Gangguan Berbicara Dan Bahasa

Embed Size (px)

Citation preview

  • 8/2/2019 Gangguan Berbicara Dan Bahasa

    1/12

    GANGGUAN BERBICARA DAN BAHASA

    Definisi

    Menurut Busari JO et al tahun 2004 ada beberapa definisi untuk

    menggambarkan keterlambatan perkembangan bahasa dan berbicara padaanak-anak, tergantung screening dan metode diagnostik yang digunakan oleh

    pemeriksa. Namun demikian, definisi apapun harus mencakup salah satu dari

    dua pernyataan sebagai berikut bahwa dimana keterlambatan bicara dan

    bahasa adalah :

    Keterlambatan dalam berbicara dan / atau perkembangan bahasa

    dibandingkan dengan kontrol sesuai dalam hal usia, jenis kelamin, latar

    belakang budaya, dan kecerdasan, atau

    Perbedaan antara kemampuan potensial seorang anak untuk berbicara

    dan pelaksanaan yang sebenarnya terlihat.

    Keterlambatan bicara sendiri adalah keterlambatan persisten dan defisit

    dalam pengembangan keterampilan berbicara dan kualitas suara. Gangguan

    bicara termasuk di dalamnya adalah masalah dalam mengahasilkan suara

    dalam berbicara, gangguan dalam aliran atau irama bicara, masalah dengan

    nada suara, volume, atau interligibilitasnya yang kurang baik.

    Masalah bicara dan bahasa sebenarnya berbeda tetapi kedua masalah ini

    sering kali tumpang tindih.Gangguan bicara dan bahasa terdiri dari masalah

    artikulasi, suara, kelancaran bicara (gagap), afasia (kesulitan dalam

    menggunakan kata-kata, biasanya akibat cedera otak) serta keterlambatan

    dalam bicara atau bahasa. Keterlambatan bicara dan bahasa dapat

    disebabkan oleh berbagai faktor termasuk faktor lingkungan atau hilangnya

    pendengaran. Gangguan bicara dan bahasa juga berhubungan erat dengan

    area lain yang mendukung proses tersebut seperti fungsi otot mulut dan

    fungsi pendengaran. Keterlambatan dan gangguan bisa mulai dari bentuk

    yang sederhana seperti bunyi suara yang tidak normal (sengau, serak)

    sampai dengan ketidakmampuan untuk mengerti atau menggunakan bahasa,

    atau ketidakmampuan mekanisme motorik oral dalam fungsinya untuk bicaradan makan.

    Gangguan perkembangan artikulasi meliputi kegagalan mengucapkan satu

    huruf sampai beberapa huruf, sering terjadi penghilangan atau penggantian

    bunyi huruf tersebut sehingga menimbulkan kesan cara bicaranya seperti

  • 8/2/2019 Gangguan Berbicara Dan Bahasa

    2/12

    anak kecil. Selain itu juga dapat berupa gangguan dalam pitch, volume atau

    kualitas suara.

    Afasia yaitu kehilangan kemampuan untuk membentuk kata-kata atau

    kehilangan kemampuan untuk menangkap arti kata-kata sehingga

    pembicaraan tidak dapat berlangsung dengan baik. Anak-anak dengan afasia

    didapat memiliki riwayat perkembangan bahasa awal yang normal, dan

    memiliki onset setelah trauma kepala atau gangguan neurologis lain

    (contohnya kejang).

    Gagap adalah gangguan kelancaran atau abnormalitas dalam kecepatan atau

    irama bicara.Terdapat pengulangan suara, suku kata atau kata atau suatu

    bloking yang spasmodik, bisa terjadi spasme tonik dari otot-otot bicara seperti

    lidah, bibir dan laring.Terdapat kecendrungan adanya riwayat gagap dalam

    keluarga. Selain itu, gagap juga dapat disebabkan oleh tekanan dari orang tuaagar anak bicara dengan jelas, gangguan lateralisasi, rasa tidak aman, dan

    kepribadian anak.

    Epidemiologi

    Gangguan bicara dan bahasa dialami oleh 8% anak usia prasekolah. Hampir

    sebanyak 20% dari anak berumur 2 tahun mempunyai gangguan

    keterlambatan bicara. Keterlambatan bicara paling sering terjadi pada usia 3-

    16 tahun.

    Pada anak-anak usia 5 tahun, 19% diidentifikasi memiliki gangguan bicara dan

    bahasa (6,4% keterlambatan berbicara, 4,6% keterlambatan bicara dan

    bahasa, dan 6% keterlambatan bahasa). Gagap terjadi 4-5% pada usia 3-5

    tahun dan 1% pada usia remaja. Laki-laki diidentifikasi memiliki gangguan

    bicara dan bahasa hampir dua kali lebih banyak daripada wanita. Sekitar 3-6%

    anak usia sekolah memiliki gangguan bicara dan bahasa tanpa gejala

    neurologi, sedangkan pada usia prasekolah prevalensinya lebih tinggi yaitu

    sekitar 15%. Menurut penelitian anak dengan riwayat sosial ekonomi yang

    lemah memiliki insiden gangguan bicara dan bahasa yang lebih tinggi

    daripada anak dengan riwayat sosial ekonomi menengah ke atas.

    Studi Cochrane terakhir telah melaporkan data keterlambatan bicara, bahasa

    dan gabungan keduanya pada anak usia prasekolah dan usia sekolah.

    Prevalensi keterlambatan perkembangan bahasa dan bicara pada anak usia 2

    sampai 4,5 tahun adalah 5-8%, prevalensi keterlambatan bahasa adalah 2,3-

    19%.Sebagian besar studi melaporkan prevalensi dari 40% sampai 60%.

  • 8/2/2019 Gangguan Berbicara Dan Bahasa

    3/12

    Prevalensi keterlambatan perkembangan berbahasa di Indonesia belum

    pernah diteliti secara luas. Kendalanya dalam menentukan kriteria

    keterlambatan perkembangan berbahasa. Data di Departemen Rehabilitasi

    Medik RSCM tahun 2006, dari 1125 jumlah kunjungan pasien anak terdapat

    10,13% anak terdiagnosis keterlambatan bicara dan bahasa. Penelitian

    Wahjuni tahun 1998 di salah satu kelurahan di Jakarta Pusat menemukan

    prevalensi keterlambatan bahasa sebesar 9,3% dari 214 anak yang berusia

    bawah tiga tahun.

    Etiologi dan Patogenesis

    Penyebab kelainan berbicara dan bahasa bisa bermacam-macam yang

    melibatkan berbagai factor yang dapat saling mempengaruhi, antara lain

    kondisi lingkungan, pendengaran, kognitif, fungsi saraf,emosi psikologis, dan

    lain sebagainya.

    Gangguan bicara dan bahasa pada anak dapat disebabkan oleh kelainan

    berikut:

    1. Lingkungan social dan emosional anak.

    Interaksi antar personal merupakan dasar dari semua komunikasi dan

    perkembangan bahasa. Lingkungan yang tidak mendukung akan

    menyebabkan gangguan bicara dan bahasa pada anak, termasuk

    lingkungan keluarga. Misalnya, gagap dapat disebabkan oleh

    kekhawatiran dan perhatian orangtua yang berlebihan pada saat anakmulai belajar bicara,tekanan emosi pada usia yang sangat muda sekali,

    dan dapat juga sebagai suatu respon terhadap konflik dan rasa takut.

    Sebaliknya, gagap juga dapat menimbulkan problem emosional pada

    anak.

    2. Sistem masukan/input.

    Gangguan pada sistem pendengaran, penglihatan, dan defisit taktil-

    kinestetik dapat menyebabkan gangguan bicara dan bahasa pada anak.

    Dalam perkembangan bicara, pendengaran merupakan alat yang sangatpenting. Anak seharusnya sudah dapat mengenali bunyi-bunyian

    sebelum belajar bicara. Anak dengan otitis media kronis dengan

    penurunan daya pendengaran akan mengalami keterlambatan

    kemampuan menerima atau mengungkapkan bahasa. Gangguan bahasa

    juga terdapat pada tuli karena kelainan genetic dan metabolic (tuli

    primer),tuli neurosensorial (infeksi intrauterin:TORCH), tuli konduksi

  • 8/2/2019 Gangguan Berbicara Dan Bahasa

    4/12

    seperti akibat malformasi telinga luar,tuli sentral (sama sekali tidak

    dapat mendengar),tuli persepsi / afasia sensorik (terjadi kegagalan

    integrasi arti bicara yang didengar menjadi suatu pengertian yang

    menyeluruh), dan tuli psikis seperti pada skizofrenia, autisme infantil,

    keadaan cemas dan reaksi psikologis lainnya.

    Anak dengan gangguan penglihatan yang berat, akan terganggu pola

    bahasanya. Pada anak dengan defisit taktil-kinestetik akan terjadi

    gangguan artikulasi, misalnya pada anak dengan anomaly alat bicara

    perifer, seperti pada labioskizis, palatoskizis dan kelainan bentuk

    rahang, bisa didapati gangguan bicara berupa disartria.

    3. Sistem pusat bicara dan bahasa.

    Kelainan pada susunan saraf pusat akan mempengaruhi pemahaman,

    interpretasi, formulasi, dan perencanaan bahasa, juga aktivitas dankemampuan intelektual dari anak. Dalam hal ini, terdapat defisit

    kemampuan otak untuk memproses informasi yang komplek secara

    cepat.

    Kerusakan area Wernicke pada hemisfer dominant girus temporalis

    superior seseorang akan menyebabkan hilangnya seluruh fungsi

    intelektual yang disebut dengan afasia wernicke. Penderita mampu

    mengerti kata-kata yang dituliskan atau didengar, namun tak mampu

    menginterpretasikan pikiran yang diekspresikan.

    Apabila lesi pada area wernicke ini meluas dan menyebar kebelakang

    (regiogirusangular), ke inferior (area bawah lobustemporalis), dan

    kesuperior (tepi superior fisura sylvian), maka penderita tampak seperti

    benar-benar terbelakang total untuk mengerti bahasa dan

    berkomunikasi, disebut dengan afasiaglobal. Bila lesi tidak begitu parah,

    maka penderita masih mampu memformulasikan pikirannya namun

    tidak mampu menyusun kata-kata yang sesuai secara berurutan dan

    bersama-sama untuk mengekspresikan pikirannya.

    Kerusakan pada area bicara broca yang terletak di regioprefrontal danfasial premotorik korteks menyebabkan penderita mampu menentukan

    apa yang ingin dikatakannya dan mampu bervokalisasi namun tak

    mampu mengatur sistem vokalnya untuk menghasilkan kata-kata selain

    suara ribut. Kelainan ini disebut afasiamotorik, kira-kira 95%

    kelainannya di hemisfer kiri.

  • 8/2/2019 Gangguan Berbicara Dan Bahasa

    5/12

    Regio fasial dan laryngeal korteks motorik berfungsi mengaktifkan

    gerakan otot-otot mulut, lidah, laring, pitasuara, dan sebagainya, yang

    bertanggung jawab, waktu, dan perubahan intensitas yang cepat dari

    urutan suara. Kerusakan pada region-region ini menyebabkan ketidak

    mampuan untuk berbicara dengan jelas gangguan komunikasi biasanya

    merupakan bagian dari retardasi mental, misalnya pada sindrom Down.

    Pada anak dengan retardasi mental, terdapat disfungsi otak akibat

    adanya ketidak normalan yang luas dari struktur otak, neurotransmitter

    atau mielinisasi, sehingga perkembangan mentalnya terhenti atau tidak

    lengkap, sehingga berpengaruh pada semua kemampuan kognitif,

    bahasa, motorik dan sosial.

    4. Sistem produksi.

    Sistem produksi suara meliputi laring, faring, hidung, struktur mulut dan

    mekanisme neuron muscular yang berpengaruh terhadap pengaturannafas untuk berbicara, bunyi laring, pembentukan bunyi untuk artikulasi

    bicara melalui aliran udara lewat laring, faring dan rongga mulut.

  • 8/2/2019 Gangguan Berbicara Dan Bahasa

    6/12

  • 8/2/2019 Gangguan Berbicara Dan Bahasa

    7/12

    Diagnosis Gangguan Bicara dan Bahasa pada Anak

    Anamnesis

    Anamnesis pada gangguan bahasa dan bicara mencakup perkembangan

    bahasa anak. Beberapa pertanyaan yang dapat ditanyakan antara lain :

    o Pada usia berapa bayi mulai mengetahui adanya suara, misalnya

    berkedip, terkejut, atau menggerakkan bagian tubuh.

    o Pada usia berapa bayi mulai tersenyum (senyum komunikatif),

    misalnya saat berbicara padanya.

    o Kapan bayi mulai mengeluarkan suara aaaggh orientasi terhadap

    suara, misalnya bila ada suara apakah bayi memaling atau mencari

    ke arah suara.

    o Kapan bayi memberi isyarat daag dan bermain cikke bum mengikuti

    perintah satu langkah, seperti beri ayah sepatu atau ambilkoran.

    o Berapa banyak bagian tubuh yang dapat di tunjukkan oleh anak,

    seperti mata, hidung, kuping, dan sebagainya.

    Selain itu harus diperhatikan juga tanda bahaya adanya gangguan bahasa

    dan bicara yaitu bila pada usia:

    4-6Bulan

    o Tidak menirukan suara yang dikeluarkan orangtuanya;

    o Pada usia 6 bulan belum tertawa atau berceloteh

    8-10 bulan

    o Usia 8 bulan tidak mengeluarkan suara yang menarik

    perhatian.

    o Usia 10 bulan, belum bereaksi ketika dipanggil namanya.

    o 9-10 bulan, tidak memperlihatkan emosi seperti tertawa atau

    menangis.

    12-15 bulan

    o 12 bulan, belum menunjukkan mimik.

  • 8/2/2019 Gangguan Berbicara Dan Bahasa

    8/12

    o 12 bulan, belum mampu mengeluarkan suara, seperti ma-ma,

    da-da.

    o 12 bulan, tidak menunjukkan usaha berkomunikasi bila

    membutuhkan sesuatu.

    o 15 bulan, belum mampu memahami arti tidak boleh atau daag.

    o 15 bulan, tidak memperlihatkan 6 mimik yang berbeda.

    o 15 bulan, belum dapat mengucapkan 1-3 kata.

    18-24 bulan

    o 18 bulan, belum dapat mengucapkan 6-10 kata.

    o 18-20 bulan, tidak menunjukkan ke sesuatu yang menarik

    perhatian.

    o 21 bulan, belum dapat mengikuti perintah sederhana.

    o 24 bulan, belum mampu merangkai 2 kata menjadi kalimat.

    o 24 bulan, tidak memahami fungsi alat rumah tangga seperti

    sikat gigi dan telepon.

    o 24 bulan, belum dapat meniru tingkah laku atau kata-kata

    oranglain.

    o 24 bulan, tidak mampu menunjukkan anggota tubuhnya bila

    ditanya.

    30-36 bulan

    o 30 bulan, tidak dapat dipahami oleh anggota keluarga.

    o 36 bulan, tidak menggunakan kalimat sederhana dan

    pertanyaan dan tidak dapat dipahami oleh oranglain selain

    anggota keluarga.

    3-4 tahun

    o 3 tahun, tidak mengucapkan kalimat, tidak mengerti perintah

    verbal dan tidak memiliki minat bermain dengan sesamanya.

    o 3-5 tahun, tidak dapat menyelesaikan kata seperti.

  • 8/2/2019 Gangguan Berbicara Dan Bahasa

    9/12

    o 4 tahun, masih gagap dan tidak di mengerti secara lengkap.

    Pemeriksaan Penunjang

    1. BERA ( Brainstem Evoked Response Audiometry ) merupakan cara

    pengukuran evoked potensial (aktivitas listrik yang di hasilkan saraf VIII,

    pusat-pusat neural dan traktus didalam batang otak) sebagai respon

    terhadap stimulus auditorik.

    2. Pemeriksaan audiometric Pemeriksaan audiometric diindikasikan untuk

    anak-anak yang sangat kecil dan untuk anak-anak yang ketajamanpendengarannya tampak terganggu. Ada 4 kategori pengukuran dengan

    audiometri:

    a. Audiometri tingkah laku, merupakan pemeriksaan pada anak yang

    dilakukan dengan melihat respon dari anak jika di beri stimulus

    bunyi. Respon yang diberikan dapat berupa menoleh ke arah sumber

    bunyi atau mencari sumber bunyi. Pemeriksaan di lakukan diruangan

    yang tenang atau kedap suara dan menggunakan mainan yang

    berfrekuensi tinggi. Penilaian dilakukan terhadap respon yang

    diperlihatkan anak.

    b. Audiometri bermain, merupakan pemeriksaan pada anak yang

    dilakukan sambil bermain, misalnya anak diajarkan untuk meletakkan

    suatu objek pada tempat tertentu bila dia mendengar bunyi. Dapat

    dimulai pada usia 3-4 tahun bila anak cukup kooperatif.

    c. Audiometri bicara pada tes ini dipakai kata-kata yang sudah disusun

    dalam silabus dalam daftar yang disebut : phonetically balance

    wordLBT ( PBList ). Anak diminta untuk mengulangi kata-kata yang

    didengar melalui kaset tape recorder. Pada tes ini dilihat apakah

    anak dapat membedakan bunyi s, r, n, c, h, ch. Guna pemeriksaan ini

    adalah untuk menilai kemampuan anak dalam pembicaraan sehari-

    hari dan untuk menilai pemberian alat Bantu dengar (hearingaid).

    d. Audiometri objektif, biasanya memerlukan teknologi khusus.

  • 8/2/2019 Gangguan Berbicara Dan Bahasa

    10/12

    3. CT scan kepala untuk mengetahui struktur jaringan otak, sehingga

    didapatkan gambaran area otak yang abnormal.

    4. Timpa nometri digunakan untuk mengukur kelenturan membranat

    impani dan sistem osikular.

    Selain tes audiometri, bisa juga digunakan tes intelegensi. Paling dikenal

    yaitu skala Wechsler, yang menyajikan 3 skor intelegen, yaitu IQ verbal, IQ

    performance, dan IQ gabungan:

    o Skala intelegensi Wechsler untuk anak-anak III : penyelesaian

    susunan gambar.

    Tes ini terdiri dari satu set gambar-gambar objek yang umum, seperti

    gambar pemandangan.Salah satu bagian yang penting dihilangkan

    dan anak di minta untuk mengidentifikasi. Respon di nilai sebagai

    benar atau salah.

    o Skala intelegensi Wechsler untuk anak-anak III : mendesain balok

    Anak diberikan pola bangunan dua dimensi dan kemudian di minta

    untuk membuat replikanya menggunakan kubus dua warna. Respon

    dinilai sebagai benar atau salah.

    Penatalaksanaan

  • 8/2/2019 Gangguan Berbicara Dan Bahasa

    11/12

    Beberapa cara menstimulasi anak diantaranya:

    1. Berbicara

    Setiap hari bicara dengan bayi sesering mungkin. Gunakan setiap

    kesempatan seperti waktu memandikan bayi, mengenakan

    pakaiannya, memberi makan dan lain-lain. Anak tidak pernah terlalu

    mudah untuk diajak bicara.

  • 8/2/2019 Gangguan Berbicara Dan Bahasa

    12/12

    2. Mengenali berbagai suara

    Ajak anak mendengarkan berbagai suara seperti musik, radio,

    televisi. Juga buatlah suara dari kerincingan, mainan, kemudian

    perhatikan bagaimana reaksi anak terhadap suara yang berlainan.

    3. Menunjuk dan menyebutkan nama gambar-gambar

    Ajak-anak melihat gambar-gambar, kemudian gambar ditunjuk dan

    namanya disebutkan, usahakan anak mengulang ikata-kata, lakukan

    setiap hari. Bila anak sudah bisa menyebutkan nama gambar,

    kemudian dilatih untuk bercerita tentang gambar tersebut

    4. Mengerjakan perintah sederhana

    Mulai memberikan perintah kepada anak misal letakkan gelas

    dimeja. Kalau perlu tunjukkan

    Kepada anak cara mengerjakan perintah tadi, gunakan kata-kata

    yang sederhana.

    Prognosis

    Prognosis gangguan bicara pada anak tergantung pada penyebabnya.

    Sebagian besar anak memberikan respon baik terhadap tatalaksana yang

    diberikan. Untuk gangguan yang berhubungan kelainan organic sepertipada tulikonduksi, perbaikan masalah medisnya dapat menghasilkan

    perkembangan bahasa normal pada anak. Anak dengan retardasi mental

    memiliki prognosis yang lebih buruk dibandingkan anak yang inteligensinya

    baik. Demikian juga dengan anak yang memiliki gangguan perkembangan

    multipel, membutuhkan penanganan ekstra agar tidak meninggalkan

    kelainan sisa. Lingkungan yang berisiko tinggi dan usia terdeteksinya

    gejala turut memperburuk prognosis.