Digital_20314836 T 31229 Pengaruh Asuhan Full Text

Embed Size (px)

DESCRIPTION

askep pnemunia

Citation preview

  • iUNIVERSITAS INDONESIA

    PENGARUH ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN, KELUARGA DAN PERAN PENGAWAS MINUM OBAT

    TERHADAP KEMANDIRIAN DAN KEPATUHAN BEROBAT KLIEN SCHIZOPHRENIA DI KERSAMANAH GARUT

    TESIS

    Rahmi Imelisa1006749182

    FAKULTAS ILMU KEPERAWATANPROGRAM MAGISTER ILMU KEPERAWATAN

    UNIVERSITAS INDONESIADEPOK, JULI 2012

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • ii

    UNIVERSITAS INDONESIA

    PENGARUH ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN, KELUARGA DAN PERAN PENGAWAS MINUM OBAT

    TERHADAP KEMANDIRIAN DAN KEPATUHAN BEROBAT KLIEN SCHIZOPHRENIA DI KERSAMANAH GARUT

    TESIS

    Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Keperawatan Kekhususan Keperawatan Jiwa

    Rahmi Imelisa1006749182

    FAKULTAS ILMU KEPERAWATANPROGRAM MAGISTER ILMU KEPERAWATAN

    KEKHUSUSAN KEPERAWATAN JIWAUNIVERSITAS INDONESIA

    DEPOK, JULI 2012

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • iii

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • iv

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • vPengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • vi

    KATA PENGANTAR

    Rasa syukur yang sebesar-besarnya penyusun sampaikan kepada Allah SWT yang

    telah melimpahkan karuniaNya kepada penyusun sehingga tesis ini dapat

    diselesaikan. Tesis ini disusun sebagai tugas akhir dalam rangka mencapai gelar

    Magister Keperawatan Jiwa pada Program Pasca Sarjana Keperawatan

    Universitas Indonesia. Dalam penyusunan tesis ini penyusun mendapatkan

    bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penyusun bermaksud mengucapkan terima

    kasih kepada:

    1. Dewi Irawaty, MA. Ph.D., selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan

    Universitas Indonesia.

    2. Astuti Yuni Nursasi, S.Kp., MN., selaku Ketua Program Pascasarjana Fakultas

    Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

    3. Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc., sebagai dosen pembimbing 1

    yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan mengarahkan penyusun

    sehingga penyusun dapat terus berproses menyelesaikan tesis ini.

    4. Drs. Sutanto Priyo Hastono, M.Kes. sebagai dosen pembimbing 2 yang telah

    meluangkan waktu, dan mengarahkan penyusun sehingga dapat memahami

    rancangan berjalannya penelitian tesis ini.

    5. Mustikasari, S.Kp., MARS., sebagai penguji 1 yang telah banyak memberikan

    masukan untuk perbaikan tesis ini.

    6. Ibu Nurhalimah, S.Kp., M.Kep., Sp.Kep.J., sebagai penguji 2 yang telah

    memberikan banyak masukan untuk perbaikan tesis ini.

    7. Novy Helena C.D.,S.Kp., M.Sc. sebagai dosen pembimbing akademik yang

    dengan penuh pengertian mengarahkan penyusun selama menjalani masa studi

    Program Magister Keperawatan Jiwa.

    8. Bpk. Darsono, sebagai Kepala Puskesmas Kersamanah, yang telah dengan

    terbuka mengizinkan penyusun untuk melakukan penelitian di Kecamatan

    Kersamanah Garut.

    9. Bpk. Iyus dan Ibu Ai sebagai staf program Kesehatan Jiwa Puskesmas

    Kersamanah yang telah banyak membantu dalam proses penelitian.

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • vii

    10. Ibu Lilis, Ibu Nyai, Ibu Nunung, Ibu Siti dan Ibu Alit, sebagai kader kesehatan

    jiwa yang telah bersedia dan penuh semangat menjalani peran PMO dalam

    penelitian ini.

    11. Seluruh dosen Program Pasca Sarjana Keperawatan Universitas Indonesia

    yang telah membagi ilmu yang dimilikinya.

    12. Keluarga yang selalu memberikan doa dan dukungan kepada penyusun.

    13. Teman-teman Angkatan VI Program Magister Ilmu Keperawatan Kekhususan

    Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia yang

    unik dan selalu memberikan semangat kepada penyusun.

    Akhir kata, semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi peneliti dan semua pihak yang

    terlibat dalam penelitian ini nantinya.

    Depok, Juli 2012

    Penyusun

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • viii

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • ix Universitas Indonesia

    PROGRAM PASCA SARJANA FAKULTAS ILMU KEPERAWATANUNIVERSITAS INDONESIA

    Tesis, Juli 2012

    Rahmi Imelisa

    Pengaruh asuhan keperawatan pada klien, keluarga dan peran pengawas minum obat terhadap kemandirian dan kepatuhan berobat klien schizophrenia di Kersamanah Garut

    xviii + 118 hal + 29 tabel + 5 skema + 17 lampiran

    ABSTRAK

    Prevalensi schizophrenia di Kersamanah adalah sebesar 2.6/1000 jiwa, dan 39,8% klien drop out berobat. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh asuhan keperawatan pada klien, keluarga dan peran PMO (terapi keperawatan) terhadap kemandirian dan kepatuhan berobat. Penelitian ini menggunakan desain quasy experiment dengan purposive sampling. Penelitian menggunakan instrumen kemandirian CMHN Jakarta dan MARS. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perubahan bermakna kemandirian dan kepatuhan berobat setelah diberikan terapi keperawatan (p-value

  • x Universitas Indonesia

    POSTGRADUATE PROGRAM FACULTY OF NURSINGUNIVERSITY OF INDONESIA

    Thesis, July 2012

    Rahmi Imelisa

    The effect of nursing process to client, family and Pengawas Minum Obat role to independency and medication adherence of schizophrenic client in Kersamanah Garut.

    xviii + 118 page + 29 table + 5 scheme + 17 appendix

    ABSTRACT

    The prevalence of schizophrenia in Kersamanah is 2.6/1000 person, 39.8% client has been drop out in medication. This research aimed to found the effect of nursing process to the client, family and PMO role (as nursing therapy) to independency and medication adherence. This research used a quasy experiment design with purposive sampling. This research use the instrument of independency from the CMHN Jakarta research and the MARS instrumen for medication adherence. The result shows that there is a significant change of independency and medication adherence after intervension of nursing therapy (p-value < =0.05). There is a significant differences change between intervention and control group (p-value < =0.05). There is a close relation between independency and medication adherence (p-value < =0.05). This research suggest continue implementation of nursing process to client, family and PMO role in Kersamanah.

    Keyword : schizophrenia, independency, medication adherence, PMO, and family psychoeducation

    References 29 (2006-2011)

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • ix

    PROGRAM PASCA SARJANA FAKULTAS ILMU KEPERAWATANUNIVERSITAS INDONESIA

    Tesis, Juli 2012

    Rahmi Imelisa

    Pengaruh asuhan keperawatan pada klien, keluarga dan peran pengawas minum obat terhadap kemandirian dan kepatuhan berobat klien schizophrenia di Kersamanah Garut

    xviii + 118 hal + 29 tabel + 5 skema + 17 lampiran

    ABSTRAK

    Prevalensi schizophrenia di Kersamanah adalah sebesar 2.6/1000 jiwa, dan 39,8% klien drop out berobat. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh asuhan keperawatan pada klien, keluarga dan peran PMO (terapi keperawatan) terhadap kemandirian dan kepatuhan berobat. Penelitian ini menggunakan desain quasy experiment dengan purposive sampling. Penelitian menggunakan instrumen kemandirian CMHN Jakarta dan MARS. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perubahan bermakna kemandirian dan kepatuhan berobat setelah diberikan terapi keperawatan (p-value

  • xPOSTGRADUATE PROGRAM FACULTY OF NURSINGUNIVERSITY OF INDONESIA

    Thesis, July 2012

    Rahmi Imelisa

    The effect of nursing process to client, family and Pengawas Minum Obat role to independency and medication adherence of schizophrenic client in Kersamanah Garut.

    xviii + 118 page + 29 table + 5 scheme + 17 appendix

    ABSTRACT

    The prevalence of schizophrenia in Kersamanah is 2.6/1000 person, 39.8% client has been drop out in medication. This research aimed to found the effect of nursing process to the client, family and PMO role (as nursing therapy) to independency and medication adherence. This research used a quasy experiment design with purposive sampling. This research use the instrument of independency from the CMHN Jakarta research and the MARS instrumen for medication adherence. The result shows that there is a significant change of independency and medication adherence after intervension of nursing therapy (p-value < =0.05). There is a significant differences change between intervention and control group (p-value < =0.05). There is a close relation between independency and medication adherence (p-value < =0.05). This research suggest continue implementation of nursing process to client, family and PMO role in Kersamanah.

    Keyword : schizophrenia, independency, medication adherence, PMO, and family psychoeducation

    References 29 (2006-2011)

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • xi

    DAFTAR ISI

    HALAMAN SAMPUL iHALAMAN JUDUL iiHALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS iiiHALAMAN PENGESAHAN ivLEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN vKATA PENGANTAR viHALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI viiiABSTRAK ixABSTRACT xDAFTAR ISI xiDAFTAR SKEMA xivDAFTAR TABEL xvDAFTAR LAMPIRAN xviii

    BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 11.2 Rumusan Masalah 91.3 Tujuan Penelitian 11

    1.3.1 Tujuan Umum Penelitian 111.3.2 Tujuan Khusus Penelitian 11

    1.4 Manfaat Penelitian1.4.1 Pelayanan Keperawatan 121.4.2 Ilmu Pengetahuan 121.4.3 Penelitian Keperawatan 12

    BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA2.1 Schizophrenia

    2.1.1 Definisi schizophrenia 132.1.2 Proses terjadinya schizophrenia 162.1.3 Tanda dan gejala schizophrenia 182.1.4 Proses keperawatan pada klien dengan schizophrenia 20

    2.1.4.1 Pengkajian 212.1.4.2 Diagnosa keperawatan 272.1.4.3 Intervensi keperawatan 30

    1. Intervensi keperawatan generalis 302. Intervensi keperawatan spesialis 313. Pemberdayaan kader dan peran pengawas minum obat 34

    2.1.4.4 Pedoman pelaksanaan terapi1. Asuhan keperawatan generalis pada klien 412. Family Psychoeducation pada keluarga 413. Pelaksanaan peran Pengawas Minum Obat oleh kader 44

    2.1.4.5 Hasil akhir dan evaluasi intervensi keperawatan 45

    2.2 Kemandirian klien schizophrenia 472.2.1 Efek schizophrenia terhadap aktivitas sehari-hari 482.2.2 Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemandirian 49

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • xii

    2.2.3 Pengukuran kemandirian 502.3 Kepatuhan berobat

    2.3.1 Definisi kepatuhan dan ketidakpatuhan 502.3.2 Batasan karakteristik 522.3.3 Faktor yang berhubungan dengan ketidakpatuhan 522.3.4 Cara mengukur kepatuhan 53

    BAB 3. KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL

    3.1 Kerangka teori 553.2 Kerangka konsep penelitian 593.3 Hipotesis 623.4 Definisi operasional 62

    BAB 4. METODE PENELITIAN4.1 Rancangan penelitian 644.2 Populasi dan sampel 65

    4.2.1 Populasi 654.2.2 Sampel 66

    4.3 Waktu dan tempat penelitian 694.4 Etika penelitian 704.5 Instrumen penelitian 734.6 Uji coba instrumen 754.7 Prosedur pelaksanaan penelitian 76

    4.7.1 Tahap persiapan 764.7.2 Tahap pelaksanaan 774.7.3 Tahap akhir 77

    4.8 Pengolahan data 784.9 Analisa data 79

    4.9.1 Analisa data univariat 794.9.2 Analisa data bivariat 804.9.3 Analisa data multivariat 82

    BAB 5. HASIL PENELITIAN5.1 Karakteristik klien schizophrenia 83

    5.1.1 Karakteristik usia klien 835.1.2 Karakteristik jenis kelamin, keluhan fisik dan keyakinan

    terhadap pelayanan kesehatan 845.1.3 Faktor predisposisi pada klien schizophrenia di Kecamatan

    Kersamanah Kabupaten Garut 86

    5.2 Pengaruh asuhan keperawatan pada klien, keluarga dan peran PMO terhadap kemandirian klien schizophrenia di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 875.2.1 Kemandirian klien schizophrenia sebelum dilakukan

    terapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 87

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • xiii

    5.2.2 Perubahan kemandirian klien schizophrenia sebelum dan sesudah dilakukan terapi pada kelompok intervensi

    dan kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 88

    5.2.3 Kemandirian klien schizophrenia sesudah dilakukan terapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 90

    5.2.4 Hubungan karakteristik dengan kemandirian klien schizophrenia di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 91

    5.3 Pengaruh asuhan keperawatan pada klien, keluarga dan peran PMO terhadap kepatuhan berobat klien schizophrenia di Kecamatan Kersamanah Garut 92

    5.3.1 Kepatuhan berobat klien schizophrenia sebelum dilakukan terapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 92

    5.3.2 Perubahan kepatuhan berobat klien schizophrenia sebelum dan sesudah dilakukan terapi pada kelompok intervensi dan

    kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 935.3.3 Kepatuhan berobat klien schizophrenia sesudah dilakukan terapi

    pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 95

    5.3.4 Hubungan karakteristik dengan kepatuhan berobat klien schizophrenia di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 96

    5.4 Hubungan kemandirian dan kepatuhan berobat klien schizophrenia pada kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 98

    BAB 6 PEMBAHASAN6.1 Pengaruh asuhan keperawatan pada klien, keluarga dan peran PMO

    pada kemandirian klien 996.2 Pengaruh asuhan keperawatan pada klien, keluarga dan peran PMO pada kepatuhan berobat klien 1046.3 Hubungan kemandirian dan kepatuhan berobat klien schizophrenia di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 1096.4 Faktor predisposisi klien schizophrenia 1106.5 Keterbatasan penelitian 1116.6 Implikasi hasil penelitian 112

    BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN7.1 Kesimpulan 1137.2 Saran 114

    DAFTAR PUSTAKA 117LAMPIRAN

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • xiv

    DAFTAR SKEMA

    Skema 2.1 Model Stress Adaptasi Stuart 20

    Skema 3.1 Kerangka teori 58

    Skema 3.2 Kerangka konsep penelitian 61

    Skema 4.1 Rancangan penelitian 64

    Skema 4.2 Gambaran prosedur penelitian 78

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • xv

    DAFTAR TABEL

    Tabel 2.1 Diagnosa keperawatan pada klien dengan schizophrenia 27

    Tabel 3.1 Definisi operasional dan variabel penelitian 63

    Tabel 4.1 Pemetaan jumlah klien berdasarkan kelompok intervensi dan kelompok kontrol 69

    Tabel 4.2 Kisi-kisi instrumen pengukuran kemandirian klien schizophrenia 74

    Tabel 4.3 Kisi-kisi instrumen pengukuran kepatuhan berobat klien schizophrenia 74

    Tabel 4.4 Analisis bivariat variabel penelitian 81

    Tabel 5.1 Analisis karakteristik klien pada kelompok intervensi dan kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan

    Kersamanah Kabupaten Garut 84

    Tabel 5.2 Kesetaraan karakteristik klien schizophrenia berdasarkan usia pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan

    Kersamanah Kabupaten Garut 84

    Tabel 5.3 Distribusi karakteristik klien schizophrenia pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah

    Kabupaten Garut 85

    Tabel 5.4 Kesetaraan karakteristik klien berdasarkan jenis kelamin, keluhan fisik dan keyakinan terhadap pelayanan kesehatan pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan

    Kersamanah Kabupaten Garut 86

    Tabel 5.5 Faktor predisposisi pada klien schizophrenia di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 86

    Tabel 5.6 Analisis kemandirian klien schizophrenia sebelum dilakukan terapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 87

    Tabel 5.7 Analisis kesetaraan kemandirian klien schizophrenia sebelum dilakukan terapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 88

    Tabel 5.8 Analisis perbedaan kemandirian klien schizophrenia sebelum

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • xvi

    sesudah dilakukan terapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 89

    Tabel 5.9 Analisa beda rata-rata selisih kemandirian klien sebelum dan sesudah terapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 89

    Tabel 5.10 Analisis kemandirian klien schizophrenia sesudah dilakukan terapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 90

    Tabel 5.11 Perbedaan kemandirian klien schizophrenia setelah dilakukan terapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 90

    Tabel 5.12 Analisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemandirian klien schizophrenia di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 91

    Tabel 5.13 Perbedaan rata-rata kemandirian sebelum dan sesudah terapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol 92

    Tabel 5.14 Analisis kepatuhan berobat klien schizophrenia sebelum dilakukan terapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 93

    Tabel 5.15 Analisis kesetaraan kepatuhan berobat klien schizophrenia sebelum dilakukan terapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 93

    Tabel 5.16 Analisis perbedaan kepatuhan berobat klien schizophrenia sebelum dan sesudah dilakukan terapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 94

    Tabel 5.17 Analisis beda rata-rata selisih kepatuhan berobat klien sebelum dan sesudah terapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 95

    Tabel 5.18 Analisis kepatuhan berobat klien schizophrenia sesudah dilakukan terapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 95

    Tabel 5.19 Perbedaan kepatuhan berobat klien schizophrenia sesudah dilakukan terapi pada kelompok intervensi dan kelompok

    kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 96

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • xvii

    Tabel 5.20 Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan berobat klien schizophrenia di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 97

    Tabel 5.21 Perbedaan rata-rata kepatuhan berobat sebelum dan sesudah terapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol 97

    Tabel 5.22 Analisis hubungan kemandirian dan kepatuhan berobat klien schizophrenia pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut 98

    Tabel 6.1 Perbandingan presentase peningkatan kemandirian pada penelitian CMHN Jakarta dengan penelitian Kersamanah Garut 102

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • xviii

    DAFTAR LAMPIRAN

    Jadwal pelaksanaan penelitian Lampiran 1

    Penjelasan penelitian Lampiran 2

    Lembar persetujuan responden (informed consent) Lampiran 3

    Kuesioner 1 Lampiran 4

    Kuesioner 2 Lampiran 5

    Kuesioner 3 Lampiran 6

    Keterangan lolos uji etik Lampiran 7

    Keterangan lolos expert validity Lampiran 8

    Keterangan lolos uji kompetensi Lampiran 9

    Standar Asuhan Keperawatan Jiwa (Diagnosa Gangguan) Lampiran 10

    Modul terapi Family Psycho Education (FPE) Lampiran 11

    Buku kerja FPE Lampiran 12

    Buku evaluasi PMO Lampiran 13

    Buku evaluasi peneliti Lampiran 14

    Pedoman pembekalan kader Lampiran 15

    Surat-surat Lampiran 16

    Daftar riwayat hidup peneliti Lampiran 17

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 1Universitas Indonesia

    BAB 1

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar belakang masalah

    Schizophrenia merupakan gangguan kesehatan serius yang perlu mendapat

    perhatian. Menurut World Health Organiztion (WHO), schizophrenia

    merupakan gangguan mental serius yang mempengaruhi sekitar tujuh dari

    1000 populasi orang dewasa, kebanyakan dalam rentang usia 15 - 35 tahun.

    Walaupun insidennya rendah (3/10.000), prevalensi penyakit ini cukup tinggi

    karena penyakit ini bersifat kronis (WHO, 2012). Prevalensi median dari

    schizophrenia adalah 4.6/1.000 untuk prevalensi point, 3.3/1.000 for

    prevalensi periodik dan 4.0/1.000 untuk lifetime prevalence dan 7.2/1.000

    untuk risiko morbiditas (NCBI, 2012). Melihat prevalensi ini, schizophrenia

    perlu mendapat perhatian dalam penanganan dan pencegahan meningkatnya

    prevalensi.

    Prevalensi gangguan jiwa di Indonesia tidak jauh berbeda dengan

    prevalensinya di dunia. Angka kejadian gangguan jiwa di Indonesia

    berdasarkan data riskesdas adalah sebesar 4,6/1000 jiwa (Balitbangkes, 2007).

    Angka ini sama dengan angka prevalensi median gangguan jiwa di dunia. Di

    Indonesia diperkirakan sekitar 1 juta penduduk menderita gangguan jiwa

    (Depkes, 2012). Hasil pendataan kesehatan untuk schizophrenia ini bisa jadi

    merupakan fenomena gunung es di mana angka sebenarnya di lapangan

    dapat lebih besar, karena stigma yang buruk mengenai gangguan jiwa yang

    menyebabkan kejadian gangguan jiwa atau schizophrenia banyak ditutup-

    tutupi oleh masyarakat.

    Penyakit schizophrenia juga dianggap penyakit yang tidak kalah berbahaya

    dibandingkan dengan penyakit-penyakit fisik kronis lainnya. Ho, Black dan

    Andreasen (2003, dalam Townsend, 2009) menyatakan bahwa schizophrenia

    mungkin merupakan penyakit yang paling membingungkan dan paling tragis

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 2Universitas Indonesia

    yang mengancam jiwa, dan mungkin juga penyakit yang paling merusak.

    Penyakit ini tidak kalah berbahaya dibanding penyakit fisik kronis lainnya

    pada usia dewasa. Schizophrenia menyerang pada usia muda, karena itu tidak

    seperti pasien dengan kanker atau penyakit jantung, pasien dengan

    schizophrenia masih tetap hidup bertahun tahun setelah onset penyakit dan

    terus menderita karena efek penyakit tersebut, sehingga menghambat mereka

    untuk menjalani kehidupan dengan normal, seperti sekolah, bekerja, memiliki

    teman dekat, menikah, atau memiliki anak. Schizophrenia dapat berefek

    terhadap individu, keluarga dan juga menyebabkan beban ekonomi yang besar

    di masyarakat (Townsend, 2009). Dari pernyataan tersebut dapat dilihat

    bahwa selain berbahaya, penyakit ini juga berdampak buruk pada keluarga

    dan menjadi beban bagi masyarakat.

    Klien dengan schizophrenia terpisah dari dunia nyata dan memiliki dunianya

    sendiri, seperti pengertian kata schizophrenia yang diambil dari bahasa

    Yunani schizein yang berarti terbelah dan phren yang berarti pikiran

    (Townsend, 2009). Orang dengan schizophrenia dapat mendengarkan suara

    yang tidak dapat didengar orang lain. Mereka dapat berpikir bahwa orang lain

    dapat membaca pikirannya, mengontrol pikirannya, atau berencana untuk

    menyakiti mereka. Hal ini menakutkan bagi penderita schizophrenia dan

    membuat mereka menarik diri atau gelisah berlebihan. Keluarga dan

    masyarakat sekitar dapat juga terkena dampak dari schizophrenia.

    Kebanyakan orang dengan schizophrenia memiliki kesulitan dalam

    menjalankan pekerjaannya atau bahkan untuk merawat dirinya sendiri, maka

    mereka bergantung pada bantuan orang lain (NIMH, 2012). Dari sini dapat

    dilihat bahwa schizophrenia berdampak buruk pada individu, keluarga dan

    masyarakat sekitarnya.

    Orang dengan schizophrenia akan mengalami gangguan dalam

    kemandiriannya menjalankan fungsi dan peran dalam kehidupan sehari hari,

    seperti merawat diri sendiri, sekolah atau bekerja dan fungsi lainnya. Oleh

    karena itu, pasien dengan schizophrenia memerlukan bantuan dari pihak lain

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 3Universitas Indonesia

    untuk tetap bertahan hidup, atau dengan kata lain bergantung pada bantuan

    orang lain (NIMH, 2012). Unit terdekat yang dapat membantu pasien dengan

    schizophrenia adalah keluarga. Karena prevalensinya yang tinggi dan penyakit

    ini bersifat kronik maka selain memberikan penanganan secara medis dengan

    obat-obatan, diperlukan juga terapi untuk meningkatkan kemandirian klien

    agar selama menjalani pengobatan kemandirian klien dapat ditingkatkan dan

    dapat mengurangi kebergantungan pasien pada orang lain.

    Schizophrenia sampai dapat menyebabkan kematian karena kejadian bunuh

    diri. Radomsky, Haas, Mann, dan Sweeney (1999, dalam Townsend, 2009)

    memperkirakan 10% pasien dengan schizophrenia meninggal karena bunuh

    diri. Penelitian lain memperkirakan kejadian ide bunuh diri pada klien

    schizophrenia sekitar 40 - 55% dan percobaan bunuh diri sekitar 20 50%

    (Addington, 2006 dalam Townsend, 2009). Mempertimbangkan bahaya yang

    dapat ditimbulkan oleh penyakit ini kepada individu, maka schizophrenia ini

    perlu mendapat perhatian serius dalam penanganannya.

    Penanganan masalah gangguan jiwa perlu dirancang dengan baik dengan

    mengikutsertakan berbagai pihak. Menurut perhitungan utilisasi layanan

    kesehatan jiwa di tingkat primer, sekunder, dan tertier kesenjangan

    pengobatan diperkirakan >90%. Hal ini berarti bahwa hanya

  • 4Universitas Indonesia

    satu penanganan saja yang bisa mengatasi schizophrenia. Karena itu,

    penanganan yang efektif memerlukan usaha yang komprehensif, melibatkan

    multidisiplin, termasuk terapi farmaka dan berbagai bentuk perawatan

    psikososial, seperti kemampuan untuk menjalani hidup sehari-hari dan

    keterampilan sosial, rehabilitasi dan terapi keluarga (Townsend, 2009).

    Karena itu, penanganan schizophrenia memerlukan kombinasi antara terapi

    farmaka dan terapi lain seperti psikoterapi, rehabilitasi dan sebagainya.

    Penanganan penyakit schizophrenia dapat melibatkan penanganan medis,

    psikoterapi dan rehabilitasi. Dalam keperawatan telah dikenal adanya Standar

    Asuhan Keperawatan (SAK) Jiwa yang merupakan panduan bagi perawat

    dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien dan keluarganya. SAK ini

    digunakan oleh perawat untuk memberikan tindakan keperawatan generalis.

    SAK ini berisi panduan untuk menangani diagnosa keperawatan Sedangkan

    untuk terapi spesialis keperawatan jiwa telah dikembangkan berbagai

    psikoterapi untuk individu, kelompok dan keluarga.

    Keluarga sebagai unit sosial terdekat dengan klien juga memerlukan terapi

    untuk menangani anggota keluarganya yang mengalami schizophrenia. Selain

    asuhan keperawatan generalis sesuai SAK, saat ini telah dikembangkan pula

    psikoterapi untuk keluarga antara lain Family Psychoeducation dan Triangle

    Therapy (Keliat & Walter, 2011). Berbagai terapi ini terus dikembangkan dan

    banyak dilakukan penelitian untuk terus mengembangkan metoda terapi dan

    efeknya untuk masalah dan gangguan kesehatan jiwa.

    Family psycho-education (FPE) atau psikoedukasi keluarga adalah salah satu

    terapi untuk keluarga yang dapat digunakan di berbagai setting pelayanan

    keperawatan jiwa. Psikoedukasi adalah pendekatan edukasional dan pragmatis

    yang bertujuan untuk memperbaiki pengetahuan mengenai anggota keluarga

    yang sakit, mengurangi kekambuhan, dan memperbaiki keberjalanan fungsi

    pasien dan keluarga (Stuart, 2009). Psikoedukasi keluarga dapat diberikan

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 5Universitas Indonesia

    pada keluarga dalam berbagai setting, baik di rumah sakit jiwa, rumah sakit

    umum maupun di komunitas.

    Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui efek dari pemberian

    FPE ini secara langsung kepada keluarga dan secara tidak langsung kepada

    klien. Salah satu penelitian dalam The British Journal of Psychology

    menunjukkan efek pemberian FPE pada keluarga yang merawat klien dengan

    depresi mayor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok pada

    kelompok yang diberikan FPE, waktu kekambuhan klien secara statistik lebih

    panjang dibandingkan dengan kelompok keluarga yang tidak diberikan FPE

    (Kaplan-Meier survival analysis, P=0,002) (Shimazu, et.al, 2008). Hal ini

    menunjukkan bahwa intervensi pada keluarga memberikan dampak yang

    positif terhadap klien.

    Pemberdayaan masyarakat dalam menangani schizophrenia juga tidak dapat

    diabaikan. Seperti telah disampaikan sebelumnya bahwa masalah

    schizophrenia memberikan dampak pada keluarga dan masyarakat di

    sekitarnya. Karena itu keberadaan keluarga dan masyarakat perlu

    dipertimbangkan dalam rangka menangani masalah gangguan jiwa ini.

    Pemberdayaan masyarakat dalam keperawatan kesehatan jiwa diwujudkan

    dengan dikembangkannya model Community Mental Health Nursing

    (CMHN). CMHN / Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas (KKJK)

    merupakan salah satu upaya yang digunakan untuk membantu masyarakat

    menyelesaikan masalah-masalah kesehatan jiwa akibat dampak konflik,

    tsunami, gempa maupun bencana lainnya (Keliat dkk, 2011). Dalam CMHN

    masyarakat diberdayakan agar dapat mengatasi masalah kesehatan jiwa di

    wilayah tempat tinggalnya.

    Penelitian terkait penerapan model CMHN yang dilakukan Keliat, Helena dan

    Riasmini (2011) yang mengujicobakan model CMHN pada 237 keluarga di

    DKI Jakarta. Pada penelitian ini perawat CMHN melakukan kunjungan rumah

    dilakukan sebanyak 12 kali kunjungan. Penelitian dilakukan dengan

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 6Universitas Indonesia

    memberikan asuhan keperawatan kepada klien dan memberikan health

    education kepada keluarga klien. Hasil analisis menunjukkan rata-rata

    kemandirian pasien pada kelompok intervensi sebelum penerapan model

    CMHN yaitu 29.94, standar deviasi 11.27, dan setelah penerapan model

    CMHN yaitu 38.83, standar deviasi 9.32. Rata-rata waktu produktif pasien

    pada kelompok intervensi sebelum penerapan model CMHN yaitu 2.21,

    standar deviasi 1.36, dan setelah penerapan model sebesar 3.82, standar

    deviasi 1.28. Ada perbedaan bermakna kemampuan kognitif keluarga sebelum

    dan sesudah intervensi pada kelompok intervensi (p value = 0.000), sedangkan

    pada kelompok kontrol tidak ada perbedaan bermakna (p value = 0.123) ada

    perbedaan bermakna kemampuan psikomotor sebelum dan setelah penerapan

    model CMHN baik pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol (p

    value = 0.000 dan 0.027). Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa penerapan

    model CMHN berdampak positif terhadap klien dan keluarga.

    Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan pola kunjungan rumah

    seperti pada penelitian di atas ditambah dengan pemberdayaan kader untuk

    menjalankan peran PMO (Pengawas Minum Obat). Peran PMO digunakan

    dengan mempertimbangkan sumber daya yang telah ada, yaitu tersedianya

    kader yang khusus berperan dalam program kesehatan jiwa dan fenomena

    yang ditemukan selama peneliti melakukan studi pendahuluan yang akan

    dijelaskan lebih rinci pada paragraf selanjutnya.

    Peran kader dalam model CMHN salah satunya adalah melakukan kunjungan

    rumah ke keluarga pasien gangguan jiwa yang telah mandiri (Keliat, 2010).

    Kegiatan yang dapat dilakukan saat kader melakukan kunjungan rumah adalah

    menjalankan peran PMO (Pengawas Minum Obat) seperti yang telah

    dikembangkan oleh Departemen Kesehatan untuk penyakit tuberculosis. PMO

    bertugas untuk menjamin keteraturan pengobatan klien. PMO sendiri

    sebaiknya dilakukan oleh petugas kesehatan, atau jika tidak memungkinkan

    dapat dilakukan oleh kader atau keluarga klien (Nizar, 2010). Pada penelitian

    ini akan diujicobakan pelaksanaan peran PMO oleh kader.

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 7Universitas Indonesia

    Kecamatan Kersamanah adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Garut

    Propinsi Jawa Barat yang cukup potensial untuk diberikan terapi spesialis.

    Jumlah klien gangguan jiwa di kecamatan tersebut sampai akhir Desember

    2011 mencapai 98 orang dari total jumlah penduduk 37.681 orang. Dengan

    demikian prevalensi gangguan jiwa di kecamatan tersebut adalah 2,6/1000

    jiwa. Angka ini lebih besar dari prevalensi di Provinsi Jawa Barat yang

    mencapai 2,2/1000 jiwa. Desa Kersamanah yang memiliki jumlah klien paling

    banyak, yaitu 35 klien, sempat diberitakan sebagai desa gila pada tahun

    2008 dalam salah satu media massa di Jawa Barat. Berdasarkan data Bulan

    Januari 2012 yang diperoleh dari data sekunder di puskesmas, didapatkan data

    dari 98 klien, sebanyak 39 klien terdata drop out (DO) obat dengan alasan

    berbeda-beda.

    Peneliti melakukan studi pendahuluan dengan mengunjungi enam keluarga

    dengan schizophrenia. Dari hasil pengkajian didapatkan dua dari enam klien

    belum mandiri melakukan perawatan diri dan salah satu klien tersebut

    mengalami pemasungan sehingga perawatan dirinya semakin buruk. Empat

    dari enam klien menunjukkan gejala fase aktif schizophrenia seperti

    halusinasi, disorganisasi pembicaraan, gejala-gejala negatif seperti afek datar,

    dan tidak ada motivasi untuk beraktivitas. Semua klien tidak mengetahui

    bagaimana cara mengatasi masalah keperawatan, seperti halusinasi, isolasi

    sosial dan risiko perilaku kekerasan yang muncul pada dirinya. Empat dari

    enam klien yang dikaji, tidak teratur minum obat dengan berbagai alasan.

    Alasan yang dikemukakan terkait pengobatan antara lain, klien menolak

    minum obat karena bosan, klien tidak minum obat karena keluarga merasa

    tidak perlu diobati, dan klien minum obat semaunya karena tidak diawasi oleh

    orangtuanya yang sudah tua. Hal ini menunjukkan bahwa klien memerlukan

    asuhan keperawatan untuk meningkatkan kemandirian dan meningkatkan

    kepatuhan klien minum obat.

    Studi pendahuluan juga dilakukan kepada keluarga klien untuk mengetahui

    usaha keluarga untuk mengatasi penyakit klien dan dampak kondisi klien pada

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 8Universitas Indonesia

    keluarga. Empat dari enam keluarga merasa bingung dan tidak tahu apa yang

    harus dilakukan pada anggota keluarganya yang sakit. Dua keluarga merasa

    terancam dan takut kepada klien dan pernah menjadi korban perilaku

    kekerasan klien. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga tidak memiliki koping

    yang adekuat untuk merawat klien. Untuk itu keluarga perlu diberikan terapi

    untuk meningkatkan pengetahuannya tentang cara merawat klien serta

    meningkatkan kopingnya dalam menghadapi klien.

    Kelima desa di Kecamatan Kersamanah memiliki 4-5 kader untuk membantu

    petugas kesehatan di puskesmas. Hal yang sudah dilakukan kader yang ada

    adalah membantu pasien mendapatkan obat dari puskesmas, memotivasi

    pasien dan keluarga untuk mengingatkan pasien untuk minum obat,

    mengidentifikasi pasien baru dan melaporkannya ke pihak puskesmas..

    Peneliti juga menanyakan perihal kunjungan kader dan petugas puskesmas ke

    rumah warga. Satu dari enam keluarga yang dikaji adalah kader kesehatan

    jiwa yang dinilai cukup aktif di puskesmas. Satu keluarga lain menyatakan

    bahwa kader dan petugas puskesmas tidak pernah mendatangi rumahnya. Satu

    keluarga lain berikutnya menyatakan jarang, tetapi keluarga akan mendatangi

    puskesmas jika gejala klien muncul lagi. Sedangkan tiga keluarga lain

    menyatakan kader kesehatan jiwa maupun petugas puskesmas jarang datang

    ke rumahnya, petugas atau kader hanya datang ketika memberikan obat atau

    menyampaikan ada kegiatan di puskesmas. Kader juga belum pernah

    mendapatkan pelatihan Kader Kesehatan Jiwa (KKJ) sebelumnya. Peneliti

    tertarik untuk memberdayakan kader untuk melakukan kunjungan rumah

    sebagai salah satu peran KKJ untuk melakukan peran PMO.

    Kecamatan Kersamanah terdiri dari lima desa, yaitu Desa Kersamanah, Desa

    Sukamaju, Desa Girijaya, Desa Nanjungjaya, dan Desa Sukamerang.

    Puskesmas utama berlokasi di Desa Sukamerang, dan puskesmas pembantu

    terletak di Desa Kersamanah dan Desa Nanjungjaya. Dengan adanya

    puskesmas pembantu, diperkirakan akses warga ke puskesmas cukup

    terjangkau. Puskesmas juga menyediakan pemeriksaan psikiater gratis di

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 9Universitas Indonesia

    puskesmas satu minggu sekali dan pemberian obat gratis. Dapat disimpulkan

    bahwa jarak puskesmas dan biaya pengobatan seharusnya tidak menjadi

    hambatan untuk klien berobat. Jumlah petugas puskesmas untuk kesehatan

    jiwa di Kecamatan Kersamanah adalah 2 orang, dibantu 2 orang lainnya untuk

    teknis di lapangan. Petugas puskesmas merasa perlu dibantu oleh kader dalam

    menjalankan tugasnya di lapangan seperti menyampaikan obat ke rumah klien.

    Pengelolaan klien secara langsung ke rumah-rumah kurang optimal dilakukan

    oleh petugas puskesmas karena keterbatasan tenaga. Kecamatan Kersamanah

    juga belum pernah terpapar dengan terapi spesialis keperawatan jiwa.

    Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, peneliti tertarik untuk

    meneliti pengaruh pemberian asuhan keperawatan kepada klien, FPE pada

    keluarga dan pelaksanaan peran PMO oleh kader terhadap kemandirian dan

    kepatuhan berobat klien gangguan jiwa di Kecamatan Kersamanah tersebut.

    1.2 Rumusan Masalah

    Kecamatan Kersamanah merupakan salah satu kecamatan di Provinsi Jawa

    Barat yang memiliki prevalensi gangguan jiwa lebih tinggi dibandingkan

    dengan prevalensi gangguan jiwa di Provinsi Jawa Barat. Jumlah klien yang

    terdeteksi sampai Bulan Desember 2012 adalah 98 orang. Dari 98 klien,

    sebanyak 39 orang terdata drop out (DO) obat karena berbagai alasan. Dari

    hasil studi pendahuluan diketahui empat dari enam klien belum mandiri dalam

    melakukan perawatan diri, bahkan salah satu klien dipasung oleh keluarga.

    Semua klien yang dikaji menyatakan tidak tahu bagaimana cara mengatasi

    masalah yang dialaminya, seperti halusinasi, isolasi sosial, defisit perawatan

    diri dan perilaku kekerasan.

    Enam keluarga yang dikaji mengatakan tidak tahu dalam merawat klien

    dengan gangguan jiwa. Dua keluarga merasa takut dan pernah menjadi korban

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 10

    Universitas Indonesia

    perilaku kekerasan klien. Seluruh keluarga belum pernah terpapar oleh terapi

    spesialis keperawatan jiwa seperti FPE sebelumnya.

    Setiap desa memiliki sumber daya berupa kader sebanyak 4-5 orang yang

    bertugas untuk membantu petugas puskesmas menjalankan program kesehatan

    jiwa di kecamatan tersebut. Namun menurut keluarga petugas puskesmas dan

    kader tidak teratur datang ke rumah klien. Belum pernah ada program PMO

    sebelumnya.

    Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, didapatkan

    masalah-masalah penelitian sebagai berikut:

    1.2.1 Prevalensi gangguan jiwa di Kecamatan Kersamanah, yaitu sebesar

    2,6/1000 jiwa, lebih tinggi dibanding prevalensi di Jawa Barat sebesar

    2,2/1000 jiwa.

    1.2.2 Empat dari enam klien yang dikunjungi belum mandiri dalam

    melakukan ADL (Activity Daily Living) nya.

    1.2.3 Sebesar 39 dari 98 klien (39,8%) dinyatakan drop out berobat.

    1.2.4 Semua keluarga yang dikunjungi belum memahami cara merawat klien

    di rumah.

    1.2.5 Kader tidak teratur melakukan kunjungan rumah.

    1.2.6 Belum pernah dilakukan FPE dan peran PMO sebelumnya.

    Berdasarkan berbagai permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk

    memberikan asuhan keperawatan kepada klien, FPE kepada keluarga dan

    memberdayakan kader untuk menjalankan peran PMO kepada klien dengan

    schizophrenia di Kersamanah Garut, dengan pertanyaan penelitian yaitu:

    1. Apakah pemberian asuhan keperawatan pada klien, keluarga dan peran

    Pengawas Minum Obat oleh kader mempengaruhi kemandirian dan

    kepatuhan berobat klien schizophrenia di Kersamanah Garut?

    2. Apakah ada hubungan antara kemandirian dengan kepatuhan berobat klien

    schizophrenia di Kersamanah Garut?

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 11

    Universitas Indonesia

    3. Apakah karakteristik klien mempengaruhi kemandirian dan kepatuhan

    berobat klien schizophrenia di Kersamanah Garut?

    1.3 Tujuan Penelitian

    1.3.1 Tujuan Umum Penelitian

    Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh

    pemberian asuhan keperawatan kepada klien, keluarga dan peran

    Pengawas Minum Obat (PMO) terhadap kemandirian dan kepatuhan

    berobat klien schizophrenia di Kersamanah Garut.

    1.3.2 Tujuan Khusus Penelitian

    Tujuan khusus penelitian ini adalah sebagai berikut:

    1.3.2.1 Diketahuinya karakteristik klien schizophrenia di Kersamanah

    Garut

    1.3.2.2 Diketahuinya kemandirian klien schizophrenia di Kersamanah

    Garut.

    1.3.2.3 Diketahuinya kepatuhan berobat klien schizophrenia di

    Kersamanah Garut.

    1.3.2.4 Diketahuinya pengaruh asuhan keperawatan kepada klien, FPE

    kepada keluarga dan peran PMO oleh kader terhadap

    kemandirian dan kepatuhan berobat klien schizophrenia di

    Kersamanah Garut.

    1.3.2.5 Diketahuinya hubungan antara kemandirian dengan kepatuhan

    berobat klien schizophrenia di Kecamatan Kersamanah.

    1.3.2.6 Diketahuinya karakteristik yang berkontribusi terhadap

    kemandirian dan kepatuhan berobat klien schizophrenia di

    Kecamatan Kersamanah.

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 12

    Universitas Indonesia

    1.4 Manfaat Penelitian

    Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:

    1.4.1 Pelayanan keperawatan

    Dengan penelitian ini diharapkan Unit Kesehatan Jiwa Puskesmas

    Kersamanah dapat mengembangkan pelayanan kesehatan jiwa dengan

    sasaran klien, keluarga dan kader. Penelitian ini juga diharapkan

    menjadikan masukan bagi puskesmas untuk mengadakan pelatihan

    CMHN untuk program kesehatan jiwa di Kecamatan Kersamanah.

    Bagi kader yang sudah terbentuk diharapkan dapat menjadi masukan

    untuk menjalankan peran sebagai Kader Kesehatan Jiwa sesuai dengan

    model CMHN.

    1.4.2 Ilmu pengetahuan

    1.4.2.1 Hasil penelitian ini dapat menjadi data dasar dalam

    pengembangan kader sesuai dengan model CMHN

    1.4.2.2 Penelitian ini dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi

    keluarga, kader dan petugas puskesmas dalam memberikan

    intervensi pada klien dengan schizophrenia

    1.4.3 Penelitian keperawatan

    Hasil penelitian ini dapat dijadikan data awal untuk melakukan

    penelitian selanjutnya terkait intervensi kepada klien dengan

    schizophrenia, keluarga dan kader.

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 13

    Universitas Indonesia

    UNIVERSITAS INDONESIA

    PENGARUH ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN, KELUARGA DAN PERAN PENGAWAS MINUM OBAT

    TERHADAP KEMANDIRIAN DAN KEPATUHAN BEROBAT KLIEN SCHIZOPHRENIA DI KERSAMANAH GARUT

    TESIS

    Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Keperawatan Kekhususan Keperawatan Jiwa

    Rahmi Imelisa1006749182

    FAKULTAS ILMU KEPERAWATANPROGRAM MAGISTER ILMU KEPERAWATAN

    KEKHUSUSAN KEPERAWATAN JIWAUNIVERSITAS INDONESIA

    DEPOK, JULI 2012

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 14

    Universitas Indonesia

    UNIVERSITAS INDONESIA

    PENGARUH ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN, KELUARGA DAN PERAN PENGAWAS MINUM OBAT

    TERHADAP KEMANDIRIAN DAN KEPATUHAN BEROBAT KLIEN SCHIZOPHRENIA DI KERSAMANAH GARUT

    TESIS

    Rahmi Imelisa1006749182

    FAKULTAS ILMU KEPERAWATANPROGRAM MAGISTER ILMU KEPERAWATAN

    UNIVERSITAS INDONESIADEPOK, JULI 2012

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 13Universitas Indonesia

    BAB 2

    TINJAUAN PUSTAKA

    Pada bab ini akan disampaikan tinjauan pustaka mengenai schizophrenia,

    termasuk penanganan kepada klien, keluarga dan peran kader dalam PMO,

    kemandirian, dan kepatuhan berobat.

    2.1 Schizophrenia

    Berikut ini akan dibahas mengenai definisi schizophrenia, proses terjadinya

    schizophrenia, tanda dan gejala schizophrenia, dan proses keperawatan pada

    klien dengan schizophrenia.

    2.1.1 Definisi schizophrenia

    Kata schizophrenia adalah kombinasi dari dua kata dari Yunani,

    schizein, yang berarti terbelah, dan phren, yang berarti pikiran.

    Namun bukan berarti pikiran terbelah seperti yang terjadi pada seseorang

    dengan kepribadian terbelah, tetapi keyakinan bahwa pembelahan terjadi

    antara kognitif dan emosional seseorang (Stuart, 2009).

    Schizophrenia merupakan salah satu fase dari psikosis. Untuk

    memahami schizophrenia terlebih dahulu perlu dipahami mengenai

    pengertian psikosis. Psikosis adalah kondisi mental di mana terjadi

    disorganisasi kepribadian, kerusakan dalam fungsi sosial dan kehilangan

    kontak atau distori terhadap realita. Mungkin terjadi halusinasi dan

    waham. Psikosis dapat terjadi dengan atau tanpa adanya kerusakan

    organik (Townsend, 2009). Stuart (2009) mendefinisikan psikosis

    sebagai kondisi mental dimana seseorang memiliki pengalaman realita

    yang berbeda dari orang lain. Pada kondisi ini pasien tidak akan

    menyadari bahwa orang lain tidak mengalami apa yang dialaminya dan

    pasien akan merasa heran karena orang lain tidak bereaksi sama dengan

    dirinya (Stuart, 2009). Dan Fontaine (2009) mendefinisikan psikosis

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 14

    Universitas Indonesia

    sebagai pengalaman perubahan mental yang menetap, seperti

    ketidakmampuan berpikir jernih, tidak mampu memaknai sesuatu

    dengan benar, dan tidak mampu mengontrol emosi yang berlebih. Dari

    beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa psikosis adalah

    gangguan mental di mana klien mengalami perubahan persepsi terhadap

    realita. Klien dengan psikosis mengalami kesulitan dalam memaknai

    kenyataan.

    Definisi psikosis dan schizophrenia seringkali beriringan. Shizophrenia

    sendiri menurut Townsend (2009) merupakan salah satu tahapan dari

    psikosis, yaitu saat tanda dan gejala muncul sangat mencolok. Stuart

    (2009) mendefinisikan schizophrenia sebagai penyakit otak

    neurobiologis yang menetap. Menurutnya pula, bahwa schizophrenia

    merupakan gejala klinis yang berdampak pada kehidupan individu,

    keluarga dan komunitasnya. Stuart mengelompokkan schizophrenia ke

    dalam rentang respon neurobiologis. Schizophrenia oleh Videbeck

    (2008), diartikan sebagai suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan

    menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, dan perilaku

    yang aneh dan terganggu. Dan Fontaine (2009) mendefinisikan

    schizophrenia sebagai kombinasi dari kerusakan berpikir, gangguan

    persepsi, ketidaknormalan perilaku, gangguan afektif dan kerusakan

    kompetensi sosial. Dapat disimpulkan bahwa schizophrenia merupakan

    gangguan neurobiologis yang dimanifestasikan dengan gangguan

    persepsi terhadap realita dan disertai dengan perilaku yang abnormal.

    Berikut ini adalah kriteria DSM-IV-TR (APA, 2000 dalam Townsend,

    2009) yang digunakan untuk mendiagnosa schizophrenia:

    1. Gejala karakteristik: dua (atau lebih) dari gejala berikut, masing-

    masing terjadi dalam waktu yang signifikan selama periode 1 bulan

    (atau kurang jika berhasil ditangani):

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 15

    Universitas Indonesia

    a. Delusi (waham)

    b. Halusinasi

    c. Disorganisasi pembicaraan

    d. Perilaku katatonik

    e. Gejala negatif (misal afek datar, alogia, atau avolisi)

    2. Disfungsi sosial atau okupasional: untuk waktu yang signifikan sejak

    muncul gangguan, satu atau lebih area mayor atau fungsi seperti

    pekerjaan, hubungan interpersonal, atau perawatan diri berada di

    bawah normal pada level sebelum onset gangguan (atau jika onset

    pada masa anak atau remaja, kegagalan mencapai pencapaian tingkat

    interpersonal, akademik atau okupasional).

    3. Durasi: gangguan berlanjut dan menetap selama sekurang-kurangnya

    6 bulan. Selama 6 bulan ini termasuk masa 1 bulan gejala aktif (atau

    kurang jika penanganan baik) dan dapat termasuk fase prodromal

    atau residual. Selama masa prodromal dan residual ini, tanda-tanda

    dari gangguan ini dapat berupa gejala negatif saja atau dua atau lebih

    gejala yang telah diuraikan pada kriteria 1 dan muncul dalam bentuk

    yang melemah (misal keyakinan yang aneh, ekpresi persepsi yang

    tidak biasa).

    4. Eksklusi skizoafektif dan mood disorder: Gangguan skizoafektif dan

    mood disorder dengan masalah psikotik telah dikeluarkan karena (1)

    tidak ada depresi mayor, manic, atau episode campuran yang terjadi

    bersamaan dengan gejala fase aktif; atau (2) jika episode mood

    terjadi selama fase aktif, durasi totalnya berhubungan langsung

    dengan durasi masa aktif dan residual.

    5. Esklusi masalah substansi atau kondisi kesehatan umum: Gangguan

    yang terjadi tidak secara langsung merupakan efek fisiologis dari

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 16

    Universitas Indonesia

    penggunaan substansi tertentu (misal penyalahgunaan obat, atau

    pengobatan) atau kondisi medis secara umum.

    6. Berhubungan dengan gangguan perkembangan pervasif: jika ada

    riwayat autis atau masalah perkembangan lainnya, maka diagnosa

    schizophrenia ditambahkan hanya jika waham atau halusinasi yang

    sangat kuat muncul selama sekurang-kurangnya 1 bulan (atau kurang

    jika penanganan baik).

    2.1.2 Proses Terjadinya Schizophrenia

    Untuk memahami proses terjadinya schizophrenia, perlu dipahami pula

    perjalanan gangguan psikotik, karena schizophrenia merupakan salah

    satu fase yang muncul pada perjalanan gangguan psikotik. Berikut ini

    akan diuraikan mengenai empat fase perjalanan gangguan psikotik.

    Schizophrenia dapat muncul tiba-tiba, tetapi kebanyakan tanda dan

    gejala berkembang secara lambat dan bertahap. Gejala yang dapat

    muncul seperti menarik diri dari masyarakat, perilaku yang tidak lazim,

    kehilangan minat untuk sekolah atau bekerja, dan seringkali

    mengabaikan hygiene (Videbeck, 2008).

    Psikosis berkembang dalam empat fase, yaitu fase premorbid, fase

    prodromal, fase schizophrenia dan fase residual. Berikut ini adalah

    uraian dari setiap fase tersebut.

    2.1.2.1 Fase I : Fase premorbid

    Fase ini ditandai dengan periode munculnya ketidaknormalan

    fungsi, walaupun hal ini dapat terjadi sebagai akibat dari efek

    penyakit tertentu (Lehman et al, 2006 dalam Townsend, 2009).

    Indikator premorbid dari psikosis, diantaranya adalah riwayat

    psikiatri keluarga, riwayat prenatal, dan komplikasi obstetrik dan

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 17

    Universitas Indonesia

    defisit neurologis. Faktor premorbid lain adalah pribadi yang

    terlalu pemalu dan menarik diri, hubungan sosial yang kurang

    baik dan menunjukkan perilaku antisosial. Faktor usia dan jenis

    kelamin perlu menjadi perhatian, perilaku menyimpang

    cenderung lebih muncul saat remaja. Dan perilaku antisosial

    lebih sering ditunjukkan oleh gender laki-laki, sementara perilaku

    pasif dan menarik diri sering ditemui pada wanita (Olin dan

    Mednick, 1996 dalam Townsend, 2009). Pada tahap ini individu

    telah mengalami gangguan dalam menjalankan fungsi dalam

    aktivitasnya sehari-hari. Pada fase ini tanda-tanda psikotik belum

    muncul sehingga pencegahan pada klien yang telah menunjukkan

    perilaku premorbid perlu diperhatikan.

    2.1.2.2 Fase II : Fase prodromal

    Fase ini menunjukkan tanda dan gejala tertentu yang mengarah

    pada manifestasi fase akut dari penyakit ini. Fase prodromal

    dimulai dengan adanya perubahan fungsi premorbid dan meluas

    sampai munculnya gejala psikotik. Fase ini dapat terjadi dalam

    beberapa minggu atau bulan, tetapi banyak penelitian

    menyatakan bahwa fase prodromal terjadi antara 2 sampai 5

    tahun. Lehman dan asosiasinya (2006 dalam Townsend, 2009),

    menyatakan bahwa selama fase prodromal pasien akan

    mengalami kerusakan fungsional penting dan gejala-gejala yang

    tidak spesifik, seperti gangguan tidur, kecemasan, mudah

    tersinggung, mood depresi, penurunan konsentrasi, lemah, dan

    defisit perilaku seperti penurunan fungsi peran dan menarik diri

    dari lingkungan sosial. Gejala positif seperti abnormalitas

    persepsi, referensi ide, dan kecurigaan berkembang pada akhir

    fase prodromal dan semakin mendekati kejadian psikosis

    (Townsend, 2009). Pada fase ini tanda-tanda psikotik mulai

    muncul dengan intensitas rendah. Pengenalan tanda dan gejala

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 18

    Universitas Indonesia

    dan penanganan pada fase ini perlu diperhatikan agar tidak

    berkembang menuju fase aktif.

    2.1.2.3 Fase III : Fase Schizophrenia

    Fase schizophrenia merupakan fase aktif dari perjalanan penyakit

    psikosis. Pada fase ini gejala gangguan tampak sangat mencolok

    (Townsend, 2009). Tanda dan gejala pada fase ini akan

    diuraikan pada sub pokok bahasan berikutnya mengenai tanda

    dan gejala schizophrenia.

    2.1.2.4 Fase IV : Fase Residual

    Schizophrenia ditandai dengan adanya masa remisi dan

    eksaserbasi. Fase residual biasanya mengikuti fase aktif penyakit.

    Selama fase residual, gejala dari masa akut dapat hilang atau

    tidak mencolok lagi. Gejala negatif mungkin masih ada, dan afek

    datar dan kerusakan fungsi peran biasa terjadi. Kerusakan

    residual biasanya berkembang antara masa masa aktif psikosis.

    2.1.3 Tanda dan gejala schizophrenia

    Pengelompokkan tanda dan gejala schizophrenia dikembangkan dalam

    beberapa sistem pengelompokkan. Satu sistem mengelompokkan tanda

    dan gejala ini dalam 2 kelompok, yaitu gejala positif dan negatif. Sistem

    lain mengelompokkannya dalam 5 kelompok gejala, yaitu gejala positif,

    gejala negatif, gejala kognitif, disfungsi sosial dan okupasional, serta

    gejala mood (Stuart, 2009). Sistem yang membagi gejala menjadi 5

    kelompok mempermudah pemahaman kita akan efek schizophrenia pada

    individu, keluarga dan masyarakat (komunitas).

    Gejala positif adalah gejala di mana perilaku yang muncul berlebihan

    dibandingkan dengan perilaku normal, sebaliknya gejala negatif adalah

    gejala yang muncul saat perilaku lebih menurun dibandingkan perilaku

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 19

    Universitas Indonesia

    normal. Gejala positif adalah gangguan atau fungsi yang berlebihan dari

    fungsi normal, biasanya berrespon terhadap semua jenis obat obatan

    antipsikotik. Gejala positif dapat dikelompokkan menjadi gangguan

    proses pikir; yaitu munculnya waham (paranoid, somatik, kebesaran,

    religious, nihilistik, atau penyiksaan; siar pikir, sisip pikir atau kontrol

    pikiran) dan halusinasi (pendengaran, penglihatan, peraba, pengecap atau

    penghidu), dan disorganisasi pembicaraan dan perilaku; yaitu gangguan

    pemikiran formal (inkoherensi, word salad, derailment, ketidaklogisan,

    kehilangan asosiasi, pemikiran tangensial, sirkumstansial, pembicaraan

    tertekan, pembicaraan terputus, atau sulit untuk bicara) dan perilaku

    yang aneh (katatonia, gangguan pergerakan, penururan perilaku sosial)

    (Stuart, 2009). Gejala positif menunjukkan perilaku klien yang

    berlebihan. Gejala positif ini biasanya memunculkan perilaku agresif dan

    dapat membahayakan klien dan orang lain di sekitarnya.

    Gejala negatif adalah penurunan atau hilangnya fungsi normal, biasanya

    tidak berrespon terhadap antipsikotik biasa dan lebih berrespon terhadap

    antipsikotik atipikal. Yang termasuk ke dalam gejala negatif adalah

    masalah emosi seperti afek datar (keterbatasan rentang atau intensitas

    dari ekspresi emosi), dan anhedonia/asocial (ketidakmampuan

    merasakan kesenangan atau membangun kontak sosial. Gejala negatif

    lain yaitu kerusakan kemampuan membuat keputusan, dapat dilihat dari

    adanya alogia (terbatasnya pemikiran dan pembicaraan), avolisi/apatis

    (kurang inisiatif dalam perilaku mencapai tujuan), dan kerusakan

    perhatian (tidak mampu fokus secara mental dan tidak mampu

    mempertahankan perhatian) (Stuart, 2009). Dari penjelasan ini dapat

    dianalisa bahwa gejala negatif dapat berkontribusi besar terhadap

    kemandirian klien. Klien yang menunjukkan gejala negatif akan

    mengalami penurunan motivasi dan kemampuan untuk melakukan

    kegiatan sehari-hari, sehingga dapat terjadi defisit perawatan diri.

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 20

    Universitas Indonesia

    2.1.4 Proses Keperawatan Pada Klien Dengan Schizophrenia

    Unsur dalam proses keperawatan adalah pengkajian, penetapan diagnosis

    keperawatan, intervensi, dan evaluasi (Nursalam, 2008). Berikut ini

    adalah Model Stress Adaptasi Stuart, yang merupakan salah satu model

    yang dapat dikembangkan dalam pendekatan proses keperawatan jiwa.

    Model ini mengintegrasikan aspek biologis, psikologis dan sosial budaya

    dalam pelayanan kepada klien. Tahapan yang terjadi sehingga muncul

    diagnosa keperawatan pada klien dapat dilihat pada skema 2.1.

    Skema 2.1

    Model Stress Adaptasi Stuart

    Sumber: Stuart (2009)

    2.1.4.1 Pengkajian

    Pengkajian klien schizophrenia dimulai dari mengkaji faktor

    predisposisi. Selanjutnya dikaji faktor presipitasi, faktor

    presipitasi, penilaian stressor, sumber koping dan mekanisme

    koping (Stuart, 2009).

    1. Faktor Predisposisi

    Faktor predisposisi menurut Model Stress Adaptasi Stuart

    terdiri dari tiga faktor, yaitu biologis, psikologis dan sosial

    budaya. Pendapat lain menyatakan bahwa schizophrenia

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 21

    Universitas Indonesia

    dapat merupakan hasil dari kombinasi beberapa penyebab

    diantaranya faktor biologis, faktor psikologis, dan faktor

    lingkungan (Townsend, 2009).

    a. Faktor Biologis

    Faktor biologis terdiri dari latar belakang genetik, status

    nutrisi, sensitivitas biologi, kondisi kesehatan umum, dan

    paparan terhadap zat racun.

    1) Genetik

    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa saudara dari

    individu dengan schizophrenia memiliki

    kecenderungan lebih besar untuk terkena penyakit ini

    dibandingkan populasi secara umum. Risiko umum

    untuk terkena schizophrenia adalah 1 persen di antara

    populasi penelitian, sedangkan saudara kandung atau

    keturunan dari klien yang teridentifikasi

    schizophrenia memiliki risiko 5 sampai 10 persen

    terkena schizophrenia (Andreasen & Black, 2006

    dalam Townsend, 2009). Pada penelitian ini faktor

    genetik akan diukur sebagai variabel perancu karena

    faktor genetik (herediter) menjadi faktor yang

    menyebabkan tingginya risiko seseorang menderita

    schizophrenia.

    Kejadian schizophrenia pada kembar monozigot

    memiliki rasio 4 sampai 5 kali risiko dibandingkan

    kembar dizigot dan sekitar 50 kali dibanding populasi

    umum (Sadock & Sadock, 2007 dalam Townsend,

    2009). Karena setengah kasus menunjukkan bahwa

    hanya salah satu dari pasangan monozigot yang

    terkena schizophrenia, maka beberapa peneliti

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 22

    Universitas Indonesia

    menyimpulkan bahwa ada faktor lingkungan yang

    berinteraksi dengan faktor genetik (Townsend, 2009).

    Hal ini menunjukkan bahwa schizophrenia terjadi

    tidak hanya karena faktor biologis saja, tetapi ada

    interaksi dengan faktor lain.

    2) Sensitivitas biologi

    Hipotesis dopamin menyatakan bahwa schizophrenia

    (atau gejala mirip schizophrenia) dapat disebabkan

    oleh aktivitas berlebih dari syaraf yang tergantung

    dopamine pada otak. Beberapa neurotransmitter telah

    diimplikasikan sebagai penyebab schizophrenia.

    Yaitu dopamine, norepinephrine, serotonin,

    glutamate, dan GABA. Sistem dopaminergik adalah

    yang paling banyak dipelajari dan yang paling dekat

    berkaitan dengan gejala penyakit (Townsend, 2009).

    Teori ini menunjukkan bahwa ketidakseimbangan

    neurotransmitter sangat berperan dalam munculnya

    tanda dan gejala schizophrenia.

    3) Kondisi kesehatan umum

    Sadock dan Sadock (2007 dalam Townsend, 2009)

    melaporkan bahwa data epidemiologis menunjukkan

    insiden schizophrenia yang tinggi setelah paparan

    influenza pada masa prenatal.

    Ketidaknormalan anatomis juga dapat berkaitan

    dengan schizophrenia. Dengan penggunaan teknologi

    neuroimaging, ditemukan ketidaknormalan struktur

    otak pada klien dengan schizophrenia. Adanya

    pelebaran ventrikel otak adalah temuan yang paling

    konsisten; namun peluasan sulci dan atropi cerebellar

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 23

    Universitas Indonesia

    juga ditemukan. Pemeriksaan juga menunjukkan

    penurunan ukuran lobus frontal, tetapi hal ini tidak

    selalu ditemukan. MRI telah digunakan untuk

    mengeksplorasi abnormalitas pada area-area yang

    spesifik seperti amygdala, hippocampus, lobus

    temporal dan ganglia basalis pada otak seorang

    dengan schizophrenia.

    Pada klien schizophrenia diduga terjadi salah susun

    pada sel piramida di hippocampus (Jonsson, Luts,

    Guldberg-Kjaer, & Brun, 1997 dalam Townsend,

    2009). Teori ini menunjukkan bahwa schizophrenia

    dapat terjadi pada seseorang yang memiliki

    abnormalitas struktur otak.

    4) Kondisi fisik. Beberapa penelitian melaporkan adanya

    keterkaitan antara schizophrenia dengan epilepsi

    (khususnya pada lobus temporalis), penyakit Huntington,

    trauma kelahiran, trauma kepala pada masa dewasa,

    penyalahgunaan alcohol, tumor otak (khususnya pada

    sistim limbik), masalah cerebrovascular, systemic lupus

    eritematosus, myxedema, parkinsonism, dan penyakit

    Wilson (Townsend, 2009). Pernyataan ini menunjukkan

    korelasi antara kondisi fisik dengan kondisi psikologis.

    Hal ini sejalan dengan yang disampaikan (Nasrallah et al,

    2005 dalam Stuart, 2009) bahwa seseorang dengan

    schizophrenia memiliki morbiditas dan mortalitas lebih

    tinggi karena penyakit medis.

    b. Faktor Psikologis

    Faktor psikologis terdiri dari kecerdasan, keterampilan

    verbal, moral, kepribadian, pengalaman masa lalu, konsep

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 24

    Universitas Indonesia

    diri, motivasi, pertahanan psikologis dan locus of control

    atau perasaan seseorang mampu mengontrol nasibnya

    sendiri.

    Sadock dan Sadock (2007 dalam Townsend, 2009)

    menyatakan bahwa petugas kesehatan harus memikirkan

    kedua faktor, biologis dan psikososial, yang

    mempengaruhi schizophrenia. Penyakit ini

    mempengaruhi seseorang secara individual tetapi dampak

    secara psikologis akan unik pada setiap orang. Seperti

    dinyatakan pada sub pokok bahasan sebelumnya bahwa

    schizophrenia terjadi tidak karena satu faktor saja

    melainkan karena adanya interaksi antara berbagai faktor.

    Faktor psikologis juga merupakan faktor penting yang

    perlu diperhatikan dan perlu diberikan penanganan selain

    untuk mengatasi aspek biologis dari schizophrenia.

    c. Faktor Sosial Budaya

    Faktor sosial budaya terdiri dari usia, jenis kelamin,

    pendidikan, penghasilan, pekerjaan, posisi sosial, latar

    belakang budaya, keyakinan, afiliasi politik, pengalaman

    sosialisasi, dan tingkat integrasi sosial (Townsend, 2009).

    Schizophrenia banyak terjadi pada individu dari golongan

    sosial konomi rendah (Ho, Black & Andreasen, 2003

    dalam Townsend, 2009). Hidup dalam kemiskinan,

    seperti tinggal di tempat yang padat, nutrisi yang tidak

    mencukupi, tidak adanya perawatan prenatal, kurangnya

    sumber-sumber dalam menghadapi stress, dan merasa

    tidak berdaya untuk merubah kondisi miskin seseorang

    menjadi faktor ekonomi yang dapat menjadi predisposisi

    schizophrenia (Townsend, 2009).

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 25

    Universitas Indonesia

    Pandangan alternatif adalah hipotesa downward drift,

    yang menyatakan bahwa, karena karakter penyakit ini,

    individu dengan schizophrenia memiliki kesulitan untuk

    mempertahankan pekerjaan dan beralih pada tingkat

    sosial ekonomi yang lebih rendah (atau gagal untuk

    meningkat dari kelompok sosial ekonomi yang rendah).

    Pandangan ini mempertimbangkan bahwa kondisi sosial

    ekonomi yang sulit merupakan konsekuensi dari

    schizophrenia, bukan sebagai penyebab (Townsend,

    2009).

    2. Faktor Presipitasi

    Faktor presipitasi dalam Model Stress Adaptasi Stuart dapat

    berasal dari faktor biologis, psikologis, dan sosial budaya.

    Stressor pencetus dapat berasal dari internal klien atau

    lingkungan di luar klien. Selain menggambarkan sumber

    stressor, perlu diketahui pula waktu dan berapa kali stressor

    terjadi (Stuart, 2009).

    Tidak ada bukti yang ilmiah yang membuktikan bahwa stress

    menyebabkan schizophrenia. Tetapi sangat memungkinkan

    bahwa stress berkontribusi terhadap keparahan penyakit ini.

    Diketahui bahwa stress yang ekstrim dapat mencetuskan fase

    psikotik. Stress dapat menjadi pencetus penyakit pada

    individu yang memiliki kecenderungan genetis terhadap

    schizophrenia (Townsend, 2009).

    3. Penilaian stressor

    Merupakan pandangan klien mengenai stressor.

    Schizophrenia dapat berkembang karena adanya hubungan

    antara jumlah stress yang dialami seseorang dan ambang

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 26

    Universitas Indonesia

    batas stress seseorang (Stuart, 2009). Walaupun tidak ada

    penelitian yang membuktikan bahwa stress adalah penyebab

    dari schizophrenia, namun diyakini bahwa stress dapat

    memperburuk schizophrenia (Jones & Fernyhough, 2007

    dalam Stuart, 2009).

    4. Sumber Koping

    Schizophrenia membutuhkan penyesuaian pada klien dan

    keluarga. Penyesuaian yang diperlukan setelah seseorang

    mengalami masalah psikosis adalah: (1) gangguan kognisi,

    (2) mencapai pemahaman, (3) keseimbangan semua aspek

    kehidupan, dan (4) meraih pencapaian kerja dan pendidikan

    (Stuart, 2009).

    5. Mekanisme Koping

    Pada fase aktif psikosis, pasien menggunakan mekanisme

    pertahanan yang tidak disadari untuk melindungi diri dari

    pengalaman yang tidak menyenangkan yang disebabkan oleh

    penyakitnya. Berbagai mekanisme koping digunakan oleh

    klien schizophrenia. Mekanisme koping dapat dijelaskan

    berkaitan dengan schizophrenia. Regresi terjadi karena

    masalah pemrosesan informasi dan pengeluaran banyak

    energi untuk mengatasi ansietas. Proyeksi digunakan sebagai

    usaha untuk menjelaskan kebingungan persepsi dengan

    mengalihkan masalah pada sesuatu atau seseorang. Menarik

    diri terjadi karena kesulitan menjalin kepercayaan dan karena

    terlalu asik dengan dunianya sendiri. Keluarga seringkali

    menyangkal diagnosa schizophrenia pada anggota

    keluarganya. Mekanisme koping yang perlu dikaji pada klien

    dengan schizophrenia adalah strategi koping kognitif,

    emosional, interpersonal, fisiologis, dan spiritual (Stuart,

    2009).

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 27

    Universitas Indonesia

    2.1.4.2 Diagnosa keperawatan

    Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada klien dengan

    schizophrenia adalah diagnosa gangguan yang terdiri dari 11

    diagnosa keperawatan yaitu gangguan sensori persepsi, gangguan

    proses pikir, harga diri rendah, risiko perilaku kekerasan, isolasi

    sosial, defisit perawatan diri, risiko perilaku kekerasan, regiment

    terapeutik inefektif, regimen keluarga inefektif, berduka

    disfungsional dan kerusakan komunikasi verbal. Berikut ini akan

    dipaparkan mengenai data subjektif dan data objektif yang

    menunjukkan 7 diagnosa gangguan utama.

    Tabel 2.1Diagnosa Keperawatan Pada Klien Schizophrenia

    No Data Subjektif Data Objektif Diagnosa Keperawatan

    1 Mendengar suara-suara atau kegaduhanMendengar suara yang mengajak bercakap-cakapMendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya

    Bicara atau tertawa sendiri tanpa lawan bicaraMarah-marah tanpa sebabMencodongkan telinga ke arah tertentu Menutup telinga

    Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasidengar/suara

    Melihat bayangan, sinar, bentuk geometris, bentuk kartun, melihat hantu atau monster

    Menunjuk-nunjuk ke arah tertentuKetakutan pada objek yang tidak jelas

    Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi Penglihatan

    Membaui bau-bauan seperti bau darah, urine, feses, kadang-kadang bau itu menyenangkan

    Menghidu seperti sedang membaui bau-bauan tertentuMenutup hidung

    Gangguan SensoriPersepsi: Halusinasi Penghidu

    Merasakan rasa seperti darah, urine, atau feses

    Sering meludah Muntah

    Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi pengecapan

    Mengatakan ada serangga di permukaan kulit Merasa seperti tersengat listrik

    Menggaruk-garuk permukaan kulit

    Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi Perabaan

    2 Memiliki isi pikir yang berulang-ulang diungkapkan dan menetapTakut terhadap objek atau situasi tertentu atau cemas berlebihan tentang tubuh atau kesehatannyaMerasa benda-benda di sekitarnya aneh dan tidak nyata

    - Gangguan proses pikir: Waham

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 28

    Universitas Indonesia

    Merasa berada di luar tubuhnyaMerasa diawasi atau dibicarakan oleh orang lainBerpikir bahwa pikiran atau tindakannya dikontrol orang lainMengatakan memiliki kekuatan fisik atau kekuatan lain atau yakin bahwa orang lain dapat membaca pikirannya

    3 Mengkritik diri sendiriPerasaan tidak mampuPandangan hidup yang pesimisPenolakan terhadap kemampuan diri

    Penurunan produktivitasKurang memperhatikan perawatan diriBerpakaian tidak rapiSelera makan kurangTidak berani menatap lawan bicaraLebih banyak menundukBicara lambatNada suara lemah

    Harga Diri Rendah

    4 Menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lainMerasa tidak aman berada dengan orang lainMengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lainMerasa bosan dan lambat menghabiskan waktuTidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusanMerasa tidak bergunaTidak yakin dapat melangsungkan

    Tidak memiliki teman dekatMenarik diriTidak komunikatifTindakan berulang dan tidak bermaknaAsyik dengan pikirannya sendiriTidak ada kontak mataTampak sedih, afek tumpul

    Isolasi Sosial

    5 Isi pembicaraan mengancam Muka merah dan tegangPandangan tajamMengatupkan rahang dengan kuatMengepalkan tanganJalan mondar-mandirBicara kasarSuara tinggi, menjerit atau berteriakMengancam secara verbal atau fisikMelempar atau memukul benda/orang lainMerusak barang atau bendaTidak mempunyai kemampuan untuk mencegah/mengontrol perilaku kekerasan

    Risiko Perilaku Kekerasan

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 29

    Universitas Indonesia

    6 - Gangguan kebersihan diri: rambut kotor, gigi kotor, kulit berdaki dan bau, kuku panjang dan kotorTidakmampu berhias/berdandan: rambut acak-acakan, pakaian kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, tidak bercukur (klien pria), tidak berdandan (klien wanita)Tidak mampu makan mandiri: makan berceceran, makan tidak pada tempatnyaTidak mampu defekasi/berkemih mandiri: defekasi/berkemih tidak pada tempatnya, tidak membersihkan diri dengan baik setelah defekasi/berkemih

    Defisit Perawatan Diri

    7 Memberikan isyarat secara tidak langsung, misal mengatakan tolong jaga anak-anak saya karena saya akan pergi jauhMengancam akan bunuh diri

    Memiliki rencana bunuh diri dengan menunjukkan persiapan alat untuk melaksanakan rencana tersebutMencederai diri sendiri

    Risiko Bunuh Diri

    Sumber : (Keliat, dkk., 2011)

    2.1.4.3 Intervensi Keperawatan

    Intervensi keperawatan jiwa dikelompokkan dalam intervensi

    generalis dan intervensi spesialis. Intervensi generalis

    menggunakan standar yang telah disepakati di Indonesia yaitu

    SAK (Standar Asuhan Keperawatan) Jiwa. SAK jiwa ini berisi

    panduan Strategi Pelaksanaan (SP) untuk melakukan komunikasi

    terapeutik pada klien dan pada keluarga. Intervensi spesialis

    keperawatan jiwa dapat berupa psikoterapi yang saat ini telah

    dikembangkan dengan sasaran individu, keluarga, dan kelompok.

    1. Intervensi Keperawatan Generalis

    Intervensi keperawatan generalis dilakukan dengan

    menggunakan panduan SAK (Standar Asuhan Keperawatan)

    Jiwa. SAK berisi panduan untuk melakukan komunikasi

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 30

    Universitas Indonesia

    terapeutik kepada klien dan keluarga. SAK untuk pasien

    maupun untuk keluarga berisi SP 1 sampai SP 5 s.d 12.

    Masing-masing SP adalah panduan untuk melakukan satu

    kali komunikasi terapeutik kepada klien ataupun keluarga. SP

    dapat dilakukan berulang-ulang jika kriteria keberhasilan

    yang diharapkan belum tercapai.

    Pada setiap SP klien diarahkan untuk mengenali masalahnya

    dan dilatih untuk mengatasi masalahnya secara mandiri.

    Misalnya untuk klien dengan isolasi sosial, pada pertemuan

    pertama (SP 1), klien bersama-sama dengan perawat

    mengenali penyebab isolasi sosialnya terjadi, kemudian klien

    diajak untuk menyadari pentingnya bersosialisasi, dan klien

    dilatih untuk berkenalan dengan anggota keluarganya. Pada

    SP berikutnya klien dilatih untuk bersosialisasi secara

    bertahap sampai klien dapat melakukannya secara mandiri.

    SP keluarga diberikan agar keluarga memahami masalah

    yang dialami klien, keluarga mengetahui cara merawat klien,

    sampai keluarga mampu merawat klien secara mandiri di

    rumah. Panduan lengkap SAK untuk intervensi kepada klien

    dan keluarga dapat dilihat pada lampiran.

    2. Intervensi Keperawatan Spesialis

    Intervensi keperawatan spesialis juga dapat diberikan kepada

    klien dan keluarga. Intervensi keperawatan spesialis telah

    banyak dikembangkan baik untuk individu, keluarga,

    kelompok dan masyarakat. Terapi spesialis untuk individu

    diantaranya adalah cognitive therapy, behavioral therapy,

    cognitive-behavioral therapy, social skill training, thought

    stopping, progressive relaxation dan assertiveness training.

    Selain terapi-terapi tersebut, masih banyak terapi lain yang

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 31

    Universitas Indonesia

    terus dikembangkan untuk memberikan intervensi kepada

    individu dengan schizophrenia.

    Intervensi keperawatan spesialis untuk keluarga yang telah

    dikembangkan antara lain adalah family psychoeducation dan

    triangle therapy. Pada penelitian ini, akan dilakukan family

    psychoeducation kepada keluarga dengan klien

    schizophrenia. Intervensi keperawatan spesialis jiwa yang

    akan digunakan dalam penelitian ini adalah FPE.

    Family Psychoeducation (FPE)

    Beberapa pemberi layanan menangani schizophrenia sebagai

    penyakit yang tidak hanya mengenai individu saja, tetapi juga

    seluruh keluarga. Walaupun keluarga tampak memiliki

    koping yang baik, dapat dipastikan ada pengaruh pada status

    mental keluarga saat salah satu anggota keluarga mengalami

    schizophrenia. Safier (1997, dalam Townsend, 2009)

    menyatakan bahwa keluarga yang memiliki anggota keluarga

    dengan schizophrenia akan mengalami pergolakan yang besar

    dalam dirinya. Hal ini menjadi dasar pentingnya keluarga

    mendapatkan terapi.

    Intervensi kepada keluarga dimaksudkan untuk memperkuat

    sistem keluarga, mencegah atau menghambat kekambuhan,

    dan mempertahankan klien di masyarakatnya. Program

    psikoedukasi ini memperlakukan keluarga sebagai sumber,

    bukan sebagai stressor, dengan berfokus pada penyelesaian

    masalah yang konkrit, dan perilaku menolong yang spesifik

    untuk beradaptasi dengan stress. Dengan memberikan

    informasi pada keluarga tentang penyakit dan menyarankan

    tentang mekanisme koping yang efektif, program

    psikoedukasi mengurangi kecenderungan klien untuk kambuh

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 32

    Universitas Indonesia

    dan mengurangi pengaruh penyakit ini pada keluarga yang

    lain (Townsend, 2009).

    Intervensi psikoedukasi yang sudah cukup terkenal

    dikembangkan oleh National Alliance on Mental Illness

    (NAMI). Dalam program dari keluarga ke keluarga, keluarga

    saling mengajari satu sama lain mengenai penyakit ini,

    metoda koping yang digunakan, dan sumber-sumber

    dukungan yang ada.

    Psikoedukasi untuk keluarga termasuk dengan individu yang

    mengalami gangguan, seperti schizophrenia, depresi mayor,

    dan gangguan bipolar, biasanya dikombinasikan dengan

    terapi farmaka (Nathan and Gorman, 2007 dalam Stuart,

    2009). Psikoedukasi ini terbukti memperbaiki gejala umum

    dan mengurangi penolakan serta beban keluarga (Stuart,

    2009).

    Terapi keluarga biasanya terdiri dari program utama untuk

    memberikan edukasi kepada keluarga tentang schizophrenia,

    dan program yang lebih luas dengan keluarga dibentuk untuk

    mengurangi manifestasi konflik yang jelas dan untuk

    merubah pola komunikasi keluarga dan penyelesaian

    masalah. Respon terhadap terapi ini sangat dramatis. Ho,

    Black, dan Andreasen (2003 dalam Townsend, 2009)

    melaporkan pada beberapa penelitian bahwa hasil positif

    pada penanganan klien dengan schizophrenia ini dapat

    tercapai dengan mengikutsertakan keluarga dalam pelayanan.

    Family Psychoeducation therapy adalah salah satu elemen

    program perawatan kesehatan jiwa keluarga dengan cara

    pemberian informasi dan edukasi melalui komunikasi yang

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 33

    Universitas Indonesia

    terapeutik. Program psikoedukasi merupakan pendekatan

    yang bersifat edukasi dan pragmatik (Stuart, 2009).

    FPE dilakukan dalam 5 sesi, yaitu : (1) sesi 1, pengkajian

    masalah keluarga, (2) sesi 2, edukasi kepada keluarga tentang

    cara merawat klien dengan gangguan jiwa, (3) sesi 3,

    manajemen stress keluarga, (4) sesi 4, manajemen beban

    keluarga, dan (5) sesi 5, pemberdayaan komunitas untuk

    membantu keluarga. Penjelasan lengkap mengenai FPE pada

    klien schizophrenia dapat dilihat pada modul FPE terlampir.

    3. Pemberdayaan Kader dan Peran Pengawas Minum Obat

    (PMO)

    Intervensi lain yang dapat diberikan di komunitas adalah

    dengan menerapkan model CMHN. Pada penelitian ini akan

    dilakukan pemberdayaan kader untuk menjalankan peran

    PMO kepada klien dengan schizophrenia di rumah.

    Pemberdayaan masyarakat merupakan proses pengembangan

    potensi pengetahuan maupun keterampilan masyarakat agar

    mereka mampu mengontrol diri dan terlibat dalam

    pemenuhan kebutuhan mereka sendiri (Helvie, 1998 dalam

    Keliat, 2010). Kader Kesehatan Jiwa (KKJ) merupakan

    sumber daya masyarakat yang perlu dikembangkan di Desa

    Siaga Sehat Jiwa. Pemberdayaan kader kesehatan jiwa

    sebagai tenaga potensial yang ada di masyarakat diharapkan

    mampu mendukung program CMHN yang diterapkan di

    masyarakat. Seorang kader akan mampu melakukan kegiatan

    apabila kader tersebut telah diberikan pembekalan sejak awal.

    Metode yang dipakai dalam mengembangkan kader

    kesehatan jiwa sebaiknya teratur, sistematis, dan rasional

    (Keliat, 2010).

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 34

    Universitas Indonesia

    Kemampuan kader kesehatan jiwa dalam melakukan kegiatan

    perlu dipertahankan, dikembangkan, dan ditingkatkan melalui

    manajemen pemberdayaan kader yang konsisten dan sesuai

    dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat

    ini. Pengembangan kader kesehatan jiwa digambarkan

    sebagai suatu proses pengelolaan motivasi kader sehingga

    mereka dapat melaksanakan kegiatan dengan baik. Hal ini

    juga merupakan penghargaan bagi kader karena melalui

    manajemen sumber daya manusia (SDM) yang baik, kader

    akan mendapatkan kompensasi berupa penghargaan

    (compensatory reward) sesuai dengan apa yang telah

    dikerjakannya (Keliat, 2010).

    Manajemen pemberdayaan kader kesehatan jiwa di Desa

    Siaga Sehat Jiwa berfokus pada proses rekruitmen, seleksi,

    orientasi, penilaian kinerja, dan pengembangan kader. Proses

    ini dilakukan dalam mempersiapkan Desa Siaga Sehat Jiwa,

    juga setiap kali ada penambahan kader baru (Keliat, 2010).

    a) Proses rekruitmen kader kesehatan jiwa

    Rekruitmen kader kesehatan jiwa adalah suatu proses

    pencarian dan pemikatan para calon kader yang

    mempunyai kemampuan dalam mengembangkan Desa

    Siaga Sehat Jiwa. Proses awal dalam merekrut kader

    adalah dengan melakukan sosialisasi tentang

    pembentukan Desa Siaga Sehat Jiwa disertai dengan

    kriteria kader yang dibutuhkan. Adapun kriteria kader

    adalah sebagai berikut:

    1) Bertempat tinggal di Desa Siaga Sehat Jiwa

    2) Sehat jasmani dan rohani

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 35

    Universitas Indonesia

    3) Mampu membaca dan menulis dengan lancar

    menggunakan bahasa Indonesia

    4) Bersedia menjadi kader kesehatan jiwa sebagai tenaga

    suka rela

    5) Mempunyai komitmen untuk melaksanakan program

    kesehatan jiwa komunitas

    6) Menyediakan waktu untuk kegiatan CMHN

    7) Mendapat izin dari suami atau istri atau keluarga

    (Keliat, 2010)

    Rekruitmen kader dilakukan di tiap desa pada wilayah

    puskesmas yang akan dikembangkan menjadi Desa Siaga

    Sehat Jiwa. Kader Kesehatan Jiwa DSSJ direkrut dengan

    rasio satu KKJ bertanggung jawab terhadap 15-20

    keluarga (Keliat, 2010).

    Proses rekrutmen kader di Desa Siaga Sehat Jiwa

    dilakukan dengan melibatkan tokoh masyarakat yang

    dapat menentukan calon kader yang mampu dan mau

    melakukan kegiatan kesehatan jiwa di lingkungan tempat

    tinggalnya. Perawat CMHN melakukan koordinasi

    dengan kepala desa, kepala dusun, atau dengan organisasi

    masyarakat yang ada di wilayah kerjanya, seperti PKK.

    Proses rekrutmen kader kesehatan jiwa dilakukan sebagai

    berikut.

    1) Perawat CMHN mengadakan pertemuan dengan

    kepala desa dan tokoh masyarakat setempat untuk

    menjelaskan pembentukan Desa Siaga Sehat Jiwa dan

    kebutuhan kader kesehatan jiwa.

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 36

    Universitas Indonesia

    2) Perawat CMHN menjelaskan kriteria kader dan

    jumlah kader yang dibutuhkan untuk tiap desa dan

    dusun.

    3) Tokoh masyarakat melakukan pencarian calon kader

    berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

    4) Kader yang telah direkrut mengisi biodata pada

    formulir yang telah disediakan untuk proses seleksi

    selanjutnya.

    (Keliat, 2010).

    b) Proses Seleksi Kader Kesehatan Jiwa

    Proses seleksi adalah serangkaian kegiatan yang

    dilakukan untuk memutuskan apakah calon kader

    diterima atau tidak sebagai kader kesehatan jiwa. Proses

    seleksi ini penting untuk mendapatkan sumber daya

    manusia yang mempunyai motivasi dan kemampuan yang

    tepat sesuai dengan yang dibutuhkan. Proses seleksi calon

    kader di Desa Siaga Sehat Jiwa adalah sebagai berikut.

    1) Perawat CMHN melakukan koordinasi dengan tokoh

    masyarakat atau organisasi masyarakat dalam

    menentukan calon kader yang memenuhi syarat.

    2) Kader terpilih harus mengisi surat pernyataan

    bersedia menjadi kader kesehatan jiwa dan bersedia

    menjalankan program CMHN.

    3) Kader terpilih diwajibkan mengikuti pelatihan kader

    kesehatan jiwa.

    (Keliat, 2010)

    c) Proses Orientasi Kader Kesehatan Jiwa

    Setiap kader yang akan melaksanakan program kesehatan

    jiwa akan melalui masa orientasi, yaitu mengikuti

    sosialisasi program CMHN dan pelatihan kader kesehatan

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 37

    Universitas Indonesia

    jiwa. Orientasi yang dilakukan mencakup informasi

    budaya kerja dan informasi umum tentang visi, misi,

    filosofi, kebijakan Desa Siaga Sehat Jiwa, dan

    kemampuan kader kesehatan jiwa. Kegiatan orientasi

    menggunakan metode klasik selama 2 hari, praktik

    lapangan selama 3 hari, dan dilanjutkan dengan praktik

    penerapan Desa Siaga Sehat Jiwa. Materi pelatihan kader

    kesehatan jiwa mencakup :

    1) Program Desa Siaga Sehat Jiwa

    2) Deteksi keluarga di masyarakat: kelompok keluarga

    sehat, kelompok keluarga yang berisiko mengalami

    masalah psikososial, dan kelompok keluarga dengan

    gangguan jiwa

    3) Peran serta dalam menggerakkan masyarakat pada

    kegiatan:

    i) Penyuluhan kesehatan untuk kelompok keluarga

    sehat jiwa

    ii) Penyuluhan kesehatan untuk kelompok yang

    berisiko mengalami masalah psikososial

    iii) Penyuluhan kesehatan untuk kelompok yang

    mengalami gangguan jiwa

    iv) Terapi aktivitas kelompok dan rehabilitasi pasien

    gangguan jiwa

    4) Supervisi keluarga dan pasien gangguan jiwa yang

    telah mandiri

    5) Perujukan kasus pasien gangguan jiwa

    6) Pelaporan kegiatan kader kesehatan jiwa

    d) Kemampuan Kader Kesehatan Jiwa

    Kemampuan kader yang dinilai di sini adalah kemampuan

    dalam:

    Pengaruh asuhan..., Rahmi Imelisa, FIK UI, 2012.

  • 38

    Universitas Indonesia

    1) Mendeteksi keluarga di Desa Siaga Sehat Jiwa: Sehat,

    Risiko, dan Sakit.

    2) Menggerakkan keluarga sehat untuk mengikuti

    penyuluhan sehat jiwa sesuai dengan usia anak.

    3) Menggerakkan keluarga yang berisiko untuk

    mengikuti penyuluhan risiko gangguan jiwa.

    4) Menggerakkan keluarga pasien gangguan jiwa untuk

    mengikuti penyuluhan tentang cara merawat pasien.

    5) Menggerakkan pasien gangguan jiwa untuk mengikuti

    TAK dan rehabilitasi.

    6) Melakukan kunjungan rumah ke keluarga pasien

    gangguan jiwa yang telah mandiri.

    7) Merujuk kasus ke perawat CMHN.