Estetika Sunda dan Implementasinya dalam Desain lib. Internasional Budaya Sunda II 2 Abstrak Estetika adalah dasar dari penciptaan seni.Setiap karya seni adalah produk budaya masyarakat

  • View
    223

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of Estetika Sunda dan Implementasinya dalam Desain lib. Internasional Budaya Sunda II 2 Abstrak...

  • Konferensi Internasional Budaya Sunda II 1

    Estetika Sunda dan Implementasinyadalam Desain Kontemporer

    Dr. Jamaludin, M.Sn

  • Konferensi Internasional Budaya Sunda II 2

    Abstrak

    Estetika adalah dasar dari penciptaan seni.Setiap karya seni adalah produk budaya masyarakatpenciptanya yang memiliki konsep estetika sendiri yang lahir dari sistem kepercayaan dankebudayaan masyarakat tersebut.Setiap karya seni, kriya atau desain yang diciptakansekelompok masyarakat tidak hanya dalam hubungannya dengan aspek fungsi produk tersebuttetapi juga merupakan produk yang memiliki aspek simbolik yang berhubungan dengankepercayaan termasuk kosmologi atau mitologi yang hidup di masyarakat tersebut.Arsitekturtradisional Sunda merupakan produk masyarakat Sunda pada zamannya yang memiliki kaitandengan berbagai faktor seperti sistem kepercayaan, geografis dan lingkungan sosial.

    Makalah ini membahas kerangka estetika dalam budaya Sunda dengan menggunakan sumberungkapan dan peribahasa.Temuan tiga bentuk dasar yaitu persegi, lingkaran dan segitiga danmakna simboliknya dalam ungkapan dan peribahasa Sunda.Persegi terdapat dalam hirup kudumasagi, lingkaran dalam niat kudu buleud dan segitiga dalam bale nyungcung dan buananyungcung.Ketiga bentuk dasar tersebut dapat dijadikan sebagai sumber baru bagipengembangan desain kontemporer berbasis budaya Sunda termasuk di dalamarsitektur.Selain bentuk dasar, karakteristik geografis Tatar Sunda dan budaya masyarakatnyajuga dapat dijadikan sumber kreativitas dalam perancangan desain kontemporer.

    Kata kunci: estetika, Sunda, tradisional, kontemporer, bentuk dasar, desain

    A. Pendahuluan

    Secara umum untuk menentukan identitas desain dan arsitektur Sunda sering mengacu kepada

    ciri-ciri yang terdapat dalam arsitektur tradisional Sunda.Hal yang masih memungkinkan

    mengingat di wilayah habitat masyarakat Sunda masih terdapat kampung adat seperti

    Kampung Naga di Salawu Tasikmalaya dan Kanekes di Lebak Banten. Hal yang pokok dan

    dapat dianggap sebagai ciri khas dan menjadi faktor pembeda adalah unsur estetika yang

    dikandungnya. Unsur estetika ini dapat berupa fisik atau formal dapat juga berupa simbol

    yang dilekatkan kepada bentuk fisik atau formal suatu karya seni atau arsitektur.

    Unsur estetika baik formal maupun simbolik dalam prakteknya tidak berdiri sendiri tetapi

    merupakan bagian integral dari suatu artefak budaya masyarakat yang terkait erat dengan

    kemampuan setiap masyarakat yang dihubungkan dengan lingkungannya. Teori yang dapat

    dipakai untuk menjelaskan kemampuan manusia tradisional (pra-modern) mengembangkan

    kemampuan diri dalam hubungannya dengan kondisi lingkungan diungkapkan Walker (1989)

    yang mengutarakan temuan Karl Popper dan E.H. Gombrich berupa teori deterministik yang

    disebutnya Logika Situasi (Situational Logic) sebagai berikut.

    Karl Popper and E.H. Gombrich have argued for a situational logic in whichhumans are contrained by time, place and circumtance but even so have a degree of

  • Konferensi Internasional Budaya Sunda II 3

    freedom to pursue alternative direction. Certainly, wahterver the limist imposed on adesigner by money, technology, the brief, and so on, there is usually more than oneway of solving a design problem (Walker, 1989)

    Bahwa manusia dibatasi oleh waktu, tempat dan kondisi yang meskipun demikian masih

    memiliki derajat kebebasan untuk mencapai tujuan alternatif.Umumnya, faktor alam seperti

    iklim dan geografi sangat relevan dalam pengembangan desain dan arsitektur (Walker, 1989).

    Sementara James Fitch dan DanielBranch mengutarakan teorinya bahwa penentu desain

    dalam masyarakat primitif (tradisional, vernakular) adalah lingkungan, seperti Eskimo dan

    Indian Amerika Utara bergantung pada material alam khas yang ada di lingkungannya: salju

    bagi orang Eskimo dan kulit binatang dan ranting kayu bagi orang Indian adalah material

    yang dipakai untuk hunian mereka. Agar dapat bertahan mereka harus membangun hunian

    dengan material yang cocok dengan iklim lokal. Demikian juga dengan orang Sunda pada

    masa lalu yang membangun hunian dengan material yang disediakan alam sekitarnya.

    Selain faktor alam, faktor pola hidup juga memberi bentuk terhadap cara manusia

    membangun model hunian. Masyarakat peladang berpindah akan berbeda dengan masyarakat

    petani sawah dalam caranya mengembangkan hunian. Masyarakat dengan lingkungan yang

    sering terjadi peperangan akan membangun benteng pertahanan. Desain vernakular dalam

    konteks arsitektur tradisional merupakan hasil dari kearifan pragmatis yang telah berlangsung

    berabad-abad.

    B. Enam Paparan Arsitektur Vernakular

    Istilah desain tradisional, lebih dahulu muncul dalam khasanah arsitektur dan dikenal dengan

    istilah arsitektur vernakular. Menurut Victor Papanek (1995), arsitektur vernakular didasarkan

    atas pengetahuan praktis dan teknik tradisional, biasanya dibangun sendiri oleh pemilik

    dibantu oleh kerabat dan tukang bangunan setempat dengan menunjukkan kualitas

    pertukangan tertinggi yang dimiliki. Struktur desain vernakular cenderung mudah dipelajari

    dan dipahami. Material yang dipakai sebagian besar diambil dari lingkungan sekitar. Dari segi

    bentuk dan penggunaan material, bangunan merupakan solusi yang tepat dipandang dari segi

    ekologi dalam arti cocok dengan iklim, lingkungan dan cara hidup masyarakatnya. Desain

    vernakular tidak bersifat menonjolkan diri tetapi menyeleraskan diri dengan alam sekitar. Dari

    segi ukuran, desain vernakular senantiasa berskala manusiawi, proses pembuatan sama

    pentingnya dengan hasil akhir. Desain vernakular adalah gabungan dari kecocokan dengan

  • Konferensi Internasional Budaya Sunda II 4

    lingkungan, berskala manusia, dibuat dengan usaha terhadap kualitas pertukangan yang tinggi

    yang pada kasus tertentu disertai dengan perhatian yang besar terhadap dekorasi, ornamentasi

    dan hiasan dengan cita rasa sederhana yang menghasilkan desain yang indah.

    Papanek lebih jauh mengemukakan enam paparan (six explanations) mengenai arsitektur

    vernakular. Pertama, Paparan Metodologis (Methodological Explanation), yaitu bahwa desain

    vernakular dapat dilihat dari metodenya yang merupakan gabungan dari material, alat dan

    proses. Dalam konteks desain tradisional Sunda, tampak bahwa setiap material yang dipakai,

    memiliki karakteristik yang khas sehingga memerlukan alat khusus yang juga khas untuk

    mengolahnya dengan melalui proses pembuatan dan pemasangan tertentu sesuai dengan sifat

    material dan kemampuan alat. Sifat material dan jenis bambu tertentu misalnya, dapat dipakai

    dalam keadaan utuh, dibelah, atau dibuat anyaman. Masing-masing jenis bambu dipakai untuk

    bagian tertentu di dalam konstruksi bangunan. Bambu utuh untuk kaso penyangga atap,

    bambu gombong dibelah dan diratakan dipakai untuk lantai (palupuh) sedang awi tali (bambu

    tali) dianyam dijadikan bilik untuk dinding.

    Gambar 1 Proses pengeringan bahan lantaidari bambu (palupuh).

    Lokasi: kampung Gajeboh Baduy

    Gambar 2 Proses pengeringan daun kirayyang telah dianyam untuk bahan atap.

    Lokasi: kampung Gajeboh Baduy.

    Gambar 3 Proses memperkuat kayudengan cara direndam di kolam.

    Lokasi: kampung Gajeboh Baduy

    Gambar 4 Proses pembuatan bahanatap dari daun kiray.

    Lokasi: kampung Ciranji Baduy

  • Konferensi Internasional Budaya Sunda II 5

    Kedua, Paparan Dispersi dan Konvergensi (Dispersion and Convergence Explanation).

    Dispersimenunjuk padapenyebaran suatu gaya desain dari suatu wilayah ke wilayah lain

    mengalami perubahan dalam upaya adaptasi dengan kondisi lingkungan baru. Teori

    konvergensi menjelaskan gaya desain tertentu akan memusat pada suatu kondisi geografi dan

    iklim yang sama dan cenderung menggunakan pola-pola desain yang sama. Pendapat ini

    didukung Hyppolite Taine (Walker, 1986) yang mengemukakan bahwa model ini mengacu

    pada faktor biologi (seperti ras dan keturunan) untuk menjelaskan karakter desain dalam

    masyarakat tertentu. Teori ini dapat menjelaskan fakta adanya kesamaan bentuk dan material

    di dalam konteks desain tradisional Sunda mulai dari Kampung Kuta di ujung timur hingga

    Kanekes (Baduy) di barat. Meskipun dipisahkan oleh jarak ratusan kilometer, bentuk dasar

    model rumah di Kampung Kuta dan desa Kanekes relatif memiliki kesamaan yaitu model

    rumah panggung dengan penggunaan material yang ada di lingkungannya. Latar budaya dan

    keturunan yang sama, dalam hal ini budaya dan etnik Sunda, yang secara langsung

    dipengaruhi oleh kondisi geografis dan iklim, tampaknya memberi pengaruh utama. Lebih

    jauh lagi, kesatuan geografi dan iklim, dalam berbagai hal secara relatif akan memiliki

    kesamaan.

    Gambar 5 Rumah di kampung Kaduketugdesa Kanekes Leuwidamar Lebak

    Gambar 6 Rumah di kampung Naga desaNeglasari Salawu Tasikmalaya

    Gambar 7Rumah di Kampung Kuta TambaksariCiamis

    Gambar.8 Rumah di Kampung Pulo Garut

  • Konferensi Internasional Budaya Sunda II 6

    Ketiga, Paparan Evolusi (Evolusionary Explanation), yaitu bahwa meskipun arsitektur

    vernakular berakar pada nilai-nilai tradisional, menyimbolkan kontinuitas di dalam

    masyarakat, pada bagian tertentu tampak adanya sejumlah perubahan meskipun cenderung

    lamban. Dalam observasi ke dua wilayah studi kasus, teori ini juga tampak relevan terutama

    di kawasan Kampung Kuta Ciamis. Perubahan penggunaan material baru hasil industri

    terbatas pada perabotan tertentu yang disesuaikan dengan nilai tradisi yang dianut dan

    dipertahankan. Dengan kata lain penggunaan material hasil industri dise