Click here to load reader

Dasar Teori Perforasi

  • View
    91

  • Download
    19

Embed Size (px)

DESCRIPTION

bacaan

Text of Dasar Teori Perforasi

2

2.5. Dasar Teori PerforasiDalam metode ini casing produksi dipasang sampai dasar formasi produktif dan disemen selanjutnya diperforasi pada interval-interval yang diinginkan.

Dengan adanya casing maka formasi yang mudah gugur dapat ditahan. Perforated casing completion umumnya digunakan pada formasi-formasi dengan faktor

sementasi (m) sebesar 1,4.

Adapun keuntungan dan kerugian dalam penggunaan metode ini adalah sebagai berikut :

Keuntungan :

1. Dapat mengontrol air dan gas berlebihan

2. Stimulasi dan treatment dapat dilakukan lebih selektif

3. Mudah ditambah kedalaman bila diperlukan

4. Casing ditambah kedalaman bila diperlukan

5. Casing akan menghalangi masuknya pasir, komplesi tambahan dapat dilakukan sesuai dengan teknik pengontrolan pasir yang dikehendaki

6. Dapat disesuaikan dengan semua konfigurasi multiple completion

Kerugian

1. Memerlukan biaya perforasi

2. Interpretasi log kritis

3. Kemungkinan terjadinya kerusakan formasi lebih besar

Gambar 2.1

Perforated Casing Completion2.5.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Formation CompletionMerupakan jenis komplesi yang bertujuan untuk memaksimalkan aliran fluida ke dalam lubang sumur. Yang menjadi masalah dalam formasi komplesi ini adalah bagaimana memaksimalkan fluida yang dihasilkan di dalam lubang sumur yang berasal dari formasi produktif. Untuk itu perlu diketahui produktivity index, kekompakkan batuan formasi dan masalah terproduksinya pasir, yang mana hal tersebut merupakan faktor-faktor yang berpengaruh di dalam pemilihan jenis formation completion.

A. Kekompakan Batuan dan masalah Kepasiran

Kekompakan batuan merupakan dasar pemilihan jenis formation completion sehubungan dengan pencegahan terjadinya keguguran formasi dan terproduksinya pasir. Adapun faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sifat kestabilan formasi adalah :

1) Sementasi Batuan

Merupakan suatu cara untuk menentukan kestabilan suatu formasi produktif.

Hubungan faktor sementasi batuan, porositas, faktor formasi dan saturasi dari suatu

formasi yang dinyatakan Archie sebagai berikut :

........................................................................................... (2-38)

............................................................................. (2-39)

dimana :

F : faktor formasi

(: porositas batuan, fraksi

m : faktor sementasi

Sw: saturasi air, fraksi

Rt: true resistivity, ohm-m

Faktor sementasi batuan (m) dipengaruhi oleh tingkat konsolidasi batuan penyusunnya, dimana semakin tinggi tingkat penyemenan batuan sedimen maka semakin tinggi pula kekompakan batuan.

2) Kandungan Lempung

Lempung atau clay merupakan mineral yang biasanya mengendap bersama batuan pasir. Pada batuan sedimen lempung berfungsi sebagai semen sebab mempunyai sifat mengikat air (water wet). Apabila mineral lempung bercampur dengan air formasi maka akan terjadi pengembangan mineral yang disebut Clay swelling yang bersifat lunak sehingga butir pasir formasi yang diikat oleh mineral lempung akan mudah lepas dan akan bergerak mengikuti aliran.

Kadar mineral lempung yang terkandung dalam batuan formasi dapat dihitung dengan analisa data logging seperti gamma ray log, SP log dan Neutron log.

3) Kekuatan Formasi

Kekuatan formasi merupakan kemampuan dari formasi untuk menahan butiran pasir yang akan terlepas dari formasi akibat diproduksikannya fluida yang terkandung dalam reservoir. Dalam masalah kepasiran, Tixier et al berpendapat bahwa kekuatan formasi terhadap kepasiran tergantung dari dua hal yaitu intrinsic strength of formation dan kesanggupan pasir untuk membentuk lingkungan yang di sekitar perforasi.

Besarnya intrinsic strength dipengaruhi oleh confining stress yang ditentukan oleh tekanan pori-pori dan tekanan overburden, bentuk sorting butiran serta sementaasi diantara butiran yang kadang-kadang diperkuat oleh clay. Besarnya kekuatan formasi batuan dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

....................................................................... (2-30)

............................................................. (2-31)

.................................................. (2-32)

........................................... (2-33)

dimana :

Vsh : kadar shale, fraksi

(D: porositas dari density log, persen

(s: porositas dari sonic log, persen

1/cb: bulk modulus, psi-1

G: shear modulus, psi-1

(b : bulk density, gr/cc

t: transite time, sec/ft

U: poisons ratio

Dari perbandingan antara shear dan bulk modulus maka besanya kekuatan formasi dapat ditentukan.

Untuk menentukan apakah foramsi bersifat labil atau stabil, menurut Damsey, suatu lapangan bersifat kritis terhadap masalah kepasiran, misalnya lapangan Gulf coast G/Cb kritisnya sebesar 0,8 x 1012psi2. Ini berati bahwa untuk formasi dengan G/Cb < 0,8 x 1012psi2, maka formasi tersebut tidak memproduksikan pasir.

B. Produktivity Index

Produksivitas formasi akan mencerminkan kemampuan formasi untuk mengalirakan fluida pada kondisi tertentu, yang besarnya tergantung dari sifat-sifat fisik batuan, fluida, dan mekanisme pendorongnya. Dimana reservoir dengan mekanisme pendorong water drive akan mampu memberikan perolehan lebih baik dibandingkan dengan mekanisme pendorong lainnya. Untuk memberikan gambaran yang jelas pengaruh produktivitas formasi pada pemilihan jenis well completion, diambil contoh produktivitas batuan rekah vokanik. Dimana pada umumnya batuan yang berbentuk fracture mempunyai pemeabilitas yang tinggi. Akulumasi minyak terdapat pada macro fracture maupun micro fracture, oleh karena permeabilitasnya tidak merata, maka dengan cara open hole completion diharapkan aliran fluida dari lapisan produktif ke lubang sumur akan menjadi besar. Sedang apabila diselesaikan secara cased hole completion, maka fracture akan tertutup semen dan sukar ditembus perforasi. 2.5.2. Perencanaan Perforated CompletionMerupakan perencanaan tahap awal well completion dan terpenting, kerena tahap ini langsung berhubungan dengan zona atau formasi produktifnya. 1. Pelaksanaan Perforator dan Peralatan Perforasi

Peralatan perforasi terangkum dalam suatu perforator gun, dimana jenisnya dapat digolongkan bullet perforator dan shaped large perforator. Perbedaan dari kedua tipe ini adalah pada jenis peluru pelubang.

a) Bulet Perforator

Gambar (4.14) memperlihatkan alat perforasi jenis ini. Komponen utama dari bullet perforator meliputi :

Fluida seal disk yang menahan masuknya fluida sumur ke dalam alat diman dapat melemahkan kekuatan membakar powder.

Gun barrel

Gun body, dimana barrel disekrupkan dan juga untuk menempatkan sumbu (igniter) dan propelant dengan shear disk didasarnya, untuk memegang bullet ditempatnya sampai tekanan maksimum tercapai karena terbakarnya powder.

Bullet Thead sell

Shear Disk

Powder Centrifuge Contact-pin Assembly

Back Contack Spring

Prinsip kerja bullet perforator karena arus listrik melalui wireline timbul pembakaran pada propelant dalam centrifuge-tube sehingga terjadi ledakan yang melontarkan bullet dengan kecepatan tinggi.

Keuntungannya :

1. Bullet lebih murah dan mudah dari jet perforator2. Bullet menyebabkan perekahan formasi yang dapat dipakai pada formasi yang tebal

3. Perforasi yang dihasilkan bersifat burrless (rata pada bagian dalam) serta lubang berbentuk bulat, dengan kondisi ini maka sebagian perforasi dapat ditutup dengan klep-klep bola/ball sealer sementara waktu diperlukan

4. Bullet cocok untuk formasi lunak, dimana ia dapat menebus lebih dalam dibanding jet

Keterbatasannya

1. Efek fracturing dapat merugikan bila lapisan produktif tipis-tipis dan air atau fluida formasi lainnya ikut terproduksi pula

2. Bullet tidak dapat digunakan untuk temperatur yang tinggi, lebih dari 250 oF

3. Bullet sukar menembus formasi yang keras, dan untuk casing yang terlalu tebal/berlapis-lapis

4. Bullet yang ukuran kecil tidak memberikan hasil yang baik

Gambar 2.2

Kontruksi Bullet Peerforator

b) Jet Perforator

Proses perforasi dengan jet perforator dilukiskan dalam Gambar 4.15. Detonator elektris memulai reaksi berantai dimana berturut-turut meledakkan primacord, booster berkecepatan tinggi di dalam change dan akhirnya peledak utama. Tekanan tinggi yang dihasilkan oleh bahan peledak menyebabkan logam di dalam charge liner mengalir, memisahkan inneer dan outer liner. Pembentukan tekanan lebih lanjut pada liner menyebakan suatu dorongan jet berkecepatan tinggi dan menyebabkan suatu dorongan jet berkecepatan tinggi dan pertikel-partikel yang dimuntahkan dari cone pada kecepatan sekitar 20.000 ft/sec tekanan pada titik unjungnya kira-kira 5 juta psi.

Selubung terluar liner rusak untuk membentuk suatu gerakan aliran metal yang rendah dengan kecepatan antara 1500 dan 3000 psi. Sisa outer liner ini mungkin dapat membentuk slug tunggal yang disebut sebagai carrot atau aliran partikel-partikel logam.

Keuntungannya:

1. Dapat digunakan untuk temperatur sampai 400 oF

2. Rekahan yang terjadi tidak terlalu besar sehingga cocok untuk formasi yang tipis

3. Lebih banyak tembakan yang dapat dilakukan untuk sekali penurunan gun ke dalam sumur, sehingga untuk formasi dengan interval yang panjang akan lebih baik dan murah.

4. Jet perforator menembus formasi keras tapi baik

5. Untuk operasi dalam tubing (parmaneny type completion) hanya jet yang cocok karena alat untuk bullet memerlukan diameter yang besar agar peluru cukup besar diameternya

Keterbatasannya:

1. Rekahan yang terbentuk tidak terlalu lebar sehingga tidak banyak membantu meningkatkan permeabilitas pada lapisan yang tebal

2. Penggunaan ball sealer tidak dapat dipakai karena hasil pelubangan yang runcing dibagian dalam dan tidak bulat di bagian luar

3. Jet lebih mahal jika dibandingkan dengan bullet bila dipakai pada interval perforasi yang pendek atau sedikit jumlah penembakannya

Pengerjaan perforasi ini sangat penting sekali karena mempengaruhi produktivitas sumur. Beberapa hal yang perlu direncanakan dalam pengerjaan perforasi adalah menentukan posisi dan intrval perforasi.

2. Penentuan Interval dan Posisi Perforasi

Dalam proses produksi minyak dapat terjadi water conning, dimana hal ini akan memberikan pengaruh negatif terhadap perolehan minyak. Dengan fenomena gas dan water conning tersebut, maka para ahli mencari hubungan antara laju produksi kritis dengan parameter reservoir serta parameter produksi untuk menentukan interval perforasi dan posisinya.

Gambar 2.3

Prinsip Kerja Jet Perforator

a. Metode Chierici

Beberapa anggapan yang digunakan dalam metode ini untuk mendapatkan laju produksi kritis, adalah :

Reservoir homogen

Bidang kontak antar fluida horizontal dan statis

Pengaruh tekanan kapalier diabaikan

Fluida reservoir incompresibel

Aquifer terbatas sehingga tidak merupakan tenaga pendororng

Pengembangan gas cap pelan-pelan, sehingga gradien potensial dapat diabaikan

Dengan anggapan-anggapan tersebut di atas maka Chierici menurunkan persamaan dalam tujuan penentuan posisi dan interval perforasi adalah sebagai berikut :

....................... (2-34)

........................ (2-35)

dimana :

Qow: laju produksi maksimum minyak tanpa terjadi water conning, STB/hari

Qog: laju produksi maksimum minyak tanpa terjadi gas conning, Mscfd

h: ketebalan zona minyak, ft

Kho: permeabilitas efektif horizontal minyak, md

(: fungsi yang tak berdimensi

(: b/h : panjang interval perforasi/ketebalan zone minyak

rDe: (re/h)

Kvo : permeabilitas efektif verikal minyak, md

(g: Lg/h = jarak antara GOC-top perforasi/ketebalan zona minyak

(w: 1 - (g

: Lw/h = jarak antara WOC-bottom perforasi/ketebalan zona minyak

Dari persamaan di atas, suatu syarat untuk tidak berproduksinya air dan gas bebas ke permukaan adalah :

Qo ( Qow atau Qo ( Qog

Gambar di bawah menunjukkan diagram sistem water dan gas conning.

5 ( rDe ( 80

0 ( ( ( 0,75

0,07 ( ( ( 0,9

Penetuan interval dan posisi perforasi dengan metode ini didasarkan pada gambar-gambar tersebut.

Gambar 2.4

Diagram Sistem Water dan Gas Conning

di dalam Formasi yang Homogen

Langkah-langkah penentuan interval dan posisi perforasi dengan metode ini adalah :

1. Hitung rDe2. Hitung ((og/((ow3. Ambil beberapa kemungkinan harga (misalnya 0,1 ; 0,2 dan seterusnya)

4. Dengan memakai grafik plot antara ( vs ( (sesuai dengan harga rDe yang telah dihitung) dan salah satu dari beberapa kemungkina harga (, akan didapat ( dan (g optimum berdasr harga yang telah dihitung pada langkah 2. Bila aguifer dan gas cap, kondisi maksimum laju produksi kritis secara teoritis memenuhi Qoptimum = Qog = Qow.

5. Hitung harga melalui Persamaan (4-11) atau (4-12) dengan menggunakan harga-harga yang telah ditentukan pada langkah 4.

6. Dengan mengetahui kemampuan sumur pada berbagai interval perforasi maka dari berbagai harga Qoptimum yang telah dihitung pada langkah 5, dapat ditentukan harga Qoptimum yang sesuai atau laju produksi kritis yang sesuai dengan sumur yang bersangkutan

7. Perhitungan-perhitungan tersebut diulangi lagi untuk harga interval perforasi yang lain sampai diperoleh harga Qoptimum yang sama atau hampir dama dengan Qactual.

Hubungan antara rDe, (, ( dengan ( ditunjukkan pada Gambar 4.17.

3. Metode Pirson

Persamaan -persamaan yang dibuat Pirson untuk menetukan laju produksi kritis dalam tiga kasus sebagai berikut :

.............................. (2-36)

Untuk kasus water conning (lihat gambar 4.16)

.......................................... (2-37)

Untuk kasus gas dan water conning yang terjadi bersama-sama seperti yang terlihat pada gambar (4.18), laju aliran minyak maksimum dibagi menjaadi dua aliran, pertama Qog yang diambil di atas bidang zo, disebut laju aliran minyak maksimum tanpa gas dari gas conning, dan Qow yang diambil bidang bagi zo, disebut laju aliran minyak maksimum tanpa air dari water conning.

Persamaan-persamaan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut :

......... (2-38)

...................... (2-39)

sehingga

Qo maksimum = Qog + Qow .............................................................. (2-40)

dimana :

Qo maks: laju produksi maksimum tanpa produksi air dan gas, bbl/hari

(w: berat spesifik air

(o : berat spesifik minyak

(g: berat spesifik gas

hc: interval perforasi

D: jarak dari puncak zone minyak ke dasar perforaasi, ft

zo

: jarak dari dasar zone minyak ke bidang bagi, ft

Harga-harga D dan zo dapat dihitung dengan persamaan :

.......................................................... (2-41)

............................................................................ (2-42)

Langkah-langkah penentuan interval dan posisi perforasi :

1. Ambil beberapa kemungkinan harga hc2. Hitung D dengan persamaan menggunakan persamaan (6-18)

3. Hitung zo dengan persamaan (6-19)

4. Hitung harga-harga Qog dan Qow melalui persamaan (6-15) dan (6-16)

5. Hitung harga Q optimum dengan persamaan (6-17)

6. Dengan mengetahui kemampuan sumur pada berbagai interval perforasi, maka dari berbagai harga Qoptimum yang telah dihitung diatas, dapat ditentukan harga Qop yang sesuai atau laju produksi kritis yang cocok untuk sumur yang bersangkutan.

7. Dari harga Qopt yang dipilih pada langkah 6, maka harga interval perforasi hc, dan posisi D, untuk sumur yang bersangkutan dapat diketahui.

Gambar 2.5

Kondisi Water and Gas Conning Menurut Pirson

3. Penentuan Densitas Perforasi

Densitas perforasi adalah jumlah lubang dalam casing per satuan panjang (feet). Untuk menentukan densitas perforasi dapat menggunakan penelitian yang dibuat oleh Muskat, dimana dihasilkan hubungan antara produktivitas ratio (Qp/Qo) densitas perforasi untuk berbagai jarak penetrasi radial, diameter lubang perforasi dan diameter casing. Hasil penelitiannya ditunjukkan pada Gambar 6.19.

dimana :

.................................................................... (2-43)

Qp: laju produksi maksimum sumur perforasi, bpd

Qo: laju produksi sumur open hole, bpd

Sp :faktor skin perforasi, yang tergantung pada diameter perforasi, diameter sumur, dalam penembusannya dan sudut penembakannya.

Misalkan suatu sumur dengan jari-jari casing 3 inchi, akan diperforasi pada suatu interval dan posisi untuk ini menghasilkan harga Qp/Qo = 0.6 maka dari gambar 6.19 diperoleh bahwa perforasi ini dapat dilakukan dengan harga density perforasi yang lebih kecil atau sama dengan 1. Sehingga apabila digunakan peluru dengan diameter 1/2 in atau jari-jari 1/4 inch, maka density perforasi yang harus digunakan adalah 4 hole/ft.

Hubungan ini diperluas untuk suatu variabel harga dari densitas perforasi untuk suatu varibel harga dari densitas perforasi x jari-jari lubang perforasi yang berlaku untuk aliran steady state dalam formasi yang homogen. Kurva garis tebal pada gambar menunjukan jari-jari casing 3 in. dan garis putus-putus adalah untuk jari-jari 6 inchi.

Gambar 2.6

Grafik Hubungan kv/kh terhadap Hubungan Qo/Qp dan Densitas Perforasi

4. Perhitungan Diameter Perforasi

Pada gambar dibawah ini menunjukan bahwa untuk mendapatkan rate sebesar 100 bbl/day, dengan kedalaman penetrasi perforasi 12 inchi (305 mm) dan dimeter lubang perforasi sebesar 0,375 inchi (9,5) dibutuhkan drowdown ((P) sebesar 1,0 psi.

Jadi dengan menggunakan persamaan Fanning diatas dapat ditentukan diameter lubang perforasi pada rate (laju aliran) yang diinginkan, dengan catatan bahwa parameter-parameter yang lain sesuai seperti yang tertera pada grafik, yaitu :

f (friction faktor)

= 0.85

4. L (perforation lengtih)= 12

5. (spesific gravity minyak) = 0.85

K.C. Hong, mengambarkan pengaruh pola perforasi terhadap productivity ratio, seperti terlihat pada Gambar 2.7.

Gambar tersebut menggambarkan productivity ratio versus kedalaman penetrasi perforasi untuk tiga pola perforasi.

Gambar 2.7

Produktivity Ratio Diameter Lubang Perforasi

Gambar 2.8

Grafik Drowdown vs Diameter Lubang Perforasi dari Persamaan Fanning

Ketiga pola tersebut disusun secara vertikal dan lurus, dimana pola pertama (yang terbawah) mempunyai phasing 0o yang disebut srtip Shooting, pola yang kedua (ditengah) mempunyai phasing 90o dan pelubangan dilakukan pada suatu bidang horizontal (simple pattern), sedangkan pola ketiga (teratas) juga mempunyai phasing 90o tetapi pelubangan dilakukan pada dua bidang horizontal . Permeabilitas vertikal dan hirizontal diasumsikan sama.

Pola pertama (strip shooting) menghasilkan productivity ratio yang lebih rendah bila dibandingkan dengan kedua pola lainnya. Hal ini disebabkan oleh distribusi tekanan pada kedua pola menghasilkan drow-down yang lebih merata untuk memproduksi fluida yang lebih besar.

Pada formasi yang isotropic (permeabilitas horizontal dan vertikal sama), keseragaman besarnya drow-down dihubungkan terhadap jarak antara pelubangan yang berdekatan. Jarak yang terbesar terdapat pada pola ketiga (staggered pattern), (staggered pattern), sehingga pola tersebut mempunyai productivity ratio yang tertinggi.

Gambar 2.9

Pengaruh Pola Perforasi pada Produktivity RatioKedalaman Penetrasi Perforasi

Dari hasil penelitian Stanley Locke, digambarkan pengaruh dari kedalaman penetrasi perforasi (perforation length) terhadap productivity ratio, seperti terlihat pada gambar 6.23. Productivity ratio mencapai harga maksimum pada kedalaman penetrasi kira-kira 12 inch (395 mm). Juga terlihat bahwa productivity ratio akan makin meningkat dengan pertambahan kedalaman penetrasi perforasi.

Pada Gambar 6.24, digambarkan untuk suatu kedalaman penetrasi yang sama, maka besarnya productivity ratio akan bertambah dengan bertambahnya density perforasi. Jadi density perforasi akan mempengaruhi besarnya productivity ratio pada suatu harga kedalaman penetrasi dari perforasi.

Gambar 2.10

Produktivity Ratio vs Penetrasi Perforasi

Gambar 2.11

Produktivity ratio vs Kedalaman Penetrasi pada Berbagai

Harga Density Perforasi

5. Perhitungan Faktor Skin Perforasi

Laju aliran dari formasi kedalam sumur pada perforted casing completion, dipengaruhi oleh kerusakan (damage) dan lubang perforasi. Dalam hal ini keduanya dapat dikatakan sebagai skin yang sama secara kwantitatif dapat berharga positif atau negatif. Untuk selanjutnya masing-masing dinyatakan sebagai skin damage (Sd) dan skin perforasi (Sp).

Sedangkan hasil dari analisa tes tekanan memberikan harga skin total (St), dimana :

St = Sd + Sp ......................................................................................... (2-44)

Teori analisa fluida menuju ke sumur menganggap geometri aliran radial dengan batas-batas r = rw (dinding.formasi) dan r = re (batas pengurasan). Apabila faktor skin diperhitungkan sebagai kehilangan tekanan, maka persamaan menjadi :

............................................. (2-45)

dimana :

S = St untuk sumur berselubung (ber-casing)

St = Sd atau Sp = 0 untuk open hole completion

Dalam hal ini, makin kecil diameter perforasi, semakin besar skin perforasinya. Dan makin banyak lubang juga makin dalam perforasinya, maka skin semakin kecil.

Untuk menentukan harga skin faktor akibat perforasi (Sp), K.C. Hong telah membuat beberapa grafik seperti pada gambar 6.25 (simple pattern) dan gambar (4.26) (Staggered patterns)

Gambar 6.27 berfungsi untuk koreksi bila diameter perforasi 0,25 dan 1,0 inch.

Langkah-langkah untuk menentukan (Sp) dengan menggunakan grafik sebagai berikut :

a) Tentukan harga :

Diameter sumur (dw) yaitu diameter outside casing (OD) ditambah dua kali ketebalan semen.

Ratio permeabilitas vertikal dengan horizontal, kv/kh

Pola perforasi (yaitu harga perforations phasing, 0 dan masing-masing perforasi, h)

Depth of penetration (dihitung dari muka semen), ap.ap adalah total Berea Sandstone sebagai dasarnya, yang memiliki compresive strength sebesar 6500 psi. Jika harga compresive strength untuk suatu formasi diketahui, harga ap dapat dikoreksi dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

Bullet Perforation :

.................................................................. (2-46)

Jet Perforation :

................................................ (2-47)

dimana :

Pf = penetration in formation, in = ap

PB = TCP pada Beroa Sandstone, in

CB = compressive strength pada Barea Sandstone, 6500 psi

Cf = compressive strength pada formasi, psi

b) Gunakan Gambar 4-25 (untuk simple patterns) atau Gambar 6-26 (untuk staggered patterns) untuk mendapatkan harga (Sp). Mulailah dari sisi kiri nomogram dan dibuat garis penghubung dengan parameter-parameter dari langkah 1.

c) Dengan memakai Gambar 4.27, dilakukan koreksi harga Sp dari langkah 2 untuk diameter perforasi yang berbeda. Setelah harga Sp didapat, maka dapat dihitung harga skin total (St) apabila skin damage (Sd) diketahui, sehingga perhitungan productivitas sumur bisa dilakukan dengan menggunakan Persamaan 4-21. Sedangkan untuk menetukan productivity ratio-nya dapat menggunakan persamaan :

.............................. (2-48)

Apabila St berharga negatif, berarti PR akan mempunyai harga lebih dari satu. Jadi dapat disimpulkan bahwa laju produksi sumur yang diperforasi dapat lebih besar dari laju produksi sumur pada kondisi open hole.

d) Dengan memakai Gambar 4.27, dilakukan koreksi harga Sp dari langkah 2 untuk diameter perforasi yang berbeda. Setelah harga Sp didapat, maka dapat dihitung harga skin total (St) apabila skin damage (Sd) diketahui, sehingga perhitungan productivitas sumur bisa dilakukan dengan menggunakan Persamaan 4-21. Sedangkan untuk menentukan productivity ratio-nya dapat menggunakan persamaan :

.............................. (2-49)

Apabila St berharga negatif, berarti PR akan mempunyai harga lebih dari satu. Jadi dapat disimpulkan bahwa laju produksi sumur yang diperforasi dapat lebih besar dari laju produksi sumur pada kondisi open hole.

6. Perhitungan Pressure Drop Perforasi

Salah satu penyebab rendahnya productivitas sumur pada perforated completion adalah karena program pelubangan selubung (perforasi) yang tidak memadai. Apabila kondisi ini terjadi akan berakibat timbulnya suatu hambatan terhadap aliran atau bertambahnya penurunan tekanan (pressure drop) dalam formasi.

Oleh karena itulah, Carl Granger dan Kermit Brown telah menggunakan analisa Nodal untuk mengevaluasi besarnya penurunan tekanan melalui lubang perforasi, pada berbagai harga density perforasi.

Analisa Nodal disini, diterapkan untuk Standart Perforated Well, dengan menganggap perforated hole turn 90o dan tidak terjadi damage zone disekeliling lubang bor.

Anggapan-anggapan lain yang digunakan dalam mengevaluasi pressure drop melalui lubang perforasi ini adalah :

a) Permeabilitas dari crushed zone atau compact zone yaitu :

dari permeabilitas formasi apabila diperforasi dengan tekanan overbalanced (tekanan hidrostatis dalam lubang bor lebih besar daripada tekanan formasi).

dari permeabilitas formasi, apabila diperforasi dengan tekanan underbalanced (tekanan hidrostatis dalam lubang bor lebih kecil daripada tekanan formasi).

b) Ketebalan crushed zone adalah 1/2 inch.

c) Infiniti reservoir, sehingga Pwst tetap pada sisi dari compact zone, jadi pada closed outer boundary, konstanta - 3/4 pada persamaan Darcy dihilangkan.

d) Untuk mengevaluasi pressure drop melalui lubang perforasi digunakan persamaan dari Jones, Blount dan Galze.

Open Perforated Pressure Drop

Persamaan dibawah ini hanya berlaku untuk sumur minyak pada umumnya, yaitu sebagai berikut :

.................................................. (2-50)

................ (2-51)

dimana :

dimana :

Bo= faktor volume formasi, bbl/STB

(o= densitas minyak, lb/cuft

Lp= perforation length, ft

Kp= permeabilitas compact zone, md (kp = 0,1 k formasi, jika overbalanced dan kp = 0,4 k formasi, jika konsidi underbalanced).

rp= jari-jari lubang perforasi, ft

re= jari-jari compact zone, ft (re = rp + 0,5 inch)

(o= voscositas minyak, cp.

2.6. PERFORASI SUMUR X-3

Well history :Des, 2004:Memulai pemboran dengan SPA-10 rig bor. Set 13-3/8 casing di kedalaman 307ft. set 9-5/8 casing at 3047ft MD. Melanjutkan pemboran 8 hole to TD @3405 ft MD. Set 5 " casing FS pada 3393 ft MD dan FC pada 3348 ft MD. Cementing 5 casing got bump plug 1500 Psi dan tahan selama 5 menit, fluida mengalir balik 0,5 bbls. Rata-rata inklinasi adalah 28 deg.

Des, 2004:Selesai menggunakan rig pemboran SPA-10 dengan perforasi formasi baturaja pada 3088-3098 ft MD DIL-SP-GR. Swabbing sumur dengan total recover 271 bbls. Melakukan matrix acid dengan 12bbls 15% HCL, campuran asam.

Des, 2004:Mentes sumur, dengan rate 13BOPD, 52 BFPD, 75% WC, US/DS 345/120.

Jan, 2005:Mengetes sumur, 585 BFPD, 100%WC, US/DS, 380/120.

Wellhead Configuration

Section A: 9 5/8 x 11 3000 Psig

Section B: 11 x 7 1/16 3000 Psig

Section D: 7 1/16 x 2 9/16 3000 Psig

1. Status Sumur : sumur ditutup karena water cut yang tinggi. Estimasi tekanan pada formasi baturaja 800 psig.

2. Gambaran umum dan tujuan pekerjaan

a. Menutup formasi baturaja pada interval 3088 3098 ft MD-DIL-SP-GR

b. Perforasi formasi baturaja pada interval 3058 3072 ft MD-DIL-SP-GR lalu lakukan acidizing pada sumur tersebut.

c. Tutup sumur selama 12 jam lalu lakukan SBHP survey.

d. Put the well on stream.

Prosedur Kerja

A. Squeeze off Baturaja formasi pada interval 3088-3098 ft MD-DIL-SP-GR menggunakan 25 sxs G semen

B. Perforasi formasi baturaja @ 3058 3072 ft MD-DIL-SP-GR menggunakan 2 1/8 link shogun, 5 SPF, 60 deg phasing.

1. R/U EPI logging unit, BOP riser, lubricator dan GIT. Tes GIT pada 200 psi dan 1000 psi, tahan masing masing 10 menit (tes GIT dengan gun terisi pada lubricator). RIH dengan perforating tool untuk perforasi formasi baturaja @ 3058 3072 ft MD-DIL-SP-GR menggunakan 2 1/8 link shogun, 5 SPF, 60 deg phasing. POOH shooting tool. R/D EPI logging unit. (harus di saksikan oleh company man atau WOWS/completion engineer).

Stand by selama 10 menit setelah perforasi untuk menstabilkan lubang bor sebelum menurunkan tools untuk mencatat log perforasi.

Mencatat log sebelum dan setelah perforasi dan SITP.

Mengirim hasil log sebelum dan sesudah perforasi ke WO/Reservoir Engineer.

2.Mengamati sumur, memeriksa SITP dan turunkan tekanan tekanan jika ada. Sirkulasi sumur dengan 8,4 ppg SW untuk 1 x BTU (63bbls). Pastikan sumur mati.

3. N/D CB head. Turunkan tubing 27/8 ke 3080 ft MD dan sirkulasikan sumur 1 x BTU.

C. Acidized formasi baturaja pada interval 3058 3072 ft MD-DIL-SP menggunakan 15% HCL campuran asam, 40 GPF dengan 10% excess.

2.7.Pengamatan Peralatan di Lapangan

Peralatan yang ada di lapangan :

1. Rig

a. Sistem pengangkat (Hoisting System)

Berfungsi untuk menyediakan fasilitas untuk mengangkat, menahan, dan menurunkan drillstring,casing string, tubing dan perlengkapan bawah permukaan lainnya dari dalam sumur atau ke luar sumur.

Portable Mast (derrick)

Menyediakan ruang ketinggian vertical yang diperlukan untuk mengangkat pipa dari atau menurunkan ke sumur.

Block dan Tackle

Berfungsi untuk memberikan keuntungan mekanik, sehingga mempermudah penanganan beban berat, yang terdiri dari : Crown block, treveling block, dan drilling line.

Drawwork

Menyediakan daya untuk mengangkat dan menurunkan beban yang berat, yang terdiri dari bagian utama yaitu ;Drum, brake, transmisi, dan cathead.

b. circulating system

berfungsi untuk mengangkat serpih dan fluida dari dalam sumur ke permukaan, terdiri dari pompa, line dan pits (tangki).

c. rotaring sistem

berfungsi untuk mentransfer putaran, yaitu power swivel.

d. BOP system

BOP adalah peralatan yang diletakkan tepat diatas permukaan sumur untuk menyediakan tenaga untuk menutup sumur bila terjadi kenaikan tekanan yang tiba-tiba dan berbahaya selama sumur sedang di workover maupun di servis. Bagian dari BOP sendiri adalah :

Annular Preventer

Didesing untuk menutup disekelililng lubang sumur dengan berbagai jenis ukuran dan bentuk peralatan yang sedang diturunkan ke dalam sumur. Sehingga annular BOP ini dapat menutup annulus di sekitar tubing,casing. Annular preventer berupa master valve yang umumnya ditutup pertama kali bila sumur mengalami well kick, karena kefleksibelan karet penutupnya.

Pipe Ram

Didesign untuk menutup annulus di sekeliling peralatan yang berupa tubing dan casing.

Blind ram

Bentuk dan fungsi mirip dengan pipe ram hanya saja ram ini di design untuk menutup dan mengisolasi sumur tanpa tubing dan casing.

BOP yang dipakai adalah 7-1/16 x 3000 psi

Dalam pekerjaan workover, wellservice, dan well completion, PT Medco E&P menggunakan empat rig yang bertipe portable mast yaitu :

Rig Sky Top-2 (2 jts)

Rig Ideco- V (2 jts)

Rig BNP (1 jt)

RIG Essarindo (2 jts)

2. casing

adalah suatu pipa baja berfungsi antara lain untuk : mencegah gugurnya dinding sumur, menutup zona tekanan abnormal,zona lost dan sebagainya. Casing yang biasa digunakan adalah :

13-3/8 H-40

9-5/8 H-40

5-1/2 K-55

3. Tubing

Adalah pipa yang terdapat di dalam casing yang berfungsi sebagai pipa produksi. Tubing yang biasa digunakan adalah tubing 2-7/8.J-55.

4. Tubing head

Berfunsi untuk menggantung tubing didalam well head.

5. Packer

adalah peralatan bawah permukaan yang digunakan untuk menyekat antara tubing dengan casing, untuk mencegah aliran vertical disepanjang annulus casing-tubing.

Packer yang dipakai adalah 5-1/2 R-3 packer

6. Bit

Berfungsi untuk member/membuat lubang suatu lapisan, didalam workover biasanya digunakan untuk mengebor semen.

7. BPV

8. BOP wireline

Adalah BOP yang digunakan pada waktu wire line dan dipasang menyambung dengan tubing. BOP wire line yang digunakan adalah 5000 psi.

9. Gas lift Mandrell

Rumah tempat gas lift valve yang di sambungkan dengan tubing. Bentuknya adalah tubing yang mempunyai perut, dimana berdiameter sebesar tubing ditambah diameter gas lift valve. Perut tersebut harus diisi gas lift dummy agar lubang yang tersedia tertutup pada saat sumur belum memerlukan gas lift. Mandrell yang digunakan adalah 2-3/8.

10. Gas lift Valve

Valve yang dipasang pada gas lift mandrell yang akan terbuka pada tekanan tertentu

11. dummy valve

valve yang dipasang pada gas lift mandrell apabila sumur belum memerlukan gasliftt atau sumur sedang dilakukan workover tertentu.

12. well head

kepala sumur dimana terdapat tubing hanger, casing hanger dan x-tree.

13. X-tree

Bagian paling atas dari well head yang ,yang terdiri dari tubing adapter, katup-katub, fitting,, alat pengukur tekanan dan choke. Fungsi X-tree adalah sebagai pengatur laju aliran produksi.

14. cementing Unit

unit peralatan yang digunakan dalam penyemenan, dan dapat juga digunakan untuk melakukan accidizing, dengan bagian utamanya adalah pompa dengan kapsitas yang besar. Pada pelaksanaan cementing dan accidizing, PT Medco E&P menggunakan jasa servis dari Halliburton, baik untuk cementing maupun untuk acidizing Di cementing unit memiliki pompa dengan tekanan hingga 15.000 psi .

15. logging unit

unit peralatan yang digunakan dalam logging dan perforasi.

Pada pelaksanaan perforasi, PT Medco E&P menggunakan jasa servis dari EPI (Exspan Petrogas Internusa). Di Logging unit terdapat wire line, peralatan logging, dan ruang monitoring

16. perforator

alat yang digunakan untuk membuat lubang perforasi.bagian dari perforator adalah :

Prima Cord

HMX 80 gr

Detonator

0-22 HE

Charge

Shogun Link

Accessories

Perforator yang digunakan adalah 2-1/8 Link Shogun,dan biasanya menggunakan 5 SPF.

17. swab tool

peralatan yang digunakan untuk melakukan swabbing.

18. poor boy separator

alat untuk memisahkan fluida dan gas dari fluida hasil swabbing.

Bahan-bahan :

1. salt water

adalah air yang mengandung garam, sehingga memiliki densitas yang lebih kecil dari fresh water. Biasanya digunakan sebagai killing fluid yaitu cairan untuk mematikan sumur ketika sumur akan dilakukan workover dan wellservice. SW yang digunakan adalah 8,4 ppg.

2. fresh water

berupa air tawar ,biasanya digunakan untuk spacer, dan circulation fluid.

3. acid

zat yang digunakan dalam melakukan pengasaman pada sumur. Asam yang digunakan adalah HCl.

4. Acid Additive

Surfactant

Surfactant merupakan zat kimia yang dapat memperkecil tegangan permukaan dari suatu cairan dengan mengabsorbsi pada permukaan antara cairan dan gas. Penambahan surfactant harus sesuai dengan additif yang lain agar tidak menimbulkan masalah lain yang merugikan. Surfactant yang digunakan adalah Losurf.Corrosion Inhibitor

Corrosion inhibitor merupakan additif yang selalu digunakan dalam setiap operasi pengasaman, dengan mengingat kondisi asam yang korosif terhadap peralatan logam. Dengan adanya corrosion inhibitor, walaupun tidak bisa 100% menghilangkan korosi, tetapi dapat mengurangi laju korosi hingga batas yang dapat ditolerir. corrosion inhibitor yang digunakanadalh HAL-85.

Mutual Solvent

Umumnya mutual solvent digunakan pada saat after flush (overlfush) di belakang campuran HF-HCl. Fungsinya adalah untuk membersihkan formasi dari sisa-sisa pengasaman. mutual solvent yang digunakan adalah MUSOL-A.

Aromatic Solvent (anti sludge)

Formasi dengan minyak berat, sludge (gumpalan atau endapan), asphalt dan scale berlapis minyak perlu digunakan aromatic solvent untuk melarutkannya agar kerja asam lebih baik lagi.

Solven digunakan sebagai preflush atau pendispersi dalam fluida asam treatment untuk melarutkan hidrokarbon sehingga asam dapat bereaksi dengan material formasi atau materail asing penyumbat pori. anti sludge yang dipakai adalah AS-7.

5. cementadalah material yang dipakai untuk penyemenan. Semen yang digunakan adalah semen G Indocement dan semen G Kujang. Semen kelas G digunakan untuk penyemenan dibawah 8000 ft dan merupakan semen dasar.

6. cement additive

Accelerator

Accelerator digunakan untuk mempercepat penguatan semen dan mengurangi waktu WOC. Hal ini sangat penting untuk mempercepat proses pekerjaan selanjutnya setelah penyemenan,

Retarder

Retarder digunakan untuk menambah thickening time bubur semen, jika diperlukan penambahan waktu untuk penempatan semen.

LCM

Adalah zat yang digunakan untuk mengurangi terjadinya lost cieculation yang berlebihan di dalam sumur ke formasi. LCM yang digunakan adalah H322L.

Friction Reduction

Adalah zat additive yang digunakan untuk memgurangi gesekan (friksi) dari semen . additive yang digunakan adalah CFR3L.

Anti Foam

Adalah zat additive yang digunakan untuk mencegah terjadinya gelembung dalam slurry semen. Gelembung pada semen akan membuat semen kurang kuat setelah kering. Zat yang digunakan adalah D-Air2.

Well Completion (Komplesi Sumur)

Setelah pemboran mencapai target pemboran (formasi produktif), maka sumur perlu dipersiapkan untuk dikomplesi. Persiapan sumur untuk dikomplesi bertujuan untuk memproduksikan fluida hidrokarbon ke permukaan. Komplesi sumur demikian dikenal dengan istilah Well Completion.

Komplesi sumur meliputi bagian tahapan operasi produksi, yaitu :

1. Tahap pemasangan dan penyemenan pipa selubung produksi (production casing).

2. Tahap perforasi dan atau pemasangan pipa liner.

3. Tahap penimbaan (swabbing) sumur.

2.1. Metoda Well Completion.

Kriteria umum untuk klasifikasi metode well completion didasarkan pada beberapa faktor,

yaitu :

1. Downhole completion atau formation completion, yaitu membuat hubungan antara formasi

produktif dan sumur produksi dengan tiga metoda adalah sebagai berikut :

a. Openhole completion (komplesi sumur dengan formasi produktif terbuka).

b. Casedhole completion atau perforated completion (komplesi sumur dengan formasi produktif dipasang casing dan diperforasi).

c. Sand exclussion completion (problem kepasiran).

2. Tubing completion (komplesi pipa produksi) yaitu merencanakan pemasangan atau pernilillan

pipa produksi (tubing), Vaitu meliputi metoda natural flow dan artificial lift.

3. Wellhead completion yaitu meliputi komplesi Xmastree, casing head, dan tubing head.

2.1.1. Openhole Completion

Pada metoda ini, pipa selubung produksi hanya dipasang hingga di atas zone produktif (zona produktif terbuka). Metoda komplesi ini diterapkan jika formasi produktif kompak dan keuntungannya adalah didapatkannya lubang sumur secara maksimum, kerusakan/skin akibat perforasi dapat dieliminir, mudah dipasang screen, liner, gravel packing dan mudah diperdalam apabila diperlukan. Kerugian metoda ini adalah sulit menempatkan casing produksi pada horison yang tepat di atas zona produktif, sukarnya pengontrolan bila produksi air atau gas berlebihan dan sukarnya menentukan zona stimulasi.

2.1.2. Conventional perforated completion

Pada tipe komplesi ini, casing produksi disemen hingga zona produktif, kemudian dilakukan perforasi. Komplesi ini sangat umum dipakai, terutama apabila formasi perlu penahan atau pada formasi yang kurang kompak.

Keuntungan metoda ini, produksi air atau gas yang berlebihan mudah dikontrol, stimulasi mudah dilakukan, mudah dilakukan penyesuaian untuk konfigurasi multiple completion jika diperlukan. Kerugian metoda ini, diperlukan biaya untuk perforasi dan kerusakan (damage) akibat perforasi.

2.1.3. Sand exclusion types

Akibat terlepasnya pasir dari formasi dan terproduksi bersama fluida, dapat menyebabkan abrasi pada alatalat produksi dan kerugian lain, maka untuk mengatasi adanya kepasiran diperlukan cara pencegahan pada sistem komplesinya, yaitu dengan menggunakan :

1. Slotted atau screen liner.

2. Menutup permukaan formasi dengan gravel dan ditahan dengan screen (gravel packing system).

2.1.3.1. Slotted atau screen liner.

Cara ini dapat diterapkan baik pada open hole maupun cased hole, yaitu dengan menempatkan slot atau screen didepan formasi. Terdapat tiga bentuk/macam screen :

a. Horizontal slotted screen

b. Vertical slotted screen

c. Wire wrapped screen

Untuk pemasangan liner, mud cake harus dibersihkan terlebih dahulu dari zona produktif untuk mencegah terjadinya penyumbatan (plugging) dengan menggunakan fluida bebas clay aktif pada fluida komplesinya atau dengan menggunakan air garam.

2.1.3.2. Gravel packing.

Gravel pack juga dapat dikerjakan baik pada open hole maupun pada cased hole completion. Metoda ini dilakukan baik untuk memperbaiki kegagalan screen liner maupun sebagai metoda komplesi yang dipilih.

Sebelum menempatkan gravel, lubang harus dibersihkan sehingga ruang/gua untuk menempatkan gravel dapat dibuat, kemudian masukkan screen liner dan pompakan gravel sampai mengisi seluruh ruang atau qua di muka formasi produktif, dengan demikian pasir akan tertahan oleh gravel sehingga fluida produksi bebas dari pasir.

2.2. Perforasi

Pembuatan lubang menembus casing dan semen sehingga terjadi komunikasi antara formasi dengan sumur yang mengakibatkan fluida formasi dapat mengalir ke dalam sumur, disebut perforasi.

2.2.1. Perforator

Untuk melakukan perforasi, digunakan perforator yang dibedakan atas dua tipe perforator

a. Bullet/Gun perforator

b. Shape charge/ Jet perforator

2.2.1.1. Bullet/Gun perforator

Komponen utama dari bullet perforator meliputi :

a. Fluid seal disk: pengaman agar fluida sumur tidak masuk ke dalam alat.

b. Gun barrel

c. Badan gun dimana barrel disekrupkan dan untuk menempatkan sumbu (ignitor) dan propellant (peluru) dengan shear disk didasamya, untuk memegang bullet ditempatnya sampai tekanan maksimum dicapai karena terbakarnya powder.

d. Electric wire : Kawat listrik yang meneruskan arus untuk pengontrolan pembakaran powder charge.

Gun body terdiri silinder panjang terbuat dari besi yang dilengkapi dengan suatu alat kontrol untuk penembakan. Sejumlah gun/susunan gun ditempalkan dengan interval tertentu dan diturunkan kedalam sumur dengan menggunakan kawat (electric wireline cable) dimana kerja gun dikontrol dan permukaan melalui wire line untuk melepaskan peluru (penembakan) baik secara sendiri-sendiri maupun serentak.

2.2.1.2. Jet Perforator

Prinsip kerja jet perforator berbeda dengan gun perforator, bukannya gaya powder yang melepas bullet tetapi powder yang eksplosif diarahkan oleh bentuk powder chargenya menjadi suatu arus yang berkekuatan tinggi yang dapat menembus casing, semen dan formasi.

2.2.2. Kondisi kerja perforasi

2.2.2.1. Conventional overbalance

Merupakan kondisi kerja di dalam sumur dimana tekanan formasi dikontrol oleh fluida/lumpur komplesi, atau dengan kata lain bahwa tekanan hidrostatik lumpur (Ph) lebih besar dibandingkan .tekanan formasi (Pf), sehingga memungkinkan dilakukan perforasi, pemasangan tubing dan perlengkapan sumur lainnya.

Cara overbalance ini, umumnya digunakan pada

a. Komplesi multizona.

b. Komplesi gravelpack (cased hole).

c. Komplesi dengan menggunakan liner.

d. Komplesi pada casing intermediate.

Masalah/problem yang sering timbul dengan teknik overbalance ini adalah :

a. Terjadinya kerusakan formasi (damage) yang lebih besar, akibat reaksi antara lumpur komplesi dengan mineralmineral batuan formasi.

b. Penyumbatan oleh bullet/charge dan runtuhan batuan.

c. Sulit mengontrol terjadinya mudloss dan atau kick.

d. Cleanup sukar dilakukan.

2.2.2.2. Underbalance

Merupakan kebalikan dari overbalance, dimana tekanan hidrostatik lumpur komplesi lebih kecil dibandingkan tekanan formasi. Cara ini sangat cocok digunakan untuk formasi yang sensitif/reaktif dan umumnya lebih baik dibandingkan overbalance, karena :

a. Dengan Ph

b. Tidak memungkinkan terjadinya mudloss dan skin akibat reaksi antara lumpur dengan mineral batuan.

c. Clean up lebih cepat dan efektif.

2.2.3. Teknik/cara perforasi

Berdasarkan cara menurunkan gun ke dalam sumur, ada dua teknik perforasi, yaitu

a. Teknik perforasi dengan wireline (wireline conveyed perforation)

b. Teknik perforasi dengan tubing (tubing conveyed perforation).

2.2.3.1. Wireline conveyed perforation

Pada sistem ini gun diturunkan kedalam sumur dengan menggunakan wireline (kawat iistrik).

a. Wireline conveyed perforation

Biasanya menggunakan gun berdiameter besar. Kondisi kerja perforasi dengan teknik ini adalah overbalance, sehingga tidak terjadi aliran setelah perforasi dan menara pemboran dengan blow out preventer (BOP) masih tetap terpasang untuk penyelesaian sumur lebih lanjut.

b. Wireline conveyed tubing gun

Gun berdiameter kecil dimasukkan kedalam sumur melalui xmastree dan tubing string, setelah tubing dan packer terpasang di atas interval perforasi. Penyalaan gun dilakukan pada kondisi underbalance dan untuk operasi ini, umumnya tidak diperlukan menara pemboran tetapi cukup dengan lubricator (alat kontrol tekanan) atau snubbing unit.

2.2.3.2. Tubing conveyed perforator (TCP)

Gun berdiameter besar dipasang pada ujung bawah tubing atau ujung tailpipe yang diturunkan kedalam sumur bersamasama dengan tubing string. Setelah pemasangan Xmastree dan packer, perforasi dilakukan secara mekanik dengan menjatuhkan bar atau godevil melalui tubing yang akan menghantam firinghead yang ditempatkan di bagian atas perforator. Perforasi dapat dilakukan baik pada kondisi overbalance maupun underbalance dan setelah perforasi dilakukan, gun dibiarkan tetap tergantung atau dijatuhkan ke dasar sumur (rathole).

2.3. Swabbing

Swabbing adalah pengisapan fluida sumur / fluida komplesi setelah perforasi pada kondisi overbalance dilakukan, sehingga fluida produksi dari formasi dapat mengalir masuk kedalam sumur dan kemudian diproduksikan ke permukaan.

Ada 2 sistem pengisapan fluida yang berbeda pada sumur sebelum diproduksikan, yaitu

1. Penurunan densitas cairan.

Dengan menginjeksikan lumpur yang mempunyai densitas lebih kecil dari fluida yang berada di sumur, sehingga densitas lumpur baru akan memperkecil tekanan hidrostatik (Ph) fluida sumur, sehingga akan terjadi aliran dari formasi menuju sumur produksi selanjutnya ke permukaan.

2. Penurunan kolom cairan.

Seperti hainya penurunan densitas, untuk tujuan menurunkan tekanan hidrostatik fluida dalam sumur agar lebih kecil dari tekanan formasi, dapat dilakukan dengan dua cara :

a. Pengisapan.

Dengan memasukkan karet penghisap (swabbcup) yang berdiameter persis sama dengan tubing untuk swabbing. Dengan cara menarik swabcup ke atas, maka tekanan dibawah swabcup menjadi kecil sehingga akan terjadi surge dari bawah yang akan mengakibatkan aliran.

b. Timba

Timba dimasukkan melalui tubing, dimana pada saat timba diturunkan, katup pada ujung membuka dan bila ditarik katup tersebut akan menutup. Dengan cara ini, maka suatu saat tekanan formasi akan melebihi tekanan hidrostatik kolom lumpur.

Perforasi apaan sich? :)

Perforasi (perforating) adalah proses pelubangan dinding sumur (casing dan lapisan semen) sehingga sumur dapat berkomunikasi dengan formasi. Minyak atau gas bumi dapat mengalir ke dalam sumur melalui lubang perforasi ini.

Perforating gun yang berisi beberapa shaped-charges diturunkan ke dalam sumur sampai ke kedalaman formasi yang dituju. Shaped-charges ini kemudian diledakan dan menghasilkan semacam semburan jet campuran fluida cair dan gas dari bahan metal bertekanan tinggi (jutaan psi) dan kecepatan tinggi (7000m/s) yang mampu menembus casing baja dan lapisan semen. Semua proses ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat (17s).

Perforasi dapat dilakukan secara elektrikal dengan menggunakan peralatan logging atau juga secara mekanikal lewat tubing (TCP-Tubing Conveyed Perforations).

_1006978710.unknown

_1006982115.unknown

_1006982171.unknown

_1006982195.unknown

_1006982244.unknown

_1006982152.unknown

_1006978715.unknown

_1006978718.unknown

_1006978720.unknown

_1006982094.unknown

_1006978721.unknown

_1006978719.unknown

_1006978716.unknown

_1006978712.unknown

_1006978714.unknown

_1006978711.unknown

_1006978706.unknown

_1006978708.unknown

_1006978709.unknown

_1006978707.unknown

_1006978703.unknown

_1006978704.unknown

_1006978702.unknown