of 189 /189
i EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION) DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DITINJAU DARI AKTIVITAS SISWA SMP NEGERI KOTA SURAKARTA TESIS Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Disusun Oleh: LILIEK SRI WAHYUTI S 850907113 Program Studi Pendidikan Matematika Progran Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta 2009

EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD … · i efektivitas metode pembelajaran kooperatif stad (student teams achievement division) dalam meningkatkan prestasi belajar matematika

  • Author
    vocong

  • View
    226

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD … · i efektivitas metode pembelajaran kooperatif...

i

EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD

(STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION) DALAM

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

DITINJAU DARI AKTIVITAS SISWA

SMP NEGERI KOTA SURAKARTA

TESIS

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Mencapai Derajat Magister

Disusun Oleh:

LILIEK SRI WAHYUTI

S 850907113

Program Studi Pendidikan Matematika

Progran Pasca Sarjana

Universitas Sebelas Maret

Surakarta

2009

ii

EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD

(STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION) DALAM

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

DITINJAU DARI AKTIVITAS SISWA

SMP NEGERI KOTA SURAKARTA

Disusun oleh :

LILIEK SRI WAHYUTI NIM S850907113

Telah disetuji oleh tim PembimbingPada Tanggal : ..

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. Budiyono, M.Sc. Drs. Suyono, M.SiNIP. 130794455 NIP. 130529726

MengetahuiKetua Program Pendidikan Matematika

Dr. Mardiyana, M.SiNIP. 132046017

iii

EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD

(STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION) DALAM

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

DITINJAU DARI AKTIVITAS SISWA

SMP NEGERI KOTA SURAKARTA

Disusun oleh :

LILIEK SRI WAHYUTINIM S850907113

Telah Disetujui dan Disahkan oleh Tim Penguji

Pada Tanggal :

Jabatan Nama Tanda tangan

Ketua Dr. Mardiyana, M. Si ................................

Sekretaris Drs. Tri Atmojo K, M.Sc, Ph.D ...............................

Anggota Penguji :

1. Prof. Dr. Budiyono, M.Sc ..............................

2. Drs. Suyono, M.Si ...............................

.

Surakarta, Januari 2009

Mengetahui

Direktur PPs UNS Ketua Progdi Pendidikan Matematika

Prof. Drs. Suranto, M.Sc. Ph.D Dr. Mardiyana, M. Si

NIP: 131 472 192 NIP 132 046 017

iv

PERNYATAAN

Yang bertandatangan di bawah ini, saya

Nama : Liliek Sri Wahyuti

NIM : S850907113

Menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa tesis berjudul EFEKTIVITAS

METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD (STUDENT TEAMS

ACHIEVEMENT DIVISION) DALAM MENINGKATKAN PRESTASI

BELAJAR MATEMATIKA DITINJAU DARI AKTIVITAS SISWA SMP

NEGERI KOTA SURAKARTA adalah betul-betul karya saya sendiri. Hal-hal

yang bukan karya saya dalam tesis tersebut ditunjukkan dalam daftar pustaka.

Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia

menerima sanksi akademik berupa pencabutan tesis dan gelar yang saya peroleh

dari tesis tersebut.

Surakarta, Januari 2009

Yang membuat pernyataan,

Liliek Sri Wahyuti

v

MOTTO

Di dalam kesulitan pasti ada kemudahan.

Pandanglah sesuatu dari kacamata orang

lain. Apabila hal itu menyakitimu,

sangatlah mungkin hal itu menyakiti

orang lain pula.

Lakukan sesuatu dengan ikhlas, yakinlah

kepadaNya maka kebahagiaan akan datang

dengan izinNya.

vi

HALAMAN PERSEMBAHAN

Kuhaturkan syukurku padaMu ya Allah penolong dan pelindungku yang abadi.

Karya Tesis ini aku persembahkan untuk:

Nafas yang memberiku Islam, yang selalu menjagaku dengan doa,

tauladan dan kasih sayang pengorbanan bapak ibu, hormat bakti dan

terima kasihku untukmu.

Hati yang selalu membuatku besar, adik-adikku.

Suamiku tercinta Edy Iskandar, kepekaan dan kekuatan cintanya telah

mengilhami diriku menjadi yang terbaik.

Ketiga buah hatiku, mbak Lina, mas Dani dan dik Fira.

Teman-temanku Sigit dan Yuzak Bersama kita bisa

vii

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat

dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tesis ini. Pada

kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Suranto, M.sc, Ph.D, Direktor Program Pascasarjana Universitas

Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan fasilitas kepada penulis

untuk menyelesaikan makalah ini.

2. Prof. Dr. Budiyono, M.Sc, selaku mantan Asisten Direktur I Program Pasca

Sarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberikan

pengantar ijin penelitian sekaligus sebagai pembimbing I dalam penulisan

tesis ini.

3. Dr. Mardiyana, M.Si, selaku ketua Program Studi Pendidikan Matematika

Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah

memberikan dorongan dalam penulisan tesis ini.

4. Drs. Suyono, M.Si. selaku pembimbing II yang penuh kearifan telah

bersedia memberikan bimbingan , arahan dan masukan dalam penulisan

tesis ini.

5. Bapak/Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Matematika Program

Pascasarjana Universitas Sebelas Maret yang telah memberikan bekal ilmu

6. Drs. Joko Slameto, selaku kepala sekolah SMP Negeri 17 Surakarta yang

telah memberikan ijin penelitian untuk tesis ini.

7. Hj. Endang Mangularsih, S.Pd, MM, M.Pd selaku Kepala sekolah SMP

Negeri 19 Surakarta yang telah memberikan ijin penelitian pada tesis ini.

8. Drs. Joko Setyobudi Wibowo selaku Kepala sekolah SMP Negeri 23

Surakarta yang telah memberikan ijin penelitian pada tesis ini.

9. Drs. F. Handoyo, MM, Selaku Kepala sekolah SMP 10 Surakarta yang telah

memberikan ijin try out instrumen penelitian pada tesis ini.

10. Iswita Mulyahati, S.Pd, yang telah meluangkan waktunya untuk

membimbing penulisan instrumen Aktivitas Belajar Siswa.

viii

11. Bapak dan Ibu guru matematika SMP Negeri 17, 19 dan 23 yang telah

membantu penyelesaian tesis ini.

12. Teman teman mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Program

Pascasarjana Universitas Sebelas Maret yang telah memberikan bantuan

dan dorongan sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

13. Berbagai pihak yang telah membantu penyelesaian tesis ini yang tidak

tersebutkan satu persatu.

Atas segala jasa dari semua pihak yang telah membantu penulis

menyelesaikan tesis ini, kiranya Allah memberikan limpahan pahala kepadanya.

Amin

Surakarta, Januari 2009

Penulis

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING

HALAMAN PENGESAHAN TESIS

PERNYATAAN

MOTTO

HALAMAN PERSEMBAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DARTAR TABEL

DARTAR GAMBAR

DARTAR LAMPIRAN

ABSTRAK

ABSTRACT

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Identifikasi Masalah

C. Pemilihan Masalah

D. Pembatasan Masalah

E. Rumusan Masalah

F. Tujuan Penelitian

G. Manfaat Penelitian

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Pustaka

1. Pengertian Belajar Mengajar

2. Matematika

3. Metode Pembelajaran

4. Aktivitas Belajar Siswa

i

ii

iii

iv

v

vi

vii

ix

xi

xii

xiii

xiv

xv

1

3

4

4

5

5

6

7

7

10

15

21

x

B. Hasil Penelitian Yang Relevan

C. Kerangka Berpikir

D. Hipotesis Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

B. Jenis Penelitian

C. Populasi dan Sampel

D. Teknik Pengumpulan Data

E. Teknik Analisis Data

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Kemampuan Awal

B. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Angket

C. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes Prestasi

D. Deskripsi Data Prestasi

E. Analisis Variansi

F. Uji Lanjut Pasca Anava

G. Pembahasan

H. Keterbatasan penelitian

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Kesimpulan

B. Implikasi

C. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

25

27

30

31

31

33

34

42

54

54

55

57

57

60

61

63

64

65

67

69

71

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Rancangan Penelitian

Tabel 3.2 Rangkuman Analisis

Tabel 4.1 Discriptive Statistics Kemampuan Awal

Tabel 4.2 Discriptive Statistics Prestasi

Tabel 4.3 Rangkuman Hasil Uji Normalitas Prestasi

Tabel 4.4 Rangkuman Hasil Uji Homogenitas

Tabel 4.5 Rangkuman Hasil Uji Hipotesis

Tabel 4.6 Rataan Masing-masing Sel dari Data Uji Hipotesis

Tabel 4.7 Rangkuman Komparasi Ganda antar Kolom

32

51

54

57

58

58

59

60

61

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pemikiran 28

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Data kemampuan awal

Lampiran 2 : Uji Keseimbangan

Lampiran 3 : Kisi-kisi Angket Aktifitas

Lampiran 4 : Uji Coba Angket Aktifitas

Lampiran 5 : Validasi Angket Aktifitas

Lampiran 6 : Uji Konsistensi Internal dan Reliabilitas Angket

Lampiran 7 : Kisi-kisi Soal Try Out Test Prestasi

Lampiran 8 : Soal Try Out Test Prestasi

Lampiran 9 : Kunci Jawaban Try Out

Lampiran 10 : Validasi Sola Test Prestasi

Lampiran 11 : Uji Reliabilitas Test Prestasi

Lampiran 12 : Uji Daya Beda dan Tingkat Kesukaran Test Prestasi

Lampiran 13 : Instrumen Angket Aktifitas

Lampiran 14 : Instrumen Test Prestasi

Lampiran 15 : Nilai Angket Aktifitas

Lampiran 16 : Desain Data Prestasi

Lampiran 17 : Discriptive Statistik Prestasi

Lampiran 18 : Uji Normalitas

Lampiran 19 : Uji Homogenitas

Lampiran 20 : Uji Analisis Variansi Prestasi

Lampiran 21 : Uji Lanjut Pasca Anava

Lampiran 22 : RPP Kelompok Eksperimen

Lampiran 23 : RPP Kelompok Kontrol

Lampiran 24 : L K S

Lampiran 25 : Daftar Peringkat SMPN Kota Surakarta

Lampiran 26 : Tabel Statistik

Lampiran 27 : Surat Ijin dan Surat Keterangan Penelitian

71

75

77

78

86

88

91

93

97

98

100

102

104

110

114

126

127

128

146

150

152

154

160

166

172

173

179

xiv

ABSTRAK

Liliek Sri Wahyuti. S 850907113. Efektivitas Metode Pembelajaran Kooperatif STAD (Student Teams Achievement Divisions) Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Ditinjau Dari Aktivitas Siswa SMP Negeri Kota Surakarta. Tesis: Pendidikan Matematika Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2009.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Apakah siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif dengan metode STAD (Student Teams Achievement Divisions) mempunyai prestasi belajar lebih baik dari pembelajaran konvensional. (2) Apakah siswa dengan aktivitas tinggi mempunyai prestasi belajar lebih baik dari siswa dengan aktivitas sedang, dan rendah. (3) Apakah perbedaan prestasi belajar bilangan bulat dari masing-masing pendekatan pembelajaran konsisten pada masing-masing kategori aktivitas siswa dan perbedaan prestasi belajar bilangan bulat dari masing-masing kategori aktivitas siswa konsisten pada masing-masing pendekatan pembelajaran.

Penelitian ini termasuk eksperimental semu yang dilakukan di SMPN KotaSurakarta, kelas VII semester pertama tahun pelajaran 2008/2009. Data penelitian ini berupa nilai UASBN SD untuk variabel kemampuan awal, skor angket untuk variabel aktivitas siswa terhadap matematika dan skor tes prestasi. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara sampling random stratifikasi (stratified random sampling) dan sampling random kluster (cluster random sampling). Pengumpulan datanya dilakukan melalui dokumen sekolah, angket aktivitas dan tes prestasi. Sebelum angket aktivitas dan tes prestasi digunakan, terlebih dahulu dilakukan uji coba instrumen. Pada uji coba tes prestasi belajar matematika diuji tentang konsistensi, reliabilitas, indeks kesukaran dan daya beda. Sedangkan uji coba instrumen angket aktivitas siswa diuji tentang konsistensi dan reliabilitas.Hasil uji coba instrumen diperoleh nilai uji reliabilitas dengan model KR-20 pada tes prestasi belajar adalah 0,8628 dan nilai uji reliabilitas dengan model Alpha pada angket aktivitas adalah 0,8901. Sebelum melakukan penelitian terlebih dahulu dilakukan uji keseimbangan menggunakan uji rerata t untuk mengetahui bahwa kelompok eksperimen dan kontrol mempunyai kemampuan awal yang sama/seimbang. Hasil uji keseimbangan adalah antara siswa pada metodepembelajaran kooperatif STAD dan metode konvensional adalah seimbang. Pengujian hipotesis menggunakan Anava dua jalan dengan frekuensi sel tak sama, dengan taraf signifikan 5%. Sebelumnya dilakukan uji prasyarat yaitu: uji normalitas menggunakan uji Liliefors dan uji homogenitas menggunakan uji Bartlett. Hasil uji prasyarat adalah sampel berasal dari populasi berdistribusi normal serta berdasarkan metode pembelajaran dan kategori aktivitas sampel berasal dari populasi-populasi yang mempunyai variansi homogen.

Dari hasil analisis disimpulkan : (1) siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif dengan metode STAD mempunyai prestasi belajar lebih baik daripada siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional. (2) Siswa dengan aktivitas tinggi mempunyai prestasi belajar lebih baik dari siswa dengan

xv

aktivitas sedang, dan rendah. (3) Perbedaan prestasi belajar bilangan bulat dari masing-masing pendekatan pembelajaran konsisten pada masing-masing kategori aktivitas siswa dan perbedaan prestasi belajar bilangan bulat dari masing-masing kategori aktivitas siswa konsisten pada masing-masing pendekatan pembelajaran.

xvi

ABSTRACT

Liliek Sri Wahyuti. S850907113. The Effectiveness of Cooperative Learning with STAD (Student Teams Achievement Division) Method in the Improving on the Learning Achievement in Mathematics Viewed from the Students' Learning Activities of Junior Secondary Schools in Surakarta City. Thesis: The Master Program in Mathematics Education, Postgraduate Program, Sebelas Maret University Surakarta, 2009.

This research is aimed at finding out: (1) whether the students instructed with the cooperative learning with STAD method have a better achievement in Mathematics than those instructed with the conventional one; (2) whether the students with the high learning activities have a better achievement in Mathematics than those with the moderate and low learning activities; and (3) whether the difference of learning achievement in the topic of Integer Number of each of the learning methods is consistent with each category of the students' learning activities and that of learning achievement in the topic of Integer number of each category of the students' learning activities is consistent with each of the learning methods.

This research is a query experimental one. It was conducted at Junior Secondary Schools in Surakarta City. Its population was all of the students in Grade VII in the academic year of 2008/2009. Its samples were taken through a stratified random sampling technique and a cluster random sampling technique. They were then divided into two groups, experimental group and control group. In order to assure that both of the group had an equal/balanced initial ability, balance test was carried out by using / average test. The result of the test shows that the initial ability of the students instructed with the cooperative learning with STAD method and that of the students instructed with the conventional one were balanced. Data of the research were gathered through content analysis (schools' documents), questionnaire of learning activities, and test of achievement. Prior to their use, the questionnaire and test instruments were tested. The former was tested in terms of consistency and reliability, whereas the latter was tested in terms of consistency, reliability, difficulty index, and difference index. The value of the reliability of the test instrument which was tested by using KR-20 was 0.8628, and that of the reliability of the questionnaire which was tested by using Alpha model was 0.8901. The hypotheses proposed were tested by using a two-way Analysis of Variants (ANOVA) with an unequal cell frequency at the significance level of 5%. Beforehand, pre-requisite tests including normality test by using Liliefors test and homogeneity test by using Bartlett test were conducted. The results of the tests show that (1) the samples were derived from population with a normal distribution, and (2) based on the learning methods and category of learning activities, the samples were derived from population with homogenous variances.

Based on the results of the analysis, conclusions are drawn as follows: (1) the students instructed with the cooperative learning with the STAD method have a better learning achievement in Mathematics than those instructed with the conventional one; (2) the students with the high learning activities have a better achievement in Mathematics than those with the moderate and low learning

xvii

activities; and (3) the difference of learning achievement in the topic of Integer Number of each of the learning methods is consistent with each category of the students' activities, and that of learning achievement in the topic of Integer Number of each category of the students' learning activities is consistent with each of the learning methods.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada era globalisasi di Negara Republik Indonesia, Pendidikan

Nasional sedang membenahi diri untuk mengejar ketinggalan dengan

negara-negara tetangga. Berdasarkan data dari

(PISA) 2003, menyatakan bahwa peringkat prestasi

matematika Indonesia jauh dibawah prestasi matematika internasional dan

berada pada rangking 37 dari 41 negara.

Demikian pula data yang diperoleh dari Dinas Pendidikan dan Olah

Raga (Dispora) Kota Surakarta, menunjukkan bahwa nilai Ujian Nasional SMP

/ MTs tahun pelajaran 2007/2008 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia nilai

rata-rata 7,06; Bahasa Inggris nilai rata-rata 5,92; Matematika nilai rata-rata

5,09; dan IPA nilai rata-rata 5,92. Tampak jelas bahwa dari mata pelajaran

yang diujikan, matematika menduduki peringkat terakhir. Hal demikian

menjadi tantangan bagi kita sebagai warga negara dan sebagai tenaga pendidik

khususnya mata pelajaran matematika.

Salah satu usaha yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu

pendidikan adalah perubahan kurikulum yang saat ini dinamakan dengan istilah

KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Dengan adanya

penyempurnaan kurikulum diharapkan mutu dan kualitas pendidikan di tanah

air menjadi lebih baik.

Matematika adalah ibu dari semua ilmu, akan tetapi anggapan siswa

1

Programme for International

Student Assessment

2

terhadap pelajaran matematika sebagai momok yang menakutkan masih belum

bisa hilang. Yansen Marpaung (2003) mengungkapkan "pada umumnya siswa

takut pada pelajaran matematika karena dianggap sulit, abstrak dan tak

bermakna, pelajaran matematika membuat siswa stress, bahan yang dipelajari

terlalu banyak, matematika penuh dengan rumus-rumus, guru matematika pada

umumnya galak-galak dan pembelajaran berlangsung serius dan kurang

manusiawi". Selanjutnya dampak pada siswa yaitu siswa dalam memahami,

menerima dan mempelajari matematika menjumpai banyak kesulitan maupun

kasalahan. Salah satu kesalahan yang sering dilakukan peserta didik adalah

kesalahan dalam memahami konsep (miskonsepsi). Dalam matematika konsep

merupakan obyek utama yang dipelajari sebelum sampai pada penalaran dan

komunikasi serta pemecahan masalah.

Dengan mengetahui kesalahan peserta didik dalam memahami konsep

yang lebih sederhana kemudian melakukan perbaikan terhadap pemahaman

konsep tersebut, berarti memperkecil kemungkinan peserta didik mengalami

kesalahan dalam pemahaman konsep-konsep berikutnya dengan tingkat

kesulitan yang lebih tinggi. Dengan demikian diharapkan siswa benar-benar

memahaminya, sehingga prestasi peserta didik dapat ditingkatkan secara

optimal.

Terdapat beberapa materi matematika di kelas VII SMP di antaranya

"Bilangan Bulat" untuk dapat menguasai pokok bahasan ini diperlukan

pemahaman konsep-konsep bilangan bulat. Terutama operasi hitung pada

bilangan bulat. Kesalahan siswa sering terjadi terutama pada operasi bilangan

3

bulat negatif sehingga kesalahan-kesalahan itu akan berlanjut pada pembahasan

pokok bahasan lainnya.

Dari latar belakang tersebut di atas, maka pada bagian ini penulis

mencoba mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:

1. Adanya kesalahan dalam memahami konsep (miskonsepsi) dalam operasi

hitung bilangan bulat, mungkin disebabkan oleh pendekatan pembelajaran

yang diberikan tidak sesuai. Terkait dengan ini perlu dilakukan penelitian

yang membandingkan pendekatan baru dengan pendekatan lama.

2. Adanya kesalahan dalam memahami konsep (miskonsepsi) dalam operasi

hitung bilangan bulat, mungkin disebabkan oleh sarana pembelajaran

yang diberikan tidak memadai. Terkait dengan ini perlu dilakukan

penelitian yang membandingkan antara penggunaan alat peraga dan

pembelajaran dengan media.

3. Adanya kesalahan dalam memahami konsep (miskonsepsi) dalam operasi

hitung bilangan bulat, mungkin disebabkan oleh metode pembelajaran

yang diberikan tidak sesuai. Terkait dengan ini pertu dilakukan penelitian

yang membandingkan antara metode STAD dengan metode konvensional.

4. Adanya kesalahan dalam memahami konsep (miskonsepsi) dalam operasi

hitung bilangan bulat, mungkin disebabkan karena para siswa tidak

mempunyai semangat dan motivasi yang tinggi untuk belajar. Penelitian

yang muncul dari hal ini adalah bagaimana merancang pembelajaran

menyenangkan, sehingga dapat meningkatkan semangat dan motivasi

B. Identifikasi Masalah

4

dalam belajar matematika khususnya mengenai belajar operasi hitung

bilangan bulat.

5. Aktivitas belajar siswa sangat diperlukan dalam pembelajaran operasi

hitung bilangan bulat. Akan tetapi tidak sedikit siswa yang belum

sepenuhnya ikut berperan aktif. Partisipasi aktif siswa yang masih kurang

inilah yang mungkin ikut mempengaruhi rendahnya prestasi belajar

matematika.

Karena keterbatasan waktu, maka hanya akan dicoba menyelesaikan

masalah penelitian yang ketiga dan kelima dari lima masalah yang telah

teridentifikasi di atas.

Agar dalam penelitian yang dilakukan penulis terarah maka perlu

adanya pembatasan masalah sebagai berikut:

1. Pembelajaran yang dibandingkan adalah pembelajaran kooperatif dengan

metode STAD pada kelas eksperimen dan metode konvensional pada kelas

kontrol.

2. Prestasi belajar matematika siswa adalah hasil belajar siswa yang dicapai

melalui proses pembelajaran matematika pada akhir penelitian pokok

bahasan bilangan bulat untuk kelas eksperimen maupun kelas kontrol.

3. Aktivitas belajar siswa dalam penelitian in i dibatasi pada aktivitas belajar

C. Pemilihan Masalah

D. Pembatasan Masalah.

5

matematika siswa , meliputi kegiatan bertanya, mencatat, mendengarkan,

mengerjakan soal, dan mempelajari catatan matematika yang telah

diajarkan. Dan aktivitas siswa ini dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu:

aktivitas tinggi, sedang dan rendah.

4. Penelitian dilakukan pada SMP Negeri kota Surakarta .

Berdasarkan pembatasan masalah, dapat dirumuskan masalah sebagai

berikut:

1. Apakah siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif dengan

metode STAD ( ) mempunyai prestasi belajar

lebih baik dari pembelajaran konvensional ?

2. Apakah siswa dengan aktivitas tinggi mempunyai prestasi belajar lebih

baik dari siswa dengan aktivitas sedang, dan rendah ?

3. Apakah perbedaan prestasi belajar bilangan bulat dari masing-masing

pendekatan pembelajaran konsisten pada masing-masing kategori

aktivitas siswa dan perbedaan prestasi belajar bilangan bulat dari

masing-masing kategori aktivitas siswa konsisten pada masing-masing

pendekatan pembelajaran ?

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka

tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk:

1. Membandingkan hasil penggunaan pembelajaran kooperatif dengan

metode STAD ( ) dan pembelajaran

konvensional.

E. Rumusan Masalah

F. Tujuan Penelitian

Student Achievement Divisions

Student Teams Achievement Divisions

6

2. Membandingkan prestasi belajar matematika pada pokok bahasan

bilangan bulat, siswa dengan aktivitas tanggi lebih baik daripada siswa

dengan aktivitas sedang dan aktivitas rendah

3. Mengetahui perbedaan prestasi dari masing-masing kategori aktivitas dan

masing-masing metode pembelajaran.

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat yaitu :

1. Manfaat Praktis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan suatu inovasi

dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan pembelajaran

maupun metode pembelajaran untuk meningkatkan prestasi belajar

matematika.

b. Memberi motivasi kepada peserta didik agar lebih berprestasi dengan

meningkatkan aktivitas dan keterampilan berpikirnya dengan melakukan

penyelidikan dan mencari solusi terhadap masalah-masalah faktual.

2. Manfaat Teoritis

a. Untuk mengetahui efektivitas pembelajaran kooperatif dengan

metode STAD terhadap prestasi belajar matematika kelas VII pada

materi pokok bilangan bulat.

b. Untuk menambah dan mengembangkan wawasan ilmu pengetahuan

serta mendukung teori-teori yang telah ada.

c. Untuk penelitian lanjutan di bidang yang sama atau yang ada kaitannya

dengan materi ini.

G. Manfaat Penelitian.

7

Belajar adalah merupakan sebuah proses yang terjadi pada setiap

individu. Banyak para ahli yang berpendapat tentang belajar,

perbedaan tersebut disebabkan oleh latar belakang dan sudut pandang yang

berbeda. Beberapa pendapat tentang belajar antara lain:

1) Belajar adalah suatu tahapan aktivitas yang menghasilkan perubahan

perilaku dan mental yang relatif tetap sebagai bentuk respons

terhadap suatu situasi atau sebagai hasil pengalaman dan interaksi

dengan lingkungan.

2) Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk

memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara

keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi

dengan lingkungannya. (Slameto, 2003: 2)

Teori belajar berisi tentang kegiatan mental anak yang dapat ia lakukan

pada usia tertentu. Banyak para ahli yang berpendapat tentang teori belajar

salah satunya adalah Zolon P. Dienes (dalam Endang Sri Ningsih, 2001:10).

Dienes berpendapat ada 6 tahap dalam belajar dan mengajarkan matematika,

7

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Pustaka

1. Pengertian Belajar Mengajar

a. Pengertian Belajar

b. Teori Belajar

8

yaitu: 1) Bermain bebas

Ada tahap permulaan anak-anak belajar matematika, anak bermain

dengan benda kongkrit model matematika, anak belajar konsep

matematika dengan manipulasi benda-benda kongkrit secara tidak

disengaja anak berkenalan dengan konsep matematika. Makin

banyak benda / model matematika akan lebih banyak pula

pengalaman yang diterima anak.

2) Permainan

Pada tahap ini anak mulai mengamati pola, sifat kesamaan /

ketidaksamaan, keteraturan / ketidakteraturan suatu konsep yang

diwakili oleh benda-benda kongkrit model matematika.

3) Penelaahan sifat bersama

Dalam permainan anak mungkin belum melihat sifat bersama dan

setiap konsep yang disajikan oleh benda kongkrit. Pada tahap ini

anak mulai menghayati yang akhirnya diharapkan dapat

menunjukkan contoh yang benar.

4) Representasi

Anak mulai belajar membuat pernyataan tentang sifat bersama yang

ditemukan, pernyataan dapat berupa diagram atau tulisan.

5) Penyimbolan

Anak mulai belajar simbol, pada permulaan anak diberi

kesempatan menentukan simbol sendiri, tetapi dari keragaman guru

harus menentukan simbol sesuai konversi yang berlaku.

9

6) Pemformulaan

Anak belajar mengorganisasikan konsep-konsep matematika

secara formal pada aksioma, dalil atau teori

Metode pembelajaran adalah suatu cara yang dipakai atau

digunakan dalam proses pembelajaran. Dalam penerapan suatu metode

pembelajaran yang harus diperhatikan adalah apakah dengan penerapan

metode itu pembelajaran menjadi efektif dan efisien. Metode pembelajaran

yang sering digunakan dalam pembelajaran matematika antara lain :

1) Metode Ceramah

Adalah cara menyampikan materi pembelajaran yang dilakukan

guru dengan penuturan lisan secara langsung kepada siswa.

2) Metode Tanya Jawab

Yaitu cara penyampaian materi dengan tanya jawab (materi

disampaikan dengan dialog pertanyaan)

3) Metode Permainan

Yang dimaksud permainan di sini adalah permainan

matematika yaitu penyampaian materi dengan permainan. Pada

umumnya siswa akan tertarik sehingga pembelajaran akan

menyenangkan (mudah dipahami siswa)

4) Metode Penemuan

Yaitu dengan mengatur pembelajaran sedemikian rupa

sehingga siswa memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum

c. Metode Pembelajaran

10

diketahui tanpa pemberitahuan, sebagaimana ditemukan oleh siswa.

5) Dengan Multimedia

Yang dimaksud multimedia di sini yaitu pembelajaran dengan

menggunakan komputer, sehingga pembelajaran akan bermakna

(menyenangkan dan tidak membosankan)

a. Hakekat Matematika

Matematik menurut Ebbut & Straker (Depdikbud. 2004 : 3) adalah :

1) Matematika sebagai kegiatan penulusuran pola dan hubungan.

2) Matematika sebagai kreatifitas yang memerlukan imajinasi, intuisi dan

penemuan.

3) Matematika sebagai kegiatan pemecahan masalah.

4) Matematika sebagai alat komunikasi.

Pada dasarnya obyek pembicaraan matematika adalah obyek

abstrak dan metodeloginya adalah deduktif. Ciri khas yang dapat dilihat dari

matematika (Sholeh M.2000 : 6) adalah:

1) Obyek pembicaraan abstrak.

2) Pembahasannya mengandalkan tata nalar.

3) Pengertian/konsep atau pernyataan/sifat jelas berjenjang dan terjaga

konsistensinya.

4) Melibatkan perhitungan atau pengerjaan/operasi.

5) Dapat dialih gunakan dalam berbagai aspek keilmuan maupun dalam

kehidupan sehari-hari.

2. Matematika

11

Sementara Robert M. Gagne (Suwarsono, 2002 : 17) menyatakan bahwa

ada dua macam obyek matematika, yaitu :

1) Obyek langsung yang meliputi:

a) Fakta-fakta matematika.

b) Konsep-konsep matematika

c) Prinsip-prinsip matematika

d) Ketrampilan-ketrampilan matematika

2) Obyek tak langsung yang meliputi kemampuan berpikir logis,

kemampuan memecahkan masalah, kemampuan berpikir analitis, sikap

positif terhadap matematika, ketelitian, ketekunan, kedisiplinan dan

hal-hal lain yang diperoleh jika siswa mempelajari matematika.

Jadi matematika sekolah adalah salah satu mata pelajaran dalam

kurikulum pendidikan di Indonesia yang diajarkan mulai sekolah dasar, sekolah

menengah yang mempelajari bagian-bagian matematika yang telah dipilah

sesuai dengan perkembangan intelektual siswa atas pertimbangan pedagogik

sehingga memiliki karakteristik dan ciri khas yang berbeda dengan matematika

murni sebagai ilmu pengetahuan.

Sebagai bagian dari kurikulum maka matematika sekolah turut

mengalami perubahan seiring dengan perubahan kurikulum. Pendidikan

matematika menekankan pada kemampuan kompetensi yang mana matematika

sekolah dikembangkan dari standar kompetensi menjadi kompetensi dasar.

Standar kompetensi matematika adalah kualifikasi kemampuan minimal peserta

didik yang menggambarkan penguasaan sikap, pengetahuan dan keterampilan

12

yang diharapkan dicapai pada setiap tingkat. Standar kompetensi terdiri dari

beberapa kompetensi dasar sebagai acuan baku yang harus dicapai dan berlaku

secara nasional. Kompetensi dasar matematika merupakan sejumlah

kemampuan yang harus dimiliki peserta didik dalam mata pelajaran matematika

sebagai rujukan untuk menyusun indikator kompetensi.

Sistem penilaian yang dikembangkan dalam matematika adalah sistem

penilaian berbasis kompetensi yang memperhatikan ranah kognitif yaitu

berhubungan dengan ingatan, afektif adalah pemahaman pada materi

pembelajaran dan psikomotor adalah ketrampilan siswa dalam pemecahan

masalah. Adapun fungsi dari pembelajaran matematika adalah mengembangkan

kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan

rumus-rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui

materi pengukuran dan geometri, aljabar, trigonometri serta mengembangkan

kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan bahasa melalui model

matematika yang dapat berupa kalimat dan persamaan matematika.

b. Pengertian Prestasi Belajar Matematika

Suaru proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila standar

kompetensi dan kompetensi dasarnya tercapai. Proses pembelajaran

menghasilkan perubahan pada siswa, dimana perubahan tersebut berupa

kemampuan di berbagai bidang yang sebelumnya tidak dimiliki siswa . Menurut

Gagne dan Winkel ( 1996:482 ), kemampuan-kemampuan itu digolongkan atas

kemampuan dalam hal informasi verbal, kemahiran intelektual, pengaturan

13

kegiatan kognitif, kemampuan motorik, dan sikap. Kemampuan-kemampuan

tersebut merupakan kemampuan internal yang harus dinyatakan dalam suatu

prestasi.

Menurut Poerwadarminto (1997), "Prestasi belajar adalah penguasaan

pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran,

lazimnya ditunjukkan dengan nilia tes atau angka yang diberikan guru".

Selain itu Sukardi dan Anton Sukarno ( 1995 : 14 ) mengemukakan

bahwa, hasil belajar dalam bentuk nilai atau indeks pretasi adalah merupakan

pertanda tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang diikuti

selama proses belajar. Indeks prestasi akan membawa konsekuensi yang sangat

luas dalam perjalanan studi siswa.

Dari beberapa pendapat tentang prestai belajar, maka dapat diambil

kesimpulan bahwa prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai siswa

selama proses pembelajaran, atau tingkat tingkat penguasaan yang dicapai siswa

dalam mengikuti proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan nilai tes yang

diberikan oleh guru.

c. Guru Matematika

Menurut UU Nomor 16 tahun 2007, guru adalah pendidik profesional

dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih

dan menilai dan mengevaluasi peserta didik dan pendidikan anak usia dini jalur

pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Profesi guru merupakan pekerjaan khusus yang dilaksanakan

14

berdasarkan prinsip sebagai berikut:

1) Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme.

2) Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan,

ketakwaan dan akhlak mulia.

3) Memiliki kualif ikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai

dengan bidang tugas.

4) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas.

5) Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan.

6) Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja.

7) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara

berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat.

8) Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas

keprofesionalan dan

9) Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur

hal- hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

Kewajiban guru menurut UU Nomor 16 tahun 2007

1) Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran

yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.

2) Meningkatkan dan mengembangkan kualif ikasi akademik dan

kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu

pengetahuan, tekhnologi dan seni.

3) Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis

kelamin, agama, suku, ras dan kondisi f isik tertentu, atau latar

belakang keluarga dan status sosial ekonomi peserta didik dalam

15

pembelajaran.

4) Menjunjung tinggi peraturan pendidikan perundang-undangan, hukum

dan kode etik guru, serta nilai - nilai agama dan etika dan

5) Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

Hampir disetiap sekolah, sebagian besar dalam kegiatan pembelajaran,

guru masih menggunakan metode konvensional. Menurut Asep jihad (2008:24)

metode pembelajaran adalah cara menyampaikan materi pelajaran kepada

siswa yang diajar.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (1005:593) menyebutkan bahwa

konvensional adalah tradisional. Dalam pembelajaran matematika yang disebut

metode konvensional adalah metode ekspositori. Hal ini sesuai pendapat

Purwoto (2003:69), cara mengajar matetematika yang pada umumnya

digunakan para guru matematika adalah lebih tepat dikatakan metode

ekspositori daripada metode ceramah. Metode ekspositori tidak sama dengan

metode ceramah.

Pada metode ekspositore proses pembelajaran berpusat pada guru, guru

memberikan informasi menerangkan suatu konsep, memberikan kesempatan

peserta didik bertanya, guru memberikan contoh soal dan siswa diminta

mengerjakan soal secara individu maupun secara berkelompok. Sedangkan

metode ceramah, dominasi guru pada metode ekspositore banyak dikurangi.

Guru tidak banyak berbicara tetapi guru memberi informasi hanya pada saat

tertentu misalnya pada topik, pada waktu memberikan contoh soal atau pada

3. Metode Pembelajaran

a. Metode Konvensional

16

waktu permulaan pembelajaran.

Sedangkan kelebihan dan kekurangan metode konvensional menurut

Purwoto (2003: 67) adalah:

1) Dapat menampung kelas besar, tiap murid mempunyai kesempatan yang

sama untuk mendengarkan, dan karenanya biaya yang diperlukan menjadi

relatif lebih murah.

2) Bahan pelajaran atau keterangan dapat diberikan secara lebih urut oleh guru.

Konsep-konsep yang disajikan secara hirarki memberikan fasilitas belajar

kepada siswa.

3) Guru dapat memberi tekanan terhadap hal-hal yang penting, hingga waktu

dan energi dapat digunakan sebaik mungkin.

4) Isi silabus dapat diselesaikan dengan lebih mudah, karena guru tidak harus

menyesuaikan dengan kecepatan belajar siswa.

5) Kekurangan atau tidak adanya buku pelajaran dan alat bantu pelajaran, tidak

menghambat dilaksanakannya pelajaran dengan ceramah.

1) Pelajaran berjalan membosankan murid dan murid menjadi pasif, karena

tidak punya kesempatan untuk menentukan sendiri konsep yang diajarkan.

Murid hanya aktif membuat catatan saja.

2) Kepadatan konsep-konsep yang diberikan dapat berakibat murid tidak

mampu menguasai bahan yang diajarkan.

3) Pengetahuan yang diperoleh melalui ceramah lebih cepat terlupakan.

Kelebihannya:

Kekurangannya:

17

4) Ceramah menyebabkan belajar murid menjadi belajar menghafal (rote

learning) yang tidak mengakibatkan timbulnya pengertian.

Dalam metode pembelajaran ini, proses belajar mengajar lebih banyak

terpusat pada guru sehingga siswa akan merasa cepat jenuh.

1) Konsep Dasar Pembelajaran Kooperatif.

Manusia mempunyai derajat potensi, latar belakang histories, serta

harapan masa depan yang berbeda-beda. Karena perbedaan itu manusia dapat

saling asah, asih, dan asuh (saling mencerdaskan). Pembelajaran kooperatif

menciptakan interaksi yang asah, asih, dan asuh sehingga tercipta masyarakat

belajar ( ). Siswa tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga

dari sesama siswa. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara

sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang saling asuh untuk

menghindari ketersinggungan dan kesalah pahaman yang dapat menimbulkan

permusuhan, sebagai latihan hidup di masyarakat.

2) Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat

elemen-elemen yang saling terkait. Elemen-elemen pembelajaran kooperatif

menurut Lie (Sugiyanto, 2007: 22) adalah :

a) Saling ketergantungan positif

Dalam pembelajaran Kooperatif, guru menciptakan suasana yang

saling membutuhkan. Hubungan yang saling membutuhkan inilah yang

b. Pembelajaran Kooperatif

Learning community

18

dimaksud dengan saling ketergantungan positif. Saling ketergantungan

dapat dicapai melalui: (1) saling ketergantungan mencapai tujuan, (2)

saling ketergantungan menyelesaikan tugas, (3) saling ketergantungan

bahan atau sumber, (4) saling ketergantungan peran, (5) saling

ketergantungan hadiah;

b) Interaksi tatap muka

Interaksi tatap muka akan memaksa siswa saling tatap muka dalam

kelompok, sehingga mereka dapat berdialog. Dialog tidak hanya

dilakukan dengan guru. Interaksi sernacam ini sangat penting karena

siswa merasa lebih mudah belajar dari sesamanya. Ini juga

mencerminkan konsep pembelajaran teman sebaya.

c) Akuntabilitas individual

Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar

kelompok. Penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa

terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil penilaian secara

individual selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar

semua anggota kelompok mengetahui siapa anggota kelompok yang

memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan. Nilai

kelompok didasarkan atas nilai rata-rata hasil belajar semua

anggotanya, karena itu setiap anggota kelompok harus memberikan

sumbangan demi kemajuan kelompok. Penilaian kelompok yang

didasarkan atas rata-rata penguasaan semua anggota kelompok secara

individual ini yang dimaksud dengan akuntabilitas individual,

19

d) Ketrampilan menjalin hubungan antar

pribadi

Ketrampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman,

berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain,

mandiri, dan berbagiai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin

hubungan antar pribadi ( ) tidak hanya

diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan. Siswa yang tidak dapat

menjalin hubungan antar pribadi akan memperoleh teguran dari guru,

juga dari sesama siswa.

Ada banyak nilai pembelajaran kooperatif diantaranya adalah:

1) Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial

2) Memungkinkan para siswa mengenal saling belajar mengenai

sikap, ketrampilan, informasi, perilaku sosial, dan

pandangan-pandangan

3) Memudahkn siswa melakukan penyesuaian sosial

4) Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan

komitmen.

5) Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri dan egois.

6) Membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa.

7) Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari

berbagai perspektif.

8) Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan

interpersonal relationship

c. Keuntungan Pembelajaran Kooperatif

20

lebih baik.

Metode STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan kawan

dari universitas John Hopkins. Metode ini dipandang paling sederhana dan

paling langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif. Para guru

menggunakan metode STAD untuk mengajarkan informasi akademik baru

kepada siswa setiap minggu, baik melalui penyajian verbal maupun tertulis.

Langkah-langkahnya:

1) Para siswa didalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok atau tim,

masing-masing terdiri atas 4 atau 5 anggota. Tiap tim memiliki anggota

yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuan (tinggi,

sedang, rendah).

2) Tiap anggota tim menggunakan lembar kerja akademik dan kemudian

saling membantu untuk mengetahui bahan ajar melalui tanya jawab atau

diskusi antar sesama anggota tim.

3) Secara individual atau tim, tiap minggu atau dua minggu guru

mengevaluasi untuk merngetahui penguasaan mereka terhadap bahan

akademik yang telah dipelajari.

4) Tiap siswa dan tiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar

dan kepada siswa secara individu atau tim yang meraih prestasi tinggi atau

meraih skor sempurna diberi penghargaan. Kadang-kadang beberapa atau

lebih semua tim memperoleh penghargaan jika mampu meraih suatu

kriteria atau standar tertentu.

d. Metode STAD ( )Student Teams Achievement Divisions

21

Dari uraian di atas dapat disebutkan keunggulan dari metode STAD yaitu:

1) Dapat memberi keuntungan baik pada siswa pandai maupun kurang pandai

dalam kemampuan akademiknya.

2) Siswa belajar untuk saling menghargai satu sama lain meskipun berbeda

latar belakangnya.

3) Mengajarkan pada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi.

4) Materi yang dipelajri siswa akan melekat untuk periode waktu yang lebih

lama.

:

1) Membutuhkan banyak waktu dalam mempersiapkan pembelajaran.

2) Membutuhkan lebih banyak biaya.

3) Guru dan siswa belum terbiasa dengan metode pembelajaran kooperatif

STAD.

Aktivitas sangat diperlukan dalam belajar, karena pada dasarnya belajar

adalah berbuat sesuatu untuk mengubah tingkah laku. Menurut kamus besar bahasa

Indonesia (1996:17), aktivitas berarti keaktivan, kegiatan atau kesibukan. Dalam

kegiatan pembelajaran, aktivitas yang dimaksud adalah aktivitas yang bersifat fisik

maupun mental. Keduanya harus selalu terkait (Nasution, 1995:89).

Pendapat yang dikemukakan oleh Montessori dalam Sardiman A,M

(1994:95) menegaskan bahwa anak-anak memiliki tenaga untuk berkembang

sendiri, membentuk sendiri. Pendidik akan berperan sebagai pembimbing dan

mengamati bagaimana perkembangan anak didiknya. Pernyataan Montessori

Sedangkan kelemahannya adalah

4. Aktivitas Belajar siswa

22

tersebut memberikan petunjuk bahwa yang lebih banyak melakukan aktivitas di

dalam pembentukan diri anak itu sendiri, sedang pendidik hanya memberikan

bimbingan dan merencanakan segala kegiatan yang akan diperbuat oleh anak didik.

Pedapat lain yang dikemukakan oleh Rousseau dalam Sardiman A.M (1994:95)

memberikan penjelasan bahwa dalam kegiatan belajar segala pengetahuan harus

diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan sendiri,

dengan bekerja sendiri, dengan fasilitas yang diciptakan sendiri, baik secara rohani

maupun teknis. Hal ini menunjukan bahwa setiap orang yang bekerja harus aktif

sendiri, tanpa andanya aktivitas maka proses belajar tidak mungkin terjadi.

Dari beberapa pendapat di atas diperoleh kesimpulan bahwa aktivitas

belajar siswa adalah kegiatan belajar yang dilakukan siswa dengan cara mengamati

sendiri, pengalaman sendiri, menyelidiki sendiri, dan bekerja secara aktif dengan

fasilitas yang diciptakan sendiri untuk berkembang sendiri dengan bimbingan dan

pengamatan dari guru.

Dalam mengajar guru hendaknya jangan aktif sendiri, tetapi guru harus

memberi kesempatan kepada siswa agar turut mengambil bagian yang aktif dalam

proses belajar mengajar. Guru harus berusaha membangkitkan aktivitas siswa

dalam menerima pelajaran baik aktivitas jasmani maupun rohani. Aktivitas jasmani

meliputi : melakukan percobaan, berkebun dan lain-lain, sedang aktivitas rohani

meliputi memecahkan persoalan, mengambil keputusan, dan lain-lain.

Untuk membangkitkan keaktivan rohani, guru perlu :

a. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan membimbing diskusi kepada

murid-murid.

b. Memberikan tugas-tugas untuk memecahkan masalah, menganalisis,

23

mengambil keputusan dan sebagainya.

c. Menyelenggarakan berbagai percobaan dengan menyimpulkan keterangan,

memberikan pendapat dan sebagainya.

Untuk membangkitkan keaktifan jasmani, guru perlu :

a. Menyelenggarakan berbagai bentuk pekerjaan ketrampilan di laboratorium , dan

sebaginya.

b. Mengadakan pameran, karyawisata, dan sebagainya.

Berikut ini merupakan prinsip-prinsip aktivitas belajar dari sudut pandang

ilmu jiwa yang dibagi menjadi dua pandangan, yaitu :

a. Menurut Pandangan Ilmu Jiwa Lama.

Dalam proses belajar mengajar, guru senantiasa mendominasi kegiatan.

Dimana guru aktif dan segala inisiatif dari guru, tetapi siswa terlalu pasif.

Aktivitas siswa terbatas pada mendengarkan, mencatat dan menjawab jika

ditanya guru. Dalam hal ini, siswa bekerja atas perintah guru dan berfikir

menurut yang digariskan oleh guru. Pada proses belajar mengajar semacam ini

tidak mendorong anak didik untuk berfikir dan beraktivitas, sehingga tidak

sesuai dengan hakekat pribadi anak didik sebagai subjek belajar.

b. Menurut Pandangan Ilmu Jiwa Modern.

Aliran jiwa yang tergolong modern akan menerjemahkan jiwa manusia

itu sebagai sesuatu yang dinamis, memilik i potensi dan energi sendiri, sehingga

secara alami anak didik itu juga bisa menjadi aktif, karena adanya motivasi dan

dorongan oleh macam-macam kebutuhan. Anak didik dipandang mempunyai

potensi untuk berkembang. Tugas pendidik adalah membimbing dan

24

menyediakan kondisi agar anak didik dapat mengembangkan bakat dan

potensinya. Dalam hal ini anaklah yang beraktivitas, berbuat dan aktif sendiri.

Aktivitas belajar siswa tidak cukup hanya mendengarkan dan

mencatat saja. Banyak jenis aktifitas yang dapat dilakukan oleh siswa di

sekolah. Paul B. Diedrch dalam Sardiman A.M (1994 : 99) membuat suatu

daftar aktivitas belajar yang dapat digolongkan sebagai berikut:

a. , yang termasuk didalamnya misalnya

membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan,

pekerjaan orang lain.

b. , seperti : menyatakan, merumuskan, bertanya,

memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara,

diskusi, interupsi.

c. , sebagai conloh, mendengarkan : uraian,

percakapan, diskusi, musik, pidato.

d. , seperti misalnya : menulis cerita, karangan,

laporan, angket, menyalin.

e. , misalnya : menggambar, membuat grafik, peta,

diagram.

f. , termasuk di dalamnya antara lain : melakukan

percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain,

berkebun, berternak.

g. sebagai contoh misalnya : menaggap, mengingat,

memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil

Visual activities

Oral activities

Listening activities

Writing activities

Drawing activities

Motor activities yang

Mental activities,

25

keputusan.

h. , seperti misalnya, menaruh minat, merasa bosan,

gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.

Dengan klasifikasi aktivitas seperti yang diuraikan di atas,

menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah bermacam-macam. Kalau berbagai

macam kegiatan tersebut dapat diciptakan di sekolah, tentu sekolah itu akan

lebih dinamis, dan menjadi pusat aktivitas belajar yang maksimal.

Dalam penelitian ini, aktivitas belajar siswa yang dimaksud adalah

segala kegiatan fisik/jasmani maupun mental/rohani dari diri seseorang dalam

rangka mendapatkan pengetahuan agar tujuan belajarnya tercapai, khususnya

pada pelajaran matematika.

Pentatito Gunowibowo (2008) dalam penelitiannya yang berjudul

"Efektivitas Pendekatan Realistik Dalam Meningkatkan Kemampuan

Menyelesaikan Soal Cerita dan Sikap Terhadap Matematika Ditinjau Dari

Kemampuan Awal Siswa Kelas IV SD Kecamatan Purworejo Kabupaten

Purworejo" menyimpulkan sikap siswa dari pembelajaran pendekatan realistik

lebih baik secara umum maupun ditinjau dari masing-masing kemampuan awal.

Demikian pula untuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita.

Sikap terhadap matematika siswa dengan kemampuan awal tinggi lebih baik

dengan siswa berkemampuan awal rendah dalam pembelajaran dengan

pendekatan realistik, Sikap terhadap matematika siswa dengan kemampuan

Emotional activities

B. Hasil Penelitian Yang Relevan

26

awal tinggi lebih baik dengan siswa berkemampuan awal rendah dalam

pembelajaran dengan pendekatan mekanistik. Kemampuan menyelesaikan soal

cerita matematika dari siswa berkemampuan awal tinggi lebih baik dari siswa

berkemampuan awal rendah dengan pendekatan realistik dan pendekatan

mekanistik.

Ira Kurniawati (2003) dalam penelitiannya yang berjudul " Pengaruh

metode pembelajaran kooperatif jigsow terhadap prestasi belajar matematika

ditinjau dari aktifitas beiajar siswa ke!as II (kelas VIII) SLTP Negeri 5

Surakarta". Hasil dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan prestasi belajar

yang positif dan signifikan pada pokok bahasan bangun datar antara siswa yang

mempunyai aktivitas tinggi dibanding siswa yang mempunyai aktivitas rendah.

Hadi Wiyono (2008) dalam penelitiannya yang berjudul Pembelajaran

Kooperatif Tipe STAD Pada Pokok Bahasa Faktorisasi Suku Aljabar Ditinjau

Dari Partisipasi Orang Tua Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri Se-Kabupaten

Ponorogo Tahun Pelajaran 2007 / 2008. Kesimpulan dari penelitian ini adalah

bahwa siswa dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD mempunyai

mempunyai prestasi belajar matematika lebih baik dari pada siswa dengan

metode pembelajaran tradisional

Dari beberapa penelitian di atas, terdapat beberapa perbedaan utama

dengan penelitian ini, yaitu materi pembelajaran untuk memperoleh prestasi

sebagai variabel terikat.

Sedangkan kesamaan penelitian ini dengan penelitian yang

dikemukakan sebelumnya adalah penggunaan pendekatan konvensional/

27

mekanistik untuk pengajaran kelas kontrol, dan pendekatan pembelajaran

kooperatif atau pembelajaran PAIKEM (Pembelajaran aktif, inovatif, kreatif,

efektif, dan menyenangkan) yaitu pembelajaran yang dirancang agar

mengaktifkan siswa dan dengan ide-idenya dapat mengembangkan

kreatifitasnya sehingga pembelajaran efektif namun tetap menyenangkan untuk

pengajaran kelas eksperimen.

Pengajaran dengan pendekatan kooperatif dengan metode STAD

adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong siswa melihat

makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara

menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks dalam kehidupan

keseharian mereka, yaitu dengan bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi

belajar untuk mencapai tujuan belajar.

Aktivitas siswa merupakan langkah untuk mengerti kondisi dasar siswa.

Aktivitas siswa ini dapat digolongkan dalam 3 kategori, yaitu ;

1. aktivitas tinggi

2. aktivitas sedang

3. aktivitas rendah

Dengan penggolongan tersebut nantinya akan terlihat pengaruh

masing-masing kategori terhadap prestasi matematika yaitu pada pokok

bahasan bilangan bulat.

Pembelajaran pada pokok bahasan bilangan bulat adalah materi yang

C. Kerangka Berpikir

28

sangat penting di SMP karena banyak perhitungan pada pembelajaran mata

pelajaran lain yang merupakan terapan dari pembelajaran ini, baik secara teori

di kelas maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Pemilihan pendekatan pembelajaran yang cocok dengan materi ajar

dianggap perlu untuk meningkatkan prestasi pembelajaran matematika.

Penggunaan pendekatan pembelajaran kooperatif dengan metode STAD di

dalam proses pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan dalam memahami

konsep-konsep yang diajarkan sehingga siswa dapat dengan mudah

menyelesaikan permasalahan matematika yang dihadapinya dan nantinya

prestasi belajar meningkat.

Secara sederhana skema kerangka pemikiran dapat digambar sebagai

berikut:

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pemikiran

Dengan demikian, nantinya penelitian ini dapat mengungkap

efektifitas pendekatan pembelajaran kooperatif dengan metode STAD dan

aktivitas siswa terhadap prestasi belajar siswa pokok bahasan bilangan bulat,

yang rinciannya sebagai berikut:

1. Kaitannya pendekatan pembelajaran kooperatif dengan metode STAD

Metode Pembelajaran

Prestasi Belajar

Aktivitas Siswa

29

dan prestasi belajar bilangan bulat.

Bahwa pendekatan pembelajaran kooperatif dengan metode STAD

akan memberikan prestasi belajar bilangan bulat yang lebih baik dari

pendekatan konvensional, karena pendekatan pembelajaran kooperatif dengan

metode STAD memiliki karakteristik pembelajaran yang sangat kontras dengan

pendekatan konvensional. Dalam pendekatan pembelajaran kooperatif dengan

metode STAD menempatkan kerja sama saling ketergantungan positif, saling

membantu dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi positif antar

siswa dalam pembelajaran guna mencapai tujuan belajar, sedangkan dalam

pendekatan konvensional kerja individunya lebih kuat, bahkan ada siswa yang

mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok. Sehingga

berpengaruh pada prestasi belajar.

2. Kaitannya aktivitas siswa dengan prestasi belajar bilangan bulat

Setiap kategori dari aktivitas siswa akan menghasilkan prestasi belajar

bilangan bulat yang berbeda. Sesuai dengan karakteristik pembelajaran

matematika, yang tersusun secara hirarkhis, bertahap tingkat kesulitannya dari

mudah sampai sukar, sedangkan perlakuannya sama maka konsekuensi

logisnya adalah

a) Secara umum aktivitas tinggi mempunyai prestasi lebih baik dari

aktivitas sedang dan aktivitas rendah.

b) Aktivitas sedang mempunyai prestasi lebih baik dari aktivitas

rendah.

3. Demikian pula kaitannya aktivitas siswa dan pendekatan konvensional

30

terhadap prestasi belajar bilangan bulat

Setiap kategori dari aktivitas siswa dan pembelajaran dengan

pendekatan konvensional akan mempengaruhi prestasi sesuai dengan

kategorinya dengan alasan yang sama dengan kerangka berpikir nomor 2 di

atas.

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, dapat diajukan hipotesis sebagai

berikut:

1. Prestasi belajar bilangan bulat dengan pendekatan pembelajaran kooperatif

dengan metode STAD lebih baik dari prestasi belajar bilangan bulat

dengan pendekatan konvensional pada setiap kategori.

2. Prestasi belajar bilangan bulat siswa dengan aktivitas tinggi lebih baik dari

pada siswa dengan aktivitas sedang dan aktivitas rendah, serta prestasi

belajar bilangan bulat siswa dengan aktivitas sedang lebih baik dari pada

siswa dengan aktivitas rendah.

3. Perbedaan prestasi belajar bilangan bulat dari masing-masing pendekatan

pembelajaran konsisten pada masing-masing kategori aktivitas siswa dan

perbedaan prestasi belajar bilangan bulat dari masing-masing kategori

aktivitas siswa konsisten pada masing-masing pendekatan pembelajaran.

D. Hipotesis Penelitian

31

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri Kota Surakarta. Subyek

penelitian adalah siswa kelas VII, semester gasal tahun pelajaran 2008/2009.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester gasal, selama 3 bulan yaitu

pada bulan Juli sampai Oktober 2008.

Penelitian ini adalah merupakan penelitian eksperimental semu. Alasan

digunakan penelitian eksperimental semu adalah peneliti tidak mungkin

mengontrol semua variabel yang relevan. Seperti yang dikemukakan Budiyono

(2003:82), "Tujuan eksperimental semu adalah untuk memperoleh informasi

yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan

eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk

mengontrol dan atau memanipulasi semua variable yang relevan". Langkah

dalam penelitian ini adalah dengan cara mengusahakan timbulnya

variabel-variabel dan selanjutnya dikontrol untuk dilihat pengaruhnya terhadap

prestasi belajar matematika sebagai variabel terikat. Sedangkan variabel bebas

yang dimaksud yaitu metode pembelajaran dan aktivitas siswa. Sebelum

memulai perlakuan, terlebih dahulu dilakukan uji keseimbangan dengan

31

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

B. Jenis Penelitian

32

menggunakan anava dua jalan dengan sel tak sama. Hal ini bertujuan untuk

mengetahui apakah kelas eksperimen dan kelas kontrol dalam keadaan

seimbang atau tidak. Data yang digunakan untuk menguji keseimbangan adalah

hasil UASBN SD.

Pada akhir eksperimen, kedua kelas tersebut diukur dengan

menggunakan alat ukur yang sama yaitu soal-soal tes prestasi belajar

matematika. Hasil pengukuran tersebut dianalisis dan dibandingkan dengan

tabel uji statistik yang digunakan.

1. Rancangan Penelitian

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan

faktorial 2 x 3. Rancangan dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai

berikut:

Tabel 3.1 Rancangan Penelitian

BA

b1 b2 b3

a1 a1b1 a1b2 a1b3

a2 a2b1 a2b2 a2b3

A : Metode pembelajaran

a1 : metode pembelajaran STAD.

a2 : metode pembelajaran konvensional

B : Aktivitas

b1 : Aktivitas tinggi

b2 : Aktivitas sedang

b3: Aktivitas rendah

Keterangan :

33

2. Prosedur Penelitian

Pelaksanaan penelitian akan dilakukan secara bertahap dan

berkesinambungan. Urutan-urutan kegiatan yang akan dilakukan adalah

melakukan observasi yang meliputi observasi objek penelitian, pengajaran dan

fasilitas yang dimiliki.

a. Memilih kelas mana yang akan digunakan untuk penelitian dan kelas

untuk uji coba instumen.

b. Mengambil nilai kemampuan awal (UASBN SD) untuk uji keseimbangan.

c. Memberikah perlakuan berupa pengajaran dengan metode STAD dan

konvensional pada kelas yang telah dipilih.

1. Populasi

Menurut Suharsimi Arikunto (1998:115), " Populasi adalah keseluruhan

subyek yang akan diteliti ". Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa

kelas VII SMP Negeri dikota Surakarta tahun pelajaran 2008/2009.

2. Sampel

Suharsimi Arikunto (1998:115) mengemukakan bahwa, "Sampel

adalah sebagian atau wakil dari populasi yang akan diteliti". Dalam penelitian,

tidak selalu perlu untuk meneliti semua subyek dalam populasi, karena selain

membutuhkan biaya yang besar juga memerlukan waktu yang lama. Untuk itu

dengan mengambil sebagian subyek suatu populasi atau sering disebut dengan

pengambilan sampel diharapkan hasil penelitian yang diperoleh, dapat

menggambarkan populasi yang bersangkutan.

C. Populasi dan Sampel

34

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara sampling random

stratifikasi ( ) dan sampling random kluster (

) dengan cara memandang populasi sebagai

kelompok-kelompok. Dalam hal ini, kita pisahkan sekolah-sekolah SMP

Negeri yang ada di kota Surakarta menjadi 3 kelompok berdasarkan nilai Ujian

Nasional 2007/2008, yaitu kelompok atas, kelompok menengah dan kelompok

rendah. Dari masing-masing kelompok diambil secara acak / diundi diambil 1

sekolah untuk dijadikan sekolah sampel. Untuk kelompok atas terpilih SMP

Negeri 9 Surakarta, kelompok sedang terpilih SMP Negeri 23 Surakarta dan

kelompok rendah terpilih SMP Negeri 17 Surakarta. Kemudian dari

masing-masing sekolah sampel yang terpilih, kelas yang ada di sekolah sampel

diambil secara acak / undi seperti pemilihan sampel sekolah, untuk

mendapatkan masing-masing 2 kelas yang akan dijadikan kelas eksperimen dan

kelas kontrol. Sehingga akhirnya kita dapatkan 6 kelas, yaitu 3 kelas

eksperimen dan 3 kelas kontrol.

Data yang diperoleh dalam penelitian ini pada awalnya dilakukan uji

keseimbangan uji beda rerata dengan menggunakan analisis uji-t. Kemudian

dilakukan uji prasarat analisis yaitu uji normalitas dan uji homogenitas.

Pada penelitian ini terdapat tiga variabel bebas dan satu variabel terikat.

Variabel - variabel tersebut adalah sebagai berikut:

stratified random sampling cluster

random sampling

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Variabel Penelitian

35

a) Definisi Operasional: metode pembelajaran adalah cara yang

dipakai dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada

siswa.

b) Indikator: pembelajaran dengan menggunakan metode STAD

pada kelas eksperimen dan metode konvensional pada kelas

kontrol.

c) Skala pengukuran: nominal dengan dua kategori yaitu

pembelajaran dengan metode STAD dan metode konvensional.

d) Simbol: a1 untuk pembelajaran dengan metode STAD dan a2

untuk pembelajaran konvensional.

a) Definisi Operasional : Aktivitas belajar matematika adalah

segala kegiatan fisik/jasmani maupun mental/rohani dari diri

seseorang dalam rangka mendapatkan pengetahuan agar tujuan

belajarnya tercapai, yang terdiri dari aktivitas tinggi, aktivitas

sedang dan aktivitas rendah yang ditunjukkan dari Angket

Aktivitas Belajar Matematika.

b) Indikator : Nilai angket aktivitas belajar matematika siswa.

c) Skala Pengukuran : skala interval yang diubah dalam skala

ordinal dalam tiga kategori yaitu tinggi, sedang, dan rendah.

Skala interval yang diubah ke skala ordinal yang terdiri dari tiga

a. Variabel Bebas

1) Metode Pembelajaran

2) Aktivitas Siswa

36

kategori yaitu kelompok tinggi dengan skor > + s,

kelompok sedang dengan - s = skor = + s, sedangkan

kelompok rendah dengan skor < - s.

d) dari diri seseorang Simbol : b1 untuk aktivitas tinggi, b2 untuk

aktivitas sedang, dan b3 untuk aktivitas rendah.

1) Definisi Operasional : Prestasi belajar adalah hasil yang

diperoleh siswa sebagai akibat dari aktivitas selama mengikuti

kegiatan belajar mengajar matematika

2) Indikator: nilai tes prestasi belajar matematika.

3) Skala Pengukuran : Interval

Dalam penelitian ini, metode yang digunakan dalam pengambilan data

adalah sebagai berikut:

Menurut Suharsimi Arikunto (1998:234), "...., metode dokumentasi

yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip,

buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan

sebagainya"

Fungsi dari metode dokumentasi pada penelitian ini adalah untuk

mendapatkan nilai ujian akhir SD tahun pelajaran 2007/2008 mata pelajaran

matematika yang digunakan untuk uji keseimbangan.

X

X X

X

b. Variabel Terikat Prestasi Belajar Siswa

Prestasi Belajar Siswa

2. Metode Pengumpulan Data

a. Metode Dokumentasi

37

Metode angket merupakan metode pengumpulan data yang

dilaksanakan dengan cara mengajukan sejumlah daftar pertanyaan yang harus

dijawab oleh responden. Metode angket d igunakan untuk memperoleh

data ilmiah. Data yang diperoleh berupa skor hasil pengisian angket dari

responden. Sebelum digunakan untuk mengambil data penelitian, instrumen

tersebut diuji terlebih dahulu dengan uji validitas dan reliabilitas untk

mengetahui kualitas item angket. Sedangkan untuk menguji butir

instrumen digunakan uji konsistensi internal,

a) Reliabilitas

Digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengukuran tersebut dapat

memberikan hasil relatif tidak berbeda bila dilakukan kembali kepada subyek

yang sama. Untuk mengetahui tingkat reliabilitas digunakan rumus Alpha.

Adapun rumus Alpha yang dimaksud adalah sebagai berikut:

dengan : 2

2

11 11

dengan :

r11 = indeks reliabilitas instrumen

n = banyaknya butir instrumen

si2 = variansi butir ke-i, i = 1, 2,, n

st2 = variansi skor total yang diperoleh subyek uji coba

(Budiyono, 2003:70)

b. Metode Angket

1) Analisis Instrumen

= t

i

s

s

nn

r

38

Dalam penelitian ini disebut reliabel apabila indeks reliabilitas yang

diperoleh melebihi 0,70 ( r11 > 0,7 )

b) Uji Validitas Isi

Berdasarkan pada tujuan diadakannya tes hasil belajar yaitu untuk

mengetahui apakah prestasi belajar yang ditampakkan secara individual dapat

pula ditampakkan pada keseluruhan ( ) situasi, maka uji validitas yang

dilakukan pada metode tes ini adalah uji validitas isi dengan langkah-langkah

seperti yang dikemukakan Crocker dan Algina dalam Budiyono (2003:60)

sebagai berikut :

(1) Mendefinisikan domain kerja yang akan diukur (pada tes prestasi

dapat berupa serangkaian tujuan pembelajaran atau pokok-pokok

bahasan yang diwujudkan dalam kisi-kisi).

(2)Membentuk sebuah panel yang ahli ( ) dalam

domain-domain tersebut.

(3) Menyediakan kerangka terstruktur untuk proses pencocokan

butir-butir soal dengan domain performans yang terkait.

(4) Mengumpulkan data dan menyimpulkan berdasar data yang

diperoleh dari proses pencocokan pada langkah diatas.

Dalam penelitian ini disebut valid jika tandanya ( ) lebih dari 3

Konsistensi Internal

universe

qualified

2) Analisis Butir Soal

39

Untuk mengetahui korelasi butir soal angket digunakan rumus

korelasi momen produk Karl Pearson, yaitu:

2 22 2.

Keterangan :

: indeks daya pembeda untuk butir ke-i

: cacah subjek yang dikenai tes (instrumen)

: skor untuk butir ke-i

: skor total ( dari subyek uji coba)

(Budiyono, 2003: 65)

Jika indeks konsistensi internal untuk butir ke-i kurang 0,3 maka butir

tersebut harus dibuang

Metode tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan

data mengenai prestasi belajar siswa. Tes yang digunakan berupa tes objektif

berbentuk pilihan ganda. Sebelum digunakan untuk mengambil data penelitian,

instrumen tersebut diuji terlebih dahulu dengan uji validitas dan reliabilitas

untuk mengetahui kualitas item soal. Sedangkan untuk menguji butir instrumen

digunakan uji daya pembeda, tingkat kesukaran, dan fungsi pengecoh.

a) Uji Valid itas Isi

Berdasarkan pada tujuan diadakannya tes hasil belajar yaitu untuk

mengetahui apakah prestasi belajar yang ditampakkan secara individual dapat

( )( )( )( ) ( )( )

=

x y

n X Y X Yr

n X X n Y Y

xyr

n

X

Y

c. Metode Tes

1) Analisis Instrumen

40

pula ditampakkan pada keseluruhan ( ) situasi, maka uji validitas yang

dilakukan pada metode tes ini adalah uji validitas isi dengan langkah-langkah

seperti yang dikemukakan Crocker dan Algina dalam Budiyono (2003:60)

sebagai berikut :

(1) Mendefinisikan domain kerja yang akan diukur (pada tes prestasi

dapat berupa serangkaian tujuan pembelajaran atau pokok-pokok

bahasan yang diwujudkan dalam kisi-kisi).

(2) Membentuk sebuah panel yang ahli ( ) dalam

domain-domain tersebut.

(3) Menyediakan kerangka terstruktur untuk proses pencocokan

butir-butir soal dengan domain performans yang terkait.

(4) Mengumpulkan data dan menyimpulkan berdasar data yang

diperoleh dari proses pencocokan pada langkah diatas.

Dalam penelitian ini disebut valid jika tandanya ( ) lebih dari 3

b) Reliabilitas

Untuk menghitung reliabilitas digunakan rumus yang

dikemukakan oleh Kuder dan Richardson yang diberi nama KR-20 sebagai

berikut :2

2

11 1

dengan :

11 : indeks reliabilitas instrumen

: cacah butir instrumen

: proporsi cacah subjek yang menjawab benar pada butir ke-i

universe

qualified

t

iit

s

qps

n

nr

r

n

ip

=

41

: ,1,1 2, , n

2 : variansi total

(Budiyono, 2003:69)

Dalam penelitian ini d isebut reliabel apabila indeks reliabilitas yang diperoleh

melebihi 0,70 (r11>0,70)

a) Daya Pembeda

Suatu butir soal dikatakan mempunyai daya pembeda, jika

kelompok siswa yang pandai menjawab benar lebih banyak dari kelompok

siswa yang kurang pandai.

Untuk mengetahui daya beda suatu butir soal di sini digunakan

rumus korelasi momen produk Karl Pearson yaitu:

2 22 2.

Keterangan :

: indeks daya pembeda untuk butir ke-i

: cacah subjek yang dikenai tes (instrumen)

: skor untuk butir ke-i

: skor total ( dari subyek uji coba)

(Budiyono, 2003: 65)

iq ip i

ts

x y

n X Y X Yr

n X X n Y Y

xyr

n

X

Y

=

( )( )( )( ) ( )( )

=

2) Analisis Butir Soal

42

Dalam penelitian ini butir soal tes yang digunakan jika daya

pembedanya > 0,3.

b) Tingkat Kesukaran

Butir soal yang baik adalah butir soal yang mempunyai tingkat

kesukaran memadai, artinya tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar.

Untuk menentukan tingkat kesukaran tiap-tiap butir tes digunakan

rumus:

Keterangan :

: Indeks kesukaran

: Banyak peserta tes yang menjawab soal benar

: Jumlah seluruh peserta tes

(Suharsimi Arikunto, 1998:212)

Dalam penelitian ini butir soal dianggap baik jika 0,30 < 0,70.

Data yang diperoleh dalam penelitian ini pada awalnya dilakukan uji

keseimbangan dan uji beda rerata dengan menggunakan analisis uji-t.

Kemudian dilakukan uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas dan uji

homogenitas.

Uji in i dilakukan pada saat kedua kelompok belum dikenai perlakuan,

bertujuan untuk mengetahui apakah kedua kelompok tersebut seimbang

rx y

S

BP

J

P

B

Js

P

=

E. Teknik Analis is Data

1. Uji Keseimbangan

43

(kesamaan rerata) antara kemampuan awal kelas kontrol dan kelas eksperimen.

Secara statistik, apakah terdapat perbedaan mean yang berarti dari dua

kelompok sampel tersebut.

Langkah langkahnya sebagai berikut:

a. Hipotesis

H0 : 21 (kedua kelompok memiliki kemampuan awal sama)

H1 : 21 (kedua kelompok memiliki kemampuan awal berbeda)

b. Taraf signifikansi a = 0,05

c. Statistik uji yang digunakan :

21p

21

n1

n1

s

XXt ~ t(n1+n2-2)

Keterangan :

X 1: mean dari sampel kelompok eksperimen

X 2: mean dari sampel kelompok kontrol

n1 : ukuran sampel kelompok eksperimen

n2 : ukuran sampel kelompok kontrol

:2 variansi gabungan

2

)1()1(

21

222

2112

d. Daerah Kritik

DK = { t|t < -ta /2; v atau t > ta /2; v }

e. Keputusan uji

H0 ditolak jika t DK

=

( )+

=

+

+=

ps

nn

snsns p

44

f. Kesimpulan

1) Kedua kelompok memiliki kemampuan awal sama jika H0 diterima.

2) Kedua kelompok memiliki kemampuan awal berbeda jika H0 ditolak.

(Budiyono, 2004: 151)

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah sampel penelitian ini dari

populasi distribusi normal atau tidak. Untuk menguji normalitas ini digunakan

metode Lilliefors dengan prosedur :

1) Hipotesis

H0 : sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal

H1 : sampel tidak berasal dari populasi yang berditribusi normal

2) Statistik Uji

L = Maks |F(zi) S(zi)|

dengan :

F(zi): P(Z = zi) ; ~ N(0,1)

zi: skor standar

zi)( , s: standar deviasi

S(zi): proporsi cacah z = zi terhadap seluruh cacah zi

X i: skor item

3) Taraf signifikansi a = 0,05

4) Daerah Kritik (DK)

DK = { L| L L a ; n }

2. Uji Prasyarat

a. Uji Normalitas

Z

s

XX i =

>

45

5) Keputusan Uji

H0 ditolak jika Lhitung terletak di daerah kritik

6) Kesimpulan

a) Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal jika H0

diterima

a) Sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal jika H0

ditolak

(Budiyono, 2004:171)

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah populasi penelitian

mempunyai variansi yang sama atau tidak. Untuk menguji homogenitas ini

digunakan metode Bartlett dengan statistik uji Chi kuadrat dengan prosedur

sebagai berikut :

1) Hipotesis

H0 : 22221 ... (variansi populasi homogen)

k = 2 untuk metode pembelajaran

k = 3 untuk kategori aktivitas

H1 : tidak semua variansi sama (variansi populasi tidak homogen)

2) Statistik Uji yang digunakan :

303,22 ( f log MSerror - log 2 )

dengan :

2

1;

2~

b. Uji Homogenitas Variansi

k

c jf jS

k

sss

c

cca

===

=

46

f

1

f

1

)1k(3

11c

j

;

j

j

f

SSRKG ;

j

2

j2jj n

XXSS

K= banyaknya populasi = banyaknya sampel

f : derajad kebebasan RKG = N k

N : cacah semua pengukuran

fj : derajad kebebasan untuk sj : nj 1

j : 1,2,,k

nj : cacah pengukuran pada sampel ke-j

3. Taraf signifikansi a = 0,05

4. Daerah Kritik (DK)

DK= 1:222 |

5. Keputusan uji

H0 ditolak jika 2 terletak di daerah kritik

6. Kesimpulan

Populasi-populasi mempunyai variansi homogen jika H0 diterima

Populasi-populasi mempunyai variansi tidak homogen jika H0 ditolak

(Budiyono, 2004: 176-177)

Untuk pengujian hipotesis digunakan analisis variansi dua jalan dengan sel

tak sama, dengan model sebagai berikut :

)(X

+=

= ( ) =

{ }>

++++=

k

hitung

ijkijjiijk

accc

c

eabbam

2. Pengujian Hipotesis

47

dengan :

X : data amatan ke-k pada baris ke-i dan kolom ke-j

: rerata dari seluruh data (rerata besar, grand mean)

: efek baris ke-i pada variabel terikat

: efek baris ke-j pada variabel terikat

: kombinasi efek baris ke-i dan kolom ke-j pada variabel terikat

: deviasi data amatan terhadap rataan populasinya ij yang

berdistribusi normal rataan 0 dan variansi 2

i : 1, 2 ;

1 = metode pembelajaran STAD

2 = metode pembelajaran konvensional

j : 1, 2, 3 ;

1= aktivitas tinggi

2= aktivitas sedang

3= aktivitas rendah

k : 1, 2, .....,n ij : n ij : cacah data amatan pada setiap sel ij

(Budiyono, 2003:228)

Prosedur dalam pengujian dengan menggunakan analisis variansi

dua jalan dengan jalan sel tak sama, yaitu :

a. Hipotesis

H0A: a i = 0 untuk setiap i = 1, 2 (tidak ada perbedaan efek antara baris

terhadap variabel terikat)

ijk

i

j

ij

ijk

a

b

ab

e

s

( )

( )

48

H1A: paling sedikit ada satu a i yang tidak nol (ada perbedaan efek antara

baris terhadap variabel terikat)

H0B: j = 0 untuk setiap j= 1, 2, 3, 4 (tidak ada perbedaan efek antar kolom

terhadap variabel terikat)

H1B: paling sedikit ada satu j yang tidak nol (ada perbedaan efek antar

kolom terhadap variabel terikat)

H0AB: = 0 untuk setiap i =1, 2 dan j = 1, 2, 3, 4 (tidak ada interaksi

baris dan kolom terhadap variabel terikat)

H1AB: paling sedikit ada satu yang tidak nol (ada interaksi baris

dan kolom terhadap variabel terikat)

(Budiyono,2004:211)

b.Komputasi

1) Pada analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama didefinisikan

notasi-notasi sebagai berikut:

nij = ukuran sel ij (sel pada baris ke-i kolom ke-j)

= cacah data amatan pada sel ij

= frekuensi sel ij

hn = rataan harmonik frekuensi seluruh sel =

j,i ijn1

pq

j,iijnN = banyaknya seluruh data amatan

( )

( )

=

ij

ij

ab

ab

49

2

2 = jumlah kuadrat deviasi data amatan

pada sel ij

ijAB = rataan pada sel ij

i

iji ABA = jumlah rataan pada baris ke-i

j

ijj ABB = jumlah rataan pada baris ke-j

j,i

ijABG = jumlah rataan semua sel

Untuk memudahkan perhitungan, didefinisikan besaran-besaran (1), (2),

(3), (4), dan (5) sebagai berikut:

pqG

12

;j,i

ijSS2 ;i

2i

qA

3 ;

j

2j

p

B4 ;

j,i

2

ijAB5

2) Pada analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama terdapat lima

jumlah kuadrat, yaitu:

JKA = hn { (3) (1) } JKG = (2)

JKB = hn { (4) (1) }, JKT = JKA + JKB + JKAB + JKG

JKAB = hn { (1) + (5) (3) (4) }

dengan:

JKA = jumlah kuadrat baris

JKB = jumlah kuadrat kolom

ij

kijk

kijkij n

X

XSS

=

=

=

=

( )= ( ) = ( ) =

( ) = ( ) ( )=

50

JKAB = jumlah kuadrat interaksi antara baris dan kolom

JKG = jumlah kuadrat galat

JKT = jumlah kuadrat total

3) Derajat kebebasan untuk masing-masing jumlah kuadrat tersebut adalah

dkA = p 1 dkB = q 1

dkAb = (p 1) (q 1) dkG = N pq

dkT = N 1

4) Rataan kuadrat

dkAJKA

RKAdkABJKAB

RKAB

dkBJKB

RKBdkGJKG

RKG

5) Statistik Uji

(a). Untuk H0A adalah RKGRKA

Fa yang merupakan nilai dari variabel

random yang berdistribusi F dengan derajat kebebasan p 1 dan

N pq.

(b). Untuk H0B adalah RKGRKB

Fb yang merupakan nilai dari variabel

random yang berdistribusi F dengan derajat kebebasan q 1 dan

N pq.

(c). Untuk H0AB adalah RKG

RKABFab yang merupakan nilai dari

variabel random yang berdistribusi F dengan derajat kebebasan (p 1)

(q 1) dan N pq.

6) Taraf Signifikansi a = 0,05

= =

= =

=

=

=

51

7) Daerah Kritik

(a) Daerah kritik untuk Fa adalah DK = { Fa | Fa > Fa ; p 1, N pq }

(b) Daerah kritik untuk Fb adalah DK = { Fb | Fb > Fa ; q 1, N pq }

(c) Daerah kritik untuk Fab adalah DK = { Fab | Fab > Fa ; (p 1)(q 1) , N pq }

8) Keputusan Uji

H0 ditolak jika Fhitung terletak di daerah kritik.

9) Rangkuman Analisis

Sumber JK Dk RK Fhit Ftabel

Baris (A) JKA p 1 RKA Fa Ftabel

Kolom (B) JKB q 1 RKB Fb Ftabel

Interaksi (AB) JKAB (p 1) (q 1) RKAB Fab Ftabel

Galat (G) JKG N pq RKG - -

Total JKT N 1 - - -

(Budiyono, 2004: 229-233)

Pada praktiknya, peneliti menggunakan paket MINITAB untuk melakukan

analisis variansi.

Jika hasil analisis variansi menunjukkan H0 ditolak, maka selanjutnya

dilakukan uji komparasi ganda dengan menggunakan metode Sceffe yang

bertujuan untuk mengetahui perbedaan rerata setiap pasangan baris, setiap

pasangan kolom, dan setiap pasangan sel.

Langkah-langkah dalam menggunakan metode Sceffe adalah sebagai

berikut.

c. Uji Komparasi Ganda

52

1) Mengidentifikasi semua pasangan komparasi rerata.

2) Merumuskan hipotesis yang bersesuaian dengan komparasi tersebut.

3) Menentukan taraf signifikansi a = 0,05

4) Mencari harga statistik uji F dengan rumus sebagai berikut.

a). Komparasi rataan antar baris

Tidak perlu karena hanya ada 2 metode / pendekatan.

b). Komparasi rataan antar kolom

Uji Sceffe untuk komparasi rataan antar kolom adalah:

j.i.

2j.i.

j.i.

n

1

n

1RKG

XXF

dengan:

F .. = nilai Fobs pada pembandingan kolom ke-i dan klom ke-j

X . i = rataan pada kolom ke-i

X.j = rataan pada kolom ke-j

RKG = rataan kuadrat galat, yang dipeoleh dari perhitungan Anava

n.i = ukuran sampel kolom ke-i

n.j = ukuran sampel kolom ke-j

Daerah kritik untuk uji itu ialah: DK ={ F.i-.j | F. i-.j > (q 1)Fa; q 1, N pq }

c). Komparasi rataan antar sel pada kolom yang sama

Uji Sceffe untuk komparasi rataan antar sel pada kolom yang sama

adalah sebagai berikut:

( )

+

=

ji

53

kjij

2kjij

kjij

n

1

n

1RKG

XXF

dengan :

kjijF = nilai Fobs pada pembandingan rataan pada sel ij dan rataan

pada sel kj

ijX = rataan pada sel ij

kjX = rataan pada sel kj

RKG = rataan kuadrat galat yang diperoleh dari perhitungan

analisis variansi

ijn = ukuran sel ij

kjn = ukuran sel kj

Daerah kritik