Click here to load reader

Gejala Klinis Serta Penatalaksanaan Rhinosinusitis Maksilaris Akut

  • View
    38

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

sinusitis

Text of Gejala Klinis Serta Penatalaksanaan Rhinosinusitis Maksilaris Akut

Gejala Klinis serta Penatalaksanaan Rhinosinusitis Maksilaris AkutJessica102012373Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510Email : [email protected]

PendahuluanSinusitis merupakan penyakit yang sangat lazim diderita di seluruh dunia, hampir menimpa kebanyakan penduduk Asia. Penderita sinusitis bisa dilihat dari ibu jari bagian atas yang kempot. Sinusitis dapat menyebabkan seseorang menjadi sangat sensitif terhadap beberapa bahan, termasuk perubahan cuaca (sejuk), pencemaran alam sekitar, dan jangkitan bakteri. Gejala yang mungkin terjadi pada sinusitis adalah bersin-bersin terutama di waktu pagi, rambut rontok, mata sering gatal, kaki pegal-pegal, cepat lelah dan asma. Kejadian sinusitis umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sinusitis sering juga disebut dengan rhinosinusitis. Penyebab utamanya ialah infeksi virus yang kemudian diikuti oleh infeksi bakteri. Secara epidemiologi yang paling sering terkena adalah sinus etmoid dan maksila. Yang berbahaya dari sinusitis adalah komplikasinya ke orbita dan intrakranial. Komplikasi ini terjadi akibat tatalaksana yang inadekuat atau faktor predisposisi yang tak dapat dihindari. Tatalaksana dan pengenalan dini terhadap sinusitis ini menjadi penting karena hal diatas. Awalnya diberikan terapi antibiotik dan jika telah begitu hipertrofi, mukosa polipoid dan atau terbentuknya polip atau kista maka dibutuhkan tindakan operasi.1Sebagian besar kasus sinusitis kronis terjadi pada pasien dengan sinusitis akut yang tidak respon atau tidak mendapat terapi. Peran bakteri sebagai dalang patogenesis sinusitis kronis saat ini sebenarnya masih dipertanyakan. Sebaiknya tidak menyepelekan pilek yang terus menerus karena bisa jadi pilek yang tak kunjung sembuh itu bukan sekadar flu biasa. Penyebab utamanya ialah infeksi virus yang kemudian diikuti oleh infeksi bakteri. Secara epidemiologi yang paling sering terkena adalah sinus etmoid dan maksila. Yang berbahaya dari sinusitis adalah komplikasinya ke orbita dan intrakranial. Komplikasi ini terjadi akibat tatalaksana yang inadekuat atau faktor predisposisi yang tak dapat dihindari.2

Anatomi sinus paranasalTerdapat delapan sinus paranasal, empat buah pada masing-masing sisi hidung sinus frontal kanan dan kiri, sinus ethmoid kanan dan kiri (anterior dan posterior), sinus maksila kanan dan kiri (antrum Highmore) dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Semua sinus ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan mukosa saluran pernafasan yang mengalami modifikasi, bersilia serta mampu menghasilkan mukus dan bermuara di rongga hidung melalui ostium masing-masing. Sekret yang dihasilkan disalurkan ke dalam kavum nasi. Pada orang sehat, sinus terutama berisi udara (lihat gambar 1).3

Gambar 1. Anatomi sinus

Daerah sinus maksila, sinus frontal, dan sinus ethmoid anterior bermuara ke dalam hidung melalui kompleks osteomeatal yang terletak lateral dari meatus medial. Sinus ethmoid posterior dan sinus sfenoid membuka menuju meatus superior yang merupakan ruang di antara konka superior dan konka media dan resesus sfeno-ethmoidal. Pada meatus medius yang merupakan ruang di antara konka superior dan konka inferior rongga hidung terdapat suatu celah sempit yaitu hiatus semilunaris yakni muara dari sinus maksila, sinus frontalis dan ethmoid anterior (lihat gambar 2).3

Gambar 2 : Kompleks Osteomeatal (KOM)

Kompleks Osteomeatal (KOM) Kompleks osteomeatal (KOM) merupakan daerah yang rumit dan sempit pada sepertiga tengah dinding lateral hidung, yaitu di meatus media, ada muara-muara saluran dari sinus maksila, sinus etmoid anterior. KOM merupakan serambi muka bagi sinus maksila dan frontal memegang peranan penting dalam terjadinya sinusitis. Pada potongan koronal sinus paranasal terlihat gambaran suatu rongga antara konka media dan lamina papyraceae. Isi dari KOM terdiri dari infundibulum ethmoid yang terdapat di belakang prosesus unsinatus, sel agger nasi, resesus frontalis, bula ethmoid, dan sel-sel ethmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksila.3,4 Sinus paranasal terbentuk pada fetus usia bulan III atau menjelang bulan IV dan tetap berkembang selama masa kanak-kanak, jadi tidak heran jika pada foto rontgen anak-anak belum ada sinus frontalis karena belum terbentuk.3,4Fungsi sinus paranasal adalah :31. Membentuk pertumbuhan wajah karena di dalam sinus terdapat rongga udara sehingga bisa untuk perluasan. Jika tidak terdapat sinus maka pertumbuhan tulang akan terdesak.2. Sebagai pengatur udara (air conditioning).3. Peringan cranium.4. Resonansi suara.5. Membantu produksi mukus.

persarafan di hidungBagian depan dan atas dari rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari nervus ethmoid anterior yang merupakan cabang dari nervus nasosiliaris, yang berasal dari nervus oftalmikus (nervus V-1). Rongga hidung lainnya sebagian besar mendapatkan persarafan sensoris dari nervus maksilla melalui ganglion sphenopalatina. Ganglion sphenopalatina disamping memberikan persarafan ensoris juga memberikan persarafan vasomotor/otonom pada mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut-serabut sensoris dari nervus maksilla (nervus V- 2), serabut parasimpatis dari nervus petrosis superfisialis mayor, dan serabut- serabut simpatis dari nervus petrosus profundus. Ganglion sphenopalatina terletak di belakang dan sedikit di atas dari ujung posterior konka media.4

AnamnesisHal pertama yang perlu dilakukan oleh seorang dokter ketika pasien datang adalah melakukan anamnesis. Anamnesis merupakan suatu bentuk wawancara antara dokter dan pasien dengan memperhatikan petunjuk-petunjuk verbal dan non verbal mengenai riwayat penyakit pasien. Riwayat pasien merupakan suatu komunikasi yang harus dijaga kerahasiaannya, yaitu segala hal yang diceritakan oleh penderita.5Anamnesis atau medical history adalah informasi yang dikumpulkan oleh seorang dokter dengan cara melakukan wawancara dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan spesifik baik itu terhadap pasien itu sendiri (auto-anamnesis) maupun dari orang yang dianggapdapat memberikan keterangan yang berhubungan dengan keadaan pasien (allo-anamnesis/hetero-anamnesis).Hal yang perlu di tanyakan pada pasien adalah identitas pasien, kemudian menanyakan keluhan utama pasien, pada kasus ini, pasien pilek tidak sembuh-sembuh sejak 2 minggu yang lalu. Dengan keluhan penyerta, sakit kepala dan nyeri pipi bila di tekan. Selanjutnya, dapat ditanyakan riwayat penyakit sekarang (RPS) seperti cairan keluar dari kedua hidung atau tidak. Sekret berwarna putih/hijau/bening/kental/cair/berbau hamis/tidak berbau dan pernah terdapat rembesan darah atau tidak. Cairan lebih sering keluar pada pagi hari/sore/malam hari. cairan yang turun hanya dari hidung atau dari belakang hidung ke tenggorokan. Atau adakah gejala lain seperti demam, pusing, malaise, nyeri kepala, mual dan muntahSetelah menanyakan riwayat penyakit sekarang dapat ditanyakan riwayat penyakit dahulu (RPD) adakah penderita pernah sakit serupa sebelumnya, bila ada kapan terjadinya. Selanjutnya dapat menanyakan riwayat penyakit keluarga Anamnesis ini digunakan untuk mencari ada tidaknya penyakit keturunan dari pihak keluarga (diabetes mellitus, hipertensi, tumor atau keganasan (contohnya tumor otak atau kanker tulang dll) dapat juga di tanyakan apa memiliki riwayat asma atau riwayat penyakit yang menular.5Hal yang dapat di tanyakan untuk memperjelas keadaan pasien adalah riwayat social, tanyakan juga mengenai konsumsi obat-obatan, kebiasaan merokok, minum alkohol dan kebersihan dirinya. Menyakan seputar tempat tinggalnya apakah memang lingkungannya kotor, padat, atau bersih.Serta menanyakan apakah pasien sudah mendapatkan pengobatan sebelumnya dan apakah pasien memiliki alergi obat atau tidak.5

Pemeriksaan FisikPemeriksaan sinusitis dapat di lakukan dengan inspeksi serta palpasi. Pada inspeksi pemeriksaan yang diperhatikan ialah adanya pembengkakan pada muka. Pembengkakan di pipi sampai kelopak mata bawah yang berwarna kemerah-merahan mungkin menunjukan sinusitis maksilaris akut. Pada palpasi terdapat nyeri tekan pada pipi dan nyeri ketuk pada gigi menandakan adanya sinusitis maksilaris.Selain melakukan pemeriksaan inspeksi dan palpasi juga dapat dilakukan pemeriksaan rhinoskopi anterior. Cara memegang spekulum hidung Hartmann sebaiknya menggunakan tangan kiri dalam posisi horisontal. Tangkainya yang di pegang berada di lateral sedangkan mulutnya di medial. Mulut spekulum inilah yang kita masukkan ke dalam kavum nasi (lubang hidung) pasien. Cara memasukkan spekulum hidung Hartmann yaitu mulutnya yang tertutup masukkan ke dalam kavum nasi (lubang hidung) pasien. Setelah itu, buka pelan-pelan di dalam kavum nasi (lubang hidung) pasien. Cara mengeluarkan spekulum hidung Hartmann yaitu masih dalam kavum nasi (lubang hidung), tutup mulut spekulum kira-kira 90%. Jangan menutup mulut spekulum 100% karena bulu hidung pasien dapat terjepit dan tercabut keluar.6Dapat juga dilakukan pemeriksaan transiluminasi. Ada 2 cara melakukan pemeriksaan transiluminasi (diaphanoscopia) pada sinus maksilaris, yaitu :1. Mulut pasien diminta dibuka lebar-lebar. Lampu ditekan pada margo inferior orbita ke arah inferior. Cahaya yang memancar ke depan ditutup dengan tangan kiri. Hasilnya sinus maksilaris normal bilamana palatum durum homolateral berwarna terang.2. Mulut pasien diminta dibuka. Masukkan lampu yang telah diselubungi dengan tabung gelas ke dalam mulut pasien. Mulut pasien kemudian dminta untuk menutup. Cahaya yang memancar dari mulut dan bibir atas pasien, ditutup dengan tangan kiri. Hasilnya dinding depan dibawah orbita tampak bayangan terang berbentuk bulan sabit. Penilaian pemeriksaan transiluminasi (diaphanoscopia) berdasarkan adanya perbedaan sinus kiri dan sinus kanan. Jika kedua sinus tampak terang, menandakan keduanya normal. sinus yang sakit akan tampak lebih gelap. 6Pemeriksaan Penunjang1. LaboratoriumTes sedimentasi, leukosit, dan C-reaktif protein dapat membantu diagnosis sinusitis akut, Kultur merupakan pemeriksaan yang tidak rutin pada sinusitis akut, tapi harus dilakukan pada pasien immunocompromise dengan perawatan intensif dan pada anak-anak yang tidak respon dengan pengobatan yang tidak adekuat, dan pasien dengan komplikasi yang disebabkan sinusitis.2. RontgenRontgen sinus, dapat menunjukan suatu penebalan mukosa, air-fluid level, dan perselubungan. Pada sinusitis maksilaris, dilakukan pemeriksaan rontgen gigi untuk mengetahui adanya abses gigi. X-Photo Rontgen Untuk melihat sinus maksilaris, kita usulkan memakai posisi Water pada X-photo rontgen. Hasil foto X dengan sinus gelap menunjukkan patologis. Perhatikan batas sinus atau tulang, apakah masih utuh ataukah tidak. tampak adanya edema mukosa dan cairan dalam sinus. Jika cairan tidak penuh akan tampak gambaran air fluid level.73. CT-ScanMetode mutakhir yang lebih akurat untuk melihat kelainan sinus paranasal adalah pemeriksaan CT-Scan. Potongan CT-Scan yang rutin dipakai adalah koronal dan aksial. Indikasi utama CT-Scan hidung dan sinus paranasal adalah sinusitis kronik, trauma (fraktur frontobasal) dan tumor.7

Working diagnosisSinusitis akut biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan atas (terutama pada anak kecil),berupa pilek dan batuk yang lama, lebih dari 7 hari. Gejala subyektif terbagi atas gejala sistemik yaitu demam dan rasa lesu, serta gejala lokal yaitu hidung tersumbat, ingus kental yang kadang berbau dan mengalir ke nasofaring(post nasal drip), halitosis, sakit kepala yang lebih berat pada pagi hari, nyeri di daerah sinus yang terkena, serta kadang nyeri alih ke tempat lain. Sinus maksila disebut juga Antrum Highmore, merupakan sinus yang sering terinfeksi oleh karena merupakan sinus paranasal yang terbesar, dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus alveolaris), sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila. Pada peradangan aktif sinus maksila atau frontal, nyeri biasanya sesuai dengan daerah yang terkena. Pada sinusitis maksila nyeri terasa di bawah kelopak mata dan kadang menyebar ke alveolus (rongga atau ceruk kecil, spt rongga dl rahang tempat akar gigi tertanam) hingga terasa di gigi. Nyeri alih dirasakan di dahi dan depan telinga. Wajah terasa bengkak, penuh dan gigi nyeri pada gerakan kepala mendadak, misalnya sewaktu naik atau turun tangga. Seringkali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk. Sekret mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk.3

Differential diagnosis1. Rhinosinusitis EthmoidalisSinusitus ethmoidalis akut terisolasi lebih lazim pada anak. Gejala berupa nyeri yang dirasakan di pangkal hidung dan kantus medius, kadang-kadang nyeri dibola mata atau belakangnya, terutama bila mata digerakkan. Nyeri alih di pelipis.2. Rhinosinusitis FrontalisGejala subyektif terdapat nyeri kepala yang khas, nyeri berlokasi di atas alis mata, biasanya pada pagi hari dan memburuk menjelang tengah hari, kemudian perlahan-lahan mereda hingga menjelang malam. Pasien biasanya menyatakan bahwa dahi terasa nyeri bila disentuh dan mungkin terdapat pembengkakan supra orbita.3. Rhinosinusitis SfenoidalisPada sinusitis sfenodalis rasa nyeri terlokalisasi di vertex, oksipital, di belakang bola mata dan di daerah mastoid.Sinusitis subakut Gejala klinisnya sama dengan sinusitis akut hanya tanda-tanda radang akutnya (demam, sakit kepala hebat, nyeri tekan) sudah reda. Pada pemeriksaan transiluminasi tampak sinus yang sakit, suram atau gelap. Terapinya mula-mula diberikan medikamentosa (obat-obatan atau perawatan penyakit), bila perlu dibantu dengan tindakan, yaitu diatermi atau pencucian sinus.Sinusitis kronis berbeda dengan sinusitis akut dalam berbagai aspek, umumnya sukar disembuhkan dengan pengobatan medikamentosa saja. Harus dicari faktor penyebab dan faktor predisposisinya (keadaan mudah terjangkit oleh pnyakit). Polusi bahan kimia menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi perubahan mukosa hidung. Perubahan tersebut juga dapat disebabkan oleh alergi, sehingga mempermudah terjadinya infeksi, dan infeksi menjadi kronis apabila pengobatan sinusitis akut tidak sempurna.3

EtiologiSinusitis dapat terjadi akibat dari beberapa faktor seperti bulu-bulu halus didalam rongga sinus (cilia) tidak bekerja secara maksimal akibat kondisi medis tertentu, flu dan alergi menyebabkan lendir diproduksi secara berlebihan atau menutupi rogga sinus serta adanya kelainan pada sekat rongga hidung, kelainan tulang ataupun polip pada hidung dapat menutupi rongga sinus.Pada Sinusitis Akut, dapat di sebabkan karena :81. Infeksi virusSinusitis akut bisa terjadi setelah adanya infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas (misalnyaRhinovirus,Influenzavirus, danParainfluenzavirus).2. BakteriDi dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit (misalnyaStreptococcus pneumoniae,Haemophilus influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus, sehingga terjadi infeksi sinus akut.3. Infeksi jamurInfeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut pada penderita gangguan sistem kekebalan, contohnya jamur Aspergillus.4. Peradangan menahun pada saluran hidungPada penderita rhinitis alergi dan juga penderita rhinitis vasomotor.5. Septum nasi yang bengkok6. Tonsilitis yg kronikEpidemiologiData dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan di rumah sakit.1

PatofisiologiKesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran klirens dari mukosiliar didalam komplek osteo meatal (KOM). Disamping itu mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan. Bila terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami oedem, sehingga mukosa yang berhadapan akan saling bertemu. Hal ini menyebabkan silia tidak dapat bergerak dan juga menyebabkan tersumbatnya ostium. Hal ini menimbulkan tekanan negatif didalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi atau penghambatan drainase sinus. Efek awal yang ditimbulkan adalah keluarnya cairan serous yang dianggap sebagai sinusitis non bakterial yang dapat sembuh tanpa pengobatan. Bila tidak sembuh maka sekret yang tertumpuk dalam sinus ini akan menjadi media yang poten untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri, dan sekret akan berubah menjadi purulen yang disebut sinusitis akut bakterialis yang membutuhkan terapi antibiotik. Jika terapi inadekuat maka keadaan ini bisa berlanjut, akan terjadi hipoksia dan bakteri anaerob akan semakin berkembang. Keadaan ini menyebabkan perubahan kronik dari mukosa yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista.8

Gejala klinisGejala sinusitis yang paling umum adalah sakit kepala, nyeri pada daerah wajah, serta demam. Hampir 25% dari pasien sinusitis akan mengalami demam yang berhubungan dengan sinusitis yang diderita. Gejala lainnya berupa wajah pucat, perubahan warna pada ingus, hidung tersumbat, nyeri menelan, dan batuk. Beberapa pasien akan merasakan sakit kepala bertambah hebat bila kepala ditundukan ke depan. Pada sinusitis karena alergi maka penderita juga akan mengalami gejala lain yang berhubungan dengan alerginya seperti gatal pada mata, dan bersin bersin. Gejala menonjol dari sinusitis akut termasuk hidung tersumbat, rhinorrhea purulen, nyeri pada wajah dan gigi, postnasal drainase, sakit kepala, dan batuk. sinusitis kronis memiliki gejala yang serupa tetapi lebih sedikit. Sakit jauh lebih sedikit pada sinusitis kronis. Tanda-tanda klinis sinusitis akut dan kronis termasuk nyeri sinus pada palpasi, eritema mukosa, sekresi hidung purulen, peningkatan sekresi faring, dan edema periorbital.8

PenatalaksanaanBeberapa penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada kasus rhinosinusitis adalah sebagai berikut:91. Drainage 2. Dekongestan lokal 3. Dekongestan oral 4. antibiotik 5. Simtomatik : parasetamol., metampiron 3 x 500 mg.6. Surgikal : irigasi sinus maksilaris.Untuk sinusitis yang disebabkan oleh karena virus maka tidak diperlukan pemberian antibiotika. Obat yang biasa diberikan untuk sinusitis virus adalah penghilang rasa nyeri seperti parasetamol dan dekongestan. Curiga telah terjadi sinusitis infeksi oleh bakteri bila terdapat gejala nyeri pada wajah, ingus yang bernanah, dan gejala yang timbul lebih dari seminggu. Sinusitis infeksi bakteri umumnya diobati dengan menggunakan antibiotika. Pemilihan antibiotika berdasarkan jenis bakteri yang paling sering menyerang sinus karena untuk mendapatkan antibiotika yang pas harus menunggu hasil dari biakan kuman. Lima jenis bakteri yang paling sering menginfeksi sinus adalahStreptococcus pneumoniae, Haemophilus influenza,Moraxella catarrhalis,Staphylococcus aureus, danStreptococcus pyogenes. Antibiotika yang dipilih harus dapat membunuh kelima jenis kuman ini. Beberapa pilihan antiobiotika antara lain amoxicillin, cefaclor, azithromycin, dan cotrimoxazole. Jika tidak terdapat perbaikan dalam lima hari maka perlu dipertimbangkan untuk memberikan amoxicillin plus asam klavulanat. Pemberian antibiotika dianjurkan minimal 10 sampai 14 hari. Pemberian dekongestan dan mukolitik dapat membantu untuk melancarkan drainase cairan mukus. Pada kasus kasus yang khronis, dapat dipertimbangkan melakukan drainase cairan mukus dengan cara pembedahan. Pemberian dekongestan dan mukolitik dapat membantu untuk melancarkan drainase cairan mukus. Pada kasus kasus yang khronis, dapat dipertimbangkan melakukan drainase cairan mukus dengan cara pembedahan.8,9

KomplikasiSetiap komplikasi sinusitis akut dapat terjadi pada sinusitis kronis. Istilah sinubronkitis kadang-kadang digunakan untuk menandai hubungan antara gejala-gejala sinus dan saluran pernafasan bawah. Bahkan sinus dapat menyebabkan asma. Komplikasi lainnya dari sinusitis adalah komplikasi orbita yang merupakan komplikasi sinusitis yang berhubungan dengan lekuk mata. Pembengkakan orbita dapat merupakan petunjuk adanya etmoidalis akut (radang pada tulang tapis), namun sinus frontalis dan sinus maksilais juga terletak di dekat orbita dan dapat pula menimbulkan infeksi isi orbita.Komplikasi sinus bisa menyebabkan gangguan pada mata, kelopak mata. Misalnya pada komplikasi orbita yang dapat dijelaskan dengan tahapan sebagai berikut :1. Paparan asap global bisa menyebabkan peradangan atau reaksi edema yang ringan. Terjadi pada isi orbita akibat infeksi sinus etmoidalis di dekatnya. 2. Selulitis/radang pada rongga kecil orbita. Edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif menginvasi isi orbita namun nanah (pus) belum terbentuk. 3. Nanah terkumpul di antara tepi-tepi orbita (periorbita) dan dinding tulang orbita. 4. Nanah telah menembus periosteum (selaput tulang) dan bercampur dengan isi orbita. Tahap ini disertai gekal sisia neuritis optik (radang saraf mata) dan kebutaan pada salah satu mata yang lebh serius. 5.Terjadi trombosis (pembekuan darah pada pembuluh darah) sinus kavernosus yang bisa menyebabkan oftalmoplegia (kelumpuhan otot-otot bola mata ekstrinstik), gangguan penglihatan yang berat, tanda-tanda meningisitis (radang selaput otak) oleh karena letak sinus kavernous yang berdekatan denggan saraf cranial, serta berdekatan juga dengan otak. Komplikasi pada sinusitis maksilaris ini diakibatkan oleh adanya infeksi kronis sinus parasanal akan memberi kesan gangguan lokal atau menyeluruh yang memudahkan perisstensi infeksi. Penelitian harus dilakukan pada deformitas hidung, polip aau adenoid yang terkena infeksi atau hipertrofi yang mungkin menyebabkan obstruksi, pada gigi yang terinfeksi sebagai sumber sinusitis maksilaris, pada polip atau mukokel sinus dan pada gangguan umum seperti alergi, kistik fibrosis dan silis diskinetik. Sinusitis krois dijumpai pada penderita yang tanpa antibodi sekretorik (IgA) dan pada status imunidefisiensi lainnya.3

Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah :1. Kelainan pada orbita, terutama disebabkan oleh sinusitis ethmoidalis karena letaknya yang berdekatan dengan mata, Penyebaran infeksi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum, Edema palpebra, Preseptal selulitis, Selulitis orbita tanpa abses, Selulitis orbita dengan sub atau extraperiostel abses, Selulitis orbita dengan intraperiosteal abses, Trombosis sinus cavernosus2. Kelainan intracranial, seperti abses extradural, subdural, dan intracerebral, Meningitis akut, Encephalitis, Trombosis sinus cavernosus atau sagital3. Kelainan pada tulang, seperti Osteitis, Osteomyelitis4. Kelainan pada paru, seperti bronkitis kronik, Bronkhiektasis5. Otitis media6. Toxic shock syndrome7. Mukokel adalah suatu kista yang mengandung mukus yang timbul dalam sinus, kista ini paling sering ditemukan pada sinus maksilaris, sering disebut sebagai kista retensi mukus dan biasanya tidak berbahaya. Dalam sinus frontalis, ethmoidalis dan sfenoidalis, kista ini dapat membesar dan melalui atrofi tekanan mengikis struktur sekitarnya. Kista ini dapat bermanifestasi sebagai pembengkakan pada dahi atau fenestra nasalis dan dapat menggeser mata ke lateral. Dalam sinus sfenoidalis, kista dapat menimbulkan diplopia dan gangguan penglihatan dengan menekan saraf didekatnya. Piokel adalah mukokel terinfeksi, gejala piokel hampir sama dengan mukokel meskipun lebih akut dan lebih berat.1,3PrognosisPrognosis untuk sinusitis akut sangat baik. Banyak kasus yang berjalan dari 1 sampai 2 minggu, sering tanpa antibiotik. Seseorang yang mengalami sinusitis akut tanpa komplikasi bisa sembuh dengan baik dan bisa kembali beraktivitas. Rata-rata 70% sinusitis akut karena bakteri bisa sembuh kembali tanpa antibiotik. Yang jarang adalah sinusitis dengan komplikasi dan infeksi yang menyebar luas perlu penyembuhan yang lama. Sinusitis karena jamur jarang, tetapi menyebar dengan cepat dan dapat menyebabkan kematian pada seseorang yang immunocompromised, contohnya: pasien kanker, HIV/AIDS dan diabetes yang tidak terkontrol. Prognosis kronik sinusitis tergantung dari penyebabnya. Sering kali pengobatan dan tindakan pembedahan diperlukan untuk mengurangi inflamasi. Seseorang yang mengalami pembedahan sinus bisa kembali ke aktivitas biasa sekitar 5 sampai7 hari setelah pembedahan dan sembuh total rata-rata 4 sampai 6 minggu. Di banyak kasus inflamasi harus ditangani dengan pengobatan jangka panjang untuk mencegah kekambuhan.3PencegahanYang paling mudah, jangan sampai terkena infeksi saluran nafas. Rajin-rajin cuci tangan karena tindakan sederhana ini terbukti efektif dalam mengurangi risiko tertular penyakit saluran pernafasan. Selain itu, sedapat mungkin menghindari kontak erat dengan mereka yang sedang terkena batuk pilek. Bila anda memakai AC, sering membersihkan penyaringnya agar debu, jamur dan berbagai substansi yang mungkin dapat mencetuskan alergi dapat dikurangi.Tingkatkan daya tahan tubuh dengan cukup istirahat dan konsumsi makanan dan minuman yang memiliki nilai nutrisi baik. Selain itu, jangan lupa untuk minum air dalam jumlah yang cukup. Kegiatan minum ini seringkali dilupakan orang padahal air yang sehat merupakan salah satu sumber utama kesehatan tubuh. Berolahraga yang teratur, khususnya setelah waktu subuh di mana udara pagi saat itu masih jernih dan bersih. Perbanyak menghirup udara bersih, dengan cara menghirup dan mengeluarkannya perlahan-lahan. Hal ini sangat bermanfaat selain untuk menguatkan paru-paru juga untuk mengisi daerah sinus dengan oksigen. Sehingga daerah-daerah sinus menjadi lebih bersih dan kebal terhadap berbagai infeksi dan bakteri.8,9

KesimpulanSinusitis adalah peradangan mukosa sinus paranasal yang dapat berupa sinusitis maksilaris, sinusitis etmoid, sinusitis frontal, dan sinusitis sfenoid. Pada kasus di atas terjadi pada sinus maksilaris karena nyeri tekan pada pipi. . Sinus maksilaris dapat diakibatkan oleh pilek yang tak kunjung sembuh, dan juga disebabkan oleh karena kelainan di gigi yang akarnya dekat dengan sinus maksila. Rhinosinusitis akut memiliki prognosis baik jika segera di terapi dengan benar.

Daftar pustaka

1. Mangunkusumo E, Soetjipto D. Sinusitis. Dalam buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala dan leher. FKUI: Jakarta; 2007.h.150-32. Lalwani, AK. Acute and chronic sinusitis in: current diagnosis & treatment otolaryngology head and neck surgery. 2nd edition. New York: Lange; 2007.p. 678-803. Hilger, PA. Penyakit sinus paranasalis, dalam buku ajar Penyakit THT. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007.h. 241-584. Ballenger JJ. Infeksi Sinus Paranasal, dalam : Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorok Kepala dan Leher, edisi ke 1. Binaputra Aksara, jakarta, 2004, 232 241.5. Uliyah M. Keterampilan dasar praktik klinik. Edisi ke-2. Jakarta: Salemba Medika; 2008.h.153. 6. Soedjak S, Rukmini S, Herawati S, Sukesi S. Teknik pemeriksaan telinga, hidung & tenggorok. Jakarta: EGC; 2000.h.356-637. Pletcher SD, Golderg AN. The diagnosis and treatment of sinusitis in advanced studies in medicine. London: Lippincott Williams & Wilkins; 2007.p. 495-5058. Ballenger JJ. Infeksi Sinus Paranasal, dalam : Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorok Kepala dan Leher, ed 13 (1), Binaputra Aksara, jakarta, 2004, 232 241.9. Cody. R et all, Sinusitis,dalam Andrianto P, editor, Penyakit telinga Hidung dan Tenggorokan, Penerbit buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2003, 229 241

1