EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE · adalah instrumen angket minat belajar matematika siswa dan instrumen tes prestasi belajar matematika. Uji coba instrumen angket

  • View
    221

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE · adalah instrumen angket minat belajar...

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE

NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DAN STUDENT TEAMS

ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) PADA MATERI

FAKTORISASI SUKU ALJABAR

SISWA KELAS VIII SMP DITINJAU DARI

MINAT BELAJAR SISWA

TESIS

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister

Program Studi Pendidikan Matematika

Oleh:

Yudom Rudianto

NIM S851008057

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2012

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

ABSTRAK

Yudom Rudianto. S851008057. Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) dan Student Teams Achievement Division (STAD) pada Materi Faktorisasi Suku Aljabar Siswa Kelas VIII SMP Ditinjau dari Minat Belajar Siswa. Pembimbing I: Dr. Riyadi, M.Si. Pembimbing II: Drs. Gatut Iswahyudi, M.Si. Tesis: Program Studi Magister Pendidikan Matematika. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret. Surakarta. 2012.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik, model pembelajaran kooperatif tipe NHT atau model pembelajaran kooperatif tipe STAD, (2) Manakah yang memiliki prestasi belajar matematika lebih baik, siswa yang memiliki minat belajar matematika rendah, minat belajar matematika sedang, atau minat belajar matematika tinggi, (3) Pada kelompok siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT, manakah yang memiliki prestasi belajar matematika lebih baik, siswa yang memiliki minat belajar matematika rendah, minat belajar matematika sedang, atau minat belajar matematika tinggi, (4) Pada kelompok siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD, manakah yang memiliki prestasi belajar matematika lebih baik, siswa yang memiliki minat belajar matematika rendah, minat belajar matematika sedang, atau minat belajar matematika tinggi, (5) Pada kelompok siswa yang memiliki minat belajar matematika rendah, model pembelajaran kooperatif manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, NHT atau STAD, (6) Pada kelompok siswa yang memiliki minat belajar matematika sedang, model pembelajaran kooperatif manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, NHT atau STAD, (7) Pada kelompok siswa yang memiliki minat belajar matematika tinggi, model pembelajaran kooperatif manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, NHT atau STAD.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan desain faktorial 2x3. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri di Kabupaten Klaten tahun pelajaran 2011/2012. Pengambilan sampel dilakukan secara stratified cluster random sampling. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 240 siswa dengan rincian 120 siswa pada kelas eksperimen satu dan 120 siswa pada kelas eksperimen dua. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah instrumen angket minat belajar matematika siswa dan instrumen tes prestasi belajar matematika. Uji coba instrumen angket minat belajar matematika siswa meliputi validitas isi, konsistensi internal, dan reliabilitas. Uji coba instrumen tes prestasi belajar matematika siswa meliputi validitas isi, tingkat

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

kesukaran, daya pembeda, dan reliabilitas. Uji prasyarat meliputi uji normalitas populasi menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi populasi menggunakan metode Bartlett. sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen. Uji keseimbangan terhadap data kemampuan awal matematika dengan menggunakan uji-t diperoleh simpulan bahwa kedua kelas eksperimen mempunyai kemampuan awal matematika yang seimbang. Pengujian hipotesis menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, diperoleh simpulan bahwa (1) Tidak terdapat perbedaan efek model pembelajaran NHT dan model pembelajaran STAD terhadap prestasi belajar matematika, (2) Siswa yang memiliki minat belajar matematika sedang memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik dibanding dengan siswa yang memiliki minat belajar matematika rendah, siswa yang memiliki minat belajar matematika tinggi memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik dibanding dengan siswa yang memiliki minat belajar matematika rendah, dan siswa yang memiliki minat belajar matematika sedang memiliki prestasi belajar matematika yang sama baik dengan siswa yang memiliki minat belajar matematika tinggi, (3) Pada kelompok siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT, siswa yang memiliki minat belajar matematika sedang memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik dibanding dengan siswa yang memiliki minat belajar matematika rendah, siswa yang memiliki minat belajar matmatika rendah memiliki prestasi belajar matematika yang sama baik dengan siswa yang memiliki minat belajar matematika tinggi, dan siswa yang memiliki minat belajar sedang memiliki prestasi belajar matematika yang sama baik dengan siswa yang memiliki minat belajar matematika tinggi, (4) Pada kelompok siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD, siswa yang memiliki minat belajar matematika rendah memiliki prestasi belajar matematika yang sama baik dengan siswa yang memiliki minat belajar matematika sedang, siswa yang memiliki minat belajar matematika tinggi memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik dibanding dengan siswa yang memiliki minat belajar matematika rendah, dan siswa yang memiliki minat belajar matematika tinggi memiliki prestasi belajar matematika yang sama baik dengan siswa yang memiliki minat belajar matematika sedang, (5) Pada kelompok siswa yang memiliki minat belajar matematika rendah, model pembelajaran kooperatif NHT dan model pembelajaran kooperatif STAD memberikan prestasi belajar matematika yang sama baik, (6) Pada kelompok siswa yang memiliki minat belajar matematika sedang, model pembelajaran kooperatif NHT dan model pembelajaran kooperatif STAD memberikan prestasi belajar matematika yang sama baik, (7) Pada kelompok siswa yang memiliki minat belajar matematika

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

tinggi, model pembelajaran kooperatif NHT dan model pembelajaran kooperatif STAD memberikan prestasi belajar matematika yang sama baik.

Kata kunci: NHT, STAD, Minat Belajar Matematika, Prestasi Belajar Matematika

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

ABSTRACT

Yudom Rudianto. S851008057. An Experimental Study of Cooperative Learning Model Type of Numbered Heads Together (NHT) and Student Teams Achievement Division (STAD) in Factorization of Algebra Material for the Eight Years Students of Junior High Learning Interest. First Advisor: Dr. Riyadi, M.Si. Second Advisor: Drs. GatutIswahyudi, M.Si. Thesis: Mathematics Master of Education Program. Post Graduate Program of Universitas Sebelas Maret. Surakarta. 2012.

The purpose of this research is to know: (1) which one is giving better mathematics learning achievement, whether cooperative learning model NHT or cooperative learning model STAD, (2) which one are having better learning achievement in mathematics, whether students having low-learning interest in mathematics, moderate-learning interest in mathematics, or high-learning interest in mathematics, (3) For the group of students who taught by using cooperative learning model NHT with visual aid, which one are having better learning achievement in mathematics, whether low-learning interest students, moderate-learning interest students, or high-learning interest students, (4) For the group of students who taught by using cooperative learning model STAD, which is are having better learning achievement in mathematics, whether low-learning interest students, moderate-learning interest students, or high-learning interest in mathematics, (5) For the group of students having low-learning interest in mathematics, which one is giving better learning achievement in mathematics, whether NHT or STAD, (6) For the group of students having moderate-learning interest in mathematics, which one is giving better learning achievement in mathematics, whether NHT or STAD, (7) For the group of students having high-learning interest in mathematics, which one is giving better learning achievement in mathematics, whether NHT or STAD.

This research is pre experimental research with 2x3 factorial design. The population of this research is the eight years students of junior high school in Klaten in the academic year of 2011/2012. In this research, the writer use stratified cluster random sampling. The sample of this research consists with 240 students, 120 students in first experimental class and 120 students in second experimental class. This research use two kinds of test instrument, they are

achievement test in learning mathematics. The try-out of questionnaire in

internal consistency, and reliability. The try-out of learning achievement test

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

posses four qualities, they are: validity, level of difficulty, discrimination power, and reliability. Prerequisite test consist with the normality of population by using Lilliefors method and homogeneity variance of population by using Bartlett method. As .05, the conclusion is the sample based on population which have normal distribution and homogeneity variance

T- capability in mathematics, and the conclusion is both experiment class are having a balance basic capability in mathematics. The hypothesis test uses two ways variance analysis with two different cells.

Based on the result of hypothesis test, the conclusions are: (1) there is no different effect on NHT learninlearning achievement in mathematics, (2) students having moderate-learning interest in mathematics have better learning achievement than students having low-learning interest in mathematics, students having high-learning interest have better learning achievement than students having low-learning interest, and students having moderate-learning interest have the same learning achievement with high-learning interest students, (3) for the group of students who taught by using cooperative learning model NHT, students having moderate-learning interest have better learning achievement in mathematics than students having low-learning interest, students having low-learning interest having the same learning achievement with high-learning interest students, and students having moderate-learning interest have the same learning achievement with high-learning interest students, (4) for the group of students who taught by using cooperative learning model STAD, low-learning interest students have the same learning achievement with moderate-learning interest students, students having high-learning interest have better learning achievement than students having low-learning interest, and students having high-learning interest have the same learning achievement with students having moderate-learning interest in mathematics, (5) for the group of students with low-learning interest in mathematics, cooperative learning model NHT and cooperative learning model STAD giving the same learning achievement in mathematics, (6) for the group of students with moderate-learning interest in mathematics, cooperative learning model NHT and cooperative learning model STAD giving the same learning achievement in mathematics, (7) for the group of students with high-learning interest in mathematics, cooperative learning model NHT and cooperative learning model STAD giving the same learning achievement in mathematics.

Key words: NHT, STAD, learning interest in mathematics, learning achievement in mathematics

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

DAFTAR ISI

halaman

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i

HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................. ii

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iii

ABSTRAK ....................................................................................................... xviii

ABSTRACT .......................................................................................................... xx

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1

B. Identifikasi Masalah ................................................................................ 10

C. Pemilihan Masalah .................................................................................. 13

D. Pembatasan Masalah ............................................................................... 14

E. Rumusan Masalah ................................................................................... 17

F. Tujuan Penelitian .................................................................................... 19

G. Manfaat Penelitian .................................................................................. 20

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR. ....................................... 21

A. Tinjauan Pustaka. .................................................................................... 21

1. Pembelajaran Matematika ................................................................ 21

a. Matematika ................................................................................ 21

b. Pembelajaran ............................................................................. 23

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

c. Prestasi Belajar Matematika ...................................................... 29

2. Model Pembelajaran ......................................................................... 31

3. Model Pembelajaran Kooperatif ...................................................... 33

4. Model Pembelajaran Kooperatif tipe NHT ...................................... 37

5. Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD .................................... 43

6. Minat Belajar Siswa pada Pelajaran Matematika ............................. 48

7. Alat Peraga ....................................................................................... 54

a. Pengertian Alat Peraga .............................................................. 54

b. Tujuan Penggunaan Alat Peraga ............................................... 56

c. Persyaratan Alat Peraga ............................................................ 59

d. Pemilihan Alat Peraga ............................................................... 60

e. Kegagalan Alat Peraga .............................................................. 61

8. Langkah Pembelajaran Kooperatif ................................................... 61

B. Penelitian yang Relevan .......................................................................... 64

C. Kerangka Pikir ........................................................................................ 67

D. Hipotesis Penelitian ................................................................................. 70

BAB III METODE PENELITIAN...................................................................... 72

A. Tempat, Waktu, dan Subyek Penelitian .................................................. 72

1. Tempat dan Subyek Penelitian ......................................................... 72

2. Waktu Penelitian .............................................................................. 72

B. Jenis dan Desain Penelitian ..................................................................... 73

1. Pendekatan Penelitian ...................................................................... 73

2. Rancangan Penelitian ....................................................................... 74

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

C. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel .............................. 75

1. Populasi ............................................................................................ 75

2. Sampel .............................................................................................. 75

3. Teknik Pengambilan Sampel ............................................................ 76

D. Metode Pengumpulan Data ..................................................................... 78

1. Variabel Penelitian ........................................................................... 78

a. Variabel Bebas .......................................................................... 78

b. Variabel Terikat ........................................................................ 79

2. Metode Pengumpulan Data .............................................................. 79

a. Metode Dokumentasi ................................................................ 80

b. Metode Angket .......................................................................... 80

c. Metode Tes ................................................................................ 81

3. Uji Coba Instrumen Angket Minat Belajar Matematika .................. 81

a. Uji Validitas .............................................................................. 82

b. Uji Konsistensi Internal............................................................. 83

c. Uji Reliabilitas .......................................................................... 83

4. Uji Coba Instrumen Tes Prestasi Belajar Matematika ..................... 84

a. Uji Validitas .............................................................................. 84

b. Uji Tingkat Kesukaran .............................................................. 85

c. Uji Daya Pembeda..................................................................... 85

d. Uji Reliabilitas .......................................................................... 86

E. Teknik Analisa Data ................................................................................ 87

1. Uji Prasyarat Analisis ....................................................................... 87

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

a. Uji Homogenitas Variansi Populasi .......................................... 87

b. Uji Normalitas ........................................................................... 88

2. Uji Keseimbangan ............................................................................ 89

3. Uji Hipotesis ..................................................................................... 90

4. Uji Lanjut Pasca Anava .................................................................... 95

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................... 100

A. Hasil Penelitian ...................................................................................... 100

1. Hasil Uji Coba Instrumen ................................................................ 100

a. Uji Coba Instrumen Angket Minat Belajar Siswa.................... 100

1) Validitas Isi ....................................................................... 100

2) Konsistensi Internal........................................................... 101

3) Reliabilitas ........................................................................ 102

4) Penetapan Instrumen Angket Minat Belajar Matematika

Siswa ................................................................................. 102

b. Instrumen Tes Prestasi Belajar Matematika Siswa .................. 103

1) Validitas Isi ....................................................................... 103

2) Uji Tingkat Kesukaran Butir Soal ..................................... 104

3) Uji Daya Pembeda ............................................................ 104

4) Uji Reliabilitas .................................................................. 105

5) Penetapan Instrumen Tes Prestasi Beljar Siswa ............... 106

2. Deskripsi Data Kemampuan Awal .................................................. 106

3. Uji Keseimbangan ........................................................................... 107

a. Uji Homogenitas ...................................................................... 107

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

b. Uji Normalitas .......................................................................... 107

c. Hasil Uji Keseimbangan .......................................................... 108

4. Deskripsi Data Penelitian ................................................................ 109

a. Data Prestasi Belajar Matematika Siswa.................................. 109

b. Data Skor Minat Belajar Siswa ................................................ 110

5. Uji Prasyarat untuk Pengujian Hipotesis ......................................... 111

a. Uji Homogenitas Variansi Data Nilai Prestasi Belajar Siswa .. 111

b. Uji Normalitas Data Nilai Prestasi Belajar Siswa .................... 112

6. Uji Hipotesis Penelitian ................................................................... 113

a. Analisis Variansi Dua Jalan Sel Tak Sama .............................. 113

b. Uji Komparasi Ganda ............................................................... 115

1) Uji Komparasi Rerata Antar Kolom ................................. 115

2) Uji Komparasi Rerata Antar Sel ....................................... 116

B. Pembahasan Hasil Analisis Data ............................................................ 117

1. Hipotesis Pertama ............................................................................ 117

2. Hipotesisi Kedua ............................................................................. 118

3. Hipotesisi Ketiga ............................................................................. 119

4. Hipotesis Keempat .......................................................................... 119

5. Hipotesisi Kelima ............................................................................ 120

6. Hipotesisi Keenam .......................................................................... 121

7. Hipotesisi Ketujuh ........................................................................... 122

C. Kelemahan Penelitian............................................................................. 123

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN ..................................... 125

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

A. Kesimpulan ............................................................................................ 125

B. Implikasi ................................................................................................. 127

C. Saran ....................................................................................................... 127

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 129

LAMPIRAN ....................................................................................................... 133

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang

Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan

tersusunnya Kurikulum pada Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) jenjang

pendidikan dasar dan menengah dengan mengacu kepada standar isi dan

standar kompetensi lulusan serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh

Badan Standar Nasional Pendidikan. Salah satu mata pelajaran yang diajarkan

dari jenjang sekolah dasar sampai jenjang perguruan tinggi adalah

matematika. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang

memegang peranan dalam dunia modern yang berhubungan dengan

perkembangan ilmu dan teknologi. Matematika mempunyai peranan yang

sangat penting dalam berbagai disiplin ilmu lain dan memajukan daya pikir

manusia. Sampai saat ini matematika menjadi kajian secara terus menerus, hal

ini sejalan dengan kenyataan bahwa matematika merupakan momok bagi

sebagian siswa. Bahkan tidak jarang, matematika menjadi kambing hitam dari

berbagai kegagalan dalam pendidikan antara lain dalam Ujian Nasional.

Rendahnya penguasaan matematika oleh pelajar di Indonesia

tercermin dari rendahnya prestasi siswa Indonesia di ajang internasional.

Berdasarkan skor matematika rata-rata internasional pada Trend In

International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 2003, Indonesia

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

berada pada peringkat 34 dari 45 negara peserta dengan skor rata-rata sebesar

411, jauh dari skor rata-rata internasional yang sebesar 466, sedangkan pada

TIMSS tahun 2007 yang meliputi ruang lingkup materi bilangan sebesar 30%,

aljabar sebesar 30%, geometri sebesar 20%, dan peluang sebesar 20%,

Indonesia berada pada peringkat 36 dari 48 negara peserta dengan skor rata-

rata sebesar 397 dari skor rata-rata international sebesar 500 (Puji Iryanti,

2009: 2-3). Berdasarkan data TIMSS tahun 2007 tersebut, skala matematika

TIMSS-Benchmark Internasional menempatkan kemampuan matematika

siswa Indonesia berada pada skala rendah (peringkat bawah), siswa Malaysia

berada pada skala antara menengah dan tinggi (peringkat tengah), dan siswa

Singapura berada pada skala lanjut (peringkat atas) (Fadjar Shadiq, 2007: 1-2).

Berdasar pada data TIMSS tersebut, kemampuan matematika siswa Indonesia

lebih rendah dibandingkan kemampuan matematika siswa negara-negara

tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.

Bagi siswa SMP, hasil Ujian Nasional digunakan sebagai salah satu

syarat seleksi masuk SMA, akan tetapi berdasarkan fakta di atas, dan dari data

yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan bahwa pada tahun

2010 tingkat kelulusan SMP menurun dari 95,05 % pada tahun 2009 menjadi

hanya 90,27 % pada tahun 2010 sehingga ada sebanyak 350.798 siswa SMP

yang mengikuti ujian ulangan, serta sebagian besar siswa SMP gagal dalam

Ujian Nasional pada mata pelajaran matematika, hal ini secara implisit berarti

bahwa banyak siswa yang gagal dalam memahami topik-topik dalam

matematika (Badan Standar Nasional Pendidikan, 2010). Pendapat umum di

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Indonesia menyatakan bahwa pendidikan belum memberikan hasil seperti

yang diharapkan karena beberapa faktor, antara lain guru yang kurang

kompeten, dari model pembelajaran yang digunakan, metode mengajar,

maupun kelengkapan sarana dan prasarana.

Salah satu indikator kegagalan siswa dalam memahami topik

matematika ini dapat ditemukan salah satunya di Kabupaten Klaten Propinsi

Jawa Tengah. Hal ini dapat dilihat dari data prestasi belajar matematika siswa

SMP yang ada di Kabupaten Klaten pada Ujian Nasional tahun pelajaran

2009/2010, seperti disajikan pada tabel berikut:

Tabel 1.1. Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP pada Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2009/2010

Tingkat

Komponen

Kabupaten Klaten

Propinsi Jawa Tengah

Nasional

Rerata 6,64 6,70 7,29

Nilai tertinggi 10,00 10,00 10,00

Nilai terendah 1,00 0,50 0,25

Simpangan baku 1,67 1,71 1,60

(Sumber: Badan Standar Nasional Pendidikan)

Salah satu materi yang harus dikuasai oleh siswa kelas IX SMP adalah

pokok bahasan faktorisasi suku aljabar di mana materi tersebut mulai

diberikan pada saat siswa berada pada kelas VIII SMP. Pokok bahasan

(standar kompetensi) faktorisasi suku aljabar ini terdiri dari 6 kompetensi

dasar yang harus dikuasai oleh siswa. Berdasarkan angket yang diisi oleh

anggota MGMP di beberapa kabupaten di Propinsi Jawa Tengah pada waktu

dilaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi program Better Education

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading

(BERMUTU) tahun 2010 oleh Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan

Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika Yogyakarta,

materi faktorisasi suku aljabar khususnya pemfaktoran bentuk aljabar masih

sulit dipahami siswa dan menjadi permasalahan dalam proses pembelajaran

bagi guru, hal ini dimungkinkan karena sulitnya guru menyampaikan materi

ini dengan melibatkan siswa secara aktif, dan sulitnya guru menemukan

metode mengajar serta model pembelajaran yang tepat dalam menyampaikan

materi ini.

Hal tersebut menyebabkan prestasi belajar matematika siswa pada

materi faktorisasi suku aljabar cenderung kurang memuaskan. Hal ini

dipertegas oleh hasil analisis daya serap siswa SMP di Kabupaten Klaten pada

Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010. Hasil analisis daya serap terhadap

dua dari tiga kemampuan yang berkaitan dengan materi faktorisasi suku

aljabar yang diujikan pada Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010

menunjukkan bahwa penguasaan konsep faktorisasi suku aljabar oleh siswa

SMP di Kabupaten Klaten masih rendah.

Rendahnya penguasaan konsep siswa SMP di Kabupaten Klaten

terhadap dua dari tiga kemampuan yang berkaitan dengan materi faktorisasi

suku aljabar yang diujikan pada Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010

disajikan pada tabel berikut:

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Tabel 1.2. Penguasaan Konsep Siswa SMP di Kabupaten Klaten Terhadap Dua Kemampuan yang Berkaitan dengan Materi Faktorisasi

Suku Aljabar yang Diujikan pada Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2009/2010

No. Soal

Kemampuan yang Diuji

Persentase Penguasaan Konsep (dalam %)

Tingkat Rayon

Tingkat Propinsi

Tingkat Nasional

9. Menentukan hasil operasi (+,-,:,x) atau kuadrat bentuk aljabar.

66,74 68,43 78,55

10. Menyederhanakan bentuk pembagian bentuk aljabar dengan memfaktorkan.

53,89 60,59 76,39

(Sumber: Badan Standar Nasional Pendidikan)

Berdasarkan pada data analisis daya serap tersebut, persentase

penguasaan konsep siswa SMP di Kabupaten Klaten terhadap materi

faktorisasi suku aljabar lebih rendah dibandingkan persentase penguasaan

konsep siswa SMP di tingkat Propinsi Jawa Tengah maupun tingkat nasional.

Dengan demikian, sebagian besar siswa SMP di Kabupaten Klaten mengalami

kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan konsep

faktorisasi suku aljabar.

Kesulitan-kesulitan yang dialami oleh siswa SMP di Kabupaten

Klaten dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan konsep

faktorisasi suku aljabar dimungkinkan karena konsep-konsep tentang materi

tersebut belum benar-benar dikuasai oleh siswa. Kesulitan-kesulitan tersebut

hanya dikerjakan sendiri tanpa dikomunikasikan dengan siswa lain atau guru

matematika yang mengajar. Selain itu, sebagian besar guru matematika masih

menerapkan model pembelajaran konvensional, yaitu dengan

menginformasikan rumus matematika kepada siswa, dilatihkan melalui latihan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

soal, dan diakhiri dengan memberikan tugas rumah. Secara garis besar, selama

kegiatan pembelajaran, guru aktif menyampaikan informasi di depan kelas,

sedangkan siswa hanya menyimak, mencatat, dan mengerjakan latihan soal.

Hal ini membuat siswa cenderung pasif dan hanya menerima penjelasan dari

guru. Kondisi ini menyebabkan tujuan pembelajaran cenderung tidak tercapai

secara optimal.

Selama ini, proses pendidikan masih didominasi oleh pandangan

bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal.

Pengajaran masih berpusat pada guru sebagai satu-satunya narasumber

pengetahuan. Pandangan seperti ini tentu saja harus diubah. Salah satu upaya

untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang dapat dilakukan oleh guru

adalah melalui kualitas pembelajaran. Perbaikan kualitas pembelajaran dapat

dilakukan melalui peningkatan kemampuan guru, serta kemauan guru

melakukan inovasi dalam pembelajaran. Inovasi dalam pembelajaran ini

penting dikarenakan setiap siswa mempunyai cara sendiri untuk mengerti

pelajaran matematika, dan cara yang cocok untuk mengkonstruksikan bahan

matematika yang kadang berbeda dengan teman-teman yang lain. Sehubungan

dengan hal itu, setiap siswa dimungkinkan untuk mencoba bermacam-macam

cara belajar yang sesuai. Dengan demikian sangat penting bagi guru untuk

dapat menggunakan ataupun menciptakan bermacam-macam metode

mengajar, maupun model pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk

memahami materi matematika.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Agar tujuan pembelajaran tercapai secara optimal, seorang guru harus

cermat dalam memilih suatu model pembelajaran yang akan diterapkan dalam

pembelajaran di kelas. Hal ini disebabkan karena setiap model pembelajaran

mempunyai spesifikasi tersendiri. Artinya, suatu model pembelajaran tertentu

mungkin cocok untuk diterapkan pada suatu karakteristik kelas tertentu,

namun belum tentu cocok untuk diterapkan pada karakteristik kelas yang lain.

Di antara model pembelajaran yang ada, salah satu model pembelajaran

inovatif yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas adalah model

pembelajaran kooperatif.

Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran

kelompok yang menghendaki adanya kerja sama antar anggota kelompok

dalam mempelajari suatu konsep. Melalui model pembelajaran kooperatif,

diharapkan siswa secara aktif mengkonstruksi pemahamannya secara

berkelompok. Siswa secara kooperatif mengkonsultasikan kesulitan yang

dialaminya kepada siswa lain ataupun guru sehingga melalui model

pembelajaran kooperatif sangat dimungkinkan bagi siswa untuk dapat

mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut.

Model pembelajaran kooperatif yang dapat membuat siswa saling

berinteraksi secara aktif antara lain adalah model pembelajaran kooperatif tipe

Numbered Heads Together (NHT) dan model pembelajaran kooperatif tipe

Student Teams Achievement Division (STAD). NHT dan STAD adalah contoh

model pembelajaran yang membagi siswa ke dalam beberapa kelompok yang

memberi kesempatan kepada anggotanya untuk saling membagi ide dan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu, model

pembelajaran ini dapat mendorong siswa untuk meningkatkan kerja sama

mereka dan meningkatkan aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan

melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di

depan kelas sehingga model pembelajaran ini diharapkan cocok diterapkan

pada pembelajaran yang menekankan interaksi dan menuntut keaktifan siswa.

Perbedaan dari dua model pembelajaran ini adalah saat siswa

mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya, di mana NHT lebih ditekankan

pada penunjukkan siswa, sedangkan STAD lebih ditekankan untuk

menawarkan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi

kelompoknya.

Dengan adanya pembelajaran matematika di sekolah, diharapkan

siswa mampu menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam

kehidupan sehari-hari yang selanjutnya siswa dapat berpikir logis, kritis, dan

praktis, serta bersikap positif, dan berjiwa kreatif, maupun dapat membentuk

pola pikir siswa dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Akan tetapi,

pentingnya peranan matematika ternyata tidak didukung keberhasilan dalam

dunia pendidikan. Sebenarnya matematika tidak sepenuhnya merupakan

pelajaran yang sulit, hanya saja rasa takut terhadap matematika terkadang

menjadikan siswa kurang berminat untuk belajar matematika. Hal ini

dimungkinkan menjadi salah satu penyebab prestasi belajar matematika siswa

masih tergolong rendah.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan dan

Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika

unit Mathematics Playground pada tahun 2009 menyebutkan bahwa terdapat

perbedaan prestasi belajar pada siswa yang memiliki minat belajar yang

berbeda, namun hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan secara umum

karena sampel yang diambil hanya terdiri dari satu kelas siswa kelas VIII SMP

yang mengunjungi unit Mathematics Playground. Dari hasil penelitian ini,

dimungkinkan minat menjadi faktor penyebab perbedaan prestasi belajar

matematika.

Hal ini juga sejalan dengan kenyataan bahwa pada diri siswa sering

terjadi kejenuhan dalam belajar matematika. Untuk itu salah satu upaya yang

dapat dilakukan guru adalah dengan memanfaatkan alat peraga pembelajaran.

Dalam pemanfaatan alat peraga pembelajaran terkadang hanya untuk

verbalisme saja sehingga sifat alat peraga yang digunakan hanya sebagai alat

bantu siswa dan siswa hanya sebagai penonton dari alat peraga yang

digunakan. Oleh karena itu, alat peraga yang akan digunakan sebaiknya

bersifat sebagai alat bantu pembelajaran dan dapat meningkatkan partisipasi

siswa dalam proses pembelajaran. Alat peraga pembelajaran yang baik

diharapkan dapat mencakup aspek visual, auditif dan motorik, hal ini

bertujuan agar memudahkan siswa dalam belajar dan menanamkan konsep.

Dengan penggunaan alat peraga pembelajaran yang sesuai, diharapkan daya

tangkap siswa dan daya serap siswa pada usia SMP pada materi yang

diajarkan akan lebih mudah tercapai. Untuk mencapai hasil yang optimal

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

seorang guru harus memiliki keterampilan untuk mendesain dan menggunakan

alat pembelajaran, serta siswa ikut dilibatkan secara aktif di dalam proses

mendapatkan rumus sehingga mampu menimbulkan sikap yang positif

terhadap matematika.

Berdasarkan permasalahan yang cukup kompleks di atas, maka jika

diidentifikasikan permasalahan selanjutnya yang mempengaruhi prestasi

belajar siswa, akan ditemukan masalah yang sedemikian kompleks, termasuk

adanya faktor-faktor yang tidak teridentifikasi tetapi ikut mempengaruhi

prestasi belajar siswa, sehingga diharapkan dari penelitian ini akan mampu

mengukur pengaruh minat belajar siswa, penggunaan model pembelajaran

yang tepat, serta penggunaan alat peraga pembelajaran untuk mengetahui

pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian ini penting dilakukan

karena materi aljabar sendiri memiliki banyak sub materi yang harus dipahami

oleh siswa, sehingga pemahaman mengenai materi faktorisasi suku aljabar

diharapkan dapat memperkuat pondasi belajar siswa dalam memahami materi-

materi selanjutnya.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, maka dapat

diidentifikasi beberapa masalah penelitian sebagai berikut:

1. Rendahnya prestasi belajar matematika siswa, dimungkinkan karena

pemilihan model pembelajaran yang tidak tepat, di mana selama ini guru

cenderung menerapkan model pembelajaran konvensional yang belum

dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Terkait

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

dengan hal ini dapat diteliti apakah jika model pembelajaran yang

diterapkan oleh guru menjadi model pembelajaran kooperatif, maka

prestasi belajar matematika siswa akan menjadi lebih baik.

2. Kesulitan-kesulitan yang dialami oleh siswa SMP di Kabupaten Klaten

dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan konsep faktorisasi

suku aljabar dimungkinkan karena kesulitan-kesulitan tersebut hanya

dikerjakan sendiri tanpa dikomunikasikan dengan siswa lain atau guru

matematika yang mengajar. Ada kemungkinan rendahnya prestasi belajar

matematika siswa pada materi faktorisasi suku aljabar disebabkan karena

selama pembelajaran berlangsung, belum ada penyelesaian masalah secara

kooperatif oleh siswa. Untuk itu, perlu dilakukan inovasi pada

pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran

kooperatif. Terkait dengan hal ini, dapat diteliti model pembelajaran

kooperatif manakah yang efektif diterapkan untuk mengoptimalkan

prestasi belajar matematika siswa pada materi faktorisasi suku aljabar.

3. Rendahnya prestasi belajar matematika siswa SMP di Kabupaten Klaten

dimungkinkan tidak hanya disebabkan oleh model pembelajaran yang

digunakan tetapi juga disebabkan oleh faktor-faktor lain. Mengingat setiap

siswa mempunyai minat belajar yang berbeda-beda, dimungkinkan bahwa

perbedaan prestasi belajar matematika disebabkan oleh perbedaan minat

belajar tersebut. Terkait hal ini dapat diteliti apakah benar masing-masing

kategori minat belajar memberikan prestasi belajar matematika yang

berbeda.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

4. Dominasi guru dalam pembelajaran matematika di kelas memaksa siswa

hanya sebagai pendengar, pencatat serta mengerjakan latihan yang

diberikan oleh guru sehingga membuat siswa cenderung pasif dan

mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada soal yang lebih bervariasi.

Permasalahan selanjutnya adalah apakah dengan penggunaan alat peraga

pembelajaran yang tepat dan sesuai, mampu menumbuhkan keaktifan

siswa dan lebih mendalami materi sehingga dapat mempengaruhi prestasi

belajar siswa.

5. Ada kemungkinan rendahnya prestasi belajar matematika siswa

disebabkan oleh rendahnya minat belajar siswa. Berkaitan dengan hal ini,

jika pemilihan alat pembelajaran yang digunakan oleh guru dapat

meningkatkan minat belajar siswa, apakah prestasi belajar siswa menjadi

lebih baik.

6. Adanya perbedaan karakteristik siswa dimungkinkan mempengaruhi

efektivitas penerapan suatu model pembelajaran tertentu. Suatu model

pembelajaran tertentu mungkin cocok bagi siswa dengan karakteristik

tertentu, tetapi tidak cocok bagi siswa dengan karakteristik lain. Dengan

kata lain, suatu model pembelajaran mungkin cocok untuk siswa yang

memiliki minat belajar tertentu, tetapi tidak cocok untuk siswa yang

memiliki minat belajar yang lain. Terkait hal ini, perlu diteliti apakah

efektivitas penerapan suatu model pembelajaran tertentu bergantung pada

minat belajar siswa.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

C. Pemilihan Masalah

Dari identifikasi masalah di atas, agar penelitian dapat terfokus pada

masalah dan hasil yang akurat, maka penelitian ini akan meneliti

permasalahan:

1. Kesulitan-kesulitan yang dialami oleh siswa SMP di Kabupaten Klaten

dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan konsep faktorisasi

suku aljabar dimungkinkan karena kesulitan-kesulitan tersebut hanya

dikerjakan sendiri tanpa dikomunikasikan dengan siswa lain atau guru

matematika yang mengajar. Ada kemungkinan rendahnya prestasi belajar

matematika siswa pada materi faktorisasi suku aljabar disebabkan karena

selama pembelajaran berlangsung, belum ada penyelesaian masalah secara

kooperatif oleh siswa. Untuk itu, perlu dilakukan inovasi pada

pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran

kooperatif. Terkait dengan hal ini, dapat diteliti model pembelajaran

kooperatif manakah yang efektif diterapkan untuk mengoptimalkan

prestasi belajar matematika siswa pada materi faktorisasi suku aljabar.

Model pembelajaran yang dibandingkan adalah model pembelajaran

kooperatif tipe Numbered Heads Together dan model pembelajaran

kooperatif tipe Student Teams Achievement Division.

2. Rendahnya prestasi belajar matematika siswa SMP di Kabupaten Klaten

dimungkinkan tidak hanya disebabkan oleh model pembelajaran yang

digunakan tetapi juga disebabkan oleh faktor-faktor lain. Mengingat setiap

siswa memiliki minat belajar yang berbeda-beda, dimungkinkan bahwa

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

perbedaan prestasi belajar matematika disebabkan oleh perbedaan minat

belajar tersebut. Perbedaan prestasi belajar yang dimaksud adalah, apakah

siswa yang memiliki minat belajar matematika rendah, minat belajar

matematika sedang, dan minat belajar matematika tinggi berbeda prestasi

belajar matematikanya pada materi faktorisasi suku aljabar.

3. Adanya perbedaan karakteristik siswa dimungkinkan mempengaruhi

efektivitas penerapan suatu model pembelajaran tertentu. Suatu model

pembelajaran tertentu mungkin cocok bagi siswa dengan karakteristik

tertentu, tetapi tidak cocok bagi siswa dengan karakteristik lain. Dengan

kata lain, suatu model pembelajaran mungkin cocok untuk siswa yang

memiliki minat belajar tertentu, tetapi tidak cocok untuk siswa yang

memiliki minat belajar yang lain. Dalam hal ini, apakah masing-masing

model pembelajaran kooperatif memberikan prestasi belajar yang sama

pada masing-masing kategori minat belajar.

D. Pembatasan Masalah

Berdasarkan pemilihan masalah di atas terdapat tiga hal yang menjadi

permasalahan dalam penelitian ini yaitu: (1) apakah penerapan dua model

pembelajaran kooperatif yang berbeda memberikan prestasi belajar

matematika yang berbeda, (2) apakah siswa dengan masing-masing kategori

minat belajar memiliki prestasi belajar matematika yang berbeda, (3) apakah

efektivitas suatu model pembelajaran kooperatif tertentu bergantung pada

masing-masing kategori minat belajar matematika.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Agar penelitian ini dapat dilakukan dengan benar, terarah, dapat dikaji

lebih mendalam, dilakukan pembatasan-pembatasan sebagai berikut:

1. Pembelajaran yang dilakukan adalah dengan menggunakan model

pembelajaran kooperatif tipe NHT dan STAD.

Alasan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan STAD

dalam penelitian ini adalah karena kedua model pembelajaran ini

menekankan pada interaksi antar siswa sehingga menuntut keaktifan siswa

dalam mengkonstruksi pemahaman suatu konsep matematika melalui

diskusi kelompok. Di samping itu, menurut beberapa guru di Kabupaten

Klaten, model pembelajaran kooperatif NHT dan STAD adalah salah satu

model pembelajaran kooperatif yang paling mudah dilakukan oleh guru.

Dengan demikian, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT

dan STAD ini diharapkan mampu mengoptimalkan prestasi belajar

matematika siswa dan dapat dilakukan oleh guru matematika yang

mengajar.

Selain itu, beberapa penelitian yang telah dilakukan peneliti lain

sebelumnya menyimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran

kooperatif tipe NHT dan STAD lebih efektif dibandingkan penerapan

model pembelajaran konvensional yang selama ini masih banyak

diterapkan oleh guru dalam pembelajaran matematika.

Terkait dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT, hasil

penelitian yang telah dilakukan oleh Robertus Margana (2010)

menyimpulkan bahwa prestasi belajar matematika siswa yang dikenai

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi

belajar matematika siswa yang dikenai model pembelajaran konvensional.

Terkait dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD,

hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Hadi Wiyono (2010)

menyimpulkan bahwa prestasi belajar matematika siswa yang dikenai

model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih baik dibandingkan

prestasi belajar matematika siswa yang dikenai model pembelajaran

langsung.

2. Dalam penelitian ini, minat belajar dibagi menjadi 3 kategori yaitu minat

belajar matematika rendah, minat belajar matematika sedang, dan minat

belajar matematika tinggi.

Alasan ditelitinya minat sebagai salah satu hal yang mungkin berpengaruh

pada prestasi belajar siswa adalah merupakan penelitian lanjutan dari yang

sudah dilakukan oleh unit Mathematics PlayGround PPPPTK Matematika

Yogyakarta. Dengan mengetahui model pembelajaran yang efektif untuk

untuk setiap kategori minat belajar, diharapkan dapat mengoptimalkan

prestasi belajar matematika siswa.

3. Penelitian ini dilakukan pada siswa SMP di Kabupaten Klaten Propinsi

Jawa Tengah.

Alasan dilakukannya penelitian pada siswa SMP di Kabupaten Klaten

Propinsi Jawa Tengah ini adalah karena masih rendahnya prestasi belajar

matematika siswa. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya prestasi belajar

matematika siswa SMP di Kabupaten Klaten pada Ujian Nasional SMP

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

tahun pelajaran 2009/2010. Pada Ujian Nasional SMP tahun pelajaran

2009/2010, rerata prestasi belajar matematika siswa SMP di Kabupaten

Klaten lebih rendah dibandingkan rerata prestasi belajar matematika siswa

SMP di Propinsi Jawa Tengah maupun tingkat nasional.

4. Prestasi belajar matematika siswa yang dimaksud adalah nilai yang

diperoleh siswa kelas VIII semester ganjil di SMP Kabupaten Klaten pada

materi faktorisasi suku aljabar.

Alasan dilakukannya penelitian pada siswa kelas VIII semester ganjil SMP

di Kabupaten Klaten tahun pelajaran 2011/2012 pada materi faktorisasi

suku aljabar adalah karena hasil analisis daya serap terhadap prestasi

belajar matematika pada Ujian Nasional SMP tahun pelajaran 2009/2010

menunjukkan persentase penguasaan konsep siswa SMP di Kabupaten

Klaten terhadap kemampuan yang berkaitan dengan materi faktorisasi

suku aljabar tergolong rendah dibandingkan dengan tingkat nasional.

E. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, pemilihan

masalah dan batasan masalah tersebut di atas, maka masalah dalam penelitian

ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Manakah yang memberikan prestasi belajar lebih baik, pembelajaran

matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT atau

pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif

tipe STAD pada siswa kelas VIII SMP materi faktorisasi suku aljabar?

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2. Manakah yang memiliki prestasi belajar lebih baik, siswa yang memiliki

minat belajar matematika rendah, minat belajar matematika sedang, atau

minat belajar matematika tinggi pada siswa yang dikenai model

pembelajaran kooperatif tipe NHT dan model pembelajaran kooperatif tipe

STAD pada siswa kelas VIII SMP materi faktorisasi suku aljabar?

3. Pada kelompok siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe

NHT, manakah yang memiliki prestasi belajar lebih baik, siswa yang

memiliki minat belajar matematika rendah, minat belajar matematika

sedang, atau minat belajar matematika tinggi?

4. Pada kelompok siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe

STAD, manakah yang memiliki prestasi belajar lebih baik, siswa yang

memiliki minat belajar matematika rendah, minat belajar matematika

sedang, atau minat belajar matematika tinggi?

5. Pada kelompok siswa yang memiliki minat belajar matematika rendah,

model pembelajaran kooperatif manakah yang memberikan prestasi belajar

lebih baik, NHT atau STAD?

6. Pada kelompok siswa yang memiliki minat belajar matematika sedang,

model pembelajaran kooperatif manakah yang memberikan prestasi belajar

lebih baik, NHT atau STAD?

7. Pada kelompok siswa yang memiliki minat belajar matematika tinggi,

model pembelajaran kooperatif manakah yang memberikan prestasi belajar

lebih baik, NHT atau STAD?

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

F. Tujuan penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini

dapat dituliskan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui manakah yang memberikan prestasi belajar matematika

yang lebih baik, model pembelajaran kooperatif tipe NHT atau STAD.

2. Untuk mengetahui manakah yang memiliki prestasi belajar matematika

lebih baik, siswa yang memiliki minat belajar matematika rendah, minat

belajar matematika sedang, atau minat belajar matematika tinggi.

3. Untuk mengetahui pada kelompok siswa yang dikenai model pembelajaran

kooperatif tipe NHT, manakah yang memiliki prestasi belajar matematika

lebih baik, siswa yang memiliki minat belajar matematika rendah, minat

belajar matematika sedang, atau minat belajar matematika tinggi.

4. Untuk mengetahui pada kelompok siswa yang dikenai model pembelajaran

kooperatif tipe STAD, manakah yang memiliki prestasi belajar

matematika lebih baik, siswa yang memiliki minat belajar matematika

rendah, minat belajar matematika sedang, atau minat belajar matematika

tinggi.

5. Untuk mengetahui pada kelompok siswa yang memiliki minat belajar

matematika rendah, model pembelajaran kooperatif manakah yang

memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, NHT atau STAD.

6. Untuk mengetahui pada kelompok siswa yang memiliki minat belajar

matematika sedang, model pembelajaran kooperatif manakah yang

memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, NHT atau STAD.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

7. Untuk mengetahui pada kelompok siswa yang memiliki minat belajar

matematika tinggi, model pembelajaran kooperatif manakah yang

memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, NHT atau STAD.

G. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini dapat dituliskan sebagai berikut:

1. Temuan atau hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu sumbangan

referensi khususnya dalam rangka mengembangkan pembelajaran

matematika.

2. Dapat dijadikan sebagai salah satu sumber acuan dalam penelitian lanjutan

yang berhubungan dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif

dalam pembelajaran matematika.

3. Digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan

pembinaan kemampuan guru khususnya yang berkaitan dengan

kemampuan melaksanakan pembelajaran.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

BAB II

KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR

A. Tinjauan Pustaka

1. Pembelajaran Matematika

a. Matematika

Matematika sebagai ilmu dasar dewasa ini telah berkembang dengan pesat,

baik materi maupun kegunaannya, sehingga dalam perkembangannya atau

pembelajarannya di sekolah, harus diperhatikan perkembangan-

perkembangannya, baik di masa lalu, masa sekarang, maupun kemungkinan-

kemungkinannya di masa mendatang. Sebelum dibahas lebih jauh mengenai

matematika sekolah, berikut ini pengertian dasar mengenai matematika, dengan

-beda

tergantung pada bilamana pertanyaan itu dijawab, di mana dijawab, siapa yang

menjawab, dan apa sajakah yang termasuk dalam matematika (Erman Suherman

dkk, 2003: 15).

Berbagai pendapat muncul tentang pengertian matematika tersebut,

dipandang dari pengetahuan dan pengalaman masing-masing yang berbeda.

Menurut Erman Suherman, (dalam Estina Ekawati, 2009: 11) matematika

merupakan bahasa simbol; matematika adalah bahasa numerik; matematika

adalah bahasa yang dapat menghilangkan sifat kabur, majemuk, dan emosional;

matematika adalah metode berpikir logis; matematika adalah ratunya ilmu dan

sekaligus menjadi pelayannya; matematika adalah sains yang memanipulasi

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

simbol; matematika adalah ilmu tentang bilangan dan ruang; matematika adalah

ilmu yang mempelajari pola, bentuk, dan struktur; matematika adalah ilmu yang

abstrak dan deduktif; matematika adalah aktivitas manusia.

Secara etimologis, kata matematika dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan

yang diperoleh dengan bernalar (Erman Suherman, dkk, 2003: 16). Hal ini

dimaksudkan bukan berarti ilmu lain diperoleh tidak melalui penalaran, akan

tetapi dalam matematika lebih menekankan aktivitas dalam dunia rasio

(penalaran), sedangkan dalam ilmu lain lebih menekankan hasil observasi atau

eksperimen di samping penalaran. Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran

manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran. Pada tahap awal

matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris,

karena matematika sebagai aktivitas manusia kemudian pengalaman itu diproses

dalam dunia rasio, diolah secara analisis dan sintesis dengan penalaran di dalam

struktur kognitif, sehingga sampailah pada suatu kesimpulan tentang konsep-

konsep matematika. Agar konsep-konsep matematika yang telah terbentuk itu

dapat dipahami oleh orang lain dan dapat dengan mudah dimanipulasi secara

tepat, maka digunakan notasi dan istilah, yaitu hasil kesepakatan bersama secara

global (universal) yang dikenal dengan bahasa matematika. Menurut Reyt dalam

Budi Usodo (2010), matematika adalah (1) studi pola dan hubungan (study of

patterns and relationships), dengan demikian masing-masing topik itu akan saling

berjalinan satu dengan yang lain yang membentuknya, (2) Cara berpikir (way of

thinking) yaitu memberikan strategi untuk mengatur, menganalisis dan mensintesa

data atau semua yang ditemui dalam masalah sehari-hari, (3) Suatu seni (an art)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

yaitu ditandai dengan adanya urutan dan konsistensi internal, dan (4) sebagai

bahasa (a language) dipergunakan secara hati-hati dan didefinisikan dalam

kondisi dan simbol yang akan meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi

dengan sains, keadaan kehidupan riil, dan matematika itu sendiri, serta (5) sebagai

alat (a tool) yang dipergunakan oleh setiap orang dalam menghadapi kehidupan

sehari-hari. Berdasarkan beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa

matematika merupakan suatu ilmu yang menggambarkan suatu pola hubungan

yang diperoleh melalui proses bernalar.

b. Pembelajaran

Pengertian belajar dalam pembelajaran matematika kontemporer adalah

proses perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai hasil dari

pengalaman, sedangkan pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan

yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara

optimal (Erman Suherman, dkk, 2003: 9). Hal ini berarti bahwa proses belajar

bersifat internal dan unik dalam diri individu siswa, sedang proses pembelajaran

bersifat eksternal yang sengaja direncanakan dan bersifat rekayasa perilaku.

Peristiwa belajar disertai dengan proses pembelajaran akan lebih terarah

dan sistematik daripada belajar yang hanya semata-mata dari pengalaman dalam

kehidupan sosial di masyarakat. Belajar dengan proses pembelajaran ada peran

guru, bahan belajar, dan lingkungan kondusif yang sengaja diciptakan.

Menurut konsep sosiologi (Erman Suherman, dkk: 2003: 10), belajar

adalah jantungnya proses sosialisasi, sedangkan pembelajaran adalah rekayasa

sosio-psikologis untuk memelihara kegiatan belajar tersebut sehingga tiap

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

individu yang belajar akan belajar secara optimal dalam mencapai tingkat

kedewasaan dan dapat hidup sebagai anggota masyarakat yang baik. Dalam arti

sempit, proses pembelajaran adalah proses pendidikan dalam lingkup

persekolahan, sehingga arti dari proses pembelajaran adalah proses sosialisasi

individu siswa dengan lingkungan sekolah, seperti guru, sumber atau fasilitas

belajar, dan teman sesama siswa.

Menurut Diaz Santika (2003: 175), pembelajaran adalah proses

komunikasi fungsional antara siswa dengan guru, dan siswa dengan siswa dalam

rangka perubahan sikap dan pola pikir yang akan menjadi kebiasaan bagi siswa

yang bersangkutan. Guru berperan sebagai komunikator, siswa sebagai

komunikan, dan materi yang dikomunikasikan berisi pesan berupa ilmu

pengetahuan.

Oemar Hamalik (1990: 21) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu

bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam

cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Bila

dikaitkan dengan matematika, maka belajar matematika merupakan suatu

pengalaman yang diperoleh siswa melalui interaksi dengan matematika dalam

konteks kegiatan belajar mengajar. Hal ini tidak terlepas dari karakteristik

matematika sebagai bahan pelajaran.

Arends (2012: 17) mengemukakan bahwa learning is a social and cultural

activity in which learners construct meaning that is influenced by the interaction

of prior knowledge and new learning events, belajar adalah aktivitas sosial dan

budaya di mana siswa membangun makna yang dipengaruhi oleh interaksi

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

pengetahuan sebelumnya serta peristiwa baru. Howie dan Plomp (2006: 84)

mengemukakan bahwa learning is active and constructive and stresses the

importance of the contextual character of human cognition, belajar adalah aktif

dan konstruktif serta menekankan pentingnya karakter kontekstual

kognisi manusia. Berdasarkan beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa

belajar adalah proses komunikasi fungsional antara siswa dengan guru, dan siswa

dengan siswa yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat

pengalaman dan latihan. Lebih lanjut, Arends (2012: 17) mengemukakan bahwa

learning is viewed not as students passively receiving information from the

teacher but rather as students actively engaging in relevant experiences and

having opportunities for dialogue so that meaning can evolve and be

constructed, pembelajaran tidak memandang siswa sebagai pihak yang pasif

dalam menerima informasi dari guru, melainkan siswa ikut aktif terlibat dalam

pengalaman yang relevan dan berkesempatan untuk berdialog sehingga dapat

membangun dan mengembangkan pola pemikirannya. Berdasarkan beberapa

uraian di atas, maka belajar dapat didefinisikan sebagai aktivitas sosial yang

berupa perubahan tingkah laku individu yang diperoleh berkat pengalaman dan

latihan, sedangkan pembelajaran dapat didefinisikan sebagai proses komunikasi

fungsional antara siswa dengan guru, dan siswa dengan siswa sebagai upaya

penataan lingkungan sehingga siswa dapat membangun dan mengembangkan

pola pemikirannya.

Pola interaksi antara guru dengan siswa pada hakikatnya adalah hubungan

antara dua pihak yang setara, yaitu interaksi antara dua manusia yang tengah

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

mendewasakan diri, meskipun yang satu telah berada pada tahap yang

seharusnya lebih maju dalam aspek akal, moral, maupun emosional (Erman

Suherman, dkk, 2003: 10). Dengan kata lain, guru dan siswa merupakan subjek,

karena masing-masing memiliki kesadaran dan kebebasan secara aktif. Dengan

menyadari pola interaksi tersebut akan memungkinkan keterlibatan mental siswa

secara optimal dalam merealisasikan pengalaman belajar. Pengertian inilah yang

pada hakikatnya dapat dikembalikan pada tujuan pendidikan yang hakiki, yaitu

untuk peningkatan martabat kemanusiaan.

Matematika sebagai bahan pelajaran objeknya berupa fakta, konsep,

operasi, dan prinsip yang kesemuanya adalah abstrak. Oleh sebab itu, belajar

matematika memerlukan berbagai kegiatan psikologis seperti melakukan

abstraksi, klasifikasi, dan generalisasi. Mengabstraksi berarti memahami

kesamaan dari berbagai objek yang berbeda, mengklasifikasi berarti memahami

pengelompokan dari berbagai objek berdasarkan kesamaannya, dan

menggeneralisasi berarti menyimpulkan suatu objek berdasarkan pengetahuan

yang dikembangkan melalui contoh-contoh khusus.

Matematika selain objeknya yang abstrak dan strukturnya yang berpola

deduktif, juga menggunakan bahasa yang merupakan bahasa simbolis. Dengan

demikian, belajar matematika berarti belajar menggunakan dan memanipulasi

simbol-simbol. Perlu ditekankan bahwa sebelum memanipulasi simbol-simbol itu

yang paling penting adalah memahami arti ide yang disimbolkan itu. Mempelajari

matematika tidak hanya berhubungan dengan bilangan-bilangan serta operasi-

operasinya melainkan matematika juga berkenaan dengan ide-ide, struktur-

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

struktur, dan hubungannya yang diatur secara logik sehingga matematika itu

berkaitan dengan konsep-konsep yang abstrak.

Sebagai suatu struktur dan hubungan-hubungan, matematika memerlukan

simbol-simbol untuk membantu memanipulasi aturan-aturan dengan operasi yang

ditetapkan. Simbolisasi berfungsi sebagai komunikasi yang dapat diberikan

keterangan untuk membentuk suatu konsep baru. Konsep tersebut dapat terbentuk

apabila sudah memahami konsep sebelumnya. Misalnya, seorang siswa

mempelajari konsep B yang berdasarkan konsep A, maka siswa tersebut terlebih

dahulu harus memahami konsep A, sebab tanpa memahami konsep A maka siswa

itu tidak mungkin memahami konsep B. Ini berarti memahami konsep-konsep

dalam matematika haruslah bertahap dan berurutan serta berdasarkan pengalaman

belajar yang lalu. Matematika yang berkenaan dengan ide-ide abstrak yang diberi

simbol-simbol itu tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif, sehingga

belajar matematika merupakan kegiatan mental yang tinggi.

Pemikiran bahwa pembelajaran matematika lebih utama dibandingkan

dengan pengajaran matematika dan bahwa matematika penting serta harus

dikuasai oleh siswa secara komprehensif dan holistik, mengandung konsekuensi

bahwa pembelajaran matematika sebaiknya mengoptimalkan keberadaan dan

peran siswa sebagai pembelajar. Karena filosofi antara pengajaran dan

paradigmanya, yaitu: (1) dari teacher centered menjadi learner centered; (2) dari

teaching centered menjadi learning centered; (3) dari content based menjadi

competency based; (4) dari product of learning menjadi process of learning; dan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

(5) dari summative evaluation menjadi formative evaluation (Erman Suherman,

dkk, 2003: 300).

Guru semestinya memandang kelas sebagai tempat dengan berbagai

masalah-masalah yang menarik untuk dieksplorasi oleh siswa dengan

menggunakan ide-ide matematika. Sebagai contoh, seorang siswa dapat mengukur

benda-benda nyata secara langsung, mengumpulkan informasi dan menjelaskan

apa yang mereka kumpulkan dengan menggunakan statistik atau menjelajahi

sebuah fungsi melalui pengujian grafiknya. Dengan berlandaskan pada prinsip

pembelajaran matematika yang tidak sekedar learning to know (kemampuan siswa

dalam pemahaman dan penalaran yang bermakna terhadap produk dan proses

matematika), melainkan juga harus meliputi learning to do (kemampuan siswa

dalam keterampilan dan dapat melaksanakan proses matematika untuk

meningkatkan perkembangan intelektualnya), learning to be (kemampuan siswa

menghargai nilai-nilai dan keindahan akan produk dan proses matematika yang

ditunjukkan dengan sikap senang, disiplin, memiliki keinginan untuk berprestasi

tinggi, dan rasa percaya diri) , hingga learning to live together (kemampuan siswa

dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dalam matematika), maka pembelajaran

matematika seyogyanya bersandarkan pada pemikiran bahwa siswa yang harus

belajar dan semestinya dilakukan secara komprehensif dan terpadu (Sugiman,

2006: 1).

Sasaran substantif dan efek iringan dari pembelajaran matematika seperti

yang telah dikemukakan di atas perlu mendapat perhatian dari guru. Melalui

pencapaian sasaran substantif pembelajaran matematika, siswa diarahkan untuk

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

memahami dan menguasai konsep, dalil, teorema, generalisasi, dan prinsip-prinsip

matematika secara menyeluruh. Sementara, melalui pencapaian sasaran efek

iringan, siswa diharapkan mampu berpikir logis, kritis, dan sistematis. Melalui

sasaran inipun siswa diharapkan lebih memahami keterkaitan antar topik dalam

matematika dan keterkaitan serta manfaat matematika bagi bidang lain. Mereka

juga dituntut untuk selalu hidup tertib dan disiplin, mencintai lingkungan

sekitarnya, dan mampu memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-

hari, khususnya yang berkaitan dengan matematika.

c. Prestasi Belajar Matematika

Prestasi belajar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan

sebagai penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh

mata pelajaran yang lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang

diberikan oleh guru. Selain adanya perubahan tingkah laku, keberhasilan dalam

pembelajaran juga dapat dilihat dari prestasi belajar atau hasil belajar dari siswa

(Tirtonegoro, 1984: 43). Pendapat lain mengenai prestasi belajar dikemukakan

oleh Saifuddin Azwar (1999: 164) yang menyatakan bahwa prestasi belajar dapat

dilihat dalam bentuk indikator-indikator berupa nilai rapor, indeks prestasi studi,

angka kelulusan predikat keberhasilan, dan semacamnya, selain itu prestasi dapat

juga diartikan sebagai penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan

dalam bentuk simbol, angka, huruf ataupun kalimat yang dapat mencerminkan

hasil yang dicapai setiap siswa dalam suatu periode tertentu. Penilaian prestasi

dapat dipersingkat atau diperluas dalam bentuk pertanyaan terbuka (open-ended

question) atau bentuk pilihan berganda (multiple choice), dalam pengertian lebih

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

luas, penilaian prestasi dapat berupa membaca, menulis, proyek, proses,

pemecahan masalah, tugas analisis, atau bentuk tugas-tugas lain yang

memungkinkan siswa untuk mendemonstrasikan kemampuannya dalam

memenuhi tujuan dan outcome tertentu. Berdasarkan beberapa uraian di atas,

prestasi belajar apabila dikaitkan dengan matematika dapat didefinisikan sebagai

penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dapat dinyatakan dalam bentuk

indikator yang diperoleh dari hasil belajar matematika.

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah segala sesuatu

yang mempengaruhi proses pembelajaran. Menurut Slameto (dalam Nani Sumarni

2010: 11-12), proses pembelajaran dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan

faktor eksternal, antara lain:

1) Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang

belajar. Faktor internal meliputi:

a) Faktor jasmaniah yaitu kesehatan dan cacat tubuh.

b) Faktor psikologis yaitu intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif,

kematangan dan kesiapan.

c) Faktor kelelahan.

2) Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu yang meliputi:

a) Faktor keluarga yaitu cara orang tua mendidik, relasi antar anggota

keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua,

dan latar belakang kebudayaan.

b) Faktor sekolah yaitu metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan

siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas

rumah.

c) Faktor masyarakat yaitu kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa,

teman bergaul, dan kehidupan masyarakat.

2. Model Pembelajaran

Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki

kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk

membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2)

strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; dan (4) model pembelajaran

(Fadjar Shadiq, 2009: 6). Adi Wijaya (2008: 15) mengemukakan bahwa

pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang

kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang

terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi,

menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan

teoritis tertentu. Lebih lanjut, Adi Wijaya (2008: 16) mengemukakan, dari

pendekatan pembelajaran dapat diturunkan ke dalam strategi pembelajaran.

Supinah (2008: 7) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah perpaduan

dari: (1) urutan kegiatan, cara pengorganisasian materi pelajaran, dan siswa, (2)

metode atau teknik pembelajaran, (3) media pembelajaran yaitu berupa peralatan

dan bahan pembelajaran, dan (4) waktu yang digunakan dalam proses

pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Pendapat lain mengenai strategi pembelajaran dikemukakan oleh Gerlach dan Elly

(1980:15) yang menyatakan bahwa strategi pembelajaran adalah cara yang dipilih

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu,

yang meliputi lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman

belajar kepada siswa. Gerlach dan Ely (1980: 14) mengemukakan bahwa metode

pembelajaran dapat diartikan sebagai rencana yang sistematis untuk

menyampaikan informasi, metode pembelajaran dapat juga diartikan sebagai cara

yang telah terpola tetap untuk memperoleh pengetahuan. Apabila antara

pendekatan, strategi, metode, pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan

yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi,

model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang

tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan

kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan

suatu pendekatan, metode, dan strategi pembelajaran (Fadjar Shadiq, 2009: 8).

Pendapat lain mengenai model pembelajaran ini dikemukakan oleh Toeti

Soekamto dan Winataputra (1995: 78) yang mendefinisikan model pembelajaran

sebagai kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur yang sistematis

dalam mengorganisasikan pengalaman belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan

pembelajaran dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran

dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar

mengajar. Berdasarkan beberapa uraian di atas, maka model pembelajaran dapat

didefinisikan sebagai bentuk pembelajaran yang sistematis tergambar dari awal

sampai akhir yang disajikan secara khas untuk mencapai tujuan pembelajaran.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

3. Model Pembelajaran Kooperatif

Rita Rani Mandal (2009: 96) mengemukakan bahwa:

Cooperative learning is an instructional strategy based on the human instinct of cooperation. It is the utilization of the psychological aspects of cooperation and competition for curricular transaction and student learning. The concept of cooperative learning refers to instructional methods and techniques in which students work in small groups and are rewarded in some way for performance as a group. The idea behind the cooperative learning method is that when group rather than individuals are rewarded students will be motivated to help one another to master academic materials. Cooperative learning is a successful teaching strategy in which small teams, each with students of different levels of ability, use a variety of learning activities to improve their understanding of a subject. Each member of a team is responsible not only for learning what is taught but also for helping teammates learn, thus creating atmosphere of achievement.

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang

didasarkan pada naluri manusia untuk bekerjasama. Pembelajaran ini

memanfaatkan aspek-aspek psikologis dari kerjasama dan persaingan dalam

pembelajaran siswa. Konsep pembelajaran kooperatif mengacu pada model

pembelajaran dan teknik di mana siswa bekerja dalam kelompok kecil dan

mendapat penghargaan atas prestasi mereka di dalam kelompok. Ide di balik

model pembelajaran kooperatif adalah ketika kelompok mendapatkan

penghargaan, maka siswa akan lebih termotivasi untuk membantu anggota

kelompok yang lain. Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang

sukses diterapkan pada kelompok-kelompok kecil, di mana setiap anggota

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

kelompok memiliki kemampuan yang berbeda. Setiap anggota tim bertanggung

jawab tidak hanya untuk belajar apa yang diajarkan oleh guru, tetapi juga untuk

membantu teman dalam satu kelompoknya, sehingga dapat meningkatkan prestasi

belajar.

Krismanto (2000: 16) mengemukakan bahwa pada kegiatan pembelajaran

kooperatif, sekelompok siswa belajar dengan porsi utamanya mendiskusikan

tugas-tugas matematika, dalam arti saling membantu menyelesaikan tugas

ataupun memecahkan masalah dalam kelompoknya. Pendapat yang senada

dengan kedua pendapat diatas dikemukakan oleh Slavin (2010: 4), yang

menyatakan pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam model

pembelajaran di mana siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk

saling membantu satu sama lain dalam mempelajari materi pelajaran. Dari

beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif

merupakan suatu model belajar di mana siswa belajar pada kelompok kecil yang

memiliki tingkat kemampuan berbeda. Pada pembelajaran kooperatif, siswa

belajar bersama dalam kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai enam siswa

dengan tingkat kemampuan yang berbeda, dalam menyelesaikan tugas

kelompoknya, setiap anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling

membantu untuk memahami bahan pelajaran, belajar dikatakan belum selesai jika

salah satu anggota dalam kelompok belum menguasai materi pelajaran.

Cohen dalam Robyn dan Adrian (2005: 13) mengemukakan bahwa co-

operative learning is well recognized as a pedagogical practice that promotes

learning, higher level thinking, prosocial behaviour, and a greater understanding

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

of children with diverse learning, social and adjustment needs, pembelajaran

kooperatif diakui sebagai praktek pedagogis yang mempromosikan pembelajaran,

berpikir pada tingkat yang lebih tinggi, berperilaku prososial, dan pemahaman

yang lebih besar pada siswa dengan belajar beragam, sosial serta penyesuaian

kebutuhan. Kagan (2009: 1.11) mengemukakan bahwa learning is an excellent

vehicle for that learning because it emphasizes basic social skills (taking turns,

expressing appreciation, requesting rather than grabbing) as well as skills

necessary for academic success (listening, following directions, staying on task).

Many structures are used successfully with early learners, pembelajaran

kooperatif merupakan sebuah kendaraan yang sangat baik dalam pembelajaran

karena menekankan keterampilan sosial dasar serta keterampilan yang diperlukan

untuk keberhasilan akademik. Lebih lanjut, Kagan (2009: 1.12) mengemukakan

bahwa cooperative learning is also very powerful in developing higher-level

thinking skills, pembelajaran kooperatif juga sangat baik dalam mengembangkan

kemampuan berpikir tingkat lanjut. Pendapat lain dikemukakan oleh Adi Wijaya

(2010: 7) yang menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif memiliki

beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.

Dari beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran

kooperatif memberikan pengaruh yang positif bagi siswa.

Fadjar Shadiq (2009: 23-24) memberikan ciri-ciri pembelajaran kooperatif

sebagai berikut:

a. Sikap ketergantungan positif

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang dapat

mendorong siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling

membutuhkan inilah yang dimaksud dengan saling ketergantungan yang

positif.

b. Interaksi tatap muka

Interaksi tatap muka akan memaksa siswa saling tatap muka dalam kelompok

sehingga mereka akan berdialog. Interaksi semacam ini sangat penting karena

siswa akan merasa lebih mudah belajar dari teman sekelasnya.

c. Akuntabilitas individu

Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok.

Penilaian ini ditunjukkan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap

materi secara individual. Hasil penilaian secara individual selanjutnya

disampaikan oleh guru kepada kelompok supaya semua anggota kelompok

yang bisa memberikan bantuan dapat memberikan bantuan bagi siapa saja

yang memerlukan bantuan. Nilai kelompok didasarkan atas rata-rata hasil

belajar semua anggotanya, oleh karena itu tiap anggota kelompok harus

memberikan sumbangan demi kemajuan kelompoknya.

d. Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi

Keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman,

mengkritik ide bukan mengkritik teman, berani mempertahankan logis, tidak

mendominasi orang lain, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam

menjalin hubungan antar pribadi.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Model pembelajaran kooperatif mempunyai kelebihan serta kekurangan

sebagai berikut:

a. Kelebihan model pembelajaran kooperatif

1) Mampu meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa.

2) Mengembangkan hubungan antar kelompok.

3) Penerimaan terhadap teman sekelas yang lemah dalam bidang akademik.

4) Meningkatkan rasa percaya diri.

5) Membuat perbedaan menjadi bahan pembelajaran, bukan menjadi

masalah.

6) Mengembangkan hubungan pribadi antar siswa.

7) Mengembangan keterampilan kerjasama.

b. Kekurangan model pembelajaran kooperatif

1) Jika tidak dirancang dengan baik dan benar, maka dapat memicu

munculnya pembonceng, di mana sebagian anggota kelompok

melakukan semua atau sebagian besar dari pekerjaan, sementara yang

lain tinggal mengendarainya.

2) Apabila kontrol dari guru kurang, maka bisa dimungkinkan terjadinya

kesalahan konsep yang dapat ditularkan kepada siswa yang lain.

3) Pelaksanaannya memerlukan persiapan yang rumit. Fadjar Shadiq (2009:

28-29)

4. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)

Teknik belajar mengajar kepala bernomor (Numbered Heads Together) ini

dikembangkan oleh Spencer Kagan (1993). Teknik ini melibatkan banyak siswa

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

dalam mereview materi pelajaran serta memberikan kesempatan kepada siswa

untuk saling membagi ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.

Selain itu, teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja

sama mereka. Teknik ini juga bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan

untuk semua tingkatan usia anak didik.

Arends (2012: 371) mengemukakan bahwa Numbered Heads Together is

an approach developed by Spencer Kagan (1993) to involve more students in the

review of materials covered in a lesson and to check their understanding of a

Model pembelajaran yang telah dikembangkan oleh Spencer

Kagan (1993) ini melibatkan lebih banyak siswa dalam melihat kembali konsep

yang tercakup dalam suatu pelajaran dan memeriksa pemahaman siswa mengenai

konsep pelajaran yang sedang dipelajarinya.

Menurut Trianto (2007: 62) dalam menerapkan model pembelajaran

kooperatif tipe NHT, guru menggunakan empat fase struktur sebagai sintaks

NHT:

a. Fase 1: Penomoran (Numbering)

Pada fase ini, guru membagi siswa ke dalam kelompok yang beranggotakan

3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai

5.

b. Fase 2: Mengajukan pertanyaan (Questionering)

Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa, pertanyaan dapat amat

spesifik atau dalam bentuk kalimat tanya terbuka.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

c. Fase 3: Berpikir bersama (Heads Together)

Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan

meyakinkan tiap anggota dalam timnya untuk mengetahui jawaban tim.

d. Fase 4: Menjawab petanyaan (Answering)

Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya

sesuai mengangkat tangannya dan mencoba menjawab pertanyaan untuk

disampaikan kepada seluruh kelas.

Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Arends (2012: 371) yang

menyatakan bahwa terdapat empat langkah penting dalam model pembelajaran

kooperatif tpe NHT yaitu:

Step 1 Numbering: Teachers devide students into three-to five-number teams and have them number off so each student on the team has a different number between 1 and 5.

Step 2 Questioning: Teachers ask students a question. Questions can vary. They can be very specific and in question form.

Step 3 Heads Together: Students put their heads together to figure out and make sure everyone knows the an