33
fraktur patella Fraktur Patella Fraktur Patella, MEDICAL, HOSPYTAL, EMERGENCY, MEDICINE BAB I LAPORAN PENDAHULUAN 1. DEFINISITerdapat beberapa pengertian mengenai fraktur, sebagaimana yang dikemukakan para ahli melalui berbagai literature. Menurut FKUI (2000), fraktur adalah rusaknya dan terputusnya kontinuitas tulang, sedangkan menurut Boenges, ME., Moorhouse, MF dan Geissler, AC (2000) fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Back dan Marassarin (1993) berpendapat bahwa fraktur adalah terpisahnya kontinuitas tulang normal yang terjadi karena tekanan pada tulang yang berlebihan. Sedangkan menurut anatominya, patella adalah tempurung lutut. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa fraktur patella pextra merupakan suatu gangguan integritas tulang yang ditandai dengan rusaknya atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang dikarenakan tekanan yang berlebihan yang terjadi pada tempurung lutut pada kaki kanan. 2. ETIOLOGI Lewis (2000) berpendapat bahwa tulang bersifat relatif rapuh

Fraktur Patella 1

  • Upload
    aulina

  • View
    94

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

jhgfdefgyhu

Citation preview

fraktur patella

Fraktur Patella

Fraktur Patella, MEDICAL, HOSPYTAL, EMERGENCY, MEDICINE

BAB ILAPORAN PENDAHULUAN

1. DEFINISITerdapat beberapa pengertian mengenai fraktur, sebagaimana yang dikemukakan para ahli melalui berbagai literature.Menurut FKUI (2000), fraktur adalah rusaknya dan terputusnya kontinuitas tulang, sedangkan menurut Boenges, ME., Moorhouse, MF dan Geissler, AC (2000) fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Back dan Marassarin (1993) berpendapat bahwa fraktur adalah terpisahnya kontinuitas tulang normal yang terjadi karena tekanan pada tulang yang berlebihan.Sedangkan menurut anatominya, patella adalah tempurung lutut. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa fraktur patella pextra merupakan suatu gangguan integritas tulang yang ditandai dengan rusaknya atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang dikarenakan tekanan yang berlebihan yang terjadi pada tempurung lutut pada kaki kanan.

2. ETIOLOGILewis (2000) berpendapat bahwa tulang bersifat relatif rapuh namun mempunyai cukup kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan.Fraktur dapat diakibatkan oleh beberapa hal yaitu:a. Fraktur akibat peristiwa traumaSebagisan fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, perubahan pemuntiran atau penarikan. Bila tekanan kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang terkena dan jaringan lunak juga pasti akan ikut rusak. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur lunak juga pasti akan ikut rusak. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya. Penghancuran kemungkinan akan menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas.b. Fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekananRetak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain akibat tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering dikemukakan pada tibia, fibula atau matatarsal terutama pada atlet, penari atau calon tentara yang berjalan baris-berbaris dalam jarak jauh.c. Fraktur petologik karena kelemahan pada tulangFraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang tersebut lunak (misalnya oleh tumor) atau tulang-tulang tersebut sangat rapuh.

3. PATOFISIOLOGIMenurut Black dan Matassarin (1993) serta Patrick dan Woods (1989). Ketika patah tulang, akan terjadi kerusakan di korteks, pembuluh darah, sumsum tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut adalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitarnya. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang dibawah periostium dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur. Terjadinya respon inflamsi akibat sirkulasi jaringan nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma dan leukoit. Ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses penyembuhan untuk memperbaiki cidera, tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang. Hematon yang terbentuk bisa menyebabkan peningkatan tekanan dalam sumsum tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalam pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematon menyebabkn dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, kemudian menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan menekan ujung syaraf, yang bila berlangsung lama bisa menyebabkan syndroma comportement.

4. KALSIFIKASI FRAKTURBerikut ini terdapat beberapa klasifikasi raktur sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli:a. Menurut Depkes RI (1995), berdasarkan luas dan garis traktur meliputi:1) Fraktur komplitAdalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang luas sehingga tulang terbagi menjadi dua bagian dan garis patahnya menyeberang dari satu sisi ke sisi lain serta mengenai seluruh kerteks.2) Fraktur inkomplitAdalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang dengan garis patah tidak menyeberang, sehingga tidak mengenai korteks (masih ada korteks yang utuh).b. Menurut Black dan Matassarin (1993) yaitu fraktur berdasarkan hubungan dengan dunia luar, meliputi:1) Fraktur tertutup yaitu fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih utuh, tulang tidak menonjol malalui kulit.2) Fraktur terbuka yaitu fraktur yang merusak jaringan kulit, karena adanya hubungan dengan lingkungan luar, maka fraktur terbuka potensial terjadi infeksi. Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 grade yaitu:a) Grade I : Robekan kulit dengan kerusakan kulit ototb) Grade II : Seperti grade I dengan memar kulit dan ototc) Grade III : Luka sebesar 6-8 cm dengan kerusakan pembuluh darah, syaraf otot dan kulit.c. Long (1996) membagi fraktur berdasarkan garis patah tulang, yaitu:1) Green Stick yaitu pada sebelah sisi dari tulang, sering terjadi pada anak-anak dengan tulang lembek2) Transverse yaitu patah melintang3) Longitudinal yaitu patah memanjang4) Oblique yaitu garis patah miring5) Spiral yaitu patah melingkard. Black dan Matassarin (1993) mengklasifikasi lagi fraktur berdasarkan kedudukan fragmen yaitu:1) Tidak ada dislokasi2) Adanya dislokasi, yang dibedakan menjadi:a) Disklokasi at axim yaitu membentuk sudutb) Dislokasi at lotus yaitu fragmen tulang menjauhc) Dislokasi at longitudinal yaitu berjauhan memanjangd) Dislokasi at lotuscum controltinicum yaitu fragmen tulang berjauhan dan memendek.

5. GAMBARAN KUNIKLewis (2006) menyampaikan manifestasi kunik fraktur adalah sebagai berikut:a. NyeriNyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan adanya spasme otot, tekanan dari patahan tulang atau kerusakan jaringan sekitarnya.b. Bengkak/edamaEdema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa yang terlokalisir pada daerah fraktur dan extravasi daerah di jaringan sekitarnya.c. Memar/ekimosisMerupakan perubahan warna kulit sebagai akibat dari extravasi daerah di jaringan sekitarnya.d. Spame ototMerupakan kontraksi otot involunter yang terjadu disekitar fraktur.e. Penurunan sensasiTerjadi karena kerusakan syaraf, terkenanya syaraf karena edema.f. Gangguan fungsiTerjadi karena ketidakstabilan tulang yang frkatur, nyeri atau spasme otot. paralysis dapat terjadi karena kerusakan syaraf.

g. Mobilitas abnormalAdalah pergerakan yang terjadi pada bagian-bagian yang pada kondisi normalnya tidak terjadi pergerakan. Ini terjadi pada fraktur tulang panjang.h. KrepitasiMerupakan rasa gemeretak yang terjadi jika bagian-bagaian tulang digerakkan.i. DefirmitasAbnormalnya posisi dari tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma dan pergerakan otot yang mendorong fragmen tulang ke posisi abnormal, akan menyebabkan tulang kehilangan bentuk normalnya.j. Shock hipouolemikShock terjadi sebagai kompensasi jika terjadi perdarahan hebat.k. Gambaran X-ray menentukan frakturGambara ini akan menentukan lokasi dan tipe fraktur

6. KOMPLIKASIKomplikasi akibat fraktur yang mungkin terjadi menurut Doenges (2000) antara lain:a. Shockb. Infeksic. Nekrosis divaskulerd. Cidera vaskuler dan sarafe. Mal unionf. Borok akibat tekanan

7. PENATALAKSANAAN FRAKTURTerdapat beberapa tujuan penatalaksanaan fraktur menurut Henderson (1997), yaitu mengembalikan atau memperbaiki bagian-bagian yang patah ke dalam bentuk semula (anatomis), imobiusasi untuk mempertahankan bentuk dan memperbaiki fungsi bagian tulang yang rusak. Jenis-jenis fraktur reduction yaitu:a. Manipulasi atau close redAdalah tindakan non bedah untuk mengembalikan posisi, panjang dan bentuk. Close reduksi dilakukan dengan local anesthesia ataupun umum.b. Open reduksiAdalah perbaikan bentuk tulang dengan tindakan pembedahan sering dilakukan dengan internal fixasi menggunakan kawat, screlus, pins, plate, intermedullary rods atau nail. Kelemahan tindakan ini adalah kemungkinan infeksi dan komplikasi berhubungan dengan anesthesia. Jika dilakukan open reduksi internal fixasi pada tulang (termasuk sendi) maka akan ada indikasi untuk melakukan ROM.c. TraksiAlat traksi diberikan dengan kekuatan tarikan pada anggota yang fraktur untuk meluruskan bentuk tulang. Ada 3 macam yaitu:1) Skin traksiSkin traksi adalah menarik bagian tulang yang fraktur dengan menempelkan plester langsung pada kulit untuk mempertahankan bentuk, membantu menimbulkan spasme otot pada bagian yang cedera, dan biasanya digunakan untuk jangka pendek (48-72 jam).2) Skeletal traksiAdalah traksi yang digunakan untuk meluruskan tulang yang cedera dan sendi panjang untuk mempertahankan traksi, memutuskan pins (kawat) ke dalam tulang.3) Maintenance traksiMerupakan lanjutan dari traksi, kekuatan lanjutan dapat diberikan secara langsung pada tulang dengan kawat atau pins.Fraktur Patella

Mekanisme

1. Kekerasan langsung ; akibat kecelakaan lalu lintas dengan dashboard injury, jatuh pada permukaan yang keras, serta jatuhnya benda yang berat diatas lutut.

2. dengan kekerasan tidak langsung sebagai akibat kontraksi otot yang mendadak.

Manifestasi klinis

1. ketidakmampuan untuk mengekstensikan lutut.

2. bruising dan abrasi di atas lutut

3. catat lokasi nyeri tekan

4. ada celah yang terpalpasi diatas atau dibawah patella.

5. displacement yang jelas dari bagian proksimal patella

X ray : AP dan lateral view lutut

Terapi :

1. berikan analgesik sebelum X ray

2. jika tidak terdapat pergeseran, aplikasikan cylinder backslab dan KRS dengan diberikan analgesic, serta crutches kemudian dirujuk pada klinik bedah.

3. jika terdapat pergeseran, aplikasikan cylinder backslab dan MRS untuk fiksasi

patella

BAB 1PENDAHULUAN1.1 Latar BelakangSebagai seorang tenaga medis tepatnya seorang bidan harus memahami anatomi dan fisiologi patella karena berhubungan dengan ilmu kebidanan yaitu pemeriksaan refleks patella yang memprediksikan bahwa ibu hamil yang mempunyai refleks patella negatif kemungkinan ibu hamil tersebut mengalami kekurangan vitamin B1. Selain itu ketiadaan atau penurunan refleks patela dikenal juga sebagai tanda westphal. Tanda westphal menunjukkan bahwa ada masalah di saraf tulang belakang pasien atau saraf perifer. Sehingga seorang bidan mengetahui asuhan kebidanan yang tepat pada ibu hamil tersebut. Jika dihubungkan dengan nantinya saat persalinan, ibu hamil yang refleks patelanya negatif pada pasien preeklampsia/eklampsia tidak dapat diberikan MgS04 pada pemberian ke-2, karena syarat dari pemberian ke-2 dilihat dari refleks patela. Jika refleks negatif, ada kemungkinan ibu mengalami keracunan MgS04.

1.2 Rumusan Masalah1.2.1 Bagaimana anatomi dan fisiologi dari patella ?1.2.2 Bagaimana hubungan patella dengan kebidanan ?1.2.3 Bagaimana refleks dari patella ?1.2.4 Gangguan apa saja yang terjadi pada patella ?1.2.5 Fraktur apa saja yang terjadi pada patella ?1.3 Tujuan1.3.1 Tujuan UmumTujuan umum dari pembuatan makalah ini adalah mahasiswa mengetahui dan mampu menjelaskan tentang anatomi dan fisiologi patella sehingga dapat memberikan pelayanan kebidanan yang sesuai dengan standar.1.3.2 Tujuan KhususTujuan khusus dari pembuatan makalah ini adalah:1. Mahasiswa mengetahui dan mampu menjjelaskan anatomi dan fisiologi dari patella.2. Mahasiswa mengetahui dan mampu mnejelaskan hubungan patella dengan kebidanan.3. Mahasiswa mengetahui dan mampu menjelaskan refleks dari patella.4. Mahasiswa mengetahui dan mampu menjelaskan gangguan yang terdapat pada patella.5. Mahasiswa mengetahui dan mampu menjelaskan fraktur yang terjadi pada patella.1.4 ManfaatPembuatan makalah ini semoga dapat bermanfaat bagi pembaca, sehingga dalam aplikasinya dapat sesuai dengan standar kebidanan yang baik dan benar. Dapat menambah pengetahuan dan mengaplikasikan teori yang didapat pada keadaan yang sebenarnya untuk meningkatkan mutu pelayanan kebidanan sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. BAB 2PEMBAHASAN2.1 Anatomi dan Fisiologi Patella2.1.1 Anatomi PatellaGambar 2.1 Anatomi PatellaDilihat dari DepanPatela atau tempurung lutut adalah tulang baji atau tulang sesamoid yang berkembang dalam tendon otot kwadrisep extensor berfungsi meluruskan (ekstensi) lutut. Apex patella meruncing kebawah. Permukaan anterior dari tulang ialah kasar, permukaan posteriornya halus dan bersendi dengan permukaan pateler dari ujung bawah femur. Letaknya di depan sendi lutut, tetapi tidak ikut serta di dalamnya.Sendi lutut merupakan persendian yang paling besar pada tubuh manusia. Sendi ini terletak pada kaki yaitu antara tungkai atas dan tungkai bawah. Pada dasarnya sendi lutut ini terdiri dari dua articulatio condylaris diantara condylus femoris medialis dan lateralis dan condylus tibiae yang terkait dan sebuah sendi pelana, diantara patella dan fascies patellaris femoris.

Gambar 2.2 Sendi Lutut

Dipotong Melintang

Secara umum sendi lutut termasuk kedalam golongan sendi engsel, tetapi sebenarnya terdiri dari dua bagian sendi yang kompleks yaitu :

1. Condyloid articulatio diantara dua femoral condylus dan meniscus dan

berhubungan dengan condylus tibiae

2. Satu articulatio jenis partial arthrodial diantara permukaan dorsal dari patella

dan femur.

Pada bagian atas sendi lutut terdapat condylus femoris yang berbentuk bulat, pada bagian bawah terdapat condylus tibiae dan cartilago semilunaris. Pada bagian bawah terdapat articulatio antara ujung bawah femur dengan patella. Fascies articularis femoris, tibiae, dan patella diliputi oleh cartilago hyaline. Fascies articularis condylus medialis dan lateralis tibiae di klinik sering disebut sebagai plateau tibialis medialis dan lateralis.

Ligamentum pada sendi lutut:

Gambar 2.3 Ligamentum pada Patella

Sebelah kanan dilihat dari samping dan sebelah kiri dilihat dari depan

a. Ligamentum Extracapsular

Gambar 2.4 Ligamentum pada patella

Dipotong melintang

1. Ligamentum Patellae

Melekat (diatas) pada tepi bawah patella dan pada bagian bawah melekat pada tuberositas tibiae. Ligamentum patellae ini sebenarnya merupakan lanjutan dari bagian pusat tendon bersama m. quadriceps femoris. Dipisahkan dari membran synovial sendi oleh bantalan lemak intra patella dan dipisahkan dari tibia oleh sebuah bursa yang kecil. Bursa infra patellaris superficialis memisahkan ligamentum ini dari kulit.

2. Ligamentum Collaterale Fibulare

Ligamentum ini menyerupai tali dan melekat di bagian atas pada condylus lateralis dan dibagian bawah melekat pada capitulum fibulae. Ligamentum ini dipisahkan dari capsul sendi melalui jaringan lemak dan tendon m. popliteus. Dan juga dipisahkan dari meniscus lateralis melalui bursa m. poplitei.

3. Ligamentum Collaterale Tibiae

Ligamentum ini berbentuk seperti pita pipih yang melebar dan melekat dibagian atas pada condylus medialis femoris dan pada bagian bawah melekat pada margo infraglenoidalis tibiae. Ligamentum ini menembus dinding capsul sendi dan sebagian melekat pada meniscus medialis. Di bagian bawah pada margo infraglenoidalis, ligamentum ini menutupi tendon m. semimembranosus dan a. inferior medialis genu.

4. Ligamentum Popliteum Obliquum

Merupakan ligamentum yang kuat, terletak pada bagian posterior dari sendi lutut, letaknya membentang secara oblique ke medial dan bawah. Sebagian dari ligamentum ini berjalan menurun pada dinding capsul dan fascia m. popliteus dan sebagian lagi membelok ke atas menutupi tendon m. semimembranosus.

5. Ligamentum Transversum Genu

Ligamentum ini terletak membentang paling depan pada dua meniscus, terdiri dari jaringan connective, kadang- kadang ligamentum ini tertinggal dalam perkembangannya, sehingga sering tidak dijumpai pada sebagian orang.

b. Ligamentum Intra Capsular

Ligamentum cruciata adalah dua ligamentum intra capsular yang sangat kuat, saling menyilang didalam rongga sendi. Ligamentum ini terdiri dari dua bagian yaitu posterior dan anterior sesuai dengan perlekatannya pada tibiae. Ligamentum ini penting karena merupakan pengikat utama antara femur dan tibiae.

1. Ligamentum Cruciata Anterior

Ligamentum ini melekat pada area intercondylaris anterior tibiae dan berjalan kearah atas, kebelakang dan lateral untuk melekat pada bagian posterior permukaan medial condylus lateralis femoris. Ligamentum ini akan mengendur bila lutut ditekuk dan akan menegang bila lutut diluruskan sempurna. Ligamentum cruciatum anterior berfungsi untuk mencegah femur bergeser ke posterior terhadap tibiae. Bila sendi lutut berada dalam keadaan fleksi ligamentum cruciatum anterior akan mencegah tibiae tertarik ke posterior.

2. Ligamentum Cruciatum Posterior

Ligamentum cruciatum posterior melekat pada area intercondylaris posterior dan berjalan kearah atas , depan dan medial, untuk dilekatkan pada bagian anterior permukaan lateral condylus medialis femoris. Serat-serat anterior akan mengendur bila lutut sedang ekstensi, namun akan menjadi tegang bila sendi lutut dalam keadaan fleksi. Serat-serat posterior akan menjadi tegang dalam keadaan ekstensi. Ligamentum cruciatum posterior berfungsi untuk mencegah femur ke anterior terhadap tibiae. Bila sendi lutut dalam keadaan fleksi, ligamentum cruciatum posterior akan mencegah tibiae tertarik ke anterior.

2.1.2 Fisiologi PatellaFungsi patella di samping sebagai perekatan otot-otot atau tendon adalah sebagai pengungkit sendi lutut. Pada posisi flexi lutut 90 derajat, kedudukan patella di antara kedua condylus femur dan saat extensi maka patella terletak pada permukaan anterior femur (Syaifuddin, 1997).2.2 Hubungan Patella dengan KebidananPada pembahasan ini hubungan patella dengan kebidanan adalah pada fungsi pemeriksaan refleks patella. Apabila refleks patela bernilai positif/baik maka menunjukkan sistem saraf di area ekstremitas bawah termasuk baik. Jika pada ibu hamil reaksinya negatif kemungkinan ibu hamil tersebut mengalami kekurangan vitamin B1. Selain itu ketiadaan atau penurunan refleks patella dikenal juga sebagai tanda westphal. Tanda westphal menunjukkan bahwa ada masalah di saraf tulang belakang pasien atau saraf perifer. Pemeriksaan medis ini tidak berkaitan dengan sifat dan sikap seseorang namun lebih kepada profil kesehatan.

Pada kehamilan fungsi dari pemeriksaan patella adalah untuk menilai apakah ibu hamil tersebut mengalami defisiensi Vit. B1 atau memang ada masalah dalam sistem persyarafannya. Jika dihubungkan dengan nantinya saat persalinan, ibu hamil yang refleks patellanya negatif pada pasien preeklampsia/eklampsia tidak dapat diberikan MgS04 pada pemberian ke-2, karena syarat dari pemberian ke-2 dilihat dari refleks patela. Jika refleks negatif, ada kemungkinan ibu mengalami keracunan MgS04.

2.3 Refleks Patella2.3.1 Refleks PatellaRefleks adalah respons otomatis terhadap stimulus tertentu yang menjalar pada rute lengkung refleks. Lengkung refleks adalah proses yang terjadi pada refleks melalui jalan tertentu. Komponen-komponen yang dilalui refleks adalah sebagai berikut:

1. Reseptor rangsangan sensoris: ujung distal dendrit yang menerima stimulus

peka terhadap suatu rangsangan misalnya kulit.

2. Neuron aferen (sensoris): melintas sepanjang neuron sensorik sampai ke medula spinalis yang dapat menghantarkan impuls menuju ke susunan saraf pusat.

3. Neuron eferen (motorik): melintas sepanjang akson neuron motorik sampai ke efektor yang akan merespon impuls eferen menghantarkan impuls ke perifer sehingga menghasilkan aksi yang khas.

4. Alat efektor: dapat berupa otot rangka, otot jantung, atau otot polos kelenjar yang merespons, merupakan tempat terjadinya reaksi yang diwakili oleh suatu serat otot atau kelenjar.

Refleks patela (tempurung lutut) adalah refleks sistem saraf berupa refleks kontraksi otot di sekitar patela sehingga kaki akan terlihat seperti menendang . Refleks patela disebut juga dengan Knee Pess refleks (KPR). Refleks patela merupakan refleks tendon dalam dan juga merupakan refleks monosynaptic karena hanya satu sinaps yang menyeberang untuk melengkapi sirkuit yang memicu refleks yaitu ketika area di bawah tempurung lutut dipukul dengan palu refleks, otot paha depan di paha berkontraksi, dan menyebabkan kaki menendang keluar. Respon ini tidak melibatkan otak , hanya sumsum tulang belakang. 2.3.2 Mekanisme Refleks PatellaRangsangan (ketukan pada patellae) Impuls (reseptor ( neuron sensorik/afferent (neuron Femoris) ( medulla spinalis( neuron asosiasi/perantara (neuron motorik (neuron Femoris) (efektor (neuron Quadratus femoris)(gerakan.

Prosedur respons refleks sering dikelaskan dengan nilai 0 sampai 4+.

a) 4+: hiperaktif dengan klonus terus menerus

b) 3+: hiperaktif

c) 2+ : normal

d) 1+: hipoaktif

e) 0: tidak ada refleks

Gambar 2.5 Mekanisme Refleks pada Petella2.4 Gangguan pada PatellaPada dasarnya, reflek patella adalah tes untuk melihat bagaimana respon sensorik ke penyadapan oleh palu tendon. Tujuan utama dari pengujian adalah untuk menganalisis apakah sistem saraf dalam kondisi yang baik atau tidak. Sederhananya, tenaga kesehatan akan melakukan reflek patella pada klien jika refleks tidak sampai untuk menandai atau tidak ada sama sekali, ini disebut sebagai tanda Westphal. Sebaliknya, jika ada beberapa osilasi dalam menanggapi reflek patella yang diberikan, ini bisa menandakan adanya penyakit serebelar. Itu semua terjadi karena lengkung refleks dari stimulus untuk respon. Sebuah lengkung refleks adalah jalur saraf yang menengahi tindakan refleks. Dalam refleks patella, akar saraf adalah pembawa impuls oleh motor neuron sepanjang akson nya.1. Patella ChondromalaciaMerupakan kerusakan pada tulang rawan di bawah tempurung lutut. Patella Chondromalcia dikenal dengan syndrome sakit patella femoral. Gejala yang paling umum adalah nyeri lutut yang meningkat ketika berjalan naik atau turun tangga. Perawatan secara sederhana seperti istirahat dan penerapan es dapat meringankannyeri, tapi terkadang terapi fisik atau operasi diperlukan untuk meringankan rasa sakit patellafemoral.2. Patella Tendinitis, cidera Tendon akibat sering melompat.Merupakan cidera pada tendon yang menghubungkan tempurung lutut (patella) ke tulang kering. Tendon patella berperan penting untuk menggerakkan otot otot kaki dengan cara membantu otot meregangkan lutut.Penyebab Tendinitis Patella adalah cidera yang sangat umum terjadi ketika tendon patella mendapatkan tekanan secara berulang ulang. Sedikit tekanan akan merobek tendon yang dapat diperbaiki oleh tubuh, tetapi ketika robekan bertambah banyak akan menyebabkan rasa sakit dari peradangan dan melemahnya tendon. Saat itu kerusakan tendon akan terus berlanjut selama lebih dari beberapa minggu dan disebut Tendinopathy. Gejalanya adalah nyeri. Rasa sakit biasanya berasal dari tendon patella tempurung litut (patella) dan perlekatan tendon dengan tulang kering (tibia). 3. Habitual Patellar DislacationMerupakan tempurung lutut yang mudah terlepas pada gerakan tertentu yang dapat diatasi dengan penguatan otot bahkan pembedahan.4. Arthritis

Merupakan penyakit degenerative pada lutut dikarenakan kerusakan tulang rawan sendi. Pada stadium awal penderita mengeluh kaku sendi di pagi hari lama lama disertai rasa nyeri di lutut terutama bila jongkok berdiri atau naik turun tangga dan diakhiri dengan nyeri permanen dan gerakan sendi yang sangat terbatas yang kadang memaksa penderita untuk tidak berjalan lagi walau kondisi tubuh masih cukup sehat. Osteoporosis tidak menimbulkan nyeri lutut sehingga nyeri lutut tidak bisa diatasi dengan kalsium.Penyebab Arthritis digolongkan dalam 2 kelompok besar yaitu:a. Primer, karena aus atau gugusnya tulang rawan sendi.b. Sekunder, karena penyebab yang lain seperti cidera waktu muda yang tidak segera diatasi.Baik primer ataupun sekunder kerusakan yang terjadi sama yaitu rusaknya permukaan sendi, pada stadium awal pengobatan dapat berupa obat obatan, suntik sendi, fisioterapi, olah raga low impact dan arthroscopy surgery. Pada stadium yang lebih lanjut diperlukan tindakan pembedahan yang lebih kompleks yaitu operasi pelapisan permukaan sendi buatan yang dikenal dengan istilah arthropllasty atau total knee replancement, tindakan ini bisa menuntaskan rasa kaku, nyeri hambatan gerak dan meluruskan tulang lutut yang sudah bengkok.5. Dislokasi Patella Traumatik Primer AbstrakMerupakan dislokasi yang terjadi saat pertama kali, didefinisikan sebagai suatu cirri klinis yang biasanya disebabkan oleh gangguan traumatic pada struktur peripatellar medial yang sebelumnyabtidak mengalami cidera.Salah satu gejala yang berhubungan dengan dislokasi patella traumatic yang akut dan primer adealah hematrthrosis pada lutut yang disebabkan oleh rupturnya bagian medial dar`i patella. Fleksi lutut dan valgus telah diketahui sebagai mekanisme cidera dari dislokasi patella.2.5 Fraktur Patella2.5.1 Pengertian Terdapat beberapa pengertian mengenai fraktur, sebagaimana yang dikemukakan para ahli melalui berbagai literature.Menurut FKUI (2000), fraktur adalah rusaknya dan terputusnya kontinuitas tulang, sedangkan menurut Boenges, ME., Moorhouse, MF dan Geissler, AC (2000) fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Back dan Marassarin (1993) berpendapat bahwa fraktur adalah terpisahnya kontinuitas tulang normal yang terjadi karena tekanan pada tulang yang berlebihan.`Sedangkan menurut anatominya, patella adalah tempurung lutut. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa fraktur patella merupakan suatu gangguan integritas tulang yang ditandai dengan rusaknya atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang dikarenakan tekanan yang berlebihan yang terjadi pada tempurung lutut pada kaki kanan.

2.5.2 Patofisiologi Fraktur Patela1. Trauma langsung/Directa. Disebabkan karena penderita jatuh dalam posisi lutut flexi dimana patella terbentur dengan lantai.b. Karena diatas patella hanya terdapat subcutis dan kutis, sehingga dengan benturan tersebut tulang patella mudah patah.c. Biasanya jenis patahnya comminutiva (stelata), pada jenis patah ini biasanya medial dan lateral quadrisep expansion tidak ikut robek, hal ini menyebabkan penderita masih dapat melakukan extensi lutut melawan gravitasi.2. Trauma tak langsung/Indirecta. Karena tarikan yang sangat kuat dan otot kuadrisep yang membentuk musculotendineus melekat pada patella, sering terjadi pada penderita yang jatuh dengan tungkai bawah menyentuh tanah terlebih dahulu dan otot quadrisep kontraksi secara keras untuk mempertahanakan kestabilan lutut.b. Biasanya garis patahnya transversal avulse ujung atas atau ujung bawah dan patella.BAB 3PENUTUP3.1 KesimpulanPatela atau tempurung lutut adalah tulang baji atau tulang sesamoid yang berkembang dalam tendon otot kwadrisep extensor berfungsi meluruskan (ekstensi) lutut. Apex patella meruncing kebawah. Permukaan anterior dari tulang ialah kasar, permukaan posteriornya halus dan bersendi dengan permukaan pateler dari ujung bawah femur. Letaknya di depan sendi lutut, tetapi tidak ikut serta di dalamnya. Sendi lutut ini terdiri dari dua articulatio condylaris diantara condylus femoris medialis dan lateralis dan condylus tibiae yang terkait dan sebuah sendi pelana, diantara patella dan fascies patellaris femoris.

Pada kehamilan fungsi dari pemeriksaan patella adalah untuk menilai apakah ibu hamil tersebut mengalami defisiensi Vit. B1 atau memang ada masalah dalam sistem persyarafannya. Jika dihubungkan dengan nantinya saat persalinan, ibu hamil yang refleks patellanya negatif pada pasien preeklampsia/eklampsia tidak dapat diberikan MgS04 pada pemberian ke-2, karena syarat dari pemberian ke-2 dilihat dari refleks patela. Jika refleks negatif, ada kemungkinan ibu mengalami keracunan MgS04.

3.2 Saran Penyusunan makalah ini masih jauh dari kekurangan untuk itu kami sebagai penyusun mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sehingga makalah ini menjadi lebih baik dan bisa bermanfaat bagi kita semua. Untuk tenaga medis khususnya bidan hendaknya kita selalu memahami dan menerapkan aplikasi dari ilmu anatomi fisiologi yang berhubungan dengan kebidanan, sehingga dalam praktiknya nanti kita dapat memberikan pelayanan kebidanan yang bermutu dan sesuai dengan standar pelayanan kebidanan.DAFTAR PUSTAKABasmajian, John V.____. Anatomi Klinik. Jakarta: Binarupa AksaraC. Pearce Evelyn. 2010. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka UtamaJeco Ali. 2008. Fraktur Patella. http://alijeco.blogspot.com/2008/05/fraktur-patella.html

di unduh pada tanggal 04 April 2014 pukul 11:34 WIB

Merry. 2012. Pemeriksaan Refleks Patella. http://merry-creations.blogspot.com/2012/02/pemeriksaan-refleks-patela.html di unduh pada tanggal 05 April 2014Nasih Aret. 2013. Anatomi Fisiologi Knee Joint. http://aretnasih.blogspot.com/2013/11/anatomi-fisiologi-knee-joint.html di unduh pada tanggal 06 April 2014 pukul 13:56 WIB

LAMPIRANPertanyaan:1. Patella hanya terdapat pada kutis dan sub kutis? Dimana tempatnya? Nimas C2. Jelaskan refleks patella pada kehamilan? Enggar P3. Jelaskan artikulasi dan ligamentum yg ada pada patella? Patrisia A4. Bagaimana pengaruh ligamentum transversum genu yang pada perkembangannya tidak sempurna pada sebagian orang? Ummi NJawaban:1. Kutis dan sub kutis merupakan lapisan dari kulit sehingga tidak berpengaruh pada anatomi patella, namun keberadaan patella berada dibawah lapisan kulit yang melindunginya. Lapisan kulit ini menjaga dan melindungi kulit agar tidak terjadi benturan yang menyebabkan retak dan fraktur pada patella.2. Pada pembahasan ini hubungan patella dengan kebidanan adalah pada fungsi pemeriksaan refleks patella. Apabila refleks patela bernilai positif/baik maka menunjukkan sistem saraf di area ekstremitas bawah termasuk baik. Jika pada ibu hamil reaksinya negatif kemungkinan ibu hamil tersebut mengalami kekurangan vitamin B1. Selain itu ketiadaan atau penurunan refleks patella dikenal juga sebagai tanda westphal. Tanda westphal menunjukkan bahwa ada masalah di saraf tulang belakang pasien atau saraf perifer. Pemeriksaan medis ini tidak berkaitan dengan sifat dan sikap seseorang namun lebih kepada profil kesehatan.

Pada kehamilan fungsi dari pemeriksaan patella adalah untuk menilai apakah ibu hamil tersebut mengalami defisiensi Vit. B1 yang menyebabkan berkurangnya fungsi syaraf atau memang ada masalah dalam sistem persyarafannya. Jika dihubungkan dengan nantinya saat persalinan, ibu hamil yang refleks patellanya negatif pada pasien preeklampsia/eklampsia tidak dapat diberikan MgS04 pada pemberian ke-2, karena syarat dari pemberian ke-2 dilihat dari refleks patela. Jika refleks negatif, ada kemungkinan ibu mengalami keracunan MgS04.

3. Secara umum sendi lutut termasuk kedalam golongan sendi engsel, tetapi sebenarnya terdiri dari dua bagian sendi yang kompleks yaitu :

1. Condyloid articulatio diantara dua femoral condylus dan meniscus dan

berhubungan dengan condylus tibiae.

2. Satu articulatio jenis partial arthrodial diantara permukaan dorsal dari patella

dan femur.

a. Ligamentum Extracapsular

1. Ligamentum Patellae

Melekat (diatas) pada tepi bawah patella dan pada bagian bawah melekat pada tuberositas tibiae. Ligamentum patellae ini sebenarnya merupakan lanjutan dari bagian pusat tendon bersama m. quadriceps femoris. Dipisahkan dari membran synovial sendi oleh bantalan lemak intra patella dan dipisahkan dari tibia oleh sebuah bursa yang kecil. Bursa infra patellaris superficialis memisahkan ligamentum ini dari kulit.

2. Ligamentum Collaterale Fibulare

Ligamentum ini menyerupai tali dan melekat di bagian atas pada condylus lateralis dan dibagian bawah melekat pada capitulum fibulae. Ligamentum ini dipisahkan dari capsul sendi melalui jaringan lemak dan tendon m. popliteus. Dan juga dipisahkan dari meniscus lateralis melalui bursa m. poplitei.

3. Ligamentum Collaterale Tibiae

Ligamentum ini berbentuk seperti pita pipih yang melebar dan melekat dibagian atas pada condylus medialis femoris dan pada bagian bawah melekat pada margo infraglenoidalis tibiae. Ligamentum ini menembus dinding capsul sendi dan sebagian melekat pada meniscus medialis. Di bagian bawah pada margo infraglenoidalis, ligamentum ini menutupi tendon m. semimembranosus dan a. inferior medialis genu.

4. Ligamentum Popliteum Obliquum

Merupakan ligamentum yang kuat, terletak pada bagian posterior dari sendi lutut, letaknya membentang secara oblique ke medial dan bawah. Sebagian dari ligamentum ini berjalan menurun pada dinding capsul dan fascia m. popliteus dan sebagian lagi membelok ke atas menutupi tendon m. semimembranosus.

5. Ligamentum Transversum Genu

Ligamentum ini terletak membentang paling depan pada dua meniscus, terdiri dari jaringan connective, kadang- kadang ligamentum ini tertinggal dalam perkembangannya, sehingga sering tidak dijumpai pada sebagian orang.

b. Ligamentum Intra Capsular

Ligamentum cruciata adalah dua ligamentum intra capsular yang sangat kuat, saling menyilang didalam rongga sendi. Ligamentum ini terdiri dari dua bagian yaitu posterior dan anterior sesuai dengan perlekatannya pada tibiae. Ligamentum ini penting karena merupakan pengikat utama antara femur dan tibiae.

1. Ligamentum Cruciata Anterior

Ligamentum ini melekat pada area intercondylaris anterior tibiae dan berjalan kearah atas, kebelakang dan lateral untuk melekat pada bagian posterior permukaan medial condylus lateralis femoris. Ligamentum ini akan mengendur bila lutut ditekuk dan akan menegang bila lutut diluruskan sempurna. Ligamentum cruciatum anterior berfungsi untuk mencegah femur bergeser ke posterior terhadap tibiae. Bila sendi lutut berada dalam keadaan fleksi ligamentum cruciatum anterior akan mencegah tibiae tertarik ke posterior.

2. Ligamentum Cruciatum Posterior

Ligamentum cruciatum posterior melekat pada area intercondylaris posterior dan berjalan kearah atas , depan dan medial, untuk dilekatkan pada bagian anterior permukaan lateral condylus medialis femoris. Serat-serat anterior akan mengendur bila lutut sedang ekstensi, namun akan menjadi tegang bila sendi lutut dalam keadaan fleksi. Serat-serat posterior akan menjadi tegang dalam keadaan ekstensi. Ligamentum cruciatum posterior berfungsi untuk mencegah femur ke anterior terhadap tibiae. Bila sendi lutut dalam keadaan fleksi, ligamentum cruciatum posterior akan mencegah tibiae tertarik ke anterior.

4. Pengaruh ligamentum transversum genu pada mekanisme refleks patella tidak ada karena mekanisme refleks patella tidak melewati ligamentum, tetapi melawati sistem syaraf. Pada perkembangan ligamentum transversum genu inisebagian orang terkadang tidak mencapai normal.

Patofisiologi fraktur PatelaMekanisme fraktur1. Trauma langsung/Direct

a. Disebabkan karena penderita jatuh dalam posisi lutut flexi dimana patella terbentur dengan lantai

b. Karena diatas patella hanya terdapat subcutis dan kutis, sehingga dengan benturan tersebut tulang patella mudah patch

c. Biasanya jenis patahnya comminutiva (stelata), pada jenis patah ini biasanya medial dan lateral quadrisep expansion tidak ikut robek, hal ini menyebabkan penderita masih dapat melakukan extensi lutut melawan gravitasi

2. Trauma tak langsung/Indirect

a. Karena tarikan yang sangat kuat dan otot quadrisep yang membentuk musculotendineus melekat pada patella, sering terjadi pada penderita yang jatuh dengan tungkai bawah menyentuh tanah terlebih dahulu dan otot quadrisep kontraksi secara keras untuk mempertahanakan kestabilan lutut.

b. Biasanya garis patahnya transversal avulse ujung atas atau ujung bawah dan patella

Klasifikasi fraktur Patela berdasarkan patologinya1. Trauma langsung/Direct

Fraktur comminutiva

2. Trauma tak langsung/Indirect

Garis fraktur transversal

Fraktur avulsi patela transversal, yang fragmen proksimalnya tertarik menjauhi fragmen lain. Kelainan ini termasuk cedera alat ekstensi lutut

Pemeriksaan Klinik Radiologis Fraktur Patela Anamnesa Ditemukan adanya riwayat trauma

Penderita tak dapat melakukan extensi lutut, biasanya terjadi pada trauma indirect dimana patahnya transversal dan quadrisep mekanisme robek

Pada trauma direct dimana patahnya comminutiva medial dan lateral, quadrisep expansion masih utuh sehingga penderita masih dapat melakukan extensi lutut

Pemeriksaan Klinik Pada lutut ditemukan pembengkakan disebabkan hemarthrosis

Pada perabaan ditemukan patela mengambang (floating patella)

Pemeriksaan Radiologis Dengan proyeksi AP dan lateral sudah cukup untuk melihat adanya fraktur patela

Proyeksi sky-line view kadang-kadang untuk memeriksa adanya fraktur patela incomplete

Metode fiksasi luar dan dalam pada fraktur Patela Pengobatan fraktur patela biasanya dengan reduksi terbuka dan fiksasi interna pada patella. Fiksasi interna yang paling efektif ialah dengan benang kawat melingkari patela dikombinasi dengan kawat berbentuk angka delapan.

Pengobatan fraktur patela comminutiva yang terdapat haemorthrosis, dilakukan aspirasi haemorthrosis, diikuti pemakaian

Non operatif Untuk fraktur patela yang undisplaced Bila terjadi haemarthrosis dilakukan punksi terlebih dahulu

Kemudian dilakukan imobilisasi dengan pemasangan gips dan pangkal paha sampai pergelangan kaki. Posisi lutut dalam fleksi sedikit (5-10) dipertahankan 6 minggu.

Operatif Pada fraktur transversal dilakukan reposisi, difiksasi dengan teknik tension band wiring

Bila jenis fraktur comminutiva dilakukan rekronstruksi fragmennya dengan K-wire, baru dilakukan tension band wiring

Bila fragmen terlalu kecil sehingga tidak mungkin untuk dilakukan rekronstruksi, dilakukan patellectomi (hal ini menimbulkan kelemahan quadrisep expansion)

Komplikasi pasca penanganan fraktur Patela dan penanganannyaKomplikasi yang mungkin terjadi adalah terjadinya kondromalasia pada patela dan artrosis degeneratif

Rehabilitasi pasca fraktur PatelaRehabilitasi fraktur patela pasca bedah dapat dilakukan mobilisasi segera. Fleksi maksimal dihindarkan hingga minggu ke-10.

Komplikasi Malunion dan Non-union

Sindrom Kompartemen

Infeksi

Neurovascular injury

Radioulnar synostosis

Follow-UpPemeriksaan X-ray ulang dilakukan 1-2 minggu kemudian untuk menilai ada tidaknya loss of reduction. Plaster dipertahankan sampai terjadinya union 34 minggu pada anak-anak usia 10 tahun dan 1-2 minggu pada anak usia 4 tahun.

Rujukan ke dokter spesialis orthopaedi Pada kasus-kasus fraktur radius ulna yang memerlukan tindakan operasi/rekonstruksi, dirujuk ke dokter spesialis orthopaedi.