of 17/17
15 EFEKTIVITAS TRADISI PONDOK PESANTREN BAGI SANTRI Oleh : Ida Dwi Septiningsih (STIKI{ Catur Sakti Yogyakarta) A. Latar Belakang Masalah Al-Quran adalah kitab suci merupakan sumber utama dan pertama ajaran Islam. Al-Quran menjadi petunjuk kehidupan umat manusia diturunkan Allah SWT kepada nabi Muhammad S.A.W didalamnya terkumpul wahyu Ilahi yang menjadi petunjuk, pedoman, dan pelajaran bagi siapa yang mempercayai serta mengamalkannya. Al-Quran adalah kitab suci yang terakhir diturunkan Allah SWT, yang isinya mencakup segala pokok-pokok syariat yang terdapat dalam kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya. Karena itu, setiap orang yang mempunyai Al- Quran akan bertambah cinta kepada Al-Quran, cinta untuk membacanya, untuk mempelajari dan memahami serta pula untuk mengamalkan dan mengajarkan. Menghafal Al-Quran merupakan aktifitas ibadah yang sangat berat, tapi sangat mulia. Berat karena memerlukan kifah (perjuangan yang luar biasa) dan konsentrasi penuh. Berbagai tantangan silih berganti akan menghadang di hadapan para calon hafidz Al-Quran (sebutan bagi penghafal Al-Quran). Sebuah pesantren pada dasamya adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisional dimana para siswanya atau santrinya tinggal bersama dan belajar dibawah bimbingan seorang atau lebih guru yang dikenal dengan sebutan “Kyai“. Asrama untuk para siswanya tersebut berada dalam lingkungan komplek pesantren dimana Kyai bertempat tinggal yang juga menyediakan sebuah masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar dan kegiatan-kegiatan keagamaan lain. Komplek pesantren ini biasanya dikelilingi dengan tembok untuk mengawasi keluar dan masuknya para

EFEKTIVITAS TRADISI PONDOK PESANTREN BAGI SANTRI …stkipcatursakti.ac.id/jurnal/17jun2efektivitastradisi.pdf · Ida Dwi Septiningsih 15 EFEKTIVITAS TRADISI PONDOK PESANTREN BAGI

  • View
    223

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of EFEKTIVITAS TRADISI PONDOK PESANTREN BAGI SANTRI...

Ida Dwi Septiningsih

15

EFEKTIVITAS TRADISI PONDOK PESANTREN BAGI SANTRI

Oleh : Ida Dwi Septiningsih (STIKI{ Catur Sakti Yogyakarta) A. Latar Belakang Masalah

Al-Quran adalah kitab suci merupakan sumber utama dan pertama

ajaran Islam. Al-Quran menjadi petunjuk kehidupan umat manusia

diturunkan Allah SWT kepada nabi Muhammad S.A.W didalamnya

terkumpul wahyu Ilahi yang menjadi petunjuk, pedoman, dan pelajaran

bagi siapa yang mempercayai serta mengamalkannya. Al-Quran adalah

kitab suci yang terakhir diturunkan Allah SWT, yang isinya mencakup

segala pokok-pokok syariat yang terdapat dalam kitab-kitab suci yang

diturunkan sebelumnya. Karena itu, setiap orang yang mempunyai Al-

Quran akan bertambah cinta kepada Al-Quran, cinta untuk membacanya,

untuk mempelajari dan memahami serta pula untuk mengamalkan dan

mengajarkan.

Menghafal Al-Quran merupakan aktifitas ibadah yang sangat berat,

tapi sangat mulia. Berat karena memerlukan kifah (perjuangan yang luar

biasa) dan konsentrasi penuh. Berbagai tantangan silih berganti akan

menghadang di hadapan para calon hafidz Al-Quran (sebutan bagi

penghafal Al-Quran).

Sebuah pesantren pada dasamya adalah sebuah asrama pendidikan

Islam tradisional dimana para siswanya atau santrinya tinggal bersama dan

belajar dibawah bimbingan seorang atau lebih guru yang dikenal dengan

sebutan Kyai. Asrama untuk para siswanya tersebut berada dalam

lingkungan komplek pesantren dimana Kyai bertempat tinggal yang juga

menyediakan sebuah masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar dan

kegiatan-kegiatan keagamaan lain. Komplek pesantren ini biasanya

dikelilingi dengan tembok untuk mengawasi keluar dan masuknya para

PELANGI PENDIDIKAN, Vol. XIV Nomor 2, Januari 2014

16

santri sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Demikian pula pada pondok pesantren Tahfidzul Quran (PPTQ)

Baitul Abidin Darussalam yang berada di Desa Kalibeber Kecamatan

Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, memiliki kekhasan tersendiri dan

memiliki tradisi sendiri yang tentunya berbeda dengan pondok pesantren

lainnya. Pondok pesantren ini mengkhususkan pada kegiatan menghafal

Al-Quran dengan metode tersendiri dan pembiasaan-pembiasaan atau

tradisi sendiri yang telah diterapkan sejak pondok pesantren tersebut

didirikan, dan tentunya dengan pengembangan-pengembangan ilmu

disesuaikan dengan kebutuhan santri dan perkembangan ilmu pendidikan

yang dapat menunjang atau membantu proses pembelajaran bagi santrinya

yang juga sebagian besar merupakan mahasiswa di Perguruan Tinggi

Swasta yang letaknya tidak jauh dari pondok pesantren tersebut.

Rasa keinginan penulis yang masih awam tentang para penghafal

Al-Quran mendorongnya untuk melakukan penelitian terhadap para

penghafal Al-Quran. Rasa keingintahuan tersebut meliputi bagaimana

mereka dapat menghafal Al-Quran, sedang Al-Quran tersusun dengan

menggunakan Bahasa Arab yang mungkin belum mereka kuasai dengan

baik. Metode apa yang diterapkan dalam keinginan menghafal Al-Quran

dalam keseharian para penghafal Al-Quran.

Menurut penuturan K.H. Asad, S.Sy.Alh selaku pemimpin PPTQ

Baitul Abidin Darussalam ada perbedaan masa dulu dengan masa

sekarang dalam kaitannya kegiatan menghafal Al-Quran. Pada masa dulu

belumlah banyak hambatan dalam menghafal karena perkembangan jaman

dan teknologi belumlah secanggih masa sekarang untuk itu dibutuhkan

metode dan pembiasaan-pembiasaan yang tepat disesuaikan hambatan

yang ada, terkait dengan semakin majunya dengan perkembangan jaman

dan ditengah kecanggihan teknologi yang semakin hari semakin

Ida Dwi Septiningsih

17

berkembang, sehingga metode dan pembiasaan yang dilakukan dalam

rangka kegiatan penghafal Al-Quran menjadi efektif dan sesuai harapan

dapat terus menciptakan generasi penghafal Al-Quran.

B. Analisa Data 1. Profil Pondok Pesantren Tahfdzul Quran (PPTQ) Baitul Abidin

Darussalam

a. Letak Geografis

Pondok pesantren Tahfidzul Al-Quran Baitul Abidin

Darussalam berada di Kabupaten Wonosobo tepatnya di Dusun

Sarimulyo, Desa Kalibeber, Kecamatan Mojotengah. Dengan

dukungan cuaca di daerah Wonosobo yang tenang dan sejuk ini

maka santri dapat melaksanakan kegiatan menghafal Al-Quran

sepanjang waktu dengan suasana yang nyaman dan tentram. Dan

juga letak asrama pondok pesantren yang jauh dari perkotaan

sehingga jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.

Asrama pondok pesantren dibangun di atas tanah seluas 515

M2. Data ini diperoleh dari hasil wawancara dengan pengasuh

pondok pesantren. Tempatnya yang strategis dekat dengan salah satu

perguruan tinggi swasta yang berbasis Al-Quran dan pesantren. Dan

sebagian besar hampir 70 % para santri adalah mahasiswa pada

perguruan tinggi tersebut.

b. Sejarah dan tujuan berdirinya

Asal mula pondok pesantren Tahfidzul Quran Baitul Abidin

Darussalam merupakan rumah dari K.H. Asad, S.Sy, Alh dan Hj.

PELANGI PENDIDIKAN, Vol. XIV Nomor 2, Januari 2014

18

Badiah, Alh. Beliau adalah salah satu santri dari K.H. Muntaha, Alh,

Pendiri Pondok Pesantren Al-Asyariyah Kalibeber. Setelah K.H.

Muntaha, Alh wafat, pengajian Al-Quran (hafalan) diteruskan oleh

K.H. Asad, S.Sy, Alh.

Awalnya ada beberapa santri yang datang kerumahnya untuk

khusus memperdalam atau memperlancar hafalannya yang pondok

ini dengan yang lain yang peneliti ketahui ketika melakukan

penelitian di pondok pesantren ini adalah, pengasuh pondok

pesantren yaitu Bapak K.H. As ad, S.Sy, Alh yang juga sebagai

pemilik dan pendiri pondok pesantren menyerahkan sepenuhnya

pengurusan dan keberlangsungan segala kegiatan belajar santri

kepada pengurus organisasi santri, mulai dari administrasinya

pembayaran syahriyah atau SPP santri, perekrutan santri dan

kegiatan pendukung di pondok pesantren, beliau hanya khusus

mengajar hafalan Al-Quran saja.

c. Visi dan Misi PPTQ Baitul Abidin Darussalam

PPTQ Baitul Abidin Darussalam memiliki Visi yaitu

menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup dengan menanamkan

nilai-nilai Al-Quran dalam kehidupan. Adapun Misi PPTQ Baitul

Abidin Darussalam yaitu sebagai berikut:

1) Melahirkan para penghafal Al-Quran yang berjiwa Qurani dan

memiliki ilmu pengetahuan yang modern.

2) Mencetak kader yang mempunyai sumber daya manusia yang

berakhlakul karimah, cerdas, dan terampil.

3) Mengembangkan santri berpotensi dan berkualitas, yang mampu

membantu dalam pembangunan bangsa, baik jasmani maupun

rohani.

Ida Dwi Septiningsih

19

4) Mengembangkan kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan

Emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) bagi santri

seutuhnya.

d. Tutor atau Ustadz/dzah

Tutor atau biasa disebut ustadz atau ustadzah pada PPTQ

Baitul Abidin Darussalam adalah Bapak K.H. As ad, S.Sy, Alh dan

istri, mereka berdua mengajarkan hafalan Al-Quran kepada santri-

santrinya. Dan biasanya di kalangan santri biasa untuk berbagi ilmu,

bagi yang sudah lancar bacaan Al-Quran dan hafalannya sudah

banyak menjadi tutor bagi santri yang masih belum lancar dan

hafalannya masih sedikit. Untuk kajian ilmu agama lainnya yang

mendukung kegiatan belajar santri biasanya mengundang tutor dari

luar yang berkompeten dan disesuaikan kebutuhan santri.

e. Karyawan

Pada PPTQ Baitul Abidin Darussalam hanya mempekerjakan

satu orang karyawan untuk memasak makanan bagi santri dan

pengasuh pondok.

f. Pedoman Penerimaan Santri

Untuk penerimaan santri baru biasanya ada pengurus khusus

yang menyeleksi santri baru.

2. Kondisi Fasilitas PPTQ Baitul Abidin Darussalam

a. Sarana dan Prasarana

PPTQ Baitul Abidin Darussalam memiliki sarana dan

prasarana yang cukup memadai dan mendukung bagi proses

PELANGI PENDIDIKAN, Vol. XIV Nomor 2, Januari 2014

20

berlangsungnya kegiatan menghafal Al-Quran. Sarana dan prasrana

tersebut antara lain adalah :

Nama Barang Jumlah

Keterangan Putra Putri

Kamar pengasuh 1 ruang

Kamar santri 2 bangunan 4 ruang

Ruang tamu/aula 1 ruang

Ruang makan 1 ruang 1 ruang

Kamar mandi 3 unit 5 unit

Kolam ikan 3 kolam

Kotak P3K 1 1

Almari 28 buah 44 buah

Dapur 1 ruang 1 ruang

Tempat jemuran 1 1

a. Jumlah Santri

Jumlah santri secara keseluruhan pada PPTQ Baitul Abidin

Darussalam pada waktu dilakukan penelitian dan menurut hasil

wawancara dengan santri pengurus pondok, baik pengurus

pondok putra maupun putri adalah sebagai berikut:

Quran, sarana dan prasrana tersebut antara lain adalah :

Jenjang

Pendidikan

Jenis Kelamin Jumlah

Santri Putra Putri

SMP 8 6 14

SMA 8 10 18

Mahasiswa 31 44 75

Ida Dwi Septiningsih

21

Tahfiz 13 30 43

Jumlah 60 90 150

C. Efektivitas Tradisi Pondok Pesantren pada PPTQ Baitul Abidin Darussalam

a. Aktifitas Harian Santri

Selama peneliti berada di pondok pesantren untuk melakukan

observasi, dan berbaur bersama para santri dan juga peneliti

melakukan aktivitas yang sama dengan para santri. Berdasarkan

hasil observasi tersebut aktifitas harian santri setiap harinya mulai

mengaji Al-Quran telah dimulai dari pagi pukul 03.00 para santri

telah dibangunkan untuk bersama-sama melakukan sholat tahajud

dan sholat sunah lainnya. Setelah (Ba' da ) sholat subuh mulai

ngaji hingga selesai jam 06.000.

Bagi santri yang juga menempuh pendidikan formal di SMP,

SMA maupun bangku kuliah setelah kegiatan mengaji mereka

mempersiapkan diri untuk aktifitasnya di sekolah. Bagi santri yang

tidak bersekolah hanya mengaji saja di pondok pesantren, mereka

melakukan aktifitasnya dengan nderes Al-Quran, bisa dilakukan

oleh seorang diri atau simak-simakan dengan dengan rekan sesama

penghafal Al-Quran.

Di pondok pesantren juga para santri mendapat giliran untuk

bersama-sama mengurus pondok pesantren mulai dari bersih-bersih

pondok, maupun memasak bersama untuk seluruh penghuni

pondok, mereka membentuk kelompok-kelompok dan bekerja

bergilir, bahkan Bapak K.H. Asad, S.Sy, Alh sendiri selaku

pemilik dan pendiri pondok juga terlibat dalam kegiatan tersebut

PELANGI PENDIDIKAN, Vol. XIV Nomor 2, Januari 2014

22

bersama para santri bahkan untuk makan sama dengan apa yang

dimakan oleh santri.

Kegiatan sore hari dimulai dengan sholat Ashar berjamaah

dilanjutkan dengan mengaji Al-Quran, hingga menjelang Maghrib.

Bada Maghrib aktifitas santri selanjutnya dengan mengaji Al-

Quran, biasanya untuk santri putra para santri mengaji dengan

santri senior mereka di pondok, bagi yang bacaannya dan

hafalannya sudah baik dan benar menyimak santri yang masih baru

belajar. Untuk santri putri juga sama mereka saling simak-

menyimak, bagi santri putri yang sedang berhalangan

(haid/menstruasi) mereka biasanya menyimak Bapak kyai yang

sedang nderes Quran. Setelah sholat isya dilanjutkan dengan

kegiatan binadhoran bersama-sama, santri putra dengan seluruh

santri putra begitu juga dengan seluruh santri putri. Mereka saling

menyimak satu sama lain dan membetulkan bacaannya jika ada

yang keliru dalam membaca Al-Quran. Terkadang juga ada hari

tertentu untuk setiap bada isya mengaji kitab yang mengkaji ilmu

agama Islam, biasanya mendatangkan guru/ustadz dari luar pondok.

Aktifitas ini berlangsung setiap hari kecuali hari Kamis sore atau

malam Jumat dan hari Jumat semua kegiatan belajar Al-Quran

santri libur. Untuk sejenak melepaskan beban pikiran dan

menghindari kejenuhan. Untuk hari libur ini biasanya ada santri

yang ijin pulang ke rumah mereka masing-masing. Dan aktifitas

harian belajar santri dimulai lagi hari Sabtu pagi.

b. Jadwal Kegiatan

Jadwal mengaji Santri Putra

Waktu Kegiatan Keterangan

Ida Dwi Septiningsih

23

Bada Shubuh Takroran jus sampai 1 juz

Simak-simakan

Bada Ashar Setoran tambahan

hafalan dan binadhor

ayat yang akan

dihafalkan

juz

Bada Maghrib Binadhoran langsung

kepada K.H. Asad,

S.Sy, Alh

Sesuai kemampuan

santri paling banyak

2 halaman

Binadhoran yang

dilakukan secara

klasikal seluruh santri

Bada Isya Binadhoran secara

klasikal

Takroran

Simak-simakan

Jadwal mengaji santri putri

Waktu Kegiatan Keterangan

Bada Shubuh Takroran jus sampai 1 juz

Simak-simakan

Bada Ashar Setoran tambahan

hafalan dan binadhor

ayat yang akan

dihafalkan

juz

Bada Maghrib Musyafahah Kegiatan ini tidak

wajib

PELANGI PENDIDIKAN, Vol. XIV Nomor 2, Januari 2014

24

Bada Isya Binadhoran secara

klasikal

Ngaji

Simak-simakan

c. Metode yang digunakan dalam menghafal Al-Quran

Setelah peneliti mengadakan penelitian di PPTQ Baitul

Abidin Darussalam, dengan melakukan observasi dan wawancara,

maka berdasarkan hasil wawancara dengan pengasuh pondok

pesantren, yaitu Bapak K.H. Asad, S.Sy, Alh bahwa beliau

menerapkan metode setoran yaitu santri diharuskan setiap hari

nyetor hasil hafalannya, dan saling simakan dengan teman agar

hasil hafalannya lebih baik dan ingatan akan hafalannya semakin

kuat. Tujuannya agar santri mengulang-ulang bacaan Al-Quran

yang dihafalnya.

Pengulangan adalah sesuatu yang harus dilakukan agar kita

tidak kehilangan apa yang telah dihafal sebelumnya, seorang

penghafal Al-Quran dituntut untuk mengulas dan mengulang-ulang

setiap apa yang telah ia hafal dari Al-Quran. (Amjad Qasim, 2008)

Menurut K.H. Asad, S.Sy, Alh kepada santrinya beliau

mengharuskan santrinya melakukan kebiasaan-kebiasaan baik atau

tradisi yang sudah beliau tanmkan kepada santrinya agar senantiasa

rajin nderes Al-Quran dengan kegiatan selapanan (Kegiatan rutin

yang didasarkan pada penanggalan Jawa) yaitu setiap Jumat kliwon

bersama-sama seluruh santri baik santri putra maupun santri putri

melaksanakan simakan Quran 30 juz. Dan setiap bada Isya

binadzor Quran secara individual dan klasikal. (Amjad Qasim,

Ida Dwi Septiningsih

25

2008)

Metode yang dilakukan untuk menghafal ayat-ayat Al-Quran

yakni menghafalnya kemudian memperdengarkan ayat-ayat

tersebut satu-persatu dari ayat pertama hingga ayat terakhir.

Beliau juga selalu menanamkan rasa ikhlas kepada para

santrinya, yaitu melakukan semua kegiatan dengan tidak

mengharap imbalan suatu apapun, semata-mata hanya mengharap

ridho Allah SWT khususnya dalam kegiatan menghafal Al-Quran,

beliau tidak pernah memberikan iming-iming hadiah apapun

kepada santrinya hanya nasihat-nasihat dan motifasi kepada

santrinya agar berhasil dalam mencapai tujuan yaitu menghafal Al-

Quran dengan baik dan benar khatam 30 jus dan dapat di sima

oleh orang lain.

Disamping nasihat dan motifasi juga ada sanksi bagi mereka

yang malas melakukan kegiatan-kegiatan yang telah diterapkan

dalam hal menghafal Al-Quran, malas ini ditunjukan dengan

setoran yang tidak naik jusnya menetap pada ayat-ayat tertentu saja,

biasanya beliau memberikan peringatan-peringatan dan nasihat.

Jika hal ni tidak diperhatikan oleh santrinya maka dia harus

menerima konkuensinya dikembalikan kepada orang tuanya dan

disarankan untuk memilih pondok pesantren lainnya yang mungkin

lebih efektif pembelajarannya bagi santri tersebut.

d. Penerapan Metode Menghafal Al-Quran

Penerapan metode menghafal Al-Quran di PPTQ Baitul

Abidin Darussalam terdiri-dari beberapa tahap yang harus

dilakukan oleh para santri pondok pesantren tersebut. Tahapan-

tahapan tersebut adalah:

1. Ayat yang akan dihafalkan dibinadharkan (dibaca di hadapan

PELANGI PENDIDIKAN, Vol. XIV Nomor 2, Januari 2014

26

guru secara dilihat) terlebih dahulu sebanyak satu halaman atau

sesuai dengan kemapuan santri maksimal 2 % halaman.

2. Ayat yang telah dibinadharkan kemudian dihafalkan dengan

baik dan benar.

3. Jika ayat yang dibaca telah dihafalkan dirasa sudah benar dan

lancar selajutnya setoran (dibacakan secara hafalan di hadapan

guru).

4. Jika setoran hafalan sudah dinyatakan benar dan lancar

selanjutnya bisa menambah hafalan kembali dengan

membinadhorkan ayat yang akan dihafalnya untuk hari

berikutnya.

5. Setelah hafalan sudah sampai satu juz, maka dilakukan takror

(mengulang hafalan yang sudah dihafal) mulai dari awal juz.

6. Adapun perpindahan ke-juz berikutnya, dibinadhorkan seperti

semula.

7. Setelah menyelesaikan hafalan sampai 5 juz, kemudian

diteruskan kepada akhir surat dan dilakukan takror kembali.

8. Adapun ketentuan takror sebagai berikut:

No. Keterangan Juz Keterangan Ayat

1. Juz 1 s.d 5 Al Baqarah An-Nisa

2. Juz 6 s.d 10 Al Maidah At-Taubat

3. Juz 11 s.d 15 Yunus - Al-Kahfi

4. Juz 15 s.d 20 Maryam Al-Ankabut

5. Juz 20 s.d 25 ArRum Al-Jatsiyah

6. Juz 25 s.d 30 Al-Ahqof An-Nass

9. Takror dilakukan dengan sistem tangga. Bagi yang memulai

Ida Dwi Septiningsih

27

dari juz awal, takror dilakukan mulai dari juz 5, 4, 3, 2, 1

kemudian dilanjutkan 1, 2, 3, 4, 5 sedangkan bagi yang mulai

dari juz terakhir dilakukan mulai dari juz 26, 27, 28, 29, 30

kemudian dilanjutkan 30, 29, 28, 27, 26 proses ini dilakukan

begitu juga pada juz-juz seterusnya.

10. Setelah melakukan takror genap 5 juz dan kemudian telah

dinyatakan lancar oleh guru ngaji, kemudian disimakan kepada

para santri yang lain dari keseluruhan hafalan yang diperoleh,

kemudian dapat melanjutkan hafalan ke-juz berikutnya.

11. Jika hafalan telah selesai sampai 30 juz (khatam), maka

dilakukan simakan dari juz 1 sampai juz 30 dalam kalangan

santri terkenal dengan istilah glondongan selanjutnya

khataman Al-Quran bertempat di Makam Deroduwur (makam

K.H. Muntaha, Alh).

Adapun tahapan-tahapan tersebut dilakukan dengan tujuan

agar para santri yang sudah menyelesaikan setiap per-juz langsung

bisa di simak dan begitu seterusnya secara bertahap sampai selesai

30 juz, dan ketika sudah selesai 30 juz diharapkan bisa langsung

disimak satu glondong (30 juz), dan agar para santri bisa menjaga

hafalan mereka, serta menyelesaikan hafalan dengan baik dan

benar.

e. Pelaksanaan Proses Menghafal Al-Quran

Pelaksanaan proses menghafal Al-Quran di PPTQ Baitul

Abidin Darussalam menggunakan beberapa strategi sebagai berikut:

1. Strategi pengulangan ganda.

2. Tidak beralih pada ayat berikutnya sebelum ayat yang sedang

dihafal benar-benar hafal.

3. Menghafal urutan-urutan ayat yang dihafalnya dalam kesatuan

PELANGI PENDIDIKAN, Vol. XIV Nomor 2, Januari 2014

28

jumlah setelah benar-benar hafal ayat-ayatnya.

4. Menggunakan satu jenis mushaf.

5. Memahami (mengerti) ayat-ayat yang dihafalnya.

6. Memperhatikan ayat-ayat yang serupa.

7. Disetorkan kepada seorang pengasuh atau seorang guru.

Selain strategi yang telah diuraikan ada beberapa faktor

pendukung pelaksanaan hafalan Al-Quran, faktor-faktor tersebut

antara lain :

1 Tahsin yaitu usaha untuk memperbaiki bacaan sesuai kaidah

tajwid.

2 Memilih waktu yang tepat.

3 Memilih tempat yang kondusif.

4 Menggunakan satu macam mushaf.

5 Membuat jadwal dan target hafalan.

6 Tasmi yaitu memperdengarkan kepada seorang syekh atau

hafidz yang mutqin atau teman sesama penghafal.

7 Mengeraskan bacaan ketika menghafal.

8 Menyeimbangkan hafalan baru dengan hafalan yang lama.

9 Memelihara hafalan Al-Quran dengan cara menggunakan

hafalan sebagai dzikir, dibaca didalam sholat, istiqomah dalam

muraja ah (nderes) Al-Quran.

Dari seluruh pembahasan tersebut dari mulai metode,

penerapan metode dan pelaksanaan metode menghafal Al-Quran

pada PPTQ Baitul Abidin Darussalam. Seluruh uraian tersebut

menjelaskan semua informasi yang peneliti dapatkan selama

meneliti di PPTQ yang diperoleh melalui observasi dan wawancara

baik dengan pengasuh pondok maupun dengan para santri.

Metode-metode yang digunakan dan tahapan-tahapan yang

Ida Dwi Septiningsih

29

ada dilaksanakan agar santri mudah menghafalkan Al-Quran dan

yang terpenting lagi tidak hanya hafal saja tapi dapat

melestarikannya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari

para santri.

Tentunya dalam kegiatan menghafal Al-Quran ada hambatan-

hambatan tidak semuanya berjalan dengan lancar, hal ini menurut

pengasuh pondok pesantren, hambatan yang sering terjadi yaitu

hafalan yang semakin bertambah semakin sulit mengingat-ingat

jika kita tidak rajin untuk menghafal, hal ini dirasakan semakin

berat bagi para penghafal Al-Quran. Adanya pengaruh lingkungan

dari teman, atau bagi mereka yang telah beranjak dewasa kesukaan

pada lawan jenis, atau sekedar bermain-main dengan teman.

Berdasarkan pengakuan salah satu santri berhasil

diwawancarai oleh peneliti hambatan-hambatan untuk menghafal

Al-Quran sering sekali dia alami, tetapi berkat motifasi dan nasihat

dari bapak dan ibu pengasuh pondok yang dengan penuh kasih

sayang dan kesabaran membimbing dan memberi nasihat untuk

kembali rajin nderes Al- Quran.

Menurut dia motifasi yang kuat untuk menghafal Al-Quran

yaitu semata-mata hanya untuk mengharap ridho Allah SWT dan

syafaat Nabi Muhammad SAW. Dan tanggung jawab yang penuh

dan dengan ikhlas melaksanakan tradisi-tradisi yang telah

diterapkan dalam pondok, seperti setoran dan simaan.

Untuk menambah motifasi dalam menghafal Al-Quran bagi

para santri ada kegiatan JHQ (Jami atul Hufadz Walquro) dimana

para santri penghafal Al-Quran memperdengarkan hasil hafalan Al-

Quran. Hafalan Al-Quran yang baik dan benar yaitu hafalan yang

dapat disima oleh orang lain.

PELANGI PENDIDIKAN, Vol. XIV Nomor 2, Januari 2014

30

Di PPTQ Baitul Abidin Darussalam santri yang dinyatakan

lulus yaitu mereka yang telah berhasil menyelesaikan setoran 30

juz dan mampu disima 30 juz.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai

efektivitas tradisi pondok pesantren di pondok pesantren Tahfidzu1

Quran Baitul Abidin Darussalam bagi santri penghafal Al-Quran,

dapat disimpulkan bahwa tradisi yang dilaksanakan di Pondok

Pesantren Tahfidzul Quran Baitul Abidin Darussalam mendukung

kegiatan para santri dalam menghafal Al-Quran. Tradisi seperti

setoran dan simaan dirasa efektif bagi para santri, karena dengan

mengulang-ulang hafalan menjadi hafalan mereka semakin baik,

lancar dan semakin kuat ingatan akan hafalan Al- Quran. Dan kegiatan

memperdengarkan hasil hafalan kepada orang lain juga menjadi

motivasi bagi para penghafal Al-Quran untuk semakin rajin menghafal

Al-Quran.

Kesabaran, ketekunan dan kasih sayang pengasuh pondok

pesantren juga menjadikan motifasi yang baik bagi para santri.

Disamping itu ilmu dan pengalaman yang dimiliki oleh pengasuh

pondok juga menjadi pendukung dalam kegiatan menghafal Al-Quran.

DAFTAR PUSTAKA

Alsa, A. 2004. Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif Serta Kombinasinya

dalam Penelitian Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Amjad. Qosim, 2008. Hafal Al-Quran dalam Sebulan. Solo Qiblat Press. Lisya, Chairani, 2010. Psikologi Santri Penghafal Al-Quran Peranan Regulasi

Diri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ida Dwi Septiningsih

31

Mulyana, Deddy, 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.

Sugiyono, 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif-

Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfubeta. Zamakhsyari Dhofier, 1980. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan

Hidup Kyai. Jakarta: Lembaga Peneliti Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial LP3ES.