of 14 /14
Fraktur Patologis Et Causa Osteosarcoma Adhe william Fanggidae 102007122  Jonathan rambang 102012027 Naomi besitimur 102012113 Magdalena Noviana 102012211 Felix Rico Suwandi 102012239 Eva Yuliana Choandra 102012333 Jordan Sugiarto 102012340  Gusria Winingsih 102012397 Filzah Atikah Binti Johamin 102012491 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA JAKARTA Jl. TerusanArjuna no.6, Jakarta Barat BAB I PENDAHULAN 1. Latar Belakang Osteosarcoma adalah keganasan primer kedua yang paling umum dari tulang belakang multiple myeloma. Osteosarcoma menyumbang 20% dari keganasan tulang primer. Ada  preferensi untuk wilayah metaphyseal tulang panjang tabung. 50% kasus terjadi di sekitar lutut. Ini adalah ikat (lunak) ganas jaringan tumor yang neoplastik sel hadir diferensiasi osteoblastik dan bentuk tulang tumoral. Dan Tulang yang terkena dampak tidak sekuat tulang yang normal dan mungkin fraktur dengan trauma ringan (patah tulang patologis). Meskipun sekitar 90% dari pasien dapat memiliki operasi ekstremitas-penyelamatan, komplikasi, seperti infeksi, Kekambuhan tumor lokal dapat menyebabkan kebutuhan untuk operasi lebih lanjut atau amputasi. BAB II PEMBAHASAN

Felix Rico Suwandi

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Felix Rico Suwandi

7/22/2019 Felix Rico Suwandi

http://slidepdf.com/reader/full/felix-rico-suwandi 1/14

Fraktur Patologis Et Causa Osteosarcoma

Adhe william Fanggidae 102007122 

Jonathan rambang 102012027 

Naomi besitimur 102012113 

Magdalena Noviana 102012211 

Felix Rico Suwandi 102012239 

Eva Yuliana Choandra 102012333 

Jordan Sugiarto 102012340 

Gusria Winingsih 102012397 

Filzah Atikah Binti Johamin 102012491 

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA JAKARTA

Jl. TerusanArjuna no.6, Jakarta Barat

BAB I

PENDAHULAN

1. Latar Belakang

Osteosarcoma adalah keganasan primer kedua yang paling umum dari tulang belakang

multiple myeloma. Osteosarcoma menyumbang 20% dari keganasan tulang primer. Ada preferensi untuk wilayah metaphyseal tulang panjang tabung. 50% kasus terjadi di sekitar

lutut. Ini adalah ikat (lunak) ganas jaringan tumor yang neoplastik sel hadir diferensiasi

osteoblastik dan bentuk tulang tumoral. Dan Tulang yang terkena dampak tidak sekuat tulang

yang normal dan mungkin fraktur dengan trauma ringan (patah tulang patologis). Meskipun

sekitar 90% dari pasien dapat memiliki operasi ekstremitas-penyelamatan, komplikasi, seperti

infeksi, Kekambuhan tumor lokal dapat menyebabkan kebutuhan untuk operasi lebih lanjut

atau amputasi.

BAB II

PEMBAHASAN

Page 2: Felix Rico Suwandi

7/22/2019 Felix Rico Suwandi

http://slidepdf.com/reader/full/felix-rico-suwandi 2/14

 

1. Anamnesis adalah  pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan cara

melakukan serangkaian wawancara Anamnesis dapat langsung dilakukan terhadap pasien

(auto-anamanesis) atau terhadap keluarganya atau pengantarnya (alo-anamnesis).

a. Identitas: menanyakan nama, umur, jenis kelamin, pemberi informasi (misalnya

 pasien, keluarga,dll), dan keandalan pemberi informasi.

 b. Keluhan utama: pernyataan dalam bahasa pasien tentang permasalahan yang sedang

dihadapinya.

c. Riwayat penyakit sekarang (RPS): jelaskan penyakitnya berdasarkan kualitas,

kuantitas, latar belakang, waktu termasuk kapan penyakitnya dirasakan, faktor-

faktor apa yang membuat penyakitnya membaik, memburuk, tetap, apakah keluhan

konstan, intermitten. Informasi harus dalam susunan yang kronologis, termasuk test

diagnostik yang dilakukan sebelum kunjungan pasien. Riwayat penyakit dan

 pemeriksaan apakah ada demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual,

muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis.

d. Riwayat Penyakit Dahulu (RPD): Pernahkah pasien mengalami kejadian lain atau

kejadian yang sama.

e.Riwayat Keluarga: umur, status anggota keluarga (hidup, mati) dan masalah kesehata

 pada anggota keluarga.

f. Riwayat psychosocial (sosial): stressor (lingkungan kerja atau sekolah, tempat

tinggal), faktor resiko gaya hidup (makan makanan sembarangan).

Pada kasus Seorang laki-laki 18 tahun mengeluh nyeri pada tungkai kanannya sejak 3

 jam yang lalu, Anamnesis yang didapat berdasarkan skenario adalah alloanamnesis,

dikarenakan keluarga pasien yang memberikan informasi pada saat anamnesis. Pada

anamnesis terlihat Kesadaran compos mentis. Pasien juga sering mengeluh sakit

disertai kesemutan pada tungkai kanan

2. Pemeriksaan

2.1 Fisik

Pemeriksaan fisik didapat region kruris dekstra tampak edema ,deformitas

(penonjolan abnormal, angulasi,rotasi,pemendekan),angulasi pada palpasi teraba

krepitasi (terasa krepitasi bila fraktur digerakan tetapi ini bukan cara yang baik dan

kurang halus. Krepitasi timbul oleh pergeseran atau beradunya ujung-ujung tulang

kortikal.Dan fragmen tulang, pergerakan sangat terbatas karena nyeri

Page 3: Felix Rico Suwandi

7/22/2019 Felix Rico Suwandi

http://slidepdf.com/reader/full/felix-rico-suwandi 3/14

(+).Vaskularisasi kulit meningkat pada inspeksi, Massa, nyeri tekan & hangat pada

 palpasi, Range of motion menurun, Limfadenopati sangat jarang terjadi .1

2.2 Penunjang

2.2.1. Radiografi

Gambar 2.2.1 Fraktur patologis dan fraktur linear os tibia

(Sumber :mediscapecom.2011)

Film polos merupakan metode penilaian awal utama pada pasien dengan

kecurigaan trauma skeletal. Setiap tulang dapat mengalami fraktur walaupun beberapa

diantaranya sangat rentan tanda atau gambaran yang khas pada fraktur adalah garis

fraktur dapat melintang di seluruh diameter tulang atau menimbulkan keretakan pada

tepi kortikal luar yang normal pada fraktur minor. Pembengkakan jaringan lunak

 biasanya terjadi setelah fraktur. Irregularitas kortikal: sedikit penonjolan atau berupa

anak tangga pada korteks. Fraktur patologis adalah fraktur yang terjadi di tulang yang

memang telah memiliki kelainan. Seringkali terjadi setelah trauma trivial misalnya

 penyakit paget osteoporosis atau tumor. Fraktur tibia proksimal cukup denganmembuat dua proyeksi anteroposterior dan lateral .3,4 

Osteosarcoma:

1. Gambaran osteolitik,dimana proses destruksi merupakan proses utama.

2. Gambaran osteoblastik yang diakibatkan oleh lebih banyak pembentukan

tumor tulang

3. Gambaran campuran antara proses destruksi dan proses pembentukan tumor

tulang

2.2.2 X-ray

Pertumbuhan neoplasma yang cepat mengakibatkan terangkatnya periosteum dan

tulang reaktif terbentuk antara periosteum dan tulang reaktif terbentuk antara

 periosteum yang terangkat dengan tulang dan pada x-ray terlihat sebagai segitiga

codman. Kombinasi antara tulang reaktif dan tulang neoplastik yang dibentuk

sepanjang pembuluh darah yang berjalan radier dari kortek tulang ke arah masa tumor

membentuk gambar sunburst.2 

Page 4: Felix Rico Suwandi

7/22/2019 Felix Rico Suwandi

http://slidepdf.com/reader/full/felix-rico-suwandi 4/14

 

Gambar 2.2.1 X-ray osteosarcoma

(Sumber : Medicalnet.2011)

1. Foto polos dari osteosarkoma dengan gambaran Codman triangle (arrow) dan difus,

mineralisasi osteoid diantara jaringan lunak.

2. Perubahan periosteal berupa Codman triangles (white arrow) dan masa jaringan

lunak yang luas (black arrow).

3. Gambaran MRI menunjukkan kortikal destruksi dan adanya massa jaringan lunak.

Dengan tepi tidak jelas atau kadangkala terdapat lubang kortikal multipel yang kecil.

Setelah kemoterapi, tulang disekelilingnya dapat membentuk tepi dengan batas jelas

disekitar tumor. Penyebaran pada jaringan lunak sering terlihat sebagai massa

 jaringan lunak. Dekat dengan persendian, penyebaran ini biasanya sulit dibedakan

dengan efusi. Area seperti awan karena sclerosis dikarenakan produksi osteoid yang

maligna dan kalsifikasi dapat terlihat pada massa. Reaksi periosteal adalah reaksi

 pembentukan tulang baru akibat respon terhadap cedera atau stimuli dari periosteum

di sekitar tulang.

Gambar 2.2.2 Sunburst appearance pada osteosarkoma di femur distal

(Sumber : Medicalnet.2011)

2.2.3. CT Scan

Page 5: Felix Rico Suwandi

7/22/2019 Felix Rico Suwandi

http://slidepdf.com/reader/full/felix-rico-suwandi 5/14

CT dapat berguna secara lokal ketika gambaran foto polos membingungkan, terutama

 pada area dengan anatomi yang kompleks (contohnya pada perubahan di mandibula

dan maksila pada osteosarkoma gnathic dan pada pelvis yang berhubungan dengan

osteosarkoma sekunder). Gambaran cross-sectional memberikan gambaran yang lebih

 jelas dari destruksi tulang dan penyebaran pada jaringan lunak sekitarnya daripadafoto polos. CT dapat memperlihatkan matriks mineralisasi dalam jumlah kecil yang

tidak terlihat pada gambaran foto polos. CT terutama sangat membantu ketika

 perubahan periosteal pada tulang pipih sulit untuk diinterpretasikan. CT sangat

 berguna dalam evaluasi berbagai osteosarkoma varian.3 

2.2.4. MRI

MRI merupakan modalitas untuk mengevaluasi penyebaran lokal dari tumor karena

kemampuan yang baik dalam interpretasi sumsum tulang dan jaringan lunak. MRI

merupakan tehnik pencitraan yang paling akurat untuk menentukan stadium dari

osteosarkoma dan membantu dalam menentukan manajemen pembedahan yang tepat.

Untuk tujuan stadium dari tumor, penilaian hubungan antara tumor dan kompartemen

 pada tempat asalnya merupakan hal yang penting. Tulang, sendi dan jaringan lunak

yang tertutupi fascia merupakan bagian dari kompartemen. Penyebaran tumor

intraoseus dan ekstraoseus harus dinilai. Fitur yang penting dari penyakit intraoseus

adalah jarak longitudinal tulang yang mengandung tumor, keterlibatan epifisis, dan

adanya skip metastase. Keterlibatan epifisis oleh tumor telah diketahui sering terjadi

daripada yang diperkirakan, dan sulit terlihat dengan gambaran foto polos.

Keterlibatan epifisis dapat didiagnosa ketika terlihat intensitas sinyal yang sama

dengan tumor yang terlihat di metafisis yang berhubungan dengan destruksi fokal darilempeng pertumbuhan. Skip metastase merupakan fokus synchronous dari tumor yang

secara anatomis terpisah dari tumor primer namun masih berada pada tulang yang

sama. Deposit sekunder pada sisi lain dari tulang dinamakan transarticular

skip metastase. Pasien dengan skip metasase lebih sering mempunyai kecenderungan

adanya metastase jauh dan interval survival bebas tumor yang rendah. Penilaian dari

 penyebaran tumor ekstraoseus melibatkan penentuan otot manakah yang terlibat dan

hubungan tumor dengan struktur neurovascular dan sendi sekitarnya. Hal ini penting

untuk menghindari pasien mendapat reseksi yang melebihi dari kompartemen yang

terlibat. Keterlibatan sendi dapat didiagnosa ketika jaringan tumor terlihat menyebarmenuju tulang subartikular dan kartilago. 3 

2.2.5 Ultrasound

Ultrasonography dapat memperlihatkan penyebaran tumor pada jaringan lunak, tetapi

tidak bisa digunnakan untuk mengevaluasi komponen intermedula dari lesi.3 

2.2.6 Nuclear Medicine

Osteosarcoma secara umum menunjukkan peningkatan ambilan dari radioisotop pada

 bone scan yang menggunakan technetium-99m methylene diphosphonate (MDP). Danmetastase paru-paru dapat juga dideteksi, namun skip lesion paling konsisten jika

Page 6: Felix Rico Suwandi

7/22/2019 Felix Rico Suwandi

http://slidepdf.com/reader/full/felix-rico-suwandi 6/14

menggunakan MRI. Bone scan sangat berguna untuk mengeksklusikan penyakit

multilokal. Karena osteosarkoma menunjukkan peningkatan ambilan dari radioisotop

maka bone scan bersifat sensitif namun tidak spesifik.

3. Diagnosis

3.1 Working diagnosis

Gambar 3.1 Jenis fraktur

(Sumber :Lecturenotesradiology.2007)

Fraktur adalah putusnya kontinuitas tulang,tulang rawan epifisis atau tulang rawan

sendi. Penyebab fraktur adalah trauma. Trauma langsung berarti benturan pada tulang

dan mengakibatkan fraktur di tempat itu. Trauma tidak langsung bilamana titik tumpu

 benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan. Trauma rotasi pada kaki dapat

mengakibatkan fraktur spiral pada tibia. Seseorang yang melompat dari ketinggian

dan mendarat pada kakinya dapat menderita fraktur kompresi tulang belakang yang

 jaraknya amat berjauhan. Fraktur yang diakibatkan trauma yang minimal atau tanpa

trauma adalah fraktur patologis yaitu fraktur dari tulang yang patologik akibat suatu

 proses misalnya: pada osteogenesis imperfecta,osteoporosis, penyakit metabolik atau

 penyakit-penyakit lain seperti infeksi tulang dan tumor tulang. Jenis fraktur greenstick, communited (fragmen multiple), Avulsi (fragmen tulang terlepas dari lokasi

Page 7: Felix Rico Suwandi

7/22/2019 Felix Rico Suwandi

http://slidepdf.com/reader/full/felix-rico-suwandi 7/14

ligamen atau insersi tendon), patologis, fraktur stress atau lelah, Fraktur impaksi (

fragmen fragmen saling tertekan satu sama lain), Fraktur lempeng epifisis (pada anak

di bawah usia 16 tahun).3,4 

Gambar 3.2 Fraktur proksimal tibia

(Sumber : mypacs.2011)

Berkaitan dengan kasus Fraktur proksimal tibia merupakan daerah tulang yang lemah

yang terdiri dari tulang spongiosa dan dibatasi korteks yang tipis. Kecuali itu pada

orang tua tulangnya secara keseluruhan sudah mengalami osteoporotik. Maka mudah

dimengerti bila terjadi trauma langsung pada daerah lutut akan terjadi fraktur

intraartikular tibia (tibia plateau). Osteosarcoma adalah tumor tulang ganas yang

umumnya paling agresif, meliputi metafise dari tulang panjang di sekitar lutut, dan

terutama di sekitar lutut, dan terutama ditemukan pada masa remaja. Metastasis

 pulmoner sering ditemukan dan terapi terdiri dari amputasi atau reseksi radikal

dengan rekonstruksi ekstremitas,bersamaan dengan rekonstruksi ekstremitas,

 bersamaan dengan kemoterapi sistemik. Kadang-kadang terlihat dalam pasien yang

lebih tua sebagai keganasan sekunder yang timbul dalam penyakit paget atau setelah

terapi radiasi. Osteoma parosteal adalah varian yang kurang agresif, timbul

ekstraseous terhadap. 4  periosteum, biasanya di dekat lutut dalam dewasa muda.

Klasifikasi dari osteosarkoma merupakan hal yang kompleks, namun 75% dari

osteosarkoma masuk kedalam kategori “klasik” atau konvensional, yang termasuk

osteosarkoma osteoblastic , chondroblastic, dan fibroblastic. Sedangkan sisanya

sebesar 25% diklasifikasikan sebagai “varian”  berdasarkan (1) karakteristik klinik

seperti pada kasus osteosarkoma rahang, osteosarkoma postradiasi, atau osteosarkoma

 paget; (2) karakteristik morfologi, seperti pada osteosarkoma telangiectatic,osteosarkoma small-cell, atau osteosarkoma epithelioid; dan (3) lokasi, seperti pada

osteosarkoma parosteal dan periosteal. Osteosarkoma konvensional muncul paling

sering pada metafisis tulang panjang, terutama pada distal femur (52%), proximal

tibia (20%) dimana pertumbuhan tulang tinggi. Tempat lainnya yang juga sering

adalah pada metafisis humerus proximal (9%). Penyakit ini biasanya menyebar dari

metafisis ke diafisis atau epifisis. Kebanyakan dari osteosarkoma varian juga

menunjukkan predileksi yang sama, terkecuali lesi gnathic pada mandibula dan

maksila, lesi intrakortikal, lesi periosteal dan osteosarkoma sekunder karena penyakit

 paget yang biasanya muncul pada pelvis dan femur proximal.4 

Page 8: Felix Rico Suwandi

7/22/2019 Felix Rico Suwandi

http://slidepdf.com/reader/full/felix-rico-suwandi 8/14

 

Gambar 3.1 Proximal tibia dan osteosarcoma proximal tibia

(Sumber : Ptendu.2002)

Gambar 3.2 Pelvis dan ekstremitas bawah

(Sumber: Michaeu,Adam .2011)

3.2 Deferensial Diagnosis

3.2.1 Fraktur Stress

Pola fraktura ditentukan dalam tingkat tertentu oleh sifat tenaga yang diberikan.

Gerakan membengkokkan yang diberikan ke tulang panjang menimbulkan fraktura

oblik atau transversa sederhana pululan langsung atau tenaga meremukkan biasanya

menimbulkan fraktura communitiva tenaga putaran sering menimbulkan fraktura

spiral dan kompresi sumbu menimbulkan fraktura jepit (impaksi). Tenaga traksi pada

titik perlekatan tendo bisa menimbulkan fraktura jepit (impaksi). Tenaga traksi pada

titik perlekatan tendo bisa menimbulkan fraktura avulsi dengan fragmen tergeser oleh

kontraksi otot yang hebat. Trauma berulang kronis bisa juga menyebabkan fraktura.

Pada atlet melakukan gerak badan berlebihan tiap hari, Fraktura kelelahan atau sires

Page 9: Felix Rico Suwandi

7/22/2019 Felix Rico Suwandi

http://slidepdf.com/reader/full/felix-rico-suwandi 9/14

dalam ekstremitas bawah bisa terjadi. Pada pasien tua dengan osteoporosis aktivitas

harian rutin berulang (berjalan) atau mendadak (mengangkat obyek) bisa

menyebabkan fraktura insufisiensi. Fraktura nontraumatik dengan adanya timbunan

metastasik atau infeksi dinamakan sebagai fraktura patologis.9 

3.2.2 Giant Cell Tumor

Tumor tulang yang asalanya masih kontroversial,ada yang berpendapat tumor ini

 berasal dari jaringan ikat pendapat lain mengatakan tumor ini berasal dari sel

osteoklas tetapi ada juga yang berpendapat asal tumor ini tidak diketahui. Bersifat

 jinak tetapi secara lokal bisa menjadi ganas. Mengenai golongan umur dewasa muda

terutama antara 20-35 tahun. Didapat pada epifisis tulang panjang yang dapat meluas

ke arah metafisis. Tempat yang paling sering adalah proksimal tibia distal femur dan

distal radius. Radiologi tampak daerah osteolitik di epifisis dengan batas yang jelas

dan memberikan kesan multiokuler gambaran soap bubble. Stroma yang vaskuler

dengan banyak sel datia langhans juga terdapat pada banyak tumor (non ossifying

fibroma, kista tulang, kondromiksoid fibroma, kista tulang, kondromiksoid fibroma

,kondroblastoma). Tetapi dengan pemeriksaan mikroskopik yang cermat semua lesi

yang juga sebagai variasi daripada giant cell tumor dapat dibedakan dari giant cell

tumor sejati 4 

3.2.3 Kondrosarkoma

Merupakan tumor ganas tulang rawan yang dapat tumbuh spontan (kondrosarkoma

 primer) atau merupakan degenerasi maligna lesi jinak seperti

osteokondroma,enkondroma (kondrosarkoma sekunder) ditemukan pada usia 30-60

tahun. Neoplasma ini tumbuhnya agak lambat dan hanya memberilkan sedikit keluhan

. Keluhan penderita adalah adanya massa tumor yang menjadi besar secara perlahan-

lahan. Neoplasma ini lambat memberikan metastase. Lokasinya terutama mengenai

tulang ceper sepertu pelvis dan skapula tetapi dapat juga didapat pada tulang panjang

seperti femur dan humerus. Lokasinya terutama mengenai tulang ceper seperti pelvis

dan skapula, tetapi dapat juga didapat pada tulang panjang seperti femur dan humerus.

Radiologi tampak sebagai lesi osteolitik dengan bercak-bercak kalsifikasi disertai

 proses destruksi korteks sehingga tumor dapat diliat meluas ke jaringan lunak di

sekitarnya. Patologi nampak sel-sel ganas yang membentuk tulang rawan. Gambaranmitosis tidak begitu banyak. 4 

3.2.4 Osteomielitis

Osteomielitis adalah infeksi akut tulang yang dapat terjadi karena penyebaran infeksi

dari darah (osteomielitis hematogen) atau, yang lebih sering, setelah kontaminasi

fraktur terbuka atau reduksi berubah (osteomielitis eksogen ). Luka tusuk pada

 jaringan lunak atau tulang, yang terjadi akibat gigitan hewan atau manusia, atau

injeksi intramuskular yang salah tempat, dapat menyebabkan osteomielitis eksogen.

Bakteri adalah penyebab umum osteomielitis akut, namun virus,jamur, danmikroorganisme yang lain dapat berperan. Osteomielitis adalah penyakit sulit diobati

Page 10: Felix Rico Suwandi

7/22/2019 Felix Rico Suwandi

http://slidepdf.com/reader/full/felix-rico-suwandi 10/14

karena dapat terbentuk abses lokal. Abses tulang biasanya memiliki suplai darah yang

 buruk dengan demikian, pelepasan sel imun dan antibiotik terbatas. Nyeri hebat dan

disabilitas permanen dapat terjadi apabila infeksi tulang tidak diobati segera dan

agresif. Gejala osteomielitis hematogen pada anak-anak adalah demam, mengigil,dan

keenganan menggerakkan ekstremitas tertentu. Pada individu dewasa, gejala mungkinsamar dan berupa demam keletihan, dan malaise. Infeksi saluran napas, saluran

kemih, telinga, atau kulit sering mendahului osteomielitis hematogen. Osteomielitis

eksogen biasanya disertai tanda cedera dan inflamasi di tempat nyeri. Terjadi demam

dan pembesaran nodus limfe regional. 5

3.2.5 Sarkoma Ewing

Tumor ganas yang didapat. Menyerang golongan usia muda, kebanyakan di bawah

usia 20 tahun. Lebih banyak didapat pada kaum pria. Penderita mengeluh sakit

dengan disertai adanya benjolan. Kemungkinan suhu badan yang meninggi,

lekositosis dan laju endap darah meningkat. Lokasi pada diafisis tulang-tulang

 panjang, paling sering pada femur ,tibia ,ulna, fibula dapat juga mengenai tulang

tulang ceper. Radiologi tampak proses destruksi tulang dengan batas yang tidak jelas.

Pembentukan tulang reaktif baru oleh periosteum bisa berlapis-lapis yang

memberikan gambaran onion skin atau tegak lurus yang nampak sebagai sunburst.4 

4. Patogenesis

Sekarang ini penyebab timbulnya osteosarcoma belum dapat dipastikan, para ahli

 berpendapat mungkin dikarenakan adanya luka ringan yang lama lama didiamkan

sehingga menjadi infeksi kronis lalu timbullah osteosarcoma. Pada saat yang sama

 pertumbuhan lebih pada tulang, peradangan kronis, factor genetik dan infeksi virus

tertentu, peredarahan darah pada tulang tidak lancar, pancaran radiasi dan factor

lainnya yang saling berhubungan.6

Gambar 4.1 Histologi osteosarcoma

(Sumber :pathguy.2014)

Gambaran histologi bervariasi kriteria untuk diagnosis adalah didapatnya stroma

sarkoma dengan pembentukan osteoid neoplastik dan tulang disertai gambaran

anaplasia yang mencolok.

4

 

Page 11: Felix Rico Suwandi

7/22/2019 Felix Rico Suwandi

http://slidepdf.com/reader/full/felix-rico-suwandi 11/14

5. Gejala klinis

Keluhan utama penderita ialah perasaan rasa sakit pada bagian tulang yang terkena

disertai adanya benjolan. Didapat pula tanda-tanda keganasan umum seperti anemia,

 berat badan yang menurun. Pasien osteosarcoma mengalami demam, berat badan

menurun mudah lelah dan penurunan aktivitas hidup. Dan karena ada gencetan dari

tumor ke pembuluh darah menyebabkan anggota distal tubuh menjadi keram atau

mati rasa. Pasien merasakan nyeri pada tulang dan sendi bahkan sampai bengkak,

 pada malam hari rasa sakit akan semakin terasa, bahkan sakit terus menerus atau saat

tergencet atau mendapat timpaan akan terasa sakit. Pada kasus juga terdapat fraktur

linear os tibia 1/3 proksimal artinya di daerah lutut yang cedera terdapat

 pembengkakan disertai rasa sakit. Kadang-kadang ditemukan deformitas. 4,6 

6. Penatalaksanaan

Gambaran 6.1 Penentuan stadium neoplasma rangka ganas

(Sumber : bukuajarbedah.1994)

Selama beberapa tahun terapi neoplasma ganas rangka primer adalah dengan

 pembedahan saja. Kemajuan dalam teknik radioterapi dan agen terapi (dalam

 beberapa kasus ) telah membawa modifikasi pendekatan bedah bagi neoplasma

rangka ganas . Bila hanya dilakukan, maka lesi stadium IA (tingkat rendah,dalam

ruangan) adekuat diterapi eksisi lokal yang lebar. Lesi stadium IB (tingkat rendah,

luar ruangan), IIA(tingkat tinggi, dalam ruangan ) dan IIB (tingkat tinggi, luar

ruangan). Biasanya memerlukan eksisi radikal. Dalam kasus keganasan rangka, eksisi

radikal berarti amputasi. Dalam kasus keganasan rangka, eksisi radikal (pembuangan

seluruh ruangan anatomi asal ) sering berarti amputasi. Dalam tahun belakangan ini

 praterapi dengan radioterapi atau kemoterapi telah memungkinkan eksisi lokal yang

lebar bagi sejumlah tumor tingkat tinggi dan memungkinkan penyemalatan

ekstremitas. Keputusan untuk mencoba menyelamatkan ekstremitas didasarkan pada

 penelitian penentuan stadium asli dan penentuan stadium ulang setelah praterapi

dengan kemoterapi atau radioterapi. Luas tumor di dalam tulang, luas perluasan tumor

di dalam jaringan lunak,serta hubungan tumor dengan pemeriksaan saraf dan vaskular

utama, semuanya harus ditentukan. 9

Penderita dengan osteosarkoma membutuhkan terapi operatif berupa amputasi.Amputasi dapat dilakukan melalui tulang daerah proksimal tumor atau melalui sendi

Page 12: Felix Rico Suwandi

7/22/2019 Felix Rico Suwandi

http://slidepdf.com/reader/full/felix-rico-suwandi 12/14

(disartikulasi) proksimal dari pada tumor. Menurut penyidikan, antara teknik amputasi

melalui tulang dengan disartikulasi tidak ada perbedaan yang bermakna dalam hasil

suvival rate. Selain terapi operatif, maka pada penderita osteosarkoma diperlukan juga

terapi ajuvan berupa pemberian kemoterapi atau radioterapi para ahli berpendapat

 bahwa pada saat diagnosis osteosarkoma ditegakkan, maka dianggap kebanyakan penderita sudah mempunyai mikro metastase di paru-paru sehingga setelah amputasi

walaupun x-ray paru-paru masih belum nampak metastase, perlu diberikan

kemoterapi untuk membrantas mikrometastase.9 

7. Prognosis

Pada permulaannya prognosis osteosarkoma adalah buruk 5 years survival ratenya

hanya berkisar antara 10-20%. Belakangan ini dengan terapi ajuvan berupa sitostatik

yang agresif dan intensif yang diberikan pra bedah dan pasca bedah maka survival

rate menjadi lebih baik dapat mencapai 60-70% . Berkat terapi ajuvan maka terapi

amputasi belakangan ini sudah berkurang, sekarang pada pusat-pusat pengobatan

kanker yang lengkap, maka terapi non amputasi atau limb salvage lebih sering

dilakukan.4 

8. Pencegahan

Pencegahan kanker tulang bisa dilakukan dengan memahami proses terjadinya kanker

itu sendiri. Kanker biasanya terjadi akibat adanya zat karsinogen dan radikal bebas

dalam tubuh. Oleh karena itu kita dapat melakukan pencegahan dengan menerapkan

 pola hidup sehat seperti menghindari kebiasaan merokok, mengonsumsi alkohol, serta

makanan yang mengandung banyak lemak dan zat karsinogen. Biasakan

mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung antioksidan dan nutrisi

 penting lainnya, serta lakukan secara teratur pemeriksaan kesehatan.7 

9. Edukatif

Metode perawatan melalui makanan 

1. Menjaga keseimbangan nutrisi, menu makanan yang kaya ragam.

2. Banyak mengkonsumsi sayuran dan buah segar.

3. Dilarang merokok, minuman beralkohol dan makanan pedas.6 

Metode perawatan melalui psikologis 

1. Menciptakan suasana yang harmonis dan lingkungan yang nyaman dan aman,

untuk memberikan rasa aman pada pasien osteosarcoma.

2. Pada waktu yang tepat menjelaskan pengetahuan tentang penyakit osteosarcoma t

  erhadap pasien, membantu pasien membangun kepercayaan diri melawan kanker.

3. Anggota keluarga harus mengambil inisiatif untuk memberi perhatian dan

dukungan pada pasien osteosarcoma, menghilangkan rasa kesepian dan rasa putus asa

 pasien dan emosi negatif lainnya. 6 

Page 13: Felix Rico Suwandi

7/22/2019 Felix Rico Suwandi

http://slidepdf.com/reader/full/felix-rico-suwandi 13/14

 

10. Perawatan Jangka Panjang

- Rawat Inap

  Siklus kemoterapi: hal ini secara umum memerlukan pasien untuk masuk

rumah sakit untuk administrasi dan monitoring. Obat aktif termasuk methotrexate,cisplatin, doxorubicin, and ifosfamide. Pasien yang ditangani dengan agen alkylating

dosis tinggi mempunyai resiko tinggi untuk myelodysplasia dan leukemia. Oleh

karena itu hitung darah harus selalu dilakukan secara periodik.

  Demam dan neutropenia: diperlukan pemberian antibiotic intravena

  Kontrol lokal: penanganan di rumah sakit diperlukan untuk kontrol lokal dari

tumor (pembedahan), biasanya sekitar 10 minggu. Reseksi dari metastase juga

dilakukan pada saat ini.

- Rawat Jalan

  Hitung jenis darah: pengukuran terhadap hitung jenis darah dilakukan dua kaliseminggu terhadap granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF) pasien,

 pengukuran G-CSF dapat dihentikan ketika hitung neutrophil mencapai nilai 1000

atau 5000/μL. 

  Kimia darah: sangat penting untuk mengukur kimia darah dan fungsi hati pada

 pasien dengan nutrisi parenteral dengan riwayat toksisitas (terutama jika penggunaan

antibiotik yang nephrotoxic atau hepatotoxic dilanjutkan.

  Monitoring rekurensi: monitoring harus tetap dilanjutkan terhadap lab darah

dan radiografi, dengan frekuensi yang menurun seiring waktu. Secara umum

kunjungan dilakukan setiap 3 bulan selama tahun pertama, kemudian 6 bulan pada

tahun kedua dan seterusnya.

  Follow-up jangka panjang: ketika pasien sudah tidak mendapat terapi selama

lebih dari 5 tahun, maka pasien dipertimbangkan sebagai survivors jangka panjang.

Individu ini harus berkunjung untuk monitoring dengan pemeriksaan yang sesuai

dengan terapi dan efek samping yang ada termasuk evaluasi hormonal, psychosocial,

kardiologi, dan neurologis.8 

11. Epidemiologi

1.Merupakan tumor tulang kedua paling sering setelah mieloma

2.Sebagian besar yang terkena adalah anak-anak, remaja, dan dewasa muda

3.Lokasi yang paling sering terkena adalah tulang yang paling aktif tumbuh, yaitutulang paha, tulang kering, tulang lengan, dan tulang panggul

4.Pada orang dewasa, osteosarkoma dapat timbul sebagai salah satu komplikasi

 penyakit Paget. Osteosarkoma merupakan 20% dari seluruh kanker tulang ganas yang

dapat terjadi di mana-mana dari tulang, biasanya di luar batas yang paling dekat

metaphyseal pertumbuhan tulang piring. Yang paling sering terjadi adalah pada tulang

 paha (42%, 75% dari yang terpencil di tulang paha), tulang kering (19%, 80% dari

yang di proximal tulang kering), dan humerus (10%, 90% dari yang di yang proximal

humerus). Lokasi lain yang signifikan adalah tengkorak dan rahang (8%) dan panggul

(8%). Dan lebih dari 50% kasus terjadi pada daerah lutut.8 

Page 14: Felix Rico Suwandi

7/22/2019 Felix Rico Suwandi

http://slidepdf.com/reader/full/felix-rico-suwandi 14/14

BAB III

KESIMPULAN

Osteosarkoma merupakan tumor ganas ke dua dari tulang. Didapatkan pada umur antara 5-30

tahun, dan terbanyak pada umur 10 - 20 tahun. Terdapat pada metafise tulang panjang yang pertumbuhannya cepat,terbanyak pada daerah lutut. Diagnose ditegakkan dengan gejala

klinis, pemeriksaan radiografi seperti plain foto, CT scan, MRI, Ultrasound, nuclear medicine

dan dengan pemeriksaan histopatologis melalui biopsi. Prognosis osteosarkoma tergantung

 pada staging dari tumor dan efektif-tidaknya penanganan. Penanganan osteosarkoma saat ini

dilakukan dengan memberikan kemoterapi, baik pada preoperasi (induction=neoadjuvant

chemotherapy, dan pascaoperasi (adjuvant chemotherapy). Pengobatan secara operasi,

 prosedur Limb Salvage merupakan tujuan yang diharapkan dalam operasi suatu osteosarkoma

Follow-up post-operasi pada penderita osteosarkoma merupakan langkah tindakan yang

sangat penting.

DAFTAR PUSTAKA

1. Hide G. 2007. Osteosarkoma, Classic,Variants .http://www.emedicine.com,diakses 15

Maret 2014.

2. Patel PR, Benjamin RS. Soft Tissue and Bone Sarcomas and Bone Metastases. Dalam:

Kasper DL et al.Harrison’s Principles of Internal Medicine 16th ed. USA: McGRAW-HILL.

2005

3. Patel PR. Lecture notes radiologi. Fraktur,Tumor tulang ganas. Osteosarcoma. Dalam :

Safitri A. Edisi ke 2. Jakarta: Penerbit erlangga;2007.h.201

4.Staf pengajar Universitas Indonesia. Kumpulan kuliah ilmu bedah. Osteosarcoma, Sarkoma

Ewing , Kondro sarkoma ,Giant cell tumor. Dalam : Reksoprodjo S. Edisi ke 1.

Jakarta:Binarupa Aksara;2010.h.522-30

5.Corwin EJ. Buku saku patofisiologi.Osteomielitis. Dalam: Yudha EK. Edisi ke 3. Jakarta:

EGC;2009.h. 339-40

6.ECCU Designated Hospital. 2013. Osteosarkoma http:// www. Asiancancer .com/ indon

esian/cancer-sympt oms/bone-cancer-symptoms/. Diunduh 15 maret 2014

7.Dokter sehat .2013 .http://doktersehat.com/gejala-dan-pencegahan-kanker-tulang/. Di

unduh 15 maret 2014

8.Medicallinkgo.2012.http://medicallinkgo.wordpress.com/2012/10/26/osteosarcoma/

Diunduh 15 maret 2014

9.Sabiston. Buku ajar bedah. Neoplasma ganas .Dalam : Andrianto P.Edisi ke 1. Jakarta:

EGC;1994.h.346-8

10.Bagian Bedah FK Unud / RSUP Sanglah Denpasar. 2010. Tinjauan Pustaka Osteosarcomadan penanganannya . Diunduh 17 maret 2014