Faringitis Virus

Embed Size (px)

DESCRIPTION

FV

Citation preview

Penanganan Komprehensif terhadap Faringitis Akut serta Tindakan Promotif dan Preventif Penyakit ISPA

Jovian Adinata102012242Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJln. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat [email protected]

AbstractAcute respiratory infections known as ISPA is a respiratory disease that most often affects young children, especially toddlers and infants group under two years. The most frequent symptom of ISPA are cough and common cold. Sometimes it recover without any treament but in some cases if it does not receive appropriate treatment and care would be result bad and in some severe cases can cause death. So that diagnosis and early treatment is crucial for the determination of prognosis.Keywords: acute respiratory infections, cough, common cold .Abstrak Infeksi saluran nafas akut(ISPA) merupakan penyakit saluran nafas yang paling sering menyerang anak usia muda terutama golongan balita dan bayi di bawah dua tahun. ISPA sering bergejala sebagai batuk dan pilek biasa. Namun apabila tidak mendapatkan pengobatan dan perawatan sebagaimana mestinya akan berakibat buruk bahkan pada beberapa kasus yang berat dapat menyebabkan kematian. Sehingga diagnosa dan pengobatan dini sangat penting untuk penentuan prognosis.Kata kunci: ISPA, batuk, pilek.Pendahuluan Infeksi saluran nafas akut(ISPA) adalah masalah kesehatan masyarakat yang sampai saat ini masih tinggi angka kejadiannya di Indonesia. ISPA merupakan kumpulan penyakit saluran nafas yang terdiri dari berbagai macam penyakit yang menyerang sistem pernafasan manusia. Penyakit yang termasuk dalam ISPA ada yang bersifat ringan yang dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan, namun ada juga yang bersifat fatal dan butuh pengobatan dan perawatan intesif untuk mencegah terjadinya kompikasi berat hingga kematian. ISPA sering bergejala sebagai batuk dan pilek biasa. Sehingga masyarakat sering kali menggangap remeh dan tidak mencari pengobatan segera. Padahal batuk dan pilek bisa juga menjadi gejala awal dari penyakit yang berat. Oleh karena hampir semua penyakit ISPA bergejala sebagai batuk dan pilek biasa, maka penting sekali untuk memilah secara benar dan tepat penyakit ISPA yang diderita secara lebih spesifik. Supaya dapat dilakukan penanganan yang lebih terarah dan sesuai diagnosis.Untuk dapat menegakkan diagnosis ISPA secara tepat dan benar maka perlu dilakukan anamnesis yang sistematis dan terarah. Pada kasus faringitis hasil anamnesis yang paling sering ditemukan adalah berupa keluhan batuk dan pilek, bisa disertai dengan demam atau pun tidak.Setelah dilakukan anamnesis baru kemudian dilakukan pemeriksaan fisik yang sesuai. Pada kasus ISPA pemeriksaan fisik yang dilakukan berupa penilaian terhadap keadaan umum, kesadaran, konjungtiva serta dilakukan pemeriksaan fisik THT termasuk di dalamnya pemeriksaan telinga, hidung dan tenggorokkan. Pada pemeriksaan fisik faringitis biasanya akan ditemukan gambaran patologis pada faring. Pemeriksaan dengan mempergunakan spatel lidah, akan tampak tonsil membengkak, hiperemis, terdapat detritus, berupa bercak (folikel, lakuna, bahkan membran). Kelenjar submandibula membengkak dan nyeri tekan, terutama pada anak.1 Gambaran yang ada bervariasi bergantung dari etiologinya. Apabila penyebabnya berupa bakteri maka folikel tonsil dan limfoid yang membengkak dapat diselimuti oleh eksudat. Namun jika penyebabnya berupa virus maka tidak terbentuk eksudat, gambaran yang ada berupa tonsil dan membran faring tampak kemerahan dan adanya pembengkakkan kelenjar limfa servikal dengan nyeri tekan positif serta gejala nyeri otot dan sendi.Seringkali dengan pemeriksaan fisik saja tidak dapat menegakkan diagnosis secara pasti. Oleh karena itu diperlukan pemeriksaan penunjang. Pada pemeriksaan penunjang untuk kasus faringitis dapat dilakukan pemeriksaan:21. Darah lengkap Pemeriksaan darah lengkap terutama untuk melihat kadar leukosit. Pada kasus faringitis yang merupakan suatu proses peradangan biasanya kadar leukosit maupun CRP mengalami peningkatan yang signifikan.2. Pewarnaan gramPewarnaan gram berguna untuk menentukan jenis bakteri yang menjadi penyebab faringitis. Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan golongan antibiotik yang akan dipergunakan. Spesimen diambil dari swab tenggorokan.3. Pewarnaan KOH Pewarnaan KOH pada dasarnya sama dengan pewarnaan gram, yang membedakan adalah pewarnaan KOH dilakukan apabila etiologi penyebab faringitis dicurigai adalah jamur. Spesimen diambil dari swab tenggorokan.4. Kultur Kultur dilakukan untuk pemilihan antibiotik. Kultur dilakukan untuk kepentingan uji resistensi bakteri terhadap antibiotik. Spesimen yang digunakan juga berasal dari swab tenggorokan.5. Tes MonospotTes monospot dilakukan jika dicurigai merupakan infeksi dari virus mononukleosis. Tes ini mengunakan antibodi heterofil. 6. Deteksi antigen cepatTermasuk rapid tes yang spesifisitasnya tinggi namun sensitivitasnya rendah.Pada kasus faringitis pemeriksaan penunjang yang lazim dipakai adalah pemeriksaan darah lengkap, pewarnaan gram dan kultur. Dari hasil pemeriksaan darah lengkap untuk faringitis virus leukosit bisa normal atau meningkat sedikit namun pada faringitis bakteri leukosit akan meningkat ringan hingga sedang. Sedangkan pada pewarnaan gram bakteri yang paling sering ditemukan adalah bakteri streptococcus grup A seperti streptococcus pyogenes. Kultur tetap menjadi gold standard namun tidak harus dilakukan pada kasus faringitis yang biasanya bisa ditegakkan diagnosisnya dengan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik.Faringitis adalah keadaan inflamasi pada struktur mukosa, submukosa tenggorokan. Jaringan yang mungkin terlibat antara lain orofaring, nasofaring, hipofaring, tonsil dan adenoid. Faringitis merupakan salah satu penyakit yang tergolong sebagai ISPA. Penyebab inflamasi ini dapat disebabkan oleh bakteri, virus atau pun trauma. Penyebab tersering adalah virus sekitar 70% dari total kasus faringitis.3Bakteri yang biasanya menyebabkan faringitis adalah bakteri streptokokus grup A(Streptokokus pyogenes).4 Namun bakteri lain seperti N. gonorrhoeae, C. diphtheria, H. influenza juga dapat menyebabkan faringitis. Sedangkan jika penyebabnya adalah virus maka yang sering menyerang adalah Rhinovirus, Adenovirus, Parainfluenza virus dan Coxsackie virus. Faringitis juga bisa timbul akibat iritasi udara kering, merokok, alergi, trauma tenggorok (misalnya akibat tindakan intubasi), penyakit refluks asam lambung, jamur, menelan racun dan tumor.Faringitis dibagi menjadi faringitis akut dan kronik berdasarkan lama perjalanan peyakitnya. Faringitis Akut yaitu radang tenggorok yang bersifat akut yang disebabkan oleh virus dan bakteri streptokokus group A. Faringitis akut lebih sering mengenai usia yang lebih muda seperti pada anak-anak.Sedangkan faringitis kronik umumnya terjadi pada individu dewasa yang bekerja/tinggal dengan lingkungan berdebu, menggunakan suara berlebihan, menderita akibat batuk kronik, penggunaan habitual alkohol dan tembakau. Ada 3 jenis faringitis kronik:1. Faringitis Kronis HiperplasiaPada faringitis kronis hiperflasia terjadi perubahan mukosa dinding posterior. Tampak mukosa menebal serta hipertofi kelenjar limfe di bawahnya dan di belakang arkus faring posterior (lateral band). Dengan demikian tampak mukosa dinding posterior tidak rata yang disebut granuler.2. Faringitis Kronis Atrofi (Faringitis sika)Faringitis kronis atrofi sering timbul bersama dengan rinitis atrofi. Pada rinitis atrofi udara pernapasan tidak diatur suhu serta kelembabannya sehingga menimbulkan rangsangan serta infeksi faring.3. Faringitis Spesifika. Faringitis LuetikaFaringitis yang terjadi akibat kuman treponema pallidum. Merupakan manifestasi klinik dari penyakit menular seksual sifilis yang mengenai bagian faring.b. Faringitis TuberkulosaFaringitis tuberkulosa pada umumnya merupakan faringitis sekunder akibat penjalaran dari tuberkulosis paru kronik. Namun pada kasus tertentu yang disebabkan oleh kuman mycobakterium bovin dapat timbul faringitis primer. Gejala yang timbul pada faringitis bervariasi bergantung pada penyebabnya. Namun secara keseluruhan gejala yang diakibatkan oleh virus maupun bakteri sebagai berikut: Demam Peningkatan jumlah sel darah putih Eksudat berupa pus pada dinding faring Pembesaran kelenjar getah bening di leher Rasa pedih atau gatal dan kering Batuk dan bersin Sedikit demam atau tanpa demam Suara serak atau parau Hidung meler dan adanya cairan di belakang hidungFaringitis dapat terjadi pada semua umur dan tidak dipengaruhi jenis kelamin, tetapi frekuensi yang paling tinggi terjadi pada anak-anak. Faringitis akut jarang ditemukan pada usia di bawah 1 tahun. Insiden meningkat dan mencapai puncaknya pada usia 4-7 tahun, tetapi tetap berlanjut sepanjang akhir masa anak-anak dan kehidupan dewasa. Kematian akibat faringitis jarang terjadi, tetapi dapat terjadi sebagai hasil dari komplikasi penyakit ini.Penularan dapat terjadi melalui udara (air borne disease) maupun sentuhan. Droplet masuk melalui saluran napas atau mulut kemudian masuk ke faring. Faring bereaksi terhadap proses infeksi tersebut, terjadilah radang.Kuman menginfiltrasi lapisan epitel kemudian epitel terkikis maka jaringan limfoid superficial bereaksi terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada stadium awal terdapat hiperemi, kemudian edema dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi menebal dan cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan hiperemi, pembuluh darah dinding faring menjadi lebar. Bentuk sumbatan yang berwarna kuning, putih, atau abu-abu terdapat pada folikel atau jaringan limfoid. Tampak bahwa folikel limfoid dan bercak-bercak pada dinding faring posterior atau terletak lebih ke lateral menjadi meradang dan membengkak sehingga timbul radang pada tenggorok atau faringitis.Faringitis secara umum merupakan penyakit yang tidak berat namun terkadang jika dibiarkan dan tidak diobati dengan benar dapat menyebabkan terjadi komplikasi yang berat hingga bisa menyebabkan kematian. Komplikasi dari faringitis dapat berupa:51. Otitis media purulenta bakterialisDaerah telinga tengah normalnya adalah steril. Bakteri masuk melalui tuba eustacius akibat kontaminasi sekresi dalam nasofaring, sehingga menyebabkan terjadinya otitis media purulenta.2. Abses PeritonsilerSumber infeksi berasal dari penjalaran faringitis/tonsilitis akut yang mengalami supurasi, menembus kapsul tonsil.3. Glomerulus AkutInfeksi Streptokokus pada daerah faring masuk ke peredaran darah, masuk ke ginjal. Proses autoimun kuman streptokokus yang nefritogen dalam tubuh menimbulkan bahan autoimun yang merusak glomerulus.4. Demam ReumatikInfeksi streptococcus yang awalnya ditandai dengan luka pada tenggorok akan menyebabkan peradangan dan pembentukan jaringan parut pada katup-katup jantung, terutama pada katup mitral dan aorta.5. SinusitisSinusitis adalah radang sinus yang ada di sekitar hidung dapat berupa sinusitis maksilaris / frontalis. Sinusitis maksilaris disebabkan oleh komplikasi peradangan jalan napas bagian atas (salah satunya faringitis), dibantu oleh adanya faktor predisposisi. Penyakit ini dapat disebabkan oleh kuman tunggal dan dapat juga campuran seperti streptokokus, pneumokokus, hemophilus influenza dan klebsiella pneumoniae.

6. MeningitisInfeksi bakteri pada daerah faring yang masuk ke peredaran darah, kemudian masuk ke meningen dapat menyebabkan meningitis. Akan tetapi komplikasi meningitis akibat faringitis jarang terjadi.Penanganan faringitis berdasarkan etiologinya. Apabila penyebabnya adalah virus maka cukup diberikan terapi simtomatik dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien karena faringitis virus merupakan self limiting disease. Tetapi jika agen penyebabnya adalah bakteri maka perlu diberikan antibiotik selain terapi simptomatik. Faringitis streptokokus paling baik diobati peroral dengan penisilin (125-250 mg penisilin V tiga kali sehari selama 10 hari). Bila alergi penisilin dapat diberikan eritromisin (125 mg/6 jam untuk usia 0-2 tahun dan 250 mg/6 jam untuk usia 2-8 tahun) atau klindamisin.Pasien ditirah baring, diberi cairan adekuat, obat kumur serta pengaturan diet, yaitu menghindari makanan yang bersifat panas, pedas, asam serta es. Selain itu juga perlu mengedukasi pasien untuk menghindari kontak dengan orang lain untuk mencegah penularan, menghindari kontak dengan orang lain yang sedang batuk atau bersin supaya tidak tertular lagi, serta menghindari polutan seperti asap rokok serta menghindari alkohol.Prognosis untuk kasus faringitis virus lebih baik dibandingkan faringitis bakteri. Secara umum keduanya mempunyai prognosis yang baik. Untuk kasus faringitis virus cukup dengan meningkatkan status gizi dan imunologi maka penyakit dapat sembuh dengan sendirinya. Sedangkan pada faringitis bakteri pemberian antibiotik pada umumnya memberikan respon kesembuhan yang baik.Faringitis merupakan masalah kesehatan masyarakat yang pada dasarnya cara pencegahannya termasuk mudah. Masyarakat hanya perlu pengetahuan dasar tentang bagaimana faringitis dapat terjadi. Oleh karena itu perlu mengedukasi masyarakat mengenai cara penularan serta faktor-faktor penyebab yang harus dihindari. Mengajari masyarakat untuk memakai masker ketika batuk supaya tidak menjadi sumber penularan penyakit. Kemudian menghindari makanan-makanan yang dapat mengiritasi tenggorokkan yang dapat menyebabkan terjadinya faringtis seperti makanan pedas dan asam serta menghindari minuman es.Gejala batuk dan pilek pada faringitis merupakan gejala yang sangat umum pada ISPA. Sehingga penegakkan diagnosis perlu juga mempertimbangkan penyakit ISPA yang mempunyai gejala yang mirip seperti tonsilitis. Tonsilitis merupakan peradangan pada tonsil. Tonsilitis mempunyai gejala dan keluhan yang hampir sama dengan faringitis. Keluhan paling sering berupa nyeri tenggorokan dan nyeri menelan, demam, nyeri pada telinga, pembesaran kelenjar getah bening leher dan lain-lain. Tetapi untuk membedakannya dengan faringitis cukup dilakukan pemeriksaan mulut dengan menggunakan spatel lidah. Pada pemeriksaan dengan spatel lidah akan terlihat gambaran tonsil menjadi merah serta bengkak dan terdapat bercak putih pada tonsil.6Tingginya angka morbiditas dan mortalitas ISPA di Indonesia terutama disebabkan oleh rendahnya keberhasilan program kesehatan promotif dan preventif yang merupakan upaya kesehatan yang harus diutamakan oleh puskesmas. Tugas pemberantasan penyakit ISPA merupakan tanggung jawab bersama. Walaupun kepala puskesmas bertanggung jawab bagi keberhasilan pemberantasan di wilayah kerjanya. Namun masyarakat juga perlu ikut berpartisipasi dalam program pemberantasan ISPA, karena sebagian besar kematian yang terjadi akibat ISPA disebabkan oleh karena penderita terlambat mencari pengobatan. Oleh karena itu peran aktif masyarakat melalui aktivitas kader sangat membantu menemukan kasus ISPA yang membutuhkan pengobatan segera dan yang perlu dirujuk.Untuk keberhasilan program pemberantasan ISPA ini maka perlu dijabarkan secara operasional tugas-tugas dokter puskesmas, paramedis serta kader kesehatan. Tugas dokter dalam mewujudkan keberhasilan program pemberantasan ISPA adalah: Membuat rencana program pemberantasan ISPA sesuai dengan sumber daya yang dimiliki. Melakukan supervisi dan bimbingan selama penatalaksanaan program pemberantasan ISPA. Melakukan pemeriksaan, pengobatan serta merujuk ke rumah sakit untuk kasus yang berat. Melakukan penyuluhan kesehatan mengenai pengenalan tanda-tanda penyakit ISPA. Melatih petugas kesehatan dan memberikan wewenang untuk mengobati kasus berdasarkan kemampuan yang mereka miliki. Melatih kader kesehatan untuk mengenali kasus ISPA dan memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu. Memantau dan mengevaluasi program pemberantasan ISPA, mengidentifikasi hambatan serta mencari jalan keluar termasuk aktivitas pencatatan dan pelaporan serta pencapaian target.Tugas paramedis dalam program pemberantasan penyakit ISPA: Melakukan tatalaksana kasus ISPA sesuai dengan petunjuk yang ada. Melakukan konsultasi dengan dokter puskesmas untuk kasus ISPA yang berat. Bersama dengan dokter melatih kader masyarakat. Memberikan penyuluhan terutama kepada ibu-ibu. Melakukan tugas-tugas lain yang diberikan oleh pimpinan puskesmas sehubungan dengan pelaksanaan program pemberantasan penyakit ISPA.

Tugas kader kesehatan dalam program pemberantasan penyakit ISPA.

Mengenali dan memilah kasus-kasus ISPA. Memberi penjelasan dan komunikasi mengenai penyakit ISPA kepada ibu-ibu. Melakukan penatalaksanaan kasus ISPA yang ringan seperti batuk pilek biasa dan demam biasa. Merujuk kasus ISPA yang berat. Melakukan tatalaksana kasus ISPA tertentu atas pertimbangan dokter puskesmas. Mencatat kasus yang ditolong dan dirujuk.Selain upaya promotif yang dilakukan melalui penyuluhan kesehatan baik oleh dokter puskesmas, paramedis maupun kader kesehatan. Tindakan preventif juga harus ditekankan. Tindakan preventif untuk penyakit ISPA antara lain dapat berupa: Menjaga gizi agar tetap baik Imunisasi Menjaga kesehatan perseorangan dan kesehatan lingkungan Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA. Memberikan ASI eksklusif(antibodi) Intake makanan adekuat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Berhenti merokok dan menghindari asap rokok Aktifitas fisik Menghindari stress Istirahat cukup.

Kesimpulan Faringitis merupakan penyakit saluran nafas yang termasuk dalam golongan ISPA yang sering terjadi pada masyarakat terutama pada anak-anak dan bayi. Secara umum gejala yang timbul hanya berupa batuk dan nyeri tenggorokan, walau pun terlihat sepele namun tetap perlu diterapi supaya tidak terjadi komplikasi lebih lanjut. Oleh karena merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dijumpai pada masyarakat, maka penting sekali bagi tenaga medis terutama petugas kesehatan puskesmas untuk mengedukasi masyarakat mengenai penyakit faringitis ini terutama dalam hal promotif dan preventif. Sehingga masyarakat menjadi lebih sadar dan mengerti cara-cara pencegahannya. Dengan demikian diharapkan kasus faringitis yang terjadi di masyarakat dapat berkurang.

Daftar Pustaka

1. Efiaty AS, Nurbaiti I, Jenny B, Ratna DR. Buku ajar ilmu kesehatan: telinga, hidung, tenggorok, kepala, dan leher. Edisi IV. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2007.h.201.2. Davey P. At glance medicine. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006.h.177. 3. Baughman DC, Hackley JC. Keperawatan medikal-bedah buku saku dari brunner & suddarth. Jakarta: EGC, 2008.h.160.4. Sinclair C. Buku saku kebidanan. Jakarta: EGC, 2010.h.501. 5. Hayes PC, Mackay TW. Buku saku diagnosis dan terapi. Jakarta: EGC, 2007.h.83.6. Meadow R, Newell S. Lecture notes pediatrika. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005.h.167.

10