Farmasi Care Diabetes Konseling

Embed Size (px)

Citation preview

  • 8/18/2019 Farmasi Care Diabetes Konseling

    1/8

    Jurnal Kesehatan Volume II No. 4 Tahun 2009 

    19

    PELAYANAN KEFARMASIAN DALAM PENATALAKSANAAN

    DIABETES MELITUS

    HaeriaStaf Pengajar Program Studi Farmasi

     Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar

    Abstrak

     Diabetes Melitus merupakan salah satu penyakit degenerative dan tergolong dalam sepuluh besar penyakit di Indonesia. Penatalaksanaan penyakit DM ini memerlukan suatu

     pelayanan kesehatan yang terpadu. Farmasis memegang peranan penting dalam hal pelayanankefarmasiannya untuk mewujudakan asuhan kefarmasian sesuai dengan kompetensinya. Peranan

     farmasis ini terumus dalam “Seven Stars Pharmacist” sehingga seorang farmasis tid ak hanyaterlibat dalam aspek farmakoterapi, tetapi dapat terlibat dalam berbagai tahap pengelolaandiabetes.

    Kata kunci:  Diabetes Melitus, Pelayanan Kefarmasian 

    PENDAHULUAN

    iabetes Melitus (DM) didefinisi-

    kan sebagai suatu penyakit atau

    gangguan metabolisme kronis

    dengan multi etiologi yang ditandai dengan

    tingginya kadar gula darah disertai dengan

    gangguan metabolism karbohidrat, lipid

    dan protein sebagai akibat insufisiensi

    fungsi insulin. Insufisiensi insulin dapat

    disebabkan oleh gangguan atau defesiensi

     produksi insulin oleh sel -sel beta

    Langerhans kelenjar pancreas, atau disebab-

    kan oleh kurang responsifnya sel-sel tubuh

    terhadap insulin (WHO, 1999).Walaupun Diabetes Melitus merupa-

    kan penyakit kronis dan tidak menyebab-

    kan kematian secara langsung, tetapi dapat

     berakibat fatal bila pengelolaannya tidak

    tepat. Penanganan DM memerlukan cara

    multidisiplin yang mencakup terapi non-

    obat dan terapi obat.

    Penatalaksanaan diabetes yang

    membutuhkan kerjasama yang erat dan

    terpadu dari penderita dan keluarga dengan

     para tenaga kesehatan antara lain dokter,

    farmasis dan ahli gizi. Pentingnya peranan

    seorang farmasis dalam keberhasilan

     pengelolaan diabetes ini karena farmasis

    memiliki frekuensi pertemuan dengan

     pasien yang lebih banyak, sehingga dapat

    memberikan pelayanan kefarmasian yang

     professional.

    Pada tahun 1997, WHO telahmerumuskan 7 peranan farmasi dalam

    rangka mengoptimalkan pelayanan

    kefarmasian terhadap penderita suatu

     penyakit. Rumusan ini dikenal dengan

    “Seven Stars Pharmacist” yang terdiri dari:

    1.  Sebagai care-giver (pemberi pelayanan)

    D

  • 8/18/2019 Farmasi Care Diabetes Konseling

    2/8

    Haeria  Pelayanan Kefarmasian dalam Penatalaksanaan Diabetes Melitus  

    20

    2.  Sebagai decision-maker (pengambil

    keputusan)

    3.  Sebagai Komunikator,

    4.  Sebagai Pemimpin,

    5. 

    Sebagai Manajer,

    6.  Sebagai  Long-life learner  (pembelajar

    sepanjang hayat)

    7.  Sebagai Guru

    Sehubungan dengan hal tersebut,

    maka dapat dipahami bahwa dalam

     penatalaksanaan diabetes, farmasis tidak

    hanya terlibat dalam berbagai aspek

    farmakoterapi atau yang berhubungan

    dengan obat semata, tetapi lebih lagi dapatterlihat dalam berbagai tahap dan aspek

     pengelolaan diabetes, mulai dari skrining

    diabetes sampai dengan pencegahan dan

     penanganan komplikasi.

    Pengenalan Diabetes Melitus

    Klasifikasi dibetes mellitus mengalami

     perkembangan dan perubahan dari waktu

    ke waktu. Oleh karena berbagai klasifikasi

    yang dibuat dianggap kurang tepat seiring

    dengan perkembangan penyakit serta

     banyaknya kasus yang ditemukan, maka

    saat ini ada kecenderungan untuk meng-

    klasifikasi berdasarkan etiologi penyakitnya.

    Gejala Klinik dan Diagnosis

    Diabetes seringkali muncul tanpa

    gejala. Namun demikian ada beberapa

    gejala yang harus diwaspadai sebagaiisyarat kemungkinan diabetes.

    1. Pada DM tipe 1, gejala klasik yang

    umum dikeluhkan adalah poliuria,

     polidipsia, polifagia, penurunan berat

     badan, cepat merasa lela ( fatigue),

    iritabilitas, dan pruritis.

    2. Pada DM tipe 2, gejala yang dikeluhkan

    umumnya hampir tidak ada. Jenis DM

    ini seringkali muncul tanpa diketahui,

    dan penanganan baru dimulai beberapa

    tahun kemudian ketika penyakit sudah

     berkembang dan komplikasi sudah

    terjadi. Penderita DM tipe 2 ini umum-

    nya lebih mudah terkena infeksi, sukar

    sembuh dari luka, daya penglihatan

    memburuk, menderita hipertensi,

    hiperlipidemia, obesitas, dan juga

    komplikasi pada pembuluh darah dan

    saraf.

    Diagnosis klinis DM umumnyadiketahui apabila ada keluhan khas DM

    yang berupa poliuria, polidipsia, polifagia,

    dan penurunan berat badan yang tidak jelas

     penyebabnya. Keluhan lain yang mungkin

    adalah badan terasa lemah, sering

    kesemutan, gatal-gatal, mata kabur, disfungsi

    ereksi pria, dan pruritus vulvae pada

    wanita.

    Kriteria penegakan diagnosis DM

    Glukosa

    plasma

    puasa

    Glukosa

    plasma 2

     jam setelah

    makan

    Normal < 100 mg/dl < 140 mg/dl

    Pra-

    diabetes

    100 –  125

    mg/dl

    -

    -

    140 –  199

    mg/dl

    Diabetes ≥ 126 mg/dl ≥ 200 mg/dl

    Penatalaksanaan Diabetes

    Tujuan penatalaksanaan diabetes

    adalah untuk menurunkan morbiditas dan

    mortalitas DM, yang secara spesifik

    ditujukan untuk:

  • 8/18/2019 Farmasi Care Diabetes Konseling

    3/8

    Jurnal Kesehatan Volume II No. 4 Tahun 2009 

    21

    1.  Menjaga agar kadar glukosa plasma

    dalam keadaan kisaran normal.

    2.  Mencegah atau meminimalkan kemungki-

    nan terjadinya komplikasi diabetes.

    The American Diabetes Association

    (ADA) merekomendasikan beberapa

     parameter yang dapat digunakan untuk

    menilai keberhasilan penatalaksanaan

    diabetes.

    Parameter Kadar ideal

    Kadar glukosa

    darah puasa80 –  120 mg/dl

    Kadar glukosaplasma puasa

    90 –  130 mg/dl

    Kadar glukosa

    darah saat tidur100 –  140 mg/dl

    Kadar glukosa

    plasma saat tidur110 –  150 mg/dl

    Kadar insulin < 7%

    Kadar HbA 1C < 7 mg/dl

    Kadar kolesterolHDL

    > 4 5 mg/dl (pria)

    Kadar kolesterol

    HDL

    > 55 mg/dl

    (wanita)

    Kadar Trigliserida < 200 mg/dl

    Tekanan darah < 130 / 80 mmHg

    Pada dasarnya ada dua pendekatan

    dalam penatalaksanaan diabetes, yang

     pertama adalah pendekatan tanpa obat dankedua adalah pendekatan dengan obat.

    Terapi Tanpa Obat

    Terapi diabetes melitus dapat berupa

    terapi tanpa penggunaan obat-obat diabetes

    melitus. Tetapi jenis terapi ini terkhusus

    kepada pengaturan gaya hidup, yang

     berupa pengaturan diet dan olahraga.

    Diet yang baik adalah kunci suatu

    keberhasilan penatalaksanaan diabetes

    melitus. Diet yang dianjurkan adalah

    makanan dengan komposisi gizi yang

    seimbang, sesuai dengan kecukupan gizi

     baik berikut ini:

    -  Karbohidrat : 60 –  70%

    -  Protein : 10 -15%

    -  Lemak : 20 -25 %

    Penurunan berat badan telah dibukti-

    kan dapat mengurangi resistensi insulin

    dan memperbaiki respon sel-sel β terhadapstimulus glukosa dan setiap kilogram

     penurunan berat badan dapat dihubungkan

    dengan 3 -4 bulan tambahan waktu harapan

    hidup.

    Selain jumlah kalori, pilihan jenis

     bahan makanan juga sangat penting untuk

    diperhatikan. Masukan kolesterol yang

    diperlukan dangan melebihi 300 mg

     perhari. Sumber lemah diupayakan dari

     bahan nabati karena mengandung asam

    lemak tak jenuh. Sebagai sumber protein

    yang paling baik adalah ikan, ayam

    (terutama daging dada), tahu dan tempe,

    karena tidak banyak mengandung lemak.

    Masukan serat sangat penting bagi

     penderita diabetes, diusahakan 25 gram

     perhari. Serat ini berfungsi untuk

    menghambat absorpsi lemak, juga dapat

    mengatasi rasa lapar yang kerap dialami penderita DM. Selain itu makanan berserat

    seperti sayur dan buah-buahan segar

    mengandung banyak vitamin dan mineral.

    Berolah raga secara teratur dapat

    menurunkan dan menjaga kadar gula darah

    tetap normal. Olah raga yang disarankan

  • 8/18/2019 Farmasi Care Diabetes Konseling

    4/8

    Haeria  Pelayanan Kefarmasian dalam Penatalaksanaan Diabetes Melitus  

    22

    adalah yang bersifat CRIPE (continuous,

    rhythmical, interval, progressive, endurance

    Training ). Olah raga yang dilakukan

    sedapat mungkin mencapai zona sasaran 75

     –   85% denyut nadi maksimal. Olah raga

    akan memperbanyak jumlah dan meningkat-

    kan aktivitas reseptor insulin dalam tubuh

    dan juga meningkatkan penggunaan

    glukosa.

    Terapi Obat

    Apabila penatalaksaan terapi tanpa

    obat tidak berhasil mengendalikan kadar

    glukosa darah penderita, maka perludilakukan penatalaksanaan terapi dengan

    obat, berupa insulin, obat hipoglikemik oral

    (golongan sulfonylurea, meglitinida, turunan

     fenilalanin, biguanidina, tiazolidindion,

    inhibitor α-  glukosidase), atau kombinasi

    keduanya.

    Penatalaksanaan DM dengan terapi

    obat dapat menimbulkan masalah-masalah

    terkait dengan obat (drug related problems)

    yang dialami penderita. Masalah ini

    merupakan keadaan terjadinya ketidak-

    sesuaian dalam pencapaian tujuan terapi

    sebagai akibat pemberian obat. Aktivitas

    untuk meminimalkannya merupakan

     bagian dari proses pelayanan kefarmasian

    (Hepler, 2003)

    Pelayanan Kefarmasian

    Menurut The National Community

    Pharmacists Associations National Institute

    for Pharmacist Care Outcome di USA,

    kontribusi farmasis berfokus kepada

     pencegahan dan perbaikan penyakit,

    termasuk mengidentifikasi dan menilai

    kesehatan pasien, memonitor, mengevaluasi,

    memberikan pendidikan dan konseling,

    melakukan intervensi, dan menyelesaikan

    terapi yang berhubungan dengan obat yang

    meningkatkan pelayanan ke pasien dan

    kesehatan secara keseluruhan. Kontribusi

    farmasis ini pada intinya adalah penata-

    laksanaan penyakit, berarti mencakup

    terapi obat dan non obat.

     Mengidentifikasi dan penilaian kesehatan

     pasien

    Farmasis dapat mengidentifikasi

     pasien-pasien yang tidak menyadari kalau

    menderita diabetes melitus. Identifikasi

    mentargetkan pasien-pasien dengan resiko

    tinggi, termasuk pasien obese, pasien > 40

    tahun, pasien dengan tekanan darah tinggi

    atau dislipidemia, pasien dengan sejarah

    keluarga diabetes, dan pasien yang

    mempunyai sejarah gestasional diabetes

    atau melahirkan anak dengan berat badan

    > 4,5 kg. pasien-pasien ini dapat

    diidentifikasi pada saat mereka mengambil

    obat di apotik/rumah sakit. Farmasis dapatmenyarankan pasien untuk memeriksa

    kadar gula darahnya.

    Menilai status kesehatan pasien

    dengan diabetes dan membuat rencana

     jangka pendek dan jangka panjang

    merupakan suatu tantangan bagi farmasis,

    terutama di farmasi komunitas dimana

    akses ke data laboratorium terbatas.

    Berdasarkan ADA disarankan untuk

    menilai keperluan pasien dan meyakinkan

    agar perawatan standar terpenuhi.

     Merujuk pasien

    Salah satu peranan farmasis yang

    tidak kalah pentingnya adalah merujuk

     pasien kepada tim perawatan diabetes

  • 8/18/2019 Farmasi Care Diabetes Konseling

    5/8

    Jurnal Kesehatan Volume II No. 4 Tahun 2009 

    23

    lainnya seperti bagian gizi, poliklinik mata,

     pediatric, gigi, dan lainnya bila diperlukan.

    Depresi juga sering dijumpai pada pasien

    diabetes, sehingga dapat dirujuk ke bagian

     penyakit jiwa bila diperlukan.

     Memantau penatalaksanaan diabetes

    Pemantauan terhadap kondisi penderita

    dapat dilakukan farmasis pada saat

     pertemuan konsultasi rutin atau pada saat

     penderita menebus obat, atau dengan

    melakukan hubungan telepon. Pemantauan

    kondisi penderita sangat diperlukan untuk

    menyesuaikan jenis dan dosis terapi.

    Farmasis harus mendorong penderita untuk

    melaporkan keluhan atau gangguan

    kesehatan yang dirasakannya sesegera

    mungkin. Farmasis harus bekerjasama

    dengan tim kesehatan lainnya dengan

     penyesuain dosis obat hipoglikemik oral

    (OHO). Kebanyakan morbiditas dan

    mortalitas pada pasien diabetes disebabkan

    karena komplikasi, antara lain komplikasi

    makrovaskuler. Hasil penelitian menunjuk-kan, penurunan kadar gula saja dapat

    tidak dapat menurunkan komplikasi

    makrovaskular. Oleh karena itu ada area

    lain dari diabetes yang harus diperhatikan

    untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas

    secara keseluruhan, antara lain:

    1.  Tekanan darah (target

  • 8/18/2019 Farmasi Care Diabetes Konseling

    6/8

    Haeria  Pelayanan Kefarmasian dalam Penatalaksanaan Diabetes Melitus  

    24

    Mencermati hal-hal tersebut, maka

    upaya peting untuk meningkatkan

    kepatuhan pasien terhadap terapi adalah

    konseling dan pemberian informasi yang

    lengkap dan akurat tentang terapi tersebut.

    Dalam hal ini, farmasis berada pada posisi

    kunci untuk member penjelasan umum

    maupun khusus tentang terapi yang dijalani

     pasien, baik farmakoterapi maupun non-

    farmakoterapi.

     Membantu penderita mencegah dan

    mengatasi komplikasi ringan 

    Mencegah dan mengatasi komplikasi

    diabetic adalah salah satu hal yang penting

    dalam pengelolaan diabetes. Informasi

    mengenai komplikasi yang mungkin

    muncul menyertai diabetes sangat penting

    disampaikan kepada penderita dan keluarga-

    nya agar dapat melakukan antisipasi

    seperlunya.

     Menjawab pertanyaan penderita dan

    keluarga mengenai DM

    Seorang farmasis dapat menjawab

     pertanyaan penderita dan keluarganya

    tentang segala hal yang menyangkut

    diabetes dan pengelolaannya sesuai denga

    kompetensinya. Misalnya mengenai

     penyebab penyakit dan gejala-gejalanya,

     pemeriksaan diagnostic yang harus

    dilakukan, hal-hal yang harus dihindari

    untuk mencegah dan menghambat per-

    kembangan penyakit, tentang terapi obatdan efek samping obat, tentang komplikasi

    dan pencegahannya.

     Memberikan pendidikan dan konseling

    Tujuan pendidikan kepada pasien

    adalah untuk memberikan pengetahuan dan

    kemampuan agar pasien dapat berpartisipasi

    dalam pengobatannya. Penelitian menunjuk-

    kan bahwa pasien yang tidak pernah

    mendapat pendidikan mengenai diabetes

    dapat mengalami resiko komplikasi mayor

    meningkat 4 kali lipat.

    Materi inti untuk pendidikan yang

    komprehensif yang dapat diberikan kepada

     penderita diabetes (Sumber: National

    Standard for diabetes self-management

    education, Diabetes Care 2005)

    -  Defenisi diabetes, proses penyakit, dan

     pilihan pengobatannya

    -  Terapi nutrisi

    - Aktivitas fisik

    -  Penggunaan obat

    -  Memonitor kadar gula sendiri

    -  Mencegah, mendeteksi, dan mengobati

    komplikasi akut dan kronis

    -  Target untuk mencapai hidup sehat

    -  Menyesuaikan sendiri perawatan dalam

    kehidupan sehari-hari

    -  Penyesuaian psikososial dalam kehidupan

    sehari-hari.

    Segala informasi yang dianggap

     perlu untuk meningkatkan kepatuhan dan

    kerjasama penderita dan keluarganya

    terhadap program penatalaksanaan diabetes

    dapat disampaikan dalam konseling.

     Namun dalam penyampaiannya perlu

    mempertimbangkan kondisi penderita, baik

    kondisi pengetahuan, kondisi fisik, maupun

    kondisi psikologisnya.

    PENUTUP

    Konsep pelayanan kefarmasian lahir

    karena kebutuhan untuk mengkuantifikasi

     pelayanan kefarmasian yang diberikan,

     baik bidang farmasi klinik maupun farmasi

    komunitas. Dalam penatalaksanaan diabetes,

  • 8/18/2019 Farmasi Care Diabetes Konseling

    7/8

    Jurnal Kesehatan Volume II No. 4 Tahun 2009 

    25

    farmasis tidak hanya terlibat dalam

     berbagai aspek farmakoterapi atau yang

     berhubungan dengan obat semata, tetapi

    lebih lagi dapat terlihat dalam berbagai

    tahap dan aspek pengelolaan diabetes,

    mulai dari skrining diabetes sampai dengan

     pencegahan dan penanganan komplikasi.

    Pentingnya peranan seorang farmasis

    dalam keberhasilan pengelolaan diabetes

    ini karena farmasis memiliki frekuensi

     pertemuan dengan pasien yang lebih

     banyak, sehingga dapat memberikan

     pelayanan kefarmasian yang professional.

    DAFTAR PUSTAKA

    American Diabetes Association.  Diagnosis

    and classification of diabetes melitus.Diabetes care. 2004

    American Diabetes Association. Standars

    of medical care in diabetes. Diabetes

    care. 2004

    Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan

    Klinik.  Pharmaceutical care untuk penyakit diabetes melitus, BinaKefarmasian dan Alat Kesehatan

    Depkes RI, 2005

    FKUI,  Farmakologi dan Terapi. Bagian

    Farmakologi, Jakarta, 2000.

     National Community Pharmacist Association,

     National Institute for Pharmacist

    care Outcomes (access 2005 Aug 10)

    PERKENI.  Petunjuk Praktis Pengelolaan DM tipe 2, Jakarta 2002.

    Suyono, S.  Kecenderungan Peningkatan Jumlah Penderita Diabetes , Pusat

    Diabetes dan Lipid RSUP Nasional

    Cipto Mangunkusumo-FKUI, Jakarta,

    2004

    Tan Hoan Tjay & Kirana Rahardja, eds.Obat-obat penting, khasiat, peng-

     gunaan dan efek-efek sampingnya.edisi ke-4, Departeman Kesehatan

    Republik Indonesia, Jakarta, 1986

  • 8/18/2019 Farmasi Care Diabetes Konseling

    8/8

    Haeria  Pelayanan Kefarmasian dalam Penatalaksanaan Diabetes Melitus  

    26