Click here to load reader

Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Komoditi

  • View
    4

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Komoditi

Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Komoditi Kakao yang Siap Diekspor Disepanjang Rantai Nilai Studi Kasus pada PT Rumpun Sari Antan 3DIEKSPOR DISEPANJANG RANTAI NILAI
Oleh :
Guna Memenuhi Sebagian dari
Puji syukur penulis naikkan kepada Tuhan Yesus Kristus, yang oleh
karena penyertaan, kasih dan hikmatNya, kertas kerja penulis yang berjudul
“Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Pada Komoditi Kakao Yang Akan
Diekspor Dilihat Sepanjang Analisis Rantai Nilai” telah dapat diselesaikan tepat pada
waktunya .
Kertas kerja ini diajukan guna memenuhi sebagian persyaratan dalam
mencapai gelar Sarjana S-1 pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Program Studi
Manajemen, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.
Pada kesempatan yang membahagiakan ini, penulis ingin menyampaikan
rasa terima kasih kepada berbagai pihak antara lain kepada:
1. Keluarga Tercinta: Papa, Mama, Uta, Varrio, yang sudah mendukung
selama perkuliahan, maupun saat penulisan skripsi ini.
2. Keluarga Besar Maukar dan Trah Wiryasoedarmo
3. Ibu Dr. Sri Sulandjari, SE, MSIE selaku dosen pembimbing yang telah
memberi ide, saran, dan kritik selama penyusunan skripsi ini.
4. Bapak Arief Widodo selaku wali studi yang telah membantu selama proses
perkuliahan hingga selesainya skripsi ini.
5. Seluruh staf pengajar dan staf tata usaha Fakultas Ekonomika dan Bisnis
UKSW yang sudah membimbing selama masa perkuliahan penulis, serta
penyusunan skripsi ini secara langsung maupun tidak langsung.
6. Seluruh karyawan PT Rumpun Sari Antan 3 yang telah bersedia
membantu memberikan data untuk mendukung selesainya skripsi ini.
v
7. Pasthika Permata Sari, S.E seseorang yang selalu menemani disaat suka
dan duka dari awal perkuliahan sampai dengan akhir perkuliahan.
8. Yohanes Riandeo Merebean, yang menjadi teman sekaligus keluarga
senasib sepenanggungan dalam mengerjakan skripsi ini dan penolong
disaat terdesak.
9. Annisa Saraswati Santoso dan Tante Danny, yang selalu memberikan
nasihat dan semangat.
10. Karina Crist Kusumarini, yang telah menyempatkan waktunya menemani
proses bimbingan ke Yogyakarta dan menemani saat proses ujian.
11. Asti Aningtyas, S.E dan Ferrynela Purbo L, S.E yang setia setiap saat
memberikan semangat dan masukan untu penulisan skripsi ini.
12. Pipit Arta Widyanto, yang telah menghibur disaat penat dalam
mengerjakan skripsi ini.
13. Keluarga kecilku Teater TiLaR, yang selalu menemani disaat suka dan
duka dan seluruh anggota Teater TiLaR yang tidak dapat disebutkan satu
per satu.
Wijaya, SE (@richaCHAricha), Dini Ika Titisari, SE (@diniIkaTitisari),
15. Gang Suwung-Mutung: Dohardo Roma Manalu, SE (@dohardo1), Aditya
Fahrizal (@todoch), Franco Benoni Limba, SE (@Ancodoank), Andi
Sudaryono (@andisudaryono), Isidorus Prima Krisbianto, SE
(@primakrisbianto), Jaga Setiawan, SE (@jaga_nyet), Jimi Kurniawan
(@j1mmy_kurniawan) dan Yusuf (@iuzef).
vi
16. Teman-teman Kos Ibu Roso, Teman-teman Kos Yos 5, Team Futsal 2008,
dan Semuanya yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Terima Kasih.
Salatiga, 15 Agustus 2013
Halaman Persetujuan Skripsi ....................................................................................... iii
Ucapan Terima Kasih .................................................................................................... iv
Masalah Penelitian ............................................................................................ 10
Persoalan Penelitian .......................................................................................... 10
Telaah Teoritis .............................................................................................................. 12
Rantai Nilai Kakao Pada PT Rumpun Sari Antan 3 ......................................... 26
Inbound Logistic ............................................................................................... 26
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Luas Lahan dan Produksi Perkebunan Kakao PTPN IX dan
Perkebunan Besar Swasta di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 ..
........................................................................................................ 9
Tabel 2.1 Diagram Matrik SWOT dan Kemungkinan Strategi Yang Sesuai .
........................................................................................................ 21
Tabel 4.1 Analisis SWOT Pada Aktivitas Pembibitan ................................... 37
Tabel 4.2 Matrik Strategi Berdasarkan Analisis SWOT Pada Aktivitas
Pembibitan ..................................................................................... 39
Tabel 4.4 Matrik Strategi Berdasarkan Analisis SWOT Pada Aktivitas
Penanaman ...................................................................................... 43
Tabel 4.6 Matrik Strategi Berdasarkan Analisis SWOT Pada Aktivitas
Pemangkasan ................................................................................... 48
Tabel 4.8 Matrik Strategi Berdasarkan Analisis SWOT Pada Aktivitas
Pemupukan .................................................................................... 52
Tabel 4.10 Matrik Strategi Berdasarkan Analisis SWOT Pada Aktivitas Panen
…………………………………………………………………… 58
Tabel 4.12 Matrik Strategi Berdasarkan Analisis SWOT Pada Aktivitas
Fermentasi ..................................................................................... 65
Tabel 4.14 Matrik Strategi Berdasarkan Analisis SWOT Pada Aktivitas
Penjemuran ..................................................................................... 71
x
Tabel 4.16 Matrik Strategi Berdasarkan Analisis SWOT Pada Aktivitas Sortasi
…………………………………………………………………… 74
Tabel 4.18 Matrik Strategi Berdasarkan Analisis SWOT Pada Aktivitas
Pengepakan .................................................................................... 77
Tabel 4.20 Matrik Strategi Berdasarkan Analisis SWOT Pada Aktivitas
Pergudangan .................................................................................. 81
Tabel 4.21 Analisis SWOT Pada Aktivitas Pemasaran dan Penjualan (Sales and
Marketing) ..................................................................................... 83
Pemasaran dan Penjualan (Sales and Marketing) ………………84
Tabel 4.23 Analisis SWOT Pada Aktivitas Service ........................................ 85
Tabel 4.24 Matrik Strategi Berdasarkan Analisis SWOT Pada Aktivitas Service
…………………………………………………………………… 86
xi
Gambar 2.1 Rantai Nilai Generik ………………………………….…………. 13
Gambar 4.1 Klasifikasi Rantai Nilai PT Rumpun Sari Antan 3…………….… 27
Gambar 4.2 Klasifikasi Standart Ekspor Kakao Dilihat Dari Aktivitasnya…...28
xii
Lampiran II Draft Wawancara ………………................................................. 118
Lampiran III Daftar Riwayat Hidup …………………………………………..129
Lampiran IV Surat Pengantar Penelitian………………………………………. 132
1
Abstract
A process of producing the product, consisting of activities starting from the input,
output processing to distribution to the end consumer. The use of the concept of Value Chain
and SWOT analysis in order to ensure that there is a synergistic process, choosing an
alternative strategy should the firm, competitive products and fair trade at the level of
activities and actors involved. This study aims to analyze the value chain and SWOT analysis
at PT Rumpun Sari Antan 3. Actors involved in the cocoa value chain starting from the
farmers, Mandor Gardens Plant Foreman, administration, and the Head of Administration.
In general, the PT Sari Antan Cluster 3 has a production process flow well enough to support
productivity in every activity. Productivity differences showed a significant difference
between the input to the output. The finding of this reasearch is the need for good planting
materials and training are implemented properly programmed according to the needs of the
workforce.
Saripati
Suatu proses menghasilkan produk, terdiri dari aktivitas-aktivitas mulai dari input,
pemrosesan sampai penyaluran output kepada konsumen akhir. Penggunaan konsep Value
Chain dan Analisis SWOT guna memastikan bahwa telah terjadi proses yang bersinergi,
memilih alternatif strategi yang sebaiknya dilakukan perusahaan, produk yang berdaya saing
dan fair trade pada aras aktivitas dan aktor yang terlibat. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis rantai nilai dan analisis SWOT di PT Rumpun Sari Antan 3. Aktor yang terlibat
dalam rantai nilai komoditas kakao dimulai dari Petani, Mandor Kebun, Mandor Pabrik, tata
usaha, dan Kepala Administrasi. Secara umum pada PT Rumpun Sari Antan 3 memiliki alur
proses produksi yang cukup baik untuk mendukung produktifitas di setiap aktivitas.
Perbedaan produktivitas memperlihatkan perbedaan yang cukup signifikan antara proses
input sampai dengan output. Temuan dari penelitian ini adalah perlunya bahan tanam yang
baik dan pelatihan yang terprogram terlaksana dengan baik sesuai dengan kebutuhan tenaga
kerja.
2
Pantai Gading dan Ghana (KPPU, 2009). Kakao merupakan salah satu
komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi
perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber
pendapatan dan devisa negara. Pada tahun 2002, perkebunan kakao telah
menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar + 900 ribu
kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur
Indonesia (KPPU, 2009). Provinsi Sulawesi Selatan sebagai daerah penghasil
cokelat terbesar di Indonesia, menyumbang sebanyak 201.851,29 ton, atau
senilai US$ 283.830.683,41 (KPPU, 2009). Kakao memberikan sumbangan
devisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan setelah karet dan minyak sawit
dengan nilai sebesar US $ 701 juta (KPPU, 2009). Selain itu pelaku pasar
yang memiliki peran besar untuk permintaan kakao dan produk kakao adalah
negara Swiss, karena negara ini terdapat banyak produk makanan dan
minuman, disamping beberapa negara Eropa lainnya. Kondisi ini menjadikan
komoditi kakao memiliki pasar potensial di kancah dunia. Hal ini seharusnya
membuat petani bertindak cermat dalam menghasilkan komoditi kakao yang
memiliki daya saing di pasar global.
3
kakao di Indonesia sebagai berikut, Indonesia masih berada dibawah
produktifitas rata-rata negara lain penghasil kakao dibandingkan hasil
olahannya, sehingga nilai tambah terhadap perekonomian terbilang sedikit.
Dari segi kualitas, kakao Indonesia tidak kalah dengan kakao dunia dimana
bila dilakukan fermentasi dengan baik dapat mencapai citarasa setara dengan
kakao yang berasal dari Ghana dan kakao Indonesia mempunyai kelebihan
yaitu tidak mudah meleleh sehingga cocok bila dipakai untuk blending.
Dengan kata lain potensi untuk menggunakan industri kakao sebagai salah
satu pendorong pertumbuhan dan distribusi cukup terbuka, namun demikian
agribisnis kakao Indonesia masih menghadapi berbagai masalah yang
kompleks. Hal ini menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi para
investor untuk mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah yang lebih
besar dari agribisnis kakao.
Indonesia mengalami perkembangan pesat dalam kurun waktu 20 tahun
terakhir dan pada tahun 2002 areal perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas
914.051 ha. Perkebunan kakao tersebut sebagian besar (87,4%) dikelola oleh
rakyat dan selebihnya 6,0% dikelola perkebunan besar negara serta 6,7%
perkebunan besar swasta. Jenis tanaman kakao yang diusahakan sebagian
besar adalah jenis kakao curah dengan sentra produksi utama adalah Sulawesi
4
Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Disamping itu juga
diusahakan jenis kakao mulia oleh perkebunan besar negara di Jawa Timur
dan Jawa Tengah.
kompleks antara lain produktivitas kebun masih rendah akibat serangan hama
penggerek buah kakao (PBK), mutu produk masih rendah serta masih belum
optimalnya pengembangan produk hilir kakao (www.depperin.go.id). Hal ini
menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi para investor untuk
mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah yang lebih besar dari
agribisnis kakao.
Persoalan yang terjadi pada sisi produsen, yaitu petani di Indonesia
adalah akses terhadap informasi yang sangat terbatas sehingga seringkali
menjadikan produk yang mereka hasilkan hanya sebatas memenuhi
persyaratan pasar dan mengakibatkan daya saing produk menjadi lemah. Efek
domino terhadap persoalan tersebut adalah harga yang tidak stabil dan
pendapatan yang diterima oleh petani menjadi rendah dan sulit diukur akibat
fluktuasi harga yang tidak beraturan.
Permasalahan yang dihadapi oleh petani kakao sesuai dengan
penelitian terdahulu (Suryani, 2007) ditemukan beberapa permasalahan yang
dihadapi komoditas ini antara lain masih rendahnya produktivitas komoditas
kakao yang disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut: (a) penggunaan benih
asalan, belum banyak digunakan benih klonal, (b) masih tingginya serangan
5
hama PBK (penggerek buah kakao), hingga saat ini belum ditemukan klon
kakao yang tahan terhadap hama PBK, (c) sebagian besar perkebunan berupa
perkebunan rakyat yang dikelola masih dengan cara tradisional dan (d) umur
tanaman kakao sebagian besar sudah tua, di atas 25 tahun jauh di atas usia
paling produktif 13-19 tahun.
Produksi kakao untuk perkebunan rakyat di Jawa Tengah sendiri
mengalami peningkatan yang sangat signifikan antara tahun 2007 sampai
dengan 2011. Produksi kakao untuk perkebunan rakyat di Jawa Tengah antara
tahun 2007 sampai dengan 2011 meningkat sebesar 27,3% dan luas tanam
meningkat 27,9% (BPS, 2011).
Bila kita lihat komoditas ekspor kakao selama sepuluh tahun terakhir
ternyata kontribusi terhadap total ekspor nasional masih kecil yaitu rata-rata
sebesar 1.04%. Tercatat nilai ekspor kakao tahun 2011 mencapai US$ 1,3
milyar. Pada tahun 2011 nilai ekspor kakao Indonesia terjadi penurunan. Hal
ini terjadi karena permintaan negara-negara Eropa menurun akibat krisis
ekonomi di kawasan tersebut. Hal ini juga berimbas pada permintaan negara-
negara lainnya sebagai mitra dagang Eropa seperti China. Nilai ekspor
terbesar masih dikuasai Pantai Gading dan Ghana. Pada umumnya ekspor
kakao negara-negara ini sudah melalui aktivitas fermentasi. Artinya kualitas
ekspor kakao Indonesia perlu ditingkatkan guna meningkatkan nilai tambah
ekspor, salah satunya melalui fermentasi (www.fiskal.depkeu.go.id).
Penetapan mutu biji yang siap ekspor dinyatakan dengan syarat jumlah
biji per 100 gram. Golongan biji dibagi atas tiga kelompok yaitu A, B, dan C.
Kelas A adalah kelas yang paling banyak diminati di pasar dunia. Biji
bermutu beratnya tidak kurang dari 1 gram dan berdiameter tidak lebih dari
1cm. Biji kelas A jumlahnya 90-100 butir setiap 100 gram. Biji kelas B
jumlahnya 100-110 butir setiap 100 gram dan biji kelas C jumlahnya 110-120
butir setiap 100 gram. Ukuran dan berat biji kakao ini sangat ditentukan pada
aktivitas pembibitan, pemangkasan, dan pemupukan yang baik dan benar.
Bahan tanam memegang peranan penting untuk menghasilkan biji kakao
dengan ukuran dan berat yang sesuai. Pembibitan pohon kakao, pohon
pelindung tetap, dan pohon pelindung sementara didukung dengan aktivitas
pemangkasan dan pemupukan yang baik dan benar diharapkan akan
menghasilkan biji kakao dengan ukuran dan berat sesuai standar yang
ditentukan.
diajukan oleh negara importir cokelat maka saat biji cokelat memiliki
persyaratan yang juga meliputi bau, kadar pecah dan adanya benda-benda
asing.
Insect Damage pada 100 gram biji kakao maksimum 2%, yang berarti
biji yang rusak karena serangan hama per 100 gram biji kakao maksimum
terdeteksi 2%.
Beberapa syarat lain adalah Mouldy 3.0% maksimum, artinya biji
mouldy (jamuran) maksimum 3 biji dari 100 biji. Slaty 3.0% maksimum,
artinya biji yang tidak terfermentasikan maksimum 3 biji dalam 100 biji.
Moisture Content 7.5% maksimum, artinya kadar air biji kakao maksimum
7.5%. Residue atau kotoran maksimum 1% dan bebas dari bau asing dan bau
asap.
Fokus penelitian ini adalah memperoleh upaya-upaya menghasilkan
kakao yang sesuai standar ekspor dilihat sepanjang aktivitas rantai nilai yaitu,
pembibitan, penanaman, pemangkasan, pemupukan, panen, fermentasi,
penjemuran, sortasi, pengepakan, dan pergudangan).
1.2 Selayang Pandang Perkebunan Kakao Kabupaten Kendal
Di dalam website resmi pemerintah Kabupaten Kendal
(www.kendalkab.go.id) dijelaskan tentang pemanfaatan lahan kakao.
1.2.1 Pemanfaatan Lahan Perkebunan Kakao Kabupaten Kendal
Pemanfaatan lahan dapat menggambarkan pola keruangan suatu
wilayah yang menjadi salah satu aspek dalam perencanaan pembangunan
suatu daerah/wilayah. Hal itu karena jenis-jenis pemanfaatan lahan pada suatu
wilayah memberikan gambaran bagi aktivitas penduduk dan
perekonomiannya. Adapun jenis-jenis pemanfaatan lahan/tanah di Kabupaten
Kendal untuk perkebunan kakao dapat dilihat pada Tabel 1.1.
8
Fokus penelitian ini adalah produksi kakao pada PT Rumpun Sari
Antan 3 di Desa Jati Pablengan, Sukorejo, Kabupaten Kendal. Peneliti
memilih kebun kakao PT Rumpun Sari Antan 3 dikarenakan pada tabel 1.3,
perbandingan luas lahan yang dimiliki PT Rumpun Sari Antan 3 dengan
jumlah produksinya tidak sebanding, apabila dibandingkan dengan kebun
kakao yang lain memiliki lahan yang relatif lebih kecil namun memiliki
jumlah produksi yang relatif lebih besar dari PT Rumpun Sari Antan 3.
Pemilihan kebun kakao PT Rumpun Sari Antan 3 juga dikarenakan jarak yang
ditempuh peneliti lebih dekat dibandingkan dengan kebun kakao di kota
lainnya. Karena hal inilah peneliti tertarik untuk memilih PT Rumpun Sari
Antan 3 sebagai objek penelitian kali ini.
Fokus penelitian ini adalah produksi kakao pada PT Rumpun Sari
Antan 3 di Desa Jati Pablengan, Sukorejo, Kabupaten Kendal. Peneliti
memilih kebun kakao PT Rumpun Sari Antan 3 dikarenakan pada tabel 1.3,
perbandingan luas lahan yang dimiliki PT Rumpun Sari Antan 3 dengan
jumlah produksinya tidak sebanding, apabila dibandingkan dengan kebun
kakao yang lain memiliki lahan yang relatif lebih kecil namun memiliki
jumlah produksi yang relatif lebih besar dari PT Rumpun Sari Antan 3.
Pemilihan kebun kakao PT Rumpun Sari Antan 3 juga dikarenakan jarak yang
ditempuh peneliti lebih dekat dibandingkan dengan kebun kakao di kota
lainnya. Karena hal inilah peneliti tertarik untuk memilih PT Rumpun Sari
Antan 3 sebagai objek penelitian kali ini.
9
Tabel 1.1 Luas Lahan dan Produksi Perkebunan Kakao PTPN IX dan
Perkebunan Besar Swasta di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004
Jenis
Perkebunan
Lokasi
Ngobo Jatirunggo,
Getas/Asinan, Kab.
Segayung Utara,
Wijaya Arga, Kab.
Sumber Arto II,
Sumber Arto III,
TOTAL 1,554.23 1,002.71 64.51
10
Penelitian ini berfokus pada permasalahan yang dihadapi oleh
perusahaan dan petani kakao, dengan mengacu pada teori value chain (Porter,
1992). Berdasarkan potensi kakao di Kabupaten Kendal, maka penelitian akan
lebih fokus pada “faktor – faktor yang mempengaruhi produktivitas komoditi
kakao yang siap di ekspor sepanjang rantai nilai dan strategi yang diperlukan
untuk mengatasi faktor-faktor yang menghambat dan memanfaatkan
kelebihan di setiap aktivitas di sepanjang rantai nilai”.
1.4 Persoalan Penelitian
komoditi kakao siap ekspor, ditelusuri dari elemen-elemen aktivitas
sepanjang rantai nilai?
2. Strategi apa saja yang diperlukan untuk mengatasi faktor-faktor yang
mempengaruhi peningkatan produktivitas komoditi kakao siap ekspor,
ditelusuri dari elemen-elemen aktivitas sepanjang rantai nilai?
11
Tujuan dari penelitian ini antara lain :
1. Mengetahui faktor - faktor apa saja yang menghambat peningkatan
produktivitas komoditi kakao siap ekspor.
2. Mengetahui strategi apa saja yang diperlukan untuk mengatasi faktor-
faktor yang menghambat peningkatan produktivitas komoditi kakao
siap ekspor.
1. Bagi perusahaan hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
masukan yang berharga dalam meningkatkan produktivitas pada
komoditi kakao siap ekspor sehingga dapat mendukung tercapainya
tujuan perusahaan.
dalam memperoleh gambaran mengenai prosedur ekspor untuk
memasarkan komoditi kakao ke Luar Negeri.
3. Sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya yang akan membahas
tentang faktor - faktor yang mempengaruhi produktivitas pada
komoditi kakao yang akan siap di ekspor.
12
(2005) sebagai acuan, sehingga perlu dijelaskan secara rinci mengenai konsep
rantai nilai dan analisis SWOT. Konsep manajemen sumber daya manusia,
dan konsep produktivitas digunakan untuk mendukung teori rantai nilai.
2.2 Rantai Nilai (Value Chain)
Porter (1992) melihat value chain sebagai konsep yang dapat
digunakan untuk mempelajari segala aktivitas yang dilakukan perusahaan dan
bagaimana aktivitas tersebut saling berinteraksi. Tujuan penggunaan value
chain lebih lanjut yang dikemukakan oleh Porter adalah untuk memilah-milah
aktivitas yang dilakukan perusahaan secara strategis sehingga dapat diketahui
perilaku biaya setiap aktivitas, diferensiasi serta aspek potensial yang
mungkin dicapai guna menciptakan suatu rantai nilai yang kompetitif.
Porter (1992) juga menggambarkan value chain sebagai nilai total dan
terdiri dari atas aktivitas nilai dan margin. Aktivitas nilai dalam perusahaan
merupakan kegiatan fisik dan teknologis yang diselenggarakan perusahaan
sebagai building blocks yang digunakan perusahaan untuk menciptakan
produk yang bernilai bagi para pembelinya. Margin dilihat sebagai selisih
13
aktivitas nilai.
Sumber :Porter (1990:41)
Pada gambar 2.1 diatas Porter (1990) mengusulkan rantai nilai sebagai
alat untuk mengidentifikasikan cara-cara menciptakan lebih banyak nilai
pelanggan. Aktivitas nilai terbagi dalam dua golongan besar, aktivitas primer
dan aktivitas pendukung. Aktivitas primer merupakan aktivitas guna membuat
produk secara fisik, menjual dan menyampaikannya pada pembeli. Aktivitas
pendukung sendiri guna menunjang aktivitas primer dan menunjang aktivitas
pendukung lainnya. Garis putus-putus menunjukkan bahwa pembelian,
teknologi, dan sumber daya manusia saling terkait dengan aktivitas primer
guna menunjang keseluruhan rantai nilai. Infrastruktur perusahaan sendiri
14
tidak terkait pada aktivitas primer namun menunjang keseluruhan rantai nilai.
Aktivitas pendukung (Support Activities) memfokuskan kepada aktivitas yang
sifatnya sebagai pendukung aktivitas utama agar dapat terintegrasi satu sama
lain. Rantai nilai mengidentifikasikan sembilan kegiatan strategis dan relevan
yang menciptakan nilai dan biaya dalam bisnis tertentu. Unsur-unsur (Gambar
2.1) itu dipadukan oleh nilai yang digunakan untuk menjelaskan (Porter,
1992) :
penyimpanan, dan penyebaran input produk, seperti penanganan material,
pegudangan, pengendalian persediaan, penjadualan kendaraan pengangkut,
dan pengembalian barang kepada pemasok.
Operations: aktivitas yang berhubungan dengan transfer input menjadi
produk akhir, seperti masinasi, pengemasan, penjadualan kendaraan
pengangkut, pencetakan, pengoperasian fasilitas.
mendistribusikan produk pada pembeli, seperti pergudangan barang jadi,
penanganan material, operasi kendaraan pengirim, pengolahan pesanan dan
penjualan.
agar mereka mau membelinya, seperti periklanan, promosi, wiraniaga,
15
penetapan harga.
pemasangan, perbaikan, pelatiham, pasokan suku cadang, dan penyesuaian
produk.
dalam rantai nilai perusahaan, bukan pada masukan yang dibeli
sendiri. Masukan yang dibeli meliputi bahan baku , bahan pendukung,
serta bahan-bahan lain selain juga barang modal seperti mesin,
peralatan laboratorium, peralatan kantor, dan bangunan (Porter, 1992).
Pada pabrik biji kakao, misalnya, pembelian biji kakao sejauh ini
merupakan faktor penentu posisi biaya yang paling penting.
Pengembangan teknologi terdiri dari beragam aktivitas yang secara
umum dapat dikelompokkan ke dalam usaha memperbaiki produk dan
memperbaiki proses. Pengembangan teknologi dapat mendukung
teknologi yang ada dalam aktivitas nilai. Pengembangan teknologi
tidak hanya menyangkut teknologi yang terkait langsung dengan
produk akhir. Pengembangan teknologi juga mempunyai banyak
bentuk, mulai dari penelitian dasar dan desain produk sampai ke
penelitian media, desain peralatan proses, dan prosedur pelayanan
(Porter, 1992)
manajemen umum, perencanaan, keuangan, akuntansi, hukum,
hubungan dengan pemerintah, dan manajemen mutu. Infrastruktur
perusahaan tidak seperti aktivitas pendukung lainnya, biasanya
menunjang keseluruhan rantai dan bukan aktivitas tertentu.
Tergantung pada apakah perusahaan teridentifikasi atau tidak,
infrastruktur dapat berada di setiap unit usaha atau terbagi di antara
unit-unit usaha dan perusahaan induk (Porter, 1992).
Manajemen sumber daya manusia mempengaruhi keunggulan bersaing
pada setiap perusahaan, melalu perannya dalam menentukan
keterampilan dan motivasi karyawan serta biaya penerimaan dan
pelatihan karyawan. Memahami secara mendalam metodologi di
keseluruhan perusahaan tidak saja membuat semua penugasan yang
diterima menjadi lebih efektif melainkan juga sangat memudahkan
pelaksanaan pelayanan bagi klien multinasional dan nasional (Porter,
1992).
keseluruhan rangkaian aktivitas yang bertujuan untuk merealisasikan persepsi
dari konsumen akhir kedalam suatu produk yang mengalir dalam aktivitas
perakitan, produksi, pemasaran, distribusi, dan lembaga pendukung menuju
kepada konsumen di akhir dalam bentuk produk akhir sedangkan Roduner
17
Umumnya produk tersebut terlibat dalam aktivitas transformasi, yaitu
dikombinasikan dengan produk lainnya, melalui proses pengangkutan,
pengemasan, dan lain-lain hingga mencapai konsumen akhir.
Berdasarkan teori diatas, penelitian ini cenderung menggunakan teori
yang dikemukakan Porter (1992) dimana Pendekatan value chain
menganalisis dan mengidentifikasi kelemahan dan hambatan di setiap rantai
nilai dan merencanakan untuk meningkatkan mata rantai tersebut. Analisis
value chain mengarahkan pada pemetaan struktur pada mata rantai…