of 28 /28
Pengambilan Contoh Benih Sebagai langkah pertama dalam pelaksanaan pengujian benih adalah menyediakan suatu contoh benih yang dapat dianggap seragam dan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh ISTA. Suatu contoh benih yang diuji harus dapat mewakili keseluruhan kelompok benih yang lebih besar jumlahnya. Ada empat macam contoh benih yang dinyatakan dalam peraturan ISTA, yaitu : a. Contoh primer (primary sampel) adalah benih yang diambil dalam jumlah besar dari berbagai tempat penyimpanan baik wadah maupun bulk. b. Contoh campuran (composite sample) adalah semua contoh primer yang dijadikan satu dan dicampur dalam satu tempat (kantong, kotak, tray, dan lain-lain). Biasanya contoh campuran jauh lebih besar dari yang diperlukan sehingga harus dikurangi. c. Contoh yang dikirim ke laboratorium (submitted sample) adalah contoh campuran yang telah dikurangi sampai jumlah berat tertentu yang telah ditetapkan dan kemudian dikirim ke laboratorium penguji benih. d. Contoh uji (working sample) adalah contoh benih yang diambil dari “submitted sample” dan digunakan sebagai bahan uji benih di laboratorium(Sutopo, 2002). Dari sampel-sampel benih tersebut hanya jumlah yang diperlukan dalam analisis, sisa dari sample kemudian disimpan dalam rak-rak khusus sebagai persediaan sekiranya tes perlu diulang. Dalam pengujian benih penguji harus memperhatikan dan menjaga bahwa benih-benih yang diuji itu tetap asli atau utuh (Kartasapoetra, 2003). 2. Pengujian Kemurnian Benih Pengujian kemurnian benih merupakan kegiatan-kegiatan untuk menelaah tentang kepositifan fisik komponen-komponen benih termasuk pula persentase berat dari benih murni (pure seed), benih tanaman lain, benih varietas lain, biji-bijian herba (weed seed), dan kotoran-kotoran pada masa benih (Sutopo, 2002). a. Benih murni Meliputi semua varietas dan setiap species yang diakui sebagaimana yang dinyatakan oleh pengirim atau panguji di laboratorium. b. Benih tanaman lain/varietas lain Komponen ini mencakup semua benih dari tanaman pertanian yang

dapus metabolit sekunder

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: dapus metabolit sekunder

Pengambilan Contoh BenihSebagai langkah pertama dalam pelaksanaan pengujian benih adalah menyediakan suatu contoh benih yang dapat dianggap seragam dan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh ISTA. Suatu contoh benih yang diuji harus dapat mewakili keseluruhan kelompok benih yang lebih besar jumlahnya. Ada empat macam contoh benih yang dinyatakan dalam peraturan ISTA, yaitu :a. Contoh primer (primary sampel) adalah benih yang diambil dalam jumlah besar dari berbagai tempat penyimpanan baik wadah maupun bulk.b. Contoh campuran (composite sample) adalah semua contoh primer yang dijadikan satu dan dicampur dalam satu tempat (kantong, kotak, tray, dan lain-lain). Biasanya contoh campuran jauh lebih besar dari yang diperlukan sehingga harus dikurangi.c. Contoh yang dikirim ke laboratorium (submitted sample) adalah contoh campuran yang telah dikurangi sampai jumlah berat tertentu yang telah ditetapkan dan kemudian dikirim ke laboratorium penguji benih.d. Contoh uji (working sample) adalah contoh benih yang diambil dari “submitted sample” dan digunakan sebagai bahan uji benih di laboratorium(Sutopo, 2002).Dari sampel-sampel benih tersebut hanya jumlah yang diperlukan dalam analisis, sisa dari sample kemudian disimpan dalam rak-rak khusus sebagai persediaan sekiranya tes perlu diulang. Dalam pengujian benih penguji harus memperhatikan dan menjaga bahwa benih-benih yang diuji itu tetap asli atau utuh (Kartasapoetra, 2003).2. Pengujian Kemurnian Benih Pengujian kemurnian benih merupakan kegiatan-kegiatan untuk menelaah tentang kepositifan fisik komponen-komponen benih termasuk pula persentase berat dari benih murni (pure seed), benih tanaman lain, benih varietas lain, biji-bijian herba (weed seed), dan kotoran-kotoran pada masa benih (Sutopo, 2002).a. Benih murniMeliputi semua varietas dan setiap species yang diakui sebagaimana yang dinyatakan oleh pengirim atau panguji di laboratorium.b. Benih tanaman lain/varietas lainKomponen ini mencakup semua benih dari tanaman pertanian yang ikut tercampur dalam contoh dan tidak dimaksudkan untuk diuji.c. Biji-bijian herba/gulmaMerupakan bji dari tanaman lain yang tidak kehendaki, dan bublet, tuber dari tanaman yang dinyatakan sebagai gulma, herba menurut undang-undang, peraturan resmi atau pendapat umum.d. Bahan lain atau kotoranMerupakan bagian-bagian dari sejumlah benih yang sedang diuji yang tidak berupa benih, melainkan benda-benda mati yang hanya mengotori benih, seperti misalnya kerikil, gumpalan tanah, sekam, serta bentuk-bentuk lain yang menyerupai benih dan gulma.Pada pelaksanaan pengujian kemurnian benih dimana komponen-komponen

Page 2: dapus metabolit sekunder

telah berhasil dipisah-pisahkan, yang merupakan hasil-hasil uji benih murni, benih tanaman lain dan atau varietas lain, biji-bijian herba, serta benda-benda mati atau kotoran, selanjutnya masing-masing harus ditimbang dengan seksama dengan contoh kerja dalam satuan gram (Kartasapoetra, 2003).3. Pengujian Kadar AirKadar air benih selama penyimpanan merupakan faktor yang paling mempengaruhi masa hidupnya, maka benih yang sudah masak dan cukup kering penting untuk segera dipanen, atau benihnya masih berkadar air tinggi yang juga harus segerea dipanen. Kadar air optimum dalam penyimpanan bagi sebagian besar benih adalah antara 6% - 8%. Kadar air yang terlalu tinggi dapat menyebabkan benih berkecambah sebelum ditanam. Sedang dalam penyimpanan menyebabkan naiknya aktivitas pernapasan yang dapat berakibat terkuras habisnya bahan cadangan makanan dalam benih. Selain itu merangsang perkembangan cendawan pathogen di dalam tempat penyimpanan. Tetapi perlu diingat bahwa kadar air yang terlalu rendah akan menyebabkan kerusakan pada embrio (Justice dan Bass, 2002).Menurut Sutopo (2002), pada prinsipnya metode yang digunakan dalam menentukan kadar air ada dua macam yaitu :a. Metode praktis; metode ini mudah dilaksanakan tetapi hasilnya kurang teliti sehingga sering perlu dikalibrasikan terlebih dahulu, yang termasuk metode ini adalah metode Calcium carbide, metode Electric moisture meter, dan lain-lain.b. Metode dasar; di sini kadar air ditentukan dengan mengukur kehilangan berat yang diakibatkan oleh pengeringan/pemanasan pada kondisi tertentu, dan dinyatakan sebagai persentase dari berat mula-mula, yang termasuk dalam metode dasar adalah: metode Oven, metode Destilasi, Metode Karl Fisher dan lain-lain.4. Uji Daya Kecambah (Viabilitas)Pengujian viabilitas benih dipakai untuk menilai suatu benih untuk dipasarkan atau membandingkan antar seed lot karena viabilitas merupakan gejala pertama yang tampak pada benih yang menua. Daya kecambah benih memberikan informasi kepada pemakai benih akan kemampuan benih yumbuh normal menjadi tanaman yang berproduksi wajar dalam keadaan biofisik lapang yang serba optimum (Kuswanto, 1996).Metode perkecambahan dengan pengujian di laboratorium hanya menentukan persentase perkecambahan total. Pengujian ini dibatasi pada pemunculan dan perkembangan struktur-struktur penting dari embrio, yang menunjukkan kemampuan untuk menjadi tanaman normal pada kondisi lapangan yang optimum. Sedangkan kecambah yang tidak menunjukkan kemampuan terssebut dinlai sebagai kecambah yang abnormal. Benih yang tidak dorman tetapi tidak tumbuh setelah periode pengujian tertentu dinilai sebagai mati (Sutopo, 2002).

Page 3: dapus metabolit sekunder

Pengujian viabilitas terhadap suatu varietas perlu dicari metode standar agar penilaian terhadap atribut perkecambahan dapat dilakukan dengan mudah. Kita mengenal beberapa metode pengujian yang dapat dipakai untuk menguji viabilitas, yaitu :

a. UDK (Uji di Atas Kertas)Pada metode pengujian ini benih diletakkan di atas kertas substrat yang telah dibasahi. Metode ini sangat baik digunakan untuk benih yang membutuhkan cahaya bagi perkecambahannya.b. UAK (Uji Antar Kertas)Pada metode pengujian ini benih diletakkan di antara kertas substrat. Metode ini digunakan bagi benih yang tidak peka terhadap cahaya untuk perkecambahannya.c. UKDD (Uji Kertas Digulung Didirikan)Pada metode pengujian ini benih diletakkan diantara kertas substrat yang digulung dan didirikan. Dapat digunakan bagi benih yang tidak peka terhadap cahaya untuk perkecambahannya.d. UKD dpd (Uji Kertas Digulung diberi plastik didirikan)Metode ini merupakan modifikasi dari metode UKDD, dilakukan dengan tujuan untuk memperkuat kertas substrat agar tidak tembus oleh akar yang dapat mengakibatkan kertas substrat menjadi rusak sehingga pengamatan dapat jadi sulit untuk dilakukan.e. Uji TZT (Tetra Zolim Test)Metode ini dapat dilakukan dengan cepat. Dalam metode ini benih tidak dikecambahkan tetapi hanya direndam dengan larutan tetra zolium selama satu jam dan kemudian dinilai embrionya. Prinsip dari metode ini adalah terjadi pengecatan bagian embrio, sebagai hasil oksidasi larutan tetrazolium,sehingga bagian embrio yang hidup akan berwarna merah sedangkan yang mati atau cacat akan berwarna putih.f. Uji dengan Memakai Sinar XDengan sinar X kita bisa melihat kondisi embrio dalam benih, apakah embrionya cacat atau tidak, tapi metode ini juga tidak dapat mendeteksi apakah benih dapat berkecambah atau tidak.g. Uji PasirUntuk pengujian viabilitas bisa dipakai pasir sebagai media perkecambahannya. Pada metode ini yang perlu diperhatikan adalah besarnya butiran pasir dan kadar air media, karena pasir memiliki WHC yang rendah (Kuswanto, 1996).5. Uji Kekuatan Kecambah (Vigor)Vigor merupakan derajat kehidupan benih dan diukur berapa benih yang berkecambah, kecepatan perkecambahan, jumlah kecambah normal, pada berbagai lingkungan yang memadai. Vigor dipisahkan antara vigor genetik dan vigor fisiologi. Vigor genetik adalah vigor benih dari galur genetik yang berbeda-beda, sedangkan vigor fisiologi adalah vigor yang dapat dibedakan dalam galur genetik yang sama (Kartasapoetra, 2003).

Page 4: dapus metabolit sekunder

Uji kevigoran benih bertujuan untuk melihat kemampuan benih untuk tumbuh di lahan. Pengujian ini amat penting karena pada pengujian viabilitas di laboratorium kondisi lingkungannya telah dibuat seoptimal mungkin sehingga peluang bagi benih untuk berkecambah menjadi lebih besar. Pada umumnya uji vigor benih hanya sampai pada tahapan bibit. Karena terlalu sulit dan mahal untuk mengamati seluruh lingkaran hidup tanaman. Oleh karena itu digunakanlah kaidah korelasi misal dengan mengukur kecepatan berkecambah sebagai parameter vigor, karena diketahui ada korelasi antara kecepatan berkecambah dengan tinggi rendahnya produksi tanaman. Rendahnya vigor pada benih dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain faktor genetis, fisiologis, morfologis, sitologis, mekanis dan mikrobia. (Sutopo, 2002)Menurut Kuswanto (1996), metode pengujian vigor benih dapat dibagi menjadi 2 jenis pengujian, yaitu :a. Pengujian Langsung (Direct Method)Pada pengujian ini benih dikecambahkan dalam kondisi yang menyerupai keadaan di lapangan. Kelemahan metode ini terletak pada suhu pengujian yang dibuat standar. Macam-macam metodenya antara lain :1. Deep Soil Test2. Hoppe Method3. Total Growth of Plants or Seedlingsb. Pengujian Tidak LangsungDengan metode pengujian ini mudah dibuat standarisasi tetapi tidak dapat menggambarkan kevigoran yang nyata seperti yang didapat pada metode langsung. Macam-macam metodenya antara lain :1. Physiological Methode2. Physical Measurements Test 3. Biochemice Method

6. Uji Kesehatan BenihBenih dikatakan sehat kalau benih tersebut terbebas dari patogen, baik berupa bakteri, cendawan, virus, maupun nematode. Pada uji kesehatan benih tidak semuanya akan dideteksi. Uji dilakukan secara selektif, hanya yang diduga penting saja yang perlu diperiksa. Umumnya pemeriksaan ditekankan pada cendawan patogen, baik cendawan lapangan maupun cendawan gudang yang xerophytic. Uji kesehatan benih tidak merupakan ramalan, tetapi memberikan suatu informasi tentang kemungkinan adanya suatu resiko. Maksud dari uji kesehatan benih adalah untuk :a. Mengetahui adanya inokulum yang patogenik, sehingga dapat ditentukan kondisi kesehatan dari kelompok benih, yang dalam hal ini faktor kesehatan juga merupakan salah satu faktor penentu nilai lapangan dari benih.b. Mempelajari penyebab dari abnormalitas kecambah dalam uji daya kecambah.Ada berbagai metode yang dapat dipergunakan untuk mendeteksi patogen yang terbawa benih. Pada dasarnya yang telah dikenal yaitu :a. Pemeriksaan Benih Kering

Page 5: dapus metabolit sekunder

Dengan metode ini sejumlah benih diperiksa secara kering, apakah tercampur dengan kotoran-kotoran seperti sisa-sisa tanaman, sklerotia, gall, insekta dan lain-lain. Selain diperhatikan pula adanya gejala atau tanda-tanda penyakit pada benih, seperti tubuh buah cendawan, miselia, spora dan lain-lain. Dapat juga dideteksi adanya bercak-bercak pada benih dan kerusakan mekanis yang dapat menyebabkan kebusukan pada benih atau kecambah. Untuk melaksanakan pemeriksaan ini dipergunakan mikroskop stereokopik (perbesaran 10-40 kali).b. Pemeriksaan Secara Perendaman BenihMetode ini dapat dipergunakan untuk mendeterminasi cendawan yang melekat atau tumbuh pada permukaaan benih. Caranya adalah dengan memasukkan sejumlah benih dalam air kemudian digoyang-goyangkan untuk waktu tertentu. Air cucian tersebut dapat diperiksa langsung dengan mikroskop stereokopik (perbesaran 20-40 kali) atau setelah disentrifugal terlebih dahulu.c. Pemeriksaan Dengan Cara InkubasiPemeriksaan dengan cara inkubasi dapat dilakukan dengan beberapa meode, yaitu :1) Metode kertas. Cara ini didasarkan pada pertumbuhan inokulum dan kecambah. Dengan cara ini dapat dilihat macamnya patogen yang menyerang benih. Pengamatan benih dan kecambah dilakukan setelah diinkubasikan pada medium kertas.2) Metode agar. Pengujian dengan menggunakan metode agar lebih didasarkan pada pertumbuhan inokulum. Untuk keperluan media biasa dipergunakan Maltose Extract Agar (MEA) atau Potato Dextrose Agar (PDA). Metode inkubasi dengan media batubata, pasir, tanah.3) Metode “Growing on Test”. Pengujian ini didasarkan kepada pertumbuhan tanaman setelah melewati masa kecambahnya dengan memperlihatkan gejala penyakit (Sutopo, 2002).

etabolit sekunderDari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Belum Diperiksa

Langsung ke: navigasi, cari

Metabolit sekunder adalah senyawa metabolit yang tidak esensial bagi pertumbuhan organisme dan ditemukan dalam bentuk yang unik atau berbeda-beda antara spesies yang satu dan lainnya.[1] Fungsi dari metabolit sekunder adalah untuk mempertahankan diri dari kondisi Kopi mengandung metabolit sekunder berupa kafein.

Page 6: dapus metabolit sekunder

lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya untuk mengatasi hama dan penyakit, menarik polinator, dan sebagai molekul sinyal.[1]

Daftar isi

[sembunyikan]

1 Klasifikasi 2 Manfaat 3 Manfaat 4 Referensi

[sunting] Klasifikasi

Resin pinus, dapat digunakan dalam produksi pernis dan parfum.

Senyawa metabolit sekunder diklasifikasikan menjadi 3 kelompok utama, yaitu:

Terpenoid (Sebagian besar senyawa terpenoid mengandung karbon dan hidrogen serta disintesis melalui jalur metabolisme asam mevalonat.) Contohnya monoterpena, seskuiterepena, diterpena, triterpena, polimer terpena, dll.

Fenolik (Senyawa ini terbuat dari gula sederhana dan memiliki cincin benzena, hidrogen, dan oksigen dalam struktur kimianya.) Contohnya asam fenolat, kumarina, lignin, flavonoid, tanin, dll.

Senyawa yang mengandung nitrogen.[2] Contoh alkaloid, glukosinolat, dll. [3]

[sunting] Manfaat

Sebagian besar tanaman penghasil senyawa metabolit sekunder memanfaatkan senyawa tersebut untuk mempertahankan diri dan berkompetisi dengan makhluk hidup lain di sekitarnya.[2]

Page 7: dapus metabolit sekunder

Tanaman dapat menghasilkan metabolit sekunder (seperti: quinon, flavonoid, tanin, dll.) yang membuat tanaman lain tidak dapat tumbuh di sekitarnya.[2] Hal ini disebut sebagai alelopati.[2] Berbagai senyawa metabolit sekunder telah digunakan sebagai obat atau model untuk membuat obat baru, contohnya adalah aspirin yang dibuat berdasarkan asam salisilat yang secara alami terdapat pada tumbuhan tertentu.[2] Manfaat lain dari metabolit sekunder adalah sebagai pestisida dan insektisida, contohnya adalah rotenon dan rotenoid.[2] Beberapa metabolit sekunder lainnya yang telah digunakan dalam memproduksi sabun, parfum, minyak herbal, pewarna, permen karet, dan plastik alami adalah resin, antosianin, tanin, saponin, dan minyak volatil.[4]

[sunting] Manfaat

Beberapa contoh dari metabolit sekunder adalah:

Kelas Contoh Senyawa Contoh Sumber Efek dan kegunaan

SENYAWA MENGANDUNG

NITROGEN

AlkaloidNikotin, kokain,

teobrominTembakau, coklat

Mempengaruhi neurotransmisi dan menghambat kerja enzim

TERPENOID

Monoterpena Mentol, linaloolTumbuhan mint

dan banyak tumbuhan lainnya

Mempengaruhi neurotransmisi, menghambat

transpor ion, anestetik

Diterpena Gossypol KapasMenghambat fosforilasi,

toksik

Triterpena, glikosida kardiak (jantung)

DigitogeninDigitalis (Foxglove

digitalis sp.)Stimulasi otot jantung,

mempengaruhi transpor ion

Sterol spinasterol BayamMempengaruhi kerja hormon

hewan

FENOLIK

Asam fenolatKafeat,

klorogenatSemua tanaman

Menyebabkan kerusakan oksidatif, timbulnya warna coklat pada buah dan wine.

Tanninsgallotanin, tanin terkondensasi

oak, kacang-kacangan

Mengikat protein, enzim, menghambat digesti,

antioksidan.

Lignin LigninSemua tanaman

daratStruktur, serat

[sunting] Referensi

Page 8: dapus metabolit sekunder

1. ^ a b (en)R. Verpoorte, A. W. Alfermann (2000). Metabolic engineering of plant secondary metabolism. Springer. ISBN 978-0-7923-6360-6.Page.1-3

2. ^ a b c d e f (en)S. J. H. Rizvi, V. Rizvi (2008). Thin layer chromatography in phytochemistry. CRC Press. ISBN 978-1-4200-4677-9.Page.60-66

3. ̂ Jack Schultz. "Secondary Metabolites in Plants".4. ̂ Mustafa Oskay, Dilek Oskay. "BIOTECHNOLOGICAL IMPORTANCE OF PLANT

SECONDARY METABOLITES.".5. PENDAHULUAN

6.

7. Metabolit sekunder adalah berbagai macam reaksi yang produknya tidak secara langsung

terlibat dalam pertumbuhan normal. Dalam hal ini metabolit sekunder berbeda dengan

bahan metabolit intermediet yang memang merupakan produk dari metabolisme normal.

8. Pada tanaman kedelai terkandung suatu senyawa yang merupakan senyawa metabolit

sekunder, yaitu senyawa isoflavon. Kandungan isoflavon pada kedelai berkisar 2–4 mg/g

kedelai. Senyawa isoflavon ini pada umumnya berupa senyawa kompleks atau konjugasi

dengan senyawa gula melalui ikatan glukosida. Jenis senyawa isoflavon ini terutama

adalah genistin, daidzin, dan glisitin. Bentuk senyawa demikian ini mempunyai aktivitas

fisiologis kecil.

9. Senyawa ini terdistribusi secara luas pada bagian-bagian tanaman, baik pada akar, batang,

daun, maupun buah, sehingga senyawa ini secara tidak disadari juga terikut dalam menu

makanan sehari-hari. Bahkan, karena sedemikian luas distribusinya dalam tanaman maka

dikatakan bahwa hampir tidak normal apabila suatu menu makanan tanpa mengandung

senyawa flavonoida/isoflavon ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa senyawa flavonoida

tidak membahayakan bagi tubuh dan bahkan sebaliknya dapat memberikan manfaat pada

kesehatan.

10. Selama proses pengolahan, baik melalui proses fermentasi maupun proses non-

fermentasi, senyawa isoflavon dapat mengalami transformasi, terutama melalui proses

hidrolisa sehingga dapat diperoleh senyawa isoflavon bebas yang disebut aglikon yang

lebih tinggi aktivitasnya. Senyawa aglikon tersebut adalah genistein, glisitein, dan

daidzein.

11. Masyarakat Indonesia yang secara tradisi telah lama mengkonsurnsi kedelai dalam

bentuk produk-produk olahan seperti tahu, tempe, tauco, dan kecap, banyak diuntungkan

dalam berbagai faktor karena produk tersebut mengandung nilai gizi tinggi, khususnya

Page 9: dapus metabolit sekunder

sebagai sumber protein; harganya relatif murah; mengandung senyawa aktif, khususnya

isoflavon yang banyak mempunyai aktivitas fisiologis; serta produk yang dikonsumsi

merupakan produk hasil olahan sehingga telah terjadi proses dekomposisi senyawa

isoflavon kompleks menjadi senyawa isoflavon aglikon yang aktif.

12. Bentuk-bentuk produk olahan makanan tersebut sekaligus merupakan sumber isoflavon

potensial untuk menunjang kesehatan tubuh kita. Berdasarkan hal tersebut maka

mengkonsumsi kedelai dalam bentuk produk olahan terfermentasi lebih dianjurkan.

13.

Page 10: dapus metabolit sekunder

14. PEMBAHASAN

15.

16. Kedelai Sebagai Sumber Senyawa Isoflavon

17. Senyawa isoflavon merupakan senyawa metabolit sekunder yang banyak disintesa oleh

tanaman. Di berbagai antara tanaman, kandungan isoflavon yang lebih tinggi terdapat

pada tanaman Leguminoceae, khususnya pada tanaman kedelai. Pada tanaman kedelai,

kandungan isoflavon yang lebih tinggi terdapat pada biji kedelai, khususnya pada bagian

hipokotil (germ) yang akan tumbuh menjadi tanaman. Sebagian lagi terdapat pada

kotiledon yang akan menjadi daun pertama dari tanaman.

18. Kandungan isoflavon pada kedelai berkisar 2--4 mg/g kedelai. Senyawa isoflavon ini

pada umumnya berupa senyawa kompleks atau konjugasi dengan senyawa gula melalui

ikatan glukosida. Jenis senyawa isoflavon ini terutama adalah genistin, daidzin, dan

glisitin. Bentuk senyawa demikian ini mempunyai aktivitas fisiologis kecil.

19. Selama proses pengolahan, baik melalui proses fermentasi maupun proses non-

fermentasi, senyawa isoflavon dapat mengalami transformasi, terutama melalui proses

hidrolisa sehingga dapat diperoleh senyawa isoflavon bebas yang disebut aglikon yang

lebih tinggi aktivitasnya. Senyawa aglikon tersebut adalah genistein, glisitein, dan

daidzein.

20. Secara tradisi telah lama mengkonsumsi kedelai dalam bentuk produk-produk olahan

seperti tahu, tempe, tauco, dan kecap, banyak diuntungkan dalam berbagai faktor karena

produk tersebut mengandung nilai gizi tinggi, khususnya sebagai sumber protein;

harganya relatif murah; mengandung senyawa aktif, khususnya isoflavon yang banyak

mempunyai aktivitas fisiologis; serta produk yang dikonsumsi merupakan produk hasil

olahan sehingga telah terjadi proses dekomposisi senyawa isoflavon kompleks menjadi

senyawa isoflavon aglikon yang aktif.

21.

22. Isoflavon pada Tempe dan Prospek Pemanfaatannya

23. Tempe adalah salah satu makanan tradisional yang dibuat dari kedelai melalui proses

fermentasi kapang, terutama Rhizopus oligosporus. Di Indonesia terdapat berbagai jenis

tempe sesuai dengan jenis bahan baku yang digunakan sehingga dijumpai tempe kecipir,

Page 11: dapus metabolit sekunder

tempe kara, tempe benguk, tempe gembus, tempe bongkrek, dan sebagainya. Bila disebut

tempe saja, maka pada umumnya diartikan sebagai tempe kedelai.

24. Tempe merupakan makanan bergizi tinggi sehingga makanan ini mempunyai arti

strategis dan sangat penting untuk pemenuhan gizi. Lebih dari itu, tempe mempunyai

keunggulan-keunggulan lain, yaitu mempunyai kandungan senyawa aktif, teknologi

pembuatannya sederhana, harganya murah, mempunyai citarasa yang enak, dan mudah

dimasak.

25. Senyawa isoflavon merupakan salah satu komponen yang juga mengalami metabolisme.

Senyawa isoflavon ini pada kedelai berbentuk senyawa konjugat dengan senyawa gula

melalui ikatan -O- glikosidik. Selama proses fermentasi, ikatan -0- glikosidik terhidrolisa,

sehingga dibebaskan senyawa gula dan isoflavon aglikon yang bebas. Senyawa isoflavon

aglikon ini dapat mengalami transformasi lebih lanjut membentuk senyawa transforman

baru.

26.

27. Transformasi Pembentukan Faktor-II

28. Faktor-II (6,7,4' tri-hidroksi isoflavon) merupakan senyawa yang sangat menarik

perhatian, karena senyawa ini tidak terdapat pada kedelai dan hanya terdapat pada tempe.

Senyawa ini terbentuk selama proses fermentasi oleh aktivitas mikroorganisme. Senyawa

ini mula-mula ditemukan kembali oleh Gyorgy (1964) pada ekstrak tepung tempe.

Perkembangan selanjutnya terbukti bahwa Faktor-II tersebut pada kedelai jumlahnya

sangat kecil. Senyawa konjugat/terikat dengan senyawa karbohidrat melalui ikatan

glikosidik. Setelah fermentasi oleh Faktor-II, akan dibebaskan walaupun jumlahnya

sangat kecil.

29. Faktor-II dipandang sebagai senyawa yang sangat prospektif sebagai senyawa

antioksidan (10 kali aktivitas dari vitamin A atau karboksi kroman dan sekitar 3 kali dari

senyawa isoflavon aglikon lainnya pada tempe) serta antihemolitik. Biosintesa Faktor-II

dihasilkan melalui demetilasi glisitein oleh bakteri Brevibacterium epidermis dan

Micrococcus luteus atau melalui reaksi hidroksilasi daidzein.

30.

31. Biosintesa Senyawa Flavon/Isoflavon

Page 12: dapus metabolit sekunder

32. Flavon/isoflavon yang terdiri atas struktur dasar C6-C3-C6, secara alami disintesa oleh

tumbuh-tumbuhan dan senyawa asam amino aromatik fenil alanin atau tirosin. Biosintesa

ini berlangsung secara bertahap dan melalui sederetan senyawa antara, yaitu asam

sinnamat, asam kumarat, calkon, dan flavon serta isoflavon.

33. Berdasarkan biosintesa tersebut maka flavon/isoflavon digolongkan sebagai senyawa

metabolit sekunder. Pada umumnya, senyawa metabolit sekunder disintesis oleh mikroba

tertentu dan tidak merupakan kebutuhan fisiologis pokok dari mikroba itu sendiri, baik

untuk pertumbuhan maupun untuk aktivitas kehidupannya. Meskipun tidak dibutuhkan

untuk pertumbuhan, senyawa metabolit sekunder dapat juga berfungsi sebagai nutrien

darurat untuk mempertahankan hidup. Senyawa metabolit sekunder biasanya terbentuk

setelah fase pertumbuhan logaritmik atau pada fase stationer, sebagai akibat keterbatasan

nutrien dalam medium pertumbuhannya. Keterbatasan nutrien dalam medium akan

merangsang dihasilkanya enzim-enzim yang berperan untuk pembentukan metabolit

sekunder dengan memanfaatkan metabolit primer guna mempertahankan kelangsungan

hidup. Isoflavon termasuk dalam golongan flavonoid (1,2-diarilpropan) dan merupakan

bagian kelompok yang terbesar dalam golongan tersebut. Senyawa isoflavon dalam

tanaman kacang-kacangan atau Legummoceae merupakan salah satu karakteristik/sifat

yang dapat digunakan untuk identifikasi/klasifikasi tanaman.

34. Meskipun isoflavon merupakan salah satu senyawa metabolit sekunder, namun ternyata

pada mikroba seperti bakteri, algae, jamur, dan lumut tidak mengandung isoflavon,

karena mikroba tersebut ternyata tidak mempunyai kemampuan untuk mensintesa.

Meskipun demikian, mikroba-mikroba tertentu mampu untuk melakukan transformasi

senyawa isoflavon.

35.

36. Bioaktivitas dan Struktur

37. Aktivitas fisiologis senyawa isoflavon telah banyak diteliti dan ternyata menunjukkan

bahwa berbagai aktivitas berkaitan dengan struktur senyawanya. Aktivitas suatu senyawa

ditentukan pula oleh gugus-gugus yang terdapat dalam struktur tersebut. Dengan

demikian, dengan cara derivatisasi secara kimia dan secara biologis, dapat dibentuk

senyawa-senyawa aktif yang diinginkan. Aktivitas antioksida ditentukan oleh bentuk

struktur bebas (aglikon) dari senyawa tersebut.

Page 13: dapus metabolit sekunder

38. Selanjutnya, aktivitas tersebut ditentukan oleh gugus -OH ganda, terutama dengan gugus

C=0 pada posisi C-3 dengan gugus -OH pada posisi C-2 atau pada posisi C-5. Hasil

transformasi isoflavon selama fermentasi tempe daidzein, genistein, glisitein, dan Faktor-

II, ternyata memenuhi kriteria tersebut. Sistem gugus fungsi demikian memungkinkan

terbentuknya kompleks dengan logam.

39. Aktivitas estrogenik isoflavon ternyata terkait dengan struktur kimianya yang mirip

dengan stilbestrol, yang biasa digunakan sebagai obat estrogenik. Bahkan, senyawa

isoflavon mempunyai aktivitas yang lebih tinggi dari stilbestrol. Dan daidzein merupakan

senyawa isoflavon yang aktivitas estrogenik-nya lebih tinggi dibandingkan dengan

senyawa isoflavon lainnya.

40. Aktivitas antiinflamasi ditunjukkan oleh gugus C=0 pada posisi C-3 dan gugus -OH pada

posisi C-5 yang dapat membenluk kompleks dengan logam besi, seperti quersetin.

Sedang aktivitas anti-ulser ditunjukkan oleh struktur gugus -OH yang bersebelahan,

seperti pada mirisetin.

41. Senyawa formononitin dan gliseolin berpotensi untuk membunuh kapang patogen

sehingga berpotensi sebagai senyawa pestisida (biopestisida). Di atas disebutkan bahwa

senyawa isoflavonoida banyak mempunyai aktivitas biologis. Mekanisme aktivitas

senyawa ini dapat dipandang sebagai fungsi "alat komunikasi" (molecular messenger)

dalam proses interaksi antar sel yang selanjutnya mempengaruhi proses metabolisma sel

atau makhluk hidup yang bersangkutan. Dalam hal ini, dapat secara negatif

(menghambat) maupun secara positif (menstimulasi).

42. Isoflavon juga memiliki fungsi sebagai pengendali pertumbuhan (hormonal) seperti

genistein dan daidzein yang juga mempunyai sifat estrogenik. Proteksi terhadap makhluk

patogen yang berpotensi untuk membunuh kapang patogen ditunjukkan oleh senyawa

formononitin dan gliseolin.

43.

44.

45.

46. Potensi Pemanfaatan Senyawa Isoflavon untuk Kesehatan

47. Setelah senyawa flavonoida diperkenalkan oleh Gyorgy pada untuk penyembuhan

perdarahan kapiler sub-kutan, senyawa ini makin banyak diteliti untuk terapi. Senyawa

Page 14: dapus metabolit sekunder

flavonoid yang diekstrak dan Capsicum amnuum serta Citrus limon juga dapat

menyembuhkan pendarahan kapiler sub-kutan.

48. Mekanisme aktivitas senyawa ini dapat dipandang sebagai fungsi "alat komunikasi"

(molecular messenger) dalam proses interaksi antar sel, yang selanjutnya dapat

berpengaruh terhadap proses metabolisme sel atau makhluk hidup yang bersangkutan.

Dalam hal ini, pengaruh tersebut dapat bersifat negatif (menghambat) maupun bersifat

positif (menstimulasi).

49. Jenis senyawa isoflavon di alam sangat bervariasi. Di antaranya telah berhasil

diidentifikasi struktur kimianya dan bahkan telah diketahui fungsi fisiologisnya dan telah

dapat dimanfaatkan untuk obat-obatan. Berbagai potensi senyawa isoflavon untuk

keperluan kesehatan antara lain:

50. 1.     Anti-inflammasi

51. Berbagai senyawa flavonoid telah banyak diteliti dan bahkan beberapa senyawa sudah

diproduksi sebagai obat anti-inflammasi.

52. Apiginin dan luteolin diekstraksi dari tanaman Chamomilla recutita yang terkenal

mempunyai potensi anti-inflammasi dan banyak digunakan baik sebagai obat tradisional

maupun obat resmi yang telah diformulasikan oleh industri farmasi. Kedua senyawa

flavonoida tersebut mampunyai aktivitas anti-inflamasi serupa dengan indomethacin,

yaitu jenis obat anti-inflammasi yang telah banyak dipasarkan. Dari hasil penelitiannya,

dapat dicatat pula bahwa senyawa flavonoid tersebut harus dalam keadaan "bebas" atau

aglikon. Artinya, tidak dalam keadaan terikat dengan senyawa lain, misalnya dalam

bentuk ikatan glikosida.

53. Di samping senyawa flavonoida alami, terdapat pula senyawa flavonoid sintesis atau

semi-sintesis yang berpotensi sebagai obat anti-inflammasi, yaitu O-ß- hidroksiethil rutin

dan derivat quercetin.

54. Mekanisme anti-inflammasi terjadi melalui efek penghambatan pada jalur metabolisme

asam arakhidonat, pembentukan prostaglandin, pelepasan histamin, atau aktivitas "radical

scavenging" suatu molekul. Melalui mekanisme tersebut, sel lebih terlidung dari

pengaruh negatif, sehingga dapat meningkatkan viabilitas sel. Senyawa flavonoida lain

yang dapat berfungsi sebagai anti-inflamasi adalah toksifolin, biazilin, haematoksilin,

gosipin, prosianidin, nepitrin, dan lain-lain.

Page 15: dapus metabolit sekunder

55. 2.     Anti-tumor/Anti-kanker

56. Senyawa flavonoida dan isoflavonoida banyak disebut berpotensi sebagai

antitumor/antikanker. Proses pembentukan penyakit kanker dapat dibagi dalam 2 (dua)

fase, yaitu fase inisiasi dan fase promosi. Senyawa flavonoida seperti quercetin dan

kaemferol terbukti sebagai senyawa mutagenik pada sel-sel prokariotik dan eukariotik.

Karena sifat inilah maka senyawa-senyawa flavonoida tersebut semula diduga sebagai

inisiator terbentuknya sel tumor. Hal ini berkenaan dengan realitas bahwa semua inisiator

bersifat mutagenik (menyebabkan mutasi pada DNA atau kerusakan irreversibel).

Namun, dugaan tersebut ternyata salah mengingat tidak terbukti pada tikus. Bahkan,

senyawa flavonoida tersebut terbukti menghambat aktivitas senyawa promotor

terbentuknya tumor, sehingga senyawa-senyawa di atas disebut sebagai antitumor.

57. Dari sejumlah senyawa flavonoida dan isoflavonoida tersebut, yang banyak disebut-sebut

berpotensi sebagai antitumor/antikanker adalah genestein yang merupakan isoflavon

aglikon (bebas). Potensi tersebut antara lain menghambat perkembangan sel kanker

payudara dan sel kanker hati. Penghambatan sel kanker oleh senyawa flavon/isoflavon ini

terjadi khususnya pada fase promosi.

58. Genestein yang merupakan salah satu komponen isoflavon tersebut juga terdapat pada

kedelai dan tempe. Penghambatan sel kanker oleh genestein ini diterangkan melalui

mekanisma sebagai berikut:

59.    Penghambatan pembelahan/proliferasi sel (baik sel normal, sel yang terinduksi oleh

faktor pertumbuhan sitokinin, maupun sel kanker payudara yang terinduski dengan nonil-

fenol atau bi-fenol A) yang diakibatkan oleh penghambatan pembentukan membran sel,

khususnya penghambatan pembentukan protein yang mengandung tirosin.

60. Penghambatan aktivitas enzim DNA isomerase II

61. Penghambatan regulasi siklus sel

62.    Sifat antioksidan dan anti-angiogenik yang disebabkan oleh sifat reaktif terhadap

senyawa radikal bebas

63.    Sifat mutagenik pada gen endoglin (gen transforman faktor pertumbuhan betha atau

TGFß). Mekanisme ini dapat berlangsung apabila konsentrasi genestein lebih besar dari 5

µM.

Page 16: dapus metabolit sekunder

64. Secara umum menunjukkan bahwa yang isoflavon berfungsi sebagai antikanker adalah

suatu realita bahwa di negara-negara ASEAN dan Jepang di mana konsumsi kedelai

relatif tinggi dibandingkan dengan negara lain, misalnya Amerika dan Australia, penyakit

kranker payudara, kanker prostat, dan uterus lebih rendah.

65. 3.     Anti-virus

66. Senyawa flavonoid sebagai anti-virus mula-mula diketemukan pada senyawa quercetin

yang berefek "propilaktik" apabila diberikan pada tikus putih yang terinfeksi intraserebral

dengan berbagai lenis virus. Pengaruh anti-virus apabila dikaitkan dengan strukturnya

maka terlihat adanya korelasi di mana sifat antivirus terutama ditunjukkan oleh senyawa

aglikon. Sebaliknya, senyawa isoflavon dalam bentuk ikatan o-glikosida tidak

mempunyai efek antivirus (eg: rutin dan naringin).

67. Mekanisme penghambatan senyawa flavonoida pada virus diduga terjadi melalui

penghambatan sintesa asam nukleat (DNA atau RNA) dan pada translasi virion atau

pembelahan dari poliprotein. Percobaan secara klinis menunjukkan bahwa senyawa

flavonoida tersebut berpotensi untuk penyembuhan pada penyakit demam yang

disebabkan oleh rhinovirus, yaitu dengan cara pemberian intravena dan juga terhadap

penyakit hepatitis-B. Sementara itu, berbagai percobaan lain untuk pengobatan penyakit

liver masih terus berlangsung.

68. 4.     Anti-allergi

69. Senyawa flavonoida khellin (dimethoxy-methyl-furano-chromone) yang terdapat pada

tanaman Ammi visnaga, telah berhasil diformulasikan menjadi obat (FPL-670: disodium

kromoglikat), antara lain untuk penyakit asma, rhinitis, konjunctivitis, dan gastro-

intestinal.

70. Aktivitas anti-allergi bekerja melalui mekanisme sebagai berikut:

71. Penghambatan pembebasan histamin dari sel-sel "mast", yaitu sel yang mengandung

granula histamin, serotinin, dan heparin.

72. Penghambatan pada enzim oxidative nukleosid-3', 5' siklik monofosfat fosfodiesterase,

fosfatase alkalin, dan penyerapan Ca.

73. Berinteraksi dengan pembentukan fosfoprotein.

74. Senyawa-senyawa flavonoid lainnya yang digunakan sebagai anti-allergi antara lain

adalah terbukronil, proksikromil, dan senyawa kromon.

Page 17: dapus metabolit sekunder

75. 5.     Anti-kolesterol

76. Efek isoflavon terhadap penurunan kolesterol telah terbukti tidak saja pada binatang

percobaan seperti tikus dan kelinci, tetapi juga pada manusia. Efek yang lebih luas

terbukti pula pada perlakuan terhadap tepung kedelai, di mana tidak saja kolesterol yang

turun, tetapi juga trigliserida VLDL (very low density lipoprotein) dan LDL (low density

lipoprotein). Di sisi lain, tepung kedelai dapat meningkatkan HDL (high density

lipoprotein). Faktor-II (6,7,4' tri-hidroksi isoflavon) merupakan senyawa isoflavon yang

paling besar pengaruhnya.

77. Mekanisme lain penurunan kolesterol oleh isoflavon diterangkan melalui pengaruh

terhadap peningkatan katabolisme sel lemak untuk pembentukan energi, yang berakibat

pada penurunan kandungan kolesterol.

Page 18: dapus metabolit sekunder

78. KESIMPULAN

79.

80. Mengingat potensi kandungan isoflavon pada kedelai dan produk-produk turunannya,

maka pengembangan produk dalam bentuk makanan fungsional/makanan kesehatan

dipandang sebagai upaya terobosan yang mempunyai arti strategis, baik ditinjau dan segi

tekno-ekonomi maupun dan segi kesehatan. Berdasarkan potensi senyawa isoflavon maka

berbagai jenis produk dapat didesain, baik kandungan maupun bentuknya, sesuai dengan

tujuan pembuatan produk. Untuk itu, penelitian terapan dan investasi diperlukan untuk

realisasi pengembangan produk-produk tersebut.

81. 3 82. BAB II 83. TINJAUAN PUSTAKA 84. 2.1. Perkecambahan 85. Perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen 86. bijiyang memiliki kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tumbuhan baru. 87. Setiap tumbuhan pasti mengalami fase perkecambahan. 88. Beberapa biji dapat mengalami perkembangan jika berada di kondisi lingkungan 89. yang sesuai. Namun, beberapa biji yang lain berada dalam masa dormansi.Artinya, biji 90. tersebut tidak tumbuh dan berkembang. Biji dapat berkecambah karena di dalamnya

terdapat embrio atau lembaga tumbuhan.Lembaga tumbuhan memiliki tiga bagian,yaitu akar lembaga(radikula), daun lembaga(kotiledon), batang lembaga(kalkulus).

91. Awal perkecambahan dimulai dengan berakhirnya masa dormansi pada biji. 92. Berakhirnya masa dormansi ditandai dengan masuknya air ke dalam biji, disebut juga 93. proses imbibisi.Tahap berikutnya adalah tumbuhan akan melakukan proses 94. perbanyakan sel atau pembelahan aktif, namun sel-selyang dibentuk belum mengalami

diferensiasi.Setelah mencapai massa sel tertentu, tumbuhan akan melakukan proses diferensiasi.Diferensiasi adalah proses pertambahan jenis danfungsi selyang jelas.

95. Setelah itu akan dibentuk organ-organ melalui prosesor ganoge nes is. Proses 96. organogenesis berbagai organyang berbeda bentuk serta berguna untuk melengkapi

struktur danfungsi makhluk hidup disebut perkembangan atau morfogenesis.Apabila daun sudah terbentuk, tumbuhan sudah mampu melakukan prosesfotosintesis,yang akan menghasilkan energi.Energi ini akan digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan.

97. Perkecambahan di bagi dalam2 tipe, yaitu perkecambahan epigeal dan 98. perkecambahan hipogeal.Perkecambahan epigeal adalah perkecambahanyang ditandai

dengan bagian hipokotil terangkat ke atas permukaan tanah.Kotiledon akan mengalami proses pembelahanyang sangat cepat untuk membentuk daun.Yang pada umunya termasuk dikotil.Sedangkan perkecambahan hipogeal adalah perkecambahanyang ditandai dengan terbentuknya bakal batangyang muncul ke permukaan tanah, sedangkan kotiledon tetap berada di dalam tanah.Pada umumnya termasuk monokotil.

99. Faktor-faktor yang Berpengaruh dalam Proses Perkecambahan

Page 19: dapus metabolit sekunder

1 0 0 . Faktor Dalam 101. Faktor dalamyang mempengaruhi perkecambahan benih antara lain: 102. a.Tingkat kemasakan benih 103. Benihyang dipanen sebelum tingkat kemasakanfisiologisnya tercapai tidak

mempunyai viabilitasyang tinggi karena belum memiliki cadangan makananyang cukup serta pembentukan embrio belum sempurna(Sutopo,2002).

104. Pada umumnya sewaktu kadar air biji menurun dengan cepat sekitar20p er s e n, 105. maka benih tersebut juga telah mencapai masakfisiologos atau masakfungsional 106. dan pada saat itu benih mencapat berat kering maksimum, daya tumbuh 107. maksimum(vigor) dan daya kecambah maksimum(viabilitas) atau dengan kata 108. lain benih mempunyai mutu tertinggi( Kamil,1979). 109. b.Ukuran benih 110. Benihyang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan 111. yang lebih banyak dibandingkan dengan yang kecil pada jenis yang sama. 112. Cadangan makanan yang terkandung dalam jaringan penyimpan digunakan 113. sebagai sumber energi bagi embrio pada saat perkecambahan(Sutopo,2002). Berat

benih berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan dan produksi karena berat benih menentukan besarnya kecambah pada saat permulaan dan berat tanaman pada saat dipanen(Blackman, dalamSutopo,2002).

114. c.Dormansi 115. Benih dikatakan dormansi apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak

berkecambah walaupun diletakkan pada keadaanyang secara umum dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan atau juga dapat dikatakan dormansi benih menunjukkan suatu keadaan dimana benih-benih sehat

116. (viabel) namun gagal berkecambah ketika berada dalam kondisi yang secara 117. normal baik untuk berkecambah, seperti kelembabanyang cukup, suhu dan 118. cahayayang sesuai( Lambers1992,Schmidt2002). 119. d.Penghambat perkecambahan 120. MenurutKuswanto( 1996), penghambat perkecambahan benih dapat 121. berupa kehadiran inhibitor baik dalam benih maupun di permukaan benih, adanya

larutan dengan nilai osmotikyang tinggi serta bahanyang menghambat lintasan metabolik atau menghambat laju respirasi.

1 2 2 . Faktor Luar 123. Faktor luar utamayang mempengaruhi perkecambahan diantaranya: 124. a. 125. Air 126. Penyerapan air oleh benih dipengaruhi oleh sifat benih itu sendiri 127. terutama kulit pelindungnya dan jumlah airyang tersedia pada media di

sekitarnya, sedangkan jumlah airyang diperlukan bervariasi tergantung kepada jenis benihnya, dan tingkat pengambilan air turut dipengaruhi oleh suhu

128. (Sutopo,2002). Perkembangan benih tidak akan dimulai bila air belum 129. terserap masuk ke dalam benih hingga80 sampai90 persen( Darjadi,1972) dan 130. umumnya dibutuhkan kadar air benih sekitar30 sampai55 persen( Kamil, 131. 1979). Benih mempunyai kemampuan kecambah pada kisaran air tersedia. 132. Pada kondisi media yang terlalu basah akan dapat menghambat aerasi dan

Page 20: dapus metabolit sekunder

133. merangsang timbulnya penyakit serta busuknya benih karena cendawan atau 134. bakteri(Sutopo,2002). 135. MenurutKamil( 1979), kira-kira70 persen berat protoplasma sel hidup 136. terdiri dari air danfungsi air antara lain: 137. 1. 138. Untuk melembabkan kulit biji sehingga menjadi pecah atau robek agar 139. terjadi pengembangan embrio dan endosperm. 140. 2. 141. Untuk memberikanfasilitas masuknya oksigen kedalam biji

Hendarto Kuswanto.1996. “Dasar-Dasar Teknologi, Produksi dan Sertifikasi Benih. Andi, Yogyakarta.Mugnisyah, WQ dan Aseo Setiawan. 1995. “Pengantar Produksi Benih . Raja Gravindo Persada. Jakarta