Fraktur Femur

  • View
    77

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

FRAKTUR FEMUR

Text of Fraktur Femur

LAPORAN PENDAHULUAN

47

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stres yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak dan bahkan kontraksi otot ekstrim. Kebanyakan kasus nyeri karena fraktur sekarang di akibatkan oleh tinggainya angka kecelakaan yang terjadi di jalan raya yang di akibatkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan alat-alat yang memenuhi standar keselamatan dalam berkendaraan. Seperti menggunakan helem yang standar untuk pengendara sepeda motor dan menggunakan sabuk pengaman untuk pengendara mobil. Klien dengan fraktur fedis datang dengan nyeri tekan akut, pembengkakan nyeri saat bergerak dan spasme otot. Mobilitas atau kemampuan fisik klien untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari perubahan dan klien perlu belajar bagaimana menyesuaikan aktivitas dan lingkungan untuk mengakomodasikan diri dengan menggunakan alat bantu dan bantuan mobilitas.

Berdasarkan data-data tersebut di atas maka kelompok kami tertarik untuk membahas kasus fraktur khususnya Fraktur Femur 1/3 Dekstra dan juga untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah GADAR dalam praktek lapangan.

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Untuk memperoleh gambaran umum mengenai fraktur meliputi definisi, manifestasi klinis, etiologi serta komplikasi yang ditimbulkan akibat kecelakaan yang terjadi di jalan raya yang bisa menimbulkan fraktur.

2. Tujuan Khusus

Mahasiswa mampu:

b. Memahami konsep dasar dari Fraktur Femur 1/3 Dekstra

c. Menentukan diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan Fraktur Femur 1/3 Dekstra khususnya yang kami angkat disini adalah nyeri akibat fraktur pada Tn. K yaitu Fraktur Femur 1/3 Dekstra.d. Menyusun rencana tindakan keperawatan dalam perawatan klien dengan Fraktur Femur 1/3 Dekstra

e. Menyusun dokumentasi keperawatan

C. Ruang Lingkup Keperawatan

Dalam menulis makalah ini penulis membahas mengenai definisi, etiologi, manifestasi klinis, komplikasi, asuhan keperawatan serta studi kasus mengenai klien dengan Fraktur Femur 1/3 Dekstra.D. Metode Penulisan

Dalam menyusun makalah ini penulis menggunakan metode deskriptif. Adapun tenik pengumpulan data dan informasi dalam penyusunan makalah ini adalah studi kepustakaan dengan menggunakan literatur untuk memperoleh materi-materi yang bersifat teoritis dan studi kasus dengan mengambil data langsung pada klien mengalami Fraktur Femur 1/3 Dekstra guna menyempurnakan makalah ini.

E. Sistematika Penulisan

Makalah ini tersusun secara sistematis yang terdiri atas 5 bab yaitu:

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Tujuan Penulisan1. Tujuan Umum

2. Tujuan KhususC. Ruang Lingkup

D. Sistematika PenulisanBAB IITINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar

1. Pengertian

2. Patofisiologi

3. Penatalaksanaan Medis

B. Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

2. Diagnosa

3. Perencanaan

4. EvaluasiBAB IIITINJAUAN KASUS

A. Pengkajian

B. Diagnosa

C. Perencanaan

D. Implementasi

E. Evaluasi

BAB IVPEMBAHASAN

BAB VPENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB IITINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR

1. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM RANGKA

1) Sistem Rangka

Rangka manusia dewasa tersusun dari tulang-tulang (sekitar 206 tulang) yang membentuk suatu kerangka tubuh yang kokoh. Walaupun rangka terutama tersusun dari tulang, rangka di sebagian tempat dilengkapi kartilago utama.

1. Rangka aksial terdiri dari beberapa tulang yang membentuk aksis panjang tubuh yang melindungi organ-oran pada kepala, leher dan torso.

a. Kolumna vertebra (tulang belakang) terdiri dari 26 vertebra yang dipisahkan oleh diskus vertebra.b. Tengkorak diseimbangkan pada kolumna vertebrac. Kerangka toraks (rangka iga) meliputi tulang-tulang iga dan sternum yang membungkus dan melindungi organ-organ thoraks.

2. Rangka aperdikular terdiri dari 126 tulang yang membentuk lengan, tungkai dan tulang pektoral (serta tonjolan pelvis yang menjadi tempat melekatnya lengan dan tungkai pada rangka aksial.3. Persendian adalah artikulasi dari dua tulang atau lebih.

2) Fungsi Sistem Rangka

1. Memberikan topangan dan bentuk pada tubuh2. Pergerakan tulang berartikulasi dengan tulang lain pada sebuah persendian dan berfungsi sebagai pengungkit jika otot berkontraksi, kekuatan yang diberikan pada pengungkit menghasilkan gerakan.3. Perlindungan sistem rangka, melindungi organ-organ lunak yang ada dalam tubuh.4. Pembentukan sel darah (hematopoisis) sumsum tulang merah, yang ditemukan pada orang dewasa dalam tulang sternum, tulang iga, badan vertebra, tulang pipi pada kranium dan pada bagian ujung tulang panjang. Merupakan tempat produksi sel darah merah, sel darah putih dan trombosit darah.5. Tempat penyimpanan mineral.

3) Komposisi Jaringan Tulang1. Tulang terdiri atas sel-sel dan matriks ekstrakuler. Sel-sel tersebut adalah osteoblast dan osteoklas.2. Matriks tulang tersusun dari serat-serat kolagen organik yang tertanam pada substansi dasar dan garam-garam organik tulang seperti fosfor dan kalsium.3. Tulang kompak adalah jaringan yang tersusun rapat dan terutama ditemukan sebagai lapisan di atas jaringan tulang concelles, parositasnya bergantung pada saluran mikroskopik (kanalikuli) yang mengandung pembuluh darah yang berhubungan dengan saluran havers.4) Anatomi Tulang Panjang yang Tipikal 1. Diafisis (batang) tersusun dari tulang kompak silinder tebal yang membungkus medula atau rongga sumsum sentran yang besar.

a. Rongga sumsum berisi sumsum tulang kuning (adi posa) atau sumsum merah bergantung usia individub. Endosteum melapisi rongga sumsum, jaringan ini terdiri dari jaringan ikat areolar vaskuler.c. Periosteum adalah lembaran jaringan ikat yang terdiri dari dua lapisan. Lapisan luar adalah jaringan ikat fibrosa rapat, lapisan dalam bersifat osteogenik (pembentuk tulang) terdiri dari suatu lapisan tunggal osteoblas periosteum membungkus diafisis.

2. Epifisis adalah ujung-ujung tulang yang membesar sehingga rongga-rongga sumsum dengan mudah bersambungan.

a. Epifisis tersusun dari tulang concellus internal, yang diselubungi tulang kompak dan dibungkus kartilago artikular (artilago).b. Kartilago artikular, yang terletak pada ujung-ujung permukaan tulang yang berartikulasi, dilumasi dengan cairan sinovial dari rongga persendian. Kartilago ini memungkinkan terjadinya pergerakan.

5) Klasifikasi Tulang Menurut Bentuknya

1. Tulang panjang, ditemukan di tungkai. Tulang berelongasi dan berbentuk silindaris serta terdiri dari epifisis. Fungsi tulang ini adalah untuk menahan berat dan berperan dalam pergerakan.2. Tulang pendek adalah tulang pergelangan tangan (karpal) dan tulang pergelangan kaki (tarsal). Tulang tersebut berstruktur kuboidal atau bujur dan biasanya ditemukan berkelompok untuk memberikan kekuatan dan kekompakan kepada area yang pergerakannya terbatas.3. Tulang pipih, pada tulang tengkorak, iga dan tulang dada. Struktur tulang-tulang yang mirip lempeng ini perlindungan dua lempeng tulang kompak pembungkus laposan rongga.4. Tulang ireguler adalah tulang yang bentuknya tidak beraturan dan tidak termasuk kategori di atas, meliputi tulang vertebra dan tulang asikel telinga5. Tulang sesamoid adalah tulang kecil bulat yang masuk ke formasi persendian atau bersambungan dengan kartilago, ligamen atau tulang lainnya. Salah satu contohnya adalah patella (tempurung lutut) yang merupakan tulang sesamoid terbesar.Gambar kerangka manusia:

gambar dari depan gambar dari belakang

2. DEFINISI FRAKTURa. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (R. Sjamsuhidayat dan Winn de Jong, 1998).b. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditemukan sesuai jenis dan luasnya. (Bruner dan Suddart)c. Fraktur adalah patah tulang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Sylvia Anderson Price. Larraie Mc Carty Klilson, 1995)d. Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang diakibatkan oleh tekanan eksternal yang lebih besar dari setiap oleh tulang (Lynda Juall Capenito, 1999).

e. Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan.1) Macam-Macam Fraktura. Fracture (fraktur tertutup) yaitu fraktur yang tertutup karena integritas kulit masih utuh atau tetap tidak berubah.b. Compound fracture (fraktur terbuka) yaitu fraktur karena integritas kulit robek atau terbuka dan ujung menonjol sampai menembus kulit.c. Fracture complete adalah retak atau patahnya tulang yang luas dan melintang biasanya disertai dengan perpindahan posisi tulang.d. Fracture incomplete adalah patah tulang melintang tetapi tidak terjadi dislokasi.e. Retak tak komplit yaitu hanya sebagian dari tulang yang retak.gambar frakturBerikut ini adalah berbagai jenis khusus fraktura. Green stick: Fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkak.

b. Transversal: Fraktur sepanjang garis tengah tulang.

c. Oblik: Fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang (lebih tidak stabil dibandingkan transversal).

d. Spiral: Fraktur memuntir seputar batang tulang.

e. Kominutif: Fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah).

f. Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)g. Patologik: Fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, penyakit paget, metatasis tulang, tumor)

h. Avulsi: Tertariknya fragmen tulang oleh fragmen atau tanda pada perlekatannya.

i. Impaksi: Fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya.

j. Epifisial: Fraktur melalui episis.

Gambar jenis-jenis fraktur:

3. PATOFLOW4. ETIOLOGI1) Trauma: Merupakan penyebab utama yang sering menyebabkan terjadinya fraktur seperti kecelakaan dan lain-lain.2) Patologi: Merupakan fraktur yang disebabkan karena timbulnya fraktur seperti osteoporosis dan tumor.3) Malnutrisi: Karena kurang mineral dan kalsium serta perubahan hormonal.5. MANIFESTASI KLINIKPada kurang mineral dan kalsium serta perubahan hormonal.

1) Nyeri

Terjadi karena terputusnya kontinuitas jaringan dan tulang. Nyeri hampir selalu muncul dan biasanya parah, terutama pada ujung tulang yang tidak dapat digerakkan.

2) Menurunnya fungsi ekstremitas normal dan abnormal

Disebabkan oleh ketergantungan fungsional otot pada stabilitas otot

3) Bengkak

Berasal dari proses vasodilatasi eksudasi plasma dan adanya peningkatan leukosit pada jaringan di sekitar tulang.

4) Spasme Otot

Dapat menambah rasa sakit dan tingkat kecacatan kekuatan otot yang sering disebabkan karena tulang menekan otot.

5) Krepitasi

Sering terjadi karena pergerakan bagian fraktur sehingga menyebabkan kerusakan jaringan sekitarnya.6) Pemendekatan tulangTerjadi pada fraktur panjang, yang terjadi karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur.

6. KOMPLIKASI1) Mal union yaitu proses penyembuhan tulang berjalan dengan normal tetapi bentuknya abnormal.2) Non union yaitu suatu kegagalan dalam penyembuhan tulang, walaupun sudah pada waktunya ditandai dengan nyeri pada waktu digerakkan.3) Delayed union yaitu proses tulang yang diperkirakan (lebih dari 4 bulan).4) Kerusakan pembuluh darah seperti iskhemia.5) Kerusakan saraf seperti kelumpuhan.6) Infeksi tulang seperti osteomyelitis.7) Kekakuan sendi seperti ankylosis.

7. PEMERIKSAAN PENUNJANG1) Pemeriksaan Diagnostik

a. Sinar-X : Mengevaluasi klien dengan kelainan muskuloskeletal. Sinar-X tulang menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, porosi dan perubahan hubungan tulang. b. CT-Scan : Menunjukkan rincian bidang tertentu tulang yang terkena dan dapat memperlihatkan tumor jaringan lunak atau cidera ligamen atau tendon.c. MRI : Teknik pencitraan khusus, non invasif yang menggunakan magnet, gelombang radio & komputer untuk memperlihatkan abnormalitas jaringan lunak seperti jaringan otot, tendon dan tulang rawan.2) Pemeriksaan Lab

a. Pemeriksaan darah lengkapb. Pemeriksaan kimia darah8. PENATALAKSANAAN MEDISPenatalaksanaan dari fraktur adalah:a. Immobilisasib. Pembedahanc. Penggunaan fiksasi internal seperti pen, plate, screw, wired. Perawatan pre-operasie. Direncanakan untuk mempersiapkan keadaan jasmani klien dan psikososialf. Perawatan post-operatifPengkajian berkesinambungan dilakukan oleh perawat pada 24-48 jam pertama setelah operasi.a. Tanda-tanda vital : shock, hipovolemik

b. Luka : eritema, rasa panas area luka, observasi drainase

c. Intake & output : memonitor melalui kateter dan muntah

d. Kenyamanan : frekuensi pola tidur

e. Pengkajian pernafasan : menentukan apakah pasien batuk efektif

f. Pengkajian abdomen : bising usus untuk memulai makan.

Rehabilitatif

a. Terapi panas dingin dan pijatan latihan isometric akan meningkatkan tensi otot tanpa menggerakkan sendi dekat luka.

b. Latihan ROM pasif dan aktif membantu menjaga dan meningkatkan mobilitas sendi.B. FRAKTUR FEMUR

1. Definisi

Fraktur femur adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang / osteoporosis.

2. Klasifikasi Fraktur FemurAda 2 type dari fraktur femur, yaitu :a. Fraktur Intrakapsuler 1) Terjadi di dalam tulang sendi, panggul dan melalui kepala femur (capital fraktur).

2) Hanya di bawah kepala femur.

3) Melalui leher dari femur.

b. Fraktur Ekstrakapsuler; 1) Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokhanter femur yang lebih besar/yang lebih kecil /pada daerah intertrokhanter.2) Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokhanter kecil.

3. Etiologi

Penyebab fraktur adalah :a. Fraktur patologis : fraktur yang diakibatkan oleh trauma minimal atau tanpa trauma yang disebabkan oleh suatu proses, yaitu :1) Osteoporosis Imperfekta2) Osteoporosis3) Penyakit metabolik

b. Fraktur yang disebabkan oleh Trauma, yang dapat dibagi menjadi :

1) Trauma langsung, yaitu benturan pada tulang. Biasanya penderita terjatuh dengan posisi miring dimana daerah trokhanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan). 2) Trauma tak langsung, yaitu titik tumpuan benturan dan fraktur berjauhan, misalnya jatuh terpeleset di kamar mandi pada orangtua. 4. Tanda dan GejalaTanda dan gejala dari fraktur femur adalah:a) Nyeri hebat di tempat fraktur b) Tak mampu menggerakkan ekstremitas bawah c) Rotasi luar dari kaki lebih pendekd) Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah, bengkak, kripitasi, sepsis pada fraktur terbuka, deformitas.5. Komplikasi Beberapa komplikasi yang dapat timbul pasca operasi Fraktur Femur 1/3 Distal adalah:

a) Infeksi Infeksi terjadi karena masuknya mikroorganisme patogen ke dalam daerah fraktur dan karena fiksasi internal yang di pasang di dalam tubuh pasien mungkin tidak steril atau karena teknik, perlengkapan dan keadaan operasi yang buruk (Adam, 1992).b) Nekrosis avaskularIni adalah komplikasi dini dari cedera tulang, karena iskemia terjadi selama beberapa jam pertama setelah fraktur (Appley,1995).c) Deep Venous Trombosis ( DVT )Komplikasi yang paling sering ditemukan pada cedera dan operasi. Di Indonesia insidensi yang sebenarnya tidak diketahui. Penyebab utama Deep Venous Thrombosis pada pasien pembedahan adalah hiperkoagulabilitas darah, terutama akibat aktivasi faktor X oleh tromboplastin yang dilepas oleh jaringan yang rusak. Faktor-faktor sekunder yang penting, seperti imobilisasi yang lama, kerusakan endotel dan peningkatan jumlah dan kelengketan trombosit dapat diakibatkan oleh cedera atau operasi (Appley,1995).6. Pemerikasaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang dari fraktur femur adalah:

a) X-Rayb) Bone scans

c) Tomogram

d) MRI Scanse) Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler

f) CCT kalau banyak kerusakan otot.

7. Penatalaksanaan Medisa. Terapi latihanTerapi latihan adalah salah satu upaya pengobatan dalam fisioterapi yang dalam pelaksanaannya menggunakan latihan gerakan tubuh, baik secara aktif maupun pasif (Priatna, 1985).

b. Open Reduction Internal Fixation

Apabila diartikan dari masing-masing kata adalah sebagai berikut; Open berasal dari bahasa Inggris yang berarti buka, membuka, terbuka (Jamil,1992), Reduction berasal dari bahasa Inggris yang berarti koreksi patah tulang (Ramali, 1987), Internal berasal dari bahasa Inggris yang berarti dalam (Ramali, 1987), Fixation berasal dari bahasa Inggris yang berarti keadaan ditetapkannya dalam satu kedudukan yang tidak dapat berubah (Ramali, 1987). Jadi dapat disimpulkan sebagai koreksi patah tulang dengan jalan membuka dan memasang suatu alat yang dapat membuat fragmen tulang tidak dapat bergerak.

c. Plate and screw

Plate berarti struktur pipih atau lapisan (Dorland,1998). Screw berarti silinder padat (Dorland,2002). Plate and screw berarti suatu alat untuk fiksasi internal yang berbentuk struktur pipih yang disertai alat berbentuk silinder padat untuk memfiksasi daerah yang mengalami perpatahan.d. TraksiTraksi adalah penyembuhan fraktur yang bertujuan mengembalikan fungsi tulang yang patah dalam jangka waktu sesingkat mungkin. Adapun metoda pemasangan traksi : 1) Traksi Manual Tujuan dari pemasangan traksi ini adalah untuk perbaikan dislokasi, mengurangi fraktur, dan dilakukan pada keadaan Emergency.

Dilakukan dengan menarik bagian tubuh.

2) Traksi Mekanik Ada dua macam, yaitu : a) Traksi Kulit Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk struktur yang lain, misalnya: otot. Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban < 5 kg. Untuk anak-anak waktu beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai fraksi definitif, bila tidak diteruskan dengan pemasangan gips.b) Traksi Skeletal Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced traction. Dilakukan untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal atau penjepit melalui tulang/jaringan metal.C. ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN1) Aktivitas/Istirahat

Tanda :Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera fraktur itu sendiri atau terjadi secara sekunder dari pembengkakan jaringan, nyeri).

2) Sirkulasi

Tanda :- Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respons terhadap nyeri/ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah).

- Takikardia (Respon stress, hipovolemia).

-Pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi cedera.

3) Neurosensori

Gejala :- Hilang gerakan/sensasi, spasme otot

- Kebas/kesemutan (parestesis)

Tanda:-Deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi (bunyi berderit), spasme otot, terlihat kelemahan/hilang fungsi.

-Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri/ansietas atau trauma lain).

4) Nyeri/Kenyamanan

Gejala :-Nyeri berat tiba-tiba pada saat ceder (mungkin terlokasasi pada area jaringan/kerusakan tulang: dapat berkurang pada imobilisasi) tak ada nyeri akibat kerusakan saraf.

-Spasme/kram otot (setelah imobilisasi).

5) Keamanan

Gejala :-Laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan warna.

-Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1) Gangguan rasa nyaman nyeri b.d terputusnya kontinuitas jaringan.

2) Keterbatasan mobilitas fisik atau aktivitas b.d imobilisasi.

3) Resti gangguan integritas kulit: dekubitus b.d tirah baring lama.

4) Resti konstipasi b.d imobilisasi.3. INTERVENSI KEPERAWATAN 1) Dx I

a. Kaji TTV

R/ mengetahui keadaan umum klien terutama yang mendukung diagnosa.

b. Kaji keluhan nyeri/ketidaknyamanan: lokasi, karakteristik, intensitas, skala

R/ Mempengaruhi pilihan/pengawasan keefektifan intervensi, tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi/reaksi terhadap nyeri.c. Lakukan dan awasi latihan gerak pasif/aktifR/ mempertahankan kekuatan dan mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resdusi inflamasi pada jaringan yang cidera.

d. Berikan alternatif tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung, perubahan posisi.

R/ meningkatkan sirkulasi umum, menurunkan area tekanan lokal dan kekakuan otot.

e. Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam, visualisasi, imajinasi, distraksi, retraksi

R/ mengalihkan stimulus nyeri

f. Kolaborasi dengan dokter mengenai pemberian analgesik

R/ membantu mengurangi nyeri.

2) Dx IIa. Kaji tingkat immobilitas yang dihasilkan oleh cedera/pengobatan dan perhatian persepsi pasien terhadap imobilitas

R/ klien mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi/intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan.

b. Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk dan nafas dalam

R/ mencegah atau menurunkan insiden komplikasi kulit atau pernafasan.c. Berikan atau bantu dalam mobilisasi diriR/ mobilisasi diri menurunkan komplikasi tirah baring dan meningkatkan penyembuhan.

d. Bantu atau dorong perawatan diri serta kebersihan, contoh: mandi

R/ meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan kontrol klien dalam situasi dan meningkatkan kesehatan diri langsung.

e. Kolaborasi dengan dokter engenai program defekasi, ahli terapi fisik dan spesialis psikiatri klinik.

R/ membantu mempercepat penyembuhan dan penerimaan diri.

3) Dx IIIa. Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan, perdarahan, perubahan warna kelabu, memutih.

R/ memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang memungkinkan disebabkan oleh alat dan pembentukan edema yang membutuhkan intervensi lebih lanjut.

b. Massa kulit dan penonjolan tulang pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerukan. Tempat bantalan air/bantalan lain di bawah siku/tumit sesuai indikasi.

R/ menurunkan tekanan pada area yang peka dan resiko abrasi/kerusakan kulit.

c. Ubah posisi dengan sering

R/ mengurangi tekanan konstan pada area yang sama dan meminimalkan resiko kerusakan kulit.

4) Dx IVa. Latihan klien untuk melakukan pergerakan yang melibatkan daerah abdomen seperti miring kanan dan kiri.

R/ mempertahankan pergerakan ususb. Auskultasi bising usus

R/ mengetahui adanya bising usus yang aktif

c. Berikan cairan yang adekuat

R/ mempertahankan kebutuhan cairan

d. Berikan makanan tinggi serat

R/ memperlancar proses buang air besar4. EVALUASI1) Menunjuk tindakan santai/tidak menangis

2) Menunjuk teknik yang mampu melakukan aktivitas

3) Menyatakan ketidaknyamanan hilang

4) Tidak menunjukkan adanya konstipasi.BAB IIIPENGKAJIAN KEPERAWATAN

IDENTITAS PASIEN

Nama

:Tn. K

Usia

:28 Tahun

Jenis Kelamin

: Laki laki

Agama

: Islam

Pekerjaan

: TNI-ADNo. Register

: 31.59.51Diagnosa Medis: Open Fraktur Femur 1/3 distal.Rencana Oerasi: ORIF FemurDATA FOKUSTanggalData SubyektifData Objyektif

11-02-2008A. Pre Operasi

1. Keadaan Umum Somnolent.

2. Klien tampak gelisah.

3. TTV:TD: 159/97 mmHg

Nd: 86 x/menit

RR: 24 x/menit

Sh: 38C

4. Pernapasan: spontan,dengan O2 : 3 Liter.

5. Inform Consent: ada

6. Protese ( gigi palsu, cat kuku, kontak lens) : tidak ada.

7. Perhiasan : tidak ada.

8. Folly cateter/drain : ada.

9. Persiapan kulit cukur : ya.

10. Huknah gliserin : tidak.11. Hasil LAB :

Hematologi

Darah rutin:

Hb: 12,5 g/dL

Ht: 38 %

Eritrosit: 4,2 juta/uL

Leukosit: 11.400/uL

BT: 2 30

CT: 3 40

12. Hasil Rotgen, USG, CT-Scan MRI, Lain : ada.

13. IVFD: RL=1.500cc, Fimahes= 300cc.

14. Belum pernah di operasi.

15. Marker area operasi: ya.16. Pasien tampak meringis kesakitan

B. Intra Operasi

1. Anestesi mulai pk. 11.30 WIB s/d 14.00 WIB

2. Jenis anestesi : General

3. Posisi operasi: Supine

4. Desinfeksi kulit: bethadine 7,5%; bethadine 10%,alcohol 70%.

5. Diatermi : ya.

6. Lokasi operasi: femur 1/3 distal.

7. Perdarahan: 1.500 cc.

8. Urine: 350cc.

9. IWL: 300cc.

10. Balance cairan:

Intake: 1.800cc

Output: 2.150cc

Balance: -350cc

11. Pada saat dilakukan tindakan operasi banyak sekali terdapat orang di dalam ruangan tersebut12. Banyak sekali menggunakan alat-alat dalam tindakan operasi13. selama intra operasi pasien bernapas dengan alat VENTILATOR ,dengan saturasi O2 97 100 %C. Post Operasi

1. TTV:

TD: 130/70 mmHg

Nd: 89x/menit

RR: 22x/menit

Sh: 36,5C

2. Keadaan umum: buruk.

3. Kesadaran: somnolent.

4. Pernapasan: spontan

5. Akral dingin

6. Membrane mukosa mulut kering

ANALISA DATAKlien / Umur

: TnK/28 tahun

Kamar/Ruang

: OK. IXTanggalDataMasalahEtiologi

11-02-2008Pre Operasi

DS : -

DO : Keadaan Umum Somnolent.

TTV:TD: 159/97 mmHg

Nd: 86 x/menit

RR: 24 x/menit

Sh: 38C

Klien tampak gelisah Pasien tampak meringis kesakitan

Nyeri

Proses :

Fraktur pedis dextra

amputasi pedis dextra

Kerusakan jaringan lunak

Persepsi nyeri

nyeri Kerusakan jaringan lunak

Spasme otot

11-02-2008Intra Operasi

a. Dx. IDS : -

DO : Perdarahan: 1.500 cc.

Urine: 350cc.

IWL: 300cc.

Balance cairan:

Intake: 1.800cc

Output: 2.150cc

Balance: -350cc

Mukosa mulut kering.

Turgor kulit tidak elastic.Defisit volume cairan tubuhPerdarahan berlebih.

11-02-2008b. Dx. II DS: -

DO: RR: 24 x/menit

bunyi napas vesikuler, Rh -/-, Wh -/-

klien mendapatkan anestesi general.

selama intra operasi pasien bernapas dengan alat VENTILATOR ,dengan saturasi O2 97 100 %Resiko tidak efektifnya jalan napasEfek anestesi

11-02-2008c. Dx. IIIDS : -

DO : TTV:

TD: 130/70 mmHg

Nd: 89x/menit

RR: 22x/menit

Sh: 36,5C

Pada saat dilakukan tindakan operasi banyak sekali terdapat orang di dalam ruangan tersebut

Banyak sekali menggunakan alat-alat operasi

Resti infeksiProses pembedahan

11-02-2008Post Operasi

DS : -DO : RR: 24 x/menit

bunyi napas vesikuler, Rh -/-, Wh -/-

klien mendapatkan anestesi general.

selama intra operasi pasien bernapas dengan alat VENTILATOR ,dengan saturasi O2 97 100 %Resiko tidak efektifnya jalan napasPenumpukan sekret

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nama klien /umur: Tn.K /28 th

Ruang: OK.IX

NoMasalah/DiagnosaTanggal ditemukanTanggal teratasiNama jelas

1Pre Operasi

Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d kerusakan jaringan lunak, spase otot.

24-12-2008

2Intra Operasi

a. Defisit volume cairan tubuh b.d perdarahan berlebih.

b. Resiko tidak efektifnya jalan napas b.d efek anestesi.

c. Resti infeksi b.d proses pembedahan

24-12-2008

3Post Operasi

Resiko tidak efektifnya jalan napas b.d penumpukan secret

24-12-2008

RENCANA KEPERAWATANKlien / Umur: TnK/28 tahun

Ruang

: OK.IX

TanggalDXTujuan & KH

Rencana TindakanRasionalParaf

24-12-20081Dalam waktu 1 x 24 jam masalah nyeri klien berkurang dengan KH:

Skala nyeri berkurang menjadi nyeri ringan (1 3) (0)1. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit

2. Evaluasi skala nyeri pertahankan lokasi dan karakteristik dan termasuk intensitas

3. Pantau TTV.

4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat mengurangi rasa nyeri.1. R/:Menghilangkan nyeri dan mengurangi ketegangan jaringan yang cedera.

2. R/: Mempengaruhi pilihan/pengawasan keefektifan intervensi tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi terhadap nyeri.

3. R/:Peningkatan TTV dapat mengindifikasikan terjadinya peningkatan skala nyeri mengurangi rasa nyeri.

24-12-20082a. Dalam waktu 1 x 24 jam masalah kebutuhan cairan tubuh teratasi dengan KH :

Tidak ada tanda tanda syok hipovolemik.

Balance cairan seimbang.

Turgor kulit elastis,membran mukosa pink dan lembab.1. Pertahankan keseimbangan cairan.

2. Pantau TTV.

3. Kaji sejak awal tanda-tanda syok.

4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian darah.1. R/: penggantian cairan dengan fluktuasi kecepatan memerlukan tabulasi ketat untuk mencegah ketidakseimbangan dan kelebihan cairan.

2. R/: memberikan pedoman untuk penggantian cairan dan mengkaji respon kardiovaskuler.

3. R/: untuk mencegah terjadinya syok lebih lanjut.

4. R/: meresusitasi cairan yang hilang selama operasi.

b. Dalam waktu 1 x 24 jam masalah bersihan jalan napas efektif dengan KH :

Pernapasan adekuat

Tidak ada dipsnea atau sianosis

Prekuensi pernapasan/ GDA dalam batas normal

1. Ukur TTV

2. Auskultasi bunyi napas

3. Obserpasi sputum untuk tanda adanya darah

4. Berikan tambahan oksigen1. R/ : masih adanya tanda dan gejala menunjukan distres pernapasan

2. R/ : perubahan bunyi menunjukan terjadinya komplikasi pernapasan

3. R/ : untuk mencegah emboli lemak

4. R/: hemodialisa dapat terjadi dengan emboli paru

5. R/: meningkatkan sediaan oksigen untuk pernapasan optimal jaringan

c. Dalam waktu 1 x 24 jam masalah infeksi karena proses pembedahan tidak terjadi, dengan KH:

Luka sembuh pada waktunya

Tidak ada purulen

Tidak ada eritema dan demam

1. Bersihkan daerah yang akan dioperasi dengan anti septik

2. Cek kadarluasa alat

3.Pertahankan sterilitas selama pembedahan

4. cuci tangan steril

5. tutup luka dengan kasa seteril1.R/: mencegah kontaminasi

2.R/: Untuk mengoptimalkan tingkat seterilisasi

3.R/: Pertahankan seterilitas

4. R/:mencegah osteomiyelitis

5.R/: mencegah timbulnya inpeksi lebih lanjut

24-12-20083Dalam waktu 1 x 24 jam masalah resiko tidak efektifnya jallan napas b.d penumpukan sekret. dengan KH :

- Bertahap klien bisa melakukan mobilisasi dibantu atau mandiri1. Ukur TTV

2. Auskultasi bunyi napas

3. Observasi sputum untuk tanda adanya darah

4. Berikan tambahan oksigen1.R/: masih adanya tanda dan gejala menunjukan distres pernapasan

2. R/: perubahan bunyi menunjukan terjadinya komplikasi pernapasan

3. R/: untuk mencegah emboli lemak

4.R/: hemodialisa dapat terjadi dengan emboli paru

5.R/: meningkatkan sediaan oksigen untuk pernapasan optimal jaringan

CATATAN PERKEMBANGAN

Klien / Umur

: TnK/28 tahun

Kamar/Ruang

: OK. IXDXHari/TanggalPerkembanganParaf

1Kamis/

24-12-2008Pre Operasi

1. Mempertahankan imobilisasi bagian yang sakit.

Hasil: klien diposisikan dengan posisi yang nyaman yaitu posisi supine.

2. Memantau TTV.

Hasil : TD. 159/90 mmHg

Nd. 89 x/menit

Sh. 38C

3. Berkolaborasi dengan tim dokter dalam memberikan obat penghilang nyeri.

Hasil : klien mendapat reculax 40 mg dan primperan 10 mg.

4. Mengajarkan teknik relaxasi yaitu nafas dalam.

Hasil : klien menarik nafas dalam.

Klien tampak lebih tenang.

2Kamis/

24-12-2009Intra Operasi

a. Dx.1 1. Mempertahankan keseimbangan cairan.

Hasil: Intake IVFD RL=1.500cc, Fimahes= 300cc.

2. Memantau TTV.

Hasil: TD. 159/90 mmHg

Nd. 89 x/menit

Sh. 38C

3. Mengkaji sejak awal tanda-tanda syok. Hasil: membran mukosa mulut klien kering dan pucat, turgor kulit tidak elastis, kapilari refil