DINAMIKA MASYARAKAT DAN BUDAYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Artikel ini menguraikan masalah Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Pendidikan Islam. Dari hasil yang diperoleh pemahaman bahwa masyarakat paparan besar atau kecil kelompok, yang terdiri dari beberapa orang, yang diri terkait atau karena pengaruh kelompok dan saling mempengaruhi. Sosiologi adalah ilmu masyarakat atau ilmu sosial yang mempelajari manusia sebagai kelompok atau masyarakat, (bukan sebagai individu terlepas dari kelompok atau masyarakat). "Budaya" adalah hasil dari kegiatan dan penciptaan akal manusia, seperti keyakinan, seni dan adat istiadat. Pendidikan Islam pem-dibentuk kepribadian Muslim. Manusia berhubungan erat dengan budaya, hubungan tidak dapat dipisahkan. Jika salah satu dipisahkan dari yang lain, pergi bentuk masing-masing. Masyarakat adalah wadah budaya, serta tumpukan tanah untuk tumbuh pohon, ketika manusia diambil sebagai sampel budaya dan jiwa manusia sebagai sebuah komunitas. Setiap kebudayaan manusia dan budaya tidak ada masyarakat. Keduanya dwitunggal, sehingga membentuk ekspresi sosial budaya

Text of DINAMIKA MASYARAKAT DAN BUDAYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM

  • Ahmad Badwi, Dinamika Masyarakat dan Budaya 1

    DINAMIKA MASYARAKAT DAN BUDAYA DALAM

    PENDIDIKAN ISLAM

    Ahmad Badwi

    Dosen UIN Alauddin Makassar

    DPK pada STAI Al-Furqan Makassar

    Abstract:

    This article outlines the issues Dynamics Society and Culture in Islamic Education. From

    the results obtained by the understanding that the Society exposure is large or small

    group, consisting of several men, which the self-related or due to the influence of groups

    and influence each other. Sociology is the science of society or a social science which

    studies human as a group or community, (not as individuals regardless of group or

    community). "Culture" is the result of the activities and the creation of human reason,

    such as beliefs, arts and customs. Islamic education was estab-formed Muslim

    personality. Humans are closely related to culture, the relationship can not be separated.

    If one is separated from the others, gone form respectively. Society is a culture container,

    as well as a pile of soil to grow a tree, when humans are taken as a sample of the culture

    and the human spirit as a community. Every human culture and the culture there is no

    society. Both are duumvirate, thus form sociocultural expression.

    Abstrak:

    Artikel ini menguraikan masalah Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Pendidikan

    Islam. Dari hasil yang diperoleh pemahaman bahwa masyarakat paparan besar atau kecil

    kelompok, yang terdiri dari beberapa orang, yang diri terkait atau karena pengaruh

    kelompok dan saling mempengaruhi. Sosiologi adalah ilmu masyarakat atau ilmu sosial

    yang mempelajari manusia sebagai kelompok atau masyarakat, (bukan sebagai individu

    terlepas dari kelompok atau masyarakat). "Budaya" adalah hasil dari kegiatan dan

    penciptaan akal manusia, seperti keyakinan, seni dan adat istiadat. Pendidikan Islam pem-

    dibentuk kepribadian Muslim. Manusia berhubungan erat dengan budaya, hubungan tidak

    dapat dipisahkan. Jika salah satu dipisahkan dari yang lain, pergi bentuk masing-masing.

    Masyarakat adalah wadah budaya, serta tumpukan tanah untuk tumbuh pohon, ketika

    manusia diambil sebagai sampel budaya dan jiwa manusia sebagai sebuah komunitas.

    Setiap kebudayaan manusia dan budaya tidak ada masyarakat. Keduanya dwitunggal,

    sehingga membentuk ekspresi sosial budaya

    Kata Kunci: Masyarakat, Budaya, Pendidikan.

    I. PENDAHULUAN

    Kepribadian mencakup kebia-saan

    sikap dan sifat yang memiliki seseorang.

    Kepribadian akan ber-kembang apabila

    seseorang berhu-bungan dengan orang lain.

    Korelasi atau hubungan antara norma,

    kepribadian dan perilaku biasa dilihat pada

    nilai dan norma yang dijadikan sebagai

    patokan dalam bertingkah laku sehari-hari.

    Setiap kelompok social memer-lukan

    seperangkat ukuran untuk mengendalikan

    beragam kemauan warganya yang senang

    tiasa ber-ubah dalam berbagai situasi dan

    kondisi. Melalui ukuran-ukuran tersebut,

    suatu masyarakat akan tahu mana yang baik

    dan mana yang buruk, benar atau salah dan

    boleh atau sebaiknya dilarang. Keberadaan

    nilai sosial dapat berubah-ubah kadarnya.

    Dengan kata lain sesuatu yang amat bernilai

    disuatu tempat dan dalam situasi tertentu

    dapat menjadi kurang bernilai atau tidak

    sama sekali pada tempat lain. Dalam bentuk

  • Ahmad Badwi, Dinamika Masyarakat dan Budaya 2

    zaman akan mengkristal atau membeku

    menjadi sistim nilai budaya.1

    Berdasarkan sistem yang abstrak

    inilah, dinamika kehidupan Masyarakat

    menjadi terarah dan stabil, setiap

    kebudayaan selalu mengandung makna

    yang erat berkaitan dengan cara hidup yang

    determinative (faktor yang menen-tukan)

    sifatnya yaitu menentukan tingkah laku,

    sikap, pandangan hidup dan harapan-

    harapan. Kebebasan individu dengan

    demikian sangat terbatas dalam kontes

    budayanya sehingga tidak seorangpun yang

    mampu melepas diri dari pengaruh tradisi,

    institusi dan tata cara religious bangsa serta

    kaumnya.

    Dari uraian diatas, maka yang

    menjadi fokus dalam pembahasan artikel ini

    adalah sebagai berkut; 1) Apakah

    pengertian Masyara-kat, Sosiologi, Agama

    Islam dan budaya?, 2) Bagaimana dinamika

    masyara-kat terhadap budaya ditinjau dari

    segi sosiologi pendidikan Islam ?

    II. PEMBAHASAN

    A. Masyarakat

    Masyarakat adalah golongan besar

    atau kecil, terdiri dari bebe-rapa manusia,

    yang dengan atau karena sendirinya

    bertalian secara golongan dan pengaruh

    mempenga-ruhi satu sama lain.2

    Pengaruh dan pertalian kebati-nan

    yang terjadi dengan sendirinya disini

    menjadi unsur yang harus ada bagi

    masyarakat. Masyarakat bukannya ada

    dengan hanya men-jumlahkan adanya

    orang-orang saja, antara mereka harus ada

    pertanian satu sama lain. Sedikit-nya setiap

    anggota sadar akan adanya anggota lain,

    dan mau tidak mau ia memperhatikan

    adanya orang lain itu telah menjadi adat,

    tradisi atau lebih lagi menjadi lembaga,

    maka perhatian itu tetap dipelihara

    sekalipun tiadak ada orang didekatnya.

    B. Sosiologi

    Sosiologi sebagai ilmu yang baru

    mulai dikenal pada abad ke-19 dengan

    nama yang berasal dari Auguste Comte

    (1798-1857) untuk menunjukkan sosiologi

    sebagai ilmu masyarakat yang memiliki

    disiplin yaitu rencana pelajaran dan

    penyelidikan serta lapangan-nya sendiri,

    sosiologi (Latin: socius = teman, kawan,

    social = berteman, bersama, berserikat)

    bermaksud untuk mengerti kejadian-

    kejadian dalam masyarakat yaitu, perseku-

    tuan manusia dan selanjutnya dengan

    pengertian itu untuk dapat berusaha

    mendatangkan perbaikan dalam kehidupan

    bersama. Singkat-nya, sosiologi ini adalah

    ilmu masyarakat atau ilmu kemasyara-katan

    yang mempelajari manusia sebagai anggota

    golongan atau masyarakat, (tidak sebagai

    individu yang terlepas dari golongan atau

    masyarakat). Dengan ikatan-ikatan adat

    kebiasaan, kepercayaan atau agamanya.

    Tingkat laku serta ke-seniannya atau yang

    disebut kebu-dayaannya yang meliputi

    segala segi kehidupannya.3 Pada buku yang

    lain Auguste Comte menjelas-kan bahwa

    sosiologi berasal dari kata latin socius yang

    berarti kawan dan kata logos yang berarti

    kata atau berbicara. Jadi sosiologi adalah

    berbicara mengenai masya-rakat. 4

    C. Budaya

    Secara umum arti kebudayaan yang

    sebenarnya ialah suatu hasil daya pemikiran

    dan pergumulan antara akal, rasa dan karsa

    (budi luhur) manusia.

    Di dalam Kamus Besar Indonesia

    disebutkan bahwa: budaya adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang

    kebudayaan adalah hasil kegiatan dan pencip-taan batin (akal budi) manusia,

    seperti kepercayaan, kesenian dan adat

    istiadat. Ahli sosiologi mengartikan

    kebudayaan dengan keseluruhan kecakupan

    (adat, akhlak, ke-senian, ilmu dll). Sedang

    ahli sejarah mengartikan kebudayaan

    sebagai warisan atau tradisi. Bah-kan ahli

    Antropologi melihat kebu-dayaan sebagai

    tata hidup, way of life dan kelakuan.

    Definisi-definisi tersebut menunjukkan

    bahwa jang-kauan kebudayaan sangatlah

    luas. Untuk memudahkan pembahasan,

    Ernst Cassirer membaginya men-jadi lima

    apek: 1. Kehidupan Spiritual 2. Bahasa dan

    Kesustraan 3. Kesenian 4. Sejarah 5. Ilmu

    Pengetahuan. Aspek kehidupan spiritual.

    Mencakup kebudayaan fisik, seperti sarana

  • Ahmad Badwi, Dinamika Masyarakat dan Budaya 3

    (candi, patung nenek moyang, arsitektur),

    perala-tan (pakaian, makanan, alat-alat

    upacara). Juga mencakup sistem sosial,

    seperti upacara-upacara (kelahiran,

    pernikahan, kematian).

    Adapun aspek bahasa dan kesusteraan

    mencakup bahasa daerah, pantun, syair,

    novel-novel. Aspek seni dapat dibagi

    menjadi dua bagian besar yaitu; visual arts

    dan performing arts, yang menca-kup; seni

    rupa (melukis), Seni pertunjukan (tari,

    music,) Seni Teater (wayang) Seni

    Arsitektur (rumah, bangunan,perahu).

    Aspek ilmu pengetahuan meliputi scince

    (ilmu-ilmu eksakta) dan humanities (sastra,

    filsafat kebudayaan dan sejarah).

    Adapun pengertian kebuadaan Islam

    adalah cara berfikir dan cara mearasa

    takwa, yang menyatakan diri dalam seluruh

    segi kehidupan sekelompok manusia yang

    mem-bentuk kesatuan sosial dalam sutu

    ruang dan suatu waktu.5

    Dari berbagai definisi tersebut, dapat

    diperoleh pengertian menge-nai kebudayaan

    yang mana akan mempengaruhi tingkat

    pengeta-huan dan meliputi sistem ide atau

    gagasan yang terdapat dalam pikiran

    manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-

    hari, kebudayaan itu bersifat abstark.

    Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah

    benda-benda yang diciptakan oleh manusia

    sebagai makhluk yang berbudaya, berupa

    perilaku dan benda-benda yang bersifat

    nyata, religi, seni, dan lain-lain, yang

    kesemuanya ditujukan untuk mem-bantu

    manusia dalam melang-sungkan kehidupan

    bermasya-rakat.

    Oleh sebab itu siapa yang

    mengatakan bahwa agama Islam itu

    kebudayaan m