Click here to load reader

Fraktur Femur

  • View
    231

  • Download
    11

Embed Size (px)

DESCRIPTION

hzgdasvfhse

Text of Fraktur Femur

CLOSE FRAKTUR FEMURDisusun Oleh :Khusnon1407101030062Pembimbing :

dr. Zulkarnaini Sp.OT

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIKBAGIAN ILMU BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SYIAH KUALABANDA ACEH2015FRAKTUR FEMUR

I. PENDAHULUAN

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas dari tulang, sering diikuti oleh kerusakan jaringan lunak dengan berbagai macam derajat, mengenai pembuluh darah, otot dan persarafan. Fraktur femur mempunyai pengaruh sosial ekonomi yang penting. Dengan bertambahnya usia, angka kejadian fraktur femur meningkat secara eksponensial. Meskipun dapat dipulihkan dengan operasi, fraktur femur menyebabkan peningkatan biaya kesehatan.Sampai saat ini, fraktur femur makin sering dilaporkan dan masih tetap menjadi tantangan bagi ahli orthopaedi. Pada orang-orang tua, patah tulang pinggul intrakapsular sering disebabkan oleh trauma yang tidak berat (energi ringan), seperti akibat terpeleset. Akan tetapi, pada orang-orang muda, patah tulang pinggul intrakapsular biasanya disebabkan oleh trauma yang hebat (energi besar), dan seringkali disertai oleh cedera pada daerah yang lainnya serta meningkatkan kemungkinan terjadinya avaskular nekrosis dan nonunion. Walaupun penatalaksanaan di bidang orthopaedi dan geriatri telah berkembang, akan tetapi mortalitas dalam satu tahun pasca trauma masih tetap tinggi, berkisar antara 10 sampai 20 persen. Sehingga keinginan untuk mengembangkan penanganan fraktur ini masih tetap tinggi. Reduksi anatomis dini, kompresi fraktur dan fiksasi internal yang kaku digunakan untuk membantu meningkatkan proses penyembuhan fraktur, akan tetapi jika suplai darah ke kaput femur tidak dikontrol dengan baik, dapat menyebabkan peningkatan kemungkinan terjadinya avaskular nekrosis.1BAB IILAPORAN KASUS

2.1 Identitas PasienNama

: Agiel RahayuTanggal Lahir / Umur: 22 maret 2000 / 12 tahunJenis Kelamin

: laki-lakiAlamat

: Aceh baratAgama

: IslamSuku

: AcehNomor CM

: 1-04-41-10Jaminan

: JKRATanggal Masuk: 14 maret 2015Tanggal operasi: 17 maret 2015Tanggal Pemeriksaan: 19 marer 20152.2 Anamnesis

Anamnesis dilakukan secara langsung dengan pasien di ruang rawat jempa II pada tanggal 19 marer 2015.2.2.1 Keluhan UtamaBengkak di paha kiri setelah ketabrak dengan kereta2.2.3 Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke RSUD Zainal Abidin dengan keluhan paha bengkak dan sakit setelah ditabrak dengan sepeda motor.2.2.4 Riwayat Penyakit Dahulu

Disangkal.2.2.5 Riwayat Penyakit Keluarga

Pasien mengaku di keluarga tidak ada yang memiliki riwayat penyakit yang sama seperti pasien.2.2.6 Riwayat Pemakaian Obat

Disangkal 2.2.7 Riwayat Kebiasaan sosial

Pasien sering bermain sepeda di jalan2.3 Vital Sign

Kesadaran: Compos Mentis

N: 82 x/menit

RR:18 x/menit

T: 36,6 0C

2.4Pemeriksaan Fisik

Kesadaran: E4M6V5 (Compos Mentis)

Keadaan Umum: Tampak lemas

Mata : Konj.Palpebra Inferior anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), pupil bulat isokor, RCL (+/+), RCTL (+/+)

Telinga: Normotia, serumen (-)

Hidung: NCH (-), sekret (-)

Mulut: Mukosa bibir kering, sianosis (-), faring hiperemis (-)

Leher: Pembesaran KGB (-)

Thorax :

I: Simetris, tidak tampak massa ,retraksi (-)

P: SF Ka dan Ki melemah , nyeri tekan (-)

P: Sonor (+/+)

A: Ves (+/+) melemah, Rh (-/-), Wh (-/-)

Cor

I: Iktus kordis tidak terlihat

P: Iktus kordis teraba

P: Batas kanan jantung pada SIC 5 linea mid parasternal kananBatas kiri jantung pada SIC 5 2 jari lateral linea midklavikula kiriBatas atas jantung pada SIC 3 linea parasternalis kiri P: BJ I > BJ II, Reguler, Bising (-)

Abdomen : I: Simetris, distensi (-), ikterik (-), kolateral vein (-)

P : Soepel, H/L/R sulit dinilai, nyeri tekan (-)

P: Timpani (+)

A: Peristaltik (+) 4x/menit, kesan normal

Ekstremitas :

Superior : Edema (-/-), pucat (-/-), ikterik (-/-), sianosis (-/-)

Inferior : Edema (-/-), pucat (-/-), ikterik (-/-), sianosis (-/-)

S/L femur dextra Look : tampak luka berbalut elastic bendage

Feel: nyeri tekan (+), nadi (+)2.7 Pemeriksaan Penunjang

A. Lab Darah Rutin (16/03/2015)

Hemoglobin

: 12,5

gr/dl

4,0 10,0

Hematokrit

: 38

%

-Eritrosit

: 4,7

103/mm34,7 - 6,1

Leukosit

: 14,0

103/mm31,0 5,0Trombosit

: 334

103/ mm3150 -450 BT

: 2

menit

1 7CT

: 7

menit

7 15GDS

: 119

mg/dl

< 200Ureum

: 25

mg/dl

13 43Kreatinin

: 0,48

mg/dl

0,67 - 1,17B. radiologiKET: foto sebelum dan sesudah operasi2.9

Diagnosa Sementara

Close fraktur femur dextra2.10Tatalaksana

IVFD RL 15 gtt/menit

Inj. Ceftriaxone 1 g/ 12 jam

inj. keterolac 1 amp/ 8 jam

inj. ranitidin 1 amp/ 12 jam

inj. tramadol 1 amp/ 8 jam

2.11Prognosis

Quo ad vitam

: Dubia ad Bonam

Quo ad functionam: Dubia ad Bonam

Quo ad Sanactionam: Dubia ad BonamBAB IIITINJAUAN PUSTAKAI. DEFINISIFraktur adalah suatu diskontinuitas struktur tulang. Diskontinuitas dapat berupa suatu retakan bahkan sampai suatu patahan yang komplit dan terjadi pergeseran tulang. Apabila tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan udara luar atau kulit diatasnya masih utuh ini disebut fraktur tertutup, sedangkan bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan udara luar atau kulit tidak intak disebut fraktur terbuka. Diskontinuitas tulang femur dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang / osteoporosis.II. ETIOLOGI

Untuk mengetahui mengapa dan bagaimana tulang mengalami kepatahan, kita harus mengetahui kondisi fisik tulang dan keadaan trauma yang dapat menyebabkan tulang patah. Tulang kortikal mempunyai struktur yang dapat menahan kompresi dan tekanan memuntir (shearing).Kebanyakan fraktur terjadi akibat truma yang disebabkan oleh kegagalan tulang menahan tekanan membengkok, memutar dan tarikan. Trauma yang dapat menyebabkan fraktur dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung.

Trauma Langsung

Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat komunitif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan.

Trauma Tidak Langsung

Apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada clavicula. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.2

III. PATOFISIOLOGI

Fraktur biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atu tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang.3Fraktur terjadi apabila ada suatu trauma yang mengenai tulang, dimana trauma tersebut kekuatannya melebihi kekuatan tulang,ada 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya frakturya itu ekstrinsik (meliputi kecepatan, sedangkan durasi trauma yang mengenai tulang, arah dan kekuatan), intrinsik meliputi kapasitas tulang mengabsorbsi energi trauma, kelenturan, kekuatan adanya densitas tulang tulang yang dapat menyebabkan terjadinya patah pada tulang bermacam-macam, antara lain trauma langsung dan tidak langsung, akibat keadaan patologi serta secara spontan.3IV. ANATOMI

Tulang femur adalah tulang terpanjang yang ada di tubuh kita. Tulang ini memiliki karakteristik yaitu:4 Artikulasi kaput femoralis dengan acetabulum pada tulang panggul. Dia terpisah dengan collum femoris dan bentuknya bulat,halus dan ditutupi deengan tulang rawan sendi. Konfigurasi ini memungkinkan area pegerakan yang bebas. Bagian caput mengarah ke arah medial, ke atas, dan kedepan acetabulum. Fovea adalah lekukan ditengah caput, dimana ligamentum teres menempel. Collum femur membentuk sudut 1250 dengan corpus femur. Pengurangan dan pelebaran sudut yang patologis masing masing disebut deformitas coxa vara dan coxa valga. Corpus femur menentukan panjang tulang. Pada bagian ujung diatasnya terdapat trochanter major dan pada bagian posteromedialnya terdapat trochanter minor. Bagian anteriornya yang kasar yaitu line trochanteric membatasi pertemuan antara corpus dan collum. Linea aspera adalah tonjolan yang berjalan secara longitudinal sepanjang permukaan posterior femur, yang terbagi, pada bagian bawah menjadi garis- garis suprakondilar. Garis suprakondilar medial berakhir pada adductor tubercle. Ujung bawah femur teridiri dari condilus femoral, medial dan lateral femur epicondilus medial. Bagian tersebut menunjang permukaan persendian dengan tibia pada sendi lutut. Lateral epycondilus lebih menonjol dari medila epycondilus, hal ini untuk mencegah pergeseran lateral dari patella. Kondilus kondilus itu didipisahkan bagian posteriornya dengan sebuah intercondylar notch yang dalam. Femur bawah pada bagian anteriornya halus untuk berartikulasi dengan bagian posterior patella.4

Gambar 1. Tulang paha, femur, tampak depan, belakang, medial

*Dikutip dari kepustakaan 4,5 Anatomi normal osseus pada femur cukup jelas. Proyeksi normal x ray nya adalah AP dan lateral. Jika terdpat Fraktur femur sebenarnya sangat jelas, seperti yang biasa diperkirakan, mungkin saja frakturnya transversal, spiral, atau comminut fraktur, dengan variasi sudut dan bagian bagian yang tumpang tindih.6V. KLASIFIKASI FRAKTUR

Fraktur dapat terbagi menjadi 3 klasifikasi, yaitu:1. Klasifikasi etiologis

Fraktur traumatik

Yang terjadi karena trauma yang tiba-tiba

Fraktur patologis

Terjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat kelainan patologis di dalam tulang, misalnya tumor tulang primer atau sekunder, mieloma multipel, kista tulang, osteomielitis dan sebagainya. Fraktur stres

Terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu tempat tertentu.2,72. Klasifikasi klinis

Fraktur tertutup (simple fracture)

Adalah suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar.

Fraktur terbuka (compound fracture)

Adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui lika pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within (dari dalam) atau from without (dari luar)

Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture)

Adalah fraktur yang disertai dengan komplikasi, misalnya malunion, delayed union, nonunion, infeksi tulang.23. Klasifikasi radiologis

Klasifikasi ini berdasarkan atas:

a. Lokalisasi (gambar 2.1)

Diafisial

Metafisial

Intra-artikuler

Fraktur dengan dislokasi

Gambar 2.1. klasifikasi fraktur menurut lokalisasi. (A)Fraktur diafisis, (B)Fraktur metafisis, (C)Dislokasi dan fraktur, (D)Fraktur intra-artikule.

*Dikutip dari kepustakaan 2b. Konfigurasi (gambar 2.2)

Fraktur transversal

Faktur oblik

Fraktur spiral

Fraktur Z

Fraktur segmental

Fraktur komunitif, fraktur lebih dari dua fragmen

Fraktur baji biasanya pada vertebra karena trauma kompresi

Fraktur avulsi, fragmen kecil tertarik oleh otot atau tendo misalnya fraktur epikondilus humeri, fraktur patela

Fraktur depresi, karena trauma langsung misalnya pada tulang tengkorak

Fraktur impaksi

Fraktur pecah (burst) dimana terjadi fragmen kecil yang berpisah pada fraktur vertebra, patela, talus, kalkaneus

Fraktur epifisis.2

Gambar 2.2. klasifikasi fraktur sesuai konfigurasi. (A)Transversal, (B)Oblik, (C)Spiral, (D)Kupu-kupu, (E)Komunitif, (F)Segmental, (G)Depresi. *Dikutip dari kepustakaan 2c. Menurut ekstensi (gambar 2.3)

Fraktur total

Fraktur tidak total (fraktur crack)

Fraktur buckle atau torus

Fraktur garis rambut

Fraktur green stick

Gambar 2.3. Beberapa gambaran radiologik konfigurasi fraktur (A)Transversal, (B)Oblik, (C)Segmental, (D)Spiral dan segmental, (E)Komunitif, (F)Segmental, (G)Depresi

*Dikutip dari kepustakaan 2d. Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya (gambar 2.4)

Tidak bergeser (undisplaced)

Bergeser (displaced)

Bergeser dapat terjadi dalam 6 cara :

a) Bersampingan

b) Angulasi

c) Rotasi

d) Distraksi

e) Over-riding

f) Impaksi

Gambar 2.4

*Dikutip dari kepustakaan 2VI. KLASIFIKASI FRAKTUR FEMUR

a. FRAKTUR PROXIMAL FEMUR

Intracapsular fraktur termasuk femoral head dan leher femur (gambar 3.1)

Capital

: uncommon

Subcapital: common

Transcervical: uncommon

Basicervical: uncommon

Gambar 3.1

*Dikutip dari kepustakaan 8 Entracapsular fraktur termasuk trochanters(gambar 3.2)

Intertrochanteric

Subtrochanteric Gambar 3.2

*Dikutip dari kepustakaan 7b. FRAKTUR LEHER FEMUR

Tingkat kejadian yang tinggi karena faktor usia yang merupakan akibat dari berkurangnya kepadatan tulang

Fraktur leher femur dibagi atas intra- (rusaknya suplai darah ke head femur) dan extra- (suplai darah intak) capsular. Diklasifikasikan berdasarkan anatominya. Intracapsular dibagi kedalam subcapital, transcervical dan basicervical. Extracapsular tergantung dari fraktur pertrochanteric

Gambar 4.1 *Dikutip dari kepustakaan 9,10 Biasanya pada wanita dewasa; dibawah usia 60 tahun, laki-laki lebih sering terkena (biasanya extrakapsular fraktur)

Sering ditemukan pada pasien yang mengkonsumsi berbagai macam obat seperti corticosteroids, thyroxine, phenytoin and frusemide

Kebanyakanhanyaberkaitan dengan traumakecil

FrakturIntracapsulardiklasifikasikan

Grade I : Incomplete, korteksinferiortidaksepenuhnya rusak Grade II: Complete, korteks inferior rusak, tapi trabekulum tidak angulasi

Grade III: Slightly displaced, pola trabekular angulasi Grade IV : Fully displaced, grade terberat, sering kali tidak ada kontinuitas tulang1,11

Gambar 4.2

*Dikutip dari kepustakaan 11c. FRAKTUR PADA POROS/BATANG FEMUR

Pada patah tulang diafisis femur biasanya pendarahan dalam cukup luas dan besar sehingga dapat menimbulkan syok. Secara klinis penderita tidak dapat bangun, bukan saja karena nyeri, tetapi juga karena ketidakstabilan fraktur. Biasanya seluruh tungkai bawah terotasi ke luar, terlihat lebih pendek, dan bengkak pada bagian proksimal sebagai akibat pendarahan ke dalam jaringan lunak. Pertautan biasanya diperoleh dengan penanganan secara tertutup, dan normalnya memerlukan waktu 20 minggu atau lebih.

Gambar 4.3.a.

Gambar 4.3.b.

Comminuted mid-femoral shaft fracture

Femoral shaft fracture postinternal

fixation.*Dikutip dari kepustakaan 11d. FRAKTUR DISTAL FEMUR

Supracondylar

Nondisplaced

Displaced

Impacted

Continuited

Gambar 4.4

*Dikutip dari kepustakaan 8 Condylar

Intercondylar VII. DIAGNOSIS

A. PEMERIKSAAN FISIK

Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:

1. Syok, anemia atau pendarahan

2. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen

3. Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis.2B. PEMERIKSAAN LOKAL

1. Inspeksi (Look)

Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal, angulasi, rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting adalah apakah kulit itu utuh; kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cedera terbuka2. Palpasi (Feel)

Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian distal dari fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat yang memerlukan pembedahan3. Pergerakan (Movement)Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih penting untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi sendi dibagian distal cedera. 4. Pemeriksaan neurologis

Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris serta gradasi kelainan neurologis yaitu neuropraksia, aksonotmesis atau neurotmesis. Kelainan saraf yang didapatkan harus dicatat dengan baik karena dapat menimbulkan masalah asuransi dan tuntutan (klaim) penderita serta merupakan patokan untuk pengobatan selanjutnya. 25. Pemeriksaan radiologi

Macam-macam pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan untuk menetapkan kelainan tulang dan sendi :Foto Polos

Dengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya fraktur. Walaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur. Untuk menghindarkan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis.

Tujuan pemeriksaan radiologis :

Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi

Untuk konfirmasi adanya fraktur

Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta pergerakannya

Untuk menentukan teknik pengobatan

Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak

Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler

Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang

Untuk melihat adanya benda asing, misalnya peluru.2

Gambar 5.1. Fraktur batang femur

*Dikutip dari kepustakaan 12Contoh foto pemeriksaan radiologis :

CT-ScanSuatu jenis pemeriksaan untuk melihat lebih detail mengenai bagian tulang atau sendi, dengan membuat foto irisan lapis demi lapis. Pemeriksaan ini menggunakan pesawat khusus.14,15

Gambar 5.2. Fraktur femur

*Dikutip dari kepustakaan14 MRIMRI dapat digunakan untuk memeriksa hampir semua tulang, sendi, dan jaringan lunak. MRI dapat digunakan untuk mengidentifikasi cedera tendon, ligamen, otot, tulang rawan, dan tulang.13,15

Gambar 5.3. Fraktur collum femur. *Dikutip dari kepustakaan 15VIII. PENATALAKSANAAN

Prinsip Umum

Seperti halnya pada tulang yang lain, tulang paha yang patah perlu "dikurangi" atau kembali ke keselarasan dan bergerak sampai sembuh. Ada beberapa metode yang dapat digunakan, tergantung pada tingkat kematangan tulang pasien, jumlah pergerakan, jenis istirahat, dan adanya cedera terkait yaitu Traksi yang merupakan metode tradisional untuk mengobati patah tulang paha, walaupun traksi itu sendiri mempunyai banyak kekurangan. Kaki ditempatkan di gips, dan selotip (traksi kulit) atau pin logam (traksi tulang) digunakan untuk melampirkan rangkaian string yang terhubung ke beban. Sinar-X yang digunakan untuk memantau posisi tulang sehingga traksi dapat disesuaikan.

Meskipun traksi yang efektif, memerlukan tinggal di rumah sakit dalam waktu yang lama. Karena penelitian telah menegaskan pentingnya mobilitas awal dalam mengurangi komplikasi dan mempromosikan penyembuhan yang baik, metode lain seperti fiksasi, sekarang lebih populer daripada traksi.16,17IX. PROGNOSIS

Penyembuhan fraktur merupakan suatu proses biologis yang menakjubkan. Tidak seperti jaringan lainnya, tulang yang mengalami fraktur dapat sembuh tanpa jaringan parut. Pengertian tentang reaksi tulang yang hidup dan periosteum pada penyembuhan fraktur mulai terjadi segera setelah tulang mengalami kerusakan apabila lingkungan untuk penyembuhan memadai sampai terjadi konsolidasi. Faktor mekanis yang penting seperti imobilisasi fragmen tulang secara fisik sangat penting dalam penyembuhan, selain faktor biologis yang juga merupakan suatu faktor yang sangat esensial dalam penyembuhan fraktur.2 DAFTAR PUSTAKA1. Harry J. Griffiths, M.D. Basic Bone Radiology. Associate Proffesor of Radiology and Orthopedics. The University of Rochester Medical Center Roschester, New York. 1997. Page 23 - 29 2. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Penerbit PT Yarsif Watampone, Jakarta, 2009. Hal 82-85, 92-94, 355-361, 364

3. Sylvia A. Price, Lorraine M. Wilson. Patofisiologi Konsep Klinis Proses - proses penyakit Volume 2. Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005. Hal 1365

4. Omar Faiz, David Moffat. Anatomy at Glance. Cardiff University, 2002. Page 93.

5. Putz, R., Pabst. R. Atlas Anotomi Manusia Sobotta Jilid 2. Edisi 21. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran. 2000. Hal. 276,278.

6. Fred A, Mettler, Jr., M.D., M.P.H. Essentials of Radiology. Univercity of New Mexico, 1996. Page 337

7. Rasad, Sjahriar. Radiologi Diagnostik, Edisi Kedua, Iwan Ekayuda (editor), FK UI, Jakarta, 2006. Hal 31

8. Weissleder, R., Wittenberg, J., Harisinghani, Mukesh G., Chen, John W. Musculoskeletal Imaging in Primer of Diagnostic Imaging, 4th Edition. Mosby Elsevier. United States. 2007. Page 408-410

9. Pradip R. Patel. Lecture Notes Radiologi, Edisi Kedua. Penerbit Erlangga Medical Series, Jakarta, 2005. Hal 232

10. P.E.S. Palmer., W.P. Cockshott., V. Hegedus., E. Samuel. Manual of Radiographic Interpretation for General Practitioners. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal 108-109

11. Holmes, Erskin J., Misra, Rakesh R. A-Z of Emergency Radiology. Cambridge University, 2004. Page 140-143

12. James E Keany, MD. Femur Fracture. [Online]. 2009. [Cited August 10]. Available from http://emedicine.medscape.com/article/824856-overview#showall13. Adnan, M. Tulang dan Sendi dalam: Diktat Radiologi IV. Bursa Buku Kedokteran Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, 1983. Hal 2.

14. AO Foundation. Open Complete Articular Multifragmentary Distal Femoral Fracture. [online]. 2009. [Cited August 16]. Available from http://www2.aofoundation.org 15. American Academy of Orthopaedic Surgeons. Hip Fracture. [online]. 2009. [Cited August 16]. Available from http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=A0039216. The American Academy Of Orthopaedic Surgeons. Thigbone (Femur) Fracture.[online].2008. [Cited August 12]. Available from. http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=a0036417. Douglas F Aukerman. Femur injuries and Fractures.[online].2008.[Cited August 10]. Available from http://emedicine.medscape.com/article/90779-overview13