Etnografi KRL Ekonomi

  • View
    188

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of Etnografi KRL Ekonomi

Iis Sabahudin

L APORAN P ENELITIAN ETNOG RAFI

Kereta Rel Listrik Ekonomi: Suaka Pencari NafkahPendahuluanStudi etnografi ini mengupas tentang ekonomi bazaar pada kereta rel listrik (KRL) yang kadang saya tumpangi untuk melakukan perjalanan, terutama ketika hendak kuliah ke kampus Universitas Indonesia (UI). Saya kadang harus melakukan perjalanan ke Bogor untuk urusan pekerjaan, dan untuk dapat membawa saya ke sana moda transportasi yang menjadi pilihan pertama saya adalah KRL, baik itu KRL

ekonomi, maupun commuter line, yang saat memulai penelitian ini masih bernamaexpress AC dan ekonomi AC. KRL dapat membawa saya ke Bogor dengan cepat, tanpa khawatir macet, dan murah. Saya bisa mengukur kapan saya harus berangkat dari rumah jika saya hendak bepergian dengan menggunakan KRL. Mungkin karena kemudahan memperkirakan waktu tempuh perjalanan itu KRL menjadi selalu penuh, sesak dengan penumpang, terutama para pekerja. Pada jam -jam masuk kerja dan pulang kerja KRL ekonomi akan penuh dengan para penumpang hingga membludak ke bagian atap kereta. Saya menumpang KRL pertama kali tahun 1989 saat hendak ke Bogor bersama ayah dan adik perempuan saya. KRL yang saya tumpangi saat itu yaitu KRL

ekonomi. Kami naik dari stasiun Pasar Minggu. Pengalaman pertama saya, anak kelassatu sekolah menengah pertama, naik KRL ekonomi itu tidak enak, sangat menyiksa. Bagaimana tidak, sejak saat pertama kali masuk ke dalam KRL, kami bertiga sudah

harus berdesak-desakan, berimpitan, berpeluh keringat, dan berbagi bau badan denganpenumpang lain. Sejak masuk sampai tiba di Bogor kami bertiga terus berdiri. Bahkan, saya ingat waktu itu ayah saya sempat bersitegang dengan penumpang lain yang ia curigai hendak mencopet dompetnya. Saya tidak begitu menyadari apakah saat itu sudah ada pedagang asongan yang berjualan di dalam KRL atau belum. Tapi yang saya ingat saat itu tidak ada orang yang berteriak -teriak menjajakan barang dagangan sesemarak sekarang.

1

Itu adalah sekelumit pengalaman saya sewaktu kecil di KRL ekonomi. Namun,

pengalaman tidak nyaman tersebut ternyata masih harus saya alami hingga saat ini.Tetap harus berdesak-desakan di dalam KRL ekonomi di jam sibuk, antara jam enam sampai jam delapan pagi dan jam empat sampai jam tujuh sore. Pemandangan yang lebih menyeramkan terjadi pada KRL ekonomi yang menuju Jakarta pada pagi hari, dan KRL ekonomi menuju Bogor pada sore hari. Kala itu penumpang KRL tidak hanya padat di bagian dalam gerbong, tapi juga meluber hingga ke atap, sambungan gerbong, ruang masinis, bahkan hingga di muka dan ekor gerbong KRL ekonomi.

Gambar 1 Pemandangan KRL Ekonomi di Suatu Pagi

Di luar jam -jam sibuk, saya sangat senang naik KRL ekonomi, karena banyak pemandangan, terutama pemandangan seliweran pedagang asongan di dalam KRL

ekonomi. Beranekaragam barang dijajakan pedagang asongan. Harga barang di KRLekonomi banyak yang jauh lebih murah dibanding harga barang serupa di luar. Barang yang dijajakan pedagang asongan di KRL ekonomi juga beragam, kadang

lucu-lucu dan mengundang senyum. Mpet -mpetan yang mengeluarkan bunyi sepertitangis bayi misalnya, membuat saya tersenyum geli karena suaranya mirip benar 2

dengan bayi, harganya juga murah, hanya seribu rupiah, seharga ongkos parkir sepeda motor di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) UI. Trik pedagang

asongan untuk menggaet pembelipun bermacam -macam. Barangkali yang pernah naik KRL ekonomi sudah tahu dan mengerti ketika ada seorang pedagang asonganmeletakkan sebuah barang dagangannya di tangan, itu artinya dia sedang menawarkan barangnya. Kalau tidak mau membelinya, biarkan barang tersebut terletak di tangan sampai si pedagang asongan mengambilnya dari tangan kita. Jika tertarik membelinya tinggal tanya harganya. Umumnya barang yang ditawarkan seharga seribu sampai dua

ribu rupiah.Fenomena aktivitas jual beli di moda transportasi sudah lazim terjadi di Indonesia. Bahkan fenomena aktivitas jual beli di KRL ekonomi memiliki kekhasan

sendiri dan sudah menjadi ciri KRL ekonomi. KRL ekonomi adalah kereta bazaar,bazaar di atas kereta. Oleh karena kekhasannya inilah yang menarik saya untuk menelitinya.

Gambar 2 Pedagang Sekoteng: Antara Menumpang dan Numpang Berjualan

3

Tinjauan PustakaBazaar diistilahkan Wikipedia sebagai area perdagangan permanen, pasar, atau jalan toko -toko (street of shops) di mana barang dan jasa dipertukarkan atau dijual (en.wikipedia.org ). Menurut kamus online Merriam Webster, bazaar diterjemahkan sebagai a place for the sale of goods. Istilah ekonomi bazaar lebih disuka disebut sebagai sektor ekonomi informal oleh para ahli ekonomi. Sektor informal ini tidak terorganisasi (unorganized ), tidak teratur (unregulated), dan kebanyakan legal tetapi tidak terdaftar (unregistered ). Di negara berkembang sektor informal ini berperan penting. Di Indonesia, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2008), 73,53 juta atau 72 persen dari sekitar 102,05 juta pekerja Indonesia bekerja di sektor informal. Sethuraman (1996) dalam Winarso dan Budi (bulletin.penataanruang.net, diakses 3 Oktober 2011)

mengistilah kan sektor informal untuk sejumlah kegiatan ekonomi yang berskalakecil. Ekonomi bazaar ini, menurut Saifuddin (2011:101), adalah keseluruhan kegiatan ekonomi dalam masyarakat yang berbasis di rumah tangga, yang meliputi produksi barang dan jasa, pendistribusiannya dalam masyarakat, dan pengonsumsian pada lapisan masyarakat tertentu, tidak banyak menjangkau keluar dari lingkaran subsistensi dan self-sufficiency itu. Kegiatan ekonomi itu antara lain berdagang di kaki lima, berdagang makanan di warteg, tukang parkir tidak resmi, pengamen, pengangkut barang, tukang ojek, preman pasar, dan lain-lain. Walau bekerja dalam lingkungannya sendiri, massa yang terlibat dalam lingkaran ekonomi bazaar ini sangat besar. T.G. McGee (1977) dalam Saifuddin (2011:102) menduga ekonomi bazaar itu bisa melibatkan sekitar 60 sampai 70 persen dari keseluruhan total kebutuhan dasar masyarakat lapisan ekonomi menengah ke bawah.

Hans-dieter Evers, ahli sosiologi dari Universitas Bellefeld, yang lama meneliti diIndonesia, menduga bahwa jumlah itu jauh lebih banyak lagi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan lain-lain, karena jumlah penduduk miskin di Indonesia sebenarnya lebih banyak dari catatan resmi statistik. Dalam press release yang dikeluarkan humas Universitas Gajah Mada (UGM) pada websitenya (www.ugm.ac.id), UGM menganggap sektor informal memiliki

peran yang besar di negara-negara sedang berkembang (NSB), termasuk Indonesia. DiNSB, sekitar 30 hingga 70 persen populasi tenaga kerja di perkotaan bekerja di sektor informal. Sektor informal memiliki karakteristik seperti jumlah unit usaha yang 4

banyak dalam skala kecil; kepemilikan oleh individu atau keluarga, teknologi yang

sederhana dan padat tenaga kerja, tingkat pendidikan dan keterampilan yang rendah,akses ke lembaga keuangan daerah, produktivitas tenaga kerja yang rendah dan tingkat upah yang juga relatif lebih rendah dibandingkan sektor formal.

Ekonomi bazaar atau ekonomi sektor informal ini menjadi isu yang banyak dikaji,terutama pada tema kemiskinan di perkotaan Indonesia. Sebagian besar literatur tentang kajian ekonomi bazaar atau ekonomi sektor informal tersebut, terutama literatur penelitian pada pertengahan tahun 1970 yang disponsori ILO, banyak

memfokuskan pada pekerjaan, pendapatan, dan pengeluaran (Jellinek, 1994:5) .

Kajian-kajian tentang bazaar atau sektor informal banyak dilakukan pada kaki limadan pemilik warung-warung atau toko -toko kecil di pinggir jalan, serta sejarah kemunculannya yang merupakan efek dari pembangunan kota (Jellinek, 1994; Murray, 1994; Sulistyanto, 1999; Parid, 2003 ). Beberapa kajian berusaha mengetahui corak keteraturan sosial dalam pekerjaan-pekerjaan di sektor informal seperti pedagang asongan dan pedagang kaki lima, yang oleh pemerintah dianggap mengganggu ketertiban umum dan merupakan pelanggaran hukum, sehingga kajiannya bertujuan untuk mengetahui pendekatan -pendekatan penegakan hukum yang dapat diambil tanpa membuat kerusuhan (peace maintenance) (Wiyono: 2002), dan mencari solusi penanggulangannya untuk menciptakan kemanan dan ketertiban

masyarakat yang mantap (Naroth: 1994; Hardjanto: 1999; Sulistyanto: 1999; Wiyono:2002). Kajian lainnya melihat terjadinya proses peminggiran terhadap pekerjaanpekerjaan sektor informal (pedagang kaki lima dan asongan) sebagai akibat dari implementasi kebijakan pemerintah dalam menciptakan ketertiban umum (Parid: 2003), dan reaksi adaptif pelaku ekonomi sektor informal tersebut terhadap perubahan lingkungannya (Hadiwinoto: 2010).

Penjelasan-penjelasan yang ada pada kajian -kajian di atas belum menjelaskankondisi sektor informal di KRL ekonomi, yang terutama dilakoni oleh pedagang asongan. Untuk tujuan itu, penelitian ini berupaya mengisi kekosongan (gap ) kajian mengenai praktik keseharian dan strategi pedagang asongan di KRL ekonomi Jabotabek dalam bertahan hidup di perkotaan. Strategi mempertahankan hidup di sini maksudnya adalah bagaimana pedagang asongan tersebut bertindak dan berperilaku untuk mencapai tujuan -tujuan tertentu yang memberikan makna baginya.

Sebagaimana dinyatakan Parsons dan Shils (1962:4- 5),5

The interest of the theory of action, however, is directed not to the physiological processes internal to the organism but rather to the organization of the actor's orientations to a situation... The orientation of action to objects entails selection, and possibly choice... Selection is made possible by cognitive discriminations, the location and characterization of the objects, which are simultaneously or successively experienced as having positive or negative value to the actor, in terms of their relevance to satisfaction of drives and their organiza