka untuk mencapai tujuannya (Ahmadi,

    2004:49). Kemampuan individu dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial

    akan menjadikan seseorang menentukan sikap sosialnya untuk bereaksi

    terhadap fenomena-fenomena sosial di lingkungannya.

  • 22

    Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa interaksi

    sosial adalah hubungan antara individu dengan individu atau individu dengan

    kelompok yang didalamnya individu mempengaruhi, mengubah, atau

    memperbaiki kelakuan individu yang lain, atau sebaliknya sehingga

    memunculkan hubungan timbal balik.

    2. Aspek-aspek Interaksi Sosial

    Dalam interaksi sosial juga terdapat aspek aspek guna mendukung

    terjadinya suatu interaksi. Menurut Bales (dalam Santoso, 2004:180) aspek-

    aspek tersebut meliputi:

    a. Adanya hubungan, terjadinya interaksi tentu terjadi karena adanya

    hubungan antara individu dengan pihak lain maupun hubungan antara

    kelompok dengan kelompok. Hubungan ini ditandai dengan adanya

    komunikasi seperti saling bertegur sapa atau berjabat tangan.

    b. Adanya individu, peran serta individu dengan individu lain maupun

    individu dengan kelompok memainkan peran penting dalam

    melaksanakan proses hubungan sosial.

    c. Adanya tujuan, interaksi sosial terjadi tentu karena adanya tujuan

    seperti saling bertukar informasi, atau untuk mempengaruhi individu

    lain.

    d. Adanya hubungan dengan struktur dan fungsi kelompok, setiap

    individu memiliki peran dalam kelompoknya. Karena dalam

    kehidupan individu-individu tidak terlepas untuk membentuk suatu

    kelompok, oleh karena itu individu dikatakan sebagai makhluk sosial

    yang memiliki fungsi dalam kelompoknya.

  • 23

    3. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

    Dalam proses interaksi juga memiliki beberapa bentuk interaksi sosial.

    Gillin dan Gillin (dalam Soekanto, 2007:65) mengkategorikan interaksi

    sosial ke dalam dua bentuk, yaitu proses asosiatif dan disosiatif. Proses

    asosiatif adalah proses yang mengarah untuk menciptakan suatu kesatuan,

    sedangkan disosiatif adalah proses yang bersifat bertentangan karena

    memiliki tujuan yang berbeda.

    Proses asosiatif terbagi menjadi tiga bentuk sebagai berikut:

    a. Kerja sama

    Kerja sama adalah sebuah proses yang terjadi ketika adanya

    kepentingan dan tujuan yang sama yang kemudian melakukan sebuah

    tindakan guna memenuhi tujuannya tersebut. Dalam bentuk kerjasama

    ada peran atau fungsi dari masing-masing anggota kelompok karena

    kegiatan yang dilaksanakan saling bergantung dengan kegiatan yang lain

    dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan bersama.

    b. Akomodasi

    Akomodasi adalah suatu bentuk usaha untuk mengurangi

    pertentangan antara individu dengan individu lain atau antara kelompok

    dengan kelompok dalam masyarakat akibat pandangan atau pemahaman

    yang berbeda. Akomodasi juga berfungsi untuk mencegah munculnya

    suatu pertentangan dalam waktu jangka pendek maupun jangka panjang.

    Selain itu akomodasi berupaya menyatukan kelompok-kelompok yang

    sebelumnya sudah saling bertentangan dan memungkinkan terjadinya

    sebuah kerjasama didalamnya.

  • 24

    c. Asimilasi

    Asimilasi adalah proses sosial yang berupaya untuk mengurangi

    perbedaan-perbedaan yang terdapat antara individu atau kelompok dan

    juga mengupayakan usaha untuk memperkuat kesatuan dengan cara

    mendahulukan tujuan dan kepentingan bersama. Dalam situasi ini adanya

    sebuah toleransi di setiap anggota kelompoknya akan mendukung proses

    asimilasi walaupun terkadang tidak mudah dalam menjalankan proses

    asimilasi ini karena adanya hambatan seperti kehidupan masyarakat yang

    terisolasi, yang pada umumnya cenderung memiliki pengetahuan yang

    relatif rendah.

    Bentuk-bentuk interaksi sosial yang terwujud dalam proses asosiatif yang

    biasa terjadi dalam kehidupan yaitu:

    a. Persaingan

    Persaingan ialah proses sosial dimana individu atau kelompok yang

    bersaing berusaha untuk mengungguli pihak lain. Contoh persaingan

    yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti persaingan

    ekonomi, kedudukan, dan peran. Upaya-upaya yang dilakukan seperti

    menarik perhatian atau mencari kelemahan lawan dengan cara

    memperkuat prasangka yang telah ada. Biasanya persaingan dilakukan

    tanpa adanya kekerasan ataupun ancaman. Adapun fungsi dari persaingan

    salah satunya adalah untuk menyalurkan sebuah keinginan individu yang

    bersifat kompetitif dalam masyarakat.

    b. Kontravensi

    Kontravensi adalah bentuk proses sosial yang berada antara

    persaingan dan pertentangan. Kontraversi menunjukkan sikap

  • 25

    ketidakterimaan atau ketidaksukaan yang tersembunyi terhadap orang

    lain atau terhadap unsur-unsur kebudayaan golongan tertentu.

    Kontravensi biasanya ditandai dengan tindakan penolakan dan

    perlawanan yang memungkinkan bertujuan untuk menjatuhkan pihak

    lain.

    c. Pertentangan

    Pertentangan ialah bentuk proses sosial ketika individu atau

    kelompok berusaha mencapai tujuannya dengan cara menantang dan

    memberikan sebuah ancaman atau kekerasan pada pihak lawan. Pada diri

    seseorang biasanya mempunyai keinginan yang ingin saling berkompetisi

    dalam mengekspresikan perannya atau pendapatnya. Biasanya

    pertentangan terjadi disebabkan adanya suatu perbedaan yang sangat

    nyata, seperti perbedaan paham antar individu, kepentingan hingga

    perbedaan sosial. Selain itu konflik dalam kelompok pun sering

    disebabkan oleh perbedaan tujuan pada anggota kelompok, perbedaan-

    perbedaan pendapat, ketidasetujuan yang didasarkan karena ekspetasi

    individu yang tidak sesuai pada individu lain. Namun di samping itu

    pertentangan tidak selalu bersifat negatif, adapula sifat positif yang bisa

    menguatkan suatu kelompok. Contoh yang bersifat positif akibat dari

    pertentangan adalah meningkatkan solidaritas antar anggota dalam suatu

    kelompok dan memungkinkan terjadinya perubahan kepribadian kearah

    yang lebih baik. Sedangkan contoh negatif sebagai akibat dari

    pertentangan yaitu retaknya kesatuan antar anggota kelompok yang

    berdampak pada perpecahan atau putusnya hubungan sosial. Masalah

    sosial tidak muncul secara alami, namun masalah sosial hadir disebabkan

  • 26

    oleh “social creation” yang tercipta sebagai hasil dari pemikiran manusia

    dalam kebudayaan yang dimiliki oleh manusia itu sendiri.

    4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Interaksi Sosial Siswa

    Menurut Santoso (2010: 166-167) interaksi sosial dapat berlangsung

    karena beberapa faktor. Faktor-faktor yang mendasari interaksi sosial yaitu

    Imitasi, Sugesti, Identifikasi, Simpati, dan Motivasi, yang diuraikan sebagai

    berikut:

    a. Faktor imitasi

    Tarde mengasumsikan bahwa seluruh kehidupan sosial itu

    sebenarnya berdasarkan hanya pada faktor imitasi. Tarde

    mengungkapkan terdapat segi-segi negatif dan postif dalam peranan

    faktor imitasi. Proses imitasi dikatakan negatif ketika role model yang

    diimitasi itu memberi pengaruh yang tidak baik, hal itu akan

    menimbulkan kesalahan besar, terkadang orang dengan mudahnya

    menerima apa yang dilihat dan langsung mengimitasi hal tersebut tanpa

    di kritisi terlebih dahulu. Sedangkan proses imitasi dikatakan positif

    apabila mampu membawa individu memperoleh keahlian dan mendorong

    individu untuk bertingkah laku sesuai dengan norma.

    b. Faktor Sugesti

    Ahmadi (dalam Santoso, 2010) menjelaskan bahwa sugesti adalah

    keadaan di mana orang lain ataupun dinvidu itu sendiri berusaha untuk

    memberikan dorongan pada pikiran. Sugesti yang datang baik dari

    dirinya sendiri maupun dari orang lain biasanya dengan mudah diterima.

    Adapun perbedaan antar jenis auto-sugesti dan hetero-sugesti. Auto-

    sugesti adalah sugesti yang datang dari dirinya sendiri, contoh dari jenis

  • 27

    ini bisa diambil dari seseorang yang sedang sakit, ia selalu mensugesti

    dirinya bahwa ia bisa sembuh dari penyakitnya. Hetero-sugesti adalah

    sugesti yang datang dari orang lain, contohnya bisa diambil dari seorang

    motivator yang memberikan semangat untuk audiensnya dengan kata-

    kata positifnya.

    Dari kedua sugesti diatas memegang peranan penting dalam

    kehidupan sosial. Baik sugesti maupun imitasi sejatinya saling

    berhubungan, yang membedakannya bahwa dalam imitasi individu

    mengikuti orang lain yang menjadi role modelnya, sedangkan pada

    sugesti seseorang mencoba memberikan arahan atau pandangan yang

    dilakukan oleh dirinya sendiri atau orang lain yang nantinya akan

    diterima oleh individu tersebut (Janu, 2007). Maka dapat dikatakan

    bahwa sugesti akan mendorong seseorang untuk bersikap sesuai dengan

    apa yang ada dipikirannya .

    c. Faktor Identifikasi

    Menurut Freud (dalam Santoso, 2010) faktor identifikasi dalam

    psikologi artinya dorongan untuk menjadi sama dengan orang lain baik

    secara lahiriah maupun secara batiniah. Proses identifikasi dapat terjadi

    ketika seseorang memberikan contoh yang baginya ideal dalam

    kehidupannya. Proses ini dapat terjadi dengan sendirinya tanpa disadari

    ataupun sengaja. Secara tidak sadar individu yang mengidentifikasi itu

    akan menirukan sikap, penampilan, tingkah laku, dan kebiasaan lainnya

    dari sosok yang ia identifikasi. Maka pada jangka waktu tertentu akan

    muncul perasaan untuk menjadi identik dan memainkan peran sebagai

    sosok yang diidentifikasi tersebut.

  • 28

    d. Faktor Simpati

    Simpati ialah perasaan tertariknya seseorang terhadap orang lain

    maupun suatu kelompok (Janu, 2007). Proses simpati timbul mencakup

    adanya akal rasional, dan juga perasaan. Proses ini bisa berjalan dengan

    perlahan-lahan seiringnya waktu atau secara tiba-tiba bahkan secara

    sadar antar kedua belah pihak. Dorongan utama pada proses simpati yaitu

    ingin mengerti orang lain, berbeda halnya dengan identifikasi yang

    didorong dengan perasaan meniru dan ingin menjadi sama. Contoh

    identifikasi adalah memberi bantuan pada orang lain yang sedang

    kesulitan.

    e. Motivasi

    Sukmadinata (dalam Santoso, 2010) menjelaskan motivasi adalah

    suatu tindakan bagi individu memberikan dorongan, pengaruh, atau

    stimulasi untuk individu lain. Kemudian seseorang yang diberi motivasi

    tersebut akan menuruti atau melaksanakan apa yang ia terima dan dengar

    itu secara kritis, rasional, dan penuh rasa tanggung jawab. Motivasi

    adalah suatu tindakan yang terbentuk dari dorongan yang berupa

    desakan, motif, kebutuhan dan keinginan. Wujud motivasi dapat berupa

    perilaku, sikap, saran, pendapat, dan pertanyaan.

    Dari penjelasan berbagai faktor di atas dapat diambil kesimpulan

    bahwa interaksi merupakan suatu proses yang cukup kompleks yang

    didasari atau dilandasi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut

    mampu bergerak dengan sendiri secara terpisah ataupun saling berkaitan.

  • 29

    C. Teman Sebaya

    1. Pengertian Teman Sebaya

    Horrock dan Benimoff (dalam Hurlock, 2002:214) menjelaskan

    kelompok teman sebaya adalah tempat kaum remaja yang menyediakan

    panggung dimana remaja dapat menilai, menganalisis, dan memperbaiki

    konsep dirinya. Teman sebaya adalah anak-anak atau remaja yang

    memiliki usia atau tingkat kedewasaan yang relatif sama. Remaja akan

    saling memberikan dorongan dengan teman sebayanya mengenai

    kemampuan mereka. Remaja belajar dari teman sebayanya untuk menilai,

    membandingkan tentang dunia di luar keluarga. Dari proses belajar

    tersebut akan berpengaruh pada remaja, apa yang dilakukan mereka bisa

    lebih baik, sama baiknya atau bahkan lebih buruk dari apa yang dilakukan

    teman sebayanya (Santrock, 2007:55). Menurut Slamet Santoso (2004: 79)

    menjelaskan bahwa teman sebaya ialah perkumpulan remaja dengan usia

    yang sama yang anggotanya mampu bersosialisasi dan berkomunikasi

    dengan baik. Hal-hal yang dilakukan oleh anak-anak usia tersebut adalah

    hal-hal yang menyenangkan saja.

    Dari penjelasan di atas maka dapat diambil kesimpulan apa yang

    dimaksud dengan teman sebaya adalah anak-anak atau remaja yang

    mempunyai usia dengan tingkat kematangan yang relatif sama. Remaja

    menjadikan teman sebaya sebagai tempat untuk menilai dan yang mereka

    dapatkan dari teman sebaya akan berpengaruh pada apa yang akan mereka

    lakukan bisa lebih baik atau lebih buruk.

  • 30

    2. Aspek-aspek Interaksi Teman Sebaya

    Aspek-aspek interaksi teman sebaya menurut Monks dkk (dalam

    Santoso, 1994:187) adalah:

    1. Membina hubungan baik dengan teman.

    2. Saling bertukar informasi antara teman sebaya.

    3. Saling membantu satu sama lain.

    4. Saling menghargai dan menerima.

    5. Menunjukan rasa simpati dan kasih sayang

    3. Fungsi Teman sebaya

    Teman sebaya bisa memberikan fungsi yang positif bagi remaja, terdapat

    6 fungsi positif teman sebaya yang dijelaskan oleh Kelly dan Hansen (dalam

    Desmita, 2009:220-221) yaitu:

    a. Mengontrol dorongan agresif, ketika teman sebaya mampu menekan

    dorongan agar remaja tidak melakukan pertentangan atau pertikaian,

    melalui interaksi dengan teman sebayanya remaja dapat belajar

    menyelesaikan pertentangan tanpa harus melakukan agresi langsung.

    b. Membuat remaja menjadi mandiri dan peduli pada lingkungan

    sekitarnya. Kelompok teman sebaya dapat memberi dorongan pada

    remaja untuk bisa menjalankan peran baru mereka dan bertanggung

    jawab. Dorongan dari teman sebaya ini pula bisa berarti bagi remaja,

    ketika remaja bisa mandiri hal itu bisa berdampak baik pada remaja

    sehingga tidak selalu bergantung pada dorongan keluarga mereka.

    c. Meningkatkan kamampuan-kemampuan sosial, meningkatkan

    kemampuan penalaran. Dari sinilah melalui interaksi dengan teman

    sebaya, remaja belajar untuk mengekspresikan perasaannya dengan

    cara yang lebih matang, mengekspresikan ide-ide dan gagasan

  • 31

    mereka, serta meningkatkan kemampuan mereka dalam

    menyelesaikan masalah.

    d. Mengembangkan sikap terhadap seksualitas dan tingkah laku peran

    jenis kelamin. Disini remaja dibentuk untuk berperan sesuai dengan

    jenis kelaminnya, melalui interaksi dengan teman sebaya remaja akan

    belajar tentang tingkah laku dan kemudian mereka asosiasikan

    dengan menjadi laki-laki dan perempuan muda.

    e. Memperkuat penyesuaian moral dan nilai-nilai, dalam kelompok

    teman sebaya, remaja berusaha menggambil keputusan atas diri

    mereka sendiri. Remaja mengevaluasi nilai-nilai yang dimilikinya

    dan yang dimiliki oleh teman sebayanya, serta memutuskan mana

    yang dianggap benar. Proses mengevaluasi ini dapat membantu

    remaja mengembangkan kemampuan penalaran moral mereka.

    f. Menigkatkan harga diri (self-esteem). Menjadi individu yang

    disenangi oleh teman sebayanya bisa membuat remaja merasa senang

    mengenai dirinya sendiri

    4. Penerimaan dan Penolakan Teman Sebaya

    Dalam lingkungan teman sebaya memungkinkan remaja dapat diterima

    atau mendapat penolakan. Menurut Mappiare (1982: 170) terdapat faktor-

    faktor yang membuat remaja diterima atau mendapat penolakan dari teman

    sebayanya, yaitu:

    a. Faktor-faktor yang menyebabkan seorang remaja diterima oleh teman

    sebayanya:

    - Penampilan dan perilaku, teman sebaya akan memberikan penilaian

    terkait penampilan dan perilaku remaja seperti tampang yang baik,

  • 32

    penampilan yang rapi, serta mampu ikut berperan dalam kegiatan-

    kegiatan kelompok.

    - Kemampuan berpikir seperti remaja dapat diterima dalam

    kelompok teman sebaya karena kemampuan berpikirnya,

    sepertidapat berinisiatif, memikirkan kepentingan kelompoknya dan

    mengemukakan ide-idenya.

    - Sifat, cara bersikap, dan perasaan. Sikap ini sangat diperlukan agar

    remaja bisa diterima oleh kelompok teman sebayanya, seperti

    peduli pada orang lain, memiliki sifat sabar dan mampu menahan

    amarah ketika berada dalam situasi yang tidak menyenangkan.

    - Kerpibadian yang baik, remaja yang memiliki kepribadian yang

    baik akan mudah diterima bahkan disenangi oleh kelompok teman

    sebaya, kepribadian yang baik menjadi poin utama seperti jujur dan

    dapat dipercaya, bertanggung jawab dan mampu menjalankan

    perannya, mengikuti peraturan-peraturan kelompok, mudah

    beradaptasi dalam berbagai situasi.

    b. Faktor-faktor yang menyebabkan seorang remaja ditolak oleh teman

    sebaya:

    - Penampilan dan perbuatan, remaja yang memiliki sifat pemalu,

    sering menantang, dan senang menyendiri adalah hal yang kurang

    disukai oleh teman sebayanya, maka ketika remaja memiliki sifat

    tersebut kemungkinan akan ditolak teman sebaya.

    - Kemampuan berpikir, setiap remaja mempunyai kemampuan

    berpikir yang berbeda-beda remaja yang dianggap bodoh oleh

    teman sebayanya akan mudah mendapatkan penolakan.

    - Cara bersikap, memiliki sifat yang buruk, seperti suka melanggar

    norma dan tidak mengikuti peraturan-pertaturan kelompok, suka

  • 33

    berkuasa, memiliki sifat selalu curiga pada teman, dan memaksakan

    kehendaknya sendiri tanpa mau mendengarkan orang lain.

    - Faktor lainnya seperti rumah sulit dijangkau karena terlalu jauh dari

    tempat teman sekelompok.

    Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa penerimaan atau

    penolakan teman sebaya sangat berarti dalam kehidupan remaja. Penerimaan

    dan penlokan itu pula yang dapat membentuk kedewasaan remaja dalam cara

    berpikir, bersikap, peduli terhadap sekitarnya, perlakuan dan adaptasi remaja.

    Dari hasil penerimaan dan penolakan teman sebaya dapat memberikan

    dampak positif maupun negatif pada diri remaja, tergantung remaja dalam

    menyikapinya. Arti penting penerimaan dan penolakan teman sebaya erat

    kaitannya dengan penelitian ini adalah sebagai bahan referensi peneliti untuk

    meningkatkan interaksi sosial siswa dengan teman sebayanya.

    5. Pentingnya Teman Sebaya bagi Perkembangan Remaja

    Teman sebaya memiliki pengaruh penting dalam perkembangan remaja,

    adanya kelompok teman sebaya akan memudahkan individu untuk saling

    berinteraksi, bergaul dan memberikan dukungan serta peduli terhadap

    individu yang lain secara emosional. Kehadiran kelompok teman sebaya

    memberikan pengaruh dalam perkembangan remaja yaitu (Santoso,

    2009:77):

    1) Memberikan pengaruh positif dan negatif antara lain:

    a. Pengaruh positif dari teman sebaya

    - Mendorong kemandirian pada individu

    - Menyalurkan perasaan dan pendapat demi kemajuan kelompok

  • 34

    - Individu yang memiliki kelompok teman sebaya mereka akan

    lebih siap menghadapi kehidupan yang akan datang

    - Individu dapat memiliki rasa solidaritas antar teman

    - Ketika individu masuk dalam kelompok teman sebaya, maka

    setiap anggota akan siap membentuk masyarakat yang

    direncanakan sesuai dengan kebudayaan yang mereka anggap

    baik

    - Setiap anggota dapat melatih bakatnya, kecakapan, dan

    memperoleh pengetahuan

    b. Pengaruh negatif dari teman sebaya

    - Memungkinkan individu sulit menerima individu lain yang tidak

    mempunyai kesamaan, sehingga lingkungan pertemanan mereka

    hanya akan berputar dengan kelompok teman sebayanya yang

    mereka anggap memiliki kesamaan dengan mereka.

    - Menimbulkan rasa iri, dalam kelompok kemungkinan ada

    beberapa anggota yang akan terlihat sangat akrab dikarenakan

    memiliki kesamaan, kemudian akan ada anggota lain yang merasa

    iri karena merasa berbeda dan tidak bisa seakrab itu dengan

    mereka.

    - Tertutup terhadap individu lain yang bukan bagian dari kelompok

    - Timbul persaingan antar anggota kelompok

    2) Membentuk persepsi citra tubuh

    Menurut Winzeler (2005) menjelaskan bahwa citra tubuh adalah

    gambaran, pikiran, atau perasaan seseorang akan penampilan fisiknya.

    Lingkungan atau kelompok teman sebaya berpengaruh besar terhadap

    pandangan remaja terhadap citra tubuh, kelompok teman sebaya yang

    mempersepsikan standar tubuh ideal yang kemudian remaja akan menerima

    persepsi dari kelompok teman sebayanya tersebut menjadi persepsi pribadi

  • 35

    agar mendapat penerimaan dari kelompoknya. Remaja akan merasa puas jika

    kesan fisik yang dia tampilkan sesuai dengan kesan yang diberikan oleh

    lingkungannya,

    3) Perkembangan Sosial (Persahabatan dan Relasi Romantis)

    Harry Stack (dalam Santrock, 2011) mengatakan bahwa seorang sahabat

    menjadi sangat penting dalam memenuhi kebutuhan sosial akan intimasi

    persahabatan meningkat di masa remaja awal. Ketika remaja tidak mampu

    menjalin hubungan persahabatan yang dekat, mereka akan mengalami rasa

    kesepian dan turunnya harga diri mereka. Persahabatan mencerminkan

    perilaku kerjasama dan saling mendukung antara dua atau lebih identitas

    sosial. Semakin dekat pengalaman yang mereka miliki maka akan

    berpengaruh pada penerimaan sosial.

    D. Kerangka Pemikiran

    Penelitian ini menunjukkan hubungan antara body shaming dengan

    interaksi sosial teman sebaya. Body shaming muncul disebabkan karena

    adanya pandangan masyarakat yang membentuk standar tubuh ideal. Standar

    tubuh ideal dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, ekologi, ekonomi, dan

    standar budaya.

    Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi sosial individu untuk

    berkeinginan sesuai dengan standar ideal yang berlaku di masyarakat adalah

    faktor imitasi dan faktor sugesti. Individu mencoba untuk meniru penampilan

    orang lain contohnya dengan meniru apa yang ditampilkan oleh media

    seperti ingin langsing, tinggi, dan berkulit putih, maka terjadi proses imitasi

    dalam hal ini. Selain itu, orang lain mencoba untuk mempengaruhi pikiran

    atau mengubah pandangan individu terkait konsep tubuh ideal dan individu

  • 36

    menerima pandangan tersebut, artinya ada faktor sugesti dimana individu

    akan terdorong bersikap untuk sesuai dengan apa yang ada dipikirannya

    Pengaruh teman sebaya bagi perkembangan remaja salah satunya adalah

    membentuk persepsi citra tubuh, dimana ketika kelompok teman sebaya

    mempersepsikan standar tubuh ideal kemudian remaja menerima persepsi

    tersebut dan menjadikannya persepsi pribadi agar diterima oleh

    kelompoknya. Di samping itu, dalam lingkungan kelompok teman sebaya

    ada penerimaan dan penolakan, salah satu faktor yang menyebabkan remaja

    diterima atau ditolak oleh teman sebayanya adalah faktor penampilan,

    penampilan yang baik membuat remaja mudah diterima dan sebaliknya

    penampilan yang kurang menarik memungkinkan remaja ditolak atau sulit

    diterima oleh kelompok teman sebaya. Maka ketika remaja mendapat

    perlakuan body shaming artinya remaja mendapat penolakan dari teman

    sebayanya sehingga interaksi sosialnya pun akan menjadi terganggu. Seperti

    yang dikatakan oleh Dolezal (2015) bahwa body shaming menentukan proses

    hubungan sosial.

    Dari kerangka pemikiran di atas untuk melihat apakah variabel body

    shaming dan interaksi sosial teman sebaya memiliki hubungan atau tidak,

    jika digambarkan dengan model akan tampak seperti pada bagan berikut ini

    Tabel 2.1 Bagan Kerangka Pemikiran

    Body Shaming

    (X)

    Interaksi Sosial

    (Y)

  • 37

    E. Hipotesis Penelitian

    Untuk melakukan uji hipotesis, ada beberapa ketentuan yang perlu

    diperhatikan yaitu merumuskan hipotesis nol (Ho) dan harus disertai pula

    dengan hipotesis (Ha). Berdasarkan penelitian yang direncanakan, dapat

    dibuat hipotesis sebagai berikut.

    1. Ho : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara body shaming

    dengan interaksi sosial teman sebaya

    2. Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara body shaming dengan

    interaksi sosial teman sebaya

  • 38

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    A. Pendekatan dan Metode Penelitian

    Pendekatan yang digunakan dalam penilitian ini yaitu pendekatan

    kuantitatif. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data berupa

    angka, kemudian diolah dan dianalisis untuk mendapat suatu informasi

    ilmiah dibalik angka-angka tersebut. Sedangkan menurut Azwar (2005)

    penelitian dengan pendekatan kuantitatif menekankan analisisnya pada data-

    data numerikal atau angka yang diolah dengan metode statistika. Dengan

    pendekatan kuantitatif akan diperoleh signifikansi perbedaan kelompok atau

    signifikansi hubungan antar variabel yang diteliti.

    Sedangakan metode yang digunakan peneliti adalah korelasional.

    Penelitian korelasional adalah penelitian yang melihat hubungan antara

    variabel. Penelitian yang dirancang untuk mengetahui tingkat hubungan

    antara variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi (Kountur, 2009).

    Pengukuran korelasional digunakan untuk menentukan besarnya arah

    hubungan. Alasan peneliti menggunakan penelitian korelasional adalah

    karena peneliti ini bertujuan untuk melihat hubungan antara 2 variabel, yaitu

    antara hubungan body shaming dengan interaksi sosial teman sebaya.

    Pengukuran dalam korelasi ini digunakan untuk mengetahui tingkat

    hubungan antara variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi.

    Pengukuran dalam korelasi ini digunakan untuk menemukan besarnya arah

    hubungan antara satu variabel dengan variabel lain.

  • 39

    B. Ruang Lingkup Penelitian

    1. Subjek dan Objek Peneletian

    Subjek dalam penelitian ini adalah sekelompok yang dapat

    memberikan informasi, yaitu siswa SMKN 7 Tangerang Selatan. Objek

    dalam penelitian ini adalah perlakuan body shaming yang diterima dan

    interaksi sosial siswa di SMKN 7 Tangerang Selatan.

    2. Tempat dan Waktu Penelitian

    Waktu, penelitian ini dilaksankan dari bulan Oktober 2019 sampai

    dengan Februari 2020. Adapun lokasi penelitian ini dilakukan di SMKN

    7 Tangerang Selatan yang berlokasi di Ciputat. Alasan pemilihan lokasi

    karena di lokasi tersebut pernah terjadi kasus perundungan yang berawal

    dari body shaming kemudian diperparah dengan adanya kekerasan fisik.

    3. Populasi dan Sampel

    a. Populasi

    Populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau unit hasil

    pengukuran yang menjadi objek penelitian. Atau populasi merupakan

    objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi

    syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian (Bambang

    Prasetyo, 2006). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa

    kelas XII SMKN 7 Tangerang Selatan yang berjumlah 160 siswa.

    b. Sampel

    Sampel adalah sebagian dari seluruh individu yang menjadi objek

    penelitian. Penelitian ini menggunakan Probability Sampling yaitu

    teknik pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama

    bagi seluruh anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.

  • 40

    Dalam penelitian ini, teknik pengambilan sampel menggunakan

    rumus Slovin sebagai berikut.

    Keterangan:

    n = ukuran sampel

    N = ukuran populasi

    d = error tolerance (taraf signifikansi)

    Berdasarkan rumus di atas maka peneliti menghitung sampel dengan

    tingkat kesalahan 5% maka dari populasi 160 siswa kelas XII SMKN 7

    Tangerang Selatan diperoleh sampel sebanyak 115 siswa baik laki-laki dan

    perempuan. Dengan perhitungan sampel sebagai berikut:

    C. Metode Pengumpulan Data

    Dalam memperoleh data yang dibutuhkan guna melengkapi proses

    penelitian ini, peneliti melakukan kegiatan penelitian yang bersumber dari:

    1. Penelitian kepustakaan (library research). Metode ini digunakan untuk

    mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan teori yang dibahas

  • 41

    dalam penelitian ini. Data-data berasal dari buku-buku literatur yang

    sesuai dengan permasalahan yang diteliti.

    2. Penelitian lapangan (field research). Dalam melakukan pengamatan

    lapangan peneliti terjun langsung ke lokasi penelitian untuk

    memperoleh data yang obyektif berdasarkan kebenaran yang terjadi di

    lapangan. Dalam hal ini peneliti menggunakan kuesioner. Kuesioner

    adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi

    seperangkat pertanyaan atau pernyataan penulis kepada responden

    untuk menjawabnya (Sugiyono, 2010).

    D. Variabel Penelitian

    Menurut Hatch dan Farhady (dalam Sugiyono, 2010) menjelaskan

    variabel sebagai atribut seseorang atau subjek yang mempunyai “variasi”

    antara satu orang dengan yang lain atau satu objek dengan objek lain. Dalam

    penelitian ini terdapat dua variabel yaitu:

    1. Variabel Independen (Variabel Bebas)

    Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi

    atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel

    terikat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen

    (variabel bebas) adalah body shaming.

    2. Variabel Dependen (Variabel Terikat)

    Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau

    yang menjadi akibat karena variabel bebas. Pada penelitian ini yang

    menjadi variabel dependen (variabel terikat) adalah interaksi sosial

    teman sebaya .

  • 42

    Tabel 3.1 Variabel Penelitian

    H

    E. Definisi Konseptual dan Operasional Variabel

    1. Body Shaming

    a. Definisi Konseptual

    Body shaming merupakan tindakan mengkritik, mengomentari,

    atau membandingkan fisik orang lain maupun dirinya sendiri yang

    menimbulkan perasaan bahwa tubuhnya tidak sesuai dengan yang

    diharapkannya.

    b. Definisi Operasional

    Skor total dari skala body shaming yang terdiri dari aspek yaitu

    mengomentari dan membandingkan diri sendiri, mengomentari

    penampilan orang lain (didepan orang tersebut), mengomentari fisik

    dan membandingkan fisik orang lain (dibelakang orang tersebut).

    2. Interaksi Sosial

    a. Definisi Konseptual

    Interaksi sosial adalah hubungan antara dua individu atau lebih

    yang saling mempengaruhi atau mengubah, baik secara tindakan

    maupun pikiran individu yang lain atau sebaliknya.

    b. Definisi Operasional

    Skor total dari interaksi sosial teman sebaya yang didasarkan pada

    aspek-aspek interaksi sosial yaitu membina hubungan yang baik

    dengan teman, saling menghargai dan menerima, saling bertukar

    Body Shaming

    ( Variabel X )

    Interaksi Sosial

    ( Variabel Y )

    Variabel Independen Variabel Dependen

  • 43

    informasi, saling bekerjasama, dan menunjukan rasa simpati dan

    kasih sayang.

    F. Instrumen Penelitian

    Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang akan dibahas yaitu body

    shaming dan interaksi sosial teman sebaya. Oleh karena itu terdapat dua

    instrumen yang digunakan yaitu instrumen body shaming dan instrumen

    interaksi sosial teman sebaya. Yang dimana kedua instrumen tersebut

    dikembangkan berdasarkan skala Likert. Skala Likert digunakan untuk

    mengukur sikap, persepsi, dan pendapat seseorang atau sekelompok orang

    mengenai fenomena sosial. Maka peneliti membuat alternatif jawaban yang

    akan digunakan dalam penelitian ini adalah Selalu (SL), Sering (S), Kadang-

    kadang (KD), Jarang (J), Tidak Pernah (TP),

    Tabel 3.2 Skala Likert

    Pilihan Jawaban Skor

    Positif Negatif

    Selalu 5 1

    Sering 4 2

    Kadang-kadang 3 3

    Jarang 2 4

    Tidak Pernah 1 5

    G. Kisi-kisi Instrumen

    Kisi-kisi instrumen merupakan salah satu langkah yang harus dilakukan

    sebelu melakukan penyusunan angket. Kisi-kisi instrumen dilakukan sebagai

    pedoman peneliti dalam membuat atau menyusun angket agar penyusunan

    angket dapat berjalan dengan tujuan penelitian yang sedang dilakukan.

  • 44

    Adapun kisi-kisi instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini

    sebagai berikut:

    Tabel 3.3 Instrumen Penelitian Body Shaming

    Aspek Indikator Item

    Jumlah Favo Unfavo

    Mengomentari

    penampilan

    1. Menerima kritik cara

    berpakaian 1 4

    16

    2. Menerima kritik gaya

    berbicara 2 5

    3. Menerima kritik

    tingkah laku 3,19 6,21

    4. Mendapat gossip 7,8 9,10

    Membandingan

    fisik

    1. Membandingkan fisik

    diri sendiri dengan

    orang lain

    23 25

    2. Dibandingkan-

    bandingkan fisiknya

    oleh orang lain

    24 26

    Mengomentari

    fisik

    1. Dipanggil dengan

    sebutan yang buruk 17,18 20,22

    10 2. Diejek yang mengarah

    pada fisik

    11,12,13

    14,15,16

    Jumlah 13 13 26

  • 45

    Tabel 3.4 Instrumen Penelitian Interaksi Sosial

    Aspek Indikator Item Juml

    ah Favo Unfavo

    Membina

    hubungan

    dengan teman

    1. Partisipasi dalam

    kelompok teman sebaya 1 2

    6 2. Mengikuti ajakan dari

    teman untuk bermain 3 4

    3. Penyesuaian diri remaja 5 6

    Saling bertukar

    informasi

    1. Bertanya pada teman 7 8

    8

    2. Memperkenalkan identitas

    diri 9 10

    3. Menyapa temannya ketika

    bertemu 11 12

    4. Mendengarkan teman

    ketika berbicara 13 14

    Saling

    bekerjasama

    1. Memberikan bantuan

    kepada teman 15 16

    4 2. Tidak terlibat

    pertengkaran dengan

    teman

    17 18

    Menunjukan

    rasa simpati

    dan kasih

    saying

    1. Memaafkan teman ketika

    membuat kesalahan 19 20

    4 2. Menghibur teman yang

    dalam keadaan bersedih 21 22

    Saling

    menghargai

    dan menerima

    1. Tidak suka mencela teman 23 24

    8 2. Berbicara sopan ketika

    berhadapan dengan teman 25 26

  • 46

    3. Sikap toleran terhadap

    teman 27 28

    4. Dapat menerima teman

    sebagaimana adanya 29 30

    Jumlah 15 15 30

    H. Uji Instrumen

    1. Uji Validitas

    Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat

    kevalidan atau kesahihan suatu instrument, uji validitas dilakukan setiap

    butir soal. Hasilnya dibandingkan dengan r table | df = n ˗˗ k dengan margin

    of error 5%. Jika r tabel < r hitung, maka butir soal disebut valid.