46
FRAKTUR KRURIS I. KASUS Nama pasien/umur : An. FM / 8 tahun No. Rekam Medik : 663789 Alamat : JL. KAJENJENG DALAM V BLOK VI Ruang perawatan : Lontara 2 orto Tanggal MRS : 19- 05- 2014 A. Anamnesis Keluhan utama : Patah tulang betis kiri. Anamnesis terpimpin : Dialami sejak 2 minggu yang lalu sejak masuk rumah sakit setelah mengalami kecelakaan lalu lintas pasien sedang berlari tiba – tiba ditabrak oleh sepeda motor.Sebelum dibawa ke rumah sakit Wahidin pasien mengaku pernah dibawa ke tukang urut. Riwayat penyakit sebelumnya : Pasien tidak pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. 1

Fraktur Kruris Yang Mau Di Print

Embed Size (px)

DESCRIPTION

faktur kruris

Citation preview

FRAKTUR KRURISI. KASUSNama pasien/umur:An. FM / 8 tahunNo. Rekam Medik:663789Alamat:JL. KAJENJENG DALAM V BLOK VIRuang perawatan: Lontara 2 ortoTanggal MRS:19- 05- 2014A. Anamnesis Keluhan utama :Patah tulang betis kiri. Anamnesis terpimpin :Dialami sejak 2 minggu yang lalu sejak masuk rumah sakit setelah mengalami kecelakaan lalu lintas pasien sedang berlari tiba tiba ditabrak oleh sepeda motor.Sebelum dibawa ke rumah sakit Wahidin pasien mengaku pernah dibawa ke tukang urut. Riwayat penyakit sebelumnya :Pasien tidak pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. Riwayat Hipertensi (-) Riwayat DM (-) Riwayat PJK (-) Riwayat pengobatan (termasuk obat yang sedang dikonsumsi) :Selama sakit pasien tidak pernah mengkonsumsi obat obatanPasien pernah pergi ke tukang urutB. Pemeriksaan FisisKeadaan umum: Sakit sedang.Kesadaran: Compos mentis (GCS 15, E4V5M6).Status Gizi: Baik. Tanda vitalTekanan darah:110/70 mmHg.Pernapasan:16 x/menit.Nadi:82 x/menitx. Suhu : 36.7 0C. MataKelopak mata:Edema (-)Konjungtiva:Anemia (-)Sklera:Ikterus (-)Kornea:JernihPupil:Bulat, isokor THT:Odinofagi (-)Disfagi (-)Disfoni (-)Odinofoni (-)Otore (-)Otalgia (-)Tinnitus (-)Gangguan pendengaran (-)

MulutBibir:Pucat (-), kering (-)Lidah:Kotor (-), hiperemis (-), kandidiasis oral (-)Tonsil:T1 - T1, hiperemis (+)Faring:Hiperemis (-) LeherKGB:Tidak ada pembesaran Dada Inspeksi.Bentuk:SimetrisSela Iga:Dalam batas normal Paru-paru PalpasiNyeri tekan:(-)Massa tumor:(-) PerkusiParu kiri:SonorParu kanan: Sonor AuskultasiBunyi pernapasan:VesikulerBunyi tambahan:Rh -/-, Wh -/-

Jantung Inspeksi:Iktus kordis tidak tampak pembesaran Palpasi:Iktus kordis tidak teraba Perkusi:Pekak Auskultasi Bunyi jantung:Bunyi jantung I/II murni reguler Bunyi tambahan:Bising (-) Abdomen Inspeksi:Datar, ikut gerak napas Auskultasi:Peristaltik (+), kesan normal Palpasi Nyeri tekan: (-) Massa tumor:(-) Hepar-lien:Tidak teraba Perkusi:Timpani EkstremitasAkral hangat:-/-Edema:-/+Deformitas:-/+Tanda perdarahan:-/+Disabilitas:-/+Nyeri lutut:-/+

C. Radiologi

Gambar 1: Fraktur pada 1/3 medial tibia et fibula sinistraFoto Cruris Sinistra AP/ Lateral (19/05/2014) : Alignment cruris berubah, tampak dislokasi os talus ke arah inferolateral. Fraktur obliq incomplete 1/3 medial os tibia sinistra. Fraktur obliq 1/3 medial os fibula dengan fragmen distal yang displaced ke craniolateral Tampak garis lusen pada growth plate dan epifisis distal os tibia. Mineralisasi tulang baik. Celah sendi genu baik. Jaringan lunak sekitarnya kesan swelling.

Kesan : Fraktur pada 1/3 medial os tibia et fibula sinistra. Suspek fraktur salter harris tipe III pada distal os tibia sinistra Dislokasi os talus ke inferolateralD. Resume KlinisSeorang anak laki - lakiusia 8 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan patah tulang betis kiri sejak 2 minggu yang lalu sebelum masuk rumah sakitdisebabkan oleh kecelakaan lalu lintas.Pasien berlari lalu ditabrak oleh sepeda motor.Pasien awalnya dibawa ke tukang urut sebelum akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo.E. Diagnosis Closed fracture 1/3 middle left tibiaet fibulaF. Terapi Medikamentosa IVFD RL 14 tpm Non- medikamentosa Penatalaksanaan long leg back slab left lower extremity.

II. DISKUSI KASUSA. PendahuluanFraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang. Patahan tadi mungkin tak lebih dari suatu retakan, suatu pengisutan atau perimpilan korteks; biasanya patahan itu lengkap dan fragmen tulang bergeser. Kalau kulit di atasnya masih utuh, keadaan ini disebut fraktur tertutup (atau sederhana); kalau kulit atau salah satu dari rongga tubuh tertembus, keadaan ini disebut fraktur terbuka (atau compound), yang cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi.(1)Gejala klasik fraktur adalah adanya riwayat trauma, rasa nyeri dan bengkak di bagian tulang yang patah, deformitas (angulasi, rotasi, diskrepansi), nyeri tekan, krepitasi, gangguan fungsi muskuloskeletal akibat nyeri, putusnya kontinuitas tulang, dan gangguan neurovaskular. Apabila gejala klasik tersebut ada, secara klinis diagnosis fraktur dapat ditegakkan walaupun jenis konfigurasi frakturnya belum dapat ditentukan.(2)Pemeriksaan radiologi dilakukan untuk menentukan jenis dan kedudukan fragmen fraktur.Foto Roentgen harus memenuhi beberapa syarat, yaitu letak patah tulang harus diletakkan di pertengahan foto dan sinar harus menembus tempat ini secara tegak lurus. Bila sinar menembus secara miring, gambar menjadi samar, kurang jelas, dan berbeda dari kenyataan. Harus selalu dibuat dua lembar foto dengan arah yang saling tegak lurus.Persendian proksimal maupun distal harus tercakup dalam foto. Bila ada kesangsian atas adanya patah tulang sebaiknya dibuat foto yang sama dari ekstremitas kontralateral yang sehat untuk perbandingan. Bila tidak diperoleh kepastian tentang adanya kelainan, seperti fissura, sebaiknya foto diulang setelah satu minggu; retak akan menjadi nyata karena hiperemia setempat di sekitar tulang yang retak itu akan tampak sebagai dekalsifikasi. Osteoporosis pascatrauma merupakan tanda Roentgenologik normal pascatrauma yang disebabkan oleh hiperemia lokal proses penyembuhan. Pemeriksaan khusus seperti CT-Scan atau MRI kadang diperlukan, misalnya pada kasus fraktur vertebra yang disertai gejalan neurologis.(2)B. EpidemiologiFraktur tibia dan fibula merupakan fraktur tulang panjang yang paling sering terjadi.Rata-rata insiden dari kasus ini diperkirakan terjadi sekitar 26 fraktur diaphyseal tibia dalam 100.000 penduduk per tahun. Laki-laki lebih sering mengalami fraktur ini dibandingkan perempuan, dengan insiden laki-laki yang sekitar 41 dalam 100.000 penduduk per tahundaninsidenperempuan sekitar 12 dalam 100.000 penduduk per tahun. Usia rata-rata pasien yang mengalami fraktur shaft tibia adalah 37 tahun, dengan laki-laki yang memiliki usia rata-rata 31 tahun dan wanita 54 tahun.(3)C. Anatomi dan Fisiologi Tulang

Gambar 2: Tahap perkembangan tulang panjang(4)

Gambar 3 :Struktur tulang panjang(4)

Gambar 4 : Gambaran radiologi tulang normal posisi AP/Lateral (5)Pertengahan dari tulang panjang disebut diafisis. Bagian sebelum ujung tulang adalah metafisis, yang meluas sampai ke lempeng epifisis. Epifisis melibatkan ruang-ruang sendi. Pusat-pusat pertumbuhan kadang ditemukan pada bagian tulang panjang yang tidak melibatkan ruang sendi (misalnya, sepanjang trokanter mayor femur).Pusat-pusat ini disebut sebagai apofisis.(6)Pertumbuhan tulang panjang terjadi terutama pada lempeng epifisis, ketika tulang baru memperpanjang metafisis dan menjauhkan jarak ke lempeng epifisis. Sebagian pertumbuhan terjadi sepanjang periosteum lateral sehingga memungkinkan tulang menjadi lebih tebal seiring dengan bertambahnya usia. Sebagian epifisis tampak saat lahir dan sebagian besar tertutup pada usia duapuluh tahun. Ada bagian yang berbeda dari tulang panjang yang penting, karena beberapa lesi yang khas hanya akan mempengaruhi bagian-bagian tertentu dari tulang tersebut. Sebagai contoh, sarkoma ewing yang mempengaruhi diapisis tulang panjang, tapi jarang mempengaruhi epifisis.(6)Korteks tulang memiliki garis putih halus, yang disebut trabekula. Terletak terutama di sepanjang garis stres dalam tulang dan merupakan pilar-pilar penyokong. Kadang-kadang dapat terjadi persilangan trabekula. Pada keadaan tidak digunakan, usia tua, atau peningkatan aliran darah, kalsium akan terbawa dari tulang dan menghilangkan cross-linking trabekula sehingga tulang menjadi lemah dan mudah terjadi fraktur.(6)Fungsi dari sistem rangka antar lain :(7)1. Mendukung dan menstabilkan jaringan sekitarnyaseperti otot, pembuluh darah, saraf, lemak, dan kulit.2. Melindungi organ vital tubuh seperti otak , sumsum tulang belakang , jantung , dan paru-parudan melindungi jaringan lunak lain pada tubuh .3. Membantu menggerakan tubuh dengan menyediakan tempat melekatnya otot-otot.4. Memproduksi sel-sel darah. Proses inidisebut hematopoiesis dan terjadi terutama di sumsum tulang merah.5. Tempat penyimpanan garam mineral , terutamafosfor dan kalsium , dan lemak.Beberapa yang terkait dengan tulang adalah tulang rawan, tendondan ligamen. Tulang rawan, jaringan ikat, adalah lingkungan tempat tulang berkembang pada janin. Ini juga ditemukan di ujung tulang sejati dan dalam sendi pada orang dewasa. Tulang rawan memberikan permukaan halus sebagai tempat tulang bergerak terhadap satu sama lain. Ligamen adalah struktur jaringan ikat yang keras yang melekatkan antar tulang. Seperti ligamen yang melekatkan kepala femur dan acetabulum pada panggul. Tendon adalah struktur serupa yang melekatkan otot ke tulang.(7)D. Mekanisme FrakturTulang bersifat relatif rapuh, namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan. Fraktur dapat terjadi akibat: (1) peristiwa trauma tunggal; (2) tekanan yang berulangulang ; atau (3) kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologik).(1)a. Fraktur akibat peristiwa traumaSebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba tiba dan berlebihan, yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, penekukan, pemuntiran atau penarikan. Bila terkena kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang terkena; jaringan lunak juga pasti rusak. Pemukulan (pukulan sementara) biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya.; penghancuran kemungkinan akan menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas. Bila terkena kekuatan yang tidak langsung tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena kekuatan itu; kerusakan jaringan lunak ditempat frakur mungkin tidak ada.(1)Kekuatan dapat berupa: (1) pemuntiran, yang menyebabkan fraktur spiral; (2) penekukan, yang menyebabkan fraktur melintang; (3) penekukan dan penekanan, yang mengakibatkan fraktur sebagian melintang yang disertai fragmen kupu kupu berbentuk segitiga yang terpisah ; (4) kombinasi dari pemuntiran, penekukan, dan penekanan yang menyebabkan fraktur oblik pendek; atau (5) penarikan, dimana tendon atau ligamen benar benar menarik tulang sampai terpisah.(1)

Gambar 5 :Tipe-tipe fraktur berdasarkan mekanisme trauma(8)

Gambar 6 :a. Fraktur spiral , b. Fraktur melintang , c. Fraktur oblik , d. Fraktur Butterfly(9,10,11)b. Fraktur kelelahan atau tekananRetak dapat terjadi pada tulang, seperti halnya pada logam dan benda lain, akibat tekanan berulangulang. Keadaan ini paling sering ditemukan pada atau fibula atau metatarsal, terutama pada atlet, penari , dan calon tentara yang jalan berbaris dalam jarak jauh.(1)

Gambar 7: Stress fraktur metatarsal(12)c. Fraktur patologikFraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah (misalnya oleh tumor) atau kalau tulang itu sangat rapuh (misalnya pada penyakit pager).(1)

Gambar 8: Ewing tumor(13)E. POLA FRAKTUR PADA ANAKMekanisme dari fraktur ada anak-anak berbeda menurut usianya. Anak yang lebih muda lebih sering terjadi fraktur oleh karena bermain dan jatuh dengan lengan yang terulur. Sedangkan pada anak yang lebih dewasa cidera fraktur dapat terjadi karena berolahraga, bersepeda, dan kecelakaan. Ligamentum pada anak-anak lebih kuat dibandingkan ligamentum pada orang dewasa, sehingga bila terjadi cidera, gaya yang timbul akibat benturan tersebut akan menyebabkan dislokasi pada orang dewasa dan menyebabkan fraktur pada anak oleh karena gaya yang timbul di transmisikan pada tulang. Sehingga perlu dilakukan penilaian yang tepat ketika terjadi dislokasi pada anak-anak yang bisa saja melibatkan terjadinnya fraktur pada tulang. Pembagian fraktur pada anak sebagai berikut :(13)1. Plastic deformation(13) Kekuatan yang menyebabkan kelainan mikroskopik pada posisi yang konveks pada tulang dan tidak mempengaruhi tulang yang konkaf. Tulang menekuk oleh karena melewati batas elatisnya, tetapi gaya yang ditimbulkan oleh cidera tidak sampai menyebabkan fraktur. Tidak ada garis fraktur yang terlihat di radiography. Khas untuk anak-anak. Penekukan pada ulna yang kurang dari 20 derajat pada anak usia kurang sama dengan 4 tahun biasanya akan terkoreksi selama masa pertumbuhan. Sering pada os ulna dan kadang-kadang pada os fibula.

Gambar 9 :Plastic Deformation(14)2. Buckle fraktur(13) Kompresi pada tulang yang terjadi pada sambungan methapisis dan diaphisis. Sering terjadi pada distal radius. Sifatnya stabil. Sembuh dalam 3-4 minggu dengan pergerakan yang minimal.

Gambar 10 :Buckle Fracture(14,15)

3. Greenstick fraktur(13) Tulang menjadi bengkok pada daerah tulang yangkonveks. Dapat menyebabkan patahnya sisi konkaf pada tulang jika melewati batas elastisnya dan memberikan deformitas pada tubuh.

Gambar 11 :Greenstick Fracture(14)4. Komplit fraktur(13) Bila seluruh lingkaran tulang atau kedua permukaan korteks terputus Diklasifikasikan menjadi fraktur spiral, obliq dan transfersal. Sama seperti tipe fraktur pada orang dewasa. Spiral fraktur disebabkan karena benturan tidak langsung berupa rotasi, benturan dengan kecepatan rendah. Obliq fraktur melewati garis diagonal diaphisis tulang dengan sudut 30 dari aksis tulang, tidak stabil. Fraktur transversa disebabkan karena benturan langsung yang keras.

Gambar 12 :Complete Fracture(14)5. Epiphysial fraktur(13) Fraktur pada lempeng pertumbuhan dapat disebabkan oleh: trauma, kelainan vaskuler pada lempeng pertumbuhan atau jembatan pertumbuhan tulang dari methafisis ke bagian penulangan dari ephypisis. Kerusakan pada lempeng pertumbuhan dapat menyebabkan deformitas anguler yang progresif, ketidakseimbangan panjang dari ekstremitas. Sering terjadi pada ephifisis distal os radius. Dapat Sembuh dalam 3 minggu. Di klasifikasikan oleh salter harris (SH) seperti berikut :Salter Harris (SH) . Klasifikasi kerusakan fraktur

TipeKarakteristik

Ifraktur transversal melalui sisi metafisis dari lempeng pertumbuhan

IIfraktur melalui sebagian lempeng pertumbuhan, timbul melalui tulang metafisis

IIIfraktur longitudinal melalui permukaan artikularis dan epifisis dan kemudian secara transversal melalui sisi metafisis dari lempeng pertumbuhan.

IVraktur longitudinal melalui epifisis, lempeng pertumbuhan dan terjadi melalui tulang metafisis.

Vcedera remuk dari lempeng pertumbuhan

Gambar 13 :Klasifikasi trauma fiseal shalter-harris(13).

Gambar 14 :Shalter-Harris Type I(16)

Gambar 15 :Shalter-Harris Type II(16)

Gambar 16 :Shalter-Harris Type III (17)

Gambar 17: Shalter-Harris Type IV (17)

Gambar 18 :Shalter-Harris Type V (17)F.Penanganan FrakturPengelolaan fraktur secara umum mengikuti prinsip pengobatan kedokteran pada umumnya, yaitu jangan mencederai pasien, pengobatan didasari atas diagnosis yang tepat, pemilihan pengobatan dengan tujuan tertentu, mengikuti lawofnature, pengobatan yang realistis dan praktis, dan memperhatikan setiap pasien secara individu.(19)Prinsip penanganan fraktur adalah mengembalikan posisi patahan tulang ke posisi semula (reposisi) dan mempertahankan posisi itu selama masa penyembuhan patah tulang (imobilisasi). Pada anak-anak reposisi yang dilakukan tidak harus mencapai keadaan sempurna seperti semula karena tulang mempunyai kemampuan remodeling.(19)Penatalaksanaan umum fraktur meliputi menghilangkan rasa nyeri, Menghasilkan dan mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur, Agar terjadi penyatuan tulang kembali, Untuk mengembalikan fungsi seperti semula.(20)Untuk mengurangi nyeri tersebut, dapat dilakukan imobilisasi, (tidak menggerakkan daerah fraktur) dan dapat diberikan obat penghilang nyeri. Teknik imobilisasi dapat dilakukan dengan pembidaian atau gips.(1) (18) (19)Bidai dan gips tidak dapat pempertahankan posisi dalam waktu yang lama. Untuk itu diperlukan teknik seperti pemasangan traksi kontinu, fiksasi eksteral, atau fiksasi internal.(19)

Gambar 19: Imobilisasi dengan menggunakan gips(21)

Gambar 20 :a. Fiksasi Internal, b. Fiksasi Eksternal (22)Beberapa penatalaksanaan fraktur secara ortopedi meliputi proteksi tanpa reposisi dan imobilisasi, Imobilisasi dengan fiksasi, Reposisi dengan cara manipulasi diikuti dengan imobilisasi, Reposisi dengan traksi, Reposisi diikuti dengan imobilisasi dengan fiksasi luar, Reposisi secara nonoperatif diikuti dengan pemasangan fiksasi dalam pada tulang secara operatif. Reposisi secara operatif dikuti dengan fiksasi patahan tulang dengan pemasangan fiksasi interna, Eksisi fragmen fraktur dan menggantinya dengan prosthesis.(19)Khusus pada fraktur terbuka, harus diperhatikan bahaya terjadi infeksi, baik infeki umum maupun infeksi lokal pada tulang yang bersangkutan. Empat hal penting yang perlu adalah antibiotik profilaksis, debridement urgent pada luka dan fraktur, stabillisasi fraktur, penutupan luka segera secara definitif.(1)(20)Pada dasarnya terapi fraktur terdiri atas manipulasi untuk memperbaiki posisi fragmen, diikuti dengan pembebatan untuk mempertahankanya bersama-sama sebelum fragmen-fragmen itu menyatu, sementara itu pergerakan sendi dan fungsi harus dipertahankan. Penyembuhan fraktur dibantu oleh pembebatan fisiologis pada tulang, sehingga dianjurkan untuk melakukan aktifitas otot dan penahanan beban secara lebih awal.(1)F. Proses Penyembuhan TulangProses penyembuhan fraktur terdiri atas lima stadium yaitu :(1)(23)1. Pembentukan hematomPembuluh darah robek dan terbentuk hematoma di sekitar dan di dalam fraktur. Tulang pada permukaan fraktur, yang tidak mendapat persediaan darah, akan mati sepanjang satu atau dua milimeter.2. Radang dan proliferasi sellulerDalam 8 jam setelah fraktur terdapat reaksi radang akut distertai poliferasi sel di bawah periosteum dan di dalam saluran medulla yang tertembus. Ujung fragmen dikelilingi oleh jaringan sel, yang menghubungkan tempat fraktur. Hematoma yang membeku perlahan-lahan di absorbs dan kapiler baru yang halus berkembang ke dalam daerah itu.3. Pembentukan kalusSel yang berkembangbiak memilki potensi krondrogenik dan osteogenik: bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan dalam beberapa keadaan, juga kartilago. Populaso sel sekarang juga mencakup osteoklas (mungkin dihasilkan dari pembuluh darah baru) yang mulai membersihkan tulang yang mati.Massa sel yang tebal, dengan pulau-pulau tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kalus atau bebat pada permukaan periosteal dan endosteal.Sementara tulang fibrosa yang imatur (atau anyaman tulang) menjadi lebih paday, gerakan pada tempat fraktur semakin berkurang dan pada empat minggu setelah cedera fraktur menyatu.4. KonsolidasiBila aktivitas osteoklastik dan osteoblastik berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi tulang lamelar.Sistem itu sekarang cukup kaku untuk memungkinakan osteoklas menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan dekat di belakangnya osteoblast mengisi celah-celah yang tersisa di antara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adakah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang cukup kuat untuk membawa bebang yang normal.5. RemodelingFraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorpsi dan pembentukan anak, tulang akan memperoleh bentuk yang mirip bentuk normalnya. Kontur normal dari tulang disusun kembali melalui proses remodeling akibat pembentukan tulang osteoblastik maupun resorpsi osteoklastik.Keadaaan terjadi secara relatif lambat dalam periode waktu yang berbeda tetapi akhirnya semua kalus yang berlebihan dipindahkan, dan gambaran serta struktur semula dari tulang tersusun kembali.

Gambar 21 :Proses penyembuhan tulang(23).

Gambar 22 :Pembentukan kalus(periosteal callus)(24)H. Komplikasi Fraktur1. Infeksi (osteomyelitis)Pada osteomyelitis, mikroba masuk melalui kulit yang rusak, meskipun dapat pula ditularkan melalui pembuluh darah. Penyembuhan tidak akan terjadi jikamasih ada infeksi yang masih berlangsung(19).

Gambar 22: A. Infeksi awal pada metaphyseal, terdapat destruksi fokal yangminimal padadistal medialmetaphysic. B. destruksi tulang lanjut jelas kelihatanpada metaphyseal (20).2. Non unionPenyembuhan secara non unionpada tulang terjadi dalam jangka waktu yang lama. Pada radiologis kelihatan jalur fraktur yang persisten(19).

Gambar 23: Non-union pada tibia. Terdapat Interosseous bone grafting dan surgical wiring. Terdapat sklerosis sekitar garis fraktur tanpa adanya bridging tulang, 1 tahun setelah fraktur(20).

3. MalunionTerjadi proses penyembuhan fraktur yang tidak sesuai dengan posisi anatomi. (20)

Gambar 24:Malunion pada fraktur tibia dimana telah terjadi penyembuhan tapi terdapat angulasi padalateral dari fragmen distal(20).

III.PENUTUPA. Diagnostik

Gambar 25: Fraktur pada 1/3 medial tibia et fibula sinistraFoto Cruris Sinistra AP/ Lateral (19/05/2014) : Alignment cruris berubah, tampak dislokasi os talus ke arah inferolateral. Fraktur obliq incomplete 1/3 medial os tibia sinistra. Fraktur obliq 1/3 medial os fibula dengan fragmen distal yang displaced ke craniolateral Tampak garis lusen pada growth plate dan epifisis distal os tibia. Mineralisasi tulang baik. Celah sendi genu baik. Jaringan lunak sekitarnya kesan swelling.Kesan : Fraktur pada 1/3 medial os tibia et fibula sinistra. Suspek fraktur salter harris tipe III pada distal os tibia sinistra Dislokasi os talus ke inferolateralB. KesimpulanPada foto Cruris sinistra AP dan lateral ini ditemukan alignment cruris berubah, tampak dislokasi os talus ke arah inferolateral. Terdapat fraktur obliq incomplete 1/3 medial os tibia sinistra dan fraktur obliq 1/3 medial os fibula dengan fragmen distal yang displaced ke craniolateral. Tampak garis lusen pada growth plate dan epifisis distal os tibia dan jaringan lunak sekitarnya kesan swelling.Fraktur adalah suatu kondisi terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang biasa disebabkan oleh rudapaksa. Fraktur dapat terjadi karena trauma langsung, kelelahan akibat tekanan yang berulang atau kondisi patologi seperti tumor atau infeksi yang terjadi pada tulang.Pada kasus ini terjadi fraktur obliq 1/3 medial os fibula karenaseluruh lingkaran tulang atau kedua permukaan korteks terputus dan mempunyai garis fraktur yang membentuk sudut yang berlokasi pada 1/3 medial tulang panjang. Kemudian dikatkan inkomplit ketika fraktur yang terjadi tidak melibatkan seluruh lingkaran tulang atau korteks. Fraktur inkomplit biasa terjadi pada anak disebabkan tulang yg masih dalam pertumbuhan sehingga kelastisan masih tinggi. Pada anak terdapat beberapa tipe fraktur yang berbeda dengan tipe fraktur pada orang dewasa. Pada kasus ini pasien dicurigai mengalami fraktur shalter harris karena terjadi fraktur pada daerah lempeng epifisis yang menyebakan terpisahnya epifisis dari metafisis. Berdasarkan suspek dari kesan tersebut maka pasien diusulkan untuk foto ankle joint.

DAFTAR PUSTAKA

1. Apley Ag, Solomon L. Prinsip Fraktur. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem. 7 ed. Jakarta: Widya Medika; 1995. p. 238 - 9.2. Hidayat S, Dejong. Sistem Muskuloskeletal. Buku Ajar Ilmu Bedah. 3 ed. Jakarta: EGC; 2010.3. KJZ K, D J. Handbook Of Fractures. 3 ed: Lipinccot Williams & Wilkins; 2006.4. Rhainlander FW. Normal Bone Anatomy. [cited 2014 3 May]; Available from: Cal.vet.upenn.edu/projects/saortho/chapter_01/01mast.htm.5. Ifa. Pemeriksaan Radiologi Cruris Pada Pasien Post Trauma. [29 May 2013; cited 2014 3 May]; Available from: Radiology.web.id/2013/05/pemeriksaan-radiologi-cruris-pada-pasien-post-trauma/.6. Matter FA. Skeletal System Introduction. Essential of Radiology. 2 ed. New Mexico: Department of Radiology, New Mexico Federal Regional Medical Center; 2005.7. Rizzo DC. The Skeletal System. Delmar's Fundamental Anatomy of Physiology. USA: Delmar. p. 134.8. Robert JR. Fractures. 2013 [updated 2013; cited 2014 3 May]; Available from: www.merckmanuals.com/professional/injuries_poisoning/fractures_dislocations_and_sprains/fractures.html9. Jones J. Spiral Idayah Tibia Fracture. 2010 [updated 2010; cited 2014 3 May ]; Available from: Radiopaedia.org/cases/spiral-distal-tibial-fracture.10. Singh AP. X Ray Picture of Fraktures tibia. [cited 2014 3 May]; Available from: Boneandspine.com/xray-picture-of-fractured-tibia/.11. Xrey Procedurs. NR Pusat Diagnostik; 2014 [updated 2014 March 2014; cited 2014 3 May]; Available from: Nrmedical.net/nrpd_xrayprocedures.asp.12. Stress Fracture American Academy of Pediatrics; [31 July 2013; cited 2014 5 May]; Available from: http://www.healthychildren.org/English/health-issues/injuries-emergencies/sports-injuries/Pages/Stress-Fractures.aspx.13. ewing sarcoma American Academy of Orthopaedic Surgeons; [September 2011; cited 2014 5 May ]; Available from: http://www.healthychildren.org/English/health-issues/injuries-emergencies/sports-injuries/Pages/Stress-Fractures.aspx.14. Budd L. Pediatric Fracture. Learn Pediatrics, University of Columbia British. 2012 22 April 2012.15. Radius / Ulna Shaft Diafisis Fractures Emergency Treatment. Victorian Pediatric Ortopedic Network [cited 2014 3 May]; Available from: www.rch.org.au/clinicalguide/guideline_index/fractures/radialulna_shaft_diaphysis_fractures_emergency_department/.16. Distal Radius And Os Ulna Metaphyseal Fractures Emergency Department. [cited 2014 3 May]; Available from: www.rch.org.au/clinicalguide/guideline_index/fractures/distal_radius_and_or_ulna_metaphyseal_fractures_emergency_department_setting/.17. Smithuis R. Ankle Special Fracture. 2012 [updated 2012 1 ocktober; cited 2014 3 May]; Available from: www.radiologyassistant.nl/en/p50335fcb7dc9/ankle-special-fracture-cases.html.18. Yamamoto LG, Chung SMK, Inaba AS. Salter Harris, Radiology Cases In Pediatric Emergency Medicine Vol. 1, Case 18. [cited 2014 3 May]; Available from: www.hawaii.edu/medicine/pediatrics/pemxray/v1c18.html.19. Gde Rastu Adi Mahartha, Sri Maliawan, Ketut Siki Kawiyana, Manajemen Fraktur Pada trauma Muskuloskeletal. 2011.20. Parahita PS, Kurniyanta P. Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Pada Cedera Fraktur Ekstremitas. Bagian SMF Ilmu Anastesi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Udayana RSUP Sanglah Denpasar. 2012.21. Buckler G. Reizen Met Eenlinchamsdeel in Gips. [3 April 2013; cited 2014 5 May]; Available from: http://www.gezondheid.be/index.cfm?fuseaction=art&art_id=13178.22. S D, RP JA, JJ PR, AP WW, W P. Periosteal Reaction; Bone and Joint Infection & Skeletal Trauma. In: YJ WR, editor. Textbook of radiology and Imaging. 7 ed: Churchill Livingstone; 2003. p. 1155 & 371 - 3377.23. External Fixators. Department of Orthopaedic surgery University Stellenbosch, South Africa; [cited 2014 3 May]; Available from: www.sun.ac.za/ortho/webct-ortho/general/exfix/exfix.html.24. Radiology Trauma. [cited 2014 5 May]; Available from: http://www.klinikaikozpont.uszeged.hu/radiology/radio/trauma1/atraum7a.htm 25. Rose W. Healing Of Bones. In: W A, G A, editors. Anatomy and Physiology In Health and Illness. 9 ed; 2001. p. 388 - 90.

32