of 119 /119
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP AUDIT DELAY (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Pada Tahun 2007-2008) SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Oleh: ANI YULIYANTI NIM. 06412144003 PROGRAM STUDI AKUNTANSI JURUSAN PENDIDIKAN AKUNTANSI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2011

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP AUDIT

Embed Size (px)

Text of FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP AUDIT

  • FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP AUDIT DELAY

    (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Pada Tahun 2007-2008)

    SKRIPSI

    Diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi

    Universitas Negeri Yogyakarta

    Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

    Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

    Oleh:

    ANI YULIYANTI

    NIM. 06412144003

    PROGRAM STUDI AKUNTANSI

    JURUSAN PENDIDIKAN AKUNTANSI

    FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI

    UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

    2011

  • FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP AUDIT DELAY

    (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Pada Tahun 2007-2008)

    SKRIPSI

    Oleh:

    ANI YULIYANTI 06412144003

    Telah disetujui dan disahkan Pada tanggal 23 Desember 2010

    Untuk dipertahankan di depan Tim Penguji Skripsi Program Studi Akuntansi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ekonomi

    Universitas Negeri Yogyakarta

    Disetujui

    Dosen Pembimbing

    Rr. Indah Mustikawati, M.Si.,Ak. NIP. 196810141998022001

  • PENGESAHAN

    Skripsi yang berjudul FAKTORFAKTOR YANG BERPENGARUH

    TERHADAP AUDIT DELAY (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang

    Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Pada Tahun 2007-2008) telah dipertahankan

    di depan Dewan Penguji pada tanggal 14 Januari 2011 dan dinyatakan lulus.

    DEWAN PENGUJI

    Nama Jabatan Tanda Tangan Tanggal

    Rr. Indah Mustikawati, M.Si.,Ak Ketua Penguji

    Diana Rahmawati, M.Si Sekretaris

    Dhyah Setyorini, M.Si.,Ak. Penguji Utama

    Yogyakarta, 14 Januari 2011 Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi

    Universitas Negeri Yogyakarta Dekan,

    Sardiman, A.M.,M.Pd. NIP. 19510523 198003 1 001

  • PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

    Yang bertanda tangan di bawah:

    Nama : ANI YULIYANTI

    NIM : 06412144003

    Program Studi : Akuntansi

    Fakultas : Ilmu Sosial dan Ekonomi

    Judul Tugas Akhir : FAKTORFAKTOR YANG BERPENGARUH

    TERHADAP AUDIT DELAY

    (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang

    Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Pada Tahun

    2007-2008)

    Dengan ini menyatakan bahwa hasil penulisan skripsi yang telah saya buat ini

    merupakan hasil karya saya sendiri. Sepanjang pengetahuan saya, tidak

    terdapat karya/pendapat yang ditulis/diterbitkan orang lain, kecuali sebagai

    acuan/kutipan dengan tata tulisan karya ilmiah yang lazim.

    Dengan demikian pernyataan ini dibuat dalam keadaan sadar dan tidak

    dipaksakan untuk digunakan sebagaimana mestinya.

    Yogyakarta, 14 Januari 2011 Yang menyatakan,

    ANI YULIYANTI NIM. 06412144003

  • MOTTO DAN PERSEMBAHAN

    MOTTO

    Kehidupan adalah serangkaian perjalanan serta pelajaran yang harus di

    tempuh setiap manusia yang hidup di dunia

    Syukurilah semua yang Allah berikan untuk kita,

    janganlah pernah mengeluh dengan ujian yang sedang Allah berikan untuk

    kita

    (Ani Yuliyanti)

    Kemenangan terbesar adalah:

    ketika kita mengalahkan diri sendiri

    (anonim)

    PERSEMBAHAN

    Karya kecilku ini aku persembahkan untuk:

    Bapak dan Ibuku yang telah membesarkanku dengan limpahan kasih sayang,

    selalu mendoakan dan membimbingku serta selalu memberikan dukungan

    baik secara moril dan materil sampai aku sebesar ini,

    Simbah kakung dan simbah putri yang selalu mendoakan untuk

    keberhasilanku,

    Adikku Juli Mandana Putra

    Dan Eko T.

  • FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP AUDIT DELAY

    (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2007-2008)

    Oleh:

    ANI YULIYANTI NIM. 06412144003

    ABSTRAK

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Ukuran Perusahaan,

    Opini Auditor, Ukuran KAP, Solvabilitas, dan Profitabilitas baik secara secara bersama-sama maupun secara sendiri-sendiri terhadap Audit Delay pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2008.

    Populasi dalam peneltian ini yaitu perusahaan manufaktur di Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 20072008 yaitu sebanyak 139 perusahaan pada tahun 2007 dan 140 perusahaan pada tahun 2008 dengan sampel diambil secara purposive sampling sebanyak 63 perusahaan. Data yang dikumpulkan merupakan data sekunder dengan metode dokumentasi. Sebelum dilakukan analisis data terlebih dahulu diadakan pengujian prasyarat analisis yang meliputi uji normalitas, uji linieritas, uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear sederhana dan regresi linear berganda.

    Hasil penelitian menunjukkan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2008 bahwa: 1) Ukuran Perusahaan mempunyai pengaruh terhadap Audit Delay, dibuktikan dengan t hitung sebesar 3,964 lebih besar dari t tabel sebesar 1,960 atau P-value sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05; 2) Opini Auditor tidak mempunyai pengaruh terhadap Audit Delay, dibuktikan dengan t hitung sebesar 1,659 lebih kecil dari t tabel sebesar 1,960 atau P-value sebesar 0,100 lebih besar dari 0,05; 3) Ukuran KAP mempunyai pengaruh terhadap Audit Delay, dibuktikan dengan t hitung sebesar 3,176 lebih besar dari t tabel sebesar 1,960 atau P-value sebesar 0,002 lebih kecil dari 0,05; 4) Solvabilitas tidak mempunyai pengaruh terhadap Audit Delay, dibuktikan dengan t hitung sebesar 0,802 lebih kecil dari t tabel sebesar 1,960 atau P-value 0,424 lebih besar dari 0,05; 5) Profitabilitas tidak mempunyai pengaruh terhadap Audit Delay, dibuktikan dengan t hitung sebesar 1,023 lebih kecil dari t tabel sebesar 1,960 atau P-value sebesar 0,309 lebih besar dari 0,05; dan 6) Ukuran Perusahaan, Opini Auditor, Ukuran KAP, Solvabilitas, dan Profitabilitas mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap Audit Delay, dibuktikan dengan F hitung sebesar 6,053 lebih besar dari F tabel sebesar 2,790 atau P-value sebesar 0,000 lebh kecil dari 0,05. Model regresi berganda adalah Y = 26,514 + 0,327 X1 + 2,816 X2 + 5,353 X3 + 0,075 X4 + 0,097 X5, dan berdasarkan koefisien determinasi sebesar 0,201, berarti variabel bebas tersebut secara bersama-sama mempengaruhi 20,1% Audit Delay. Sebesar 79,9% ditentukan oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.

  • KATA PENGANTAR

    Segala Puji syukur peneliti panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat

    dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Tugas Akhir

    Skripsi yang berjudul FAKTORFAKTOR YANG BERPENGARUH

    TERHADAP AUDIT DELAY (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang

    Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Pada Tahun 2007-2008). Penulis menyadari

    sepenuhnya, tanpa bimbingan dari berbagai pihak, Tugas Akhir Skripsi ini tidak

    akan dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis

    mengucapkan banyak terimakasih yang tulus kepada :

    1. Prof. Dr. Rahmat Wahab, MA., Rektor Universitas Negeri Yogyakarta.

    2. Sardiman A.M., M.Pd., Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas

    Negeri Yogyakarta.

    3. Rr. Indah Mustikawati, M.Si,Ak., Ketua Program Studi Akuntansi dan sekaligus

    Pembimbing Skripsi yang telah membantu kelancaran pelaksanaan penelitian

    dan memberikan masukan kepada penulis.

    4. Dhyah Setyorini, M.Si, Ak., Dosen Penguji yang telah meluangkan waktu dan

    memberikan masukan kepada penulis dari awal hingga terselesaikannya skripsi

    ini.

    5. Bapak Ibu Dosen, khususnya Jurusan Akuntansi yang telah memberikan bekal

    ilmu yang tak ternilai harganya kepada penulis selama belajar di Fakultas Ilmu

    Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.

  • 6. Teman-teman seperjuangan Akuntansi NR-B angkatan 2006, sahabatku Poe,

    Anita terimakasih untuk semuanya, senang sekali rasanya bisa mengenal kalian

    semua.

    7. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah memberikan

    dorongan serta bantuan selama penyusunan tugas akhir ini.

    Semoga Allah SWT memberikan balasan yang setimpal kepada mereka yang

    telah membantu menyelesaikan proses penulisan skripsi ini, Amin. Penulis

    menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan, untuk itu saran dan

    kritik yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga penulisan skripsi ini dapat

    bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan.

    Yogyakarta, 14 Januari 2011 Penulis, Ani Yuliyanti NIM. 06412144003

  • DAFTAR ISI

    Halaman

    HALAMAN JUDUL .................................................................................... i

    HALAMAN PERSETUJUAN ..................................................................... ii

    HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................... iii

    PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ...................................................... iv

    MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................................................... v

    ABSTRAK ................................................................................................... vi

    KATA PENGANTAR ................................................................................. vii

    DAFTAR ISI ................................................................................................ ix

    DAFTAR TABEL ........................................................................................ xi

    DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xii

    DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xiii

    BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1

    A. Latar Belakang Masalah .......................................................... 1

    B. Identifikasi Masalah ................................................................ 8

    C. Pembatasan Masalah ............................................................... 9

    D. Rumusan Masalah ................................................................... 10

    E. Tujuan Penelitian .................................................................... 10

    F. Manfaat Penelitian ................................................................. 11

    BAB II KAJIAN TEORI ............................................................................ 12

    A. Deskripsi Teori ........................................................................ 12

    1. Audit Delay ....................................................................... 12

    2. Ukuran Perusahaan ........................................................... 13

    3. Opini Auditor ................................................................... 15

    4. Ukuran Kantor Akuntan Publik ........................................ 17

    5. Solvabilitas ........................................................................ 20

    6. Profitabilitas ..................................................................... 22

  • Halaman

    7. Auditing ............................................................................ 23

    8. Laporan Audit ................................................................... 30

    9. Laporan keuangan ............................................................. 31

    B. Penelitian yang Relevan .......................................................... 34

    C. Kerangka Berpikir ................................................................... 38

    D. Paradigma Penelitian ............................................................... 43

    E. Hipotesis Penelitian ................................................................. 44

    BAB III METODE PENELITIAN ............................................................. 45

    A. Jenis Penelitian ........................................................................ 45

    B. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................. 45

    C. Populasi dan Sampel Penelitian ............................................... 46

    D. Definisi Operasional Variabel ................................................. 47

    E. Teknik Pengumpulan Data ...................................................... 49

    F. Teknik Analisis Data ............................................................... 50

    BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................. 56

    A. Hasil Penelitian ....................................................................... 56

    1. Deskripsi Umum ............................................................... 56

    2. Deskripsi Khusus .............................................................. 58

    3. Pengujian Prasyarat Analisis ............................................. 63

    4. Hasil Pengujian Hipotesis .................................................. 68

    B. Pembahasan ............................................................................. 75

    C. Keterbatasan Penelitian............................................................ 82

    BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 83

    A. Kesimpulan ...................................................................................... 83

    B. Saran ................................................................................................ 85

    DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 87

    LAMPIRAN ................................................................................................. 89

  • DAFTAR TABEL

    Tabel Halaman

    1. Prosedur dan hasil pemilihan sampel perusahaan.......................... 56

    2. Daftar Nama Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar

    di BEI tahun 2007 2008 .............................................................. 57

    3. Statistik Deskriptif Data Audit Delay ............................................ 58

    4. Distribusi Kecenderungan Frekuensi Audit Delay ......................... 59

    5. Statistik Deskriptif Data Ukuran Perusahaan................................. 59

    6. Distribusi Kecenderungan Frekuensi Ukuran Perusahaan............. 60

    7. Distribusi Kategori Opini Auditor ................................................ 60

    8. Distribusi Kategori Ukuran KAP .................................................. 61

    9. Statistik Deskriptif Data Solvabilitas ............................................ 61

    10. Distribusi Kecenderungan Frekuensi Solvabilitas ......................... 62

    11. Statistik Deskriptif Data Profitabilitas .......................................... 62

    12. Distribusi Kecenderungan Frekuensi Profitabilitas ....................... 63

    13. Rangkuman Hasil Uji Linearitas ................................................... 65

    14. Rangkuman Hasil Uji Multikolinearitas ....................................... 66

    15. Rangkuman Hasil Uji Autokorelasi .............................................. 68

    16. Rangkuman Hasil Hipotesis Pertama............................................. 69

    17. Rangkuman Hasil Hipotesis Kedua ............................................... 70

    18. Rangkuman Hasil Hipotesis ketiga ................................................ 71

    19. Rangkuman Hasil Hipotesis Keempat ........................................... 72

    20. Rangkuman Hasil Hipotesis Kelima .............................................. 73

    21. Rangkuman Hasil Hipotesis Keenam............................................. 74

  • DAFTAR GAMBAR

    Gambar Halaman

    1. Paradigma Penelitian ........................................................................ 43

    2. P-P Plot untuk Uji Normalitas Sebaran ........................................... 64

    3. Scatter Plot untuk Uji Heteroskedastisitas ....................................... 67

  • DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran Halaman

    1. Daftar Sampel Perusahaan ................................................................... 89

    2. Daftar Hasil Perhitungan Sampel........................................................ 90

    3. Statistik Deskriptif ............................................................................... 104

    4. Hasil Uji Prasarat Analisis ................................................................... 105

    5. Hasil Pengujian Hipotesis .................................................................... 108

    6. Tabel Statistik ...................................................................................... 111

    7. Surat Ijin Penelitian ............................................................................. 112

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Penyajian informasi dapat bermanfaat bilamana disajikan secara akurat dan

    tepat waktu pada saat dibutuhkan oleh pemakai laporan keuangan. Nilai dan

    ketepatan waktu pelaporan keuangan merupakan faktor penting bagi kemanfaatan

    laporan keuangan. Menurut Suwardjono (2002:170), ketepatwaktuan informasi

    mengandung pengertian bahwa informasi tersedia sebelum kehilangan

    kemampuannya untuk mempengaruhi atau membuat perbedaan dalam keputusan.

    Dengan demikian, informasi yang memiliki prediksi tinggi dapat menjadi tidak

    relevan apabila tidak tersedia pada saat dibutuhkan.

    Menurut Belkaui (2001) dalam Arif Wicaksono (2009:3) laporan keuangan

    merupakan suatu sumber informasi yang berperan penting dalam pengambilan

    keputusan dan bertujuan sebagai media bagi perusahaan untuk mengkomunikasikan

    berbagai informasi dan pengukuran secara ekonomis mengenai kinerja keuangan,

    perubahan posisi keuangan, arus kas, serta sumber daya yang dimiliki perusahaan

    kepada berbagai pihak yang mempunyai kepentingan atas informasi tersebut. Bagi

    yang berkepentingan dengan kondisi keuangan perusahaan, informasi yang akurat

    dan tepat waktu sangat penting, karena turut menentukan langkah yang akan

    diambilnya.

    Salah satu kewajiban perusahaan manufaktur yang sudah go public adalah

    mempublikasikan laporan keuangan yang telah disusun dengan standar akuntansi

    keuangan dan telah diaudit oleh akuntan publik yang terdaftar dalam Badan

  • Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Auditor memiliki tanggung jawab yang besar

    dan tentunya hal ini membuat auditor untuk bekerja secara lebih profesional. Salah

    satu kriteria profesionalisme auditor tampak dalam ketepatan waktu penyampaian

    laporan auditannya (Imam Subekti dan Novi Wulandari, 2004 dalam Supriyati,

    2007:109).

    Ketepatan waktu penyusunan atau pelaporan suatu laporan audit atas laporan

    keuangan perusahaan bisa mempengaruhi pada nilai laporan keuangan tersebut.

    Keterlambatan informasi akan menimbulkan reaksi negatif dari perilaku pasar

    modal, karena laporan keuangan auditan yang di dalamnya memuat informasi

    penting, seperti laba yang dihasilkan perusahaan bersangkutan dijadikan sebagai

    salah satu dasar pengambilan keputusan untuk membeli atau menjual kepemilikan

    yang dimiliki oleh investor, artinya informasi laba dari laporan keuangan yang

    dipublikasikan akan menyebabkan kenaikan atau penurunan harga saham.

    Jarak waktu antara akhir periode akuntansi dengan tanggal ditandatanganinya

    laporan audit dapat mempengaruhi ketepatan waktu informasi tersebut

    dipublikasikan (Supriyati Yuliasri Rolinda, 2007:110), dengan demikian dapat

    disimpulkan bahwa ketetapan waktu pelaporan merupakan catatan pokok laporan

    yang memadai. Pemakai informasi tidak hanya perlu memiliki informasi keuangan

    yang relevan dengan prediksi dan pembuatan keputusannya, tetapi informasi harus

    bersifat baru. Laporan keuangan seharusnya disajikan pada interval waktu untuk

    menjelaskan perubahan yang terjadi dalam perusahaan yang mungkin

    mempengaruhi pemakai informasi dalam membuat prediksi dan keputusan.

  • Standar audit, menurut Generally Accepted Auditing Standards (GAAS),

    khususnya standar umum ketiga menyatakan bahwa audit harus dilaksanakan

    dengan penuh kecermatan dan ketelitian. Selain itu, standar pekerjaan lapangan

    memuat pernyataan bahwa audit harus dilaksanakan dengan perencanaan yang

    matang dan pengumpulan alat-alat pembuktian yang cukup memadai (Yugo Trianto,

    2006:2). Hal ini yang kadang menyebabkan lamanya suatu proses pengauditan

    dilakukan, sehingga publikasi laporan keuangan yang diharapkan secepat mungkin

    menjadi terlambat. Perbedaan waktu antara tanggal laporan keuangan dengan

    tanggal opini audit dalam laporan keuangan mengindikasikan tentang lamanya

    waktu penyelesaian audit yang dilakukan oleh auditor, kondisi ini sering disebut

    sebagai Audit Delay.

    Audit Delay adalah lamanya waktu penyelesaian audit yang diukur dari

    tanggal penutupan tahun buku hingga tanggal diselesaikannya laporan audit

    independen (Wiwik Utami, 2006:4). Audit Delay yang melewati batas waktu

    ketentuan BAPEPAM, tentu berakibat pada keterlambatan publikasi laporan

    keuangan. Keterlambatan publikasi laporan keuangan tersebut dapat

    mengindikasikan adanya masalah dalam laporan keuangan emiten, sehingga

    memerlukan waktu yang lebih lama dalam penyelesaian audit.

    Menurut penelitian Imam Subekti dan Widiyanti (2004) yang dikutip dari

    Ardhi Dharma (2008), menyebutkan bahwa pada tahun 2001 rata-rata waktu tunggu

    pelaporan ke BAPEPAM dari waktu antara tanggal laporan sampai tanggal opini

    auditor membutuhkan waktu 98 hari. Jika hal ini dilihat dari batas waktu 90 hari

    yang ditetapkan BAPEPAM, terlihat masih banyak perusahaan publik yang belum

  • patuh terhadap peraturan informasi di Indonesia. Beberapa faktor yang kemungkinan

    menyebabkan Audit Delay semakin lama, yaitu: Ukuran Perusahaan, Opini Auditor,

    Ukuran Kantor Akuntan Publik, Solvabilitas dan Profitabilitas.

    Ukuran Perusahaan adalah besar kecilnya suatu perusahaan yang di ukur dari

    besarnya total asset atau kekayaan yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Di mana

    menurut Masud Machfoedz (1994:56) Ukuran Perusahaan dikategorikan menjadi

    tiga yaitu: 1) Perusahaan Besar, 2) Perusahaan Menengah, 3) Perusahaan Kecil.

    Hasil penelitian Sistya Rachmawati (2008:8), menunjukan bahwa Ukuran

    Perusahaan memiliki pengaruh signifkan terhadap Audit Delay yang berarti bahwa

    semakin besar Ukuran Perusahaan maka semakin pendek Audit Delay dan

    sebaliknya semakin kecil Ukuran Perusahaan makan semakin panjang Audit Delay.

    Hal ini disebabkan karena perusahaan besar biasanya memilki sistem pengendalian

    internal yang baik, sehingga dapat mengurangi tingkat kesalahan dalam penyusunan

    laporan keuangan yang memudahkan auditor dalam melakukan audit laporan

    keuangan. Namun, hal ini berbeda dengan pendapat Boynton dan Kell (1996:152)

    dalam Wiwik Utami (2006:5) yang berpendapat bahwa, Audit Delay akan semakin

    lama apabila Ukuran Perusahaan yang akan di audit semakin besar. Ini berkaitan

    dengan semakin besar perusahaan maka semakin banyak jumlah sampel (anak

    perusahaan) yang harus diambil maka semakin luas juga prosedur audit yang

    dilakukan.

    Opini Auditor adalah pendapat yang diberikan oleh auditor independen atas

    laporan keuangan perusahaan. Hasil penelitian Yugo Trianto (2006) pada

    perusahaan go public tahun 2004 menemukan adanya hubungan positif antara Opini

  • Auditor dengan Audit Delay. Pada perusahaan yang tidak menerima pendapat

    unqualified opinion akan menunjukan Audit Delay yang lebih panjang dibandingkan

    dengan perusahaan yang menerima pendapat unqualified opinion. Hal ini disebabkan

    karena peusahaan yang menerima pendapat selain unqualified opinion dianggap

    sebagai kabar buruk, sehingga penyampaian laporan keuangannya akan diperlambat.

    Menurut Ainun Naim(1998) dalam Prabandari dan Rustiana (2007:31) menyatakan

    bahwa variabel Opini Auditor di Indonesia menunjukan hasil yang kurang

    memuaskan dimana pendapat akuntan publik tidak berpengaruh terhadap

    ketepatwaktuan pelaporan keuangan. Penelitian Supriyati Yuliasri Rolinda

    (2007:123) juga menunjukan bahwa variabel Opini Auditor tidak berpengaruh

    signifikan terhadap Audit Delay.

    Kantor Akuntan Publik adalah lembaga yang memiliki izin dari Menteri

    Keuangan sebagai wadah bagi akuntan publik dalam menjalankan pekerjaanya.

    Pengukuran Kantor Akuntan Publik dibagi menjadi dua yaitu KAP the big four dan

    KAP non the big four. Supriyati Yuliasri Rolinda (2007:123) membuktikan bahwa

    Ukuran Kantor Akuntan Publik berpengaruh terhadap Audit Delay. Ukuran Kantor

    Akuntan Publik dikatakan dapat berpengaruh signifikan terhadap Audit Delay,

    karena sebagian besar perusahaan sudah menggunakan jasa audit Kantor Akuntan

    Publik the big four yang dapat melakukan auditnya dengan cepat dan efisien. Selain

    itu, Kantor Akuntan Publik the big four banyak mengeluarkan pendapat going

    concern perusahaan dari pada Kantor Akuntan Publik non the big four, sehingga

    banyak menarik klien. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang

    dilakukan oleh Sistya Rachmawati (2008) yang menyatakan bahwa Ukuran Kantor

  • Auntan Publik mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Audit Delay pada

    perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Akan tetapi hasil penelitian

    Yugo Trianto (2006) mendapatkan hasil yang berbeda di mana Ukuran Kantor

    Akuntan Publik tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Audit Delay, hal

    ini terjadi karena baik KAP besar maupun KAP kecil memiliki standar yang sama

    sesuai dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dalam melaksanakan

    pekerjaan mereka.

    Solvabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi semua

    kewajibannya, baik kewajiban jangka panjang ataupun jangka pendek. Carlaw dan

    Kaplan (1991) dalam Yugo Trianto (2006:35) menemukan pengaruh yang signifikan

    antara Solvabilitas yang diukur dari Total Debt to Total Asset Ratio (TDTA)

    terhadap Audit Delay. Proses pengauditan utang relatif membutuhkan waktu yang

    lebih lama dibandingkan pengauditan ekuitas, khususnya apabila jumlah debt

    holder-nya banyak. Namun, penelitian Sistya Rachmawati (2008:8) pada perusahaan

    manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2003-2005

    menemukan bahwa variabel Solvabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap Audit

    Delay. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perusahaan dengan utang yang besar

    ataupun perusahaan dengan utang kecil sama-sama tidak mempunyai pengaruh

    terhadap lamanya Audit Delay.

    Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama

    periode tertentu. Penelitian yang dilakukan Yugo Trianto (2006) pada perusahaan go

    public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2004 telah membuktikan

    bahwa Profitabilitas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Audit Delay.

  • Hal ini terjadi karena perusahaan yang mengumumkan Profitabilitas yang relatif

    rendah mengacu pada kemunduran publikasi laporan keuangan yang telah diaudit.

    Namun, penelitian Supriyati Yuliasri Rolinda (2007) mendapatkan hasil yang

    berbeda, hasil penelitiannya menunjukan bahwa Profitabilitas tidak berpengaruh

    signifikan terhadap Audit Delay. Dalam penelitiannya banyak perusahaan yang

    mengalami kenaikan profit namun kenaikan tersebut tidak begitu besar, apalagi ada

    yang mengalami kerugian.

    Penyampaian laporan keuangan secara berkala dari segi regulasi di Indonesia

    menyatakan bahwa tepat waktu merupakan kewajiban bagi perusahaan yang

    terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada tahun 1996, BAPEPAM

    mengeluarkan lampiran Keputusan Ketua Bapepem No.80/PM/1996, yang

    mewajibkan bagi setiap emiten dan perusahaan publik untuk menyampaikan laporan

    keuangan tahunan perusahaan dan laporan audit independennya kepada BAPEPAM

    selambat-lambatnya 120 hari setelah tanggal laporan tahunan perusahaan (Sistya

    Rahmawati, 2008:1). Sejak 30 September 2003, BAPEPAM semakin memperketat

    peraturan dengan dikeluarkannya lampiran Surat Keputusan Ketua BAPEPAM

    Nomor : Kep36/PM/2003 yang menyatakan bahwa laporan keuangan tahunan

    disertai dengan laporan akuntan dengan pendapat yang lazim harus disampaikan

    kepada BAPEPAM selambat-lambatnya pada akhir bulan ketiga (90 hari) setelah

    tanggal laporan keuangan tahunan. Keterlambatan publikasi laporan keuangan bisa

    mengindikasikan adanya masalah dalam laporan keuangan emiten.

    Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang telah dilakukan oleh

    Yugo Trianto (2006) yang meneliti tentang Faktor-Faktor Yang Berpengaruh

  • Terhadap Audit Delay (studi empiris pada perusahaan-perusahaan go public di

    Bursa Efek Indonesia) tahun 2004 dengan menggunakan enam variabel yang diteliti

    yaitu: Ukuran Perusahaan, Jenis Perusahaan, Opini Auditor, Ukuran KAP,

    Solvabilitas dan Profitabilitas. Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini

    yaitu dengan mengubah tahun penelitian yaitu menjadi tahun 2007-2008 dan dalam

    penelitian ini hanya menggunakan sampel perusahaan manufaktur yang terdaftar di

    Bursa Efek Indonesia.

    Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk

    mengambil judul penelitian mengenai Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap

    Audit Delay (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa

    Efek Indonesia Pada Tahun 2007-2008).

    B. Identifikasi Masalah

    Dari latar belakang masalah diatas dapat di identifikasi berbagai masalah

    sebagai berikut:

    1. Pemenuhan standar audit oleh auditor bukan hanya berdampak terhadap

    peningkatan kualitas audit, namun juga diduga berdampak terhadap lamanya

    penyelesaian audit.

    2. Lamanya proses pengauditan sering menyebabkan keterlambatan publikasi

    laporan keuangan auditan.

    3. Semakin besar Ukuran Perusahaan atau semakin kecil Ukuran Perusahaan belum

    tentu menjamin Audit Delay semakin cepat.

  • 4. Perusahaan yang menerima pendapat unqualified opinion atau pendapat selain

    unqualified opinion belum tentu menjamin Audit Delay semakin cepat.

    5. Sebagian besar perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia menggunakan

    jasa KAP The Big Four untuk mengaudit laporan keuangannya, namun

    pemilihan KAP The Big Four belum tentu menjamin Audit Delay semakin cepat

    .

    6. Kemampuan perusahaan untuk melunasi semua kewajibannya yang diukur

    dengan penggunaan rasio Total Debt to Total Asset Rasio (TDTA) belum tentu

    menjamin Audit Delay menjadi lebih cepat.

    7. Profitabilitas yang rendah atau Profitabilitas yang tinggi belum tentu mengacu

    pada kemunduran laporan keuangan auditan pada perusahaan atau membuat

    Audit Delay lebih cepat.

    C. Batasan Masalah

    Mengingat begitu luas dan kompleksnya permasalahan yang ada dalam Audit

    Delay, maka penulis akan memberikan batasan masalah dengan maksud agar tujuan

    dari pembahasan dapat lebih terarah pada sasarannya. Adapun masalah yang penulis

    bahas dalam penelitian ini hanya terbatas mengenai masalah faktor-faktor yang

    diduga mempengaruhi Audit Delay, faktor-faktor tersebut antara lain: Ukuran

    Perusahaan, Opini Auditor, Ukuran Kantor Akuntan Publik, Solvabilitas dan

    Profitabilitas pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

    pada tahun 2007-2008.

  • D. Rumusan Masalah

    Berangkat dari pembatasan masalah yang telah dibahas sebelumnya, maka

    dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut:

    1. Bagaimana pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Audit Delay?

    2. Bagaimana pengaruh Opini Auditor terhadap Audit Delay?

    3. Bagaimana pengaruh Ukuran Kantor Akuntan Publik terhadap Audit Delay?

    4. Bagaimana pengaruh Solvabilitas terhadap Audit Delay?

    5. Bagaimana pengaruh Profitabilitas terhadap Audit Delay?

    6. Bagaimana pengaruh Ukuran Perusahaan, Opini Auditor, Ukuran Kantor

    Akuntan Publik, Solvabilitas, dan Profitabilitas terhadap Audit Delay?

    E. Tujuan Penelitian

    Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai

    dalam penelitian ini adalah untuk:

    1. Mengetahui pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Audit Delay.

    2. Mengetahui pengaruh Opini Auditor terhadap Audit Delay.

    3. Mengetahui pengaruh Ukuran KAP terhadap Audit Delay.

    4. Mengetahui pengaruh Solvabilitas terhadap Audit Delay.

    5. Mengetahui pengaruh Profitabilitas terhadap Audit Delay.

    6. Mengetahui pengaruh Ukuran Perusahaan, Opini Auditor, Ukuran Kantor

    Akuntan Publik, Solvabilitas dan Profitabilitas terhadap Audit Delay.

    7.

  • F. Manfaat Penelitian

    Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang

    membutuhkan, baik secara teoritis maupun secara praktis. Berikut beberapa manfaat

    penelitian ini.

    1. Manfaat Teoritis

    Sebagai sarana untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai faktor-

    faktor yang mempengaruhi Audit Delay pada perusahaan manufaktur yang

    terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan sebagai sarana pengembangan ilmu

    pengetahuan yang secara teoritis dipelajari penulis diperkuliahan.

    2. Manfaat Praktis

    a) Bagi UNY

    Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi perpustakaan dan bahan

    pembanding bagi mahasiswa yang ingin melakukan pengembangan

    penelitian berikutnya di bidang yang sama di masa mendatang.

    b) Bagi Auditor

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan oleh

    auditor dalam melaksanakan auditnya agar dapat menyelesaikan laporan

    auditnya tepat waktu sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan oleh

    BAPEPAM.

    c) Bagi penulis

    Penelitian ini diharapkan dapat menjadi wahana yang bermanfaat dalam

    mengimplementasikan pengetahuan penulis tentang auditing dan laporan

    keuangan serta Audit Delay.

  • BAB II

    KAJIAN TEORI

    A. Deskripsi Teori

    1. Audit Delay

    Audit Delay adalah lamanya waktu penyelesaian audit yang diukur dari

    tanggal penutupan tahun buku, hingga tanggal diselesaikannya laporan audit

    independen (Wiwik Utami, 2006:4). Menurut Dyer & McHugh (1975:206 dalam

    Wiwik Utami, 2006:4) Auditors report lag is the open interval of number of

    days from the year end to the date recorded as the opinion signature date in the

    auditor report. Ketepatwaktuan penerbitan laporan keuangan audit merupakan

    hal yang sangat penting, khususnya untuk perusahaan-perusahaan publik yang

    menggunakan pasar modal sebagai salah satu sumber pendanaan. Menurut

    Lawrence dan Briyan (1988) dalam Yugo Trianto (2006:31) Audit Delay adalah

    lamanya hari yang dibutuhkan auditor untuk menyelesaikan pekerjaan auditnya,

    yang diukur dari tanggal penutupan tahun buku hingga tanggal diterbitkannya

    laporan keuangan audit.

    Perusahaan yang sudah go public harus menyerahkan laporan keuangan

    tahunannya disertai dengan opini auditor kepada Bapepam. Peraturan Bapepam

    tersebut diatur dalam Undang-Undang No.8 tahun 1995 tentang publikasi

    laporan keuangan tahunan auditan yang bersifat wajib dengan batas waktu 120

    hari dari akhir tahun fiskal sampai tanggal diserahkannya laporan keuangan yang

    telah diaudit ke BAPEPAM. Namun, Sejak 30 September 2003, peraturan ini

  • diganti dengan peraturan baru dengan Nomor X.K.2 tentang kewajiban

    penyampaian laporan keuangan ke Bapepam menjadi 90 hari.

    Ketepatwaktuan merupakan kualitas yang berkaitan dengan ketersediaan

    informasi pada saat dibutuhkan. Waktu antara tanggal laporan keuangan dan

    laporan audit (Audit Delay) mencerminkan ketepatwaktuan penyampaian laporan

    keuangan. Informasi yang sebenarnya bernilai tinggi dapat menjadi tidak relevan

    kalau tidak tersedia pada saat dibutuhan. Ketepatwaktuan informasi mengandung

    pengertian bahwa informasi tersedia sebelum kehilangan kemampuannya untuk

    mempengaruhi atau membuat perbedaaan dalam keputusan. Informasi harus

    disampaikan sedini mungkin untuk dapat digunakan sebagai dasar membantu

    dalam pengambilan keputusan ekonomi dan untuk menghindari tertundanya

    pengambilan keputusan tersebut (Zaki Baridwan, 2001:5).

    Tujuan menyeluruh dari suatu audit laporan keuangan adalah menyatakan

    pendapat apakah laporan keuangan klien sudah menyajikan secara wajar dalam

    semua hal yang material sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

    2. Ukuran Perusahaan

    Ukuran Perusahaan dapat diartikan sebagai suatu skala di mana dapat

    diklasifikasikan besar kecil perusahaan dengan berbagai cara antara lain

    dinyatakan dalam total aktiva, nilai pasar saham, dan lain-lain. Keputusan ketua

    Bapepam No. Kep. 11/PM/1997 menyebutkan perusahaan kecil dan menengah

    berdasarkan aktiva (kekayaan) adalah badan hukum yang memiliki total aktiva

    tidak lebih dari seratus milyar, sedangkan perusahaan besar adalah badan hukum

    yang total aktivanya diatas seratus milyar.

  • Pada dasarnya Ukuran Perusahaan hanya terbagi pada tiga kategori, yaitu

    perusahaan besar (large firm), perusahaan menengah (medium size), dan

    perusahaan kecil (small firm). Xaf0 Penentuan perusahaan ini didasarkan pada

    total asset perusahaan (Llangnp1035Masud Machfoedz, 1994). Kategori Ukuran

    Perusahaan yaitu:

    a. Perusahaan Besar Perusahaan besar adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih lebih besar dari Rp 10 Milyar termasuk tanah dan bangunan. Memiliki penjualan lebih dari Rp 50 Milyar/tahun.

    b. Perusahaan Menengah Perusahaan menengah adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih Rp 1-10 Milyar termasuk tanah dan bangunan. Memiliki hasil penjualan lebih besar dari Rp 1 Milyar dan kurang dari Rp 50 Milyar

    c. Perusahaan Kecil Perusahaan kecil adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200 juta tidak termasuk tanah dan bangunan dan memiliki hasil penjualan minimal Rp 1 Milyar/tahun.

    Faktor Ukuran Perusahaan merupakan salah satu faktor yang sering diteliti

    pada penelitian sebelumnya. Givoli dan Palmon (1982) dalam Prabandi dan

    Rustiana (2007:29), dalam penelitiannya menemukan adanya hubungan antara

    Ukuran Perusahaan, kompleksitas perusahaan dan kualitas pengendalian internal

    dengan Audit Delay. Ukuran Perusahaan merupakan fungsi dari kecepatan

    pelaporan keuangan karena semakin besar suatu perusahaan maka perusahaan

    akan melaporkan hasil laporan keuangan yang telah diaudit semakin cepat

    karena perusahaan memiliki banyak sumber informasi dan memiliki sistem

    pengendalian internal perusahaan yang baik sehingga dapat mengurangi tingkat

    kesalahan dalam penyusunan laporan keuangan yang memudahkan auditor

    dalam melakukan audit laporan keuangan. Dengan demikian dapat disimpulkan

  • bahwa kemungkinan Ukuran Perusahaan dapat mempengaruhi waktu

    penyelesaian audit.

    3. Opini Audior

    Laporan audit adalah alat formal yang digunakan auditor dalam

    mengkomunikasikan kesimpulan tentang laporan keuangan yang diaudit kepada

    pihak-pihak yang berkepentingan. Pendapat auditor sangatlah penting bagi

    perusahaan ataupun pihak-pihak lain yang membutuhkan hasil dari laporan

    keuangan auditan. Auditor dapat memilih tipe pendapat yang akan dinyatakan

    atas laporan keuangan auditan.

    Ada lima tipe pendapat laporan audit yang diterbitkan oleh auditor

    (Mulyadi, 2002:20-22):

    1) Pendapat wajar tanpa pengecualian (Unqualified Opinion)

    Pendapat wajar tanpa pengecualian diberikan oleh auditor jika tidak terjadi

    pembatasan dalam lingkup audit dan terdapat pengecualian yang signifikan

    mengenai kewajaran dan penerapan prinsip akuntansi berterima umum dalam

    penyusunan laporan keuangan, konsistensi penerapan prinsip akuntansi

    berterima umum tersebut, serta pengungkapan memadai dalam laporan

    keuangan.

    2) Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelasan (Unqualified

    Opinion report with Explanatory Language)

    Pendapat ini diberikan apabila audit telah dilaksanakan atau telah sesuai

    standar auditing. Penyajian laporan keuangan sesuai prinsip akuntansi yang

    diterima umum, tetapi terdapat keadaan tertentu yang mengharuskan auditor

  • menambahkan suatu paragraf penjelasan (penjelasan lain) laporan audit,

    meskipun tidak mempengaruhi pendapat wajar tanpa pengecualian atas

    laporan keuangan.

    3) Pendapat wajar dengan pengecualian (Qualified Opinion)

    Auditor memberikan pendapat wajar dengan pengecualian dalam laporan

    audit apabila lingkup audit dibatasi klien, auditor tidak dapat melaksanakan

    prosedur audit penting atau tidak dapat memperoleh informasi penting

    karena kondisi-kondisi yang berada diluar kekuasaan klien maupun auditor,

    laporan keuangan tidak disusun dengan prinsip akuntansi yang berterima

    umum digunakan dalam penyusunan laporan keuangan tidak ditetapkan

    secara konsisten.

    4) Pendapat tidak wajar (adverse Opinion)

    Pendapat tidak wajar merupakan kebalikan pendapat wajar tanpa

    pengecualian. Akuntan memberikan pendapat tidak wajar jika laporan

    keuangan klien tidak disusun berdasarkan prinsip akuntansi berterima umum

    sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha,

    perubahan ekuitas, dan arus kas perusahaan klien.

    5) Pernyataan tidak memberikan pendapat (Disclaimer of Opinion)

    Jika auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditor, maka

    laporan audit ini disebut dengan laporan tanpa pendapat (no opinion report).

    Kondisi yang menyebabkan auditor menyatakan tidak memberikan pendapat

    adalah:

    a) Pembatasan yang luar biasa sifatnya terhadap lingkungan audit.

  • b) Auditor tidak independen dalam hubungannya dengan kliennya

    Sebagai pemeriksa laporan keuangan auditor akan memberikan opini atas

    laporan keuangan yang diauditnya. Opini yang dikeluarkan berdasarkan bukti

    dan penemuan selama melaksanakan pekerjaan lapangan. Apabila selama

    pelaksanaan pekerjaan lapangan auditor tidak menemukan masalah ataupun

    bukti yang sangat menyimpang sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum

    maka auditor mungkin dapat dengan cepat menyelesaikan tugasnya dan

    kemudian mengeluarkan opini audit yang sesuai dengan hasil yang diperoleh,

    tetapi jika auditor menemukan penyimpangan karena laporan keuangan tidak

    sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum kemungkinan auditor akan

    lebih banyak lagi mencari penyimpangan serta bukti-bukti lain yang akhirnya

    dapat mempengaruhi penyelesaian waktu audit (Ardhi Dharma Yuana, 2008:

    15). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemungkinan opini yang

    dikeluarkan oleh auditor dapat mempengaruhi waktu penyelesaian audit.

    4. Ukuran Kantor Akuntan Publik

    Menurut SK. Menkeu No.43/KMK.017/1997 tertanggal 27 Januari 1997

    sebagaimana telah diubah dengan SK. Menkeu No. 470/KMK.017/1999

    tertanggal 4 Oktober 1999 dalam Haryono Jusup (2001:19), Kantor Akuntan

    Publik (KAP) adalah lembaga yang memiliki izin dari Menteri Keuangan

    sebagai wadah bagi Akuntan Publik dalam menjalakan pekerjaannya.

    Jumlah kantor akuntan publik di Indonesia dari tahun ke tahun semakin

    bertambah sejalan dengan perkembangan perekonomian dan bisnis. Dewasa ini

    di seluruh Indonesia terdapat 448 kantor akuntan publik yang dapat digolongkan

  • menjadi kantor akuntan besar, sedang dan kecil. Kantor akuntan publik yang

    tergolong besar hanya sedikit jumlahnya dan umumnya bekerjasama dengan

    kantor-kantor akuntan besar yang berskala internasional. Sebagian besar terdiri

    dari kantor-kantor akuntan publik kecil dengan wilayah operasi yang terbatas

    (Haryono Jusup, 2001:19).

    Struktur Kantor Akuntan Publik, Mengingat pekerjaan audit atas laporan

    keuangan menuntut tanggungjawab yang besar, maka pekerjaan profesional

    kantor akuntan publik menuntut indenpendensi dan kompetensi yang tinggi pula.

    Indenpendensi memungkinkan auditor untuk menarik kesimpulan tanpa bias

    tentang laporan keuangan yang diauditnya. Kompentensi memungkinkan auditor

    untuk melakukan audit secara efisien dan efektif. Adanya kepercayaan atas

    indenpendensi dan kompentensi auditor, menyebabkan pemakai bisa

    mengandalkan diri pada laporan yang dibuat auditor. Oleh karena kantor akuntan

    publik demikian banyak jumlahnya, maka tidaklah mungkin bagi pemakai

    laporan untuk menilai independensi dan kompentensi masing-masing kantor

    akuntan publik. Oleh karena itu struktur kantor akuntan publik akan sangat

    berpengaruh terhadap hal ini, walaupun tidak menjamin sepenuhnya (Haryono

    Jusup, 2001:20).

    Bentuk usaha Kantor Akuntan Publik yang dikenal menurut hukum

    Indonesia ada dua macam yaitu (Haryono Jusup, 2001:20) :

    a. Kantor Akuntan Publik dalam bentuk Usaha Sendiri. Kantor Akuntan Publik bentuk ini menggunakan nama akuntan publik yang bersangutan.

    b. Kantor Akuntan Publik dalam bentuk Usaha Kerjasama. Kantor Akuntan Publik bentuk ini menggunakan nama sebanyak-banyaknya tiga nama akuntan publik yang menjadi rekan/partner dalam Kantor Akuntan Publik yang bersangkutan.

  • Auditor Empat Besar (The Big Four Auditors) adalah kelompok empat

    firma jasa profesional dan akuntansi internasional terbesar, yang menangani

    mayoritas pekerjaan audit untuk perusahaan publik maupun perusahaan tertutup.

    Menurut Yuliana dan Aloysia (2004:115) Kantor Akuntan Publik di Indonesia

    dibagi menjadi KAP the big four dan Kantor Akuntan Publik non the big four.

    Kantor Akuntan Publik yang masuk kategori KAP the big four di Indonesia

    adalah:

    a. Kantor Akuntan Publik Price Water House Cooper, yang bekerja sama

    dengan Kantor Akuntan Publik Drs. Hadi Susanto dan rekan.

    b. Kantor Akuntan Publik KPMG (Klynfeld Peat Marwick Goedelar), yang

    bekerjasama dengan Kantor Akuntan Publik Sidharta dan Wijaya.

    c. Kantor Akuntan Publik Ernst dan Young, yang bekerja sama dengan Kantor

    Akuntan Publik Drs. Sarwoko dan Sanjoyo.

    d. Kantor Akuntan Publik Delloite Tauche Thomatshu, yang bekerja sama

    dengan Kantor Akuntan Publik Drs. Hans Tuanokata.

    Menurut Supriyati Yuliastri Rolinda (2007:114) Kantor Akuntan Publik

    internasional atau yang di kenal dengan the Big Four dianggap dapat

    melaksanakan auditnya secara efisien dan memiliki jadwal waktu yang lebih

    tinggi untuk menyelesaikan audit tepat pada waktunya. Kantor Akuntan Publik

    yang besar memperoleh insentif yang tinggi untuk menyelesaikan pekerjaan

    auditnya lebih cepat dibandingkan Kantor Akuntan Publik lainnya. Waktu audit

    yang lebih cepat adalah cara bagi Kantor Akuntan Publik besar untuk

  • mempertahankan reputasinya, karena jika tidak menyelesaikan audit dengan

    cepat maka untuk tahun yang akan datang mereka akan kehilangan kliennya.

    Pemilihan kantor akuntan publik yang berkompeten kemungkinan dapat

    membantu waktu penyelesaian audit menjadi lebih segera atau tepat waktu.

    Penyelesaian waktu audit secara tepat waktu kemungkinan dapat meningkatkan

    reputasi kantor akuntan publik dan menjaga kepercayaan klien untuk memakai

    jasanya kembali untuk waktu yang akan datang. Dengan demikian besar kecilnya

    Ukuran Kantor Akuntan Publik kemungkinan dapat mempengaruhi waktu

    penyelesaian audit laporan keuangan.

    5. Solvabilitas

    Solvabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi semua

    kewajiban-kewajibannya baik kewajiban jangka pendek maupun jangka

    panjangnya. Perusahaan yang tidak solvabel adalah perusahaan yang utang

    totalnya lebih besar dibandingkan total asetnya (Hanafi dan Halim, 1996).

    Kemampuan operasi perusahaan dicerminkan dari aset-aset yang dimiliki oleh

    perusahaan.

    Supranoto (1990:198) disebutkan bahwa solvabilitas merupakan

    kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya pada

    saat jatuh tempo. Analisis solvabilitas difokuskan terutama pada reaksi dalam

    neraca yang menunjukan kemampuan untuk melunasi utang lancar dan utang

    tidak lancar.

    Berdasarkan definisi di atas, maka dalam penelitian ini yang menjadi

    tolak ukur Solvabilitas diukur dengan rasio total debt to total asset ratio (TDTA)

  • yang membandingkan jumlah aktiva (total asset) dengan jumlah utang (baik

    jangka pendek ataupun jangka panjang). Perhitungan solvabilitas dengan rasio

    total debt to total asset (TDTA) sendiri di hitung dengan rumus:

    100% UtangTotalAktiva TotalTDTA =

    Penelitian Carlaw dan Kaplan (1991) dalam Yugo Trianto (2006),

    menemukan pengaruh yang signifikan antara solvabilitas yang diukur dari rasio

    total debt to total assets (TDTA) terhadap Audit Delay untuk perusahaan

    sampelnya tahun 1988. Alasan yang dapat mendukung hubungan antara debt to

    assets ratio adalah pertama, bahwa total debt to total assets ratio

    mengindikasikan kesehatan dari perusahaan. Proporsi total debt to total assets

    ratio yang tinggi akan meningkatkan kegagalan perusahaan sehingga auditor

    akan meningkatkan perhatian bahwa ada kemungkinan laporan keuangan kurang

    dapat dipercaya. Kedua, mengaudit hutang memerlukan waktu yang lebih lama

    dibandingkan dengan mengaudit modal. Biasanya mengaudit utang lebih

    melibatkan banyak staf dan lebih rumit dibandingkan mengaudit modal. Dengan

    demikian solvabilitas yang di ukur dengan total debt to total assets ratio dapat

    mempengaruhi waktu penyelesaian audit.

    6. Profitabilitas

    Menurut Hanafi dan Halim (1996) Profitabilitas adalah ukuran mengenai

    kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan selama periode

  • tertentu. Dalam Supranoto (1990) Profitabilitas adalah kemampuan suatu

    kesatuan usaha (entity) untuk memperoleh laba.

    Profitabilitas merupakan suatu indikator kinerja yang dilakukan

    manajemen dalam mengelola kekayaan perusahaan yang ditunjukan oleh laba

    yang dihasilkan. Secara garis besar laba yang dihasilkan perusahaan berasal dari

    penjualan dan investasi yang dilakukan oleh perusahaan.

    Perusahaan akan mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan

    keuntungan (Profitabilitas) baik dari tingkat penjualan, asset, modal maupun

    saham tertentu. Dalam rasio Profitabilitas ini dapat dikatakan sampai sejauh

    mana keefektifan dari keseluruhan manajemen dalam menciptakan keuntungan

    bagi perusahaan. Profitabilitas merupakan hasil dari sejumlah besar kebijakan

    dan keputusan manajemen dalam menggunakan sumber-sumber dana

    perusahaan.

    Penelitian ini melakukan perhitungan Profitabilitas dengan Return On

    Asset Rasio (ROA), rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan

    laba berdasarkan tingkat asset tertentu. Profitabilitas mempengaruhi perusahaan

    yang mengumumkan rugi atau profitabilitas yang rendah. Ini berkaitan dengan

    akibat yang dapat ditimbulkan oleh pasar terhadap pengumuman rugi tersebut

    bagi perusahaan.

    Berdasarkan definisi di atas, maka dalam penelitian ini yang menjadi

    tolak ukur tingkat profitabilitas yaitu Return On Asset Rasio (ROA) yang

    diproleh dengan persamaan berikut (Martono dan Agus Harjito, 2005):

    100%Total

    EBITROA =Asset

  • Keterangan :

    Return on Asset (ROA) : Rasio Tingkat Profitabilitas

    EBIT : Jumlah laba bersih perusahaan setelah pajak

    Total Asset : Jumlah asset yang dimiliki perusahaan

    Berdasarkan persamaan diatas, maka ROA merupakan perbandingan

    antara jumlah laba yang dihasilkan terhadap asset yang digunakan, sehingga

    menunjukan sejumlah perusahaan mampu untuk menghasilkan laba dari sumber

    daya (asset) yang dimiliki. Dengan demikian kemungkinan Profitabilitas yang

    diukur dengan Return on Asset dapat mempengaruhi waktu penyelesaian audit.

    7. Auditing (Pengauditan)

    a. Definisi Auditing (Pengauditan)

    Menurut Haryono Jusup (2001:11), pengertian pengauditan dapat

    diartikan sebagai berikut:

    Suatu proses sistematis untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti yang berhubungan dengan asersi tentang tindakan-tindakan dan kejadian ekonomi secara objektif untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

    Menurut Mulyadi (2002:9), pengertian pengauditan dapat diartikan

    sebagai berikut:

    Suatu proses sistematis untuk mendapatkan dan mencari bukti-bukti dengan cara objektif yang berkaitan dengan pernyataan-peryataan tentang tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi untuk menentukan kesesuaian antara pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan dan menyampaikan hasilnya kepada pihak yang berkepentingan.

    Perlunya laporan keuangan diaudit karena (Asmara, 1996:7 dalam

    Anggit Wasis Sejati, 2007:29):

  • 1) Adanya perbedaan kepentingan antara pemakai laporan keuangan dengan manajemen sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap penyusunan laporan keuangan tersebut

    2) Laporan keuangan memegang peranan penting dalam proses pengambilan keputusan oleh para pemakai laporan keuangan

    3) Kerumitan data 4) Keterbatasan akses pemakai laporan keuangan terhadap catatan-catatan

    akuntansi

    b. Tujuan Audit

    Tujuan umum suatu auditing atas laporan keuangan adalah

    memberikan suatu pernyataan pendapat mengenai apakah laporan keuangan

    klien telah disajikan secara wajar, dalam segala hal material, sesuai dengan

    prinsip akuntansi berlaku umum. Dalam audit biasanya dirumuskan tujuan

    khusus audit untuk setiap rekening yang dilaporkan dalam laporan keuangan.

    Tujuan khusus ini berasal dari asersi-asersi yang dibuat manajemen dalam

    laporan keuangan (Haryono Jusup, 2001:117).

    c. Fungsi Audit

    Berdasarkan sifatnya yang analisis, auditing mempunyai fungsi

    memecah-mecah atau menguraikan informasi yang ada dalam laporan

    keuangan untuk mencari bukti yang dapat mendukung pendapat auditor

    mengenai kewajaran penyajian informasi tersebut.

    Audit yang dilaksanakan auditor adalah suatu fungsi untuk menentukan

    apakah laporan keuangan yang disusun manajemen telah memenuhi kriteria

    yang telah disepakati bersama atau telah memenuhi ketentuan-ketentuan

    yang telah digariskan dalam Prinsip-Prinsip Akuntansi Berterima Umum

    (PABU) dalam Yugo Trianto (2006).

  • Alasan utama adanya profesi auditor adalah untuk melakukan fungsi

    pengesahan atau meyakinkan akan kewajaran laporan keuangan. Auditor

    memberikan sumbangan berupa kepercayaan terhadap laporan keuangan

    untuk dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan pihak-pihak

    pemakai laporan keuangan.

    d. Jenis-Jenis Audit

    Audit dikelompokan menjadi 3 golongan yaitu (Haryono Jusup,

    2001:15):

    1) Audit Laporan Keuangan

    Audit laporan keuangan adalah audit yang dilakukan untuk

    menentukan apakah laporan keuangan sebagai keseluruhan yaitu

    informasi kualitatif yang akan diperiksa dan dinyatakan sesuai dengan

    kriteria tertentu yang telah ditetapkan. Pada umumnya kriteria yang

    digunakan adalah prinsip akuntansi berlaku umum, meskipun audit lazim

    juga dilakukan atas laporan keuangan yang disusun berdasarkan dasar

    tunai atau dasar akuntansi lain yang cocok untuk organisasi yang diaudit.

    Laporan keuangan yang diperiksa biasanya meliputi neraca, laporan laba-

    rugi dan laporan arus kas termasuk catatan kaki (font mote).

    2) Audit Kesesuaian

    Audit kesesuaian adalah audit yang tujuannya untuk menentukan

    apakah pihak yang diaudit telah mengikuti prosedur atau aturan tertentu

    yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang. Hasil audit kesesuaian

    biasanya dilaporkan kepada seseorang atau pihak tertentu yang lebih

  • tinggi yang ada dalam organisasi yang diaudit dan tidak diberikan kepada

    pihak-pihak diluar perusahaan.

    Audit kesesuaian untuk perusahaan swasta dapat berupa penentuan

    apakah karyawan-karyawan di bidang akuntansi telah mengikuti

    prosedur-prosedur yang telah ditetapkan oleh kontroler perusahaan.

    Manajemen biasanya merupakan pihak yang paling berkepentingan atas

    hasil audit kesesuaian, dibandingkan dengan pihak-pihak lainnya.

    3) Audit Operasional

    Audit operasional adalah pengkajian (review) atas setiap bagian

    dari prosedur dan metode yang ditetapkan suatu organisasi dengan tujuan

    untuk mengevaluasi efisiensi dan efektivitas. Hasil akhir dari audit

    operasional biasanya berupa rekomendasi kepada manajemen untuk

    perbaikan operasi.

    e. Standar Auditing

    Standar auditing adalah sebagai ukuran mutu profesional auditor

    independen dan pertimbangan yang digunakan dalam pelaksanaan audit dan

    penyusunan laporan auditor standar tersebut meliputi (Haryono Jusup,

    2001:53):

    1) Standar Umum

    a) Audit harus dilaksanakan oleh seseorang atau lebih yang memiliki

    keahlian dan pelatihan teknis cukup sebagai auditor.

  • b) Dalam semua hal yang berhubungan dengan penugasan, independensi

    dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.

    c) Dalam pelaksanaan auditor dan penyusun laporannya, auditor wajib

    menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.

    2) Standar Pekerjaan Lapangan

    a) Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan

    asisten harus disupervisi dengan semestinya.

    b) Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern harus

    diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan

    lingkup pengujian yang akan dilakukan.

    c) Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi,

    pengamatan, pengajuan pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar

    memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan.

    3) Standar Pelaporan

    a) Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan telah

    disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

    b) Laporan audit harus menunjukan keadaan yang didalamnya prinsip

    akuntansi tidak secara konsisten diterapkan dalam penyusunan laporan

    keuangan periode berjalan dalam hubungannya dengan prinsip

    akuntansi yang diterapkan dalam periode sebelumnya.

    c) Pengungkapan informasi dalam laporan keuangan harus dipandang

    memadai, kecuali yang dinyatakan lain dalam laporan audit.

  • d) Laporan audit harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai

    laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa

    pernyataan tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan

    tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan.

    f. Jenis-Jenis Auditor

    Auditor dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu (Haryono Jusup,

    2001:17):

    1) Auditor Pemerintah

    Auditor pemerintah adalah auditor yang bertugas melakukan audit

    harus diatas keuangan negara pada instansi-instansi pemerintah. Di

    Indonesia audit dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

    Badan Pemeriksa Keuangan merupakan badan yang tidak tunduk

    pada pemerintah sehingga dapat diharapkan dapat melakukan audit

    secara independen, namun demikian badan ini bukanlah badan yang

    berdiri diatas pemerintah. Hasil audit yang dilakukan BPK disampaikan

    kepada Dewan Perwakilan Rakyat sebagai alat kontrol atas pelaksanaan

    keuangan negara.

    2) Auditor Intern

    Auditor intern adalah auditor yang bekerja didalam perusahaan

    (perusahaan negara maupun perusahaan swasta) yang tugas pokoknya

    adalah menentukan kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan oleh

    manajemen. Pada umumnya auditor intern wajib memberikan laporan

  • secara langsung kepada pimpinan tertinggi perusahaan atau pejabat tinggi

    tertentu lainnya dalam perusahaan.

    Tanggungjawab auditor intern pada berbagai perusahaan sangat

    beranekaragam tergantung pada kebutuhan perusahaan yang

    bersangkutan. Sebagian besar waktunya digunakan untuk melakukan

    tugas rutin berupa audit kesesuaian. Agar dapat melakukan tugasnya

    secara efektif, auditor intern harus independen terhadap fungsi-fungsi lini

    dalam organisasi tempat ia bekerja, namun ia tidak dapat independen

    terhadap perusahaannya karena ia adalah pegawai dari perusahaan yang

    diauditnya.

    3) Auditor Independen atau Akuntan Publik

    Auditor independen atau sering disebut sebagai akuntan publik

    adalah auditor yang mempunyai tanggung jawab melakukan fungsi

    pengauditan atas laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan.

    Pengauditan ini dilakukan pada perusahaan-perusahaan terbuka

    yaitu perusahaan yang menjual sahamnya kepada masyarakat melalui

    pasar modal, perusahaan-perusahaan besar, dan juga perusahaan-

    perusahaan kecil, serta organisasi-organisasi yang tidak bertujuan

    mencari laba. Praktik sebagai akuntan publik harus dilakukan melalui

    suatu Kantor Akuntan Publik (KAP) yang telah mendapat izin dari

    Departemen Keuangan. Seseorang baru akan memperoleh ijin berpraktek

    sebagai akuntan publik apabila yang bersangkutan memenuhi beberapa

    syarat yang telah ditentukan.

  • 8. Laporan Audit

    Laporan audit merupakan media yang dipakai oleh auditor dalam

    berkomunikasi dengan masyarakat lingkungannya (Mulyadi, 2002:12). Dalam

    laporan tersebut auditor menyatakan pendapatnya mengenai kewajaran laporan

    keuangan auditan. Pendapat auditor biasanya disampaikan dalam bentuk tertulis

    yang umumnya berupa laporan audit baku. Laporan audit baku terdiri dari tiga

    paragraf yaitu: paragraf pengantar (introductory paragraph), paragraf lingkup

    (scope paragraph), dan paragraf pendapat (opinion paragraph).

    Menurut Haryono Jusup (2001:57) laporan audit adalah alat formal yang

    digunakan auditor dalam mengkomunikasikan kesimpulan tentang laporan

    keuangan yang diaudit kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Didalam

    menerbitkan suatu laporan audit, auditor harus mematuhi keempat standar

    pelaporan dalam standar auditing.

    9. Laporan Keuangan

    a. Pengertian Laporan Keuangan

    Ada beberapa pengertian laporan keuangan menurut para ahli ekonomi:

    1) Pengertian laporan keuangan menurut Mulyadi (2002:61) adalah suatu

    penyajian data keuangan termasuk catatan yang menerimanya, bila ada,

    yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan sumber daya ekonomi

    (aktiva) dan/ atau kewajiban entitas pada saat tertentu atau perubahan

    atas aktiva dan/atau kewajiban selama suatu periode tertentu sesuai

    dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum atau basis akuntansi

    komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum.

  • 2) Pengertian laporan keuangan menurut Zaki Baridwan (2004:11) adalah

    merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan, merupakan ringkasan

    dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang

    bersangkutan.

    3) Pengertian laporan keuangan menurut Haryono Jusup (2001:100) adalah

    Suatu penyajian data keuangan termasuk catatan yang menyertainya, bila

    ada yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan sumber daya ekonomi

    (aktiva) dan atau kewajiban suatu entitas pada saat tertentu atau

    perubahan atas aktiva dan atau kewajiban selama periode waktu tertentu

    sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum atau basis akuntansi

    komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum.

    Laporan keuangan perusahaan merupakan salah satu sumber

    informasi yang penting disamping informasi lain seperti informasi industri,

    kondisi perekonomian, pangsa perusahaan, kualitas menejemen dan lainya.

    Jadi setiap perusahaan go public diwajibkan untuk mempublikasikan laporan

    keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan dan telah

    diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) yang telah terdaftar di Badan

    Pengawasan Pasar Modal (Bapepam). Laporan keuangan terdiri dari:

    1) Neraca (Balance Sheet)

    Neraca adalah sebuah laporan tentang posisi keuangan perusahaan

    pada titik waktu tertentu (Bringham & Houston, 2006:46). Persamaan

    akuntansi (disebut juga identitas neraca) merupakan dasar sistem

    akuntansi. Disisi kiri persamaan ini terkait dengan sumber daya yang

  • dikendalikan oleh perusahaan, atau aktiva sumber daya yang merupakan

    investasi yang diharapkan untuk menghasilkan laba dimasa depan

    melalui aktiva operasi sisi kanan persamaan ini yang mengidentifikasi

    sumber pendanaan. Kewajiban (liability) merupakan pendanaan dari

    kreditor dan mewakili kewajiban perusahaan, atau klaim kreditor atas

    aktiva. Ekuitas atau ekuitas pemegang saham (shareholders equity)

    merupakan total dari (1) pendanaan yang menginvestasikan atau

    dikontribusi oleh pemilik (modal kontribusi) dan (2) akuntansi laba yang

    tidak dibagikan kepada pemilik (laba ditahan) sejak berdirinya

    perusahaan.

    2) Laporan Laba Rugi (Income Statement)

    Laporan laba rugi adalah laporan yang mengikhtisarkan pendapatan

    dan pengeluaran perusahaan selama satu periode akuntansi, yang

    biasanya setiap satu kuartal atau satu tahun (Bringham & Houston,

    2006:50). Laporan laba rugi mengukur kinerja keuangan perusahaan

    antara tanggal neraca. Laporan ini mencerminkan aktivitas operasi

    perusahaan. Laporan laba rugi menyediakan rincian pendapatan, beban,

    untung, dan rugi perusahaan untuk suatu periode waktu.

    3) Laporan Arus Kas

    Laporan arus kas adalah laporan yang melaporkan dampak dari

    aktivitas-aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan oleh perusahaan

    pada arus kas selama satu periode akuntansi (Bringham & Houston,

    2006:59). Tujuan pokok laporan arus kas adalah untuk memberikan

  • nformasi mengenai penerimaan dan pembayaran kas perusahaan selama

    periode tertentu.

    b. Tujuan Laporan Keuangan

    Ketepatan waktu penyajian laporan keuangan ke publik adalah sinyal

    dari perusahaan yang menunjukan adanya informasi yang bermanfaat dalam

    kebutuhan untuk pembuatan keputusan investor (Made Gede, 2004 dalam

    Yugo Trianto, 2006). Hal ini berarti apabila penyampaian laporan keuangan

    terlambat maka informasi yang didapat akan kehilangan relevansinya dan

    secara tidak langsung sebagai sinyal buruk bagi perusahaan.

    Menurut Ainun Naim (1988) tujuan umum laporan keuangan adalah:

    1) Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai

    aktiva dan kewajiban serta modal suatu perusahaan

    2) Untuk memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai perubahan

    dalam aktiva netto suatu perusahaan yang timbul dari kegiatan usaha

    dalam rangka memperoleh laba

    3) Memberikan informasi keuangan yang membantu pemakai laporan dalam

    menaksir potensi perusahaan.

    Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari suatu proses pencatatan

    yang merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan buku

    bersangkutan.

    B. Penelitian yang Relevan

    Berikut adalah ringkasan dari penelitian terdahulu yang menjadi dasar dari

    penelitian ini:

  • 1. Penelitian yang dilakukan Supriyati Yuliastari Rolinda (2007)

    Penelitain ini mengambil judul Analisis Faktor-Faktor Yang

    Mempengaruhi Audit Delay (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur dan

    Finansial di Indonesia). Penelitian ini dilakukan dengan sampel penelitian

    perusahaan manufaktur dan finansial yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

    tahun 2004-2005 terhadap 36 sampel perusahaan, penelitian ini menggunakan

    variabel independen Ukuran Perusahaan, Debt To Equity Ratio, Profitabilitas,

    Ukuran KAP, Jenis Pendapat/Opini, dan Jenis Industri perusahaan. Hasil

    penelitian berdasarkan analisis regresi menunjukan bahwa secara signifikan

    Ukuran KAP dan Jenis Industri Perusahaan berpengaruh signifikan terhadap

    Audit Delay, sedangkan Ukuran Perusahaan, Debt To Equity Ratio, Tingkat

    Profitabilitas dan Jenis Pendapat/Opini menunjukan hipotesis yang diajukan

    tidak dapat terbukti atau tidak mempunyai pengaruh terhadap Audit Delay.

    Persamaan penelitian yang sekarang dengan penelitian yang sebelumnya

    adalah sama-sama penelitian menggunakan variabel Ukuran KAP, Ukuran

    Perusahaan, Profitabilitas dan Opini Auditor. Perbedaan penelitian sekarang

    dengan penelitian diatas adalah penggunaan variabel independen yaitu Debt To

    Equity Ratio dan Jenis Industry Perusahaan yang digunakan pada penelitian

    terdahulu dan tahun penelitian.

    2. Penelitian yang dilakukan Yugo Trianto (2006)

    Penelitian ini mengambil judul Faktor-Faktor Yang Berpengaruh

    Terhadap Audit Delay (Studi Empiris Pada Perusahaan-Perusahaan Go Public

    Di Bursa Efek Indonesia) tahun 2004 terhadap 243 sampel perusahaan go public

  • dengan menggunakan 6 variabel yang diteliti yaitu Ukuran Perusahaan, Jenis

    Perusahaan, Opini Auditor, Ukuran KAP, Solvabilitas dan Profitabilitas. Hasil

    penelitiannya menunjukan bahwa secara simultan semua variabel independen

    berpengaruh terhadap Audit Delay. Secara parsial Opini Auditor dan

    Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap Audit Delay, sedangkan variabel

    Ukuran Perusahaan, Jenis Perusahaan, Ukuran KAP dan Solvabilitas tidak

    berpengaruh terhadap Audit Delay.

    Persamaan penelitian yang sekarang dengan penelitian yang sebelumnya

    adalah sama-sama menggunakan variabel Ukuran Perusahaan, Opini Auditor,

    Ukuran KAP, Solvabilitas dan Profitabilitas. Sedangkan perbedaannya terletak

    pada tahun penelitiannya yaitu penelitian sekarang menggunakan tahun

    penelitian 2007-2008 dan perusahaan yang digunakan yaitu penelitian Yugo

    Trianto menggunakan sampel seluruh perusahaan go publik sedangkan penelitian

    sekarang hanya menggunakan perusahaan manufaktur.

    3. Penelitian yang dilakukan Anggit Wasis Sejati (2007)

    Penelitian ini mengambil judul Analisis Faktor-Faktor Yang

    Mempengaruhi Audit Delay Pada Perusahaan Go Public Di Bursa Efek Jakarta

    Tahun 2003-2005 terhadap 270 perusahaan dalam satu tahunnya (total 810

    perusahaan). Penelitian ini menggunakan tiga variabel yaitu Ukuran Perusahaan,

    Klasifikasi Industri, dan Laba/rugi Perusahaan. Hasil penelitin menunjukan

    bahwa secara simultan variabel Ukuran Perusahaan, Klasifikasi Industri, dan

    Laba/rugi Perusahaan berpengaruh positif terhadap Audit Delay, sedangkan

  • secara parsial hanya Laba/Rugi perusahaan yang berpengaruh signifikan

    terhadap Audit Delay.

    Persamaan penelitian yang sekarang dengan penelitian sebelumnya

    adalah sama-sama menggunakan variabel dependen Audit Delay dan variabel

    independen Ukuran Perusahaan. Sedangkan perbedaannya terletak pada variabel

    indepennya yang digunakan yaitu karena dalam penelitian sebeumnya variabel

    indepennya menggunakan variabel Laba/Rugi Perusahaan dan Klasifikasi

    Industri. Penelitian terdahulu diambil pada periode tahun 2003-2005 sedangkan

    penelitian sekarang diambil pada periode tahun 2007-2008.

    4. Penelitian yang dilakukan oleh Sistya Rachmawati (2008)

    Penelitian ini mengambil judul Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal

    Perusahaan Terhadap Audit Delay dan Timeliness pada perusahaan manufaktur

    yang terdaftar di Bursa efek Indonesia tahun 2003-2005. Dalam penelitian ini

    terdapat dua variable dependen yaitu Audit Delay dan Timeliness dengan lima

    variabel independen yaitu Profitabilitas, Solvabilitas, Internal Auditor, Size

    Perusahaan dan Ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP). Hasil penelitian

    menunjukan bahwa Size Perusahaan dan Ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP)

    berpengaruh secara signifikan terhadap Audit Delay sedangkan variabel

    Profitabilitas, Solvabilitas, dan Internal Auditor tidak mempunyai pengaruh

    terhadap Audit Delay.

    Persamaan penelitian yang sekarang dengan dengan penelitian terdahulu

    adalah sama-sama menggunakan variabel Size Perusahaan, Ukuran Kantor

    Akuntan Publik (KAP), Profitabilitas, dan Solvabilitas dan sama-sama

  • menggunakan sampel perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek

    Indonesia. Perbedaan penelitian sekarang dengan penelitian terdahulu terletak

    pada variabel dependen yang pada penelitian terdahulu menggunakan dua

    variabel dependen yaitu Audit Delay dan Timeliness.

    C. Kerangka Berpikir

    Informasi yang relevan adalah informasi yang mempunyai predictable, feed

    back value, dan tepat waktu (Smith dan Skousen, 1997 seperti yang dikutip dari

    Anggit Wasis Sejati, 2007:41). Ketepatan waktu mengimplikasikan bahwa laporan

    keuangan seharusnya disajikan pada suatu interval waktu, maksudnya untuk

    menjelaskan perubahan didalam perusahaan yang mungkin mempengaruhi pemakai

    informasi pada waktu membuat prediksi dan keputusan. Sedangkan ketepatan waktu

    pelaporan sendiri dipengaruhi oleh lamanya audit (Hendriksen, 1992 seperti yang

    dikutip pada Anggit Wasis Sejati, 2007:41).

    Beberapa faktor yang diduga dapat berpengaruh terhadap Audit Delay dalam

    penelitian ini antara lain adalah Ukuran Perusahaan, Opini Auditor, Ukuran Kantor

    Akuntan Publik, Solvabilitas dan Profitabilitas.

    1. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Audit Delay

    Ukuran Perusahaan dapat dilhat dari total asset yang dimiliki perusahaan.

    Hal yang mendasari hubungan antara Ukuran Perusahaan dengan Audit Delay

    adalah perusahaan besar akan menyelesaikan proses auditnya lebih cepat

    dibandingkan perusahaan kecil, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu

    manajemen perusahaan yang berskala besar cenderung diberikan insentif untuk

  • mengurangi Audit Delay dikarenakan perusahaan tersebut dimonitor secara ketat

    oleh investor, pengawas permodalan, dan pemerintah. Pihak-pihak ini sangat

    berkepentingan terhadap informasi yang termuat dalam laporan keuangan. Oleh

    karena itu, perusahaan-perusahaan berskala besar cenderung menghadapi

    tekanan eksternal yang lebih tinggi untuk mengumumkan audit lebih awal.

    Disamping itu perusahaan besar pada umumnya memiliki sistem pengendalian

    iternal yang lebih baik sehingga memudahkan auditor menyelesaikan

    pekerjaannya. Penelitian yang telah dilakukan Imam Subekti dan Novi

    Wulandari (2004), dalam Supriyati Yuliasri Rolinda (2007:113) menunjukan

    bahwa Ukuran Perusahaan dengan indikator total aktiva memiliki pengaruh yang

    besar terhadap Audit Delay. Pengaruh ini ditunjukan dengan semakin besar nilai

    aktiva perusahaan maka semakin pendek nilai Audit Delay dan sebaliknya jika

    semakin kecil nilai aktiva perusahaan maka semakin panjang Audit Delay.

    Hasil penelitian Sistya Rachmawati (2008:8), menunjukan bahwa Ukuran

    Perusahaan memiliki pengaruh signifkan terhadap Audit Delay yang berarti

    bahwa semakin besar Ukuran Perusahaan maka semakin pendek Audit Delay dan

    sebaliknya semakin kecil Ukuran Perusahaan makan semakin panjang Audit

    Delay. Hal ini disebabkan oleh semakin baiknya sistem pengendalian internal

    perusahaan besar sehingga dapat mengurangi tingkat kesalahan dalam

    penyusunan laporan keuangan yang memudahkan auditor dalam melakukan

    audit laporan keuangan.

    2. Pengaruh Opini Auditor terhadap Audit Delay

  • Imam Subekti dan Novi Wulandari (2004 ) dalam Supriyati Yuliasri

    Rolinda (2007:115) membuktikan bahwa Audit Delay yang lebih panjang

    dialami oleh perusahaan yang menerima pendapat selain unqualified opinion.

    Hal ini dikarenakan proses pemberian pendapat selain unqualified opinion

    tersebut melibatkan negosiasi dengan klien, konsultasi dengan partner audit yang

    lebih senior atau staf teknis dan perluasan lingkup audit, sedangkan perusahaan

    yang menerima pendapat unqualified opinion merupakan suatu berita yang baik

    bagi perusahaan. Perusahaan yang menerima pendapat unqualified opinion akan

    melaporkan laporan keuangan tepat waktu. Opini audit yang baik (unqualified

    opinion) harus mengemukakan bahwa laporan keuangan yang telah diaudit

    sesuai dengan ketentuan standar akuntansi keuangan dan tidak ada

    penyimpangan material yang dapat mempengaruhi pengambilan suatu

    keputusan.

    Opini selain wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion) merupakan

    opini yang tidak diharapkan oleh semua manajemen. Semakin tidak baik opini

    yang diterima oleh perusahaan maka semakin lama laporan keuangan auditan

    dipublikasikan. Laporan keuangan yang disampaikan tidak tepat waktu

    mencerminkan ketidakpatuhan perusahaan terhadap peraturan yang ada. Hasil

    penelitian Yugo Trianto (2006) pada perusahaan go public tahun 2004

    menemukan adanya pegaruh Opini Auditor terhadap Audit Delay. Pada

    perusahaan yang menerima pendapat selain unqualified opinion akan

    menunjukan Audit Delay yang lebih panjang dibandingkan dengan perusahaan

    yang menerima pendapat unqualified opinion.

  • 3. Pengaruh Ukuran Kantor Akuntan Publik terhadap Audit Delay

    Kualitas audit diukur dengan Ukuran Kantor Akuntan Publik yang

    dibedakan menjadi kantor akuntan publik yang masuk empat besar, dalam hal ini

    the big four dan kantor akuntan publik non the Big Four. Dimana Kantor

    akuntan publik empat besar cenderung untuk lebih cepat menyelesaikan tugas

    audit yang mereka terima dan mengeluarkan pendapat yang going concern.

    Kantor akuntan publik the big four lebih menginginkan untuk mengambil sikap

    yang tepat dan mengeluarkan pendapat yang sesuai standar dan memiliki

    kemampuan teknis untuk mendeteksi going concern perusahaan, kantor akuntan

    publik besar cenderung menyajikan audit yang lebih cepat dibandingkan dengan

    kantor akuntan publik non the big four karena mereka memiliki nama baik yang

    dipertaruhkan (Prabandi dan Rustiana, 2007:31).

    Kantor akuntan publik the big four umumnya mempunyai sumber daya

    yang lebih besar sehingga dapat melakukan audit lebih cepat dan efisien. Hal ini

    membuktikan pendapat bahwa perusahaan yang diaudit oleh kantor akuntan

    publik the big four cenderung lebih cepat menyelesaikan auditnya bila

    dibandingkan dengan perusahaan yang diaudit oleh kantor akuntan publik non

    the big four. Supriyati Yuliasri Rolinda (2007:123) telah membuktikan bahwa

    Ukuran Kantor Akuntan Publik berpengaruh terhadap Audit Delay studi empiris

    pada perusahaan manufaktur dan finansial di Indonesia pada tahun 2004-2005

    hal ini dikarenakan sebagian besar perusahaan sudah menggunakan jasa audit

    Kantor Akuntan Publik the big four yang dapat melakukan auditnya dengan

    cepat dan efisien.

  • 4. Pengaruh Solvabilitas terhadap Audit Delay

    Carlaw dan Kaplan (1991) dalam Yogo Trianto (2006:35) menemukan

    hubungan yang signifikan antara rasio Total Debt to Total Asset (TDTA) dengan

    Audit Delay. Alasan yang dapat mendukung hubungan antara debt to assets

    ratio adalah pertama, bahwa total debt to total assets ratio mengindikasikan

    kesehatan dari perusahaan. Proporsi total debt to total assets ratio yang tinggi

    akan meningkatkan kegagalan perusahaan sehingga auditor akan meningkatkan

    perhatian bahwa ada kemungkinan laporan keuangan kurang dapat dipercaya.

    Kedua, mengaudit utang memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan

    dengan mengaudit modal. Biasanya mengaudit utang lebih melibatkan banyak

    staf dan lebih rumit dibandingkan mengaudit modal. Dalam hal ini perusahaan

    akan mengurangi resiko dengan mengundurkan publikasi laporan keuangannya

    dan mengulur waktu dalam laporan auditnya. Ini memberikan tanda ke pasar

    bahwa perusahaan dalam tingkat resiko yang tinggi. Dengan demikian, auditor

    akan mengaudit laporan keuangan dengan lebih seksama dan membutuhkan

    waktu yang relatif lama sehingga dapat membuat laporan keuangan terlambat

    untuk dipublikasikan (Prabandari dan Rustiana, 2007:30).

    5. Pengaruh Profitabilitas terhadap Audit Delay

    Untuk menilai tingkat Profitabilitas perusahaan dilihat dari EBIT (laba

    bersih sesudah pajak). Perusahaan yang mengumumkan rugi atau tingkat

    Profitabilitas yang rendah, maka akan membawa reaksi negatif terhadap pasar

    dan turunnya penilaian atas kinerja perusahaannya. Sedangkan, perusahaan yang

    mengumumkan laba yang tinggi akan berdampak positif terhadap penilaian

  • pihak lain atas kinerja perusahaannya. Penelitian Naim (1998) dalam Yugo

    Trianto (2006:33) menunjukan bahwa tingkat Profitabilitas yang lebih rendah

    memacu kemunduran publikasi laporan keuangan. Ada beberapa alasan yang

    mendorong terjadinya kemunduran laporan publikasi yaitu pelaporan laba atau

    rugi sebagai indikator good news atau bad news atas kinerja menejerial

    perusahaan dalam setahun. Tinggi rendahnya Profitabilitas mempengaruhi lama

    atau cepatnya penyampaian laporan keuangan seperti penelitian yang telah

    dilakukan oleh Yugo Trianto (2006) pada perusahaan go public yang terdaftar di

    Bursa Efek Indonesia pada tahun 2004 hasil penelitiannya telah membuktikan

    bahwa Profitabilitas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Audit Delay.

    D. Paradigma Penelitian

    Gambar 1. Paradigma Penelitian

    Ukuran Perusahaan(X1)

    Opini Auditor (X2)

    Ukuran KAP (X3)

    Solvabilitas (X4)

    Profitabilitas (X5)

    Audit Delay (Y)

  • Keterangan :

    : Pengaruh secara parsial X terhadap Y

    : Pengaruh secara simultan X terhadap Y

    E. Hipotesis Penelitian

    1. Ukuran Perusahaan mempunyai pengaruh terhadap Audit Delay pada perusahaan

    Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2007-2008.

    2. Opini Auditor mempunyai pengaruh terhadap Audit Delay pada perusahaan

    Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2007-2008.

    3. Ukuran Kantor Akuntan Publik mempunyai pengaruh terhadap Audit Delay pada

    perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2007-

    2008.

    4. Solvabilitas mempunyai pengaruh terhadap Audit Delay pada perusahaan

    Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2007-2008.

    5. Profitabilitas mempunyai pengaruh terhadap Audit Delay pada perusahaan

    Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2007-2008.

    6. Ukuran Perusahaan, Opini Auditor, Ukuran KAP, Solvabilitas, dan Profitabilitas

    mempunyai pengaruh terhadap Audit Delay pada perusahaan Manufaktur yang

    terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2007-2008.

  • BAB III

    METODE PENELITIAN

    A. Jenis Penelitian

    Penelitian ini termasuk penelitian kausal komparatif yaitu penelitian dengan

    karakteristik masalah berupa hubungan sebab-akibat antara dua variabel atau lebih.

    Penelitian kausal komparatif merupakan penelitian ex post facto, yaitu tipe

    penelitian terhadap data yang dikumpulkan setelah terjadinya suatu fakta atau

    peristiwa (Indriantoro dan Supomo, 1999:27). Penelitian ini menggunakan

    pendekatan kuantitatif yang merupakan penekanan pada pengujian teori melalui

    pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan

    prosedur statistik.

    Tujuan dalam penelitian ini adalah pengujian hipotesis dan menjelaskan

    hubungan variabel-variabel yang diteliti yaitu Ukuran Perusahaan, Opini Auditor,

    Ukuran KAP, Solvabilitas, dan Profitabilitas sebagai variabel independen dan

    variabel dependennya Audit Delay.

    B. Tempat dan Waktu Penelitian

    Penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa

    Efek Indonesia yang diambil di Pusat Informasi Pasar Modal di Jln. Magelang No.

    8A Yogyakarta, BEI dipilih sebagai tempat penelitian karena BEI merupakan Bursa

    Efek di Indonesia yang memiliki catatan historis yang panjang dan lengkap

    mengenai perusahaan yang sudah go public. Penelitian dilakukan pada bulan

    September tahun 2010.

  • C. Populasi dan Sampel Penelitian

    Populasi yaitu kumpulan pengukuran atau data pengamatan yang dilakukan

    terhadap orang, benda atau tempat, sedangkan sampel yaitu sebagian dari populasi

    atau dalam istilah matematik dapat disebut sebagai himpunan bagian atau subset dari

    populasi. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang

    terdaftar dalam BEI tahun 2007-2008.

    Metode sampel yang diterapkan adalah metode purposive sampling yaitu

    pemilihan sampel secara tidak acak yang informasinya diperoleh dengan

    menggunakan pertimbangan tertentu disesuaikan dengan tujuan atau masalah

    penelitian. Alasan penggunaan metode purposive sampling didasari pertimbangan

    agar sampel data yang dipilih memenuhi kriteria untuk diuji (Indriantoro dan

    Supomo, 1999:131). Perusahaan diseleksi dengan kriteria sebagai berikut (Yugo

    Trianto, 2006):

    1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI memiliki total aktiva lebih dari