of 19 /19
BAB II PEMBAHASAN A. Surat Permintaan Visum Pada Surat Permintaan Visum et Repertum (SPV) tertulis tertanggal 17 Maret 2015. Surat Permintaan Visum diterima pada tanggal 17 Maret 2015 pukul 23:15 WITA oleh dokter Forensik RS.Bhayangkara Mappaodang. B. Multiple Cause of Damage Damage : Luka memar pada pipi kanan A-1 : Kerusakan pembuluh darah di bawah kulit A-2 : Trauma akibat benda tumpul B : Tidak ditemukan C. Hasil Pemeriksaan Tampak satu buah luka memar berbentuk tidak beraturan pada pipi kanan dengan ukuran panjang lima koma nol sentimeter dan lebar tiga koma nol sentimeter berjarak enam koma dua cm dari pertengahan sumbu tubuh dan tiga koma tiga cm di bawah garis khayal yang menghubungkan kedua mata. Luka berbatas tegas berwarna keunguan disertai dengan bengkak

dapus ver ujian

Embed Size (px)

DESCRIPTION

bab 2, dapus, benda tumpul, trauma benda tumpul, forensik, medikolegal, ver, spv, blunt injury

Citation preview

BAB IIPEMBAHASAN

A. Surat Permintaan VisumPada Surat Permintaan Visum et Repertum (SPV) tertulis tertanggal 17 Maret 2015. Surat Permintaan Visum diterima pada tanggal 17 Maret 2015 pukul 23:15 WITA oleh dokter Forensik RS.Bhayangkara Mappaodang.

B. Multiple Cause of DamageDamage: Luka memar pada pipi kananA-1: Kerusakan pembuluh darah di bawah kulitA-2: Trauma akibat benda tumpulB: Tidak ditemukan

C. Hasil PemeriksaanTampak satu buah luka memar berbentuk tidak beraturan pada pipi kanan dengan ukuran panjang lima koma nol sentimeter dan lebar tiga koma nol sentimeter berjarak enam koma dua cm dari pertengahan sumbu tubuh dan tiga koma tiga cm di bawah garis khayal yang menghubungkan kedua mata. Luka berbatas tegas berwarna keunguan disertai dengan bengkak

Gambar 1.Foto Whole Body

Gambar 2.FotoRegional (Wajah)

Gambar 3.Foto Close Up (Tampak luka memar pada pipi kanan)D. Tinjauan PustakaI. PENDAHULUAN1. TraumatologiForensikTraumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta hubungannya dengan berbagai kekerasan, sedangkan yang dimaksudkan dengan luka adalah suatu keadaan terjadinya diskontinuitas jaringan tubuh yang ditimbulkan oleh berbagai macam sebab.[1,2]Berdasarkan sifat serta penyebabnya, kekerasan dapat dibedakan atas kekerasan yang bersifat: [1] Mekanik : Kekarasan oleh benda tajam Kekerasan oleh benda tumpul Tembakan senjata api Fisika : Suhu Listrik dan Petir Perubahan tekanan udara Akustik Radiasi Kimia : Asam atau basa kuat2. Jenis-jenis Luka : [1]Berdasarkan jenisnya, lukadibagi menjadi :a. Luka akibat kekerasan benda tajamLuka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa luka iris atau sayat, luka tusuk dan luka bacok.b. Luka akibat kekerasan benda tumpulLuka yang terjadi dapat berupa memar (kontusio, hematom), luka lecet (ekskoriasi, abrasi) dan luka terbuka/robek (vulnus laseratum).c. Luka akibat tembakan senjata apiLuka yang terjadi dapat berupa Luka Tembak Masuk yang tediri dari luka tembak temple atau kontak, luka jarak dekat, luka jarak jauh dan Luka Tembak Keluar.d. Luka akibat Suhu / TemperaturSuhu tinggi dapat mengakibatkan terjadinya heat exhaustion primer dan heat exhaustion sekunder (dehidrasi), dan Luka bakar. Dan suhu rendah dapat menyebabkan kematian mendadak, serta pada kulit dapat terjadi luka yang terbagi menjadi beberapa derajat kelainan berupa : hyperemia, edema dan vesikel, nekrosis dan pembekuan disertai kerusakan jaringan.e. Luka akibat listrik dan PetirPada korban akan ditemukan aboresent mark (kemerahan kulit seperti percabangan pohon), metalisasi (pemindahan partikel metal dari benda yang dipakai ke dalam kulit), magnetisasi (benda metal yang dipakai berubah menjadi magnet)f. Perubahan tekanan udarag. Akustikh. Radiasi

II. KEKERASAN BENDA TUMPULKekerasan karena benda tumpul (Blunt Force Injury) merupakan kasus yang paling banyak terjadi dan selalu menduduki urutan pertama yang masuk di bagian ilmu kedokteran forensik.[1]Cara kejadian yang terutama adalah kecelakaan lalu lintas. Jika ditambah dengan kasus-kasus yang tidak fatal, jumlah nya tentu akan berlipat ganda. Benda tumpul dimaksud sebagai benda yang tidak bermata tajam (tidak dapat untuk mengiris, membacok, atau menusuk). Mempunyai konsistensi yang keras atau kenyal, permukaannya dapat halus ataupun kasar. Kadang-kadang dalam satu benda didapat bagian yang tajam dan tumpul, misalnya clurit dengan ujung tajam dan tangkainya tumpul.[1]Benda-benda tumpul banyak terdapat disekitar kita, dimanapun kita berada. Jika benda tersebut dibenturkan, membentur atau terbentur tubuh dengan keras akan menimbulkan rasa sakit dan kelainan atau kerusakan pada tubuh. Cara kematian pada kasus kekerasan karena benda tumpul adalah tidak wajar. Yang tersering adalah kecelakaan, misalnya kecelakaan lalu lintas, terjatuh dari tempat tinggi. Berikutnya pembunuhan, kasusnya juga cukup banyak misalnya dipukul besi kepalanya, diinjak-injak dadanya dan sebagainya.[1]Benda tumpul bila mengenai tubuh dapat menyebabkan luka, yaitu luka lecet, memar, dan luka robek atau luka terbuka. Dan bila kekerasan benda tumpul tersebut sedemikian hebatnya dapat pula menyebabkan patah tulang.[2]

Gambar 4 : Jenis-jenis luka akibat benda tumpul [3]III. LUKA LECET1. DefinisiLuka lecet merupakan luka kulit yang superficial, akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda yang memiliki permukaan kasar atau runcing, misalnya pada kejadian kecelakaan lalu lintas, tubuh terbentur aspal, jalan, atau sebaliknya benda tersebut yang bergerak dan bersentuhan dengan kulit.[4,5]

Gambar 5: Luka lecet superficial pada tangan.[6]

Walaupun kerusakannya minimal tetapi luka lecet dapat memberikan petunjuk kemungkinan adanya kerusakan yang hebat pada alat-alat dalam tubuh.[5]Luka lecet (abrasi) adalah berupa hilang atau rusaknya lapisan permukaan epitel sel kulit. Cedera seperti ini bisa terjadi akibat pukulan, terjatuh, kecelakaan lalu lintas, terseret, cakaran dengan kuku, gigitan, tertusuk duri, dan lain-lain. Karena hanya permukaan epitel kulit saja yang rusak, maka proses penyembuhan berlangsung cepat dan tidak menimbulkan bekas.[7]

Gambar 6: Luka lecet dengan ekstensi ke dalam jaringansubkutan.[6]

2. Jenis Luka LecetSesuai dengan mekanisme terjadinya, luka lecet dapat diklasifikasikan sebagai luka lecet gores (scratch), luka lecet serut (graze), luka lecet tekan (impression, impact abrasion) dan luka lecet geser (friction abrasion).[4]a. Luka Lecet Gores (Scratch)Diakibatkan oleh benda runcing (misalnya kuku jari yang menggores kulit) yang menggeser lapisan permukaan kulit (epidermis) di depannya dan menyebabkan lapisan tersebut terangkat sehingga dapat menunjukkan arah kekerasan yang terjadi.[4,5]

Gambar 7 : Luka lecet gores pada tangan [6]Cedera akibat jarum, kuku jari tangan, menyebabkan abrasi jenis goresan. Ujung kulit pada bagian akhir goresan dengan bagian awalyang bersih. [7]b. Luka Lecet Serut (Graze)Variasi dari luka lecet gores yang daerah persentuhannya dengan permukaan kulit lebih lebar. Arah kekerasan ditentukan dengan melihat letak tumpukan epitel. [4]Luka lecet yang terjadi akibat persentuhan kulit dengan permukaan badan yang kasar dengan arah kekerasan sejajar/miring terhadap kulit. Arah kekerasan ditentukan dengan melihat letak tumpukan epitel. [5]

Gambar 8: Contoh luka lecet serut [7]c. Luka Lecet Tekan (Impression, Impact Abrasion)Disebabkan oleh penjejakan benda tumpul pada kulit. Karena kulit adalah jaringan yang lentur, maka bentuk luka lecet tekan belum tentu sama dengan bentuk permukaan benda tumpul tersebut. Tetapi masih memungkinkan identifikasi benda penyebab yang mempunyai bentuk khas misalnya kisi-kisi radiator mobil, jajas gigitan dan sebaliknya.[4]Gambaran luka lecet tekan yang ditemukan pada mayat adalah daerah kulit yang kaku dengan warna lebih gelap dari sekitarnya akibat menjadi lebih padatnya jaringan yang tertekan serta terjadinya pengeringan yang berlangsung pasca mati.[4]Abrasi seperti ini adalah cedera akibat tubuh bersinggungan dengan benda yang permukaannya kasar, misalnya dengan ban kendaraan bermotor, sehingga kulit akan terlihat bekas sesuai dengan gambaran alur ban kendaraan tersebut. [7]

Gambar 9: Luka lecet berbentuk gigitan.[6]Luka lecet yang disebabkan oleh penekanan benda tumpul secara tegak lurus terhadap permukaan kulit. Bentuk luka lecet tekan umumnya sama dengan bentuk permukaan benda tumpul tersebut. Kulit pada luka lecet tekan tampak berupa daerah kulit yang kaku dengan warna lebih gelap dari sekitarnya. [5]d. Luka Lecet Geser (Friction Abrasion)Disebabkan oleh tekanan linear pada kulit dsertai gerakan bergeser, misalnya pada kasus gantung atau jeratan serta pada korban pecut. Luka lecet geser yang terjadi semasa hidup mungkin sulit dibedakan dari luka lecet geser yang terjadi segera pasca mati.[4]

Gambar 10:Luka lecetakibatterjerut[8]

3. Ciri-ciri Luka Leceta. Sebagian atau seluruh epitel hilangb. Kemudian permukaan tertutup oleh exudasi yang akan mengering (crusta)c. Timbul reaksi radang berupa penimbunan sel-sel PMNd. Biasanya tidak meninggalkan jaringan parut [1]

4. Umur Luka LecetPerkiraan kasar dibuat pada data berikut [7]GAMBARANSELANG WAKTU

Merah TerangBaru terjadi

Pembentukan Keropeng12 24 jam, karena sudah terjadi pengeringan cairan limfe dan darah

Warna Keropeng menjadi merah kecoklatan2 3 hari

Daerah yang mengalami abrasi telah diliputi jaringan epitel4 7 hari

Keropeng mulai terkelupasLebih dari 7 hari

Tabel 1 : Perkiraan Umur Luka Lecet [7]

Umur luka lecet secara makroskopis maupun mikroskopis dapat diperkirakan sebagai berikut:[1] Hari ke 1 sampai dengan 3, berwarna coklat kemerahan karena eksudasi darah dan cairan limphe 2 atau 3 hari kemudian pelan-pelan bertambah suram dan lebih gelap Setelah 1 sampai 2 minggu mulai terjadi pembentukan epidermis baru Dalam beberapa minggu akan timbul penyembuhan lengkap.

5. Perbedaan Luka Lecet Ante Mortem Dan Post MortemANTE MORTEMPOST MORTEM

Warna coklat kemerahan karena exudasiTampak mengkilap, warna kekuningan

Mikroskopis terdapat sisa-sisa epitelium dan tanda-tanda intravitalMikroskopis epidermis terpisah sempurna dari dermis dan tidak ditemukan tanda-tanda intravital

Pada umumnya terjadi pada daerah penonjolan tulang

Tabel 2 : Perbedaan Luka Lecet Antemortem dan Postmortem[1]

Gambar 11 : Luka lecet yang terbentuk setelah kematian.[6]IV. ASPEK MEDIKOLEGALDi dalam melakukan pemeriksaan terhadap korban kekerasan, pada hakekatnya dokter diwajibkan untuk dapat memberikan kejelasan dari permasalahan sebagai berikut: Jenis luka apa yang ditemui Jenis kekerasan atau senjata apakah yang menyebabkan luka Bagaimana kualifikasi dari luka ituUntuk memahami yang dimaksud dengan kualifikasi derajat luka sebaiknya mempelajari terlebih dahulu pasal-pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang bersangkutan dengan penganiayaan.[9]Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dikenal luka kelalaian atau karena disengajakan.Luka yang terjadi ini disebut Kejahatan Terhadap Tubuh atau Mis drijven Tegen Het Lijf.Kejahatan terhadap jiwa ini diperinci menjadi dua yaitu kejahatan doleuse (yang dilakukan dengan sengaja) dan kejahatan culpose ( yang dilakukan karena kelalaian atau kejahatan).[9]Hukum pidana Indonesia mengenal delik penganiayaan yang terdiri dari tiga tingkatan dengan hukuman yang berbeda yaitu penganiayaan ringan (pidana maksimum 3 bulan penjara), penganiayaan diancam (pidana maksimum 2 tahun 8 bulan), dan penganiayaan yang menimbulkan luka berat (pidana maksimum 5 tahun). Ketiga tingkatan penganiayaan tersebut diatur dalam pasal 352 (1) KUHP untuk penganiayaan ringan, pasal 351 (1) KUHP untuk penganiayaan, dan pasal 352 (2) KUHP untuk penganiayaan yang menimbulkan luka berat [9]Jenis kejahatan yang dilakukan dengan sengaja diatur dalam Bab XX, pasal-pasal 351 s.d. 358. Jenis kejahatan yang disebabkan karena kelalaian diatur dalam pasal 359, 360 dan 361 KUHP. Dalam pasal-pasal tersebutdijumpai kata-kata, mati, menjadi sakit sementara atau tidak dapat dijalankan pekerjaan sementara, yang tidak disebabkan secara langsung oleh terdakwa, akan tetapi karena salahnya diartikan sebagai kurang hati-hati, lalai, lupa dan amat kurang perhatian. [9]Pasal 361 KUHP menambah hukumannya sepertiga lagi jika kejahatan ini dilakukan dalam suatu jabatan ataupekerjaan. Pasal ini dapat dikenakan pada dokter, bidan, apoteker, supir, masinis kereta api dan lain-lain.[9]Dalam pasal-pasal tersebut tercantum istilah penganiayaan dan merampas dengan sengaja jiwa orang lain, suatu istilah hokum semata-mata dan tidak dikenal dalam istilah medis. [9]Yang dikatakan luka berat pada tubuh pada pasal 90 KUHP, adalah penyakit atau luka yang tidak biasa. Diharapkan akan sembuh lagi dengan sempurna atau yang dapat mendatangkan bahaya maut, terus-menerus tidak cukup lagi melakukan satu pekerjaan tidak lagi memakai salah satu pancaindera, kudung (rompong), lumpuh, berubah pikiran (akal) lebih dari empat minggu lamanya, menggugurkan atau membunuh anak dari kandungan ibu. [9]Disinilah dokter berperan besar sekali sebagai saksi ahli di depan pengadilan. Hakim akan mendengarkan keterangan spesialis kedokteran forensic maupun ahlilainnya (setiap dokter) dalam tiap kejadian secara khusus demi kasus.[9]Walaupun luka lecet ini tidak membahayakan jiwa seseorang, tetapi mempunyai beberapa kepentingan dari segi medikolegal, antara lain:[7]a) Mengetahui bagaimana terjadinya cederab) Bisa memberikan petunjuk adanya tanda-tanda perlawanan pada kasus-kasus tertentuc) Untuk menentukan arah datangnya tekanand) Dari letak abrasi bisa digunakan untuk memperkirakan dasar dari tindakan kriminile) Bisa merupakan tanda-tanda adanya cedera bagian dalam tubuh.

V. KesimpulanBerdasarkan kasus yang didapatkan di Rumah Sakit Bhayangkara, korban yang datang dengan keluhan luka memar pada pipi kanan akibat dari trauma benda tumpul. Dari anamnesis yang didapatkan,.menurut pengakuan korban kejadian ini terjadi pada tanggal tujuh belas bulan Maret tahun dua ribu lima belas pukul dua puluh tiga lewat lima belas menit waktu Indonesia bagian Tengah di Gunung Latimojong.Tampak satu buah luka memar berbentuk tidak beraturan pada pipi kanan dengan ukuran panjang lima koma nol sentimeter dan lebar tiga koma nol sentimeter berjarak enam koma dua cm dari pertengahan sumbu tubuh dan tiga koma tiga cm di bawah garis khayal yang menghubungkan kedua mata. Luka berbatas tegas berwarna keunguan disertai dengan bengkakSuatu perlukaan dapat menimbulkan dampak pada korban dari segi fisik, psikis, social dan pekerjaan yang dapat timbul segera dalam jangka waktu pendek atau pun jangka panjang. Pada korban ini, didapatkan derajat luka adalah luka ringan. Berdasarkan aturan dalam pasal 352 (1) KUHP menyatakan bahwa penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam, sebagai penganiayaan ringan. Hukum Pidana Indonesia, penganiayaan ringan bias dihukum pidana maksimum 3 bulan penjara.

DAFTAR PUSTAKA

1. Hariadi H, H. Mutahal. Trauma Tumpul. DalamBuku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal ed. 2. Surabaya . 2006. P: 86-91.2. Idries.A.M, Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi Pertama; Bab 4: Luka dan Kekerasan Luka Akibat Benda Tumpul; 1997; Binarupa Aksara; Hal 91-9. 3. Saukko.P, Knight.B, Knights Forensic Pathology, 3rd Edition; Chapter 4: The Pathology of Wound; Abrasions; Arnold, Hodder Headline Group, London; page 137-273. 4. Budiyanto A, dkk. Luka Akibat Kekerasan Benda Tumpul. Dalam Ilmu Kedokteran Forensik ed. 1. Jakarta :Bagian Kedokteran Forensik FK UI. 1997. Hal 37-41.5. Mansjoer.A, dkk. Traumatologi, Luka Akibat Kekerasan Benda Tumpul. Dalam Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga Jilid Kedua. Media Aesculapius FK UI. 2000. Hal 219.6. Cox.W.A. Pathology of Blunt Force Traumatic Injury. May 2011. 7. Chadha.P.V. Catatan Kuliah Ilmu Forensik dan Toksikologi Edisi Kelima, Bab 5: Luka. 1995. Penerbit WidyaMedika. Hal 66,8. Dimaio.V.J, Dimaio.D. Forensic Pathology Second Edition. Chapter 4: Blunt Trauma Wounds. 2001. CRC Press LLC. Page 9. Satyo.A.C. Dalam AspekMedikolegal Luka pada ForensikKlinik. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal, FK USU, Medan.