Develop SERI1

  • Published on
    12-Jul-2015

  • View
    134

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

DAFTAR ISI Pengantar David Simon Adebayo Adedeji Reginald Cline-Cole Anil Agarwal Tim Forsyth Elmar Altvater Henning Melber Samir Amin M.A. Mohamed Salih A.T. Ariyaratne Lakshman Yapa Jagdish Bhagwati V.N. Balasubramanyam Piers Blaikie Jonathan Rigg James M. Jim Blaut Ben Wisner Norman Borlaug Katie Willis Ester Boserup Vandana Desai Harold Brookfield John Connell dan Barbara Rugendyke Fernando Henrique Cardoso Roberto Snchez-Rodrguez Michael Cernea Anthony Bebbington Robert Chambers Michael Parnwell Hollis B. Chenery Juha I. Uitto Diane Elson Sylvia Chant Andre Gunder Frank Michael Watts Paolo Freire Anders Nrman John Friedmann Gary Gaile Mohandas (Mahatma) Gandhi Rana P.B. Singh Susan George Cathy McIlwaine

Alexander Gerschenkron Robert Gwynne Gerald K. Helleiner Christopher Cramer Albert O. Hirschman John Brohman Richard Jolly Jo Beall Charles Poor Kindleberger Jan Toporowski Sir William Arthur Lewis Morris Szeftel Michael Lipton John Harriss Reverend Thomas Robert Malthus W.T.S. (Bill) Gould Mao Zedong Ton van Naerssen Karl Marx Richard Peet Manfred Max-Neef Rita Abrahamsen Terence Gary McGee John P. Lea Gunnar Myrdal Sarah Radcliffe Kwame Francis Nkrumah Alfred Babatunde Zack-Williams Julius Kambaragwe Nyerere Dani W. Nabudere Ral Prebisch Cristbal Kay Walter Rodney James Sidaway Walt Whitman Rostow Ulrich Menzel E.F. (Fritz) Schumacher Tony Binns Dudley Seers Arturo Escobar Amartya Kumar Sen Stuart Corbridge Vandana Shiva Brenda S.A. Yeoh Hans Wolfgang Singer John Shaw

Joseph Stiglitz Ben Fine Paul Patrick Streeten Francis Wilson James Tobin David Simon Mahbub Ul Haq Marcus Power Eric R. Wolf Reinhart Kler dan Tilman Schiel Peter Worsley Ronaldo Munck Tentang kontributor 281 Indeks 291 PENGANTAR Ajakan untuk menyunting buku ini terbukti sangat menarik, meskipun terdapat beberapa komitmen editorial lain yang bersamaan. Yang pertama, keyakinan Routledge pada pasar dengan titel studi pembangunan dalam seri yang mantap dan sukses, yang menjangkau banyak bidang studi dan riset adalah membahagiakan. Lebih terutama lagi, saya merasakan kesempatan untuk menangani kesenjangan yang sudah lama dirasakan dalam literatur studi pembangunan, yakni referensi karya biografi dengan kualitas baik yang membawa bersama-sama tokoh-tokoh terkemuka dari berbagai bagian disiplin. Justru karena sifat inter-(dan untuk tingkatan tertentu tetapi masih belum memadai multi-) disiplin, sebagaimana juga teori maupun kebijakan yang sangat diuji, yang keduanya telah berevolusi dengan cepat dalam bidang yang masih muda ini. Studi pembangunan dengan mengherankan masih memiliki pusat atau inti yang belum berkembang. Dengan konsekuen, terdapat pemahaman yang kurang mengenai peninggalan bersama atau kelompok yang disepakati luas tentang tokoh dan personalitas terkemuka daripada, misalnya, pada bidang yang sudah lama berdiri.

Lagipula, mayoritas riset akademik dan pengajaran masih berlangsung di dalam disiplin tradisional, fitur yang baru-baru ini diperkokoh di Inggris dan beberapa negara Eropa lain sebagai hasil penilaian riset terhadap disiplin yang ada saat ini dan audit budaya pada tahun-tahun perampingan dan rasionalisasi dalam pendidikan yang lebih tinggi secara keseluruhan. Lembaga-lembaga multidisiplin atau pusat-pusat studi pembangunan dibentuk di berbagai negara di tengah optimisme dari tahun 1960-an dan awal 1970-an, tetapi keberuntungan mereka yang berikutnya menjadi bercampuraduk. Di Amerika Serikat, keutamaan disiplin akademik konvensional tidak pernah diuji dengan serius. Pada tingkatan yang lain, bidang pembangunan sudah lama dirundung oleh perpecahan nyata kota versus gaun di antara para akademisi dan praktisi. Polemik Michael Edwards (1989) mencerminkan dan memperburuk perasaan perpecahan itu, tetapi mengerjakan fokus perhatian pada problem. Walaupun dia memperlunak pandangannya hanya dalam beberapa tahun (Edwards 1993, 1994), menunjukkan kemajuan pesat menuju perbaikan relasi yang telah dibuat, pada sekitar dekade terakhir dengan meyakinkan terlihat lebih tersebar interaksi dan kolaborasi, menghasilkan penyempitan signifikan atas perpecahan. Membuktikan vitalnya bidang ini, banyak buku-buku teks dan ikhtisar karangan ilmiah ringkas baru-baru ini telah berusaha mengejar pesatnya perubahan dunia pasca-Perang Dingin dan perdebatan sengit mengenai makna dan masa depan pembangunan. Namun, meskipun pertanda nasib buruk pada akhirnya, dan apakah kita lebih menyukai untuk mengindikasikan perspektif kontemporer dengan makna prefiks seperti anti- atau pasca-, atau untuk membentuk kembali dan meremajakan istilah pembangunan itu sendiri, tentu saja banyak berlangsung perdebatan teoritis, riset yang secara konsep sulit dan dinamisme dalam praktik yang digerakkan kebijakan.

Dengan demikian, seri ini bertujuan membuat kontribusi substansial melalui pencerminan berpengetahuan mengenai kehidupan dan karya pemikir serta pelaku yang kemungkinan berkembang di masa depan dalam bidang studi pembangunan yang didefinisikan secara luas. Peringatan ke-50 pidato Empat Poin Presiden Truman di tahun 1999 ditandai oleh beberapa karya yang berhubungan dengan masa lampau sekaligus prospektif. Buku ini akan melanjutkan tren tersebut, memeroleh dorongan oleh beberapa kematian tokoh terkemuka baru-baru ini, dalam sebagian kasus merupakan sosok yang sangat kontroversial, seperti Walt Rostow, Charles Kindleberger dan James Tobin. Sebagaimana sebagian dari mereka yang terakhir bertahan pasca-Perang Dunia II mendorong pembangunan negara-negara baru yang independen, berlalunya mereka juga menyimbolkan perubahan generasi yang telah berlangsung dalam studi pembangunan. Tantangan tersulit dalam memproduksi buku ini datang dari permulaan: bagaimana untuk menyempitkan daftar panjang hampir 200 nama yang saya catat dalam waktu sangat singkat menjadi hanya tersisa 50? Dengan cepat menjadi jelas bahwa tidak ada konsensus universal akan dicapai, tanpa memandang pilihan akhirnya. Bahkan, ini dikonfirmasikan melalui proses konsultasi dengan para sahabat, kolega, penerbit dan usulan-usulan selanjutnya dari para penengah proposal untuk judul ini. Dalam mencapai daftar final, saya tidak meragukan telah menghasilkan beberapa keputusan yang membuat sebagian orang terkejut. Beberapa kontributor bahkan mengakui tidak mengenal sendiri seluruh 50 sosok ini, bisa jadi ini menggambarkan bias regional dan disiplin individu kita. Sedikit kontroversi dalam bidang yang beragam dan menantang ini karenanya adalah baik dan diperlukan.

Biarkan saya menjelaskan proses seleksi. Satu faktor yang membantu adalah sejumlah cahaya terkemuka yang kontribusinya terhadap pembangunan lebih sebagai praktisi atau aktivis daripada sebagai pemikir yang dapat dikecualikan. Ini diterapkan misalnya terhadap Chico Mendes, pahlawan para penyadap karet asli Amazon Brasil, yang dengan brutal dibunuh pada tahun 1988 oleh agen-agen peternak dan perusahaan kayu berpengaruh yang tindak perusakan mereka ditantang olehnya. Seiring ini terjadi, ia masuk ke dalam Fifty Key Thinkers on the Environment (Palmer 2001). Yang menarik, lima pemikir muncul baik pada titel di atas maupun pada volume ini (Thomas Malthus, Karl Marx, Mohandas Gandhi, E.F. Schumacher dan Vandana Shiva), sementara Marx dan Gandhi juga muncul dalam Fifty Major Political Thinkers (Adams dan Dyson 2003). Pada kasus-kasus sedemikian, masing-masing masukan ditulis oleh para pengarang yang berbeda dan membawa aspek atau interpretasi berbeda pula atas kontribusi mereka, sehingga bagi pembaca dapat bermanfaat untuk merujuk pada lebih dari satu interpretasi. Secara keseluruhan, pilihan Pemikir dimaksudkan untuk meningkatkan relevansi dan sumbangsih buku ini dengan memiliki satu kelompok yang secara luas mewakili arus dan gerakan berbeda di dunia pembangunan. Ini berarti untuk memastikan bahwa seluruh dominasi Anglo-Amerika atas teori dan diskursus pembangunan (tidak hanya oleh ekonom) ditantang melalui keterlibatan mereka yang bekerja dalam disiplin berbeda, melalui periode waktu berbeda dansecara krusialbersentuhan dengan jalan hidup serta kawasan geografi berbeda. Seri ini karenanya secara definisi merupakan suatu yang berlangsung dengan sangat berbeda dari studi refleksi sendiri oleh 15 ekonom pembangunan Utara yang terkemuka (dengan komentar dari para ekonom yang lebih muda) dan dipesan Bank Dunia sekitar 20 tahun silam, ketika pembangunan ekonomi dan

pembangunan umumnya masih tergabung menjadi satu (Meier dan Seers 1987), meskipun beberapa dari ekonom tersebut juga ditonjolkan di sini. Para pembaca juga akan memerhatikan ketidakseimbangan gender yang tajam di antara Para Pemikir yang dikemukakan di sini; ini mencerminkan dominasi kuat pria pada sebagian besar area pemikiran pembangunan. Ilmu ekonomi merupakan pengecualian sebagian, tetapi upaya-upaya untuk menyeimbangkan berbagai disiplin dan representasi Utara versus Selatan dibuat untuk beberapa pilihan sulit. Satu kemungkinan penantang wanita lain, Gro Harlem Brundtland, kepala Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan PBB, ditonjolkan dalam titel Lingkungan pada seri ini (Palmer 2001). Sedikit dari suara-suara (baik dari Selatan maupun Utara) yang dimasukkan ke dalam buku ini adalah jauh kurang terkenal secara internasional daripada mereka seharusnya, justru karena keterbatasan bahasa, budaya, disiplin dan geografi di mana yang di bawahnya banyak dari kita bekerja dan yangbetapapun tidak dengan sengajaterkadang melestarikan penyederhanaan dan pemisahan yang kita klaim hendak menantangnya. Karena itu, pencantuman mereka dengan sengaja, merupakan kontribusi kecil untuk mengatasi keterisolasian dan mempromosikan poli-vokalitas dalam pembangunan, sebagaimana sesuai dengan pendekatan pasca-kolonial. Dengan serupa, satu atau dua orang seperti Norman Borlaug, leluhur Revolusi Hijau, diikutkan karena visi mereka dan dampak mendalam dari hasil kerjanya, walaupun ini bisa jadi dengan dapat diperdebatkan agak bersifat lebih teknis daripada konseptual. Namun, y