Click here to load reader

Dormansi Biji Dan Perkecambahan

  • View
    396

  • Download
    17

Embed Size (px)

DESCRIPTION

laporan fistum

Text of Dormansi Biji Dan Perkecambahan

  • A. Topik : Dormansi Biji dan Perkecambahan

    B. Tujuan

    Setelah melakukan praktikum ini, mahasiswa dapat:

    1. Mengetahui ketersedian air yang sesuai untuk menunjang perkecambahan

    2. Mengetahui faktor internal dan eksternal penyebab dormansi biji

    3. Mengetahui faktor apa yang dapat mematahkan dormansi biji

    C. Dasar Teori

    1. Dormansi

    Dormansi adalah keadaan pertumbuhan dan metabolisme yang

    terpendam, dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak baik atau

    oleh faktor tumbuhan itu sendiri. Seringkali jaringan yang dorman gagal

    tumbuh meskipun berada pada kondisi ideal. (Tim Pengampu fisiologi

    tumbuhan, 2010)

    Dormansi dapat terjadi pada kulit biji maupun pada embrio. Biji

    yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi

    klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan

    dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi

    digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi

    digunakan untuk mengatasi dormansi embrio. Dormansi diklasifikasikan

    menjadi bermacam-macam kategori berdasarkan faktor penyebab,

    mekanisme dan bentuknya. (Dwidjoseputro, 1983)

    a. Berdasarkan faktor penyebab dormansi

    Imposed dormancy (quiscence): terhalangnya pertumbuhan aktif

    karena keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan.

    Imnate dormancy (rest): dormansi yang disebabkan oleh keadaan

    atau kondisi di dalam organ biji itu sendiri.

    b. Berdasarkan mekanisme dormansi di dalam biji

    Mekanisme fisik

    Merupakan dormansi yang mekanisme penghambatannya

    disebabkan oleh organ biji itu sendiri, terbagi menjadi:

    - Mekanis: embrio tidak berkembang karena dibatasi secara fisik

  • - Fisik: penyerapan air terganggu karena kulit biji yang

    impermeable

    - Kimia: bagian biji atau buah yang mengandung zat kimia

    penghambat

    Mekanisme fisiologis

    Merupakan dormansi yang disebabkan oleh terjadinya hambatan

    dalam proses fisiologis, terbagi menjadi:

    - Photodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh

    keberadaan cahaya

    - Immature embryo: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh

    kondisi embrio yang tidak/belum matang

    - Termodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh

    suhu

    c. Berdasarkan bentuk dormansi

    Kulit biji impermeabel terhadap air (H20)

    Bagian biji yang impermeabel: membran biji, kulit biji, nukleus,

    pericarp, endocarp.

    Impermeabilitas dapat disebabkan oleh deposisi bermacam-macam

    substansi (misalnya cutin, suberin, lignin) pada membran.

    Dormansi Fisik disebabkan oleh pembatasan struktural terhadap

    perkecambahan biji, seperti kulit biji yang keras dan kedap sehingga

    menjadi penghalang mekanis terhadap masuknya air atau gas-gas ke dalam

    biji. Pada dormansi ini, perkecambahan akan terjadi jika kulit biji dibuka

    atau jika tekanan oksigen di sekitar benih ditambah. Pada benih apel

    misalnya, suplai oksigen sangat dibatasi oleh keadaan kulit bijinya

    sehingga tidak cukup untuk kegiatan respirasi embrio. Keadaan ini terjadi

    apabila benih berimbibisi pada daerah dengan temperatur hangat (Drajat.

    1996: 399).

    Dormansi Fisiologis, dapat disebabkan oleh sejumlah mekanisme,

    tetapi pada umumnya disebabkan oleh zat pengatur tumbuh, baik yang

    berupa penghambat maupun perangsang tumbuh. Tipe dormansi lain

    selain dormansi fisik dan fisiologis adalah kombinasi dari beberapa tipe

  • dormansi. Tipe dormansi ini disebabkan oleh lebih dari satu mekanisme.

    Sebagai contoh adalah dormansi yang disebabkan oleh kombinasi dari

    immaturity embrio, kulit biji indebiscent yang membatasi masuknya O2

    dan keperluan akan perlakuan chilling (Drajat. 1996: 400).

    Kulit biji yang keras dapat disebabkan oleh pengaruh genetik

    maupun lingkungan. Pematahan dormansi kulit biji ini dapat dilakukan

    dengan skrifikasi mekanisme. Bagian biji yang mengatur masuknya air ke

    dalam biji: mikrofil, kulit biji, raphe/hilum,strophiole, adapun mekanisme

    higroskopinya diatur oleh hilum. (Salisbury, 1985: 4160)

    2. Perkecambahan

    Perkecambahan merupakan suatu proses dimana radikula (akar

    embrionik) memanjang keluar menembus kulit biji (Salisbury, 1985:

    4160). Di balik gejala morfologi dengan permunculan radikula tersebut,

    terjadi proses fisiologi-biokemis yang kompleks, dikenal sebagai proses

    perkecambahan fisiologis.

    Secara fisiologi, proses perkecambhan berlangsung dalam beberapa

    tahapan penting meliputi :

    a. Absorbsi air

    b. Metabolisme pemecahan materi cadangan makanan

    c. Transport materi hasil pemecahan dari endosperm ke embrio yang

    aktif bertumbuh

    d. Proses-proses pembentukan kembali materi-materi baru

    e. Respirasi

    f. Pertumbuhan

    Banyak faktor yang mengontrol proses perkecambahan biji, baik

    yang internal dan eksternal. Secara internal proses perkecambahan biji

    ditentukan keseimbangan antara promotor dan inhibitor perkecambahan,

    terutam asam giberelin (GA) dan asam absisat (ABA). Faktor eksternal

    yang merupkan ekologi perkecambahan meliputi air, suhu, kelembaban,

    cahaya dan adanya senyawa-senyawa kimia tertentu yang berperilaku

    sebagai inhibitor perkecambahan ( Drajat, 1996)

  • Syarat perkecambahan biji

    a. Air

    Air memiliki fungsi sebagai berikut :

    o melunakkan kulit biji, embrio dan endosperm mengembang

    sehingga kulit biji robek

    o memfasilitasi masuknya O2 kedalam biji, air imbibisi pada dinding

    sel sehingga sel jadi permeabel terhadap gas. Gas masuk secara

    difusi sehingga suplai O2pada sel hidup meningkat dan pernafasan

    aktif

    o mengencerkan protoplasma, aktivasi macam-macam fungsinya

    o alat transport larutan makanan dari endosperm/kotiledon ketitik

    tumbuh di embryonic axis : untuk membentuk protoplasma baru

    Bagian biji yang mengatur masuknya air yaitu kulit dengan cara

    imbibisi (perembesan ) dan mikro raphae hilum dengan cara difusi

    (perpindahan substansi karena perbedaan konsentrasi) dari kadar air

    tinggi ke rendah/konsentrasi larutan rendah ke tinggi Faktor yang

    mempengaruhi penyerapan air (Drajat,1996):

    Permeabilitas kulit/membran biji

    Konsentrasi air

    Karena air masuk secara difusi, maka konsentrasi larutan diluar bji

    harus tidak lebih pekat dari di dalam biji.

    Suhu air

    Suhu air tinggi energi meningkat, difusi air meningkat

    sehingga kecepatan penyerapan tinggi.

    Tekanan hidrostatik

    Berbanding terbalik dengan kecepatan penyerapan air. Kerika

    volume air dalam membran biji telah sampai pada batas tertentu

    akan timbul tekanan hidrostatik yang mendorong keluar biji

    sehingga kecepatan penyerapan air menurun.

    Luas permukaan biji yang kontak dengan air

    Berhubungan dengan kedalaman penanaman biji dan berbanding

    lurus dengan kecepatan penyerapan air.

  • Daya intermolekuler

    Merupakan tenaga listrik pada molekul-molekul tanah atau media

    tumbuh. Makin rapat molekulnya, makin sulit air diserap oleh

    biji.Berbanding terbalik dengan kecepatan penyerapan air.

    Spesies dan Varietas

    Berhubungan dengan faktor genetik yang menentukan susunan

    kulit biji.

    Tingkat kemasakan

    Berhubungan dengan kandungan air dalam biji, biji makin masak,

    kandungan air berkurang, kecepatan penyerapan air meningkat.

    Komposisi Kimia

    Biji tersusun atas karbohidrat, protein, lemak. Kecepatan

    penyerapan air: protein>karbohidrat>lemak.

    Umur

    Berhubungan dengan lama penyimpanan makin lama disimpan,

    makin sulit menyerap air.

    D. Alat dan Bahan

    Alat

    1. Cetok

    2. Gelas ukur

    3. Batang pengaduk

    4. Cawan petri

    5. Beaker glass

    6. Polybag

    7. Wadah besar

    8. Refrigator

    9. Inkubator

    Bahan :

    1. Biji kacang hijau

    2. Biji lombok

    3. Umbi bawang putih

    4. Akuades

    5. Kapas

    6. Larutan GA3 5 ppm

    7. NaOH 10%

  • E. Cara Kerja

    1. Pengaruh perendaman biji dalam air terhadap perkecambahan

    - Disiapkan 3 wadah besar dan diberi label I, II dan III

    - Diberi kapas pada setiap wadah

    - Disiapkan 30 butir biji kacang hijau untuk setiap wadah

    - Direndam biji dalam akuades selama 15 menit

    - Disiapkan 3 perlakuan

    - Disiapkan kapas kering untuk perlakuan I

    - Disiapkan kapas lembab untuk perlakuan II

    - Disiapkan media hingga biji tergenang untuk perlakuan

    III

    - Diletakkan 30 biji pada setiap medium perlakuan

    - Disimpan wadah di tempat yang gelap pada suhu kamar

    - Dijaga kondisi agar tetap stabil

    - Diamati dan dihitung jumlah biji yang berkecambah

    setiap harinya selama 14 hari

    - Dihentikan apabila salah satu kelompok perlakuan

    berkecambah diatas 90%

    Biji Kacang Hijau

    Hasil

  • 2. Pengaruh Hormon GA3 terhadap perkecambahan

    Biji Cabai

    Hasil

    - Disiapkan 3 wadah besar dan diberi label I, II dan III

    - Diberi kapas pada setiap wadah

    - Disiapkan 30 butir biji untuk setiap wadah

    - Disiapkan 3 perlakuan

    - Direndam biji dalam GA3 5 ppm selama 1 jam untuk

    perlakuan I

    - Direndam biji dalam GA3 5 ppm selama 3 jam untuk

    perlakuan II

    - Direndam biji dalam GA3 5 ppm selama 6 jam untuk

    perlakuan III

    - Diletakkan 30 biji pada

Search related