Drama persahabatan Aneka tema dan peristiwa bisa dijadikan sebuah drama. Entah itu kisah nyata maupun rekaan, asal dikemas dalam teks dan konsep yang menarik bisa membuat sebuah drama menjadi terlihat menarik. Berikut ini adalah contoh drama persahabatan : Suasana panggung terlihat suram dengan setting sebuah kamar tidur dan terdapat seoang gadis remaja sedang menangis sambil menutup kedua telinganya dengan bantal. Dia adalah Wati, gadis remaja berumur 17th. Di luar kamar terdengar suara pecahan piring dan makian dari Bapak dan Ibunya Wati.Tidak lama kemudian Wati mengambil handphone-nya dan mencoba menghubungi Sita, sabahat karibnya sejak mereka duduk di Bangku smp. Setelah berbicara melalui handphone, Wati mengambil sebuah tas dan mengemasi pakaian dan buku-buku sekolahnya. Dengan keluar melalui jendela kamar, Wati mencoba kabur dari rumahnya. Suasana panggung berubah menjadi setting sebuah ruang tamu. Tampak 2 orang remaja putri yang sedang berbincang. Mereka adalah Wati dan Sita. Wati: Sita, aku sudah benar-benar tidak tahan. Hampir setiap hari dan setiap saat aku mendengar bapak dan ibuku bertengkar Sita: Kamu yang sabar ya. Mungkin memang saat ini bapak dan ibumu sedang ada masalah. Berdoa ya semoga masalah beliau segera bisa diatasi Wati: Hatiku hancur waktu mendengar ibuku minta cerai. Seandainya mereka benar-benar bercerai, aku harus ikut siapa? aku malu, malu sekali Sita. Sita: Aku mengerti sekali perasaanmu, tapi kamu juga jangan sampai terlalu sedih karena aku khawatir kalau kamu terlalu sedih nanti malah akan mempengaruhi sekolahmu. Kita sebentar lagi mau menghadapi Unas lho Wati: Ah biarlah, seandainya aku tidak lulus juga mungkin orang tuaku tidak peduli. Sita: Tidak ada orang tua yang tidak peduli dengan anaknya. Hanya mungkin saat ini mereka berdua sedang ada masalah jadi terlihat seperti mereka sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri Wati: Percuma aku punya orang tua kalau setiap hari isinya bertengkar saja. Apa mereka berdua tidak malu dengan tetangga yang sudah pasti mendengar suara mereka bertengkar? Dari ruangan dalam rumah keluarlah seorang ibu-ibu sambil membawa pisang goreng dan teh manis.. Ibu itu adalah Ibu Dibyo, Ibunya Sita. Ibu Dibyo: Tidak baik bicara seperti itu Wati. Apapun yang terjadi, mereka berdua adalah orang tuamu. Banyak anak-anak di luar sana yang sangat menginginkan mempunyai orang tua Wati: (sambil menunduk dan menangis) Saya harus bagaimana bu? Ibu Dibyo: Bersikaplah seperti biasa, tetap menjadi anak yang penurut. Bila ada kesempatan yang tepat, cobalah bicara dengan bapak ibumu, sampaikan bahwa kamu merasa sangat tidak nyaman bila mereka berdua bertengkar. Wati: akan saya coba bu.. Sita: Nah, kamu jangan sedih lagi ya. Ayo donk tersenyum lagi (sambil mengusap air mata Wati dan membelai rambut Wati) Wati: terima kasih Sita, terima kasih bu. Sita, beruntung sekali kamu memiliki Ibu yang sabar. Sita: Lho sejak dulu kan kamu sudah dianggap bagian dari keluargaku. jadi ibuku juga ibumu lho. Benar kan bu? Ibu Dibyo: Iya benar. wati sudah ibu anggap seperti anak ibu sendiri Wati: Bu, malam ini saya boleh menginap disini? Ibu Dibyo: Boleh, tapi kamu harus telp ke rumah dulu. Beritahu Bapak dan Ibumu kalau kamu menginap disini supaya mereka berdua tidak bingung mencarai kamu ada dimana Wati: iya bu, terima kasih DRAMA SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN Di susun oleh : Bella annisa Kelas : IX-6 SMP NEGERI 2 CIBUNGBULANG KAB.BOGOR TEKS DRAMA Suasana di depan sekolah pada suatu siang sepulang sekolah. Terlihat seorang anak sekolah bernama Deri membeli beberapa kantung kacang dari sebuah warung. Ia segera pulang ke rumahnya. Suasana rumah Deri. Deri membuka sepatu dan kaus kakinya. Ia meletakkannya begitu saja di belakang pintu rumahnya. Ia lalu segera pergi ke kamarnya. Ibunya melihat tindakan Deri. Ibu : (marah) “Deri, sepatumu jangan diletakkan sembarangan. Kan, sudah ibu sediakan rak khusus untuk menyimpan sepatu.” Deri : (menyeka keringat di keningnya) “Deri kan capek, Bu. Hari ini rasa nya gerah banget. Lagian, kan ada Bi Surti.” Ibu : “Bi Surti pulang kampung selama tiga hari. Lagian, kenapa kamu menanyakan Bi Surti?” Deri : “Biasanya kan Bi Surti yang suka membereskan sepatuku.” Ibu : (kesal) “Untuk hal seperti ini, Ibu rasa kamu bisa me ngerjakannya sendiri.” Deri : (segera mengambil sepatu dan kaus kakinya yang ber serakan) “Aahh… Ibu.” Deri segera masuk ke kamarnya. Suasana berganti menjadi kamar Deri. Di kamar, terdapat sebuah tempat tidur kecil, kipas angin, meja belajar, dan sebuah tempat sampah. Deri merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Ia melemparkan tasnya ke samping bawah meja belajarnya. Ia belum mengganti baju seragamnya. Lalu, ia menyalakan kipas angin. Deri : (sambil membaca buku yang diambilnya dari meja belajar) “Ahh… begini kan lebih enak….” Deri membuka bungkus kacang yang ia beli tadi. Ia membuka satu per satu dan melemparkan begitu saja kulit-kulit kacang ke bawah tempat tidurnya. Suasana malam. Deri tidak bisa tidur. Ia mendengar suara-suara aneh. Ciiitttt… cit… cittt…. Deri ketakutan. Dari kolong tempat tidurnya, keluar seekor tikus. Deri kaget. Ia paling takut pada tikus. Tidak berapa lama kemudian, beberapa ekor tikus keluar dari kolong tempat tidurnya. Deri mengambil sapu ijuk. Deri : (mencoba mengusir tikus-tikus) “Ukhhh… mengganggu saja!” (memukul seekor tikus) Beberapa tikus malah menghampiri Deri. Deri : (ketakutan dan menjerit-jerit) “Ibu, Ibu tolongin Deri!” Ibu : (membuka pintu kamar Deri) “Ada apa kok kamu teriak-teriak?” Deri : (wajahnya pucat) “Ibu, banyak si Jerry!” Ibu : “Jerry, siapa itu Jerry?” Deri : (menunjuk ke bawah tempat tidurnya) “Maksud Deri banyak tikus kecil.” Ibu : (kebingungan) “Di mana?” Deri : “Itu di bawah tempat tidur Deri! Deri takut. Deri tidak mau tidur di kamar Deri.” Ibu : “Ya sudah, malam ini kamu tidur bersama kakakmu saja.” Suasana pagi hari. Ibu masuk ke kamar Deri. Ia kaget melihat sampah-sampah berserakan di bawah tempat tidur Deri. Ibu : (berteriak, mukanya cemberut) “Derii…sini!” Deri : (memakai seragam sekolah) “Ya ada apa, Bu?” Ibu : “Lihat!” (menunjuk ke sampah yang berserakan) “Kamu jorok sekali. Pantas banyak tikus di kamarmu.” Deri : (malu dan tertunduk) “Habis bagaimana dong?” Ibu : “Lho kok, malah tanya. Mulai sekarang kamu harus menjaga kebersihan kamarmu. Kamu jangan membuang sampah sembarangan lagi. Kan, sudah ibu sediakan tempat sampah di kamarmu (menunjuk ke tempat sampah). Apa perlu Ibu membuatkan plang peringatan di sini?” Deri : “Ibu bisa saja. Deri janji tidak akan membuang sampah sembarangan lagi. Deri kapok sama si Jerry-Jerry nakal.” Ibu : (tersenyum) “Ya sudah, sekarang kamu pergi sekolah. Pulang sekolah nanti, kamu harus membersihkan kamar mu.” Deri : “Baik, Bu!” Sejak saat itu, Deri selalu menjaga kebersihan kamar nya. Naskah drama ini adalah hasil pengubahan dari cerpen “Tikus-Tikus Nakal”. CATATAN DAN TUGAS SEKOLAH ANAK SMA Para pelaku: 1. Igun 2. Yusrina 3. Hanafi Pentas menggambarkan sebuah kebun, halaman belakang gedung perpustakaan suatu SMA. Di tengah terdapat bangku panjang, tempat duduk yang terbuat dari semen. Bagian depan sebelah kanan terdapat bak air kecil yang tak ada airnya dan bisa untuk duduk. Ada beberapa tanaman bunga dan pot bunga ada di situ. Latar belakangnya gedung perpustakaan. Yusrina (Sedang tekun membaca buku catatan, belajar. Tas, buku ada di sisinya, di bangku tersebut. Setelah terdengar bel, beberapa saat berlalu dalam sepi) Igun (Masuk dari kiri) Sudah lama? Yusrina (Acuh tak acuh) Sudah! Igun (Duduk di sampingnya) Tentu saja. Tadi kau tidak ikut pelajaran yang keenam. (Membuka buku catatan) Pak Hadi tadi juga menanyakan kamu. Lalu, teman teman menjawab sekenanya. Kau pulang lantaran sakit perut. (Pause) Jam keenam sudah lewat? Yusrina (Sambil membaca) Sudah! Igun Terang sudah. (Pause) Hmmmmm, sekarang jam pelajaran ketujuh. Jam kedelapan ulangan Fisika, jadi masih ada waktu untuk belajar.... (Melihat jam tangan) Tiga puluh tujuh menit. Kau sudah belajar tadi malam? Yusrina (Sambil membaca) Sudah! Igun Aku juga tahu, tapi cuma sepintas lalu saja. O, ya, soal-soal minggu kemarin sudah kau kerjakan? Yusrina (Sambil membaca) Sudah! Igun Semua? (Diam saja) Biasanya kau hanya mengerjakan empat dari sepuluh soal itu. Itu pun yang mudah saja. lya, kan? Aku sendiri paling malas bila berhadapan dengan soal-soal Fisika. (Membuka catatannya) Eh, Yus, sudah nonton "Mighty Man"? Yusrina (Kesal) Sudah! Igun Bagaimana kesannya? Bagus? Aku juga nonton, juga lihat kamu. Kau nonton dengan.... Yusrina (Cepat memotong) Sudah! Igun Asyik ya, nonton duaan! Yusrina (Kesal) Suuuudah! Igun (Menggoda) Kau tidak salah memilih cowok macam Agus? Yusrina (Marah) Sudah! Sudah! Igun Dia itu cowok ideal. Gagah lagi. Face-nya lumayan, tidak terlalu ngepop, juga tidak kampungan. Yusrina (Marah) Suuuuuuudah! Sudah! Igun Apalagi anak pejabat tinggi. Yusrina (Masih marah) Sudah, sudah, sudah! Igun Sudah. Sudah,! Sudah! Lagi, ah! Dari tadi sudah melulu. Apa tidak ada kata-kata lain? Bahasa Indonesia kan banyak perbendaharaan katanya. Sudah, sudah, sudah, dari tadi sudah, sudah, sudah melulu. (Menggoda) Jangan begitu, Yus, dia itu benarbenar cakep, Iho. Yusrina (Marah) Sudah, ah! Igun Sudah! Baru bertengkar, apa? Sedang Perang Sabil, ya? Jangan, ah! Dia itu cowok ideal. Sungguh! Cuma sayang. Kau kelihat-annya masih terlalu kecil. Aku kira kau belum pantas pacaran macam malam Minggu kemarin itu. Soalnya.... Yusrina (Membanting bukunya) Sudah, sudah, sudah. Huuuuu... sudah, sudah, sudah. Cerewet terus. (Mengambil bukunya kembali) Sudah, aku mau belajar! Igun (Menirukan) Sudah, sudah, sudah, sudah. Huuuu... sudah, sudah, sudah! Cerewet terus. Sudah, aku mau belajar! Yusrina (Mencibir) Huuuuuh! Igun (Menirukan) Huuuuuh! Hanafi (Masuk dari kanan) Nah, ini. Ini baru bisa disebut pelajar teladan. Serius juga kelihatannya. (Mendekati Yusrina) Yus, mau ulangan, ya? Yusrina (Sambil membaca) Sudah, sudah, sudah! Hanafi Lho! Kelewat serius, nih! (Duduk di antara mereka) Sedang yang ini? Aku agak sangsi. Ini belajar atau melamun? Gun! Igun (Sambil membaca) Sudah, ah. Berisik saja. Ada orang lagi belajar ini. Hanafi Apa? Orang macam kamu belajar? Lantas kebudayaan menyontekmu kau ke manakan? Igun Sori saja, tidak musim sekarang. Hanafi Omong kosong! (Mengeluarkan sebatang rokok) Pinjam koreknya. Igun Buat apa? Pinjam korek pada orang lagi belajar. Ini baru sepaning, mau ulangan Fisika tahu?! Hanafi Mau ulangan Fisika saja pakai sepaning segala. Tanya, nih, calon profesor. Beres! Igun Profesor gombal! Hanafi Tidak usah menghafal rumus-rumus. Buang waktu dan energi saja. Langsung pada soal, sekaligus jawaban. Igun Hah!? Apa kelasmu sudah ulangan? Hanafi Sudah! Igun Sudah? Hanafi Sudah! Igun Kapan? Hanafi Jumat kemarin. Igun Lho! Bukankah Jumat kemarin Pak Asnawi masih opname di rumah sakit? Hanafi Ya, tapi Pak Asnawi kan guru tulen! Dia itu punya segudang soal ulangan sekaligus jawaban yang sudah jadi. Suatu saat ada ulangan, pakai soal yang itu. Ada ulangan lagi? Pakai soal yang ini. Dan dia itu bisa saja.... DRAMA SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN NAMA : YULIA WATI KELAS : IX-6 SMP NEGERI 2 CIBUNGBULANG DRAMA SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN NAMA : IMAS FAJAR SARI KELAS : IX 6 Smp negeri 2 cibungbulang
Please download to view
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
...

Drama Persahabatan

by fahmyfahriza

on

Report

Category:

Documents

Download: 0

Comment: 0

136

views

Comments

Description

Download Drama Persahabatan

Transcript

Drama persahabatan Aneka tema dan peristiwa bisa dijadikan sebuah drama. Entah itu kisah nyata maupun rekaan, asal dikemas dalam teks dan konsep yang menarik bisa membuat sebuah drama menjadi terlihat menarik. Berikut ini adalah contoh drama persahabatan : Suasana panggung terlihat suram dengan setting sebuah kamar tidur dan terdapat seoang gadis remaja sedang menangis sambil menutup kedua telinganya dengan bantal. Dia adalah Wati, gadis remaja berumur 17th. Di luar kamar terdengar suara pecahan piring dan makian dari Bapak dan Ibunya Wati.Tidak lama kemudian Wati mengambil handphone-nya dan mencoba menghubungi Sita, sabahat karibnya sejak mereka duduk di Bangku smp. Setelah berbicara melalui handphone, Wati mengambil sebuah tas dan mengemasi pakaian dan buku-buku sekolahnya. Dengan keluar melalui jendela kamar, Wati mencoba kabur dari rumahnya. Suasana panggung berubah menjadi setting sebuah ruang tamu. Tampak 2 orang remaja putri yang sedang berbincang. Mereka adalah Wati dan Sita. Wati: Sita, aku sudah benar-benar tidak tahan. Hampir setiap hari dan setiap saat aku mendengar bapak dan ibuku bertengkar Sita: Kamu yang sabar ya. Mungkin memang saat ini bapak dan ibumu sedang ada masalah. Berdoa ya semoga masalah beliau segera bisa diatasi Wati: Hatiku hancur waktu mendengar ibuku minta cerai. Seandainya mereka benar-benar bercerai, aku harus ikut siapa? aku malu, malu sekali Sita. Sita: Aku mengerti sekali perasaanmu, tapi kamu juga jangan sampai terlalu sedih karena aku khawatir kalau kamu terlalu sedih nanti malah akan mempengaruhi sekolahmu. Kita sebentar lagi mau menghadapi Unas lho Wati: Ah biarlah, seandainya aku tidak lulus juga mungkin orang tuaku tidak peduli. Sita: Tidak ada orang tua yang tidak peduli dengan anaknya. Hanya mungkin saat ini mereka berdua sedang ada masalah jadi terlihat seperti mereka sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri Wati: Percuma aku punya orang tua kalau setiap hari isinya bertengkar saja. Apa mereka berdua tidak malu dengan tetangga yang sudah pasti mendengar suara mereka bertengkar? Dari ruangan dalam rumah keluarlah seorang ibu-ibu sambil membawa pisang goreng dan teh manis.. Ibu itu adalah Ibu Dibyo, Ibunya Sita. Ibu Dibyo: Tidak baik bicara seperti itu Wati. Apapun yang terjadi, mereka berdua adalah orang tuamu. Banyak anak-anak di luar sana yang sangat menginginkan mempunyai orang tua Wati: (sambil menunduk dan menangis) Saya harus bagaimana bu? Ibu Dibyo: Bersikaplah seperti biasa, tetap menjadi anak yang penurut. Bila ada kesempatan yang tepat, cobalah bicara dengan bapak ibumu, sampaikan bahwa kamu merasa sangat tidak nyaman bila mereka berdua bertengkar. Wati: akan saya coba bu.. Sita: Nah, kamu jangan sedih lagi ya. Ayo donk tersenyum lagi (sambil mengusap air mata Wati dan membelai rambut Wati) Wati: terima kasih Sita, terima kasih bu. Sita, beruntung sekali kamu memiliki Ibu yang sabar. Sita: Lho sejak dulu kan kamu sudah dianggap bagian dari keluargaku. jadi ibuku juga ibumu lho. Benar kan bu? Ibu Dibyo: Iya benar. wati sudah ibu anggap seperti anak ibu sendiri Wati: Bu, malam ini saya boleh menginap disini? Ibu Dibyo: Boleh, tapi kamu harus telp ke rumah dulu. Beritahu Bapak dan Ibumu kalau kamu menginap disini supaya mereka berdua tidak bingung mencarai kamu ada dimana Wati: iya bu, terima kasih DRAMA SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN Di susun oleh : Bella annisa Kelas : IX-6 SMP NEGERI 2 CIBUNGBULANG KAB.BOGOR TEKS DRAMA Suasana di depan sekolah pada suatu siang sepulang sekolah. Terlihat seorang anak sekolah bernama Deri membeli beberapa kantung kacang dari sebuah warung. Ia segera pulang ke rumahnya. Suasana rumah Deri. Deri membuka sepatu dan kaus kakinya. Ia meletakkannya begitu saja di belakang pintu rumahnya. Ia lalu segera pergi ke kamarnya. Ibunya melihat tindakan Deri. Ibu : (marah) “Deri, sepatumu jangan diletakkan sembarangan. Kan, sudah ibu sediakan rak khusus untuk menyimpan sepatu.” Deri : (menyeka keringat di keningnya) “Deri kan capek, Bu. Hari ini rasa nya gerah banget. Lagian, kan ada Bi Surti.” Ibu : “Bi Surti pulang kampung selama tiga hari. Lagian, kenapa kamu menanyakan Bi Surti?” Deri : “Biasanya kan Bi Surti yang suka membereskan sepatuku.” Ibu : (kesal) “Untuk hal seperti ini, Ibu rasa kamu bisa me ngerjakannya sendiri.” Deri : (segera mengambil sepatu dan kaus kakinya yang ber serakan) “Aahh… Ibu.” Deri segera masuk ke kamarnya. Suasana berganti menjadi kamar Deri. Di kamar, terdapat sebuah tempat tidur kecil, kipas angin, meja belajar, dan sebuah tempat sampah. Deri merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Ia melemparkan tasnya ke samping bawah meja belajarnya. Ia belum mengganti baju seragamnya. Lalu, ia menyalakan kipas angin. Deri : (sambil membaca buku yang diambilnya dari meja belajar) “Ahh… begini kan lebih enak….” Deri membuka bungkus kacang yang ia beli tadi. Ia membuka satu per satu dan melemparkan begitu saja kulit-kulit kacang ke bawah tempat tidurnya. Suasana malam. Deri tidak bisa tidur. Ia mendengar suara-suara aneh. Ciiitttt… cit… cittt…. Deri ketakutan. Dari kolong tempat tidurnya, keluar seekor tikus. Deri kaget. Ia paling takut pada tikus. Tidak berapa lama kemudian, beberapa ekor tikus keluar dari kolong tempat tidurnya. Deri mengambil sapu ijuk. Deri : (mencoba mengusir tikus-tikus) “Ukhhh… mengganggu saja!” (memukul seekor tikus) Beberapa tikus malah menghampiri Deri. Deri : (ketakutan dan menjerit-jerit) “Ibu, Ibu tolongin Deri!” Ibu : (membuka pintu kamar Deri) “Ada apa kok kamu teriak-teriak?” Deri : (wajahnya pucat) “Ibu, banyak si Jerry!” Ibu : “Jerry, siapa itu Jerry?” Deri : (menunjuk ke bawah tempat tidurnya) “Maksud Deri banyak tikus kecil.” Ibu : (kebingungan) “Di mana?” Deri : “Itu di bawah tempat tidur Deri! Deri takut. Deri tidak mau tidur di kamar Deri.” Ibu : “Ya sudah, malam ini kamu tidur bersama kakakmu saja.” Suasana pagi hari. Ibu masuk ke kamar Deri. Ia kaget melihat sampah-sampah berserakan di bawah tempat tidur Deri. Ibu : (berteriak, mukanya cemberut) “Derii…sini!” Deri : (memakai seragam sekolah) “Ya ada apa, Bu?” Ibu : “Lihat!” (menunjuk ke sampah yang berserakan) “Kamu jorok sekali. Pantas banyak tikus di kamarmu.” Deri : (malu dan tertunduk) “Habis bagaimana dong?” Ibu : “Lho kok, malah tanya. Mulai sekarang kamu harus menjaga kebersihan kamarmu. Kamu jangan membuang sampah sembarangan lagi. Kan, sudah ibu sediakan tempat sampah di kamarmu (menunjuk ke tempat sampah). Apa perlu Ibu membuatkan plang peringatan di sini?” Deri : “Ibu bisa saja. Deri janji tidak akan membuang sampah sembarangan lagi. Deri kapok sama si Jerry-Jerry nakal.” Ibu : (tersenyum) “Ya sudah, sekarang kamu pergi sekolah. Pulang sekolah nanti, kamu harus membersihkan kamar mu.” Deri : “Baik, Bu!” Sejak saat itu, Deri selalu menjaga kebersihan kamar nya. Naskah drama ini adalah hasil pengubahan dari cerpen “Tikus-Tikus Nakal”. CATATAN DAN TUGAS SEKOLAH ANAK SMA Para pelaku: 1. Igun 2. Yusrina 3. Hanafi Pentas menggambarkan sebuah kebun, halaman belakang gedung perpustakaan suatu SMA. Di tengah terdapat bangku panjang, tempat duduk yang terbuat dari semen. Bagian depan sebelah kanan terdapat bak air kecil yang tak ada airnya dan bisa untuk duduk. Ada beberapa tanaman bunga dan pot bunga ada di situ. Latar belakangnya gedung perpustakaan. Yusrina (Sedang tekun membaca buku catatan, belajar. Tas, buku ada di sisinya, di bangku tersebut. Setelah terdengar bel, beberapa saat berlalu dalam sepi) Igun (Masuk dari kiri) Sudah lama? Yusrina (Acuh tak acuh) Sudah! Igun (Duduk di sampingnya) Tentu saja. Tadi kau tidak ikut pelajaran yang keenam. (Membuka buku catatan) Pak Hadi tadi juga menanyakan kamu. Lalu, teman teman menjawab sekenanya. Kau pulang lantaran sakit perut. (Pause) Jam keenam sudah lewat? Yusrina (Sambil membaca) Sudah! Igun Terang sudah. (Pause) Hmmmmm, sekarang jam pelajaran ketujuh. Jam kedelapan ulangan Fisika, jadi masih ada waktu untuk belajar.... (Melihat jam tangan) Tiga puluh tujuh menit. Kau sudah belajar tadi malam? Yusrina (Sambil membaca) Sudah! Igun Aku juga tahu, tapi cuma sepintas lalu saja. O, ya, soal-soal minggu kemarin sudah kau kerjakan? Yusrina (Sambil membaca) Sudah! Igun Semua? (Diam saja) Biasanya kau hanya mengerjakan empat dari sepuluh soal itu. Itu pun yang mudah saja. lya, kan? Aku sendiri paling malas bila berhadapan dengan soal-soal Fisika. (Membuka catatannya) Eh, Yus, sudah nonton "Mighty Man"? Yusrina (Kesal) Sudah! Igun Bagaimana kesannya? Bagus? Aku juga nonton, juga lihat kamu. Kau nonton dengan.... Yusrina (Cepat memotong) Sudah! Igun Asyik ya, nonton duaan! Yusrina (Kesal) Suuuudah! Igun (Menggoda) Kau tidak salah memilih cowok macam Agus? Yusrina (Marah) Sudah! Sudah! Igun Dia itu cowok ideal. Gagah lagi. Face-nya lumayan, tidak terlalu ngepop, juga tidak kampungan. Yusrina (Marah) Suuuuuuudah! Sudah! Igun Apalagi anak pejabat tinggi. Yusrina (Masih marah) Sudah, sudah, sudah! Igun Sudah. Sudah,! Sudah! Lagi, ah! Dari tadi sudah melulu. Apa tidak ada kata-kata lain? Bahasa Indonesia kan banyak perbendaharaan katanya. Sudah, sudah, sudah, dari tadi sudah, sudah, sudah melulu. (Menggoda) Jangan begitu, Yus, dia itu benarbenar cakep, Iho. Yusrina (Marah) Sudah, ah! Igun Sudah! Baru bertengkar, apa? Sedang Perang Sabil, ya? Jangan, ah! Dia itu cowok ideal. Sungguh! Cuma sayang. Kau kelihat-annya masih terlalu kecil. Aku kira kau belum pantas pacaran macam malam Minggu kemarin itu. Soalnya.... Yusrina (Membanting bukunya) Sudah, sudah, sudah. Huuuuu... sudah, sudah, sudah. Cerewet terus. (Mengambil bukunya kembali) Sudah, aku mau belajar! Igun (Menirukan) Sudah, sudah, sudah, sudah. Huuuu... sudah, sudah, sudah! Cerewet terus. Sudah, aku mau belajar! Yusrina (Mencibir) Huuuuuh! Igun (Menirukan) Huuuuuh! Hanafi (Masuk dari kanan) Nah, ini. Ini baru bisa disebut pelajar teladan. Serius juga kelihatannya. (Mendekati Yusrina) Yus, mau ulangan, ya? Yusrina (Sambil membaca) Sudah, sudah, sudah! Hanafi Lho! Kelewat serius, nih! (Duduk di antara mereka) Sedang yang ini? Aku agak sangsi. Ini belajar atau melamun? Gun! Igun (Sambil membaca) Sudah, ah. Berisik saja. Ada orang lagi belajar ini. Hanafi Apa? Orang macam kamu belajar? Lantas kebudayaan menyontekmu kau ke manakan? Igun Sori saja, tidak musim sekarang. Hanafi Omong kosong! (Mengeluarkan sebatang rokok) Pinjam koreknya. Igun Buat apa? Pinjam korek pada orang lagi belajar. Ini baru sepaning, mau ulangan Fisika tahu?! Hanafi Mau ulangan Fisika saja pakai sepaning segala. Tanya, nih, calon profesor. Beres! Igun Profesor gombal! Hanafi Tidak usah menghafal rumus-rumus. Buang waktu dan energi saja. Langsung pada soal, sekaligus jawaban. Igun Hah!? Apa kelasmu sudah ulangan? Hanafi Sudah! Igun Sudah? Hanafi Sudah! Igun Kapan? Hanafi Jumat kemarin. Igun Lho! Bukankah Jumat kemarin Pak Asnawi masih opname di rumah sakit? Hanafi Ya, tapi Pak Asnawi kan guru tulen! Dia itu punya segudang soal ulangan sekaligus jawaban yang sudah jadi. Suatu saat ada ulangan, pakai soal yang itu. Ada ulangan lagi? Pakai soal yang ini. Dan dia itu bisa saja.... DRAMA SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN NAMA : YULIA WATI KELAS : IX-6 SMP NEGERI 2 CIBUNGBULANG DRAMA SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN NAMA : IMAS FAJAR SARI KELAS : IX 6 Smp negeri 2 cibungbulang
Fly UP