116
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN HIPERTENSI DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT HARAPAN MAGELANG SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Ilmu Farmasi Diajukan oleh : Margareta Krisantini Punto Arsi NIM : 078114025 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2011

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

  • Upload
    others

  • View
    14

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI

PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN HIPERTENSI

DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT HARAPAN MAGELANG

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

Diajukan oleh :

Margareta Krisantini Punto Arsi

NIM : 078114025

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2011

Page 2: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

ii

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI

PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN HIPERTENSI

DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT HARAPAN MAGELANG

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

Diajukan oleh :

Margareta Krisantini Punto Arsi

NIM : 078114025

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2011

Page 3: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

iii

Page 4: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

iv

Page 5: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Saya tidak patah semangat karena setiap usaha yang

salah adalah satu langkah maju

(Thomas Alva Edison))

Karya kecil yang dibuat dengan jerih payah ini saya persembahkan kepada

Yesus Kristus yang selalu menyertai dan mendampingi perjalanan hidupku

Kedua orang tuaku yang selalu menyayangi dan mencintaiku serta

memberikan motivasi kepadaku setiap saat

Kedua kakakku yang selalu memberiku motivasi dan panutan yang baik

Sahabat-sahabatku yang telah mewarnai hidupku

Teman-teman Farmasi 2007 khususnya FKK A 2007 dan segenap penghuni

Amakusa yang selalu mengiringi perjalanan hidupku selama kuliah

Page 6: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

vi

Page 7: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

vii

PRAKATA

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, atas berkat, rahmat dan karunia-

Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Evaluasi

Penggunaan Antihpertensi pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Hipertensi

di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang“. Skripsi ini disusun untuk memenuhi

salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Strata Satu Farmasi (S. Farm.).

Selama proses penyusunan skripsi ini, banyak pihak yang telah terlibat

memberikan bantuan, bimbingan dan dukungan sehingga dapat berjalan dengan

lancar. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak yang

telah membantu baik langsung maupun tidak langsung, yaitu kepada :

1. dr. Hasman Budiono, M.Kes selaku direktur Rumah Sakit Harapan Magelang

yang telah memberikan ijin bagi penulis untuk melakukan penelitian.

2. Ibu Shinta selaku sekretariat Rumah Sakit Harapan Magelang atas bantuan

selama perijinan dan penelitian berlangsung.

3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam

medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian berlangsung.

4. dr. Dwi Budi, dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Harapan

Magelang yang telah bersedia meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan

penulis.

5. Bapak Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta serta sebagai Dosen Pembimbing

Akademik atas pendampingan dan motivasi selama ini.

Page 8: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

viii

6. Ibu Rita Suhadi, M.Si., Apt. selaku dosen pembimbing awal atas masukan,

saran serta motivasi selama penyusunan skripsi.

7. Ibu Dra. B. Titien Siwi Hartayu, M.Kes, Apt selaku dosen pembimbing atas

masukan, saran serta motivasi selama penyusunan skripsi.

8. dr. Fenty, M.Kes.,SpPK yang telah berkenan menjadi dosen penguji,

terimakasih untuk saran dan masukannya.

9. Ibu Maria Wisnu Donowati, M.Si., Apt. yang telah berkenan menjadi dosen

penguji, terimakasih untuk saran dan masukannya.

10. Bapak A. Punto WS dan Ibu M.I Kristiastuti, ayahanda dan ibunda tercinta

atas doa, cinta, semangat dan dukungan yang sangat berarti bagi penulis.

11. Kedua kakanda tersayang, Mas Ardi dan Mas Iwan atas doa dan dukungan

yang diberikan kepada penulis.

12. Mas Wawan, sahabat sekaligus kakak bagi penulis atas cinta, doa, semangat,

dukungan, perhatian, pengorbanan serta canda tawa yang sangat berarti bagi

penulis.

13. Rekan seperjuangan sekaligus sahabat terkasih Titin, Dinar, Mikha, Eva,

Helen, terimakasih atas cinta dan persahabatan yang indah selama ini.

14. Segenap penghuni kos AMAKUSA, Titin, Udin, Ana, Adel, Citra, Ratih,

Dian, Dewi, Uut, Yemi, Metri, Herta, Berta, Mayke, Meli, Sefi, Rina, Ita,

Cyntia, atas kebersamaan, persahabatan, canda tawa dan dukungan selama ini.

15. Teman-teman Farmasi khususnya FKK A 2007 atas segala kenangan, suka

dan duka yang ditorehkan kepada penulis selama menuntut ilmu di Fakultas

Farmasi Universitas Sanata Dharma.

Page 9: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

ix

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ini, masih terdapat

banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis terbuka untuk menerima segala

saran, kritik dan masukan yang bersifat membangun. Semoga karya tulis yang

sederhana ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.

Yogyakarta, 12 Januari 2011

Penulis

Page 10: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

x

Page 11: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

xi

INTISARI

Diabetes melitus merupakan suatu penyakit metabolik yang ditandai

dengan tingginya kadar glukosa dalam darah. Insidensi diabetes melitus disertai

hipertensi cukup tinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi

terapi pada pasien diabetes mellitus tipe 2 disertai hipertensi di instalasi rawat

inap Rumah Sakit Harapan Magelang periode Juli 2009-Juni 2010.

Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan deskriptif,

pengambilan datanya dilakukan secara retrospektif menggunakan rekam medis

pasien. Hasil yang diperoleh menunjukan penderita diabetes melitus tipe 2 disertai

hipertensi paling banyak terjadi pada kelompok usia 65-74 tahun (38%) dan pada

jenis kelamin laki-laki (59%) dengan lama perawatan paling banyak selama 4, 6

dan 8 hari (21%). Kelas terapi obat yang paling banyak digunakan adalah gizi dan

darah, sistem kardiovaskular dan sistem endokrin (100%). Golongan

antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah penghambat ACE (48,28%).

Dari hasil analisis Drug Related Problems ditemukan 16 kasus DRPs

dengan rincian 2 kasus membutuhkan obat tambahan, 2 kasus pemilihan obat

tidak sesuai, 12 kasus dosis tidak tepat, 1 kasus interaksi obat dan 2 kasus efek

samping obat. Setelah menjalani terapi di rumah sakit, 28 pasien meninggalkan

rumah sakit dalam keadaan membaik.

Kata kunci : diabetes melitus tipe 2, hipertensi, diabetes melitus dan hipertensi,

antihipertensi, drug related problems

Page 12: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

xii

ABSTRACT

Diabetes mellitus is a metabolic syndrom characterized by high blood

glucose levels. Incidence of diabetes mellitus with hypertension is high in

Indonesia. This study aims to evaluate therapy in patients diabetes mellitus type 2

with hypertension at the inpatient installation of Harapan Hospital Magelang

period July 2009-June 2010.

The study was observational descriptive design, data performed

retrospectively using patient records. The results showed the most prevalent in the

age 65-74 years (38%) and the male gender (59%) with at most care long for 4, 6

and 8 days (21%). Therapeutic classes of drugs most widely used is the nutrition

and blood, cardiovascular system and endocrine system (100%). ACE inhibitors

(48.28%) is the most widely used in antihypertensive class.

From the results of analysis of Drug Related Problems found 16 cases of

DRPs with details of 2 cases of needs additional drug therapy, 2 cases of improper

drug selection, 12 cases of dosage too low and too high, 1 cases of drug

interactions and 2 cases of side effects. After treatment in hospital, 28 patients left

the hospital in a better condition.

Keyword : diabetes mellitus type 2, hypertension, diabetes mellitus and

hypertension, antihypertension, drug related problems

Page 13: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

xiii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL . ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ...................................................... iii

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................. iv

HALAMAN PERSEMBAHAN .. ............................................................................. v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI..................................... vi

PRAKATA ................................... ............................................................................. vii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................................. x vi

INTISARI ................................................................................................................... xi

ABSTRACT ............................................................................................................... xii

DAFTAR ISI ........................................................................................................... xiii

DAFTAR TABEL ................................................................................................... xvi

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. xviii

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... xix

BAB I PENGANTAR ............................................................................................... 1

A. Latar Belakang .......................................................................................... 1

1. Rumusan Masalah .................................................................................... 4

2. Keaslian Penelitian ................................................................................... 4

3. Manfaat Penelitian .................................................................................... 6

B. Tujuan ....................................................................................................... 7

1. Tujuan Umum ........................................................................................... 7

2. Tujuan Khusus .......................................................................................... 7

Page 14: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

xiv

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA.................................................................... 9

A. Diabetes Melitus dan Hipertensi ............................................................... 9

B. Karakteristik Pasien Diabetes Melitus ...................................................... 11

C. Profil Obat yang Digunakan Pada Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe

2 dengan Hipertensi................................................................................... 11

D. Profil Antihipertensi yang Digunakan Pada Penatalaksanaan Diabetes

Melitus Tipe 2 dengan Hipertensi ............................................................. 14

1. Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors (Penghambat ACE) ........ 14

2. Angiotensin Receptor Blockers (ARBs) .............................................. 16

3. Diuretika .............................................................................................. 17

4. Penghambat Beta ................................................................................. 18

5. Antagonis Kalsium .............................................................................. 19

E. Drug Related Problems (DRPs) ................................................................ 21

1. Ada Obat Tanpa Indikasi .................................................................... 21

2. Membutuhkan Obat Tambahan ........................................................... 22

3. Pemilihan Obat yang Tidak Tepat....................................................... 23

4. Dosis Tidak Sesuai .............................................................................. 23

F. Keterangan Empiris ................................................................................... 24

BAB III METODE PENELITIAN........................................................................ 25

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ................................................................ 25

B. Definisi Operasional.................................................................................. 25

C. Subyek Penelitian ...................................................................................... 27

Page 15: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

xv

D. Bahan Penelitian............................................................................................. 27

E. Lokasi Penelitian ............................................................................................ 27

F. Tata Cara Penelitian ....................................................................................... 27

1. Tahap Perencanaan................................................................................... 27

2. Tahap Pengumpulan Data ........................................................................ 28

3. Tahap Pengolahan Data............................................................................ 29

G. Tata Cara Analisis Hasil................................................................................. 29

H. Kelemahan dan Kesulitan Penelitian ............................................................. 32

BAB IV PEMBAHASAN .......................................................................................... 33

A. Karakteristik Pasien ....................................................................................... 33

B. Profil Obat ...................................................................................................... 38

C. Profil Antihipertensi ....................................................................................... 48

D. Drug Related Problems Penggunaan Antihipertensi pada Pasien Diabetes

Melitus dengan Hipertensi ............................................................................. 52

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................................... 57

A. Kesimpulan .................................................................................................... 57

Saran .......................................................................................................................... 58

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 59

LAMPIRAN ............................................................................................................... 62

BIOGRAFI ................................................................................................................. 96

Page 16: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel I. Penggolongan Hipertensi............................................................... 10

Tabel II. Distribusi Golongan, Kelompok dan Nama Generik Obat Gizi dan

Darah pada Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi di IRNA Rumah

Sakit Harapan Magelang ............................................................... 40

Tabel III. Distribusi Golongan, Kelompok dan Nama Generik Obat Sistem

Endokrin Pada Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi di IRNA

Rumah Sakit Harapan Magelang ................................................... 41

Tabel IV. Distribusi Golongan, Kelompok dan Nama Generik Obat Sistem

Kardiovaskular Pada Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi di

IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang ........................................ 42

Tabel V. Distribusi Golongan, Kelompok dan Nama Generik Obat Sistem

Saraf Pusat pada Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi di IRNA

Rumah Sakit Harapan Magelang ................................................... 43

Tabel VI. Distribusi Golongan, Kelompok dan Nama Generik Obat

Antiinfeksi pada Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi di IRNA

Rumah Sakit Harapan Magelang ................................................... 44

Tabel VII. Distribusi Golongan, Kelompok dan Nama Generik Obat Sistem

Saluran Cerna pada Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi di IRNA

Rumah Sakit Harapan Magelang ................................................... 45

Page 17: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

xvii

Tabel VIII. Distribusi Golongan, Kelompok dan Nama Generik Obat Sistem

Saluran Napas pada Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi di IRNA

Rumah Sakit Harapan Magelang ................................................... 46

Tabel IX. Distribusi Golongan, Kelompok dan Nama Generik Obat Sistem

Obstretrik, Ginekologik dan Saluran Kemih Kelamin pada Pasien

DM Tipe 2 dengan Hipertensi di IRNA Rumah Sakit Harapan

Magelang ....................................................................................... 47

Tabel X. Distribusi Golongan, Kelompok dan Nama Generik Obat Otot

Skelet dan Sendi pada Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi di

IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang ........................................ 48

Tabel XI. Distribusi Golongan dan Nama Generik Antihipertensi pada Pasien

DM Tipe 2 dengan Hipertensi di IRNA Rumah Sakit Harapan

Magelang ....................................................................................... 49

Tabel XII. Distribusi Kasus DRPs Pada Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi

di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang .................................... 52

Page 18: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

xviii

DAFTAR GAMBAR

Gambar1. Algoritma Penatalaksanaan Hipertensi dengan Indikasi Spesifik . 15

Gambar 2. Mekanisme Kerja Antihipertensi ................................................... 18

Gambar 3. Distribusi Umur Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi di IRNA

Rumah Sakit Harapan Magelang .................................................. 33

Gambar 4. Distribusi Jenis Kelamin Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi di

IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang ........................................ 35

Gambar 5. Distribusi Lama Perawatan Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi

di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang .................................... 37

Gambar 6. Distribusi Keadaan Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi Pada Saat

Keluar dari Rumah Sakit ............................................................... 38

Gambar 7. Distribusi Kelas Terapi Obat Pada Pasien DM Tipe 2 dengan

Hipertensi di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang .................. 39

Page 19: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

xix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Keterangan dari Rumah Sakit Harapan Magelang ............... 62

Lampiran 2. Blanko Pengambilan Data ............................................................. 63

Lampiran 3. Data Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Hipertensi di IRNA

Rumah Sakit Harapan Magelang ................................................... 64

Lampiran 4. Daftar Aturan Pemakaian Obat ...................................................... 93

Page 20: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

1

BAB I

PENGANTAR

A. Latar Belakang

Diabetes melitus merupakan kelompok penyakit metabolik yang ditandai

dengan hiperglikemia. Diabetes melitus berhubungan dengan abnormalitas

metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Komplikasi kronik dari diabetes

melitus termasuk gangguan mikrovaskuler dan makrovaskuler (Triplitt,

Reasner, Isley, 2008)

Pada tahun 2000, 150 juta penduduk di dunia mengidap diabetes melitus

dan meningkat dua kali lipat pada tahun 2005 (Direktorat Bina Farmasi

Komunitas dan Klinis, 2005). Di Indonesia sendiri diperkirakan terdapat 12,4

juta penderita DM di Indonesia pada tahun 2025 serta menempati urutan ke 4

negara dengan penderita DM terbanyak (Arief, 2007)

Hipertensi berkaitan dengan peningkatan tekanan darah. Menurut The

Joint National Committee on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood

Pressure, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah ≥140/90 mmHg.

Hipertensi lebih sering ditemukan 1,5 sampai 3 kali pada penderita diabetes

dibandingkan dengan yang tanpa diabetes (WHO, 2006b). Hal ini dikarenakan

pada penderita diabetes melitus tipe 2 mengalami resistensi insulin dan atau

hiperinsulinemia. Kondisi hiperinsulinemia dapat menyebabkan retensi natrium,

meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatik dan meningkatkan kalsium

intraseluler yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah (Sassen dan

Maclaughin, 2008).

Page 21: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

2

Penderita diabetes dengan hipertensi mempunyai risiko kematian

kardiovaskular dua kali lebih besar dibandingkan penderita diabetes tanpa

hipertensi. Penderita diabetes dengan hipertensi juga meningkatkan risiko

terjadinya retinopati dan nefropati (WHO, 2006b).

Penurunan tekanan darah telah menunjukkan adanya penurunan

terjadinya komplikasi. Setiap penurunan 10 mmHg tekanan darah sistolik

menunjukkan penurunan kematian sebesar 15%, penurunan komplikasi

diabetes sebesar 12% dan penurunan infark miokard sebesar 11%. Oleh karena

itulah, tatalaksana hipertensi pada diabetes harus lebih agresif dengan target

tekanan darah kurang dari 130/80 mmHg (WHO, 2006a).

Berdasarkan teori mengenai hipertensi, hipertensi mulai muncul pada

usia 55 tahun (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinis, 2006). Menurut

hasil penelitian, diabetes melitus dengan hipertensi paling banyak diderita pada

kelompok usia di atas 50 tahun serta lebih banyak diderita oleh perempuan

(Meirinawati, 2007; Herlinawati, 2009).

Pada penatalaksanaan diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi

digunakan berbagai macam kelas terapi obat. Menurut hasil penelitian

sebelumnya digunakan obat-obat dari 9 kelas terapi obat dengan persentase

pemakaian yang paling banyak adalah golongan kardiovaskular, gizi dan darah,

serta hormonal (Meirinawati, 2007; Herlinawati, 2009).

Antihipertensi yang merupakan drug of choice dalam penatalaksanaan

hipertensi pada diabetes melitus adalah obat golongan penghambat ACE dan

antagonis angiotensin II. Antihipertensi lain yang dapat digunakan sebagai

Page 22: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

3

kombinasi adalah golongan diuretik, beta bloker dan antagonis kalsium

(Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinis, 2006)

Penatalaksanaan hipertensi pada penderita diabetes perlu disertai dengan

evaluasi Drug Related Problems untuk mengetahui kesesuaian terapi yang

diberikan dengan standar yang berlaku dan untuk memilih terapi yang tepat

sesuai kondisi pasien. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi

baik mikrovaskuler maupun makrovaskuler yang merupakan penyakit

komplikasi diabetes (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2006).

Apabila penatalaksanaan hipertensi pada penderita diabetes melitus ini

dilaksanakan dengan baik, akan menghasilkan dampak terapi atau outcome

yang diinginkan. Dampak terapi yang ingin dicapai adalah perbaikan kondisi

pasien. Menurut hasil penelitian sebelumnya, sebagian besar penderita diabetes

melitus dengan hipertensi meninggalkan rumah sakit dalam keadaan membaik

(Meirinawati, 2007; Herlinawati, 2009).

Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Harapan Magelang karena rumah

sakit ini sering menjadi rujukan bagi pasien dengan kondisi ekonomi menengah

ke atas untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai. Angka kejadian diabetes

melitus di rumah sakit ini menurut data dari rekam medis cukup banyak yaitu

130 kasus selama Juli 2009-Juni 2010. Di rumah sakit ini juga belum pernah

ada penelitian mengenai penggunaan antihipertensi pada pasien diabetes tipe 2

dengan hipertensi di IRNA. IRNA lebih dipilih karena di instalasi ini

pemberian obat dan pemantauan obat lebih intensif dan lebih terkontrol

dibanding dengan rawat jalan.

Page 23: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

4

Berdasarkan latar belakang yang telah diungkapkan di atas, penulis

tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai penggunaan antihipertensi

pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi di IRNA Rumah Sakit

Harapan Magelang.

1. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka

permasalahan sehubungan dengan pasien diabetes melitus tipe 2 dengan

hipertensi di IRNA Rumah Sakit Magelang dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. Seperti apakah karakteristik pasien yang meliputi umur, jenis kelamin,

lama perawatan dan keadaan pasien pada waktu keluar dari rumah sakit?

b. Seperti apakah profil obat yang digunakan, meliputi kelas terapi obat, jenis

obat dan aturan pemakaian obat?

c. Seperti apakah profil obat yang digunakan, meliputi golongan obat, jenis

obat dan aturan pemakaian obat?

d. Apakah terdapat drug related problems (DRPs) dalam penggunaan

antihipertensi pada pasien tersebut?

2. Keaslian Penelitian

Penelitian mengenai “Evaluasi Penggunaan Antihipertensi Pada Pasien

Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Hipertensi di IRNA Rumah Sakit Harapan

Magelang” belum pernah dilakukan sebelumnya.

Page 24: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

5

Penelitian sejenis yang pernah dilakukan sebelumnya mengenai diabetes

melitus tipe 2 antara lain:

a. Kajian Pemilihan Obat Hipoglikemik Oral Pada Terapi Pasien Diabetes

Melitus Tipe 2 di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih

Yogyakarta Pada Periode November-Desember 2002 (Wijoyo, 2004)

b. Evaluasi Penatalaksanaan Terapi Pasien Diabetes Melitus Komplikasi

Hipertensi Rawat Inap Periode 2005 Rumah Sakit Panti Rapih

Yogyakarta (Meirinawati, 2007)

c. Evaluasi Pemilihan dan Penggunaan Obat Antidiabetes pada Kasus

Diabetes Melitus Instalansi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih

Yogyakarta Periode Januari-Desember 2005 (Pertiwi, 2007)

d. Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) Pada Pasien Diabetes Melitus

Tipe 2 Komplikasi Hipertensi Di Rumah Sakit Umum Dr Sardjito

Yogyakarta Periode Tahun 2007-2008 (Herlinawati, 2009)

Penelitian ini berbeda dengan penelitian sejenis yang pernah dilakukan

sebelumnya dalam hal lokasi pengamatan, waktu pengamatan, objek

pengamatan dan standar acuan yang digunakan. Penelitian Wijoyo (2004) dan

Pertiwi (2007) mengevaluasi penggunaan antidiabetes sedangkan penelitian

ini mengevaluasi penggunaan antihipertensi.

Standar acuan juga menjadi faktor yang membedakan penelitian ini

dengan penelitian sebelumnya. Standar acuan penelitian ini adalah

Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hipertensi (Anonim, 2006),

Page 25: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

6

Hypertension dalam Pharmacotherapy: A Pathofisiologic Approach (Sassen

dan Maclaughin, 2008), Hypertensive Vascular Disease dalam Harrison

Principles of Internal Medicine (Williams, G.H., 2001), dan Drug

Interactions Facts (Tatro, 2007). Standar acuan penelitian Wijoyo (2004)

adalah Konsensus Pengelolaan Diabetes (PERKENI, 2002), Meirinawati

(2007), Pertiwi (2007) dan Herlinawati (2009) adalah American Diabetes

Association (2005).

Dengan demikian diharapkan hasil penelitian ini akan dapat menjadi

pelengkap dari penelitian terdahulu.

3. Manfaat Penelitian

Diharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan

untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada umumnya serta

meningkatkan ketepatan penggunaan obat hipertensi pada pasien diabetes

melitus tipe 2 pada khususnya di Rumah Sakit Harapan Magelang.

Page 26: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

7

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Penelitian ini secara umum ditujukan untuk mengevaluasi penggunaan

obat hipertensi pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi di

instalasi rawat inap Rumah Sakit Harapan Magelang periode Juli 2009-Juni

2010.

2. Tujuan Khusus

Untuk mencapai tujuan umum tersebut, maka secara khusus penelitian ini

ditujukan untuk mengetahui :

a. Karakteristik pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi meliputi

umur, jenis kelamin, lama perawatan dan keadaan pasien pada saat keluar

dari rumah sakit.

b. Profil obat yang digunakan pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan

hipertensi, meliputi kelas terapi obat, jenis obat dan aturan pemakaian

obat.

c. Profil antihipertensi yang digunakan pada pasien diabetes melitus tipe 2

dengan hipertensi meliputi golongan obat, jenis obat dan aturan pemakaian

obat.

d. Adanya drug related problems (DRPs) dalam penggunaan antihipertensi

pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi antara lain ada

indikasi tanpa obat, membutuhkan obat tambahan, pemilihan obat yang

tidak sesuai, dosis tidak sesuai, efek samping obat dan interaksi obat

Page 27: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

8

sesuai baku standar Hypertensive Vascular Disease dalam Harrison

Principles of Internal Medicine (Williams, G.H., 2001), Pharmaceutical

Care untuk Penyakit Hipertensi (Anonim, 2006), Hypertension dalam

Pharmacotherapy: A Pathofisiologic Approach (Sassen dan Maclaughin,

2008) dan Drug Interactions Facts (Tatro, 2007).

Page 28: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

9

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Diabetes Melitus dan Hipertensi

Diabetes melitus adalah suatu penyakit atau gangguan metabolisme yang

ditandai dengan tingginya kadar glukosa di dalam darah. Hal ini dikarenakan

kelenjar pankreas dari penderita diabetes melitus tidak dapat menghasilkan insulin

dalam jumlah yang cukup atau tubuh penderita yang tidak dapat menggunakan

insulin dengan baik (Richard, 1989).

Gejala-gejala diabetes melitus adalah sering haus (polidipsi), sering merasa

lapar (polifagia) dan sering kencing (poliuria). Diagnosis diabetes ditegakan

dengan hasil pemeriksaan darah dimana kadar glukosa darah pada saat puasa

diatas 126 mg/dl dan glukosa darah 2 jam sesudah makan di atas 200 mg/dl

(Tandra, 2008). Kadar glukosa darah puasa normal adalah 70-110 mg/dl.

Sedangkan kadar glukosa darah 2 jam setelah makan adalah < 140 mg/dl (Sutedjo,

2009).

Diabetes melitus diklasifikasikan menjadi tiga yaitu diabetes melitus tipe 1,

diabetes melitus tipe 2 dan diabetes melitus gestasional. Di antara ketiga jenis

diabetes ini yang akan dibahas lebih lanjut adalah diabetes melitus tipe 2.

Diabetes melitus tipe 2 sering juga disebut dengan DM tidak tergantung

insulin (Non Insulin Dependent Diabetes Melitus). Penderita DM tipe ini sekitar

90-95% dari semua kasus DM dan umumnya ditemukan pada orang berusia di

atas 45 tahun. DM tipe 2 ini dapat disebabkan oleh faktor genetik dan pengaruh

Page 29: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

10

lingkungan seperti obesitas, diet tinggi lemak dan rendah serat, serta

kurangnya aktifitas fisik (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2005).

Pada diabetes melitus tipe 2 sering disertai dengan hipertensi yang dapat

menyebabkan timbulnya komplikasi pada penderita diabetes. Hipertensi atau

tekanan darah tinggi merupakan penyakit yang dapat memicu terjadinya serangan

jantung, retinopati, kerusakan ginjal atau stroke (Tandra, 2008).

Klasifikasi hipertensi berdasarkan tingginya tekanan darah pada penderita

dengan usia 18 tahun ke atas menurut The Joint National Committee on Detection,

Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure adalah sebagai berikut :

Tabel I. Penggolongan Hipertensi

Kategori Tekanan Darah Diastolik

(mmHg)

Tekanan Darah Sistolik

(mmHg)

Normal < 80 < 120

Prehipertensi 80-89 120-139

Hipertensi stage 1 90-99 140-159

Hipertensi stage 2 ≥100 ≥160

(Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2006)

Sedangkan berdasarkan etiologinya, hipertensi dibagi menjadi dua yaitu

hipertensi esensial dan hipertensi sekunder. Hipertensi esensial atau sering disebut

hipertensi primer atau idiopatik adalah hipertensi yang terjadi tanpa penyebab

yang spesifik. Lebih dari 90% kasus hipertensi termasuk dalam golongan ini.

Hipertensi sekunder dapat disebabkan oleh penyakit ginjal (hipertensi renal),

penyakit endokrin (hipertensi endokrin), obat, dan lain-lain (Setiawati dan

Bustami, 1995).

Page 30: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

11

B. Karakteristik Pasien Diabetes Melitus

Diabetes melitus biasa ditemukan pada usia di atas 45 tahun (Direktorat

Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2005). Sedangkan hipertensi mulai timbul

pada usia 55 tahun (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinis, 2006).

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, diabetes melitus paling banyak diderita

pada kelompok usia di atas 50 tahun dan didominasi oleh perempuan. Pada usia

yang lebih lanjut yaitu di atas 70 tahun, jumlah penderita diabetes melitus disertai

hipertensi sudah berkurang (Meirinawati, 2007; Herlinawati, 2009).

Dari hasil penelitian sebelumnya menyatakan lama perawatan yang paling

banyak (46,67%) adalah 4-6 hari dengan 66,67% hingga 81,3% keadaan pasien

membaik saat meninggalkan rumah sakit (Meirinawati, 2007; Herlinawati, 2009).

C. Profil Obat yang Digunakan Pada Penatalaksanaan DM Tipe 2 dengan

Hipertensi

Tujuan utama terapi dari diabetes dengan hipertensi adalah mengurangi

morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan hipertensi serta

meningkatkan kualitas hidup pasien (Motala, 1996).

Sasaran atau target penurunan tekanan darah pada pasien DM yang disertai

hipertensi adalah dibawah 130/80mmHg. Strategi terapi yang dapat dilakukan

dengan dua cara yaitu non-farmakologi dengan mengubah pola hidup dan

farmakologi dengan obat antihipertensi oral. Modifikasi gaya hidup saja tidak

cukup untuk pasien diabetes dengan hipertensi. Sedangkan pemilihan obatnya

Page 31: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

12

tergantung pada tingginya tekanan darah dan adanya indikasi (Direktorat Bina

Farmasi Komunitas dan Klinik, 2005).

Terapi non farmakologi yang dapat dilakukan adalah dengan mengubah

gaya hidup menjadi lebih sehat. Modifikasi pola hidup yang dapat dilakukan

untuk menurunkan kadar glukosa dan tekanan darah antara lain menurunkan berat

badan, melakukan latihan fisik seperti aerobik secara teratur, mengurangi

konsumsi garam, kolesterol, lemak jenuh dan membatasi minuman beralkohol

(maksimal 20-30ml sehari). Bagi perokok sebaiknya berhenti merokok (Setiawati

dan Bustami, 1995).

Terapi farmakologi dilakukan dengan pemberian obat-obatan yang dapat

mengobati dan mencegah penyakit menjadi lebih parah. Pada penelitian

sebelumnya diberikan obat dari 9 kelas terapi obat yaitu golongan kardiovaskular,

hormonal, gizi-darah, sistem saraf pusat, sistem saluran cerna, sistem saluran

nafas, antiradang, analgesik dan antibiotik (Meirinawati, 2007; Herlinawati,

2009).

Pemberian obat golongan gizi dan darah ditujukan untuk meningkatkan

kondisi pasien sehingga proses penyembuhan pasien menjadi lebih cepat

(Meirinawati, 2007). Menurut hasil penelitian Herlinawati (2009), obat golongan

ini digunakan pada semua pasien. Menurut hasil penelitian Meirinawati (2007)

persentase penggunaan obat golongan ini sebesar 43,33%.

Pemberian obat golongan sistem saraf pusat bertujuan untuk mengurangi

rasa cemas pada pasien sehingga pasien menjadi tenang dan dapat beristirahat.

Istirahat yang cukup dibutuhkan oleh pasien dalam proses penyembuhan suatu

Page 32: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

13

penyakit (Widyastuti, 2007). Menurut hasil penelitian Herlinawati (2009) dan

Meirinawati (2007) persentase penggunaan obat golongan sistem saraf pusat

berturut-turut adalah 21,88% dan 36,67%.

Obat golongan antiinfeksi dapat digunakan untuk mengobati infeksi bakteri

yang menyertai penderita diabetes melitus seperti ulkus dan ganggren supaya

tidak menjadi lebih parah. Pasien diabetes melitus juga rentan terhadap penyakit

infeksi terutama infeksi saluran kemih dan infeksi saluran nafas (Herlinawati,

2009). Pada penelitian sebelumnya obat golongan ini digolongkan menjadi

golongan antibiotik dengan persentase pemakaiannya pada hasil penelitian

Herlinawati (2009) dan Meirinawati (2007) masing-masing adalah 62,5% dan

56,67%.

Pemberian golongan sistem saluran cerna perlu diberikan kepada pasien

diabetes melitus untuk mengantisipasi efek samping dari antidiabetik. Hasil

penelitian Herlinawati (2009) menunjukan persentase penggunaan obat golongan

ini adalah 34,38% sedangkan menurut Meirinawati (2007) adalah 30%.

Obat golongan sistem saluran napas digunakan untuk mengobati penyakit

penyerta berupa asma dan batuk (Herlinawati, 2009). Menurut hasil penelitian

Herlinawati (2009) dan Meirinawati (2007) masing-masing adalah 12,5% dan

10%.

Obat golongan sistem obstretik, ginekologik dan saluran kemih digunakan

pada pasien dengan gangguan pada saluran kemih. Pada penelitian sebelumnya

tidak terdapat obat golongan ini karena sistem penggolongan obat yang berbeda.

Page 33: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

14

Pemberian obat golongan otot skelet dan sendi diberikan pada pasien

dengan nyeri sendi dan nyeri otot (Widyastuti, 2007). Pada penelitian Meirinawati

(2007) obat golongan ini digolongkan menjadi golongan obat anti radang,

reumatik, encok dengan persentase penggunaan 10%. Sedangkan pada penelitian

Herlinawati (2009) persentase penggunaannya sebesar 12,5%.

D. Profil Antihipertensi yang Digunakan Pada Penatalaksanaan DM Tipe 2

dengan Hipertensi

Golongan obat yang dapat dipakai untuk mengobati hipertensi pada

penyandang diabetes dengan hipertensi adalah antihipertensi golongan

Angiotensin Converting Enzym Inhibitor (penghambat ACE), Angiotensin

Receptors Blocker (ARB), diuretika, β-bloker, dan antagonis kalsium (Sassen dan

MacLaughin, 2008).

1. Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors (penghambat ACE)

Mekanisme kerja penghambat ACE adalah dengan mengurangi

pembentukan angiotensin II sehingga menimbulkan terjadinya vasodilatasi

dan penurunan sekresi aldosteron yang menyebabkan ekskresi natrium dan air

serta terjadi retensi kalium. Hal ini mengakibatkan penurunan tekanan darah.

Penghambat ACE merupakan golongan antihipertensi tahap pertama yang

efektif untuk hipertensi ringan, sedang dan berat. Obat yang termasuk

golongan ini adalah kaptopril, enalapril, lisinopril, ramipril, kuinapril,

perindopril, silazapril, benazepril, delapril dan fosinopril (Setiawati dan

Bustami, 1995).

Page 34: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

15

Gambar 1. Algoritma Penatalaksanaan Hipertensi dengan Indikasi Spesifik

(Sassen dan MacLaughin, 2008)

Penghambat ACE tidak mempunyai efek samping pada lipid atau kadar

glukosa dan dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Efek samping yang

ditimbulkan berupa hiperkalemia pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal

(Motala, 1996) Obat golongan penghambat ACE dapat berinteraksi dengan

alopurinol yang menyebabkan efek antihipertensi dari golongan penghambat

ACE berkurang (Tatro, 2007)

Page 35: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

16

Pada hasil penelitian sebelumnya, presentase penggunaan antihipertensi

golongan ini cukup tinggi dengan penggunaan paling banyak kaptopril yaitu

21,9% dan 36,67% (Meirinawati, 2007; Herlinawati, 2009).

2. Angiotensin Receptor Blockers (ARBs) atau Antagonis Angiotensin II

Antagonis Angiotensin II dapat mengurangi komplikasi diabetes dan

merupakan terapi pilihan untuk mengontrol hipertensi pada pasien dengan

diabetes (Whalen dan Stewart, 2008).

Sifat obat golongan ini mirip dengan golongan Penghambat ACE, tetapi

obat ini tidak memecah bradikinin sehingga tidak menimbulkan batuk kering

persisten yang merupakan efek samping dari penghambat ACE. Hal ini

membuat obat golongan ini dapat digunakan sebagai alternatif dari obat

golongan penghambat ACE pada pasien yang tidak dapat mentoleransi batuk

kering persisten akibat penggunaan obat golongan penghambat ACE (Neal,

2006)

Sama halnya dengan obat golongan penghambat ACE, obat golongan

ARB ini juga dapat berinteraksi dengan alopurinol yang menyebabkan efek

antihipertensi dari golongan ARB berkurang (Tatro, 2007)

Pada hasil penelitian Meirinawati (2007), persentase penggunaan obat

golongan ini cukup rendah yaitu sebesar 13,33% dengan penggunaan losartan

pada 1 pasien dan 3 pasien menggunakan valsartan. Hal ini berbeda jauh

dengan hasil penelitian Herlinawati (2009). Persentase penggunaan

antihipertensi golongan ini paling besar yaitu 78,2%. Persentase paling banyak

Page 36: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

17

adalah pada penggunaan valsartan yaitu sebesar 71,9% (Meirinawati, 2007;

Herlinawati, 2009).

3. Diuretika

Obat golongan ini menurunkan tekanan darah dengan cara

meningkatkan ekskresi natrium, klorida dan air sehingga mengurangi volume

plasma dan cairan ekstrasel. Diuretika secara tunggal dapat digunakan untuk

mengobati hipertensi essensial ringan dan sedang. Pada hipertensi yang lebih

berat dapat digunakan kombinasi diuretika dengan obat simpatolitik dan

vasodilator (Benowitz dan Bourne, 1989).

Obat golongan diuretika kuat, misalnya furosemid, dapat digunakan

untuk pasien hipertensi dengan gangguan fungsi ginjal atau payah jantung.

Diuretika hemat kalium, seperti spironolakton, merupakan diuretika lemah

yang berguna untuk mencegah terjadinya kekurangan kalium sebagai akibat

pemberian diuretika yang lain (Setiawati dan Bustami, 1995).

Dari hasil penelitian sebelumnya persentase penggunaan diuretika

adalah sebesar 16,33% dan 50%. Pada penelitian Meirinawati (2007),

persentase penggunaan furosemid adalah 13,33% dan persentase penggunaan

diuretika tiazid hanya 3,33%. Pada penelitian Herlinawati (2009), persentase

penggunaan furosemid dan hidroklorotiazid masing-masing adalah 15,6% dan

34,4%.

Page 37: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

18

Gambar 2. Mekanisme Kerja Antihipertensi

(Sassen dan MacLaughin, 2008)

4. Penghambat beta atau β-bloker

Mekanisme antihipertensi dari β-bloker masih belum jelas, namun

sebagai antihipertensi diperkirakan bekerja dengan cara mengurangi denyut

jantung dan kontraktilitas miokard, menghambat pelepasan norepinefrin

melalui hambatan reseptor β-2 prasinaps serta menghambat sekresi renin

melalui hambatan reseptor β-1 di ginjal (Setiawati dan Bustami, 1995).

Obat golongan ini berfungsi untuk mengobati hipertensi, nyeri dada,

dan detak jantung yang tidak teratur serta dapat membantu mencegah

Page 38: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

19

serangan jantung berikutnya. Obat ini bekerja dengan memblok efek

adrenalin dan bekerja di jantung untuk meringankan kerja jantung sehingga

dapat menurunkan tekanan darah (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan

Klinik, 2006). Contoh obat golongan ini adalah propanolol, nadolol, atenolol

dan pindolol (Setiawati dan Bustami, 1995).

Obat golongan penyekat beta harus digunakan dengan hati-hati pada

penderita diabetes melitus karena obat ini dapat menutupi terjadinya

hipoglikemia terselubung apabila digunakan bersamaan dengan antidiabetika

oral. Selain itu, efek antihipertensi dari golongan ini dapat berkurang akibat

penggunaan bersamaan dengan antiinflamasi nonsteroid. Bradikardi dan

depresi miokardial dapat terjadi apabila digunakan bersama dengan golongan

antagonis kalsium (Tatro, 2007)

Pada hasil penelitian sebelumnya, penggunaan antihipertensi golongan

ini sangat rendah. Bahkan hasil penelitian Meirinawati (2007), tidak

ditemukan adanya penggunaan antihipertensi golongan ini. Hasil penelitian

Herlinawati (2009) menunjukan persentase penggunaan antihipertensi ini

adalah sebesar 6,2% dengan penggunaan bisoprolol dan propanolol

(Meirinawati, 2007; Herlinawati, 2009).

5. Antagonis Kalsium

Antagonis kalsium dapat menurunkan kejadian kardiovaskular pada

pasien diabetes dengan hipertensi. Antagonis kalsium dengan β-bloker,

penghambat ACE atau α-bloker dapar memberikan efek yang baik. Namun,

Page 39: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

20

kombinasi dengan diuretika hanya memberikan efek yang kecil (Setiawati dan

Bustami, 1995).

Antagonis kalsium menurunkan tekanan darah dengan memperlambat

pergerakan kalsium ke dalam sel jantung dan dinding arteri yang membawa

darah dari jantung ke jaringan sehingga arteri menjadi relaks dan dapat

menurunkan tekanan dan aliran darah di jantung (Direktorat Bina Farmasi

Komunitas dan Klinik, 2006).

Antagonis kalsium golongan dihidropiridon mempunyai efek netral

terhadap parameter metabolik baik pada penderita diabetes tipe 2 dengan

hipertensi. Dalam sebuah studi singkat menggunakan diltiazem dan verapamil

(antagonis kalsium golongan non-dihidropiridon) menurunkan proteinuria

pada pasien dengan nefropati diabetes. Namun, dalam studi yang lebih lama

tidak menunjukan penurunan laju filtrasi glomerulus (Pacheco, Parot, Raskin,

2002).

Penggunaan antagonis kalsium pada penelitian sebelumnya cukup

tinggi. Pada penelitian Meirinawati (2007), persentase penggunaan paling

banyak adalah amlodipin besilat yaitu 23,34%. Persentase penggunaan

nifedipin dan diltiazem masing-masing adalah 16,33% dan 3,33%. Menurut

penelitian Herlinawati (2009), persentase penggunaan nifedipin, amlodipin

dan diltiazem berturut-turut adalah 12,5%, 9,4% dan 9,4% (Meirinawati,

2007; Herlinawati, 2009)

Page 40: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

21

E. Drug Related Problems (DRPs)

Drug Related Problems (DRPs) atau sering disebut dengan Drug

Teraphy Problems (DTP) merupakan masalah yang sering timbul dalam

pengobatan dan tidak diharapkan oleh pasien. DRPs dibagi menjadi dua

kelompok yaitu Actual DRPs dan Potential DRPs. Actual DRPs adalah masalah

yang benar-benar terjadi terkait dengan pengobatan yang diberikan kepada

pasien. Sedangkan Potential DRPs adalah masalah yang diduga akan terjadi

berkaitan dengan pengobatan yang akan diterima oleh pasien tersebut. Kedua

jenis DRPs ini membutuhkan campur tangan farmasis untuk mengatasinya

(Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2005).

Masalah yang termasuk dalam DRPs adalah sebagai berikut :

1. Ada obat tanpa indikasi

Obat yang digunakan dalam terapi tidak dibutuhkan karena pasien tidak

mengalami indikasi klinis dari obat bersangkutan pada saat menjalani terapi.

Penyebabnya adalah tidak adanya indikasi medis yang tepat untuk terapi

obat yang diberikan. Misalnya pasien mengalami stress sehingga tekanan

darahnya mencapai 140/80 mmHg dan diberikan antihipertensi. Sebenarnya

pemberian antihipertensi ini kurang tepat karena tekanan darah pasien

melonjak disebabkan oleh stress sehingga cukup dengan terapi non

farmakologis saja (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2005).

Selain itu dapat juga disebabkan adanya penggunaan obat yang bersifat

polifarmasi. Misalnya pasien mengalami batuk dan diberi obat batuk yang

sudah terdapat parasetamol untuk mengatasi demam pasien. namun, pasien

Page 41: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

22

diberikan lagi parasetamol dalam bentuk tablet (Cipolle, Linda, Peter,

2004).

Pemberian obat tanpa indikasi ini tentunya akan merugikan pasien

secara finansial karena membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan.

DRPs kategori ini juga dapat menimbulkan dampak negatif pada pasien

berupa efek samping atau toksisitas (Direktorat Bina Farmasi Komunitas

dan Klinis, 2005).

2. Membutuhkan obat tambahan

Obat tambahan dibutuhkan untuk mengobati atau mencegah

berkembangnya penyakit atau kondisi medis. Obat tambahan juga dapat

terjadi pada kondisi medis yang membutuhkan terapi obat tambahan untuk

memperoleh efek sinergis atau adiktif (Cipolle, dkk, 2004).

Misalnya pada pasien diabetes melitus dengan hipertensi yang

memerlukan antidiabetes dan antihipertensi. Namun dalam kenyataannya,

pasien tidak menerima antihipertensi padahal tekanan darah pasien cukup

tinggi. Selain itu, pasien diabetes melitus dengan hipertensi rentan terhadap

penyakit kardiovaskular misalnya jantung sehingga diperlukan obat yang

dapat menjaga jantung untuk mencegah penyakit jantung. Jika tekanan

darah tidak kunjung mencapai target yang diharapkan, dibutuhkan

antihipertensi lain sebagai kombinasi (Direktorat Bina Farmasi Komunitas

dan Klinis, 2005).

Page 42: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

23

3. Pemilihan obat yang tidak tepat

Pemilihan obat yang kurang tepat meliputi obat yang digunakan tidak

atau kurang efektif (pasien menerima obat tetapi bukan yang paling efektif

untuk indikasi yang diobati), pasien alergi terhadap obat yang diberikan,

pasien resisten terhadap obat yang digunakan, pemilihan bentuk sediaan

yang kurang tepat dan adanya polifarmasi yaitu pemberian berbagai macam

obat dengan komposisi yang sama secara bersamaan (Direktorat Bina

Farmasi Komunitas dan Klinik, 2005).

4. Dosis tidak sesuai

Obat dapat menimbulkan respon yang diinginkan jika dosis yang

diberikan dalam jumlah yang cukup. Oleh karena itu, evaluasi pada dosis

obat yang diberikan meliputi jumlah dosisnya yaitu apakah dosis terlalu

rendah, cukup atau terlalu tinggi. Jika dosis terlalu rendah efek obat yang

diharapkan tidak dapat tercapai. Sedangkan jika dosis terlalu tinggi dapat

menyebabkan toksisitas. Selain pemberian dosis, interaksi obat juga dapat

menyebabkan penurunan efek terapi. Dalam dosis yang cukup, obat dapat

menimbulkan efek samping yaitu efek yang tidak diharapkan dalam terapi

(Cipolle, dkk, 2004).

Hasil penelitian terdahulu (Meirinawati, 2007) menunjukan adanya kasus

DRPs sebanyak 7 kasus dari 30 kasus dengan rincian 6 kasus pilihan obat tidak

tepat dan 2 kasus dosis terlalu rendah. Sedangkan hasil penelitian Herlinawati

(2009) menunjukan adanya 6 kasus ADR dan interaksi obat, 2 kasus dosis terlalu

Page 43: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

24

tinggi, 2 kasus obat kurang efektif, 1 kasus tidak butuh obat dan 4 kasus butuh

obat dari 32 kasus.

F. Keterangan Empiris

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai

penggunaan antihipertensi pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi di

IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang, meliputi karakteriksik pasien, profil obat,

profil antihipertensi dan Drug Related Problems (DRPs).

.

Page 44: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

25

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan penelitian

deskriptif yang bersifat retrospektif. Observasional karena dalam penelitian ini

tidak terdapat perlakuan terhadap subyek uji. Deskriptif karena penelitian ini

diarahkan untuk mendeskripsikan atau menguraikan suatu keadaan secara

obyektif. Retrospektif karena data yang digunakan dalam penelitian diambil

dengan melakukan penelusuran terhadap dokumen terdahulu, yaitu data lembar

catatan rekam medik pasien (Notoatmodjo, 2005)

B. Definisi Operasional

1. Pasien adalah penyandang diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi yang

menjalani perawatan di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang periode Juli

2009-Juni 2010.

2. IRNA adalah instalasi rawat inap.

3. Kritertia hipertensi ditentukan dengan melihat diagnosis masuk, diagnosis

kerja dan diagnosis keluar serta tingginya tekanan darah pasien.

4. Karakteristik pasien yang dimaksud meliputi umur, jenis kelamin, lama

perawatan di rumah sakit dan keadaan pasien pada saat keluar dari rumah

sakit.

5. Profil obat yang dimaksud adalah kelas terapi obat, jenis obat dan aturan

pemakaian obat.

Page 45: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

26

6. Obat yang dievaluasi adalah obat antihipertensi yang diberikan pada

penyandang diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi.

7. Drug related problems (DRPs) yang dimaksud meliputi ada indikasi tanpa

obat, membutuhkan obat tambahan, pemilihan obat yang tidak tepat, dosis

terlalu rendah dan dosis terlalu tinggi yang dikaji berdasarkan Hypertensive

Vascular Disease dalam Harrison Principles of Internal Medicine (Williams,

G.H., 2001) dan Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hipertensi (Direktorat

Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2006) serta interaksi obat dan efek

samping obat yang dikaji berdasarkan Drug Interaction Facts (Tatro, 2007)

8. Efek samping obat yang dimaksud adalah efek samping yang timbul akibat

penggunaan antihipertensi yang dikeluhkan pasien selama dirawat di rumah

sakit dan tercatat di lembar rekam medis.

9. Interaksi obat yang dimaksud adalah kemungkinan adanya interaksi antara

antihipertensi dengan obat lain yang diberikan selama pasien dirawat di rumah

sakit.

10. Nama obat yang dimaksud adalah nama generik, kecuali obat yang

mengandung lebih dari 2 macam zat aktif digunakan nama zat aktif utama

pada obat paten kombinasi.

11. Diagnosis masuk adalah diagnosis yang ditulis pada rekam medis saat pasien

masuk rumah sakit.

12. Diagnosis kerja adalah diagnosis yang ditulis pada rekam medis selama pasien

dirawat di rumah sakit.

Page 46: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

27

13. Diagnosis keluar adalah diagnosis yang ditulis pada rekam medis saat pasien

keluar dari rumah sakit.

C. Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi

yang menjalani perawatan di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang periode Juli

2009-Juni 2010.

D. Bahan Penelitian

Bahan penelitian yang digunakan adalah data rekam medis pasien diabetes

melitus tipe 2 dengan hipertensi di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang

periode Juli 2009-Juni 2010.

E. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di IRNA Rumah Sakit Harapan, Jalan P.

Senopati 11 Magelang.

F. Tata Cara Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap sebagai berikut:

1. Tahap Perencanaan

Perencanaan dilakukan dengan melakukan studi pustaka mengenai

diabetes khususnya diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi, penentuan

masalah beserta cara analisis masalah, dan perijinan yang berkaitan dengan

Page 47: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

28

pengambilan rekam medik di instalasi rawat inap Rumah Sakit Harapan

Magelang. Kemudian dilanjutkan dengan pencarian informasi mengenai

kemungkinan diadakannya penelitian di Rumah Sakit Harapan Magelang.

2. Tahap Pengumpulan Data

Pengumpulan data didahului dengan mencari tahu jumlah angka kejadian

diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi di instalasi rawat inap Rumah Sakit

Harapan Magelang periode Juli 2009-Juni 2010 yang diperoleh dari Sub-

Bagian Rekam Medik. Dari Sub-Bagian Rekam Medik didapatkan printout

yang berisi nomor rekam medik, hasil diagnosis, tanggal keluar dan keadaan

pasien saat keluar dari rumah sakit. Data tersebut digunakan untuk

mendapatkan data pasien diabetes melitus tipe 2 diserai hipertensi dengan

menelusuri lembar rekam medik secara keseluruhan.

Pada saat pengumpulan data digunakan blanko yang berisi identitas

pasien, diagnosis masuk, diagnosis kerja, diagnosis keluar, obat yang

diberikan, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan keluhan pasien

saat masuk rumah sakit serta selama pasien menjalani perawatan. Identitas

pasien berisi nama, umur dan jenis kelamin, kelas perawatan, tanggal masuk

dan tanggal keluar pasien serta lama perawatan. Kategori obat yang diberikan

berisi jenis obat, dosis obat, aturan pemakaian obat, waktu pemakaian obat

dan lama pemakaian obat. Pemeriksaan fisik berisi pemeriksaan tekanan

darah, suhu tubuh dan denyut nadi. Pemeriksaan laboratorium yang

digunakan meliputi glukosa darah puasa, glukosa darah post prandial,

Page 48: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

29

glukosa darah sewaktu, SGOT, SGPT, ureum, kreatinin, asam urat, kolesterol

total, HDL, LDL, trigliserida.

3. Tahap Pengolahan Data

Dari sub bagian rekam medik didapatkan 130 kasus diabetes melitus tipe

2. Dari 130 kasus tersebut didapatkan 29 kasus diabetes melitus tipe 2 dengan

hipertensi. Data yang didapatkan dari 29 kasus tersebut kemudian dilakukan

pengolahan data dengan menyusun dan menggolongkan data dalam kategori-

kategori secara tabel. Kategori yang dimaksud adalah karakteristik pasien,

profil obat, jenis DRPs dan dampak terapi. Data kualitatif akan disajikan

dalam bentuk uraian sedangkan data kuantitatif akan disajikan dalam bentuk

tabel dan grafik. Kemudian berdasarkan data tersebut akan dilakukan

pembahasan secara naratif.

G. Tata Cara Analisis Hasil

Hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif untuk

mengetahui pemilihan dan penggunaan obat pada pasien diabetes melitus tipe

2 dengan hipertensi di instalasi rawat inap Rumah Sakit Harapan Magelang.

Data yang telah diolah dibuat persentase, dievaluasi menggunakan teori yang

ada, penelitian sebelumnya dan guideline yang ada, serta disajikan dalam

bentuk narasi deskriptif sederhana, diagram, dan tabulasi.

Page 49: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

30

Data yang didapatkan dievaluasi berdasarkan:

1. Distribusi kelompok umur pasien

Kelompok umur pasien dibagi secara rasional menjadi 5 kelompok

yaitu kelompok umur 35-44 tahun, 45-54 tahun, 55-64 tahun, 65-74 tahun

dan 75-84 tahun. Perhitungan dilakukan pada masing-masing kelompok,

dibagi dengan jumlah pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi dan

dikali 100%.

2. Distribusi jenis kelamin pasien

Kelompok jenis kelamin terdiri dari perempuan dan laki-laki.

Perhitungan dilakukan pada masing-masing kelompok, dibagi dengan

jumlah pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi dan dikali 100%.

3. Distribusi lama rawat pasien

Lama perawatan dihitung dari pasien masuk rumah sakit hingga pasien

keluar dari rumah sakit. Setelah itu dikelompokan berdasarkan lama

perawatannya dan dilakukan perhitungan pada masing-masing kelompok,

dibagi dengan jumlah pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi dan

dikali 100%

4. Distribusi keadaan pasien pada saat keluar dari rumah sakit

Keadaan pasien pada saat keluar dari rumah sakit didapat dari lembar

rekam medis pasien yang berfungsi untuk mengetahui kondisi pasien saat

Page 50: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

31

meninggalkan rumah sakit. Kelompok keadaan pasien ini dibagi menjadi

dua kelompok yaitu meninggal dan membaik. Perhitungan dilakukan pada

masing-masing kelompok dan dibagi dengan jumlah pasien diabetes

melitus tipe 2 dengan hipertensi.

5. Distribusi kelas terapi obat

Obat yang digunakan pada terapi dikelompokan berdasarkan kelas

terapi obat sesuai dengan IONI 2008 dan didapatkan 9 kelas terapi obat

yaitu sistem endokrin, sistem kardiovaskular, sistem saluran cerna, sistem

saluran napas, sistem saraf pusat, infeksi, obstretik-ginekologik-saluran

kemih, gizi-darah, dan skelet-sendi. Perhitungan dilakukan pada setiap

kelompok kelas terapi obat dengan menjumlah kasus yang menggunakan

kelas terapi obat yang dimaksud, dibagi dengan jumlah total kasus dan

dikali 100%.

6. Distribusi jenis DRPs

Data yang diperoleh kemudian dianalisis adanya DRPs dan

dikelompokan menjadi 6 kategori DRPs. Perhitungan dilakukan dengan

menjumlah kasus DRPs pada seriap kategori dibagi dengan jumlah total

kasus dan dikali 100%.

Page 51: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

32

H. Kelemahan dan Kesulitan Penelitian

Kelemahan penelitian ini adalah tidak dilakukan cross check yang dapat

mempertajam analisis. Penelitian ini juga hanya membahas drug related problems

mengenai antihipertensi sehingga tidak diketahui DRPs secara keseluruhan.

Pada saat pengambilan data menggunakan rekam medis, peneliti mengalami

beberapa kesulitan. Kesulitan yang pertama adalah peneliti kurang dapat

membaca dan memahami tulisan dokter yang ada di rekam medis. Kesulitan yang

kedua adalah kesulitan menemukan rekam medis yang dibutuhkan karena sedang

dipakai pihak rumah sakit.

Page 52: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

33

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Pasien

Selama periode Juli 2009 hingga Juni 2010 di IRNA Rumah Sakit Harapan

Magelang ditemukan 29 pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi. Pasien

tersebut kemudian dikelompokkan berdasarkan umur, jenis kelamin, lama

perawatan dan kondisi pasien saat keluar dari rumah sakit.

1. Umur Pasien

Dari data pasien yang diperoleh, pasien dikelompokan secara rasional

menjadi 5 kelompok umur yaitu kelompok umur 35-44 tahun, 45-54 tahun,

55-64 tahun, 65-74 tahun, dan 75-84 tahun. Penderita paling banyak yaitu

sebanyak 38% terdapat pada kelompok usia 65-74 tahun. Kelompok usia

yang lebih lanjut lagi yaitu kelompok usia 75-84 tahun yang mengidap

diabetes dengan hipertensi hanya 10%. Persentase penderita pada kelompok

usia yang paling muda yaitu 35-44 tahun paling rendah yaitu 7%. Kelompok

usia 45-54 tahun sebesar 14% dan kelompok usia 55-64 tahun sebesar 31%.

Gambar 3. Distribusi Umur Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi di IRNA

Rumah Sakit Harapan Magelang

7%14%

31%38%

10% 35-44

45-54

55-64

65-74

75-84

Page 53: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

34

Kelompok usia yang paling banyak mengidap penyakit diabetes melitus

tipe 2 dengan hipertensi adalah pada kelompok umur 65-74 tahun yaitu

sebanyak 38%. Hal ini dikarenakan terjadinya penurunan fungsi tubuh pada

pasien usia lanjut. Sedangkan untuk usia yang lebih lanjut yaitu lebih dari 75

tahun kejadian diabetes melitus lebih sedikit yaitu 10% dikarenakan banyak

penderita yang sudah tidak mampu bertahan mengingat adanya teori yang

menyebutkan bahwa angka harapan hidup di Indonesia mencapai 70 tahun

(Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2006)

Bina Farmasi Komunitas dan Klinik (2006) menyatakan hipertensi mulai

muncul pada usia 55 tahun. Hasil penelitian menunjukkan penderita diabetes

melitus dengan hipertensi mulai melonjak pada kelompok usia 55-64 tahun.

Pada kelompok usia sebelumnya, yaitu kelompok usia 45-54 tahun,

ditemukan persentase kejadian sebesar 13%, sedangkan pada kelompok usia

55-64 tahun, angka persentase melonjak lebih dari dua kali lipat yaitu 31%.

Hal ini menunjukan bahwa hipertensi mulai muncul pada usia 55 tahun.

Kesimpulannya, hasil penelitian ini telah sesuai dengan teori yang ada.

Menurut hasil penelitian Meirinawati (2007) menyatakan bahwa

kelompok usia yang paling banyak menderita diabetes melitus dengan

hipertensi adalah kelompok usia 55-64 tahun yaitu sebesar 36,67%.

Kelompok usia 65-74 tahun menduduki peringkat kedua tertinggi yaitu

sebesar 26,67%. Kelompok usia yang lebih lanjut yaitu 75 tahun ke atas

terdapat 13,33%. Hasil penelitian Herlinawati (2009) menyatakan penderita

paling banyak sebesar 40,6% terdapat pada kelompok usia 50-59 tahun dan

Page 54: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

35

peringkat kedua pada kelompok usia 60-69 tahun sebesar 34,4%. Pada

kelompok usia lebih lanjut yang terdapat pada kategori 70-79 tahun dan 80-89

tahun hanya ditemukan sebesar 9,4%.

Hasil kedua penelitian sejenis tersebut hampir sama dengan hasil

penelitian ini yaitu penderita diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi paling

banyak pada kelompok usia lanjut yaitu di atas 55 tahun. Selain itu, dari

kedua penelitian tersebut juga didapat bahwa pada usia yang lebih lanjut yaitu

70 tahun ke atas persentasenya cenderung menurun. Hal ini dikarenakan

banyak penderita yang sudah tidak mampu bertahan mengingat adanya teori

yang menyebutkan bahwa angka harapan hidup di Indonesia mencapai 70

tahun.

2. Jenis Kelamin Pasien

Dari data yang diperoleh didapatkan persentase laki-laki yang mengidap

diabetes dengan hipertensi lebih banyak yaitu 59%. Sedangkan persentase

perempuan yang mengidap diabetes dengan hipertensi adalah 41%.

Gambar 4. Perbandingan Jenis Kelamin Pasien DM Tipe 2

dengan Hipertensi di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang

59%

41% laki-laki

perempuan

Page 55: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

36

Menurut Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik (2006), pada

usia dibawah 55 tahun, laki-laki lebih banyak menderita hipertensi

dibandingkan perempuan. Sedangkan pada usia antara 55-74 tahun,

perempuan sedikit lebih banyak menderita hipertensi dibanding laki-laki.

Hasil penelitian menunjukan, persentase laki-laki yang menderita diabetes

melitus dengan hipertensi lebih banyak dibandingkan perempuan. Hal ini

kemungkinan disebabkan oleh kebiasaan merokok dan konsumsi minuman

beralkohol yang lebih banyak dilakukan laki-laki dibanding perempuan.

Berdasarkan hasil penelitian Meirinawati (2007) didapatkan hasil bahwa

persentase penderita perempuan lebih besar dibandingkan dengan laki-laki.

Perbandingan persentase perempuan dengan laki-laki adalah 63,33% :

36,67%. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian Herlinawati (2009)

didapatkan perbandingan persentase perempuan dan laki-laki sebesar 53,1% :

46,9%. Hasil penelitian yang didapat tidak sesuai dengan kedua penelitian

sebelumnya. Hal ini dapat disebabkan adanya perbedaan gaya hidup karena

lokasi dan waktu penelitian yang berbeda.

3. Lama Perawatan

Lama rawat bergantung dari kondisi pasien dan kesediaan pasien untuk

dirawat. Dari hasil penelitian didapat hasil yang bervariasi antara 2 hari

sampai 8 hari. Pasien paling banyak dirawat selama 4, 6 dan 8 hari yaitu

sebesar 21%. Sedangkan presentase lama perawatan yang paling sedikit

adalah 3% yaitu selama 2 hari. Hal ini membuktikan bahwa perawatan

Page 56: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

37

penderita diabetes melitus dengan hipertensi harus intensif untuk mengontrol

kadar glukosa darah pasien dan tekanan darah pasien.

Gambar 5. Distribusi Lama Perawatan Pasien DM Tipe 2

dengan Hipertensi di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang

Menurut hasil penelitian Meirinawati (2007) menyatakan pasien paling

banyak tinggal di rumah sakit selama 4-6 hari yaitu sebesar 46,67% pasien.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian karena jika diakumulasikan antara

pasien yang dirawat 4 hari, 5 hari dan 6 hari persentasenya paling besar

daripada kelompok lainnya.

4. Keadaan Pasien pada Saat Keluar dari Rumah Sakit

Hampir seluruh pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi di Rumah

Sakit Harapan Magelang meninggalkan rumah sakit dalam keadaan membaik

atau dapat dikatakan pulang atas persetujuan dokter. Menurut rumah sakit,

3%14%

21%

14%

21%

7%

21% 2 hari

3 hari

4 hari

5 hari

6 hari

7 hari

8 hari

Page 57: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

38

membaik berarti membaik kondisi umum dari pasien tersebut. Sedangkan satu

pasien meninggal dunia setelah 24 jam dirawat di rumah sakit.

Gambar 6. Perbandingan Keadaan Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi

Saat Keluar dari Rumah Sakit

Hasil penelitian sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yaitu

persentase terbesar adalah pasien keluar dari rumah sakit dalam kondisi

membaik. Berdasarkan hasil penelitian Herlinawati (2009) dan Meirinawati

(2007) berturut-turut 81,3% dan 66,67% keluar dari rumah sakit dalam

keadaan membaik.

B. Profil Obat

Obat yang digunakan dalam penatalaksanaan diabetes melitus dengan

hipertensi dibagi menjadi 9 kelas terapi obat. Obat golongan gizi dan darah,

sistem endokrin serta sistem kardiovaskular digunakan pada semua kasus (100%).

Hal ini dikarenakan pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi pada

umumnya membutuhkan ketiga golongan obat tersebut.

97%

3%

membaik

meninggal

Page 58: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

39

Obat sistem endokrin dan obat sistem kardiovaskular penggunaannya

mencapai 100% atau digunakan pada setiap kasus diabetes melitus yang dengan

hipertensi. Hal ini berkaitan dengan penanganan diabetes melitus dengan

hipertensi. Obat antidiabetes termasuk dalam obat sistem endokrin sehingga obat

golongan ini digunakan pada semua kasus untuk menurunkan dan menjaga kadar

glukosa dalam darah. Begitu pula dengan pemakaian obat sistem kardiovaskular

yang mencakup obat antihipertensi untuk menurunkan dan menjaga tekanan darah

pasien. Obat kelas terapi yang lain digunakan untuk mengobati penyakit,

mencegah penyakit menjadi lebih parah dan dapat juga untuk mempercepat

pemulihan kondisi pasien.

Gambar 7. Distribusi Kelas Terapi Obat Pada Pasien DM Tipe 2 dengan

Hipertensi di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang

0,00

10,00

20,00

30,00

40,00

50,00

60,00

70,00

80,00

90,00

100,00

Kasu

s (%

)

Kelas Terapi

Gizi dan Darah

Sistem Endokrin

Sistem Kardiovaskular

Sistem Saraf pusat

Antiinfeksi

Sistem Saluran Cerna

Sistem Saluran Napas

Obstetrik, Ginekologik

dan Saluran Kemih

Otot Skelet dan Sendi

Page 59: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

40

Persentase penggunaan golongan gizi dan darah sebesar 100%. Hasil

penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Herlinawati (2009) yang menyatakan

penggunaan obat golongan ini mencapai 100%. Namun, hasil penelitian ini tidak

sesuai dengan hasil penelitian Meirinawati (2007) yang menyatakan persentase

penggunaan obat golongan ini adalah 44,43. Perbedaan hasil penelitian ini dapat

disebabkan adanya perbedaan kondisi pasien. Obat golongan gizi dan darah yang

digunakan dikelompokan menjadi 5 subkelas terapi yang dapat dilihat pada Tabel

II.

Tabel II. Distribusi Golongan, Kelompok dan Nama Generik

Obat Gizi dan Darah pada Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi

di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang

No. Golongan Kelompok Nama Generik ∑* %

1. Anemia dan

Gangguan Darah

Lain

Anemia

Megaloblastik

Mecobalamin 2 6,90

2. Cairan dan

Elektrolit

Gangguan

Keseimbangan

Cairan dan

Elektrolit

Natrium

Bikarbonat 2 6,90

KCl 1 3,45

Assering 22 75,86

Ringer Laktat 6 20,69

RL+Aminofilin 1 3,45

NaCl+Aminofilin 1 3,45

3. Nutrisi - Glukosa® 1 3,45

Aminoral 1 3,45

Asam Amino 1 3,45

Asam Amino +

histidin 1 3,45

L-threonine® 1 3,45

Ekstra Kurkuma® 1 3,45

4. Vitamin Vitamin C Asam Askorbat 1 3,45

Vitamin B Flursultiamin HCl 1 3,45

Sulbutiamin 1 3,45

Vitamin K Vitamin K 1 3,45

5. Multivitamin Asam Lipoat® 1 3,45

Page 60: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

41

Persentase penggunaan obat sistem endokrin juga mencapai 100%. Hal ini

dikarenakan obat antidiabetika dan insulin yang berguna untuk menjaga dan

menurunkan kadar glukosa darah termasuk dalam golongan obat sistem endokrin.

Persentase penggunaan obat golongan ini pada penelitian sebelumnya juga cukup

tinggi yaitu 87,5% dan 96,67%. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori karena

pada umumnya pasien diabetes melitus membutuhkan insulin atau obat

antidiabetika oral yang termasuk dalam obat golongan sistem endokrin.

Obat golongan sistem endokrin dibagi menjadi dua sub kelas terapi yaitu diabetes

dan kortikosteroid yang secara rinci dapat dilihat pada Tabel III.

Tabel III. Distribusi Golongan, Kelompok dan Nama Generik

Obat Sistem Endokrin Pada Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi

di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang

No. Golongan Kelompok Nama Generik ∑* %

1. Diabetes Insulin Insulin Glargine 4 13,79

Insulin Isophane 4 13,79

Insulin Isophane

Biphasic 1 3,45

Regular Insulin 7 24,14

Antidiabetika

Oral Glikazid 2 6,90

Glikuidon 3 10,34

Glimepirid 16 55,17

Metformin 12 41,38

Repaglinid 1 3,45

Vidagliptin 4 13,79

2. Kortikosteroid Glukokortikoid Metilprednisolon 4 13,79

Dexametason 2 6,90

*∑ = jumlah pasien (n=29)

Obat kardiovaskular merupakan obat yang bekerja pada jantung dan pembuluh

darah. Persentase penggunaaan obat golongan ini mencapai 100% karena obat

antihipertensi termasuk dalam golongan ini. Pada penelitian sebelumnya

persentase penggunaan obat golongan ini cukup tinggi yaitu 66,67% dan 93,8%.

Page 61: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

42

Perbedaan persentase penggunaan obat golongan ini dapat dikarenakan adanya

kondisi pasien yang berbeda. Obat golongan ini terbagi dalam 9 sub kelas terapi

yang secara rinci terlihat pada Tabel IV.

Tabel IV. Distribusi Golongan, Kelompok dan Nama Generik

Obat Sistem Kardiovaskular pada Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi

di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang

No. Golongan Kelompok Nama Generik ∑* %

1. Aritmia Antiaritmia Adenosin 1 3,45

Amiodarone 1 3,45

2. Antihipertensi Beta-Bloker Bisoprolol 5 17,24

Penghambat ACE Captopril 6 20,69

Lisinopril 5 17,24

Ramipril 3 10,34

Antagonis

Reseptor

Angiotensin II

Losartan 5 17,24

Irbesartan 7 24,14

3. Anti Angina Nitrat Isosorbid dinitrat 1 3,45

Isosorbid mononitrat 5 17,24

Antagonis

Kalsium Amlodipine 4 13,79

Diltiazem 5 17,24

Nifedipin 2 6,90

Anti Angina Lain Trimetzidin diHCl 1 3,45

4. Diuretika Tiazid Hidroklorotiazid 1 3,45

Diuretika Kuat Furosemid 8 27,59

5. Antikoagulan

dan Protamin

Antikoagulan

Parenteral

Heparin 1 3,45

6. Antiplatelet

-

Asetosal 2 6,90

Klopidogrel 4 13,79

Silostazol 2 6,90

7. Hemostatik dan

Antifibrinolitik -

Asam Traneksamat 2 6,90

8. Hipolipidemik Statin Atorvastatin 2 6,90

Rosuvastatin 1 3,45

Simvastatin 5 17,24

9. Gangguan

Sirkulasi Darah

Vasodilator

Perifer Citicolin 1 3,45

Flunarizin 4 13,79

Vasodilator

Serebral

Co-dergokrin

mesilat

2 6,90

Page 62: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

43

Obat golongan sistem saraf pusat dapat digunakan untuk mengurangi rasa

cemas pada pasien sehingga pasien menjadi tenang dan dapat beristirahat.

Menurut hasil penelitian, persentase penggunaan obat sistem saraf pusat adalah

93,10%. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya. Menurut

hasil penelitian Herlinawati (2009) dan Meirinawati (2007) persentase

penggunaan obat golongan sistem saraf pusat berturut-turut adalah 21,88% dan

36,67%. Perbedaan hasil penelitian ini dikarenakan karena tempat dan waktu

penelitian yang berbeda yang berakibat pada berbedanya kondisi pasien.

Obat golongan sistem saraf pusat yang digunakan terbagi dalam 5 subkelas

terapi yang secara rinci dapat dilihat pada tabel V.

Tabel V. Distribusi Golongan, Kelompok dan Nama Generik

Obat Sistem Saraf Pusat pada Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi

di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang

No. Golongan Kelompok Nama Generik ∑ %

1. Hipnosis dan

Ansietas Hipnosis Zolpidem Tartrat 1 3,45

Ansietas Alprazolam 8 27,59

Diazepam 1 3,45

Klobazam 2 6,90

2. Mual dan Vertigo

-

Betahistin 4 13,79

Domperidon 15 51,72

Ondansentron 7 24,14

3. Analgesik Analgesik

Non-Opioid Parasetamol 17 58,62

Metamizol 1 3,45

Metamizol,

Diazepam 1 3,45

4. Antiepilepsi

-

Gabapentin 2 6,90

Fenitoin 1 3,45

Pirasetam 8 27,59

5. Parkinsonisme

dan gangguan

sejenis

Dopaminergik Selegilin 1 3,45

*∑ = jumlah pasien (n=29)

Page 63: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

44

Obat antiinfeksi digunakan untuk mengobati infeksi akibat bakteri yang

menyertai diabetes melitus seperti ulkus dan ganggren agar tidak bertambah

parah. Menurut hasil penelitian, obat golongan antiinfeksi cukup sering digunakan

dengan presentase penggunaan 68,97%. Hasil penelitian ini sesuai dengan

penelitian sebelumnya. Namun, pada hasil penelitian sebelumnya obat golongan

ini digolongkan menjadi golongan antibiotik. Persentase pemakaian antibiotik

pada hasil penelitian Herlinawati (2009) dan Meirinawati (2007) masing-masing

adalah 62,5% dan 56,67%.

Kelas terapi antiinfeksi dibagi menjadi dua sub kelas terapi yaitu antibakteri

dan antivirus yang secara rinci dapat dilihat pada Tabel VI.

Tabel VI. Distribusi Golongan, Kelompok dan Nama Generik

Obat Antiinfeksi pada Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi

di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang

No. Golongan Kelompok Nama Generik ∑* %

1. Antibakteri Sefalosporin Sefadroksil 2 6,90

Sefixim 2 6,90

Sefotaksim 8 27,59

Seftriakson 2 6,90

Sefdinir 1 3,45

Makrolida Azitromisin 1 3,45

Kuinolon Levofloksasin 11 37,93

Ofloksasin 1 3,45

Pefloksasin 1 3,45

Siprofloksasin 1 3,45

2. Antivirus Metilzoprinol 1 3,45

*∑ = jumlah pasien (n=29)

Obat golongan sistem saluran cerna perlu diberikan kepada pasien diabetes

melitus untuk mengantisipasi efek samping dari obat antidiabetika yang diberikan

Page 64: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

45

dalam terapi khususnya golongan sulfonilurea dan metformin yang dapat

menimbulkan mual dan muntah.

Pemakaian obat golongan sistem saluran cerna pada pasien diabetes melitus

dengan hipertensi di Rumah Sakit Harapan Magelang cukup banyak yaitu dengan

persentase 58,62%. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian

sebelumnya. Hasil penelitian Herlinawati (2009) menunjukan persentase

penggunaan obat golongan ini adalah 34,38%. Sedangkan menurut Meirinawati

(2007) adalah 30%. Perbedaan hasil penelitian ini disebabkan karena perbedaan

waktu dan lokasi penelitian yang menyebabkan kondisi pasien yang berbeda.

Obat sistem saluran cerna yang digunakan dalam terapi diabetes melitus

dengan hipertensi dibagi menjadi 3 sub kelas. Sub kelas yang paling banyak

digunakan adalah antitukak dengan persentase paling banyak adalah penggunaan

ranitidin yaitu sebanyak 48,28%.

Tabel VII. Distribusi Golongan, Kelompok dan Nama Generik

Obat Sistem Saluran Cerna pada Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi

di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang

No. Golongan Kelompok Nama Generik ∑* %

1. Dispepsia dan

Tukak Refluks

Gastroesofageal

Antasida

dengan

Simetikon

Mg(OH)2® 1 3,45

Mg(OH)2,Al(OH)3® 2 6,90

2 Antitukak Antagonis

Reseptor H2

Ranitidin 14 48,28

Kelator dan

Senyawa

Kompleks

Sukralfat 1 3,45

Penghambat

Pompa Proton

Esomeprazol 1 3,45

Lansoprazol 7 24,14

3 Pencahar Stimulan Bisakodil 2 6,90

Na Lauryl Sulfoasetat® 1 3,45

*∑ = jumlah pasien (n=29)

Page 65: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

46

Obat sistem saluran napas digunakan untuk mengobati penyakit penyerta

berupa asma dan batuk. Menurut hasil penelitian, obat golongan sistem saluran

napas tidak banyak digunakan. Persentase penggunaan obat golongan ini hanya

34,48%. Pada penelitian sebelumnya, persentase penggunaan obat golongan ini

juga kecil yaitu sekitar 10%. Perbedaan nilai persentase ini dapat disebabkan

karena kondisi pasien yang berbeda mengingat waktu dan lokasi penelitian yang

berbeda pula.

Golongan sistem saluran napas dapat digolongkan kembali menjadi 3 sub

kelas terapi yaitu antiasma dan bronkodilator, mukolitik, serta antihistamin,

hiposensitisasi dan kedaruratan alergi.

Tabel VIII. Distribusi Golongan, Kelompok dan Nama Generik

Obat Sistem Saluran Napas pada Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi

di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang

No. Golongan Kelompok Nama Generik ∑* %

1. Antiasma dan

bronkodilator Teofilin Teofilin 2 6,90

Agonis

adrenoreseptor Salbutamol 4 13,79

Succus

liquirittiae® 2 6,90

2. Mukolitik - Ambroksol 1 3,45

Asetilsistein 1 3,45

Bromheksin 1 3,45

Erdostein 1 3,45

3. Antihistamin,

hiposensitisasi dan

kedaruratan alergi

Antihistamin Mebhidrolin

Napadisilat

1 3,45

*∑ = jumlah pasien (n=29)

Obat golongan obstetrik, ginekologik dan saluran kemih hanya digunakan

pada 3 pasien atau 10,34%. Pada penelitian sebelumnya tidak terdapat

penggunaan obat golongan ini karena adanya perbedaan dalam sistem

penggolongan obat. Selain itu, tidak ditemukannya penggunaan obat golongan ini

Page 66: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

47

pada penelitian sebelumnya dapat disebabkan karena adanya perbedaan kondisi

pasien sehingga pasien tidak memerlukan obat golongan ini.

Obat golongan sistem obstetrik, ginekologik, dan saluran kemih hanya

digunakan pada 3 pasien. Dua pasien mendapatkan obat dari sub kelas gangguan

saluran kemih yang dikelompokan menjadi dua kelompok yaitu analgesik saluran

kemih dan antiseptik saluran kemih. Satu pasien yang lainnya diberikan asam

valerat® dari golongan lain.

Tabel IX. Distribusi Golongan, Kelompok dan Nama Generik Obat Sistem

Obstetrik, Ginekologik dan Saluran Kemih Kelamin pada Pasien DM Tipe 2

dengan Hipertensi di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang

No. Golongan Kelompok Nama Generik ∑* %

1. Gangguan

Saluran Kemih

Analgesik Saluran

Kemih

Fenazopiridin 1 3,45

Antiseptik Saluran

Kemih

Asam

Pipemidat

1 3,45

2. Golongan Lain Asam Valerat® 1 3,45

*∑ = jumlah pasien (n=29)

Pemakaian obat golongan otot skelet dan sendi hanya ditemukan pada 3 pasien

atau 10,34%. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya. Namun, pada

penelitian sebelumnya, obat golongan ini digolongkan menjadi golongan obat anti

radang, reumatik, encok dengan persentase penggunaan 10% dan 12,5%.

Obat golongan otot skelet dan sendi yang digunakan terbagi menjadi dua sub

kelas terapi. Sub kelas yang paling banyak digunakan adalah golongan obat

reumatik dan gout yang digunakan pada 3 pasien.

Page 67: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

48

Tabel X. Distribusi Golongan, Kelompok dan Nama Generik

Obat Otot Skelet dan Sendi pada Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi

di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang

No. Golongan Kelompok Nama Generik ∑* %

1. Obat reumatik dan

gout

Antiinflamasi

Nonsteroid Meloksikam 1 3,45

Natrium

Diklofenak

1 3,45

Kalium

Diklofenak

1 3,45

Obat gout dan

hiperurisemia

karena induksi

sitotoksik

Alopurinol 1 3,45

2. Obat yang

digunakan dalam

gangguan

neuromuskular

Pelemas otot skelet Klorzoksazon 1 3,45

*∑ = jumlah pasien (n=29)

C. Profil Antihipertensi

Antihipertensi termasuk dalam golongan sistem kardiovaskular. Terdapat 5

kelompok antihipertensi yang digunakan yaitu kelompok penghambat ACE, beta-

bloker, antagonis angiotensin II, antagonis kalsium dan diuretika. Pemakaian

paling banyak yaitu sebesar 48,27% terdapat pada golongan penghambat ACE.

Persentase pemakaian antihipertensi golongan beta-bloker, antagonis angiotensin

II, antagonis kalsium dan diuretika masing-masing adalah 17,24%, 41,38%,

37,93% dan 31,03%. Antihipertensi yang paling banyak digunakan yaitu dengan

persentase 27,59% terdapat pada furosemid dari golongan diuretika.

Pemakaian golongan antihipertensi yang paling banyak pada kasus ini adalah

golongan penghambat ACE yaitu sebesar 14 kasus atau 48,28%. Sedangkan

pemakaian golongan antagonis angiotensin II sebanyak 12 kasus atau 41,34% dan

pemakaian golongan beta bloker sebesar 17,24%. Hal ini sesuai dengan standar

yang berlaku yaitu American Diabetes Associaton (ADA). Menurut ADA,

Page 68: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

49

rekomendasi utama untuk mengobati hipertensi pada diabetes melitus adalah

golongan ACE inhibitor dan antagonis angiotensin II. Obat golongan penghambat

ACE juga mempunyai efek kardioprotektif sehingga dapat digunakan untuk

melindungi jantung. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan hasil penelitian

sebelumnya yaitu persentase antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah

golongan penghambat ACE dan antagonis angiotensin.

Tabel XI. Distribusi Golongan dan Nama Generik

Antihipertensi pada Pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi

di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang

No. Golongan Nama Generik ∑* %

1. Penghambat Beta Bisoprolol 5 17,24

2. Penghambat ACE Captopril 6 20,69

Lisinopril 5 17,24

Ramipril 3 10,34

3. Antagonis Angiotensin II Losartan 5 17,24

Irbesartan 7 24,14

4. Antagonis Kalsium Amlodipin 4 13,79

Diltiazem 5 17,24

Nifedipin 2 6,90

5. Diuretika Hidroklorotiazid 1 3,45

Furosemid 8 27,59

*∑ = jumlah pasien (n=29)

Persentase penggunaan antihipertensi golongan penghambat ACE yang paling

banyak menurut hasil penelitian ini adalah kaptopril dengan persentase 20,69%.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya. Pada hasil penelitian

sebelumnya, persentase penggunaan antihipertensi golongan penghambat ACE

paling banyak adalah kaptopril yaitu 21,9% dan 36,67%. Kaptopril diberikan 3x1

sehari.

Pada golongan antagonis angiotensin II digunakan dua jenis obat yaitu

losartan dan irbesartan dengan aturan pemakaian 1x1 sehari. Persentase

Page 69: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

50

penggunaan kedua obat tersebut cukup tinggi dengan persentase losartan dan

irbesartan masing-masing adalah 17,24% dan 24,14%. Hasil penelitian ini berbeda

dengan kedua penelitian sejenis sebelumnya. Pada hasil penelitian Meirinawati

(2007), persentase penggunaan obat golongan ini cukup rendah yaitu 13,33%

dengan penggunaan losartan pada 1 pasien dan 3 pasien menggunakan valsartan.

Pada hasil penelitian Herlinawati (2009) persentase penggunaan antihipertensi

golongan ini paling besar yaitu 78,2%. Persentase paling banyak adalah pada

penggunaan valsartan yaitu sebesar 71,9%. Perbedaan persentase ini kemungkinan

disebabkan karena faktor lokasi penelitian yang berbeda sehingga guideline yang

digunakan juga berbeda. Selain itu, kondisi pasien yang berbeda juga dapat

mempengaruhi persentase penggunaan antihipertensi tersebut.

Obat golongan diuretika digunakan untuk mengurangi edema akibat gagal

jantung. Selain itu pada dosis yang rendah dapat digunakan untuk menurunkan

tekanan darah. Dari data yang diperoleh, terdapat dua golongan diuretika yang

digunakan yaitu golongan diuretika tiazid dan diuretika kuat. Pemakaian diuretika

kuat lebih banyak dibanding dengan diuretika tiazid. Persentase pemakaian

diuretika kuat adalah 27,59%. Diuretika kuat dapat digunakan untuk menurunkan

tekanan darah dengan cara menghambat resorpsi cairan dalam tubulus ginjal.

Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian sejenis sebelumnya.

Menurut penelitian Meirinawati (2007) dan Herlinawati (2009), persentase

penggunaan furosemid masing-masing adalah 13,33% dan 15,6%. Perbedaan

persentase ini disebabkan adanya perbedaan kondisi pasien dan guideline yang

berlaku di rumah sakit bersangkutan.

Page 70: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

51

Antihipertensi golongan beta bloker yang digunakan pada pasien diabetes

melitus dengan hipertensi di Rumah Sakit Magelang adalah bisoprolol dengan

persentase 17,24%. Bisoprolol diberikan 1x1 sehari. Hasil ini tidak sesuai dengan

hasil penelitian sebelumnya. Pada penelitian Meirinawati (2007) tidak ditemukan

adanya penggunaan antihipertensi golongan beta bloker. Sedangkan pada

penelitian Herlinawarti (2009) persentase penggunaan antihipertensi golongan ini

sebesar 6,2% yaitu pada propanolol dan bisoprolol. Perbedaan hasil penelitian ini

dapat dikarenakan adanya standar atau guideline yang berbeda dan kondisi pasien

yang berbeda pula mengingat waktu dan lokasi penelitian yang berbeda.

Golongan antihipertensi yang terakhir adalah golongan antagonis kalsium.

Dari hasil penelitian, persentase penggunaan antihipertensi ini cukup tinggi yaitu

sebanyak 37,93%. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya. Pada

penelitian ini persentase penggunaan antihipertensi golongan antagonis kalsium

yang paling banyak adalah diltiazem dengan persentase 17,24%. Sedangkan untuk

amlodipin dan nifedipin persentase pemakaiannya berturut-turut adalah 13,79%

dan 6,90%. Aturan pemakaian dari diltiazem adalah 1x1 sehari.

Pada penelitian Meirinawati (2007), persentase penggunaan paling banyak

adalah amlodipin besilat yaitu 23,34%. Sedangkan persentase penggunaan

nifedipin dan diltiazem masing-masing adalah 16,33% dan 3,33%. Menurut

penelitian Herlinawati (2009), persentase penggunaan nifedipin, amlodipin dan

diltiazem berturut-turut adalah 12,5%, 9,4% dan 9,4%. Perbedaan persentase

pemakaian ini dapat disebabkan karena faktor perbedaan kondisi pasien sehingga

jenis antihipertensi yang digunakan juga berbeda.

Page 71: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

52

D. Drug Related Problems Penggunaan Antihipertensi

Evaluasi ini terfokus pada kajian antihipertensi untuk menurunkan dan

menjaga tekanan darah. Evaluasi penggunaan obat hipertensi pada diabetes

melitus dilakukan dengan membandingkan obat-obat yang digunakan dengan

literatur yang ada. Literatur yang digunakan sebagai standar acuan adalah

Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hipertensi (Anonim, 2006), Hypertension

dalam Pharmacotherapy: A Pathofisiologic Approach (Sassen dan Maclaughin,

2008), Hypertensive Vascular Disease dalam Harrison Principles of Internal

Medicine (Williams, G.H., 2001), Drug Interactions Facts (Tatro, 2007), IONI

2008 dan MIMS edisi 2009/2010.

Tabel XII. Distribusi Kasus DRPs Pada Pasien DM Tipe 2

dengan Hipertensi di IRNA Rumah Sakit Harapan Magelang

Jenis Kasus DRPs No Kasus* Jumlah Kasus (n=29)

∑ %

Ada obat tanpa indikasi - - -

Membutuhkan obat tambahan 003, 008 2 6,90

Pemilihan obat yang tidak sesuai 016, 026 2 6,90

Dosis tidak sesuai 010, 011, 012, 014,

016, 017, 020, 021,

022, 024, 026, 029

12 41,38

Interaksi obat dan efek samping 018, 022, 028 3 10,34

*data kasus sesuai dengan Lampiran 3.

Dari 29 kasus diabetes melitus dengan hipertensi di Rumah Sakit Harapan

Magelang ditemukan 16 kasus yang teridentifikasi DRPs. Kasus-kasus tersebut

meliputi 2 kasus membutuhkan obat tambahan, 2 kasus pemilihan obat yang tidak

sesuai, 12 kasus dosis tidak sesuai, 1 kasus interaksi obat dan 2 kasus efek

samping obat.

Page 72: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

53

Berdasarkan hasil penelitian Meirinawati (2007) didapatkan kasus DRPs

sebanyak 7 kasus yaitu 6 kasus pilihan obat tidak tepat dan 2 kasus dosis terlalu

rendah. Menurut hasil penelitian Herlinawati (2009) didapatkan 6 kasus ADR dan

interaksi obat, 2 kasus dosis terlalu tinggi, 2 kasus obat kurang efektif, 1 kasus

tidak butuh obat dan 4 kasus butuh obat. Perbedaan hasil-hasil penelitian ini

disebabkan lokasi dan waktu pengamatan yang berbeda sehingga kondisi subyek

yang diamati juga berbeda.

1. Membutuhkan obat tambahan

Kasus membutuhkan obat tambahan hanya ditemukan pada dua pasien

yaitu pada kasus 003 dan 008. Tekanan darah pada pasien tersebut di atas

130/80 sehingga memerlukan obat antihipertensi untuk menurunkan tekanan

darah pasien. Pada kasus 003, diberikan antihipertensi yaitu irbesartan namun

pemberian antihipertensi ini terlambat karena baru diberikan pada hari ketiga

pasien dirawat di rumah sakit.

Pada kasus 008, tekanan darah pasien diatas 130/80mmHg dan didiagnosis

hipertensi namun, pasien tidak diberikan antihipertensi. Antihipertensi yang

dapat digunakan adalah golongan penghambat ACE (kaptopril, lisinopril,

ramipril) atau antagonis angiotensin II (irbesartan dan losartan). Kedua

golongan obat tersebut merupakan terapi lini pertama untuk menurunkan dan

mempertahankan tekanan darah pada pasien diabetes melitus.

Page 73: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

54

2. Pemilihan obat tidak sesuai

Pemilihan obat tidak sesuai sering ditemui pada penggunaan obat yang

kurang efektif untuk kondisi pasien. Dari hasil analisis DRPs ditemukan ada

dua kasus yang teridentifikasi sebagai kasus pemilihan obat yang tidak tepat

yaitu kasus 016 dan kasus 026. Pada kasus 016, digunakan kombinasi

penghambat ACE (lisinopril) dengan antagonis angiotensin II (losartan).

Pemilihan kombinasi antihipertensi tersebut tidak sesuai. Mekanisme kerja

antagonis angiotensin II hampir sama dengan penghambat ACE bedanya

antagonis angiotensin II bekerja setelah angiotensin II terbentuk. Sebaiknya

digunakan salah satu saja apakah lisinopril atau losartan.

Masalah pemberian obat yang tidak sesuai ini juga terjadi pada kasus 026.

Sama dengan kasus 016, pada kasus ini juga diberikan kombinasi golongan

penghambat ACE (lisinopril) dan golongan antagonis angiotensin II

(irbesartan). Seperti dikemukakan sebelumnya, penggunaan kombinasi obat

ini kurang efektif.

3. Dosis tidak sesuai

Dosis tidak sesuai digolongkan menjadi dua yaitu dosis terlalu rendah dan

dosis terlalu tinggi. Dari hasil analisis DRPs ditemukan 12 kasus dosis tidak

sesuai dengan rincian 9 kasus dosis terlalu rendah dan 4 kasus dosis terlalu

tinggi.

Kasus dosis terlalu rendah mencakup dosis yang diberikan terlalu rendah

sehingga tidak dapat menimbulkan respon yang diinginkan dan kurangnya

Page 74: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

55

frekuensi pemakaian obat. Antihipertensi sebaiknya tetap digunakan walau

tekanan darah telah mencapai target untuk mengontrol tekanan darah. Pada

kasus 010, 011, 012, 014, 020, 021, 024, 026 dan 029, antihipertensi tidak

diberikan secara teratur.

Kasus dosis terlalu tinggi mencakup pemberian dosis terlalu tinggi

sehingga menimbulkan efek yang tidak diinginkan, frekuensi pemberian obat

berlebih dan adanya pemberian dua macam obat atau lebih dengan zat aktif

sama. Frekuensi pemberian berlebih dapat dilihat pada kasus 017 dan 022.

Pada kasus 017, diltiazem diberikan 2x1 sehari sebaiknya diltiazem diberikan

1x1 sehari saja. Pada kasus 022, amlodipin diberikan 2x1 sehari pada hari ke 6

dan 7 sebaiknya amlodipin tetap diberikan 1x1 sehari. Kasus 016 dan 021

terdapat pemberian 2 macam obat dengan zat aktif yang sama. Pada kasus

016, hari pertama diberikan diltiazem dalam dua macam obat sedangkan pada

kasus 021, hari ketiga diberikan furosemid dalam dua macam sediaan yaitu

injeksi dan oral. Sebaiknya pada kedua kasus tersebut hanya digunakan salah

satu macam obat saja.

4. Interaksi dan efek samping obat

Dari 29 kasus, terdapat 1 kasus interaksi obat dan 2 kasus efek samping

obat. Pemakaian kaptopril dengan antasida pada kasus 028 dapat

menyebabkan penurunan efek antihipertensi dari kaptopril. Namun, jika

antasida diberikan 30 menit sebelum makan dan kaptopril diberikan sesudah

makan maka interaksi obat ini tidak terjadi. Pada kasus tersebut tidak

Page 75: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

56

diketahui waktu pemberian antasida dengan kaptopril serta tidak terjadi

penurunan efek antihipertensi dari kaptopril.

Penggunaan antihipertensi golongan penghambat ACE dapat

menyebabkan batuk. Pada kasus 018, pasien mengalami batuk pada hari

ketiga. Batuk ini kemungkinan disebabkan oleh pemakaian kaptopril. Apabila

batuk sudah menganggu, pemberian kaptopril dapat diganti dengan

antihipertensi golongan antagonis angiotensin II seperti losartan atau

irbesartan.

Antihipertensi golongan penghambat ACE dan antagonis angiotensin II

dapat menyebabkan peningkatan kadar kreatinin. Pada kasus 022, terjadi

peningkatan kreatinin setelah frekuensi pemberian losartan ditingkatkan dari

1x1 sehari menjadi 2x1 sehari. Diduga peningkatan kadar kreatinin ini

dikarenakan efek samping dari losartan. Sebaiknya frekuensi pemberian

losartan diturunkan menjadi 1x1 sehari untuk meminimalkan terjadinya efek

samping dari losartan berupa peningkatan kreatinin.

Page 76: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

57

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik berdasarkan hasil penelitian adalah :

1. Karakteristik penyandang diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi di IRNA

Rumah Sakit Harapan Magelang paling banyak ditemukan pada kelompok usia

65-74 tahun (38%), dengan perbandingan perempuan dan laki-laki adalah 41%

: 59% (n=29 kasus), lama perawatan terbanyak 4, 6 dan 8 hari (21%). Setelah

menjalani rawat inap di rumah sakit, hampir semua pasien keluar dengan

kondisi membaik atau pulang atas persetujuan dokter (97%).

2. Pada penatalaksanaan diabetes melitus dengan hipertensi digunakan 9 kelas

terapi obat yaitu golongan gizi-darah (100%), sistem kardiovaskular (100%),

sistem endokrin (100%), obat sistem saraf pusat (93,10%), antiinfeksi

(68,97%), sistem saluran cerna (58,62%), sistem saluran napas (34,48%),

obstetrik-ginekologik-saluran kemih (10,34%) dan otot skelet-sendi (10,34%).

3. Pada penatalaksanaan diabetes melitus dengan hipertensi digunakan 5

golongan antihipertensi yaitu penghambat ACE, antagonis angiotensin II,

diuretik, beta bloker dan antagonis kalsium. Golongan antihipertensi yang

paling banyak digunakan adalah penghambat ACE dengan persentase 48,27%.

Dari 29 kasus ditemukan 16 kasus yang teridentifikasi DRPs. Ditemukan 2

kasus membutuhkan obat tambahan, 2 kasus pemilihan obat yang tidak sesuai,

12 kasus dosis tidak sesuai, 1 kasus interaksi obat dan 2 kasus efek samping

obat.

Page 77: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

58

B. Saran

Sehubungan dengan DRPs yang ditemukan dalam penelitian dapat

disarankan :

1. Diperlukan adanya kesepakatan dari semua staff medik dalam penggunaan

standar terapi untuk Rumah Sakit Harapan Magelang.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap dampak terapi dari profil

antihipertensi yang digunakan pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan

hipertensi.

Page 78: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

59

DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Association (ADA), 2009, Standards of Medical Care In

Diabetes 2009, http://care.diabetesjournals.org/cgi/contect/full/28/suppl.,

diakses tanggal 28 Nobember 2010.

Arief, I., 2007, Diabetes Melitus sebagai Faktor Risiko Utama Penyakit

Jantung,http://www.pjnhk.go.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1

&id=191, diakses tanggal 25 Februari 2010.

Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2008, Informatorium Obat Nasional

Indonesia, Sagung Seto, Jakarta.

Benowitz, N. L., dan H. R. Bourne, 1989, Obat Antihipertensi, dalam

Farmakologi Dasar dan Klinik, Edisi 3 ed., B. G. Katzung, Penerbit Buku

Kedokteran EGC, Jakarta, pp. 125-148.

Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2005, Pharmaceutical Care untuk

Penyakit Diabetes Mellitus, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2006, Pharmaceutical Care untuk

Penyakit Hipertensi, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Cipolle, R.J., Linda, M. S., dan Peter, C.M., 2004, Pharmaceutical Care Practise,

University of Minnesofa, New York, pp. 173-191.

Herlinawati, A.V., 2009, Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) Pada Pasien

Diabetes Melitus Tipe 2 Komplikasi Hipertensi di Rumah Sakit Umum

Dr.Sardjito Yogyakarta Periode Tahun 2007-2008, Skripsi, Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Meirinawati, A., 2007, Evaluasi Penatalaksanaan Terapi Pasien Diabetes Melitus

Komplikasi Hipertensi Rawat Inap Periode 2005 Rumah Sakit Panti Rapih

Yogyakarta, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma,

Yogyakarta.

Motala, A. A., 1996, Management of Hypertension in Diabetes Mellitus,

http://www.rssdi.org/1996_july-sept/review.pdf, diakses tanggal 28 Juni

2010.

Nabyl, 2009, Cara Mudah Mencegah dan Mengobati Diabetes Melitus, Aulia

Publishing, Yogyakarta.

Page 79: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

60

Neal, M.J., 2005, At A Glance Farmakologi Medis, Penerbit Erlangga, Jakarta, pp.

36-37, 78-79.

Notoatmodjo, Soekidjo, 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan, PT Rineka

Cipta, Jakarta.

Pacheco, C.A., Parrot, M.A., dan Raskin, P., 2002, The Treatment of

Hypertension in Adult Patients With Diabetes,

http://care.diabetesjournals.org/cgi/contect/full/28/suppl., diakses tanggal 28

November 2010.

PERKENI, 2006, Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan DM tipe 2 Di

Indonesia 2006, Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia,

Jakarta.

Richard, H.R., 1989, Interaksi Obat, Penerbit ITB, Bandung, pp. 99-110, 163-

193.

Sari, C.P., 2010, Evaluasi Drug Therapy Problems Obat Hipoglikemik Oral Pada

Pasien Geriatri Penderita Diabetes Melitus di Instalasi Rawat Inap RSUD

Sleman Periode 2008, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma,

Yogyakarta.

Sassen, J. J., dan E. J. MacLaughin, 2008, Hypertension, dalam

Pharmacotherapy: A Pathofisiologic Approach, Seventh Edition, edited by J.

T. Dipiro, McGraw Hill Companie, Inc., Amerika, pp. 139-172.

Setiawati, A., dan Z. S. Bustami, 1995, Antihipertensi, dalam Farmakologi dan

Terapi, Edisi IV, edited by S.G. Ganiswara, Bagian Farmakologi Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, pp. 315-342.

Sutedjo, A.Y., 2009, Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan

Laboratorium, Amara Books, Yogyakarta.

Tandra, Hans, 2008, Segala Sesuatu yang Harus Anda Ketahui Tentang Diabetes,

PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Tatro, D.S., 2007, Drug Interaction Facts, Wolters Kluwer Health, Missouri.

Triplitt, C.L., C.A Reasner, W.L. Isley, 2008, Diabetes Mellitus dalam

Pharmacotherapy : A Pathofisiologic Approach, Seventh Edition, edited by J.

T. Dipiro, McGraw Hill Companie, Inc., Amerika, pp. 1205-1242.

Whallen, K. L., dan R. D. Steward, 2008, Pharmacologic Managemen of

Hypertension in Patients with Diabetes,

http://www.fafp.org/Foundation/PDF_Diabetes/J1%20Pharmacologial%20ma

Page 80: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

61

nagement%20hypertension%20in%20diabetes.pdf, diakses pada tanggal 28

Juni 2010.

WHO, 2006a, Guidelines for The Management of Hypertension in Patients With

Diabetes Mellitus, http://www.emro.who.int/dsaf/dsa700.pdf diakses pada

tanggal 19 November 2010.

WHO, 2006b, Guidelines for The Prevention, Management and Care of Diabetes

Mellitus, http://whqlibdoc.who.int/emro/2006/9789290214045_eng.pdf

diakses pada tanggal 19 November 2010.

Wijoyo, F.H., 2004, Kajian Pemilihan Obat Hipoglikemik Oral Pada Terapi

Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti

Rapih Yogyakarta Pada Periode November-Desember 2002, Skripsi, Fakultas

Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

William, G.H., 2001, Hipertensive Vascular Disease, dalam Harrison’s Principles

of Internal Medicine, 15th

edition, edited by Braunwald, Fauci, Kasper,

Hauser, Longo, Jameson, McGraw Hill Companie, Inc., Amerika, pp. 1414-

1429.

Page 81: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

62

Lampiran 1. Surat Keterangan dari Rumah Sakit Harapan Magelang

Page 82: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

63

Lampiran 2. Blanko Pengambilan Data Pasien

Page 83: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

64

Lampiran 3. Data Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 disertai Hipertensi di

Rumah Sakit Harapan Magelang Periode Juli 2009-Juni 2010

Subjectives :

No. 001

Umur 62 tahun, jenis kelamin laki-laki, masuk RS tanggal 6 Juli 2009 selama 4 hari. Pasien mengeluh demam naik

turun selama 7 hari dan mual. Diagnosis masuk febris. Diagnosis kerja febris dan hiperglikemia. Diagnosis keluar DM,

hipertensi dan Stroke non hemoragik

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 6 Juli 7 Juli 8 Juli 9 Juli

Puasa 70-110 94,5 87,0

Post Prandial <120 111,1 108,6

GDS 239

Lemak

Kolesterol <220 106,4

LDL <150 49,5

HDL Lk >35 13,0

Trigliserida <150 237,4

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 53,0

Kreatinin Lk 0,6-1,1 1,1

Asam Urat Lk 3,4-7,0

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Lk 0-37 71,8

SGPT Lk 0-40 63,0

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-

80 37,2/100

37,1/92, 36/80,

36/80 36,3/80, 36,3/92, 36,3/90 36,2/80, 36,2/80

Tekanan Darah 130/80 130/80

120/80, 120/80,

130/80 120/80, 120/80, 120/80 130/90, 110/70

Penatalaksanaan

Glicazide - 1 – 0 – 0 1 – 0 – 0 1 – 0 – 0

Kaptopril 25 0 – 0 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1

Paracetamol 0 – 0 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1

Domperidon 0 – 0 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1

Klobazam - 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1

Injeksi Cefotaxim 2x1g 0 – 0 – 1 1 – 0 – 1 1 – 0 – 1 1 – 0 – 1

Infuse ass 16 TPM IGD20TPM v v V

Injeksi Ranitidin 1 amp Dari IGD

Evaluasi

Tidak ditemukan adanya kasus DRP.

Rekomendasi

-

Page 84: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

65

Subjectives :

No. 002

Umur 49 tahun, jenis kelamin perempuan. Masuk RS tanggal 9 Juli 2009 dengan lama rawat 8 hari. Keluhan pusing,

terdapat luka kecil seperti kutu air di sela jari kaki dan kedua kaki terasa tebal. Diagnosis masuk DM. Diagnosis kerja DM

dan ulkus di sela jari kaki. Diagnosis keluar DM II Obese dan hipertensi.

Objectives :

Parameter Nilai

normal

Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah mg/dl 9 10 11 12 13 14 15 16

Puasa 70-110 185,2 204,9

Post Prandial <120 313,3 217,6 263,7

GDS 395 238,

321,

290

303,

243,

277

300, 258

Lemak mg/dl

Kolesterol <220

LDL <150

HDL Pr >45

Trigliserida <150

Fungsi Ginjal mg/dl

Ureum 20-40 44,6

Kreatinin Pr 0,5-0,9 0,8

Asam Urat Pr 2,4-5,7

Fungsi Hati U/L

SGOT Pr 0-31 14,1

SGPT Pr 0-31 11,0

Suhu, Nadi 36-38

oC,

70-80

36/88,

37,1/80

36/84,

36,9/96

36/92,

37/84,

37,1/84

36/80,

36,8/88,

36/48

37/84,

36,6/80

, 36/88

36/89,

36,8/88,

36/92

36,4/90,

36/88,

36,8/88

36/81

Tekanan

Darah 130/80

190/110,

130/80

140/80,

120/80

140/80,

140/70,

170/90

140/80,

160/80,

130/70,

150/90

140/70,

130/80,

130/70

140/80,

120/70,

130/90

120/80,

120/90,

160/90

130/90

Penatalaksanaan

Irbesartan 0–1–0 1–0–0 1–0–0 1–0–0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Nifedipine 0–1–0 1–0–0 1–0–0 1–0–0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Domperidon 0–1- 1 1–1–1 1–1–1 1–1–1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1

Paracetamol 0–1–1 1–1–1 1–1–1 1–1–1 1-1-1 1-1-1 1-1-1

Isosorbid mononitrate 0– 0–0,5 0,5-0-

0,5

0,5–0 –

0,5

0,5–0–

0,5

0-0-0,5 0,5-0-0,5 0,5-0-0,5 0,5-0-

0,5

Simvastatin 0–0–1 0–0–1 0–0–1 0–0–1 0-0-1 0-0-1 0-0-1

Gabapentin - 0–0–1 0–0-1 0–0–1 0-0-1 0-0-1 0-0-1 0-0-1

Glimepirid 1-0-0 1-0-0

Metformin 0-0-1 1-0-0 1-0-0

Injeksi Insulin 0–8IU–0 4–12–8 12–4–8 8–0–0

Infus assering 20 TPM IGD

Evaluasi

Tidak ditemukan adanya kasus DRP.

Rekomendasi

-

Page 85: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

66

Subjectives :

No. 003

Umur 80 tahun, jenis kelamin perempuan. Masuk RS tanggal 15 Juli 2009 selama 8 hari dengan keluhan lemah, 3 hari

panas, lemas, pusing, selera makan menurun. Diagnosis masuk febris, DM II, Hipertensi. diagnosis kerja febris,

hipertensi, DM II obese. Diagnosis keluar DM.

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Gula Darah (mg/dl) 15 16 17 18 19 20 21 22

Puasa 70-110 222,5 209,2 155,1

Post

Prandial

<120 247,5 182,2 188,4 146,6

GDS 269 278, 238,

238

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 152,8

LDL <150 86,2

HDL Pr >45 28,0

Trigliserida <150 193,0

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 54,7 41,9

Kreatinin Pr 0,5-0,9 1,1 1,1

Asam Urat Pr 2,4-5,7 5,36

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Pr 0-31 27.0

SGPT Pr 0-31 16,0

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-

80 37/10

8

36,8/80,

37,3/100,

36,4/96

36,3/84,

37,3/88,

36,8/88

36/84,

37/88

36,4/96,

36,7/80,

36/80

37,1/100,

36,5/88,

36/100

37,1/100,

36,8/96,

36/94

36/100,

36/86

Tekanan

Darah

130/80 160/9

0

120/70,

140/70,

140/90

130/80,

130/80,

180/80

160/90,

130/90

160/100,

140/88,

140/90

180/110,

160/100,

160/100

190/110,

170/90,

150/90

150/90,

160/80

Penatalaksanaan

Paracetamol 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-0-0

Domperidon 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-stop

Glimepirid 3mg 1-0-1 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Metformin HCl 0-1-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Vlidagliptin 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Irbesartan 0-0-1 0-0-1 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Nifedipin 0-0-1 1-0-0

Lansoprazol 0-0-1 0-0-1 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Inj Cefotaxime 1-0-1 1-0-1 1-0-0

Levofloxacin 0-1-0 0-1-0 0-0-1 1-0-0

Injeksi Ranitidin 0-0-1 1-0-1 1-0-habis 1-stop

Infus Ass IGD v v v

Infus Ranitidin IGD 0-0-1 1-1-1 1-1-1

Na lauryl sulfoasetat® 1-0-0

Evaluasi

Antihipertensi merupakan obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah.

Rekomendasi

Perlu diberikan antihipertensi golongan ACE inhibitor atau antagonis angiotensin II pada hari pertama dan kedua

Page 86: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

67

Subjectives :

No. 004

Umur 61 tahun, jenis kelamin laki-laki. Masuk RS tanggal 21 Juli 2009 selama 6 hari dengan keluhan sesak, batuk,

pusing. Diagnosis masuk dispnea. Diagnosis kerja dispnea, hipertensi berat. Diagnosis keluar DM II disertai hipertensi.

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 21 Juli 22 Juli 23 Juli 24 Juli 25 Juli 26 Juli

Puasa 70-110 210

Post Prandial <120 265,1

GDS 327 200

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 210,1

LDL <150 152,4

HDL Lk >35 31,0

Trigliserida <150 133,3

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 23,2

Kreatinin Lk 0,6-1,1 1,3

Asam Urat Lk 3,4-7,0 4,56

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Lk 0-37

SGPT Lk 0-40

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80 36,5/100 36/80,

36/80,

36,2/72

36,3/80,

36,5/80

36/80,

36/80,

36,5/88

36/80,

37,2/96 36,1/92

Tekanan Darah 130/80 200/100 140/80,

150/90,

180/100

130/80,

150/100

170/100,

140/90,

170/100

130/70,

100/80 180/100

Penatalaksanaan

Paracetamol 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-0

Domperidon 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-0

Diltiazem 0-0-1 1-0-0 0-1-0 0-1-0 1-0-0 1-0-0

Glimepirid 2mg 1-0-0 0-1-0 0-1-0 1-0-0 1-0-0

Irbesartan 0-0-1 0-1-0 0-1-0 0-1-0 0-1-0

Injeksi RI 6IU extra 0-0-1

Injeksi cefadroxil 0-0-1

Infuse RL 12TPM V V V V V V

Infuse levofloxacin V V V V V

Levofloxacin 0-1-0

Evaluasi

Tidak ditemukan adanya kasus DRP.

Rekomendasi

-

Page 87: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

68

Subjectives :

No : 005

Umur 58 tahun, jenis kelamin laki-laki, lama rawat 6 hari (21-27 Juli 2009). Keluhan nyeri dada kanan tembus ke tulang

belakang, terasa capek, sesak dan keringat dingin. Diagnosis masuk Chest Pain. Diagnosis kerja Chest Pain dan Diabetes

melitus. Diagnosis keluar : ISPA, DM, CHD (Coronary Heart Disease)

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah ( mg/dl) 21 22 23 24 25 26

Puasa 70-110 147,8 138,9

Post Prandial <120 139,2 166

GDS 136 197 171, 155,

179

111, 139,

94

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 183,9

LDL <150 120,5

HDL Lk >35 45,1

Trigliserida <150 91,7

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 38,6

Kreatinin Lk 0,6-1,1 0,6

Asam Urat Lk 3,4-7,0 5,51

21 22 23

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-

80 36,5/80, 36

oC 37,1

oC, 37,2

oC 36,7

oC, 36,4

oC, 37,7

oC

HR 64x, 64x, 112x, 112x,

56x, 52x, 52x, 56x, 61x

61x, 60x, 61x, 61x, 64x,

61x, 65x, 70x, 79x, 74x,

72x, 68x

67x, 65x, 69x, 64x, 68x,

68x, 72x, 68x, 67x, 69x,

68x

Tekanan Darah 130/80 130/80, 138/97, 124/80,

126/91, 121/77, 102/64,

111/72, 131/87, 109/89

128/83, 123/80, 123/83,

136/93, 132/76, 119/77,

108/64, 113/73, 120/83,

118/76, 117/75, 121/80

113/67, 122/82, 100/91,

103/91, 103/69, 105/72,

101/72, 124/86, 120/82,

107/63, 108/69, 108/74

Penatalaksanaan

Isosorbid Dinitrate 0-0-1 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-0-0

Diazepam 5mg 0-0-1 0-0-1 0-0-1

Kaptopril 12,5mg 0-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-0-0

Parasetamol 1-0-0

Bisoprolol 0-1/4-0 ¼-0-0 1-0-0 ¼-0-0 1-0-0 ½-0-0 ½-0-0

Atorvastatin 0-0-1 0-0-1 0-1-0 0-0-1 0-0-1 0-0-1

Pefloxacin 0-0-1 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Succus liquirittiae® 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-0-1

Metilprednisolon 0-0-1 1-0-0 1-0-1 1-0-0

Metformin HCl 0-1-0 1-1-0 1-0-1 1-0-1 1-1-1 1-0-0

Glimepirid 0-1-0 1-0-0

Asam asetilsalisilat 0-1-1 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-1-1 1-0-0

Klopidogrel 0-1-1 1-0-0 1-1-0 1-0-0

Ondansentron 0-1-1

Injeksi RI 4 UI 0-0-1 0-1-0

Infus RL v v v

Heparin v v v

Infus Isosorbid dinitrat v v

Evaluasi

Tidak ditemukan adanya kasus DRP.

Rekomendasi

-

Page 88: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

69

Subjectives :

No. 006

Umur 69 tahun, jenis kelamin laki-laki. Masuk RS 26Juli 2009 keluar 31 Juli 2009 di kelas VIPB. Keluhan 2 hari sesak

napas, nyeri dada sebelah kiri, mual, muntah 2x, perut sebah. Diagnosis masuk IHD. Diagnosis kerja IHD dan DM.

Diagnosis keluar DM, Heart Failure

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah 26 27 28 29 30

Puasa 70-110 mg/dl 59,4 48,3

Post Prandial <120 mg/dl 40,9 77,1

GDS 165 60

Lemak

Kolesterol <220 mg/dl 117,8

LDL <150 mg/dl 80,6

HDL Lk >35 mg/dl 27,7

Trigliserida <150 47,7

Fungsi Ginjal

Ureum 20-40 mg/dl 76,0

Kreatinin Lk 0,6-1,1 mg/dl 1,5

Asam Urat Lk 3,4-7,0 mg/dl

Fungsi Hati

SGOT Lk 0-37 U/L

SGPT Lk 0-40 U/L

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80

36/76,

36,5/84

36/76, 36/88,

36,1/88

36,2/80,

36,2/92

36/92,

36/92,

36/96

36/76,

36/76,

36,2/76

Tekanan Darah 130/80 110/70,

110/70 110/70,

100/70, 95/60

100/60,

100/70

110/70,

99/60,

120/70

105/70,

100/60,

100/80

Penatalaksanaan

Glimepirid 4mg 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Ramipril 2,5mg 0-0-0,5 0-0-0,5 0-0-1 0-0-0,5 0-0-1

Klopidogrel 0-0-1 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Isosorbid dinitrate 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1

Ondansentron 1-1-0 1-1-1 1-0-1 1-1-1

Natrium Bikarbonat 1-0-0 1-0-0

Cefixime 50 0-0-1

Mecobalamin 0-0-1

Ranitidin 0-0-1

Inj. Cefotaxime 1-0-0 1-0-0

Inj. Furosemid 1-0-0 0,5-0-0

Inj. Esomeprazole 0-1-0

Inf. Ass v v v

Evaluasi

Tidak ditemukan adanya kasus DRP.

Rekomendasi

-

Page 89: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

70

Subjectives :

No. 007

Umur 58 tahun, jenis kelamin laki-laki. Masuk RS tanggal 27 Juli 2009 selama 6 hari dengan keluhan 3 hari tidak enak

badan, lemes, mual, pusing dan poliuri. Diagnosis masuk hipertensi dan DM. Diagnosis kerja DM II tak terkendali,

hipertensi dan febris. Diagnosis keluar DM, hipertensi, dispepsia.

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 27 Juli 28 Juli 29 Juli 30 Juli 31 Juli 1 Agus

Puasa 70-110 104,6

Post Prandial <120 332,5 172,2

GDS 574 461, 413,

146, 223,

302, 445,

369, 364

306, 397,

277

113, 667,

309

103, 149,

230, 62

101

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 191,0

LDL <150 122,7

HDL Lk >35 34,6

Trigliserida <150 168,3

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 91,4

Kreatinin Lk 0,6-1,1 1,5

Asam Urat Lk 3,4-7,0 3,93

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Lk 0-37 23,1

SGPT Lk 0-40 28,7

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80 38,1/100 36,5/80 36,2/80,

36,4/86,

36/80

36,5/80,

36/84,

36/84

36,1/80,

36/80,

36/80

36/80

Tekanan Darah 130/80 190/110 170/80 180/100,

160/100,

140/90

150/90,

150/90,

130/90

150/90,

140/90,

130/80

140/90

Penatalaksanaan

Parasetamol 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-k/p

Domperidon 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-k/p

Diltiazem 200mg 0-0-1 0-0-1 0-0-1 0-0-1 0-0-1

Bisoprolol 5mg 0,5-0-0 0,5-0-0 0,5-0-0 0,5-0-0 0,5-0-0

Levofloxacin 1-0-0 1-0-0

Kaptopril 25mg 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-0-0

Injeksi insulin 0-0-20 0-30-0 0-30-0 0-30-0 0-24-0

Injeksi insulin 0-0-4UI 1-1-0 1-0-0

Glimepirid 1-0-0

Infuse assering v v v

Infuse NaCl v v

Infuse levofloxacin v v v v v

Evaluasi

Tidak ditemukan adanya kasus DRP.

Rekomendasi

-

Page 90: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

71

Subjectives :

No. 008

Umur 52 tahun, jenis kelamin perempuan. Masuk RS tanggal 29 Juli 2009 selama 6 hari dengan keluhan muntah, badan

lemas dan mengompol. Diagnosis masuk diabetes melitus dan hipertensi. Diagnosis kerja diabetes melitus dan vomitus.

Diagnosis keluar DM tipe 2, hipertensi, ISK, Sindrom metabolic

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 29 Juli 30 Juli 31 Juli 1 Agustus 2 Agustus 3 Agust

Puasa 70-110 137,8

Post Prandial <120 171

GDS 284 266,7

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 237,5

LDL <150 119,9

HDL Pr >45 40,5

Trigliserida <150 385,3

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 64,8 60,1

Kreatinin Pr 0,5-0,9 1,0 0,9

Asam Urat Pr 2,4-5,7 3,66

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Pr 0-31 51,5 46,9

SGPT Pr 0-31 76,1 74,5

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80 36,4/118 37,4/88,

36/88,

36,8/88,

36/80

36/88, 36/80 36,3/89 36/80,

36,5/80,

36/80

36,5/80

Tekanan Darah 130/80 180/100 160/90,

130/90,

130/90,

120/90

130/90,

180/90

130/80 140/80,

130/80,

140/80

170/100

Penatalaksanaan

Parasetamol 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-0

Domperidon 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 0-1-1 1-1-0

Phenazopiridine HCl 2-1-1 1-1-2 1-1-1 1-1-1 1-1-0

Alprazolam 0,5mg 1-1-1 1-1-1 1-1-1 ½ - ½ -1 1-1-0

Gliquidone 1-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-0

Simvastatin 0-0-1 0-0-1 0-0-1 0-0-1 0-0-1

Piracetam 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1

Injeksi Cefotaxime 1g 0-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-0

Infus RL 20 tpm v v v v v v

Evaluasi

Antihipertensi digunakan untuk mengontrol tekanan darah

Rekomendasi

Perlu pemberian antihipertensi untuk mengontrol tekanan darah seperti kaptopril dari golongan penghambat ACE atau

losartan dari golongan ARB.

Page 91: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

72

Subjectives :

No. 009

Umur 42 tahun, jenis kelamin perempuan. Masuk RS tanggal 30 Agustus 2009 selama 5 hari dengan keluhan nyeri ulu

hati, mual, batuk, pilek. Diagnosis masuk dispnoe, dispepsia. Diagnosis kerja dispnoe, dispepsia. Diagnosis keluar DM

tipe 2, bronkopneumonia.

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 30 Agustus 31 Agustus 1 September 2 September 3 Sept

Puasa 70-110 228,8

Post Prandial <120 261,5

GDS 360 219

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 235,6

LDL <150 179

HDL Pr >45 85,3

Trigliserida <150 287,8

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 31

Kreatinin Pr 0,5-0,9 0,6

Asam Urat Pr 2,4-5,7 5,19

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Pr 0-31 25,5

SGPT Pr 0-31 23,4

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80 36/124,

38,4/112,

36,5/100

36,2/88,

36,3/100

36,1/84,

36,4/84,

36,4/84

36/80, 36,3/80,

36,4/88

36,6/80,

36/80

Tekanan Darah 130/80 110/70,

140/100,

130/80

120/80, 120/80 130/80,

120/80, 130/80

160/100,

140/100,

140/90

140/100,

140/90

Penatalaksanaan

Mg(OH)2, Al(OH)3® 1-1-1 1-1-1 1-0-1 1-1-1 1-1-0

Glimepirid 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Levofloxacin 0-0-1 1-0-0 1-0-0

Erdosteine 0-0-1 1-1-1 1-0-1 1-1-1 1-1-0

Metilprednisolon 0-0-1 1-1-1 1-0-1 1-1-1 1-1-0

Bisoprolol 0-0-1 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Injeksi RI 3x4 ui 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-0-0

Injeksi Levofloxacin 0-1-0 0-1-0 0-1-0

Infus NaCl + 1 amp aminofilin 12

tpm v v v v v

Evaluasi

Tidak ditemukan adanya kasus DRP.

Rekomendasi

-

Page 92: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

73

Subjectives :

No. 010

Umur 66 tahun, jenis kelamin laki-laki. Masuk RS 9 September 2009 selama 5 hari dengan keluhan nyeri punggung, perut

sebah, perut kembung, mual, sesak nafas, terkadang batuk terutama bila merokok. Diagnosis masuk DM, bronchitis,

colicrenal, hipertensi. Diagnosis kerja DM, colicrenal, bronchitis, hipertensi. Diagnosis keluar DM, hipertensi.

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 9 September 10 September 11 September 12 September 13 Sept

Puasa 70-110 103,9

Post Prandial <120 137,6 97,3

GDS 161 71 139 132

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 225,3

LDL <150 166,5

HDL Lk >35 25,7

Trigliserida <150 165,6

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 36,9

Kreatinin Lk 0,6-1,1 1,3

Asam Urat Lk 3,4-7,0

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Lk 0-37 17,4

SGPT Lk 0-40 19,0

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80 36/88, 37,4/84,

36/88,

37,5/130

36/100,

36,8/80,

36/100

36,3/88, 36/84,

36,7/88, 36/84

36,1/84,

37,1/84 37,4/88

Tekanan Darah 130/80 140/100,

130/80,

140/90, 130/90

140/80,

130/80, 130/80

140/90,

140/90,

140/90, 130/80

130/88, 130/80 130/80

Penatalaksanaan

Paracetamol 1-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-0

Glimeripide 1-0-0 1-0-0 1-tunda

Lisinopril 10mg 0-1-0 0-1-0 0-1-0

Metformin HCl 0-0-1 0-1-0

Glimepirid

Bisakodil 0-0-1 1-1-0k/p

Simvastatin 0-0-1 0-0-1

Lansoprazole 1-0-0 1-0-0

Levofloxacin 500mg 1-0-0 1-0-0

Ranitidin 0-1-1 1-0-1 1-stop

Ass 16 TPM v v v v

Evaluasi

Antihipertensi digunakan untuk menurunkan dan mengontrol tekanan darah

Rekomendasi

Pemberian lisinopril ditambahkan selama perawatan untuk mengantisipasi lonjakan tekanan darah.

Page 93: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

74

Subjectives :

No. 011

Umur 55 tahun, jenis kelamin perempuan. Masuk RS tanggal 13 September 2009 selama 4 hari dengan keluhan 3 hari

pelo, pusing, kepala terasa berat, kedua tangan kesemutan. Diagnosis masuk DM, hipertensi. Diagnosis kerja DM, stroke

hemoragik. Diagnosis keluar DM, stroke.

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 13 September 14 September 15 September 16 September

Puasa 70-110 149,6

Post Prandial <120 254,8

GDS 470, 207, 184 144, 311, 342 167, 277, 205 230

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 180,5

LDL <150 103,8

HDL Pr >45 47,9

Trigliserida <150 143,7

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 28,7

Kreatinin Pr 0,5-0,9 0,9

Asam Urat Pr 2,4-5,7 3,12

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Pr 0-31 63,3

SGPT Pr 0-31 46,3

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80 36/92, 36/72,

36/72, 36/80 36/88, 36/84, 36/80

36,4/88, 36,4.86,

36/80

Tekanan Darah 130/80 140/100, 140/80,

120/80, 120/80

140/80, 100/90,

140/80

130/80, 140/80,

140/80

Penatalaksanaan

Losartan ½ 0-1-0 1-0-0 1-0-0

Parasetamol 0-1-1

Domperidon 0-1-1 1-1-1 1-0-0 1-1-0

Cilostazol ½ 0-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-0

Clopidrogel 1-1-0 1-0-0 1-0-0

Metformin 0-1-1 1-0-0

Lansoprazole 1-0-0 1-0-0

Ranitidine 0-1-1 1-0-1

Injeksi RI 6 ui extra 0-1-0

Injeksi Piracetam 3g 0-1-1 1-1-1 1-1-1

Injeksi Citicoline 0-1-0 1-1-1 1-1-1

Infus Assering 16 tpm v V

Infus RL+ RI 20-30 tpm v v (12 tpm) v (20 tpm)

Evaluasi

Antihipertensi digunakan untuk menurunkan dan mengontrol tekanan darah.

Rekomendasi

Sebaiknya losartan tetap diberikan pada hari terakhir pasien dirawat di rumah sakit.

Page 94: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

75

Subjectives :

No.012

Umur 66 tahun, jenis kelamin laki-laki. Masuk RS tanggal 19 September 2009 selama 8 hari dengan keluhan badan lemas,

gemetar, nafsu makan menurun, perut sebah. Diagnosis masuk DM, hipertensi, colicrenal. Diagnosis kerja DM, dispepsi.

Diagnosis keluar hipertensi, dispepsi.

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 19 20 21 22 23 24 25 26

Puasa 70-110

Post

Prandial

<120 102,9

GDS 188 123, 122 130

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220

LDL <150

HDL Lk >35

Trigliserida <150

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 37,2

Kreatinin Lk 0,6-1,1 1,0

Asam Urat Lk 3,4-7,0

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Lk 0-37

SGPT Lk 0-40

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-

80 36,1/100,

36/84,

37,2/80

37,3/108,

36,3/100,

37,2/100

36,7/88,

36,2/84,

37,4/100

38/120,

38,4/12

0,

36/100

36,4/88,

36/80

36/100,

36/92,

37,2/88

36,5/80,

37,5/104 160/80

Tekanan

Darah

130/80 110/70,

100/60,

120/80

120/70,

120/80,

110/80

110/70,

120/70,

140/90

130/70,

150/80,

120/80

130/90,

120/90

110/70,

130/80,

130/70

120/80,

37,5/104 36/88

Penatalaksanaan

Lisinopril ½ 0–0–1 0–0–1 0–0–1 1-0-0 1-0-0

Sulbutamin 1–0–1 1–0–1 1-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-0

Paracetamol 0–0–1 0–1–1 1-1-1 1-1-1

Simvastatin 0–0–1 0–0–1 0–0–1 0–1–1 0-0-1 0-0-1 0-0-1

Metformin 0–1–0 0–1–0 0–1–0 0–1–0 0-1-stop

Teofilin 0–0–1 0–0–1 0–0–1 0–0–1 0-0-1 0-0-1 0-0-1

Domperidon 0–0–1 1–1–1 1–1–1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-0

Injeksi Cefotaxim 1g 0–0–1

(01.00) 1–0–1 1–0–1 1-stop

Ofloxacin 1-0-0

Injeksi Cefotriaxone 2g 0–0–1 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Infuse Ass 20 TPM V

(12TPM) V V V

V

(20TPM) V V

Evaluasi

Lisinopril merupakan antihipertensi golongan penghambat ACE dengan dosis penggunaan 10-40mg/hari dengan frekuensi

pemakaian 1 kali sehari.

Rekomendasi

Pemakaian antihipertensi sebaiknya rutin untuk menghindari peningkatan tekanan darah.

Page 95: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

76

Subjectives :

No.013

Umur 65 tahun, jenis kelamin perempuan. Masuk RS tanggal 27 September 2009 selama 3 hari dengan keluhan lemas,

nggliyer, mual, muntah. Diagnosis masuk diabetes, vertigo. Diagnosis kerja diabetes melitus, hipertensi, vertigo,

hemiparese sinistra. Diagnosis keluar DM tipe 2 dan hipertensi.

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 27 September 2009 28 September 2009 29 September 2009

Puasa 70-110 175,1

Post Prandial <120 194,9

GDS 249

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 175

LDL <150 128,1

HDL Pr >45 10,7

Trigliserida <150 181,2

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 21,7

Kreatinin Pr 0,5-0,9 1,1

Asam Urat Pr 2,4-5,7 6,31

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Pr 0-31 27

SGPT Pr 0-31 16

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80 36/84, 36,7/82 36/80, 36/81, 36/88, 36/80

Tekanan Darah 130/80 160/90, 130/80 130/80, 130/80, 140/80,

170/90

Penatalaksanaan

Glimepirid 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Losartan 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Betahistine mesylate 0-1-1 1-1-1 1-1-0

Co-dergocrine mesylate) 1-0-0 1-0-0 0-1-0

Metformin 0-0-1 1-0-0

Domperidone 0-0-1 1-1-0 1-1-0

Injeksi Piracetam 3g 0-1-0 1-0-1

Injeksi Ranitidin 1-0-1 1-0-0

Infus Assering 20 tpm v v (16 tmp) v

Evaluasi

Tidak ditemukan adanya kasus DRP.

Rekomendasi

-

Page 96: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

77

Subjectives :

No.014

Umur 46 tahun, jenis kelamin laki-laki. Masuk RS 2 Oktober 2009 selama 6 hari dengan keluhan nyeri pergelangan kaki kiri,

badan lemas, pusing. Diagnosis masuk diabetes melitus. Diagnosis kerja diabetes melitus, hipertensi. Diagnosis keluar DM

tipe 2, obesitas, hipertensi.

Objectives :

Parameter Nilai

normal

Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 2 Okt 3 Okt 4 Okt 5 Okt 6 Okt 7 Okt

Puasa 70-110 129,8

Post Prandial <120 172,7 225,9

GDS 148, 222

196, 244,

253 196 226, 281 82

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 181,3

LDL <150 119,7

HDL Lk >35 39,9

Trigliserida <150 108,3

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 30

Kreatinin Lk 0,6-1,1 0,9

Asam Urat Lk 3,4-7,0

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Lk 0-37 24

SGPT Lk 0-40 27

Suhu, Nadi 36-38oC,

70-80 37,7/84,

36,2/80

36/80,

36,4/80,

36,8/84

36/84,

36,9/84,

36/84

36/84,

36/80, 36/80

36/80,

36/80, 36/84 36,2/84

Tekanan Darah 130/80 190/100,

170/120

150/100,

130/90,

130/100

140/80,

130/90,

120/80

160/100,

150/100,

160/90

170/110,

140/100,

150/100

140/80

Penatalaksanaan

Glimepirid 2mg 0-0-1 1-0-0 1-1-0 1-1-0 1-0-0 1-0-0

Sucralfate 0-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-0-0

Na Diklofenak 0-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-0

Irbesartan 0-0-1 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Alprazolam 0,5 mg ½- ½ - 1 ½- ½ - 1 ½- ½ - 1 ½- ½ - ½ ½- ½ - ½ ½- ½ - 0

Bisoprolol 0 -0 - ½ ½ -0 - 0 ½ -0 - 0 ½ -0 - 0 ½ -0 - 0 ½ -0 - 0

Cefotaxime 1gr 0-1-0 1-0-1 1-0-1 1-0-0

Lansoprazole 0-1-0 1-0-0 1-0-0

Meloxicam 0-0-1 1-0-0 1-0-0

Kalium Diklofenak 0-0-1 1-1-1 1-1-0

Infus Ansering 20 tpm v v v v v V

Evaluasi

Antihipertensi berfungsi untuk menurunkan dan mengontrol tekanan darah.

Rekomendasi

Sebaiknya irbesartan diberikan secara rutin untuk mengontrol tekanan darah.

Page 97: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

78

Subjectives :

No. 015

Umur 61 tahun, jenis kelamin laki-laki. Masuk RS tanggal 15 Oktober 2009 selama 8 hari degan keluhan sesak, batuk berdahak, nafsu

makan berkurang, pusing. Diagnosis masuk dispnoe. Diagnosis kerja DM, dispnoe/bronchitis. Diagnosis keluar DM II, hipertensi,

bronkopneumonia.

Objectives :

Parameter Nilai

normal

Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah 15 16 17 18 19 20 21 22

Puasa 70-110 178,1

Post Prandial <120 255,6 230,0

GDS 317, 272,

288

351, 203,

178, 217

236, 318,

174

186, 249,

433, 109

190, 207,

436, 201

264, 306,

257

245, 241,

191

154, 240

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 183,8

LDL <150 133,4

HDL Lk >35 24,4

Trigliserida <150 129,8

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 64,5

Kreatinin Lk 0,6-

1,1

1,5

Asam Urat Lk 3,4-

7,0

7,82

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Lk 0-37 24,3

SGPT Lk 0-40 18,2

Suhu, Nadi 36-38oC,

70-80

36,6/72,

36/80,

36/80

35/88,

36/88,

36/88

36,3/80,

36/80,

36,4/84

36/80,

36/88,

36,5/88

36,2/84,

36,4/84,

36,5/88

36/80,

36,6/84,

36/80

36/80,

36/80

36/84,

36/84

Tekanan

Darah

130/80 160/90,

130/80,

110/70

130/70,

130/80,

140/80

150/90,

140/90,

130/90

130/90,

120/80,

130/80

180/90,

130/90,

130/100

140/100,

130/80,

160/100

140/80,

140/90

140/80,

130/90

Penatalaksanaan

Paracetamol 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 0

Domperidon 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 0

Isosorbid dinitrat 0 – 0 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 0

Ramipril 2,5mg 0 – 0 – 1 1 – 0 – 0 1 – 0 – 0 1 – 0 – 0 1 – 0 – 0 1 – 0 – 0 1 – 0 – 0 1 – 0 – 0

Injeksi Ranitidin 1 – 0 – 1 1 – 0 – 1 1 – 0 – 1 1 – 0 – 1 1 – 0 – 1

Injeksi Furosemide 0 – 1 – 0 0,5–0,5–

0,5

0,5–0,5–

0,5

0,5–0,5–

0,5

0,5 – 0,5 –

0

Infuse ass 20 TPM V (IGD) V V V

Levofloxacin 1fls/hari V V V Habis

Salbutamol 0 – 0 – 1

Furosemide 1 – 0 – 0 1 – 0 – 1 1 – 0 – 0

Lanzoprazole 1 – 0 – 0 1 – 0 – 0 1 – 0 – 0

Glimepirid 1 – 0 – 0 1 – 0 – 0 1 – 0 – 0

Vlidagliptin 1 – 0 – 0 0 – 1 – 0

Insulin 0 – 8IU – 0

0 – 10IU

– 0

Evaluasi

Pemberian golongan penghambat ACE dapat menyebabkan batuk pada pasien.

Rekomendasi

Jika batuk sudah mengganggu, pemberian ramipril dapat diganti dengan obat golongan antagonis angiotensin II

Page 98: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

79

Subjectives :

No. 016

Umur 35 tahun, jenis kelamin laki-laki. Masuk RS 20 Oktober 2009 selama 5 hari dengan keluhan 4 hari mual, muntah, sesak, keringat dingin, anyang-anyangan. Diagnosis masuk dispepsi, vomitus, hipertensi, chest pain. Diagnosis kerja dispepsi, vomitus, hipertensi, ISK, hiperglikemia. Diagnosis keluar

DM II, hipertensi.

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 20 21 22 23 24

Puasa 70-110 240,3

Post Prandial <120 295,7

GDS 294 168

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 268,1

LDL <150 177,6

HDL Lk >35 46,3

Trigliserida <150 220,9

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 35,3

Kreatinin Lk 0,6-1,1 1,0

Asam Urat Lk 3,4-7,0 7,25

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Lk 0-37 45,4

SGPT Lk 0-40 39,7

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80 36,5/116 36,6/116, 36,4/89,

36,4/86

36/80, 36/80 36/96, 36,8/95, 36,5/96

Tekanan Darah 130/80 130/100 190/100, 130/90,

120/80

130/110. 100/80,

190/100

210/110, 150/120,

200/110

Penatalaksanaan

Bisoprolol 0-0-0,5 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Isosrbid dinitrate 0-0-1

Diltiazem 0-0-1

Diltiazem 0-0-1 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Domperidon 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-0

Alprazolam 0,5mg 0-0-1 0-0-1 0-0-1

Betahistin mesylate 0-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-0

Alupurinol 0-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-0

Dergocrin maleat 0-0-1 0-0-1

Asam asetisalisilat 0-0-1 1-stop

Flunarizin 0-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-0

Rosuvastatin 0-0-1 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Losartan 0-0-1 0-0-1 0-0-1

Glimepiride 0-0-1 1-0-0 1-0-0

Metformin 0-0-1 0-0-1 0-0-1

Lisinopril 0-0-1 0-0-1 1-0-0

Eyevit 0-1-1 1-0-0

Asam traneksamat 0-1-1 1-0-0

Injeksi ranitidin IGD 1-0-0 1-0-1 1-0-1

Injeksi Mecobalamin 0-0-1 1-0-0 1-0-0

Asam askorbat 0-0-1 1-0-1 1-0-0

Metamizol 0-0-1 1-1-1 1-0-0

Injeksi Pirasetam 0-0-1 1-1-1-1 1-1-0-0

Infuse Kaen IGD 24v

Infuse assering 16v v

Evaluasi

1. Menurut guideline, terapi lini pertama pada hipertensi adalah penghambat ACE atau antagonis angiotensin II 2. Dosis diltiazem 120-480mg/hari dengan frekuensi pemakaian 1xsehari

Rekomendasi

1. Sebaiknya penggunaan penghambat ACE dan antagonis angiotensin II tidak digunakan bersamaan. Cukup digunakan salah satu saja penghambat

ACE atau antagonis angiotensin II.

2. Pemakaian diltiazem sebaiknya 1 macam obat saja,

Page 99: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

80

Subjectives :

No. 017

Umur 49 tahun, jenis kelamin laki-laki. Masuk RS tanggal 21 November 2009 selama 4 hari dengan keluhan pusing hilang

timbul. Diagnosis masuk DM. Diagnosis kerja DM, hipertensi. Diagnosis keluar DM II Obese.

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 21 22 23 24

Puasa 70-110 171,6 316

Post Prandial <120 304,2 302,8

GDS

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 201,1 161,4

LDL <150 124,4 128,2

HDL Lk >35 Pr >45 44,5 12,2

Trigliserida <150 160,8 104,8

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 24,4 18,8

Kreatinin Lk 0,6-1,1 0,9 1,0

Asam Urat Lk 3,4-7,0 5,69

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Lk 0-37 30,0

SGPT Lk 0-40 46,7

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80 36/100, 36,2/60,

36/70

36/84, 36/84,

36/88, 36/80

36,8/84, 36/82,

36,2/88

36,2/84

Tekanan Darah 130/80 210/110, 180/110,

180/100

170/100, 170/110,

160/100, 160/100

160/100, 170/100,

170/100

170/100

Penatalaksanaan

Parasetamol 1 – 0 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 -

Domperidon 0 – 0 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 0

Irbesartan 300mg 0 – 1 – 0 1 – 0 – 0 1 – 0 – 0 1 – 0 – 0

Diltiazem CD 0 – 1 – 1 1 – 0 – 1 1 – 0 – 1 1 – 0 – 0

Clobazam 0 – 0 – 1 1 – 1 – 1 1 – 1 – 1 -

Atorvastatin 0 – 0 – 1 0 – 0 – 1 0 – 0 – 1 -

Glimepirid 2mg - - 1 – 0 – 0 -

Injeksi Insulin 4 UI 09.30 - - -

Infuse Asering 20 TPM 09.00 (dr IGD),

23.10 - 06.45 -

Evaluasi

Dosis diltiazem CD 180-480mg/hari dengan frekuensi pemakaian 1xsehari

Rekomendasi

Frekuensi pemakaian diltiazem CD dikurangi menjadi 1xsehari

Page 100: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

81

Subjectives :

No. 018

Umur 60 tahun, jenis kelamin perempuan. Masuk RS 3 Januari 2010 selama 4 hari dengan keluhan sesak nafas. Diagnosis

masuk DM, hipertensi, PPOK. Diagnosis kerja DM tipe 2, obese febris, hipertensi, PPOK, CAD (coronary artery disease),

OMI (old miokard infark) dan IHD. Diagnosis keluar DM tipe 2, hipertensi.

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 3 4 5 6

Puasa 70-110 178

Post Prandial <120 228,4

GDS 256, 226,9

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 230,6

LDL <150 160,9

HDL Pr >45 62,5

Trigliserida <150 35,8

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 59,2

Kreatinin Pr 0,5-0,9 1,0

Asam Urat Pr 2,4-5,7 6,71

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Pr 0-31 14,2

SGPT Pr 0-31 18,7

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80 37,3/120, 36,7/96 36/88, 36,2/120 36,5/96, 36/90,

36,7/96

36/88, 36/88

Tekanan Darah 130/80 200/100, 220/110 186/120, 150/80 150/90, 148/100,

160/100

180/100,

160/100

Penatalaksanaan

Kaptopril 25mg 0-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-0

Parasetamol 0-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-0

Metformin 0-0-1 1-0-1 1-1-1 1-1-1

Ambroxol 0-0-1 1-1-1 1-1-1 0-1-1

Cefixime 1-0-1

Salbutamol 0-1-0 0-0-1 1-1-1 1-1-1

Teofilin 1-0-1

Metilprednisolon 0-0-1

Injeksi Furosemide 0-1-0 0-0-1 1-0-0

Injeksi Dexa 0-1-0 1-0-1 1-0-0

Injeksi Cefotaxime 0-0-1 1-0-1 1-0-1

Infus RL 5 tpm, 12 tpm v

Infus RL+aminophilin 1½ amp 18

tpm v v V

Evaluasi

Pemberian antihipertensi golongan penghambat ACE dapat menyebabkan batuk.

Rekomendasi

Dilakukan monitoring terhadap pemberian penghambat ACE jika batuk pasien sudah mengganggu pemberian antihipertensi

ini dapat digantikan dengan golongan antagonis angiotensin II

Page 101: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

82

Subjectives :

No. 019

Umur 75 tahun, jenis kelamin laki-laki. Masuk RS tanggal 1 Februari 2010 selama 3 hari dengan keluhan sesak nafas,

berdahak, mual , scrotum iritasi, tangan udem. Diagnosis masuk dispnoe. Diagnosis kerja dispnoe. Diagnosis keluar infeksi

sekunder, DM tipe 2, obese, mitral regurgitasi

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 1 Februari 2 Februari 3 Februari

Puasa 70-110 209,4

Post Prandial <120 198,9

GDS 231, 190 237, 257, 217 219, 276, 192

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 129,9

LDL <150 87,3

HDL Lk >35 27,8

Trigliserida <150 74

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 58,1

Kreatinin Lk 0,6-1,1 0,8

Asam Urat Lk 3,4-7,0 5,31

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Lk 0-37 75,1

SGPT Lk 0-40 23,3

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80 36,8/76, 36/80, 36,3/60 36/64, 36/76, 36,5/76 36/76, 36,2/76, 36/80

Tekanan Darah 130/80 150/80, 150/90, 140/80 180/90, 150/80, 140/80 130/80, 140/90, 150/80

Penatalaksanaan

Metilprednisolon 0-0-1 1-0-1 1-0-1

Salbutamol 0-0-1 1-0-1 1-0-1

Succus liquirittiae 0-0-1 1-1-1 1-1-1

Kaptopril 12,5mg 0-0-1 1-1-1 1-1-1

Glimepirid 0-0-1

Injeksi Furosemid 0-0-1 1-0-0 1-0-0

Injeksi RI 3x6 ui 0-0-1 1-1-1 1-1-0

Injeksi Ondansetron 0-1-1 1-1-1

Infus Assering 10 tpm v v v

Infus asam amino, elektrolit, sorbitol v v v

Infus Levofloxacin 1fls/hr v v v

Infus Asam amino v v

Infus RL v v

Evaluasi

Tidak ditemukan adanya kasus DRP.

Rekomendasi

-

Page 102: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

83

Subjectives :

No. 020

Umur 62 tahun, jenis kelamin laki-laki. Masuk RS tanggal 5 Februari 2010 selama 6 hari dengan keluhan lemas, tidak mau makan, mual,

terdapat ulkus di kaki kanan. Diagnosis masuk DM ulkus cruris. Diagnosis kerja DM ulkus cruris. Diagnosis keluar DM ulkus cruris,

hipertensi.

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 5 6 7 8 9 10

Puasa 70-110

Post Prandial <120 309,3

GDS 192, 330 234, 250,

281

328, 237,

197

208, 331,

216

271, 231,

266

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 137

LDL <150 92,5

HDL Lk >35 26,3

Trigliserida <150 91,1

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 57,4

Kreatinin Lk 0,6-1,1 1,3

Asam Urat Lk 3,4-7,0 6,5

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Lk 0-37 12

SGPT Lk 0-40 10,6

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80 36,3/80,

36/80, 36/80

36,3/88,

36/80,

36/100

37,2/88,

37/84,

36,4/80

36,2/84,

36,8/84,

36/80

36/80,

36,6/84

36/80,

36/80

Tekanan Darah 130/80 170/100,

120/80,

110/70,

160/120

120/80,

110/70,

100/60,

150/100

120/80,

150/80,

130/80

110/70,

110/60,

120/70

110/70,

140/90

130/80,

120/80

Penatalaksanaan

Cilostazol 100mg 0-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-0

Amlodipine besylate5mg 0-0-1 1-0-1 1-0-1 0-0-1 0-0-1

Gabapentin 0-0-1 0-0-1 0-0-1

Cefdinir 100mg 0-0-1 1-0-0

Repaglinid 1-1-0

Parasetamol 0-1-0

Ranitidin 0-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-0

Injeksi Insulin 16ui 0-0-1 (20 ui) 0-0-1 (8 ui)

Ondansetron 0-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-1

Injeksi RI 10 0-0-1 0-0-1 1-0-0 1-0-0 (8 ui)

Injeksi Insulin 0-0-1 1-1-1 1-1-1

Infus Levofloxacin 0-0-1 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Infus Asering 16 tpm v v v v v v

Aminofluid+Actrapid 16tpm v v v

PRC, NaCl v

Evaluasi

1. Antihipertensi digunakan untuk menurunkan dan mengontrol tekanan darah.

2. Menurut guideline aturan pemakaian amlodipin adalah 2,5-10mg 1 kali sehari

Rekomendasi

1. Sebaiknya amlodipin tetap digunakan pada hari terakhir pasien dirawat di rumah sakit.

2. Sebaiknya pada hari ke 2 dan ke 4 amlodipin diberikan 1 kali sehari saja.

Page 103: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

84

Subjectives :

No. 021

Umur 74 tahun, jenis kelamin perempuan. Masuk RS tanggal 5 Maret 2010 selama 5 hari dengan keluhan sesak nafas

kurang lebih 1 minggu, kecapekan bila jalan jauh-jauh, batuk, pilek. Diagnosis masuk DM, decomp cordis, dispnoe.

Diagnosis kerja DM, dispnoe, bronchitis, decomp cordis. Diagnosis keluar DM tipe 2, obese, hipertensi.

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 5 6 7 8 9

Puasa 70-110 120.2

Post Prandial <120 170 99,3

GDS 197

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 184,5

LDL <150 115,2

HDL Pr >45 21,8

Trigliserida <150 237,4

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 62,7

Kreatinin Pr 0,5-0,9 0,8

Asam Urat Pr 2,4-5,7 8,81

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Pr 0-31 24,5

SGPT Pr 0-31 24,2

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80 36,5/80 36,2/80,

36,6/76, 36/88

36,5/80, 36/80 36/80, 36,7/80,

36,9/80

36/84, 37/88

Tekanan Darah 130/80 130/90 130/90,

130/80, 130/80

120/70, 110/70 130/80,

150/80, 110/70

120/80,

160/80

Penatalaksanaan

Gliclazide 1-1-0 1-1-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Metformin 1-1-0 1-1-0 1-1-0 1-1-0 1-1-0

Lisinopril 10 mg 0-0-1 0-0-1 1-0-0

KCl 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Alprazolam 0,5 mg 0-0-1 0-0-1 0-0-1 0-0-1

Bromhexine 1-1-1 0-1-1 1-1-1

Furosemide 1-0-0 1-0-0

Injeksi Bromhexine 0-0-1 1-0-1 1-1-1

Injeksi Levofloxacin 0-1-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Injeksi Furosemide 1-0-0

Infus Ansering 20 tpm v v v v V

Evaluasi

1. Lisinopril merupakan antihipertensi golongan penghambat ACE.

2. Pemberian dalam bentuk sediaan berbeda dengan zat aktif yang sama termasuk dalam polifarmasi.

Rekomendasi

1. Sebaiknya lisinopril diberikan secara teratur.

2. Sebaiknya pada hari ketiga, injeksi furosemid dan tablet furosemid diberikan salah satunya saja.

Page 104: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

85

Subjectives :

No. 022

Umur 74 tahun, jenis kelamin laki-laki. Masuk RS tanggal 12 Maret 2010 dengan keluhan 2hari pusing berputar-putar, mual, badan panas.

Diagnosis masuk DM, obese febris, SNH. Diagnosis kerja DM, vertigo, SNH. Diagnosis keluar DM tipe 2 dan hipertensi.

Objectives :

Parameter Nilai

normal

Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 12 13 14 15 16 17 18 19

Puasa 70-110 96,6 87,1

Post Prandial <120 147,1 133,8

GDS

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 139,7

LDL <150 103,3

HDL Lk >35 21,3

Trigliserida <150 75,5

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 137,2 133,2 157,2

Kreatinin Lk 0,6-1,1 3,6 3,4 3,9

Asam Urat Lk 3,4-7,0 8,16

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Lk 0-37 25,6

SGPT Lk 0-40 21,4

Suhu, Nadi 36-38oC,

70-80

36,5/72,

36/88,

36/80,

37/80

36,3/80,

36/80

36,5/80,

36,5/80,

36,7/88

36/80,

36/80,

36,7/84

36/88,

36/88,

36,4/88

36/80,

36/80,

36,6/80

36,5/80,

36/88,

36,3/88

36/80

Tekanan

Darah

130/80 160/80,

150/80,

150/90,

160/90

100/90,

160/80

160/90,

130/70,

180/80

170/90,

160/90,

140/80

140/80,

160/80,

150/80

140/80,

180/90,

170/80

140/90,

150/80,

140/80

160/90

Penatalaksanaan

Gliquidone ½ -0-0 ½ -0-0 ½ -0-0 ½ -0-0 ½ -0-0 ½ -0-0

Adenosine triphospate 1-0-0 1-1-0 1-1-0 0-1-0 1-0-0 1-1-0 1-1-0 1-1-0

Alprazolam 0-0-1 0-0-1 0-0-1 0-0-1 0-0-1 0-0-1 0-0-1

Piracetam 800mg 1-0-1 1-0-1 1-0-1 1-1-1 1-1-0

Hydrocortisone ½ tab 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Betahistine mesylate 0-0-1 1-1-1 1-1-1

Losartan 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-0

Aminoral 0-0-1 0-2-0 2 -1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-0

Furosemide 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Amiodipine besylate 5mg 1-0-0 1-0-1 1-0-1 1-0-0

Injeksi Piracetam 3g 1-1-1 1-1-1 1-1-1

Infus Assering 16 tpm v v v v v v v V

Infus Asam Amino 1fl/hr v v v v v V

Evaluasi

1. Menurut guideline aturan pemakaian amlodipin adalah 2,5-10mg satu kali sehari.

2. Efek samping dari losartan (golongan ARB) dapat meningkatkan kadar kreatinin (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan

Klinik, 2006)

Rekomendasi

1. Sebaiknya pemakaian amlodipin pada hari ke 6 dan ke 7 satu kali sehari saja.

2. Sebaiknya losartan diberikan 1x 1 sehari untuk menurunkan risiko terjadinya efek samping dari losartan berupa peningkatan

kadar kreatinin.

3. Sebaiknya pemberian furosemide ditingkatkan menjadi 2x sehari agar penurunan tekanan darah optimal.

Page 105: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

86

Subjectives :

No.023

Umur 70 tahun, jenis kelamin laki-laki. Masuk RS tanggal 13 Maret 2010 dengan keluhan pusing dan muntah 10 kali.

Diagnosis masuk DM, vertigo. Diagnosis kerja DM, vertigo. Diagnosis keluar DM tipe 2 obese, hipertensi, vertigo.

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 13 Maret 14 Maret 15 Maret 16 Maret

Puasa 70-110 159,5

Post Prandial <120 156,4

GDS 209, 294, 227 241, 266, 302 333, 212, 319 180, 173

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 281,7

LDL <150 210

HDL Lk >35 28,6

Trigliserida <150 215,4

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 31,7

Kreatinin Lk 0,6-1,1 1,0

Asam Urat Lk 3,4-7,0

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Lk 0-37

SGPT Lk 0-40

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80 36,4/60, 36/80,

36,3/80

36,3/80, 36,3/80,

36/80

36/80, 36/80 36/80, 36/88

Tekanan Darah 130/80 160/90, 130/80,

120/70

110/80, 120/80,

130/70

135/80, 130/70 170/90, 140/90

Penatalaksanaan

Domperidone 1-1-1 1-1-1 1-1-1

Mg(OH)2, Al(OH)3® 1-1-1 1-1-1 1-1-1

Flunarizine 1-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-0

Metformin 1-0-1 1-1-1 1-0-0

Simvastatin 1-0-1

Lansoprazole 1-0-0

Injeksi Insulin 1-0-1 (12ui) 1-0-1 (16ui) (24ui)1-0-1(26ui) (24ui)1-0-0

Injeksi Ondansentron 1(4mg)-0-1(8mg) 1-0-0

Injeksi Ranitidine 1-0-0 1-0-1 1-0-0

Infus Assering 20 tpm 1-0-0

Evaluasi

Tidak ditemukan adanya kasus DRP.

Rekomendasi

-

Page 106: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

87

Subjectives :

No. 024

Umur 73 tahun, jenis kelamin perempuan. Masuk RS tanggal 2 April 2010 selama 3 hari dengan keluhan 3 hari batuk, sesak,

keringat dingin. Diagnosis masuk dispnoe. Diagnosis kerja dispnoe, DM, hipertensi. Pasien akhirnya meninggal dunia pada

tanggal 4 April 2010.

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 2 April 2010 3 April 2010 4 April 2010

Puasa 70-110 159,2

Post Prandial <120 179,5

GDS 316, 216 197, 128

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 99,6

LDL <150 79,1

HDL Pr >45 3,9

Trigliserida <150 83,3

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 54,4

Kreatinin Pr 0,5-0,9 1,4

Asam Urat Pr 2,4-5,7 89

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Pr 0-31 268,9

SGPT Pr 0-31 115,9

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80 36/120, 36/88 37,4/100, 37/100 36/96

Tekanan Darah 130/80 190/110, 140/90 140/90, 160/100 200/100

Penatalaksanaan

Ramipril 0 – 0 – 1 1 – 0 – 0 1 – 0 – 0

Amlodipine besylate 0 – 0 – 1

Amiodarone HCl 0 – 0 – 1 1 – 1 – 1 1 – 0 – 0

Ekstra Kurkumin ® 0 – 1 – 1 1 – 0 – 0

N-acetylcysteine 0 – 1 – 1 1 – 1 – 0

Azhitromycin 0 – 1 – 1 1 – 0 – 0

Injeksi ranitidine 0 – 0 – 1 1 – 1 – 0 1 – 0 – 0

Injeksi Insulin 0 – 0 – 1 0 – 0 – 1

Injeksi Furosemid 0 – 0 – 1 1 – 0 – 0 1 – 0 – 0

Injeksi RI 1 – 0 – 0

Infus Ass 20TPM V(12tpm) V V

Evaluasi

Antihipertensi digunakan untuk menurunkan dan mengontrol tekanan darah

Rekomendasi

Sebaiknya amlodipin tetap diberikan selama pasien menjalani perawatan.

Page 107: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

88

Subjectives :

No. 025

Umur 73 tahun, jenis kelamin laki-laki. Masuk RS tanggal 12 April 2010 selama 3 hari dengan keluhan lemah, mimisan,

jatuh saat berjalan. Diagnosis masuk hipertensi, epistaksis. Diagnosis kerja hipertensi, epistaksis, stroke. Diagnosis keluar

DM, hipertensi, Nefropati.

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 12 April 2010 13 April 2010 14 April 2010

Puasa 70-110 87,5

Post Prandial <120 105

GDS 93

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220

LDL <150

HDL Lk >35

Trigliserida <150

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 86,5

Kreatinin Lk 0,6-1,1 2,9

Asam Urat Lk 3,4-7,0

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Lk 0-37 25,9

SGPT Lk 0-40 30,1

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80 36/72, 36/84 36/76, 36,6/80, 36/88

Tekanan Darah 130/80 190/100, 180/80, 160/90 190/100, 180/80, 160/80

Penatalaksanaan

Irbesartan ½ - 0 - 0 1-0-0 1-0-0

Gliquidone 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Vit K 1-0-1 1-1-0 1-1-0

Flunarizine 0-0-1 1-0-1 1-0-0

Mebhydrolin napadisylate 0-0-1 1-0-1 1-0-0

Zolpidem tartrate 0-0-1 0-0-1

Asam Valerat® 1-1-0 1-1-0

Piracetam 1-1-0 1-1-0

Amiodipine besylate 1-0-0

Lansoprazole 1-0-0

Ranitidine 1-0-1 1-0-0

Injeksi Tranexamid acid 500 1-1-1 1-0-0

Infus Assering 20 tpm v v v

Evaluasi

Tidak ditemukan adanya kasus DRP.

Rekomendasi

-

Page 108: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

89

Subjectives :

No.026 Umur 68 tahun, jenis kelamin laki-laki. Masuk RS tanggal 27 April 2010 selama 8 hari. Diagnosis masuk dispnoe. Diagnosis kerja CAD-OMI, dispnoe,

DM. Diagnosis keluar stroke, nefropati diabetic, congestive heart failure, DM.

Objectives :

Parameter Normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 27 April 28 April 29 April 30 April 1 Mei 2 Mei 3 Mei 4 Mei

Puasa 70-110 100,7 118,7

Post Prandial <120 156,7 164,9

GDS

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 121,6 154,6

LDL <150 88,7 114,6

HDL Lk >35 18,3 19,7

Trigliserida <150 72,9 103,1

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 102 66,9

Kreatinin Lk 0,6-1,1 1,5 1,0

Asam Urat Lk 3,4-7,0 6,8

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Lk 0-37

SGPT Lk 0-40

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-

80 36,5, 36,8 36,6, 36,5 36, 36,8,

36,8, 36,5

36,2,

36,7/80, 36,8/76

36/76,

36/88, 36//84

36/80,

36/96, 36/96

36/70

Tekanan Darah 130/80

85/70, 105/62,

138/85,

119/80, 134/84,

132/83,

115/73, 115/74,

119/75,

117/72, 130/88

125/81,

106/74, 134/75,

108/70,

106/66, 106/66,

130/60,

130/60, 124/84,

120/76,

116/70, 113/72,

116/72

127/80,

138/117,

89/61, 110/64,

119/80,

113/69, 115/71,

109/82,

118/78

116/70,

106/62, 120/77,

147/90,

125/73, 113/81,

136/73,

113/64, 112/72,

118/77

122/80, 118/77,

125/79,

109/83, 134/85,

113/67,

110/70, 110/80

140/80,

110/70,

130/90

100/70,

140/90,

140/80

120/80

HR ( /menit) 72, 93, 81,

82, 80, 74,

75, 75, 89, 70

74, 70, 71,

68, 69, 87, 68, 78, 80,

80, 73, 73,

73

76, 73, 71, 84, 78, 80,

86, 72, 76

72, 74, 80, 83, 77, 82,

76, 77, 78

75, 73, 72, 70-76, 84,

86

Penatalaksanaan

Isosorbide dinitrate 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-1 1-1-0

Gliclazide ½ 0-1-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Lisinopril 5mg 1-0-0 1-0-0 0-0-1

Irbesartan ½ -0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Klopidogrel 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Alprazolam 0,5 0-0-1 0-0-1 0-0-1 0-0-1 0-0-1 0-0-1

Cefadroxil monohydrate 0-0-1 1-0-1 0-0-1 1-1-0 1-0-0

Injeksi Furosemide ½ amp 0-1-0 1-1-0 1-1-0 1-1-1 0-1-0 1-0-0

Infus Assering 20 tpm v v v v v v v

Infus Asam Amino 12 tpm v v v v v v

Evaluasi

1. Menurut guideline, terapi lini pertama pada hipertensi adalah penghambat ACE atau antagonis angiotensin II 2. Pemberian antihipertensi ditujukan untuk mengontrol tekanan darah

Rekomendasi

1. Sebaiknya digunakan salah satu golongan antihipertensi saja. Golongan penghambat ACE atau antagonis angiotensin II

2. Sebaiknya antihipertensi (furosemid, irbesartan dan lisinopril) diberikan secara teratur.

Page 109: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

90

Subjectives :

No. 027

Umur 57 tahun, jenis kelamin perempuan. Masuk RS pada tanggal 28 Mei 2010 selama 4 hari dengan keluhan nyeri di

bagian tubuh kanan, lemas, mual dan kejang. Diagnosis masuk DM tipe 2, tumor otak. Diagnosis kerja DM tipe 2, obese,

obs.convulsi, epilepsy ec tumor otak. Diagnosis keluar DM tipe 2, obese, hipertensi, Sindrom metabolik

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 28 Mei 2010 29 Mei 2010 30 Mei 2010 31 Mei 2010

Puasa 70-110

Post Prandial <120 306,9

GDS 381, 279 270, 308 308

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 296,4

LDL <150 200,8

HDL Pr >45 41,5

Trigliserida <150 270,6

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 16,4

Kreatinin Pr 0,5-0,9 0,8

Asam Urat Pr 2,4-5,7 3,4

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Pr 0-31 27,8

SGPT Pr 0-31 33,8

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80 36,6/80, 36/88 36,3/82, 36,8/84 36/88, 36,5/88,

36,3/88

36/80, 36,4.80

Tekanan Darah 130/80 160/90, 110/70,

150/100

160/100, 110/70 110/70, 110/70,

120/80

120/80, 110/70

Penatalaksanaan

Diltiazem 100mg 0-0-1 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Glimepirid 1-0-0 1-0-0 1½ -0-0

Parasetamol 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-1-0

Domperidon 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-1-0

Alprazolam 0,5mg 0-0-1 0-0-1

Fenitoin 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-1-0

Metamizole Na, Diazepam 0-0-1 1-1-1 1-1-1 1-1-0

Vildagliptin 0-0-1 0-0-1 1-0-0 0-1-0

Injeksi Ondansetron HCl 0-0-1

Infus Assering ui 20 tpm v v v v

Evaluasi

Tidak ditemukan adanya kasus DRP.

Rekomendasi

-

Page 110: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

91

Subjectives :

No. 028

Umur 66 tahun, jenis kelamin perempuan. Masuk RS tanggal 4 Juni 2010 selama 2 hari dengan keluhan batuk, sesak,

demam, mual, pusing, lemas, nafsu makan berkurang. Diagnosis masuk asma bronkitis. Diagnosis kerja asma bronkitis,

obese febris, hipertensi dan DM. Diagnosis keluar DM, hipertensi dan bronkitis.

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 4 Juni 2010 5 Juni 2010

Puasa 70-110 204,4

Post Prandial <120 254

GDS 268, 221,8

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 181,8

LDL <150

HDL Pr >45

Trigliserida <150 37,6

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 31,4

Kreatinin Pr 0,5-0,9 0,6

Asam Urat Pr 2,4-5,7 7,44

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Pr 0-31 31,5

SGPT Pr 0-31 64,6

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-80 38/136, 37,6/100, 36/92 36,5/80, 150/90

Tekanan Darah 130/80 220/90, 150/80, 150/90 170/90, 150/90

Penatalaksanaan

Salbutamol 0-1-1 1-1-1

Kaptopril 25mg 0-1-1 1-1-1

Metformin 500mg 0-1-1 1-1-1

Parasetamol 0-1-1 1-1-1

Mg(OH)2, Al(OH)3® 1-1-1

Injeksi Cipro 0,2mg 0-1-1 0-0-1

Injeksi Dexamethason 0-1-1 0-0-1

Infus RL 16 tts +1½ Aminophilin v v

Evaluasi

Efek antihipertensi dari penghambat ACE (kaptopril) dapat menurun karena pemberian bersamaan dengan antasida.

Rekomendasi

Perlu dilakukan monitoring terhadap pemberian kedua obat tersebut.

Page 111: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

92

Subjectives :

No. 029

Umur 75 tahun, jenis kelamin perempuan. Masuk RS tanggal 5 Juni 2010 selama 7 hari dengan keluhan demam, badan linu, bahu kanan

terasa sakit, nyeri gerak, mual, sakit perut, sulit BAB. Diagnosis masuk obs. febris, dispepsi, hipertensi. Diagnosis kerja obs.febris,

dispepsi, hipertensi. Diagnosis keluar DM, ISK, dispepsi.

Objectives :

Parameter Nilai normal Tanggal Pemeriksaan

Kadar Gula Darah (mg/dl) 5 6 7 8 9 10 11

Puasa 70-110 264,8 304,8 284,5

Post Prandial <120 267,4 200,6 331,9 292,8

GDS 505

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <220 162,8

LDL <150 119,6

HDL Pr >45 22,7

Trigliserida <150 102,3

Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 20-40 39,8 116,6

Kreatinin Pr 0,5-0,9 1,1 2,2

Asam Urat Pr 2,4-5,7 3,66

Fungsi Hati (U/L)

SGOT Pr 0-31 20,4

SGPT Pr 0-31 22,8

Suhu, Nadi 36-38oC, 70-

80 37,8/120,

36/92,

36/80,

36/80

36/80,36/80

36,7/100,

36,8/124,

36,2/88,

36,2/124,

36/120,

36/64

36/92, - ,

36/92, - ,

36/92

36/88, - ,

36/100

36/76,

36/74,

36/88

36,3/100

Tekanan Darah 130/80

190/90,

120/80 100/60, 100/70

90/60,

80/60,

90/60,

80/55,

80/60,

100/70

90/65,

100/65,

110/7-,

100/70,

120/80

140/90,

130/80,

110/70

110/70,

110/70,

115/70

110/70

Penatalaksanaan

Parasetamol 0-0-1 1-1-1 1-0-0

Losartan 0-0-1 1-0-0 1-0-0

Glimepirid 3mg 1-0-0 1-0-0 0-1-0 1-0-0

Alprazolam 0,5mg 0-0-1 1-1-1 1-0-1 1-1-1 0-1-0 1-1-0

Flunarizin 0-0-1 1-0-0 1-1-1 1-1-0

Pipemidic acid 0-0-1 1-0-1 1-0-1 1-0-1 0-1-0 1-0-0

Methisoprinol 0-0-1

Domperidone 0-1-0

Asam lipoat® 0-0-1 1-0-0

Betahistine mesylate 0-0-1 1-1-1 0-1-0 1-1-0

Bisakodil 0-1-0 1-1-0

Vlidagliptin 1-0-0

Injeksi Cefotaxime 1g 0-0-1 0-0-1 0-0-1

Injeksi Odansentron 4mg 0-0-1 1-0-0 1-0-0 0-0-1 1-0-1(8mg)

Injeksi Ceftriaxone 1g 0-0-1 1-0-0 1-0-0 1-0-0

Infus Assering 20 tpm v v V v v v v

Evaluasi

Antihipertensi digunakan untuk menurunkan dan mengontrol tekanan darah.

Rekomendasi

Losartan sebaiknya diberikan selama pasien dirawat di rumah sakit.

Page 112: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

93

Lampiran 4. Daftar Aturan Pemakaian Obat Kelas Terapi Sub Kelas

Terapi

Kelompok Nama Generik Aturan

Pakai

Gizi dan Darah

Anemia dan

Gangguan

Darah Lain

Anemia

megaloblastik

Mecobalamin 1x1

Cairan dan

Elektrolit

Gangguan

keseimbangan

cairan dan elektrolit

KCl 1x1

Na Bikarbonat 1x1

PIRC, NaCl 1x1

Asering 1x1

Ringer Laktat 1x1

RL + Aminofilin 1x1

NaCl +

Aminofilin

1x1

Nutrisi

Glukosa ® 1x1

Aminoral 1x1

Asam amino 1x1

Asam Amino,

histidine

1x1

L-threonine® 1x1

Ekstra Kurkuma® 2x1

Vitamin

Vitamin C Asam askorbat 1x1

Vitamin B

Fursultiamine

HCL

1x1

Sulbutiamine 2x1

Vitamin K Vitamin K 2x1

Multivitamin Asam Lipoic® 1x1

Sistem Endokrin

Diabetes

Insulin

Regular Insulin 1x1

Insulin Glargine 1x1

Insulin Isophane 1x1

Insulin Isophane

Biphasic

2x1

Antidiabetika Oral

Glimepirid 1x1

Glikuidon 1x1

Gliklazid 1x1

Metformin HCl 1x1

Repaglinid 2x1

Vildagliptin 1x1

Kortikosteroid Glukokortikoid Deksametason 1x1

Metilprednisolon 1x1

Kardiovaskular

Aritmia Anti aritmia Amiodarone HCl 1x1

Adenosin trifosfat 1x1

Antihipertensi

Beta-bloker Bisoprolol 1x1

Penghambat ACE

Captopril 3x1

Lisinorpil 1x1

Ramipril 1x1

Antagonis Reseptor

Angiotensin II

Losartan K 2x1

Irbesartan 1x1

Antiangina Nitrat Isosorbid dinitrat 1x1

Page 113: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

94

Isosorbide

mononitrate

1x1

Antagonis Kalsium

Diltiazem 1x1

Amlodipine

besylate

1x1

Nifedipin 1x1

Anti angina lain Trimetazidine

diHCl

2x0,5

Diuretik Tiazid Hidroklortiazid 1x1

Diuretika kuat Furosemid 1x1

Antikoagulan

dan protamin

Antiplatelet

Antikoagulan

parenteral

Heparin Sodium 1x1

Acetylsalicylic

acid

1x1

Klopidrogel 1x1

Silostazol 3x1

Hemostatik dan

antifibrinolotik

Tranexamid acid 3x1

Hipolipidemik Statin

Simvastatin 1x1

Atorvastatin 1x1

Rosuvastatin Ca 1x1

Gangguan

sirkulasi darah Vasodilator perifer

Flunarizine 2x1

Co-dergocrine

mesylate

1x1

Citicoline 3x1

SistemSaraf

Pusat

Hipnosis dan

Ansientas

Hipnosis Zolpidem tartrate 1x1

Ansietas

Alprazolam 1x1

Diazepam 1x1

Klobazam 3x1

Mual dan

Vertigo

Antivertigo

Betahistine

masylate

3x1

Domperidom 3x1

Antagonis 5-HT3 Ondansetron 2x1

Analgesik Analgesik non-

opioid

Metamizole Na,

Diazepam

3x1

Antiinfeksi Antibakteri

Sefalosporin dan

antibiotik beta-

laktam lainnya

Cefadroxil 1x1

Cefdinir 1x1

Cefixime 1x1

Cefotaxime 2x1

Ceftriaxone 1x1

Makrolida Azitromisin 1x1

Kuinolon

Levofloxacin 1x1

Pefloxacin 1x1

Ciprofloxacin 2x1

Saluran Cerna

Dispesia dan

refluks

gastroesofagal

Antasida dan

simetikon

Mg(OH)2® 3x1

Mg(OH)1,

AL(OH)3 ®

3x1

Antitukak

Antagonis reseptor-

H2

Ranitidin 2x1

Kelator dan Sukralfat 3x1

Page 114: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

95

senyawa kompleks

Penghambat pompa

proton

Lansoprazole 1x1

Esomeprazole 1x1

Pencahar Stimulan

Bisakodil 1x1

Na Lauryl

Sulfoasetat®

1x1

Saluran Napas

Antiasma dan

bronkodilator

Teofilin Anhydrous

theophyline

1x1

Agonis

adrenoreseptor

(Simpatomimetik)

Salbutamol 3x1

OBH® 3x1

Antihistamin,

hiposensitisasi,

dan kedaruratan

alergi

Antihistamin

Mebhidrolin

napadisilat

1x1

Mukolitik

Ambroxol HCl 3x1

Bromhexine 3x1

Erdosteine 2x1

N-acetylcystein 2x1

Obstetrik,

ginekologik, dan

saluran kemih

Gangguan

Saluran Kemih

Antiseptik saluran

kemih

Pipemidic acid 1x1

Fenazopiridin HCl 3x1

Golongan Lain Asam valerat® 2x1

Otot Skelet dan

Sendi

Obat reumatik

dan gout

Antiinflamasi non-

steroid (AINS)

Meloksikam 1x1

Na Diklofenak 2x1

K Diklofenak 2x1

Obat gout dan

hiperurisemia

karena induksi

sitotoksi

Alopurinol 2x1

Obat yang

digunakan

dalam gangguan

neuromuskuler

Pelemas otot skelet

Chlorzoxazone 1x1

Page 115: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian

96

BIOGRAFI PENULIS

Penulis bernama lengkap Margareta Krisantini Punto

Arsi merupakan putri bungsu dari A. Punto WS dan

M.I. Kristiastuti, yang lahir pada tanggal 18 Maret

1989. Penulis mengenyam pendidikan di TK Santa

Maria Magelang pada tahun 1993-1995, SD Santa

Maria Magelang pada tahun 1995-2001, SLTP

Tarakanita Magelang tahun 2001-2004, SMA Negeri 1

Magelang tahun 2004-2007 dan tahun 2007 hingga sekarang di Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penulis mempunyai pengalaman berorganisasi di Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang cukup, antara lain, sebagai seksi

dana dan usaha pada pelepasan wisuda 2008, koordinator kesekretariatan dan

penerima tamu pada pelepasan wisuda 2008, seksi dana dan usaha pada donor

darah JMKI 2008, bendahara bakti sosial pengobatan gratis 2008, bendahara

seminar herba medicine 2008, ketua panitia malam keakraban JMKI 2009,

koordinator seksi konsumsi Pharmacy Performance 2009, serta menjadi relawan

apoteker pada saat bencana merapi 2010. Selain itu, penulis juga pernah menjadi

asisten praktikum botani dasar pada tahun 2008 dan 2009.

Page 116: EVALUASI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN … · 3. Ibu Ami selaku staff rekam medis bagian rawat inap dan seluruh staff rekam medis atas ijin, kerjasama dan bantuan saat penelitian