48
CASE REPORT BRONKOPNEUMONIA Oleh Lestari Puji Ayu 0718011065 Susanti P D 0718011087 DM Gusti Ayu 0618011050 Pembimbing Dr. Murdoyo Rahmanoe, Sp.A Dr. Etty Widyastuti, Sp.A 1

CR Bronkopneumonia

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: CR Bronkopneumonia

CASE REPORT

BRONKOPNEUMONIA

Oleh

Lestari Puji Ayu0718011065

Susanti P D 0718011087

DM Gusti Ayu 0618011050

Pembimbing

Dr. Murdoyo Rahmanoe, Sp.A

Dr. Etty Widyastuti, Sp.A

SMF ANAK

PERIODE 26 Maret – 26 Mei 2012

RSUD Hi. ABDUL MOELOEK

PROVINSI LAMPUNG

1

Page 2: CR Bronkopneumonia

Tanggal Pembuatan Status :

13 April 2012

I. Anamnesis

A. Identitas

MRS : 4 April 2012 Pkl 13.00 WIB

Nama Pasien : An.S

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 2,5 bulan

Agama : Islam

Suku : Jawa

Alamat : Pal I Sanggi Padang Cermin

Ayah

Nama : Tumijan

Umur : 45 tahun

Pekerjaan : Petani

Pendidikan : SD

Ibu

Nama : Banjali

Umur : 42 tahun

Pekerjaan : Petani

Pendidikan : SD

B. Riwayat Penyakit

1. Keluhan Utama

Sesak

2. Keluhan Tambahan

Demam

3. Riwayat Penyakit Sekarang

Aloanamnesis (ibu pasien)

2

Page 3: CR Bronkopneumonia

Pasien awalnya mengalami demam tinggi sejak 3 hari SMRS. Demam

naik turun sepanjang hari disertai batuk berdahak dan pilek. Dahak

berwarna putih tidak bercampur darah. Batuk lebih sering kambuh saat

pasien tidur di malam hari. Selang 1 hari setelah demam, batuk, dan

pilek muncul pasien terlihat sesak dan nafasnya terengah-engah. Sesak

terlihat terus menerus, tidak disertai suara mengi atau mengorok. Pasien

menjadi kurang minum ASI nya. Karena sesak bertambah parah, ibu

pasien kemudian membawa pasien ke rumah sakit. Pasien tidak

mendapatkan pengobatan apa-apa sebelum ke rumah sakit. Riwayat

muntah, BAB cair, kejang, dan penurunan kesadaran selama demam

disangkal. Riwayat BAK biasa. Riwayat tersedak air susu disangkal.

4. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat pasien dengan keluhan yang sama disangkal.

5. Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat keluarga menderita batuk, sesak, bersin pagi hari, asma, alergi

dan gatal-gatal di kulit disangkal.

6. Riwayat Penyakit Kehamilan

Tidak ada riwayat penyakit selama hamil

7. Riwayat Persalinan

Pasien lahir cukup bulan, di dukun, spontan, langsung menangis, tidak

cacat, berat badan lahir 3000 gram, panjang badan 48 cm, pasien

merupakan anak kelima dari lima bersaudara.

8. Riwayat Makanan

0 – 2,5 bulan : ASI Eksklusif ad libitum

2,5 – 6 bulan : -

6 – 9 bulan : -

9 – 12 bulan : -

1 Tahun : -

3

Page 4: CR Bronkopneumonia

Kesan

Kualitatif : cukup sesuai umur

Kuantitatif : cukup sesuai umur

9. Riwayat Imunisasi

BCG : - scar (-)

DPT : -

Campak : -

Hepatitis : -

Polio : -

Kesan

Imunisasi tidak lengkap sesuai umur

II. Pemeriksaan Fisik

A. Status Present

Keadaan umum : lemah, tampak sakit sedang

Kesadaran : compos mentis, gerak pasif, menangis, rewel

Suhu : 38,5ºC

Frekuensi nadi : 145x/menit

Frekuensi nafas : 66x/menit

BB awal : 3,9 kg

BB sekarang : 4 kg

PB : 55 cm

Lingkar lengan : 15 cm (sesuai menurut umur)

Lingkar kepala : 38 cm (sesuai menurut umur)

Status Gizi : Baik

4

Page 5: CR Bronkopneumonia

Data Antropometrik

Bayi laki-laki usia 2,5 bulan dengan panjang badan (PB) = 55 cm dan berat

badan (BB) = 4 kg.

1. BB/U

a. BB/U dipatok pada kurva:BB < persentil 10 defisit BB, > persentil

90 kelebihan

b. Didapatkan pada kurva persentil 5, maka anak dikatakan defisit berat

badan.

2. TB/U

a. TB/U pada kurva:< persentil 5 defisit berat, Antara persentil 5 dan

10 perlu evaluasi lebih lanjut, untuk membedakan antara perawakan

pendek sebagai akibat defisiensi nutrisi kronik atau karena faktor

genetik

b. Didapatkan pada kurva, persentil 10, maka perlu evaluasi lebih

lanjut, untuk membedakan antara perawakan pendek sebagai akibat

defisiensi nutrisi kronik atau karena faktor genetik

3. BB/TB

a. BB saat ini/BB ideal < 70% : Gizi buruk

b. BB saat ini/BB ideal 70% – 80% : Gizi kurang

c. BB saat ini/BB ideal 80% – 100%   : Gizi baik

d. BB saat ini/BB ideal 100% – 110 %: Gizi lebih

e. BB saat ini/BB ideal > 110%           : Obesitas (harus dihitung BMI)

Dari growth chart  PB 55 cm menyentuh kurva persentil 10. Kurva

berat badan pada persentil 10 didapatkan BB Ideal adalah 4,4 kg. Rasio

BB saat ini dengan ideal yaitu 4/4,4 = 90,9 % Berdasarkan interpretasi

diatas maka anak dikatakan saat ini bergizi baik.

5

Page 6: CR Bronkopneumonia

6

Page 7: CR Bronkopneumonia

7

Page 8: CR Bronkopneumonia

B. Status Generalis

1. Kelainan Mukosa Kulit/Subkutan yang Menyeluruh

Pucat : tidak ada

Sianosis : tidak ada

Ikterus : tidak ada

Oedem : tidak ada

Turgor : cukup

Pembesaran KGB : tidak ada

2. Kepala

Muka : edema (-), merah

Rambut : hitam, lurus, tidak mudah dicabut

UUB : cekung (-), menonjol (-)

Mata : konjungtiva ananemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

kornea jernih, reflek cahaya (+/+)

Telinga : bentuk normal, liang lapang, simetris,serumen (-/-)

Hidung : normal, deviasi septum (-),nafas cuping hidung (+)

Mulut : bibir kering, sianosis (+) perioral, lidah kotor (-),

gusi tidak ada perdarahan

3. Leher

Bentuk : simetris

Trachea : letak di tengah

KGB : tidak membesar

4. Thoraks

Bentuk : simetris, pengembangan dada simetris

Retraksi suprasternal : (+)

Retraksi substernal : (+)

Retraksi intercostal : (+)

8

Page 9: CR Bronkopneumonia

5. Jantung

Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat

Palpasi : iktus kordis teraba sela iga IV garis midclavicula sinistra

Perkusi : batas jantung kanan sela iga IV garis parasternal dextra

batas jantung kiri sela iga IV garis midclavicula sinistra

Auskultasi : Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

6. Paru

Anterior Posterior

InspeksiBentuk dan pergerakan

hemithoraks kiri=kanan

Bentuk dan pergerakan

hemithoraks kiri=kanan

PalpasiFremitus taktil hemithoraks

kiri=kanan

Fremitus taktil hemithoraks

kiri=kanan

Perkusi Sonor Sonor

Auskultasi

Vesikuler +/+

Ronkhi basah halus nyaring +/+

wheezing -/-

Vesikuler +/+

Ronkhi basah halus nyaring +/+

wheezing -/-

7. Abdomen

Inspeksi : datar, simetris

Palpasi : turgor baik, hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-)

Perkusi : tympani

Auskultasi : bising usus (+) normal

8. Genitalia eksterna

Kelamin : laki-laki normal, tidak ada kelainan

9. Ekstremitas

Superior Inferior

Anemis -/- -/-

Sianosis -/- -/-

Akral dingin -/- -/-

Edema -/- -/-

9

Page 10: CR Bronkopneumonia

III. Pemeriksaan Penunjang

A. Darah Rutin

Hb :12,2 gr/dL

LED : 25 mm/jam

Leukosit : 9300/ul

Hitung jenis

Basofil : 0%

Eosinofil : 0%

Batang : 0%

Segmen : 42%

Limfosit : 36%

Monosit : 22%

Trombosit : 605.000/ul

GDS : 94 mg/dl

Kesan : Peningkatan LED dan trombositosis

B. Urin Rutin

Tidak dilakukan

C. Feces Rutin

Tidak dilakukan

D. Pemeriksaan Penunjang Lain/Anjuran

Rontgent Thorax AP

IV. Resume

Pasien adalah seorang anak laki-laki, An.P, usia 2,5 bln, BB : 4kg. Awalnya

mengalami demam tinggi sejak 3 hari SMRS. Demam naik turun sepanjang

hari disertai batuk berdahak dan pilek. Dahak berwarna putih dan tidak

bercampur darah. Selang 1 hari kemudian pasien sesak dan bertambah berat.

Sesak terlihat terus menerus, tidak disertai suara mengi atau mengorok.

Pasien tidak mendapatkan pengobatan apa-apa sebelum ke rumah sakit.

10

Page 11: CR Bronkopneumonia

Riwayat muntah, BAB cair, kejang, dan penurunan kesadaran selama demam

disangkal. Riwayat BAK biasa. Riwayat tersedak air susu disangkal. Riwayat

pasien dengan keluhan yang sama disangkal. Riwayat keluarga menderita

batuk, sesak, bersin pagi hari, asma, alergi dan gatal-gatal di kulit disangkal.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum lemah, kesadaran compos

mentis, gerak pasif, menangis, rewel, nadi : 145x/menit, RR : 66x/menit,

suhu : 37,8ºC, bibir kering, sianosis perioral (+), nafas cuping hidung (+), dan

ronkhi basah halus nyaring +/+.

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukosit dan hitung jenis dbn,

peningkatan LED, dan trombositosis.

V. Diagnosis Banding

A. Bronkopneumonia

B. Bronkhitis

C. Bronkiolitis

VI. Diagnosis Kerja

Bronkopneumonia

VII. Penatalaksanaan

- IVFD N4D5 XV-XX gtt mikro/menit

- O2 0,5 lt/menit (sampai sesak berkurang)

- Injeksi ceftriaxon 200mg/12 jam

- Paracetamol drop 3x0,5cc (bila panas)

VIII. Prognosis

Quo ad Vitam : Dubia ad Bonam

Quo ad Fungtionam : Dubia ad Bonam

Quo ad Sanationam : Dubia ad Bonam

11

Page 12: CR Bronkopneumonia

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Rontgent Thorax AP

Expertisi

- Bronchopneumonia

- Besar cor normal

12

Page 13: CR Bronkopneumonia

FOLLOW UP

Hari/Tanggal Keluhan Status

Present

Penatalaksanaan

Kamis,5 April 2012

- Anak rewel- Demam (+)- Sesak (+)- Batuk (+)- Pilek (+)

KU : lemahKes : CM

Vital sign Nadi : 145xRR : 68xT : 38,7º

Pem.FisikRetraksi +/+Ronkhi basah halus nyaring+/+

Wheezing -/-

- IVFD N4D5 15 gtt mikro/menit- O2 0,5 lt/menit sampai sesak berkurang - Injeksi ceftriaxon 200mg/12 jam- Paracetamol drop 3x0,5cc bila panas

Jumat,6 April 2012

- Anak rewel- Demam (+)- Sesak (+)- Batuk (+)- Pilek (+)

KU : lemahKes : CM

Vital sign Nadi : 140xRR : 66xT : 38,5º

Pem.FisikRetraksi +/+Ronkhi basah halus nyaring+/+

Wheezing -/-

- IVFD N4D5 15 gtt mikro/menit- O2 0,5 lt/menit sampai sesak berkurang - Injeksi ceftriaxon 200mg/12 jam- Paracetamol drop 3x0,5cc bila panas- R/ Rontgent thorax AP

Sabtu,7 April 2012

- Anak rewel- Demam (+)- Sesak (+)- Batuk (+)- Pilek (+)

KU : lemahKes : CM

Vital sign Nadi : 130xRR : 62xT : 38º

Pem.FisikRetraksi +/+Ronkhi basah halus nyaring+/+

Wheezing -/-

- IVFD N4D5 15 gtt mikro/menit- O2 0,5 lt/menit sampai sesak berkurang - Injeksi ceftriaxon 200mg/12 jam- Paracetamol drop 3x0,5cc bila panas- Rontgent thorax AP

13

Page 14: CR Bronkopneumonia

Minggu,8 April 2012

- Anak tidak rewel- Demam (+)- Sesak (↓)- Batuk (+)- Pilek (+)

KU : lemahKes : CM

Vital sign Nadi : 120xRR : 45xT : 37,8º

Pem.FisikRetraksi ↓/↓Ronkhi basah halus nyaring+/+

Wheezing -/-

- IVFD N4D5 15 gtt mikro/menit- O2 0,5 lt/menit sampai sesak berkurang - Injeksi ceftriaxon 200mg/12 jam- Paracetamol drop 3x0,5cc bila panas- Chest therapy bila suhu <37º

Senin,9 April 2012

- Anak tdk rewel- Demam (-)- Sesak (↓↓)- Batuk (+)- Pilek (+)

KU : BaikKes : CM

Vital sign Nadi : 110xRR : 34xT : 36,6º

Pem.FisikRetraksi ↓/↓Ronkhi basah halus nyaring +/+

Wheezing -/-

- IVFD N4D5 15 gtt mikro/menit- O2 stop- Injeksi ceftriaxon 200mg/12 jam- Paracetamol drop 3x0,5cc bila panas- Chest therapy

Selasa,10 April 2012

- Anak tdk rewel- Demam (-)- Sesak (↓↓↓)- Batuk (↓)- Pilek (↓)

KU : lemahKes : CM

Vital sign Nadi : 112xRR : 32xT : 37,1º

Pem.FisikRetraksi ↓↓/↓↓Ronkhi basah halus nyaring +/+

Wheezing -/-

- IVFD N4D5 15 gtt mikro/menit- Injeksi ceftriaxon 200mg/12 jam- Paracetamol drop 3x0,5cc bila panas

14

Page 15: CR Bronkopneumonia

Rabu,11 April 2012

- Anak kooperatif- Demam (-)- Sesak (-)- Batuk (-)- Pilek (-)

KU : BaikKes : CM

Vital sign Nadi : 115xRR : 32xT : 37,4º

Pem.FisikRetraksi -/-Ronkhi basah halus nyaring -/-

Wheezing -/-

- IVFD N4D5 15 gtt mikro/menit- Injeksi ceftriaxon 200mg/12 jam- Paracetamol drop 3x0,5cc bila panas

Kamis,12 April 2012

Tidak ada

KU : baikKes : CM

Vital sign Nadi : 110xRR : 36xT : 37,2º

Pem.FisikRetraksi -/-Ronkhi basah halus nyaring -/-

Wheezing -/-

- IVFD stop- Injeksi ceftriaxon stop- Paracetamol drop Stop

Acc pulang

15

Page 16: CR Bronkopneumonia

ANALISA KASUS

1. Apakah diagnosis pada kasus ini sudah tepat ?

Diagnosa kerja pada pasien ini adalah Bronkopneumonia, sudah tepat.

Bronkopneumonia ditegakkan berdasarkan gejala klinik :

- Adanya retraksi epigastrik, interkostal, suprasternal

- Adanya pernapasan cuping hidung

- Adanya pernapasan yang cepat

- Biasanya didahului infeksi traktus respiratorius bagian atas selama

beberapa hari

- Demam

- Anak dispneu

- Kadang disertai muntah dan diare

- Batuk biasanya tidak pada permulaan penyakit, mungkin terdapat batuk

beberapa hari yang mula-mula kering kemudian menjadi produktif.

- Pada auskultasi ditemukan ronkhi basah halus nyaring

- Pada pemeriksaan darah tepi ditemukan adanya leukositosis dengan

predominan PMN

- Pada pemeriksaan rontgen thoraks ditemukan adanya infiltrat interstitial

dan infiltrat alveolar serta gambaran bronkopneumonia

Laporan kasus ini seorang bayi laki-laki berusia 2,5 bulan datang dengan

keluhan utama sesak nafas. Dari aloanamnesa dengan ibu pasien didapatkan

sejak 3 hari SMRS anaknya menderita batuk disertai pilek. Dahak berwarna

putih dan tidak bercampur darah. Demam tinggi (+), terus menerus naik turun

sepanjang hari. Sejak 2 hari SMRS pasien menderita sesak nafas yang

dirasakan tiba-tiba dan semakin berat. Sesak napas tidak berhubungan dengan

aktivitas dan cuaca. Keluhan sesak nafas tidak disertai adanya suara nafas

berbunyi (mengi) atau mengorok, Buang air besar dan buang air kecil tidak ada

keluhan. Ibu os kemudian membawa os berobat ke RSAM. Pada pemeriksaan

16

Page 17: CR Bronkopneumonia

umum didapatkan peningkatan frekuensi pernapasan 66x/menit dan demam

dimana temperatur 38,5ºC.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya takipneu, terdapat retraksi

suprasternal dan interkostal, pada auskultasi paru ditemukan ronkhi basah halus

nyaring pada kedua paru. Pada pemeriksaan rontgen foto thorak ditemukan

sillhoute sign dan air bronchogram (+) dengan kesan bronkopneumonia.

Penderita datang dengan keluhan utama sesak nafas. Dari keluhan ini dapat

dipikirkan adanya kelainan pada paru-paru, jantung, kelainan metabolic seperti

asidosis dan uremia serta adanya kelainan di otak. Dari alloanamnesis tidak

didapatkan keluhan BAK sehingga kemungkinan kelainan metabolic dapat

disingkirkan. Dari pemeriksaan fisik tidak didapatkan penurunan kesadaran

sehingga kelainan disentral dapat disingkirkan, selain itu dari hasil

pemeriksaan pada jantung didapatkan dalam batas normal sehingga kelainan

pada jantung dapat disingkirkan.

Oleh karena itu dapat dipastikan merupakan kelainan pada paru-paru. Dari

alloanamnesis didapatkan pasien mengalami batuk serta demam,sehingga dapat

dipikirkan adanya suatu penyakit infeksi. Selain itu, di dapatkan ronki basah

halus nyaring yang khas untuk gejala bronkopneumonia, sehingga diagnosis

bronkopneumonia pada pasien ini sudah tepat.

2. Apakah penatalaksanaan pada kasus ini sudah tepat ?

Pemberian O2 0,5 L/menit sudah tepat. O2 diberikan untuk mengatasi

hipoksemia, menurunkan usaha untuk bernapas, dan mengurangi kerja

miokardium. Oksigen diberikan pada anak yang menunjukkan gejala adanya

tarikan dinding dada (retraksi) bagian bawah yang dalam, SpO2 < 90%,

frekuensi nafas 60x/menit atau lebih, merintih setiap kali bernafas untuk

bayi muda, dan adanya head nodding (anggukan kepala). Pemberian O2

melalui nasal pronge yaitu 1-2 L/menit atau 0,5 L /menit untuk bayi muda.

Pemberian O2 melalui kateter nasal yaitu 1-6 L/menit untuk memberikan

konsentrasi O2 24-44%. Pemberian O2 melalui sungkup biasa yaitu 5-8

17

Page 18: CR Bronkopneumonia

L/menit untuk memberikan konsentrasi oksigen 40-60%. Serta pemberian

O2 melalui sungkup reservoir yaitu 6-10 L/menit untk memberikan

konsentrasi oksigen 60-99%.

Pemberian IVFD N4D5 XV-XX tetes permenit dalam mikro drip sudah

tepat. N4D5 terdiri dari 100cc D5% + 25 cc NaCl, dengan kandungan

dekstrosa 50g (200kkal), Na 38,5 mEq/L, Cl 38,5 mEq/L, Ca 200 mg/dL,

dan total Osm 353.

BB=4 kg Kebutuhan cairan : 100 ml/kg BB x 4kg = 400ml/hari

Mikrodrip 1ml=60 tetes

400ml/hari 400ml x 60tetes = 16,67 gtt/ menit

24jam x 60menit

Pemberian ceftriaxon 200mg/12 jam sudah tepat. Ceftriaxone merupakan

antibiotik sefalosoprin generasi ketiga dengan aktivitas yang lebih luas

terhadap bakteri gram negatif, namun umumnya kurang aktif terhadap

kokus gram positif. Sedangkan jika dilihat berdasarkan etiologi dari

bronkopneumonia akibat bakteri, bakteri yang cukup banyak menyebabkan

bronkopneumonia adalah bakteri kokus gram positif seperti streptococcus

pneumonia, dan pneumococcus. Pemberian ceftriaxone juga memiliki lebih

banyak efek samping, seperti nefrotoksik dan depresi sumsum tulang.

Dosis ceftriaxone yaitu 50-100 mg/kgBB/hari, dalam 2 dosis pemberian.

Pada pasien ini BB=4kg 4x100mg=400mg/hari 200mg/12jam (dosis

pemberian ceftriaxon injeksi sudah tepat)

Pemberian paracetamol diberikan selama pasien mengalami demam, dengan

dosis 10-15mg/kgBB/kali dapat diulang 4-6 jam.

Pada pasien ini BB=4kg 4x10mg=40mg/kali pemberian

Paracetamol drops 60mg/ml 40/60=0,67 ~ 0,6cc/kali pemberian

3. Bagaimana prognosis pada kasus ini ?

Prognosis pada kasus ini baik, Umumnya penderita bahkan dapat sembuh

spontan dalam 2-3 minggu. Apalagi jika dilihat berdasarkan gambaran klinis

18

Page 19: CR Bronkopneumonia

selama perawatan pasien sudah sangat membaik. Keluhan juga telah berkurang

secara berangsur-angsur. Hal ini ditandai dengan batuk yang sudah mulai

menghilang, demikian pula dengan retraksi serta pernapasan cuping hidung

sudah menghilang. Prognosis penderita ini adalah dubia ad bonam untuk quo

ad vitam dan functionam karena pada pasien ini telah dilakukan pengobatan

yang adekuat serta belum ada tanda-tanda yang mengarah pada komplikasi.

19

Page 20: CR Bronkopneumonia

TINJAUAN PUSTAKA

I. Pendahuluan

Struktur dasar jalan nafas telah ada sejak lahir dan berkembang selama

neonatus dandewasa menjadi sistem bronkhopulmonal. Jalan nafas pada

setiap usia tidak simetris. Apabila dibagi menjadi dua bagian, ada perbedaan

bentuk dan jumlah cabang yangtergantung dari lokasinya. Variasi tersebut

menyebabkan implikasi fisiologi yang berbeda. Alur yang berbeda

menyebabkan perbedaan resistensi terhadap aliran udara, sehingga

menyebabkan distribusi udara atau partikel yang terhisap tidak merata.

Cabang dari bronkus mengalami pengecilan ukuran dan kehilangan kartilago,

yang kemudian disebut bronkhiolus. Bronkhiolus terminalis membuka saat

pertukaran udara dalam paru-paru.Jalan nafas dilapisi oleh membran epitel

yang berganti secara bertahap dari epitelkolumner bertingkat bersilia di

bronkus menjadi epitel kubus bersilia pada area tempat pertukaran udara.

Sillia berfungsi untuk menghantarkan mukus dari pinggir jalan nafas

kefaring. Sistem transport mukosilier ini berperan penting dalam mekanisme

pertahananparu.Sel goblet pada trakhea dan bronkhus memproduksi musin

dalam reticulum endoplasma kasar dan apparatus golgi. Sel goblet meningkat

jumlahnya pada beberapagangguan seperti bronkhitis kronis yang hasilnya

terjadi hipersekresi mukus danpeningkatan produksi sputum.Unit pertukaran

udara (terminal respiratory) terdiri dari bronkhiolus distal sampai terminal :

bronkhiolus respiratorius, duktus alveolaris dan alveoli. Pada pemeriksaan

luar pulmo dekstra lebih pendek dan lebih berat dibanding pulmo sinistra.

Pulmo dekstra dan sinistra dibagi oleh alur yang disebut incissura interlobaris

dalam beberapa LobusPulmonis.Pulmo dekstra dibagi menjadi 3 lobi, yaitu:

1. Lobus Superior dibagi menjadi 3 segmen: apikal, posterior, inferior

2. Lobus Medius dibagi menjadi 2 segmen: lateralis dan medialis

3. Lobus Inferior dibagi menjadi 5 segmen: apikal, mediobasal, anterobasal,

laterobasal,posterobasal.

20

Page 21: CR Bronkopneumonia

Pulmo sinistra dibagi menjadi 2 lobi, yaitu:

1. Lobus Superior dibagi menjadi segmen: apikoposterior, anterior, lingularis

superior, lingularis inferior.

2. Lobus Inferior  dibagi menjadi 4 segmen: apikal, anteromediobasal,

laterobasal, dan posterobasal.

Pneumonia adalah peradangan parenkim paru, distal dari bronkhiolus

terminalis yang mencakup bronkhiolus respiratorius, dan alveoli yang berupa

infiltrat ataukonsolidasi pada alveoli atau jaringan interstisial. Pneumonia ini

dapat mengakibatkangangguan pertukaran gas setempat. Istilah pneumonia

lazim dipakai bila peradangan terjadi oleh proses infeksi akut yang

merupakan penyebab tersering, sedangkan istilah pneumonitis sering dipakai

untuk proses non infeksi.

II. Definisi

Bronchopneumonia merupakan salah satu bagian dari penyakit Pneumonia.

Bronchopneumonia (penumonia lobaris) adalah suatu infeksi saluran

pernafasan akut bagian bawah dari parenkim paru yang melibatkan bronkus /

bronkiolus yang berupa distribusi berbentuk bercak-bercak (patchy

21

Page 22: CR Bronkopneumonia

distribution) yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri,

virus,jamur, dan benda asing.

Bronchopneumonia adalah peradangan paru, biasanya dimulai di

bronkioliterminalis. Bronkiolus terminalis menjadi tersumbat dengan eksudat

mukopurulenmembentuk bercak-bercak konsolidasi di lobulus yang

bersebelahan. Penyakit iniseringnya bersifat sekunder, mengikuti infeksi dari

saluran nafas atas, demam padainfeksi spesifik dan penyakit yang

melemahkan sistem pertahanan tubuh. Pada bayi dan orang-orang yang

lemah, Pneumonia dapat muncul sebagai infeksi primer.

III. Epidemiologi

Insiden penyakit ini pada negara berkembang hampir 30% pada anak-anak

dibawah umur 5 tahun dengan resiko kematian yang tinggi, sedangkan di

Amerika pneumonia menunjukkan angka 13% dari seluruh penyakit infeksi

pada anak dibawah umur 2 tahun. Infeksi saluran napas bawah masih tetap

merupakan masalah utama dalambidang kesehatan, baik di negara yang

sedang berkembang maupun yang sudah maju.Dari data SEAMIC Health

Statistic 2001 influenza dan pneumonia merupakanpenyebab kematian nomor

6 di Indonesia, nomor 9 di Brunei, nomor 7 di Malaysia,nomor 3 di

Singapura, nomor 6 di Thailand dan nomor 3 di Vietnam. Laporan WHO1999

menyebutkan bahwa penyebab kematian tertinggi akibat penyakit infeksi

didunia adalah infeksi saluran napas akut termasuk pneumonia dan influenza.

Insidensipneumonia komuniti di Amerika adalah 12 kasus per 1000 orang per

tahun dan merupakan penyebab kematian utama akibat infeksi pada orang

dewasa di negara itu.Angka kematian akibat pneumonia di Amerika adalah

10%. Di Amerika dengan cara invasif pun penyebab pneumonia hanya

ditemukan 50%. Penyebab pneumonia sulit ditemukan dan memerlukan

waktu beberapa hari untuk mendapatkan hasilnya, sedangkan pneumonia

dapat menyebabkan kematian bila tidak segera diobati, maka pada

pengobatan awal pneumonia diberikan antibiotika secara empiris. Hasil

Survei Kesehatan Rumah Tangga Depkes tahun 2001, penyakit infeksi

22

Page 23: CR Bronkopneumonia

saluran napas bawahmenempati urutan ke-2 sebagai penyebab kematian di

Indonesia. Di SMF Paru RSUP Persahabatan tahun 2001 infeksi juga

merupakan penyakit paru utama, 58% diantarapenderita rawat jalan adalah

kasus infeksi dan 11,6% diantaranya kasusnontuberkulosis, pada penderita

rawat inap 58,8% kasus infeksi dan 14,6% diantaranya kasus nontuberkulosis.

Di RSUP H. Adam Malik Medan 53,8% kasus infeksi dan 28,6% diantaranya

infeksi nontuberkulosis. Di RSUD Dr. SoetomoSurabaya didapatkan data

sekitar 180 pneumonia komuniti dengan angka kematianantara 20-35%.

Pneumonia komuniti menduduki peringkat keempat dan sepuluh penyakit

terbanyak yang dirawat per tahun.

Pneumococcus merupakan penyebab utama pneumonia. Pneumococcus

denganserotipe 1 sampai 8 menyebabkan pneumonia pada orang dewasa lebih

dari 80%,sedangkan pada anak ditemukan tipe 14, 1, 6 dan 9.Angka kejadian

tertinggi ditemukan pada usia kurang dari 4 tahun dan megurangdengan

meningkatnya umur. Pneumonia lobaris hampir selalu disebabkan oleh

pneumococus, ditemukan pada orang dewasa dan anak besar, sedangkan

bronkopneumonia lebih sering dijumpai pada anak kecil dan bayi.

IV. Etiologi

Usia pasien merupakan faktor yang memegang peranan penting padaperbedan

dan kekhasan pneumonia anak, terutama dalam spektrum etiologi,gambaran

klinis, dan strategi pengobatan. Spektrum mikroorganisme penyebab

padaneonatus dan bayi kecil berbeda dengan anak yang lebih besar. Etiologi

pneumonia pada neonatus dan bayi kecil meliputi Streptococcus grup B dan

bakteri gram negatif seperti E. Colli, Pseudomonas sp, atau Klebsiella sp.

Pada bayi yang lebih beeasr dan anak balita, pneumonia sering disebabkan

oleh infeksi Streptococus pneumoniae, Haemophillus inflienzae tipe B, dan

Staphylococcusaureus, sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja,

selain bakteri tersebut, sering juga ditemukan infeksi Mycoplasma

pneumoniae.

23

Page 24: CR Bronkopneumonia

Di negara maju, pneumonia pada anak terutama disebabkan oleh

virus,disamping bakteri, atau campuran bakteri dan virus. Virkki dkk.

Melakukan penelitian pada pneumonia anak dan menemukan etiologi virus

sebanyak 32%,campuran bakteri dan virus 30%, dan bakteri saja 22%. Virus

yang terbanyak ditemukan adalah Respiratory Syncytical Virus (RSV),

Rhinovirus,dan virus Paraifluenza.

Kelompok anak usia 2 tahun ke atas mempunyai etiologi infeksi bakteriyang

lebih banyak daripada anak berusia di bawah 2 tahun. Secara klinis, umumya

pneumoia bakteri sulit dibedakan dengan pneumoniavirus. Demikian juga

dengan pemerikksaan radiologis dan laboratorium, biasanya tidak dapat

menentukan etiologi.

Penyebab bronkopneumonia yang biasa dijumpai adalah :

A. Faktor Infeksi

1. Pada neonatus : Streptokokus grup B, Respiratory Sincytial Virus

(RSV).

2. Pada bayi : Virus : Virus parainfluensa, virus influenza, Adenovirus,

RSV, Cytomegalovirus. Organisme atipikal : Chlamidia trachomatis,

Pneumocytis. Bakteri : Streptokokus pneumoni, Haemofilus influenza,

Mycobacteriumtuberculosa, B. pertusis.

3. Pada anak-anak : Virus : Parainfluensa, Influensa Virus, Adenovirus,

RSP Organisme atipikal : Mycoplasma pneumonia, Bakteri :

Pneumokokus, Mycobakterium tuberculosa.

4. Pada anak besar dewasa muda : Organisme atipikal : Mycoplasma

pneumonia, C. Trachomatis. Bakteri : Pneumokokus, B. Pertusis, M.

tuberculosis.

B. Faktor Non Infeksi

Terjadi akibat disfungsi menelan atau refluks esophagus meliputi :

a. Bronkopneumonia hidrokarbon : Terjadi oleh karena aspirasi selama

penelanan muntah atau sonde lambung ( zat hidrokarbon seperti

pelitur, minyak tanah dan bensin).

b. Bronkopneumonia lipoid : Terjadi akibat pemasukan obat yang

mengandung minyak secara intranasal, termasuk jeli petroleum. Setiap

24

Page 25: CR Bronkopneumonia

keadaan yang mengganggu mekanisme menelan seperti palatoskizis,

pemberian makanan dengan posisi horizontal, atau pemaksaan

pemberian makanan seperti minyak ikan pada anak yang sedang

menangis. Keparahan penyakit tergantung pada jenis minyak yang

terinhalasi. Jenis minyak binatang yang mengandung asam lemak

tinggi bersifat paling merusak contohnya seperti susu dan minyak ikan.

Selain faktor di atas, daya tahan tubuh sangat berpengaruh untuk

terjadinya bronkopneumonia. Menurut sistem imun pada penderita-

penderita penyakit yang berat seperti AIDS dan respon imunitas yang

belum berkembang pada bayi dan anak merupakan faktor predisposisi

terjadinya penyakit ini.

Selain faktor di atas, daya tahan tubuh sangat berpengaruh untuk terjadinya

bronkopneumonia. Menurut sistem imun pada penderita berpenyakit berat

seperti AIDS dan respon imunitas yang belum berkembang pada bayi dan

anak merupakan faktor predisposisi terjadinya penyakit ini.

UMUR BAKTERI

< 1 bulan

Grup B streptococcusGram negativ

E.ColiKlebsiela

1-3 bulanChlamydia

Staphylococcus aureusGrup B streptococcus

3 bulan – 5 tahun

H. influenzaS. pneumonia

S. aureusGrup A streptococcus

Mycoplasma

5 – 10 tahun

MycoplasmaS. aureus

Grup A streptococcus

> 10 tahun

S. pneumoniaMycoplasma

Grup A streptococcusKlebsiela

25

Page 26: CR Bronkopneumonia

V. Klasifikasi

Pembagian secara anatomis :

1. Pneumonia lobaris

2. Pneumonia lobularis (bronkopneumonia)

3. Pneumonia intersisialis (bronkiolitis)

Pembagian secara etiologi :

1. Bakteri : Pneumococcus pneumonia, Sreptococcus pneumonia,

Staphylococcus pneumonia, Haemofilus influenza

2. Virus : Respiratory synctitial virus, Parainfluenza virus, Adenovirus

3. Jamur : Candida, Aspergillus, Mucor, Histoplasmosis, Coccidiomycosis,

Blastomycosis, Cryptoccosis

4. Corpus alienum

5. Aspirasi

6. Penumonia hipostatik

VI. Patogenesis

Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran nafas dan paru dapat melalui

berbagai cara, antara lain :

1. Inhalasi langsung dari udara

2. Aspirasi dari bahan-bahan yang ada di nasofaring dan orofaring

3. Perluasan langsung dari tempat lain

4. Penyebaran secara hemtogen

Dalam keadaan sehat pada paru tidak terjadi pertumbuhan mikroorganisme,

keadaanini disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan paru. Mekanisme

daya tahan traktus respiratorius bagian bawah sangat efisien untuk mencegah

infeksi dan terdiri dari :

1. Susunan anatomis rongga hidung

2. Jaringan limfoid di naso-oro-faring3.

3. Bulu getar yang meliputi sebagian besar epitel traktus respiratorius dan

secret liatyang dikeluarkan oleh sel epitel tersebut

4. Refleks batuk 

26

Page 27: CR Bronkopneumonia

5. Refleks epiglottis yang mencegah terjadinya aspirasi secret yang terinfeksi

6. Drainase system limfatik dan fungsi menyaring kelenjar limfe regional.

7. Fagositosis, aksi enzimatik dan respon immuno-humoral terutama dari

immunoglobilin A (IgA).

Bila pertahanan tubuh tidak kuat maka mikroorganisme penyebab terhisap ke

paru perifer melalui saluran napas menyebabkan reaksi jaringan berupa edema

yang mempermudah proliferasi dan penyebaran kuman.

1. Stadium Kongesti. Kapiler melebar dan kongesti serta dalam alveolus

terdapateksudat jernih, bakteri dalam jumlah banyak, beberapa neutrophil

dan makrophag.

2. Stadium Hepatisasi Merah. Lobus dan lobulus yang terkena menjadi padat

tidak mengandung udara, warna menjadi merah dan pada perabaan seperti

hepar. Dalam alveolus didapatkan fibrin, leukosit netrofil, eksudat dan

banyak sekali eritrosit dan kuman. Stadium ini berlangsung sangat pendek.

3. Stadium Hepatisasi Kelabu. Lobus masih tetap padat dan warna merah

berubah menjadi pucat kelabu. Permukaan pleura suram karena diliputi

oleh fibrin. Alveolusterisi fibrin dan leukosit, tempat terjadi fagositosis

pneumococcus, kapiler tidak lagikongestif.

4. Stadium Resolusi. Eksudat berkurang. Dalam alveolus macrofag

bertambah dan leukosit mengalami nekrosis dan degenerasi lemak. Fibrin

di resorbsi dan menghilang. Proses kerusakan yang terjadi dapat di batasi

dengan pemberian antibiotik sedinimungkin agar system bronkopulmonal

yang tidak terkena dapat diselamatkan.

VII.Gejala Klinis

Sebagian besar gambaran klinis pneumonia pada anak berkisar antara

ringanhingga sedang, sehingga dapat berobat jalan saja. Hanya sebagian kecil

yang berat,mengancam kehidupan, dan mungkin terdapat komplikasi

sehingga memerlukanperawatan di RS.Beberapa faktor yang mempengaruhi

gambaran klinis pneumonia pada anak adalah imaturitas anatomikdan

imunologik, mikroorganisme penyebab yang luas, gejala klinik yang kadang-

27

Page 28: CR Bronkopneumonia

kadang tidak khas terutama pada bayi, terbatasnya penggunaan prosedur

diagnostik invasif, etiologi non infeksi yang relatif lebih sering, dan faktor

patogenesis. Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung

pada beratringannya infeksi, tetapi secara umum adalah sebagai berikut:

1. Gejala infeksi umum, yaitu demam, sakit kepala, gelisah, malaise,

penurunan nafsu makan, keluhan gastrointestinal seperti mutah atau diare;

kadang-kadang ditemukan geala infeksi ekstrapulmoner.

2. Gejala gangguan respiratori, yaitu batuk, sesak nafas, retraksi

dada,takipnea, nafas cuping hidung, air hunger , merintih, dan sianosis.

Bronchopneumonia biasanya di dahului oleh infeksi saluran napas bagian atas

selama beberapa hari. Suhu dapat naik sangat mendadak sampai 39-40ºC dan

mungkin disertai kejang demam yang tinggi. Anak megalami kegelisahan,

kecemasan, dispnoe pernapasan. Kerusakan pernapasan diwujudkan dalam

bentuk napas cepat dan dangkal, pernapasan cuping hidung, retraksi pada

daerah supraclavikular, ruang-ruang intercostal, sianosis sekitar mulut dan

hidung, kadang-kadang disertai muntah dan diare. Pada awalnya batuk jarang

ditemukan tetapi dapat dijumpai pada perjalanan penyakit lebih lanjut, mula-

mula batuk kering kemudian menjadi produktif. Pada bronkopneumonia,

pemeriksaan fisik tergantung dari pada luas daerah yang terkena. Pada

perkusi toraks sering tidak ditemukan kelainan. Pada auskultasi mungkin

terdengar ronki basah nyaring halus sedang. Bila sarang bronkopneumonia

menjadi satu (konfluens), mungkin pada perkusi terdengar keredupan dan

suara pernapasan pada auskultasi terdengar mengeras. Pada stadium resolusi,

ronki terengar lagi. Tanpa pengobatan biasanya penyembuhan dapat terjadi

sesudah 2-3 minggu. Gambaran pneumonia pada neonatus dan bayi kecil

tidak khas, mencakupserangan apnea, sianosis, merintih, nafas cuping hidung,

takipnea, letargi, muntah,tidak mau minum, takikardi atau bradikardi, retraksi

subkosta, dan demam. Ada bayi BBLR sering terjadi hipotermi. Gambaran

klinis tersebut sulit dibedakan antara sepsisdan meningitis. Sepsis pada

pneumonia neonatus dan bayi kecil sering ditemukansebelum 48 jam

pertama. Angka mortalitas sangat tiggi di negara maju, yaitudilaporkan 20-

50%. Angka kematian di Indonesia dan di negara berkembang lainnyadiduga

28

Page 29: CR Bronkopneumonia

lebih tinggi. Oleh karena itu, setiap kemungkinan adanya pneumonia

padaneonatus dan bayi kecil berusia dibawah 2 bulan harus segera dirawat di

RS.infeksi olehChamydia trachomatis merupakan infeksi perinatologi dan

dapat menyebabkan pneumonia pada bayi berusia dibawah 2 bula.

Umumnya bayi mendapatkan infeksi dari ibu pada masa persalinan. Port

d’entree infeksi meliputi mata, nasofaring, saluran respiratori, dan vagina.

Gejala timbul pada usia 4-12 minggu. Gejala umum ; gejala infeksi respiratori

ringan-sedang, ditandai dengan batuk-batuk stacatto (inspirasi diantara setiap

satu kali batuk), kadang-kadang disertai muntah, umumnya pasien tidak

demam. Beberapa kasus infeksi berkembang menjadi pneumonia berat

(sindrom pneumonitis) dan memerlukan perawatan. Gejala klinis meliputi

ronki atau mengi, takipnea, dan sianosis. Gambaran foto rontgenthoraks tidak

khas, umumnya terlihat tanda-tanda hiperinflasi bilateral denganberbagai

bentuk infiltrat difus, seperti infiltrat iinterstisial, retikulonoduler, atelektasis,

bronkopneumonia, dan gambaarn milier. Antibiotik pilihan adalah makrolid

intravena.

VIII. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan :

1. Gejala Klinis

Gambaran klinik biasanya didahului oleh infeksi saluran nafas akut

bagian atas selama beberapa hari, kemudian diikuti dengan demam,

menggigil. Suhu tubuh kadang-kadang melebihi 400C, sakit tenggorok,

nyeri otot, dan sendi. Juga disertai batuk dengan sputum mukoid atau

purulen, kadang-kadang berdarah.

2. Pemeriksaan Fisik

Dalam pemeriksaan fisik penderita bronkhopneumoni ditemukan hal-hal

sebagai berikut :

a. Pada setiap nafas terdapat retraksi otot epigastrik, interkostal,

suprasternal, dan pernapasan cuping hidung.

b. Pada palpasi ditemukan vokal fremitus yang simetris.

29

Page 30: CR Bronkopneumonia

c. Pada perkusi tidak terdapat kelainan

d. Pada auskultasi ditemukan crackles (Ronkhi basah) sedang nyaring.

3. Pemeriksaan Laboratorium

a. Gambaran darah menunjukkan leukositosis, biasanya 15.000-

40.000/mm3 dengan pergeseran ke kiri. Jumlah leukosit yang tidak

meningkat berhubungan dengan infeksi virus atau mycoplasma.

b. Hitung leukosit dapat membantu membedakan pneumoni viral dan

bakterial. Infeksi virus leukosit normal atau meningkat (tidak

melebihi 20.000/mm3 dengan limfosit predominan) dan bakteri

leukosit meningkat 15.000-40.000 /mm3 dengan neutrofil yang

predominan.

c. Nilai Hb biasanya tetap normal atau menurun

d. Peningkatan LED

e. Kultur dahak dapat positif pada 20-50% penderita yang tidak

diobati. Selain kultur dahak, biakan juga dapat diambil dengan cara

hapusan tenggorok (throat swat).

f. Analisa Gas Darah (AGD) menunjukkan hipoksemia dan

hiperkarbia. Pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis metabolik.

g. Pengambilan sekret secara bronkoskopi dan fungsi paru untuk

preparasi langsung, biakan dan test resistensi dapat menemukan atau

mencari etiologinya, tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena sulit.

h. Foto thoraks bronkopneumonia terdapat bercak-bercak infiltrat pada

satu atau beberapa lobus jika pada pneumonia lobaris terlihat adanya

konsolidasi pada satu atau beberapa lobus.

4. Gambaran Radiologis

Merupakan pneumonia yang terjadi pada ujung akhir bronkhiolus yang

dapat tersumbat oleh eksudat mukopuren untuk membentuk bercak

konsolidasi dalam lobus. Gambaran radiologis mempunyai bentuk difus

bilateral dengan peningkatan corakan bronkhovaskular dan infiltrat kecil

dan halus yang tersebar di pinggir lapang paru. Bayangan bercak ini

sering terlihat pada lobus bawah.Tampak infiltrate peribronkial yang

semi opak dan inhomogen di daerah hilus yang menyebabkan batas

30

Page 31: CR Bronkopneumonia

jantung menghilang (silhoute sign). Tampak juga air bronkogram, dapat

terjadi nekrosis dan kavitas pada parenkim paru.

WHO mengajukan pedoman diagnosa dan tata laksana yang lebih

sederhana. Berdasarkan pedoman tersebut bronkopneumonia dibedakan

berdasarkan :

1. Bronkopneumonia sangat berat : bila terjadi sianosis sentral dan anak

tidak sanggup minum, maka anak harus dirawat di rumah sakit dan di

beri antibiotik.

2. Bronkopneumonia berat : bila dijumpai retraksi tanpa sianosis dan

masih sanggup minum, maka anak harus dirawat di rumah sakit dan di

beri antibiotik.

3. Bronkopneumonia : bila tidak ada retraksi tetapi dijumpai pernafasan

yang cepat

> 60 x/menit : pada anak usia kurang dari dua bulan

> 50x/menit : pada anak usia 2 bulan - 1 tahun

> 40x/menit : pada anak usia 1-5 tahun

4. Bukan Bronkopneumonia : hanya batuk tanpa adanya gejala dan tanda

seperti di atas, tidak perlu dirawat dan tidak perlu di beri antibiotik.

Diagnosis pasti dilakukan dengan idientifikasi kuman penyebab :

- Kultur sputum/bilasan cairan lambung

- Kultur Nasofaring atau kultur tenggorokan (throat swab), terutama

virus

- Deteksi antigen bakteri

IX. Diagnosis Banding

1. Bronkiolitis

2. Bronkhitis

3. TB paru primer

4. Aspirasi pneumonia

31

Page 32: CR Bronkopneumonia

X. Penatalaksanaan

A. Penatalaksaan umum:

1. O2 2-4 liter/ menit sampai sesak hilang

2. Infus 20 tetes per menit mikro (untuk obat)

B. Penatalaksanaan khusus:

1. Mukolitik, ekspektoran, dan obat penurun panas sebaiknya tidak

diberikan pada 72 jam pertama karena akan mengaburkan

interpretasi reaksi antibiotik awal.

2. Obat penurun panas diberikan hanya pada penderita dengan suhu

tinggi, takikardi, atau penderita kelainan jantung.

3. Pemberian antibiotika berdasarkan mikroorganisme penyebab dan

manifestasi klinis. Antibiotik yang merupakan drug of choice untuk

kuman yang dicurigai.Bila tidak ada kuman yang dicurigai, berikan

antibiotik awal (24-72 jam pertama) menurut kelompok usia.

Ampisilin 2x200 mg iv Ampisilin (100mg/kgbb/hari IV) untuk

Pneumonia ringan. Bayi dan anak usia pra sekolah (2 bl-5 thn)

betalaktam amoksisillin / amoksisillin/ amoksisillin klavulanat/

golongan sefalosporin / kotrimoksazol / makrolid (eritromisin).

Antibiotika selanjutnya tergantung dari pemantauan terhadap respon

24-72 jam pengobatan. Apabila mengalami perbaikan teruskan

sampai 3 hari klinis baik, sedangkan apabila bertambah berat/ tidak

ada perbaikan ganti antibiotik sesuai bakteri penyebab.

XI. Komplikasi

Komplikasi dari bronchopneumonia adalah :

1. Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau

kolaps paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk

hilang.

2. Emfisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam

rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.

3. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang.

32

Page 33: CR Bronkopneumonia

4. Endokarditis adalah peradangan pada setiap katup endokardial.

5. Meningitis adalah infeksi yang menyerang selaput otak.

XII. Prognosis

Dengan pemberian antibiotik yang tepat dan adekuat yang dimulai secara

dini pada perjalanan penyakit tersebut maka mortalitas selam masa bayi

dan masa kanak-kanak dapat diturunkan sampai kurang 1% dan sesuai

dengan kenyataan ini morbiditas yang berlangsung lama juga menjadi

rendah. Anak dalam keadaan malnutrisi energi protein dan yang datang

terlambat menunjukkan mortalitas yang lebih tinggi.

XIII. Pencegahan

Penyakit bronkopneumonia dapat dicegah dengan menghindari kontak

dengan penderita atau mengobati secara dini penyakit-penyakit yang dapat

menyebabkan terjadinya bronkopneumonia ini.

Selain itu hal-hal yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan daya

tahan tubuh kita terhadap berbagai penyakit saluran nafas seperti : cara

hidup sehat, makan makanan yang bergizi dan teratur, menjaga

kebersihan, beristirahat cukup, rajin berolahraga dll.

Melakukan vaksinasi juga diharapkan dapat mengurangi kemungkinan

terinfeksi antara lain :

a. Vaksinasi Pneumokokus

b. Vaksinasi H.Influenza

c. Vaksinasi Varisela yang dianjurkan pada anak dengan daya tahan tubuh

rendah

d. Vaksin influenza yang diberikan pada anak sebelum anak sakit.

33

Page 34: CR Bronkopneumonia

DAFTAR PUSTAKA

Nelson Textbook of Pediatrics 2008

Price, Sylvia Anderson 1994. Pathophysiology : Clinical Concepts of Disease

Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Edisi 4. Jakarta : EGC.

Smeltzer, Suzanne C. 2000. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume I,

Jakarta : EGC.

Rahajoe, Nastini N. 2008. Buku Ajar Respirologi, Edisi I. Jakarta IDAI.

Murray Nedel’s. 2005. Text Book of Respiratology Medicine, Edisi I. Volume I

United State of America : Elseiver Saunders.

Zul Dahlan, 2000. Ilmu Penyakit Dalam. Edisi II, Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 15, Volume 2. Jakarta : EGC.

34