of 6 /6
Faktor apa saja yang mempengaruhi penyembuhan luka? Faktor lokal yang mempengaruhi penyembuhan luka (Hess,2002). 1. Tekanan Luka atau area sekitar luka yang mendapat tekanan secara terus menerus akan menghambat aliran kapiler sehingga suplai darah ke area luka terganggu. 2. Lingkungan Lingkungan yang kering akan menyebabkan dehidrasi sel pada area luka dan dapat terjadi kematian sel. Hal ini menyebabkan terbentuknya krustae pada permukaan luka yang dapat menghambat pertumbuhan jaringan. Sedang lingkungan yang moist 3 sampai 5 kali meningkatkan penyembuhan jaringan dan menurunkan nyeri saat penggantian balutan, pada lingkungan moist membantu migrasi sel epidermis dan meningkatkan epitelisasi. Lingkungan luka sangat dipengaruhi oleh jenis balutan yang digunakan, adanya space antara balutan dan permukaan luka akan menyebabkan kondisi anaerob dan lingkungan yang kering, alginate atau jenis balutan hidrofobik dapat mengisi space antara luka dan menyebabkan luka tetap dalam keadaan moist (Black, 2002). Balutan oklusif atau semi oklusif dalam 48 jam setelah injuri dapat mempertahankan kelembaban jaringan dan mengoptimalkan epitelisasi.

Faktor Apa Saja Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka

Embed Size (px)

DESCRIPTION

herpes

Citation preview

Faktor apa saja yang mempengaruhi penyembuhan luka?

Faktor lokal yang mempengaruhi penyembuhan luka (Hess,2002).

1. Tekanan

Luka atau area sekitar luka yang mendapat tekanan secara terus menerus akan menghambat aliran kapiler sehingga suplai darah ke area luka terganggu.

2. Lingkungan

Lingkungan yang kering akan menyebabkan dehidrasi sel pada area luka dan dapat terjadi kematian sel. Hal ini menyebabkan terbentuknya krustae pada permukaan luka yang dapat menghambat pertumbuhan jaringan. Sedang lingkungan yang moist 3 sampai 5 kali meningkatkan penyembuhan jaringan dan menurunkan nyeri saat penggantian balutan, pada lingkungan moist membantu migrasi sel epidermis dan meningkatkan epitelisasi. Lingkungan luka sangat dipengaruhi oleh jenis balutan yang digunakan, adanya space antara balutan dan permukaan luka akan menyebabkan kondisi anaerob dan lingkungan yang kering, alginate atau jenis balutan hidrofobik dapat mengisi space antara luka dan menyebabkan luka tetap dalam keadaan moist (Black, 2002). Balutan oklusif atau semi oklusif dalam 48 jam setelah injuri dapat mempertahankan kelembaban jaringan dan mengoptimalkan epitelisasi. 3. Infeksi Infeksi baik lokal maupun sistemik dapat menghalangi proses penyembuhan luka. Tanda-tanda seperti adanya drainase, exudat, indurasi, demam merupakan indikasi dilakukannya kultur pada luka. Selulitis pada jaringan lunak akan memperpanjang fase inflamasi dengan menyebabkan protease jaringan mendegradasi granulasi yang baru dan faktor pertumbuhan jaringan juga dengan menunda deposisi kolagen. Cairan eksudat pada luka kronis meningkatkan aktivitas protease, menurunkan aktivitas faktor pertumbuhan dan meningkatkan level sitokine. Oleh karena itu proses penyembuhan luka terganggu dari fase inflamasi sampai dengan maturasi (Chronic wound, 2007, http://en.wikipedia.org, diakses tanggal 29 Januari 2008)

4. Nekrosis

Dua jenis nekrosis yang terdapat pada luka yaitu slough dan escar, slough adalah jaringan nekrosis basah dan mudah lepas berwarna kuning, sedang escar adalah jaringan nekrosis yang mengalami dehidrasi, tipis, menempel pada luka, biasanya berwarna coklat sampai hitam. Untuk membantu penyembuhan luka jaringan nekrosis harus diangkat (Chronic wound, 2007, http://en.wikipedia.org, diakses tanggal 29 Januari 2008). Faktor sistemik dan instrinsik yang mempengaruhi penyembuhan luka (Hess, 2002)

1. Usia

Usia anak sampai dewasa memiliki masa penyembuhan lebih cepat dari pada orang tua. Orang tua mengalami penurunan fungsi multiorgan, sehingga menyebabkan proses penyembuhan luka menjadi lebih panjang atau tertunda. 2. Bentuk Tubuh

Obesitas dapat menghambat penyembuhan luka, ini terjadi karena jaringan adiposa dapat menghambat suplai darah pada luka, kondisi tersebut juga meningkatkan waktu penyembuhan dan risiko infeksi pada luka karena sulpai darah tidak adekuat

3. Nutrisi

Proses penyembuhan luka membutuhkan nutrisi yang tinggi. Pasien memerlukan diet tinggi protein, karbohidrat, lemak, vitamin A dan C, mineral. Pasien yang mengalami kekurangan nutrisi akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk meningkatkan status kesehatan dan proses penyembuhan luka.

4. Sirkulasi dan Oksigenasi Pada orang yang menderita gangguan pembuluh darah perifer, hipertensi atau diabetes melitus akan menurunkan perfusi perifer.

5. Insufisiensi vaskular

Luka yang disebabkan gangguan suplai darah seperti luka diabetes, vena atau arteri trombosis, luka dekubitus memerlukan waktu yang lebih panjang dalam proses penyembuhan luka. Penurunan tekanan oksigen pada luka menunda proses penyembuhan dan memperlambat produksi kolagen. Pembentukan kolagen akan gagal bila tekanan O2 dibawah 40 mmHg karena O2 dibutuhkan dalam hidroksilasi proline dan lisin untuk mensintesa kolagen yang matur. Luka yang mengalami hipoksia juga menyebabkan infeksi karena aktifitas bakterisidal leukosit tidak dapat berlangsung bila oksigen dibawah level normal. 6. Obat Obat anti inflamasi seperti steroid, heparin dan anti neoplasmik mempengaruhi penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik yang lama dapat membuat seseorang rentan terhadap infeksi luka.

7. Imunosupresi dan terapi radiasi

Supresi sistem imun karena penyakit atau obat dapat mengganggu penyembuhan luka. Radiasi dapat mengganggu integritas kulit dan menimbulkan luka pada jangka lama.

8. Penyakit Kronik

Penyakit kronis akan memperlambat penyembuhan seperti pada DM. DM menyebabkan pasien mengalami kesulitan dalam proses penyembuhan karena gangguan sintesa kolagen, angiogenesis dan fagositosis. Kondisi hiperglikemi mengganggu transport asam askorbit ke dalam sel-sel termasuk fibroblast dan leukosit. Hiperglikemi dapat menurunkan leukositosis, kemotaksis dan meningkatkan aterosklerosis khususnya pada pembuluh darah kecil. Neuropathy diabetes merupakan komplikasi penyakit DM lanjut yang mengenai neuron.

9. Lama Mengalami Luka

Lama pasien menderita luka dapat mempengaruhi proses penyembuhan luka, semakin lama luka kronik tidak tertangani maka suplai oksigen dan nutrisi kejaringan semakin turun sehingga semakin banyak jaringan nekrotik yang terbentuk. Jaringan nekrotik dapat menghambat kerja faktor-faktor pertumbuhan, sehingga proses penyembuhan jaringan menjadi tertunda. (Hardings, GK & Morris, HL., Healings Chronic Wound, 9, http://www.healwound.org).Mengapa bisa timbul jaringan neurotik?Semakin lama luka kronik tidak tertangani maka suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan semakin turun sehingga semakin banyak jaringan nekrotik yang terbentuk. (Hardings, GK & Morris, HL., Healings Chronic Wound, 9, http://www.healwound.org).