18
Perdarahan Subkonjungtiva Oftalmica Dextra tanpa PenurunanVisus Epifania Fitriana Adna Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Terusan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat [email protected] Pendahuluan Mata merupakan salah satu organ penting manusia. Organ mata merupakan salah satu alat komunikasi manusia terhadap dunia luar. Fungsi mata sebagai salah satu panca indera menerima rangsang sensoris cahaya yang kemudianakan divisualisasikan oleh otak kita sehingga kita dapat memahami keadaan di sekitar kita. Mata merupakan panca indera yang memerlukan perlindungan terhadap faktor-faktor luar yang berbahaya. Begitu banyak kelainan pada mata, hal yang paling sering dilihat adalah mata merah. Mulai dari iritasi ringan sampai perdarahan karena trauma akan memberikan tampilan klinis mata merah. Perdarahan subkonjungtiva secara klinis memberikan penampakan mata merah terang hingga gelap pada mata. Secara umum bekuan darah akibat perdarahan subkonjungtiva dapat hilang dengan sendirinya dikarenakan diabsorpsi oleh tubuh. Namun begitu mata merah juga tidak boleh dianggap sebagai hal yang biasa karena teriritasi oleh debu atau benda tertentu. Pasien dengan hipertensi diyakini sebagia faktor resiko tersendiri terjadinya perdarahan pada subkonjungtiva. Pada keadaan tertentu seperti 1

Hematoma Subkonjungtiva (Autosaved)

Embed Size (px)

DESCRIPTION

hematom

Citation preview

Page 1: Hematoma Subkonjungtiva (Autosaved)

Perdarahan Subkonjungtiva Oftalmica Dextra tanpa

PenurunanVisus

Epifania Fitriana Adna

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jalan Terusan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat

[email protected]

Pendahuluan

Mata merupakan salah satu organ penting manusia. Organ mata merupakan salah satu alat komunikasi

manusia terhadap dunia luar. Fungsi mata sebagai salah satu panca indera menerima rangsang sensoris cahaya

yang kemudianakan divisualisasikan oleh otak kita sehingga kita dapat memahami keadaan di sekitar kita. Mata

merupakan panca indera yang memerlukan perlindungan terhadap faktor-faktor luar yang berbahaya. Begitu

banyak kelainan pada mata, hal yang paling sering dilihat adalah mata merah. Mulai dari iritasi ringan sampai

perdarahan karena trauma akan memberikan tampilan klinis mata merah. Perdarahan subkonjungtiva secara

klinis memberikan penampakan mata merah terang hingga gelap pada mata. Secara umum bekuan darah akibat

perdarahan subkonjungtiva dapat hilang dengan sendirinya dikarenakan diabsorpsi oleh tubuh. Namun begitu

mata merah juga tidak boleh dianggap sebagai hal yang biasa karena teriritasi oleh debu atau benda tertentu.

Pasien dengan hipertensi diyakini sebagia faktor resiko tersendiri terjadinya perdarahan pada subkonjungtiva.

Pada keadaan tertentu seperti perdarahan subkonjungtiva yang disertai adanya gangguanvisus, sering kambuh

atau bahkan menetap maka harus segera dikonsultasikan kedokter spesialis mata. Untuk itu, diperlukan

pengetahuan yang cukup untuk mengetahui bagaimana perdarahan subkonjungtiva beserta faktor resiko

danpenanganannya.

Anamnesis

Keluhan uatam : mata kanan merah

Riwayak penyakit sekarang :

Pasien datang dengan keluahan mata kanan merah mendadak. Pasien memiliki riwayat hioertensi

yang tidak terkontrol. Pada saat pemeriksaan tidak di temukan adanya penurunan ketajaman

1

Page 2: Hematoma Subkonjungtiva (Autosaved)

penglihatan, anterior segmen tampak daerah kemerhan pada pembuluh darah lensa dan

pemeriksaan posterior dalam batas normal.

Riwayat penyakit dahulu :

- Riwayat trauma ? (-)

- Riwayat hipertensi ? (+)

- Riwayat diabetes ? (-)

- Riwayat pemakaian obat ? (-)

- Apakah sebelumnya pernah seperti ini ?

Riwayat keluarga :

- Apakah ada keluarga pasien yang mengalami gejala serupa?

Pemeriksaan Fisik

o Tanda-tanda vital

Tensi, nadi, suhu, respiratory rate, keadaan umum, kesadaran, status gizi.

o Pemeriksaan mata dasar sebagai penapis penyakit sistemik

1. Pemeriksaan eksternal

a. Bola mata

- Inspeksi : pemeriksaan awal adalah menilai simetrissitas kedua bola mata dan

mencari ada tidaknya penonjolan pada satu atau kedua bola mata.penilaian

penonjolan bolamata (proptosis/eksoftalmus)

- Palpasi : batas tulang orbita diraba untuk menilai ada tidaknya nyeri tekan,

abnormalitas structural, massa, atau krepitus (emfisema orbita). Emfisema orbita

umum di temukan pasca-trauma atau operasi.

- Auskultasi : auskultasi bola mata terutama harus di lakukan apabila teraba pulsasi

pada saat palpasi. Bruit pada bola mata menandakan fistula sinus carotid-

kavernosus.1

b. Kelopak mata

Bertujuan untuk menilai kemampuan menutup dan membuka kelopak mata.

Kelumpuhan N.III ditandai oleh ketidakmampuan membuka kelopak mata atas

2

Page 3: Hematoma Subkonjungtiva (Autosaved)

(ptosis) disertai dengan ketidakmampuan untuk melakukan gerakan elevasi bola mata.

Sebalinya, tidak dapat memejamkan mata(lagoftalmus) maka kelainan yang di curigai

adalah kelumpuhan N.VII. 1

2. Gerak bola mata

Dilakukan ke delapan arah, yaitu atas,kiri atas, kanan atas, kiri,kanan, bwah, kiri

bawahdan kanan bawah. 1

3. Lapang pandang

Luas lapang pandang normal mencapai 60 superior, 75 inferior, 100 temporal,dan 60

nasal dari sumbu visual.pemeriksaan lapang pandang secarkasar dapat di lakukan dengan

metode konfrontasi, yaitu membandingkan lapang pandang pasien dengan pemeriksa

(lapang pandang pemeriksa di anggap normal). 1

4. Pemeriksaan tajam penglihatan

Kemempuan seseorang umembedakan dua titik terpisah. Pemeriksaan diruangan dengan

penerangan cukup dan pasien duduk dengan jarak enam meter dari papan snellen.

Pemeriksaan di lakukan terpisah untuk mata kanan dan kiri sehingga mata yang tidak

diperiksa ditutup. Pasien kemudian diminta untuk membaca huruf per baris. Apabila

pasien salah menyebutkan lebih dari setengah jumlah huruf pada satu baris, maka tajam

penglihatan ditetapkan sesuai dengan baris terakir yang keseluruhan hurufnya dibaca

dengan tepat. Hasil 6/60 menandakan seseorang hanya dapat membaca huruf pada jarak 6

m; sedangkan individu normal dapat membaca huruf tersebut pada jarak 60 m. tajam

penglihatan normal adalah 6/6. Apabila hasil pemeriksaan tajam penglihatan kurang dari

6/6 maka pasien diperiksa menggunakan pinhole. Pada pinhole, bila ketajaman visual

membaik maka penyebab penuruann visus adalah kelainan refraksi. Sedangkan bila

ketajaman visual tidak membaik, maka pertimbangkan kelainan organic sumbu visual.

Tajam penglihatan yang sangat buruk di periksa dengan cara menghitung jari tangan,

kemampuan menghitung jumlah jari tangan dengan benar menunjukan ketajaman visual

1/60. Apabila tidak mampu menebak, maka pasien di periksa dengan cara melambaikan

tangan. Kemampuan mengetahui adanya gerakan menunjukan keetajaman visual 1/300.

Apabila pasien tidak dapat mengetahuiadanya gerakan tangan, maka pasien diperiksa

dengan membedakan gelap dan terang melalui pemberian rangsang cahaya menggunakan

senter. Kemampuan membedakan gelap dan terang menunjukan ketajaman visual 1/~.1

3

Page 4: Hematoma Subkonjungtiva (Autosaved)

5. Pupil

Pemeriksaan reflex cahaya langsung dan tidak langsung dilakukan di ruangan penerangan

cukup dan secara bergantianpada kedua mata. Apabila mata kiri pasien di sinari dengan

lampu senter dan kedua pupil mengecil (miosis), maka reflex cahaya langsung positif di

mata kiri dan reflex cahaya tidak langsung positif di mata kanan. Apabila kedua pupil

tidak mengecil, maka menunjukan kerusakan N.II kiri. Apabila hanya pupil kiri yang

mengalami miosis, sedangkan pupil kanan tetap melebar maka menunjukan kerusakan

N.III kanan. 1

Pemeriksaan Penunjang

1. Tekanan intraocular

Tekanan intraocular normal berkisar antara 10-20 mmHg. Pemeriksaan tekanan bola

mata secara kasar dilakukan dengan palpasi, namun cara manual tersebut hanya mampu

mendeteksi peningkatan tekanan intraocular di atas 30 mmHg. Pemeriksaan tekanan

intraokuler yang akurat dilakukan secara tidak langsung mengguanakan tonometri, yaitu

tonometri Shiotz dan tonometri Goldmann.1

2. Funduskopi

Terutama ditunjukan untuk menilai keadaan pembuluh darah retina, retina dan diskus

optikum. Pasien yang menjalani pemeriksaan fundoskopi perlu teteskan midriatikum

(dengan syarat tekanan bola mata harus normal) untuk melebarkan pupil sehingga

pemeriksaan lebih akurat.1

Diagnosis Kerja

Perdarahan Subkonjungtiva tanpa Penurunan Visus

Hematoma subkonjungtiva terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang terdapat pada atau di

bawah konjungtiva, seperti arteri konjungtiva dan arteri episklera. Pecahnya pembuluh darah

yang terdapat pada atau di bawah konjungtiva, seperti arteri konjungtiva dan arteri episklera.

Pecahnya pembuluh darah ini dapat akibat batuk rejan, trauma tumpul basis kranil (hematoma

kacamata), atau pada keadaan pembuluh darah yang rentan dan mudah pecah. Pembuluh darah

akan rentan dan mudah pecah pada usia lanjut, hipertensi, arteriosklerose, konjungtiva meradang

(konjungtivitis), anemia, dan obat-obat tertentu.

4

Page 5: Hematoma Subkonjungtiva (Autosaved)

Bila perdarahan ini terjadi akibat trauma tumpul maka perlu dipastikan bahwa tidak terdapat

robekan di bawah jaringan konjungtiva atau sclera. Kadang – kadang hematoma subkonjungtiva

menutupi keadaan mata yang lebih buruk seperti perforasi bola mata. Pemeriksaan fundoskopi

adalah perlu pada setiap penderita dengan perdarahan subkonjungtiva akibat trauma. Bila

tekanan bola mata rendah dengan pupil lonjong disertai tajam penglihatan menurun dan

hematoma subkonjungtiva maka sebaiknya dilakukan eksplorasi bola mata untuk mencari

kemungkinan adanya rupture.

Besarnya perdarahan subkonjungtivaini dapat kecil atau luas diseluruhsubkonjungtiva. Warna

merah pada konjungtiva pasien memberikan rasa was-was sehingga pasien akan segera minta

pertolongan pada dokter. Warna merah akan berubah menjadi hitam setelah beberapa lama,

seperti pada hematoma umumnya.

Pengobatan dini pada hematoma subkonjungtiva ialah dengan kompres hangat. Perdarahan

subkonjungtiva ialah dengan kompres hangat. Perdarahan subkonjungtiva akan hilang atau di

absorbs dalam 1-2 minggu tanpa diobati.2

Diagnosis Banding

Episkleritis

Merupakan reaksi radang jaringan ikat vaskuler yang terletak antara konjungtiva dan

permukaan sklera. Radang episklera dan sklera mungkin disebabkan reaksi hipersensitivitas

terhadap penyakit sistemik seperti tuberkulosis, reumatoid artritis, lues, SLE, dan lainnya.

Merupakan suatu reaksi toksik, alergik atau merupakan bagian daripada infeksi. Dapat saja

kelainan ini terjadi secara spontan dan idiopatik. Episkleritis umumnya mengenai satu mata dan

terutama perempuan usia pertengahandengan penyakit bawaan reumatik. Keluhan pasien dengan

episkleritis berupa mata terasa kering, dengan rasa sakit yang ringan, mengganjal, dengan

konjungtiva yang kemotik. Bentuk radang yang terjadi pada episkleritis mempunyai gambaran

khusus, yaitu berupa benjolan setempat dengan batas tegas dan warna merah ungu di bawah

konjungtiva. Bila benjolan ini ditekan dengan kapas atau ditekan pada kelopak di atas benjolan,

akan memberikan rasa sakit, rasa sakit akan menjalar ke sekitar mata. Pada episkleritis bila

dilakukan pengankatan konjungtiva di atasnya, maka akan mudah terangkat atau di lepas dari

pembuluh darah yang meradang.2

5

Page 6: Hematoma Subkonjungtiva (Autosaved)

Perjalanan penyakit mulai dengan episode akut dan terdapat riwayat berulang dan dapat

berminggu-minggu atau beberapa bulan. Terlihat mata merah satu sektor yang disebabkan

melebarnya pembuluh darah di bawah konjungtiva. Pembuluh darah ini mengecil bila diberi fenil

efrin 2.5% topikal. Pengobatan yang diberikan pada episkleritis adalah vasokonstriktor. Pada

keadaan ya ng berat di beri kortikosteroid tetes mata, sistemik atau salisilat. Kadang-kadang

merupakan kelainan berulang yang ringan. Pada episkleritis jarang terlibat kornea dan uvea,

penglihatan tetap normal. Episkleritis dapat sembuh sempurna atau bersifat residitif yang dapat

menyerang tempat yang sama ataupun berbeda-beda dengan lama sakit umumnya berlangsung 4-

5 minggu. Penyulit yang dapat timbul adalah terjadinya peradangan lebih dalam pada sklera yang

disebut sebagai skleritis. 2

Skleritis

Biasanya disebabkan kelainan atau penyakit sistemik. Lebih sering disebabkan penyakit jaringan

ikat, pasca herpes, sifilis, dan gout. Kadang-kadang disebabkan tuberkulosisi, bakteri

(pseudomonas), sarkoidosis, hipertensi, benda asing dan pasca bedah. Skleritis dibedakan

skleritis anterior difus dan nodular, dan skleritis posterior. Skleritis terjadi bilateral pada wanita

lebih banyak dibandingkan pria yang timbul pada usia 50-60 tahun. Terdapat perasaan sakit yang

berat yang dapat menyebar ke dahi, alis, dan dagu yang kadang-kadang membangunkan sewaktu

tidur akibat sakitnya yang sering kambuh. Mata merah berair, fotofobia, dengan penglihatan

menurun. Terlihat konjungtiva kemotik dan sakit sehingga sering diduga adanya selulitis orbita.

skleritis tidak mengeluarkan kotoran, terlihat benjolan berwarna sedikit lebih biru jingga,

mengenai seluruh lingkaran kornea, sehingga terlihat sebagai skleritis anular. Skleritis dapat

disertai dengan iritis atau siklitis dan koroiditis anterior. Bila terjadi penyembuhan, maka akan

terjadi penipisan sklera yang tidak tahan terhadap tekanan bola mata sehingga terjadi stafiloma

sklera yang berwarna biru. Terdapat peradangan sklera, episklera, dan konjungtiva dengan

melebarnya pembuluh darah besar yang tidak kembali putih dengan pemberian fenilefrin. 2

Pengobatan dengan anti imfalamasi steroid ataupun nonsteroid atau obat imunosupresif

lainnya. Skleritis biasanya disertai dengan peradangan di daerah sekitarnya seperti uveitis atau

keratitis sklerotikan. Pada skleritis akibat terjadinya nekrosis sklera atau skleromalasia maka

dapat terjadi perforasi pada sklera.2

6

Page 7: Hematoma Subkonjungtiva (Autosaved)

Konjungtivitis infeksi

Konjungtivitis Bakteri

Konjungtivitis yang di sebabkan bakteri dapat saja akibat infeksi gonokok, meningkok,

staphylococcus aureus, streptococcus pneumonie, haemophilus influenza dan Escherichia coli.

Memberikan gejala secret mukopurulen dan purulen, kemosis konjungtiva, edema kelopak,

kadang – kadang disertai keratitis dan blefaritis. Konjungtivitis ini mudah menular, pada satu

mata ke mata sebelahnya dan menyebar ke orang lain melalui benda yang dapat menyebarkan

kuman. Gejala umum : mata merah,konjungtiva hiperemis, injeksi konjungtiva, visus normal,

secret purulent (putih, kuning, hijau), gatal bisa ada, bisa juga minimal dan terasa seperti

berpasir. Bila sudah terasa silau, sakit, fotofobi (sakit bila melihat cahaya) artinya sudahm

terdapat komplikasi keratitis (radang kornea) atau terjadi peradangan konjungtivadan

korneasekaligus (keratokonjungtivitis).2

Konjungtivitis Virus

Konjungtivitis hemoragik epidemic akut

Konjungtivitis hemoragik akut merupakan konjungtivitis di sertai timbulnya perdarahan

konjungtiva. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Ghana afrika pada tahun 1969 yang menjadi

pandemic. Konjungtivitis yang di sebabkan oleh virus pikorna, atau enterovirus 70. Masa

inkubasi 24-48 jam, dengan tanda-tanda kedua mata iritatif, seperti kelilipan, dan sakit periorbita.

Edema kelopak,kemosis konjungtiva, secret seromukos, fotofobia disertailakrimasi. Terdapat

gejala akut dimana ditemukan adanya konjungtiva folikular ringan, sakit periorbita, keratitis,

adenopati periaurikel, dan yang terpenting adanya perdarahan subkonjungtiva yang mulai dengan

ptekie. Pada tarsus konjungtiva terdapat hipertropi folikular dan keratitis epithelial yang

berkurang sontan dalam 3-4 hari. Virus ini ditlarkan melalui kontak orang, alat optic yang

terkontaminasi, alas tempat tidur.2

Konjungtivitis jamur

Konjungtivitis Candida

7

Page 8: Hematoma Subkonjungtiva (Autosaved)

Konjungtivitis yang disebabkanoleh Candida spp (biasanya Candida albicans) adalah infeksi

yang jarang terjadi; umumnya tampak sebagai bercak putih. Keadaan ini dapat timbul pada

pasien diabetes atau pasien yang terganggu system imunya, sebagai konjungtivitis ulseratif atau

granulamatosa. Kerokan menunjukan reaksi radang sel polimorfonukcar. Organism mudah

tumbuh pada agar darah atau media sabouraud dan mudah diidentifikasi sebagai ragi bertunas

(budding yeast) atau sebagai pseudohifa (jarang).2

Konjungtivitis alergi

Iritasi mata terhadap zat tertentu ataupun toksik/alergi setelah pemakaian obat atau kosmetik

dapat terjadi baik dikonjungtiva ataupun juga disekitarnya (palpebra).pada konjungtiva tampak

hiperemis ringan sampai berat, terasa panas, mengganjal, mungkin terjadi pada konjungtivitis

yang lama / tidak sembuh-sembuh. Gejala pada palpebra yang tampak antara lain kemerahan,

gatal atau tambah bekas garukan.korneadapat jernih sampai keruh/edema atau epiteliopatai yang

mengakibatkan penglihatan menjadi buram.3

Etiologi

Hematom Subkonjungtiva dapat terjadi pada keadaan-keadaan dimana pembuluh darah rapuh

(umur ,h iper tens i ,a r te r ioskleros is ,konjungt iv i t i s hemoragic , anemia ,  pemakaian

antikoagulan dan batuk rejan). Perdarahan subkonjungtiva dapat juga terjadiakibat trauma

langsung maupun tidak langsung, yang kadang-kadang menutupi perforasi jaringan bola mata

yang terjadi. Pada fraktur basis cranii akan terlihat hematom kaca matakarna berbentuk kacamata

biru pada kedua mata.2

Patofisiologi

Konjungtiva adalah selaput tipis transparan yang melapisi bagian putih daribola mata (sklera) dan bagian dalam

kelopak mata. Konjungtiva merupakan lapisanpelindung terluar dari bola mata. Konjungtiva mengandung

serabut saraf dansejumlah besar pembuluh darah yang halus. Pembuluh-pembuluh darah ini umumnyatidak

terlihat secara kasat mata kecuali bila mata mengalami peradangan. Pembuluh-pembuluh darah di konjungtiva

cukup rapuh dan dindingnya mudah pecah sehinggamengakibatkan terjadinya perdarahan subkonjungtiva.

Perdarahan subkonjungtivatampak berupa bercak berwarna merah terang di sclera.Karena struktur konjungtiva

yang halus, sedikit darah dapat menyebar secaradifus di jaringan ikat subkonjungtiva dan menyebabkan eritema

8

Page 9: Hematoma Subkonjungtiva (Autosaved)

difus, yang biasanyamemiliki intensitas yang sama dan menyembunyikan pembuluh darah. Konjungtivayang

lebih rendah lebih sering terkena daripada bagian atas. Pendarahan berkembangsecara akut, dan biasanya

menyebabkan kekhawatiran, meskipun sebenarnya tidak berbahaya. Apabila tidak ada kondisi trauma mata

terkait, ketajaman visual tidak berubah karena perdarahan terjadi murni secara ekstraokulaer, dan tidak disertai

rasasakit.4

Secara klinis, perdarahan subkonjungtiva tampak sebagai perdarahan yangdatar, berwarna merah, di bawah

konjungtiva dan dapat menjadi cukup berat sehinggamenyebabkan kemotik kantung darah yang berat dan

menonjol di atas tepi kelopak mata.Perdarahan subkonjungtiva dapat terjadi secara spontan, akibat

trauma,ataupun infeksi. Perdarahan dapat berasal dari pembuluh darah konjungtiva atauepisclera yang

bermuara ke ruang subkonjungtiva. 4

Berdasarkan mekanismenya, perdarahan subkonjungtiva di bagi menjadi dua :

1. Perdarahan subkonjungtiva spontan

Sesuai namanya perdarahan subkonjungtiva ini adalah terjadi secara tiba-

tiba(spontan) .Perdarahan in i d isebabkan faktor us ia tua d imana pembuluh

darah rapuh a tau obat ant i pembekuan darah/ pengencer darah( antikoagulan) dan

batuk kuat(pertusis). 3 Perdarahan subkonjungtiva tipe spontan ini biasanyaterjadi unilateral.

Namun pada keadaan tertentu dapat menjadi bilateral atau kambuh kembali; untuk kasus

seperti ini kemungkinan diskrasia darah (gangguan hemolitik) harus disingkirkanterlebih dahulu.5

2. Perdarahan subkonjungtiva traumatic

Perdarahan subkonjungtiva tipe traumatik dari anamnesis didapatkan bahwa pasien

sebelumnya mengalami trauma di mata langsung atau tidak langsung yang mengenai kepala

daerah orbita. Perdarahanyangterjadi kadang – kadang menutupi perforasi jaringan bola mata

yang terjadi. Pada fraktur basis kranii akan terlihat hematoma kaca mata karena berbentuk

kacamatayang berwarna biru pada kedua mata (racoon eyes). Trauma tumpul yang mengenaikonjungtiva

dapat menyebabkan dua hal, yaitu:

a. Edema konjungtiva

Jaringan konjungtiva yang bersifat selaput lender dapat menjadi kemotik pada setiap

kelianannya, demikian pula akibat trauma tumpul. Bila kelopak terpajan ke dunia luar dan

konjungtiva secara langsung kena angin tanpamengedip, maka keadaan ini telah dapat

9

Page 10: Hematoma Subkonjungtiva (Autosaved)

mengakibatkan edema pada konjungtiva. Kemotik konjungtiva yang berat dapat

mengakibatkan palpebra tidak menutup sehingga bertambah rangsangan terhadap

konjungtiva.2

b. Hematoma subkonjungtiva

Bila perdarahan ini terjadi akibat traua tumpul maka perlu dipastikan bahwa tidak terdapat

robekan dibawah jaringan konjungtivaatau sclera. Kadang-kadang hematoma

subkonjungtiva menutupi keadaanmata yang lebih buruk seperti perforasi bola mata.2

Epidemiologi

Dari segi usia, perdarahan subkonjungtiva dapat terjadi di semuakelompok umur, namun hal ini dapat

meningkat kejadiannya sesuai denganpertambahan umur.6 Perdarahan subkonjungtiva sebagian besar terjadi

unilateral (90%). Pada perdarahan subkonjungtiva tipe spontan tidak ditemukan hubunganyang jelas dengan

suatu kondisi keadaan tertentu (64.3%). Kondisi hipertensi memiliki hubungan yang cukup tinggi dengan

angka terjadinya perdarahan subkonjungtiva (14.3%). Kondisi lainnya namun jarang adalah muntah,

bersin,malaria, penyakit sickle cell dan melahirkan.

Terapi

Perdarahan subkonjungtiva biasanya tidak memerlukan pengobatan. Pengobatan dini pada perdarahan

subkonjungtiva ialah dengan kompres dingin. Perdarahan subkonjungtiva akan hilang atau diabsorpsi dalam 1-

2 minggu tanpadiobati.  Pada bentuk-bentuk berat yang menyebabkan kelainan dari kornea, dapat dilakukan

sayatan dari konjungtiva untuk drainase dari perdarahan. Pemberian airmata buatan juga dapat membantu pada

pasien yang simtomatis. Dari anamnesis danpemeriksaan fisik, dicari penyebab utamanya, kemudian terapi

dilakukan sesuaidengan penyebabnya. Tetapi untuk mencegah perdarahan yang semakin meluasbeberapa

dokter memberikan vasacon (vasokonstriktor) dan multivitamin. Air matabuatan untuk iritasi ringan dan

mengobati faktor risikonya untuk mencegah risikoperdarahan berulang.

Medikamentosa :

- Vasacon (Nafazolin HCl) 4x1 tetes/ hari pada mata kiri

- Asam traneksamat 3x500 mg

10

Page 11: Hematoma Subkonjungtiva (Autosaved)

Non medika mentosa :

- Hindari pemakaian aspirin, ibuprofen, naproxyn, atau beberapa NSAID lain yang dapat meningkatkan

perdarahan untuk sementara.

- Kondisi ini akan membaik dengan sendirinya, perdarahan subkonjungtivadapat diserap dalam satu atau

dua minggu. Biasanya, pemulihan terjadiutuh, tanpa adanya masalah jangka panjang

- Kontrol ke poli setelah 1 minggu atau segera kembali jika perdarahanbertambah luas (mata bertambah

merah).

Perdarahan subkonjungtiva harus segera dirujuk ke spesialis mata jikaditemukan kondisi berikut ini :

 

1. Nyeri yang berhubungan dengan perdarahan.

2. Terdapat perubahan penglihatan (pandangan kabur, ganda atau kesulitanuntuk melihat)

3. Terdapat riwayat gangguan perdarahan

4. Riwayat hipertensi

5. Riwayat trauma pada mata

Komplikasi

Perdarahan subkonjungtiva akan diabsorpsi sendiri oleh tubuh dalam waktu 1-2 minggu, sehingga tidak ada

komplikasi serius yang terjadi.2 Namun adanya perdarahan subkonjungtiva harus segera dirujuk ke dokter

spesialis mata jika ditemui berbagai hal seperti yang telah disebutkan diatas. Pada perdarahan subkonjungtiva

yang sifatnya menetap atau berulang (kambuhan) harus dipikirkan keadaan lain. Penelitian yang dilakukan

oleh Hicks Ddan Mick A mengenai perdarahan subkonjungtiva yang menetap atau mengalami kekambuhan

didapatkan kesimpulan bahwa perdarahan subkonjungtiva yang menetap merupakan gejala awal dari limfoma

adneksa okuler.4

Prognosis

Secara umum prognosis dari perdarahan subkonjungtiva adalah baik. Karena sifatnya yang dapat diabsorpsi

sendiri oleh tubuh.2 Namun untuk keadaan tertentuseperti sering mengalami kekambuhan, persisten atau

disertai gangguan pandangan maka dianjurkan untuk dievaluasi lebih lanjut lagi.

11

Page 12: Hematoma Subkonjungtiva (Autosaved)

Kesimpulan

Daftar Pustaka

1. Setiati S, Nafrialdi. Anamnesis danpemeriksaan fisis komprehensif. Jakarta : Interna

Publishing : 2013.h.397-403.

2. Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu penyakit mata. Ed 4.jakarta :Badan Penerbit Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia : 2013.h.118-31,265.

3. Morosidi SA, Paliyama MF. Ilmu penyakit mata. Fakultas Kedokteran Universitas

Kristen Krida Wacana : 2011.h.43.

4. Graham, R. K. Subconjuntival Hemorrhage.1st Edition. 2009. Medscape’s. Continually Updated

Clinical Reference.

5. Vaughan, Asbury. Oftalmogi umum. Edisi 17. Penerbitbukukedokteran

EGC :2012.h.120.

12