Click here to load reader

Gambaran faktor faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian asi eksklusif di wilayah puskesmas maleber tahun 2013

  • View
    801

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Gambaran faktor faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian asi eksklusif di wilayah...

GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PEMBERIAN ASI EKSLUSIF DIWILAYAH PUSKESMAS MALEBER TAHUN 2013

KARYA TULIS ILMIAHDiajukan sebagai syarat untuk memperoleh Gelar Ahli Madya Kebidanan Akademi Kebidanan yayasan Kesehatan Nasional (TKN) Bau-Bau Kelas kerja sama Kabupaten Muna

Disusun Oleh :SITTI FARINA SAPUTRI NIM.

AKADEMI KEBIDANAN YAYASAN KESEHATAN NASIONAL BAU-BAU KELAS KERJA SAMA KAB. MUNA 2013

LEMBAR PERSETUJUAN

Judul :GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH PUSKESMAS MALEBER TAHUN 2013. Penyusun:KUSNIAHNIM : EBX 0110018Program Studi : PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN

Kuningan, Agustus 2013Menyetujui, Pembimbing I

Anggit Kartikasari, S.SiTPembimbing II

Ratna Sari Dewi, S.ST

LEMBAR PENGESAHAN

Judul: GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH PUSKESMAS MALEBER TAHUN 2013.Penyusun : KUSNIAHNIM: EBX0110018Program Studi :PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN

Kuningan, Agustus 2013 Mengesahkan, Penguji I penguji II Penguji III

Ade Siti Maemunah, S. Pd.,S.ST., M.Kes Anggit Kartikasari, S.SiT Ratna Sari Dewi,S.ST MengetahuiKetua Program Studi D III kebidanan Ketua STIKes Kuningan

Anggit Kartikasari, S.SiT Asep Sufyan Ramadhy, S. Ked

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN 2013

ABSTRAK

KUSNIAH

GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH UPTD PUSKESMAS MALEBER TAHUN 2013

x+43 halaman, 1 Bagan, 5 Tabel

Salah satu faktor dalam mencapai Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas adalah kesehatan dan gizi. Karena dalam tubuh yang sehat dan bergizi akan membantu dalam kecerdasan dan intelektual. Bayi dan anak yang mendapatkan makanan bergizi akan tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas dan terhindar dari infeksi. Nutrisi memegang peranan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi. Nutrisi yang terbaik bagi bayi adalah ASI yang dibrikan pada bayi sampai usia 6 bulan. Berdasarkan survei dekografi dan kesehatan Indonedia (SDKI) pada tahun 2006-2007 terdapat penurunan dalam pemberian ASI Eksklusif 5-6 bulan diperkotaan berkisar 1%-13% sedangkan dipedesaan 2%-13% (Depkes RI 2007) sebesar 14,7 %. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI Eksklusif diantaranya pengetahuan, pendidikan dan paritas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI Eksklusif di wilayah Kerja UPTD Puskesmas Maleber tahun 2013. Jenis penelitian yang digunakan Deskriptif suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk menggambarkan tntang suatu keadaan secara objektif. Hasil penelitian diperoleh sebagian besar responden 28 orang (46,7 %) berpengtahuan cukup, pendidikan sebagian besar responden berpendidikan rendah sebanyak 50 orang (83,3 %), untuk paritas sebagian besar paritas tinggi sebanyak 37 oraang (61,7 %). Sehubungan dengan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa ibu yang mempunyai bayi 6-11 bulan memiliki pengetahuan cukup, sedangkan ibu yang berpendidikan rendah berpengetahuan cukup dan ibu yang paritas tinggi juga memiliki pengetahuan cukup.

Kata Kunci : Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif. Daftar Pustaka : 11 (2002-2012)

KATA PENGANTAR

Penulis panjatkan Puji dan syukur kehadirat Illahi Rabbi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat hidayah-Nya serta telah memberi kekuatan dan kemudahan kepada penulis dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.Karya Tulis Ilmiah ini ditulis dan diajukan untuk menyelesaikan tugas akhir studi pada Program Studi DIII Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan dengan judul Gambaran Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Puskesmas Maleber Kecamatan Maleber Kabupaten Kuningan Tahun 2013.Penulis juga sangat menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini dapat tersusun berkat bimbingan, dorongan, semangat dan sumbangan pikiran serta bantuan yang sangat berharga dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :1. Prof. Dr. Hj. Dewi Laelatul Badriah, M.Kes, AIFO, selaku Ketua Yayasan Pendidikan Bakti Husada Kuningan.2. Asep Sufyan Ramadhy, S.Ked, selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan.3. Anggit Kartikasari, S.SiT, selaku Ketua Program Studi Kebidanan Kuningan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan dan Pembimbing yang telah menyempatkan waktu di sela kesibukannya dengan sabar membimbing dan memberikan arahan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.4. Ratna Sari Dewi, S.ST, selaku Pembimbing II yang telah menyempatkan waktu disela kesibukannya dengan sabar membimbing dan memberikan arahan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.5. Semua staf dan dosen pengajar di Program Studi D III Kebidanan STIKes Kuningan yang telah memberikan semangat dan dukungan selama perkuliahan dan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.6. Semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.Semoga amal baik yang telah diberikan kepada penulis mendapatkan amal dan pahala yang setimpal dari Allah SWT. Harapan penulis semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Amien....

Kuningan, Agustus 2013

Penulis

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN........iLEMBAR PENGESAHANiiABSTRAKiiiKATA PENGANTARivDAFTAR ISIviDAFTAR TABELixDAFTAR BAGANxDAFTAR LAMPIRAN............................................................................. xiBAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang11.2 Rumusan Masalah41.3 Tujuan Penelitian41.3.1 Tujuan Umum41.3.2 Tujuan Khusus41.4 Manfaat Penelitian51.4.1 Manfaat Teoritis51.4.2 Manfaat Praktis5BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1 Pengetahuan 72.1.1Definisi Pengetahuan72.1.2Tingkat Pengetahuan72.1.3Perubahan Perilaku92.1.4 Proses Adopsi Perilaku92.2 Pengukuran Pengetahuan10 2.3 Pendidikan112.3.1 Pengertian112.4 Paritas122.5 ASI Eksklusif142.5.1 Definisi142.5.2 Manfaat ASI Eksklusif152.5.3 Produksi ASI192.5.4 Komposisi ASI202.5.5 Manajemen Laktasi222.5.6 Alasan Pemberian ASI Eksklusif242.5.7 Tujuh Langkah Keberhasilan ASI Eksklusif25

BAB IIIKERANGKA KONSEPDAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1Kerangka Konsep263.2Definisi Operasional27BAB IVMETODOLOGI PENELITIAN4.1 Jenis dan Rancangan Penelitian294.1.1 Jenis Penelitian294.1.2 Rancangan Penelitian294.2Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel294.2.1 Populasi294.2.2Teknik Pengambilan Sampel294.3Variabel Penelitian304.4Instrumen Pengumpulan Data314.5Teknik Pengumpulan Data324.5.1Sumber Data324.6Rancangan Analisa Data324.6.1Pengolahan Data324.6.2 Analisa Data344.7Lokasi dan Waktu Penelitian35BAB VHASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN5.1Hasil Penelitian365.2Pembahasan42BAB VISIMPUL DAN SARAN6.1 Simpulan476.2Saran48DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR TABEL

Halaman1. Tabel 3.2 Definisi Operasional.................................................. 282. Tabel 4.5 Jadwal Penelitian........................................................... 353. Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif............ 374. Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan................................ 385. Tabel 5.3 Tabel Silang Pengetahuan............................................. 386. Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Pendidikan................................. 397. Tabel 5.5 Tabel Silang Pendidikan............................................. 39 8. Tabel 5.6 Distribusi Paritas......................................................... 409. Tabel 5.7 Tabel Silang Paritas...................................................... 41

DAFTAR BAGAN

Halaman

Bagan 3.1 Kerangka Konsep................................................. 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pada era modernisasi saat ini, tingkat teknologi dan pengetahuan berkembang semakin pesat, perlu diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas sehingga antara teknologi dan sumber daya manusianya dapat berjalan secara dinamis. Untuk mencapai hal tersebut, salah satu faktor yang sangat berperan adalah peningkatan kesehatan dan gizi. Karena dalam tubuh yang sehat dan bergizi akan membantu kecerdasan dan intelektual. Dengan ilmu pengetahuan akan menjadi salah satu tolak ukur SDM yang berkualitas akan tercapai (Zainuddin, 2008). Untuk mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas, maka kita perlu memelihara gizi anak sejak bayi berada dalam kandungan. Bayi dan anak yang mendapat makanan bergizi akan tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas dan terhindar dari berbagai penyakit infeksi. Nutrisi memegang peranan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi. Nutrisi yang terbaik bagi bayi adalah Air Susu Ibu (ASI) yang diberikan pada bayi sampai usia enam bulan hanya ASI saja tanpa diberi makanan tambahan.Karena ASI mudah di dapat, selalu tersedia,siap diminum tanpa adanya persiapan khusus (Zainuddin, 2008). Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO),2001 mengatakan bahwa ASIeksklusif selama enam bulan pertama adalah makanan yang terbaik.ASIeksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berusia nol sampai enam bulan, bahkan air putih pun tidak boleh diberikan pada tahap ini. Karena itu pada enam bulan pertama membutuhkan perhatian khusus dalam pemberian ASI. Dengan adanya modernisasi telah menggeser paradigma menyusui ASI seolah telah menjadi sesuatu yang kuno dan tidak modern sehingga banyak kaum ibu muda enggan memberikan ASI kepada anaknya dengan dalih merusak penampilan, merepotkan dan membuang waktu karena merasa ada susu formula yang bisa menggantikan ASI ( Depkes, 2001:31 ). Faktor yang dapat mempengaruhi dalam keberhasilan pemberian ASI eksklusif seperti mitos-mitos yang sering menghambat dalam pemberian ASI eksklusif diantaranya bayi yang menangis karena ingin makan, faktor lainnya adalah pengetahuan, pendidikan, usia ibu, paritas, pekerjaan, pengaruh orang tua dalam keluarga serta kurangnya informasi mengenai ASI eksklusif dari pihak kesehatan maupun media lain seperti media televisi. Jarang sekali iklan atau kesempatan di media televisi yang menayangkan tentang manfaat dan keunggulan ASI eksklusif lebih gencar promosi susu formula yang dikemas sedemikian menarik menunjukkan kelebihannya (Depkes RI, 2002 :1). Padahal banyak upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam program membantu menigkatkan keberhasilan ASI eksklusif diantaranya program Inisiasi Menyusui Dini ( IMD ). Bayi baru lahir agar diletakan diatas dada ibunya untuk memulai menyusui. Bayi diharapkan terbiasa mendapat ASI sejak dini. Menyediakan pojok ASI untuk layanan konsultasi masalah ASI dan memberikan waktu luang pada ibu bekerja untuk memeras ASI-nya supaya tetap bisa memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Meskipun ASI sangat besar manfaatnya bagi bayi, namun berdasarkanSurvei Demografi dan Kesehatan Indonesia ( SDKI ) pada tahun 2006-2007, pemberian ASI eksklusif pada bayi berusia 2 bulan hanya 64 %.Presentasi ini menurun menjadi 40 % pada bayi berusia 2-3 bulan dan 14 % pada bayi berusia 4-5 bulan dan hanya 4 % bayi mendapat ASI dalam satu jam kelahiran. Cakupan ASI eksklusif 4-5 bulan di perkotaan antara 45 %-12 % dan di pedesaan 4 %-25 % pencapaian ASI eksklusif 5-6 bulan di parkotaan berkisar 1%-13 %,sedangkan di pedesaan 2 %-13 % (Depkes RI 2007 ). Menurut hasil pendataan tahun 2012 ASI eksklusif di Indonesia baru tercapai 42 % dari target 70 %, di Jawa Barat baru tercapai 45 % dari target 80 %, dan di Kabupaten Kuningan baru 40,4 % dari target 70 %. Dari target Kabupaten di Puskesmas Maleber pencapaian ASI eksklusif masih jauh dari target, baru mencapai 14,7 % ( Dinkes Kab Kuningan 2012). Setelah melakukan wawancara terhadap 10 ibu yang mempunyai bayi dengan usia 6 11 bulan, berdasarkan pengetahuannya dimana hasilnya adalah 7 orang menyatakan tidak tahu tentang ASI eksklusif dengan tingkat pendidikan yang rendah. Berdasarkan data tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif di UPTD Puskesmas Maleber tahun 2013.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka penulis merumuskan masalah ini adalah Bagaimana Gambaran Faktor faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Maleber tahun 2013?1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan UmumUntuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Maleber tahun 2013.1.3.2 Tujuan Khusus a. Mengetahui gambaran keberhasilan ASI eksklusif di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Maleber tahun 2013.b. Mengetahui gambaran pengetahuan yang mempengaruhi keberhasilan ASI eksklusif di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Maleber tahun 2013.c. Mengetahui gambaran pendidikan yang mempengaruhi keberhasilan ASI eksklusif di Wilayah kerja UPTD Puskesmas Maleber tahun 2013. d. Mengetahui gambaran paritas yang mempengaruhi keberhasilan ASI eksklusif di Wilayah kerja UPTD Puskesmas Maleber tahun 2013.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat TeoritisPenelitian ini dapat dijadikan dasar dan bahan acuan yang bermanfaat bagi pengembangan penelitian selanjutnya. 1.4.2 Manfaat praktis1. Bagi Ibu MenyusuiSebagai bahan informasi kesehatan dalam memberikan ASI eksklusif bagi ibu menyusui dengan memberikan pengetahuan dan wawasan yang jelas tentang ASI eksklusif.2. Bagi PuskesmasSebagai bahan masukan bagi Puskesmas Maleber khususnya untuk program KIA dan Gizi3. Bagi Program Studi DIII KebidananSebagai bahan referensi tambahan di perpustakaan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan.4. Bagi PenelitiPenelitian ini untuk mengimplementasikan ilmu yang di dapat selama kuliah serta dapat memperluas wawasan dalam bidang pendidikan khususnya mengetahui tentang ASI eksklusif pada ibu menyusui.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan2.1.1 Definisi Menurut Notoatmodjo (2007: 139-140) pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia yakni indra penglihatan, pendengaran, penginderaan, penciuman, rasa dan raba, sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang ( over behavior).2.1.2 Tingkat Pengetahuan di dalam Domain Kognitif Menurut Notoatmodjo (2005 : 50-52) terdapat enam tingkatan dalam pengetahuan, yaitu :a. Tahu (know)Diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau dirangsang yang telah diterima.

b. Memahami (comprehension)Kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginpretasikan materi tersebut secara benar.c. Aplikasi (Aplication)Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.d. Analisis (Analysis)Suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen komponen tetapi masih ada kaitannya satu sama lain.e. Sintesis (Syntesis)Suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi formulasi baru dari formulasi formulasi yang ada.f. Evaluasi (Evaluation)Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek, penilaian tersebut didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang ada.

2.1.3 Perubahan (Adopsi) Perilaku dan Indikatornya Menurut Notoatmodjo (2007 :146), perubahan atau adopsiperilaku baru adalah suatu proses yang kompleks dan memerlukan waktu yang relatif lama. Secara teori perubahan perilaku atau seseorang menerima atau mengadopsi perilaku baru dalam kehidupannya melalui 3 tahap, yaitu:a. PengetahuanSebelum seseorang mengadopsi perilaku (berperilaku baru) ia harus tahu terlebih dahulu apa arti atau manfaat perilaku tersebut bagi dirinya atau orang lain.b. Sikap Sikap adalah penilaian (bisa berupa pendapat) seseorang terhadap stimulus atau objek.c. Praktik atau tindakanSetelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui. Proses selanjutnya diharapkan akan melaksanakan atau mempraktekan apa yang diketahui atau disikapinya (dinilai baik).2.1.3 Proses Adopsi Perilaku Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers dalam Notoatmodjo ( 2007 : 140) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi berperilaku baru, didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni sebagai berikut :a. Awarennes (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus atau objek terlebih dahulu.b. Interest, yakni orang yang mulai tertarik pada stimulus.c. Evaluation (menimbang nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya), hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik.d. Trial, yaitu orang yang telah mencoba perilaku baru e. Adoption (Adopsi), subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus prilaku.Selanjutnya Rogers dalam Notoatmodjo ( 2007 : 140) menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap tahap tersebut diatas. Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan bersikap langgeng ( long lasting), sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan beerlangsung lama.

2.2 Pengukuran Pengetahuan Untuk mengukur pengetahuan kesehatan adalah dengan mengajukan pertanyaan secara langsung (wawancara) atau melalui pertanyaan tertulis (angket). Indikator pengetahuan kesehatan adalah tingginya pengetahuan responden tentang kesehatan atau besarnya presentasi kelompok responden tentang variabel komponen kesehatan ( Notoatmodjo, 2005:53). Menurut Arikunto (2006:344) terhadap data yang bersifat kualitatif, maka pengolahannya dibandingkan dengan standar atau kriteria yang telah dibuat oleh peneliti. Penilaian angket tersebut berdasarkan kriteria sebagai berikut :1. Baik : Skor > 75 %Apabila responden dapat menjawab > 75 % dari semua pertanyaan.2. Cukup : Skor 60 75 %Apabila responden dapat menjawab 60 75 % dari semua pertanyaan .3. Kurang : Skor < 60 % Apabila responden dapat menjawab 60 % dari semua pertanyaan.

2.3 Pendidikan 2.3.1 Pengertian Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan semakin mudah dalam menerima informasi sehingga diharapkan makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Dalam penelitian ini tingkat pendidikan dikategorikan menjadi 2 kelompok yaitu pendidikan rendah (SD SLTA) dan pendidikan tinggi (>SMA Perguruan tinggi). Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat

sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan (Notoatmodjo, S 2007). Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2001) pendidikan adalah pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan penelitian.

2.3 Paritas Paritas adalah jumlah janin dengan berat badan lebih dari 500 gram yang pernah dilahirkan, hidup maupun mati, bila berat badan tidak diketahui, maka dipakai umur kehamilan lebih dari 24 minggu ( Sumarah, 2009:2). Paritas 1-2 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematiam maternal. Paritas tinggi mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi ( Hanifa, 2005:71). Klasifikasi paritas menurut Saifuddin, 2007 adalah sebagai berikut :a. Paritas rendah: 1 -2b. Paritas tinggi: > 2 Pengalaman dalam kehamilan atau persalinan sebelumnya akan sangat berpengaruh terhadap pengetahuan ibu tentang kehamilan dan persalinan. Pengetahuan ibu tentang perawatan kehamilan pada ibu yang sudah hamil akan lebih baik jika dibandingkan dengan ibu yang belum pernah hamil. Untuk lebih menanggapi dan menghayati terhadap perilaku baru sehingga pengalaman akan membentuk sikap positif atau negatif jika ibu yang mempunyai pengalaman akan bersikap positif akan tetapi sebaliknya ibu yang belum pengalaman sama sekali cenderung akan bersikap negatif.

2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku Menurut Lawrence Green (1999:74) faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku adalah sebagai berikut:a. Faktor predisposisi (predisposisi predisposing factors) Faktor predisposisi merupakan faktor anteseden terhadap perilaku yang menjadi dasar atau motivasi bagi perilaku, yang termasuk dalam faktor ini adalah pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, norma sosial dan pengalaman.b. Faktor pemungkin atau pendukung (enabling factors ) Faktor pemungkin adalah faktor anteseden terhadap perilaku yang memungkinkan suatu motivasi atau aspirasi terlaksana, yang termasuk dalam faktor ini adalah keterampilan, fasilitas, sarana atau prasarana yang mendukung terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat.c. Faktor penguat Faktor penguat merupakan faktor penyerta perilaku atau yang datang sesudah perilaku itu ada. Hal hal yang termasuk dalam faktor ini adalah keluarga, teman, petugas kesehatan.

2.6. ASI Eksklusif

2.6.1 Definisi ASI Eksklusif Menurut Lawrence tahun 1999 dalam Sukini (2006:11) ASI adalah suatu bahan makanan alami yang sempurna dengan mengandung lebih dari 2000 unsur pokok dan terus menerus berubah sesuai dengan kebutuhan bayi. Bayi sebaiknya disusui eksklusif yaitu diberi ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya tanpa ditambah makanan cair atau padat kecuali dalam keadaan yang sangat jarang. Hal ini mungkin dapat membawa kuman, mencetuskan alergi, menyebabkan bayi kenyang dan menyusu sebaiknya dipertahankan sampai setidaknya bayi berusia 2 tahun dengan makanan pendamping ASI yang sesuai sejak 6 bulan (WHO dan Unicef, 2001). ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. Bahkan air putih tidak ditambahkan dalam tahap ASI eksklusif ini (depkes RI 2004). ASI mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan bayi. Rendahnya pemahaman ibu, keluarga dan masyarakat mengenai pentingnya ASI bagi bayi mengakibatkan pemberian ASI eksklusif tidak berlangsung secara optimal (Prastyono, 2009). Sebagai tujuan global untuk meningkatkan kesehatan dan menu makanan bayi secara optimal maka semua ibu dapat memberikan ASI eksklusif dan semua bayi diberi ASI ekslkusif sejak lahir sampai berusia 6 bulan. Setelah berumur 6 bulan bayi dapat diberi makanan pendamping atau padat yang benar dan tepat,sedangkanASI tetap diteruskan sampai usia 2 tahun. Pemberian makanan untuk bayi yang ideal seperti ini dapat dicapai dengan menciptakan pengertian serta dukungan dari lingkungan sehingga para ibu dapat menyusui secara eksklusif (Roesli, 2005).2.6.2 Manfaat ASI Eksklusif Bagi ibu dan bayi ASI eksklusif mengakibatkan mudah terjalinnya ikatan kasih sayang yang mesra antara ibu dan bayi baru lahir. Hal ini merupakan keuntungan awal dari menyusui secara eksklusif. Bagi bayi tidak ada yang lebih berharga daripada ASI. Hanya seorang ibu yang dapat memberikan makanan terbaik bagi bayinya. Selain dapat meningkatkan kesehatan dan kepandaian secara optimal, ASI juga membuat anak menjadi potensial memiliki perkembangan sosial yang baik (Roesli, 2005). Manfaat ASI menurut Prasetyono (2009) dan Roesli (2005) adalah sebagi berkut :1. Manfaat ASI bagi bayia. ASI sebagai nutrisib. ASI meningkatkan daya tahan tubuh.c. Meningkatkan kecerdasan.d. Menyusui meningkatkan jalinan kasih saying.e. Sebagai makanan tunggal untuk memenuhi semua kebutuhan pertumbuhan bayi sampai usia enam bulan.f. Mengandung asam lemak yang diperlukan otak sehingga bayi yang diberi ASI eksklusif potensial lebih pandai.g. Mengurangi resiko terkena penyakit kencing manis, kanker pada anak dan mengurangi kemungkinan menderita penyakit jantung.h. Menunjang perkembangan motorik sehingga bayi yang diberi ASI eksklusif akan lebih cepat bisa jalan.i. Menunjang perkembangan kepribadian emosional, kematangan spiritual dan hubungan sosial yang baik. 2. Manfaat ASI bagi Ibua. Mengurangi perdarahan setelah melahirkan. Apabila bayi segera disusui segera setelah dilahirkan, maka kemungkinan terjadinya perdarahan setelah melahirkan akan berkurang karena kadar oksitosin meningkat sehingga pembuluh darah menutup dan perdarahan akan akan lebih cepat terhenti.b. Mengurangi terjadinya anemia.c. Menjarangkan kehamilan. Menyusui merupakan cara kontrasepsi yang aman, murah dan cukup berhasil. Selama ibu memberi ASI eksklusif dan belum haid, 98 % tidak akan hamil pada enam bulan pertama setelah melahirkan dan 96% tidak akan hamil sampai bayi berusia 12 bulan. d. Mengecilkan rahim, kadar oksitosin ibu yang menyusui akan membantu rahim kembali ke ukuran sebelum hamil. e. Menurunkan kanker payudara. f. Pemberian ASI membantu mengurangi beban kerja ibu karena ASI tersedia kapan dan dimana saja. ASI selalu bersih, sehat dan tersedia dalam suhu yang cocok. g. Lebih ekonomis dan murah. h. ASI dapat segera diberikan pada bayi tanpa harus menyiapkan, memasak, air dan tanpa harus mencuci botol. i. Memberi kepuasan bagi ibu, ibu yang berhasil memberikan ASI eksklusifakan merasakan kepuasan, kebanggaan dan kebahagiaan yang mendalam.3. Manfaat ASI bagi Keluarga a. Tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk membeli susu formula botol susu serta gas untuk merebus air, susu dan peralatan lainnya. b. Menghemat biaya perawatan kesehatan karena bayi yang diberiASIeksklusif lebih sehat atau jarang sakit. c. Menghemat waktu keluarga. d. Menghemat tenaga keluarga karena ASI selalu siap tersedia. e. Menyusui sangat praktis, karena dapat diberikan dimana saja. Keluarga tidak perlu repot membawa botol susu, susu formula, air panas, dan lain sebagainya ketika bepergian. 4. Manfaat ASI bagi Negara a. Menghemat devisa negara karena tidak perlu mengimpor susu formula dan peralatan lainnya.b. Bayi sehat membuat negara lebih sehat.c. Penghematan pada sektor kesehatan, karena jumlah bayi yang sakit hanya sedikit.d. Memperbaiki kelangsungan hidup anak dengan menurunkan angka kematiane. Melindungi lingkungan karena tidak ada pohon yang digunakan sebagi kayu bakar untuk merebus air, susu dan peralatannya.f. Menciptakan generasi penerus bangsa yang tangguh dan berkualitas untuk membangun negara karena anak yang mendapat ASI dapat bertumbuh kembang secara optimal.2.6.1 Produksi ASIASI diproduksi / dibuat oleh jaringan kelenjar susu atau pabrik ASI, kemudian disalurkan melalui susu kedalam gudang susu yang terdapat dibawah daerah berwarna gelap atau coklat tua disekitar puting susu. Gudang susu sangat penting artinya karena merupakan tempat penampungan ASI (Soetjiningsih, 2007)ASI diproduksi atas hasil kerja gabungan antara hormon dan reflex. Proses terjadinya pengeluaran air susu dimulai atau dirangsang oleh hisapan mulut bayi. Gerakan tersebut merangsang kelenjar pituitary anterior untuk memproduksi sejumlah hormon prolaktin, yaitu hormon utama yang mengendalikan pengeluaran air susu. Proses pengeluaran susu juga tergantung pada let down reflex, yaitu reflex pengaliran atau pelepasan ASI. Hisapan bayi ini akan merangsang `kelenjar pituitary posterior untuk menghasilkan hormon oksitosin, yang dapat merangsang serabut otot halus didalam dinding saluran susu agar membiarkan susu dapat mengalir secara lancar (Roesli, 2007).Faktor faktor yang mengakibatkan reflex let down adalah; melihat bayi, mendengarkan suara bayi mencium bayi dan memikirkan bayi, atau ibu dalam keadaan tenang sedangkan faktor faktor yang menghambat reflex let down adalah; stress seperti keadaan bingung atau pikiran kacau, takut dan cemas, juga apabila ibu merasa marah, kesal juga malu menyusui ( Soetdjiningsih, 2007). 2.6.2 Komposisi ASI

Komposisi air susu ibu atau ASI berlainan dengan komposisi susu mamalia lainnya karena komposisi ASI setiap mamalia disesuaikan dengan laju pertumbuhan jenisnya sendiri, seperti susu sapi, komposisinya disesuaikan dengan laju pertumbuhan anak sapi, air susu ibu disesuaikan dengan laju pertumbuhan anak manusia. Memang ASI manusia merupakan salah satu ASI yang terencer sehingga bayi harus sering menyusu pada ibunya. Ini merupakan hal yang baik, karena akan menyebabkan terjalinnya hubungan ibu anak yang lebih sering. Hal ini akan memastikan terdapatnya perhatian dan perawatan yang intensif untung kelangsungan hidup serta pertumbuhan bayi manusia.ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, lactose dan garam garam organik yang disekresi oleh kedua kelenjar payudara ibu, sebagai makanan utama bayi. Komposisi ASI ini ternyata tidak konsisten dan tidak sama dari waktu kewaktu. Adapun perbedaan komposisi ASI dari hari ke hari yaitu kolostrum, air susu transisi/peralihan, air susu matang (mature).Menurut Prasetyono (2009) dan Roesli (2005) perbedaan komposisi ASI yang keluar dari hari pertama sampai hari keempat setelah melahirkan sebagai berikut:a. Kolostrum

Kolostrum merupakan ASI yang keluar dihari pertama sampai hari ke empat, mengandung cairan emas, cairan pelindung yang kaya zat anti infeksi dan berprotein tinggi. Cairan emas yang encer dan seringkali berwarna kuning atau dapat pula jernih yang mengandung sel hidup yang menyerupai sel darah putih yang dapat membunuh kuman penyakit. Kolostrum juga merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan mekonium dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran tersedia. Menyusui sangat praktis, karena dapat diberikan dimana saja dan kapan saja. Kolostrum lebih banyak mengandung protein, dan zat anti infeksi 10-17 kali lebih banyak dibanding dengan ASI yang matang. Volume kolostrum antara 150-300 ml/24 jam. b. ASI Transisi PeralihanASI transisi merupakan ASI yang keluar setelah kolostrum sampai sebelum menjadi ASI yang matang. Kadar protein makin merendah, sedangkan kadar karbohidrat dan lemak makin tinggi. Volume akan makin meningkat. c. ASI matang atau matureASI matang merupakan ASI yang keluar pada sekitar hari ke-14 dan seterusnya, komposisi relatif konstan. Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI cukup, ASI merupakan makanan satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur enam bulan. ASI tidak menggumpal jika dipanaskan.2.6.3 Manajemen Laktasi Manajemen laktasi adalah upaya - upaya yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. Dalam pelaksanaannya terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya. Adapun upaya upaya yang dilakukan adalah persiapan menyusui pada masa kehamilan (antenatal), Pada masa segera setelah persalinan (prenatal) dan pada masa menyusui selanjutnya (post-natal) (Depkes RI 2003). Menurut JNPK - KR (2008) dalam buku Asuhan Persalinan Normal, manajemen laktasi terdiri dari:a. Masa Kehamilan (Antenatal)1) KIE manfaat dan keunggulan ASI2) Meyakinkan ibu untuk menyusui bayinya3) Melakukan pemeriksaan kesehatan, kehamilan dan payudara4) Memantau kecukupan gizi ibu hamil5) Menciptakan suasana bahagia bagi keluarga terkait dengan kehamilan ibu.b. Segera setelah bayi lahir1) Memberikan ASI dini/IMD2) Membina ikatan emosional dan kehangatan ibu dan bayi3) Jangan memberikan cairan atau makanan pada bayi4) Biarakan ibu dan bayi bersama dalam 1 jam pertama dan setelah asuhan bayi baru lahir selesaic. Masa Neonatal1) Menjamin pelaksanaan ASI eksklusif 2) Rawat gabung ibu dan bayi3) Jaminan asupan ASI setiap bayi membutuhkan 4) Melaksanakan cara menyusui yang benar5) Upaya tetap mendapat ASI jika ibu dan bayi tidak selalu bersama 6) Vitamin A dosis tinggi bagi ibu nifas.7) Bimbing ibu untuk mengenali tanda jika bayi sudah mendapatkan ASI yang cukup 8) Anjurkan ibu untuk beristirahat, makan dan minum bagi diri dan bayinya9) Rujuk ke konselor ASI jika ibu mengalami masalah menyusui.d. Masa Menyusui Selanjutnya1) Pemenuhan ASI eksklusif dalam enam bulan pertama 2) Makanan pendamping dan ASI untuk 6 bulan kedua3) Memantau kecukupan gizi dan memberi cukup waktu istirahat bagi ibu menyusui.4) Memperoleh dukungan suami untuk menunjang keberhasilan ASI eksklusif5) Mengatasi masalah menyusui.

2.6.4 Alasan Pemberian ASI EksklusifBayi normal sudah dapat disusui segera setelah lahir. Menurut Wiknjosastro tahun 2005 di dalam Siregar (2008) lamanya disusui hanya untuk satu atau dua menit pada setiap ibu yang melahirkan karena :a. Air yang pertama atau kolostrum mengandung beberapa benda penangkis yang dapat mencegah infeksi pada bayi.b. Bayi yang minum ASI jarang menderita kelainan di saluran pencernaanc. Lemak dan protein ASI mudah mudah dicerna dan diserap secara lengkap dalam saluran pencernaan.d. ASI tidak menyebabkan bayi gemuk berlebihan.e. ASI merupakan susu buatan alam yang lebih baik dari susu buatan manapun oleh karena mengandung benda penangkis, suci hama, segar dan tersedia setiap waktu. ASI diberikan kepada bayi karena mengandung banyak manfaat dan kelebihan, diantaranya ialah menurunkan resiko terjadinya penyakit infeksi, misalnya infeksi saluran pencernaan atau diare, infeksi saluran pernafasan dan infeksi telinga. Sebagian besar pertumbuhan dan perkembangan bayi ditentukan oleh ASI eksklusif.ASI mengandung zat gizi yang tidak terdapat didalam susu formula. Komposisi zat dalam ASI antara lain 88,1% air, 3,8% lemak, 0,9% protein, 7% laktosa serta 0,2% zat gizi lainnya yang berupa Decosahexanoic Acid (DHA), Arachidonic Acid (AA) dan Shypnogelin (Prasetyono, 2009).

2.6.5 Tujuh langkah keberhasilan ASI eksklusifTerdapat tujuh langkah untuk keberhasilan pemberian ASI secara eksklusif. Langkah langkah ini sangat penting terutama bagi ibu pekerja. Menyusui memang akan mempengaruhi seluruh keluarga karena dukungan mereka sangat berharga.Langkah langkah yang terpenting dalam persiapan keberhasilan menyusui secara eksklusif menurut Roesli (2005) adalah sebagai berikut :a. Mempersiapkan payudara bila diperlukan b. Mempelajari ASI dan tatalaksana menyusuic. Menciptakan dukungan keluarga, teman dan sebagainya.d. Memilih tempat melahirkan yang sayang bayi seperti rumah sakit yang sayang bayi atau rumah bersalin yang sayang bayie. Memilih tenaga kesehatan yang mendukung pemberian ASI eksklusiff. Mencari ahli persoalan menyusui seperti klinik laktasi atau konsultasi laktasi (lactasion consultan) untuk persiapan apabila kita menemui kesukaran g. Menciptakan suatu sikap yang positif tentang ASI dan menyusui.

BAB IIIKERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka KonsepKerangka konsep adalah kerangka hubungan antara konsep konsep yang ingin diamati atau diukur malalui penalitian penelitian yang akan dilakukan ( Notoatmodjo, 2006:71). Kerangka konsep dari penelitian ini terdiri dari variabel independen (variabel bebas) dan variabel dependen (variabel terikat). Yang termasuk variabel independen pada penelitian ini adalah pengetahuan, pendidikan dan paritas sedangkan variabel independennya yaitu keberhasilan ASI eksklusif. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif, diantaranya yaitu faktor pengetahuan, pendidikan, paritas, sikap petugas kesehatan, sikap ibu menyusui, persepsi, pendapatan keluarga, pengaruh orang tua dan mitos mitos yang sering menghambat dalam pemberian ASI eksklusif. Dikarenakan alasan keterbatasan waktu, maka lingkup penelitian ini hanya mengenai faktor pengetahuan, pendidikan dan paritas.

Untuk memperjelas dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Variabel bebas Variabel Terikat

PengetahuanPendidikanParitasSikap petugas kesehatan Sikap ibu menyusui PersepsiPendapatan keluargaPengaruh orang tuaAdanya mitos

Pemberian ASI Eksklusif

Bagan 3.1 Kerangka Konsep penelitian

3.2 Definisi Operasional Menurut Badriah (2012;97) menjelaskan definisi operasional adalah suatu definisi merngenai variabel yang dirumuskan berdasarkan karakteristik variabel tersebut yang dapat diamati dan benar benar dilaksanakan oleh peneliti dengan variabel yang terlibat dalam penelitian. Definisi operasional dalam penelitian ini, dapat dirumuskan pada tabel berikut ini :

Tabel 3.2 Definisi OperasionalNoVariabelDefinisiOperasionalAlat UkurCara UkurHasil UkurSkala

1.Variabel Bebasa.Pengetahuan

b. Pendidikan

c. ParitasSegala sesuatu yang diketahui oleh responden tentang ASI ekslusif, definisi, manfaat, komposisi ASI, manajemen laktasi

Jenjang pendidikan formal terakhir yang diteliti responden

Paritas adalah jumlah kelahiran hidup/mati yang dialami wanita hamil kecuali keguguran.Kuesioner

Kuesioner

Kuesionerwawancaraobservasi

Mengisi kuesioner

wawancara1. Baik (>75 %)2. Cukup (60- 75%)3. Kurang ( SMA

1.Paritas rendah = 1-2 2. Paritas tinggi = > 2

Ordinal

Ordinal

Ordinal

2.Variabel Terikat-Pemberian ASI EksklusifKemampuan responden untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinyaKuesionerWawancara1. Memberi ASI eksklusif2. Tidak memberi ASI eksklusifOrdinal

BAB IVMETODOLOGI PENELITIAN

4.1 Jenis dan Rancangan Penelitian4.1.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk menggambarkan tentang suatu keadaan secara obyektif (Notoatmodjo, 2007:135)4.1.2 Rancangan PenelitianRancangan penelitian ini adalah pengumpulan data dengan menggunakan instrumen pengamatan langsung artinya penelitian dengan menggunakan alat evaluasi yang berbentuk pengamatan langsung, dapat dilakukan dengan tes, angket, rekaman gambar dan rekaman suara (Badriah, 2012;132)

4.2 Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel4.2.1 Populasi Populasi adalah sebagai kelompok subyek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian. Sebagai suatu populasi, kelompok subyek tersebut harus memiliki ciri-ciri atau karakteristik bersama yang membedakannya dari kelompok subyek yang lain (Badriah, 2012: 55). Populasi dalam penelitian ini adalah ibu menyusui yang mempunyai bayi 6 bulan 11 bulan yang ada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Maleber tahun 2013 sebanyak 214 orang.4.2.2 Teknik Pengambilan Sampel Menurut Badriah (2006:81) sampel adalah sebagian dari populasi, karena ia merupakan bagian dari populasi tentulah ia memiliki ciri ciri yang dimiliki oleh populasinya. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu menyusui yang mempunyai bayi berumur 6 bulan 11 bulan sebanyak 60 orang, dilaksanakan pada saat posyandu dari tanggal 19 juli 22 juli. teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik pengambilan acidental sampling. 4.3 Variabel PenelitianMenurut Badriah (2012 ; 91), menyatakan bahwa variabel sering disebut juga perubah, dalam setiap penelitian pasti melibatkan dan memusatkan perhatian pada variabel yang terjadi amatan. Variabel dapat diartikan sebagai ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki sekelompok yang lain.Menurut Badriah ( 2012;93), variabel penelitian berdasarkan fungsinya dibagi menjadi beberapa macam, antara lain;1. Variabel bebas adalah suatu variabel yang Variasinya mempengaruhi variasi lain. Dalam hal ini yang menjadi variabel bebas adalah pengetahuan, pendidikan dan paritas.2. Variabel terikat adalah variabel penelitian yang diukur untuk mengetahui besar efek atau pengaruh variabel lain. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pemberian ASI eksklusif.

4.4 Instrumen Pengumpulan DataMenurut Badriah (2012;114), instrumen data didefinisikan sebagai pengumpulan data yang telah baku atau alat pengukur data yang memiliki Validitas dan realibilitas.Untuk memperoleh informasi dari responden, dalam penelitian ini menggunakan alat pengukur data berupa kuesioner yang disusun sendiri oleh peneliti. Kuesioner dalam penelitian ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan tertutup, yang sudah disediakan jawabannya, sehingga responden dapat memilih dengan membubuhkan tanda ceklist () pada kolom jawaban yang sesuai. Kuesioner pertanyaan tertutup yaitu mengenai pengetahuan responden. Tentang pemberian ASI eksklusif dengan berpedoman pada tinjauan pustaka, kerangka konsep dan definisi operasional. Jumlah pertanyaan dalam kuesioner yaitu 20 pertanyaan. Untuk pertanyaan positif, bila jawaban benar diberi skore 1, bila jawaban salah diberi skore 0. Untuk pertanyaan negatif, bila jawaban benar diberi skore 0, bila jawaban salah diberi skore 1.

4.3 Teknik Pengumpulan Data 4.3.1 Sumber Data 1. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung dari subyek sebagai informasi yang dicari (Badriah,2012;126). Dalam penelitian ini data primer diperoleh dengan pengisian kuesioner oleh ibu menyusui yang mempunyai bayi berumur 6 12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Maleber tahun 2013. 2. Data Sekunder Menurut Badriah (2012;125), data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung didapat oleh peneliti dari subyek penelitian. Dalam penelitian ini data sekunder diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan dan UPTD Puskesmas Maleber tahun 2012.

4.4 Rancangan Analisa Data4.4.1 Pengolahan DataDalam melakukan analisa data, terlebih dahulu data harus diolah dengan tujuan mengubah data menjadi informasi. Dalam proses pengolahan data terdapat langkah langkah yang harus ditempuh (Hidayat, 2007;121 122) diantaranya: 1. Editing Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul.2. CodingCoding merupakan kegiatan pemberian kode numeric (angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting bila pengolahan dan analisa data menggunakan komputer.3. Data EntryData entry adalah kegiatan memasukan data yang telah dikumpulkan kedalam master tabel atau data base omputer, kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana atau dengan membuat tabel kontigensi.4. CleanningDimasukan kedalam master tabel, data yang tidak diperlukan akan dibuang. Data data masuk maka selanjutnya dilakukan pengecekan apakah data yang masuk sudah benar dengan cara melihat variasi dalam bentuk distribusi.

4.4.2 Analisa Data

Menurut Notoatmodjo (2006;188), setelah dilakukan pengolahan data, akan dilakukan analisa data dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Pada umumnya analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan prosentasi dari tiap variabel. Analisis statistik deskriptif dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui gambaran pengetahuan, pendidikan dan paritas. yang disajikan dalam bentuk tabel dan analisis prosentasi.Menurut Budiarto ( 2002;37), adapun untuk menghitung proporsi dari setiap variabel yang diteliti peneliti menggunakan rumus:P = f x 100 % n

Keterangan : P = Persentasef = Frekuensin = Jumlah Responden

4.5 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Maleber Kabupaten Kuningan. Waktu pelaksanaan dari bulan Juli - Agustus 2013. Untuk lebih jelasnya, jadwal penelitian disusun sebagai berikut ini:

Tabel 4.5 Jadwal Penelitian NoKegiatanMei 2013Juni 2013Juli 2013Agustus 2013

1234123412341234

1Konsultasi Awal

2Studi Pendahuluan

3Penyusunan Proposal

4Seminar Proposal

5Revisi Proposal

6Persiapan danPelaksanaanPenelitian

7Analisa Data dan Pembahasan

8Sidang KTI

9Revisi dan Penggandaan

BAB VHASIL PENELITIA N DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai gambaran faktor faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Maleber tahun 2013. Secara rinci hasil penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut: 5.1 Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian tentang gambaran faktor faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif di puskesmas Maleber yang meliputi pengetahuan, pendidikan dan paritas dengan dengan 60 responden yang disajikan dalam bentuk tabel, analisis persentase.5.1.1 Gambaran Ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif Di bawah ini disajikan tabel mengenai gambaran pengetahuan ibu dalam pemberian ASI eksklusif di wilayah puskesmas Maleber tahun 2013 sebagai berikut:

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI eksklusif pada bayi umur6-11bulan Tahun 2013

NoPemberian ASI eksklusifJumlahPersentase %

1. Ya29 48,3

2. Tidak31 51,7

Jumlah60 100

Sumber : Pengolahan Data Primer 2013

Berdasarkan data tabel 5.1 di atas dapat dijelaskan bahwa sebagian besar responden tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 31 orang (51,7%) dan responden yang memberikan ASI eksklusif sebanyak 29 orang (51,7%). 5.1.2 Gambaran Pengetahuan Ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif Di bawah ini disajikan tabel mengenai gambaran Pengetahuan ibu di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Maleber tahun 2013 sebagai berikut: Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu tentang Pemberian ASI eksklusif Tahun 2013

NoPengetahuaanJumlahPersentase %

1. Baik20 33,3

2. Cukup28 46,7

3. Kurang12 20

Jumlah60 100

Sumber : Pengolahan Data Primer 2013

Berdasarkan data tabel di atas dapat dijelaskan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan cukup sebanyak 28 orang (46,7%) dan sebagian kecil responden memiliki pengetahuan kurang sebanyak 20 orang (20%).Tabel 5.3 Distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif berdasarkan pengetahuan.

Pengetahuan

Pemberian ASI EksklusifTotal

YaTidak

n%n%n%

Baik126084020100

Cukup1553,61346,428100

Kurang216,61083,412100

Jumlah2948,33151,760100

Berdasarkan tabel diatas, responden dengan pengetahuan baik memberikan ASI eksklusif sebanyak 60% dan yang tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 40% sedangkan responden dengan pengetahuan kurang tidak memberikan ASI eksklusif 83,4% dan yang memberikan ASI eksklusif 16,6%..Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi pendidikan ibu di Puskesmas Maleber Tahun 2013

NoPendidikanJumlahPersentase %

1Pendidikan Rendah5083,3

2Pendidkan Tinggi1016,7

Jumlah60100

Sumber : Pengolahan Data Primer 2013 Tabel 5.4 menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan tingkat pendidikan rendah sebanyak 50 orang (83,3%) dan pendidikan tinggi sebanyak 10 orang (16,7%). Tabel 5.5 Distribusi frekuensi Pemberian ASI Eksklusif berdasarkan pendidikan

PendidikanPemberian ASI EksklusifTotal

YaTidak

n%n%n%

Pendidikan rendah ( SMA)2142295850100

Pendidikan tinggi (> SMA)88022010100

Jumlah2948,33151,760100

Pada tabel 5.5 menunjukkan hasil bahwa pada responden yang berpendidikan tinggi memiliki presentase lebih besar dalam memberikan ASI eksklusif (80 %) dan yang tidak memberikan ASI eksklusif (20%). Sedangkan pada responden yang berpendidikan rendah tidak memberikan ASI eksklusif 58% dan yang memberikan ASI eksklusif .42%. 5.1.3Gambaran Paritas ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif

Di bawah ini disajikan tabel mengenai gambaran tingkat paritas ibu dalam pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Maleber tahun 2013 sebagai berikut:

Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi paritas ibu di Puskesmas Maleber Tahun 2013

No Paritas JumlahPersentase %

1.Paritas Rendah 2338,3

2.Paritas Tinggi 3761,7

Jumlah 60100

Sumber : Pengolahan data primer 2013

Berdasarkan data tabel di atas dapat dijelaskan bahwa sebagian besar paritas responden yaitu paritas tinggi sebanyak 37 orang (61,7%) dan sebanyak 23 orang (38,3) paritas rendah. Tabel 5.7 Distribusi frekuensi Pemberian ASI Eksklusif berdasarkan paritas

ParitasPemberian ASI EksklusifTotal

YaTidak

n%n%n%

Paritas rendah (1 - 2)626,11773,923100

Paritas tinggi (>2)2362,21437,837100

Jumlah2948,33151,760100

Pada tabel diatas bahwa sebagian besar responden pada paritas tinggi yang memberikan ASI eksklusif 62,2% dan 37,8% yang tidak memberikan ASI eksklusif. Sedangkan paritas rendah yang memberikan ASI eksklusif 26,1% dan yang tidak memberikan ASI eksklusif 73,9%.

5.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian dapat diuraikan pembahasan sebagai berikut :

5.2.1 Gambaran Keberhasilan Ibu dalam pemberian ASI Eksklusif Sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif (51,7%), sedangkan yang memberikan ASI eksklusif adalah 48,3%. Hasil penelitian ini sesuai dengan data yang dilaporkan pada badan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2006 2007 bahwa pemberian ASI eksklusif pada bayi berusia 5 6 bulan tidak mengalami kenaikan yang signifikan, diperkotaan berkisar 1 % - 13 %, sedangkan dipedasaan 2 % - 13 %. . Penelitian ini juga didukung oleh data yang ada di Puskesmas Maleber tahun 2012, bahwa target pencapaian ASI eksklusif masih jauh dari target yang ditetapkan oleh Kabupaten Kuningan yaitu 70 %. Target yang baru dicapai oleh puskesmas Maleber sebesar 14,7 % (Dinkes Kab. Kuningan 2012). 5.2.2 Gambaran Pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden mempunyai pengetahuan cukup sebanyak 28 orang ( 46,7%), berpengetahuan kurang sebanyak 12 orang (20%) dan responden dengan pengetahuan baik sebanyak 20 orang ( 33,3%). Dalam penelitian ini, pengetahuan yang diteliti meliputi pengertian ASI eksklusif, manfaat ASI eksklusif, cara pemberian ASI eksklusif. Keberhasilan dalam pemberian ASI eksklusif sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan. Sebagian besar mereka yang memberikan ASI eksklusif adalah dari kelompok berpengetahuan baik (60%). Pengetahuan tidak hanya didapat dari pendidikan formal saja, tetapi bisa didapat dari berbagai sumber seperti media massa, penyuluhan, pengalaman dan informasi dari orang lain. Dari 60 responden yang diteliti sebagian besar berpengetahuan cukup, hal ini kemungkinan disebabkan karena penyuluhan dari petugas kesehatan yang cukup, informasi yang gencar dari media massa. Sesuai dengan penelitian Rogers dalam Notoatmodjo (2007 :140) Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan bersifat lebih langgeng dari perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Hal ini berkaitan dengan hasil wawancara pada ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang manfaat ASI eksklusif , ada yang mengetahui manfaat ASI eksklusif tetapi tidak diaplikasikan secara nyata dengan alasan bayinya rewel, menangis karena lapar sehingga menghambat keberhasilan pemberian ASI eksklusif.5.2. 3 Gambaran Pendidikan Ibu tentang ASI Eksklusif Hasil Penelitian menunjukan sebagian besar responden berpendidikan tinggi 83,3% sedangkan berpendidikan rendah sebanyak 16,7%. Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi perilaku dalam merubah polapikir seseorang artinya bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin meningkatkan pengetahuan untuk menyerap informasi dan meningkatkan kesadaran dalam pemberian ASI eksklusif. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2007) bahwa pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat, sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Ibu yang berpendidikan tinggi cenderung memberikan ASI eksklusif dikarenakan pola pikir dan pengetahuan yang lebih luas sehingga menumbuhkan kesadaran dalam penerapan pemberian ASI eksklusif. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yakni ibu yang memberikan ASI eksklusif dengan kategori pendidikan tinggi sebesar 80%. Sedangkan ibu dengan tingkat pendidikan yang rendah sebagian besar tidak memberikan ASI eksklusif(58%). Hasil ini dimungkinkan belum adanya kesadaran akan pentingnya ASI eksklusif, untuk itu diperlukan upaya untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif melalui konseling, penyuluhan tentang pentingnya ASI ksklusif, supaya ibu lebih memahami dan mempraktekannya.5.2.4 Gambaran Paritas Ibu tentang ASI Eksklusif Ibu yang menjadi responden dalam pendidikan ini sebagian besar terdiri dari kelompok paritas tinggi, yaitu memiliki anak >2 (61,7%). Dan apabila dikaitkan dengan teori menurut Saifuddin (2007) pengalaman dalam kehamilan atau persalinan sebelumnya akan berpengaruh terhadap pengetahuan ibu. Ibu yang memberikan ASI eksklusif berdasarkan paritas, sebagian besar dari kelompok paritas tinggi yaitu 62,2%. Dengan demikian dimungkinkan paritas tinggi lebih bisa menerapkan pemberian ASI eksklusif dikarenakan pengalaman sebelumnya dengan pemberian ASI eksklusif anaknya menjadi sehat dan tidak mudah sakit, lebih praktis dan menghemat biaya untuk membeli susu formula, serta menyadari manfaat gizi dari ASI eksklusif sehingga ibu mau memberikannya. Sedangkan paritas rendah masih ada yang belum memberikan ASI eksklusif dikarenakan masih belum adanya pengalaman , pengaruh dari orang tua dan keluarga, tidak sabar dikarenakan ASInya belum lancar dan bayinya rewel.

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah di lakukan tentang gambaran faktor- faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif di UPTD Puskesmas Maleber Tahun 2013, dapat disimpulkan sebagai berikut:1. Sebagian besar responden tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 31 orang (51,7%). 2. Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 28 orang ( 46.7%).3. Sebagian besar responden berpendidikan rendah sebanyak 50 orang (83,3%).4. Sebagian besar responden terdiri dari kelompok paritas tinggi sebanyak 37 orang (61,7%).

6.2 Saran Berdasarkan hasil temuan pada kesimpulan, maka penulis menyarankan hal-hal sebagai berikut 1. Bagi Ibu MenyusuiDiharapkan bagi ibu menyusui sebagai bahan informasi kesehatan dalam memberikan pengetahuan dan wawasan dalam pemberian ASI eksklusif 2. Bagi PuskesmasDiharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan masukan dan informasi dalam pengembangan program-program kesehatan masyarakat, khususnya dalam program KIA dan gizi.3. Bagi Program Studi D III Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan KuninganDiharapkan pada institusi pendidikan dapat dijadikan sebagai bahan referensi tambahan perpustakaan tentang ASI eksklusif.4. Bagi Peneliti LainDiharapkan dapat melakukan penelitian lanjutan mengenai pemberian ASI eksklusif, pada aspek yang lebih luas dengan metode yang lebih baik dalam menyempurnakan penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, ( 2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Badriah, D.L. ( 2012). Metodelogi Penelitian ilmu ilmu Kesehatan. Bandung: Multazam.

Budiarto, E (2002). Biostatistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC..Departemen Kesehatan, (2002). Manajemen Laktasi Buku Panduan bagi Bidan dan Petugas Kesehatan di Puskesmas, Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

DinKes Kabupaten Kuningan, (2012).Profil Kesehatan Kabupaten Kuningan JNPK KR. (2008).Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : JHPIEGO Corporation.

Green Lawrence (1999), Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku

Notoadmodjo. S. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Puskesmas Maleber, (2012). Data ASI eksklusif, tidak diterbitkan

Roesli, U. (2008), Inisiasi Menyusui Dini, Edisi Revisi, Pustaka Bunda.

Prasetyono, (2009) Resiko Pemberian MPASI terlalu Dini.http: www.Asuh.wikia. com,

Soetijiningsih, (2007) ASI:Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: EGC.Zainuddin, (2008), Pentingnya ASI untuk Peningkatan Gizi Bayi :www.parenting.com

DAFTAR LAMPIRANLampiran 1Daftar Riwayat HidupLampiran 2Surat Izin PenelitianLampiran 3Surat Balasan Izin PenelitianLampiran 4Surat Pernyataan Kesediaan RespondenLampiran 5Kisi Kisi Soal KuesionerLampiran 6Lembar KuesionerLampiran 7Tabel Tabulasi Lampiran 8Hasil Pengolahan DataLampiran 9Jadwal PenelitianLampiran 10Kartu Bimbingan

RIWAYAT HIDUP

I. DATA PRIBADINama Lengkap: KusniahJenis kelamin: PerempuanTempat, Tanggal Lahir: Kuningan, 14 Februari 1970Agama: IslamAlamat: Desa Kutaraja, Kecamatan MaleberII. PENDIDIKAN FORMAL1. SDN Luragung ( 1983 )2. SLTPN Cidahu ( 1986 )3. SPK Dustira Cimahi ( 1990 )4. PPB SPK Dustira Cimahi ( 1994 )5. Program Kebidanan STIKes Kuningan ( 2011 Sekarang )

PEMERINTAH KABUPATEN KUNINGAN DINAS KESEHATAN UPTD PUSKESMAS MALEBER KEC.MALEBER Jl. Raya Maleber Kuningan No. 575 Kode Pos 45575

SURAT KETERANGANNomor : 347/ PKM-MLB/ 2013

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama: TOHID, SKM.MM.KesNIP: 19670329 198803 1 003Jabatan: Kepala UPTD Puskesmas MaleberTempat Kerja: Desa Maleber Kecamatan MaleberMenerangkan bahwa :Nama: KUSNIAHNIM: EBX0110018Pekerjaan: MahasiswaAlamat: RT 18 RW 01 Desa Kutaraja kecamatan Maleber kabupaten Kuningan

Betul orang tersebut diatas Mahasiswa Program Studi D3 kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan kuningan (STIKKU) telah melaksanakan penelitian Gambaran Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif di UPTD Puskesmas Maleber Tahun 2013.Adapun Kegiatannya telah dilaksanakan pada tanggal 20 s/d 23 juli 2013.Demikian agar menjadi maklum adanya.

Maleber, 27 Agustus 2013Kepala UPTD Puskesmas Maleber

TOHID, SKM.MM.KesNIP. 19670329 198803 1 003

SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN

Kepada :Ibu-ibu RespondenDiWilayah Puskesmas Maleber

Dengan Hormat, Dalam rangka menyelesaikan Pendidikan Diploma III di Program Studi Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan, dengan ini penulis bermaksud ingin mengadakan penelitian dengan judul Faktor faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Puskesmas Maleber Tahun 2013.Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka penulis mohon kesediaan Ibu-ibu menjawab pertanyaan/kuesioner yang telah disediakan oleh penulis. Demi kelancaran pengisian kuesioner ini, maka penulis akan menjamin kerahasiaan jawaban yang diberikan oleh ibu-ibu.Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada ibu-ibu responden atas kerjasamanya. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi kita semua.

Kuningan, Juli 2013

Responden Penulis,

(.................) (Kusniah)

Lampiran 2Kisi Kisi Kuesioner

NoJenis Pertanyaan Jenis Pernyataan

Positif (-)Negatif (+)

1Pengertian1,2,3,11-

2Manfaat8,12,13,14,19-

4Alasan yang bertentangan4,5,6,7,10,15,16,17,18,20

5Waktu Pemberian9

KUESIONER

GAMBARAN FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS MALEBER TAHUN 2013Hari/tanggal:No. Responden:1.1 Petunjuk Pengisian 1.1.1 Memahami terlebih dahulu setiap pertanyaan yang ada 1.1.2 Jawablah pertanyaan pertanyaan di bawah ini dengan memberi tanda () pada kolom yang sesuai dengan jawaban anda1.2 Data Responden1.2.1 Nama Responden:1.2.2 Pendidikan :1.2.3 Jumlah anak: 1.2.4 Alamat:

HASIL PENGOLAHAN DATA

Frequencies

Statistics

KategoriPengetahuan

NValid60

Missing0

KategoriPengetahuan

FrequencyPercentValid PercentCumulative Percent

ValidBaik (> 75%)2033.333.333.3

Cukup (60 - 75%)2846.746.780.0

Kurang (> 75%)1220.020.0100.0

Total60100.0100.0

Tingkat Pendidikan

FrequencyPercentValid PercentCumulative Percent

ValidPendidikanRendah (SMA, SMP, SD)5083.383.383.3

PendidikanTinggi (PT)1016.716.7100.0

Total60100.0100.0

ParitasIbu

FrequencyPercentValid PercentCumulative Percent

ValidParitasRendah (1 - 2)2338.338.338.3

ParitasTinggi (> 2)3761.761.7100.0

Total60100.0100.0

REKAPITULASI HASIL PENELITIAN

NoNama RespondenPendidikanParitasNilai KuesionerKategori Tingkat Pengetahuan

Nilai %

1Ny. A121260Cukup

2Ny. Y121260Cukup

3Ny. N111785Baik

4Ny. S2120100Baik

5Ny. R121890Baik

6Ny. N121680Baik

7Ny. P121575Cukup

8Ny. Y121050Kurang

9Ny. R121575Cukup

10Ny. S211995Baik

11Ny. Y111890Baik

12Ny. A121470Cukup

13Ny. E121575Cukup

14Ny. T121260Cukup

15Ny. E121575Cukup

16Ny. M121155Kurang

17Ny. K111365Cukup

18Ny. M111890Baik

19Ny. I2120100Baik

20Ny. I211995Baik

21Ny. D121680Baik

22Ny. E121155Kurang

23Ny. Y121050Kurang

24Ny. M111260Cukup

25Ny. P211890Baik

26Ny. M111365Cukup

27Ny. A121575Cukup

28Ny. I121470Cukup

29Ny. N121575Cukup

30Ny. Y121155Kurang

31Ny. E111890Baik

32Ny. I121260Cukup

33Ny. Y121155Kurang

34Ny. N121050Kurang

35Ny. Y211890Baik

36Ny. W111575Cukup

37Ny. M121050Kurang

38Ny. E121680Baik

39Ny. N121575Cukup

40Ny. P111680Baik

41Ny. Y121260Cukup

42Ny. L121575Cukup

43Ny. N121575Cukup

44Ny. I211995Baik

45Ny. M121155Kurang

46Ny. I121155Kurang

47Ny. D121575Cukup

48Ny. I211995Baik

49Ny. N121260Cukup

50Ny. I111890Baik

51Ny. A211890Baik

52Ny. T121575Cukup

53Ny. L121155Kurang

54Ny. D111575Cukup

55Ny. C2120100Baik

56Ny. Y121575Cukup

57Ny. L111575Cukup

58Ny. I121470Cukup

59Ny. N111575Cukup

60Ny. E121155Kurang

72