9
GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN-HIPERAKTIVITAS (GPPH) Irwanto, Ahmad Suryawan, Moersintowarti B.Narendra BATASAN Gangguan penyesuaian diri perkembangan perhatian (inatensi), aktivitas(hiperaktivitas) dan kontrol perilaku kurang (impulsif) yang telah berlangsung 6 bulan atau lebih dan terjadi sebelum usia 7 tahun pada tingkat sampai menganggu penyesuaian diri dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan. PATOFISIOLOGI/ETIOLOGI Kondisi heterogen merupakan penyebab GPPH. Faktor genetik dan lingkungan sangat berperan timbulnya GPPH, selain itu beberapa neurotransmiter : norepinefrin/noadrenergik, dopamin dan serotonin juga berpengaruh terhadap timbulnya GPPH serta didapatkan kelainan morfologi dan fungsi otak berupa corpus callosum, basal ganglia dan lobus frontalis berukuran kecil, dan hipoperfusi dari frontal-striatal dopamine pathway. GEJALA KLINIS Berdasarkan DSM IV, GPPH dibagi 3 tipe : - GPPH tipe inatensi. - GPPH tipe hiperaktif-impulsif. - GPPH tipe kombinasi a. Gangguan Pemusatan Perhatian (Inatensi) Tidak mampu memusatkan perhatiannya untuk waktu yang lama, perhatiannya mudah teralihkan oleh stimulus lain. Rentang waktu pemusatan perhatian yang singkat, kemampuan menyimak yang rendah. b. Impulsivitas Dapat berupa impulsivitas motor dan atau verbal. PDT – Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya 1

Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Autisme

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Autisme

GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN-HIPERAKTIVITAS

(GPPH)Irwanto, Ahmad Suryawan, Moersintowarti B.Narendra

BATASAN

Gangguan penyesuaian diri perkembangan perhatian (inatensi), aktivitas(hiperaktivitas) dan

kontrol perilaku kurang (impulsif) yang telah berlangsung 6 bulan atau lebih dan terjadi sebelum

usia 7 tahun pada tingkat sampai menganggu penyesuaian diri dan tidak sesuai dengan tingkat

perkembangan.

PATOFISIOLOGI/ETIOLOGI

Kondisi heterogen merupakan penyebab GPPH.

Faktor genetik dan lingkungan sangat berperan timbulnya GPPH, selain itu beberapa

neurotransmiter : norepinefrin/noadrenergik, dopamin dan serotonin juga berpengaruh terhadap

timbulnya GPPH serta didapatkan kelainan morfologi

dan fungsi otak berupa corpus callosum, basal ganglia dan lobus frontalis berukuran kecil, dan

hipoperfusi dari frontal-striatal dopamine pathway.

GEJALA KLINIS

Berdasarkan DSM IV, GPPH dibagi 3 tipe :

- GPPH tipe inatensi.

- GPPH tipe hiperaktif-impulsif.

- GPPH tipe kombinasi

a. Gangguan Pemusatan Perhatian (Inatensi)

Tidak mampu memusatkan perhatiannya untuk waktu yang lama, perhatiannya mudah

teralihkan oleh stimulus lain. Rentang waktu pemusatan perhatian yang singkat, kemampuan

menyimak yang rendah.

b. Impulsivitas

Dapat berupa impulsivitas motor dan atau verbal.

Impulsivitas motor berupa anak selalu berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain.

Impulsivitas verbal atau kognitif terlihat berupa sikap terlalu cepat mengambil kesimpulan

sebelum mendapat informasi.

c. Hiperaktivas

GPPH dapat disertai atau tanpa hiperaktivitas. Hiperaktivitas menggambarkan perilaku

motorik yang berlebihan.

DIAGNOSIS PDT – Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya 1

Page 2: Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Autisme

a. Anamnesa

b. Pemeriksaan fisik.

c. Pemeriksaan Neuropsychologic.

d. Laporan prestasi akademis.

e. Behavior Rating scales yang diperoleh dari beberapa sumber (guru dan orang tua).

f. Harus memenuhi kriteria DSM IV.

DIAGNOSIS BANDING

1. Penyakit kronis.

2. Gangguan tidur (Sleep disorders).

3. Depresi.

4. Gangguan kecemasan.

5. Obsessive-compulsive disorders.

6. Gangguan sekunder akibat stres.

7. Pervasive developmental disorders.

8. Gangguan psikiatri lainnya.

PENYULIT

1. Perilaku eksternalisasi berupa oppositional defiant disorder, conduct disorder dan

gangguan tic.

2. Perilaku internalisasi berupa depresi, ansietas dan gangguan belajar.

PENATALAKSANAAN

1. Terapi Farmakologis :

a. First-line Treatment (Stimulan)

Metilfenidat :

Short acting : 5-20 mg (2-3 kali/hari) selama 3-5 hari.

Intermediate-acting : 20-40 mg (pagi 20 mg, sore 20 mg) selama 3-8 hari.

Long-acting : 18-72mg (1 kali/hari) selama 8-12 hari.

Amfetamin :

Short acting : 5-15 mg (2 x/hari) atau 5-10 mg (3 x/hari).

Intermediate-acting : 5-30mg (1 x/hari) atau 5-15mg (2 x/hari).

Long-acting : 10-30 mg (1 x/hari).

b. Second-line Treatment (Anti-depresan)

Tricyclics ( TCAs) : 2-5 mg/kg/hari (2-3 x/hari ).

Bupropion : 50-100mg (3 x/hari ) atau 100-150 mg (2 x/hari ).

2. Terapi non Farmakologis : Terapi perilaku.

DAFTAR PUSTAKA

PDT – Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya 2

Page 3: Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Autisme

1. American Academy of Pediatrics (2000), ”Clinical practice guideline: diagnosis and

evaluation of the child with ADHD”, Pediatrics, vol. 105, h. 1158-1170.

2. American Academy of Pediatrics (2001), ”Clinical practice guideline: Treatment of the

school-aged child with ADHD”, Pediatrics, vol. 108, h. 1033-1044.

3. Polaha, J., Cooper, S.L., Meadows, T., Kratochvil, C.J. (2005), ”The Assessment of

Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder in Rural Primary Care : The Portability of

American Academy of Pediatrics Guidelines to ”Real World”, Pediatrics, vol 115, no 2, h.

120-126.

4. Reiff, M.I., (2001), Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder, dalam : Bergman, A.B.

(penyunting), Twenty Common Problems in Pediatrics. Mc Graw-Hill, Singapura, h.

265-299.

5. Simms MD (2004), Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder, dalam : Behrman, R.E.,

Kliegman, R.M., Jenson, H.B. (penyunting) Nelson Textbook of Pediatrics, edisi ke-17, W.B.

Saunders Co, Philadelphia, h. 107-110.

PDT – Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya 3

Page 4: Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Autisme

AUTISMEIrwanto, Ahmad Suryawan, Moersintowarti B.Narendra

BATASAN

Suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks, yang secara klinis ditandai oleh adanya 3

gejala utama berupa : kualitas yang kurang dalam kemampuan interaksi sosial dan emosional,

kualitas yang kurang dalam kemampuan komunikasi timbal balik, dan minat yang terbatas,

perilaku tak wajar, disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan (stereotipik). Selain itu

tampak pula adanya respon tak wajar terhadap pengalaman sensorik, yang terlihat sebelum usia 3

tahun.

PATOFISIOLOGI/ETIOLOGI

Banyak faktor sebagai penyebab Autisme. Faktor genetik sangat autisme, diduga merupakan

gangguan genetik yang kompleks dan disebabkan kombinasi dari efek kerentanan gen-gen yang

multipel dengan faktor lingkungan dan faktor lain yang bukan genetik. Banyak penelitian yang

melaporkan kelainan pada hampir semua struktur otak tetapi saat ini masih jadi perdebatan.

Selain itu diduga : dopamin, katekolamine dan serotonin juga berperan timbulnya autisme.

GEJALA KLINIS

a. Tidak dijumpai perilaku perkembangan yang lazim, dijumpai :

- Atensi (perhatian) sosial.

- Melihat pada orang-orang.

- Menghadap ke orang-orang.

- Tersenyum pada orang-orang.

- Berusaha berbicara atau mengeluarkan suara pada orang-orang.

- Ekspresi sosial yang sesuai.

b. Gejala-gejala patologi dini :

- Terobsesi dengan benda-benda yang berputar.

- Suka memasukkan atau menjilat benda-benda secara berlebihan.

- Gaze (pandangan mata).

- Cara melihat suatu benda agak aneh.

- Babbling.

- Sensitif terhadap suara.

- Gejala-gejala motor sensorik.

- Respon yang tidak lazim terhadap rangsang sentuhan, atau tidak sensitif terhadap

nyeri.

- Gerakan repetitif.

PDT – Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya 4

Page 5: Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Autisme

DIAGNOSIS

Harus memenuhi kriteria DSM IV

A. Enam atau lebih gejala dari (1), (2) dan (3) dengan paling sedikit 2 dari (1) dan 1 dari

masing-masing (2) dan (3).

1. Gangguan kualitatif interaksi sosial, yang terlihat sebagai paling sedikit 2 dari gejala

berikut :

i. Gangguan yang jelas dalam perilaku non- verbal (perilaku yang

dilakukan tanpa bicara) misalnya kontak mata, ekspresi wajah, posisi

tubuh dan mimik untuk mengatur interaksi sosial.

ii. Tidak bermain dengan teman seumurnya, dengan cara yg sesuai.

iii. Tidak berbagi kesenangan, minat atau kemampuan mencapai sesuatu

hal dengan orang lain.

iv. Kurangnya interaksi sosial timbal balik.

2. Gangguan kualitatif komunikasi yang terlihat sebagai paling tidak satu dari

gejala berikut :

i. Keterlambatan atau belum dapat mengucapkan kata-kata berbicara,

tanpa disertai usaha kompensasi dengan cara lain.

ii. Bila dapat berbicara, terlihat gangguan kesanggupan memulai atau

mempertahankan komunikasi dengan orang lain.

iii. Penggunaan bahasa yang stereotipik dan berulang, atau bahasa yang

tidak dapat dimengerti.

iv. Tidak adanya cara bermain yang bervariasi dan spontan, atau bermain

menirukan secara sosial yang sesuai dengan umur perkembangannya.

3. Pola perilaku, minat dan aktivitas yang terbatas, berulang dan tidak berubah

(stereotipik), yang ditunjukkan dengan adanya 2 dari gejala berikut :

i. Minat yang terbatas, stereotipik dan meneetap dan abnormal dalam intensitas dan

fokus.

ii. Keterikatan pada ritual yang spesifik tetapi tidak fungsional secara kaku dan tidak

fleksibel.

iii. Gerakan motorik yang stereotipik dan berulang, misalnya flapping tangan dan jari,

gerakan tubuh yang kompleks.

iv. Preokupasi terhadap bagian dari benda.

B. Keterlambatan atau fungsi abnormal pada ketrampilan berikut, yang muncul

sebelum umur 3 tahun.

1. Interaksi sosial.

2. Bahasa yang digunakan sebagai komunikasi sosial.

3. Bermain simbolik atau imajinatif.

PDT – Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya 5

Page 6: Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Autisme

C. Bukan lebih merupakan gejala sindrom Rett atau Childhood Disintegrative

Disorder. Selain itu kita dapat menggunakan Checklist for Autism in Toddlers (CHAT)

sebagai alat skrining untuk deteksi dini Autisme.

DIAGNOSA BANDING

1. Pervasive Development Disorder not Otherwise Specified.

2. Rett’s Disorder.

3. Childhood Disintegrative Disorder.

4. Asperger’s Disorder.

PENYULIT

1. Child Abuse dan Neglect

2. Kesukaran belajar dan bekerja

PENATALAKSANAAN

1. Pemberian Nutrisi yang adekuat, terutama : Vitamin B6, A, C, E, Magnesium,

Seng, Kalsium, Asam lemak esensial, Dimethylglycine (DMG) : 125 mg, 1-6/hari,

atau Trimethylglycine (TMG) : 500-800mg/hari.

2. Diet bebas Glutein dan Casein

3. Detoksifikasi (terutama merkuri)

4. Pemberian anti-viral : Acyclovir

5. Immunomodulator

6. Transdermal Allithiamine (TTFD)

7. Oral Immunoglobulin

8. Suntikan konsentrat vitamin B12

9. Terapi perilaku.

DAFTAR PUSTAKA

1. Candless, J.M. (2003), Children with Strarving Brains, dalam : Candless, J.M. Children with

Strarving Brains, edisi ke-2, Grasindo, Jakarta, h. 3-312.

2. Dalton, R., Forman, M.A., Boris, N.W. (2004), Pervasive Development Disorder and

Childhood Psychosis, dalam : Behrman, R.E., Kliegman, R.M., Jenson, H.B.

(penyunting) Nelson Textbook of Pediatrics, edisi ke-17, W.B.Saunders Co,

Philadelphia, h. 93-95.

3. Dhamayanti, M. (2005), Skrining Autisme. Workshop dan Simposium Tumbuh

Kembang Anak, Hotel J.W Marriot, Surabaya.

PDT – Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya 6

Page 7: Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Autisme

4. Pusponegoro, H.D. (2003), Pandangan umum mengenai Klasifikasi Spektrum Gangguan

Autistik dan Kelainan Susunan Saraf Pusat. Konferensi Nasional Autisme-1, Hotel Sahid

Jaya, Jakarta.

5. Rosman, N.P. (1995), Autism, dalam : Parker, S., Zuckerman, B. (penyunting)

Behavioral and Developmental Pediatrics, Little, Brown and Company, Boston, h. 73-77.

Telah didiskusikan dan validasi oleh :

1. Prof. Darto Saharso, dr., Sp.A(K) divisi neurologi anak ...............................................

2. Prof.. Hj. Moersintowarti B.Narendra, dr., MSc., Sp.A(K) ...............................................

3. Prof. Lestari Basoeki S., dr., Sp.KJ(K) ...............................................

PDT – Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya 7