Click here to load reader

Geologi dan Bencana Tanah Longsor Banjarnegara

  • View
    96

  • Download
    8

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Belajar Gerakan Tanah

Text of Geologi dan Bencana Tanah Longsor Banjarnegara

TUGAS GEOLOGI KUARTERKONDISI GEOLOGI DAN BAHAYA GERAKAN TANAH DI DUSUN JEMBLUNG, DESA SAMPANG, KECAMATAN KARANGKOBAR, KABUPATEN BANJARNEGARA

Disusun oleh:MUHAMMAD HIDAYAT410012219KELAS 4

JURUSAN TEKNIK GEOLOGISEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONALYOGYAKARTA2015

PENDAHULUANSecara fisiografi, daerah Jawa Tengah dibagi menjadi 6 zona fisiografi, yaitu: Dataran Aluvial Jawa Utara, Gunungapi Kuarter, Antiklinorium Bogor Pegunungan Serayu Utara Kendeng, Depresi Jawa Tengah, Pegunungan Serayu Selatan dan Pegunungan Selatan Jawa (van Bemmelen, 1949).Berdasarkan pembagian zona menurut van Bemmelen (1949), daerah kajian termasuk Zona Pegunungan Serayu Utara. Ke arah utara, daerah ini berbatasan dengan Dataran Aluvial Jawa Utara, di bagian selatan dibatasi oleh Depresi Jawa Tengah, dibagian barat dan timur dibatasi oleh Zona Gunungapi Kuarter dan daerah kajian merupakan bagian dari cekungan Serayu Utara (Mukti dkk., 2008).Kabupaten Banjarnegara terletak antara 712 731 Lintang Selatan dan 10929 1094550 Bujur Timur. Berada pada jalur pegunungan di bagian tengah Provinsi Jawa Tengah sebelah barat yang membujur dari arah barat ke timur. Batas wilayah administrasi Kabupaten Banjarnegara adalah sebagai berikut: Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Batang, Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo, Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Kebumen, Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Banyumas. Wilayah Kabupaten Banjarnegara memiliki luas 1.070 Km2. Kabupaten Banjarnegara terbagi dalam 20 kecamatan yang terdiri dari 266 desa dan 12 kelurahan, serta terbagi dalam 953 dusun, 5.150 Rukun Tetangga (RT) dan 1.312 Rukun Warga (RW).Gerakan tanah (longsoran) merupakan salah satu peristiwa alam yang sering menimbulkan bencana dan kerugian material. Kondisi alam dan aktivitas manusia adalah merupakan salah satu faktor penyebab terjadi gerakan tanah tersebut. Faktor alam yang menjadi penyebab terjadinya gerakan tanah antara lain tingginya curah hujan, kondisi tanah, batuan, vegetasi, dan faktor kegempaan sebagai pemicunya. Disisi lain faktor aktivitas manusia juga dapat menjadi penyebab terjadinya gerakan tanah. Aktivitas tersebut sebagai contohnya adalah penggunaan lahan yang tidak teratur, seperti pembuatan areal persawahan pada lereng yang terjal, pemotongan lereng yang terlalu curam, penebangan hutan yang tidak terkontrol, dan sebagainya.

TATANAN GEOLOGIFisiografi RegionalMenurut Van bemmelen (1949), berdasarkan sifat fisiografinya, secara garis besar daerah Jawa Tengah dibagi menjadi enam bagian, yaitu :1. Zona Gunungapi Kuarter2. Zona Dataran Aluvium Jawa Utara3. Zona Antiklinorium Bogor, Rangkaian Pegunungan Serayu Utara dan Kendeng4. Zona Depresi Sentral Jawa, Solo dan Randublatung5. Zona Kubah dan Perbukitan dalam Depresi Sentral serta Rangkaian Pegunungan Serayu Selatan6. Zona Pegunungan SelatanMenurutnya, pegunungan di Jawa Tengah terbentuk oleh 2 puncak geantiklin yaitu Pegunungan Serayu Utara dan Pegunungan Serayu Selatan. Pegunungan Serayu Utara merupakan garis penghubung antara Zona Bogor di Jawa Barat dengan Pegunungan Kendeng di Jawa Timur. Sedangkan Pegunungan Serayu Selatan merupakan elemen yang muncul dari Zona Depresi Bandung yang membujur secara longitudinal di Jawa Barat dan terdiri atas bagian barat dan timur, yang keduanya dipisahkan oleh Lembah Jatilawang yang termasuk kedalam Zona Pusat Depresi Jawa Tengah dan bagian baratnya merupakan tinggian di dalam Zona Bandung di Jawa Tengah. Pegunungan ini merupakan antiklin yang sederhana dan sempit di bagian barat, yaitu di sekitar Ajibarang. Sedangkan di bagian timur Banyumas berkembang antiklinorium dengan lebar mencapai 30 kilometer yaitu di sekitar Lok Ulo. Bagian timur Pegunungan Serayu Selatan ini merupakan struktur dome sedangkan dekat Jatilawang terdapat suatu antiklin yang terpotong oleh Sungai Serayu.Antara Pegunungan Serayu Selatan dan Pegunungan Serayu Utara terdapat Zona Depresi Serayu, atau lebih dikenal dengan sebutan Zona Depresi Jawa Tengah. Depresi Jawa Tengah ini memanjang dari Majenang Ajibarang Purwokerto Jatilawang dan Wonosbo. Di antara Purwokerto dan Banjarnegara, lebar dari zona ini sekitar 15 kilometer, tetapi di sebelah timur Wonosobo semakin meluas dan secara setempat-setempat ditutupi oleh gunungapi muda, di antaranya G. Sundoro (3155 m) dan G. Sumbing (3317 m) dan ke arah timur Zona Depresi Jawa Tengah ini muncul kembali, yaitu di sekitar Datar Temanggung, Magelang.Sedangkan Pulau Nusakambangan merupakan kelanjutan Pegunungan Serayu Selatan yang terbentang luas di Jawa Barat. Pegunungan Karangbolong merupakan bagian dari lajur yang sama, tetapi terpisah baik dari yang terdapat di Jawa Barat maupun yang terbentang dari selatan Yogyakarta ke timur.Berdasarkan pembagian tersebut, daerah penelitian termasuk ke dalam Zona Pegunungan Serayu Utara dan secara struktur termasuk ke dalam Besuki Majenang High. Secara regional, Zona Pegunungan Serayu Utara mempunyai relief yang agak menonjol membentuk jalur Pegunungan Slamet, dan menuju ke arah selatan semakin melandai membentuk Cekungan Serayu.

Gambar 1. Peta fisiografi Jawa Tengah (Van Bemmelan, 1949), kotak merah merupakan daerah kajian. Kotak warna merah adalah cakupan daerah kajian.

Stratigrafi RegionalBerdasarkan Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan yang di keluarkan oleh Badan Geologi tahun 1996, di kecamatan Pejawaran terdapat tujuh satuan geologi, yaitu Anggota Breksi Formasi Ligung, Anggota Breksi Formasi Talangan, Satuan Batuan Gunung Api Dieng, Satuan Batuan Gunung Jembangan, Formasi Damar, Formasi Kalibiuk, dan Formasi Rambatan. Di bawah ini adalah luas persebaran masing-masing satuan.1. Anggota Breksi Formasi LigungAnggota Breksi Formasi Ligung, berumur Plistosen, diendapkan secara tidak selaras diatas Formasi Kalibiuk, terdiri dari satuan batuan breksi gunung api (aglomerat) yang bersusunan andesit, lava andesit hornblenda dan tufa. Di atas Formasi Ligung diendapkan endapan undak sungai berupa pasir, lanau, tufa, konglomerat dan breksi tufaan yang tersebar di sepanjang lembah Sungai Serayu.2. Anggota Breksi Formasi TapakFormasi Tapak, berumur Pliosen, diendapkan secara tidak selaras diatas Formasi Kumbang dan menjemari dengan Formasi Kalibiuk, terdiri dari satuan batupasir gampingan dan napal berwarna hijau mengandung pecahan molusca. Pada formasi ini terdapat Anggota Batugamping dari batugamping terumbu yang mengandung koral dan foraminifera besar, napal dan batupasir yang mengandung molusca. Selain itu terdapat juga Anggota Breksi yang terdiri dari breksi gunung api yang bersusunan andesit dan batupasir tufaan yang sebagian mengandung sisa tumbuhan. Ketebalan formasi ini sekitar 500 meter, yang diendapkan dalam lingkungan peralihan sampai laut.3. Batuan Gunung Api DiengBatuan Gunung Api Dieng, berumur Plistosen, diendapkan di atas Batuan Gunung Api Jembangan, terdiri dari satuan batuan lava andesit dan andesit-kuarsa serta batuan klastika gunung api, yang kemudian diatasnya diendapkan endapan aluvial.4. Batuan Gunung Api JembanganBatuan Gunung Api Jembangan, berumur Plistosen, diendapkan bersamaan dengan endapan undak sungai, terdiri dari satuan batuan lava andesit hiperstein-augit, klastika gunung api, lahar dan aluvium.5. Formasi DamarBatuannya terdiri dari batu pasir tufaan, konglomerat, dan breksi volkanik. Batu pasir tufaan berwarna kuning kecoklatan berbutir halus - kasar, komposisi terdiri dari mineral mafik, felspar, dan kuarsa dengan masa dasar tufaan, porositas sedang, keras. Konglomerat berwarna kuning kecoklatan hingga kehitaman, komponen terdiri dari andesit, basalt, batuapung, berukuran 0,5 - 5 cm, membundar tanggung hingga membundar baik, agak rapuh. Breksi volkanik mungkin diendapkan sebagai lahar, berwarna abu-abu kehitaman, komponen terdiri dari andesit dan basalt, berukuran 1 - 20 cm, menyudut membundar tanggung, agak keras.6. Formasi KalibiukFormasi Kalibiuk, berumur Pliosen, diendapkan secara tidak selaras diatas Formasi Kumbang dan menjemari dengan Anggota Breksi Formasi Tapak, terdiri dari satuan batuan napal dan batulempung, bersisipan tipis tufa pasiran. Napal dan batulempung berwarna abu-abu kebiruan, kaya fosil molusca. Tebal Formasi Kalibiuk diperkirakan sampai 3000 meter yang diendapkan dalam lingkungan pasang surut. Di atas formasi ini diendapkan satuan batuan dari Formasi Ligung.7. Formasi RambatanFormasi Rambatan berumur Miosen Awal sampai Tengah, diendapkan secara tidak selaras di atasFormasi Totogan, terdiri dari satuan batuan serpih, napal dan batupasir gampingan mengandungforaminifera kecil, tebal formasi ini diperkirakan lebih dari 370 meter dan diendapkan dalamlingkungan laut terbuka. Pada Formasii Rambatan terdapat Anggota Sigugur yang berupa endapanbatugamping terumbu, mengandung foraminifera besar dan mempunyai ketebalan beberapa ratusmeter. Di atas formasi ini diendapkan secara selaras satuan batuan dari Formasi Halang dan Formasi Kumbang.

Tektonik Regional1. Periode Tektonik Miosen Atas (Mio-Pliosen)Periode Tektonik Miosen Atas (Mio-Pliosen) dimulai dengan pengangkatan dan perlipatan sampai tersesarkannya batuan sedimen Paleogen dan Neogen. Perlipatan yang terjadi berarah relatif barat-timur, sedangkan yang berarah timurlaut-baratdaya dan baratlaut-tenggara hanya sebagian. Sedangkan sesar yang terjadi adalah sesar naik, sesar sesar geser-jurus, dan sesar normal. Sesar naik di temukan di daerah barat dan timur daerah ini, dan berarah hampir barat-timur, dengan bagian selatan relatif naik. Kedua-duanya terpotong oleh sesar geser. Sesar geser-jurus yang terdapat di daerah ini berarah hampir baratlaut-tenggara, timurlaut-baratdaya, dan utara-selatan. Jenis sesar ini ada yang menganan dan ada pula yang mengiri. Sesar geser-jurus ini memotong struktur lipatan dan diduga terjadi sesudah perlipatan. Sesar normal yang terjadi di daerah ini berarah barat-timur dan hampir utara-selatan, d

Search related