13
FRAKTUR TERBUKA BAB I PENDAHULUAN Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan yang terstandar untuk mengurangi resiko infeksi. Selain mencegah infeksi juga diharapkan terjadi penyembuhan fraktur dan restorasi fungsi anggota gerak. Beberapa hal yang penting untuk dilakukan dalam penanggulangan fraktur terbuka yaitu operasi yang dilakukan dengan segera, secara hati- hati, debridemen yang berulang-ulang, stabilisasi fraktur, penutupan kulit dan bone grafting yang dini serta pemberian antibiotik yang adekuat. Sepertiga dari pasien fraktur terbuka biasanya mengalami cidera multipel. 1 Fraktur terbuka terjadi dalam banyak cara, dan lokasi serta tingkat keparahan cideranya berhubungan langsung dengan lokasi dan besarnya gaya yang mengenai tubuh. Fraktur terbuka dapat disebabkan oleh luka tembak, trauma kecelakaan lalu lintas, ataupun kecelakaan kerja yang berhubungan dengan himpitan pada jaringan lunak dan devitalisasi. 2 Fraktur terbuka sering membutuhkan pembedahan segera untuk membersihkan area mengalami cidera. Karena diskontinuitas pada kulit, debris dan infeksi dapat masuk ke lokasi fraktur dan mengakibatkan infeksi pada tulang. Infeksi pada tulang dapat

FRAKTUR TERBUKA

Embed Size (px)

DESCRIPTION

OPEN FRACTURE

Citation preview

Page 1: FRAKTUR TERBUKA

FRAKTUR TERBUKA

BAB I

PENDAHULUAN

Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan yang

terstandar untuk mengurangi resiko infeksi. Selain mencegah infeksi juga diharapkan terjadi

penyembuhan fraktur dan restorasi fungsi anggota gerak. Beberapa hal yang penting untuk

dilakukan dalam penanggulangan fraktur terbuka yaitu operasi yang dilakukan dengan segera,

secara hati-hati, debridemen yang berulang-ulang, stabilisasi fraktur, penutupan kulit dan bone

grafting yang dini serta pemberian antibiotik yang adekuat. Sepertiga dari pasien fraktur terbuka

biasanya mengalami cidera multipel. 1

Fraktur terbuka terjadi dalam banyak cara, dan lokasi serta tingkat keparahan cideranya

berhubungan langsung dengan lokasi dan besarnya gaya yang mengenai tubuh. Fraktur terbuka

dapat disebabkan oleh luka tembak, trauma kecelakaan lalu lintas, ataupun kecelakaan kerja yang

berhubungan dengan himpitan pada jaringan lunak dan devitalisasi.2

Fraktur terbuka sering membutuhkan pembedahan segera untuk membersihkan area

mengalami cidera. Karena diskontinuitas pada kulit, debris dan infeksi dapat masuk ke lokasi

fraktur dan mengakibatkan infeksi pada tulang. Infeksi pada tulang dapat menjadi masalah yang

sulit ditangani. Gustilo dan Anderson melaporkan bahwa 50,7 % dari pasien mereka memiliki

hasil kultur yang positif pada luka mereka pada evaluasi awal. Sementara 31% pasien yang

memiliki hasil kultur negatif pada awalnya, menjadi positif pada saat penutupan definitf. Oleh

karena itu, setiap upaya dilakukan untuk mencegah masalah potensial tersebut dengan

penanganan dini. 2,3,5

Page 2: FRAKTUR TERBUKA

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian

Fraktur terbuka adalah fraktur dimana terdapat hubungan fragmen fraktur dengan

dunia luar, baik ujung fragmen fraktur tersebut yang menembus dari dalam hingga ke

permukaan kulit atau kulit dipermukaan yang mengalami penetrasi suatu objek yang

tajam dari luar hingga kedalam. Fraktur terbuka sering timbul komplikasi berupa infeksi.

Infeksi bisa berasal dari flora normal di kulit ataupun bakteri pathogen khususnya

bakteri gram (-). Golongan flora normal kulit, seperti Staphylococus, Propionibacterium

acne , Micrococus dan dapat juga Corynebacterium. Selain dari flora normal kulit, hasil

juga menunjukan gambaran bakteri yang bersifat pathogen, tergantung dari paparan

(kontaminasi) lingkungan pada saat terjadinya fraktur. 4

Karena energi yang dibutuhkan untuk menyebabkan jenis patah tulang, pasien

sering memiliki luka tambahan, beberapa berpotensi mengancam nyawa, yang

memerlukan pengobatan. Terdapat 40-70% dari trauma berada di tempat lain dalam

tubuh bila ada fraktur terbuka. Fraktur terbuka mewakili spektrum cedera: Pertama,

masalah mendasar dasar patah tulang; kedua, pemaparan dari patah tulang terhadap

lingkungan; dan kontaminasi dari situs fraktur. 5

B. Klasifikasi

Menurut Gustilo dan Anderson, fraktur terbuka dibagi menjadi 3 kelompok :

Grade I : kulit terbuka < 1 cm, bersih, biasanya dari luar ke dalam; kontusio otot

minimal; fraktur simple transverse atar short oblique.

Page 3: FRAKTUR TERBUKA

Grade II : laserasi > 1 cm, dengan kerusakan jaringan lunak yang luas, kerusakan

komponen minimal hingga sedang; fraktur simple transverse atau short

oblique dengan kominutif yang minimal

Grade III : kerusakan jaringan lunak yang luas, termasuk otot, kulit, struktur

neurovaskularl seringkali merupakan cidera oleh energy yang besar

dengan kerusakan komponen yang berat.

III A : laserasi jaringan lunak yang luas, tulang tertutup secara adekuat;

fraktur segmental, luka tembak, periosteal stripping yang minimal

III B : cidera jaringan lunak yang luas dengan periosteal stirpping dan

tulang terekspos, membutuhkan penutupan flap jaringan lunak; sering

berhubungan dengan kontaminasi yang massif

III C : cidera vaskuler yang membutuhkan perbaikan 1

Page 4: FRAKTUR TERBUKA

Gambar 1. Klasifikasi Fraktur Terbuka Berdasarkan Gustilo dan Anderson

C. Etiologi

Fraktur terbuka disebabkan oleh energi tinggi trauma, paling sering dari pukulan

langsung, seperti dari jatuh atau tabrakan kendaraan bermotor. Dapat juga disebabkan

oleh luka tembak, maupun kecelakaan kerja. Tingkat keparahan cidera fraktur terbuka

berhubungan langsung dengan lokasi dan besarnya gaya yang mengenai tubuh. Ukuran

luka bisa hanya beberapa milimeter hingga terhitung diameter. Tulang mungkin terlihat

atau tidak terlihat pada luka. Fraktur terbuka lainnya dapat mengekspos banyak tulang

dan otot, dan dapat merusak saraf dan pembuluh darah sekitarnya. Fraktur terbuka ini

juga bisa terjadi secara tidak langsung, seperti cidera tipe energi tinggi yang memutar. 2, 5

D. Diagnosis

1. Anamnesis

Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatik, fraktur), baik yang

hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk

menggunakan anggota gerak. Anamnesis harus dilakukan dengan cermat karena

fraktur tidak selamanya terjadi di daerah trauma dan mungkin fraktur terjadi pada

daerah lain.

2. Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:

a. Syok, anemia atau perdarahan.

b. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang atau

organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen.

c. Fraktur predisposisi, misalnya pada fraktur patologis.

3. Pemeriksaan lokal

a. Inspeksi (Look)

Bandingkan dengan bagian yang sehat.

Perhatikan posisi anggota gerak.

Keadaan umum penderita secara keseluruhan.

Page 5: FRAKTUR TERBUKA

Ekspresi wajah karena nyeri.

Lidah kering atau basah.

Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan.

Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan

fraktur tertutup atau fraktur terbuka.

Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari.

Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan kependekan.

Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ-organ

lain.

Perhatikan kondisi mental penderita.

Keadaan vaskularisasi.

b. Palpasi (Feel)

Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh

sangat nyeri.

Temperatur setempat yang meningkat.

Nyeri tekan; nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh

kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang.

Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara

hati-hati.

Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri

radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota

gerak yang terkena.

Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal

daerah trauma , temperatur kulit.

Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui

adanya perbedaan panjang tungkai.

c. Pergerakan (Move)

Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif dan

pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. Pada

pederita dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat

sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar, disamping itu juga

Page 6: FRAKTUR TERBUKA

dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan

saraf.

4. Pemeriksaan Neurologis

Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris serta

gradasi kelelahan neurologis, yaitu neuropraksia, aksonotmesis atau neurotmesis.

Kelaianan saraf yang didapatkan harus dicatat dengan baik karena dapat

menimbulkan masalah asuransi dan tuntutan (klaim) penderita serta merupakan

patokan untuk pengobatan selanjutnya.

5. Pemeriksaan Radiologis

Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta ekstensi

fraktur. Untuk menghindarkan nyeri serta kerusakan jaringan lunak selanjutnya,

maka sebaliknya kita mempergunakan bidai yang bersifat radiolusen untuk

imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis.

E. Penanganan

Prinsip penanganan fraktur terbuka :

a. Semua fraktur terbuka dikelola secara emergensi.

b. Lakukan penilaian awal akan adanya cedera lain yang dapat mengancam jiwa.

c. Pemberian antibiotik.

d. Lakukan debridement dan irigasi luka.

e. Lakukan stabilisasi fraktur.

f. Pencegahan tetanus.

g. Lakukan rehabilitasi ektremitas yang mengalami fraktur.

Debridement adalah pengangkatan jaringan yang rusak dan mati sehingga luka

menjadi bersih. Untuk melakukan debridement yang adekuat, luka lama dapat diperluas,

jika diperlukan dapat membentuk irisan yang berbentuk elips untuk mengangkat kulit,

fasia serta tendon ataupun jaringan yang sudah mati. Debridement yang adekuat

merupakan tahapan yang penting untuk pengelolaan. Debridement harus dilakukan

sistematis, komplit serta berulang. Diperlukan cairan yang cukup untuk fraktur terbuka.

Grade I diperlukan cairan yang bejumlah 1-2 liter, sedangkan grade II dan grade III

diperlukan cairan sebanyak 5-10 liter, menggunakan cairan normal saline.

Page 7: FRAKTUR TERBUKA

Pemberian antibiotika adalah efektif mencegah terjadinya infeksi pada pada

fraktur terbuka. Antibiotika yang diberikan sebaiknya dengan dosis yang besar. Untuk

fraktur terbuka antibiotika yang dianjurkan adalah golongan cephalosporin dan

dikombinasi dengan golongan aminoglikosida.

Perawatan lanjutan dan rehabilitasi fraktur terbuka :

1. Hilangkan nyeri.

2. Mendapatkan dan mempertahankan posisi yang memadai dan flagmen patah tulang.

3. Mengusahakan terjadinya union.

4. Mengembalikan fungsi secara optimal dengan mempertahankan fungsi otot dan sendi

dan pencegahan komplikasi.

5. Mengembalikan fungsi secara maksimal dengan fisioterapi. 4, 5

Tindakan Pembedahan

Hal ini penting untuk menstabilkan patah tulang sesegera mungkin untuk

mencegah kerusakan jaringan yang lebih lunak. Tulang patah dalam fraktur terbuka

biasanya digunakan metode fiksasi eksternal atau internal. Metode ini memerlukan

operasi.

a. Fiksasi Internal

Selama operasi, fragmen tulang yang pertama direposisi (dikurangi) ke

posisi normal kemudian diikat dengan sekrup khusus atau dengan melampirkan

pelat logam ke permukaan luar tulang. Fragmen juga dapat diselenggarakan

bersama-sama dengan memasukkan batang bawah melalui ruang sumsum di tengah

tulang. Karena fraktur terbuka mungkin termasuk kerusakan jaringan dan disertai

dengan cedera tambahan, mungkin diperlukan waktu sebelum operasi fiksasi

internal dapat dilakukan dengan aman.

b. Fiksasi Eksternal

Fiksasi eksternal tergantung pada cedera yang terjadi. Fiksasi ini

digunakan untuk menahan tulang tetap dalam garis lurus. Dalam fiksasi eksternal,

pin atau sekrup ditempatkan ke dalam tulang yang patah di atas dan di bawah

tempat fraktur. Kemudian fragmen tulang direposisi. Pin atau sekrup dihubungkan

Page 8: FRAKTUR TERBUKA

ke sebuah lempengan logam di luar kulit. Perangkat ini merupakan suatu kerangka

stabilisasi yang menyangga tulang dalam posisi yang tepat.

Luka Kompleks (Complex Wounds)

Berdasarkan jumlah jaringan lunak yang hilang, luka-luka kompleks dapat

ditutupi dengan menggunakan metode yang berbeda, yakni :

a. Lokal Flap

Jaringan otot dari ekstremitas yang terlibat diputar untuk menutupi fraktur.

Kemudian diambil sebagian kulit dari daerah lain dari tubuh (graft) dan

ditempatkan di atas luka.

b. Free Flap

Beberapa luka mungkin memerlukan transfer lengkap jaringan. Jaringan ini sering

diambil dari bagian punggung atau perut. Prosedur free flap membutuhkan bantuan

dari seorang ahli bedah mikrovaskuler untuk memastikan pembuluh darah

terhubung dan sirkulasi tetap berjalan. 5

F. Komplikasi

1. perdarahan, syok septik kematian

2. septikemi, toksemia oleh karena infeksi piogenik

3. tetanus

4. gangren

5. kekakuan sendi

6. perdarahan sekunder

7. osteomielitis kronik

8. delayed union 5

Page 9: FRAKTUR TERBUKA

DAFTAR PUSTAKA

1. Kenneth J.K., Joseph D.Z. Handbook of Fractures, 3rd Edition. Pennsylvania. 2006.

2. Thomas M. S., Jason H.C. Open Fractures. Mescape Reference (update 2012, May 21).

Available from http://emedicine.medscape.com/article/1269242-overview#aw2aab6b3.

Accessed January 30, 2013.

3. Jonathan C. Open Fracture. Orthopedics (update 2012, May 27). Available from

http://orthopedics.about.com/cs/ brokenbones/g/openfracture.htm. Accessed January 30,

2013.

4. Sugiarso. Pola Kuman Penderita Fraktur Terbuka. Universitas Sumatera Utara. 2010.

Available from http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27630/6/Cover.pdf.

Accessed January 30, 2013.

5. American Academy of Orthopaedics Surgeons. 2011. Open Fractures. Available from

http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=A00582. Accessed January 30, 2013.