42
FRAKTUR RADIUS ULNA (Faisal Budisasmita, Andi Heryati, Luthfy Attamimi) I. PENDAHULUAN Dengan meningkatnya mobilitas disektor lalu lintas dan faktor kelalaian manusia sebagai salah satu penyebab paling sering terjadinya kecelakaan yang dapat menyebabkan fraktur. Penyebab yang lain dapat karena kecelakaan kerja, olah raga dan rumah tangga. Patah tulang antebrachii sering terjadi pada bagian distal yang umumnya disebabkan oleh gaya pematah langsung sewaktu jatuh dengan posisi tangan hiperekstensi. Hal ini dapat diterangkan oleh karena adanya mekanisme refleks jatuh di mana lengan menahan badan dengan posisi siku agak menekuk seperti gaya jatuhnya atlit atau penerjun payung. (1) Fraktur adalah gangguan pada kontinuitas tulang dengan atau tanpa letak perubahan letak fragmen tulang. Menurut Lane and Cooper, fraktur atau patah tulang adalah kerusakan jaringan atau tulang baik komplet maupun inkomplete yang berakibat tulang yang menderita tersebut kehilangan kontinuitasnya dengan atau tanpa adanya jarak yang menyebabkan fragmen. (2) Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah 1

Fraktur Radius Ulna

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Fraktur Radius Ulna

FRAKTUR RADIUS ULNA

(Faisal Budisasmita, Andi Heryati, Luthfy Attamimi)

I. PENDAHULUAN

Dengan meningkatnya mobilitas disektor lalu lintas dan faktor kelalaian

manusia sebagai salah satu penyebab paling sering terjadinya kecelakaan yang

dapat menyebabkan fraktur. Penyebab yang lain dapat karena kecelakaan kerja,

olah raga dan rumah tangga.

Patah tulang antebrachii sering terjadi pada bagian distal yang umumnya

disebabkan oleh gaya pematah langsung sewaktu jatuh dengan posisi tangan

hiperekstensi. Hal ini dapat diterangkan oleh karena adanya mekanisme refleks

jatuh di mana lengan menahan badan dengan posisi siku agak menekuk seperti

gaya jatuhnya atlit atau penerjun payung.(1)

Fraktur adalah gangguan pada kontinuitas tulang dengan atau tanpa letak

perubahan letak fragmen tulang. Menurut Lane and Cooper, fraktur atau patah

tulang adalah kerusakan jaringan atau tulang baik komplet maupun inkomplete

yang berakibat tulang yang menderita tersebut kehilangan kontinuitasnya dengan

atau tanpa adanya jarak yang menyebabkan fragmen.(2)

Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau

tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri,

dan jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi

itu lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang

patah, sedangkan pada fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan

tulang. (3)

Secara garis besar, fraktur dapat diklasifikasikan menjadi fraktur komplit

dan inkomplit. Pada fraktur komplit, tulang benra-benar patah menjadi dua

fragmen atau lebih. Fraktur inkomplit adalah patahnya tulang hanya pada satu sisi

saja. Fraktur komplit dapat dibagi lagi menjadi fraktur transversa, oblik/spiral,

impaksi, kominutif, dan intra-artikular. Fraktur inkomplit dapat dibagi menjadi

greenstick fracture, yang khas pada anak-anak, dan fraktur kompresi, yang

biasanya ditemukan pada orang dewasa. Fraktur avulsi terjadi bila suatu fragmen

tulang terputus dari bagian tulang sisanya yang disebabkan oleh tarikan

1

Page 2: Fraktur Radius Ulna

ligamentum atau pelekatan tendon yang kuat dan biasnya terjadi akibat dari

kontraksi otot secara paksa. (4)

Jenis-jenis fraktur :

Greenstick : tulang anak bersifat fleksibel, sehingga fraktur dapat berupa

bengkokan tulang di satu sisi dan patahan korteks di sisi lainnya. Tulang juga

dapat melengkung tanpa disertai patahan yang nyata (fraktur torus).

Comminuted : fraktur dengan fragmen multiple.

Avulsi : sebuah fragmen tulang terlepas dari lokasi ligamen atau insersi

tendon.

Patologis : fraktur yang terjadi pada tulang yang memang telah memiliki

kelainan, seringkali terjadi setelah trauma trivial, misalnya penyakit Paget,

osteoporosis, atau tumor.

Fraktur stres atau lelah : akibat trauma minor berulang dan kronis. Daerah

yang rentan antara lain metatarsal kedua atau ketiga (fraktur march), batang

tibia proksimal, fibula, dan batang femoral (pada pelari jarak jauh dan penari

balet).

Fraktur impaksi : fragmen-fragmen saling tertekan satu sama lain, tanpa

adanya garis fraktur yang jelas.

Fraktur lempeng epifisis pada anak di bawah usia 16 tahun. Fraktur ini dapat

dikelompokkan menjadi tipe 1 sampai 5 berdasarkan klasifikasi Salter Harris.(5)

2

Page 3: Fraktur Radius Ulna

Gambar 1. Beberapa tipe fraktur

(dikutip dari referensi 6)

II. INSIDENS

Fraktur yang terjadi dapat mengenai orang dewasa maupun anak-anak,

Fraktur yang mengenai lengan bawah pada anak sekitar 82% pada daerah

metafisis tulang radius distal, dan ulna distal sedangkan fraktur pada daerah

diafisis yang terjadi sering sebagai faktur type green-stick. Fraktur tulang radius

dapat terjadi pada 1/3 proksimal, 1/3 tengah atau 1/3 distal.(1)

III. ETIOLOGI

Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung,

misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan

ulna, dan dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada

tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.(1)

Fraktur tidak selalu disebabkan oleh trauma yang berat; kadang-kadang

trauma ringan saja dapat menimbulkan fraktur bila tulangnya sendiri terkena

penyakit tertentu. Jika trauma ringan yang terus menerus dapat menimbulkan

fraktur. Berdasarkan ini, maka dikenal berbagai jenis fraktur :

3

Page 4: Fraktur Radius Ulna

Fraktur disebabkan trauma yang berat

Fraktur spontan/patologik

Fraktur stress/fatigue

Trauma dapat bersifat:

Eksternal : tertabrak, jatuh dan sebagainya.

Internal : kontraksi otot yang kuat dan memdadak seperti pada serangan

epilepsi, tetanus, renjatan listrik, keracunan strinkin.

Trauma ringan tetapi terus menerus.

Fraktur patologik adalah fraktur yang terjadi pada tulang yang

sebelumnya telah mengalami proses patologik, misalnya tumor tulang primer atau

sekunder, myeloma multiple, kista tulang, osteomyelitis, dan sebagainya. Trau ma

ringan saja sudah dapat menimbulkan fraktur.

Fraktur stress disebabkan oleh trauma ringan tetpai terus menerus,

misalnya fraktur march pada metatarsal fraktur tibia pada penari balet, fraktur

fibula pelari jarak jauh, dan sebagainya.(6)

IV. ANATOMI DAN FISIOLOGI TULANG

Anatomi Tulang

Tulang dalam garis besarnya dibagi atas:

1. Tulang panjang

Yang termasuk tulang panjang misalnya femur, tibia, ulna dan humerus,

dimana daerah batas disebut diafisis dan daerah yang berdekatan dengan garis

efifisis disebut metafisis. Daerah ini merupakan suatu daerah yang sangat

sering ditemukan adanya kelainan atau penyakit, oleh karena daerah ini

merupakan daerah metabolic yang aktif dan banyak mengandung pembuluh

darah. Kerusakan atau kelainan berkembang pada daerah lempeng efifisis

akan menyebabkan kelainan pertumbuhan tulang.

2. Tulang pendek

Contoh dari tulang pendek antara lain tulang vertebra dan tulang-tulang

karpal.

4

Page 5: Fraktur Radius Ulna

3. Tulang pipih

Yang termasuk tulang pipih antara lain tulang iga, tulang scavula dan

tulang pelvis.(7)

Secara makroskop terdiri dari : (1) substantia compacta dan (2) substantia

spongiosa. Pada os Longum substantia compacta berada di bagian tengah dan

makin ke ujung tulang menjadi semakin tipis. Pada ujung tulang terdapat

substantia spongiosa, yang pada pertumbuhan memanjang tulang membentuk

cavitis medullaris. Lapisan superficialis tulang disebut periosteum dan lapisan

profunda disebut endosteum. Bagain tengah os longum disebut corpus, ujung

tulang berbentuk konveks atau konkaf, membesar, membentuk persendiaan

dengan tulang lainnya.

Dari aspek pertumbuhan, bagian tengah tulang disebut diaphysis, ujung

tulang disebut epiphysis dibentuk oleh cartilago, dan bagian diantara keduanya

disebut metaphysis, tempat peartumbuhan memanjang dari tulang (peralihan

antara cartilago menjadi osseum). (8)

Tulang terdiri atas daerah yang kompak pada bagian luar yang disebut

korteks dan bagian dalam yang bersifat spongiosa berbentuk trabekula dan

diluarnya dilapisi oleh periostenum. Pada anak lebih tebal daripada orang dewasa,

yang ,memungkingkan penyembuhan tulang pada anak lebih cepat dibandingkan

orang dewasa. (7)

5

Page 6: Fraktur Radius Ulna

Gambar 2. Contoh tulang pendek, panjang, pipih

(dikutip dari atlas anatomi Sobotta ; referensi 9)

Anatomi Radius

Ujung proximal radius membentuk caput radii (=capitulum radii),

berbentuk roda, letak melintang. Ujung cranial caput radii membentuk fovea

articularis (=fossa articularis) yang serasi dengan capitulum radii. Caput radii

dikelilingi oleh facies articularis, yang disebut circumferentia articularis dan

berhubungan dengan incisura radialis ulnae. caput radii terpisah dari corpus radii

oleh collum radii. Di sebelah caudal collum pada sisi medial terdapt tuberositas

radii. Corpus radii di bagian tengah agak cepat membentuk margo interossea

(=crista interossea), margo anterior (=margo volaris), dan margo posterior. Ujung

distal radius melebar ke arah lateral membentuk processus styloideus radii, di

bagian medial membentuk incisura ulnaris, dan pada facies dorsalis terdapat

sulcus-sulcus yang ditempati oleh tendo. Permukaan ujung distal radius

membentuk facies articularis carpi. (8)

6

Page 7: Fraktur Radius Ulna

Gambar 3. Tulang Radius

(dikutip dari atlas anatomi Sobotta ; referensi 9)

Anatomi Ulna

Ujung proximal ulna lebih besar daripada ujung distalnya. Hal yang

sebaliknya terdapat pada radius. Pada ujung proximal ulna terdapat incisura

trochlearis (= incisura semiulnaris), menghadap ke arah ventral, membentuk

persendian dengan trochlea humeri. Tonjolan di bagian dorsal disebut olecranon.

Di sebelah caudal incisura trochlearis terdapat processus coronoideus, dan di

sebelah caudalnya terdapat tuberositas ulnae, tempat perlekatan m.brachialis. di

bagian lateral dan incisura trochlearis terdapat incisura radialis, yang berhadapan

dengan caput radii. Di sebelah caudal incisura radialis terdapat crista musculi

supinatoris. Corpus ulnae membentuk facies anterior, facies posterior, facies

medialis, margo interosseus, margo anterior dan margo posterior. Ujung distal

ulna disebut caput ulnae (= capitulum ulnae). Caput ulnae berbentuk

circumferentia articularis, dan di bagian dorsal terdapt processus styloideus serta

silcus m.extensoris carpi ulnaris. Ujung distal ulna berhadapan dengan cartilago

triangularis dan dengan radius. (8)

7

Page 8: Fraktur Radius Ulna

Gambar 4. Tulang Ulna

(dikutip dari atlas anatomi Sobotta ; referensi 9)

Kedua tulang lengan bawah dihubungkan oleh sendi radioulnar yang

diperkuat oleh ligamentum anulare yang melingkari kapitulum radius, dan di

distal oleh sendi radioulnar yang diperkuat oleh ligamen radioulnar, yang

mengandung fibrokartilago triangularis. Membranes interosea memperkuat

hubungan ini sehingga radius dan ulna merupakan satu kesatuan yang kuat. Oleh

karena itu, patah yang hanya mengenai satu tulang agak jarang terjadi atau bila

patahnya hanya mengenai satu tulang, hampir selalu disertai dislokasi sendi

radioulnar yang dekat dengan patah tersebut.

Selain itu, radius dan ulna dihubungkan oleh otot antartulang, yaitu otot

supinator, m.pronator teres, m.pronator kuadratus yang membuat gerakan pronasi-

supinasi. Ketiga otot itu bersama dengan otot lain yang berinsersi pada radius dan

ulna menyebabkan patah tulang lengan bawah disertai dislokasi angulasi dan

rotasi, terutama pada radius.(1)

8

Page 9: Fraktur Radius Ulna

Gambar 5. Anatomi radius dan ulna

(dikutip dari atlas anatomi Sobotta ; referensi 9)

Fisiologi

Tulang adalah adalah suatu jaringan dinamis yang tersusun dari tiga jenis

sel : osteoblast, osteosit, dan osteoklas. Osteoblast membangun tulang dengan

membentuk kolagen tipe I dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan

osteoid melalui suatu proses yang disebut osifikasi. Ketika sedang aktif

menghasilkan jaringan osteoid, osteoblast mensekresikan sejumlah besar fosfatase

alkali, yang memegang peranan penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat

ke dalam matriks tulang. Sebagian dari fosfatase alkali akan memasuki aliran

darah, dengan demikian maka kadar fosfatase alkali di dalam darah dapat menjadi

indikator yang baik tentang tingkat pembentukan tulang setelah mengalami patah

tulang atau pada kasus metastasis kanker ke tulang. (10)

Osteoblas merupakan salah satu jenis sel hasil diferensiasi mesenkim yang

sangat penting dalam proses osteogenesis atau osifikasi. Sebagai sel, osteoblas

dapat memproduksi substansi organic intraseluler matriks, dimana klasifikasi

terjadi di kemudian hari. Jaringan yang tidak mengandung kalsium disebut osteoid

dan apabila klasifikasi terjadi pada matriks maka jaringan disebut tulang. Sesaat

9

Page 10: Fraktur Radius Ulna

setelah osteoblas dikelilingi oleh substansi organic intraseluler, disebut osteosit

dimana keadaaan ini terjadi dalam lakuna.

Sel yang bersifat multinukleus, tidak ditutupi oleh permukaan tulang

dengan sifat dan fungsi resopsi serta mengeluarkan tulang yang disebut osteoklas.

Kalsium hanya dapat dikeluarkan oleh tulang melalui proses aktivitas osteoklasin

yang menghilangkan matriks organic dan kalsium secara bersamaan dan disebut

deosifikasi.

Struktur tulang berubah sangat lambat terutama setelah periode

pertumbuhan tulang berakhir. Setelah fase ini tulang lebih banyak terjadi dalam

bentuk perubahan mikroskopik akibat aktifitas fisiologi tulang sebagai suatu

organ biokimia utama tulang.

Komposisi tulang terdiri atas:

Substansi organic : 35%

Substansi Inorganic : 45%

Air : 20%

Substansi organik terdiri atas sel-sel tulang serta substansi organic

intraseluler atau matriks kolagen dan merupakan bagian terbesar dari matriks

(90%), sedangkan adalah asam hialuronat dan kondroitin asam sulfur. Substansi

inorganic terutama terdiri atas kalsium dan fosfor dan sisanya oleh magnesium,

sodium, hidroksil, karbonat dan fluoride. Enzim tulang adalah alkali fosfatase

yang diproduksi oleh osteoblas yang kemungkinan besar mempunyai peranan

yang paling penting dalam produksi organic matriks sebelum terjadi kalsifikasi.(7)

Pada keadaan normal tulang mengalami pembentukan dan absorpsi pada

suatu tingkat yang konstan, kecuali pada masa pertumbuhan kanak-kanak ketika

terjadi lebih banyak pembentukan daripada absorpsi tulang. Pergantian yang

berlangsung terus-menerus ini penting untuk fungsi normal tulang dan membuat

tulang dapat berespon terhadap tekanan yang meningkat dan untuk mencegah

terjadi patah tulang. Betuk tulang dapat disesuaikan dalam menanggung kekuatan

mekanis yang semakin meningkat. Perubahan tersebut juga membantu

mempertahankan kekuatan tulang pada proses penuaan. Matriks organik yang

sudah tua berdegenerasi, sehingga membuat tulang secara relative menjadi lemah

10

Page 11: Fraktur Radius Ulna

dan rapuh. Pembentukan tulang yang baru memerlukan matriks organik baru,

sehingga memberi tambahan kekuatan pada tulang. (10)

V. DIAGNOSIS

Film polos tetap merupakan pemeriksaan penunjang radiologis yang utama

pada sistem skeletal. Gambar harus selalu diambil dalam dua proyeksi. (11)

Film polos merupakan metode penilaian awal utama pada pasien dengan

kecurigaan trauma skeletal. Setiap tulang dapat mengalami fraktur walaupun

beberapa diantaranya sangat rentan.

Tanda dan gambaran yang khas pada fraktur adalah :

Garis fraktur : garis fraktur dapat melintang di seluruh diameter tulang atau

menimbulkan keretakan pada tepi kortikal luar yang normal pada fraktur

minor.

Pembengkakan jaringan lunak : biasanya terjadi setelah terjadi fraktur.

Iregularis kortikal : sedikit penonjolan atau berupa anak tangga pada korteks.(5)

Posisi yang dianjurkan untuk melakukan plain x-ray adalah AP dan lateral

view. Posisi ini dibutuhkan agar letak tulang radius dan tulang ulna tidak

bersilangan, serta posisi lengan bawah menghadap ke arah datangnya sinar (posisi

anatomi). Sinar datang dari arah depan sehingga disebut AP (Antero-Posterior) (12)

Terdapat tiga posisi yang diperlukan pada foto pergelangan tangan untuk

menilai sebuah fraktur distal radius yaitu AP, lateral, dan oblik. Posisi AP

bertujuan untuk menilai kemiringan dan panjang os radius, posisi lateral bertujuan

untuk menilai permukaan artikulasi distal radius pada posisi normal volar (posisi

anatomis).(13)

Berikut ini gejala klinis dari beberapa jenis fraktur yang terdapat pada

fraktur radius dan ulna :

Fraktur Kaput Radius

Fraktur kaput radius sering ditemukan pada orang dewasa tetapi hampir

tidak pernah ditemukan pada anak-anak. Fraktur ini kadang-kadang terasa nyeri

saat lengan bawah dirotasi, dan nyeri tekan pada sisi lateral siku memberi

petunjuk untuk mendiagnosisnya.

11

Page 12: Fraktur Radius Ulna

Fraktur Leher Radius

Jatuh pada tangan yang terentang dapat memaksa siku ke dalam valgus

dan mendorong kaput radius pada kapitulum. Pada orang dewasa kaput radius

dapat retak atau, patah sedangkan pada anak-anak tulang lebih mungkin

mengalami fraktur pada leher radius. Setelah jatuh, anak mengeluh nyeri pada

siku. Pada fraktur ini kemungkinan terdapat nyeri tekan pada kaput radius dan

nyeri bila lengan berotasi.

Fraktur Diafisis Radius

Kalau terdapat nyeri tekan lokal, sebaiknya dilakukan pemeriksaan sinar-X

Fraktur Distal Radius

Fraktur Distal Radius dibagi dalam :

1) Fraktur Galeazzi

Fraktur Galeazzi yaitu Fraktur pada 1/3 distal radius disertai dislokasi

sendi radio-ulna distal. Fragmen distal mengalami pergeseran dan angulasi ke

arah dorsal. Dislokasi mengenai ulna ke arah dorsal dan medial. Fraktur ini

akibat terjatuh dengan tangan terentang dan lengan bawah dalam keadaan

pronasi, atau terjadi karena pukulan langsung pada pergelangan tangan bagian

dorsolateral. Fraktur Galeazzi jauh lebih sering terjadi daripada fraktur

Monteggia. Ujung bagian bawah ulna yang menonjol merupakan tanda yang

mencolok. Perlu dilakukan pemeriksaan untuk lesi saraf ulnaris, yang sering

terjadi.(1,14,15)

Gambar 6. Fraktur Galeazzi

(dikutip dari referensi 6)

12

Page 13: Fraktur Radius Ulna

2) Fraktur Colles

Fraktur ini akibat terjatuh dengan tangan terentang. Fraktur radius terjadi

di korpus distal, biasanya sekitar 2 cm dari permukaan artikular. Fragmen

distal bergeser ke arah dorsal dan proksimal, memperlihatkan gambaran

deformitas “garpu-makan malam” (dinner-fork). Kemungkinan dapat disertai

dengan fraktur pada prosesus styloideus ulna. (14)

Fraktur radius bagian distal (sampai 1 inci dari ujung distal) dengan

angulasi ke posterior, dislokasi ke posterior dan deviasi pragmen distal ke

radial. Dapat bersifat kominutiva. Dapat disertai fraktur prosesus stiloid ulna.

Fraktur collees dapat terjadi setelah terjatuh, sehingga dapat menyebabkan

fraktur pada ujung bawah radius dengan pergeseran posterior dari fragmen

distal (1,6)

3) Fraktur Smith

Fraktur ini akibat jatuh pada punggung tangan atau pukulan keras secara

langsung pada punggung tangan. Pasien mengalami cedera pergelangan

tangan, tetapi tidak terdapat deformitas. Fraktur radius bagian distal dengan

angulasi atau dislokasi fragmen distal ke arah ventral dengan diviasi radius

tangan yang memberikan gambaran deformitas “sekop kebun” (garden

spade). (1,6,14)

Gambar 7. Fraktur Colles dan fraktur Smith

(Dikutip dari referensi 6)

13

Page 14: Fraktur Radius Ulna

Gambar 8. Gambaran radiologi fraktur Smith

(dikutip dari referensi 16)

Gambar 9. Gambaran radiologi fraktur Colles

(dikutip dari referensi 16)

4) Fraktur Lempeng Epifisis

Fraktur Lempeng Epifisis merupakan fraktur pada tulang panjang di

daerah ujung tulang pada dislokasi sendi serta robekan ligamen.(21)

Klasifikasi menurut Salter-Harris merupakan klasifikasi yang dianut dan

dibagi dalam 5 tipe :(21)

14

Page 15: Fraktur Radius Ulna

Gambar 10. Klasifikasi Salter Harris

(dikutip dari referensi 20)

Paling umum adalah tipe II, dengan fragmen metafisis triangular terlihat di

dorsal.(20)

- Tipe I

Terjadi pemisahan total lempeng epifisis tanpa adanya fraktur pada tulang,

sel-sel pertumbuhan lempeng epifisis masih melekat pada epifisis. Fraktur

ini terjadi oleh karena adanya shearing force dan sering terjadi pada bayi

baru lahir dan pada anak-anak yang lebih muda. Pengobatan dengan

reduksi tertutup mudah oleh karena masih ada perlekatan periosteum yang

utuh dan intak. Prognosis biasanya baik bila direposisisdengan cepat.(21)

Gambar 11. Cedera Salter Harris tipe I

(dikutip dari referensi 20)

15

Page 16: Fraktur Radius Ulna

- Tipe II

Merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan. Garis fraktur melalui

sepanjang lempeng epifisis dan membelok ke metafisis dan akan

membentuk suatu fragmen metafisis yang berbentuk segitiga yang disebut

tanda Thurson-Holland. Sel-sel pertumbuhan pada lempeng epifisis juga

masih melekat. Trauma yang menghasilkan jenis fraktur ini biasanya

terjadi pada anak-anak yang lebih tua. Periosteum mengalami robekan

pada daerah konveks tetapi tetap utuh pada daerah konkaf. Pengobatan

dengan reposisi secepatnya tidak begitu sulit kecuali bila reposisi

terlambat harus dilakukan tindakan operasi. Prognosis biasanya baik,

tergantung kerusakan pembuluh darah.(21)

Gambar 12. Cedera Salter Harris tipe II pada tulang radius ulna

(dikutip dari referensi 20)

- Tipe III

Fraktur lempeng epifisis tipe III merupakan fraktur intra-artikuler. Garis

fraktur mulai permukaan sendi melewati lempeng epifisis kemudian

sepanjang garis lempeng epifisis. Jenis fraktur ini bersifat intra-artikuler

dan biasanya ditemukan pada epifisis tibia distal. Oleh karena fraktur ini

bersifat intra-artikuler dan diperlukan reduksi yang akurat maka sebaiknya

dilakukan operasi terbuka dan fiksasi interna dengan mempergunakan pin

yang halus.

16

Page 17: Fraktur Radius Ulna

Gambar 13. Cedera Salter Harris tipe III atau Tillaux fracture

(dikutip dari referensi 20)

- Tipe IV

Fraktur tipe ini juga merupakan fraktur intra-artikuler yang melalui

permukaan sendi memotong epifisis serta seluruh lapisan epifisis dan

berlanjut pada sebagian metafisis. Jenis fraktur ini misalnya fraktur

kondilus lateralis humeri pada anak-anak. Pengobatan dengan operasi

terbuka dan fiksasi interna dilakukan karena fraktur tidak stabil akibat

tarikan otot. Prognosis jelek bila reduksi tidak dilakuakn.

Gambar 14. Cedera Salter Harris tipe IV

(dikutip dari referensi 20)

17

Page 18: Fraktur Radius Ulna

- Tipe V

Fraktur tipe V merupakan fraktur akibat hancurnya epifisis yang

diteruskan pada lempeng epifisis. Biasanya terjadi pada daerah sendi

penopang badan yaitu sendi pergelangan kaki dan sendi lutut. Diagnosa

sulit karena secara radiologik tidak dapat dilihat. Prognosis jelek karena

dapat terjadi kerusakan sebagian atau seluruh lempeng pertumbuhan.

Gambar 15. Cedera Salter Harris tipe V

(dikutip dari referensi 20)

5) Fraktur Monteggia

Fraktur jenis ini disebabkan oleh pronasi lengan bawah yang dipaksakan

saat jatuh atau pukulan secara langsung pada bagian dorsal sepertiga

proksimal dengan angulasi anterior yang disertai dengan dislokasi anterior

kaput radius.(14)

Gambar 16. Fraktur Monteggia

(dikutip dari referensi 6)

18

Page 19: Fraktur Radius Ulna

CT scan di gunakan untuk mendeteksi letak struktur fraktur yang

kompleks dan menentukan apakah fraktur tersebut merupakan fraktur kompresi,

burst fraktur atau fraktur dislokasi. Biasanya dengan scan MRI fraktur ini akan

lebih jelas mengevaluasi trauma jaringan lunak, kerusakan ligament dan adanya

pendarahan.(22)

Gambar 17. Gambaran CT Scan Fraktur Radius Ulna

(dikutip dari referensi 23)

VI. PENATALAKSANAAN

Fraktur dari distal radius adalah jenis fraktur yang paling sering terjadi.

Fraktur radius dan ulna biasanya selalu berupa perubahan posisi dan tidak stabil

sehingga umumnya membutuhkan terapi operatif. Fraktur yang tidak disertai

perubahan posisi ekstraartikular dari distal radius dan fraktur tertutup dari ulna

dapat diatasi secara efektif dengan primary care provider. Fraktur distal radius

umumnya terjadi pada anak-anak dan remaja, serta mudah sembuh pada

kebanyakan kasus. (13)

19

Page 20: Fraktur Radius Ulna

Terapi fraktur diperlukan konsep ”empat R” yaitu : rekognisi,

reduksi/reposisi, terensi/fiksasi, dan rehabilitasi.

1. Rekognisi atau pengenalan adalah dengan melakukan berbagai diagnosa yang

benar sehingga akan membantu dalam penanganan fraktur karena perencanaan

terapinya dapat dipersiapkan lebih sempurna.

2. Reduksi atau reposisi adalah tindakan mengembalikan fragmen-fragmen

fraktur semirip mungkin dengan keadaan atau kedudukan semula atau keadaan

letak normal.

3. Retensi atau fiksasi atau imobilisasi adalah tindakan mempertahankan atau

menahan fragmen fraktur tersebut selama penyembuhan.

4. Rehabilitasi adalah tindakan dengan maksud agar bagian yang menderita

fraktur tersebut dapat kembali normal.(2)

Gambar 18 . Proses penyembuhan fraktur

(dikutip dari referensi 6)

Secara rinci proses penyembuhan fraktur dapat dibagi dalam beberapa

tahap sebagai berikut :

1. Fase hematoma

20

Page 21: Fraktur Radius Ulna

Pada mulanya terjadi hematoma dan disertai pembengkakan jaringan

lunak, kemudian terjadi organisasi (proliferasi jaringan penyambung muda dalam

daerah radang) dan hematoma akan mengempis. Tiap fraktur biasanya disertai

putusnya pembuluh darah sehingga terdapat penimbunan darah di sekitar fraktur.

Pada ujung tulang yang patah terjadi ischemia sampai beberapa milimeter dari

garis patahan yang mengakibatkan matinya osteocyt pada daerah fraktur tersebut.

2. Fase proliferatif

Proliferasi sel-sel periosteal dan endoosteal, yang menonjol adalah

proliferasi sel-sel lapisan dalam periosteal dekat daerah fraktur. Hematoma

terdesak oleh proliferasi ini dan diabsorbsi oleh tubuh. Bersamaan dengan

aktivitas sel-sel sub periosteal maka terjadi aktifitas sel-sel dari kanalis medularis

dari lapisan endosteum dan dari bone marrow masing-masing fragmen. Proses

dari periosteum dan kanalis medularis dari masing-masing fragmen bertemu

dalam satu preses yang sama, proses terus berlangsung kedalam dan keluar dari

tulang tersebut sehingga menjembatani permukaan fraktur satu sama lain. Pada

saat ini mungkin tampak di beberapa tempat pulau-pulau kartilago, yang mungkin

banyak sekali,walaupun adanya kartilago ini tidak mutlak dalam penyembuhan

tulang. Pada fase ini sudah terjadi pengendapan kalsium.

3. Fase pembentukan callus

Pada fase ini terbentuk fibrous callus dan disini tulang menjadi

osteoporotik akibat resorbsi kalsium untuk penyembuhan. Sel-sel osteoblas

mengeluarkan matriks intra selluler yang terdiri dari kolagen dan polisakarida,

yang segera bersatu dengan garam-garam kalsium, membentuk tulang immature

atau young callus, karena proses pembauran tersebut, maka pada akhir stadium ter

dapat dua macam callus yaitu didalam disebut internal callus dan diluar disebut

external callus.

4. Fase konsolidasi

Pada fase ini callus yang terbentuk mengalami maturisasi lebih lanjut oleh

aktivitas osteoblas, callus menjadi tulang yang lebih dewasa (mature) dengan

pembentukan lamela-lamela). Pada stadium ini sebenarnya proses penyembuhan

sedah lengkap. Pada fase ini terjadi pergantian fibrous callus menjadi primary

callus. Pada saat ini sudah mulai diletakkan sehingga sudah tampak jaringan yang

21

Page 22: Fraktur Radius Ulna

radioopaque. Fase ini terjadi sesudah 4 (empat) minggu, namun pada umur-umur

lebih mudah lebih cepat. Secara berangsur-angsur primary bone callus diresorbsi

dan diganti dengan second bone callus yang sudah mirip dengan jaringan tulang

yang normal.

5. Fase remodeling

Pada fase ini secondary bone callus sudah ditimbuni dengan kalsium yang

banyak dan tulang sedah terbentuk dengan baik, serta terjadi pembentukan

kembali dari medula tulang. Apabila union sudah lengkap, tulang baru yang

terbentuk pada umumnya berlebihan, mengelilingi daerah fraktur di luar maupun

didalam kanal, sehingga dapat membentuk kanal medularis. Dengan mengikuti

stress/tekanan dan tarik mekanis, misalnya gerakan, kontraksi otot dan

sebagainya, maka callus yang sudah mature secara pelan-pelan terhisap kembali

dengan kecepatan yang konstan sehingga terbentuk tulang yang sesuai dengan

aslinya. (2)

Ilizarov, Bone lengthening, Bone distraction osteogenesis atau Callotaxis

adalah suatu istilah yang sama dalam program pemanjangan tulang. Ilizarov

dikembangkan pertama kali oleh seorang dari Siberia Rusia yang bernama Gabriel

Abramovich Ilizarov. Ilizarov adalah suatu alat eksternal fiksasi yang berfungsi

untuk menjaga agar tidak terjadi pergeseran tulang dan untuk membantu dalam

proses pemanjangan tulang.

Gambar 19. Callotaxis

(Dikutip dari referensi 17)

Indikasi pemasangan Ilizarov :

1. Menyamakan panjang lengan atau tungkai yang tidak sama,

22

Page 23: Fraktur Radius Ulna

2. Menyamakan dan menumbuhkan daerah tulang yang hilang akibat patah tulang

terbuka yang hilang,

3. Membuang tulang yang infeksi dan diisi dengan cara menumbuhkan tulang

yang sehat,

4. Menambah tinggi badan.

Kontra indikasi pemasangan Ilizarov :

1. Open fraktur dengan soft tissue yang perlu penanganan lanjut yang lebih baik

bila dipasang single planar fiksator,

2. Fraktur intra artikuler yang perlu ORIF,

3. Simple fraktur (bisa dengan pemasangan plate and screw nail wire).(17)

VII. KOMPLIKASI

A. Komplikasi Dini

Sirkulasi darah pada jari harus diperiksa; pembalut yang menahan slab

perlu dibuka atau dilonggarkan. Cedera saraf jarang terjadi, dan yang

mengherankan tekanan saraf medianus pada saluran karpal pun jarang terjadi.

Kalau hal ini terjadi, ligamen karpal yang melintang harus dibelah sehingga

tekanan saluran dalam karpal berkurang. Distroft refleks simpatetik mungkin amat

sering ditemukan, tetapi untungnya ini jarang berkembang lengkap menjadi

keadaan atrofi Sudeck. Mungkin terdapat pembengkakan dan nyeri tekan pada

sendi-sendi jari, waspadalah jangan sampai melalaikan latihan tiap hari. Pada

sekitar 5% kasus, pada saat gips dilepas tangan akan kaku dan nyeri Berta ter-

dapat tanda-tanda ketidakstabilan vasomotor. Sinar-X memperlihatkan

osteoporosis dan terdapat peningkatan aktivitas pada scan tulang.(1)

Komplikasi patah tulang dapat dibagi menjadi komplikasi segera,

komplikasi dini, dan komplikasi lambat atau kemudian. Komplikasi segera terjadi

pada saat patah tulang atau segera setelahnya, komplikasi dini terjadi dalam

beberapa hari setelah kejadian, dan komplikasi kemudian terjadi lama setelah

tulang patah. Pada ketiganya, dibagi lagi menjadi komplikasi umum dan lokal.(18)

B. Komplikasi lanjut

Malunion

23

Page 24: Fraktur Radius Ulna

Malunion sering ditemukan, baik karena reduksi tidak lengkap atau karena

pergeseran dalam gips yang terlewatkan. Penampilannya buruk, kelemahan dan

hilangnya rotasi dapat bersifat menetap. Pada umumnya terapi tidak diperlukan.

Bila ketidakmampuan hebat dan pasiennya relatif muda, 2,5 cm bagian bawah

ulna dapat dieksisi untuk memulihkan rotasi, dan deformitas radius dikoreksi

dengan osteotomi.

Penyatuan lambat dan non-union pada radius tidak terjadi, tetapi prosesus

stiloideus ulnar sering hanya diikat dengan jaringan fibrosa saja dan tetap

mengalami nyeri dan nyeri tekan selama beberapa bulan. Kekakuan pada bahu,

karena kelalaian, adalah komplikasi yang sering ditemukan. Kekakuan

pergelangan tangan dapat terjadi akibat pembebatan yang lama.(1)

Osteomyelitis

Adapun komplikasi infeksi jaringan tulang disebut sebagai

osteomyelitis, dan dapat timbul akut atau kronik. Bentuk akut dicirikan

dengan adanya awitan demam sistemik maupun manifestasilocal yang berjalan

dengan cepat. Pada anak-anak infeksi tulang seringkali timbul sebagaikomplikasi

dari infeksi pada tempat-tempat lain seperti infeksi faring (faringitis), telinga

(otitis media) dan kulit (impetigo). Bakterinya (Staphylococcus

aureus, Streptococcus, Haemophylus influenzae) berpindah melalui aliran

darah menuju metafisis tulang didekat lempeng pertumbuhan dimana darah

mengalir ke dalam sinusoid.

Akibat perkembangbiakan bakteri dan nekrosis jaringan, maka tempat

peradangan yang terbatas ini akan tersas nyeri dan nyeri tekan. Perlu sekali

mendiagnosis ini sedini mungkin, terutama pada anak-anak, sehingga pengobatan

dengan antibiotika dapat dimulai, dan perawatan pembedahan yang sesuai dapat

dilakukan dengan pencegahan penyebaran infeksi yang masih terlokalisasi dan

untuk mencegah jangan sampai seluruh tulang mengalami kerusaskan yang

dapatmenimbulkan kelumpuhan. Diagnosis yang salah pada anak-anak

yang menderita osteomyelitis dapat mengakibatkan keterlambatan dalam

memberikan pengobatan yang memadai.

24

Page 25: Fraktur Radius Ulna

(a) (b)

Gambar 20. (a) Osteomyelitis Akut pada Radius Ulna (b) Osteomyelitis Kronik

(Dikutip dari referensi 24)

Pada orang dewasa, osteomyelitis juga dapat awali oleh bakteri dalam

aliran darah, Namun biasanya akibat kontaminasi jaringan saat cedera atau

operasi. Osteomyelitis kronik adalah akibat dari osteomyelitis akut

yang tidak di tangani dengan baik. Seperti yang sudah disebutkan

sebelumnya, osteomyelitis sangan resisten terhadap pengobatan dengan

antibiotika. Infeksi tulang sangat sulit untuk ditangani, bahkan tindakan drainase

dan debridement, serta pemberian antibiotika yang tepat masih tidak cukup untuk

menghilangkan penyakit.( 3 )

25

Page 26: Fraktur Radius Ulna

VIII. PROGNOSIS

Proses penyembuhan patah tulang adalah proses biologis alami yang akan

terjadi pada setiap patah tulang, tidak peduli apa yang telah dikerjakan dokter

pada patahan tulang tersebut. Pada permulaan akan terjadi perdarahan di sekitar

patahan tulang, yang disebabkan oleh terputusnya pembuluh darah pada tulang

dan periost yang disebut dengan fase hematoma, kemudian berubah menjadi fase

jaringan fibrosis, lalu penyatuan klinis, dan pada akhirnya fase konsolidasi.(18)

Waktu yang diperlukan untuk penyembuhan fraktur tulang sangat

bergantung pada lokasi fraktur dan umur pasien. Rata-rata masa penyembuhan

fraktur:

Lokasi Fraktur Masa Penyembuhan Lokasi Fraktur Masa Penyembuhan

1. Pergelangan

tangan

3-4 minggu 7. Kaki 3-4 minggu

2. Fibula 4-6 minggu 8. Metatarsal 5-6 minggu

3. Tibia 4-6 minggu 9. Metakarpal 3-4 minggu

4. Pergelangan kaki 5-8 minggu 10. Hairline 2-4 minggu

5. Tulang rusuk 4-5 minggu 11. Jari tangan 2-3 minggu

6. Jones fracture 3-5 minggu 12. Jari kaki 2-4 minggu

Rata-rata masa penyembuhan: Anak-anak (3-4 minggu), dewasa (4-6 minggu),

lansia (> 8 minggu).

Jumlah Kematian dari fraktur: 4,3 per 100.000 dari 1.302 kasus di Kanada pada

tahun 1997.

Tingkat kematian dari fraktur:

Kematian : 11.696

Insiden      : 1.499.999

0,78% rasio dari kematian per insiden(19)

26

Page 27: Fraktur Radius Ulna

DAFTAR PUSTAKA

1. Handkerchief el-Ahmed. Refarat Fraktur Tulang Radius. Diunduh

dari:http://www.kumpulaninformasi.com/article-el-ahmed-handkerchief-

referat-fraktur-tulang-radius.html.

2. Weblog Heri’s. Fraktur dan Fraktur Radius Ulna. Diunduh

dari:http://heriblog.wordpress.com/page/2/.

3. Carter Michel A., Fraktur dan Dislokasi dalam: Price Sylvia A, Wilson

Lorraine McCarty. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.

Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2006. Hal 1365-1371.

4. Goh Lesley A., Peh Wilfred C. G., Fraktur-klasifikasi,penyatuan, dan

komplikasi dalam : Corr Peter. Mengenali Pola Foto-Foto Diagnostik.

Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2011. Hal 112-121.

5. Patel Pradip R., Trauma Skeletal dalam: Patel Pradip R. Lecture Notes

Radiologi. Edisi kedua. Penerbit Buku Erlangga. Jakarta. 2005. Hal 221-

230.

6. Ekayuda Iwan, Trauma Skelet (Rudapaksa Skelet) dalam: Rasad Sjahriar,

Radiologi Diagnostik. Edisi kedua, cetakan ke-6. Penerbit Buku Balai

Penerbitan FKUI. Jakarta. 2009. Hal 31-43.

7. Rasjad Chairuddin, Struktur dan Fungsi Tulang dalam: Rasjad Chairuddin.

Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Cetakan keenam. Penerbit PT. Yarsif

Watampone. Jakarta. 2009. Hal 6-11.

8. Buranda Theopilus et. al., Osteologi dalam : Diktat Anatomi Biomedik I.

Penerbit Bagian Anatomi FK Unhas. Makassar. 2011. Hal 4-7.

9. Puts R and Pabst R.. Ekstremitas Atas dalam: Atlas Anatomi Manusia

Sobotta. Edisi 22. Penerbit Buku Kedokteran EGC Jilid 1. Jakarta. 2006.

Hal 158, 166, 167, dan 169.

10. Carter Michel A., Anatomi dan Fisiologi Tulang dan Sendi dalam: Price

Sylvia A, Wilson Lorraine McCarty. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-

27

Page 28: Fraktur Radius Ulna

Proses Penyakit. Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2006.

Hal 1357-1359.

11. Patel Pradip R., Sistem Skeletal dalam: Patel Pradip R. Lecture Notes

Radiologi. Edisi kedua. Penerbit Buku Erlangga. Jakarta. 2005. Hal 191-

194.

12. Begg James D., The Upper Limb in : Accident and Emergency X-Rays

Made Easy. Publisher Churchill Livingstone. UK. 2005. Page 162-167.

13. Eiff et. al., Radius and Ulna Fractures in : Fracture Management For

Primary Care. Second Edition. Publisher Saunders. UK. 2004. Page 116-

119.

14. Kune Wong Siew, Peh Wilfred C. G., Trauma Ekstremitas dalam : Corr

Peter. Mengenali Pola Foto-Foto Diagnostik. Penerbit Buku Kedokteran

EGC. Jakarta. 2011. Hal 97-107.

15. Malang Unmuh. Fraktur Radius Ulna. Diunduh dari :

http://bedahunhum.wordpress.com/2010/05/…/fraktur-radius-ulna/.

16. Helmes Erakinc. J and Misra Rakesh.R. in: A-Z Emergency Radiology.

from GMM. Cambridge. Page 94-101.

17. Rujito S. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Fraktur Dengan

Pemasangan illizarov. Diunduh dari:http://

www.rujito-fisioterapi.com/category/fisioterapi -pada-fraktur/.

18. Sjamsuhidayat R., dan de Jong Wim. Patah Tuland dan Dislokasi dalam:

Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Jakarta. 2005. Hal 840-854.

19. Bone Healing, Komlpikasi dan Prognosis Fraktur. Diunduh dari:

http://www.wrongdiagnosis.com/f/fracture/prognosis.htm

20. Soetikno, R. Cedera Epifisis dalam : Radiologi Emergensi. Cetakan

Pertama. Penerbit Refika Aditama. Bandung. 2011. Hal 170-202.

21. Rasjad, C. Trauma Pada Tulang dalam : Pengantar Ilmu Bedah

Ortopedi. Edisi Ketiga. Penerbit Yarsif Watampone. Jakarta. 2007. Hal

374-377.

22. Fraktur Radius Ulna. Diunduh dari:

http://www.artikelkedokteran.com/838/fraktur-radius-ulna.html

28

Page 29: Fraktur Radius Ulna

23. Fracture assesment and surgical strategy – illustrative case. Diunduh

dari : https://www2.aofoundation.org/wps/portal/Distal radius - Reduction

& Fixation - Bridge plating - AO Surgery Reference.htm

24. Patel Pradip R., Trauma Skeletal dalam: Patel Pradip R. Lecture Notes

Radiologi. Edisi kedua. Penerbit Buku Erlangga. Jakarta. 2005. Hal 218-

219.

29

Page 30: Fraktur Radius Ulna

LAMPIRAN

30