Forensik Paper

  • View
    13

  • Download
    2

Embed Size (px)

Transcript

BAB IPENDAHULUAN

Penegakan hukum di dalam sistem peradilan pidana bertujuan untuk menanggulagi setiap kejahatan. Bahwa yang dimaksud sistem peradilan pidana ialah suatu sistem berprosesnya suatu peradilan pidana, di mana masing-masing komponen fungsi yang terdiri dari kepolisian sebagai penyidik, kejaksaan sebagai penuntut umum, pengadilan sebagai pihak yang mengadili dan lembaga pemasyarakatan yang berfungsi untuk memasyarakatkan kembali para terhukum, yang bekerja secara bersama-sama, terpadu dalam usaha untuk mencapai tujuan bersama yaitu untuk menanggulangi kejahatan.Pengetahuan mengenai identifikasi seseorang pada awalnya berkembang karena kebutuhan dalam proses penyidikan suatu tindak pidana khususnya menandai ciri kriminal. Dengan adanya perkembangan masalah-masalah sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan maka identifikasi dimanfaatkan juga untuk keperluan yang berhubungan dengan kesejahteraan umat manusia.Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang.1,2 Identifikasi personal sering merupakan suatu masalah dalam kasus pidana maupun perdata. Menentukan identitas personal dengan tepat amat penting dalam penyidikan karena adanya kekeliruan dapat berakibat fatal dalam proses peradilan.2Identifikasi bagi kepentingan penyidikan dapat dilakukan terhadap korban mati yang tidak dikenal sebab seringkali korban kejahatan ditemukan ditempat yang jauh dari tempat tinggalnya sehingga tidak ada orang yang dapat mengenalinya atau ditemukan dalam keadaan sudah membusuk atau rusak. Pada kasus-kasus seperti ini identifikasi menjadi sangat penting mengingat penyidikan akan menjadi lebih sulit kalau identitas korban tidak diketahui lebih dahulu.3Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah tidak dikenal, jenazah yang telah membusuk, rusak, hangus terbakar dan pada kecelakaan massal, bencana alam atau huru hara yang mengakibatkan banyak korban mati, serta potongan tubuh manusia atau kerangka. Selain itu identifikasi forensik juga berperan dalam berbagai kasus lain seperti penjahat, tentara yang desersi, penculikan anak, bayi yang tertukar atau diragukan orang tuannya.1,2Apabila identifikasi orang hidup sebagian besar adalah tugas polisi, maka identifikasi jenazah/ sisa-sisa manusia/potongan/kerangka adalah tugas kedokteran forensik. Penentuan identitas personal dapat menggunakan metode identifikasi sidik jari (dactylography), visual, dokumen, pakaian dan perhiasan, medik, gigi, serologik dan secara eksklusi. Akhir-akhir ini dikembangkan pula metode identifikasi DNA.4Identifikasi primer adalah jenis metode identifikasi primer dan yang paling dapat diandalkan, yaitu identitas sidik jari, analisi komprehensif gigi, dan analisa DNA. Jenis metode identifikasi sekunder meliputi deskripsi personal, temuan medis, serta bukti dan pakaian yang ditemukan pada tubuh. Jenis identifikasi ini berungsi untuk mendukung identifikasi dengan cara lain dan biasanya tidak cukup sebagai satu-satunya alat identifikasi.4Pemeriksaan sidik jari merupakan metode yang membandingkan gambaran sidik jari seseorang, baik masih hidup maupun sudah mati dengan catatan sidik jari orang tersebut yang ada. Sampai saat ini, pemeriksaan sidik jari merpakan pemeriksaan yang diakui paling tinggi ketepatannya untuk menentukan identitas seseorang. Dasar hukum dan undang-undang bidang kesehatan yang mengatur identifikasi jenasah adalah KUHP pasal 133.2

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1Definisi Sidik JariSidik jari merupakan salah satu identitas manusia yang tidak dapat diganti atau dirubah. Selain itu juga dari sidik jari pula lah seseorang dapat dikenali. "Tidak ada manusia di dunia ini yang mempunyai sidik jari yang sama". Ungkapan ini mengungkapkan bahwa setiap manusia mempunyai sidik jari yang berbeda - beda. Sidik jari menjadi kekhasan setiap manusia. Sidik jari adalah pola pola guratan guratan pada jari manusia. Pola pola sidik jari manusia dibentuk sejak usia empat bulan. Ridge atau pola garis yang menonjol pada jari manusia mulai berkembang secara acak dan unik. Kecelakaan yang cukup fatal pada usia 4-7 bulan dapat mengubah pola sidik jari. Menjelang usia 8 bulan dan seterusnya, pola sidik jari yang sudah terbentuk tidak akan berubah sekalipun permukaan jari dibakar atau dipotong karena setiap ridge sudah tertanam sampai pada kulit bagian dalam.5

2.2Sejarah Sidik JariSepanjang sejarah manusia tidak pernah ditemukan dua orang yang memiliki sidik jari yang sama. Bahan untuk dua orang yang kembar identik.2 Inilah sebabnya identifikasi sidik jari merupakan cara pengenalan yang sangat akurat. Penggunaan karakteristik sidik jari sebagai pengenalan pribadi telah cukup lama digunakan sejak peradaban purba sampai peradaban modern.2.2.1Masa purba6Pada petroglyps (semacam batu tulis) Nova Scotia (suku Amerika Kuno) menunjukkan gambaran sebuah tangan dengan pola pola sidik jari yang diperbesar. Pada masa kuno kerajaan Babylonia dan China kuno. Sidik jari telah dicetakkan ke lempengan tanah liat sebagai alat pengenalan diri.Pada abad ke 14 cetakan sidik jari telah dibubuhkan pada kertas kertas pemerintahaan Kerajaan Persia. Pada masa itu pihak pemerintah sudah menyelidiki bahwa tidak ada dua sidik jari yang sama.

2.2.2Masa modern6Penggunaan modern sidik jari bermula pada tahun 1856 dimana Sir William Herschel menggunakan cetakan sidik jarinya di sebuah kertas perjanjian. Tak lama kemudian, semua jenis perjanjian kotrak resmi mlai ditandai dengan adanya bubuhan sidik jari.Pengenalan sidik jari pertama kalinya diterapkan oleh Alphonse Bertillon, yang disebut Bertillon System. Sistem ini menggunakan kombinasi sistematis dari pengukuran pola fisik sidik jari. Sistem pengenalan ini bertahan selama 30 tahun lebih. Sistem pengenalan berikutnya yang berkembang adalah sistem pengenalan Dengan menggunakan pola bentuk yang dikembangkan oleh Sir Francis Galton. Tak lama kemudian, Sir Francis Galton mendefinisikan karakteristik unik dari setiap ridge pada sidik jari dengan sebutan minutiae.Penggunaan pengenalan sidik jari dalam bidang pengenalan pelaku kriminal sudah mulai berkembang sejak tahun 1897 oleh Sir Edward Richard Henry di India. Di negara yang berbahasa Spanyol, pengenalan sidik jari menggunakan sistem Vucetich yang dikembangkan sejak tahun 1904 oleh Vucatich. Selama 25 tahun sejak 1900. Banyak agen agen kepolisian di Amerika Serikat yang sudah mulai mengirimkan cetakan cetakan pola sidik jari mereka ke pusat pengenalan pelaku kriminal di Bureau. Ini kemudia menjadi data data daasar dalam database sidik jari FBI yang dibentuk pada tahun 1924. Sampai pada tahun 1971, jumlah cetakan sidik jari yang ada sudah mencapai 200 juta cetakan.Dengan pengenalan pada tehnologi AFIS (Automated Fingerprint Identification System), file file ini sudah dibagi ke dalam data data kriminal dan data data warga sipil. Perkembangan lebih lanjut dari pengenalan pola pola sidik jari ini telah berevolusi menjadi bidang ilmu biometrics.

2.3Sifat-Sifat Sidik JariBiometrik merupakan cabang matematika terapan yang bidang garapnya untuk mengidentifikasi individu berdasarkan ciri atau pola yang dimiliki oleh individu tersebut, misalnya bentuk wajah, sidik jari, warna suara, retina mata, dan struktur DNA. Sidik jari merupakan salah satu pola yang sering digunakan untuk mengidentifikasi identitas seseorang karena polanya yang unik, terbukti cukup akurat, aman, mudah, dan nyaman bila dibandingkan dengan sistem biometrik yang lainnya. Hal ini dapat dilihat pada sifat yang dimiliki oleh sidik jari yaitu guratan-guratan pada sidik jari yang melekat pada kulit manusia seumur hidup, pola ridge tidaklah bisa menerima warisan, pola ridge dibentuk embrio, pola ridge tidak pernah berubah dalam hidup, dan hanya setelah kematian dapat berubah sebagai hasil pembusukan. Dalam hidup, pola ridge hanya berubah secara kebetulan akibat, luka luka, kebakaran, penyakit atau penyebab lain yang tidak wajar. Dapat dikatakan bahwa tidak ada dua orang yang mempunyai sidik jari yang sama, walaupun kedua orang tersebut kembar satu telur. Dalam dunia sains pernah dikemukakan, jika ada lima juta orang di bumi, kemungkinan munculnya dua sidik jari manusia yang sama baru akan terjadi 300 tahun kemudian, atas dasar ini, sidik jari merupakan sarana yang terpenting khususnya bagi kepolisian didalam mengetahui jati diri seseorang.71. Perennial nature, yaitu guratan-guratan pada sidik jari yang melekat pada kulit manusia seumur hidup. 2. Immutability, yaitu sidik jari seseorang tidak pernah berubah, kecuali mendapatkan kecelakaan yang serius.3. Individuality, pola sidik jari adalah unik dan berbeda untuk setiap orang.

2.4 Pola Sidik JariPenentun rumus sidik jari didasarkan pada analisis pola lokal yang terdapat pada guratan guratan jari yang disebut ridge pattern atau garis papiler seperti diperlihatkan pada gambar 1. Dua komponen pada lokal yan sangat penting keberadaannya dalam penentun rumus sidik jari adalah core (titik fokus dalam) dan delta (titik fokus luar). Setiap pixel dalam sidik jari betautan dengan pola orientasi lokal dominan dari sidik jari.8

Gambar 1: Bagian-bagian sidik jari81. Core (interminus) titik fokus dalam, Core adalah pusat atau tengah yang terdapat pada garis sidik jari loop yang terdalam dan terjauh dari delta.2. Delta (outer terminus) titik fokus luar. Delta pada sidik jari adalah titik atau garis yang terdapat pada pusat perpisahan garis yang terdapat pada pusat perpisahann garis type lines. Delta merupakan titik fokus yang terletak di depan pusat berpisahnya garis pokok (type lines). Garis pokok lukisan merupakan dua buah garis yang paling dalam dari sejumlah garis yang berjajar (pararel) dan memsidah serta cenderung atau melingkupi pokok lukisan (pattern area).

2.5 Klasifikasi Sidik JariAda sejumlah sistem klasifikasi yang telah diusulkan, tetapi salah satu sistem yang sudah lama digunakan adalah sistem klasifikasi dari Sir Edward Henry