Dampak Pariwisata Terhadap Masyarakat Adat Di Bali

  • View
    93

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Dampak Pariwisata Terhadap Masyarakat Adat Di Bali

Transcript

1. Dampak Pariwisata terhadap Masyarakat Adat di Bali

Dampak positif Pariwisata terhadap aktivitas masyarakat adat di Bali Dimana diketahui bahwa hampir sebagian masyarakat di Bali bekerja dan mempertaruhkan nasibnya pada bidang-bidang yang berkaitan dengan pariwisata,sehingga dampak dari pariwisata itu sendiri sebagai hasilnya dapatlah membantu kesejahteraan masyarakat yang ada di Bali pada umumnya.Dimana tersebarnya lapangan pekerjaan yang lebih banyak terkait pariwisata dapat memberikan peluang pekerjaan lebih banyak terhadap masyarakat di Bali,terkait dengan masyarakat adat,damapk positif yang dapat dipetik adalah dimana diberikannya peluang terhadap masyarakat adat yang memiliki kesenian-kesenian yang khas di masing-masing daerah untuk memperkenalkan dan sekaligus menjadikan sebagai suatu penghasilan bagi masyarakat tersebut.Sebagai contohnya adalah diperkenalkannya tentang kebudayaan-kebudayaan masyarakat terkait kepercayaan masyarakat adat di bali,dengan adanya pementasa-pementasan kesenian seperti tari-tarian bali,seperti tari kecak,tari pendet,dan lainnya,selain itu adanya perkenalan tentang sejarah-sejarah perkembangan hidup masyarakat di bali yang telah mengalami banyak perubahan baik terkait budaya serta perjuangan-perjuangan kehidupan masyarakatnya yang diabadikan melalui sebuah media seni seperti lukisan-lukisan,seperti misalnya adanya museum-museum seni seperti museum la-mayour,museum bajrasandi,museum bali,museum subak serta masih banyak yang lainnya. Dampak negative Pariwisata terhadap aktivitas masyarakat adat di BaliPengaruh-pengaruh pariwisata mengakibatkan suatu perubahan social,dimana bisa perubahan yang dikehendaki ataupun yang tidak dikehendaki,dimana perubahan yang dikehedaki tersebut pastinya adalah perubahan yang dianggap baikoleh masyarakat terkait dengan dampak pariwisata yang akan mengakibatkan perubahan masyarakat kea rah yang diharapkan,seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya.Dalam bidang lingkungan misalnya,dimana Bali yang terkenal dengan lingkungan yang dibanggakan akan mulai tergerus dengan adanya pembangunan-pembangunan hotel yang kadang meniyishkan kepentingan masyarakat,dimana akibat yang ditimbulkan adalah berkurangnya lahan pertanian sehingga masyarakat yang mengandalkan hidup dari pertanian mulai tersisih dan terancam beralih pekerjaan,dimana pariwisata terkait pertanian yaitu system pengairan subak juga merupakan suatu objek wisata yang diminati pengunjung.Dalam bidang ekonomi misalnya,dimana dengan adanya pariwisata secara tidak sadar harga-harga barang dalam penjualan menyesuaikan dengan harga wisatawan sehingga bisa dikatakan harga melambung tinggi dan sangat menyusahkan masyarakat adat yang kurang mampu,seperti misalnya harga-harga barang pada daerah Kuta yang merupakan salah satu idaman pariwisata dari para wisatawan sangat berbeda dengan harga-harga pada daerah-daerah pedalaman terkait dengan barang yang sama. Dalam bidang agama yaitu berkurangnya kesakralan upacara adat Bali (terutama di sepanjang pantai kuta). Pada saat melaksanakan upacara melasti, banyak wisatawan yang menggunakan bikini menyaksikan upacara, hal ini tentunya sangat kontras dengan masyarakat bali yang begitu khusuk melaksanakan upacara. Selain itu juga terjadi Akulturasi budaya, terjadi pergeseran komposisi jumlah penduduk dimana pada saat ini trend yang terjadi adalah penduduk luar Bali semakin banyak datang untuk mencari penghidupan. Dalam bidang bahasa juga,pelestarian dalam bahasa-bahasa bali sekarang lebih berkurang,dimana pariwisata memacu masyarakat untuk fasih dalam berbahasa inggris,atau bahasa lainnya,sehingga bahasa daerah kadang dilupakan,terbukti juga pada minat para mahasiswa perguruan tinggi lebih memilih jurusan bahasa inggris daripada bahasa daaerah bali. Dalam bidang social,sering terjadinya ketidaksenangan beberapa masyarakat terhadap pengaruh budaya-budaya asing yang tidak jarang mempengaruhi pola hidup dalam masyarakat dan mengubah pola piker masyarakat yang kadang mengkaibatkan pola-pola piker yang melegalkan suatu hal yang dahulu dianggap tabu.Perspektif tingkat kemiskinanKondisi geografis dan sulitnya mendapatkan air rupanya menjadi salah satu factor penyebab persoalan kemiskinan yang akut di Nusa Penida. Setidaknya, hal itu terlihat dari 8 dari 16 desa (50 persen) di Nusa Penida menjadi desa yang mendapat prioritas penanggulangan kemiskinan.Kedelapan desa itu, Desa Pejukutan, Tanglad, Batumadeg, Batukandik, Sekartaji, Klumpu, Bunga Mekar dan Sakti. Empat diantaranya malah termasuk desa rawan pangan di Nusa Penida. Ini jelas menjadi pekerjaan yang tak mudah bagi Pemkab Klungkung. Air memang merupakan salah satu penyebab terhambatnya penanggulangan kemiskinan di daerah Nusa Penida.Kecamatan Nusa Penida, berpenduduk lebih dari 58 ribu jiwa. Selama ini pemerintah memang selalu berusaha memenuhi kebutuhan air masyarakat. Beberapa langkah yang dilakukan di antaranya mengangkat sumber air Guyangan. Hanya, upaya tersebut hingga saat ini belum membuahkan hasil maksimal bagi masyarakat. Air Guyangan pun belum termanfaatkan oleh keseluruhan masyarakat. Karena belum seluruh desa memperoleh jaringan air tersebut.Hal ini menjadi suatu contoh dari perspektif tingkat kemiskinan. Rasio KetimpanganAda beberapa indikator untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pendapatan. Berikut beberapa contohnya.

1. Koefisien Gini (Gini Ratio)

Koefisien Gini biasanya diperlihatkan oleh kurva yang disebut Kurva Lorenz, seperti yang diperlihatkan kurva di bawah ini.

Dalam Kurva Lorenz, Garis Diagonal OE merupakan garis kemerataan sempurna karena setiap titik pada garis tersebut menunjukkan persentase penduduk yang sama dengan persentase penerimaan pendapatan. Koefisien Gini adalah perbandingan antara luas bidang A dan ruas segitiga OPE.

Semakin jauh jarak garis Kurva Lorenz dari garis kemerataan sempurna, semakin tinggi tingkat ketidakmerataannya, dan sebaliknya. Pada kasus ekstrim, jika pendapatan didistribusikan secara merata, semua titik akan terletak pada garis diagonal dan daerah A akan bernilai nol. Sebaliknya pada ekstrem lain, bila hanya satu pihak saja yang menerima seluruh pendapatan, luas A akan sama dengan luas segitiga sehingga angka koefisien Gininya adalah satu (1). Jadi suatu distribusi pendapatan makin merata jika nilai koefisien Gini mendekati nol (0)

Tabel berikut ini memperlihatkan patokan yang mengatagorikan ketimpangan distribusi berdasarkan nilai koefisien Gini.

Nilai Koefisien GiniDistribusi Pendapatan

.... < 0,4Tingkat ketimpangan rendah

0,4 < 0,5Tingkat ketimpangan sedang

.... > 0,5Tingkat ketimpangan tinggi

2. Menurut Bank Dunia

Bank Dunia mengukur ketimpangan distribusi pendapatan suatu negara dengan melihat besarnya kontribusi 40% penduduk termiskin. Kriterianya dapat dilihat pada tabel berikut.

Distribusi PendapatanTingkat Ketimpangan

Kelompok 40% termiskin pengeluarannya< 12% dari keseluruhan pengeluaranTinggi

Kelompok 40% termiskin pengeluarannya12%17% dari keseluruhan pengeluaranSedang

Kelompok 40% termiskin pengeluarannya> 17% dari keseluruhan pengeluaranRendah

Daya serap tenaga kerja

Kalau dicermati, kecuali Badung, Gianyar dan Denpasar, hampir sebagian besar kabupaten di Bali menjadikan sektor pertanian dalam arti luas sebagai andalan daya serap tenaga kerja bagi penduduknya. Pada tahun 2003, sektor pertanian, perkebunan dan peternakan menyerap tenaga kerja 669.889 orang atau 37,95 persen dari seluruh tenaga kerja di Bali.Menyusul perdagangan, hotel dan restoran 403.465 orang (22,85%), industri dan jasa kemasyarakatan sosial masing-masing 239.582 (13,57 persen) dan 213.375 (12,09 persen). Sektor yang paling kecil menyerap tenaga kerja adalah listrik, gas dan air hanya 3.760 orang atau 0,21 persen. Ini karena potensi di sektor tersebut memang sedikit. Bali memang miskin akan potensi hasil tambang dan bahan industri.Kondisi di atas merupakan potret ketenagakerjaan seluruh Bali. Kalau diamati per kabupaten/kota, nampak jelas bahwa sektor perdagangan, hotel dan restoran atau pariwisata sangat dominan. Boleh dikata, lebih dari 60 persen kegiatan ekonomi di ketiga daerah itu terkonsentrasi di sektor pariwisata.Kebijakan harusnya diterapkan secara konsisten oleh petugas berwewenang. Data terakhir menyebutkan, pengangguran terbuka di Bali mencapai 144.737 orang. Jumlah itu ekuivalen dengan 7,58 persen dari angkatan kerja di Pulau Dewata yang jumlahnya mencapai 1.765.317 orang.Betapapun akuratnya data Susenas 2003 ini, banyak kalangan yang menilai angka tersebut seperti puncak gunung es di permukaan laut. Artinya, jumlah penganggur di Bali bisa jauh lebih besar dari apa yang diungkapkan. Namun, masalah ketenagakerjaan memang bukan sekadar angka-angka. Yang terpenting bagaimana memecahkan persoalannya. Termasuk memeratakan kesempatan kerja.Kalau kita mau jujur melihat fakta yang ada sebenarnya, masalah tenaga kerja bukan hal yang terlalu sulit dicarikan jalan keluarnya. Tanah Bali meski tak terlalu luas, namun masih tetap bisa menjanjikan sepanjang ada komitmen bersama untuk mengelolanya menjadi suatu kekuatan ekonomi bagi masyarakatnya.2. Tingkat kemiskinan di IndonesiaPada Juni 2013 Badan Pusat Statistik (BPS) merilis potret kemiskinan kondisi Maret 2013. BPS melaporkan, jumlah penduduk miskin negeri ini mencapai 28,07 juta jiwa atau sekitar 11,37 persen dari total penduduk. Jika dibandingkan dengan kondasi Maret tahun lalu, berarti telah terjadi penurunan tipis 0,59 persen atau sebesar 1,06 juta jiwa. Di tengah luar biasanya energi yang telah dicurahkan pemerintah melalui berbagai program penanggulangan kemiskinan, laporan BPS ini kembali mengkonfirmasi, tren penurunan kemiskinan terus berlanjut. Dan sayangnya, dengan kecepatan yang lambat. Konsekwensinya, sasaran tingkat kemiskinan nasional sebesar 8 hingga 10 persen tahun depan seperti ditetapkan pada Rancangan Pembangunan Jangk