99
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user i EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DAN METODE KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DITINJAU DARI GAYA BELAJAR SISWA TESIS Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Pendidikan Matematika Oleh: MISBAHUL IBAD S850809312 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

i

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS

(STAD) DAN METODE KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DITINJAU DARI GAYA BELAJAR SISWA

TESIS

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Pendidikan Matematika

Oleh: MISBAHUL IBAD

S850809312

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2011

Page 2: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

ii

LEMBAR PERSETUJUAN

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DAN METODE KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS

TOGETHER (NHT) DITINJAU DARI GAYA BELAJAR SISWA

Disusun oleh:

MISBAHUL IBAD NIM. S850809312

Telah disetujui oleh Tim Pembimbing

Dewan Pembimbing Jabatan

Nama Tanda Tangan Tanggal

Pembimbing I Drs. TRI ATMOJO K, M.Sc, Ph.D. NIP. 19630826 198803 1 002

............................... ...................

Pembimbing II Drs. SUYONO, M.Si NIP. 19500301 197603 1 002

............................... ...................

Mengetahui Ketua Program Studi Pendidikan Matematika

Dr. MARDIYANA, M.Si NIP. 19660225 199302 1 002

Page 3: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

iii

LEMBAR PENGESAHAN

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS

(STAD) DAN METODE KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DITINJAU DARI GAYA BELAJAR SISWA

Disusun oleh:

MISBAHUL IBAD NIM. S850809312

Telah disetujui oleh Tim Penguji Jabatan

Nama Tanda Tangan Tanggal

Ketua Dr. MARDIYANA, M.Si. NIP. 19660225 199302 1 002

............................. ...................

Sekretaris Dr. RIYADI, M.Si NIP. 19670116 199402 1 001

............................. ...................

Anggota Drs. TRI ATMOJO K, M.Sc., Ph.D. NIP. 19630826 198803 1 002

............................. ...................

Drs. SUYONO, M.Si NIP. 19500301 197603 1 002

............................. ...................

Direktur Program Pascasarjana UNS,

Prof. Drs. SURANTO, M.Sc., Ph.D. NIP. 19570820 198503 1 004

Surakarta, Ketua Program Studi

Pendidikan Matematika,

Dr. MARDIYANA, M.Si NIP. 19660225 199302 1 002

Page 4: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

viii

PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : MISBAHUL IBAD

NIM : S850809312

Prodi : Pendidikan Matematika

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang berjudul:

”Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Metode Kooperatif Tipe Student

Teams Achievement Divisions (STAD) dan Metode Kooperatif Tipe Numbered

Heads Together (NHT) Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa” adalah benar-benar

karya saya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya dalam tesis ini diberi tanda

citasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka.

Demikian pernyataan saya, apabila pernyataan saya tidak benar, maka saya

bersedia menerima sanksi berupa pencabutan tesis dan gelar yang saya peroleh

dari tesis tersebut.

Yang menyatakan

MISBAHUL IBAD

Page 5: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

iv

ABSTRAK

Misbahul Ibad. S850809312. Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Metode Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) dan Metode Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa. Pembimbing I: Drs. Tri Atmojo Kusmayadi, M.Sc., Ph.D. Pembimbing II: Drs. Suyono, M.Si. Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2011.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Apakah pembelajaran matematika pada materi sistem persamaan linear dan kuadrat dengan metode pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik daripada metode kooperatif tipe STAD (2) Apakah peserta didik yang mempunyai gaya belajar auditorial akan mempunyai prestasi belajar lebih baik dibanding dengan peserta didik yang mempunyai gaya belajar visual, peserta didik dengan gaya belajar auditorial akan mempunyai prestasi belajar yang lebih baik dibanding dengan peserta didik yang mempunyai gaya belajar kinestetik, dan peserta didik yang mempunyai gaya belajar visual akan mempunyai prestasi belajar yang lebih baik dibanding peserta didik yang mempunyai gaya belajar kinestetik (3) Apakah perbedaan prestasi belajar dari masing-masing metode pembelajaran konsisten terhadap masing-masing gaya belajar siswa dan apakah perbedaan antara masing-masing gaya belajar siswa konsisten pada setiap motode pembelajaran.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan desain faktorial 2×3. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X (sepuluh) SMA Negeri di kota Kediri. Pengambilan sampel dilakukan dengan stratified cluster random sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 219 orang dengan rincian 109 orang untuk kelas eksperimen 1 dan 110 orang untuk kelas eksperimen 2. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes prestasi belajar matematika dan angket gaya belajar siswa. Sebelum digunakan untuk pengambilan data, instrumen tes prestasi dan angket gaya belajar terlebih dahulu diujicobakan. Penilaian validitas isi instrumen tes dan angket dilakukan oleh validator. Uji reliabilitas instrumen tes menggunakan rumus KR-20, sedangkan uji reliabilitas instrumen angket menggunakan rumus Cronbach Alpha. Daya pembeda tes dan konsistensi internal angket menggunakan rumus korelasi produk momen dari Karl Pearson. Uji keseimbangan menggunakan uji rerata t, dengan 05,0=α diperoleh kesimpulan bahwa kedua kelompok eksperimen dalam keadaan seimbang. Uji prasyarat meliputi uji normalitas dengan menggunakan metode uji Lilliefors dan uji homogenitas menggunakan metode Bartlett dengan statistik uji Chi Kuadrat. Dengan 05,0=α diperoleh kesimpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan homogen.

Berdasarkan uji hipotesis diperoleh kesimpulan bahwa: (1) Metode pembelajaran kooperatif tipe NHT memberikan prestasi yang lebih baik dibanding metode pembelajaran kooperatif tipe STAD. (2) Siswa dengan gaya belajar visual memiliki prestasi belajar yang sama dengan siswa dengan gaya belajar auditorial. Siswa dengan gaya belajar visual memiliki prestasi belajar yang sama dengan siswa dengan gaya belajar kinestetik. Siswa dengan gaya belajar auditorial

Page 6: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

v

memiliki prestasi belajar yang lebih baik dibanding siswa dengan gaya belajar kinestetik. (3) Perbedaan prestasi belajar dari masing-masing metode pembelajaran konsisten terhadap masing-masing gaya belajar dan perbedaan antara masing-masing gaya belajar konsisten pada setiap metode pembelajaran. Sehingga pada masing-masing metode pembelajaran siswa dengan gaya belajar visual memiliki prestasi belajar yang sama dengan siswa dengan gaya belajar auditorial, siswa dengan gaya belajar visual memiliki prestasi belajar yang sama dengan siswa dengan gaya belajar kinestetik, siswa dengan gaya belajar auditorial memiliki prestasi belajar yang lebih baik dibanding siswa dengan gaya belajar kinestetik. Demikian juga pada masing-masing gaya belajar, metode pembelajaran kooperatif tipe NHT memberikan prestasi yang lebih baik dibanding metode pembelajaran kooperatif tipe STAD. Kata kunci: Student Teams Achievement Divisions (STAD), Numbered Heads Together (NHT), gaya belajar siswa

Page 7: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

  vi

ABSTRACT Misbahul Ibad. S850809312. Experimentation of Mathematics Learning of Cooperative Method Student Teams Achievement Divisions (STAD) Type and Cooperative Method Numbered Heads Together (NHT) Type considered from the Student Learning Styles. 1st advisor: Drs. Tri Atmojo Kusmayadi, M.Sc., Ph.D. 2nd advisor: Drs. Suyono, M.Si. Thesis. Mathematics Education Studies Program, Postgraduate Program Sebelas Maret University Surakarta. 2011.

The purposes of this study are to determine: (1) whether the learning of mathematics in the material of linear and quadratic equation system using cooperative learning methods NHT type better than cooperative methods STAD type (2) whether students who have auditory learning style will have a better achievement compared with students who have a visual learning style, students who have auditory learning style will have a better achievement compared with students who have a kinesthetic learning style, and students who have a visual learning style will have a better achievement than students who have a kinesthetic learning style (3) whether the difference in achievement of each learning method consistent to each student's learning style and whether the differences among students' learning styles are consistent in each learning method.

This study is a quasi experimental research with 2×3 factorial design. The population of this study is all tenth grade students of senior high schools in Kediri. Sampling was done by stratified cluster random sampling. The sample in this study are 219 people with details of 109 people for class experiment 1 and 110 people for class experiment 2. The Instruments used to collect data are mathematics achievement test and student learning styles questionnaire. Before being used for data collection, the instruments firstly tested. Validity of the content of test instruments and questionnaires were assessed by the validator. Reliability of test instruments tested using KR-20 formula, while the questionnaire instrument using Cronbach alpha formula. Discriminant of test and internal consistency of questionnaires using the product moment correlation formula of Karl Pearson. Average balance test using t test, with 05.0=α concluded that both the experimental group in a balance condition. Prerequisites test include normality test using Lilliefors test method and homogeneity test using Bartlet method by Chi Square test statistic. With

05.0=α concluded that the samples come from populations with normal distribution and homogeneous.

Based on the hypothesis test, it is concluded that: (1) Cooperative learning methods NHT type provide a better performance than cooperative learning method STAD type. (2) Students with visual learning style have the same achievement with students with auditory learning styles. Students with visual learning style have the same achievement with students with kinesthetic learning styles. Students with auditory learning styles have a better academic achievement than students with kinesthetic learning styles. (3) Difference in achievement of each learning method is consistent with their respective learning styles and differences between individual learning style is consistent in each learning

Page 8: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

  vii

method. So in each learning method, students with visual learning style have the same achievement with students with auditory learning style, students with visual learning style have the same achievement with students with kinesthetic learning styles, students with auditory learning styles have better achievement than students with kinesthetic learning styles. Similarly, in their respective learning styles, cooperative learning methods NHT type provides better performance than cooperative learning method STAD type. Keywords: Student Teams Achievement Divisions (STAD), Numbered Heads Together (NHT), Learning Styles

Page 9: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

ix

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan

rahmat, nikmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga penyusunan tesis yang berjudul

”Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Metode Kooperatif Tipe Student

Teams Achievement Divisions (STAD) dan Metode Kooperatif Tipe Numbered

Heads Together (NHT) Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa” dapat terselesaikan

dengan baik.

Tesis ini disusun sebagai tugas akhir perkuliahan di Program Studi

Pendidikan Matematika Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

Surakarta. Tesis ini bisa terselesaikan atas bantuan, dorongan dan motivasi dari

berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D, Direktur Program Pascasarjana Universitas

Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberikan ijin untuk melakukan

penelitian ini.

2. Dr. Mardiyana, M.Si, Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Program

Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah mengesahkan

proposal penelitian ini dan selalu memberikan dorongan untuk menyelesaikan

penulisan tesis.

3. Drs. Tri Atmojo Kusmayadi, M.Sc., Ph.D, dosen Pembimbing I, dan Drs.

Suyono, M.Si, dosen pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan,

arahan dan motivasi dalam penyusunan tesis ini.

4. Drs. H. A. Wahid Anshory, S.Pd., MM, Plt. Kepala Dinas Pendidikan kota

Kediri, yang telah memberikan rekomendasi untuk melaksanakan penelitian.

Page 10: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

x

5. Drs. Dwi Rajab Januhadi, M.Pd, Kepala SMA Negeri 1 Kediri, yang telah

mengijinkan penulis untuk melakukan penelitian di SMA Negeri 1 Kediri.

6. Drs. Gunawan S, M.Pd, Plt. Kepala SMA Negeri 3 Kediri, yang telah

mengijinkan penulis untuk melakukan penelitian di SMA Negeri 3 Kediri.

7. Drs. Halimi Mahfudz, Kepala SMA Negeri 6 Kediri, yang telah mengijinkan

penulis untuk melakukan penelitian di SMA Negeri 6 Kediri.

8. Lukito, S.Pd, guru SMA Negeri 1 Kediri, Wiji Lestari, S.Pd, guru SMA

Negeri 3 Kediri, dan Amor Widjoyanto, S.Pd, guru SMA Negeri 6 Kediri

yang telah membantu selama pelaksanaan penelitian ini.

9. Segenap siswa SMA Negeri 1 Kediri, SMA Negeri 3 Kediri dan SMA Negeri

6 Kediri yang telah membantu terlaksananya penelitian ini.

10. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Program

Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah membantu

terselesaikanya tesis ini

11. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian tesis ini.

Semoga segala amal kebaikan yang telah diberikan, mendapat balasan

pahala dari Allah SWT. Penulis berharap semoga tesis ini bermanfaat bagi

pembaca semuanya. Amin.

Surakarta, Januari 2011

Penulis

Page 11: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xi

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .................................................................................. i

LEMBAR PERSETUJUAN ...................................................................... ii

LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................... iii

ABSTRAK ................................................................................................. iv

ABSTRACT ................................................................................................. vi

PERNYATAAN ......................................................................................... viii

KATA PENGANTAR ............................................................................... ix

DAFTAR ISI .............................................................................................. xi

DAFTAR TABEL ...................................................................................... xv

DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. xvi

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1

A. Latar Belakang ............................................................................ 1

B. Identifikasi Masalah ................................................................... 6

C. Pemilihan Masalah ..................................................................... 8

D. Pembatasan Masalah ................................................................... 8

E. Rumusan Masalah ....................................................................... 9

F. Tujuan Penelitian ........................................................................ 10

G. Manfaat Penelitian ...................................................................... 11

BAB II LANDASAN TEORI ..................................................................... 12

A. Kajian Pustaka ............................................................................. 12

Page 12: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xii

1. Pembelajaran Matematika ........................................................ 12

2. Pembelajaran Kooperatif ......................................................... 16

3. Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement

Divisions (STAD) .................................................................... 20

4. Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads

Together (NHT) ...................................................................... 23

5. Gaya Belajar ............................................................................ 25

6. Hasil Belajar ............................................................................ 29

B. Hasil Penelitian yang Relevan ..................................................... 30

C. Kerangka Berpikir ........................................................................ 33

D. Hipotesis ...................................................................................... 36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ................................................... 38

A. Tempat, Subyek dan Waktu Penelitian ........................................ 38

B. Jenis Penelitian ............................................................................. 38

C. Langkah-langkah Penelitian ......................................................... 39

D. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel .................... 40

1. Populasi .................................................................................... 40

2. Sampel dan Teknik Sampling .................................................. 40

E. Variabel dan Rancangan Penelitian ............................................. 42

1. Variabel Penelitian ................................................................... 42

2. Rancangan Penelitian ............................................................... 44

F. Metode Pengumpulan Data, Penyusunan dan Uji Instrumen ...... 45

1. Metode Pengumpulan Data ...................................................... 45

2. Penyusunan dan Uji Instrumen ................................................ 46

Page 13: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xiii

G. Teknik Analisis Data ................................................................... 53

1. Uji Prasyarat untuk Uji Keseimbangan dan Analisis

Variansi ................................................................................... 53

2. Uji Keseimbangan ................................................................... 55

3. Pengujian Hipotesis ................................................................. 56

4. Uji Komparasi Ganda .............................................................. 60

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................... 64

A. Uji Keseimbangan ....................................................................... 64

B. Hasil Uji Coba Instrumen ............................................................ 65

1. Tes Prestasi Belajar Matematika ............................................... 65

2. Angket Gaya Belajar Siswa ...................................................... 67

C. Deskripsi Data Penelitian ............................................................. 69

D. Uji Prasyarat ................................................................................ 70

1. Uji Normalitas ......................................................................... 70

2. Uji Homogenitas ...................................................................... 70

E. Uji Hipotesis ................................................................................. 71

F. Uji Komparasi Ganda .................................................................. 73

G. Pembahasan .................................................................................. 74

1. Hipotesis Pertama ..................................................................... 74

2. Hipotesis Kedua ....................................................................... 75

3. Hipotesis Ketiga ....................................................................... 77

BAB V PENUTUP ..................................................................................... 79

A. Kesimpulan ................................................................................... 79

Page 14: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xiv

B. Implikasi ...................................................................................... 80

C. Saran ............................................................................................. 81

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 83

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Page 15: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) STAD ............ 87

Lampiran 2 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) NHT .............. 104

Lampiran 3 : Lembar Kerja Siswa ........................................................... 121

Lampiran 4 : Kisi-kisi soal tes ................................................................. 141

Lampiran 5 : Soal tes ............................................................................... 144

Lampiran 6 : Lembar validasi soal tes ..................................................... 152

Lampiran 7 : Analisis butir soal ............................................................... 154

Lampiran 8 : Uji reliabilitas soal ............................................................. 160

Lampiran 9 : Soal tes setelah divalidasi dan dianalisis ............................ 166

Lampiran 10 : Kunci jawaban soal tes ...................................................... 171

Lampiran 11 : Kisi-kisi angket gaya belajar .............................................. 172

Lampiran 12 : Angket gaya belajar ........................................................... 175

Lampiran 13 : Lembar validasi angket gaya belajar ................................. 181

Lampiran 14 : Analisis angket gaya belajar visual .................................... 187

Lampiran 15 : Uji reliabilitas angket gaya belajar visual .......................... 193

Lampiran 16 : Analisis angket gaya belajar auditorial .............................. 199

Lampiran 17 : Uji reliabilitas angket gaya belajar auditorial .................... 205

Lampiran 18 : Analisis angket gaya belajar kinestetik .............................. 211

Lampiran 19 : Uji reliabilitas angket gaya belajar kinestetik .................... 217

Lampiran 20 : Angket gaya belajar setelah divalidasi dan dianalisis ........ 223

Lampiran 21 : Uji keseimbangan .............................................................. 228

Lampiran 22 : Data hasil penelitian ........................................................... 241

Page 16: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xvii

Lampiran 23 : Uji normalitas data metode STAD ..................................... 244

Lampiran 24 : Uji normalitas data metode NHT ....................................... 248

Lampiran 25 : Uji normalitas data gaya belajar visual .............................. 252

Lampiran 26 : Uji normalitas data gaya belajar auditorial ........................ 255

Lampiran 27 : Uji normalitas data gaya belajar kinestetik ........................ 258

Lampiran 28 : Uji homogenitas data metode pembelajaran ...................... 261

Lampiran 29 : Uji homogenitas data gaya belajar ..................................... 266

Lampiran 30 : Uji hipotesis ....................................................................... 271

Lampiran 31 : Uji komparasi ganda .......................................................... 278

Lampiran 32 : Surat ijin penelitian ............................................................ 281

Lampiran 23 : Surat keterangan telah melaksanakan penelitian ............... 282

Page 17: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1. Nilai terendah dan nilai tertinggi mata pelajaran matematika

UN SMA kota Kediri 2009/2010 ............................................... 3

Tabel 2.1. Kriteria peningkatan skor pembelajaran STAD ........................ 22

Tabel 3.1. Tahapan penelitian .................................................................... 38

Tabel 3.2. Rancangan penelitian ................................................................. 44

Tabel 3.3. Kriteria penilain angket ............................................................. 47

Tabel 4.1. Deskripsi data prestasi belajar matematika ............................... 69

Tabel 4.2. Rangkuman uji normalitas ........................................................ 70

Tabel 4.3. Rangkuman uji homogenitas variansi ....................................... 71

Tabel 4.4. Data amatan, rerata dan jumlah kuadrat deviasi ....................... 72

Tabel 4.5. Rangkuman analisis variansi ..................................................... 72

Tabel 4.6. Rangkuman hasil uji komparasi ganda ..................................... 73

Page 18: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peningkatan kualitas pendidikan matematika merupakan hal yang

sangat strategis dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia

agar memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang berorientasi pada

peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari berbagai data

yang ada, kemampuan matematika suatu negara berbanding lurus dengan

tingkat kemajuan negara tersebut.

Data dari Trends in International Mathematics and Science Study

(TIMSS) pada tahun 2007 kemampuan matematika Indonesia berada pada

peringkat 36 dari 48 negara yang di survei, dengan rata-rata nilai 397. Nilai

rata-rata Indonesia masih jauh di bawah nilai rata-rata internasional yaitu 500.

Nilai rata-rata Indonesia juga masih berada di bawah Thailand (441), Malaysia

(474) dan Singapura (593). Data UNESCO juga menunjukkan peringkat

matematika Indonesia berada di deretan 34 dari 38 negara yang diteliti. Selain

itu, matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian

Nasional, di banyak sekolah juga menjadi penyebab utama ketidaklulusan

siswanya. Berbagai data tersebut dapat memberikan gambaran kepada kita

bahwa kualitas pendidikan matematika di Indonesia memang masih perlu

ditingkatkan.

Secara lebih spesifik, permasalahan pembelajaran matematika di kelas

X SMA Negeri di kota Kediri berdasar hasil wawancara dengan guru

1

Page 19: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

matematika dalam forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)

matematika dan observasi yang dilakukan oleh peneliti, yaitu siswa masih

belum aktif dalam mengikuti proses pembelajaran matematika di kelas. Ada

beberapa yang siswa antusias dan bersikap aktif dalam proses pembelajaran,

tetapi kebanyakan siswa masih bersikap pasif dalam proses pembelajaran yang

disebabkan siswa merasa kurang mampu dalam menguasai mata pelajaran

matematika. Hasil identifikasi awal ditemukan beberapa indikator yakni: siswa

tidak berani bertanya, kurang berani menjawab pertanyaan, tidak aktif ketika

bekerja dalam kelompok, dan jarang yang berani mengemukakan pendapat

baik pada waktu kerja kelompok maupun pada waktu presentasi.

Selain itu dari data sekolah diperoleh informasi bahwa rata-rata

ketuntasan pembelajaran matematika (dengan nilai kriteria ketuntasan minimal

70 atau 75) juga masih rendah. Dari rata-rata 36 siswa perkelas yang

pembelajarannya tuntas (tidak perlu mengikuti remidial) hanya berjumlah

sekitar 7 sampai 15 anak. Demikian juga data hasil Ujian Nasional pada mata

pelajaran matematika SMA/MA tahun pelajaran 2009/2010 di kota Kediri

menunjukkan angka ketidaklulusan mencapai 9,72%. Kegagalan dalam Ujian

Nasional banyak pada bidang studi matematika. Kondisi ini antara lain bisa

dilihat dari data Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur tentang nilai tertinggi

dan nilai terendah Ujian Nasional SMA tahun 2009/2010 yang disajikan

dalam tabel berikut:

Page 20: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

3

Tabel 1.1 Nilai terendah dan nilai tertinggi mata pelajaran matematika

UN SMA kota Kediri 2009/2010

No Nama Sekolah Nilai Terendah Nilai Tertinggi

1 SMA Negeri 1 Kediri 3,75 10,00

2 SMA Negeri 2 Kediri 3,75 10,00

3 SMA Negeri 3 Kediri 4,50 9,25

4 SMA Negeri 4 Kediri 3,75 10,00

5 SMA Negeri 5 Kediri 2,50 9,50

6 SMA Negeri 6 Kediri 0,75 9,75

7 SMA Negeri 7 Kediri 5,50 10,00

8 SMA Negeri 8 Kediri 6,75 9,75

Salah satu hambatan dalam peningkatkan kualitas pendidikan

matematika, diantaranya adalah mitos yang telah melekat pada sebagian besar

bangsa Indonesia. Matematika selama ini sering diasumsikan dengan berbagai

hal yang berkonotasi negatif, mulai dari matematika dianggap sebagai ilmu

yang sangat sukar, ilmu hafalan tentang rumus, berhubungan dengan

kecepatan hitung, ilmu abstrak yang tidak berhubungan dengan realita, sampai

pada ilmu yang membosankan, kaku, dan tidak rekreatif. Semakin lengkap

pula ketika mitos-mitos ini disertai dengan sikap guru matematika yang dalam

menyampaikan pelajaran: galak, tidak menarik, bahkan cenderung

menciptakan rasa takut dan tegang pada peserta didik. Situasi semacam ini

semakin menjauhkan rasa ketertarikan peserta didik dalam mempelajari

matematika. Apalagi jika siswa tersebut merasa dirinya memiliki kemampuan

berpikir yang kurang dibandingkan teman-temannya.

Kualitas pendidikan matematika dapat ditingkatkan dengan melakukan

serangkaian pembenahan persoalan yang dihadapi, diantaranya, selain

Page 21: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

4

kurikulum yang dapat memberikan kemampuan dan keterampilan dasar

minimal, adalah penerapan metode pembelajaran yang dapat membangkitkan

sikap kreatif, demokratis dan mandiri yang disesuaikan dengan kebutuhan

prediksi pembelajaran masa kini dan mendatang. Pembenahan yang dianggap

sangat mendesak, pertama, mengubah pembelajaran dari siswa belajar pasif ke

belajar aktif. Meskipun hampir semua guru menyadari bahwa dalam

pembelajaran, harus melibatkan siswa secara aktif, namun pada kenyataannya

sering terjadi miskonsepsi, yaitu aktif berdasarkan fisik semata. Seharusnya,

guru merancang pembelajaran yang menantang siswa untuk lebih aktif

berpartisipasi, terlibat dalam diskusi dan penjelasan ide-ide, membuat dan

memecahkan masalah secara kolaborasi untuk sampai pada pemahaman

materi yang dipelajari.

Sebagai mata pelajaran yang berkaitan dengan konsep-konsep yang

abstrak, maka dalam proses pembelajarannya, matematika harus dapat

disajikan lebih menarik dan disesuaikan dengan materi yang diajarkan dan

kondisi siswa. Hal ini tentu saja dimaksudkan agar siswa dapat ikut serta

berperan aktif dalam proses pembelajaran dan siswa tertarik dengan materi

yang diajarkan tersebut. Siswa tidak boleh dibiarkan merasa tidak mampu

dalam belajar matematika, karena siswa akan menjadi malas untuk

mempelajari dan akhirnya siswa tidak mampu menguasai mata pelajaran

matematika, ketika siswa merasa kesulitan guru harus secara aktif

membimbing dan mengarahkan siswa, sehingga diharapkan siswa yang

mengalami kesulitan dapat lebih tertantang untuk mempelajarinya.

Page 22: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

5

Dengan memperhatikan hal tersebut, seorang guru dituntut untuk dapat

memilih metode pembelajaran yang tepat. Pemilihan metode pembelajaran

tertentu yang digunakan oleh guru diharapkan juga dapat meningkatkan

aktifitas siswa di kelas dalam belajar, siswa berani menyampaikan gagasan

dan menerima gagasan dari orang lain, serta kreatif dalam mencari solusi dari

suatu permasalahan yang dihadapi.

Suasana yang komunikatif di dalam kelas harus dibangkitkan oleh

guru dengan baik, komunikasi tersebut dapat terjadi antara guru dengan siswa

maupun antar sesama siswa. Tetapi pada pelaksanaannya masih terdapat guru

yang mengarahkan siswa pada pola belajar individualitas yaitu proses

pembelajaran yang berlangsung tanpa saling ketergantungan atau komunikasi

antar siswa.

Salah satu metode pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara

aktif adalah metode pembelajaran kooperatif. Metode pembelajaran kooperatif

telah banyak berkembang dan diteliti di Amerika Serikat pada akhir tahun

1970-an (Slavin, 2009: 9). Dari berbagai penelitian yang dilakukan

menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif mampu meningkatkan

kemampuan kognitif siswa. Sayangnya pembelajaran kooperatif masih belum

banyak dipraktikkan dalam pembelajaran di negara kita.

Selain itu, masih terkait dengan matematika sebagai mata pelajaran

yang berkaitan dengan konsep-konsep yang abstrak, maka dalam upaya

membelajarkan matematika kepada siswa, guru seyogyanya juga

menggunakan alat bantu (media) dalam proses pembelajaran. Dengan

penggunaan media yang tepat dan dekat dengan keseharian siswa, diharapkan

Page 23: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

6

akan dapat membantu siswa untuk lebih menyenangi dan lebih mudah

memahami materi pembelajaran. Dewasa ini, dengan semakin berkembangnya

teknologi, ada banyak pilihan media audiovisual yang menarik dan mungkin

akan dapat membantu siswa untuk lebih mudah memahami materi

pembelajaran.

Hal lain yang perlu diperhatikan agar siswa berhasil dalam belajar

metematika adalah karakteristik dan kondisi siswa. Karakteristik siswa yang

dimaksud di sini antara lain: kemampuan awal, motivasi dan gaya belajar.

Matematika sebagai ilmu yang logis, kritis, sistematis dan konsisten, antar

satu konsep dengan konsep yang lain saling memiliki keterkaitan. Adanya

saling keterkaitan ini menjadikan kemampuan awal siswa sebagai salah satu

faktor penting yang menentukan keberhasilan siswa belajar matematika. Gaya

belajar dan motivasi dari seorang siswa juga perlu diperhatikan. Seorang guru

yang baik tentu tidak akan langsung memvonis siswa yang nilainya jelek

adalah siswa yang tidak bisa. Guru harus mencari informasi kenapa siswa

yang bersangkutan mendapat nilai yang jelek. Terkait dengan hal tersebut,

informasi penting yang perlu diketahui guru antara lain terkait dengan gaya

belajar dan motivasi belajar siswa.

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah di atas dapat diidentifikasi beberapa

masalah antara lain sebagai berikut:

1. Ada kemungkinan rendahnya prestasi belajar matematika karena guru

tidak menggunakan media pembelajaran yang menarik. Terkait dengan isu

Page 24: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

7

ini muncul pertanyaan apakah kalau guru menggunakan media

pembelajaran yang menarik, prestasi belajar siswa menjadi lebih baik.

Untuk menjawab pertanyaan ini dapat dilakukan penelitian yang

membandingkan pembelajaran dengan menggunakan berbagai media.

2. Ada kemungkinan rendahnya prestasi belajar matematika disebabkan oleh

metode pembelajaran yang digunakan oleh guru. Terkait dengan hal ini

muncul pertanyaan apakah kalau metode pembelajaran yang diterapkan

oleh guru diubah, apakah prestasi belajar siswa menjadi lebih baik. Untuk

menjawab pertanyaan ini dapat dilakukan penelitian yang membandingkan

berbagai metode pembelajaran. Dapat diteliti juga apakah metode

pembelajaran yang menarik tersebut cocok dengan berbagai karakteristik

siswa.

3. Ada kemungkinan rendahnya prestasi belajar matematika karena jam

pembelajaran matematika kurang. Terkait dengan hal ini muncul

pertanyaan apakah kalau waktu pembelajaran matematika ditambah,

prestasi belajar siswa akan menjadi lebih baik. Untuk menjawab

pertanyaan ini dapat dilakukan penelitian yang membandingkan

pembelajaran dengan alokasi waktu seperti biasa dengan pembelajaran

yang alokasi waktunya ditambah.

4. Ada kemungkinan rendahnya prestasi belajar matematika karena guru

yang mengajar hanya satu orang sehingga tidak mampu menguasai kelas

yang diajar. Terkait dengan isu ini muncul pertanyaan apakah kalau

jumlah gurunya ditambah (lebih dari satu orang), prestasi belajar siswa

menjadi lebih baik. Untuk menjawab pertanyaan ini dapat dilakukan

Page 25: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

8

penelitian yang membandingkan pembelajaran yang diajar oleh satu orang

guru dengan pembelajaran yang diajar oleh guru tim (lebih dari satu orang)

5. Ada kemungkinan rendahnya prestasi belajar matematika karena jumlah

siswa dalam satu kelas terlalu banyak. Terkait dengan isu ini muncul

pertanyaan apakah kalau jumlah siswa dikurangi, prestasi belajar siswa

menjadi lebih baik. Untuk menjawab pertanyaan ini dapat dilakukan

penelitian yang membandingkan pembelajaran pada kelas besar dengan

pembelajaran pada kelas kecil.

C. Pemilihan Masalah

Berdasarkan kelima masalah yang diidentifikasi di atas, peneliti hanya

ingin melakukan penelitian yang terkait dengan masalah yang kedua, yaitu

pembelajaran dengan menggunakan metode yang menarik dan apakah metode

tersebut cocok dengan berbagai gaya belajar siswa.

Alasan dipilihnya masalah tersebut disamping karena keterbatasan

peneliti untuk dapat meneliti semua permasalahan di atas, karena peneliti

memandang bahwa salah salah satu permasalahan yang paling mendasar dari

pembelajaran matematika saat ini adalah kebanyakan guru masih

menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi dan enggan

menggunakan metode yang lain.

D. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah, agar penelitian ini dapat lebih

terfokus, perlu dilakukan pembatasan masalah sebagai berikut:

Page 26: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

9

1. Metode pembelajaran yang dibandingkan adalah metode pembelajaran

kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) dan metode

pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT).

2. Karakteristik siswa yang dilihat adalah gaya belajar siswa yang meliputi

gaya belajar tipe visual, tipe auditorial dan tipe kinestetik.

3. Penelitian dilakukan di SMA Negeri di kota Kediri kelas X tahun

pelajaran 2010/2011.

4. Prestasi belajar siswa yang dimaksud adalah prestasi belajar matematika

pada pokok bahasan sistem persamaan linear dan kuadrat.

E. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah, dan pemilihan

masalah di atas maka dibuat rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apakah pembelajaran matematika pada materi sistem persamaan linear

dan kuadrat dengan metode kooperatif tipe NHT lebih baik daripada

metode kooperatif tipe STAD?

2. Apakah siswa yang mempunyai gaya belajar auditorial akan mempunyai

prestasi belajar lebih baik dibanding dengan siswa yang mempunyai gaya

belajar visual, siswa dengan gaya belajar auditorial mempunyai prestasi

belajar yang lebih baik dibanding siswa dengan gaya belajar kinestetik,

dan siswa yang mempunyai gaya belajar visual akan mempunyai prestasi

belajar yang lebih baik dibanding siswa yang mempunyai gaya belajar

kinestetik?

Page 27: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

10

3. Apakah perbedaan prestasi belajar dari masing-masing metode

pembelajaran konsisten terhadap masing-masing gaya belajar siswa dan

apakah perbedaan antara masing-masing gaya belajar siswa konsisten pada

setiap metode pembelajaran?

F. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, dirumuskan tujuan penelitian sebagai

berikut:

1. Untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika pada materi sistem

persamaan linear dan kuadrat dengan metode pembelajaran kooperatif tipe

NHT lebih baik daripada metode kooperatif tipe STAD.

2. Untuk mengetahui apakah siswa yang mempunyai gaya belajar auditorial

akan mempunyai prestasi belajar lebih baik dibanding dengan siswa yang

mempunyai gaya belajar visual, siswa dengan gaya belajar auditorial

mempunyai prestasi belajar yang lebih baik dibanding siswa dengan gaya

belajar kinestetik, dan siswa yang mempunyai gaya belajar visual akan

mempunyai prestasi belajar yang lebih baik dibanding siswa yang

mempunyai gaya belajar kinestetik.

3. Untuk mengetahui apakah perbedaan prestasi belajar dari masing-masing

metode pembelajaran konsisten terhadap masing-masing gaya belajar

siswa dan apakah perbedaan antara masing-masing gaya belajar siswa

konsisten pada setiap motode pembelajaran.

Page 28: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

11

G. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara

lain sebagai berikut:

1. Memberikan informasi kepada guru atau calon guru matematika tentang

eksperimentasi pembelajaran matematika metode kooperatif tipe STAD

dibandingkan dengan metode kooperatif tipe NHT.

2. Memberikan informasi tentang perbedaan kemampuan matematika pada

materi sistem persamaan linear dan kuadrat pada siswa dengan gaya

belajar visual, auditorial dan kinestetik.

3. Sebagai bahan pertimbangan bagi guru dalam memilih metode

pembelajaran yang tepat sehingga ada variasi metode pembelajaran yang

digunakan dalam proses belajar mengajar. Hal ini diharapkan dapat

meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga prestasi belajar siswa juga

meningkat.

4. Sebagai bahan referensi lebih lanjut dalam penelitian tentang metode

pembelajaran khususnya metode kooperatif tipe STAD dan metode

pembelajaran kooperatif tipe NHT.

Page 29: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

12

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

1. Pembelajaran Matematika

Belajar adalah karakteristik khusus yang hanya dimiliki oleh manusia.

Makhluk lain tidak mampu melakukan proses belajar. Menurut Gagne belajar

adalah sebagai suatu proses dimana suatu organisma berubah perilakunya

sebagai akibat dari pengalaman. Sedangkan Henry E. Garret berpendapat

bahwa belajar merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu lama

melalui latihan maupun pengalaman yang membawa pada perubahan diri dan

perubahan cara mereaksi terhadap suatu perangsang tertentu. Kemudian Lester

D. Crow mengemukakan belajar ialah upaya untuk memperoleh kebiasaan-

kebiasaan, pengetahuan, dan sikap-sikap (Syaiful Sagala, 2009: 13).

Senada dengan hal di atas, Witherington menyatakan bahwa belajar

merupakan perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola-

pola respons yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan,

pengetahuan dan kecakapan. Sedangakan Hilgard menyatakan bahwa belajar

adalah proses di mana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya

respons terhadap suatu situasi. Di Vesta dan Thompson menyatakan bahwa

belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil dari

pengalaman (Nana Syaodih Sukmana, 2009: 155-156). Dari beberapa

pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar diartikan sebagai proses

12

Page 30: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

13

perubahan tingkah laku sebagai akibat dari respon atau situasi tertentu. Teori

belajar ini sesuai dengan pandangan teori belajar behaviorisme.

Sedangkan dalam teori belajar konstruktivisme, belajar diartikan

sebagai proses mengkonstruksi pengetahuan. Hal ini sesuai dengan yang

disampaikan oleh Paul Suparno (2001: 61) bahwa belajar diartikan sebagai

proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang

dipelajari dengan pengertian yang sudah dimiliki seseorang sehingga

pengertiannya dikembangkan. Von Glasefeld (dalam Aunurrahman, 2009: 16)

menyatakan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan.

Pengetahuan selalu merupakan akibat dari konstruksi kognitif melalui

kegiatan seseorang. Melalui proses belajar yang dilakukan, seseorang

membentuk skema, kategori, konsep dan struktur pengetahuan yang

diperlukan untuk suatu pengetahuan tertentu.

Terkait dengan teori belajar di atas, Marzano (dalam Abdur Rahman

As’ari, 2007: 6) menyatakan bahwa ada lima dimensi yang perlu kita

perhatikan kalau menginginkan siswa berhasil dalam belajarnya. Lima

dimensi itu adalah sebagai berikut: (1) Sikap dan persepsi siswa terhadap

belajar yang sedang dan akan dijalaninya, (2) Penguasaan pengetahuan dan

menjadisatukannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya, (3)

Pengembangan dan peningkatan pengetahuan yang sudah dimiliki, (4)

Penggunaan pengetahuan yang dimiliki tersebut secara bermakna, (5)

Pembentukan pola pikir (kritis, kreatif, dan self-regulated).

Page 31: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

14

Pembelajaran diartikan sebagai proses yang diselenggarakan oleh guru

untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana memperoleh dan

memproses pengetahuan, keterampilan, dan sikap (Dimyati dan Mudjiono,

2006: 157). Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun

2003 menyatakan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dan

sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran sebagai proses

belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir

yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat

meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya

meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran (Syaiful

Sagala, 2009: 62).

Biggs dalam Goldman (2002) menyatakan bahwa:

“Learning is a way of interacting with the world. As we learn, conception of phenomena change, and we see the world differently. The acquisition of information in it self does not bring about such a change, but the way we structure that information and think with it does. Thus education is about conceptual change, not just the acquisition of information”. Pembelajaran adalah suatu cara saling berinteraksi dengan dunia. Ketika kita belajar, konsepsi kita tentang suatu fenomena berubah, dan kita akan melihat dunia yang berbeda. Perolehan informasi tidak dengan sendirinya membawa perubahan, tetapi dengan jalan kita menyusun informasi tersebut dan memikirkan apa yang bisa kita lakukan dengannya. Jadi pendidikan adalah tentang perubahan konsep, bukan hanya perolehan informasi. Matematika merupakan ilmu yang sering digunakan untuk menunjang

ilmu yang lain, baik ilmu eksakta maupun ilmu sosial. Dalam penggunaanya

matematika juga sering diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga

matematika menjadi ilmu yang sangat penting untuk dikuasai. Disebutkan

dalam NCTM (National Council of Theachers of Mathematics) (dalam Walle,

2008: 1), mereka yang memahami dan dapat mengerjakan matematika akan

Page 32: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

15

memiliki kesempatan yang lebih banyak dalam menentukan masa depannya.

Kemampuan dalam matematika akan membuka pintu untuk masa depan yang

lebih produktif. Lemah dalam matematika berarti membiarkan pintu tersebut

tertutup.

Begle (dalam Herman Hudojo, 2005: 36) menyatakan bahwa sasaran

atau obyek penelaahan matematika adalah fakta, konsep, operasi, dan prinsip.

Obyek penelaahan tersebut menggunakan simbol-simbol yang kosong dari

arti. Ciri ini yang memungkinkan matematika dapat memasuki wilayah bidang

studi atau cabang ilmu lain. Sedangkan menurut Soedjadi (2000: 13),

matematika mempunyai karakteristik: (1) Memiliki objek kajian abstrak, (2)

Bertumpu pada kesepakatan, (3) Berpola pikir deduktif, (4) Memiliki simbol

yang kosong dari arti, (5) Memperhatikan semesta pembicaraan, (5) Konsisten

dalam sistemnya.

Prinsip pembelajaran matematika yang tertuang pada NCTM (National

Council of Theachers of Mathematics) (dalam Walle, 2008: 3) menyebutkan,

para siswa harus belajar matematika dengan pemahaman, secara aktif

membangun pengetahuan baru dari pengalaman dan pengetahuan sebelumnya.

Menurut Herman Hudojo (2005: 103), agar proses belajar matematika terjadi,

bahasan matematika seyogyanya tidak disajikan dalam bentuk yang sudah

tersusun secara final, melainkan siswa dapat terlibat aktif didalam menemukan

konsep-konsep, srtuktur-struktur sampai kepada teorema dan rumus-rumus.

Page 33: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

16

2. Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif menurut Nurhadi (2004: 61) dapat diartikan

sebagai pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan

interaksi yang saling asuh untuk menghindari ketersinggungan dan

kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan. Sedangkan menurut

Slavin (dalam Etin Solihati 2005: 4) pembelajaran kooperatif diartikan sebagai

suatu metode pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam

kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6

orang, dengan struktur kelompoknya bersifat heterogen.

Menurut Abdur Rahman As’ari (2003: 2-3) ciri-ciri pembelajaran

kooperatif dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, pebelajar

dikelompok-kelompokkan menjadi beberapa kelompok. Kedua, kelompok-

kelompok tersebut merupakan kelompok kecil. Ketiga, para siswa di dalam

kelompok tersebut melakukan kegiatan belajar secara bersama-sama. Mereka

berkelompok untuk saling belajar dan membelajarkan. Keempat, masing-

masing anggota kelompok bertanggungjawab terhadap keberhasilan teman

anggota kelompoknya. Mereka membentuk suatu kesatuan yang saling

mendorong, saling menolong demi keberhasilan bersama. Kelima, topik yang

dipelajari bisa berupa masalah, tugas, atau hal-hal lain yang pada prinsipnya

merupakan tujuan bersama dari anggota-anggota kelompok tersebut.

Sedangkan menurut Ibrahim (2000: 6) ciri-ciri pembelajaran kooperatif

adalah sebagai berikut: (a) siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif

untuk menuntaskan materi belajarnya, (b) kelompok dibentuk dari siswa yang

berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah, (c) apabila mungkin, anggota

Page 34: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

17

kelompok berasal dari ras, budaya, agama, etnis, dan jenis kelamin yang

berbeda-beda dan (d) pembelajaran lebih berorientasi pada kelompok daripada

individu.

Terkait dengan tujuan dan proses pembelajaran kooperatif, Ozkan

(2010) menyatakan bahwa:

“The main aim of cooperative learning is to increase both their own and their friends' learning to the top level. It should be organized in such a way that every member in the group should know that the other members of the group can't learn before s/he does. Every member of the group should help all the other members to learn. In order to carry out cooperative learning successfully, me group must have a purpose, and all die students in the group should undertake responsibility to achieve the aim of the group and try to get the group reward. In this approach, students should combine their own efforts with those of their friends in the group because the essence of Uns approach is "either we swim together or we sink together". No matter what his/her success level is, every student should believe that s/he does what s/he can to contribute to the success of the group. Every group member should be aware of concepts of commitment of aim and commitment of success. In this method, the group members should be in face-to-face interaction. This interaction is obtained by helping each other, giving feedback, relying on each omer, discussing, encouraging, etc”. Artinya bahwa tujuan utama dari pembelajaran kooperatif adalah untuk meningkatkan pembelajaran dirinya (siswa) dan teman-temannya kepada prestasi tertinggi. Pembelajaran kooperatif harus diorganisasikan dengan jalan setiap anggota kelompok harus memahami bahwa anggota yang lain tidak dapat belajar sebelum dia (siswa tersebut) melakukan (belajar). Setiap anggota kelompok harus membantu anggota yang lain untuk belajar. Untuk membuat pembelajaran kooperatif berhasil, setiap kelompok harus mempunyai tujuan, dan semua siswa dalam kelompok harus mengambil tanggung jawab untuk mencapai tujuan kelompok dan mencoba untuk memperoleh penghargaan kelompok. Dalam pendekatan ini, siswa harus menggabungkan usahanya dengan teman-temannya yang lain dalam kelompok, sebagaimana pepatah “berenang bersama atau tenggelam bersama”. Setiap siswa harus percaya bahwa dia dapat memberikan kontribusi untuk kesuksesan kelompok. Setiap anggota kelompok harus sadar dan berkomitmen terhadap tujuan dan berkomitmen untuk sukses. Dalam metode ini, setiap anggota kelompok harus berinteraksi langsung. Interaksi ini dicapai dengan saling membantu, memberi umpan balik, saling ketergantungan, diskusi, saling memberikan semangat dan lain-lain.

Page 35: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

18

Menurut Slavin (dalam Anita Lie, 2008: 13), tujuan pembelajaran

kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang menerapkan sistem

kompetisi, dimana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang

lain. Sedangkan tujuan pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi

dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan

kelompoknya.

Dyson dan Rubin (dalam Constantinou, 2010) menyatakan bahwa: “pointed out that cooperative learning has many benefits. It can help students to improve motor skills, develop social skills, work together as a team, take control of their learning process, give and receive feedback, and become responsible individuals”. artinya adalah bahwa pembelajaran kooperatif memiliki beberapa manfaat. Pembelajaran kooperatif mampu membantu siswa untuk: mengembangkan kemampuan motorik, mengembangkan kemampuan sosial, bekerja sama sebagai satu tim, mengawasi proses pembelajaran mereka sendiri, memberi dan menerima umpan balik dan menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Roger dan Johnson (dalam Anita Lie, 2008: 30) menyebutkan bahwa

tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Ada lima

unsur yang harus dipenuhi agar kerja kelompok dapat dikatakan sebagai

pembelajaran kooperatif, yaitu: (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggung

jawab perseorangan, (3) tatap muka, (4) komunikasi antar anggota, dan (5)

evaluasi proses kelompok.

Isjoni (2007: 23) menyatakan bahwa motivasi dalam diri siswa itu

meningkat selama diterapkan metode pembelajaran kooperatif karena mereka

merasa kesuksesan akademiknya lebih terkontrol dan mereka

menghubungkan kesuksesan itu dengan usahanya sendiri, semua itu

merupakan faktor-faktor penting dalam motivasi.

Page 36: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

19

Pembelajaran kooperatif memiliki kelebihan dan kekurangan. Menurut

Johnson & Johnson (dalam Sri Rahayu, 2005: 3-5) bahwa keuntungan

pembelajaran kooperatif adalah: (1) siswa bertanggung jawab atas proses

belajarnya, terlibat secara aktif dan memiliki usaha yang lebih besar untuk

berprestasi, (2) siswa mengembangkan keterampilan berpikir tinggi dan

berpikir kritis, dan (3) hubungan yang lebih positif antar siswa dan kesehatan

psikologis yang lebih besar. Kelemahan pembelajaran ini menurut Nur (2000:

70) adalah: (1) bagi guru, guru akan kesulitan mengelompokkan siswa yang

memiliki kemampuan heterogen dari segi prestasi akademis dan banyak

menghabiskan waktu untuk diskusi, (2) bagi siswa, siswa dengan kemampuan

tinggi masih banyak yang belum terbiasa untuk menyampaikan atau memberi

penjelasan kepada siswa lain sehingga sulit untuk dipahami.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif

memiliki kelebihan dibanding dengan metode pembelajaran lain. Seperti yang

dilakukan oleh Doymus (2007) menyatakan bahwa:

“The instruction based on cooperative learning yielded significantly better achievement in terms of the Chemistry Achievement Test (CAT) and Phase Achievement Test (PAT) scores compared to the test scores of the control group, which was taught with traditionally designed chemistry instruction”. Artinya bahwa pembelajaran kooperatif menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran tradisional.

Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Adeyemi (2008) juga menyatakan

hal yang sama, bahwa:

“Student exposed to cooperative learning strategy performed better than their counterparts in the other group”

Page 37: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

20

3. Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions

(STAD)

Metode kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD)

pertama kali dikembangkan oleh Robert Slavin dan rekan-rekan sejawatnya di

John Hopkins University dan merupakan metode kooperatif yang paling

sederhana dan paling mudah dipahami (Arends, 2008: 13). Dalam

pembelajaran kooperatif tipe STAD, materi pembelajaran dirancang untuk

pembelajaran kelompok. Dengan menggunakan LKS atau perangkat

pembelajaran yang lain, siswa bekerja secara bersama-sama untuk

menyelesaikan materi. Siswa saling membantu satu sama lain untuk

memahami materi pelajaran, sehingga setiap anggota kelompok dapat

memahami materi pelajaran secara tuntas. Menurut Slavin (2009: 143) STAD

terdiri dari lima komponen utama yaitu:

a. Presentasi kelas

Materi dalam STAD pertama-tama diperkenalkan dalam presentasi di

dalam kelas. Ini merupakan pengajaran langsung seperti yang sering kali

dilakukan atau diskusi pelajaran yang dipimpin oleh guru, tetapi bisa juga

memasukkan presentasi audiovisual. Bedanya presentasi kelas dengan

pengajaran biasa hanyalah bahwa presentasi tersebut haruslah benar-benar

berfokus pada unit STAD. Dengan cara ini, para siswa akan menyadari

bahwa mereka harus benar-benar memberi perhatian penuh selama

presentasi kelas, karena dengan demikian akan sangat membantu mereka

mengerjakan kuis-kuis, dan skor kuis mereka menentukan skor tim mereka

Page 38: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

21

b. Tim/Kelompok.

Tim terdiri dari empat atau lima siswa yang mewakili seluruh bagian dari

kelas dalam hal kemampuan akademik, jenis kelamin, ras dan etnis.

Fungsi utama dari tim ini adalah memastikan bahwa semua anggota tim

benar-benar belajar, dan lebih khususnya lagi adalah untuk

mempersiapkan anggotanya untuk bisa mengerjakan kuis dengan baik.

Setelah guru menyampaikan materinya, tim berkumpul untuk mempelajari

lembar kegiatan atau materi lainnya. Yang paling sering terjadi,

pembelajaran itu melibatkan pembahasan permasalahan bersama,

membandingkan jawaban dan mengoreksi tiap kesalahan pemahaman

apabila ada anggota tim yang membuat kesalahan.

c. Kuis (tes).

Setelah sekitar satu atau dua kali guru memberikan presentasi atau satu

atau dua kali kegiatan kelompok para siswa akan mengerjakan kuis

individual. Siswa tidak diperbolehkan untuk saling membantu dalam

mengerjakan kuis. Sehingga tiap siswa bertanggung jawab secara

individual untuk memahami materi.

d. Skor peningkatan individual

Ide utama yang mendasari adanya skor kemajuan individual adalah untuk

memberikan kepada tiap siswa tujuan yang akan dicapai apabila mereka

bekerja lebih giat dan memperlihatkan prestasi yang lebih baik dari

sebelumnya. Setiap siswa dapat memberikan kontribusi poin yang

maksimal kepada timnya. Setiap siswa diberikan skor awal yang diperoleh

dari rata-rata nilai siswa sebelumnya. Selanjutnya siswa akan

Page 39: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

22

mengumpulkan skor untuk tim mereka berdasarkan tingkat kenaikan skor

kuis mereka dibandingkan dengan skor awal mereka. Kriteria pemberian

skor peningkatan dapat dilihat pada Tabel 2.1 tentang kriteria peningkatan

skor sebagaimana berikut:

Tabel 2.1. Kriteria peningkatan skor pembelajaran STAD

Skor Kuis terakhir Poin peningkatan

Lebih dari 10 poin dibawah skor awal 5 1 – 10 poin dibawah skor awal 10 Skor awal sampai dengan 10 poin di atas skor awal 20 Lebih dari 10 poin di atas skor awal 30 Nilai sempurna (terlepas dari berapapun skor awal) 30

e. Penghargaan kelompok.

Setelah dilakukan penghitungan peningkatan skor individual, dilakukan

pemberian penghargaan kelompok. Penghargaan kelompok diberikan

berdasarkan pada skor peningkatan kelompok. Untuk menentukan skor

kelompok digunakan rumus:

kelompokanggotaBanyakkelompokanggotasetiapskornpeningkataJumlahNK =

NK = skor peningkatan kelompok.

Penelitian tentang STAD yang pernah dilakukan antara lain oleh

Slavin dan Karweit yang menggunakan STAD selama satu tahun penuh di

sekolah dalam mata pelajaran matematika menunjukan kemampuan siswa

terhadap tes matematika meningkat secara signifikan (Sharan, 2009: 7).

Selanjutnya Sharan (2009: 7) juga mengemukakan bahwa penelitian STAD

telah mencatat tentang tambahan signifikan dalam penghargaan diri, menyukai

kelas, kehadiran dan perilaku siswa.

Page 40: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

23

4. Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)

Nurhadi (2004: 66) mengungkapkan Numbered Heads Together

(NHT) merupakan metode struktural yang dikembangkan oleh Spencer Kagan

dan kawan-kawannya. Meskipun memiliki banyak kesamaan dengan metode

lainnya, metode struktural menekankan pada struktur-struktur khusus yang

dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa. Berbagai struktur

tersebut dikembangkan dengan maksud agar menjadi alternatif dari berbagai

struktur kelas yang lebih tradisional, seperti metode resitasi, yang ditandai

dengan pengajuan pertanyaan dari guru kepada seluruh siswa dalam kelas dan

para siswa memberikan jawaban setelah lebih dahulu mengangkat tangan dan

ditunjuk oleh guru. Struktur-struktur tersebut menghendaki agar para siswa

bekerja sama saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara

kooperatif.

Lebih lanjut Nurhadi (2004: 66) menjelaskan metode Numbered Heads

Together merupakan pendekatan pembelajaran yang diadaptasikan dengan

kemampuan peserta didik, dan dalam proses pembelajarannya membangun

kemampuan peserta didik untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru.

Metode ini melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang

tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi

pelajaran tersebut.

Nurhadi (2004: 67) menyebutkan langkah-langkah pembelajaran

metode Numbered Heads Together sebagai berikut:

a. Langkah 1: Penomoran (Numbering)

Page 41: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

24

Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang

beranggotakan 3 hingga 5 orang dan memberi mereka nomor sehingga tiap

siswa dalam tim tersebut memiliki nomor berbeda.

b. Langkah 2 : Pengajuan Pertanyaan (Questioning)

Guru mengajukan pertanyaan kepada para siswa. Pertanyaan dapat

bervariasi, dari yang bersifat spesifik hingga yang bersifat umum.

c. Langkah 3 : Berpikir Bersama (Heads Together)

Para siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan

bahwa setiap orang mengetahui jawaban tersebut.

d. Langkah 4 : Pemberian Jawaban (Answering)

Guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan

nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk

seluruh kelas.

Kelebihan pembelajaran kooperatif metode Numbered Heads Together

menurut Hill & Hill (dalam Arief, 2004: 28), antara lain: (1) meningkatkan

prestasi siswa, (2) memperdalam pemahaman siswa, (3) menyenangkan siswa

dalam belajar, (4) mengembangkan sikap positif siswa, (5) mengembangkan

sikap kepemimpinan siswa, (6) mengembangkan rasa percaya diri siswa, (7)

mengembangkan rasa saling memiliki, (8) mengembangkan keterampilan

untuk masa depan.

Menurut Arief (2004: 29) selain memiliki kelebihan, metode

Numbered Heads Together ini juga memiliki kelemahan yaitu membutuhkan

waktu yang cukup lama bagi siswa dan guru sehingga sulit mencapai target

kurikulum. Selain itu membutuhkan kemampuan yang khusus dalam

Page 42: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

25

melakukan atau menerapkan metode pembelajaran kooperatif serta menuntut

sifat tertentu siswa yaitu sifat suka bekerja sama. Meskipun demikian

kelemahan tersebut dapat diatasi bila guru senantiasa berusaha mempelajari

dan menerapkan pembelajaran kooperatif metode struktural secara sungguh-

sungguh serta dibarengi penggunaan fasilitas pembelajaran secara optimal

seperti lembar kerja siswa.

5. Gaya belajar

Adi W Gunawan (2006: 139) mengemukakan bahwa yang dimaksud

dengan gaya belajar adalah cara yang lebih disukai dalam melakukan kegiatan

berpikir, memproses dan memahami suatu informasi. Sedangkan De Porter

dan Hernacki (2003: 111) menyatakan bahwa gaya belajar adalah kombinasi

bagaimana seseorang menyerap, mengatur dan mengolah informasi. Selain itu

Winkel (2007: 147) mengemukakan bahwa gaya belajar merupakan cara

belajar yang khas bagi siswa, cara khas ini bersifat individual yang kerap kali

tidak disadari dan sekali terbentuk cenderung bertahan terus. Dari beberapa

pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa gaya belajar siswa adalah cara

belajar yang khas, bersifat konsisten yang merupakan kombinasi bagaimana

seorang siswa menyerap, mengatur dan mengolah informasi.

Dunn dalam (De Porter dan Hernacki, 2003: 110) menemukan banyak

variabel yang mempengaruhi gaya belajar orang, antara lain faktor-faktor

fisik, emosional, sosiologis dan lingkungan. Sebagian orang misalnya, dapat

belajar paling baik dengan cahaya yang terang, sedang sebagian yang lain

dengan pencahayaan yang suram. Ada orang yang belajar paling baik secara

Page 43: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

26

berkelompok, sedang yang lain lagi memilih adanya figur otoriter seperti

orang tua atau guru, dan yang lain lagi merasa bahwa bekerja sendirilah yang

paling efektif bagi mereka. Sebagian orang memerlukan musik sebagai latar

belakang sedang yang lain tidak dapat berkonsentrasi kecuali dalam ruangan

yang sepi.

Selanjutnya De Porter dan Hernacki menggolongkan gaya belajar

berdasarkan cara bagaimana kita menyerap informasi dengan mudah

(modalitas) kedalam tiga tipe, yaitu tipe visual, tipe auditorial dan tipe

kinestetik.

a. Tipe Visual

Bagi siswa dengan tipe belajar visual, mata/penglihatan memegang

peranan yang paling penting dalam cara dia belajar. Ciri–ciri orang yang

bertipe visual sebagaimana diungkapkan oleh De Porter dan Hernacki

(2003: 116) adalah sebagai berikut:

1) Rapi dan teratur

2) Berbicara dengan cepat.

3) Teliti terhadap detail

4) Mementingkan penampilan, baik dalam hal pakaian maupun presentasi

5) Biasanya tidak terganggu oleh keributan

6) Pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam

pikiran mereka.

7) Mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar

8) Lebih suka membaca daripada dibacakan

9) Membaca dengan cepat dan tekun.

Page 44: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

27

10) Sering kali mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai

memilih kata-kata.

11) Lebih suka melakukan demonstrasi daripada pidato.

12) Mengingat dengan asosiasi visual.

13) Lebih suka musik dari pada seni.

14) Sering menjawab dengan jawaban singkat ya atau tidak.

15) Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika

ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya.

16) Kadang-kadang kehilangan konsentrasi ketika mereka ingin

memperhatikan.

b. Tipe Auditorial

Siswa dengan tipe belajar auditorial menjadikan telinga (pendengaran)

sebagai alat utama untuk belajar. De Porter dan Hernacki (2003: 118)

mengungkapkan bahwa orang yang bertipe auditorial mempunyai ciri-ciri

antara lain sebagai berikut:

1) Berbicara kepada diri sendiri saat bekerja.

2) Penampilan rapi.

3) Mudah terganggu oleh keributan.

4) Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika

membaca.

5) Senang membaca dengan keras dan mendengarkan.

6) Merasa kesulitan untuk menulis, tetapi hebat dalam bercerita.

7) Berbicara dalam irama yang terpola.

8) Biasanya pembicara yang fasih.

Page 45: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

28

9) Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan

dari pada yang dilihat.

10) Suka berbicara, suka berdiskusi dan berbicara panjang lebar.

11) Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya.

c. Tipe Kinestetik

Siswa dengan tipe belajar kinestetik akan secara aktif menggunakan

dan menggerakkan tubuhnya untuk belajar. De Porter dan Hernacki (2003:

118) mengungkapkan bahwa orang yang bertipe kinestetik mempunyai

ciri-ciri diantaranya sebagai berikut:

1) Belajar melalui manipulasi dan praktik.

2) Penampilan rapi.

3) Tidak terlalu mudah terganggu dengan suasana keributan.

4) Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita.

5) Menyukai buku-buku yang berorientasi plot, mereka mencerminkan

aksi dengan gerakan tubuh mereka saat membaca.

6) Menyentuh orang untuk mendapat perhatian mereka.

7) Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak.

8) Menghafal dengan cara berjalan dan melihat.

9) Tidak dapat duduk diam untuk waktu yang lama.

10) Menyukai permainan yang menyibukkan.

11) Berbicara dengan perlahan.

Page 46: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

29

6. Hasil Belajar

Slameto (2003: 4) menjelaskan hasil belajar adalah perubahan yang

terjadi secara sadar, bersifat kontinu dan fungsional setelah mengalami

pelatihan dan pengalaman dalam kegiatan pembelajaran. Sedangkan Nana

Sudjana (1995: 32) menyatakan hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki

siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Penilaian hasil belajar adalah

proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dalam

kriteria tertentu. Hal ini mengisyaratkan bahwa objek yang dinilai adalah hasil

belajar. Hasil belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai

hasil dari proses belajar mengajar. Perubahan ini berupa pengetahuan,

pemahaman, keterampilan dan proses yang biasanya meliputi ranah kognitif,

afektif dan psikomotorik.

Dimyati dan Mudjiono (2006: 26-31) menjelaskan ranah-ranah

tersebut sebagai berikut:

1. Ranah kognitif

Berkaitan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri atas enam aspek,

yaitu pengetahuan (kognitif tingkat rendah), pemahaman, penerapan,

analisis, sintesis, dan kreativitas (kognitif tingkat tinggi).

2. Ranah afektif

Berkenaan dengan sikap yang terdiri atas lima aspek, yaitu penerimaan,

partisipasi, penilaian dan penentuan sikap, organisasi, dan pembentukan

pola hidup.

3. Ranah psikomotorik

Page 47: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

30

Berkenaan dengan hasil keterampilan dan kemampuan bertindak yang

meliputi persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan yang terbiasa,

gerakan kompleks, penyesuaian pola gerakan, dan kreativitas.

Perubahan perilaku sebagai hasil belajar mempunyai ciri-ciri tertentu.

Ciri-ciri tersebut dikemukakan Makmum (dalam Enco Mulyasa, 2004: 189),

sebagai berikut:

1) Perubahan bersifat intensional (pengalaman atau praktek latihan itu

dengan sengaja dan didasari dilakukan atau bukan secara kebetulan).

2) Perubahan bersifat positif (sesuai dengan yang diharapkan atau kriteria

keberhasilan baik dipandang dari segi siswa maupun dari guru).

3) Perubahan bersifat efektivitas (perubahan hasil belajar itu relatif tetap dan

setiap saat diperlukan dapat direproduksikan dan dipergunakan, seperti

dalam memecahkan masalah, ujian maupun penyesuaian diri dalam

kehidupan sehari-hari dalam rangka mempertahankan kelangsungan

hidupnya).

B. Hasil Penelitian yang Relevan

Penelitian ini didukung oleh penelitian-penelitian yang relevan dengan

penelitian yang akan dilaksanakan. Adapun penelitian yang pernah dilakukan

oleh para peneliti terdahulu antara lain:

1. Bambang Sri Anggoro (2010) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif

tipe STAD memberikan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan

metode pembelajaran mekanistik. Perbedaan penelitian ini dengan

penelitian yang dilakukan sebelumnya adalah pada penelitian ini metode

Page 48: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

31

pembelajaran kooperatif tipe STAD dibandingkan dengan metode

pembelajaran kooperatif tipe NHT. Selain itu populasi dari penelitian

sebelumnya adalah siswa Sekolah Dasar, sedangkan pada penelitian ini

adalah pada Sekolah Menengah Atas.

2. Robertus Margana (2010) menyatakan bahwa metode pembelajaran

kooperatif tipe NHT menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik

dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional. Perbedaan

penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada penelitian ini

membandingkan antara metode pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan

metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Amstrong dan Palmer tahun 1998 yang

berjudul Student Teams Achievement Divisions (STAD) in a twelfth grade

classroom: Effect on student achievement and attitude menyatakan bahwa

pembelajaran kooperatif STAD memberikan prestasi yang lebih baik

dibanding dengan kelompok kontrol (kelas tradisional). Perbedaan

penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada penelitian ini

membandingkan antara metode pembelajaran kooperatif tipe STAD

dengan metode pembelajaran kooperatif tipe NHT.

4. Penelitian yang dilakukan oleh Haydon, Maheady dan Hunter tahun 2010

yang berjudul Effects of Numbered Heads Together on the Daily Quiz

Scores and On-Task Behavior of Students with Disabilities menyatakan:

“Previous research has demonstrated that Numbered Heads Together, a cooperative learning strategy, is more effective than traditional teacher-led instruction in academic areas such as social studies and science”

Page 49: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

32

Yang artinya bahwa Numbered Heads Together, salah satu strategi

pembelajaran kooperatif, lebih efektif daripada pengajaran tradisional

dalam wilayah akademik seperti pembelajaran sosial dan sains.

Perbedaan penelitian yang dilakukan peneliti dengan penelitian

sebelumnya adalah penelitian ini pada pembelajaran matematika. Selain

itu pada penelitian ini metode kooperatif tipe NHT tidak dibandingkan

dengan metode tradisional, melainkan dengan metode koooperatif tipe

STAD.

5. Untari Setyawati (2008) menyatakan bahwa metode pembelajaran

kooperatif tipe jigsaw tidak memberikan perbedaan prestasi yang

signifikan dengan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi

pokok bahasan sistem persamaan linear dan kuadrat. Perbedaan penelitian

yang dilakukan oleh peneliti dengan penelitian sebelumnya adalah pada

metode pembelajaran yang dibandingkan yaitu antara metode

pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode pembelajaran

kooperatif tipe NHT. Selain itu perbedaan lainnya adalah kalau penelitian

yang dilakukan peneliti metode belajar tersebut ditinjau dari tipe belajar

siswa, sedangkan pada penelitian sebelumnya ditinjau dari motivasi siswa.

6. Nur Janah (2009) menyatakan bahwa ketiga tipe belajar siswa yaitu visual,

auditorial dan kinestetik tidak memberikan perbedaan prestasi yang

signifikan. Perbedaan penelitian yang dilakukan peneliti dengan penelitian

sebelumnya adalah dari metode pembelajaran yang dibandingkan. Pada

penelitian ini peneliti membandingkan metode pembelajaran kooperatif

tipe STAD dengan metode pembelajaran kooperatif tipe NHT sedangkan

Page 50: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

33

pada penelitian sebelumnya yang dibandingkan adalah metode

pembelajaran concept attainment dengan metode konvensional.

C. Kerangka Berpikir

Keberhasilan pembelajaran matematika di kelas ditandai oleh tingkat

pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Pemahaman terhadap materi

pembelajaran ini dapat dilihat dari hasil prestasi belajar. Banyak faktor yang

menentukan keberhasilan pembelajaran matematika, salah satunya adalah

metode pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik materi dan

karakteristik siswa.

Salah satu metode pembelajaran yang sudah lama dikenal adalah

metode pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif menekankan pada

adanya interaksi saling tergantung antar siswa untuk membangun pengetahuan

mereka. Pada proses pembelajaran kooperatif peran guru tidak mendominasi

dalam proses pembelajaran, melainkan hanya memfasilitasi proses

pembelajaran. Ada banyak metode pembelajaran kooperatif, diantaranya

adalah STAD dan NHT.

1. Kaitan metode kooperatif tipe STAD dan metode kooperatif tipe NHT

terhadap prestasi belajar matematika.

Metode kooperatif tipe STAD adalah metode kooperatif yang paling

mudah dipraktikkan. Pada metode kooperatif ini siswa belajar dalam

kelompok dan kelompok harus memastikan bahwa setiap anggota dalam

kelompok telah memahami materi pembelajaran. Meskipun ada sistem

penghargaan kelompok yang didasarkan atas peningkatan skor individu,

Page 51: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

34

tetapi pada metode kooperatif ini tanggung jawab setiap siswa secara

individu tidak terlalu ditekankan. Berbeda dengan metode kooperatif tipe

STAD, pada metode pembelajaran kooperatif tipe NHT, selain siswa

belajar dalam kelompok, setiap individu siswa juga harus memastikan

bahwa dirinya telah memahami materi pembelajaran, karena pada

gilirannya guru akan memanggil satu nomor secara acak untuk melakukan

presentasi di depan kelas. Dengan cara ini setiap siswa akan lebih terpacu

untuk memahami materi pembelajaran. Sehingga diduga pembelajaran

kooperatif tipe NHT memberikan prestasi belajar yang lebih baik

dibanding dengan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.

2. Kaitan gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar.

Siswa dengan gaya belajar visual menggunakan indra penglihatan secara

dominan dalam belajar, sehingga siswa dengan gaya belajar ini akan lebih

optimal menerima materi dengan memperhatikan penjelasan guru di papan

tulis. Sedangkan siswa dengan gaya belajar auditorial lebih dominan

menggunakan indra pendengarannya dalam belajar, sehingga siswa dengan

gaya belajar ini sangat menyukai diskusi dan mendengarkan penjelasan

dari guru maupun temannya. Untuk siswa dengan gaya belajar kinestetik

belajar dengan mengerakkan anggota tubuhnya, sehingga siswa dengan

belajar ini akan sangat mudah belajar melalui praktik dan sangat menyukai

permainan yang menyibukkan. Berdasar kecenderungan di atas maka

siswa dengan gaya belajar auditorial akan lebih optimal dalam belajar

dibanding siswa dengan gaya belajar visual dan kinestetik. Sehingga

diduga siswa dengan gaya belajar auditorial mempunyai prestasi belajar

Page 52: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

35

yang lebih baik dibandingkan siswa dengan gaya belajar visual dan siswa

dengan gaya belajar kinestetik. Selain itu, pada materi sistem persamaan

linear dan kuadrat tidak ada materi praktiknya, sehingga siswa dengan

gaya belajar kinestetik tidak akan optimal dalam belajarnya. Sehingga

diduga siswa dengan gaya belajar visual mempunyai prestasi lebih baik

dibanding siswa dengan gaya belajar kinestetik.

3. Kaitan metode pembelajaran dan gaya belajar terhadap prestasi belajar

siswa.

Metode pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar siswa akan

membuat siswa lebih mudah menangkap informasi dan memahami materi

pembelajaran. Metode pembelajaran kooperatif baik pada tipe STAD

maupun tipe NHT menekankan pada proses interaksi antar siswa melalui

diskusi kelompok. Sehingga siswa dengan gaya belajar auditorial yang

memiliki karakteristik suka berdiskusi akan sangat menyukai metode ini.

Sedangkan siswa dengan gaya belajar visual akan belajar dengan

memperhatikan catatan yang dibuat oleh teman diskusinya ketika

menjelaskan. Untuk siswa dengan gaya belajar kinestetik, karena pada

materi sistem persamaan linear dan kuadrat tidak ada materi praktiknya,

maka siswa dengan gaya belajar ini akan kurang optimal dalam belajarnya.

Sehingga tetap diduga bahwa siswa dengan gaya belajar auditorial

mempunyai prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan siswa dengan

gaya belajar visual dan kinestetik serta siswa dengan gaya belajar visual

mempunyai prestasi lebih baik dibanding siswa dengan gaya belajar

kinestetik. Selain itu untuk tiap-tiap gaya belajar, karena secara

Page 53: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

36

karakteristik antara metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan

metode pembelajaran kooperatif tipe NHT hampir sama yaitu menekankan

pada diskusi antar siswa, maka diduga pembelajaran kooperatif tipe NHT

memberikan prestasi belajar yang lebih baik dibanding dengan metode

pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Gambar 2.1 Kerangka berpikir

D. Hipotesis

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas, dibuat rumusan

hipotesis sebagai berikut:

1. Pembelajaran matematika pada materi sistem persamaan linear dan

kuadrat dengan metode pembelajaran kooperatif tipe NHT menghasilkan

prestasi yang lebih baik dibanding metode pembelajaran kooperatif tipe

STAD.

2. Siswa yang mempunyai gaya belajar auditorial akan mempunyai prestasi

yang lebih baik dibandingkan siswa yang mempunyai gaya belajar visual,

siswa dengan gaya belajar auditorial mempunyai prestasi yang lebih baik

dibanding siswa dengan gaya belajar kinestetik dan siswa dengan gaya

belajar visual mempunyai prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan

dengan siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik.

Metode Pembelajaran

Gaya belajar siswa

Prestasi belajar

Page 54: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

37

3. Perbedaan prestasi belajar dari masing-masing metode pembelajaran

konsisten terhadap masing-masing gaya belajar dan perbedaan antara

masing-masing gaya belajar konsisten pada setiap metode pembelajaran.

Page 55: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat, Subyek dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri yang ada di kota Kediri

dengan subyek penelitian adalah siswa kelas X (sepuluh). Penelitian ini

dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2010/2011 tepatnya pada

bulan September sampai dengan Desember 2010, dengan tahapan sebagai

berikut:

Tabel 3.1. Tahapan penelitian

Tahapan Penelitian Bulan

September Oktober Nopember Desember

Penyusunan proposal

Penyusunan Instrumen

Uji coba instrumen

Pelaksanaan eksperimen

Analisis data

B. Jenis Penelitian

Sesuai dengan karakteristik permasalahan yang akan diteliti, maka

jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental semu (quasi

experimental research). Budiyono (2003: 82-83) menyatakan bahwa tujuan

penelitian eksperimental semu adalah untuk memperoleh informasi yang

merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen

yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol

dan atau memanipulasikan semua variabel yang relevan. Manipulasi variabel

38

Page 56: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

39

dalam penelitian ini dilakukan pada variabel bebas yaitu pembelajaran

matematika dengan metode kooperatif tipe STAD pada kelas eksperimen satu

dan metode koopratif tipe NHT pada kelas eksperimen dua. Sedangkan

variabel bebas lain yang mempengaruhi variabel terikat adalah gaya belajar

siswa.

C. Langkah-langkah Penelitian

Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Menentukan populasi.

2. Dari populasi secara random ditentukan sampel yang akan diteliti. Sampel

dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama diberi perlakuan metode

pembelajaran kooperatif tipe STAD dan kelompok kedua diberi perlakuan

metode pembelajaran kooperatif tipe NHT.

3. Dilakukan pengambilan data tentang gaya belajar siswa dengan

menggunakan angket. Dari hasil angket tersebut siswa dikategorikan

menjadi tiga yaitu: gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik.

4. Pemberian perlakuan, kelompok pertama diberi perlakuan metode

pembelajaran kooperatif tipe STAD dan kelompok kedua diberi perlakuan

metode pembelajaran kooperatif tipe NHT.

5. Setelah diberi perlakuan, dilakukan tes untuk pokok bahasan sistem

persamaan linear dan kuadrat terhadap kedua kolompok eksperimen.

6. Peneliti melakukan analisis dari hasil tes yang diperoleh.

Page 57: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

40

D. Populasi, Sampel Dan Teknik Pengambilan Sampel

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2009: 61) populasi adalah wilayah generalisasi

yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik

tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian

ditarik kesimpulannya.

Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X (sepuluh)

SMA Negeri se-kota Kediri tahun pelajaran 2010/2011, yang tersebar pada

delapan sekolah yaitu: SMA Negeri 1 Kediri, SMA Negeri 2 Kediri, SMA

Negeri 3 Kediri, SMA Negeri 4 Kediri, SMA Negeri 5 Kediri, SMA

Negeri 6 Kediri, SMA Negeri 7 Kediri dan SMA Negeri 8 Kediri.

2. Sampel dan Teknik Sampling

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi (Sugiyono, 2009: 62). Sedangkan Suharsimi Arikunto

menyatakan bahwa sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang

diteliti. Sedangkan teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel.

Dalam penelitian ini digunakan teknik Stratified Cluster Random

Sampling.

Tekniknya adalah pertama populasi dibagi menjadi tiga kelompok,

yaitu SMA dengan kemampuan tinggi, sedang dan rendah berdasarkan

rata-rata nilai Ujian Nasional mata pelajaran pada tahun pelajaran

2009/2010. Selanjutnya dari masing-masing cluster (kelompok) dipilih

secara acak, yaitu: SMA Negeri 1 Kediri sebagai SMA dengan

kemampuan tinggi, SMA Negeri 3 Kediri sebagai SMA dengan

Page 58: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

41

kemampuan sedang dan SMA Negeri 6 Kediri sebagai SMA dengan

kemampuan rendah.

Kelas X (sepuluh) SMA Negeri 1 Kediri terdiri dari 9 kelas. Secara

acak terpilih kelas X-1 sebagai kelas eksperimen 1 dan kelas X-5 sebagai

kelompok eksperimen 2. Siswa kelas X-1 sebanyak 30 siswa dengan

rincian 12 anak laki-laki dan 18 anak perempuan. Sedangkan siswa kelas

X-5 sebanyak 31 anak dengan rincian 13 anak laki-laki dan 18 anak

perempuan.

Kelas X (sepuluh) SMA Negeri 3 Kediri terdiri dari 9 kelas. Secara

acak terpilih kelas X-4 sebagai kelas eksperimen 1 dan kelas X-3 sebagai

kelas eksperimen 2. Siswa kelas X-4 sebanyak 38 anak dengan rincian 18

anak laki-laki dan 20 anak perempuan. Sedangkan siswa kelas X-3

sebanyak 39 anak dengan rincian 16 anak laki-laki dan 23 anak

perempuan.

Kelas X (sepuluh) SMA Negeri 6 Kediri terdiri dari 8 kelas. Secara

acak terpilih kelas X-6 sebagai kelas eksperimen 1 dan kelas X-8 sebagai

kelas eksperimen 2. Siswa kelas X-6 sebanyak 41 anak dengan rincian 19

anak laki-laki dan 22 anak perempuan. Sedangkan siswa kelas X-8

sebanyak 40 anak dengan rincian 17 anak laki-laki dan 23 anak

perempuan.

Page 59: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

42

E. Variabel dan Rancangan Penelitian

1. Variabel Penelitian

Variabel diartikan sebagai konstruk-konstruk atau sifat-sifat yang

diteliti, dapat pula dikatakan bahwa variabel adalah sesuatu yang

menggolongkan anggota-anggota kelompok ke dalam beberapa golongan

(Budiyono, 2009: 4). Dalam penelitian ini terdapat dua variabel bebas dan

satu variabel terikat, yaitu :

a. Variabel bebas. Menurut Sugiyono (2009: 4) variabel bebas adalah

merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab

perubahan atau timbulnya variabel terikat. Variabel bebas dalam

penelitian ini adalah metode pembelajaran dan gaya belajar siswa.

1). Metode pembelajaran

a). Definisi operasional: metode pembelajaran adalah suatu cara

yang dipakai dalam menyampaikan materi pelajaran kepada

siswa, yang meliputi pembelajaran dengan metode kooperatif

tipe STAD dan metode kooperatif tipe NHT.

b). Indikator: metode pembelajaran dengan menggunakan metode

kooperatif tipe STAD pada kelas eksperimen pertama dan

metode kooperatif tipe NHT pada kelas eksperimen kedua.

c). Skala pengukuran: nominal dengan dua kategori yaitu metode

pembelajaran kooperatif tipe STAD dan metode pembelajaran

kooperatif tipe NHT.

d). Simbol: a, dengan kategori a1, a2.

Page 60: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

43

2). Gaya belajar

a) Definisi operasional: gaya belajar adalah semua cara yang

cenderung disukai oleh siswa sehingga dia dapat menerima

pelajaran dengan baik dan efektif.

b) Indikator: gaya belajar siswa yang terdiri dari 3 kategori yaitu

gaya belajar visual, gaya belajar auditorial dan gaya belajar

kinestetik.

c) Skala pengkuran: skala interval, kemudian diubah menjadi

skala nominal yaitu gaya belajar visual, gaya belajar auditorial

dan gaya belajar kinestetik. Aturan pengkategoriannya adalah:

gaya belajar seorang siswa ditentukan berdasarkan nilai

tertinggi yang diperoleh dari ketiga angket gaya belajar yang

diberikan. Jika ada siswa yang memperoleh nilai sama pada

dua angket gaya belajar atau lebih, maka siswa tersebut tidak

dimasukkan dalam sampel penelitian.

d) Simbol: b, dengan kategori b1, b2, b3.

b. Variabel terikat. Menurut Sugiyono (2009: 4) variabel terikat adalah

variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya

variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi

belajar matematika siswa.

1) Definisi operasional: prestasi belajar matematika adalah nilai hasil

tes siswa pada pokok bahasan sistem persamaan linear dan kuadrat.

2) Indikator: nilai hasil tes prestasi belajar matematika siswa pada

pokok bahasan sistem persamaan linear dan kuadrat.

Page 61: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

44

3) Skala pengukuran: Interval

2. Rancangan penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial 2×3 untuk

mengetahui pengaruh dua variabel bebas terhadap variabel terikat.

Tabel 3.2. Rancangan penelitian

Metode

Pembelajaran (a)

Gaya Belajar (b)

Visual (b1) Auditorial (b2) Kinestetik (b3)

Metode kooperatif

tipe STAD (a1) ab11 ab12 ab13

Metode kooperatif

tipe NHT (a2) ab21 ab22 ab23

Keterangan:

ab11 = Nilai kelompok siswa dengan gaya belajar visual yang diberi

perlakuan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.

ab12 = Nilai kelompok siswa dengan gaya belajar auditorial yang diberi

perlakuan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.

ab13 = Nilai kelompok siswa dengan gaya belajar kinestetik yang diberi

perlakuan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.

ab21 = Nilai kelompok siswa dengan gaya belajar visual yang diberi

perlakuan metode pembelajaran kooperatif tipe NHT.

ab22 = Nilai kelompok siswa dengan gaya belajar auditorial yang diberi

perlakuan metode pembelajaran kooperatif tipe NHT.

ab23 = Nilai kelompok siswa dengan gaya belajar kinestetik yang diberi

perlakuan metode pembelajaran kooperatif tipe NHT.

Page 62: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

45

F. Metode Pengumpulan Data, Penyusunan dan Uji Instrumen

1. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data adalah suatu usaha memperoleh bahan dan

keterangan yang dibutuhkan dalam penelitian. Dalam sebuah penelitian,

peneliti perlu menentukan langkah-langkah pengumpulan data yang sesuai

dengan permasalahan yang dikaji dalam penelitian.

Metode yang digunakan untuk pengambilan data dalam penelitian ini

adalah:

a. Metode Dokumentasi

Menurut Suharsimi Arikunto (2005: 158), metode dokumentasi

adalah untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa

catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prestasi, notulen rapat,

agenda dan lain sebagainya. Pada penelitian ini, metode dokumentasi

digunakan untuk mengetahui daftar nama siswa dan nilai hasil Ujian

Nasional SMP/MTs untuk melakukan uji keseimbangan.

b. Metode Angket

Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk

memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang

pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui ( Suharsimi Arikunto, 2005:

151). Dalam penelitian ini metode angket diguanakan untuk

mengumpulkan data mengenai gaya belajar siswa.

c. Metode Tes

Suharsimi Arikunto (2001: 32) menyatakan bahwa tes adalah suatu

alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh

Page 63: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

46

data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang

seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat.

Selanjutnya Budiyono (2003: 54) menyatakan bahwa metode tes

adalah cara pengumpulan data yang menghadapkan sejumlah

pertanyaan-pertanyaan atau suruhan-suruhan kepada subyek

penelitian. Metode tes dalam penelitian ini digunakan untuk

mengumpulkan data prestasi belajar siswa pada pokok bahasan sistem

persamaan linear dan kuadrat.

2. Penyusunan dan Uji Instrumen

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen

angket gaya belajar siswa dan instrumen tes prestai belajar matematika

pada pokok bahasan sistem persamaan linear dan kuadrat.

a. Instrumen Angket Gaya Belajar

Langkah-langkah peyusunan angket adalah sebagai berikut:

1) Menyusun materi yang akan digunakan untuk membuat angket.

2) Membuat kisi-kisi angket.

3) Menyusun angket. Item pertanyaan gaya belajar siswa dibuat

berdasarkan kisi-kisi yang telah disusun sebelumnya.

4) Menentukan cara pemberian skor. Penentuan skor angket setiap

alternatif jawaban mempunyai skor berbeda-beda. Pemberian untuk

tiap-tiap alternatif jawaban disesuaikan dengan kriteria item.

Page 64: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

47

Tabel 3.3. Kriteria penilaian angket

Jenis Pertanyaan Alternatif Jawaban Pilihan Skor

Pertanyaan (+)

Selalu Sering Netral Jarang

Tidak Pernah

A B C D E

5 4 3 2 1

Pertanyaan (-)

Selalu Sering Netral Jarang

Tidak Pernah

A B C D E

1 2 3 4 5

5) Mengadakan uji coba angket. Setelah selesai penyusunan angket

kemudian diujicobakan.

Setelah diujicobakan angket kemudian dianalisis untuk mengetahui

apakah angket yang dibuat memenuhi syarat-syarat instrumen yang

baik. Syarat instrumen yang baik meliputi: validitas isi, konsistensi

internal dan reliabilitas.

1) Validitas isi

Suharsimi Arikunto (2001: 58) mengemukakan bahwa sebuah

instrumen dapat dikatakan valid apabila dapat memberikan

gambaran tentang data secara benar sesuai dengan kenyataan atau

keadaan sesungguhnya. Valid disebut dengan istilah sahih.

Budiyono (2003: 59) menyatakan bahwa untuk menilai apakah

instrumen mempunyai validitas isi yang tinggi, yang biasanya

dilakukan adalah melalui experts judgment (penilaian ynag

dilakukan oleh para pakar). Dalam hal ini para penilai (yang sering

disebut subject matter experts), menilai apakah kisi-kisi yang

dibuat oleh pengembang tes telah menunjukkan bahwa klasfikasi

Page 65: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

48

kisi-kisi telah mewakili substansi yang akan diukur. Langkah

berikutnya, para penilai menilai apakah masing-masing butir

angket telah disusun cocok atau relevan dengan klasifikasi kisi-kisi

yang ditentukan.

2) Uji Konsistensi Internal

Sebuah instrumen tentu terdiri dari sejumlah butir-butir

instrumen. Kesemua butir harus mengukur hal yang sama dan

menunjukkan kecenderungan yang sama pula. Konsistensi internal

masing-masing butir dilihat dari korelasi antara skor butir-butir

tersebut dengan skor totalnya. (Budiyono, 2003: 65)

Rumus yang digunakan untuk mengetahui konsistensi internal

adalah rumus korelasi momen produk dari Karl Pearson sebagi

berikut:

( )( )( ){ } ( ){ }2222

xy

YYnXXn

YX-XYnr

∑ ∑∑ ∑∑ ∑∑

−−=

dengan:

xyr : Indeks konsistensi internal untuk butir ke-i

n : Banyaknya subyek yang dikenai tes (instrumen)

X : Skor untuk butir ke-i (dari subyek uji coba)

Y : total skor (dari subyek uji coba)

Jika indeks konsistensi internal untuk butir ke-i kurang dari 0,3

maka butir tersebut harus dibuang (Budiyono, 2003: 65).

Page 66: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

49

3) Uji Reliabilitas

Menurut Budiyono (2003: 65) suatu instrumen disebut reliabel

apabila hasil pengukuran dengan instrumen tersebut adalah sama

jika sekiranya pengukuran tersebut dilakukan pada orang yang

sama pada waktu yang berlainan atau pada orang yang berlainan

(tetapi mempunyai kondisi yang sama) pada waktu yang sama atau

pada waktu yang berlainan.

Pengujian reliabilitas angket pada penelitian ini menggunakan

rumus Cronbach Alpha, yaitu:

⎟⎟⎠

⎞⎜⎜⎝

⎛ −⎟⎠⎞

⎜⎝⎛

−= ∑

2

2

11 1 t

iit

sqps

nnr

dengan:

11r : indeks reliabilitas instrumen

n : banyaknya butir instrumen

2is : variansi belahan ke-i, i = 1, 2, ..., k )( nk ≤

atau variansi butir ke-i, i = 1, 2, ..., n

2ts : variansi skor-skor yang diperoleh subyek uji coba.

(Budiyono, 2003: 70)

Suatu instrumen dapat dipakai untuk melakukan pengukuran

jika indeks reliabilitasnya 70,0r11 ≥ (Budiyono, 2003: 72).

b. Instrumen Tes Prestasi Belajar Matematika

Bentuk soal yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes pilihan

ganda. Adapun langkah-langkah penyusunan soal tes adalah sebagai

berikut:

Page 67: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

50

1) Membuat kisi-kisi soal tes

2) Menyusun butir-butir soal tes

3) Menguji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda

soal tes.

Sebelum instrumen tes digunakan, terlebih dahulu dilakukan uji

coba tes untuk mengetahui validitas isi, konsistensi internal dan

reliabilitas tes. Uji coba tes dilakukan di SMA Negeri 3 Kediri pada

siswa kelas X-8 dan kelas X-9 dengan jumlah siswa sebanyak 77 anak

berdasarkan kesamaan karakteristik antara subyek uji coba dengan

sampel penelitian. Setelah dilakukan uji coba selanjutnya dilakukan

analisis soal yang meliputi uji validitas isi, uji reliabilitas, uji tingkat

kesukaran dan uji daya pembeda.

1) Validitas isi

Suharsimi Arikunto (2001: 58) mengemukakan bahwa sebuah

instrumen dapat dikatakan valid apabila dapat memberikan

gambaran tentang data secara benar sesuai dengan kenyataan atau

keadaan sesungguhnya. Valid disebut dengan istilah sahih.

Budiyono (2003: 59) menyatakan bahwa untuk menilai apakah

instrumen mempunyai validitas isi yang tinggi, yang biasanya

dilakukan adalah melalui experts judgment (penilaian ynag

dilakukan oleh para pakar). Dalam hal ini para penilai (yang sering

disebut subject matter experts), menilai apakah kisi-kisi yang

dibuat oleh pengembang tes telah menunjukkan bahwa klasifikasi

kisi-kisi telah mewakili substansi yang akan diukur. Langkah

Page 68: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

51

berikutnya, para penilai menilai apakah masing-masing butir tes

telah disusun cocok atau relevan dengan klasifikasi kisi-kisi yang

ditentukan.

2) Uji Reliabilitas

Menurut Budiyono (2003: 65) suatu instrumen disebut reliabel

apabila hasil pengukuran dengan instrumen tersebut adalah sama

jika sekiranya pengukuran tersebut dilakukan pada orang yang

sama pada waktu yang berlainan (tetapi mempunyai kondisi yang

sama) pada waktu yang sama atau pada waktu yang berlainan.

Pengujian reliabilitas tes pada penelitian ini menggunakan

rumus Kuder Richardson, yaitu:

⎟⎟⎠

⎞⎜⎜⎝

⎛ −⎟⎠⎞

⎜⎝⎛

−= ∑

2

2

11 1 t

iit

sqps

nnr

dengan:

11r : indeks reliabilitas instrumen

n : banyaknya butir instrumen

pi : proporsi banyaknya subjek yang menjawab benar pada butir

ke-i

qi : 1 – pi

2ts : variansi total.

(Budiyono, 2003: 69)

Suatu instrumen dapat dipakai untuk melakukan pengukuran

jika indeks reliabilitasnya 70,0r11 ≥ . (Budiyono, 2003: 72)

Page 69: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

52

SJBP =

3) Tingkat Kesukaran

Soal yang baik adalah soal yang mempunyai tingkat kesukaran

yang memadai, artinya tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar.

Untuk mengetahui tingkat kesukaran tiap-tiap butir tes digunakan

rumus:

dengan:

P : Indeks kesukaran

B : Banyak peserta tes yang menjawab soal benar

SJ : Jumlah seluruh peserta tes

Dalam penelitian ini soal dianggap baik jika 70,030,0 <≤ P .

(Suharsimi Arikunto, 2001)

4) Daya Pembeda

Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk

membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan

siswa yang berkemampuan rendah. Daya pembeda masing-masing

butir soal dilihat dari relasi antar skor butir-butir tersebut dengan

skor totalnya. Daya pembeda menggunakan rumus korelasi produk

momen dari Karl Pearson sebagai berikut:

( )( )( ){ } ( ){ }2222

xyYYnXXn

YX-XYnr

∑ ∑∑ ∑∑ ∑∑

−−=

dengan:

xyr : Indeks daya beda untuk butir ke-i

Page 70: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

53

N : Banyaknya subyek yang dikenai tes.

X : Skor untuk butir ke-i (dari subyek uji coba)

Y : total skor (dari subyek uji coba)

Jika indeks daya pembeda untuk butir ke-i kurang dari 0,3

maka butir tersebut harus didrop (dibuang).

(Budiyono, 2003: 65)

G. Teknik Analisis Data

1. Uji Prasyarat untuk Uji Keseimbangan dan Analisis Variansi

a. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel berasal

dari populasi yang berdistribusi normal. Uji normalitas yang

digunakan adalah metode Lilliefors. Langkah-langkah metode uji

Lilliefors adalah sebagai berikut:

1) Hipotesis

H0 : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal

H1 : Sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal

2) Tingkat signifikansi 05,0=α

3) Statistik uji

L = Maks )()( ii zSzF −

keterangan:

zi = s

XX i −

F(zi) = P(Z≤ zi); Z ~ N(0, 1)

Page 71: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

54

S(zi) = Proporsi cacah Z≤ zi terhadap seluruh zi

4) Daerah kritis

DK = { }nLLL ;α> dengan nilai nL ;α diperoleh dari tabel Lilliefors.

5) Keputusan uji

H0 ditolak jika ∈L DK

(Budiyono, 2009: 170-171)

b. Uji Homogenitas

Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah variansi-

variansi dari sejumlah populasi sama atau tidak. Winer (dalam

Budiyono, 2009: 174) menyatakan bahwa salah satu uji homogenitas

variansi untuk k populasi adalah Uji Bartlett. Langkah-langkah uji

Bartlett adalah sebagai berikut:

1) Hipotesis

H0 : 222

21 ... kσσσ === (variansi populasi homogen)

H1 : tidak semua variansi sama (variansi populasi tidak homogen)

2) Tingkat signifikansi 05,0=α

3) Statistik Uji

∑−= )loglog(303,2 22jj sfRKGf

cχ ; )1(

22 ~ −kχχ

⎥⎥⎦

⎢⎢⎣

⎡−

−+= ∑ ffk

cj

11)1(3

11 ; ∑∑=

j

j

fSS

RKG ;

∑ ∑ −=−= 22

2 )1()(

jjj

jjj sn

nX

XSS

Page 72: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

55

keterangan:

k = banyaknya populasi = banyaknya sampel

f = derajat kebebasan untuk RKG = N – k

N = banyaknya seluruh nilai (ukuran)

fj = 1−jn = derajad kebebasan untuk 2js ; j = 1, 2, …, k.

nj = banyaknya nilai (ukuran) sampel ke-j = ukuran sampel ke-j

4) Daerah Kritis

DK= { }1:222 | −> kαχχχ

5) Keputusan uji

H0 ditolak jika 2χ ∈ DK

(Budiyono, 2009: 176)

2. Uji Keseimbangan

Sebelum diberikan perlakuan terhadap kedua kelompok sampel,

terlebih dahulu dilakukan uji keseimbangan. Uji keseimbangan bertujuan

untuk mengetahui apakah kedua kelompok sampel tersebut seimbang.

Secara statistik, apakah terdapat perbedaan mean yang berarti dari kedua

kelompok sampel. Statistik uji yang digunakan adalah uji t, sedangkan

data yang digunakan berasal dari data dokumen nilai Ujian Nasional

SMP/MTs mata pelajaran matematika.

Langkah-langkah uji keseimbangan adalah sebagai berikut:

a. Hipotesis

H0 : 21 µµ = (kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama)

Page 73: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

56

H1 : 21 µµ ≠ (kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang

berbeda)

b. Tingkat signifikansi 05,0=α

c. Statistik uji

21

21

11)(

nns

XXt

p +

−= ~ )2( 21 −+ nnt dengan

2)1()1(

21

222

2112

−+−+−

=nn

snsns p

dengan:

1X = nilai rata-rata pada kelas eksperimen 1

2X = nilai rata-rata pada kelas eksperimen 2

21s = variansi kelompok eksperimen 1

22s = variansi kelompok eksperimen 2

1n = jumlah siswa pada kelas eksperimen 1

2n = jumlah siswa pada kelas eksperimen 2

d. Daerah kritis

DK = {t | 2;

2 21 −+−<

nntt α atau }

2;2 21 −+

>nn

tt α

e. Keputusan uji

H0 ditolak jika tobs terletak di daerah kritis (tobs∈DK)

3. Pengujian Hipotesis

Penelitian ini menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak

sama untuk menguji hipotesis, dengan model data sebagai berikut:

Xijk = µ + αi + βj + (αβ)ij + εijk

Page 74: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

57

dengan:

Xijk = data (nilai) ke-k pada baris ke-i kolom ke-j.

µ = rerata dari seluruh data amatan (rerata besar)

αi = efek baris ke-i pada variabel terikat

βj = efek kolom ke-j pada variabel terikat

(αβ)ij = interaksi baris ke-i dan kolom ke-j pada variabel terikat

εijk = galat yang berdistribusi normal dengan rerata 0

i = 1, 2, …. , p ; p = banyak baris

j = 1, 2, …. , q ; q = banyak kolom

k = 1, 2, … , nij ; nij = banyak data amatan pada sel ij

Prosedur pengujian dengan menggunakan analisis variansi dua jalan

dengan sel tak sama yaitu:

a. Hipotesis

(1) H0A : αi = 0, untuk setiap i = 1, 2, … , p

H1A : paling sedikit ada satu αi yang tidak nol

(2) H0B : βj = 0, untuk setiap j = 1, 2, ... , q

H1B : paling sedikit ada satu jβ yang tidak nol

(3) H0AB : (αβ)ij = 0 untuk untuk setiap i = 1, 2, ... , p dan j = 1, 2, … , q

H1AB : paling sedikit ada satu (αβ)ij yang tidak nol.

b. Tingkat signifikansi 05,0=α

c. Komputasi

Pada analisis dua jalan dengan sel tak sama, didefinisikan notasi-notasi

sebagai berikut:

Page 75: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

58

nij = ukuran sel ij (sel pada baris ke-i kolom ke-j)

= banyaknya data amatan pada sel ij

= frekuensi sel ij

nh = rataan harmonik frekuensi seluruh sel

= ∑

ij ijn

pq1

N = ∑j,i

ijn = banyaknya seluruh data amatan

SSij = ∑∑ ⎟

⎞⎜⎝

−k ij

kijk

ijk n

XX

2

2

= jumlah kuadrat deviasi data amatan pada sel ij

p = banyaknya baris

q = banyaknya kolom

ijAB = rataan pada sel ij

Ai = ∑j

ijAB = jumlah rataan pada baris ke-i

Bj = ∑i

ijAB = jumlah rataan pada kolom ke-j

G = ∑ij

ijAB = jumlah rataan pada semua sel

Untuk memudahkan perhitungan, didefinisikan besaran-besaran (1),

(2), (3), (4), (5) yang dirumuskan sebagai berikut:

Page 76: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

59

(1) pqG 2

= (2) ∑=ji

ijSS,

(3) ∑=i

i

qA 2

(4) ∑=j

j

pB 2

(5) ∑=ij

ijAB2

1) Jumlah kuadrat

JKA = n h {(3) – (1)}

JKB = n h {(4) – (1)}

JKAB = n h {(1) + (5) – (3) – (4)}

JKG = (2)

JKT = JKA+ JKB + JKAB + JKG

2) Derajat kebebasan

dkA = p – 1

dkB = q – 1

dkAB = (p – 1) (q – 1) = pq – p – q + 1

dkG = N – pq

dkT = N – 1

3) Rerata kuadrat

RKA = dkAJKA

RKB = dkBJKB

RKAB = dkABJKAB

RKG = dkGJKG

Page 77: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

60

c. Statistik uji

1. Untuk H0A adalah RKGRKAFa = yang merupakan nilai dari variabel

random yang berdistribusi F dengan derajat kebebasan p–1 dan

N–pq

2. Untuk H0B adalah RKGRKBFb = yang merupakan nilai dari variabel

random yang berdistribusi F dengan derajat kebebasan q–1 dan

N–pq

3. Untuk H0AB adalah RKGRKABFab = yang merupakan nilai dari

variabel random yang berdistribusi F dengan derajat kebebasan

(p–1)(q–1) dan N–pq

d. Daerah kritis

1) Daerah kritis untuk Fa adalah DK = }{ ,1; pqNpFFF −−> α

2) Daerah kritis untuk Fb adalah DK = }{ ,1; pqNqFFF −−> α

3) Daerah kritis untuk Fab adalah DK = }{ ),1)(1(; pqNqpFFF −−−> α

e. Keputusan uji

H0 ditolak Fobs terletak di Daerah kritis.

(Budiyono, 2009: 229 – 231)

Page 78: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

61

Tabel 3.4. Rangkuman Analisis Variansi Dua Jalan

Sumber JK dk RK Fobs Fα P

Metode (A)

Gaya Belajar (B)

Interaksi (AB)

Galat (G)

JKA

JKB

JKAB

JKG

p-1

q-1

(p-1)(q-1)

N-pq

RKA

RKB

RKAB

RKG

Fa

Fb

Fab

-

F*

F*

F*

-

<α atau >α

<α atau >α

<α atau >α

-

Total JKT N-1 - - - -

Keterangan :

P = probabilitas amatan

F* = nilai F yang diperoleh dari tabel

(Budiyono, 2009: 215)

4. Uji Komparasi Ganda

Uji komparasi ganda adalah tindak lanjut dari analisis variansi jika H0

ditolak. Uji lanjut pasca analisis variansi yang digunakan adalah metode

Scheffe’.

a. Komparasi Rerata Antar Baris

Pada penelitian ini uji rerata antar baris tidak perlu dilakukan

karena hanya terdiri dari dua baris, sehingga jika H0 ditolak, maka

hanya tinggal membandingkan rerata marginalnya.

b. Komparasi Rerata Antar Kolom

Hipotesis nol yang diuji pada komparasi rerata antar kolom adalah:

H0 : µ.i = µ.j

Page 79: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

62

Uji Scheffe’ untuk komparasi rataan antar kolom adalah:

F.i – .j = ( )

⎥⎥⎦

⎢⎢⎣

⎡+

ji

ji

nnRKG

XX

..

2..

11

dengan:

F.i – .j = nilai Fobs pada perbandingan kolom ke-i dan kolom ke-j

iX . = rataan pada kolom ke-i

jX . = rataan pada kolom ke-j

RKG = rataan kuadrat galat, yang diperoleh dari perhitungan

analisis variansi

ni. = ukuran sampel kolom ke-i

nj. = ukuran sampel kolom ke-j

Daerah kritis untuk uji ini adalah : DK = })1({ ,1; pqNpFpFF −−−> α

c. Komparasi Rerata Antar Sel pada Kolom yang Sama

Hipotesis nol yang diuji pada komparasi rerata antar baris adalah:

H0 : µij = µkj

Uji Scheffe’ untuk komparasi rerata antar sel pada kolom yang sama

adalah:

Fij – kj = ( )

⎥⎥⎦

⎢⎢⎣

⎡+

kjij

kjij

nnRKG

XX

11

2

dengan:

Fij – kj = nilai Fobs pada pembandingan rerata pada sel ij dan rerata

pada sel kj

Page 80: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

63

ijX = rerata pada sel ij

kjX = rerata pada sel kj

RKG = rataan kuadrat galat, yang diperoleh dari perhitungan

analisis variansi

nij = ukuran sel ij

nkj = ukuran sel kj

Daerah kritis untuk uji ini adalah: DK = })1({ ,1; pqNpqFpqFF −−−> α

d. Komparasi Rataan Antar Sel pada Baris yang sama

Hipotesis nol yang diuji pada komparasi rerata antar baris adalah:

H0 : µij = µik

Uji Scheffe’ untuk komparasi rerata antar sel pada kolom yang sama

adalah:

Fij – ik = ( )

⎥⎥⎦

⎢⎢⎣

⎡+

ikij

ikij

nnRKG

XX

11

2

Daerah kritis untuk uji ini adalah : DK = })1({ ,1; pqNpqFpqFF −−−> α

(Budiyono, 2009: 215-217)

Page 81: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

64

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada Bab IV ini dipaparkan hasil uji keseimbangan, hasil uji

instrumen, deskripsi data, hasil uji prasyarat, hasil uji hipotesis dan pembahasan

hasil penelitian. Penelitian telah dilaksanakan pada siswa kelas X SMA Negeri 1

Kediri, SMA Negeri 3 Kediri dan SMA Negeri 6 Kediri. Masing-masing sekolah

diambil dua kelas dengan rincian satu kelas sebagai kelas eksperimen satu yang

dikenai metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dan satu kelas lagi sebagai

kelas eksperimen dua yang dikenai metode pembelajaran kooperatif metode NHT.

A. Uji Keseimbangan

Sebelum melakukan penelitian perlu diketahui terlebih dahulu bahwa

kelompok peserta didik yang akan dikenai metode pembelajaran mempunyai

kemampuan matematika yang sama. Untuk mengetahui bahwa kelompok

peserta didik yang akan dikenai metode pembelajaran yang berbeda

mempunyai kemampuan matematika yang sama maka dilakukan uji

keseimbangan. Data yang digunakan untuk melakukan uji keseimbangan

adalah nilai Ujian Nasional SMP/MTs mata pelajaran matematika.

Sebelum dilakukan uji keseimbangan, terlebih dahulu dilakukan uji

prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas dilakukan

dua kali yaitu pada data kelompok eksperimen satu dan pada data kelompok

eksperimen dua. Untuk data pada kelompok eksperimen satu, diperoleh

Lmaks = 0,0871 dengan Ltabel = 0,0849, sehingga H0 diterima dan

kesimpulannya data berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Untuk

64

Page 82: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

65

data pada kelompk eksperimen dua, diperoleh Lmaks = 0,0820 dengan Ltabel =

0,0845, sehingga H0 diterima dan kesimpulannya data juga berasal dari

populasi yang berdistribusi normal. Untuk uji homogenitas, diperoleh 2χ hitung

= 0,150 dan 2χ tabel = 3,841, sehingga H0 diterima dan kesimpulannya data

berasal dari populasi yang homogen.

Untuk uji keseimbangan, berdasarkan hasil perhitungan diperoleh thitung

= 0,2311 dan ttabel = 1,96 dengan daerah kritis DK = 96,1{ −<tt atau

}.96,1>t Dengan demikian thitung ∉ DK, sehingga keputusan ujinya H0

diterima. Ini berarti kedua kelas dalam keadaan seimbang atau dengan kata

lain memiliki kemampuan awal yang sama. Hasil selengkapnya perhitungan

uji keseimbangan dan uji prasyaratnya disajikan pada Lampiran 21.

B. Hasil Uji Coba Instrumen

Instrumen yang diujicobakan dalam penelitian ini meliputi:

1. Tes Prestasi Belajar Matematika

Tes prestasi belajar matematika berbentuk pilihan ganda yang terdiri

dari 30 nomor dengan lima pilihan jawaban yaitu: a, b, c, d dan e. Sebelum

digunakan, soal tes terlebih dahulu diujicobakan untuk mengetahui

validitas isi, reliabilitas, daya beda dan tingkat kesukaran. Uji coba

dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober 2010 di kelas X-8 dan X-9 SMA

Negeri 3 Kediri. Soal tes sebelum diujicobakan dapat dilihat pada

Lampiran 5.

Penilaian validitas isi meliputi aspek materi, aspek konstruksi dan

aspek bahasa. Penilaian validitas isi dilakukan dengan menggunakan daftar

Page 83: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

66

check list (√) yang dilakukan oleh H. Sunyoto, S.Pd., M.Si., guru

matematika SMA Negeri 1 Kediri yang sekaligus ketua MGMP

matematika kota Kediri dan Drs. H. Sony Tataq Setya, M.Pd., guru

matematika SMA Pawyatan Dhaha Kediri yang sekaligus sekretaris

MGMP matematika kota Kediri dan juga dosen di Universitas Nusantara

PGRI Kediri. Data hasil penilaian validitas isi dapat dilihat pada

Lampiran 6.

Suatu butir soal dapat digunakan jika nilai daya pembeda lebih dari

atau sama dengan 0,3. Berdasarkan hasil perhitungan sebagaimana termuat

pada Lampiran 7, butir soal yang nilai daya pembedanya kurang dari 0,3

yaitu butir soal nomor 6, 10, 13, 15, 26 dan 28. Sehingga dengan demikian

butir-butir soal tersebut tidak dapat dipakai (harus dibuang).

Sedangkan untuk tingkat kesukaran (TK), suatu butir soal dapat

digunakan jika nilai 7,03,0 <≤ TK . Jika nilai tingkat kesukaran kurang

dari 0,3 maka soal termasuk kriteria terlalu sulit, dan jika nilai tingkat

kesukaran lebih dari atau sama dengan 0,7 maka soal tersebut termasuk

kriteria terlalu mudah. Berdasarkan hasil perhitungan pada Lampiran 7

nilai tingkat kesukaran yang kurang dari 0,3 yaitu butir soal nomor 10, 15

dan 26. Sedangkan tingkat kesukaran yang lebih dari atau sama dengan 0,7

yaitu butir soal nomor 1. Berdasarkan kriteria di atas, maka butir-butir soal

tersebut harus dibuang.

Untuk nilai reliabilitas, suatu soal dapat digunakan jika nilai

reliabilitasnya lebih dari atau sama dengan 0,7. Berdasarkan hasil

Page 84: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

67

perhitungan pada Lampiran 8 diperoleh nilai reliabilitas 0,903. Mengacu

pada kriteria, maka soal dapat digunakan untuk melakukan tes.

Berdasar uraian di atas, maka butir soal yang dapat dipakai untuk

melakukan tes adalah butir soal nomor 2, 3, 4, 5, 7, 8, 9, 11, 12, 14, 16, 17,

18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 27, 29, 30. Untuk keperluan penelitian ini

maka diambil sebanyak 20 butir soal yaitu butir soal nomor: 2, 3, 4, 5, 7,

8, 9, 11, 12, 14, 16, 17, 19, 20, 21, 22, 24, 25, 29, 30. Soal yang digunakan

untuk melakukan tes prestasi belajar matematika pada pokok bahasan

sistem persamaan linear dan kuadrat selengkapnya dapat dilihat pada

Lampiran 9.

2. Angket Gaya Belajar Siswa

Sebelum digunakan angket gaya belajar siswa terlebih dahulu

diujicobakan untuk mengetahui validitas isi, konsistensi internal dan

reliabilitas. Angket diujicobakan pada kelas yang sama dengan kelas uji

coba tes prestasi belajar matematika. Angket gaya belajar siswa sebanyak

60 butir pertanyaan yang terdiri dari tiga bagian, yaitu masing-masing 20

pertanyaan untuk gaya belajar visual (nomor 1 sampai 20), 20 pertanyaan

untuk gaya belajar auditorial (nomor 21 sampai 40) dan 20 pertanyaan

untuk gaya belajar kinestetik (nomor 41 sampai 60). Angket gaya belajar

siswa dapat dilihat pada Lampiran 12.

Penilaian untuk mengetahui validitas isi dilakukan dengan

menggunakan daftar check list (√). Penilaian dilakukan oleh Drs. H.

Sujarwoto, M.Si., pengawas SMA kota Kediri yang berlatar belakang guru

BK sekaligus dosen di STITM Kediri dan Drs. Suyono, M.Pd., guru BK di

Page 85: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

68

MA Negeri 3 Kediri sekaligus dosen di Universitas Nusantara PGRI

Kediri. Dari hasil penilaian validitas isi dapat diketahui bahwa semua butir

angket memenuhi kriteria untuk digunakan mengungkap gaya belajar

siswa. Hasil penilaian validitas isi dapat dilihat pada Lampiran 13.

Untuk konsistensi internal, suatu butir angket dapat digunakan jika

nilai konsistensi internalnya lebih dari atau sama dengan 0,3. Dari hasil

perhitungan, pada angket gaya belajar visual ada 1 butir angket yang nilai

konsistensi internalnya kurang dari 0,3 yaitu butir angket nomor 8

sehingga butir angket tersebut gugur (tidak dapat digunakan). Perhitungan

selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 14. Dari hasil perhitungan pada

Lampiran 15 diketahui bahwa nilai reliabilitas untuk angket gaya belajar

visual adalah 0,795. Karena nilai reliabilitasnya lebih dari atau sama

dengan 0,7 maka angket untuk gaya belajar visual reliabel. Selanjutnya

dari 19 butir angket yang dapat dipakai, dipilih 15 butir yaitu nomor 1, 2,

3, 4, 5, 6, 9, 10, 11, 13, 14, 15, 17, 19, 20.

Pada angket gaya belajar auditorial, ada 2 butir angket yang nilai

konsistensi internalnya kurang dari 0,3 yaitu nomor 28 dan 34 sehingga

butir angket tersebut gugur. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada

Lampiran 16. Sedangkan berdasarkan hasil perhitungan pada Lampiran 17

nilai reliabilitas angket gaya belajar auditorial adalah 0,806 sehingga

angket reliabel. Selanjutnya dari 18 butir angket yang dapat dipakai dipilih

15 butir yang akan digunakan yaitu nomor 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 29,

30, 31, 32, 35, 37, 38, 39.

Page 86: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

69

Pada angket gaya belajar kinestetik ada satu butir angket yang nilai

konsistensi internalnya kurang dari 0,3 yaitu butir angket nomor 50

sehingga butir angket tersebut gugur. Hasil perhitungan selengkapnya

dapat dilihat pada Lampiran 18. Sedangkan berdasarkan perhitungan pada

Lampiran 19 nilai reliabilitas angket gaya belajar kinestetik adalah 0,830

sehingga angket reliabel. Selanjutnya dari 19 butir angket yang dapat

dipakai, dipilih 15 butir yang akan digunakan yaitu nomor 41, 42, 43, 44,

45, 47, 48, 49, 51, 52, 53, 54, 57, 59, 60.

Angket yang digunakan untuk mengambil data gaya belajar siswa

selengkapnya terdapat pada Lampiran 20.

C. Deskripsi Data Penelitian

Data penelitian yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah data

prestasi belajar siswa pada materi sistem persamaan linear dan kuadrat. Data

tersebut dideskripsikan pada Tabel 4.1. berikut:

Tabel 4.1. Deskripsi data prestasi belajar metematika

Metode Pembelajaran

Gaya Belajar n Skor

terendah Skor

tertinggi Rerata Standart Deviasi

STAD

Visual 45 30 100 63,67 17,33 Auditorial 40 25 100 68,75 15,84 Kinestetik 24 25 95 61,88 18,99

Total 109 25 100 65,14 17,26 NHT

Visual 41 30 100 69,63 16,79 Auditorial 41 40 100 76,59 16,41 Kinestetik 28 40 100 68,04 17,29

Total 110 30 100 71,82 17,04 TOTAL

Visual 86 30 100 66,51 17,24 Auditorial 81 25 100 72,72 16,51 Kinestetik 52 25 100 65,19 18,18

Page 87: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

70

D. Uji Prasyarat

1. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel penelitian

berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas

dikenakan pada data prestasi belajar matematika materi sistem persamaan

linear dan kuadrat. Teknik yang digunakan untuk melakukan uji

normalitas pada penelitian ini adalah uji Lilliefors. Perhitungan uji

normalitas selengkapnya disajikan dalam Lampiran 23 sampai dengan 27.

Rangkuman hasil uji normalitas tersebut disajikan dalam Tabel 4.2.

berikut:

Tabel 4.2. Rangkuman uji normalitas

No Variabel Lmaks Ltabel Kep. Uji

1 Metode STAD 0,0778 0,0849 H0 diterima

2 Metode NHT 0,0815 0,0845 H0 diterima

3 Gaya belajar visual 0,0679 0,0955 H0 diterima

4 Gaya belajar auditorial 0,0698 0,0984 H0 diterima

5 Gaya belajar kinestetik 0,0949 0,1229 H0 diterima

Berdasarkan rangkuman uji normalitas pada Tabel 4.2 tersebut di atas

tampak bahwa nilai Lmaks untuk masing-masing variabel kurang dari nilai

Ltabel sehingga nilai H0 diterima. Ini berarti data pada setiap metode dan

gaya belajar berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel

penelitian berasal dari populasi yang homogen (mempunyai variansi yang

sama). Uji homogenitas yang digunakan pada penelitian ini adalah metode

Page 88: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

71

Bartlett dengan statistik uji Chi Kuadrat. Perhitungan selengkapnya untuk

uji homogenitas disajikan pada Lampiran 28 dan 29, dan untuk

rangkumannya disajikan pada Tabel 4.3. berikut:

Tabel 4.3. Rangkuman uji homogenitas variansi

No Pasangan kelompok 2χ hitung 2χ tabel Kep. Uji

1 Metode STAD vs

metode NHT 0,018 3,841 H0 diterima

2 Gaya belajar visual vs

auditorial vs kinestetik 0,581 5,991 H0 diterima

Dari tabel di atas tampak bahwa 2χ hitung pada dua pasangan kelompok

yang diuji homogenitasnya kurang dari 2χ tabel, sehingga keputusan ujinya

H0 diterima. Berarti dapat disimpulkan bahwa kelompok kelas STAD dan

NHT berasal dari populasi yang homogen. Demikian juga antara

kelompok siswa yang mempunyai gaya belajar visual, auditorial dan

kinestetik juga berasal dari populasi yang homogen.

E. Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya

pengaruh variabel bebas yaitu metode pembelajaran dan gaya belajar serta

interaksi antara keduanya terhadap variabel terikat yaitu prestasi belajar

matematika. Prosedur uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis

variansi dua jalan dengan sel tak sama. Hasil selengkapnya dari uji hipotesis

dapat dilihat pada Lampiran 30. Adapun rangkumannya disajikan dalam tabel

berikut:

Page 89: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

72

Tabel 4.4. Data amatan, rerata dan jumlah kuadrat deviasi

Metode Pembelajaran Gaya Belajar

Visual Auditorial Kinestetik STAD n 45 40 24

ΣX 2865 2750 1485 X 63,67 68,75 61,88 ΣX² 195625 198850 100175 C 182405 189062,5 91884,38 SS 13220 9787,5 8290,63

NHT n 41 41 28 ΣX 2855 3140 1905 X 69,63 76,59 68,04 ΣX² 210075 251250 137675 C 198805,49 240478,05 129608,04 SS 11269,51 10771,95 8066,96

Tabel 4.5. Rangkuman Analisis Variansi

Sumber JK dk RK Fobs Fα P Metode Pembelaja

ran (A) 2298,623 1 2298,623 7,973 3,840 < 0,05

Gaya Belajar (B) 2273,819 2 1136,910 3,944 3,000 < 0,05

Interaksi (AB) 36,513 2 18,257 0,063 3,000 > 0,05 Galat 61406,553 213 288,294 Total 66015,508 218

Berdasarkan tabel rangkuman analisis variansi di atas tampak bahwa:

a. Pada metode pembelajaran, nilai statistik uji Fa = 7,973 lebih dari

F(0,05;1;213) = 3,84, sehingga H0A ditolak . Hal ini berarti terdapat

perbedaan pengaruh yang signifikan antara penerapan pembelajaran

kooperatif tipe STAD dan tipe NHT terhadap prestasi belajar

matematika pada materi sistem persamaan linear dan kuadrat.

b. Pada gaya belajar siswa, nilai statistik uji Fb = 3,944 lebih dari nilai

F(0,05;2;213) = 3,00, sehingga H0B ditolak. Hal ini berarti terdapat

Page 90: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

73

perbedaan perbedaan prestasi belajar antara siswa dengan gaya belajar

visual, auditorial dan kinestetik.

c. Pada interaksi antara metode pembelajaran dan gaya belajar, nilai

statistik uji Fab = 0,063 kurang dari F(0,05;2;213) = 3,00, sehingga H0AB

diterima. Hal ini berarti tidak terdapat interaksi yang signifikan antara

penggunaan metode pembelajaran dan gaya belajar siswa terhadap

prestasi belajar matematika.

F. Uji Komparasi Ganda

Dari ketiga hipotesis nol terdapat dua hipotesis yang ditolak yaitu H0A

dan H0B, sedangkan H0AB diterima. Oleh karena itu perlu dilakukan uji

komparasi ganda pada H0B yang ditolak, sedang untuk H0A tidak dilakukan

komparasi ganda karena hanya terdiri dua kelompok sehingga tinggal melihat

pada rerata marginalnya. Perhitungan uji komparasi ganda untuk H0B

selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 31, sedangkan rangkumannya

disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4.6. Rangkuman hasil uji komparasi ganda

Ho Fobs 2F(0,05;2;213) P µ.1 = µ.2 5,570 6,000 > 0,05 µ.1 = µ.3 0,196 6,000 > 0,05 µ.2 = µ.3 6,218 6,000 < 0,05

Dari tabel di atas tampak bahwa untuk H0 yang pertama (µ.1 = µ.2) F.1-.2 =

5,570 < 2F(0,05;2;213) = 6,00 sehingga H0 diterima. Untuk H0 yang kedua (µ.1 =

µ.2) F.1-.3 = 0,196 < 2F(0,05;2;213) = 6,00 sehingga H0 juga diterima. Sedangkan

Page 91: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

74

untuk hipotesis ketiga (µ.2 = µ.3) F.2-.3 = 6,218 > 2F(0,05;2;213) = 6,00 sehingga

H0 ditolak.

G. Pembahasan

1. Hipotesis Pertama

Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama

diperoleh nilai statistik uji Fa = 7,973 lebih dari F(0,05;1;213) = 3,84,

sehingga H0A ditolak . Hal ini berarti terdapat perbedaan prestasi

belajar matematika pada meteri sistem persamaan linear dan kuadrat antara

kelompok siswa yang diberi perlakuan metode kooperatif tipe STAD dan

tipe NHT.

Jika dilihat rerata marginalnya, nilai rerata pada kelompok eksperimen

satu yang diberi perlakuan metode koopeatif tipe STAD adalah 65,14 dan

nilai rerata pada kelompok eksperimen dua yang diberi perlakuan metode

kooperatif tipe NHT adalah 71,82. Jadi nilai rerata STAD kurang dari nilai

rerata NHT. Berdasarkan nilai rerata tersebut dapat disimpulkan bahwa

metode kooperatif tipe NHT memberikan prestasi belajar yang lebih baik

dibandingkan metode kooperatif tipe STAD.

Hal di atas sesuai dengan hipotesis awal yang menyatakan bahwa

pembelajaran kooperatif tipe NHT memberikan prestasi belajar yang lebih

baik dibanding pemebelajaran kooperatif metode STAD. Ini disebabkan

karena dalam pembelajaran kooperatif metode NHT disamping siswa

belajar dalam kelompok, siswa juga akan lebih termotivasi untuk

memahami materi pembelajaran, karena pada gilirannya guru akan

Page 92: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

75

menunjuk salah satu nomor secara acak untuk membahas tugas yang

diberikan oleh guru.

2. Hipotesis Kedua

Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama

diperoleh nilai statistik uji Fb = 3,944 lebih dari nilai F(0,05;2;213) = 3,00,

sehingga H0B ditolak. Hal ini berarti terdapat perbedaan perbedaan

prestasi belajar antara siswa dengan gaya belajar visual, auditorial dan

kinestetik.

Berdasarkan uji komparasi ganda dengan metode Scheffe diperoleh

nilai F.1-.2 = 5,570 < 2F(0,05;2;213) = 6,00 sehingga H0 diterima. Hal ini

berarti bahwa siswa dengan gaya belajar visual mempunyai prestasi belajar

yang tidak berbeda signifikan dengan siswa dengan gaya belajar auditorial.

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hipotesis awal yang menyatakan

bahwa siswa dengan gaya belajar auditorial mempunyai prestasi belajar

yang lebih baik dibanding siswa dengan gaya belajar visual.

Ketidaksesuaian ini kemungkinan disebabkan oleh keterbatasan penelitian

ini yang tidak mampu mengontrol variabel-variabel lain di luar gaya

belajar siswa. Secara teori, hasil penelitian ini sama dengan hasil

penelitian yang dilakukan oleh Nur Janah (2009) yang menyatakan tidak

ada perbedaan prestasi yang signifikan antara siswa dengan gaya belajar

visual dan auditorial.

Untuk nilai F.1-.3 = 0,196 < 2F(0,05;2;213) = 6,00 sehingga H0 juga

diterima. Ini berarti bahwa siswa dengan gaya belajar visual juga

mempunyai prestasi belajar yang sama dengan siswa dengan gaya belajar

Page 93: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

76

kinestetik. Hasil penelitian ini juga tidak sesuai dengan hipotesis awal

yang menyatakan bahwa siswa dengan gaya belajar visual mempunyai

prestasi belajar yang lebih baik dibanding siswa dengan gaya belajar

kinestetik. Ketidaksesuaian ini kemungkinan sekali lagi disebabkan oleh

keterbatasan penelitian ini yang tidak mampu mengontrol variabel-variabel

lain diluar gaya belajar siswa. Secara teori, hasil penelitian ini juga sama

dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nur Janah (2009) yang

menyatakan tidak ada perbedaan prestasi yang signifikan antara siswa

dengan gaya belajar visual dan kinestetik.

Sedangkan nilai F.2-.3 = 6,218 > 2F(0,05;2;213) = 6,00 sehingga H0 ditolak.

Hal ini berarti bahwa siswa dengan gaya belajar auditorial memiliki

prestasi belajar yang berbeda signifikan dengan siswa dengan gaya belajar

kinestetik. Jika dilihat dari nilai rerata marginalnya, siswa dengan gaya

belajar auditorial memiliki nilai rerata 72,72, sedangkan siswa dengan

gaya belajar kinestetik memiliki nilai rerata 65,19. Berarti nilai rerata gaya

belajar auditorial ledih tinggi dibanding rerata gaya belajar kinestetik.

Berdasarkan nilai rerata tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa dengan

gaya belajar auditorial memiliki prestasi belajar yang lebih baik dibanding

dengan siswa dengan gaya belajar kinestetik. Hasil ini sesuai dengan

hipotesis awal yang menyatakan bahwa siswa dengan gaya belajar

auditorial memiliki prestasi belajar yang lebih baik dibanding siswa

dengan gaya belajar kinestetik. Ini disebabkan karena sebagaimana

disampaikan dalam kerangka berpikir bahwa siswa dengan gaya belajar

auditorial akan lebih optimal dalam belajarnya dibanding dengan siswa

Page 94: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

77

dengan gaya belajar kinestetik. Siswa dengan gaya belajar kinestetik yang

lebih mudah belajar dengan melakukan praktik akan mengalami kesulitan

karena memang pada pokok bahasan sistem persamaan linear dan kuadrat

tidak memuat materi praktik.

3. Hipotesis Ketiga

Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama

diperoleh nilai statistik uji Fab = 0,063 kurang dari F(0,05;2;213) = 3,00,

sehingga H0AB diterima. Hal ini berarti tidak terdapat interaksi yang antara

metode pembelajaran dan gaya belajar siswa. Dengan kata lain kesimpulan

dari efek sederhana mengikuti atau sama dengan kesimpulan pada efek

utama.

Pada metode kooperatif tipe STAD siswa dengan gaya belajar visual

memiliki prestasi belajar yang sama dengan siswa dengan gaya belajar

auditorial, demikian juga siswa dengan gaya belajar visual juga memiliki

prestasi belajar yang tidak berbeda signifikan dengan siswa yang memiliki

gaya belajar kinestetik. Sedangkan siswa dengan gaya belajar auditorial

memiliki presatasi belajar yang lebih tinggi dibanding dengan siswa

dengan gaya belajar kinestetik.

Untuk metode kooperatif tipe NHT siswa dengan gaya belajar visual

memiliki prestasi belajar yang sama dengan siswa dengan gaya belajar

auditorial, demikian juga siswa dengan gaya belajar visual juga memiliki

prestasi belajar yang tidak berbeda signifikan dengan siswa yang memiliki

gaya belajar kinestetik. Sedangkan siswa dengan gaya belajar auditorial

Page 95: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

78

memiliki presatasi belajar ynag lebih tinggi dibanding dengan siswa

dengan gaya belajar kinestetik.

Demikian juga untuk gaya belajar, pada masing-masing gaya belajar

baik visual, auditorial maupun kinestetik metode kooperatif tipe NHT

selalu menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik dibanding metode

kooperatif tipe STAD.

Hal ini sesuai dengan hipotesis awal bahwa perbedaan prestasi belajar

dari masing-masing metode pembelajaran konsisten terhadap masing-

masing gaya belajar dan perbedaan antara masing-masing gaya belajar

konsisten pada setiap metode pembelajaran. Ini disebabkan karena antara

metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dan metode pembelajaran

kooperatif tipe NHT memiliki pola yang hampir sama yaitu menekankan

pada proses interaksi antar siswa melalui diskusi kelompok.

Page 96: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

79

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan

bahwa pada siswa kelas X (sepuluh) SMA Negeri di kota Kediri, khususnya

pada materi sistem persamaan linear dan kuadrat:

1. Metode pembelajaran kooperatif tipe NHT memberikan prestasi yang

lebih baik dibanding metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.

2. Siswa dengan gaya belajar visual memiliki prestasi belajar yang sama

dengan siswa dengan gaya belajar auditorial. Siswa dengan gaya belajar

visual memiliki prestasi belajar yang sama dengan siswa dengan gaya

belajar kinestetik. Siswa dengan gaya belajar auditorial memiliki prestasi

belajar yang lebih baik dibanding siswa dengan gaya belajar kinestetik.

3. Perbedaan prestasi belajar dari masing-masing metode pembelajaran

konsisten terhadap masing-masing gaya belajar dan perbedaan antara

masing-masing gaya belajar konsisten pada setiap metode pembelajaran.

Sehingga pada masing-masing metode pembelajaran siswa dengan gaya

belajar visual memiliki prestasi belajar yang sama dengan siswa dengan

gaya belajar auditorial, siswa dengan gaya belajar visual memiliki prestasi

belajar yang sama dengan siswa dengan gaya belajar kinestetik, siswa

dengan gaya belajar auditorial memiliki prestasi belajar yang lebih baik

dibanding siswa dengan gaya belajar kinestetik. Demikian juga pada

masing-masing gaya belajar metode pembelajaran kooperatif tipe NHT

79

Page 97: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

80

memberikan prestasi yang lebih baik dibanding metode pembelajaran

kooperatif tipe STAD.

B. Implikasi

1. Implikasi Teoritis

Kesimpulan di atas menyatakan bahwa metode kooperatif tipe

Numbered Heads Together (NHT) memberikan prestasi belajar yang lebih

baik dibanding yang menggunakan metode kooperatif tipe Student Teams

Achievement Divisions (STAD). Kesimpulan tersebut dapat dijadikan

sebagai landasan teori untuk mengembangkan pembelajaran matematika

khususnya pada pokok bahasan sistem persamaan linear dan kuadrat atau

untuk melakukan peneletian lebih lanjut tentang kedua metode tersebut.

Selain itu kesimpulan penelitian ini juga menunjukkan bahwa gaya belajar

siswa ternyata juga memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar siswa.

2. Implikasi Praktis

Berdasarkan kesimpulan di atas dapat dikemukakan bahwa

pembelajaran materi sistem persamaan linear dan kuadrat dengan

menggunakan metode kooperatif tipe NHT menghasilkan prestasi belajar

matematika yang lebih baik dibandingkan dengan yang menggunakan

metode kooperatif tipe STAD. Sehingga secara praktis, pembelajaran

kooperatif metode NHT dapat digunakan sebagai alternatif dan referensi

para guru matematika untuk membelajarkan materi tersebut dalam upaya

meningkatkan prestasi belajar siswa. Disamping itu guru juga perlu

Page 98: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

81

memperhatikan gaya belajar siswa, karena dari hasil penelitian ternyata

gaya belajar juga berpengaruh terhadap prestasi beajar siswa.

C. Saran

Berdasarkan kesimpulan dan implikasi penelitian di atas, maka dapat

dikemukakan saran sebagai berikut:

1. Kepada Kepala Dinas Pendidikan kota Kediri, agar memberikan pelatihan

kepada guru-guru Sekolah Menengah Atas (SMA) tentang berbagai

inovasi pembelajaran, terutama pembelajaran yang melibatkan siswa

secara aktif dalam proses pembelajaran, seperti pembelajaran kooperatif

dengan beberapa tipe yang ada.

2. Kepada para Kepala SMA Negeri di kota Kediri agar terus memberikan

motivasi, monitoring dan evaluasi kepada para guru untuk melakukan

inovasi dalam proses pembelajaran, terutaa yang kaitannya dengan metode

pembelajaran. Salah satu metode yang bisa diterapkan dalam pembelajaran

di sekolah adalah diantaranya metode kooperatif tipe NHT dan tipe

STAD.

3. Kepada para guru matematika, agar terus berusaha melakukan inovasi

pembelajaran dalam upaya meningkatkan hasil prestasi belajar siswa.

Inovasi pembelajaran yang dilakukan harus mengarah kepada perubahan

cara pandang bahwa dalam pembelajaran siswa harus aktif belajar dan

mengkonstruksi pengetahuan. Salah satu metode yang membuat siswa

aktif adalah metode kooperatif, khususnya metode kooperatif tipe STAD

dan metode kooperatif tipe NHT. Selain itu, dalam pelaksanaan

Page 99: EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA METODE

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

82

pembelajaran hendaknya guru juga memperhatikan perbedaan gaya belajar

siswa, sehingga guru dapat menyikapi berbagai tipe dan karakteristik

dalam belajar.

4. Kepada para peneliti lain agar melakukan kajian lebih mendalam tentang

efektivitas pembelajaran kooperatif yang lain. Selain itu juga bisa diteliti

pembelajaran kooperatif dengan tinjauan lain, misalnya motivasi belajar

siswa.