Click here to load reader

Fraktur Femur

  • View
    45

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Fraktur Femur

KONSEP DASAR FRAKTUR FEMUR FRAKTURA. PENGERTIAN FRAKTUR 1. 2. Fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang. Fraktur adalah patah tulang yang biasanya disebabkan oleh (Apley, A. Graham, alih bahasa Edi Nugroho, 1995: 338). benturan tubuh, jatuh atau kecelakaan (Long, B. C., alih bahasa Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran, 1996: 356). 3. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. (Mansjoer, A. et al, 2000: 346). 4. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang ditentukan sesuai tipe dan tempatnya (Sapto Harnowo & Fitri H. Susanto, alih bahasa Monika Ester, 2001: 97). 5. 6. 2000). B. ETIOLOGI FRAKTUR Menurut Apley, A.Graham, alih bahasa Edi Nugroho, 1995 : 238-239 fraktur dapat terjadi akibat : 1. Fraktur akibat peristiwa trauma Fraktur yang disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan, yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, penekukan, pemuntiran atau penarikan. a.Bila terkena kekuatan langsung. Tulang dapat patah pada tempat yang terkena, jaringan lunak rusak. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. (Doengoes, ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Smeltzer and Bare, 2001).

b.

Bila terkena kekuatan tak langsung

Tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena itu, kerusakan jaringan lunak pada fraktur mungkin tidak ada. 2. Fraktur kelelahan atau tekanan Akibat dari tekanan yang berulang-ulang sehingga dapat menyebabkan retak yang terjadi pada tulang. 3. Kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologik) Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah (misalnya oleh tumor) atau kalau tulang itu sangat rapuh. Penyebab fraktur menurut Sjamsuhidayat (1998) adalah: 1. Ruda paksa 2. Trauma 3. Proses patologis Misalnya: tumor, infeksi atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan kekuatantulang yang berkurang dan disebut patah tulang patologis. 4. Beban lama atau trauma ringan yang terus menerus yang disebut fraktur C. KLASIFIKASI FRAKTUR Menurut Mansjoer (2000 : 346-347) dan menurut Appley Solomon (1995 : 238-239) fraktur diklasifikasikan menjadi : 1. Berdasarkan garis patah tulang a. Greenstick, yaitu fraktur dimana satu sisi tulang retak dan sisi lainnya bengkok. b. Transversal, yaitu fraktur yang memotong lurus pada tulang. c. Spiral, yaitu fraktur yang mengelilingi tungkai/lengan tulang. d. Obliq, yaitu fraktur yang garis patahnya miring membentuk sudut melintasi tulang. 2. Berdasarkan bentuk patah tulang a. Complet, yaitu garis fraktur menyilang atau memotong seluruh tulang dan fragmen tulang biasanya tergeser.

b. Incomplet, meliputi hanya sebagian retakan pada sebelah sisi tulang. c. Fraktur kompresi, yaitu fraktur dimana tulang terdorong ke arah permukaan tulang lain. d. Avulsi, yaitu fragmen tulang tertarik oleh ligamen. e. Communited (Segmental), fraktur dimana tulang terpecah menjadi beberapa bagian. f. Simple, fraktur dimana tulang patah dan kulit utuh. g. Fraktur dengan perubahan posisi, yaitu ujung tulang yang patah berjauhan dari tempat yang patah. h. Fraktur tanpa perubahan posisi, yaitu tulang patah, posisi pada tempatnya yang normal. i. Fraktur Complikata, yaitu tulang yang patah menusuk kulit dan tulang terlihat. 3. Berdasarkan keadaan luka a. Fraktur terbuka Fraktur yang terjadi akibat ligamen tulang bergeser ke bagian otot dan kulit sehingga adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat yaitu: 1) Derajat I, yaitu luka tembus dengan diameter 1 cm, kerusakan jaringan lunak sedikit dan kontaminasi minimal. 2) Derajat II, terdapat luka laserasi lebih dari 1 cm, tanpa disertai kerusakan jaringan lunak yang lebih luas, kontaminasi minimal. 3) Derajat III, terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit, otot dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat III terbagi atas tiga bagian yaitu: a) Jaringan lunak menutupi fraktur tulang meskipun terdapat laserasi luar. b) Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi massif. c) Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak.

b. Fraktur tertutup Yaitu fraktur yang tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. 4. Berdasarkan bentuk pergeseran a. Undisplaced, garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser. b. Diaplaced, yaitu terjadi pergeseran fragmen-fragmen tulang. 5. Berdasarkan posisinya a. 1/3 Proximal (1/3 bagian atas). b. 1/3 Medial (1/3 bagian tengah). c. 1/3 Distal (1/3 bagian bawah). D. PATOFISIOLOGI FRAKTUR Trauma yang terjadi pada tulang dapat menyebabkan seseorang mempunyai keterbatasan gerak dan ketidakseimbangan berat badan. Fraktur yang terjadi dapat berupa fraktur tertutup ataupun fraktur terbuka. Fraktur tertutup tidak disertai kerusakan jaringan lunak disekitarnya sedangkan fraktur terbuka biasanya disertai kerusakan jarigan lunak seperti otot, tendon, ligamen, dan pembuluh darah. Tekanan yang kuat atau berlebihan dapat mengakibatkan fraktur terbuka karena dapat menyebabkan fragmen tulang keluar menembus kulit sehingga akan menjadikan luka terbuka dan akan menyebabkan peradangan dan memungkinkan untuk terjadinya infeksi. Keluarnya darah dari luka terbuka dapat mempercepat pertumbuhan bakteri. Tertariknya segmen tulang disebabkan karena adanya kejang otot pada daerah fraktur menyebabkan disposisi pada tulang, sebab tulang berada pada posisi yang kaku.

Patofisiologi menurut Black dan Jacobs (1993) Peristiwa trauma tunggal

Tekanan yang berulang-ulang

Kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologi)

Fraktur

Kerusakan periosteum, pembuluh darah dan sum-sum tulang

Perdarahan pada ujung tulang yang fraktur

Merangsang respon peradangan akut dan proliferasi sel-sel dibawah periosteum

Hematom yang membeku perlahan diabsorbsi dan kapiler baru berkembang

Awal proses penyembuhan

E. MANIFESTASI KLINIK Menurut Blach (1989) manifestasi klinik fraktur adalah : 1. Nyeri Nyeri kontinue/terus-menerus dan meningkat semakin berat sampai fragmen tulang tidak bisa digerakkan. 2. Gangguan fungsi Setelah terjadi fraktur ada bagian yang tidak dapat digunakan dan cenderung menunjukkan pergerakan abnormal, ekstremitas tidak berfungsi secara teratur karena fungsi normal otot tergantung pada integritas tulang yang mana tulang tersebut saling berdekatan. 3. Deformitas/kelainan bentuk Perubahan tulang pada fragmen disebabkan oleh deformitas tulang yang diketahui ketika dibandingkan dengan daerah yang tidak luka. 4. Pemendekan Pada fraktur tulang panjang terjadi pemendekan yang nyata pada ekstremitas yang disebabkan oleh kontraksi otot yang berdempet di atas dan di bawah lokasi fraktur. 5. Krepitasi Suara detik tulang yang dapat didengar atau dirasakan ketika fraktur digerakkan. 6. Bengkak dan perubahan warna Hal ini disebabkan oleh trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. F. PENCEGAHAN FRAKTUR Menurut Long, B.C. (1996 : 356) pencegahan fraktur dapat dengan 3 pendekatan: 1. Dengan membuat lingkungan lebih aman. Langkah-langkahnya: a. Adanya pegangan pada dinding dekat bak mandi (bathtub).

b. Melengkapi kamar mandi dengan pegangan. c. Menjauhkan kesed dan kendala lain dari daerah yang dialui pasien dengan masalah locomotor. d. Roda-roda kursi beruda harus dilengkapi rem. e. Mengajarkan kepada pasien yang harus memakai alat bantu ambulatori dan kursi beroda sehingga terampil. 2. Mengajarkan kepada masyarakat secara berkesinambungan mengenai: a. Bahaya minum sambil mengemudi. b. Pemakaian sabuk pengaman. c. Harus berhati-hati pada waktu mendaki tangga, melaksanakan kegiatan dengan mengeluarkan tenaga atau alat berat. d. Mengunakan pakaian pengaman untuk pekerjaan berbahaya baik di rumah atau di tempat pekerjaan. e. Menggunakan pakaian pelindung pada saat berolah raga. 3. Mengajarkan kepada para wanita mengenai masalah osteoporosis. G. PROSES PENYEMBUHAN FRAKTUR Untuk penyembuhan fraktur diperlukan immobilisasi. Imobilisasi dilaksanakan dengan cara (Syamsu Hidayat : 1997) : 1. Pembidaian Physiologik Pembidaian semacam ini terjadi secara alami karena menjaga pemakaian dan spasmus otot karena rasa sakit pada waktu digerakkan. 2. Pembidaian secara orthopedi eksternal Ini digunakan dengan gips dan traksi. 3. Fiksasi internal Pada metode ini, kedua ujung tulang yang patah dikembalikan kepada posisi asalnya dan difiksasi dengan pelat dan skrup atau diikat dengan kawat. Setelah immobilisasi dilaksanakan, tulang akan beradaptasi pada kondisi tersebut, yaitu mengalami proses penyembuhan dan perbaikan tulang.

Faktor tersebut dapat diperbaiki tetapi prosesnya agak lambat, karena melibatkan pembentukan tulang baru. Proses tersebut terjadi empat tahap yaitu: 1. Pembentukan prokallus/Hematoma Hematoma akan terbentuk pada 42 jam sampai 72 jam pertama pada daerah fraktur yang disebabkan karena adanya perdarahan yang terkumpul di sekitar fraktur yaitu darah dan eksudat, kemudian akan diserbu oleh kapiler dan sel darah putih terutama netrofil, kemudian diikat oleh makrofag, sehingga akan terbentuk jaringan granulasi. Pada saat ini masuk juga fibroblast dan osteoblast yang berasal dari lapisan dalam periosteum dan endosteum. 2. Pembentukkan Kallus Selama 4 5 hari osteoblas menyusun trabekula di sekitar ruangruangan yang kelak menjadi saluran harvest. Jaringan itulah yang dinamakan kallus yang berfungsi sebagai bidai yang terbentuk pada akhir minggu kedua. 3. Osifikasi Dimulai pada dua sampai tiga meinggu setelah fraktur jaringan kallus akhirnya akan diendapi oleh garam-garam mineral dan akan terbentuk tulang yang akan menghubungkan kedua sisi yang patah. 4. Kallus Formation a. Osteoblast terus membuat jala untuk membangun tulang. b. Osteoblast merusakkan tulang mati dan membantu mensintesa tulang baru. c. Collagen menjadi kuat dan