Dampak Psikologis Mengikuti Ritual Adat (Onen) pada Individu ?· itu keluarga yang mengadakan acara…

  • Published on
    29-Mar-2019

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

DAMPAK PSIKOLOGIS MENGIKUTI RITUAL ADAT (ONEN) PADA

INDIVIDU YANG MEMELUK AGAMA KRISTEN PROTESTAN DI

DESA LASI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN

OLEH

DEVRI MARIA MAGDALENA NUBAN

802011049

TUGAS AKHIR

Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Guna Memenuhi Sebagian Dari Persyaratan

Untuk Mencapai Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2015

DAMPAK PSIKOLOGIS MENGIKUTI RITUAL ADAT (ONEN) PADA INDIVIDU

YANG MEMELUK AGAMA KRISTEN PROTESTAN DI DESA LASI KABUPATEN

TIMOR TENGAH SELATAN

Devri Maria Magdalena nuban

Chr. HariSoetjiningsih

Program StudiPsikologi

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2015

i

Abstrak

Ritual onen adalah ritual memanjatkankan doa untuk keberhasilan seluruh rumpun keluarga

umumnya dilaksanakan di desa Lasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Propinsi Nusa Tenggara

Timur, namun pada beberapa orang yang menjalankan ritual ini menimbulkan konflik dalam diri

karena adanya perbedaan persepsi antara individu yang mana ritual ini dianggap bertentangan

dengan nilai agama yang dianaut selama ini. Dalam penelitian ini masalah yang dirumuskan adalah

bagaimana dampak psikologis pada individu yang menganut agama Kristen Protestan ketika

mengikuti ritual onen neu hit fatu makana fatu lopo. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui

dampak psikologis dan cara mengatasi konflik pada individu yang memeluk agama Kristen Protestan

ketika mengikuti ritual onen neu hit fatu makana fatu lopo. Metode kualitatif digunakan dalam

penelitian dengan tiga orang dewasa sebagai narasumber. Hasil penelitian yang didapat

menunjukkan dampak psikologis yang dialami oleh individu yang menganut agama Kristen Protetas

ketika megikuti ritual onen yaitu cemas, stres dan emosi negatif (takut, gelisah, sedih), dan cara

mengatasi dampak tersebut yaitu dengan penguatan diri, penegendalian diri dan koping.

Kata Kunci: Ritual onen neu hit fatu makana fatu lopo, dampak psikologis, konflik dalam

diri.

ii

Abstract

Onen neu hit fatu makana fatu lopo ritual is a ritual prayer for the success of the whole family and

generally carried out in the village of Lasi, Timor Tengah Selatan Regency, East Nusa Tenggara

Province, but in some people who carry out this ritual have a conflict of interest because of the

differences in perception between individuals, where this ritual is considered contrary to their

religious value. The problem in this research is how the psychological impact on the individuals who

made up of Protestants when following the ritual onen neu hit Fatu makana "Fatu lopo". The

purposes of this study are determining the psychological impact and how to resolve conflicts on

individual Protestants which following the ritual onen neu hit Fatu makana "Fatu lopo". A qualitative

method is the methode that used in the study with three adults as a resource. Research results

obtained demonstrated the psychological impact experienced by individuals who embrace

Christianity Protetas when megikuti ritual onen that anxiety, stress and negative emotions (fear,

anxiety, sadness), and how to override these impacts is by strengthening themselves, control

themselves and coping.

Keywords: Rirual onen, Psychological impact, Self conflict

1

PENDAHULUAN

Dalam kehidupan, konflik tidak bisa dihindari karena konflik adalah salah satu

esensi dari kehidupan dan perkembangan manusia yang mempunyai karateristik yang

beragam. Konflik terjadi dalam sistem sosial seperti negara, organisasi, perusahan,

keluarga bahkan dalam diri seseorang. Konflik dalam diri individu disebut juga

konflik internal, terjadi karena adanya pertentangan dalam diri yang muncul secara

bersamaan ketika keinginan dan kenyataan bertolak belakang (Wijono, 2010). Konflik

dalam diri memiliki dampak besar pada kondisi seseorang baik secara biologis

maupun secara psikologis.

Konflik mengakibatkan ketidakselarasan antara pikiran dan perilaku, dan hal

inilah yang dialami oleh individu yang harus mengikuti aturan dalam masyarakat yang

dianggap bertentangan dengan apa yang dipahami. Dalam menjalankan ritual adat ada

beberapa praktek adat dan dianggap bertentangan dengan nilai agama, namun ritual-

ritual ini telah menjadi tradisi yang tidak bisa ditingggalkan. Pertentangan yang

dialami berdampak pada kondisi psikologis seseorang sehingga membuat

ketidaknyamanan ketika mengikuti suatu ritual adat.

Ritual adat yang masih dilakukan adalah ritual Onen Neu Hit Fatu

MakanaFatu Lopo (berdoa di batu yang bernama fatu lopo) yang dilakukan di Desa

Lasi, Kecamatan Kuanfatu Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Propinsi Nusa

TenggaraTimur (NTT). Ritual ini dilakukan oleh masyarakat yang tinggal Desa Lasi

dan masyarakat kota yang berasal dari Desa Lasi.

Ritual onen adalah ritual yang dilakukan jika ada keluarga yang mau

memanjatkan doa untuk keberhasilan seluruh rumpun keluarga, namun pada

umumnya untuk menjalankan ritual onen ini dilaksanakan oleh masyarakat di Desa

Lasi yang sebagian besar terdiri dari marga Nuban, Benu, Tabun, Lopo, Lai dan

2

Nabuasa sedangkan keluarga yang lain menjadi tamu dalam acara doa syukur yang

dilakukan setelah ritual ini berjalan.

Dalam melaksanakan ritual ini memunyai cara khusus yang dimulai dengan

berdoa di rumah para tua adat. Kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke kuburan, saat

itu keluarga yang mengadakan acara syukuran akan membersihkan kuburan, menabur

bunga di kuburan dan memanjatkan doa di kubur para tetua adat atau leluhur keluarga.

Kemudian dilanjutkan dengan doa di batu, biasanya sebelum berdoa, tua adat (atoin

amaf) atau sesepuh akan bercerita tentang asal-usul dari fatu lopo.

Tatacara doa di batu yang pertama kali dilakukan yaitu beribadah menurut

kepercayaan agama Kristiani, setelah itu sembelih ternak berupa kambing atau babi

sebagai tanda ucapan syukur atas berkat yang sudah diterima keluarga dan masyarakat

di Desa Lasi. Ritual terakhir yang dilakukan yaitu makan bersama sebagai tanda

berbagi berkat dalam keluarga dan masyarakat desa. Ada beberapa warga desa yang

memiliki perbedaan persepsi bahwa ritual ini dianggap bertentangan dengan nilai

agama yang dianut selama ini.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi awal dengan Bapak Jakobus (50

tahun) pada Desember 2014, yang merupakan warga asli Desa Lasi mengatakan ritual

onen neu hit fatu makana fatu lopo sangat penting bagi semua warga karena, Desa

Lasi adalah tanah perjuangan untuk masyarakat di desa hingga masyarakat bisa

tinggal dan menetap. Sedangkan batu fatu lopo adalah tempat dimana orang yang

menemukan Desa Lasi tinggal hingga mati, jadi fatu lopo itu mempunyai makna

tersendiri dan merupakan tempat istimewa bagi masyarakat. Hal ini dilakukan karena

masyarakat rindu ingin melihat Tuhan yang mereka percaya menyatakan kasihnya.

3

Beliau juga menyatakan masyarakat di Desa Lasi percaya bahwa batu

perlindungan (fatu lopo) dapat memberikan berkat bagi setiap orang yang

mengunjungi kemudian memanjatkan doa di tempat tersebut. Jika para warga desa

tidak melakukan doa di batu perlindungan (fatu lopo) maka akan terjadi kekeringan

dan banyak ternak milik warga yang mati. Hal itu bisa terjadi karena para usif (tuan

tanah) marah terhadap warga desa.

Menurut beliau, bahkan untuk keberhasilan hidup para warga Desa Lasi baik di

dunia pendidikan dan dunia kerjapun biasanya sebelum melakukan sesuatu harus

berdoa di atas batu fatu lopo. Kemudian disaat berhasil atau sukses, maka harus

kembali ke (fatu lopo) dan kembali berdoa dan mengucapkan syukur. Jika hal tersebut

tidak dilakukan maka kesialan akan selalu menghampiri, tidak hanya kesialan bisa

juga sakit kronis yang berefek buruk sehingga akan mengingatkan kembali untuk

mengucap syukur di batu fatu lopo.

Warga Desa Lasi telah menganut agama mereka masing-masing dimulai dari

agama Kristen Protestan, Kristen Katolik dan Advent. Agama mengajarkan umatnya

agar mengungkapkan perasaan dan isi hatinya kepada Tuhan Yang Mahakuasa

termaksud dalam kesehatan dan keselamatan (Hendrosucipto, 2012). Namun disisi

lain masyarakat harus mengikuti ritual adat yang percaya kepada leluhur atau tuan

tanah (uis pah). Masyarakat Desa Lasi percaya bahwa sangat penting ritual untuk

mengenang para leluhur (Dhavamony dalam Taum, 2008).

Berdasarkan fenomena yang telah dipaparkan di atas maka peneliti tertarik

untuk meneliti lebih lanjut tentang dampak psikologis individuyang memeluk agama

Kristen Protestan (individu yang taat pada agama) saat mengikuti ritual adat Onen

Neu Hit Fatu Makana Fatu Lopo yang ada di Desa Lasi Kecamatan Kuanfatu,

4

Kabupaten Timor Tengah Selatan, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Peneliti akan

melihat bagaimana dampak psikologis pada individu dan cara mengatasi konflik yang

dialami oleh individu ketika mengikuti ritual adat onen.

1.1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latarbelaka